Anda di halaman 1dari 6

Fakhri Azzumar 2010200232

Kelas D
KASUS PENCURI AN
Identifikasi Masalah
Bahwa pencurian dilakukan di Kota Palangkaraya kabutaen Kasongan dan Pulang
Pisau.
Kerugian dari pencurian mencapai Rp 600 juta
Modus pencurian dengan merusak pagar dan saluran udara
Kejahatan dilakukan pada pukul 15.00-09.00
Legal Question
Apakah adanya bentuk kelalaian yang mengakibatkan luka berat dapat diajukan dalam
kasus ini terhadap pelaku?
Apakah tersangka melakukan pencurian dalam bentuk pokok?

Legal Audit
Dalam pasal 360 KUHP menjelaskan bahwa Barang siapa karena kekhilafan
menyebabkan orang luka berat, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima
tahun atau pidana kurungan selama-lamanya satu tahun. Pasal tersebut relevan apakah
dalam kasus tersebut ada tindakan kekerasan yang menyebabkan orang luka berat atau
tidak.
KUHP dalam pasal 362 KUHP menjelaskan bahwa Barang siapa mengambil barang,
yang sama sekali atau sebagian kepunyaan orang lain, dengan maksud untuk memiliki
barang itu dengan melawan hukum, dipidana karena mencuri dengan pidana penjara
selama-lamanya lima tahun atau denda sebanyak-banyaknya semibilan ribu rupiah.
Pasal tersebut relevan untuk dapat menguji pertanyaan diatas.

Legal Opinion
Dalam kasus diatas, fakta menerangkan bahwa dalam kejadian tersebut tidak adanya
tindakan kekerasan yang mengakibatkan orang tersebut luka berat atau hal lain
sebagainya. Dalam pasal 360 KUHP yang telah dijelaskan bahwa Barang siapa
karena kekhilafan menyebabkan orang luka berat, dipidana dengan pidana penjara
selama-lamanya lima tahun atau pidana kurungan selama-lamanya satu tahun. Ini
tidak dapat mempidana para tersangka, sebab tersangka sama sekali tidak melakukan
perbuatan tersebut. Maka pasa tersebut tidak relevan untuk dapat dijukan dalam kasus
pencurian ini.
Dalam kasus diatas, fakta menerangkan bahwa pelaku melakukan pencurian peralatan
telekomunikasi beberapa perusahaan telekomunikasi di Kota Palangkaraya dan pulau
Pisau. Tindakan pelaku harus dipidana karena melakuka pencurian dengan barang
milik orang lain. Telah tercantum dalam pasal 362 KUHP yang menyebutkan bahwa
Barang siapa mengambil barang, yang sama sekali atau sebagian kepunyaan orang
lain, dengan maksud untuk memiliki barang itu dengan melawan hukum, dipidana
karena mencuri dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun atau denda
sebanyak-banyaknya semibilan ribu rupiah. Jadi telah disebutkan dalam pasal
tersebut, tersangka dilarang untuk melakukan perbuatan pencurian dan pasal tersebut
relevan untuk menjerat pelaku pencurian.
KASUS PENGGELAPAN
Identifikasi Masalah
Boni adalah seorang teller dari bank Kosionis
Boni mempunyai masalah tentang keuangan setelah dia mendapatkan musibah
Terdapat niat sebelum Boni menggelapkan uang nasabah
Pelaku penggelapan nasabah disitu hanya ada satu orang pelaku yaitu Boni.
Legal Question
Apakah ada unsur pemberatan dari tindak pidana penggelepan tersebut?
Apakah bentuk kejahatan tersebut dapat dipidana dengan unsur pencurian?

Legal Audit

Dalam pasal 374 KUHP menjelaskan bahwa, Yang dapat dituntut menurut pasal ini
adalah dilakukan oleh seseorang yang ada hubungan kerja pribadi, terkatit dengan
mata pencaharian dan seseorang yang mendapatkan upah. Pasal tersebut relevan
untuk menguji tentang kasus tersebut.
Dalam Pasal 362 KUHP menjelaskan bahwa, Barang siapa dengan sengaja
mengambil barang orang lain baik sebagian ataupun seluruhnya secara melawan
hukum dengan maksud menguasai. Pasal tersebut relevan dan bisa untuk menguji
tentang kasus tersebut.
Legal Opinion
Dalam kasus ini, faktanya bahwa pelaku mengambil uang nasabah dengan cara
diamdiam dan tidak menyetorkan uang hasil transaksi nasabah pada tanggal 8
Februari 2008. Kasus ini harus dipidana karena tersangka yaitu Boni seorang
karyawan Bank Kosionis telah menggelapkan uang milik nasabah. Dalam pasal 374
KUHP menjelaskan bahwa, Yang dapat dituntut menurut pasal ini adalah dilakukan
oleh seseorang yang ada hubungan kerja pribadi, terkatit dengan mata pencaharian
dan seseorang yang mendapatkan upah. Pasal tersebut relevan dengan kasus ini,
karena dilakukan oleh karyawan bank yang mendapatkan upah dari bank tersebut dan
pelaku terbukti tidak meyetorkan uangnya kepada pihak pimpinan, sebaliknya malah
digelapkan. Pasal tersebut relevan dan kasus tersebut masuk dalam unsur penggelapan
pasal 374 KUHP.
Dalam kasus ini, pelaku mengambil barang yang sudah dipegang oleh pelaku.
Disebutkan bahwa Dalam Pasal 362 KUHP menjelaskan bahwa, Barang siapa
dengan sengaja mengambil barang orang lain baik sebagian ataupun seluruhnya
secara melawan hukum dengan maksud menguasai. Pelaku tidak mengambil barang
tersebut dari tangan korban, tapi pelaku mengambil barang tersebut dari bank. Pasal
tersebut tidak relevan, karena pasal tersebut tidak menjelaskan bahwa pasal tersebut
adalah tentang pencurian, sebab tidak memenuhi unsur dalam pasal 362 KUHP.

KASUS PERBUATAN MELAWAN HUKUM
Identifikasi Masalah
Kasus ini terjadi antara pengendara mobil, Sutan dan pedagang Kaki Lima
Kasus ini terjadi diakibatkan Sutan mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi
Tidak adanya sikap kehati-hatian dari Sutan
Sutan tidak ingin bertanggung jawab atas kesalahannya
Legal Question
Apakah tersangka dapat dipidana dengan kasus perusakan?
Apakah Sutan dapat ditambah gugatan karena meminum minuman berkohol bila
benar terbukti dalam pemeriksaan lebih lanjut?
Legal Audit
Dijelaskan dalam pasal 406 KUHP bahwa Barang siapa dengan sengaja dan dengan
malawan hukum, menhancurkan, merusakkan, membuat sehingga tak dapat dipakai
lagi atau menghilangkan barang yang sama sekali atau sebagian kepunyaan orang
lain, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya dua tahun delapan bulan atau
denda sebanyak-banyaknya empat ribu lima ratus rupiah. Pasal tersebut dapat
dugunakan untuk menguji tindakan tersangka.
Dijelaskan dalam pasal 492 bahwa Barang siapa dalam keadaan mabuk di muka
umum merintangi lalu lintas, atau mengganggu ketertiban, atau mengancam
keamanan orang lain, atau melakukan sesuatu yang harus dilakukan dengan hati-hati
atau dengan mengadakan tindakan penjagaan tertentu lebih dahulu agar jangan
membahayakan nyawa atau kesehatan orang lain, diancam dengan pidana kurungan
paling lama enam hari, atau pidana denda paling banyak tiga ratus tujuh puluh lima
rupiah. Bahwa pasal tersebut relevan untuk digunakan dalam kasus diatas.
Legal Opinion
Fakta dalam kasus tersebut bahwa Sutan pada tanggal 18 April 2009 mengemudikan
mobilnya dengan begitu kencang. Sutan dengan tidak sengaja menabrak gerobak kaki
lima milik pedagang kaki lima di persimpangan jalan. Dijelaskan dalam pasal 406
KUHP bahwa Barang siapa dengan sengaja dan dengan malawan hukum,
menhancurkan, merusakkan, membuat sehingga tak dapat dipakai lagi atau
menghilangkan barang yang sama sekali atau sebagian kepunyaan orang lain,
dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya dua tahun delapan bulan atau denda
sebanyak-banyaknya empat ribu lima ratus rupiah. Disini Sutan tidak melakukan
penabrakan terhadap gerobak kaki lima tersebut dengan sengaja dan dengan maksud
dari sebelumnya. Ketidak hatian-hatian disini tidak dapat dimaksudkan bahwa
tindakan tersebut adalah tindakan dengan sengaja merusak gerobak tersebut. Unsur-
unsur dalam pasal tersebut tidak tepat untuk digunakan dalam kasus tersebut,
sehingga pasal tersebut tidak relevan untuk kasus tersebut.
Fakta dalam kasus tersebut bahwa Sutan yang menabrak gerobak pedagang kaki lima
tersebut tidak adanya indikasi bahwa Sutan dalam keadaan bawah sadar atau sedang
meminum minuman keras atau mabuk. Dijelaskan dalam pasal 492 bahwa Barang
siapa dalam keadaan mabuk di muka umum merintangi lalu lintas, atau mengganggu
ketertiban, atau mengancam keamanan orang lain, atau melakukan sesuatu yang harus
dilakukan dengan hati-hati atau dengan mengadakan tindakan penjagaan tertentu lebih
dahulu agar jangan membahayakan nyawa atau kesehatan orang lain, diancam dengan
pidana kurungan paling lama enam hari, atau pidana denda paling banyak tiga ratus
tujuh puluh lima rupiah. Dalam pasal tersebut, tidak ada unsur-unsur yang membuat
tersangka dapat duajukan dalam pasal tersebut karena dalam faktanya bahwa pelaku
tidak melakukan perbuatan melawan hukum tersebut dengan keadaan tidak sadar atau
dalam keadaan mabuk. Sehingga pasal tersebut tidak relevan untuk menjerat pelaku.

KASUS WANPRESTASI
Identifikasi Masalah
Telah terjadi perjanjian pinjam-meminjam pada tanggal 5 Januari 1978 antara Supena
dan Amin sebesar Rp 1.000.000.000
Supena akan melunasi utangnya pada tanggal 31 Maret 1978
Hingga batas waktu yang ditetapkan dan disepakati, Supena tidak melakukan
kewajiban hukumnya
Amin melakukan teguran lisan terhadap Supena agar memenuhi tanggung jawabnya,
tetapi Supena tidak mengindahkannya.

Legal Questions
Apakah Supena telah melakukan wanprestasi?
Apakah Amin dapat menggugat Supena dengan pasal 378 KUHP tentang penipuan?
Legal Opinion
Disebut wanprestasi dalam pasal 1238 KUHPerdata bahwa Debitur dinyatakan Ialai
dengan surat perintah, atau dengan akta sejenis itu, atau berdasarkan kekuatan dari
perikatan sendiri, yaitu bila perikatan ini mengakibatkan debitur harus dianggap Ialai
dengan lewatnya waktu yang ditentukan. Pasal tersebut relevan dan bisa untuk
menguji tentang kasus diatas.
Dalam pasal 378 KUHP disebut penipuan Apabila pelaku mempergunakan kata-kata
bohong, nama palsu dan tipu muslihat untuk menguntungkan diri sendiri dan orang
lain. Pasal tersebut relevan dan dapat untuk menguji tentang kasus diatas.
Legal Opinion
Fakta menyebutkan bahwa pada tanggal 5 Januari 1978 Supena telah meminjam uang
kepada Amin sebesar Rp 1.000.000.000 ( Satu Milyar rupiah) dan terbukti atau
dituliskan dalam kwitansi tanda penerimaan uang pada tanggal 5 Januari 1978. Dalam
kwitansi tersebut Supena telah berjanji untuk membayar kembali kepada Amin
selambat-lambatnya pada tanggal 31 Maret 1978. Bahwa sampai batas waktu yang
telah ditentukan Supena tidak mau melakukan kewajiban hukumnya untuk membayar
lunas atas utangnya tersebut kepada Amin. Atas kelalaian tersebut, Amin telah
melakukan teguran secara lisan terhadap Supena, akan tetapi Supena tidak
mengindahkannya. Pasal 1238 KUH Perdata disebutkan bahwa Debitur dinyatakan
Ialai dengan surat perintah, atau dengan akta sejenis itu, atau berdasarkan kekuatan
dari perikatan sendiri, yaitu bila perikatan ini mengakibatkan debitur harus dianggap
Ialai dengan lewatnya waktu yang ditentukan. Unsur-unsur diatas dalam pasal
tersebut sudah mencakup seluruh rangkaian fakta yang telah digabungkan dengan
penjelasan pasal. Sehingga Supena sebagai pelaku telah melakukan wanprestasi
terhadap Amir. Pasal tersebut relevan untuk membuat pelaku terjerat oleh pelaku
tersebut.
Fakta dalam kasus tersebut bahwa Supena tidak sama sekali mempergunakan kata-
kata palsu untuk menguntungkan dirinya ataupun orang lain dengan tindakan
wanprestasinya tersebut. Dalam pasal 378 KUHP disebut penipuan Apabila pelaku
mempergunakan kata-kata bohong, nama palsu dan tipu muslihat untuk
menguntungkan diri sendiri dan orang lain. Pasal tersebut tidak relevan karena tidak
mencakup unsur-unsur dalam fakta kasus diatas sehingga pelaku tidak dapat
dikenakan pasal tersebut karena pasal tersebut tidak relevan dengan perbuatan pelaku.