Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

ASESMEN DALAM PENDIDIKAN IPA



ASESMEN BERDASARKAN ENAM DIMENSI SAINS


OLEH :

KADEK CHANDRA SULASIH
THEODORA S. NIRMALA MANU
ARIE NOVI







PROGRAM STUDI PENDIDIKAN IPA
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
2013



KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Ida Sang
HyangWidhi Wasa karena berkat dan rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah yang berjudul Asesmen Berdasarkan Enam Dimensi Sains tepat pada waktunya.
Penyusunan makalah ini berkaitan dengan tugas kuliah Asesmen dalam Pendidikan
IPA, dimana sebagai salah satu aspek penilaian dalam kuliah tersebut. Dalam menyusun
makalah ini, kami banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak. Mereka dengan tulus ikhlas
memberikan bimbingan, motivasi, materi maupun fasilitas pendukung lainnya. Untuk itu,
melalui kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu penulisan makalah ini.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih belum sempurna karena
keterbatasan kami. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati kami sangat
mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca guna penyempurnaan
makalah ini.
Akhirnya, kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan
bagi perkembangan dunia pendidikan terutama dalam aspek penilaian/asesmen dalam
pembelajaran sains.

DAFTAR ISI

COVER
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
1.2.Rumusan Masalah
1.3.Tujuan
1.4.Manfaat
..........................................................................
..........................................................................
..........................................................................
...........................................................................
1
3
3
3
BAB II PEMBAHASAN
2.1. Dimensi Sains
2.2. Asesmen
Berdasarkan Enam
Dimensi Sains


..........................................................................

.........................................................................

4

11
BAB III PENUTUP
3.1. Simpulan
3.2. Saran


........................................................................
........................................................................

14
15
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Para ahli pendidikan memandang sains tidak hanya terdiri dari fakta, konsep, dan teori
yang dapat dihafalkan, tetapi juga terdiri atas kegiatan atau proses aktif menggunakan pikiran
dan sikap ilmiah dalam mempelajari gejala alam yang belum diterangkan. Secara garis besar
sains dapat didefenisikan atas dua komponen, yaitu (1) proses ilmiah, dan (2) produk ilmiah.
Proses atau keterampilan proses ilmiah merupakan bagian studi sains, termasuk materi
bidang studi yang harus dipelajari siswa.
Dalam proses pembelajaran sains di kelas, guru memiliki peran yang penting. Guru
merupakan salah satu komponen yang sangat menentukan dalam terselenggaranya proses
pendidikan. Berbagai konsep dikemukakan untuk mengungkap apa dan bagaimana
kemampuan yang harus dikuasai oleh guru di berbagai tingkatan sekolah. Misalnya, Gagne
(1974) mengemukakan bahwa dalam kegiatan belajar mengajar, terdapat tiga kemampuan
pokok yang dituntut dari seorang guru yakni: kemampuan dalam merencanakan materi dan
kegiatan belajar mengajar, kemampuan melaksanakan dan mengelola kegiatan belajar
mengajar, serta menilai hasil belajar siswa.
Dalam setiap pembelajaran, pendidik harus berusaha mengetahui hasil dari proses
pembelajaran yang ia lakukan. Hasil yang dimaksud adalah baik, tidak baik, bermanfaat,
atau tidak bermanfaat. Pentingnya diketahui hasil ini karena ia dapat menjadi salah satu
patokan bagi pendidik untuk mengetahui sejauh mana proses pembelajaran yang dia
lakukan dapat mengembangkan potensi peserta didik. Artinya, apabila pembelajaran yang
dilakukannya mencapai hasil yang baik, pendidik tentu dapat dikatakan berhasil dalam
proses pembelajaran dan demikian pula sebaliknya.
Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengetahui hasil yang telah dicapai oleh
pendidik dalam proses pembelajaran adalah melalui evaluasi. Evaluasi yang dilakukan oleh
pendidik ini dapat berupa evaluasi hasil belajar dan evaluasi pembelajaran.
Berbicara mengenai penilaian (evaluasi), ada empat istilah yang berkaitan dengan
konsep penilaian dan sering digunakan untuk mengetahui keberhasilan belajar dari peserta
didik yaitu: pengukuran, pengujian, penilaian dan evaluasi. Sebenarnya keempat proses
tersebut bersifat hirarkis, artinya kegiatan tersebut dilakukan secara berurutan dan berjenjang
yaitu dimulai dari proses pengukuran sampai evaluasi (Haryati, 2006)
Asesmen adalah kegiatan yang berkaitan dengan pengambilan keputusan tentang
pelaksanaan pembelajaran dan pencapaian kompetensi atau hasil belajar peserta didik yang
mengikuti proses pembelajaran. Untuk itu, diperlukan data sebagai informasi yang dapat
diandalkan sebagai dasar pengambilan keputusan. Data yang diperoleh guru
selama pembelajaran berlangsung dijaring dan dikumpulkan melalui prosedur dan alat
penilaian yang sesuai dengan kompetensi atau indikator yang akan dinilai. Dari proses ini,
diperoleh potret/profil kemampuan peserta didik dalam mencapai sejumlah standar
kompetensi dan kompetensi dasar yang dirumuskan dalam Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan masing-masing.
Oleh karena itu pelaksanaan kegiatan pendidikan perlu untuk secara berkala dinilai
untuk memperoleh informasi yang berguna bagi pengambilan kebijakan pendidikan dalam
rangka meningkatkan mutu pendidikan. Meningkatkan mutu pendidikan adalah sebagai
upaya meningkatkan mutu sumber daya manusia, meningkatkan daya saing masyarakat
dan bangsa, meningkatkan martabat pribadi, masyarakat dan bangsa serta mewujudkan
kemajuan, kemakmuran dan kesejahteraan hidup masyarakat dan bangsa.
Seperti halnya pada pembelajaran sains, bukan hanya untuk menguasai
sejumlah pengetahuan, tetapi juga harus menyediakan ruang yang cukup untuk
tumbuh berkembangnya sikap ilmiah, berlatih melakukan proses pemecahan masalah, dan
penerapan IPA dalam kehidupan nyata. Konsep-konsep sains bukan diperoleh peserta didik
(secara instant) dari pendidik ataupun buku-buku, melainkan melalui kegiatan-kegiatan
ilmiah. Kegiatan-kegiatan ilmiah meliputi kemampuan: melakukan pengamatan, mencatat
data, melakukan pengukuran, mengimplementasikan prosedur, mengikuti instruksi,
menginferensi, menyeleksi berbagai cara, merencanakan, melaksanakan, serta melaporkan
hasil investigasi. Oleh karena itu, diperlukan penilaian yang dapat memberikan informasi
yang menyeluruh terhadap tingkat kompetensi peserta didik. Selama ini pelaksanaan
penilaian kurang mampu menggali kemampuan peserta didik yang sesungguhnya. Penilaian
yang biasa dilakukan lebih banyak hanya mengukur dan menghargai aspek pemahaman
konsep saja, sementara aspek-aspek yang lain kurang diperhatikan.
Selama ini proses penilaian yang dilakukan semata-mata hanya menekankan pada
penguasaan konsep yang dijaring dengan tes tulis obyektif sebagai alat ukurnya. Keadaan
semacam ini merupakan salah satu penyebab pendidik enggan melakukan kegiatan
pembelajaran yang memfokuskan pada pengembangan keterampilan proses peserta didik.
Berdasarkan pemaparan di atas, menunjukkan bahwa bentuk atau sistem penilaian yang
digunakan dalam mengukur hasil belajar peserta didik belum dapat menunjukan informasi
yang otentik sesuai dengan harapan dalam rangka peningkatan mutu peserta didik.
Sepenuhnya guru-guru Sains haruslah memahami dengan benar prinsip dan konsep agar
berguna dalam melaksanakan penilaian terhadap peserta didik berdasarkan enam (6) dimesi
sains. Berdasarkan latar belakang diatas, maka kelompok II mengambil judul makalah :
ASESMEN BERDASARKAN ENAM DIMENSI SAINS.

1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1. Apakah yang dimaksud dengan dimensi sains?
2. Bagaimana pelaksanaan assesmen berdasarkan enam dimensi sains?

1.3. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini sebagai berikut :
1. Untuk memberikan informasi tentang pengertian dimensi sains
2. Untuk memberikan penjelasan tentang pelaksanaan assesmen berdasarkan enam dimensi
sains.

1.4. Manfaat Penulisan
Makalah ini diharapkan dapat bermanfaat :.
1. Bagi mahasiswa, sebagai salah satu materi dalam mata kuliah asesmen dalam Pendidikan
IPA
2. Bagi guru sebagai sumbangan pikiran mengenai pelaksanaan asesmen dalam
pembelajaran berdasarkan enam dimensi sains
3. Bagi penulis lain, sebagai bahan rujukan dalam melakukan penelitian lebih lanjut

BAB II
PEMBAHASAN

2.1.Dimensi Sains
Secara umum istilah sains (science) diartikan sebagai ilmu atau ilmu pengetahuan.
Istilah science yang berasal dari scio, scire (bahasa latin) yang berarti tahu. Begitupun juga
ilmu berasal dari kata alima (bahasa arab) yang juga berarti tahu. Jadi, baik ilmu maupun
science secara etimologis berarti pengetahuan. Dalam makna sempit, sains diartikan sebagai
natural sains atau ilmu kealaman yang terdiri atas disiplin ilmu physical sciences dan life
sciences. Sains dibentuk oleh karena dua orde pengalaman, yaitu hasil observasi terhadap
gejala/fakta (orde observasi) dan konsep manusia mengenai alam semesta (orde
konsepsional). Oleh karena itu, sains merupakan kumpulan pengetahuan yang menelaah atau
mengaji fakta-fakta empiris. Fakta empiris yang dimaksudkannya adalah fakta yang langsung
dialami oleh manusia yang menggunakan panca inderanya. Sedangkan syarat yang harus
dipenuhi oleh sekumpulan pengetahuan yang dikandung dalam ilmu itu adalah susunannya
harus logis, sistematis dan diperoleh dengan metode keilmuan. (Farida Ch, 2012)
Cukup sulit memunculkan suatu pengertian sains yang dapat diterima oleh semua
pihak, termasuk oleh para ahli atau orang-orang yang berkecimpung dalam bidangnya.
Terkadang pengertian yang satu tidak selaras, bahkan seperti bertentangan dengan pengertian
lainnya. Hal ini terjadi paling tidak diakibatkan oleh 2 hal yang paling mendasar. Pertama,
karena sangat luasnya ruang lingkup kajian dan eksplorasi dalam keilmuan bidang sains,
sehingga memungkinkan para sainstis dalam menggali dan mengembangkannya dapat
meninjau dari berbagai sudut pandang yang relative berbeda, kedua, karena sifat sains yang
dinamis, yaitu berkembang terus menerus seiring dengan berbagai usaha dan explorasi
manusia dari waktu ke waktu untuk menemukan hakekatnya, sehingga berbagai perspekif
baru setiap kali dapat saja ditemukan dan dikemukakan kepada masyarakat.
Dari uraian diatas dapat ditarik pengertian sains secara substansial. Berdasarkan
definisi-definisi yang telah disajikan, dapat disimpulkan bahwa sains dapat dipandang baik
sebagai suatu proses, maupun hasil atau produk, serta sebagai sikap. Dengan kata lain sains
dapat dipandang sebagai suatu kesatuan dari proses, sikap dan hasil.
Gambaran tentang batasan dari sains sebagai proses, sebagai produk dan sebagai
sikap dijelaskan sebagai berikut :
Pertama, sains sebagai suatu proses adalah metode untuk memperoleh pengetahuan.
Gambaran sains berhubunagan erat dengan kegiatan penelusuran gejala dan fakta-fakta alam
yang dilakukan melalui kegiatan laboratorium beserta perangkatnya. Sains dipandang sebagai
suatu disiplin (keilmuan) yang ketat, obyektif dan bebas nilai. Kebenaran sains akan diakui
jika penelusurannya berdasar pada kegiatan pengamatan, hipotesis (dugaan) dan percobaan-
percobaan yang ketat dan obyektif. Meskipun kadang berseberangan dengan nilai yang ada.
Jadi sains menuntut proses yang dinamis dalam berfikir, pengamatan, eksperimen,
menemukan konsep maupun merumuskan berbagai teori. Rangkaian proses yang dilakukan
dalam kegiatan sains tesebut, saat ini dikenal dengan sebutan metode keilmuan atau metode
ilmiah (scientific method).
Kedua, sains sebagai suatu produk terdiri atas berbagai fakta, konsep, prinsip,
hukum dan teori. Fakta adalah suatu yang telah atau sedang terjadi yang dapat berupa
keadaan, sifat atau peristiwa; sedangkan konsep adalah suatu ide yang merupakan
generalisasi dari berbagai peristiwa atau pengalaman khusus, yang dinyatakan dalam istilah
atau symbol tertentu yang dapat diterima. Konsep mengacu pada benda-benda (obyek),
peristiwa, keadaan, sifat, kondisi, ciri dan atribut yang melekatnya. Sedangkan teori adalah
komposisi yang dihasilkan dari pengembangan sejumlah preposisi (pernyataan berarti) yang
dianggap memiliki keterhubungan secara sistematis, dan kebenarannya sudah teruji secara
empiric serta dianggap berlaku secara universal (Hasan,1996 dalam Komarayanti, 2011 ).
Berdasarkan kajian terhadap dua pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa
sains pada hakikatnya meliputi enam dimensi dan dikenal sebagai enam dimensi sains, yaitu:
1. Dimensi produk ( concept domain );
2. Dimensi proses ( process domain);
3. Dimensi aplikasi( application domain );
4. Dimensi kreativitas ( creativity domain);
5. Dimensi sikap (attitude domain ); dan
6. Dimensi sifat sains (nature of schience domain) (Enger, et al. 1930).

a. Dimensi Konsep (concept domain)
Konsep sains adalah pusat untuk instruksi ilmu pengetahuan, dan pemahaman siswa
terhadap konsep-konsep penting agar mengajar dan belajar menjadi sukses. Millar (1989)
mencatat bahwa tanpa konsep ilmu pengetahuan, itu akan hampir tidak mungkin bagi siswa
untuk mengikuti banyak diskusi publik tentang hasil ilmiah atau isu kebijakan publik yang
berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurut Thagard (1992) sistem
konseptual terutama terstruktur melalui jenis atau hirarki (misalnya, Tweety adalah burung
kenari, merupakan jenis burung, yang merupakan jenis hewan) dan bagian-keseluruhan
hirarki (yaitu, jari kaki merupakan bagian dari kaki , yang merupakan bagian dari kaki, yang
merupakan bagian dari tubuh).
Jika tujuan dasar ilmu pendidikan adalah untuk membantu siswa membangun
pemahaman tentang dunia alam, maka pengetahuan siswa sebelumnya harus menjadi titik
awal untuk instruksi. Penilaian memasuki bidang pandang untuk membantu membuat
penentuan dimana siswa sehubungan dengan pemahaman konseptual. Bukti bahwa konsep
ilmu yang telah dipelajari dibuktikan paling kuat ketika siswa dapat menggunakan konsep-
konsep dalam situasi kehidupan nyata atau dunia nyata (guru sains Nasional Asosiasi
(NSTA),1982).
Sains di ruang kelas telah dilihat dan dipraktekkan selama puluhan tahun sebagai
tubuh pengetahuan atau fakta yang harus dipelajari atau diserap oleh siswa. Klasik, ini terjadi
dengan menghafal fakta dan konsep dari buku teks. Pengetahuan dan fakta-fakta ilmu jelas
penting dan memang diperlukan, tetapi mengingat fakta-fakta sebagai satu-satunya tujuan
pendidikan ilmu melanggar semangat hakikat ilmu itu sendiri.
Sains sebagai konsep (concept) yaitu berupa pengetahuan baik pengetahuan
faktual, prosedural, maupun konseptual meliputi prinsip, hukum, dan teori. Hasil dari
beberapa konsep ini adalah produk. Yang dimaksud produk disini adalah produk ilmiah
(scientific product) yang merupakan hasil dari proses ilmiah. Sains sebagai Produk
merupakan akumulasi hasil upaya para perintis sains terdahulu dan umumnya telah tersusun
secara lengkap dan sistematis dalam bentuk buku teks. Dalam pembelajaran sains seorang
guru dituntut untuk dapat mengajak peserta didiknya memanfaatkan alam sekitar sebagai
sumber belajar. Alam sekitar merupakan sumber belajar yang paling otentik dan tidak akan
habis digunakan. Produk sains merupakan sekumpulan hasil kegiatan empirik dan kegiatan
analitik yang dilakukan oleh para ilmuwan selama berabad-abad. Produk-produk sains ada
dikemukakan dengan istilah-istilah : fakta, konsep, prinsip,dan teori.
Fakta dalam sains adalah pernyataan-pernyataan tentang benda-benda yang benar-
benar ada, atau peristiwa yang betul-betul terjadi dan sudah dikonfirmasi secara obyektif.
Contoh : atom hidrogen mempunyai satu elektron; merkurius adalah planet terdekat dengan
matahari; air membeku pada suhu 0 Celsius.
Konsep sains adalah suatu ide yang mempersatukan fakta-fakta. Konsep
merupakan penggabungan antara fakta-fakta yang ada hubungannya satu sama lain. Contoh :
semua zat tersusun atas partikel-partikel; benda-benda hidup dipengaruhi oleh lingkungan;
materi akan berubah tingkat wujudnya bila menyerap atau melepaskan energi.
Prinsip sains adalah generalisasi tentang hubungan antara konsep-konsep sains.
Contohnya: udara yang dipanaskan akan memuai, adalah prinsip menghubungkan konsep
udara, panas, pemuaian. Artinya udara akan memuai jika udara tersebut dipanaskan.
Teori ilmiah merupakan kerangka yang lebih luas dari fakta-fakta, konsep-konsep,
dan prinsip-prinsip yang saling berhubungan. Teori bisa juga dikatakan sebagai model, atau
gambar yang dibuat oleh ilmuwan untuk menjelaskan gejala alam. Contoh : teori meteorologi
membantu para ilmuwan untuk memahami mengapa dan bagaimana kabut dan awan
terbentuk..

b. Dimensi Proses ( process domain )
Sains sebagai Proses ( process) yaitu berkaitan dengan prosedur pemecahan masalah
dengan menggunakan metode ilmiah yang meliputi merumuskan hipotesis, merancang dan
melaksanakan penyelidikan, mengumpulkan dan menganalisis data, serta
menarik kesimpulan.
Yang dimaksud proses disini adalah proses ilmiah (scientific process)
untuk mendapatkan sains. Sains disusun dan diperoleh melalui metode ilmiah. Jadi yang
dimaksud proses sains adalah metode ilmiah. Sepuluh keterampilan proses meliputi : (1)
observasi; (2) klasifikasi; (3) interpretasi; (4) prediksi; (5) hipotesis; (6) mengendalikan
variabel; (7) merencanakan dan melaksanakan penelitian; (8) inferensi; (9) aplikasi; (10)
komunikasi
Proses ilmiah yang harus dilatihkan melalui pembelajaran sains, antara lain:
mengidentifikasi masalah, melakukan pengamatan (observasi), menyusun hipotesis,
merancang dan melakukan penyelidikan, dan merumuskan simpulan. Keterampilan inkuiri
lain yang mewarnai pembelajaran sains adalah: mengukur, menggunakan peralatan,
menggolongkan atau melakukan klasifikasi, mengolah dan menganalisis data, menerapkan
ide pada situasi baru, serta mengkomunikasikan informasi dalam berbagai cara, misalnya
dengan gambar, lisan, tulisan, dan sebagainya.
Latihan Proses ilmiah dapat mengembangkan sikap dan nilai, antara lain: rasa ingin
tahu, jujur, sabar, terbuka, skeptis, kritis, tekun, ulet, cermat, disiplin, peduli terhadap
lingkungan, memperhatikan keselamatan kerja, dan bekerjasama dengan orang lain. Sains
sebagai proses/metode meliputi : cara berfikir, sikap dan langkah-langkah kegiatan scientis
untuk memperoleh produk sains, misalnya : observasi, pengukuran, merumuskan, menguji
hipotesis, mengumpulkan data, bereksperimen dan prediksi. Sains sebagai proses
menyangkut proses atau cara kerja untuk memperoleh hasil (produk) inilah yang kemudian
dikenal sebagai proses ilmiah. Melalui proses-proses ilmiah akan didapatkan temuan-temuan
ilmiah.

c. Dimensi Aplikasi (application domain )
Sains sebagai Aplikasi (application domain) yaitu berkaitan dengan penerapan metode
ilmiah dan produk sains dalam kehidupan sehari-hari. Yang dimaksud aplikasi disini adalah
aplikasi ilmiah (scientific application) untuk menerapkan proses-proses ilmiah yang telah
dilakukan dan menerapkan produk-produk ilmiah yang diperoleh dari proses ilmiah dalam
kehidupan nyata. Proses dan produk ilmiah yang diterapkan bertujuan untuk
memecahkan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari agar dapat hidup secara mandiri.
Keterampilan dimensi aplikasi meliputi :
(1) Berpikir kritis;
(2) Bertanya dengan open-ended
(3) Menggunakan proses ilmiah dalam memecahkan masalah yang terjadi dalam kehidupan
sehari-hari;
(4) Mengambil keputusan dengan sikap ilmiah;
(5) Memahami danevaluasi laporan media massa tentang perkembangan ilmiah;
(6) Menerapkan konsep ilmu pengetahuan dan keterampilan untuk masalah teknologi;
(7) Mampu untuk membuat intradisciplinary connections-integration pada sains
(8) Mampu untuk membuat interdisciplinary connections-integration pada sains dan ilmu
pengetahuan yang lain;
(9) Memahami prinsip-prinsip ilmiah dan teknologi yang terlibat dalam umum perangkat
teknologi

d. Dimensi Kreativitas (creativity domain)
Sains sebagai kreativitas berhubungan dengan ide baru atau cara-cara yang tidak
biasa dalam menggambarkan dan memanfaatkan produk sains serta kegiatan pemecahan
masalah. Yang dimaksud kreativitas disini adalah kreativitas ilmiah (scientific creativity)
dalam upaya memanfaatkan produk sains serta kegiatan pemecahan masalah dari proses
ilmiah untuk menghasilkan ide-ide atau gagasan-gagasan baru untuk kelangsungan hidup
umat manusia.
Keterampilan dimensi kreativitas meliputi:
(1) Visualization-production of mental images
(2) Generation of metaphors
(3) Imajinasi
(4) Menggabungkan ide-ide baru
(5) Bertanya bersifat open-ended
(6) Mampu memecahkan masalah;
(7) Menggunakan pertimbangan alternative;
(8) Membuat ide-ide yang tidak biasa;
(9) Menghasilkan berbagaimodes of communicating

e. Dimensi Sikap (attitude domain)
Sains sebagai Pemupukan Sikap (attitude) yaitu berkaitan dengan rasa ingin tahu
tentang benda, fenomena alam, makhluk hidup, serta hubungan sebab akibat yang
menimbulkan masalah baru yang dapat dipecahkan melalui prosedur yang benar. Makna
sikap pada pembelajaran sains dibatasi pengertiannya padasikap ilmiah (scientific
attitude). Sikap ilmiah yang dapat dikembangkan pada peserta didik diantaranya: sikap ingin
tahu, sikap ingin mendapatkan sesuatu yang baru, sikap kerja sama, sikap tidak putus
asa,sikap tidak berprasangka, sikap mawas diri, sikap bertanggung jawab, sikap berfikir
bebas,sikap kedisiplinan diri. Sikap (attitude) adalah kecenderungan mental terhadap orang,
objek, subjek, peristiwa,dan sebagainya. Dalam sains, sikap ini penting karena tiga faktor
utama:
a. Sikap siswa membawa kondisi mental kesiapan terhadap matapelajaran sains. Dengan
sikap positif, anak akan melihat objek ilmu, topik, kegiatan, dan orang-orang secara
positif. Seorang anak yang belum siap atau ragu-ragu, karena alasan apapun, akan kurang
bersedia untuk berinteraksi dengan orang-orang dan hal-hal yang terkait dengan ilmu
pengetahuan.
b. Sikap bukanlah perilaku bawaan atau keturunan. Sikap seorang anak dapat diubah melalui
pengalaman. Guru dan orang tua memiliki pengaruh besar pada sikap anak terhadap IPA.
c. Sikap bersifat dinamis berdasarkan hasil pengalaman yang bertindak sebagai faktor
pengarah ketika seorang anak memasuki pengalaman baru. Keputusan dan evaluasi anak
dapat menyebabkan pergeseran prioritas dan kesukaan. Dalam pembelajaran IPA, sikap
dan nilai-nilai siswa yang negatif terhadap IPA seharusnya dapat digeser, dari negatif ke
netral dan bahkan ke sudut pandang positif. Seiring dengan waktu, dan dengan
pengalaman positif lanjutan dan penyesuaian dalam sikap, siswa mungkin menjadi lebih
terbuka terhadap ilmu pengetahuan, berpikir secara berbeda, dan mengumpulkan ide- ide
yang lebih bermanfaat.
Sains membentuk nilai-nilai tertentu, yang sering kali disebut sikap ilmiah. Beberapa
nilai tersebut berbeda dalam jenis atau intensitasnya dari nilai-nilai kegiatan manusia lainnya,
seperti bisnis, hukum, dan seni. Nilai-nilai tersebut muncul dari sisi hakikat sains, budaya
masyarakat sains, dan nilai sehari-hari yang selaras sains, antara lain:
a. Menghargai data yang dapat diverifikasi, hipotesis yang dapat diuji, prediksi, serta
pembuktian yang teliti.
b. Memiliki keyakinan dan perasaan yang positif terhadap IPA sebagai hasil kerja
kerasmanusia.
c. Menghargai nilai-nilai kemanusiaan yang relevan dengan pengembangan IPA, yakni
integritas, ketekunan, kejujuran, rasa ingin tahu, keterbukaan terhadap ide-ide baru,
skeptisme, dan imajinasi.

f. Dimensi sifat sains (nature of science domain)
Sains sebagai sifat sains dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang
bagamaimana agar sains dapat lebih berkembang. Sains itu adalah usaha yang dilakukan
manusia yang mengandalkan dengan penalaran, wawasan, keterampilan, dan kreativitas.
Pengetahuan ilmiah yang dilakuakan oleh para ilmuan telah memberikan peran yang penting
dalam perkembangan sains dalam kehidupan. Meningkatkan kesadaran siswa dan
mengembangkan pemahaman merupakan hal yang penting dalam pelajaran sains.
Keterampilan yang dikembangkan dalam dimensi sains yang ilmiah adalah:
1. Merangkai pertanyaan dalam sebuah penelitian ilmiah;
2. Bersifat kompetitif dalam penelitian ilmiah;
3. Menggunakan metode ilmiah dalam penelitian ilmiah;
4. Dapat menggabungkan antara beberapa ilmu pengetahuan, teknologi,ekonomi, politik,
sejarah, sosiologi, dan filsafat;
5. Dapat bekerja sama dengan tim dalam penelitian ilmiah;
6. Menentukan asal usul ide ilmiah; dan
7. Menentukan cara agar ilmu pengetahuan dapat membangun pemahaman tentang dunia
alam.

2.2 Assesmen Berdasarkan Enam Dimensi Sains
Asesmen adalah kegiatan guru yang berkaitan dengan pengambilan keputusan
tentang pelaksanaan pembelajaran dan pencapaian kompetensi atau hasil belajar peserta didik
yang mengikuti proses pembelajaran. Untuk itu, diperlukan data sebagai informasi yang
dapat diandalkan sebagai dasar pengambilan keputusan. Data yang diperoleh guru
selama pembelajaran berlangsung dijaring dan dikumpulkan melalui prosedur dan alat
penilaian yang sesuai dengan kompetensi atau indikator yang akan dinilai. Dari proses ini,
diperoleh potret/profil kemampuan peserta didik dalam mencapai sejumlah standar
kompetensi dan kompetensi dasar yang dirumuskan dalam Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan masing-masing (Admin, 2011). Penjelasan tersebut di atas mengandung makna
bahwa jauh sebelum diberlakukannya sistem Penilaian Kelas dari Kurikulum 2004, penilaian
tidak hanya ditujukan pada penguasaan salah satu bidang tertentu saja, melainkan
menyeluruh dan mencakup aspek kognitif, afektif maupun psikomotorik. Setiap penggunaan
asesmen alternatif bentuk apapun dicirikan oleh hal-hal berikut:
1. Menuntut siswa untuk merancang, membuat, menghasilkan, mengunjukkan
ataumelakukan sesuatu;
2. Memberi peluang untuk terjadinya berpikir kompleks dan/atau memecahkan masalah;
3. Menggunakan kegiatan-kegiatan yang bermakna secara instruksional;
4. Menuntut penerapan yang autentik pada dunia nyata;
5. Pensekoran lebih didasarkan pada pertimbangan manusia yang terlatih daripada
mengandalkan mesin. Penggunaan jenis asesmen yang tepat akan sangat menentukan
keberhasilan dalam mengakses informasi yang berkenaan dengan proses pembelajaran.
Pemilihan metode asesmen harus didasarkan pada target informasi yang ingin dicapai.
Target pada pembelajaran sains menyangkut pada enam dimensi sains yang telah
dikemukakan di atas. Jadi asesmen yang dilakukan pada pembelajaran sains mengacu
pada enam dimensi sains (Enger, et al. 1930).

1. Asessemen berdasarkan dimensi konsep(concept domain). Asesmen berdasarkan dimensi
konsep ini dapat diartikan sebagai suatu penilaian untuk ranah kognitif (pengetahuan)
peserta didik. Pengetahuannya itu berupa produk sains yang telah dikemukakan. Namun,
dalam hal ini bukan berarti menghafalkan produk sains (konsep, prinsip, hukum, atau
teori) tetapi lebih dari itu yaitu peserta didik dituntut untuk memahami produk-produk
sains itu. Dalam asesmen ini, instrumen yang digunakan dapat berupa instrumen tes
maupun nontes. Tes berkaitan dengan benar salah, sedangkan non tes tidak berkaitan
dengan benar dan salah, melainkan berkaitan dengan baik dan buruk, suka dan tidak suka,
setuju dan tidak setuju, dan sebagainya. Tes formal dan non formal, lebih dibedakan atas
dasar struktur ataukonstruksi instrumen. Untuk tes formal sudah ada struktur yang dapat
dikatakan baku atau dibakukan. Bentuk-bentuk tes formal antara lain : pilihan ganda,
asosiasi pilihan ganda,sebab-akibat, melengkapi (isian singkat), Uraian objektif, uraian
non objektif (essay), menjodohkan

2. Asessemen berdasarkan dimensi proses (procces domain) Asesmen berdasarkan dimensi proses
ini dapat diartikan sebagai suatu penilaian untuk ranah psikomotor (kinerja ilmiah)
peserta didik. Kinerja ilmiah ini meliputi kemampuan : melakukan pengamatan, mencatat
data, melakukan pengukuran, mengimplementasikan prosedur, mengikuti instruksi,
menginferensi, menyeleksi berbagai cara/prosedur,merencanakan, melaksanakan, serta
melaporkan hasil investigasi. Pada penilaian ini, peserta didik diharuskan melakukan
tugas tertentu yang dapat mengggambarkan keterampilannya, seperti praktik di
laboratorium. Peserta didik diminta untuk mendemonstrasikan kompetensi dan
keterampilannya dalam bidang tertentu. Penilai (guru) dapat menggunakan
lembar pengamatan (check list ) atau skala penilaian (rating scale) untuk aspek-aspek
yang diamati/dinilai. Penilaian unjuk kerja sering disebut penilaian autentik atau penilaian
alternatif yang bertujuan untuk mengetahui tingkat kompetensi peserta didik dalam
menye-lesaikan masalah-masalah di kehidupan nyata. Penilaian ini menggunakan tes
yang juga disebut tes unjuk kerja. Hasil tes ini dapat digunakan untuk perbaikan proses
pembelajaran sehingga kompetensi peserta didik mencapai pada tingkat yang diinginkan.
Pada kegiatan pembelajaran ini masingtergolong pada proses eksplorasi yaitu suatu
kegiatan pembelajaran untuk mencaritemukan berbagai informasi, pemecahan masalah,
dan inovasi.

3. Asessemen berdasarkan dimensi aplikasi (aplication domain) Asesmen berdasarkan
dimensi aplikasi ini dapat diartikan sebagai suatu penilaian untuk kegiatan peserta didik
dalam mengaplikasikan atau menerapkan produk sains (pengetahuan) dan proses sians
(metode ilmiah). Pada kegiatan pembelajaran ini sudah digolongkan pada kegiatan
elaborasi yaitu serangkaian kegiatan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik
mengekspresikan dan mengaktualisasikan diri melalui berbagai kegiatan dan karya yang
bermakna. Dalam kegiatan ini peserta didik dapat melakukan sesuatu dan/atau
menghasilkan sesuatu. Sehingga instrumen dalam asesmen yang digunakan dapat berupa
tes unjuk kerja dan/atau tes unjuk produk, dengan menggunakan lembar pengamatan
(check list ) atau skala penilaian (rating scale) untuk aspek-aspek yang dinilai.

4. Asessemen berdasarkan dimensi kreativitas (creativity domain) Asesmen berdasarkan
dimensi kreativitas ini dapat diartikan sebagai suatu penilaian untuk kegiatan peserta
didik dalam upaya memanfaatkan produk sains serta kegiatan pemecahan masalah dari
proses ilmiah untuk menghasilkan ide-ide atau gagasan-gagasan baru untuk kelangsungan
hidup umat manusia. Pada kegiatan pembelajaran ini digolongkan pada kegiatan elaborasi
dan juga konfirmasi karena memungkinkan di sini diberikan penilaian, penguatan, dan
pembenaran atas apa yang dihasilkan. Instrumen dalam asesmen ini lebih cenderung pada
tes unjuk produk dengan menggunakan lembar pengamatan yang dilengkapi dengan
rubrik penskoran untuk aspek yang dinilai atas hasil kerja peserta didik. Namun, dapat
juga dilakukan penilaian terhadap proses kinerja yang dilakukan dalam menghasilkan ide-
ide baru, sehingga dapat digunakan instrumen tes unjuk kerja

5. Asessemen berdasarkan dimensi sikap (attitude domain) Asesmen berdasarkan dimensi
sikap ini dapat diartikan sebagai suatu penilaian untuk ranah afektif peserta didik. Sikap
atau perilaku sebagai aspek penampilan atau performance peserta didik dapat diukur
dengan lembar pengamatan terutama ketika penampilan itu muncul atau digali untuk
muncul. Sikap atau perilaku peserta didik tersebut dikaitkan dengan hasil pananaman
nilai-nilai (religi, sosial, intelektual, dan pendidikan) dari materi sains. Data
hasil pengamatan sebagai hasil pengukuran penampilan, cenderung merupakan data
ordinal. Ada beberapa model pengukuran terhadap perilaku atau sikap afeksi ini,
misalnya Skala Likert,Skala Perbedaan Semantik, dan Skala Thurstone.

6. Asessemen berdasarkan dimensi sifat sains (nature of science domain) Asesmen
berdasarkan dimensi sifat sains ini dapat diartikan sebagai suatu penilaian atas sikap
ilmiah/afektif maupun kinerja ilmiah/psikomotorik peserta didik. Kecenderungan ini
dilakukan mengingat dalam hal ini sains itu merupakan apa yang dilakukan para ilmuwan
dalam kegiatan ilmiahnya untuk menghasilkan suatu produk sains. Apabila peserta
didik diperlakukan sebagai seorang ilmuwan, maka penilaian yang diterapkan berupa
penilaian kinerja dan sikap ilmiahnya, dengan instrumen dapat berupa tes unjuk kerja dan
tes afektif.

BAB III
PENUTUP

3.1. Simpulan
Berdasarkan pembahasan diatas, dapat di tarik simpulan sebagai berikut:
1. Secara garis besar sains dapat didefenisikan atas dua komponen, yaitu (1) proses ilmiah,
dan (2) produk ilmiah.
2. Terdapat enam dimensi sains yaitu:
a. Dimensi produk ( concept domain );
b. Dimensi proses ( process domain);
c. Dimensi aplikasi( application domain );
d. Dimensi kreativitas ( creativity domain);
e. Dimensi sikap (attitude domain ); dan
f. Dimensi sifat
3. Asesmen yang di lakukan dalam kelas mengacu pada 6 dimensi sains yaitu:
a. Dimensi produk ( concept domain ); dalam asesmen ini, instrumen yang digunakan
dapat berupa instrumen tes maupun nontes.
b. Dimensi proses ( process domain); dalam asesmen ini guru dapat menggunakan
lembar pengamatan (check list ) atau skala penilaian (rating scale) untuk aspek-aspek
yang diamati/dinilai. Penilaian unjuk kerja sering disebut penilaian autentik atau
penilaian alternatif yang bertujuan untuk mengetahui tingkat kompetensi peserta didik
dalam menyelesaikan masalah-masalah di kehidupan nyata. Penilaian ini
menggunakan tes yang juga disebut tes unjuk kerja.
c. Dimensi aplikasi( application domain ); instrumen dalam asesmen yang digunakan
dapat berupa tes unjuk kerja dan/atau tes unjuk produk, dengan menggunakan
lembar pengamatan (check list ) atau skala penilaian (rating scale) untuk aspek-aspek
yang dinilai
d. Dimensi kreativitas ( creativity domain); instrumen dalam asesmen ini lebih cenderung
pada tes unjuk produk dengan menggunakan lembar pengamatan yang dilengkapi
dengan rubrik penskoran untuk aspek yang dinilai atas hasil kerja peserta didik.
e. Dimensi sikap (attitude domain ); sikap atau perilaku peserta didik tersebut dikaitkan
dengan hasil pananaman nilai-nilai (religi, sosial, intelektual, dan pendidikan) dari
materi sains. Data hasil pengamatan sebagai hasil pengukuran penampilan, cenderung
merupakan data ordinal. Ada beberapa model pengukuran terhadap perilaku atau sikap
afeksi ini, misalnya Skala Likert,Skala Perbedaan Semantik, dan Skala Thurstone.
f. Dimensi sifat; penilaian yang diterapkan berupa penilaian kinerja dan sikap
ilmiahnya, dengan instrumen dapat berupa tes unjuk kerja dan tes afektif.

3.2. Saran
Berdasarkan pembahasan dari penulisan makalah ini, maka disarankan kepada guru
untuk melakukan asesmen berdasarkan enam dimensi sains sehingga setiap informasi yang
diinginkan dapat tercapai.


DAFTAR PUSTAKA

Admin. 2011. Karakteristik dan Teknik Asesmen. Tersedia pada:
http://blog.tp.ac.id/ pengertian-asesmen. Di akses pada tanggal: 10 Oktober 2013
Enger, S. & Yager, R. 1930. Assessing Student Understanding In Science: A Standards-
Based K-12 Handbook . United of America: Library Of Congress C
ataloging In Publication Data
Farida, Ch. 2012. Hakekat Sains.Tersedia pada : http://faridach.wordpress.com. Di akses
pada tanggal 10 Oktober 2013
Haryati, Mimin. 2006. Sistem Penilaian Berbasis Kompetensi. Jakarta: Gaung Persada Press
Komarayanti, Sawitri. 2011. Apakah Sains Itu. Tersedia pada:
http://paudunmuhjember.blogspot.com. Di akses pada tanggal : 10 Oktober 2013