Anda di halaman 1dari 172

: 11r i :

:-::---::::'
- :
?":i:lits-.
P.EDO[ffN
|;ff\rcF|i!I;l ttAru ii\rfl-tiSt fti(,l5rti[tiill l
|J ill
iitifh
i{ 5I titi
/ A
Depar t emen Kesehat an Rl .
{b/ |
Di r ekt or at Jender al Pel ayanan Medi k, 6pesi al i st i k
Kata Pengantar
Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kirasa yang ielah
memberi bimbingan dan petunjuk kepada kita, sehingga kita berhasil
menerbitkan Buku Pecloman pengendalian infeksi n*esokomial di Rumah
Sakit. Rumah Sakit merupakan salah satu sarana penyedia pelayanan
kesehat an yang sekal i gus ber t anggung
j awab
dal am mel akukan
perlindungan
tefiadap pasien. Hal ini sering menjadi tantangan bagi rumah
sakil karena memeilukan perhatian khusus dalarn memberikan pelayanan
kesehatan yang bermutu secar:r keseluruhan. Dapat disadari bahwa bentuk
-
perhat i an
t ersebr: t aCal ah rnasi h kurangnya kual i t as dan kuant i t as
pengendalian
infeksinosokomial di rumah sakit, sebab infeksi nosokomial
sangat erat tei-kait dengan ha[ pasien akan pelayanan yang baik dan
bermuiu. lnfeksi nosokomial pada prinsipnya dapat dicegatr, walaupun
t i dak dapat oi hi l angkan sama sekal i .
Buku "Pedoinan Pengendalian Infeksi Nosokomial di Rumah Sakit" ini
sangat penting bagi pietugas rumah sakit dalam melaksanakan
pencegahan
di rumah sakit masing+nasing. Namun kami menyadari bahwa buku.ini
masih
jauh
dari sernpurna, untuk itu masukan dari pembaca sangat kami
harapkan dalam.penyempumaan buku ini dimasa yang akan datang"
f i m Penyusun.
SAMBUTAN DIREKTUR JENDERAL PELAYANAN MEDIK
Rumah Saki t harus mampu memberi kan pel ayanan kesehat an yang
berianggung
jawab
terhadap tuntutan atas hak pasien. Undang-Undang
Pedindungan Konsumen yang melindungi pasien dari kesalahan pelayanan
kesehatan menjadi tantangan yanE harus diantisipasi para sejawat praktisi
medis dengan
peningkatan kualitas pelayanan yang.menyeluruh. Perlu
Jisadari, bahwa di Indonesia kuafitas pengendalian infeksi nosokomial
nasih rendah dan kurang menCapatperhatian. Sehubungan dengnan itu,
;aya nnerasa hal ini sangat pentig cian perlu diangkat karena berkaitan
lengan hak pa' sien
e.han
pelayanan yang bertanggung
jawab-
Pada
rrinsipnya, semua infeksi nosokomial mudah dicegah, apabila semua
' elayanan
sudah mengacu kepada standar Pelayanan Rumah Sakit dan
itandar Pelayanan Medis dalamJnenuju pelayanan yang terakreditasi di
.rmah sarkit. Melalui buku "Pedoman Pengendalian Infeksi Nosokomialdi
lumah Sakit" ini, saya mengajak selawat dan semua petuga.s di rumah
akit untuk rnelaksanakan pelayanan kesehatan secara ra:;iaiieldan sesuai
errgan Standar Pelayanan Rurnah Sakit dan Stadar Pelayanan MeC:s.
ay a percaya bahwa peningkatan kualitas pengendalian i nfeksi n csckcmia I
emberi keuntungan bagisejawaf rumah sakit dan pasien.
:kali lagi melalui buku ini saya mengajak sejawat senrua terlibat dan
lrtanggung
jawab
atas pelaksanaan pengenclalian infeksi nosokcmiai
rng dilakukan di iingkungan sejawat terutarna dalam hal merubah diri
:nuju pelayanan kesehatan yang rasional dan bertanggung
jawab.
PEI-AYANAN MEDIK
tf. DR. Dr. M. Ahmad Djojosugito, MHA
.
NtP 140 030 236
TIM PENYUSU}i BUKU
' PEDOMAN
PENGENDALIAN INFEKSI NOSOKOMIAL
DIRUMAH SAKIT
KETUA : Dr. Achrnad Hardiman. MARS.
Direktur Pelayanan Medik Spesialistik.
SEKREIARTS : Prof. DR. lr. Djoko Roeshadi. FICS
I
RSIiD Dr. Soetomo I
\ /
. V
Jakarta
Surabaya
Jakarta
Jakarta
. l akart a
Jakarta
Jakarta
Jakarta
Sui ' abaya
ANGGOTA :
Dr. Nurul Ai ni Si di k
Drg. Niken Invaii
Ramah Surbakti, SKM, Skp.
Dr- Sri Pandam
Pulungsih, MSc
Dr. Liliana
Kumiawan, MScID.TMH
lr. Edha
Barapadhang, BSc-
Dra. lrmawati
-
Prasetyo, Apt.
Di r ekt or at Pei ayanan
Medi k
Spesialistik.
Di r ekt or at Pel ayanan Medi k
Spesialistik.
Direktorat Jendera! PPM & P!_
RSPI Prof DR.Sulianti Saroso
Badan Penelitian dan Pengem-
bangan Kesehatan
RSPt Prof DR Sulianti Saroso
RSUD Dr Soetomo
uI
Dr. Abdultah
Direktorat Jenderal Pelayana;r
Act,,ndd,
MARS
Medik SPesialistik
l da Ayu Shi nt a
Di rekt orat
Jenderal Pel avanan
Drwi, SH, M- Kes
Medik SPesialistik
Dr- L.ndang Wdyaswati
Direktorat
Jenderal Pelayarran
Medik SPesialistik
Dr. Asih
Widowaii, MARS
Direktorai
Jenderal
Pelayanan
Medik SPesialistik
Dr. Hartati Ramri. M Kes
;,'::,T"i::,fl1;J"'
Peravanan
.:'
Dr. Fi di ansyah, Sp KJ
Di rekt orat
Jenderal Pel ayanan
Medik SPesialistik
Drg. Sastrawati,
l' 4Sc
Direktorat Jenderal Pelayanan
Medik SPesiaiisiik
Dr. Sumi at i . M. Kes
Direktorat Jenderal PelaYanan
Medik Spesialistik
Jakarta
iakarta
Jakarta
Jakarta
Jakarta
Jakarta
Jakarta
Jakarta
i v
Daftar lsi
Kata Pengantar .........
Sambutan direktur Jenderal Pelayanan Medik
Tim Penyusun Buku
Daftar lsi
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELA}<ANG
B. TUJUA.N
C. SASARAN
AAB II PENATA PELAKSANAAN PENGENDALIAN INFEI<SI
NOSOKOMINAL
A. BATAS-BATASAN
B. ORGANI SASI DAN KEDUDUKAN
DALIAI.I INFFKSI NOSOKOMINAL
PANI TI A PENGEN-
TUGAS DAN FUNGSI
SUSUMN KEANGGOTAAN DAN TATA KEF.JA PAI.IITLq
PENGENDALI AN I NFEKSI NOSOKOMI NAL . . . . . . . . 1O
BAB III PENUTUP 17
DAFIAR PUSTAIG 18
LAMPIRAN I INFFKSI NOSOKOMINAL
LAMPIRAN II PENGAMBII-A,N, PENYIMPANAN DAN PENGIRIMAN
BAHAN PEMERI KSAAN MTKROBI OLOGI . . . . . . . . . . . . . . . 111
LAMPIRAN III ISOLASI
LAMPI RAN I V SURVEI I -ANS I NFEKSI NOSOKOMI NAL 130
i
i i
iii
v
1
1
3
3
4
4
E
7 c.
D.
A.
BAB I
PENDAHULUA
LATAR BELAKANG
Kejadian infeksi nosokomial adalah infeksi yang didapat atau timbtfipaOa
waktu pasien dirawat di rumah sakit. Bagipasien di rumah sakit ia nnerupakan
persoalan
serius yang dapat menjadipenyebab langsr:ng atau tidak dapat
langsung kematian pasien- Beberapa kejadian infeksi nosokomial mungkin
tidak menyebabkan kematian pasien akan tetapi ia menjadi penyebab penting
pasien dirawat lebih lama dirumah sakit- Iniberartipasien rirem.bayar lebih
mahaldan dalarn kondisitidak produktif, disamping pihak rumah sakit
iuga
akan mengeluarkan biaya lebih besar.
Penyebabnya oleh kuman yang be;-adi dilinjkungan rumah sakit atau oleh
kuman yang sudah dibawa oleh pasien sendiri, yaitu kuman endogen. Dari
batasan ini dapat disimpulkan bahwa kejzrdian infeksi nosokomial adalah
i nf eksi yang secara pot ensi al dapat di cegah at au sebal i knya i a
j uga
rnerupakan infeksiyang tidak dapat dicegah-
Infeksi nosokomial merupakan masalah global dan menjangkau paling sedikit
sekitar 97" (variasi 3% - 217' ") lebih dari I.4
juta pasien rawat rnap oi rumah
sakit di seluruh dunia. Angka inidilaporlcan oleh WHO.dari hasil surveynya
di 14 negara, meliput; 28.861 pasien di 47 rumah sakit yang berada di 4
vrilayah (region) V\IHO pada tahun 1986
SurveyWl-' lO ini
juga
menghasilkan :
!
1. lB %idari pasien yang terkena infeksi nosokomial menderita lebih dari
satu
jenis
infeksi nosokomial, terutama pada pasien kronis.
2- Adanya kemiripan tentang
ienis
infeksi nosokomialdan penyebabnya-
3. Infeksi nosokomial merupakan salah satu infeksi yang sering teriadi di
negara-negarl berkembang maupun di negara-negara industri-
4. Sebagian besar masalah dan kendala yang dihadapi berbagai negara
unt uk mencegah dan mengendal i kan kej adi an i nf eksi nosokomi al t i dak
2.
2
j auh
bc..reda sehi nEga strategi dan pel aksanean pencegahar-r dan
pengendal i an i rJeksi nosokorni al dapat di susun untu k ci i i e rapl -:ar pada
kcndi si nrasi ngrnasi ng negara dan rumah saki t-
Akibat lain dari keqadan infeksi nosokomial adalah :
1. Lama perawatan (LOS) lebih lama- DiAmerika Serikat sebagai akibat
infeksinosokornial diperlukan B hari tambahan pertempat tidur setiap
tahunnya.
Be rlamba h nya tfaya operasional rumah sakit da n rr.e ning kat nya beb a n
biaya oleh pa:ien.
Di Ameri ka Seri kal tambahan tersebut mencapai satu
j uta
dol a: per
tahun di runrah saki t tl angan kapasi tas 250 tempat l i dr.rr-
a
4- Sel ai n hal -Jul tersebrrt ci i atas kej adi ar' i nl eksi nosokcrni al akan
mengganggu pasien yang memerlukan perawatan (u;aiting l'srl serta
berkurangnya produktivitas dan tambahan biaya yang dikeluarkan oleh
kel uarga pasi en-
Gambaran infeksi nosokor;:lal di lndcnesia hingga.saat ini belum begitu
i el as
mengi ngat penanganan secai a nasi onal baru di rntrl ai . Namun
mengingat gambaran dan akibat infeksi nosckomialyano teqadi diArne;!ka
Ser i kat . i ent unya dapat di bayangkan bagai mana kej adr an i nf eksi
nosokomiat di Indonesia- Walaupun belum ada angka yang pasti secara
nasional temyata@berapa rumah sakit telah melaksanakan pengendalian
infeksi nosokomial sejak beberapa tahun yang lalu.
Sebagai contoh pengalaman di RSUD Dr- Sutomo - Surabalia menunjukkan
bahwa dengan pengendalian inleksi nosokomial untuk infeksi luka operasi
(l LO) di dapat :
a- Hari pemwatanyang dapat dihemat tahun 1985, 552 hari,
tahun 1987,416 hari .
b. Dana yang dapat dihemat tahun 1986 Bp. 136.000.000,-
tahun 1987 Rtr 102-OOO.OO0,-
c. Bi aya yang
@rl ukarr
untuk pengendal i an i nfeksi nosokomi at
Rp. 2.O0O.OOO,- per l ahun-
I
B.
se.hubungan
dengan besarnya masalah dan akibat inreksi nosokomial
sebagai rnana
di kemukakan
di at as, daram rangka oencegahan
darr
pengendaliannya
diletapkan
sasaran bahwa untuk nreningkatkan
mutu dan
efisiensi pelayanan
akan dltingkatkan pengendalian
infekii nosokomial dan
kesehatan ringkungan
serta akan dilaks:,rakan
kegiatarr pengendarian
dan
peningkatan
mrltu.
sebagaimana
salah satu syarat agar rumah sakit dapat melaksanakan
pengendalian
infeksi nosokomial
dengan baik dan terarah acalah adanya
bu! <u pedonnan
dal am pengorgani Jasi an
penanggur"ng^n
dan cara
mencegah teiadinya infeksi nosokomial-,
TUJU!.N
Tuj uan ut ama dari prcgram pengendal i an
i nf eksi nosokomi ar di sarana
kesehatan
adalah
!:ngYry
terjiidinyar.ndemi*d.a.n
-qpide-r!i
rrosokorniat
oada
aural
p-ejugas
O:l peruvlrllg
Tujuan Umum:
Terciptanya
kondisi lingkungan
rumah sakit yang melle.nut-rlqqMqralan
T::T:1l.t,
"
p
=fg_gg!g!_J!ip_!gi_!9sq[q!m
i ai o a n nr e mu a n t u p ro se s
p@yemOunin
penderita,
sehingga rumah sakit dapat
meningkatkan
muttr pelayanan,
cakr.rpan dan efisiensi.
Tuj uan Khusus:
1- setiap
Jumah
sakit mempunyai
buku pedoman pengendarian
infeksi
nosokoinial
\+
2. Set i ap r umah saki t dapat mel aksanakan
nosokomi al dengan
bai k
SASARAN
Semua rumah sakit milik pemerintah
maupun swasta
.'. J4.'.
pengendal i an
i nf eksi
A.
BAB I I
PENATAL,\KSA}IAAN
PENGENDALI AN I I i FEKSI NOSOKOI dI AL
BATASAN-BATASAN
/--
--'--
._.
-
-..\
1.
f-
Infeksi nosokomiafadalah infeksi yang teriadi atau didapat di rumah
tstn:Suatotrnfcl6iyang didapat d; rumah sakit apabila :
a. Pada saat marsuk rumah sakit tidak ada tanda / gejala atau tidak
dalam merasa inkubasi infeksi iersebut.
z----_____r
b. Infeksi t6rjadi 3 x24
iln
setetah pasien dirawat di rumah sakit atau,
\ - - . - - _
- . - - . - . 2
c. I nf eksi pada l okasi sama t et api di sebabkan ol eh mi kroorgani sme
yang berbeda dari mi kroorgani srne pada saat masuk rumah saki i
al au mi k; oorgani sme per: yebab sama t et api l okasi i nf eksi berhreca.
2. , r Pengendal i an i nf eksi i nosokomi at adat ah kegi at an yang mel i put i
pEi e-n-eE-n ZI a n
;80
t
dGggel
da n p e n g_1ryas-a n se- rt a
i
e :n!@a n ci a I ah
upEyE men-urunkan angka kej adi an i ni i :ftsi i i osokomi ai rl i rumah saki t.
-.--=--\
3. rgg-qi tgl q.j adal ah
k_q-.g_g!9n pegamatan si stemati s akti f dan rerus
m ene rus te rhadap tim6,-rTnya* dairi
pdnyeba
r.an inf eksi nosokomiat pd
da
6uat, pdri sti ura y"ng r,onyl babkan meni ngkai atau menurunkan resi ko
.
t ersebui .
4. Kej adi an yang rnenari k perhati an
umum dan mungki n meni mbul kan
kehebohan / ket akut an di - kal angan masyar akat , at au menur ut
pengarnatan epi demi ol ogi s di anggap adanya peni ngkatan yang berarti
dari kej adi an kesaki tan / kemati an tersebul .
5. Suatu kejadian di rumah sakit dapat disebur
&Cgr..l lugr_-Bjq-sg-(f!g)
bila p rop o rti onal rate pend erita baru dari suatfflenyitii
men u tai Atiam
waktu satu bulan, dibandingkan dengan proportional
rate penderita b?ru
dari penyakit menular yang sama selama perircde
wakiu yang sama
'
dari talrun yang lalu menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih, atau
t erdapat sat u kej adi an pada keadaan di mi na ! -eUel umnVa t i dat i -pernah
ada.
i
- - - - - :
l
"i
: OU-i
i ,r1-i
ORGA}.IISASI DAN KEDUDUKAN PANITIA PENGil;LIAN INFEKSI
NOSOKOMIAL
Tujuan dan sasaran program tersebut dicapai melaluikegiatan surveilans,
pencegahan infeksi terutama penerapan kewaspadaan universal dan
penanggulangan infeksi nosokomial termasuk didalamnya penanggulangan
Keiadian Luar Biasa (K!B) infeksi nosokomial- Untuk itu perlu ditunjang oleh
perencahaan rlnci ila'Idrn strategi-strategi dan langkah-langkah yang
memerlukan koordinasi dari banyak pihak, baik individu, bagian, ataupun
unit-unit pelayanan di sarana kesehatan r"r"sbt{-
Program tersebut haruslah dijabarkan secara tertq.lis dan meniadi dasar
perencanaan pe ngendalidn inf eksi nosokomial;"serta mernuat unsu r-unsur
standar yang dipersyaratkan oleh Panitia Akreditasi Rumah Sakit dan
juga
ketentuan pemerintah yang berlaku.
-
Berdasarkan penjelasan diatas maka kegiatan dalam prograin tersebut harus
dilaksanakan dalam suatu struktur ilg?.lisg:!
I?ag--!y_?!
dan rapi, yang
mampu menjabarkan program secara' -kcjlribiimenSif,' rinci dan
jeias,
Organisasi yang dimaksud adalah suatu P:ftllg_len.gjndalian Infeksi
Nosokomi al (Pant i a PI N) sebagai koordi nat or dan bekerj a di t i ngkat
instrtusional S6bagai pembuat kebijakan prosedur - prosedur keria yang
berkai t an dengan program pengendal i an i nf eksi nosokomi al . sbrt a
mengeiuarkan rekomendasi, laporan data survelans yang relevan, yang akan
difiEipi6ak mafiernai struKilial rumah sakit dalam rnenjalankan lugas
dan fungsinya.
Semua kebij4kan, rekomendasi dan sernua proses serta hasil kegiatan harus
terdokumentAsi secara rapi dan segera-
Temuan - temuan kunci dad kegiatan pengendalian infeksi nosokomial dapat
pula digunakan ofeh Panitia Peningkatan Mutu Pelayanan sebagai acuan.
Dalam hal inidiperlukan koordinasidari berbagai pihak dan oleh karena itu
diperlukan
jalur
komunikasi dan garis komando yang tergambar
iefas
t erhadap st rukt uL-organi sasi rumah saki t secara kesel uruhan, sert a
d ikomunikasi r<Jn r<6pli;-sE tu iirnstaf :-
- --'
Pani t i a PI N bi asanya di pi mpi n
pengal aman dal am pengendal i an
ol eh seor ang dokt er yang mempunyai
i nfeksi , mungki n seorang mi [gl rol og' :,_
/:.,-. ,.1,-
a: ' . - : - .
atau yang nlemrliki lirar iielakang epidemioiogi rumah sakit
lepidemioloEi
kl i Ai k). Seorang ketua di bantu ol eh sekretari s dan banyak anggota-
Pani ti a PIN memi l i ki keanggotaan i nti yang seti daknya mencermi nkan waki l -
fiakil"ad= staf meCik, staf perawatan, administrasidan pihak yang berperan
langsung dalam suryeilans, upaya pencegahan / penanggulangan infeksi
yang dalam hal ini adalah orang yang terlibat langsung dalam perawatan
pasien di ruangan.
Anggota tambahan bersifat konsultatif a.iau bersifat ad hoc, maupun dapat.
pul a sebagai anggota tetap adal ah dari :
1. uni t pel ayanan kl i ni k yang terbesar
2. pani ti a peni ngkatan mutu pel ayanan
3. farmasi
4. pusat st eri l i sasi dan di si nf eksi
5- sani tasi
6. l aboratori um mi krobi oi ogi
7. kesehatan pegawai
8
Et zi
Pani ti a PtN di bantu ol eh Jl m (Pel aksana) Pengendal i an l nfeksi Nosokomi al
(nm PIN) yang bekerja langsung ditingkat ruangan dan berhadapan ld,ngsung
dengan pasien, petugas perawatan dan pengunjung.
Meski pun
dal am mengambi l keputusan pertu keterl i batan yang l uas dari
anggota seperti diatas, namun akan efekti{ apabila dibuat penita-panitia kecil
untuk mengumpulkan rdata.-
i ' , '
i
J '
' . - j , , L' : :
l r e. , : J, ?, . . - . ! .
. ' L7:
n:
) f,-
b-w-+---.'--',
STRUKTUR ORGANISASI
PROGRAM PENGENDALTAN t NFEKS! NOSOT(O^M| AL
r
i ' l i i , ;-.
:i t
i ' '
'
Struktural Pani ti a Pl N Dokter PIN
Ruang ravrat
Tlm PIN
. . ,
I
I
Perawat PIN
Waki l dokter ,
Wakilperawat
:-
Farmasi
CSSD
Telnisi-
Administrator
Dokter/Perawat PIN
Staf pel ayanan
di ti ngkat ruangan
t l
Suryei l ans Upaya Pencegahan
[Kewaspadaan
Universal]
Penanggul angan
[Tim
lnvestigasi KLB]
C. TUGAS DAI . I FUNGSI
*
Pani ti a Pengendai i an Infeksi Nosokomi al ( Pani ti a PIN
)
Pada dasamya P3$g
llN
adalah p.ernUuglSeliiahndalam semua kegiatan
pengendal i an i nf eksi nosokomi al - Pani t i a P! N mempunyai t ugas
mengevaluasi dan menetapkan kelayakan
lgglgtgg
s' 1q4.gilans, upaya
pencggglan dan penaLOgrlt3lggn infeksi nosokomial-. Tugas dan tangung
jawab pokok dari Panitia PIN adalah menelaah dan meny.etujui kelayakan
dan kemampuan pelaksanaan semua kegiatan surveilans infeksi nosokomial,
upaya pencegahan infeksi dan penanggulangan infeksi nosokomial, serta
prosedur-prosedur yang dibuat dan akan dilaksanakan.
Kghfig[an,harus
te4uli: ielas,- termasOk prosedurjprosedur yang dipakai
dalam pelaksanaan
surveilans dan kegiaian program-yang lain-
Secara rinqkas maka Panitia PIN bertanggung jarvab
atas :
1. Terl aksananya survei l ans Pl N.
2. Ter l aksananya
upaya pencegi . han i nf eksi dengan pener apan
kewaspadaan
uni versal
Te rlaks a na n/a penartggulan gan inf eksi deng an ;nvesitig_asi bila ada KLB
Terlaksananya
pendidikan dan pelatihan dalam bidang pengendalian
infeksi.
5. Pengembangan
prosedur keria dan kebijakan yang mencakup semua
kegiatan
dalam bidang pengendaiian infeksi.
.
6. Pemi l i han
dan pengusut an pengadaan bahan dan al at yang
berhubungan
dengan pengendal i an i nfeksi nosokomi al -
i
Ti m Pel aksana
Pengendal i an l nf eksi Nosokomi al (Ti rl _P_l N)
t , , , n 0", . , , "nn; ; ; ; ' ; . ; p*al . ^nul n
""n, ,
n; , at as pi osr am
pengendal i an i nf eksi adal ah Ti m Pel aksana Pengendal i an I nf eksi
Nosokomi al . Dai am hal i ni Doktef
P-l N
dan Perawat PIN merangkap pul a
sqbagai 1 rm (Pei aksana Hari an) Pl N.
Juml ah
personi i dari l l m Pel aksana PIN dan waktu yang akan di habi skan
untuk menj al ankan
program
PIN tersebut di teni ukan ol eh
pani ti a pl N
bersama-sama dengan rnanajernen rumah sakit-
Jumlah individu dan wa!<1u yang digunakan akan sangat tergantung dari
banfak hal, diantaranya adalah:
1. Besar kecilnya rumah:sakit dan kompleksitas pelayanan yang diberikan
2. Faktor risiko untuk infeksi nosokomiai yang ada diantara populasi pasien.
3. Kebutuhan
pendidikan dan pelatihan
bagi petugas
kesehatan di rumah
-
sakit.
4. Peraturan
perundangan yang berkaitan dengan program.
5. Ket ersedi aan
sumber daya dan sumber dana.
Contohnya, seorang tenaga pelaksana dapat diserahitanggung jawab
a
4-
. . . t ,
t:
pelaksanaan dan kcordinasi k:giatan surveilans. pencegahan infeksi,
penanggulangan infeksi satu kelompok kecil di rumatr sakit (misalnya 10O
tempat tidur). Atau dibentuk satu bagiar: pengendalian infeksi nosokomial
yang dikelola oleh tirr profesional bekerja untuk area perawatan yang luas.
Apapun bentukorganisasidan
iumlah
tim pelaksana tersebut, semua individu
yang terlibat dalam kegiatan surveilans. pencegahan atau penanggulangan
Brusj1a{gkgTg.T-q3an
yang memadai dalam melaksanakan tugasnya.
Uraian Tugas
Uraian tugas harus dibuat untuk
granr PiN-
sernua individu yang tedibat dalam pro-
Dal am urai an tugas te rse b ut te rm u at pe r5Jal a-t-a
[-.pe
r-sl arata n
]ang
di butuhkau untuk mel aksanakan tugas-i ugas yang di gari skan dal am pro-
gram, yai t u:
1- pengetahuan
2- keterampilan
3- kualifikasi-
Anggota llm PIN berasal dari multidisjpllQ.9engan latar pendidikan formal
yang berareka, seperti perawatan, keciok;teran, analis kesehatan, kesehatan
masyarakat, ataupun kesehatan lingkungan, namun yang tak kaiah penting
adalah bahwa rnereka pernah metggggl-pg3llsn atau berpengalaman
dalam big1q surveilans, upayllelggg.aha.l dan penan ggu ian gan inf eksi.
Pengetahu# dasar yang akan banyak membanl u dal am mel aksanakan
tugas l l m PIN adal ah :
1- Dasar - dasar epi demi ol ogi dan penyaki t i nfeksi ,
..i
i : 2.i ,
.
2. Sterilisasi, disinfeksi dan sanitasi,
---. ----- ---:'
't''''
'',
3. Metocte pendidikan / belajar-mengajar andragogi,
Pa"
/'tt*r''
-q
i
4- Perawatanpasi en,
&-,,d*
-i ti ' ti +;,
5- Kemanpuan berkornunikasi secara efektif, baik lisan maupun tertulis.
Secara ri ngkas seti ap anggota Pani ti a PIN mempunyai peranan sebagai
ber i kut :
1. Merumuskan dan memant au kebi j akan
pel ayanar: pasi en.
2. Memberika:r masukan tentang pem!:.:l;an peralalan klinikdan non klinik
sepanjang itu menyangkut secara langsung atau tidak iangsung pada
terjadinya infeksi nosokomial.
3. Bekerja sama dengan staf medis dan staf paramedis untuk menyusun
kebijakan dan prosedur perawatan yang baru.
4. Melatih semua staf rumah sakit dalarn bidang program pengendalian
infeksi
5. Meriyadarkan seluruh staf rumah sakit bahwa pengendalian infeksiakan
menghemat biaya yang dapat dipakai sebagai peningkatan rnutu
pelayanan pasien.
6. Berpartisipasi pada'h edical audit alaumenjadi sasa'ran medical audit
i t u sendi ri .
SUSUNAN KEANGGOTAAN DAN TATA KERJA PANITIA
PENGENDALIAN INFEKS| NoSoKOMtAL
--{_
D,...;_.,r-r' ,
f
:
r.l
.
Pani t i a Pengendal i an i nf eksi Nosokomi al (pani t i a Fl i i ; i : arus memi l i kr
anggota inti sebagai berikut :
1. Dokter pengendali
infeksi nosokomial (Ketua
panitia'plN)
2- Perawat pengendati
infeksi nosokomial, (sebagai Ketua 1-irn FIN).
3. . Administrasiatau
Sekretaris
1. Perwakilan staf medis
5. Perwakilan siaf perai,,ratan
6. Farmasi
7. Sanitasi
B. Tenaga teknis Instalasi
pemeliharaan
sarana Rumah Sakit (lpSRS)
9. Pengelola Pusat steritisasi dan disinfeksi (CSSD)
i 0- Laboratorium mikrobiotogi.
Dokter Pengendali Infeksi Nosokomial
Dokter Pengendali Infeksi Nosokomiat (Dokter
plN)
seharusnya
orang yang
cukup maqggdan bet ul -bet ul bermi nat pada pengendat i an
i nf eksi , dan
m e n g g u nEka n s eb ag ia n b e sa r w a ktUfr ydTfr-tlk-i t u
Biasanya adalah seorans ahli mikrobiolog! dapat pula seorang dokteq
:
p:11:t
q
L"
kil
j$g$i.
aF ti{1@ n-ala ulSi n
{,a
y a n
s
cu k up d i s
e
s
a n i, cul u p
berpengal aman dal am ha! pengendal i an i nfeksi , nrau menyedi akan cukup
waktu untuk menj al ankan tugasnya, dan mempunyai dasar pengei ahuan
"
p19."-A9]o.s i kl i n i k.
-)r- Do_!!1!:y,:gd Infeksi r.losokomial harustah mamp*u:
1 . Menjalin hubungan keda dengan semua pihak di rumah sakit, baik medi
r
maupun non medis. I
2- Bersedia menjadi nara sumberyang memberi masukan ientang semua
aspek pengendalian infeksi.
3. Ber sama dengan I CN menganal i si s dat a sur vei l ans dan membuat
'
rekomendasi, tindak lanjut-
+
P".:!
l :!9.gnd"!i
l nfeksi Nosokomi at (tnfecti on Contro! Nurse
= !CN).
,
Perawat PI N harus t erl at i h dal am aspek kl i ni k t i n, rakan perrcegai ran dan
survei l ans perumahsaki tan, terutama. di area-area dengan resi ko i nfeksi
J
nosokomi al yang cukup ti nggi , seperti ruang operasi , ruang rawat i ntensi f.
r!?09 p.eri natol ogi - Mareka harus mampu bet<e4a sama i ecara erat denqan
r
pengendal i i nfeksi dan semua staf perawatan.
. Perawat PIN bertanggung j awab
atas :
i
i
1- Menerubkan kebi j akan pengendal i an i nf eksi dengan mel at i h st af
perawatan.
2. Memberi kan saran perbai kan peri l aku perawat di ruangan unt uk
penerapan kewaspadaan universal (universal precaution).
3. Mengidentifikasikan kebutuhan bahan dan sarana.
4. Mengumpul kan dat a survei l ans-
5, I nvesl i gasi dan penanggul angan KLB I nf eksi Nosokomi al
6.
'
Me;-nbantu penerapan
dan penrantauan kebijakan pe.rgendalian infeksi
7. Menyusurr dan ntel aksanakan program pel ati han-
. B. Penel i ti an.
-i
' r-iPe
rwakilan Staf Medis
!
-
i'D
\J
. .i
, Biasanya seorang a.hli bedah, atau dckler yang peduli pada masalah-masalah
.'
yang berhubungan dengan infeksi seda mampu memberikan konsuliasi
kepada panitia. Mereka berhubungan erat dengan dokter atau tenaga lain
dan diharapkan sarannya tenta;rg perkembangan medis baru yang ada
dampaknya pada pengendalian infeksi. Staf medis tersebut adalair seorang
dokter dari unit pelayanan yang terbesar di rumah sakit dan diutamakan
yang mempuny' ai latar belakang epideniiologi.
Perwaki l an St ar Perawat an
:>
Sebai knya adal ah perawat seni or yang berpengal aman di bi dang admi ni strasi
dan pel at i han. Peran dari perwaki l an
i ni adal ah :
1. Menyebai ' l uaskan set i ap kebi j akan
pani t i a pl N
kepada sei uruh st af
perawatan.
2. tvl emasti kan bahwa program pel ati han yang di l aksanakan mel i puti j uga
.
kebi j akan dan prosedur pengendal i an
i nfeksi .
Dal am hal i ni harus ada hubungan dengan I nst al asi
pendi di kan
dan
Pelatihan. Perwakilan staf perawatan
bertanggung jawab
untuk memberikan
masukan tentang masal ah yang
terkai t dengan kebi j akan pengendal i an
i nfeksi yang terj adi di ruang perawatan
kepada
pani ti a pl N.
!Farmasi .
Rekomendasi-rekomend?si rnengenai penggunaan
antibiotik dan dis!n,[eElgr
d is dl u?kanEE la t'l r tn sEtasi Fa rmasi
-
Apote f er ha ru s m@[.ra rka n ke u r
jaR-a n
tentang masatah yang terkai t dengan kebi j akan pengendal i an
i nf eksi yang
t erj adi di ruang perawat an kepada Pani t i a Pl N.
t' {)
fenaga Tekni k Instal asi Pemel i haraan Sarana Rumah Saki t (IPSRS)
e./
Tenaga teknis sangat diperlukan sebagai bagian dari Panitia PlN, yang
bertanggung
iawab
untuk :
1. Menguji dan merawat peralatan yang digunakan pada program
pengendalian infeksl, seperti misalnya autoclave, incenerator, dsb.
2.
,
3.
Memantau dan merawat
penvediaan
air dan listrik.
i l emasang dan
operasional.
- -
memperbai ki peral at an agar memenuhi st andar
Teknisi ini harus selalu dimintai pendapatnya sebelum suatu petalatan dibeli,
unt uk memast i kan bahwa peral at an t ersebut sesuai dengan kebut uhan
prosedur perarrratan di rumah sakit-
Pengel ol a Pusat St eri l i sasi dan Di si nf eksi (CSSD)
Pengel ol a CSSD adal ah anggota i nti dari Pani ti a Pl N. Mereka peri u bekerj a
sama cengan Ti m PIN Aan hffi si TAAi kTefi g ada serta merni i i ki
pengetah,.i an yang cukup mengenai ca di si ni eksi dan steri l i sasi . Mereka
l ugJnarus
.".p, mel akukan
j aga
mut@n.
. _tr' 1.
Meni mbgng apakah si sti m yang saat i ni berl aku sudah memadai .
-':-Ei. i )Bila ya, tirnjukkan masalah potensialsehubungan dengan pengendalian
i
,
; i , t h
i nf eksi .
' -' f
^r,-
Bi l a ti dak, apakah ada saran l ai n dari staf.
; t D"-. i 1t '
,,
t''' 2- Menintang apakah kebijalcan yang baru dapat menpengaruhi
perilaku
saat ini.
3- Ajak semua bagian yang terlibat dalam rapat, minta pendapat mereka,
buat perubahanaerubahan seperlunya pada konsep yang diajukan agar
dapat diterima semua pihak.
4. Aj ukan usul an kepada Pgdl l afl N untuk mendapatkan persetuj uan
dan dapat di buat kan Surat Keput usan ol eh Di reksi .
l 3
Dalam menetapkan kebijakan,
cara sebaoai beri kut:
=-
maka llm PIN tersebut harus nrelaiui tata
5. Tuni uk sal ah seorang anggota
-i l m
PIN sebagai
l dnanggung i awab
l cebi j akan baru tersebut.
,
r ^ i ' '
6. S;;^ ke seh.rruh bagian di rumah sakir i
"' i' ' '
' -i
' i-ti;' " .'
'
7. segera cantumkan di dalam buku pedoman pengendalian infeksi yang
telah ada-
Mungkin akan Iebih mudah apabila dalam strukturorganisasi
memiliki 2la-
,pis
organisasi dengan hubungan keria sepertidigambarkan dibawah ini-
Cont oh:
Urai an Tugas Ti m Pel aksana PI N ( Ti m PI N
)
-----_t
l . Tugas Umum
Bertanggung
j awab menj al ankan fungsi rumah saki t dal am bi dang :
.
.
sur vei l ans i nf eksi nosokomi al dan i nvest i gasi K' - B i nf eksi
nosokcmi al -
.
Pencegahandan penanggul angan i nfeksi nosokomi al .
l l . Tugas dan Tanggung Jawab
.
Sebagai anggol a-,Pani ti aPl N
Mengumpulkan dan menganalisis datadata mikro-organisme yang
bermakna secara epidemiologis serta data infeksi nosokomial
lr4enyiapkan laporan naratif dan statistik
Bedanggung
jawab
atas peiaksanaansurveilans
infeksi nosokomial
dengan mel akukan kunj ungan r ut i n ke bangsal per awat an,
memeriksa catatan medik pasien, laporan laboiatorium mikrobiologi,
data pasien masuk, meyakinkan kebenaran laporan dan meyakinkan
penerapan kewaspadaan umum dan perilaku yang mungkin berisiko.
Memberi kan
bi mbi ngan
kepada staf di bangsar dan merakukan
pengarnatan
atas semua har yang beii.artan dengan pengendarian
infeksincsokomiar,
karau sekiranyl aoa kerawanan pada penerapan
kevraspadaan
universal-
.
Membantu
mengembangkan,
menelaah dan penerapan
kebijakan
dari bagian arau rumah sakit yang berkaitan
d"ngan'p"ngendatian
i nf eksi nosokomi ar
di serun' h i umah saki t , unt ut ml nunl ang
kesinambungan
dan kepatuhan pada prosedur
siandar pencegahan
dan penganggulangan
infaksi rumah sakit
,
Menelaah
dan memberikan
,rp.n baliknya kepada
O,n"* r..n
letai!
tentang data surveilans:pencegahan
dan pengendaiian
' infeksi
nosokomialyang
relevan.
l ' / engembangkan
dan be ruarti si pasi daram program pe ndi di kan da n
pel ati nan
pencegahan
dan penanggul a;rgan
i nfeksi nosokomi al bagi
staf yang
membutuhkan-
Bertanggung jawab
dan mengkoordinasikan
peratihan
kewaspadaan
uni versal di sel uruh l api san karyawan rumah saki t.
Membi na hubungan
dengan bagi an pel ayanan
kesehatan pegawai
rumah
saki t unt uk rnemant au adanya i nf eksi nosoromi ai at au
pai anan.
pada
karyawan rumah sat<i t Oai t< yang ada hubungan
dengan kerianya
atau tidak
'
ft_gtgtcrkan
penyeridikan
sewaktu,ada
indikasi
kejadian iuar biasa
.
(KLB}
di rumah sakit, dan mengevaruasi
efektivitas dan dampak
dari kebijakan pengendatian
infeksi; prosedur
dan peralatan.
lkut
serta dalam peneritian
khusus yang dirancang
untuk meneriti wabah.
lll. Kuatifikasi
A. Pendidikan
dan
pengalaman
.
Sariana
Keperawatan
atau D3 Keperawatan
'
sarjana
Kesehatan
Masyarakat
atau D3 Kesehatan
Masyarakat
.
Analis
Kesehatan
: D3
Sarjana muda /.D3 dari bidang kesehatan lain.
B. Pengal aman yang l ebi h di utamakan
.
Pernah berkeci mpung dal am epi demi ol ogi rumah saki t-
.
Pernah mengikuti pelatihan pengandalian infeksi nosokomial.
Persyaratan Khusus
.
l r 4emi l i ki penget ahuan dasar dal am i l mu kdper awat an.
mi krobi ol ogi , faham btas i sti l ah kedokteran Can dasar-dasar
statistik. Mampu rnemahaini strategi dalam pengendalian infeksi
nosokomial, mau melaksanakan secara konsiste.n dan mengikuti
perkembangan peraturan perundangan yang berdampak pada
program pengendai i an i nfeksi nosokonri al
.
l v' l erni l i ki wavrasan t ent ang kebi j aksanaan rumah saki t dan
prosedur perumahsaki t an, menguasai t ekni k pendi di kan dan
pel at i han, ket er ampi l an ber or gani sasi - ket er ampi l an
be rkomuni ki rsi s ecara l i san rnaupun te rtu l i s.
c.
D. Pel aporan
.
Meneri ma l aporan dari
"
Lapor kepada
lldak ada
Ketua Paniiia Pll.I
***
BAB I I I
PENUTUP
Pedoman Pengendalian lnfeksi Nosokomial di Rumah Sakit, merupakan pokok-
pokok pemikiran
dasar berbagai upaye pencegahan terladinya infeksinosokomial
yang masih peJg.dii+barkql ke dalam bentuk program maupun pe1g.{.q[,p9_!ynjuk
t9!rri" bagi semua pihak yang berkepentingan.
*_-*
Pada hakekatnya, upaya pengendalian infeksi nosokomial di rumah sakit baru
akan terselenggara bita ginr&31 dan
ctaf
rumeh salljt
Xglg
lgrkgit -mempunyai
motivasi dan itikad kesadaran dan tanoourro iawab.
Buku pedoman ini diharapkan dapat meningkatkan pelayanan rumah sakit secara
berdayaguna dan berhasil guna.
.:r.*.:.
t 1
DAFTAR PUSTAKA
Abdul l ah Nasrun (Eds), 1988, Naskah l en5:kao si mposi urn-Lokakarya Nasi or:al
Pengendal i an I nf eksi Nosokomi at , RSUD Dr. Soei omo - FK Unai r. Surabaya.
Anglin Am, Farr BM, 1996, Nosocomial Gasirointestinal Tract Infection. in
Mayhall CG, Hospital Epidemiology and Infection Control, Baltimore, William
and Wi l l ems, 175-189
Benenson, AS (ed), 1990, Control of Communi cabl e Dl seases i n Man : The
Amer- Pubi, Fiealth
p.SS,
V/ashington.
Bennet JV & Erechmen PS (Eds). 1936, Hospi tal Infecti orr Li tl e, Browr. & Co.
Boston.
CDC Def i ni t i on of [ ' , l osocomi al l nf eci i on i n Hcspi t a! l ni ect i on Con' rrol APP-A-?.
Dep. Kes. Ri , 1997. Pedoman Keananan Laborat ori um N' l i i l robi ol ogi dan
Bi omedi s, Jakarta.
Dep. Kes. Rl - Di rj en. Pel ayanan tvl edi k. 1993, Petunj uk Penyusunan Pedcman
Pengendal i an ! nl eksi Nosokcrni al RS, Jakart a.
Dep. Kes. Rl , Di rj en P2M & PLP. 1992, Pedoman Sani t asi RS l ndonesi a,
Jakarta.
Dep.Kes. Rl , Di rj en P2M & PLP. 1996, PedomanTekni s Pengel ol aan Li mbah
Klinis, Disinfeksi dan Sterilisasi di RS, Jakada.
Dep- Kes Rl , Di rj en P2M & PLP. 1993, SDP Jakarta.
Dep. Kes Rl . Di rj en P2M & PLP, 1998, SDP of Standard Precauti ons Agai ns
HIV/AIDS and other lnfection in Health Facility, Jakarta.
Mandel l , Dougl as, Bennett, 1979, Pri nci pl es and Practi ce of i nfectrons Di s-
eases, Wi l ey Medi cal Publ , USA.
Masby, 1996, I nf ect i on Prevenl i on and Saf e Pract i ce Packet Gui de Seri es.
14. Mayhall G, 1996, Hospital Epidemiology and ,nfection Control.
15. Perkembar:gan Tekn!k lsclasi, Pelatihan lnfeksi Nosokomial.
16. RSUD Dr. Soet omo, FK. Unai t 1988, Naskah Lengkap Senri nar N: si cnal
I nfeksi Nosokomial, Surabaya.
17. Schaeffer SD, Garson LS, Heroux Dt- Korniewiz DM, 1g93, lnfecticn Pre-
vention and Save Practice ST. Louis Mosby Year book, 279-91.
18. Wanzel RP, 1993, Prevention and Control of Nosc.comial Infections.
**-l
r9
I-AIVIPIRAN
DAFTAR ISI LAMPIRAN : Hal
z9
INFEKSI NCSOKOMTAL
A OEFINISI
I
-;
Dafiar Kode*ode Mair dan Specifn Site dan Deskdpsinya 27
B. JENIS INFEKSI }|GSOKOI,0AL 29
29
29
I. INFEKSI SALUBANKEMIH
(iSK)
a- Infeksi Sahrar Kernh flSKl Simotomatik
b- lSKf tseckte{ilia Asirndornafk
c. lnleksi Saluran Kernrh hnr
JZ
r ?1
2. INFEKSI LUKA@ERA.SI 38
a Superfici5l krcisi:nal
b Cperasi Profuda/ Deep Incisional
c Orqan / Rcngqa .'
_
' r.
PNSUMONI A
4. IT.|FEKSIALIRAN DARAH PRIMEFI {IADP}
41
JU
5. SEPSIS KLINIS {qJMCALSEPSIS) 62
5. OSTEOMYELTNS
7. SE}]DIATAU BUBSA
8. RUANG DISCJS
9. I NFEKS! I NTRAKFAI I AL 67
10. MENI NGI TI S at aUVENTRI KUUI S
11. ABSES SPiiiALtarpa MENINOffiS t l
n
12. INFEKSI ARTERIALATAU VENOIJS
13. SNDOCARDITIS
14. MYOCARDITIS AIAU PERICARDMS
15. MEDI ASTI NI TI S 78
16. KONJUNTIVITIS 79
17. MATA 81
oa
8a
85
I8. TELINGA MASTOID
19. RONGGA MULUT (mulut. liCah, atau
qusi)
20. st NUsl Tr s
21. INtrEKSI SALUFAI.I MPASATAS 86
22. GASTROENTERMS 88
23. INFEKSI TRMTUS DIGESTIVUS
on
24. HEPATI TI S
OJ
_
J'
, a
25. INTRAABDOMIT'IAL
25. NECFI OTI ZI NG EI . I TEROCOLI TI S
ZI
27.
28.
29.
30-
31.
32.
33.
34.
35.
37.
38.
.tY.
40.
41 .
BRONCHI TI S 94
II'IFEKSI LAIN PADI. SALURAN NAFAS BAWA!{ 96
ENDOMETRITIS 96
EPISIOTOMY
VAGINAL CUFF 9B
OTHER INFECTION OF THE REPRODUCTIVE TRACT 98
100
101
KULI T
JABINGAI'I LUNAK
ULCUS DECUBITUS 1$2
__19.3_
104
106
DISSEMINATED INFECTION
LUIGBAKAR
ABSES BUAII DADAatau MASTITIS
OMFHALI TI g 107
108
103
PUSTULOSISANAK
CIRCUMCISION NrcNATUS
PENGAI TI B; LAN, PENYI MPANAN DAN PENGI RI [ , t AN
BAHAN PEMERI KSAAN MI KROBI OLOGI
11i
PETUNJUK UIIUM
t t l
PETUNJUK KHUSUS 112
ISOLASI
i t 5
E_
B.
c.
D.
c
PEBKETVIBANGAN KONSEP ISOLASI
117
---=;
I t n AIRBORNE PRECAUTIO},iS
DROPLET PRECAUTIONS 121
123
126
CONTACT PRECAUTICNS
KEWASPADMN DENGAN PENDEKATAN SINDROMIK
DAN KEWASPADMN TFRHADAP ORGANISME KHUSUS.
SURVEILANS INFEKSI NOSOKOMIAL
B.eNQAIUL!4I!
TUJUAN DAN KEGUNMN SURVEILANS INFEKSI NOSOKOMIAL
PENGERTIAN
.
PENGERTIAN
METODE SUBVEILANS INFEKSI NOSOKOMIAL
_
130
131
B.
,8.
c.
D.
E.
132
137
*l-4'o
141
LAMPI RAN I I I
22
PENERAPAN INFEKSI NOSOKOMIAL
LAMPIMAN 1
INFEKSI NOSOKOMIAL
L)
LAMPI RAN I
I NFEKSI NOSOKO[ , I I AL
A" DEFI NI SI
Pengumpul an dat a kesehat an secar a si st emat i k. di anal i sa dan di
irttC&relagLan, ke mudian ciigunakan untuk perencanaan-Erelapan da n
evaiuasi yang sistematik, analisis dan interpretasi_-vang.Jerus menerus Cari
data kesehatan ya ng pe nting,Ili-tuk digunakit datam pe rencanaa n pe ne ra pa n
dan eval uasi suat u t i ndakan yang ber hubungan dengan kesehat an
rnasyarakat, yal g di di semi nasi kan secara berkal a kepada pi hak-pi hak' yang
perl u menget ahui nya.
Kemampuan pengumpul dat a unt uk mendef i ni si kan i nf eksi sebagai
nosokomi al ci an menentukan l etak i nfeksi nva secara konsi sten merupakan
hal yang sangat penti ng- Penggunaan defi ni si yang seragar:l merupakan hal
yang sangat kri ti s untuk rnembandi ngkan data dari satu rumah saki t dengan
rumah saki t l ai n atau dengan kumpul an database (seper-ti si sti nr NNIS), suatr-:
t i ndakan yang ber hubr r ngan dengan kesehat an masyar akat . hasi l nya
di di semi nasi kan secar a ber ka. l a kepada pi hak- pi hal k yang per l u
mengetahui nya.
l nfeksi nosokomi al di defi ni si kan sebaoai suatu kondi si l okal atau si stemi k :
sebagai aki bat dari reaksi tubuh terhadap adanya kuman i nfeksi us atau
toksi nnyai
yang ti dak ada atau ti dak dal am masa i nkubasi pada waktu masuk rumah
sakit.
Bebe;apa prinsip dasar yang penting dalam delinisi infeksi nosokomial adalah :
1. I nf or masi yang di gunakan unt uk menent ukan adanya i nf eksi dan
klasifikasinya sebaiknya merupakan kombinasi hasil pemeriksaan klinis
dan hasi l t est l aborat ori um al au t est {est l ai nnya.
a. Bukt i kl i ni s adanya i nf eksi di dapal dari observasi l angsung pada l okasr
/ !
2.
i nfeksi pada
;asi en
atau dari sumber-sumber data yang l ai .r. seperl i
status pasi en.
b. Bukt i l abcrat ori um berupa hasi l bi akan, t est Cet eksi ant i gen at au
antibodi, atau visualisasi rnikroskopik.
Data pendukung
diambil dari pemeriksaan diagnostik yang lain, seperti
si nar-x, ul t rasounC, CT scan, MRl , radi ol abel scan, prosedur
endoskcpik, bioosi atau aspirasi
jarum.
Infeksi pada neonatus dan anak kecil. dimana manifestasi kliniknya
berbeda dengan dewasa, diberlakukan kriteria khusus.
2. Di agnosa i nfeksi ol eh cj okter al au ahl i be-dah, yang.di dapat dari ' observasi
l angsung
' wakt u pembedahan, pef rreri ksaan endoscopy dan prosedur
di agnosa l ai nnya, at au
j uga
dari pemeri ksaan kl i ni s rnerupakarr kri t eri a
yang dapat di teri ma, terkecual i terdapat bukti kuat yang ti dak mendukung.
.
Untuk l okasi -l okasi tertentu di agnosi s kl i ni s dari dokter tanpa data-data
pendukung harus di serl ai Oengai pemberi an anti mi kroba untuk memenuhi
.
kri t eri a t ersebut .
Terdapat dua keadaan khusus di mana i nf eksi di anggap merupakan
nosokomi al , bi l a:
a. Infeksi yang di dapat di rumah saki t tei api ba;-u tampak setel ah kel uar
.
rumah saki t-
b. . Infeksi pada neonal us sebagai a!<i bat kel uarnya mel ewati i al an l ahi r.
Ada
juga
keadaan khusus dimana infeksi dianggap bukan nosokomialbila'.
1. l nfeksi yang ada hubungannya dengan penyul i t atau kel anj utan dari i nfeksi
yang sudah ada pada waktu rnasuk rumah saki t, terkecual i kuman atau
gej al a-gej al a j el as
mdrupakan suatu i nfeksi baru,
2. Pada anak, i nfeksi yang di ketahui atau di bukti kan menul ar l ewat pl asenta
(mi s, t oxopl asmosi s, rubel l a, cyt omegal ovi rus, at au syphi l i s) dan t i mbul
sebel um 48
j am
set el ah kel ahi ran.
d.
Terdapat
juga
dua .<eadaan yang dianggap bukan infeksibila :
i. Kolonisasi, yaitu adanya kuman
{pada
kulit, mukosa, luka terbuka, atau
dalam ekskresi atau sekresi) yang tidak menimbulkan tanda-tanda klinis
adanya infeksi,
2. Inflamasi (peradangan), yaitu keadaan sebagai akibat reaksi
jaringan
terhadap cedera (iniury) atau stimulasi oleh zat-zat non infeksirc seperti
bahan kmia.
Definisi-def;njsi dibawah diambit dari NNIS Manual, terdiriatas.l3 tempat
-
utama dan 48 tempat spesifik infei<si sesua.i dengan kriteria-kriterianya, disusun
berurutan mulai yang paling sering terjadi di rumah sakit (lnieksi Saluran
Kemih, InfeksiLuka Operasi, pneumonia, dan primer alirarr darah) diikuti
infeksi
di tempat{empat lain yang disusun secara alfabet sesuai Cengan kategcr:
t empat ut ama i nf eksi (mi s, bone and
j oi nt
i nf ect i on, Cent ral Nervous Syst em
I nf ect i on).
Daftar Kode-kode Majar dan Specific Site dan Deskripsinya :
UTi Uri nary Tract l nfecti on
SIJTI Symptomatic Urinary Tract Infection
ASB Asymptomaticbacteriuria
OUTI Other Infection of the UrinaryTract
SSI Surgi cal Si te Infecti on
KIN Superficial Incisional Site (lLO superficial), terkecuali
.
.
setelah CBGB (Coronary artery Bypass Graft)
,
KNC Setel ah CBGB, l aporkan SKNC untuk superfi ci al i nci si onal
infection pada dadar chest
KNL Set al ah CBGB, l aporkan SKNL unt uk superf i ci al i nci si onal
..i nfecti on pada kaki / l eg (donor)
SI ' Deep i nci si onal surgi cal si t e i nf ect i on (l LO prof unda),
kecual i set el ah CBGB
STC Setel ai r CBGB, l aporkan STC untuk deep i nci si orral
surgical site infection pada dada/chest
STL Setel ah CBGB, l aporkan STL untuk deep i nci si onal
surgicalsite infection pada kaki I leg (donor)
Oigan/Space Surgical site infection
Tunj ukkan spesi fi c si te :
BONE, BRST, CARD, DISC, EAR, EMET, ENDO, EYE, GIT, IAB,
I C, JNT, LUNG, MED, MEN. OREq OUTI , SA, S| NU, UR, VASC,
VCUF
EU Pneumoni a
PNEU Pneumoni a
Bl oodst ream i nf ect i on
LCBI Laboratory Confi rmed Bl oodstream Infecti on
CSEP Cl i ni cal sepsi s
BJ Bcne and Joint lnfcction
tsONE Osteomyelitis
JNT Joint atau bursa
DISC Space
CNS Cent ral VenousSyst eml nf ect i on
lC Intracraniallnfection
MEN Meningitis atau veniriculitis
SA Surgicalabcess,tanpa:' neningitis
'
CVS Cardiovascular System Infection
VASC Arteria atau venous infection
ENDO Endocarditis
CARD Myocardit'is alau pericarditis
MED Medi ast i ni t i s
EENT Eye, Ear, Nose, Throat , or Mout h t nl ect i on
CONJ Conjunctivitis
EYE Semua yang bukan conjunctivitis
EAR rnastbid
ORAL Cavitv (mului, lidah, atau gusi)
Si NU Si nusi t i s
UR Upper Respiratory tract, phary-ngitis, laryngitis, epiglotitis
Gl Gastrointestinal System Infection
GE Gastroenteritis
.
GI T Gl l ract
HEP Hepatitis
IAB lntiaabdominal, yang tidak disebutkan di tempat lain
NNEC Necrotizing enterocolitis
LRI Lower Respiratory Tract Infection, di luar pneumonia
BRON Bronchitis, tracheobronchitis, tracheitis, tanpa adanya bukti
pneunronia
REPR Reproductive Tract Infection
EMET Endometritis
EPI S Epi si ot omy
?8
!
VCUF Vaginalcuff
OREP Infeksi lain pada reproductive tract, baik laki-laki & waniia
; ST Ski n and Sof t Ti ssue l nf ect i on
SKI N Ski n
ST Decubitus
DECU Decubitus ulcer
BURN Luka bakar
BRST Abses buah dada atau mastitis
UMB Omphalocele
PUST Infant pustulosis
CIRC Sirkumsisi Neonatus
YS Systemic lnfection
Dl Disseminaied lnfection
JENI S I NFEKSI NOSOKOMI AL
1. | NFEKSI SALURAN KEMI H (rSK)
'
Definisi dan Klasitikasi
a. Infeksi Saluran Kemih (lSi<) Simptomatik
Letak infeksi
'
Kode
Definisi
Kriteria' 1.
lnfeksi saluran kemilr (lSK) simptomatik
UTI-SUTI
t' nfeksi saluran kemih
.(lSK)
s;mptomatik harus
memenuhi
paling sedikit satu kriteria berikut ini :
Didapatkan
paling sedikit safudari tanda-tanda dan
gejalagejala berikut tanpa ada penyebab
lainnya:
derra:r=. (t 38'C)
- nikuria(anyang-anyangan)
-
polakisuria
- disuria
- at au nyeri supra pubi k
- atau biakan urin porsitengah (midstream) >' ' |0'
Kri teri a 2
f,uman per ml urin dengan jerris kurnan iidak leliih
dari 2 spesies-
Ditemukan paling sedikit d ua oai tanda-tand a cian
gejala.gejala berikut tanpa aCa penyebab lainnya:
salah saho dari hal-hal berikut :
- supra pubikdemam (>38"C)
- nikuria(anyang-anyangan)
- polakiuda
-
'
.disuria
- atau nyerisupra pubik.
dan
salah satu dari hal-hal sebagai berikut :
1). Test cari kcet up (di pst i ck) posi t i f unt uk l eukosi t
esterase dan atau nitrit
Pi uri a (t erdapat >
1O l eukosi t per nrl at au
terdapat )3 bkosit per LPB Cari urin yang tidak
dipusingi-
Ditemuicrn kuman dengan pewarnaan gram
dari urin yarg tidak dipusing (dicentrifuge).
Biakan urin paling sedikit dua kali bed urut{ u rut
menunjukkan
jenis
kuman yang sama (kuman
gram - negatif atau S. Saphrophyticus) dengan
jumlah > loo koloni kurnan per ml urin yang
diambil dergan kateter.
Bi akan ur i n menunl ukkan sat u
i eni s
-ur: cpat ogen
(kuman gram-negat i f al au S.
Saphropffiicus) dengan
jumlah > 10' per ml
pada pender i t a yang t el ah mendapat
pengobatan anti-mikroba
larre
sesuai
Di di agnosi s I SK ol eh dokt er yang menangani
2) .
3).
41.
5) .
6) .
30
7) . Tel ah mendapat pengobat i n
ant i mi kr oba
yangsesuai oleh dokter yang
menangani.
Kriteria 3 : Pada pasien berumur s 1 tahun ditemukan paling
sedikii safu dari tanda-tanda dan gejala-gejala
berikut tanpa ada penyebab
lainnya :
- demam (t38"C)
- nipotermia (<37" C)
apnea
' , -
bradi kardl a < 100/ meni t
-'
- letargia
- rnuntah-muntah
' dan
hasi l bi akan uri rr 10. kuman / ml rrri n dengan t i dak
l ebi h dari dua
l eni s
kunran.
Kri teri a 4 : Pada pasi en berumur s 1 tahun di temukan pal i ng
sedi ki t sat u dari t anda-t anda dan gej al a-gej al a
beri kut tanpa ada penyebab l ai nnya .
- demam (> 3B"C)
hipotermia (<37.C)
- apnea
- bradi kardi a < 1OO/meni t
- l etargi a
- muntah_muntah
dan
paling
sedikit satu dari berikut :
1). Test carik celup (dipslick) positif untuk leukosit
esterase dan atau nitrit
21. Pi uri a (t erdapat >
10 l eukosi t per
ml at au
terdapat 2 3 leukosit per LpB dari urin yang
tidak dipusing).
3). Ditemukan kuman dengan pewarnaaan gram
dar i ur i n yanq
t i dak di nusi nn / r r i non+r i r , , ^^\
Eliakan urin paling sedikit dua kali berturut-turut
menunjukkan
jenis
kuman yang sama (kuman
gramnegatlf atau S. Saphrophyticusl dengan
jumlah > 100 koloni kuman per rnl urin yang
diambil dengan kateter-
Bi akan ur i n menunj ukkar r sat u
i eni s
uropatogen (kuman gram-negatif atau S.
Saphrophyticusl dengan
iumlah
> 105 per ml
pada pender i t a yang t el ah mendapa' r
pengobat an ant i mi kr oba- yang sesuai
pengobatan antlgnikroba yang Sesuai
Didiagnosa ISK oleh dokter yang menangani
Talah rr,endapal pengobatan antimikroba yang
sesuai oleh dolcer yarig menangani
Cat at an:
.
Bi akan posi ti f dari uj ung kateter uri n bukan merupakan test l aboi ' atori um
yang bi sa ci i teri nra untuk tSK-
.
Biakan urin harus diambil dengan tehnik yang sesuai, seperti koleksi clean
catch atau kaleterisasi.
.
Pada anak kecil biakan urin harus diambil dengan kaieterisasi buli-buli
atau aspirasi suprapubik; biakan positif dari spesimen dari kantung urin
ti dak dapat:di andal kan dan harus di pasri kan dengan spesi men yang
diambil secara aseptik dengan kateterisasi atau aspirasi suprapubik.
b. I SK / Bakt eri uri a Asi mpt omat i k
Letak l nfeksi : i nfeksi sal uran kemi h (l SK) asi mptomati k
41.
5) .
6).
7) .
Kode
Def i ni si
UTI -ASB (Uri nary Tract I nf ect i on Asympt omat i c
Bacteriuria).
l nf eksi sal ur an kemi h ( l SK) asi mpt omat i k har us
32
:il
I
. ' 1
' i
memenuhi paling sedikitsatu krrteria berikut ini :
Kri teri a 1 ; Pasi en pernah memakai kateter kandung kemi h dal am
wakl u 7 hari sebel um bi akan uri n.
dan
ditemukan dalam biakan urin > 1O' kuman per ml urin
dengan
jenis
kuman maksimal 2 spesies
dan
' tidak terdapat gelalagejala / keluhan demam, suhu >
38"C, pclakisuria, nikuria, disuria dan nyerisupra pubik.
Kriteria 2 : Pasien tanpakateter kandung t"min menetap dalam 7 -
hari sebel um bi akan
pert ama' posi i i f .
dan
bi akan uri ne 2 kal i berturu!-turui ci i temukan ti dak l ebi h
2
. i eni s
kuman yang sama dengan
j uml ah < 1O' per ml .
dan
ti dakterdapat gej al agej al a/kel uhan demam, suhu > 3Bo
C
,
pol aki suri a, nl kuri a, di sui ' i a dan nyeri supra pubi k.
)atatan :
Biakan positif
dari ujung k4teter urin bukan merupakan test laboratorium
yang bisa diterima untuk bakteriuria-
tsiakan urin harus diambil dengan tehnikyang sesuai, seperti koleksi c/ean
catch aiau kateterisasi.
. l nf eksi Sal uran Kemi h Lai n
Letak infeksi : Other infection of Urinary TracVlSK lain (ginjat, ureter,
kandung kemih, uretra,
jaringan
sekitar retro - retro-
peri toneal
atau rongga peri nef ri k)
Kode : UTI -OUTI (Uri nary Tract l nf ect i on Ot her I nf ect i ons o{
the Uri nary Tract).
Def . . r i si
Kriteri 1
Kriteria 2
Kr;teria 3
l nfeksi sal uran kemi h
(l SK)
yang l ai n harus rnemenuhi
paling sedikit satu kriteria berikut ini :
Di temukan kuman yang tumbuh dari bi akan cai ran
bukan udn atau
j adngan
yang dl arnbi l dari l okasi yang
dicurigai terinfeksi
Adanya abses atau tanda infeksi lain yang dapat dilihat,
bai k s?car a pemer i ksaan
l angsu; r g, sel an- : a
pembedahan
atau rnol al ui pameri ksai n hi stopatol ogi s.
Terdapat dua dari tanOa berikut : demam (> 38' C),
nyeri l okal , nyeri tekan pada daerah yang di curi gai
teri nfeksi
dan
pal i ng sedi ki t satu dari beri kut :
1). Ket uar pus at au aspi rasi purul en dari t empat yang
di curi gai teri nfeksi .
2). Di temukan kuman pada bi akan darah yang sesuai
dengan tempat yang dicurigai.
3). Pemeri ksaan radi ol ogi , mi s, uttrasound, CT-scan,
M Rl , radi ol abel scan (gal l i oum, techneti um) abnor-
mal , memperl i hatkan gambaran i nfeksi .
4). Di di agnosa i nfeksi ol eh dokter yang menangani .
5). Dokter yang menangani memberi kan pengobatan
anti mi kroba yang sesuai .
Pada pasien berumur <
1 tahun ditemukan paling sedikit
safu dari tanda-tanda dan gej al a-gej al a beri kut tanpa
ada penyebab l ai nnya :
- demam (> 3B. C)
- hi potermi a (<37' C)
Kriteria 4
',:5:
i
.5"
,!r
j
- apnea
- bradikardia
< 1Co/menii
- fetargi a
- muntah_muntah
dan
paling
sedikit
safu
dari berikut
:
1).
Kefuar pu:
?t3y
aspirasi
puruten
dari
ternpat yang
dicurigai
terinfeksi.
-' rr"
v'r
2).
Ditemukan
kuman pad-a
biakan
darah
yang
sesuai
dengan
tempat
y"ng
oi"urigI..
_ 3)-
pemeri ksaan
radi ol ogi ,
mi s, ul trasound,
CT scan, '
MRt, radi otab,et.9";i ;;i i l m],te*rneri urn)
abnor_
mal , rps5nperl i h211"n
l "urnU=ro,, i nfeksi .
4)-
Di Ci agnosa
i nf eksi ol eh
dokt er
yang
menangani .
5).
Dokt er
yang
menangani
memberi kan
pengcbat an
: unj uk pel aporan
,
"nt i rn; kroba
yang
sesuai .
iHxl
i li L":,,T""5ff
i :::
ffi ;:il.,1
n e o n a r u s s e b a
s
a i s s r- c r R c ( s ki n a n d
:tor
Riiiko
Infeksi
Saluran
lfemih
Kat et eri sasi menet ap:
I
_.
Cara pernasangan
kateter
-
.:ama
pemasangan
.
^Kual i tas
perawatan
kateter
l : : e?t ?nan
pasi en
(umur)
uecubitus
Pasca
persalinan.
rnjuk
pengembangan
Surveilans
lnfeksi
Saluran
Kemih
Faktor
risiko
harus
dicatat
dengan
rengkap
pada
catatan
pasien
oreh dokter
perawa.t atau angEota tim keseh'atan lain yar.g menangani pasien (Ketegori l)-
b. Pel aksanaan survei l ans menghi l ung rate menurut faktor resi ko spesi l i k
(pemasangan kateter) mi ni mai seti ap enam bul an sekal i dan mel aporkan
pada Pani ti a PIN dan sekal i gus menyebaduaskannya dal ar,: bul eti n runrah
sakit (Kategori lt).
c. Pelaksana surveilans membrrat laporan ISK kasar pada but:tin rumah sa.kit
tiga bulan sekali (fategori l)-
Pencegahan lnfeksi Saluran Kemih.
Untuk mencegah terjadinya infeksi saluran kemih nosokomial perlu diperhatikan
beberapa hal yang berkaitan dengan pemasangan kateter urin.
a- Tenaga Pel aksana:
1). Pemasangan kat et er hanya di kerj akan ol eh t enaga yang bet ul -bet ul
memahami dan terampil dalam leknik pemasangan kateter secara aseptik
dan perawatan kateter (Kategoti l)
2). Personi l yang memberi kan asuhan pada pasi en dengan kateter harus
mendapat latihan secara beftala khusus dalam tehnik yang benar tenlang
prosedur pemasangan kateter kandung kemih dan pengetahuan tentang
kornplikasi poiensi yang timbul (Kategori ll).
b.
.
Tekni k Pemasangan Kateter-
1). Pemasangj an kateter di l akukan hanya bi l a perl u saj a dan segera di l epas
bi l a ti dak di perl ukan l agi . Al asan pemasangan kateterti dak bol eh hanya
untuk kemudahan personildalam memberi asuhan pada pasien (Kategori
I t ) .
2). Cara drainase urin yang lain seperli : kateter kondom, katetersuprapubik,
kateterisasi selang - seling (intermitten)dapat digunakan sebagai ganti
kateterisasi menetap bila memungkinkan (Kategori lll).
36
3). Cara tangan : Sebelum dan sr-sudah manipr.rla.si kateter harus cuii tangan
(Kat egori l ).
;. Teknik Pemasanqan Kateter
r
1). Gunakan yang terkeciltetapi aliran tetap lancar Can tidak menirnbulkan
kebocoran darisamping kateter (Kategori ll).
2)- Pemasangan secara aseptik dengan menggunakan peralatan steril
(Kat egori l l ). ,
3). Pemakaian drain
Penakaian drain harus dengan sistem tertutup, baik dengan cara
penghisapan atau dengan cara memakai gaya tarik bumi (gravitasi) dan
drain harus melalui luka tusukan di luar
luka
operasi (Kategori t).
J. Peravvat an pasca Operasi
1). Untuk l uka kotor atau i nfeksi , kul i t ti dak di tutup pri mer (Kategori l )
2). Pet ugas harus mencuci t angan dengan st andar cuc; i ari gan yang baku
sebel um dan sesudah merawat i uka. Pel ugas ti dak bol eh menyentuh
l uka secara l angsung dengan tangan. kecual i setel ah memakai sarung
t.angan steril
iKategori
i)
3). Kasa penutup l uka di ganti apabi l a :
.
Basah
.
Merrunj ukkan tanda-tanda i nfeksi (Kategori l ).
Ji ka cai ran kel uar dari l uka, l akukan pewarnaan gram dan bi akan
(Kat egori l ).
. Pengendal i anLi ngkungan
1). Semua pi ntu kamar operasi tertutup dan
j uml ah personi l yang kel uar
masuk kamar operasi di batasi (Kategori l ).
2. ) Vent i l asi kamar operasi harus di perhat i kan dal am hal :
.
Udara yang sudah disaring masuk ke kamar operasi ciari atas
dik-ol usrktt ke bavrah.
.
Frekuensi pergantian 25 x /
iam
(Kategori l).
3). Alat-alat operasi setelah dibersihkan dad
jaringan, Carah atau sekresi,
harus disterilkan dengan otoklaf. Kesempumaan ke{a otoklaf tersebut
harus diperiksa seminggu sekali (Kategori l).
4)- Kamaroperasi harus ciibersihkan
.
antara 2 operasi
.
tiap hariwalaupun kamar operasitidak dipakai
.
tiap minggu (satu haritanpa operasi untuk pembersihan meqyeluruh)
(Kategori l).
_
j
5). Pemakaian keset dengan antiseptik pada pintu l-nasuk karnar operasi
tidak clianjurkan (Kategori i).
6)- Biakan udara danbiakanyang diambil dari personil kamar operasi secara
rutin, tidak dioerluka;r (Kategori l).
. I NFEKSI LUKA OPERASI (I LO)
a. Super f i ci al l nci si onal
Letak Infeksi
i
l
Kode
Def i ni si
Kriteria
lnfeksi luka operasi supedicial
SSI - ( SKI N) Sur gi cal Si t e I nf ect i on Super f i ci al
lncisionalSite.
lnfeksiluka operasi superficial harus memenuhi paling
sedikit_safu kriteria bgrikut ini :
Infeksiyang teriadi pada daerah insisi dalam waktu
30 hari pasca bedah
33
dan
hanya meliputi kulit, subkulan atau
jaringan
lain diatas
fasci a
dan
terdapat pal i ng sedi ki t satu keadaan beri kut:
1). Pus kel uar dari l uka operasi atau drai n yang
dipasang diatas fascia
2)- Biakan positif dari cairan yang keluar dari luka
atau
i ari ngan
yang di ambi i secara asepti k
3).
Sengaj a di buka ol eh dokter karena terdapat
t anda peradangan kecual i
j i ka
hasi l bi akan
negati f (pal i ng sedi ki t terdapat satu dari tanCa-
t anda i nf eksi ber i kut : nyer i , bengkak l okal ,
kemerahan dan hangat l okal ).
4)- Dckt er yang menangani menyat akan t erj adi
i nfeksi
Pet unj uk Pel aporan :
'
Jangan l apcrkan abses j ahi tan (i nfl anrasi dan Ci scharge mi nl mal terbatas
pada ti ti k-tl i i k
j ahi tan)
sebagai i nfeksi
Jangan mel aporkan suatu i nfeksi l okal pada tempat tusukan (stab wound)
sebagai SSl, tetapi laporkan sebagaiinfeksi kulitatau soft tissue tergantung
kedal amannya
i
.
Laporkan i nfeksi pada ci rcumci si bayi sebagai SST-CIRC (Ski n and Soft
Ti ssue I nf ect i on Si rkul asi Neonat us). Ci rcumci si bukan merupakan
prosedur pembedahan
bagi NNIS.
'
Laporkan i nfeksi p.ada epi si otomi sebagai REPR-EPIS. Epi si otomi bukan
merupakan prosedur pembedahan bagi NNIS.
.
Laporkan l uka bakar yang t eri nf eksi sebagai SST-BURN.
pasi en mempunyai pal i nE seci i ki t satu dari tanda-
tanda atau geiala-geiala berikul : cjemarn (>389 C),
atau nyeri l okal , terkecual i bi akan i nsi si negati f.
3). Di ketemukan abses atau buKri l ai n adanya i nfeksi
yang mengenai i nsi sr dal am pada pemeri ksaan
l angsung, wakt u pembedahan ul ang, at au
dengan pemer i ksaan hi st opat ol ogi s at au
radiologis-
4). Dokt dr yanE rnenangani menyat akan t erl adi
infeksi-
Pet unj uk Pel apor an : .
.
h4asukkan i nfek-si yang mengenai bai k superfi si ai atau p;-oft nca sebagai
i nf eksi l uka op' erasi prof unda.
.
Laporkan bi aya spesi men dari i nsi si superfi si al sebagai l D (i nci si onal
drai nage).
c- Or gan / Rongga
Letak l nfeksi : ILO Organ/Rongga
SSt-(Letak spesifi!< pada crganirongga)
ILO organ / rongga mengenai bagian badan manapun,
kecuali insisi kulit, fascia, atau lapisan-lapisan otot. yang
dibuka atau dimanipulasi selama pembedahan. Tempat-
tempat spesifik dinyatakan pada ILO organ/rongga
untuk menentukan lokasiinfeksi lebih lanjut. Pada daftar
dibawah terdapat tempat-tempat spesifik yang harus
-.
digunaka;r untuk membedakan ILO orgar/rongga.
Sebagai contoh : appendictomi yang diikuti dengan
abses subdiafragmatika, yang harus dilaporkan sebagai
ILO organ / rongga pada tempat spes' dik intraabdominal
(ssr-rAB).
Koci e
Def i nr si
4l
- l
b.
Bila ir.leksi incisional mengenaiatau meluas sampai l.elapisan fascia dan
otot. laporkan sebagai lnfeksi luka operasi profunda.
Masukkan infeksiyang mengenai kedua letak, supedisial dan profunda,
sebagai Infeksi luka operasi profunda-
Laporkan spesimen biakan did irrcisi slperfisial sebagai lD (incisional drain-
age)
Operasi Profunda / Deep Incisional.
Letak l nfeksi
Kode
Def i ni si
Kri teri a
Infeksi luka .'rperasi profunda
ssr-(sr)
SSI-ST (soft tissue) diluar prosedur pembedahan
NNIS berikut, CBGB (coronary anery bypass gr2ft
termasuk
irisan dada dan kaki)
Infeksi luka operasi profunda harus memenuhi pal-
ing sedikit satu kriteria berikut ini :
Infeksiyang teriadi pada daerah i;rsisi dalam waktu
3O hari pasca bedah atau sampai satu tahun pasca
bedah (bila ada rnplant berupa ncn human derived
implant yang dpasang permanen)
dan
metiputiiaringan lunak yang dalam (mis, lapisan fas-
cia dan otot) dari insisi
dan
terdapat palir4t sedikit satu keadaan berikut :
1). Pus keluar-_dari luka insisi dalam tetapi bukan
berasal dad komponen organ/rongga dari dae rah
pembedahan-
2).. Insi si dal amsecara spontan mengal ami dehi sens
atau dengan sengaj a di buka ol eh ahl i bedah bi l a
40
suatu ILO organ / rong3a harus memer
beri kut :
Kriteria Infeksi timbul dalam waktu 30 hari setsla-
---:s::iii
pembedahan, bila tidak dipasang implani :--:* ::a:i
waktu satu iahun bia dipasang implant li.- ;-' irSi
t ampaknya ada hubungannya dengan : - : s: : ur
pembedahan-
dan
lnfeksi mengenai bagian tubuh manapun.
:;- =::-e.i
insisi kulit, fascia, atau lapisan - lapisan :::' .
.?a--c
di buka at au di mani pul asi sel ar na : ' - - : : : - : i
pembedahan.
dan
pasi en pal : ng sedi ki t mempunyai sal ah saf u: ="
- =- ' ' - i
1
).
Drai nage purul ent dari drai n yang di pa::- I
-
-i
:
-:
l uka tusuk ke dal am orgarVrcngga.
2) Di i sol asi kuman dari bi akan yang Ci a,-: :=---:-:
asepti k dari cai ran atau
j ari ngan
dari c:.:- :-:::
atau ruangan.
3) . Abses atau buhi lain adanya inf aksi
!,a.:
-:-
or gan/ r ongga yang di kel emur : -
pemeriksaan langsung waktu pembec:-:-
at au dengan pemeri ksaan hi st opai --
-' -: :
radiologis.
4). Dokter menyatakan sebagai ILO orga^
' l' -=-l:
Pet unj uk Pel aporan :
Kadang-kadang infeksi organ/rongga mengalir melalui
semacam itu umumnya tidak berhubungan dengan
ul ang dan di anggap sebagai penyaki t dar i i nsi si
di kl asi f i kasi kan sebagai I LO prof unda.
: : -
a
i r.s :
--:.-i :
Pe-::--:
--:--
^- : ' : - :
'
.
Laporka.l biakan spesimen dari insisisuperfisial sebaga; lD (incisional
drainage).
Beri kut adal ah t empat spesi f i k I LO organ / rongga :
Kode Letak
Bone Osteomyelitis
BRST
'Breast
abscesss atau mastitis
CARD myocarditis atau pericarditis
DISC Disc space
'
EAR Ear. mastoid
MET Endometritis
-
ENDO
endocardi t i s
EYE Eye, diluar conjunctivitis
GI T Gi t r act
I AB l nt raabdomi nal , yang t i dak di sebut kan di t ernoat l ai n
lC Inlracranial, bra-in abscess atau dura rneter
JNT Joint atau bursa
LUNG inteksi lai;r ditractus respiratorius bawah
MED Med:astinltis
. MEN Meningitis atau ventriculitis
ORAL Oralcavity (mulut,lidah, atau gusi)
OREP Other Male atau Female reproductive
OUTI Other infections of the urinary tract
SA Spinalabscess tanpa meningitis
SINU Sinusitis
UR
-
Upper respiratory tract, pharyngitis
VASC Arterialatauvencusinfection
VCUF Vaginalcuff
FaWor risiko Infeksi Luka Operasi
a. Tingkatkontarninasiluka
b. Faktor pejamu
:
.
Usia extrim (sangat mrrdaltua)
.
Obesitas
.
Adanyainfeksiperioperatif
.
Penggunaankortikosteroid
.
Dlabetes
mellitus
.
Malnutrisiberat
-
c.
.Faktur
pada
lokasi luka :
'
Pencukuran daerah operasi (cara dan vraktu pencukuran,
.
DeVitalisasijaringan
.
Benda asing
.
Supl ai darah yang buruk ke daerah operasi
.
Lokasi luka yang mudah tercernar (dekal. perineum).
d. Lama perawatan
e. Lama cperasi
Pet unj uk PengembanEan
Suruei rans t nf eksi Luka operasi
*)
a. Semua faktor risiko harus dic.atat dengan lengkap pada
catatan pasien oleh
'
dokter, perawat atau anggota tim kesehatan tain yang
menangani pasien
(kategori
l).
b' Kfasifiakasi operasi harus dicaiat pada
laporan operasi atau pada cataian
.
pasien
oleh ahlibedah segera setelah pasien
dioperasi (Kategori l).
c' Pelaksanaah
surveilans harus menghitung rare menurut klasifikasi luka operasi
minimal setiap 6 (enam)
bulan sekali dan melaporkannya pada.panitL
prrrr
dan pada bagian bedah (Kategori l)
d' Pelaksana surveilans menghitung rale menurut prosedur
spesifik setiap enam
bulan sekali dan melaporkannya pada
Komite Panitia
plN
dan para
ahlibedah
(Kategori
ll).
c' Pelaksana
suerveilans menghitung rafe kasus ILO pada
buletin rumah sakit
setiap tiga bulan sekali (Kategori
l).
') Petudiuk surrenarc
lrmg
dnaksud adatah %rbble 5ps1k wnuk hasi.g-rusiog lckasi D-eksi.
variable iiah. eperti umur,
i)nis kelamh mit /bagian ctan hio,tain *-"-u.tut rJ-r"
'oa.i
i.ilu_
AA
oencegahan
lnfeksi Luka OPerasi.
llnrJakan
pencegahan dikelompokkan
dalam :
I
Kala seb' elurn masuk rumah sakit :
1) . Semua
pemer i ksaan dan
pengobat an unt uk
per si apan oper asi
hendaknya
dilakukan sebelum rawatinap agarwaktu
prabedah meniadi
pendek ( < t hari
)
(Kategori lli'
2) . Per bai kankeadaanya| l gmemper besar kenl ungki nant er j adi nya| Lo
'
antara lain :
.
diibetes melitus
.
malnutrisi
.
cbesitas
.
infeksi
.
pemakaian kortikosteroici
(Kategori ll)
Kala Pra' OPerasi
:
1). Perawatan
pra operasi satu hari untuk operasi berencana. Apabila
keadaan
yang memperbesar
terjadinya lLo tidak dapat dilakukan di luar
rumah sakit (rr,isal : malnutrisi berat ya:rg memerlukan oal atau
parenteral
hiperalimentasi)
maka pasien dapai dirawat lebih awal (Kategori ll).
2)- Mandi dengan antiseptik dilakukan malam sebelum operasi
(Kategori
l l l ) .
Pencukuran rambut daerah operasi dilakukan hanya bilamana
perlu,
misalnya daerah operasi dengan rambutyang lebat'
Cara pencukuran adalah sebagai berikut :
.
Bi l a menggunakan
pi sau bi asa maksi mal di l akukan enam
j am
sebelum operasi-
.
Bila rnenggunakan
pisau cukur listrik dapat dilakukan lebih lama
3) .
sebelum
operasi daripada pisau cukur biasa.
.
Setelah dicukur diolesi antiseptik (kategori
lil)-
Daerah
operasi harus dicucidengan
pemakaian
antiseptik kurit dengan
teknik dari sentral ke arah tuar.
Antiseptik
kutit yang
dipakai dianjurkan
khrorheksidin,
rarutan yodium,
atau iodofor (kategori
l).
Di kamar operasi pasien
dih,tup dengan duk sterirsehingga
hanya daerah
operasiyang
terbuka (kategori
t)-
Antibiotika profilaksis
diberikan secara :_.
Sistemik
harus rnemenuhi
syarat :
.
tepat Cosis
'
tepat indikasi (hahya
untuk operasi bersih tertontaminasi, pemakaian
implant dan protesis.
atau operasidengan
risiko tinggiseperti
bedah
vaskuler.
atau bedah jantung).
'
tepai cara pemberian
(harus
diberikan secara r.v. dua jam
seberum
operasi dirakukan,
dan diranjutkan
tidak rebih dar! 4s jam).
'
tepat jenis
(sesuai
dengan mikroorganisme
yang sering menjadi
penyebab
ILO (Kategori
t).
9fJ
r hanfa digunakan untuk operasi
kotcrektar,
dan diberikan tidak
lebih dari 24
iam
(Kategori
t)-
Cat at an:
Antimikroba yang diberikan pada
ruka operasi kotor dirnasukkan daram
kelompok
terapeutik.
Persiapan
Tm
pembedahan
1). Set i ap orang yang masuk kamar operasi harus :
4) .
5).
6).
c.
,1 K
.
memakat masker yang efisien, menutupi hidung dan mulut-
.
rnemakaitutup kepala yang menutupisernua rambut.
.
memakai sandal khusus kamar operasi aiau memakai pembungkus
(kategori l).
2). Anggota tim bedah sebelum setiap operasiharus mencucitangan dengan
antiseptik selama 5 menil atau lebih, dengan posisiiari-iari lebih tingqi
dari siku (Kategori l).
3). Antiseptik yang dianjurkan untuk cuci tangan khlorheksidin,lodofo( atau
heksaklorofen
(kategori ll)-
4)- Setelah cucitangan, keringkan dengan handuk steril (Kategori l).
5). Set i ap anggot a t i m harus mernakai i ubah st eri l (kai egori l )
6). Setiap anggota tim hai' us memakaisarung tangan steril, apabila sartrng
tersebut kotor, harus diganti yang b,aru.
7). Penrakaian sarung tangan memakai metode tertutup (Kategori l).
B). Untuk operasitulang atau pemasangan implant harus memakai ciua la-
pis sarung tangan steril (l<ategori ll).
. Intra Operasi
1). Teknik Operasi
Harus dilakukan dengan sempuma untuk menghindari kerusakan
jaringan
lunak yang berlebihan, menghilangkan rongga, mengurangi perdarahan
dan menghindari tertinggalnya benda asing yang
tidak diperlukan
(Kategori l).
2). Lama Operasi
Operasi di l akukan secepat-cepatnya dal am bati rs yang aman (kategori
t ' )
3). Gunakan peralatan sepertisarung tangan, kain penutup duk, kain kasa
cian antiseptik untuk disirrfeksi hanya untuk satu kali pemasangan
(Kat egori l t ).
4). Kategori yang sudah terpasang harus difiksasi secara baik untuk
mencegah',aril<an pada uretra (kategod l)-
e. SisiemAliran-Teriutup
I r
1)- l ri gasi hanya di kerj akan apabi l a di perki rakan ada surnbatan al i ran-
'
misalnya karena bekuan darah pada operasi prostat atau kandung kemih.
Untuk mencegah hal i ni di gunakan i ri gasi konti nu secara tertutup. Untuk
-
menghi l angkarr sumbat an aki bat bekuan darah dan sebab l ai n dapat
di gunakan i ri gasi sel ang sel i ng. l ri gasi dengan ani i bi oti k sebagai ti ndakan
ruti n pencegahan i nfeksi ti dak di anj urkan (Kategori l i ).
' 2' ).
Sumbangan kateter harus di di si nfeksi sebel um di l epas (kategori l l )-
3). Gunakan sempri t besar steri l untuk i ri gasi dan sei .el ah i ri gasi sei esai
sempri t di buang secara asepti k (Kategori l ).
f.
4). Jika kateter sering tersurnbat dan harus sering
sendiri menimbulkan sumbatan), maka kateter
i l ).
:
Pengambilan Bahan Urin
Bahan pemeriksaan urin segar dalam
jumlah
kecil dapat diambil dari
bagian distal kateter, atau
jika
lebih baik dariternpat pengambilan bahan
yang tersedia, dan sebelum urin diaspirasidengan jarum dan semprit
yang steriltempat pengam!:lan baha;i ha,-us didisinfeksi (kategori l).
Bila diperlukan bahan dalam
jumlah besar maka urin harus diambil dari
kantong penampung secara aseptik (Kategori l).
diirigasi
fiika
kateler itrr
harus diganti (Kategori
1) .
2).
, 4Q
g"
Kelancaran Aliran Urin
1). Aliran urin harus lancar sampai ke kantong penampung.
Penghent i an al i r an secar a sement ar a hanya dengan maksucJ
mengumpul kan bahan pemer i ksaan unt uk pemer i ksaan yang
.
direncanakan,
(Kategori ll)
21. Untur menjaga kelancaran aliran perhatikan :
..
Pipa
jangan
tertekuk
iKinking).
.
Kantong penampung harus di kosongkan secara teratur ke wadah
penampung uri n yang terpi sah bagi ti ap-ti ap pasi en. Sal uran uri n dari
kantong pe:tampung ti dak bol eh menyentuh wadai r penampung,
'
Kat et er yang kurang l ancar / l ersumbal harus di i ri gasi t ekni k No. 5
. . . ,
bi l a perl u di gant i dengan yang baru.
'
Kantong penampung harus sel al u terl etak l ebi h mudah dari kancl ung
keml h (Kategori l ).
' r.
Peravyatan Meatus
Dianjur$ian rnembersihkan dan pelawatan meatus (selama kateter dipasang))
dengan l arutan povi dorte l odi ne, wal aupun ti dak mencegah kej adi an i nfeksi
sal uran kemi h (Kategori i l ).
Pengganti an
Kateter
Kateter urin menetap tidak harus diganti menurul waktu tertentu / secara rutin
(Kat egori l l ).
'Ruang
Perawatan
Untuk mencegah terj adi nya i nfeksi si l ang antara pasi en yang memakai kateter
menetap ma[<a pasi en yang teri nfeksi harus di pi sahkan dengan ti dak teri nfeksi
l
(Kat egori l l l ).
k. Pemantauan Bakteriologik
Pemantauan bakeriologik secara rutin pada pasien yang memakai kateter
tidak dianjurkan (Kaiegori lll)-
3. PNEUMONI A
,
Pneumonia adalah infeksisaluran nafas bagian bavrah (ISPB),
Letak infeksi
Kode
Def i ni si
Kri teri a 1
:
Kri teri a 2
Pneumonb
PNEU-PNzu
Pneumonia harus memenuhi paling sedikit salu dai' i kriteria
beri kut :
Pada perneriksaan fisik terdapat ronki basah atau pekak
(dullness) pada perkusi,
dan
salah satudantara keadaarr berikut :
1). lrmtxJ perubahan baru berupa sputum purulen atau
terjad perubahan sifat sputum
2)- lsolasi kuman positif pada biakan darah
'
3). tsolasi kuman patogen positif dari aspirasi trakea,
sikatan/cuci bronkus atau biopsi.
Foto torak menunjukkan adanya infiltraf, konsolidasi,
kavitasi, eftrsi pleura baru atau progresif.
dan
sal ah saf udant ara keadaan beri kut :
50
1). Timbui perubahan baru berupa spr-1.um purulen atau
terjadi perubahan sifat sPutum.
2\. lsolasi kuman positif pada biakan darah,
3). lsolasi kuman patogen positif dari aspirasi trakea,
sikatan / cuci bronkus alau bioPsi,
4)- Mrus dapat diisolasi atau terdapat antigen virus dalam
sekresi saluran nafas,
5)- Titer lgM atau lgG spesilik meningkat 4 x lipat dalam 2
kali
pemeriksaan,
6)- Terdapat tanda' tanda
penumonia pada pemeriksaan
histopatologi,
Kri t eri a 3 : Pasi en berumur
<
1 t ahun di dapat kan dua di ant ara
"keadaan
beri kut :
- apnea
- taki pnea
- bradikardia
- mengi
(wheezing)
-
rcnki basah
- atau batuk
dan
pal i ng sedi ki t satudi ani ara keadaan beri kut :
1): Produksi dan sekresisaluran nafas meningkat,
2). f i mbul perubahan baru berupa sputurn purul en atau
terjadi perubahan sifat sputum,
3). lsolasi kuman positif pada biakan darah,
4). l sol asi kuman pat ogen posi t i f dari aspi rasi t rakea,
si katan / cuci bronkus al au bi oosi .
5). Vi ;us dapat di j sol asi atau terdapat anti gen vi rus dal am
sekrasi saluran nafas,
6). terdapat tanda-tanda pneumoni a pada pemeri ksaan
histopatologi.
Kri teri a 4 . Gambaran radi ol ogi torak seri al patJa penderi ta umur > 1
tahun meriuniukkan infiltrat baru atau progresif, konsolidasi,
kavitasi, atau efusi pleura,
dan
' '
paling sedikit satu diantara keadaan berikut :
_
. , 1).
Produksi dan sekresi sal l rran naf as meni ngkat ,
2), Ti mbul perubahan baru berupa sput um purul en at au
terl adi perubahan si fat sputum,
3). l sol asi kuman posi ti f pada bi akan darah,
4). l sol asi kurnan pat ogen posi t i f dari aspi rasi t rakea,
s:katan / cuci bronkus atau bi opsi ,
5). Virus dapat diisolasi atau terdapa.t antigen virus dalam
sekresi sal uran nafas,
I
6).
ffJ,1il?:,ffoa-tanda
pneumonia pada pemeriksaan
Cat at an :
.
Sputum yang dibatukkan tidak berguna dalam diagnosis pneumonia tetapi
mungkin membantu mengidentifikasi kun,o;; etioiogi< cizrh memberikan data
suseptabilitas antimikrobial.
.
Penemuan dari pemeri ksaan si nar-x dada seri al mungki n l ebi h membant u
dari pada pemeri ksaan
t unggal .
Faktor Risiko Pnemoni-
a. l nstrumentasi sal ura.n nafas mi sal nya pada pemasangan pi pa enCotrakea,
venti l asi mekani s, ci an trakeostomi -
b. Tindakan operasi terutama operasi torak dan abcjcnren.
c- Kondisiyang mudah rnenyebabkan aspirasi misalnya pada pemasangan pipa
.
lambrrng (nasogastric tube), penurunan kesadaran, dan disfagia.
d. Usi a i ua.
I
e. Obesi tas.
t- ." Penyaki l obstr-uksi paru me;rahun-
g- Tes funosi paru abnorrnal (terutama dengan pcnurunan kecepatan eskpi rasi ).
h. l nt ubasi dal am rval <t u l ama-
i . Gangguan f ungsi i ni unol ogi -
Petunjuk Pengemban'gan Surueilans
pnemonia
:
a. Semua faktor ri si ko harus cj i catat denqan l engkap pada catatan pasi en ol eh
' dokter,
perawat atau anggota ti m kesehatan l ai n yang menangani pasi en
(Kat egori l ).
b. Pel aksanaan survei l ans menghi tung rate menurut faktor resi ko spesi fi k mi ni -
mal j eni s operasi l orak dan abdomen, dan.venti l al or serta mel aporkan pada
Pani t i a PI N r umah saki t mi ni mal 6 bul an sekar i dan sekal i gus
menyebarl uaskannya mel al ui bul eti n rumah saki t (Kategori l l )
4. I NFEKS| AL| RAN D, A, RA, H
pRl MER
( t ADp)
Let ak l nf eksi : I nf eksi Al i ran Darah
pri mer
(l ADp) at au Laborat ory con-
f i rmed Bi oodst ream I nf eci i on (LCBI )
i i
Koce
Def i ni si
Kriteria 1
Kriteria 2
BSI-LCBI
Infeksi aliran darah primer acialah infeksi aliran darah yang
timbul tanpa ada organ atau
jaringan
la.in yang dicurigai
sebagai sumber infeksi.
Terdapat kuman pathogen yang dikenal dari satu kali atau
lebih biakan darah
dan
biakan dai darah tersebut tidak-berhubungan dengan
infeksi di tempat hin-
Di t emukan sal ah' saf u. ' di i nt ara gej al a beri kut l anpa
penyebab l ai n:
dema.m (r 38" C)
menggigil
hipotensi
dan
paling sedikit satudari berikui :
1
)-
Kontaminan lqiiit biasa (mis., Drpth e roid s, Eacillus sp.,
porionibaderium
sp, coagulase negative staphy
loacci atau micrococcy' ditemukan dari dua kali atau
l ebi h bi akan darah yang di ambi l dari waktu yang
berbeda
Kontaminan kulit biasa (mis-, Dpth eroids, Bacillus sp-,
prorionibacleriufr
sp, coagulase negative staphy
lococci, atau ni c ro coccr) d i te m u kan dari pa I i n g s ed i kit
satu biakandarah dari pasien dengan saluran intravas
kuler, dan dokter memberikan terapi antimikrobial
yang sesuai-
Test antigen positif pada darah (mis., H. influenza, S.
Pneumoniae, N. meningitrdis atau group B Strepto-
coccus)
54
2).
3) .
Kriteria 3
dan
Tanda{anda, gej al a-gej al a dan hasi l l aboratori um yang
posi ti f ti dak berhubungan dengan suatu i nfeksi di tempat
l ai n.
pasien berumur>1 tahun dengan paling sedikitsatutanda-
tanda dan gejala-gejala berikut:
- demam (t 38' C)
- hi potermi < 37' C)
- apnea
- atau bradikardia
dan
1). Kontarni nan kul i t bi asa (mi s., Drptheroi ds, Baci l tussp.,
' '
prori oni bacteri um sp,, coagul ase negati ve si aphy
lococci, alau micrococcy' ditemukan dari dua kali atau
l ebi h bi akan Carah yang di ambi l dari wakt u yang
berbeda-
Kontaminan kulit biasa (mi-, DiptheroiCs, Bacillus
sp.'
prorionibacterium sp., coagulase negative staphy
locccci, alau m;crococci) ditemukan dari paling sedikit
satu biakan darah dari pasien dengan saluran inh"avas
kuler, dan dokter memberikan terapi anti-mikrobialyang
sesuai .
Test antigen positif pada darah (mis., H- inflttenzae,
S'
Pneumoniae, N- meningitidis atau group B Streptococ'
cus).
dan
Tanda-tanda, gejala-gejala dan hasil laboratorium
yang
positif tidak berhubungan dengan satu infeksi di tempat
lain-
2) .
3).
Pet unj uk Pel aporan
"
Laporkan phlebitis purulent dengan konfi;rnasibiakan
semikuantitaiif yang
positif
dari ujung kateter, tetapi cengan biakan darah negatif atau tidak
dilakukan biakan sebagai BSI-LCBI.
'
Laporkan kuman dari biakan darah sebagai BSI-LCB| bila tidak terdapat
bukti adanya infeksidi tempat lain
.
Pseucjc.\acteriemia
bukan merupakan infeksi n6sokomial_
Laborat ori um. '
Untuk orang dewasa dan anak umur > 12 tahun
Di i emukan sat u di arrt ar: r-2 kri t ' eri a beri kut : '
a- Kuman pat ogen
dar i bi akan cJar ah dan kuman r er sebut t i dak ada
hubungannya
den-oan i;rfeksi di tempat lain.
b. Ditemukan satu diantara gejala klinis berikut :
- der r r ar n( >SB' C)
- rnenggigi!
- hipotensi
-' ol i guri
dan satu di ahtara tanda berikut :
1)- Terdapat kontaminan kutit dan 2 biakan berturut
- turut dan kuman
tersebut tidak ada hubungannya dengan infeksi cii tempat organ /
jaringan
lain.
2). Terdapat kontaminan kulit dari biakan darah pasi:.:-yang
mc-ngEunakan
alal intravaskuler (kateter
inlravena) dan dokter telah memberikan
antimikroba yang sesuai degan sepsis.
Unt uk bayi < 12 bul an, di t emukan saf u ci ant ar a
oei ar a ber i kut :
.s6
- demarn{t 38" C)
- hi potermi ( < 37" C)
- apnea
- bradi kardi <10O/meni i .
dan salu diantara tanda berikut :
1). Terdapat kontami nan kul i t dari 2 bi akan berturu-turut dan kuman
tersebut tidak ada hubungannya dengari
infeksi di tempat I organ I
j ari angan)
l ai n-
2). Terdapat kontaminan kulit dari biatjn darah pasien yang menggunakan
ai at i ntravaskul er (kal eter i ntravena) dan kateter tel ah memberi kan
anti mi kroba yang sesuai dengan i nfeksi .
-Cat at an
:
Unt uk neonat us drgol ongkan i nf eksi nosokomi al apabi l a :
'
Pada partus normal di rumah saki t i nfeksi l erj adi setel ah l ebi h dari 3 hari .
'
Terj adi 3 hari set el ah part us pat ol cgi k, t anpa di dapat kan pi nt u masrl k
kuman
.
Pi ntu' masuk kuman
j el as,
mi sal nya l uka i nfus-
Faktor Resiko lnfeksi Aliran Darah Primer
a. Pemasangan kal eter i ntravena (l .V) yang berkai tan dengan :
.
j eni s
kanul a
.
metode pemasangan
.
l arna pemasangan kanul a
b. Kerentanan pasi en terhadap i nfeksi .
Petunj uk Pengembangan Survei l ans l nfeksi Al i ranDarah Pri mer
a. Pemasangan kat et er i nt ravena (l . V) yang berkai i an dengan
57
.
Jenis kanula
.
l'4etode pemasangan
.
Lama pernasangan kanula
b. Kerentanan pasien terhadap infeksi
Pencegahan lnfeksi Aliran Darah Primen
Pencegahan IADP teruiama ditujukan pada pernassngan dan perawatan lV.
a. indikasi pemasangan l.V. hanya dilakukan untuk tindakan
pengobatan
dan atau untuk kepentingan diagnostik (Kategori l).
!
b. Pemi l i han kanul a unt uk i nf us pri mer
.
Kanula plastik boleh digunakan untuk l.V. secara rutin, per.nasangan
t i dak bol eh l ebi h dari 48-72j am (Kat egorl l l ).
c. Cuci Tangan
1). Cuci tangan harus dilakukan sebelum melakukan pemasangan kanula
(Ka' t egori l ).
2). Pada urnumnya cuci t angan cukup menggunakan sabun dan ai r
mengalir tetapi untuk pemasangan kanula vena sentral dan untuk
pemasangan melalui insisi, cuci tangan harus rnenggunakan antiseptik
. (Kategori l).
d- Pemilihan Lokasi Pemasangan l.V.
Pada orang dewasa pemasang kanula lebih baik pada tungkai atas dari
pada tungkaibawah, bila perlu pemasangan dilakukan di daerah subklavia
aiau
jugular (Kategori l).
e. Persiapan Pemasangan l.V.
1). Tempatyang ditusuk/dipasang kanula harus terlebih dahulu disinfeksi
dengan ant i sept i k (Kat egori l ).
5B
2). Gunakan Yodi um Ti nct ur 1-2"/ " at au dapat j uga
menggunakan
klorheksidine, lodofor atau alkoholTA% Antisepiik harus secukupnya
dan di t unggu sampai keri ng mi ni mal 30 det i k sebel um di l akukan
pemasangan kanula (Kategori l).
3). Jangan menggunakan heksaklorofen atau carnpuran semacam
benzalkonium dalam air untuk disinfeksitempat tusukan (Kategori l).
t" Prosedur setelah pemasangan f.V
Beri salep antiseptik pada tempat perrrasangan teruianra pada teknik
insisi' (Kategori l).
Kanula difiksasi sebaik-baiknya (Kategori !)-
3)- Tut uol ah dengan kasa st eri l (Kat egori l )-
4). Cant umkan t anggal pemasangan di t empat yang mudaf r di baca
(nri sal nya pada pl aster penutup pi pa i nfus). Serta pada catatan pasi en
yang bersangkui an tul i skan tanggal dan l okasi pemasangan (Kategori
r).
g. Perawatan tempat Pemasangan l.V-
i). Tempat tusukan diperiksa setiap hari untuk melihat kerrrungkinan
timbulnya komplikasi lanpa membuka kasa penuiup yaitu dengan cara
meraba daerah vena tersebut.
Bila ada demam yang tidak bisa dijetaskan dan ada nyeri tekan pada
t empat t usukan, bar ul ah kasa penut up di buka unt uk mel i hat
kemungkinan komplikasi (Kategori l).
2). Bila kanula harus dipertahankan untuk waktu lama, maka setiap 48-72
jarn
kasa penutup harus diganti dengan yang baru dan steril (Kategori
I t ) .
3) . Bi l a ada wakt u pemasangan
kanul a t empat pemasangan di ber i
antiseptik maka setiap penggantian
kasa penutup,
tempat pemasangan
1) .
2) .
59
diberi antiseptik kembali (Kategori il).
h. Perrggantian Kanula
1). Jika pengcbatan l.V. melalui infus perifer (baik menggunakan heparirr
atau yang dipasang melalui insisiT, bila tidak ada komplikasi yang
mengharuskan mencabut kanula maka kanula harus digantisetiap 48-
72iam secara asepsis (Kategori l).
2). Jika penggantian tidak mengikutiteknik aseptik yang baik, maka harus
diganti secepatnya (Kategori l).
i. Ka.nula Sentral
1)- Kanuia sentral harus dipasang dengan teknik aseptik (Kategori l).
2)- Kanul a sent ral harus segera di l epas bi l a t i dak di perl ukan l agi at au
diCuga menyebabkan sepsis (Kategori l).
3)- Kanula sentral dipasang melalui vena
jugular
dan subkiavia kecuali
digunakan untuk pemantauan tekanan vena sentral, tidax ha:us diganti
secara rutin (Kategori l).
4)- Kanula senlrat yang dipasang melalui u""" p"rif"r harus diperlukan
seperti kanula perifer tersebut diatas (Kategori l).
5). Bila kanula sentral dipertahankan lebih lama, kasa penutup harus
'
diperiksa dan.diganti setiap 48-72jam (Kategori ll).
j.
Pemeliharaan Peralatan
1). Pipa l.V. termasuk kanula piggy
-back harus diganti setiap 48
jam
( Kat egor i l ) .
2). Pipayang digunakan untuk hiperalimentasi harus diganti setiap Z,+i' -qa
jam (Kategori l).
3) . Pi pa yang har us di gant i sesudah memani pul asi pember i an dar ah,
produk-produk
darah, at au emul si l ernak (Kat egori l l l ).
60
4). Pada seti ap pengganti an kompbnen si stem l V. harus di pertahankan
tetap tertutup. Setiap kali hendak memasukkao']!Jat melalui
pipa, ha;us
di l akukan Ci si nt eksi sesaat sebe. l urn memasukkan obat t ersebut
( Kat egor i l l ) .
5). Pengambilah bahan pemeriksaan darah melalui pipa l.V. tidak boleh
dilakukan kecualidalam keadaan darurat at"ru pipa akan segara dilepas
(Kategori l l ).
k. Pengganti an Komponen Si stem Intravena dal am Keadaan
Infeksi atau
Fl ebi ti s.
'
,
Ji ka dari tempat tusukan kel uar pus atau terj adi sel ul i ti s atau fl ebi ti s
tanpa gej al agej al a i nfeksi pada tempat l .V. atau di ci uga bakl eremi a
yang berasal -dari kanul a, maka semua si stem harus di cabut (Kategori
r )
l . Pemeri ksaan Untuk Infeksi yang di curi gai karena Inl ravena.
Bi l a di cur i gai t er j adi i nf eksi kar ena
Pemasangan
l . V- seper t i
t rombof i ebi t i s purul en, bat eri emi . maka di l akukan pemeri ksaan bi akan
uj ung kanul a.
Cara oengambi l an bahan sebagai beri kut :
.
1). Kut i t t empat t usukan harus di bersi hkan dan di si nf eksi dengan
al kohol . bi arkan sampai keri ng.
2).' Kanul a di l epas, uj ung kanul a di potong t 1 cm secara asepti k untuk
di bi akkan dengan tekni k semi kuanl i tati f (kategori l l ).
3). Ji ka si stem l .V. di henti kan ol eh karena kecuri gaan kontami nasi
cai ran, maka cai ran hari s di bi akkan dan si sa botol di arrtankan
-.
(kategori l ).
4). Ji ka si stem l .V. di henti kan ol eh karena kecuri gaan bakteri mi aki bat
!.V. cai ran harus di bi akkan
(Kateqori
l l )
m-
5). Jika terbukli bahwa cairan terkkontam.nasi, maka si.a Uott dan isinya
dengan nomor lot yang sama dengan yAng dicatat (KateEori l).
6) Jika kontanrinasi dicurigai berasal dari pabrik (instrinsic contami-
nat i on), maka secepat nya harus di l aporkan kepaCa Di nas
Kesehatan ( Kategori l).
KendaliMutu Selama dan Sesudah Pencampuran Cairan parenteral.
1)- Cairan paranteral dan hiperalimentasi harus dicampur di bagian
farmasi kecuali karena kepentingan klinis, pencampuran dilakukan
diruargan pasien (Kategori ll).
Tenaga pel aksana harus mencuci tangan sebel um mencampur
cai ran parenteral (Kategori l )-
Sel rel um mencarnDUrdan menequnakan cai ran Darenl eral , semua
wadah ha:' us di peri ksa untuk *i i i ut adanya kekeruhan, kebocoran,
ker et akan dan par t i kel t er t ent u dan t anggal kedal uar sa. Bi l a
di dapatkan keadaan tersebt.tt cai ran ti dak bol eh di gunakan dan
l rarus di kembal i kan ke bagi an farmasi dan dari bagi an farmasi ti dak
bol eh di kel uarkan (Kategori l ).
Ruangan di bagi an farmasi tempat mencarrrpur cai ran parenteral
lersebut harus memiliki pengatur udara laminer (laminarflowhocd.l
(Kategori l l ).
Sebai knya di pakai wadah yang beri si cai ran dengan dosi s tunggal
(sekal i pakai )- Bi l a di pakai bahan parenteral dengan dosi s ganda
(untul t beberapa kal i pakai ) dan si sanya untuk wadah harus di beri
tanda tanggal dan
j am
di kerj akan.
Label wadah harus di peri ksa untuk mengetahui apakah perl u
di masukkan ke dal am l emari es atau ti dak.
2\ .
rr-
4) .
5) .
6) .
5. SEPSI S KLI NI S ( Gl i ni cal Sepsi s)
Let ak I nf eksi : Sepsi s Kl i ni s
Kode
Def i ni si
Kri teri a i
Ki i t eri a 2
BSI -CSEP
Sepsis klinis harus memenuhipaling sedikit satu dari
kriteria berikut :
Di t emukan sal ah sat u di ant ara' gej al a beri kut t anpa
penyebab lain :
- Suhu >3BqC, beftahan minimal 24
iam
dengan atau
tanpa pembarian antipiretika.
- Hipotensi (sistolik >
90 mm Hg)
- Ol i guri denga, r j uml ah
uri n (< 2O ml / j am
af au < 0. 5 cc /
kg BB /
j am
).
dan
Semua gej al a / tanda yang di sebut di bawah i ni :
1). Bi akan darah ti dak di takukan atau ti dak di ketemukan
kuman atau anti gen dal am darah.
2). f i dak terdapat tanda-tanda i nfeksi di tempat l ai n.
3). Tei ah di beri kan ani i mi kroba sesuai dengan sepsi s.
Ditemukan pada pasieri berumur 1 tahun paling sedikit satu
gejala/tanda berikut tanpa diketahui ada penyebab yang
l ai n :
- demam (> 38" C)
-
hipotermia (< 37" C)
- apnea
- atau bradikardia < 100 x/menit-
dan
semua gej al al tanda
di bawah i ni :
1). bi akan darah t i dak di l akukan at au t i dak di ket emukan
kuman atau antigen dalam darah,
2). tidak terdapat ianda_tanCa infeksiditempat
lain.
3)- diberikan terapi antimikrobr
sesuai crenqan sepsis.
Petunjuk Pelaporan
Laporkan infeksi aliran darah dengan kuftur yang positif
sebagai BSI-l_cBl
6. OSTEOMYELIT|S
Letak l nfeksi : Osteomyel i ti s
BJ.BONE
Osteomyel i ti s
harus memenuhi syarai pal i ng
sedi ki t satr,r
kriteria berikut ini :
Tei Capat kuman dari hasi l bi akan
t ui anc.
Kri teri a 2 : Terdapat bukl i adanya osteomyei i ti s yang ci i ketemukan
pada pemeri ksaan
tangsung (di rek)
tul ang pada waktu
pembedahan
atau pemeri ksaan
hi stopatol ogi s
'
Kri teri a 3
:
pada
pasi en
terdapat pari ng
sedi ki t dua dari randa-tanda
I
dan gej al a-gej al a
beri kut tanpa ada penyebab
fai nnya :
- demam (> 38. C)
- bengkak setempal
- nyeri tekan
- hangal , al au
- terdapat drai nase pada
l empat yang di cui i gai i nfeksi
t ul ano.
dan
pal i ng
sedi ki t saf u dari beri kut .
Kode
Dei i ni si
Kri teri a 1
64
j:sr
J;J
I
-ij
1) .
2t.
Terdapat kurnan dari biakan darah.
Test ant i gen darah posi i i f (mi . , H. l nf l uenzae, S.
Pneuminae)
Bukti radiologis adanya infeksi, mis., tanda ab;ronnal
p?da x-rar,, CT-scan, MRl , radi o l abel scan. (gal l i um,
techneti rtrn, dl l ).
3).
RSA 7. SEl.lD! atau BU
Letak infeksi
Kode
Def i ni si
.
Krileria 1
Kriteria 2
Kriteria 3
Sendi at au bursa
BJ - JNT
I nf eksi sendi at au bursa harus pai i ng sedi ki t ment enuhi
satu kri teri a beri kut :
Terdapat kuman dari bi akan cai ran sendi at au bi opsi syn-
ovi al -
Terdapat bukti adanya i nfeksi sendi atau bursa yang
t erl i hat pada wakt u pembedaharr
at au pemeri ksaan
histopatologis.
Pada pasien terdapat paling seclikit duadari tanda-tanda
cian gejalagejala berikut tanpa ada penyebab lainnya :
- nyeri sendi
- bengkak
- nyeri t ekan
- hangat
- terdapat effusi atau pembatasan
ger.X
dan
pal i ng sedi ki l sat udari beri kut
:
f,)
8. RUANG DI SCUS
a
Letak infeksi
Kode
Def i ni si
Kri teri a 1
Kri teri a 2
Kri teri a 3
Krtiteria 4
1). Terdapat kuman dan sel - sel darah put i h pada
pengecatan gram daricairan sendi.
2). Test antigen darah, urine atau cairan sendi positlf.
3)- Bukti radiologis adanya infcksi, mis, tanda abnormal
pada X-ray, CT scan, MRl, radio label scan, (gal-
lium, technetium, dll-)
,
Ruang discus
BJ-DISC
:1
l nfeksi di scus vertebral i s harus memenuhi pal i ng sedi ki t safu
kri teri a beri kui :
Terdapat kuman dari hasi l bi akan
j ari ngan
di scus vertebral i s
yang di dapat pada waktu pembedahan ai au aspi rasi j arum.
Terdapat bukl i i nfeksi di scus vertebral i s yang di l i hat sel ama
pembedahan atau pemeriksaan histopatologis.
Pasi en menderi ta demam (> 38. C) tanpa di ketahui ada
penyebab atau nyeri pada ruang di scus vertebrai i s yang
terkena
dan
Tanda infeksi pada pemeriksaan radiologis X-ray, CT-scan,
MFl l , radi ol abel scan dengan gal l i um atau techneti um.
Pasi en menderi ta demam (t 38o C) tanpa di ketahui ada
penyebab atau nyeri pada ruang di scus veftebral i s yang
terkena
66
dan
Test antigen darah atau urine positif (mis. H lnfluenzae, S.
Pneumoniae, N. lvleningilidis, atau grup B Strepiococcusl,
9. I NFEKSI I NTRAKRANI AL
Letak infeksi: Infeksi intrakranial (abses otak. infeksi subdural atau epidu-
ral, ensefalitis)
cNS-tc
I
f
)
a
t
3
3
3
=
-t
J
:=
-
{
=
E
ta
. 1
{
:
a
I
i
=
2
E
.E
a
I
I
3
5
E
g
*
a
E
q
E
: l
F
i i
{ode
Def i ni si
Kri teri a 1
Kri teri a 2
Kritei'ia 3
Infeksi intrakranial harus memenuhi paling sedikit satu kriteria
beri kut :
Terdapat kurr,an dari bi akan j ari ngan
otak atau durameter.
Terdapat abses atau bukti adanya i nfeksi i ntrakrani al yang
t er l i hat pada wakt u pembedahan
at au pemer i ksaan
histopatologis.
Pada pasien terciapat paling sedikit dua dari tanda{anda
dan gejala-gejala berikut tanpa ada penyebab lainnya :
- nyeri / sakit kepala
- pusing
- demam (> 38" C)
- tanda-tanda neurologis yang terlokalisasi
- atau perubahan deraj at kesadaran atau kebi ngungan
dan
bila diagnosis dibuat anternortem, dokter mulai memberikan
terapi antimikrobial yang
sesuai
dan
paling sedikit salu dari berikut :
1). Terdapat kuman pada pemeri ksaan
mi kroskopi s dari
67
Kriteria 4
jaringan o'.ak atau abses yang diambil dengan aspirasi
jarum
atau biopsi pada waktu pembedahan atau auton.i
2). Test aniigen darah atau urine positif.
3). Bukti radiologis adanya infeksi, mis, tanda abnormal
pada ultrasound, CT scan, MRl. radio nuclide brain scan,
atau arteriogram
4). Diagnostic single antibody titer (lgM) atau kenaikan
paired sera (lgG) untuk pathogen sebanyak empat ka!i.
Pasien berumur > 1 tatrun mendaoat paling sedikit dua
tanda-tanda dan gejala-gejala berikut tanpa ada penyebab
l ai nnya:
- demam ( > 38' C)
- hipbtermia (< 37' C)
- apnea
- bradikardia
- tanda-tanda neurologis yang tedokalisasi
- atau berubahan derajat kesadaran
dan
Ei i a ci i agnosi s di buat anten:ortern, dckter mul ai memberi kan
terapi antimikrobial yang sesuai
dan
praling sedikit satu tJari berikut :
1). Terdapat kuman pada pemeri ksaan mi kros kopi s dari
j ari ngan
otak atau abses yang di ambi l dengan aspi rasi
iarum
atau biopsipada waktu pembedahan atau autopsi
Test antigen darah atau urine positif
Bukti radi ol ogi s adanya i nfeksi , mi s, l anda abnormal
pada ul t rasound, CT scan, MRl , radi onucl i de brai n scan,
atau arteri ogram.
2)"
3).
6S
4)- Diagnostic single antibody titer (lgM) atau kenaikar.
p' ::ed
sera (lgG) untuk pathogen
sebanyak ernpat kali.
Pet unj uk Pel apor an:
Sila terdapat meningtis clan abses otak bersamaan, laporkan infeksi sebagai
l c-
10. MENINGITIS atau VEt\tTRtKULtTtS.
Letak infeksi : Meningitis atau ventrikulitis
Kode
Def i ni si
CNS-MEN
Meni ngi t i s at au vent ri kul i t ! s harus mernenuhi pal i ng sedi ki t
safu kri teri a beri kui :
Kri teri a 1 : l erdapat kuman cari bi akan cai ran serebrospi nar (csF).
Kri teri a 2 : Pada pesi en
terdapat pari ng
seci ki t satu dari tanda-tanda
dan gej al a-gej ai a
beri kut tanpa ada penyebab tai nnya :
i
demam (>.39"
C)
- nyed / sakit kepala
-
kaku kuduk
- meningealsigns
- cranial nerve signs
-
atau irritabilitas
dan
bi l a di agnosi s
di buat ant er nor t em, dokt er mul ai
memberi kan terapi anti mi krobi al yang
sesuai
dan
paling sedikit satu dari berikut :
o9
1). Sel -sel l ekosi t meni ngkat , peni ngkat an
prot ei n dan /
Kri t eri a. 3
irtau penurunan glukosa di CSF
2). Kurnan terlihat pada pengecatan Granr dari CSF
3). Terdapat kurnan dari biakan darah
4). Test antigen CSF, darah atau urine positif
5). Diagnostic single aniibody titer (lgM) atau kenaikan
paired sera (lgG) untuk pathogen sebanya.k empat kali.
a
Pasi en' berumur
<
1 tahun mendapat pal i ng sedi ki t sal u
tanda{anda dan gejalagejala berikut tanpa ada penyebab
l ai nnya :
- demam (> 38" C)
- hi potermi a (> 37" C)
- 3pnea
- bradi kardi a
- meni ngeal si gns
- crani al nerve si gns
- atau iritabiiilas
dan
bila diagnosis dibuat antemortem, dokter rnulai men:berikar:
terapi antimikrobial yang sesuai
idan
lpaling
sedikit satu dari berikut :
1). Pemeri ksaan CSF posi ti f dengan peni ngkatan sel -sel
l ekosi t , peni ngkat an prot ei n dan at au penurunan
glukosa di CSF.
Kuman terlihat pada pengecatan Gram dari CSF.
Terdapat kuman dari biakan ciarah.
2).
3) .
10
4). Test antigen CSF darah atau urine positif.
5). Diagnostic singie arrtibody iitei (tgtvr; atau kenaikan
paired sera (lgG) untuk pathogen
sebanyak empat kali"
Pet unj gk Pel aporan:
Laporkan meningitis pada neonatus sebagai nosokomial terkecuali bila
terdapat bukti kuat yang menunjukkan bahwa meningitis telah dicapat
secara transplacental.
Laporkan inr,jruicsF shunt (v-P shunr) sebagai sst-MEN uila ter;aoinya t
tahun pemasangan, bila lebih tama. laporkan sebaga.i CNS-MEN.
Laporkan meningoensefalitis sebagrai MEN
Laporkan abses spi nal dengan meni ngi t i s sebagai MEN,
, t . ABSES SPI NAL t anpa MEN| NG| T| S.
l -et ak i nf eksi
KoCe
Def i ni si
Kriteria 1
Kriteria 2
Abses spinai tanpa nreningilis
CT{S-SA
Abses spinal pacia ruang epidural atau subdural, tanpa
melibatkan cairan serebrospinal atau struktur tulanq yang
berdekatan, harus memenuhi paling sedikit satu kriteria
beri kut :
Terdapat kuman dari biakan abses pada ruang spinal epi-
duralatau subdural-
Terdapat abses pada ruang spinal epidural atau subdtna!
yang terlihat pada waktu pembedahan
atau autoosi atau bukti
adanya abses yang tedihat pada pemeriksaan
histopatologis.
t l
Kriteria 3 : Pada pasien terdapat paring sedikit satu dari tanda-tanda
dan gejala-gejala berikut tanpa a.da penyebab lainnya :
- demam ( t 3B.C
)
- nyeri/sakit bagian belakang (back pain)
- nyed tekan focat
- radiculitis
-
paraparesis
- atau paraplegia
dan
bila diagnosis dibuat antemortem, dokter mulai memberikan
terapi antimikrobial yang sesua:
dan
pal i ng sedi ki t sal udari beri kut :
1). Tei dapar kuman dari bi akan darah
21. Bukti radi ol ogi s adan;ra abses spi nal , mi s, tanda ab-
normal pada mvel ografi , ul trasound, CT-scan, N4Rl , atau
scanni ng-scanni ng yang i ai n (mi s, gal l i um, techneti unr)-
Pei unj uk Pel aporan:
Laporkan abses spi nal dengan meni ngi ti s sebagai MEN.
i
12. I NFEKSI ARTERI AL at au VENOUS
Let ak i nveksi
Kode
Def i ni si
Kri t eri a 1
Arterialatau venous
CV.S.VASC
Infeksi aderial atau venous harus memenuhi paling sedikit
satu kriteria berlkut :
Terdapat kuman yang di bi akkan dari arl eri at au vena yang
di ambi l pada wakt u pembedahan
. , . ,
dan
biakan ciarah irdak dilakukan atau tidak diaaoalkan kumarr
dari bi akan darah.
Kri teri a 2 : Terbukti adanya i rf;ps1 arteri atau vena yang terti hat paca
waktupembedahanataupemeriksaanhistopatologis.
Kriteria 3 : Pasien menderita paling sedikit satu dari tanda-tanda dan
:
gejala-gejala berikut tanpa ada penyebab lainnya :
demam (> 3Be C)
- iliH"sar pada daerah yang rerkena
dan
. l ebi h
dari r 5 kol oni kuman yang di bi akkan dari uj ung kanrrl a
i nt ravaskul er dengan menggunakan mel ode pembi akan
emi kuanti tati f
'
dan
biakan darah tidak dilakukan atau tidak dioaoatkan kuman
dari bi akan darah.
Kri teri a 4 : pasi en
menderi ta drai nase purul ent pada daerah vaskul er
yang terkena.
'
dan
biakan (arah tidak dilakukan atau tidax didapatkan kuman
dari bi akan darah.
Kriteria 5 : Pasien berurnur
>
1 tahun menderita paling sedikit satudari
tanda-tanda dan gej al a-gej al a
beri kut tanpa ada oenyebab
lainnya-:
- demam (> 38' C)
- hi potermi a (< 37" C)
- apnea
13.
bradi.<ardia
lethargi
atau nyeri pada daerah vaskuler yang terkena
dan
lebih dari 15 koloni kuman yang dibiakkan dari uiung kanula
intravaskuler dengan menggunakan metode pembiakan
semikuantitatif
dan
biakan darah tidakdilakukan atau trdak didapatkan kuman
dari biakan darin.
Pet unj uk Pel aporan
.
Laoorkan infeksipada graft arteriwenous, shunt atau fistula atau kanulasi
'
intra vaskulertanpa di ketemukankuman dari biakan darah sebagai CVS-
VASC.
.
Laporkan infeksi intravaskuler dengan diketemukan kuman cjari biakan
darah sebagai BSI-LCBI.
ENDOCARDI TI S
Let ak i nf eksi Endocarditis pada katup
iantung
alamiah atau prosthetik.
Endocarditis pada katup
iantung
alamiah atau prosthetik
harus memenuhi paling sedikit satu kriteria berikut :
Terdapat kuman yang dibiakkan dari katup atau vegetasi.
Pada pasien terdapat duadan tanda-tanda dan gejala-gejala
b:;ikut tanpa ada penyebab lainnya :
- demam (>38'C)
- bising (murmur) baru atau berubah
- fenomena embolik
Kode
Kriteria
Kri t eri a
'1 .i
)
mani fesl asi kul i t (yai tu, pei euhi ae,
spl i nter hemorrhage,
nodul subkutan yang nyeri)
payah jantung
kongestif
- atau kel ai nan konduksi j antung
dan
bila diagnosis dibuat antemortem, dokter mulai memberikan
terapi antimikrobiat yanE sesuai
dan
paling secjikit satu dari berikut :
1).
.
Terdapat Human dari duaafau l ebi h bi akan darah.
2). Terdapat kuman yana terri hat dengan pengecatan
Gram
dari katup, bi l a hasi l bi akan negati f atau ti dak di ker;akan.
3)- Vegetasi varvurer yang terri hat pada waktu pembedahan
atau atrtopsi .
. 4). Test anti gen posi ti f
dari darah atau uri ne (mi sarnya,
H.
influenzae,
S- pneumoniae,
N- meningitlCis.
afau grcup
B. S.treptococcus).
5). Bukti adanya
vegetasi baru pada
echocardi ogram.
Kri teri a 3 :
pada
pasi en
berumur >
1 tahun terdapat dua dari tanda-
tanda dan gejaragejata
berikut tanpa ada penyebab
rainnya:
demam (> 38. C)
hi potermi a (< 37e C)
apnea
- 3fi:5?fJ?mur)
baru arau berubah
fenomena embol i k
ni ani festasi kul i t (yai tu, petechae,
spl i nter hemorrhage,
nodul subkutan yang
nyeri )
.
:ff lJilH'_:"*X?:ll"n,,n
g
14. MYOCARDI TI S
Letak infeksi
Kode
I
Definisi
Kriteria 1
Kriteria 2
dan
bila diagnosis dibuat antemortem, dokter mulai rnen:5*-i<=-
terapi antemikrobia! yang sesuai
dan
paiing sedikit satu dari berikut :.
1). Te,dapat kuman dan dua atau lebih biakan darah.
2). Terdapat kuman yang terlihat ciengan pengecatan G=-
dari katup bila hasil biakan negatif atau tidak dikeriaer.
3). Vegetasi valwler yang terlihat p^U. w"Ltu pemberJai-:-
atau autopsi.
4). Test antigen positif dari darah atau urine (misalni,=, --
influenzae, S. pneumoniae, N. meningitidis, atau o*=-:
B. Streptocrccus)-
5). Bukti adanya vegetasi baru pada echocardiogram.
at au PERI CARDmS
Myocarditis atau pericarditis
CVS-CARD
Myocarditis atau pericarditis harus memenuhi paling se:\-t
satu kriteria berikut :
Terdapat kuman yang dibiakkan dari
jaringan pericard
:'>
cairan yang diambildengan aspirasijarum atau pada nac-
pembedahan.
Pada pasien terdapat duahrttanda-tanda dan gejala+ja
berikut tanpa ada penyebab lainnya:
Kriteria 3
- nyeri dada
- pulsus paradoksus
- atau pembesaran
iantung
dan
paling sedikit satudari berikut:
1). EKG abnormal yang sesuai dengan myooarditis atau
pericarditis-
2). Test antigen positif pada darah (mis., H. lnfluenzae, S.
pneumonia)-
3)- Bukt i adanya myocardi t i s at au peri cardi t i s pada
pemeriksaan histologis
jaringan
iantung.
4). Kenaik,en antibodi
Vpe
- specific sebanyak empat kali
dengan atau tanpa isolasi virus dari pharynx atau fe-
ces.
5). Efusipericardial pada echocardiogra:ir, CT scan, MFil,
atau angiography.
Pada paslen berumur
>
1 tahun te:'dapat dua dari tanda-
tanda dan gejalagejala berikut tanpa ada penyebab iainnya:
demam (t 38o C)
hipotermia (< 37o C)
apnea
bradikardia
pulsus paradokus
atau pembesaran jantung
dan
paling sedikit satu dari berikut
1)' EKG abnorl"'
runn;;;""?,ifftr#,n*'t's
atau
pericarditis.
2). Test antigen positif pada da.rah (mis.. H. lnfluenzae, S-
pneumonia).
3) . Bukt i adanya myocar di t i s at au per i car di t i s pada
pemeriksaan histologis
jaringan jantung.
4)- Kenaikan antibodi type - specific sebanyak empat kali
dengan aiau tanpa'lsolasivirus dari pharynx atau feces-
5). Efusi pericardialpad:i echocardiogram, CT scan, MRI
atau angiography.
'
Catatan
Kebanyakan kasus-kasus pasca bedah
jantung
atau pasca infark miokard
bukan i nf eksi us.
15. MEDI ASTI NI TI S
Letak i nfeksi
Kode
Def i ni si
Kri t eri a ,
. ,
Kriteria 2
Kriteria 3
Mediastinitis
CVS.MED
Mediastinitis harus memenuhi paling sedikit salu kriteria
berikut:
Terdapat kuman yang dibiakkan dari
iaringan
mediastinal
atau cairan yang diambil dengan aspirasi
jarum atau pada
waktu pembedahan.
Ter dapat bukt i medi ast i ni t i s yang t er l i hat sel ama
-Rembedahln
atau pemeriksaan histopatologis.
Pada pasien terdapat paling sedikit safu dari tanda-tanda
dan gejala-gejala berikut tanpa ada penyebab lainnya :
- demam (> 38" C)
- nyer i dada
r a
l.etidakstabilan sternum
dan
paling sedikit satu dari berikut :
1). Di scharge pui ul ent dari daerah medi asti nal .
2). Terdapat kuman dari biakan darah aiau cairan yang.
keiuar dari daerah mediastinal"
3). Pelebaran nretliastinum,p?da x-ray.
Kri teri a 4
' .
Pada pasi en berumur 1 tahun terdapat dua dari tanda{anda
dan gej al a-gej al a beri kut tanpa ada penyebab l ai nnya :
demam( >38"C)
hi pot er mi a( <371C)
apFea
bradi kardi a
keti dakstabi l an ste mum
qart
pal i ng sedi ki t safu dari beri kut :
- Di scharge purul ent dari daerah medi asti nal
- Terdapat kuman dari biakan darah alau cairan yang keluar
dari daerah mediastinal
- Pelebaran mediastinum pada x-ray.
Pet unj uk Pel apor an
Laporkan medi asti ni ti s setel ah bedah
j antung yang di sertai osteomyel i ti s sebagai
SSI -MED dan bukan SSI -BONE-
16. CONJUNCTI VI TI S
Let ak i nf eksi : Coni unct i vi t i s
19
Kode
Definisi
Kfiteria 1
Kriteria 2
EENT-CCINJ
Conjunctivitis harus memenuhi paling sedikit satu kriteria
berikut :
Terdapat kuman pathogen yang
Cibiakkan dari eksudat pu-
rulent yang
diambil dari coniunctiva atau
jaringan yang
ber dekat an,
seper t i pel upuk
mat a, cor nea, kel enj ar
meibomian, atau lacdmalis.
Terdapat
kemerahan pada conjunctiva atau sekitar rnata
pasi en
dan
.. .
paling sedikit safu dari berikut :
1). Lekosi t dan kuman tamoak paCa pengecatan
Gi am ci ari
eksudat-
2). Eksudat purul ent-
3). Tesi antigen positif (mis-, ELISA aiau iF untuk Ctamydia
trachomatis, virus herpes simpiex, a<Jenovirus) pada
eksudat atau conjunctival scrapoing.
4). Tampak mul ti nucl eated gi ant cel l s pada perneri ksaan
i
s). ;:"" ;t-H"
conjuctiva atau scrappins'
6). Kenaikan titer diagnostic single antibody (lgM) sebanyak
empat kali pada paired
sera (lgG) untuk kuman patho.
gen.
Pet unj uk Pel aporan
.
Laporkan i nf eksi mat a yang l ai n sebagai EyE.
80
'
Ja.rgan melaporkan conjuctivitis kimiawi (che mic.tl conjunctivitisl akibat nitrat
perak (AgNO.)
sebagai i nfeksi nosokomi a!
'
Jangan mel aporkan conj uncti vi ti s yang ti mbul sebagai bagi an ci ari penyaki t
vi rus yang mel uas (seperti campak, cacar ai r. atau Upi ).
,
17. M ATA (Sel ai n conj uncti vi ti s)
Letak
Kode
Def i ni si
Kri t eri a 1
Mata, selain conjunctivitis
t
EENT-EYE
l nfreksi pada
mata, sel ai n conj uncti vi ti s, harus memenuhi
paling
sedikit satu kriteria berikui :
Terdapat kuman pathogen yang di bi akkan dari cai ran vi tre_
ous pada
kamera anteri or dan posteri or.
Kri teri a 2 : Pacra pasi en terdapat pari ng
sedi ki t due dari tanda-tanda
dan gej al a-gej al a
beri kut tanpa ada pen;.ebab
l ai nnya :
- nyeri pada
mata
- gangguan
pengl i hatan
- atau hlpopion
dan
pafing
sedikit satudari berikut:
1). Dokter mendi agnosa
sebagai i nfeksi mata,
2'). Test antigen positif
dalam darah (mis.,
H. lnftuenzae, S.
Pneumoniae).
3). Di ketemukan
kuman dari bi akari
darah.
8l
; 8. TELI NGA, MAgTOI D.
Letak ini-ksi : Telinga, mastoid
: EENT-EAR
Infeksi pada
telinga dan rnastc*J harus memenuhi kriteria
beri kut :
Otitis eksterna harus mernenuhi paling sedikit safu dari
kriteria berikui:
.
,
Kriteria 1 : Terdapaikunran pathogen yang dibiakkan dari
drainage purubnt
dari saluran telinga-
Kriteria 2 : Terdapat palinEsedikit
safu dari landa.tanda
dan gejala-gejata
berikut tanpa aCa penyebab
yang l ai nnya:
- demam (> 38e C)
- nyeri
- kemeraha't
- atau dralnase dad saluran telinqa
'
dan
t er dapat kuman yang t er l i hat dengan
pengecatan
Gram pada drai nage purul ent
Otitis media harus memenuhipaling sedikit satudari kriteria
beri kut :
Kriteria 1 : Terdapat kunnn yang dibiakkan dari drainage
purulent datitefrrqa tengah (middle ear)yang
di ambi l denoan cara tympanocentesi s atau
pada waktu penbedahan-
terdapat pal i rg sedi ki t satu dari tanda-tanda
dan gej al ageph
beri kut tanpa ada penyebab
Kode
Definisi
Kriteria 2 :
S]
i
yang lainnya :
- demam ( > 38" C)
- nyeri pada gendang tei i nga
- inflamasi
- retraksi atau penurunan mobilitas gendang
telinga
- atau cairan dibelakanE gendang telinga
- atau drainase darisaluran
Otitis interna harus memenuhipaling sedikit saiudari kriteria
berikut :
Ktieria I : Terdapat kr:rnan yang dibiakkan dari cairan
bagi an dal am tel i nga yang di anrbi l pada waktu
pembedahan-
Kri teri a 2 : DoKer mendi agnosa sebagai i nfeksi bagi an
dal am tel i nqa.
tul astoi di ti s harus memenuhi pai i ng sedi ki t
-sal u
cj ari kri teri a
berl kut :
Kriteria 1 :
'lerdapat
kuman yang dibiakkan dari drainage
purul ent dari mastoi d.
Kriteria 2 : Terdapat paling sedikit satu dari tanda-tanda
dan gejala-gejala berikut tanpa ada penyebab
yang l ai nnya:
. -
demam( >3BoC)
- nyeri
- nyeri tekan
- erilema
- sakit kepala
- atau paralisis facialis
E
sl
a
i r
-i
' t
i
ri
' | '
.l
f
j
g
I
;l
{
Y
]
'_!
a
.1
. 1
=
I
1
-
=
=
g
i
!
+
..1
:
:
i
. l
3
dan
puii"g sedikit satu dari berikut :
1). Terdapat
kuman
pada pengecatan
Gram dari bahan-
bahan
Pur-rlent
dari mastoid'
2). Test antigen
pada darah
positif'
19. RONGGA
MULUT
(mulut' lidah' atau
gusi)
Letak infitsi : Rongga
mulut
(mulut' liUah' atau
gusi)
-
Kode
: EENT-OML
oefinisi
: lnfeksi
pada rongga mulut harus
memenuhi
paling sedikit
salu dari kriteria berikut :
Kr i t er i al : Ter dapat kumanpat hogenyangdi bi akkandar i bahanpur u-
lent dari
iaringan
atau rongga mulut'
Kriteria 2 : Pasien
menderita
abses atau terdapat
buKi adanya
infeksi
rongga rnulut
yang terlihat
pada
pemeriksaan
langsung'
setama
pemoeoalian,
atau selama
pemeriksaan
histopa
tologis-
Kr i t er i a3: Ter dapat pa| i ngsedi ki t sat udar i t anda. t andadangej al a.
gejala berit<ut
tanpa ada
penyebab
yang lainnya
:
l
-
abses
.
:[TXllrcak
putih
vans
rnenonjol
pada mukosa vans
mengalami
inflamasi
- atau
Plaque Pada
mukosa mulut
dan
pal i ng sedi ki t satu dari beri kut :
Lr --
1). Terdapat kuman pada pengecatan Gram.
2i. Pengecatan KOH (poiassium hydroxide) positif.
3) . Mul t i nucl eat ed gi ant cel l s yang t er ! i hal pada
pemeriksaan mikroskopik kerokan mukosa.
4). Test antigen pada sekresi oral positif.
5). Kenaikan titer diagnostic single antibody (lgM) sebanyak
empat kali pada ppired sera (lgG) untuk kuman pathc-
gen.
6) . Dokt er mendi agnosa i nf eksi dan member i kan
pengobatan dengan antijamur topikal atau oral.
Fet unj uk Pel apor an
Laporkan infeksi nosokomial herpes virus primersebagaiOPAL; infeksi herpes
virUs recurrerlt bukan infeksi nosckomial
O. SI NUSI TI S
q
a
x
{
i
I
I
' l
5
I
a
I
f
I
I
I
a
Letak infeksi
Kode
Def i ni si
Kriteria 1
Kriteria 2
Sinusitis
EENT-SI NU
Sinusitis harus memenuhi praling sedikit safu dari kriteria
beri kut :
Terdapat kuman pathogen yang dibiakkan daribahan puru-
lent dari rongga sinus.
Terdapat paling sedikit safu dari tanda-tanda dan gejala-
gejala berikOt tanpa ada penyebab yang lainnya :
- demam ( t 38' C
)
nyeri atau rryeri tekan pada daerah sinus yang lei-kena
- sakit kepala
- eksudat purulent
- atau penbuntuan
lubang hidurrg
dan
paling sedikit satu dari berikut :
1). Transilluminasi positif
2I
-
Pemeriksaan
radiografis positif
21. INFEKSI SALURAN NAPASATAS.
Pharyngitis,
!_a
ryngitis,
pigtoflitis.
Letak i nfeksi :
-' l nfeksi sal uran
napas atas. pharyngrti s,
l aryngi ti s, epi gl otti :i s
KoCe
: EENT-UR
Def i ni s
Infeksi sal uran napas atas harus memenuhi pal i ng sedi ki l
salu dari kriteria berikut :
Kriteria 1 : Terdapat paling sedikit dua dari tanda-tanda dan gejala-
gej al a beri l ort tanpa ada penyebab yang l ai nnya :
- demam( r 38. C)
- eritema
- nyeri pharynx,tenggorok
- batuk
- suara serak
cian
paling sedkit satu dari berikut :
Terdapat ktrnan pada pembi akan dari tempat yang spesi fi k
1). Terdapat kuman dari bi akan darah.
E6
2). Test antigen
pada darah atau sekrusi infeksi saluran
napas atas
Positif-
3)l;;1ii:,ll'ji:Tff
::"":::l:il'??1Jl;ilI::'il,I"j
gen-
4) . Dokt er mendi agnosa i nf eksi dan member i kan
pengobatan dengan antibiotika.
Kriteria 2 : Terdapat abses yang terlihat pada perneriksaan langsurig..
sel ama pernbedahan, atau pemeri ksaan hi stopatol ogi s. '
Kriteria 3 : Pada pasien berumur 1 tahun terdapat dua dari tanda{anda
dan gej al a-gej ata beri kut tanpa ada penyebab i ai nrya :
, Jemarn ( t 38" C;
:
i r i pot er mi a( <37' C)
:--. apnga
- il:ili?iliroi."n",s"1
at au eksudat purul en di t enEgorok
dan
.
paiing sedikit saru dari berikui :
.
1). Terdapat kuman pada pembi akan
dari t empat yang
spesifik-
2). Terdapat kuman dari bi akan darah.
3). Test anti gen pada darah al au sekresi sal uran napas
positif.
' -
4). Kenarkan ti terdi agnosti csi ngl e
anti body (l gM) sebanyak
empat kal i pada pai red
sera (l gG) untuk kuman patho-
gen-
{
;
i l
I
1
J
t
I
t
1
g.
{
:l
i
I
{
-l
',il
-i
g
3
t
3
aa
.I
?
I
=
=
g
-t
=
=
t
e
=
:
a
a
J
g
5
i
i
:t
:l
t
5). Dokter mendiagnosa infeksi salurirn na:e.: :--
22. GASTROENTERITTS
Letak Infeksi : Gastroenteritis
Kode
Definis!
Kriteria 1
Kriterla 2
: GI-GE
Gastroenteritis harus memenuhi paling s::,:'.:
-..::-.
dari
kriteria berikut:
,
Pasien mendapat serangan akut diarrhea (b=re< =-r
-iama lebih dan 12
jam)
dengan atau tanpa munta:
:-=-
:rnam
(>38o C) dan ta,npal'.rya penyebab bukan ncir::gs- .nis..
test diagnostik, regimen terapeutik, eksase:l=, :.--: dari
keadaan kronis, atau stres psikologis).
Terdapat paling sedikit duadari tanda-tai:a
---
_::jala-
gejala berikut tanpa ada penyebab yang la:--..:
- nausea (mual)
- muntah
- nyeri perut
- atau sakii kepala
dan
paling sedikit safu dari berikut :
1). Terdapat kuman pat ogen ent eri k pada: . a. =-
. : t cran
(stool) atau hapusan rektum.
2)- Kuman patogen enterik diketemukan ce::
-' .-skop
rutin atau elektron.
3). Kuman patogen enterik dideteksi deng: -;--=',
:nti-
oen atau antibodidari darah atau feces
88
4).
5).
Terdapat bukti adanya kuman enterik patogen ya;.g
dideteksi dari perubahan sitopatik pada biakan
iar,,tgan
(toxin assay).
Kenaikan titer diagnostic single antibody (lgM) sebanyak
emoat kal i pada pai red.sera (l gG) untuk kuman
patho-
gen.
Untuk Neonatus
dikatakan menderita gastroenteritis apabila :
1)- Hiperterrni, suhu > 38o C, rekta-l,atau hipotermi suhu <
37' C, rektal -
Kembung-
Bi si ng usus meni ngkat atau menurun-
Munt ah-
Pemei-iksaan tinja mikroskopis ditemukan > 5 per lapang
pandang, eri trosi t > 2 per l apang panci ang besar
2).
3) .
1).
s).
.
Cat at an:
Gastroenteri ti s pada neonatus yang l ahi r di rumah saki t sel ' al u di anggap
sebagai gastroenteri ti s nosokomi al .
Faktor Risi ko Gastroenteritis
a. Bayi dan anak usia 6 sld 24 bulan
b. Geriatrik
c. Pasien anak dengan pbnggantiASl (PASI)
d. Gangguan fungsi imunologi
e.
_Debi l i t as
P e n c e g a h a n G as t roente riti s
a. Cuci t angan.
89
,
a
i
t
E
b. Penanganan makanal,
yang baikdan aman di rumah' sakit-
c. Tindakan isolasi tertentu pada se@ pasien diare akut doedn
pen\':"-ab
vang
diciuga infeksius.
d. Personil yang menderita diare alo.il dengan penyebab yang didug:'
nfeksius
tidak diperbolehkan untuk memberi asuhan langsung-
23. INFEKSI TRAKTUS DIGESN\NS
(esophagus, gaster, usus kecil, usrrs besar dan rektun';
Letak infeksi Infeksi traktus
@estivus
(esophagus, gastei. usus
kecil'
usus besar dan re(1um) tidak termasuk gastro-errteritis
dan
appendicitis
G! -GI T
lnf eksi traktus
@estivus,
tidak ie rmasuk gastrc enle
ritis dan
appendicitis, harus memenuhi paling sedikit saluderi
kriteria
beri kut :
Pasien menderita abses atau bukti lain adanya
inteksiyang
t er l i hat
pada wakt u pembedahan at au
penl er l Ksaan
histopatologis-
Terdapat patirg sedikit dua dari tanda-ianda
can
geiala-
geiala berikut tarpa ada penyebab yang lainnya
clan
sesuat
dengan organ alau
laringan
yang terkena :
-
demam( > 38P C
)
-
nausea (mual)
-
muntah
-
nyeriperut
-
atau nyeri tekan
dan
paling sedikit satu dari berikut :
' t ).
Terdapat l arrnan pada bi akan drai nase
at au i ari ngan
Kriteria 1
Kode
Def i ni si ,
Kriteria 2
> \_:
yang diambil padawaktu pembedahan a.au endoskopi,
atau dari drain yang dipasang secara bedah-
2). Kuman teriihat pada pemeriksaan mikroskopik pada
pengecatan Gram atau KCH atau terlihat multinucle-
ated giant cells dari drainase atau
jaringan yang diambil
pada waktu pembedahan atau endoskopi atau drain
yang dipasang secara bedah.
3). Terdapat kuman dari biakan darah.
4r- Bukti kelainan patologis pada pemeriksaan radiologis.
5). Bukti kelainan patologis pada pemeriksaan endoskopik
(mis., Candrda esofagitis ata_ir proctifis).
24. Fi EPATI TI S
. =
Letak infeksi
Kode
Definlsi
Kriteria
:
Hepatitis
GE-HEP
Hepatitis harus memanuhi paling sedikit satu dari kriteria
berikut:
Terdapat paling sedikit dua dan tanda-tanda clan gejala-
gejala berikut tanpa ada penyebab yang lainnya :
- demam (t 3Bo C
)
- anorexia
- nausea (mual)
- muntah
- nyeri perut
-
jaundice
- atau riwayat transfusidalam waklu 3 bulan sebelumnya
dan
paling sedikit satu dari berikut :
9t
I
).
Test antigen atau antibodi pos;tii untuk hepatitis A, hepa-
titis B. hepatitis C, atau delra hspatiiis.
2). Tesi fungsiliver abnormal (mis., peningkatan ALTIAST,
bilirubin).
3). Cytomegalovirus (CMV) terdeteksidiurine atau sakresi
orofaringeal. .
Pet uni uk Pel aporan.
.
,
' o
Jangan mel apcrkan hepat i t i s al au
j aunci i ce yang noni rf eksi us (mi s. ,
defisiensi alpha-1 antitrypsin).
. -
Jangan mel aporkan hepat i i i s at au
j aundi ce yang di sebabkan t erpapar ol eh
hepaiotoxin (alcoholic alau acetamincphen-induced hepatitis, dll)-
.
Jangan melaporkan hepatitis atau
joundice yang diserabkan oleh obstruksi
bilier (cholecystitis).
25. I NTRAABDOM
Letak Infeksi
Kode
Definisi
Kriteria 1
II.IAL
I nl r aabdcmi nal , t er masuk, kandr : r _: empedu, duct us
chol edochus, l i ver (ti dak termasuk
:*-:pati i i s
vi rus), l i mpa,
pankr eas, per i t oneum, r uang sub: i r r eni c at au subdi a
phragmati ka, atau
j ari ngan
i ntraabc::i ' ri nal yang l ai n atau
daerah yang ti dak di j el askan di ternp:: l ai n)
GI - I AB
l nfeksi i nl raaMomi nal harus memen
' ri pal i ng sedi ki t satu
dari kri teri a beri kut :
Di temukan kuman pada bi akan cai ra:. :urul ent dari rongga
i ntraabdomi nal yang di ambi l pada \.,,ai :' J pembedahan atau
dengan aspi rasi j arum.
92
Kri teri a 2
-.erdapat
abses atau bukti l ai n adanya i nfeksi i rrtra-abCcmi -
nal yang terlihat pada waku pembedaha, r ?tau oemeriksaan
histopatoiogis-
Pasi en mengal ami pai i ng
sedi ki ' . Jua dari tanda{anda atau
gejala-gejala berikut tanpa diketahui ada penyebab yang lain:
-
jaundice
demarn (t 38o C
)
-
nausea (mual )
- muntah
' -,
nyeri perut
dan
pal i ng sedi ki t sal u dari keadaan beri kut :
1).
. Di t emukan
kuman dari bi akan cai ran yang kel ua, - dari
' d; ai n
yang di pasang secara bedah (r' . ri s. , redon drai c,
Crai n t erbuka. T-t ube drai n)-
Kriteria 3
2). Di temukan kuman dari bi akan cai ran drai rr atau
j ari ngan
yang ci i ambi l rvahu pembecaharr atau aspi rasi j arui ' n.
3). Di temukan kuman dari bi akan darah dan bukti radi o
grafi s adanya i ;rfeksi , rni s., garnbaran abnormal pada
.
ul tra sound, CT scan, MRl , atau radi ol abel
-"can
(mi s
,
gal i um, l echneti um) atau pada pen-reri ksaan si nar-x.
Pet uni uk Pel aporan
Jangan mel aporkan pancreati ti s (si ndroma
keradangan yang khas di tandai
dengan nyeri abdomen, mual dan muntah yang di sertai dengan kadar enzi m
pankreati k yang ti nggi ) terkecual i dapat di tentukan i tu berasal dari i nfeksi .
26. NECROTI ZI NG ENTEROCOLI TI S
Letak tnfeksi : Necrotizing enterocolitis
Kode : GI - NEC
93
Defi ni si : Necroti zi ng enterocol i ti s pada anak harus rnern:nuhi kri teri a
berikut :
Kriteria : Anak mcngalami paling sedikii dua tanda-tanda dan gejala-
gej al a beri kut tanpa di ketahui ada penyebab yang l ai n :
- muntah
- distensiabdomina'
- atau prefeedino residual
dan
terdapat darah (mikroskopis atau grcss) dalam tinja yang
persistens
dan
27. BRONCHI TI S
Let ak I nf eksi
Kode
Def i nsi
Kri teri a 1
paling sedikit safudari kelainan radilcgis abdcminal berikul:
1). pneumoperitoneum
2). pneumatosis
intestinalis
3). ' rigid' loop usus kecil yang tidak berubat.
Bronchitis, tracheobronchitis. bronchiol itis. t z :n eitis, tanpa
bukti adanya pneumonia
LRI . BRON
i
lnieksi tracheobronchial harus memenuhi :aling palirig
sedikit safu dari kriteria berikut :
Ti dak t erdapat pneumoni a bai k sacara s; ri s maupun
radiografis
dan
pasien
mengalami paling sedikit dua dan ta-' :a-tanda dan
gejala-gejala berikut tanpa ada penyebab l3in ,"rlQ diketahui:
94
Kri t eri a 2
der nam( >38' C)
batuk
produksi sputum baru atau meningkat
rhonchi
wheezing
dan
paling sedikit sat!, dari keadaan berikut :
1) - Bi akan posi t i f dar i aspi r at t r achea dal am at au
bronchoscopy-
2). Test antigen positif dari sekresi saluran napas.
Pas:en berumur
>
1 tahun tidak terdapal pneunionia baik
secara klinis maupun radiografis
aan
pasi en mengal ami pal i ng sedi ki t dua dari tanda-tanda dan
gej ai a-gej al a beri kut tanpa ada penyebab l ai n yang di ketahui :
- demar ni >33"C
)
- batuk
-
poduksi sputum baru atau meningkat
- rhonchi
- wheezi ng
- respiratory distress
- apnea
- atau bradikardia
dan
paling sedikit satu dari keadaan berikut :
1) . Bi akan posi t i f
{ar i
aspi r at t r achea ci al am at au
bronchoscopy-
2). Test anti gen posi ti f dari sekresi sal uran napas.
:
I
a
i
!
{
95
3). Kenaikan titer antibody tunggal (lg!.!r e=,.; <enaikan
kadar serum (igG) empat kali dari 2kzi; =e<:.=dksaan.
Petunjuk pelaporan
Jangan melaporkan bronchitis kronis pada pasien denga.n cen'.-akit paru
menahun sebagaiinfeksiterkecualiterdapat
buktidari infeksi s:kurder akut,
dalam bentuk perubahan jenis
kuman
26. INFEKSI LAIN PADA SALURAN NAPAS E}AWAH
Letak infeksi : Other infection of the lower respiratory traa
.
Kode
Def i ni s!
Krite:'ia 1
Kriteria 2
Kri teri a 3
LRI -LUNG
Infeksi lain pada saluran napas bawah harus cairc sedikit
memenuhi satu kriteria berikut :
Ditemukan kuman pada hapusan atau biakan ca:-; iaringan
paru atau cairan paru, termasuk cairan pleu=
?=-ien.
Terdapat abses paru atau empiema yang ieiiai waklu
pernbedahan
atau pemeriksaan histcpatclog:s.
Terdapat rongga abses yang terlihat pacia ::-:r-iksaan
radiografis
Pet unj uk Pel aporan
.
Laporkan infeksisaluran napas bawah dan pneumonia yai-g ::,:maan
dengan kuman yang sama sebagai PNEU.
.
Laporkan abses paru atau empiema tanpa pneumonia sebaga.-iNG.
29. ENDOMETRI TI S.
96
:
Letak Infeksl
Kode
Def i ni si
Kriterial
Kriteria 2
30. EPTSt OTO
Letak Infeksi
Kode
Def i ni si
Kriteria 1
Pet unj uk Pel apor an
Lap o rka n e n donretritis post parturr sebagai infeksi nosokorrrial t e rk e c u a I i cair an
amni on tei ah teri nfeksi pada waktu masuk rumah saki i atau pasi en tel ah
dimasukkan 48 jam
setelah pecahnya ketuban.
Endometritis
REPR.EMET
Enciometritis harus nnemetruhi
paling sedikit salu kriteria
beri kut :
Ditemukan kuman dari biakan cairan atau
iaringan
en-
dometrium yang diambilpada waktu pembedahan, dengan
aspirasi
jarum,
dtau biopsi sikat (brush biopsy)-
Pada pasien terdhpat paling sedikit dua dan tanda-tanda
dan gejalagejala berikut tanpa di ketahui petryebab lainnya:
- demam (> 38" C
)
- nyeri aMominal
- nyeri tekan uterus
- atau cairan purulent keluar dari ulerus
Episiotomi
REPR-EPI S
Infeksi episiotomi harus memenuhi paling sedikit safu dari
kriteria berikul:
Pasien pasca partus per vaginam mengalami drainase
pu-
rulent dari episiotomi
MI
J"7
Kriteria 2
-
: Pasien pasca partus pur vaginam menderita absz'' .^=.2
episiotomi-
Petunjuk Pelaporan
Episiotomibukan prosedur pembedahan N1' lll,
iangan
laporkan sebaTi SSl.
31. VAGI T{AL CUFF
Lel.ak Infeksi
Kode
Def i ni si
Kritei-ia 1
Kriteria 2
Kriteria 3
,
Vagi nal cuff
REPR-VCUF
lnfeksi vaginal cuff harus memenuhi paling sedikit sz'-; czi
kriteria berikut : '
Pasi en pasca hysterectorny mengal ami drai nase 3 )' -' .2' ' -
dari vagi nal cuf f .
Pasien pasca hysterctomy mendapat abses
pada .'aci:a
cuff.
Ditemukan ktrman pathogen pada biakan yang diarn:ii :'--'
cairan atau
jadngan
dari vagina.l cuff)
Pet unj uk Pel aporan
.
I nf eksi vagi nal cuf f umumnya adal ah SS| -VCUF
.
VCUF lambat:( t 30 hari setelah hysterectomy
)
sebagai REPR.VCU=-
32. OTHER INFECTION OF THE REPRODUCTIVE TRACT
Letak lnfeksi : lnfeksi lain pada tractus reproduktif laki-laki dan ,*' anie
(epididymitis, testis, prostat, vagina. ovarium, uterus- a:a:
i ar i ngan
pel vi s pr of unda yang l ai n, t i dak t er n' s- <
Kode
Def i ni si
Kriteria 1
Kritaria 2
,
Kri teri a 3
endometritis atau infeksi vaginal cuff)
REPR.OREP
Infeksi lain pada tractus repioduktif laki-laki dan vvanita harus
memenuhi paling sedikit salu dari kriteria berikut :
Di temukan kuman dari bi akan
j ari ngan
atau cai ran dari
bagian yang terkena.
D;temukan abses atau buicti lain adar.ya infeksi pacia daerah
yang terkena yang terlihat pada waktu pembedahan atau
pemeriksaan histopatologis-
Pasi en mempunyai dua dari tanda-tanda ai au gej al a-gej al a_
beri kut tanpa di ketahui ada sebab l ai nnya :
- demam( >3BoC)
- mual
- muntah
- nyeri
- nyeri tekan, atau di su:' i a
dan
paling sedikit saiu dari berikut
1). Kuman dari bi akan darah-
2)- Diagnosis dari dokter.
Petunjuk Pelaporan
.
Laporkan endometritis sebagai EMET
.
Laporkan infeksi vaginal cuff sebagai VCUF.
rumah sakit. Infeksiinsisisetelah pembedahan
diidentifikasikan terpisah sebagai
99
33. KULI T
Letak lnfeksi
Kode
Definisi
Kriteria 1
Kriteria 2
Kulit
SST-SKIN
lnleksi kulit harus memenuhi paling
sedikit safukriteria berikut:
Pasien mempunyai drainase purulent, pustula. vesicula, atau
furunkel.
Pasierr mempunyai paling seclikit dua dut tanda-ianda dan
gejaia-gejala baikut tanpa diketahui dda. penyebab yang lainnya:
- nyeri atau nyeri tekan
- bengkak lokal
- kemerahan
- atau hangat:
dan
paling sedikit safudari berikut:
1) . Diternukan kuman daribiakan aspirat aiau drainase dari
daerah yang terkena; bila kuman adalah normal flora
kulit (mis., cnagulas e n e gativ e sta phylccocci, m i c rococci,
diphtheroids) itu harus merupakan biakan murni.
Kuman dari biakan darah.
Test antigen positif, Cilakukan dari jaringan yang terinfeksi
atau darah (mis-, herpes simplex, varicella zosten H.
influenzae, N
-
meningitidis).
Ditemukan multinucleated giant ceil pada pemeriksaan
mikroskopis jaringan yang terkena.
Di agnost i c si ngl e ant i body t i t er (l gM) at au kenai kan
empat kalidalam dua kalipemeriksaan paired sera (lgG)
untuk kuman pathogen
r/ .
A\
1r .
t r\
Cat at an :
l nf eksi kul i t nosokomi al mungki n di aki bat kan ol eh berbagai prosedur yang
di l akukan di rumah saki t .
100
lnfeksiinsisi
setetah
pembedahan
diidentifikasikan
terpisah
sebagai ssl-sKlN
terkecuati
uil, ="i"ian
ceee.
Apabila
insisi
dada selelah
cBGb
terinfeksi'
iempat
spesifik
uoJ"n
SKNC
dan bila tempat
dortor di kaki
yang terinfeksi'
letak spesifiknya
uo"t"t
SKNL-
tnfeksi tcutii
Iain yang berhubungan
dengan
pemaparanpentingdiicjentifikasidengantetaknyaiendirijarrtertuiisdibawah
petuniuk
PelaPoran'
Petuniuk
PelaPoran
.
Laporkan
omphalitis
pada anaksebagaiUMts-
.
Laporkan
int"f.rip"O'a
Oaeran
sirkumiisi
neonatus
sebagai
CIRC'
.
Laporkan
pustula pada anak sebagai
PUST'
.
Laporkan
utcus
decubitus
yang terinfeksi
sebagai
DECU-
.
Laporkan
luka bakar
yangierinfeksi
sebagaiFURN-' -
.
Laporkan
abses tnamma
atau masiitis sebagai
BRST'
34. JARI NGAN
LUNAK
Letak Infeksi
Kode
Def i ni si
Kriteia
1
Kriteria 2
Kriteria
3
Kriteria
4 :
r 0l
Sot t t i ssue
(necrorl zi ng
f ascei t i s'
i nf ect i ous
gangrene'
necroti zi ng
cel l ul i ti s.
i ntei ti ous
myosi ti s'
l ymphadeni ti s'
atau
l ymphangi ti s)
SST.ST
Infeksi i ari ngan
l unak harus memenuhi
pati ng sedi ki t
satu
kriteria berikut:
Di ketemukan
kuman dari bi akan
j ari ngan atau drai nage
dari
daerah Yang
terkena-
Pasi en mendapat
drai nage
purul ent dari daerah
yang
terkena-
Terdapat
abses atau bukti lain adanya infeksi-yang
lllp^*
paOa waftu
pembedahan
atau pemeriksaan
histopatologts-
Terdapat
pal i ng sedi ki t dua dari tanda-tanda
dan
gej al a-
gejaltt pada daerah yang
tedrena berikut
tanpa diketahui
ada penyebab
lainnya
- nyed atau nyeri tekan tokal
- kemerahan
- bengkak
- atau hangat
dan
paling
sedikit satu dari benkut:
-
1)-
Kuman dari biakan darah.
,).
I:_-r._,.1irjgen
positif,
diiakukan
dari jaringan
yang
rorrnteksi
atau darah (mis.,
herpes simplex, variceili
...^.
zoster, 11- influenzae,
N- meningitidis)
3). Diagnostic
slngle antibody fitar (lgM)
atau kenaikan
ernpat kalidalam ctua kalipemeriksaan
paired
sera (lgG)
untuk kuman pathogen.
Pet unj uk pet aporan
.
Laporkan
ulkus yang
terinfeksi (decubitus)
sebagaiDECU.
.
Laporkan
infeksidari jaringan
peMs profunda
sebaga!OREP-.
'
Laporkan
infeksi di tempat pembedahar
yang
mengenai baik kurit rnaupun '
jaringan
lunakyang.
daram (dada
atau di bawah fascia atau lapisan otot)
sebagai
ssr-sr, terkecuari prosedur
pembedahan
daram cBGB.. Bita kurit
dan jaringan
runakyang
daram pada
insisi dada menjaditerinfeksi,
tempat
spesifik
menjadi STc dan jika
kurit dan jaringan
tunak daram dari tempat
donor pada
kaki menjadi
terinfeksi,
tempat ipesifik adarah srL (specific
si t e l eg).
5. ULCUS DECUBI TUS
Letak Infeksi
: Decubitus
urcer, termasuksuperficiardan
profunda (daram)
l 0:
Def i ni si
Kriteria
lnfeksi ulcus decubitus harus memenuhi kiiteria berikut :
Terdapat paling sedikit dua dari tanda-tanda dan gejala-
gejala berikut tanpa diketahui ada penyebab
iainnya :
- kemerahan
- nyeri lekan
- atau bengkak pada pinggir
iuka decubitus
Cat at an :
dan
r
paling sedikit safu dari berikut :
1). Kuman dari bi akan cai raa atau j ari ngan
yang di ambi l
secara benar (l i hat di bawah).
2). Kuman dari bi akan darah
'
'
Drai nase purul ent
saj a ti dak cukup kuat membukti kan adanya i nfeksi .
'
Kuman dari biakan permukaan
ulcus decubitus tidak cukup kuat membuktikan
hahwa ulcus lerinfeksi. Spesimen yang Ciambil secara benar adalah dengan
aspirasi
iarum daricalran atar-r biopsijaringan pada
daerah perbatasan
ulcus.
36. r.l tssEMt
NATED INI:ECTTON
Letak Infeksi
: Infeksiyang
menyebar (disseminated
infection)
Kode
: SyS-Dl
Def i ni si : Disseminated
infection adalah infeksiying
mengenai organ
atau sistim yang
multipel, tanpa ada infeksi ditempat yang
jelas,
biasanya penyebabnya
viral darr dengaq tanda{anda
dan gejala-gejala
yang
tidak diketahui
ada penyebab dan
menjadicokfat gelap
atau hitam atau perubahan
wama (dis_
r 03
kompatibel dengan keterlibatan yang infeksius dari organ-organ atau sistinr
multipel.
Petunjuk Pelaporan
.
Kode harus digunakan primer untuk infeksi viralyang mengenai sistim cr-
gan yang multipel (mis. Measles, mumps, rubella, varicella, erythema
infectiousum). Infeksi-infeksidapat diidentifikasi dengan kiteria ktinik saja.
Jangan menggunakan kode ini untuk infeksi nosokomial dengan temoat-
tempat metastatik, seperti baclerial endocarditis, hanya letak primer ciari
infeksi tersebut harus dilaporkan.
.
Fever of u nknown origen (FUO) sebaiknya tidak dilaporkan-sebagai O l -dVS.
.
Neonatal 'sepsi* harus dilaporkan sebagai BSI-CSEP.
.
Vi ral exant hema al au rash i l l nes sebai krrya di l aporkan sebagai DI -SYS.
LUKA BAKAR
Letak l nfeksi :
Kode :
Defi ni si :
'Kriteria
1
Luka bakar (bum)
SST-BURN
fnfeksi l uka bakar harus rnemenuhi pal i ng sedi ki t sai u dari
kriteria berikui :
Terdapat perubahan pada penampakan atau karaki :' ,uka
bakaq seperti p'emisahan eschar yang cepat, atau :::har
menjadicoklat gelap atau hitam atau perubahan warna
idis-
coloration) yang hebat atau edema pada perbatasan
-ka.
dan
Pemeri ksaan hi stol ogi s dari bi opsi l uka bakar menunj r<<an
invasi kuman kedalam jaringan
berdekatan yang sehz:
Terdapat perubahan pada penampakan atau karaki:i ;uka
bakar, seperti pemi sahan
eschar yang cepat, ai au e3-: zr
Kriteria 2
i q4
meniadicoklat
gelap atau hitant atau p,rrubahan warna (drs-
coloration) yang hebat atau edema pada perbatasan luka.
dan
pal i ng sedi ki t safu dari beri kui :
1). Terdapat kuman dari biakan darah dan tidak terdapat
i nfeksi l ai n-
Kriteria 3
2)- Oapat di i sol asi vi rus herpes si mpl ex, i denti fi kasi
histologis dari inclusions dengan cara mikroskopicahaya
(light microscopy) atau tempat partikel-partikel virus
dengan mikroskop eleklron daribiopsi kerokan lesi.
Terdapat paling sedikit dua dari tanda-tanda dan gejala-
gej + beri kut t anpa di ket ahui ada penyebab l ai nnya:
- demam (> 38" C)
- hi pot ermi a (< se' C)
- hi potensi
ol i guri a (< 2O ml dam)
- hi pergl i kemi a dengan di et karbohi drat pada l evel yang
sebel urrrnya dapat di tol el i r dengan mental confusi on.
dan
paling sedikit satu ciari berik.tt:
1)- terdapat kuman dari bi akan darah ci an ti dak terdapat
.i nfeksi l ai n-
2). Kuman dari bi akan darah.
3)- Dapat diisolasi virus herpes simplex, identifikasi histologis
dari inclusions dengan cara mikroskopi cahaya (light
micros co p y) :.iau tampak partikel-partikel vi rus den ga n
mikroskop eleklron dari biopsi kerokan lesi.
Cat at an :
.
Purulent saja pada tempat luka bakar lrdakcukup kuat untuk diagnosis infeksi
t 0s
luka barar, purr-rlent
sepe{iitu mungkin menunjukkan perawatan luka yang kurang
baik.
'
Demam saja pada pasien
luka bakar tidakcukupkuat untuk diagnosis infeksi
luka bakar karena dernam mungkin merupakan akibat irauma
jaringan
atau
mungkin pasien
mendapat infeksidi tempat lain-
'
Ahfi bedah pada
Regional Bum Center yang eksklusif merawat pasien luka
bakar,
mungkin memerlukan kriteria 1 untuft diagnosis infeksi luka bakar-
'
Rumah sakit dengan Regional Bum Center mungkin membedakan infeksi
r
luka baka,- lebih tanjut sebagaiberikut:
'
burn wcund site
'
burn graft site
'
burn donor site
'
burn donor site-cadaver
-
tetapisistim
NNIS hanya memberi kode semuanva sebaqai BURl.l.
38. ABSES BUAH
Let ak I nf eksi
Kode
Def i ni si
Kri teri a r
i
DAD.A atau MAST|T|S
Brearst abscess atau masti ti s
SST-BRST
Abses buah dada atau masi i ti s
sedikit saludari kriteria berikut :
Biakan positil dari jaringan
buah
cai ran yang di ambi l dengan cara
aspirasi jarum.
harus memenuhi pal i ng
dada yang terkena atau
i nsi si dan drai nase atau
Kriteria 2 Pasi en menderi ta abses buah dada atau buktt l ai n adanya
i nf eksi
vang t ampak pada wakt u pembedahan
at au
pemeriksaan
histopatologis.
Kriteria 3 : Pasien mengarami demam (t 3gn c) dan keradangan rokal
pada
buah dada.
r 06
Pururent saja pada tentpat luka.bakar tidakcukup kuat
untuk diagnosis infeksi
dan
dokter nrendiagnosa sebagai abses buah dada.
Cautan :
Abses buah dada yang timbul dalam waktu 7 hari setelah melahirkan harus
die..rggap sebagai nosokomiai.
I 9. . , OMPHALI T
Let ak I nf eksi
Kode
,
Def i ni si
Kri i eri a 1
t s
'
Omphal i t i s
SST.UMB
Omphal i t i s pada neonai us (umur30 hari ) harus memenuhi
pal i ng
sedi ki t safu kri teri a beri kut :
Pasi en mengal ami eri tema dan/atau drai naqe serous dari
umbi l i cus
cian
paling seclikit dari sata berikut :
1). Kuman di temukan dari bi akan drai nage atau aspi rasi
j arum
2)- Kuman di temukan dari bi akan darah
Pasi en mengal ami bai k
eri tema maupun drai nage purul ent
pada
umbi l i cus.
Kriteria 2
Pet unj uk Pel aporan
.
Laporkan infeksidariartena umbilicalis
atau vena yang berhubungan dengan
kal et eri sasi sebagai cvs-vAsc bi l a bi akan darah negat i f at au t i dak
di kerj akan.
)'7
dal am waktt: 7 hari setel ah kel uar dari rumahsaki t.
40. PUSTULOSI S ANAK
Letak Infeksi
Kode
Definisi
Kriteria 1
Orrntema 2
Infant pustulosis (pustulosis anak)
SST-PUST
Pustulosis
pada anak (umur 12 bulan) harus memenuhi
paling sedikit satu kriteria berikut :
Anak menderita salu atau lebih pustule
dan
dokter rnendi agnosi s sebagai i nfeksi kul i t.
Ar:ak menderi t-a Satu atau l ebi h pustul e-
dan
dokt er memberi t erapi ant i mi krobi al yang sesuai .
Pet unj uk Pei apor an
.
Jangan mel aporkan eri t ema t oxi cum dan penyebab noni nf eksi us dari
pustul osi s.
.
.
Laporkan sebagai nosokomi al apabi l a pustul osi s ti mbul dal am waktu 7 hari
setelah keluar dari rumah sak'tt
41. CI RCUMCI TI ON NEONATUS
Letak l nfeksl : Newbom ci rcumci si on
. Kode : SST-CI RC
Def i ni si : l nf eksi si rkumsi si pada neonat us (umur < 30 hari ) harus
memenuhi pal i ng sedi ki t sat u dari kri t eri a beri kut :
10"\
Kri teri a 1 : Pasi en mengal ami d,ai nage purul :nt dari tempat si rkumsi si .
Kri teri a 2 : Pasi en neonatus mendapat pal i ng
sedi ki t saru dari tanda-
i anda dan gei al a- gej al a
ber i kut l anpa di ket ahui ada
penyebab
l ai nnya pada tempar si rkumsi si :
- eri tema
- bengkak
atau nyeri tekan
dan
di temukan kuman da;i tempat si rkumsi si .
Kri teri a 3 : Pasi en neonatus mendapat pari ng sedi ki t satu dari tanda-
t anda dan ger ar i - gej at a
ber i kut t anpa ci i ket ahui ada
penyebab
l ai nnya pada
t empat si rkumsi si :
eri tema
- :,"ltffilrireran
gan
ditemukan
kontaminan kurit (coagurase
negatif streptococci,
di.chtfieroici,
Baciilus sp, atau micrococci) dari biakan tempat
si :-kumsi si -
dan
Doktermendiagnosa
infeksi atau dokter memurai terapi yang
sesuai -
Pet unj uk Pel aporan
Newbom ci rcumci si on
bukan merupakan prosedur pembedahan
Nt,i l S, j angan
..
mel aporkan sebagai SSl .
r9
LAMPI
LAMPIRAN 2
PENGAMBILAN PENYI]VIPANAN DAN PENGIRIMAN
BAHAN PEMERI KSAAN MI KRCBI OLOGI
i r 0
LAMPI RAN
PENGAMBI LAN, FENYI MPANAN DAN PENGI RI MAN
BAHAN PEMERI KSAAN MI KROBI OLOGI
Seperti hal nya pemeri ksaan mi krobi l ogi k pada umumnya, nraka dal am hal
pengambilan, penyimpanan dan pengiriman bahan pemeriksaan yan? berkaitan
dengan i nf eksi nosokomi al harus mernenuhi beberapa persyaratan tertentu.
Syarat yang berlaku umum untuk semua bahan pemeriksaan dikernukakan dalam
petunjuk umum. Syarat-syaratyang berlaku khusus bahan terlentu dibahas daldm
petunj uk khusus- Petunj uk umum dan khusus yang akan di kemukakan l ebi h l anj ut
adalah persyaratan untuk bahan perneriksaan bakterologik. .
Pada bagi an akhi r dari petunj uk i ni , di saj i kan sebuah l abel untuk mempermudal r
pada pemakai secara cepa! memi l i h cara tepat untuk menangani bahan tertentu-
Bi l a para pemal <ai j asa l aboratori um mi krobi ol ogi mengal ami kesukaran, di harapkan
berhubungan l angsung dengan petugas l aboratori um-
A. PETUNJUKUMUM
Di dal am petunj uk umum pemeri ksaan bal <terl ol ogi k, yang cl apat di terapkan
secara umum i al ah tahap oengambi l an bahan pemeri ksaan. Penyi mpanan
serl a pengi ri man di peri nci cl al am petunj uk khusus.
Pengambi i an bahan pemeri ksaan bakt eri ol ogi k unt uk i nf eksi nosokomi al
hendaknya beberapa syarat yaitu :
.
1. Bahan di ambi l sebel um pemberi an anti bi oti ka atau khemotherapeuti ka-
Dal am keadaan terl anj ur di beri , maka sebai knya ci tampi rkan
j eni s dan
l akaran serta l ama pemberi an obat-
Bahan pemeri ksaan di ambi l pada saat dan tempa: yang i epat. Saat dan
t empat di pi l i h dengan memper t i mbangkan kenungki nan t er besar
me ndapatkan kuman-kuman.
Pengambi l an di l akukan dengan cara dan al at sei : ri ki an rupa, sehi ngga
cemaran t i dak l erj adi (cara asept i k)
2.
l l l
Bahan pemeri ksaan Ci ambi l ci al am
i uml ah
yang cukup untuk
pemeri ksaan
yarrg diminia.
Formul i r pemeri ksaan hendal <nya
di i si dengan l engkap'
3. PETUNJUKKHUSUS
Petunjuk bahan pemeriksaan yang sering diminta untuk diperiksa, akan
dibahas sendiri. untuk bahan
pemeriksaan yang relatif agak
iarang
diminta,
hanya dicantumkan ddlam tabel pada akhir
petunjuk ini'
'
1. Ai r seni
waktu penampungan air seni sebaiknya
pagi hari ("early morning spec!-
men")al au4
j am
setel ah kenci ng terakhi r.
Terh-pal penampung i al ah tabung
st eri l bert ut up. Tempai pengambi l an dapat dengan cara penampurl g3n
porsi tengah yang bersi h ("cl ean voi ded mi d stream), pungsi suprapubi k
at au dengan kat et er. Juml ah ai rseni yang
di but uhkan ant ara 1-2 ml bi l a
di ambi l dengan pungsi suprapubl i c atau 1Ornl , bi l a di ai nbi l Cengan porsi
.
tengah yang bersi h atau kateter- Bahan yang di perol eh segera di ki ri m ke
l abcratori um- Bi l a tertunda dapat oi si mpan dai am l emari es suhu 4"C
sel arna 24i am, atau di i ambah
pengawet asam borat.
2. Darah
Waktu pengambilan
darah untuk biakan kuman dipilih sesuai dengan
perialanan penyakit-
Tempat penampung bahan disediakan sepasang
media yang
berisi media cair, Tryptic Phosphate Broth (TPB) atau
' Trypticase
Soy Broth' (TSB)
atau.Cooked Meat Medium
"(Ct' /M) untuk
kuman anaerob. Masing-masing
media diisi dengan
+
5ml -
' 10
ml darah
untuk t 10% volume
media.
Pcngislan darah dlakukan dengan cara aseptik-
pengiriman
bahan ke
laboralorium
segera mungkin.
Bila tertunda dapat diietakkan dalam
inkubator
37 C semahm.
4.
t ' )
4.
3. Nanah
Pengambilan
nanah (pus) dapat dikelornpokkan menjadi dua cara, yaitu :
a. Pengambi l an nanah dari tempat
yang tertutup mi sal nya cj ari abses.
rofrgga tubuh (kavum pleura, rongga sendi dan lain sebagainya)-
Bahan diambil dengan cara pungsi aspirasi, dengan semprit steril.
b. Pengambilan
nanah dari tempat yang terbuka atau yang berhubungan
ciengan uCara, misalnya dari luka terbuka Bahan diambil dengan ca:a
, hapusan dengan lidikapas steril.
Sahan yang
cl i ambi l dengan cara a), segera di ki ri m ke l aboratori um-
Di usahakan sedi ki t mungki n bahan kontak dengan udara yai tu dengar:
cara,-neni adakan
udara Ci dal am sarnpri t dan meuutup
j arum pada uj ung
sempri t dengan tutup' karei bekas tutup botol obat sur:ti k.
Bahan yang di ambi l dengan cara b), di masukkan ke dal am medi a t rans-
port stuart dan segera di ki ri m ke l aboratori um.
Bi l a pengi ri man
tertunda, supaya di si mpan dal am suhu kamar.
Tinja
Pengambi l an bahan pada pagi hari dan atau pada l i nj a yang baru ketuar
("Freshly passed
stool"). Bila tinja sulit diperoleh maka pengambilan ciengan
hapusan rektum di anj urkan. Ti nj a yang di perol eh di tampung di dal am l abung
atau botol qel as setri l dan segera di ki ri m ke l aboratori um. Bi l a di ambi l dengan
hapusan rektum, oi ki ri n dal am medi a transport Carry Bl ai r. Juml ah bahan
yang di perl ukan sebanyak 10 gram atau sebesar i bu j ari kaki orang.dewasa.
Dahak
Dai i ak (sputum)
di perol eh dari penderi ta dengan cara batuk spontan, dengan
ekspek torans. aspi rasi cai ran l ambung atau aspi rasi transtrakeal . Penderi ta
di beri petunj uk
agar yang di tampung adal ah benar-benar dahak dan bukan
ai r l i urnya. Pengambi l an di l akukan pada pagi han ("earty morni ng sputum")
5.
i l i
) .
dan ditampung da.tam !:awan petri steril.
Bahan segera dikirim ke laboratorium. penundaan tidak dianjurkan oleh karena
penambahan pengawet
tidak ada-
Liquor ce-rebrospinatis
Pengambilan dengan pungsi, dilakukan swaktu-waktu sebanyak 2-4 rrt-
Penampurig dapat berupa tabung / botol gelas steril bertutup alur (screw
capped") atau tabung berisi media pemupuk "Dextrose Ascitic' (DAF).
Pengi ri man ke l aborat ori um segera mungki n (seragi masi h i rangat )
Penyimpanan tidak dianjurkan.
l 4
LAMPIRAN
LAIVI
PIRAN
3
I $OLASI
i t i
Tabel pemi l i han cararara pengambi i an, penyi mpanan pengi ri man bahan
pemeriksaan bakteriologi.
1 Air Seni Biakan dan sediaan
langsung kuman-kuman
pyogenik
.
pagi had
.
tabung stedl
4"c
asam
borat
Segera
40C
2. Dahak Biakan dan sediaan
langsung kuman-kuman
bukan tahan asam
.
pagi hari
.
,
.
cawan petd steril
SeEera
Suhu
kamar
c
Oareh Biakan kuman aerob
dan anaerob-:t-
.
sepasang media
37" c Segera
4. Cai ran
pl eura
Biakan dan sediaan
langsung kuman-kuman
aerob dan anaerob
.
pungsi aspirasi
semprit steril
.
media pemupuk
37. C Segera
5. Uquor
Cerebros
pinalis
Biakan dan sediaan
langsung kuman-kuman
pyogenik
.
tabung ster!!
"
media pemupuk
DAF
37" C Segera
(seJagi
hangat
37. C)
b- Hapusan
tenggorok
arvhidung
Biakan rian sediaan
langsung kuman-kuman
pyogenik
i
.lidikapas
steril
dalam media
.
bansport stuart
Suhu
kamar
Suhu
kamar
Segera
Segera
7. Nanah Biakan dan sediaan
langsung kuman-kuman
aerob dan anaerob
.
lidi kapas steril
dlm media
transport stuart
.
pungsi aspirasi
dlm semprit steril.
37" C Segera
Segera
.1.*{'
l l t '
ISOLASI
' ' \ - - - . . . - , *
u- ' - ""'
A. PERKEft{BANGAN KONSEP ISOLASI
l--t-aMPIRANlll
Konsep isolasi penderita penyakit menular sudah ada sejak zaman kuno,
dengan adanya pengasingan terhadap penderita kusta. Sebelum tahun 1850,
konstruksi rumah sakit terdiri dari bangsal-bangsal yartg terbuka dengan
penderita yang penuh sesak
-
Akibatnya
infeksi
silang sangat tinggi dan angka
kematian sangat tinggi. Florence Nightingale, berdaSarkan pengamatannya
pacfawaktu perang Krim mencatatdalam lrlofes on Hospitals, tentang perlunya
ruang perawatan berbentuk paviliun-paviliun kecil yang dihubungkan dengan
kori dor terbuka. Aj arannya mengenai ' perawatan demam' (' fever nursi ng' )
menekankaa pent i ngnya asepsi s dan kebersi han l i ngkungan berdasarkan
konsep yang L' erkembang saat i tu bahwa perawai an demarn dapat menul arkan
penyaki t kare: ra kont ak Cengan t ubuh, dan bukan karena l i ngkungan- A. khi r
abad
' i
9. tebri i nfeksi di teri ma di rumah saki t Ameri ka Seri kat dan di mul ai
dengan di hi ndari nya bangsal yang perruh sesak ci an di terapkan prakl ek asep-
siS. Rumah Sakii penyakit menular memulaiisolasi individr-:ai rnaupun kelompok
paci a i ahun 1889. Pada perganti an abad, rumah saki t umurn r,' rul ai mengi sol asi
pasi en dengan penyaki t menul ar pada ruang i ndi vi dual , al ai -al at terpi sah dan
penggunaan
desi nf ekt ans- Sej ak t erj adi nya wabah (out break) i nf eksi
nosol <omi al pada tahun 1960-an, Centers for Di sease Coni rol and Pi -eventi on
(CDC) mul ai menyusun kebi j akan i sol asi pasi en penyaki t menul ar di rumah
sakit. Rekomendasi CDC yang pertama berjudul Isolation techniques for
use in hospitals tedrit pada tahun 1970, yang membagi cara isolasi dalarn 7
ketegori, berdasarkan
-cara
penularan epidemilogik. P enggun aan 7 kategori
'
di pantau mengaki batkan terj adi nya pengi sol asi an yang ti dak di perl ukan atau
berl ebi han, sehi ngga l erj adi beberapa kal i perkembangan Pada tahun 1985
diperkenalkan universal precautions, kewaspadaan
[precaution]
terhadap
darah dan cairan tubuh, yang tidak membedakan perlakuan terhadap setiap
pasi en, dan ti dak tergantung pada di agnosi s penyaki tnya. pada tahun
' 1987,
diperkenalkan
-6ody
Substance- lsolation, usaha untuk menghindari kontak
dengan seml a
j eni s cai ran tubuh-
Pedoman Contres for Di sease Control and Preventi on (CDC, Ai l anta, USA)
Pedoman i sol asi t erbaru dari CDC di t erbi t kan pada
t ahun i 9g4, dan di revi si
n7
kembali pada
tahun 1997, terdiri dari 2' lapis' kewaspadaan- Lapisan periama,
dinamakan Standarci Precautions yang merupakan kombinasi antara lJnter
sal precautions (UP) dengan Bcdy Substance tsolations (BSl). Kewaspadaan
lapis pertama
ini bertujuan untuk nnenurunkan risiko penularan dari infeksi
yang
sudah atau belum diketahuidan dipedakukan untuk semua pasien apapun
diagnosanya.
Yang
sudah diketahui, termasuk penyakit infeksi, ataupun Stan-
dard precautionini
dtujukan pada darah, semua cairan tubuh, sekresi dan
ekskresi (keaiali
keringat), baik yang nyata tercampur darah maupun tidak.
.
kulit yang terluka dan membran mukosa.
Lapisan kedua kewaspadaan ini disebut Ttansmission-Eased Precautions.
ditujukan untuk pasien yang reybukti atau diduga berpenyaKi menular irtau
yang secara epidemiologis mengidap kuinan patogen, yang rhemerlukan lebih
dari standard preautions
untuk mencegah trans:'nisi silangnya.
Transmission'Based Precautions yang didasarkan atas cara penularan /
transmisi penyakit
terdiri dari tiga
jenis
:
.
airborne precautions (kewaspadaan penularan
lewat udara)
.
droplet pre' ;aution (kewadpadaan penuiaran
lewat droplet)
.
contact precautions (kewaspadaan penularan
lewat kontak)
Jenis-jenis kewaspadaan ini dapat
juga
berupa kombinasi, bila ada suaru
penvakii mempunyai beberapa cara penularan,
dan setiap tipe merupakan
tambahan terhadap standanL
precautions.
cara isolasi sebelumnya yang
berdasarkan category specific isotations (Strict isolations, contact isolations.
respiratory isolations, tuberculosis, enteric precautions, cian drainage / secre-
tions isolation). serta yang berdasar drsease speciiic semua sudah ciifebur
habis ke dalam ti;a jenis
kewaspadaan berdasar cara penularan tersebut-
Ciri lain dari pedoman
terbaru ini adalah adanya daftar pasien dewasa dan
pasien
anaki-anak yang dianggap infeksius berdasar diagnosa kerja empiris
yang dikaitkan dengan cara penularan yang ada.
B. AI RBORNE PRECAUTI ONS
Kewaspadaan ini bertujuan untuk menurunkan penularan penyakit melalui
udara, baik yang
berupa bintik percikan di udara (airbome droplet nuclei,
ukuran 5 pm atau lebih kecil) atau partikel debu yang berisi agen infeksi-
organisme yang
ditularkan dengan cara ini dapat menyebar secara luas
bersama dengan aliran udara-
i l E
Penyakit yang
masuk kategori ini antara lain tuberkulosis, varisela, campak.
Diperlukan ventilasi seperti pada isolasi BTA (Basil Tahan Asam); pasien
ditempatkan dalam ruang tersendiri de4gan afiran udara negatif (negative air-
flow) dengan minimal 6 kali pei'gantian udara per ja:-n, yang dipantau tcrus
menerus. Udara langsung dibuang ke luar atau dilewatkan penyanng (filter)
partikular
udara dengan efisiensi tinggi bila akan disirkulasi kembali. Pintu
ruangan harus selalu dilutup. Pasien hanya boleh meninggalkan kamar bila
ada kepentingan mendesdk. Bila paslen al6n diangkut keluar harus dipakaikan
masker chirurgis. Alat pelindung respirasiharus dikenakan untuk pasien yang
didiagnosa atau diduga tuberkolosis sesuai dengan pedoman yang telah ada
untuk tuberkulosis. Orang termpsuk
petugas
ifurnah Sakit. yanE tentan
terhadap penya'rcit campak (measles) dan cacar air (varisela) dilarang masuk
ke ruangan pasien dengan penyaklt tersebut- .
Tabel l : AI RBORNE PRECAUTI ON
Sebagai tambahan dari Standard Precautions, Airborne Precautions
digunakan untuk pasien yang diketahui atau diduga menderita penyakit serii.is
dengan penularan melalui percikan halus di udara.
Contoh penyakit:
.
Campak
Vadsela (termasuk herpes zoster yang menyebar I diseminated)
Tuberkulosis
Penempatan pasi en: .
Tempatkan pasien pada'tempat yang :
.
lekanan negatif termonitor,
.
rni ni mal perganti an udara enam kal i setnp
j arn
.
pembuangan (exhaust) udara kel uar yang memadai ai au penggunaan
fi l ter ti ngkat ti nggi termoni tor sebel um udara berecl ar. ke sel uruh rumah
sakit.
.
Jagal ah agar pi ntu tetap tertutup dan pasi en tetap dal am ruangan.
.
Bila t'xJak ada ternpat tersendiri, tempatkan
pasien dalam ruai-rgan derrgan
pasi en l ai n yang teri nfeksi mi kroorgani sme
i nfeksi l ai n-
yang sama, dan ti dak ada
Proteksi respirasi :
Gunakan pelindung pernapasan waktu masuk ke ruang pasien yang diketahui
atau diduga mengidap tuberkulosis, Jangan masuk ruangan pasien yang
diketahui atau diduga rnenderita campak atau varisela bagiorang yang rentan
terhadap infeksi tersebut .
Pengangkut an pasi en :
Batasi pemindahan atau pengangkutan pasien hanya untuk hal-hal yang
penting saja. Bila pemindahan atau pengangkutan pasien memang diperlukan.
hindari penyebaran droplet nukleus dengan memberi pasien masker chirurgis.
t20
C. DROPLET PRECAUTI ONS
.
Kategori iniditujukan untuk menurunkan penularan droplet dari kuman patogen
yang infeksius. Penularan droplet teriadibila partikel percikan yang besar (di-
ameter >5 rnikrometer) dari orang yang terinfeksi mengenai lapisan mukosa
hidung, mulut atau konjungtiva mata dari orang yang rentan.
Droplet (percikan besar) dapat terjadi pada waktu seseorang berbicara. batuk,
bersin, ataupun pada waktu pemeriksaan jalan
napas seperti intubasi atau
bronkoskopi.
Penuf aran melalui droplet / percikan besar berbeda dengan iransmisi airbome
karena pada fransmisi dropiel rnemerlukan kontak yang dekat antara sumber
dan penerima penularan, karena percikan besar tidak dapat bertahan iama di
udara dah hanya dapat berpindah dari dan ke ten':pat yang dekat.
Ccntoh penyakit yang ditularkan melalui drolet adalah meningococcal menin-
gi t i s, meni ngi t i s at au pneumoni a pneumckokal yang mul t i drug resl st er: ,
pedusis, pharyngitis atau pnurnonia streptokal,
jnfluenza,
dan parpovirus 819.
Pasi en harus di t enrpal kan ci i kamar t ersendi ri . Bi l a t i dak t ersedi a kama. -
t ersendi ri , pasi en t Jengan rni kroorgani sme penyebab i nf eksi yang sama dapat
dirawat di ruang yang sama alau cohort (bangsal umum)
Masker harus di pakai , bi l a seseorang berada dal am
j arak
t i ga kaki dari pasi er.
Akan lebih praktis jika
memakai maskerdiharuskan sejak seseorang memasuki
ruangan pasien- Pasien hanya diperbolehkan meninggalkan ruangarr hanya
jika
sangai perlu, dan harus memakai masker-
| / :
Tabel 2: DROPLET PRECAUTTONS
se bagai tambahan dari standa rd
p
reca u ti o n s, D rop et
p
recatrtrbns digunakan
untuk pasien yang
diketahr-ii atau diduga menderita peyakit serius dengan
pe.:ularan melalui percikan pratikel
besar_
Con' roh penyaki t .
.
fnvasive H. influenzaetipe B. termasuk meningitis, pneumonia
dan sepsis
-
invasive N. nrcningitidis, termasuk meningitis, pneumenia
dan sepsis
..
.fvasive
s. penumomae
multidrug repisten, tenfrasuk meningiiis, pneumo-
' nia,
sinusitis, dan otitis media.
.
bakteri infeksisaluran nafas lain ciengan transmisidroplet :
(a)' Diphteria (pharyngeat)
(b) Mycop,iasma pneumoniae
(c) Pert usi s'
(d) Pneumoni ae pt ague
(e) Streptococcalpharyngitis, pneumonia,
atau scarlei fever pada bayi
dan anak-anak
.
Infeksivirus serius dengan trasmisidroplet, termasuk:
(a) Adenovirus
(b) I nf l uenzae
(c) Mumps
(d) Parvovirus 819
(e) Rubel l a
Penempat an pasi en:
Tempatkan pada uuang tersendiri atau bersama pasien lain dengan infeksi
aktif organisme yang sama, tetapi tidak ada infeksi tain. Bila ada karnar
tersendiri, tempatkan dalam ruangan secara kohort, dan bila ruang untuk
kohort tidak memungkinkan, buatlah jarak pemisah
minimal 3 kaki.antara
pasien terinfeksidengan pasien lain dan pengunjung-
Pemakai an masker :
Pemakaian rnasker bila berada / bekerla dengan jarak
kurang dari 3 kaki dari
pasien.
122
Transport pasien :
Batasi
per.rindahan dan transpod
pasien hanya untuk keperluan mendesak.
Bila terpaksa memindahkan
pasien, gunakan masker chirurgis untuk pasien-
D. CONTACT PRECAUTIONS
Kewaspadaan iniditujukan untuk pasien yang dketahuiatau diduga menderita
.oenyakit
yang secara epidemiologis penting dan ditularkan melalui kontak
langsung (misalnya kontak tangan atau kulit ke kulit) yang terjadi selama
perawatan rutin, atau kontak tak langsung
ipersinggungan)
dengan benda
di lingkungan pasien-
Pasien harus ditempatkan di ruang tersendiri. Bila tidak tersedia, dapat
dengan kohort (bangsal umttm).
Sarung tangan harus dipakai sebagai pencegahan, sebagaimana pada
slandar precautions terhadap kontak dengan darah dan bafran tubuh- Pada
contact precaution inisarung tangan harus Oigantisetelah menyentuh bahan
yarlg mengandung mikroorganisme dengan konsentrasi tinggi (misalnya tinia
at au cai ran l uka). Sarung t angan harus di buka sebel urn meni nggal kan
ruangan dan kemudian harus cuci tangan dengan bahan pencuciantiseptik-
.Jubah yang beisih dan nonsteril harus dipakaibila diduga teriadi kontak yang
cukup rapat dengan pasien, biia pasien iidak dapat menahari buang air besar
(inkotinensia) atau bita ada luka basah yang tidak dapat diiahan dengan
pembalut. Jubah harus dilepas sebelum meninggalkan ruangan
Contoh
penyalii / keadaan yang rnemerlukan contact precautions adalah
infeksi atau kolonisasi bakteri yang multidrug resistens, colitis Clostridium
difficile, respiratory syncytial virus pada anak, infeksi kulit dengan scabies,
impetigo, zoster
{diseminata)
dan viral hemorrhagic fever (Lassa fever atau
virus Marburg).
Varisela yang diseminaled merupakan contoh infeksiyang memerlukan dua
macarn precautions berdasarkan cara penularannya, yaitu airborne dan con-
tact.
Kebijaksanaan menge nAi special organism isolatrbn mencakup kewaspadaan
terhadap semua bentuk kontak dengan pasien, peralatan sekitartempat tidur
dan lingkungan dekat pasien. Penekanan khusus pada pemakaiari peralatan
tersendiri untuk masing-masing pasien dan tidak membenarkan pemakaian
alat bersama. Kebersihan sekitar pasien
iuga
harus diperhatikan, karena hal
ini sangat penting untuk organisme seperti vancomycin - resistant Entero-
cocci dan Clostridium difficile.
123
Tabel3 : CONTACT PRECAUTIONS
Sebagai tambahan dari Slanda rd Precaution, Conta ct P rec a utions digunakan
untuk pasien yang diketahui aiau dicurigai menderita penyakit serius yang
mudah menular melalui kontak pasien atau kontak dengan sesuatu di lingkurrgan
pasien.
Cont ohnya:
-
Infeksi gastrointestinal, respirasi, kulil atau luka atau kolonisasi bakteri yang
multidrug resistant sesuai keputusan program pemt erantasan.
.
lnteksi enterik dangan dosis infeksi rendah atau berkepanjangan temasuk :
(a) Clostridiumdiftidle
(b) Enterohemorrhage. E. Coli, Shigella, hepatitis A. atau rotavirus pada
pasien incontinenta
-
RSV, parainfluenza virus. atau infeksi enterovital pada bayi dan anak-anak
-
lnfeksi kulit yang sangat menu.lar atau yang bisa timbulpada kulil kering,
t ermasuk:
(a) Diphtheria (kulit)
(b) herpez simplex virus (neonatus atau mucocutaneus)
(c) lmpetigo
(d) Abses tresar, selulitis atau dekubitus
'
(e) Pediculosisi
(D Scabies
(g) Stapylococcal furu;rcolosis pada bayi dan anak-anak
(h) Stapylococcal scalded skin syndrome
(D Zcster (disemianta atau immunocompiomised host)
.
Vi ral / hemorrhagi cconj unt i vi t i s
.
Viral homorrhagic fever (lassa fever atau Marburg virus)
Penempat an pasi en:
Tempatkan pada kamar sendiri atau bersama pasien lain dengan infeksi aktif
organi sme yang sama t et api t anpa i nf eksi l ai n. Bi l a kamar t ersendi ri t i dak
tersedia, tempatkan dalam ruangan secara kohort.
Sarung t angan dan cuci t angan :
Pakailah sarung tangan waktu masuk dan selama dalam ruang pasien, lepaskan
wakt u akan meni nggal kan ruangan, kemudi an cuci dan gosok t angan dengan
t a4
l z+
anti kuman. l etel ah membuka sardng tangan dan cuci tangan, usahakan agar
tangan ti dak menyentuh grermukaan ai au barang apapun yang berpontesi
terkontami nasi -
Pemakaian
lauo
I
Pakai l ah gaun wakt u masuk kamar pasi en, bi l a di perki rakan (pakai an)
seseorang yang masuktersebut akan bersentuhan dengan pasien atau dengan
alat-alat ir sek-itar pasiefi, bila pasi'en yang dirarvat diare, inkontinensia atau
pasien iliostomy dan bila pasien yang dirawat luka basah tanpa pembalut.
Lepaslah gaun saat akan meninggalkarl ruangan. Seielalr membuka gaun.
usahakan agar pakai an ti dak l agi menyentuh permukaan yang berpotensi
tcrkontami nasi .
Ti ansport pasi en :
Bat asi pemi ndahan
dan t ranspcri pasi en hanya unt uk hal yang penl i ng. Bi l a
t erpaksa harus memi ndahkan kei rl ar kamar, usahakan t et ap mel aksanakan
. precaut i ons.
Per awat an l i ngkungan :
Usahakan agar al at perawatan pasi en, peral atan di seki tar tempat ti dur pasi en
dan permukaan l ai n yang seri ng tersentuh ci i bersi hkan seti ap hari .
Peral atan perawatan pa.si en :
Bi l a mungki n, gunakan oeral atan pasi en non-kr-i ti s dan peral atan seperti
stetoskop, tensi meter, rektal termometer rnasi ng-masi ng satu untuk satu atau
sekel ompok pasi en kohort unt uk menghi ndari pemakai an bersama. Bi l a
pemakai an
bersama ti dgk dapat di hi ndari , peral atan tersebut harus sel al u
di bersi hkan dan di di si nfeksi sebel um di pakai untuk satu atau sekel ompok pasi en
l ai n.
t 25
E. KEWASPADAAN DENGAN PENDEKATAN SINDROMIK DAN
KEWASPANAAN TERHADAP ORGANISME Tfi USUS.
Beberapa penyakit dengan etiologi virus maupun bakteri dengan keterbatasan
fasilitas penunjang trntuk menegakkan diagnosis, cukup sering diagnosis pasti
belum ata; tidak Capat ditegakkan. Pada masa tersebut, penularan
tetap
teriadi. Dalam keadaan seperti ini perlu digunakan pendekatan sindromik
dalam mene' rtukan jenis
kewaspadaan yang paling sesuai (tabel 4), selain
Standard Precautions. Kemungkinan kuman.penyebab perlu disesuaikan
dengan epidemiologi penyakit masinE-rnasing daerah.
. t
Di beberapa tempat diAmerika Serikat telah timbul se.ienis enterokckus yang
resisten terhadap Vancomisin (Vanomycin resistant ente rococci) yang harus
ditangani sebaik mungkin dengan contact precautions yang memerlukan
pendekat an mul t i f akt or. Sebel um pedoman t ersedi a, beberapa l embaga
menggunakan' speci al organi sm i sol at i on' yang di l aporkan ef ekt i f unt uk
organisme multidrug-resistant termasuk Enterococcus resistant, Enterococ-
cus faucium, Acinetobacter aniteatus darr Clostridium difficile (tabel 5).
126
Tabel 4. Si ndrom at au kondi si kl i ni k yang secara empi ri k met . rerl ukan
kewaspadaan tarnbahan
Si ndrom / Kondi si kl i ni k: Penyebab potensi al : Precauti on
empr ns:
Di are :
(1) Diare akut dengan kemungkinan infeksi pada Enteric pathogen Kontak
pasien inkontinensia
(2') Diare pada dewasa dengan riwayat Clostridiumd!ffrcile Kontak
pemakaian antibioiika broad spectrum atau
langka.
lama
a
Meni ngi t i s:
Rash atau exanthema umum dengan etiologi tak
di ketahui :
(1) Petechihe / echyrrotic dengan demam Neisseria meningitidis Droplet
(2) Vesiculer Varisela Airbome/kontak
(3) Makulcpapular dengan pilek dan demam Rubeola (measles) Airborne
j
Infeksi respi rasi :
('l) BatuUdernamlnfiftrat lobus atas paru pada M. tuberculosis Airborne
pasien HIV negatit alau pasien dengan risiko
. HIV yang kecil
(2) Batuk/demam/infittrat paru cii lokasi manapun M. iubercuiosis Airborne
pada pasien HIV positif atau pasien dengan
risiko tinggi terinfeksi HIV
(3) Batuk parok-sisrnal at:u ya!19 rrrenetap selam a Bordetella penusis Droplet
periode pertusis
(4) lnfeksi respirasi terutarna bronkitis dan croup RSV atau
.
pada bayi dan anak-anak paraintluenza virus Kontak
Risiko mikroorganisme yang multidrug resis-
t ant :
(1) Riwayat infeksi atau kolonisasi dengan kuman Eakteri resisten Kontak
yang multidrug resistant
(2) lnfeksi kuliL luka atau infeksi saluran kemih BaKeri resisten Kontak
pada penderita yang baru masuk rumah sakit
atau lempat perawatan di mana organisme
rnultidrug resistant tinggi
Infeksi pada kul i t atau l uka :
Abses atau luka basah yang tidak bisa ditutup Staphylococcus aLtreus Kontak
Group A Slreplococcus
127
TabCIs. ISOLATION PRECAUTIONS UNTUK ORGANISME KHUSUS
Suatu perlakuan isolasi precautions
khusus untuk mikroorganisme yang secara
surveilans terbukti mengakibatkan masalah tertentu berkaitan dengan obat
antimikroba atau penularan
nosokornial.
1. Precautions
Precauticns berkaitan dengan organisme khusus dibarlakukan dengan melihat
,
kasus per kasus pada
keadaan sebagai berikut:
a. Bila pasien mengalamiinteksiatau
kolonisasi dengan organisme yang multidrug
resisten yang lidak dapat ciiobati dengan antibiotka biasa, dan atau :
b- Bila organisme tertentu diketahui mernilikipotensi merusak orang lain dan atau
ekologi sekitar rumah sakit karakieristik dari antibiogram, patogenitas, viru-lensi
atau sifat epidemiologis organisme tersebut.
2. Praldek yang dianjurkan
Sebagai tambahan padatehnik Universai PrecautionsyaLrg biasa, perlakuan berikut
dianjurkan uniuk mengurangi kemungkinan transmisi organisme ke pasien lain,
petugas atau iingkungan :
a. Tempatkan pasien pada ruang tersendiri bila mungkin
b. Lakukan precaution pertindungan secara ketat untuk semua kontak dengan
.
pasien atau dengan lingkungan dekatnya.
c. Keharusan cuci tangan diberlakukan secara ketat setelah melepas sarung
tangan dan setdlah melepas semua pakaian pelindung orang lain.
d. Pakailah sarung tangan untuk semua kontak dengan pasien, peralatan pasien
sekitar tempat tidur dan lingkungan dekat pasien.
e. Ganti sarung tangan sebelum menangani peralatan dan setiap kali kotor.
f. Pakailah jubah
sekali pakai (disposabte) untuk kontak langsung dengan
pasien,
peralatan yang potensialterkontaminasi dan permukaan kamar. Bukalah
jubah
sebelum meninggalkan kamar.
g. Pakailah masker dan kacamata pengaman waktu melakukan prosedur yang
mengel uarkan aerosol mi sal nya surct i on, bronkoskopi , i nduksi sput um, t erapi
aerosol dl l . Masker harus dbuka wakt u kel uar dari ruanqan.
128
h. Sediakan perlengkapan satu set untuk masing-masing pasien. Perlengkapan
lidak boleh dipakar bers^.:ra (kecuali kalau didisinfeksi secara baik). Termasuk
irri adaiah termometer elektronik, manonreter. stetoskop, kursi rocia, slretcher
dll. Setelah pasien pulang sernua perlatan harus didisinfeksi,
i. Peiugas rumah langga ditugaskan untuk membersihkan semua permukaan
datar Cekat pasien dengan germicide- Minimal pembersihan ini meliputi palang
t empat t i dur, mei e overbed,
j emuran' mal am, l ant ai dan permukaan al at
eleklronik, alat terapi respirasi dan barang-barang lain yang berkontak langsung
dengan pasien. Kain lap' ' yang clipakai untuk satu pasien tidak boleh dipakai
untuk ruang dan peralatan pasien lain. Kain lersebut hanrs dicuci sebelum
dipakai kembali atau dibuang.
Walaupun tidak mungkin ciapat membersihkan lingkungan dariorganisme patogen,
kewaspadaan terhadap organisme khusus ini dimaksudkan untuk menurunkan
jumlah
/ angka kolon! bakteri pada permukaan datar d?n lingkungar dekat pasien.
t29
LAMPIRAN
LAIVIPNRAN
4
SURVEILANS
r 30
LAMPI RAN I V
SURVEILANS INFEKSI NOSOKOMIAL
A. PENDAHULUAN
Kegiatan surveilans e;ridemiologi nrerupakan komponen penunjang penting dalan
setiap program pengendalian infeksi nosokomial. Informasi epidemiologi yang
dihasiikan oleh kegiatan serveilans berguna unluk mengarahkan strategi prog;am
baik pada tahap perencanaan, pehksanaan mat pu,n pada tah-iap evaluasi. Dengan
kegiatan surveilans yang baik dan benar dapat dibuktikan'bahwa program dapat
berialan lebih efe.ktif dan efisien-
Studi diAS menunjukkan bahwa program pengencJaiianlnfeksi nosokomial (PtN)
dengan kegiatan surveilans man:pu menurunkan l<ejadian infeksi nosokomial
sebanyak 327" sedangkan program pengendal i an i nf eksi nosokomi ai t anpa
surveilans kejaCian infeksi nosokomial meningkat 18%. Oleh karena itu selain
menerapkan cara pencegahan iru-eksi nosokcmial yang benar dan tersedianya
sarana (alat dan bahan) yang memenuhi standar rninimal kegiatan surveilans
epidemiologi muttak ada pada stiap pragram pengendalian infeksi nosokomial-
Cleh sebab itu kegiatan surveila;rs infeksi nosokomial selalu masuk dalam tolok
ukur akreditasi rumah sakit di negara-negara maju.
Sehubungan dengan pentingnya peranan surveilans dalam menajamen program
pengendalian infeksinosokomial, maka pedoman ini disiapkan bagi petugas rumah
sakit khususnya aftggota Panitia PIN untuk membuat program dan melaksanakan
'
surveilans infeksi nosokomial.
I
Pedornan i ni memuat pedoman umum kegi at an survei l ans beserl a cont oh-
cont ohnya sehi ngga memudahkan Pani t i a PI N mel aksanakan survei l ans-
Diharapkan setiap rumah sakit dapat merennakan dan menetapkan
ienis
surveilans yang akan diterapkan sesuai dengan misi dan visi serta situasi dan
kondisi masing-masing rumah sa}fl-
Disarankan pula agar setiap rumah sakit membuat protap sendiri. Angka infeksi
nosokomialyang diperoleh khususnya dimanfaatkan untuk program pengendalian
infeksi nosokomial masing-masing rumah sakil.Angka infeksi ncsokomial masing-
masing rumah sakit tidak sepenuha-rya dapat dibandingkan dari satu rumah sakit
l l r
ke rumah sakit lainnya disebabkan karakteristik rumah sakit yang berbeda. Sebelum
mel aksanakan
kegi atan survei l ans hendaknya rumah saki t sudah membeni uk
Pani ti a PIN termasuk menunj r-i k pel aksana sunrei l ans dengan ural an tugas masi ng-
masi r-l g.
Di sarankan
agar mi ni rnal oenanggung i awab
(ketua Pani ti a PIN) dan pel aksana
sudah mendapat pendidikar./pelatihan tambahan tentang surveilans epidemiolcgi
infeksi nosokomial- Diharapkan pula Panitia PIN dilengkapi dengan bahan dan
al at yang memenuhi standar mi ni mal untuk memul ai suatu program pengenci al i an
inieksi ncsokomiai khususrrya
progrhm surveilarrs. Juga pedu direncanakan dana
unt uk mendukung kegi at an sert a bahan-bahan rul ukan t ent ang survei l ans
epi demi oi ogi i nfeksi nosokomi al , sertacara pencegaharr dana penanggul angannya.
Seti ap staf rumah saki t yang terl i bat dal am pengendal i an i nfeksi nosokomi al perl u
di sosi al i sasi kan tentang kebi j akan dan kegi atan prograrn pengendal i an i nfeksi
n-osokcmi al
Defi ni si survei l ans i nfeksi nosokomi al adal ah pengumpul an yang si stemati k, anal i si s
dan i nt erpret asi yang meneruskan dari dat a kesehat an yang pent i ng. unt uk
di gunakan
dai am perei ' canaan penerapan dan eval uasi suatu ti ndakan yang
berhubungan dengan kesehatan masyarakat, yang didiseminasikan secara berkala
kepada pi hak-oi hak yang memedukannya.
B. TUJUAN & KEGUNAAN SURVEI LANS I NFEKSI NOSOKOMI AL
0 Menurunnya ri si ko i nfeksi nosokomi al .
1 . Memperoleh data dasaryaitu tingkat endemisitas infeksi nosokomial
di suatu rumah saki t.
Sebagai sistem kewaspadaan dini dalam mengidentifikasi kejadian
luar biasa (KLB)
Memenuhi standar mutu asuhan keperawatan dan pelayanan medis
yang
dapat dipakai sebagai sarana mengidentifikasi terjadinya
malpraktek
Mengukur dan menilai keberhasilan suatu program pengendalian
infeksi nosokomial-
2.
a
4.
5- Meyakinkan para klinisitentang adanya masalah yang memerlukan
oenanggulanEan.
6- Memenuhi standar pela' yanan rumah sakit (sebagaisatu tolok ukur
akreditasii-
Suatu surveilans harus menrpunyai tujuan yang jelas
dan ditinjau secara
berkala untuk menyesuaikan dengan situasi, kondisidan kebutuhan yang
berubah.
Perubahan-perubahan yang mungkin terjadi tersebut meliputi :
.
Adanya infeksi baru.
'
Perubahan kekcmpok populasi pasien, misalnya diperlukan penerapan
rcara
intervensi riredis lain yang berisiko tinggi.
.
Perubahan pola kuman penyakit, serta oerubahan pola :'esistensi kuman
te rhadap antibiotikzr.
Pengumpulan dan analisis data surveilans harus dilakukan dan terkait
dengan suatu pencegahan- Oleh karena itu sebelum merailcang sistem
dan melaksanakan surveilans tersebut penting sekali untuk menentukan
dan :' nerinci tujuan dari suryeilans terlebih dahulu-
O Menurunkan angka i nf eksi spesi f i k d! rumah saki t .
Tujuan lerpenting dari surveilans infeksi nosokonrial adalah menurunkan
risiko lerjadinya infeksi nosokomial. Untuk mencapai tujuan ini, maka
penentuan tujuan spesifik surveilans ini harus didasarkan atas cara
penggunaanidata, sumber daya manusia dan dana yang tersedia untuk
i t u.
Tujuan spesifik surveilans ini dapat berorientasi pada "out come" ataupun
pada proses-
Tujuan spesifik surveilans berorientasi coutcome adalah kegiatan yang
ditujukan pada pemantauan angka infeksi nosokomial (insidens atau
preval ens).
Tujuan spesifik surveilans berorientasi proses adalah kegiatan surveilans
r 33
J
yang dituiukan pada pemantauan kegiatan / upaya pengendalian (cara
cuci tangan, pemasangan lnfus, pemas?:.:Jan kateter, keiersediaan alat-
dana dan sebagainya).
Namun demikian, artidari kegiar:.;t akan rtenurun apabila ticiak disertai
peniefasan dari tujuan outcomeyang rinci. Meskipun ada banyak macam
tujuan surveilans yang sahih, tujuan akhimya adalah mencapai tujuan
outcome.lraitu menurunkan laiu inteksi. angka kesakitan, angka mortalitas
dan biaya..
Menci apatl {an data dasar endemi k
Pada dasarnya data survei l ans i nfeksi nosokomi al di gunakan untuk
mengkuanti fi kasi kan rate dasar i nfeksi nosokomi al yang endemi s. Dapat
di ketahui seberapa besar ri si ko yang di hadapi ol eh seti ap grasi en yang
di rawat ci i rumah saki t, Sebagi an besar (90-95%) da:i i nfeksi nosokomi al
adai ah endemi k, dan i ni di l uar dari KLB i nfeksi nosot(omi al yang tel ah
di kenal - Ol eh karena kegi i i t an survei l ans i nf eksi nosokorni al harus
di maksudkan uqtuk menurunkan angka l aj u endemi k.
Meski pun 91 % dari ru:-nah saki tdi l apcrkan menggunak' on data survei l ans
uni uk meneni ukan angka l aj u endemi k, namun pengumpul an dai a saj a
ti dak akan mempengaruhi ri si ko i nfeksi j i ka ti dak di sertai dengan upaya
pencegahan infeksi yang memadai. Dengan demikian kegiatan surveilans
akan si a-si a bel aka bahkan sel ai n mahal l uga sangat ti dak memuaskan
semua pi hak.
Mengi denti fi kpsi Kej adi an Luar Bi asa (KLB)
Bi l a angka endemi k tel ah dapat di ketahui , maka ki ta dapat mengenal i
bi l a terj adi suatu penyi mpangan
dari angka.cl asar-tersebut, yang kadang
m e nce rminkan suatu
tig9g]yg-_q,*il'outbreak)
inf e ksi nosokomia l.
U ntuk mengenali adanya penympangan
;iOf"afaitri#eksi sehingga dapat
menetapkan brahwa kejadian tersebut merupakan suatu ke_iadian luar
biasa, sehingga sangat diperlukan keterampilan khusus dari pada petugas
kesehatan yang bertanggung
iawab.
Ket erampi l an t ersebut harus mennadai sehi ngga sei mbang dengan wakt u
yang hilang untuk mengerjakan pengumpulan
data surveilans. oleh karena
o
t 34
serin gkali proporsi .nfeksi nosokomial yang terjadi pada outb re a k tersebul
sangatlah kecil, mungkin hanya 5-1O"/".
Tanpa adanya keterampilan tersebut maka pengumpulan data yang
dilakukan tidak ada gunanya sama sekali dan kejaciian luar biasa akan
lewat demikian saja.
Dan lagi, sering laporan tentang kecurigaan adanya suatu KLB infeksi
nosokomi al l ebi h cepat dat ang dari secrai rg Coki er at au t ekni si
laboratorium yang jelidari pada hasilanalisis data surveilans para petugas
pengendalian infeksi nosokomiai. Kelemahan dalam kecepatan waktu ini
sering menjadi keterbatasan dari penggunaan data surveilaris.
A Meyakinkan petugas medis
Salah saiu iantangan dari salu program pengendalian infeksi aclalah
meyaki nkan t er r aga medi s at au t enaga kesehat an yang l ai n unt uk
mener apkan pencegahan i nf eksi yang di anj ur kan seper t i hal nya
kewasp adaan unive rsal alau u niv e rs a! p re cauti on
-
Pengetahuan yang didapat darikepustakaan hanya efektif pada perilaku
meieka apabila ditunjang oleh infcrmasispesifik yang nyata mereka hadapi
dan mereka percaya-
Sering kali informasi dari kepusiakaan, kurang berhasil memaparkan
permasalahan seperti yang mereka hadapi sehari-hari, sementara seiiap
rumah sakit itu sendirilah yang paling efektif dapal dipakaisebagaiacuan
dal am mengubah per i l aku sumber daya manusi anya kar ena
menggambarkhn permasalahan yang aktual dan dapat dipakai sebagai
titik tolak penerapan cara pencegahan infeksi nosokomial-
Data surveilans dipercaya dan dijadikan sebagai pedoman bila diolah
secara bai k dan prof esi onal sert a di sai i kan dan di umpan bal i k /
i:rformasikan secara rutin dengan cara yang menarik kepada pihak terkait.
Umpan balik mengenai informasi itu biasanya sangat efektif dalam
menggiring lenaga kesehatan untuk melakukan upaya pencegahan infeksi
nosokomial dengan menerapkan kewaspadaan universal dalam pekerjaan
sehar i - har i .
r 35
D Mengeval uasi si stem pengendal i an
Setelah permasalahan dapat te;identifikasi dangan adanya data su rveilans
dan upaya pencegahan atau pengendal i an tel ah di j al ankan, maka masi h
diperlukan surve:lans secara bexesinambungan guna meyakinkan bahwa
per masal ahan yang ada benar - benar t el ah t er kendal i . Dengan
pemantauan yang terus menerus, maka suatu upaya pengendalian yang
nampaknya rasional kadang akhimya dapat ciiketahui bahwa temyata tidak
efektif sama sekali. Sebagaicontch, bahwa perav,ratan meatus setiap hari
untuk mencegah infeksi nosokomia!saluran kemih yang nampak ras:onal,
namun data surveilans menunjukkan bahwa ticjak ada manfaatnya.
O Memenuhi persyaratan admi ni strasi (seperti AKREDITASI)
Dengaq adanya peratui an yang mengharuskan rurrt?h saki t mel akukan
sun,ei l ans i nfeksi nosokomi al sebagai persyaratan unl uk mendapatka;r
akredi tasi , maka seri ngka!i data survei l ans hanya di pakai untuk rremenuhi
peraturan tersebut.
Pengi ;mpul an dai a survei l ans yang semata-mata hanya untuk i -r,emuaskan
' surveyor yang datang secara berkal a. mungki n seti ap :3 i ahun sekal i ,
adai ah suatu pemborosan sumbe; daya yang l uar bi asa i anpa memberi kan
manfaat kepada rumah saki t ataupun tenaga yang ada. Tul uan survei l ans
untuk menurunkan ri si ko terj adi nya i nfeksi nosokomi al .
f l Unt uk mengant i si pasi t unt ut an mal -prakt ek
Dahul u' di khawati rkan bahwa pengumpul an data survei l ans i nfeksi
nosokomial dapat dipergunakan sebagai bukti untuk menuntut rumah sakit
sehubungan dengan terj adi nya i nfeksi nosokomi al - Namun bel akangan
para ahl i hukum dapat menyatakan bahwa dengan adanya survei l ans
yang
bai k membukt i kan bahwa rumah saki t t el ah berusaha unt uk
mengendalikan masalah, bukannya menyembunyikan- Ini merupakan bukti
penti ng
untuk mel awan-tuntutan yang ti dak di i ngi nkan. Sebagai tambahan
bahwa rekam medi k
-perorangan
yang ada pada
pani ti a ptN
adal ah
merupakan rahasi a j abatan
yang
ti dak dapat di beberkan di depan
pengadilan.
oleh karena itu, data surveilans menjadi penting dan lebih
banyak membantu dal am mel awan l unl utan mal praki ek. dan i arang sekai i
akan memberat kan.
r36
PENG ERTIAN.PENGERTIAN
1. Surveilans
infeksinosokomial
:
Pengamatan
terus rnenerus"
aktif dan sistematis
terhadap kejadian
dan
penyebaran
lN pada
suatu poputasiserra
p"ri"ti*"
vang;"njp"ngaruni
terjadinya
infeksi
nosokomiat-'
2- Populasi
berisiko
:.
Populasi y"ng
Tl-"Tiar
mendapatfan
infeksi,
misarnya populasi barisiko
untuk infeksi
saturan
kemih adauir
"";;;;";'l:i menetap-
-'
-J{s' qrr
' \errrrrl
aqal an
Semua
OaSi en
dengan katetef
Ufl n
3' l-im / Paniiia
PiN.terdiri
dari anggota
muni disiprin
di rumah sakit
yang
bertanggung jarvab
penuh
t"rnaiJf pengendarian
i"f.k;; nosokomiar.
4' Perawat
pengendali
infeksi
nosokomiat'ihrection
controt Nurse
= tcN)
adalah peiawat
yang
merupakan
anggota
panitia
plN
dan bertanggung
j awab
sebagai pel aksana
har i an pengendal i an
i nf eksi nosokomi al
termasuk
kegiatan
surveirans
epidemiorogi
infeksi
ncsokomiaf.
5. Kejadian
luar biasa (KLB) =
wabah =
epidemik.
Tmbutnya
kejadian
penyalct
ter.tentu (mis
;
insidens
ISK)
pada area
geografis
iertentu (mis;
rumah sakit) secara be,,makna
dan dampak
yang
nyata
dari insidens
normal (enOemii)
penyakit
infeksitersebut.
Endemi k:
;
Keadaan
dimana
sualu penyakif
atau penyebab
penyakit secara
terus
menerus
tetap ada pada populasi
manusia
dalam suatu area
gieografis
tertentu (mis;
rumah
sakit).
Rate, Ratio,
proporsi
Merupakan
ukuran.
reratif yang
digunakan
untuk
mengukur besarnya
kemungkinan
kejadian
imoiUiOiias Jtau morralitas)
suatu masalah
6.
kesehatan termasuk infe.isi nosokomial :
a- Rate nlengukurkemungkinan munculnyasuatu keiadian pada popu!asi
tertentu misainya infeksi nosokomial di Ruang Bedah.
Rat e:
.
Insidens Rate : Ukuran frekuensikasus baru pada pooulasidan
pada kurun waklu tertent'u
.
Preval ence Rate: Ukurah frekuensi kasus baru dan l ama oada
populasi dan kurun waktr.t tertentu
.
Attack Rate : Sama dengan i nsi dens rate tetapi di gunakan
pada kej adi an l uar bi asa (wabah) bi asanya
di nyatakan dengan persen ("/").
.
Mortal i ty Rate : Ukuran frekuensi kemati an pada suatu popul asi
dan kurun waktu terl entu.
.
CFR : Ukuran/propoi ' si kasus yanj r.-:eni nggal karena
kondi si t ert ent u (i nf eksi nosokomi al ) paci a
populasi dan kurun waktu tedentu (case fatel-
ity rete)
.
Rumus: Rat e=K
+
X: Fembilang : kejadian yang akan dirrkur (morbiditas arau
mortalitas).
Y : Penyebut : populasi berisiko terhadap kejadian tersebut.
K: Konstanta : 1O0, 1.OOO, 1O.0OO atau 100.OOO
b. Rat i o:
Perbandingan suatu frekuensi kejadian dibandingkan dengan kejadian
yang lain, misalnya insidens rate ILO di Ruang Perawatan Bedah
di bandi ng dengan i nsi dens rat e I LO di Ruang Kebi danan dan
Kandungan.
138
Rumus:
X: Pembi i art g
Y: Penyebut
c.
K : Konstanta
Proporsi
Present ase suat u
data-
Rat i o =
1.
+
kejadian atau suatu kejadian (insidens ILO)
patja. suatu kelompok atau populasi tertentu
(insidens ILO di ruang Bedahl.
Frekuensisuatu kejadian yang sama (insidens
ILO) pada suatu kelompok aiau populasiyang
ber beda ( l nsi dens l LO di Ruang Rawal
Kebidanan & Kandungan).
1
kej adi an dari sel ui ' uh
j uml ah
kej adi an dari suat u seri
Rumus:
X: Pembi i ang
Y : Penyebut
I
K : Konstanta
Proporsi
=
100.
X
Y
Jumlah kejadian (mis: jumlah
ILO) yang timbul
dari seluruh kejadian infeksi nosokorhial oada
populasi Can kurun waktu tertentu
Jumlah kejadian keseluruhan pada populasi
dan kurun waktu yang sama
( mi s :
j uml ah
sel ur uh penyebab i nf eksi
nosokomial).
100
r 39
O. METODE sURVE| LANS
I NFEKSI NOSOKOMI AL
Menurut metofcloginya
maka surveilans dapat dikenal beberapa
ienis'
Jenis Surveilans lnfeksi Nosokomial-
1. SurYeilans Ko:' nPrehensif
2. Surveilans
Selektif
3. Surueilans Infeksi Nosokomialdengan
sasaran khusus
4. Surfeiians
tnfekii Nosokomialterbatras
dan periodik
- -
5. Surveilans Infeksi Nosokomialpasca
rawat'
Ket ebi han dan kel emahan masi ng-masi ng met ode
METOOE
Survei l ans
komprehensif
.
lnciderce
.'
Prevalence
.
Surveilans
setektil rnecervl
tempal intekd
.
Surveilans
' selektil menrut
unit
.
Brgilir
KEL?BI HAN
MeMapalk3n data dari semua ienis
inleksi dari
semua parieni dapal rnengoefltililasi Lhjster-
Lebrh mrah dan lrarrya rnernedukatl s6lit stmbr
daya: dapat plda dlal(gPka.l dengLan ca.a berqilirao
Oapat digdnakan uniuk tnendapatkan data awal
sebagai dasar penerapan sHem sineilats njiin
Ffeksbd dan Capat dl(omtir.asi dengBn metode
lan-
Menekankan pasren yang brisiko lingqi. harrya
memedr.*an sedl.u'l SOM.
Lebih murah dan tehl menyir||(at waklu dbandrE
'surveihrs
bddencz. sediktt SDM: seraua unit di
rumah sakil pencegahan gifiran
Memanlaatkan srnber daya dengan letrih elehil
dengan luit an psrcegahan
fang idas
Memberikan angka dasar dengan waktu lebih
singkat dibandrg dengan itrtence.
Meriogkafran crsefndng secara benmkna
ur {un. : r sr ud?c' . 6
- ' - - - - - -
|
daiam mengestifrasi Populasi
peroedaan anta(
I
kdonrpo* pop.iasi pasim.
I
Mrrj3ftin t?Jak |rnganb3(tan t-Jiuan peFcegahan
I
KELSMAHAN
Mahat, padat karya. iidak munokin diprbandin,okan
dengan njtnah sakil lzin-
Sering te4ad o'reregiinasi tentaog risiko paien
tntl,k c-.eridapatl.an in(ek'i msokomial :;da\ aku'a!
;rr4
phs: detEa$,-ralornF rxt!(i.t hutang ac
kuat Capal ke6ru dalam Brenenlukan kJu<er.
Untuk rnendapal kan angka dasar di perl ukan
gJ^ia
s yatE brteinambur$an firurBkin teriadi
kekelituan lfide{.
Oapal salah lduger
Trdak mendapatkan arka dasat
Manrr6fi inkan salah kluslet
Meruddafi rtasatah pada peoguMan waP'tu dan
banyak yarB tiitak dapat ditindaklaniuti.
Surveilars inletsi
nosokomial
dengan sasararl
ktxJsns
Surveitans
periodk terbalas
Surveilans pasca
prawat
t 40
c
PENERAPAN SURVEI LANS I NTEKSI NOSOKOMI AL
Jenis Surveilans infeksi nosokomiai :
1. l dent i f i kasi i nf eksi nosokorni al yang akan di arna. t i rut i n mel al ui kegi at an
sunreilans.
2. Perencanaan pengumpulan data
3. Pengumpulan data
4. Pengolahan & penyajian data
5. Analisis dan lnterpretasi data
6. Pembuat an l aporan & rekomendasi t i ndak l anj ut sert a di r; ei ri i ; , . -
'
,
informasi.
Pada awal pel aksanaan survei l ans hendaknya semua l angkah di at as
di kerj akan,
j i ka
survei l ans sudah beri al an ruti n yang di kerj akan adal ah
l angkah 4-6.:namun bi l a survei l ans ti dak beri al an sebagai mana di harapkan
perl u di ti nj au kembal i metode survei l ans yang di terapkan mul ai dari l angkah
pedama.
Di sarankan agar kegi atan survei l ans di dahul ui ol eh pembentukan Pani ti a
Pengendal i an i nfeksi nosokomi al
(Pani ti a PIN).
1. l dent i t as Masal ah I nf eksi nosokomi al
Penentuan masal ah i nfeksi nosokomi al yang akan di amati ruti n mel al ui
kegi at an survei l ans mernerl ukan wakt u. Beberapa sumber yang dapat
l / 1 I
l +l
di gunakan untuk i denti fi kasi masal ah i nfeksi nosokomi al tcrsebut,
dapat di l akukan derrgan beberapa cara antara l ai n berdasarkatt :
.
l aporan personi l rumah saki t bersangkutan
.
pengal aman rumah saki t l ai n
.
ti nj auan l i teratur
.
mel akukan kaj i an atau pengumpul an data dasar.
Pengumpulan data dasar (tingkat endemisitas) infeksi nosokomial
dilakukarr derrgan studi retrospektif, prospektif selama kurang
tis3
bulan alau suruey point prevelensdll. yang dilakukan oleh pelaksana
surveilans dan anggota tirn lain.
Pengurrpul an dal a dasar dapat di l akukan di sel uruh rumah saki t, tetapi
untuk prakti snya di an.i urkan untuk mengumpul kan data dasar di rudng
perawatan yang di angg3p mempunyai ri si ko ti nggi i nf eksi nosokorni al
mi sal nya r uang Per awal an Bedah, Dal am, Kebi danan dan
Kandungan, I CU dan ruang l ai n yang beri si ko i nf eksi nosokcr, ri al ,
bai k di sebabkan
j -eni s pel ayanarr maupun di sebabkan karal <teri sti k
pasi en sendi ri .
Langkah sel anj ri tnva adal ah :
/ fui enghi tung angka i nfeksi nosokomi al (i nsi dens atau preval ens
rete). mi sal nya
Insi dens rate (l R) i nfeksi nosokomi al di Rumah
Saki t' XX" dal am kurun waktu Juni vdAgustus 1999, rata-rata =
1O%, di mana proporsi tLO 35%; ISK : 115 %; Fl ebi ti s 2O
"r"
dan
Pnemoni : 1O
"/".
./ Menyusun rencana pendanaan program pengendal i an i nfeksi
nosokomial termasuk dana kegiatan surveilans (alat bahan, biaya
pertemuan dan i nsenti f pel aksana)-
2. Rencana Pengumpul an Dat a
Proses pengumpul an data dapat menyi ta banyak waktu kai ena i tu
perl u perencanaan yang hati -hati agar waktu pengurnpul an data l ebi h
efektif
I A' )
l aL
a. Menent ukan Jeni s Survei l ans vano akan di l aksanakan
b.
Setelah mendapat gambaran angka infeksi nosokomial
pelaksana
survei l ans bersama-sama dengan anggot a Ti m PI N l a-i rr
merientukan
ienis
surveilans
yang akan dilaksanakan cienga:' t
membandi ngkan hasi l survey dengan t i nj auan l i t erat ur dan
pengalaman dari rumah sakit lain yang sudah berpengalaman.
Dasar pertimbangan pemilihan
jenis
surveilans :
.
waktu
.
Tenaga
.
Msidan misi rumah sakit-
Dasar pertimbingan pemilihan jenis infeksi nosokomial
yang akan
diamatiberdasarkan
pengukuran relatif (lihat lampiran l, hal 160)
rnenentukan difinisi populasi paslen-
Populasi pasien dapat ditentukan berdasarkan :
.
Jenis pelayanan / ruang rawat (Bedah, Dalam dll).
.
Fakt or r i si ko spesi f i k ( pasi en dengan oper asi ber s; h,
pemasangan kateter meneta.p dll).
Contoh:
surveilans rutin untuk seluruh
jenis infeksi nosokomial dilakukan
di ruang perawatan tertentu saja misalnya Penyakit Anak, Dalam,
bedah serta Kebidanan dan Kandungan
(Obsgyn) atau secara
selektif
jenis
surueilans dilakukan terhadap infeksi nosckomial
lertentu saia misalnya ILO bersih dibeberapa ruang perawatan
yang berisiko ILO bersih-
Menetapkan difinisi infeksi nosokomial
yang akan digunakan, lihat
difinisi pada buku Pedoman Pengendalian Infeksi Nosokomial
lanrpiran 1 (lnfeksi Nosokomial)
Menetapkan data spesifik
yang akan dikumpulkan
sal ah sat u t uj uan pengumpul an dat a adal ah unt uk mengukur l aj u
c.
d.
| +- )
i nfeksi (i nsi dens rate) i nfeksi nosokomi al karena i tu di butuhkan 2
j eni s
data yaitu data pembilang dan penyebut.
.
Dat a pembi l ang:
Dat a pembi l ang adal ah semua pasi en yang i er kena i nf eksi
nosokomi al . Bi asanya i nformasi mi ni mal yang di perl ukan secara
ruti n adal ah :
./ Data ci enrografi : nama. umur,
i eni s
kel ami n, no RS / no. reg-
i ster (rekam rnedi k), ruang perawatan / j eni s
pel ayanan & t anggal masuk kel uar rumah
sakit-
./ Jeni s i l okasi anatcmi i ni eksl serta tanggal mul ai ti mbul nya gej al a
i nfeksi
/ patogen penyebab
Informasi tambahan varrq di butuhkan di tentukan ol eh :
./ Bagai rnana 0"," ufu" di anal i si s dan di gunakan
/ Data muciah diperoleh atau tidak
,/ Tenaga cukup atau tidak.
Bi l a secara ruti n data
i ,apg
di i ngi nkan ti dak dapat di kumpul kan,
. l akukan pengumpul an data secara peri odi k atau sewakl u-waktu
sebagai suatu survey atau penel i ti an, Pada i nvesl i gasi KLB dapat
di kumpul kan data tambahan yang di butuhkan untuk mengetahui
sumber dan cara penul aran.
Data tambahan yang di butuhkan umumnya adal ah :
/ Nama ahl i bedah
.- .,/ Antibiotika yang digunakan
./ Faktor risiko
Data yang ti dak akan di gunakan j angan
di kumpul kan karena akan
buanq wakt u dan t ak berquna.
t 44
Kumpul kan data senri ni mal mungki n namun mencapai tuj uan-
Sri mber Data:
Sumber
piimer (utama) yang sering digunakan :
/ Laporan laboratorium rnikrobiologi
,/ Kurva suhu
./ Catatan pasien, catatan dokter atau perawat (status pasien)
/ Catatan Obat
/ Laporan personil rumah sakit lainnya, baik lisan maupun tertulis.
Sumber sel i under
./ Laporan farmasi yang mungkin mengindikasikan
adanya infeksi
(distribusi antibiotika)
-
/ Laporan otoi i si dan l aporan
patol ogi l ai nnya-
/ Laporan masuk rumah saki t (di agnosl s masuk) yang memheri
i nformasi adanya i nfeksi komuni tas
{masyarakat)
atau i nfeksi
nosokomi al pada waktu di rawat di rumah saki t sebel umnya'
/ Laporan pemeri ksaan radi ol ogi -
/. Laporan pasi en se.rei ah pul ang (pasca rawat). Laporan i ni sul i t
Ci pero!el t.
,/ Laporan pemeriksaan mikrobiologi daf sampel llngkungan
(tidak
dianjurkan rutin, dilakukan hanya bila ada indikasi).
./ Laporan hasil investigasi atau penelitian-
i
Data PenYebut
penyebut
adalah seluruh pasien yang berisiko infeksi nosokomial- Data
penyebut yang akan dikumpulkan tergantung metode surveilans{enis
infeisiyang dipilih rumah sakit dan kegunaan data tersebut, misalnya
data penyebut untuk semua
jenis infeksi nqsokomial di Ruang Penyakit
Dalam, sedangkan untuk llo bersih data penyebut adalah semua
pasien dengan operasiluka bersih-
I A<
e. Menentukan
kapan data di kumpul kan
Sebai knyadat adi kumou| kansaat pasi enmasi nberadadi run] ahsaki t
karena setel ah
pasi en pul ang data sul i t di kumpul kan'
sedangkan
frekuensi
pengumpul an data tergarrtung
faktor beri kut :
.
Jurnlah
pasien
.
Lama harirawat rata-rata
.
Karakteri sti kPoPul asi Pasi en'
Menent ukan
Si aPa PengumPul
Dat a
.
Tetapkan
kri teri -a
yang di anggap
mampLr mel aksanati an
survei l ans'
Di si pl i nmanapunyangmenj adi pe| aksana. survei | anst i dakmasa| ah
yang penti ng t"t"n,-ni
kri tl ri a rni ni mal
pengei ahuan'
kete ra mpi l a n
maupun si kap
(atti tude) sebagai beri kut :
/' Pai ofi si ol ogi
i n{eksi
/ M;krobi ol ogi
-
l . | l muPenyaki t Dal am&Bedah( Medi cal &Sur gi cal | ' ' l ur si ng)
./ EPi demi ol ogi
.i Statistik dasar
(deskriotif)
",
Hubungan
.nL, ;nrnu si a (i nterpersona!
rel ati on
shi p)
yang
rnampu rneyakink'an
para pengambit keputusan
di rumah
sakit
penti ngnya' p""g""d"i i "n
i n{ekJi nosokomi al
dan memoti vasi
staf
rumah safl
,r,i t"tt mel aksanakan
ti ndakan
pencegahan
dan
me|engkapi catatan(status)pasi enc|engangeti aptandadangej a|a
i nf eksi sesuai
dengan st andar
pr ot esi masi ng- masi ng'
Pengal aman
Oi nt gl ' " maj u suat u
pengendal i an
i nf eksi
nosokomi atru.rn
eferti t dan efi si en i al ah menggunakan
perawat
sebagai
petarcJna
pengendal i an
i nfeksi nosokomi al
termasuk
survei l ans,
yang di sebul !nfecti on Control Nurse
(l CN)'
.
Tetapkan
urai an tugas,
petan, fungsi dan tanggung i awab'
.
Tet apkan
kedudukan
( kal au per awat
yang di pi l i h)
apakah
kedudukannyadi bawahbi dangkeperawat anbai ksebagai i ". b": ?, l
struktura!
atau i ungsi onal
di sai ankan
perawat tersebul
menduduxt
j abat an f ungsi onai -
Jel askan hubungan
keri asama dengan
ket ua
Pani t i a
PI N dan anggot a
l ai nnYa'
f .
n
2
a
1t
t 46
sebelum
kegiatan
surveirans
infeksi
nosokomiar dimurai, dianjurkan
untuk terlebih
dahulu membentuk
panitia plN.
Pelaksana
surveilans
infeksi nosokorniar
adarah anggota
panitia prN
llang.menduduki
posisi
kunci daram pengendarian
infeksi nosokomial
Karena sebagai peraksana
surveirans
dia memiriki informasi tentang
besarnya
masalah
infeksi
nosokomiar,
faktor risiko dan masarah rain
yi:9^l-"I\"jtan
dengan
kineria staf rumah sakft datam petaksanaan
Kewaspacraan
uni versar
dan aspek f ai n yang berkai t an
dengan
pencegahan
infeksi.
g. Formul i r
pengumpul an
Dat a
.
Rut i n:
Memuat dat a mi ni mal yang
di bt i l uhkan
dan mudah mengi si nya.
'
Kl-B
Memuat data tambahan yang
dibutuhkan
untuk investigasi KLB yakni
yang
berkaitan
dengan
:
,/
Sumber penularan
,/
Cara penula,-an
, / Aspek
l ai n yang
di per l ukan
unt uk pe; . l anggut angan
at au
memutuskan
rarrtai penularan.
-) Bagaimanapun
bentukfonnuriryang
digunakan tidak masatah yang
penting
memuat
semua data minirnar yang dibutuhkan
dan praklis
dalam penggunaannya.
(contoh
: formurir pengumpuran
dara rutin infeksi nosokomiar
rihat
l ampi ran
2 hat
. 161).
3. Pengumpul an
Dat a (Moni t ori ng)
setelah program
pengendalian
infeksi nosokomial dimulai terlebih dahulu
sosialisasikan
seruruh aspek kegiatan pengendalian
infeksi nosokomial
pada
staf ruangan
dan staf lain t6rkait.
I . . 11
a- Sumber Dat a:
.
Laporan laboratorium
.
Catatan / status pasien
.
Kunjungan pasien'
.
Laporan personilrumah sakit.
b. ldentifikasi Infeksi Nosokomial
Informasi kan ke ruang-ruang terkai t tentang pengeri dal i an dan
surveilans infeksi nosokomial di rumah sakit bersangkutan dan
j el askan
kapan pengumoul an dal a di mul ai dan mi ntal ah agar
perawat dan dokter ruangan bekerj asama dal am pengendal i an
i nfeksi nosokomi al dan mi ntal ah
j el askan penti ngnya kel engkapan
catatan pasi en (status) sesuai dengan standar profesi masi ng-
masi ng.
Si apkan buku pedoman s_urvei l ans / def i ni si i nl eksi nosokomi al
sebagar ruj ukan penel rtuan i nfeksi nosokomi al .
Si apkan semua formul i r pengumpul an data yang di butuhkan
/ Daftar lsian
' /
Check Li sl proses penerapan kewaspadaan un;versal , l i hat
l ampi ran 3 hal 162 yai tu daftar ti l i k pengendal i an :nfeksi .
/ Bukui cat at an unt uk mencat at t emuan di ruangan yang
berkai tan dengan pengendal i an i nfeksi nosokomi al .
Lakukan kunjungan ruangan
Cari indikasi adanya infeksi nosokomial dengan rnelakukan telaah/
kaj :an l aporan l aboratori um. Dapat pul a di l akukan kunj ungan
l aboratori um untuk mengetahui apakah ada hasi l i sol asi posi ti f
pada wakt u t ersebut di ruang perawat an di mana di l akukan
kegi atan survei l ans.
t 48
/ Kajian catatan atau siatus pasien untuk rr.elihat tanda infeksi
dan hasil kultui. Biia ada, pasien irrfeksi nosokomial catat kapan
rnulaiteriadi, dan kapan pasien masuk rumah sakit-
/ Jikagejata atau tanggal mulainya tanda infeksi kurang
lefas
tanyakan dokter atau perawat pasien yang bersangkutan'
/ Kajian catatan obat untuk- melihat pasien dengan antibiotika
(kemungkinan infeksi nosokomiai)-
/ Kajian kurva suhi.: untuk mengidentifikasi
pasien dengan
demam. .
/ Tanyakan pada perawaf dan dokter ruangall apakah ada pasien
dengan infeksi
. . f
/ Masal ah / kendal a pengunrpul an data :
' Status
pasi en ti dak l engkap bai k catai an dokter maupun
pasi en-
'
Pemeriksaan laboratoriurn
jarang dilakukan
' Pemakai an anti bi oti ka yang kurarrg rasi onal .
.
Ji ka ada pasi en-i nfeksi ncsokomi al cai at pada Caftar i si an'
.
Lakukan pengecekan apakah
pasi en i nf eksi nosokomi al
sebel umnya (kal au ada) sudah sembuh atau bel um-
.
sambi l ri rel akukan kuni ungan ruangan perhati kan apakah ada staf
bai k per awat , dokt er maupun kel uar ga
pasi en yang t i dak
mel akukan standar pencegahan i nl eksi dengan benar
j i ka ada
catatan pada formulv check listpenerapan
prosedur kewaspadaan
uni versal .
.
Perhati kan apakah fasi l i tas / bahan seperti anti septi k, sabun dl l -
ti dak di gunakan dengan benar.
.
Sewaktu - waktu l akukan wawancara / di skusi dengan
perawat
t 49
ruangan tentang ketersediaan fasilitas untuk tindakan pencegahan
infeksi meliputi kemudahan memperoleh, kecukupan persediaan,
kenrudahan pemakaian ciarr kenyamanan
Informasi diatas penting untuk perencanaan penyediaan sarana /
bahan dan menyusun program pelatihan bila diperlukan.
4. Pengol ahan & Penyaj i an Dat a
a. Pengol ahan Dat a
Tuj uan:
Untuk memberi i nfornrasi yang berEuna bagi strategi pengendal i an
i nfeksi nosokorni al . Di sampi ng i tu pengol ahan data berguna untuk
konsol i dasi serta val i dasi dai a,
j uga
rnernucahkan penyai i an ci ata.
Sarana
/ Soft ware computer
/ Manuai bi i a ti dak ada kompui er.
Pemindahan data ke daftar tabulasi
Memilih kategori data yang akan diolah
Cara:
i ,
Lakukan pengel ompokan
/ ketegori data dal am sumber f ormul i r
tabul asi , j i ka pengol ahan
di l akukansecara manual (contoh l i hat
l ampi ran 4, hal 163), j i ka
data di ol ah dengan komputer si apkan
sof t war e pengol ahan
dat a_
pengel ompokan
dat a unt uk
pengol ahan
ruti n mi ni mal adatah j eni s
i nfeksi nosokomi al &
Ruang Perawat an.
Secara berkal a dapat di kel ompokkan
menurut j eni s
kel ami n, i rmur, l ama hari rawat , pemakai an
anti bi oti ka, dan kul tur posi ti f, j eni s
ti ndakan dl l .
Dari daf t ar i si an pi ndahkan
dat a ke f ormul i r t abul asi denqan
cara mel i di sepert i ccnt oh beri kut :
Rumah Sakit "XX"
Buang : Bedah Bulan :
Juml ah Pasi en Kel uar: 200 onng
Desernber 1999
RUANG PEMWATAN
JUMLAH IN
udi Absolut
rL0
)r,Lilt]ttt l 16
l SK
LK [l 8
PNEMONI
.
ill 3
BAKTERIEMIA
0
FI -EBI TI S
)nr-
(
LAIN.LAIN 0
TOTAL 32
.
Menghitung besar masar.ah Infeksi Nosokomial
Dar i conl oh di at as dapat di hi t ung besar masal an i nf eksi
nosokomial cii Ruang Bedah RS
"XX" pada bulan Desember 1999
adal ah:
32
zm
x 100% =
16"/"
/ Insident rate spesifik:
Untuk menghilunginsbent rate spesifik menurut
jenis infeksi
nosokomial (lLO, ISK dll), terlebih dahulu harus dihitung
jumlah pasien berkiko untuk masing-masing
jenis infeksi
nosokomial pada bdan yang sama (Desember). Sebagai
contoh pasien berisiko ISK adalah total pasien dengan
kateter menetap misalnya di ruang Bedah tersebut ada 2O
orang, maka: insidens rate spesifik ISK :
o
$
x 2gr1gg"/"=5"/"
r t
l r l
Total insident rate infeksi nosokomial
fY-l |
?t
-
|
?
. *
|
=
l #
*t oo*=t ,
/ Proporsi
infeksi nosokomial menurut Jenis :
#=soz
#
="*
#
=
o'gz
*
=
t'sx
Pbnyaj i an
Dat a
Data perl u di su5un dan di saj i kan
dai am berbagari bentuk.
Tuj uan
' Memperl i hat kan pora i nf eksi nosokomi ar
dan perubahan yang
ada
(trend).
Memudahkan
anal i si s dan i nterprestasi
data.
' Penyaj i an
data, perl u
memenuhi kri teri a
tertentu anrara l ai n :
/ J-elas : menggambarkan
apa yang
disajikan, kapan dan dimana
/Sederhana,
ti dak rumi t
/Menjelaskan
diri sendiri (self exptanatory)
.
Contoh Fenyaj i zrn Data:
/ Tabel
/ Di agram Bal ok (batang)
dan
/ di agram
kue
(pi e)
. I LO
. I SK
.
PNEMONI
.
FLEBITIS
b.
t 52
Jenis / bentuk dan kegunaan
Tabel 1
Infeksi Nosokomial cji RS "X' Menurut Ruang Perawatan & Jenis lnler-''
Desember 1999
Jeni s Kegunaan
Tabel Biasanya menunjukkan frekuensi kejadian
dengan kategori yang berbeda atau sub baglan
suatu variabei
Grafik
garis
M enggambarkan kecenderungan menurut vraktu
Diagram
batang
M enggambarkan pi:rbandin gan
I
Diagram
t-,"t":
Menggambarkan proporsi
Ruang
Perawalan
Jmt
Pasi en
Kel uar
Insidens
Rate (%)
ienis infeksi nosokomial
Flebitis Pnernoni rLo fSK
' .:zl
Anak 60 3. 3
'l
o 1
Penyqkit
Dal am
100 4. O 1 o 1
Bedah 140 10.7 2 3 8 I
Obsgyne 100 11 . G 1 o 6 4
Totai 400 8. 0 :) J 16 U :'z
Di agram' !
Pemakai an
Anti bi oti ka
Menurut Ki asi fi kasi Operasi onal
dj RS
.XX"
Desember.!999
100
BO
60
4A
20
o
5. Analisis dan InterPretasi Data
Tuj uan:
tviendapatkan infon-nasi apakah ada masalah lnfeksi nosokomial yary:
memerlukan penanggulangan atau invesligasi lebih lanlut misalnya terjarJr
KLB.
Car a:
Pembandingan angka infeksi nosokomial (insidens rate) unt;r
mengidentifikasi hdanya penyimpangan dengan cara sebagai berikul
, / Per hat i kan kecender ungan i nf eksi nosokomi al apakar
menunjukkan kenaikan yang cukup taiam atau tidak.
Bandingkan insidens rateinfeksi nosokomial bulan ini dengan kur,;'
waktu yang sama pada tahun yang lalu, apakah ada kenaikz'
yang cukup bermakna yang perlu r,rendapat pertratian-
./ Perhatikan ciarr bandingkan kecenderungan menurut'
ienis
infek' .
ruang
perawatan
$enis
pelayanan) dan patogen penyebab k' z
ada.
,/ Gunakan metode statistik untuk melihat penyimpanga.n ye(' -
bermakna, namun berdasarkan pengalaman anggota Panitia P"
-
khususnya tCN dan ketua panitia dapat inenggunakan akal sei,','
untuk menentukan apakah ada penyimpangan bermakna alau
t-icz'
dengan mel i hat i nsi dens rat e ral a-rat a
paoa kurun vt z. ' -
sebelumnya
(tingkat
endemisitas) dan dikonfirmasikan dencz'
ditemirkannya determinan lain yang kemungki nan menyebab'r.'. -
penyimpangan tersebut.
Mi sal nya t er i adi pel anggar an l er hadap st andar ca( a- cz: 2
pencegahan adanya mahasi swa
pr akt ek di r umah sa7' : '
terbatasnya alat atau bahan yang diperlukan untuk pencegah2-'
infeksi.nosokomial.
/ Bandingkan lnsidens Tate infeksi nosokomial bulan ini dengz-'
kurun waktu yang sama pada tahun yang lalu, apakah ada kenai2.a-
i '
Vang cukup bermakna yang perlu mendapat
perhatian
/ Bandingkan
pula angka yang diperoleh dengan rumah sakit lain
yang serupa, tiamun perlu diingat meskipun rumah sakit hampir
serupa kel as dan
i eni s
pel ayanannya t et api mut rgki n ada
perbedaan populasi atau penerapan definisi infeksi nosokomial
atau deterrninan lain yang menyebabkan
perbandingan tidak valid-
l dent i f i kasi masal ah dal am pel aksanaan pencegahan dan
pengendalian infeksi nosckomial.
Petunjuk untuk menentukan indikasi kaoan suatu masalah infeksi
nosokomial memerlukan tindak lanjut.
/ Apakah infeksimenyebabkan kelrtatian ?
,/ Infeksi terjadi pada lokasi (anatomi)tertentu saja atau disebabkan
oleh patogen tertentu saja-
/ Apakah organi sme yang di i sol asi (kul t ur) resi st en t erhadap
antibictika ?
Apakah populasi tertentu rentan terhadap organisme iertentu pula-
misatnya, Ruang Perawatan Bayi rentan terhadap Salmonella-Unt\
Luka Bakar rentan terhadap Streptococcus A?.
Adakah indikasi masalah akan lebih meluas ?
lnterpretasi i
I nt erpret asi yang di buat harus menuni ukkan i nf orrnasi t ent ang
penyimpangan penting. baik peningkatan atau penurunan.
Perlu dijelaskan sebab-sebab peningkatan atau penurunan angka
infeksi nosokomial
jika
ada data pendukung yang relevan dengan
rrrasalah yang dimaksud-tetapi tic;ah i;oleh dibuat spekulasi mengenai
peningkatan maupun penurunan tersebut
iika
tidak ada data informasi
yang mendukung misalnya data yang diperoleh sumber terpercaya,
ml sal nya hasi l kunj ungan ruangan, wawancara dengan perawat I
dokt er at au dat a hasi l suat u
penvel i di k
f ormal .
Contoh
Tabel 3
lnfeksi Nosokomial ivlenurut Jenis lnfeksi di Rumah Sakit "XX"
September s;/d Desember 1999
Dari tabel 3 di atas tampak bahwa rata-ral a i nsi dens rate i nfeksi
nosckomi al sel arna kurun waktu September s/d Desember 1999 adal ah
13 7" dengan raftge 10-17"/"
Bi l a di bandi ngkan dengan data dasar i nfeksi nosokomi ai RS
"XX" maka
i nsi dent rate pada kurun waktu Septenrber s/d Desenrber 1999 rata-
rata l ebi h ti nggi dari data dasar (l R =
1O%).
Bi l a di l i fi at i nfeksi nosokomi al menurut
j eni s
maka bai k pada kurun
wakt u Sept ember Desember 1999 maupun kurun wakt u sebel umnya
(data dasar) proporsi i nfeksi nosokomi al terti nggi adal ah l LO.
Namun bi l a di bandi ngkan dengan data dasar maka proporsi ILO pada
kurun waktu September s/d Des-ornber 19Q9 nroporsi ILO mengal ami
peni ngkatan yang cukup berarti (data dasar proporsi ILO
=.35%).
Bi l a di l i hat kecenderungan ILO menurut bul an maka meni ngkatnya
proporsi I LO di sebabkan pada bul an Desember t erj adi peni ngkat an
Jeitis' lN' ;
ta?? a
) l : Tdtel
,'
rLo
-l
9 8 16 4A
I SK I 6 9 8 30
Flebitis 6
A
i 5 5 20
Pnemor r i 3 2 2 3 10
Tota! 23 - zl 24 JZ 100
(t R) 12"/" 1A% 17"/" 17"/"
'13"/"
t 51
j uml ah l Lo yang cukup bermakna yakni l ebi h kurang dua kal i dari l Lo
pada bul an-bul an sebel umrrya-
Berdasarkan hasil
ruang perawat an
peningkatan ILO
-
pemantauan pel aksanaan kewaspadaan trni versal di
t i dak ada masal ah yang menyebabkan t ei -j adi nya
Jeni s i nfeksi l ai nnya ti dak menunj ukkan perubahan yang cukup berarti .
6. Laporan & Di semi nasi I nf ormasi
a. Lapor an:
'
Laporan cukup di buat daram bent uk t aber, gr' af i k arau di agram
yai g ni enunj ukkan besarnya masal ah i nf eksi nosokomi al (: at e,
rat;o atau proporsi ) yang i erj adi dal am kurun waktu pel aporan
dengan narasi si ngkat l ebi h kurang sepeni cont oh anari si s dan
i nterpretasi di atas.
b.
'
Laporan di l engkapi dengan rekomencasi ti ndak l anj ut bagi pi hak
t^erkai i dengan peni ngkatan
ILO_
.
Mi sal n,,a dari hasi l anal i si s data di atas, saran ti ndak l anj ut adal ah
mengadakan i nvesti gasi KLB l Lo untuk mengetahui sumber
i :ara
penul ar an
dan f akt or l ai n yang mempengar uhi agar dapat
di l akukan ti ndakan penanggurangan
yang efekti f dan efi si en.
'
Yang mbmbuat l aporan adal ah ICN atau anggota
pani ti a pl N
l ai n yang mel aksanakan survei l ans.
Di semi nasi
I nf ormasi
'
Sebel um i nf ormasi
di sebarl uaskan
t erl ebi h crahul u di skusi kan
dengan ketua Pi ni ti a
pl N.
'
Tuj uan utamadi semi nasi
i nformasi hi 6i t kegi atan suruei l ans i ai ai r
agar pi hak t erkai t dapat memanf aat kan
i nf ormasi l ersebut unt uk
menet apkan st rat egi pengendal i an
i nf eksi nosokomi ai .
r 53
Laporan disampaikan pada :
/ Seluruh anggota tim
{ Direktur Bumah Sakit
,/ Seluruh staf Rumah Sakit
,/ Ruang atau unit terkait dengan masalah infeksi nosokomial
yang dilapoCran
.
Cara penyampaian
laporan & diseminasi informasi :
.
Kapan laporan dikirim |
,
. ,/
-.
Periodik sebaikrrya bulanan, paling tidak tiga bulanar
,/ Segera bila ada KLB
.
Bent uk penyampai an
:
,/
Lisan dalam perlemuan
./ Laporan iertuiis
./
Papan buletin dimana semua staf runrah sakit dapat melihat
dengan mudah.
t 59
Lampiran 1
PERBANDI NGAN RI SI KO RELATI F I NFEKSI NOSOKOMI AL DAN
ALTERNATIF PENGUKURAN
B ERDASARKAN KEPENTINGAN RELATIF
ffi
,iffi
;tffi
i$j$
r-iffi
wi
U0jj
iF.i?
l{ets]
xffi=
ffitf;$ffiffi
rTBiaffil?diil*
ffi
. i : ' : 1' . "?i : ' '
- -
f-'-EiNI-*ft,.,.
*Y,.i-dapa!,.ri,
ffi,'={
tLo 24 37 42 35
Pnemoni 10 24 39 22
ISK 42 11 13 35
Bakteriemia 5 4 3 35
Lain-lain
1e
4 3 32
Total
100 100 100 32
r 50
Lampi ran 2
l l rmr Ru .' i h Sl tl t I l 4i l yontrl
Trngg.l
i H.rl lo;
|
|
t
I r o
J. nh
I
Pr o: . duf l t t nggt t
Inl ol rl
|
opti l rto^rtl Opri l !l
rlr
o.
Lamoi ran 3
D.A,FTAF TILIK PENGENDALIAN INFEKSI
Ru-rng:
Tangal :
:! Ya
." Tidak
l. Pengelohan alat
tajam
Wada:r tahan lusukan
lsi wadah kurang dari 34
Itdak ada bag'nrr lajam yang keluar
iarurn
suntik tidak disarungkarr
Perryarungan satu tangan
I
2. Dekontaminasi alat Larutan klorin 0.5%
Lanrtan kloin dalam wadah plastik
Alal direndam datarn klorin selama 15 menit
Alat dibilas air sebelum dikirim ke CSSD
Alat steril disimpan dalam wadah kering dan
3. Cuci t angan Ai t menqari r
Sabun
l ap keri ng dan brsi h - steri l
Pel ugas tampak mencuci tangan &
mengeri ngkannya setel ah kontar der.:an :
.
cairan tubuh
.
melepas saruno tangan
.
kOntek rl anga; pasi en
4. Al al pel i noung Sarung langan slerii
Sarung tangan e(sih
Sarunll tangen rumah lanoga
Sepatu boot
Gaun / jubah / apoon / ce!-.mak
makser
Pelindung mata / kaca mata
5. Sampah Sampah dipisahkan sesuai
ienisnya
Sarnpah lerkontaminasi dalam wadah lerlutup
lncenerator ber{ungsi baik
6. Pemasangan
kateter urin
Cara pemasangan
Kualitas sarana / alat
Kecukupan alat
7. Pemasangan infus Cara pemasangan
Kualilas sarana / alat
keorkupan alat
KETERANGAN:
Ya : ada / l ersedi a / di keri akan sesuai i ndi kat or
l l dak : t i dak ada / t i dak t ersedi a / t i dak di keri akan sesuai i ndi kat or
l o/
Rumah Saki t
Bul an
Fo;mat
Tabulasi
Ruang
: : -. -. . . . . .
Lampiran
4
Juml ah
Pasi en
Kel uar RS (pul ang) :
l (. ; 3