Anda di halaman 1dari 179

INTI ATOM

INTI ATOM
 

Jenis evaluasi

bobot

1

Quick quis di kelas +

35%

tugas

2

Ujian tulis (eas) + QUIZ

25%

3

Forum di share.its.ac.id

10%

4

Ev. Lesan

30%

(/komprehensif)

Partikel Penyusun Inti Atom

Muatan positif atom terkungkung

dalam daerah kecil dipusat atom

(Rutherford, Bohr,dll)

Elektron bukan termasuk partikel inti karena tidak memenuhi

beberapa kriteria yang ditinjau

dari : ukuran inti, spin, momen magnetik dan interaksi elektron dalam inti

Tahun 1932 ditemukan neutron

(tidak bermuatan dan massanya proton).

Jadi sebuah inti atom terdiri atas Z

proton dan (A-Z) neutron.

(tidak bermuatan dan massanya ≈ proton). • Jadi sebuah inti atom terdiri atas Z proton dan

Kelompok inti atom

Isotop : inti memiliki nilai Z(proton) sama.

Isoton : inti memiliki nilai N (neutron) sama.

Isobar : inti yang nilai A (nomor massa) sama.

sama. • Isoton : inti memiliki nilai N (neutron) sama. • Isobar : inti yang nilai

Ukuran dan bentuk inti atom

Jumlah proton dan neutron menentukan besar/ukuran inti.

Inti atom diasumsikan seperti sebuah bola.

Volume nukleus Volume nukleon A   4 4 3 3  R  
Volume nukleus Volume nukleon A
4
4
3
3
R
 
r A
o
3
3
1
3
R
 r A
o

r = 1,2 fm ~ FEMTO METER ~ 10 -15 M

 4 4 3 3  R   r A o 3 3 1 3

Gaya Kuat Inti

Proton-proton dalam inti tidak

tolak menolak?

Di dalam inti terdapat gaya kuat (strong force) yang mengimbangi tolakan Coulumb proton-proton.

Salah satu ciri gaya kuat ini adalah jangkauan gayanya yang sangat pendek ≈ 10 -15 m.

proton-proton. • Salah satu ciri gaya kuat ini adalah jangkauan gayanya yang sangat pendek ≈ 10
proton-proton. • Salah satu ciri gaya kuat ini adalah jangkauan gayanya yang sangat pendek ≈ 10

Massa dan energi ikat inti atom

Atom hidrogen yang terdiri dari 1 proton dan 1 elektron. Energi diam proton dan elektron diam yang terpisah jauh adalah

m c

e

2

m c

p

2

Jika ke-2 partikel didekatkan dan membentuk atom hidrogen akan ada foton yang dipancarkan 13,6 eV.

m c m c 2  2  m c 2  13,6 eV e
m c m c
2
2
m c
2
 13,6
eV
e
p
H
m c 2  m c 2  m c 2  13,6 eV e
m c
2
 m c
2
m c
2
 13,6
eV
e
p
H

Jadi energi massa gabungan sistem lebih kecil daripada ketika partikel penyusunnya terpisah. Perbedaan ini disebut energi ikat.

Pada inti atom energi ikat dihitung menggunakan rumus

B

( Nm ) c ( Zm ) c M c

n

p

Inti

2

2

2

Hubungan energi ikat dan massa inti ditunjukan

pada gambar berikut.

• Hubungan energi ikat dan massa inti ditunjukan pada gambar berikut.

Latihan Soal

Terdapat suatu atom X dengan jari-jari inti 2 kali jari-jari inti atom 9 Be. Tentukan jumlah nukleon dalam Atom X

Model-model inti

Tidak ada teori dasar yang dapat menjelaskan sifat-

sifat inti atom. Beberapa model dikembangkan

Dua dari beberapa model inti yaitu, model tetes cairan dan model kulit.

Model tetes cairan

Sifat-sifat inti

Berkaitan

Model tetes cairan Sifat-sifat inti Berkaitan Ukuran Massa Energi ikat Seperti tetes cairan • Kerapatan tetesan
Ukuran Massa Energi ikat
Ukuran
Massa
Energi ikat
Seperti tetes cairan
Seperti
tetes cairan

Kerapatan tetesan cairan adalah konstan, ukurannya sebanding dengan jumlah partikel atau molekul di dalam cairan, energi ikatnya berbanding lurus dengan massa atau jumlah partikel yang membentuk tetesan.

Model tetes cairan (lanjutan)

Massa inti atom yang tersusun dari proton Z dan neutron N= (A Z) adalah Zm p + (A - Z)m n

Estimasi massa tersebut belum sesuai dengan hasil eksperimen Ada koreksi dan penambahan suku sehingga menjadi,

M  Zm  A  Z m  b A  b A 
M
 Zm  A  Z m  b A  b A  b Z A  b A  Z A  b A
(
)
2
2
1
3
2
 1
3
(
)2
3
4
p
n
1
2
3
4
5

Nilai b1, b2, b3, b4, dan b5 diperoleh dari eksperimen dan persamaan diatas disebut formula massa semiempirik

b 1 = 14,0 MeV b 2 = 13,0 MeV b 3 = 0,58 MeV b 4 = 19,3 MeV

A

Z

b

5

Genap

Genap

-33,5 MeV

Ganjil

 

0

Genap

Ganjil

+33,5 MeV

Model tetes cairan (lanjutan)

Rata-rata energi ikat per nukleon

[ Zm  ( A Z M  )  M c ] 2 1
[
Zm
(
A Z M
)
M c
]
2
1
4
7
EI
p
n
Inti
b b A
3
b Z A
2
3
b A
(
2
Z A
)
2
2
b A
4
A
1
2
3
4
5
A
   b b A  3  b Z A 2 3  b

Koreksi Akibat Energi Ikat Inti

Dalam inti terdapat gaya ikat (energi ikat +),

sehingga massa inti seharusnya lebih kecil daripada

ketika nukleon-nukleon inti terpisah. Energi ikat sebanding dengan jumlah nukleon inti, oleh karena itu akibat energi ikat ini diperoleh koreksi sebesar

b A b

1

1

0

Efek Permukaan

Pengaruh gaya ikat

inti bagi nukleon di

permukaan lebih lemah daripada

nukleon inti yang

lebih dalam.

• Pengaruh gaya ikat inti bagi nukleon di permukaan lebih lemah daripada nukleon inti yang lebih
• Pengaruh gaya ikat inti bagi nukleon di permukaan lebih lemah daripada nukleon inti yang lebih

Inti atom dianggap seperti bola sempurna yang luasnya 4πR 2 , dan setara dengan

2 3
2
3

2

4 r A

o

Jadi koreksi massa akibat efek permukaan adalah

2 3 b A 2
2
3
b A
2

Efek Interaksi Coulumb

Dialam inti terdapat proton-proton yang bermuatan

positif. Menurut hukum Coulumb, gaya Coulumb

antar muatan yang sejenis akan tolak-menolak. Oleh karena itu, tolakan Coulumb ini akan mengakibatkan penambahan massa inti.

E

p

k

q q

1

2

R

; R

1 3 r A o
1
3
r A
o

k

2 ( Ze ) 1 3 r A o
2
(
Ze
)
1
3
r A
o

E

p

2

 1 2 Z A 3
 1
2
Z A
3

ke

r

o

Koreksinya adalah
Koreksinya
adalah

2

b Z A

3

1 3
1
3
r + +
r
+
+

Efek Kelebihan Neutron Atau Proton

Proton dan neutron merupakan kategori fermion

(taat asas pauli dan tidak mau berkeadaan sama),

jadi masing-masing menempati kulit berbeda dalam deretan kulit terpisah.

Adanya kelebihan neutron ataupun proton dalam suatu isobar dapat meningkatkan massa inti menurut prinsip larangan pauli.

Dari gambar disamping, pengurangan Z sebesar v

diikuti juga dengan

penambahan N sebesar v.

Jika selisih antar tingkat energi nukleon adalah Δ,

maka pengurangan Z

memberikan selisih energi ikat pada isobar sebesar

E

ikat

 

v

v

2

E ikat     v  v   2  v  

v    N

Z

2

v    E  v    ikat 2   N
v
E
v
ikat
2
N
Z
N
Z
 
   
 
 
2
2
2
 
 
2
N
Z
;
N
A
8
E
A
 2
Z
 2
ikat
8

Z

Makin besar jumlah nukleon penyusun inti A, selisih antar tingkat energi nukleon Δ semakin kecil .

Jadi koreksi yang dihasilkan pada kelebihan neutron atau proton adalah sebesar

  A

1

b

4

2

1

A Z A

2

Seperti halnya elektron yang cenderung berpasangan untuk membentuk suatu ikatan yang stabil, demikian pula nukleon sejenis (neutron dengan neutron, proton dengan proton) cenderung berpasangan untuk mencapai inti yang lebih stabil. Dari sisi ini memberikan koreksi senilai

b A

5

3 4
3
4

Latihan Soal

Bandingkan energi-energi minimum yang

dibutuhkan untuk melepaskan netron dari

41

20

Ca

,

42

20

Ca

,

42

20

Ca

Model Kulit

Berbagai persoalan yang terdapat dalam inti

memiliki beberapa persmaan dengan persoalan

elektron-elektron dalam atom. Salah satu persamaan ini yaitu elektron dan nukleon memiliki tingkat-tingkat energi tertentu.

Letak perbedaan antara persoalan yang terdapat pada elektron dalam atom dan inti atom adalah potensial yang ditimbulkan dan

sifat orbitnya.

Fakta eksperimen

Perubahan sifat-sifat inti secara menonjol terjadi di dalam inti dengan N dan Z sebesar

2, 8, 28, 50, 82, 126 bilangan ajaib inti

Dalam persoalan atom juga ditemukan bilangan ajaib, yaitu

nomor atom yang terdapat pada gas mulia.

Perubahan radius inti (ΔN=2)

Perubahan radius inti ( Δ N=2)

Bilangan

radioakatif

ajaib

inti

pada

akhir

deret

Bilangan radioakatif ajaib inti pada akhir deret • Hasil akhir dari peluruhan timbal dan bismuth memiliki

Hasil akhir dari peluruhan timbal dan bismuth memiliki

jumlah proton berturut-turut 82 dan 126 bilangan

ajaib

Energi Ikat Neutron

Adanya energi yang bervariasi untuk melepas neutron terluar adalah bukti bahwa inti memiliki kulit-kulit.

Inti yang memiliki bilangan ajaib, kulit terluarnya akan penuh, dan memerlukan energi lebih besar untuk melepas neutron dari inti.

memiliki bilangan ajaib, kulit terluarnya akan penuh, dan memerlukan energi lebih besar untuk melepas neutron dari

Asumsi Dalam Model Kulit

Proton dan neutron

terjebak dalam

sebuah potensial. Beberapa bentuk

potensial yang dipakai yaitu potensial kotak

dan osilator

harmonik.

Bentuk osilator harmonik lebih

mendekati hasil yang

diinginkan.

potensial kotak dan osilator harmonik. • Bentuk osilator harmonik lebih mendekati hasil yang diinginkan.
potensial kotak dan osilator harmonik. • Bentuk osilator harmonik lebih mendekati hasil yang diinginkan.

Fungsi potensial V ditulis dalam bentuk persamaan

schroodinger. Pemecahan persamaan ini

memberikan informasi tentang perilaku gelombang dari partikel.

Persamaan Schroodinger ??

Bayangkan diri anda seperti Erwin Schroodinger!

Kekekalan energi K+V=E

Taat asas deBroglie (partikel dengan momentum p memiliki panjang gel λ) Jadi K=p 2 /2m=ħ 2 k 2 /2m

panjang gel λ ) Jadi K=p 2 /2m=ħ 2 k 2 /2m Bentuk gel deBroglienya dapat
panjang gel λ ) Jadi K=p 2 /2m=ħ 2 k 2 /2m Bentuk gel deBroglienya dapat

Bentuk gel deBroglienya dapat bersuperposisi (linier) ψ(x) = A sin kx

dapat bersuperposisi (linier)  ψ (x) = A sin kx Persamaan harus mengandung potensial V. d

Persamaan harus mengandung potensial V. d 2 ψ /dx 2 = -k 2 x -2m/ħ 2 (E-V)ψ = -2m/ħ 2 Kψ

= -k 2 x - 2m/ħ 2 (E-V) ψ = - 2m/ħ 2 K ψ Persamaan
Persamaan schroodinger bebas waktu 1D
Persamaan
schroodinger
bebas waktu 1D

2

d

2

2

2 m dx

V

E

Persamaan schroodinger merupakan bentuk

persamaan differensial parsial. Untuk

memecahakan bentuk persamaan ini ada beberapa metode yang digunakan, diantaranya adalah metode fungsi, legendere, hermite dan laguerre

Rumus tingkat energi yang diperoleh dari pemecahan persamaan schroodinger untuk osilator harmonik.

E

n

 

o

3

2

2(

n

1)

l

n

1, 2, 3, 4,

 

l

0,1, 2, 3,

Sehingga dapat diasumsikan nilai-nilai λ adalah 0, 1, 2, 3, 4,…

Beberapa energi paling rendah dan probabilitas fungsi gelombangnya pada osilator harmonik

• Beberapa energi paling rendah dan probabilitas fungsi gelombangnya pada osilator harmonik

Kemungkinan nilai λ dari kombinasi n dan

l

n l 0 1 2 3 4 5 1 0 1 2 3 4 5
n
l
0
1
2
3
4
5
1
0
1
2
3
4
5
2
2
3
4
5
6
7
3
4
5
6
7
8
9
4
6
7
8
9
10
11
5
8
9
10
11
12
13
6
10
11
12
13
14
15

λ

(n,l)

Notasi spektroskopik

0

(1,0)

1s

1

(1,1)

1p

2

(1,2) (2,0)

1d, 2s

3

(1,3) (2,1)

1f, 2p

4

(1,4) (2,2) (3,0)

1g, 2d, 3s

5

(1,5) (2,3) (3,1)

1h, 2f, 3p

6

(1,6) (2,4) (3,2) (4,0

1i, 2g, 3d, 4s

Urutan Penempatan Nukleon Dalam Inti

1h 2g 3f 4d 5p 1g 2f 3d 4p 5s 1f 2d 3p 4s 1d
1h 2g 3f 4d 5p
1g 2f 3d 4p 5s
1f 2d 3p 4s
1d 2p 3s
1p 2s
1s
Struktur kulit yang dihasilkan oleh model potensial osilator harmonik
Struktur kulit yang
dihasilkan oleh model
potensial osilator harmonik
1g 2f 3d 4p 5s 1f 2d 3p 4s 1d 2p 3s 1p 2s 1s Struktur

Bentuk potensial yang

lebih realistis diberikan

oleh Woods dan Saxon 1954 yaitu

• Bentuk potensial yang lebih realistis diberikan oleh Woods dan Saxon 1954 yaitu
• Bentuk potensial yang lebih realistis diberikan oleh Woods dan Saxon 1954 yaitu

Interaksi Spin Dan Orbit Dalam Inti

Selain berada dalam potensial, juga terdapat interaksi spin-orbit dalam inti sehingga diperoleh

bilangan-bilangan ajaib yang sesuai ( 2, 8, 20, 28,

50, 82, dan 126).

interaksi spin-orbit dalam inti sehingga diperoleh bilangan-bilangan ajaib yang sesuai ( 2, 8, 20, 28, 50,
spin-orbit dalam inti sehingga diperoleh bilangan-bilangan ajaib yang sesuai ( 2, 8, 20, 28, 50, 82,

Bilangan Kuantum Orbital

Seperti halnya elektron, gerak orbital nukleon

adalah terkuantisasi, yakni gerakan mengorbit

tersebut menghasilkan momentum sudut nukleon yang hanya memiliki nilai tertentu yang bersifat diskrit. Nilai tersebut dinyatakan dengan

L

bersifat diskrit. Nilai tersebut dinyatakan dengan L  l ( l  1)  • Nilai-nilai

l(l 1)

Nilai-nilai l diberikan sebagai berikut

Nilai l :

0

1

2

3

4

5

Simbol huruf :

s

p

d

f

g

h

Bilangan Kuantum Spin

Di samping melakukan gerak orbit, setiap nukleon

berputar pada porosnya. Gerakan berputar pada

porosnya juga terkuantisasi, nilai momentum sudutnya diungkapkan sebagai

S

nilai momentum sudutnya diungkapkan sebagai S  s ( s  1)  dimana s =

s(s 1)

dimana s = ±1/2, baik untuk proton maupun neutron.

Momentum Sudut Total

Jumlah momentum sudut orbital dan momentum

sudut spin suatu nukleon adalah momentum sudut

total j yang dinyatakan sebagai :

J

momentum sudut total j yang dinyatakan sebagai : J  j ( j  1) 

j( j 1)

j adalah bilangan kuantum momentum sudut total.

Nilai j yang mungkin adalah

j l s

Bilangan Kuantum Magnetik

Untuk setiap bilangan kuantum l,s,j terdapat

s , m j

yang

tersebut pada arah medan magnet terapan.

bilangan kuantum magnetik m l , m

merupakan komponen dari bilangan kuantum

Untuk setiap harga l, terdapat 2l+1 harga m l , berkisar dari +l,…0,…-l.

Bilangan kuantum magnetik spin m s hanya dapat bernilai -1/2 atau1/2

Bilangan kuantum total magnetik, m j ,dapat memiliki (2j+1) nilai yang mungkin. Nilai-nilai m j

= j, (j-1),

1/2,-1/2…-(j-1),-j.

Kaitan antara l,j,dan m j

L

j=l±1/2

m j =2j+1

 

Total

s=0

1/2

1/2,-1/2

 

2

p=1

3/2

3/2, 1/2,-1/2, -3/2

 

1/2

1/2,-1/2

 

6

d=2

5/2

5/2, 3/2, 1/2,-1/2, -3/2, -5/2 3/2, 1/2,-1/2, -3/2

 

3/2

10

f=3

7/2

7/2, 5/2, …. -5/2, -7/2

14

5/2

5/2,

,

,

, -5/2

g=4

9/2

9/2, 7/2, …. -7/2, -9/2 7/2, 5/2, …. -5/2, -7/2

 

7/2

18

Bilangan Kuantum Utama Dan Radial

Keadaan elektron dalam atom mengalami gaya

Coulumb terpusat, sehingga tingkat energi elektron

ditentukan oleh bilangan kuantum utama. Sedangkan situasi nuklida dalam inti tidak mengalami gaya terpusat dan bukan hanya gaya

Coulumb, maka, n, hanya sebagai jumlah bilangan

kuantum untuk bilangan kuantum l dan bilangan kuantum radial υ

n l ; n 1, 2,3, 4,

Bilangan Kuantum Utama Dan Radial (lanjutan)

Bilangan kuantum radial υ hanya dapat bernilai

integer positif, yakni υ = 1,2,3,4,….

Nilai υ seringkali digunakan sebagai bilangan kuantum yang menentukan tingkat energi nukleon dikaitkan dengan nilai-nilai l dan j.

Misalnya, jika nukleon memiliki bilangan kuantum

n=4, l=f, j=l-s, akan memiliki dinyatakan sebagai : 1f 5/2 .

υ=(n-l)=1 dan

Paritas Dalam Inti Atom

Proton (dan neutron) di orbit yang sama akan

cenderung berpasangan untuk membentuk

keadaan momentum sudut nol. Oleh karena itu, nukleus-nukleus genap-genap akan memiliki total momentum sudut J=∑j, sebesar nol.

Sedangkan jika suatu nukleus memiliki proton atau neutron ganjil, total momentum angulernya adalah momentum anguler nukelon terakhir (ganjil).

soal

Berapakah nilai-nilai momentum anguler keadaan

dasar yang mungkin untuk kemungkinanan nilai-nilai m J

32

?. Tentukan juga

15

P

Momentum anguler yang tidak bernilai nol terdapat pada nukleon yang tidak berpasangan, yaitu pada

tingkat 2s 1/2 untuk proton dan pada tingkat 1d 3/2 untuk neutron

Total momentum angulernya adalah jumlah aljabar vektor momentum-

momentum anguler j=1/2

dan j=3/2.

neutron • Total momentum angulernya adalah jumlah aljabar vektor momentum- momentum anguler j=1/2 dan j=3/2.

Untuk proton kemungkinan nilai m J adalah

Dan untuk neutron

Selanjutnya

M

J

m

1/2

3

2

1

,

2

2,{ ,{ ,{

1

0

1

0

,

1

1

1

2

,

,

2

3

2

m

1/2

1

2

,

1

2

Garis teratas dari nilai-nilai M J berkorespondensi dengan J=2; sedangkan garis terendah dengan J=1.

Radioaktivitas • Definisi : Hasil dari peluruhan inti atom yang tidak stabil • Inti atom
Radioaktivitas
• Definisi : Hasil dari
peluruhan inti atom
yang tidak stabil
• Inti atom yang tidak
stabil dipengaruhi
oleh rasio neutron
dan proton

Radioaktivitas (lanjutan)

Radiasi alfa akan diemisikan untuk mengurangi massa inti yang tidak stabil (hanya jika nomor

massa inti diatas 209)

Elektron akan dipancarkan dalam transformasi

neutron menjadi proton, hal ini terjadi ketika

terdapat terlalu banyak neutron dalam inti

Radioaktivitas (lanjutan)

Radiasi alfa akan diemisikan untuk mengurangi massa inti yang tidak stabil (hanya jika nomor

massa inti diatas 209)

Elektron akan dipancarkan dalam transformasi

neutron menjadi proton, hal ini terjadi ketika

terdapat terlalu banyak neutron dalam inti

Positron akan dipancarkan (atau terjadi penangkapan elektron) pada perubahan proton menjadi neutron,

hal ini terjadi ketika terdapat neutron dalam jumlah

yang terlalau sedikit

Pada beberapa inti, radiasi gamma akan dipancarkan setelah terjadinya peluruhan alfa dan beta.

Radioaktivitas (lanjutan)

Bahan yang mengandung inti tidak stabil (bahan

radioaktif) ada yang alami dan buatan. Bahan radioaktif meluruh sambil melepaskan radiasi

Radiasi tersebut memiliki karakteristik yang berbeda

dan termasuk dalam kategori radiasi pengion

• Radiasi tersebut memiliki karakteristik yang berbeda dan termasuk dalam kategori radiasi pengion Radiasi Pengion
• Radiasi tersebut memiliki karakteristik yang berbeda dan termasuk dalam kategori radiasi pengion Radiasi Pengion

Radiasi

Pengion

Peluruhan Zat Radioaktif

Peluruhan : proses keluarnya partikel dari inti

Secara matematis, peluruhan per satuan waktu dilukiskan oleh persamaan

dN dt  N

Dimana adalah konstanta yang nilainya

tergantung pada isotop tertentu, N adalah

jumlah isotop radioaktif yang tersedia, dan tanda minus berasal dari kenyataan bahwa dN/dt selalu

mengalami penurunan

Peluruhan Zat Radioaktif

Selanjutnya kita dapat memecahkan persamaan

diferensial tersebut untuk mendapatkan N(t) yaitu

dN/dt = -N dN/N = -dt log (N/N o ) = -t N(t) = N o e -t

Aktivitas

Aktivitas (A) adalah banyaknya peluruhan yang terjadi

di dalam inti persatuan waktu

Karena A = -dN/dt

maka A = N = N o e -t = A o e -t ;

yang berarti bahwa aktivitas juga menurun secara eksponensial terhadap waktu.

Aktivitas memiliki satuan becquerel (Bq) dan curie (Ci) untuk aktivitas tinggi

1Ci=3,7x10 10 Bq

Waktu paruh (t 1/2 )

Waktu paruh (t 1/2 ) didefinisikan sebagai interval waktu sehingga jumlah inti yang meluruh tinggal

50%.

1

2

1

2

1 2 1 2 1 2

1 2

t

t 1 2 ln 2  

1 2

ln 2

N o

N e

o

t

1 2

1 2

ln

t

 

ln  t  

Tetapan peluruhan (λ)

Nilai λ dihitung melalui waktu paruh t 1/2 . Setelah meluruh selama t 1/2 , Jumlah inti menjadi ½ jumlah semula.

ln 2 t 1 2
ln 2
t
1 2
Review (I) N(t) = N o e -t A = N = A o e
Review (I)
N(t) = N o e -t
A = N
= A o e -t
t (waktu paro) = ln(2) / 
• Kita dapat menemukan waktu paruh t 1/2 jika kita
bisa menunggu jumlah inti radioaktif (atau A)
berkurang menjadi 50%.
• Kita dapata mendapatkan nilai  melalui N dan A.
• Jika kita mengetahui nilai  atau waktu paruh T 1/2 ,
kita dapat menemukan nilai besaran lainnya.

Review (II)

Jika waktu paruh besar, nilai menjadi

kecil. Ini berarti bahwa jika isotop

radioaktif habis dalam jangka waktu yang lama, aktivitasnya akan menjadi

kecil; jika waktu paruh kecil, aktivitas akan bernilai tinggi tetapi hanya dalam

waktu yang pendek !.

Penentuan Umur Radiometrik

Peluruhan nuklida radioaktif dengan waktu paruh

yang diketahui memungkinkan seseorang untuk

mengukur umur benda-benda yang berasal dari zaman dahulu kala (zaman purba) seperti bebatuan, fosil, artefak dll.

Salah satu nuklida radioaktif yang digunakan adalah

14 C.

• Neutron yang berasal dari reaksi nuklir oleh radiasi kosmik berbenturan dengan inti 14 N
• Neutron yang berasal dari reaksi nuklir oleh radiasi kosmik
berbenturan dengan inti 14 N
14
N n
1
14
C H
1
7
0
6
1
• Reaksi diatas menghasilkan 14 C yang memiliki waktu paruh
5730 tahun. 14 C yang masuk ke bumi bercampur dengan 12 C
yang stabil sebagai H 14 CO 3 - yang terlarut di samudra,
sebagai 14 CO 2 di atmosfer, dan dalam jaringan tumbuhan
dan hewan.
• Ketika tumbuhan dan hewan mati aktivitas spesifik 14 C
adalah 0,225 Bq g -1 .
• Contoh soal : • Sebuah sampel perkakas kayu menunjukan aktivitas spesifik 14 C sebesar
• Contoh soal :
• Sebuah sampel perkakas kayu menunjukan aktivitas spesifik
14 C sebesar 0,195 Bq g -1 . Perkirakan umur perkakas
tersebut! (diketahui aktivitas awal 14 C adalah 0,225 Bq g -1 ).
0,6931
 4
1,21
10
4
th
1
 1
1
(1,21 10
) t
0,195
B q g
 0,225
B q g
e
5730 th
 0,195 
ln 
4
1
  
(1,21
10
th
)
t
A
 A
e
o
t
 2200
th
• Jadi perkakas kayu berasal dari pohon yang ditebang pada
sekitar 2.200 tahun lalu

t

0,225

Peluruhan zat radioaktif • Peluruhan alpha • Peluruhan beta • Peluruhan gamma
Peluruhan zat radioaktif
• Peluruhan alpha
• Peluruhan beta
• Peluruhan gamma

Peluruhan Alpha

Gaya kuat dari inti yang mengandung 210 nukleon

hampir tidak dapat mengimbangi gaya tolak-

menolak protonnya partikel α (inti Helium) lepas dari inti

A

Z

P

A 4

Z 2

D

4

2

H e

Reaksi diatas harus memenuhi hukum kekekalan energi sehingga

M c 2  M c M c 2  2  K  K
M c
2
M c M c
2
2
K
K
p
D
D

Peluruhan Alpha

Total energi yang dilepaskan dalam reaksi adalah

Q

( M M

p

D

M )c

2

Q K

D

K

Jika inti induk mula-mula dalam keadaan diam

maka energi kinetik (K α ) dapat ditulis dalam

hubungan

K

A

4   Q
A

 

Peluruhan Alpha

Peluruhan alfa

meruapakan salah satu

dari peristiwa efek penerowongan (tunneling). Teori peluruhan alfa tidak bisa dijelaskan melalui fisika klasik.

dari peristiwa efek penerowongan (tunneling) . • Teori peluruhan alfa tidak bisa dijelaskan melalui fisika klasik.

Peluruhan Beta

Terdapat dua jenis peluruhan β, yaitu peluruhan β - dan peluruhan β + . Partikel β - dan β + tidak lain adalah elektron dan positron.

Pada peluruhan β - , neutron dapat menjadi proton.

n

p

e

A

Z

P

A

Z 1

D e

A

Z

P

A

Z 1

D e

Z P  A Z  1 D e     • Pada peluruhan

Pada peluruhan β

p

n

e

, proton dikonversi

β p  n  e    , proton dikonversi • Reaksi yang menyaingi

Reaksi yang menyaingi peluruhan β + adalah proses tangkapan elektron.

p

e

n

Dalam peluruhan

beta negatif terjadi perubahan neutron menjadi

proton dan sebaliknya.

negatif terjadi perubahan neutron menjadi proton dan sebaliknya. • Spektrum yang dipancarkan pada peluruhan β
negatif terjadi perubahan neutron menjadi proton dan sebaliknya. • Spektrum yang dipancarkan pada peluruhan β

Spektrum yang

dipancarkan pada

peluruhan β

Peluruhan Beta

Jika hukum kekekalan energi diterapkan pada reaksi

peluruhan beta, dan inti induk dianggap diam,

maka akan diperoleh persamaan

M p

2

2

2

c M c m c K

D

e

total

Q  K  ( M M   m )c 2 total p D
Q 
K
( M M
m )c
2
total
p
D
e

Peluruhan Gamma

Akibat peluruhan alfa

dan beta, inti dapat

berada pada suatu keadaan eksitasi dan mencapai keadaan

dasar setelah

memancarkan sinar

gamma inti

inti dapat berada pada suatu keadaan eksitasi dan mencapai keadaan dasar setelah memancarkan sinar gamma inti
inti dapat berada pada suatu keadaan eksitasi dan mencapai keadaan dasar setelah memancarkan sinar gamma inti

Pemancaran beta yang diikuti pemancaran gamma

dalam peluruhan

27

12

Mg

menjadi

27 Al 13
27
Al
13
Pemancaran beta yang diikuti pemancaran gamma dalam peluruhan 27 12 Mg menjadi 27 Al 13

Peluruhan Berantai

*

A B

*

A

Peluruhan Berantai * A  B *   A B Radioaktif    
Peluruhan Berantai * A  B *   A B Radioaktif    
B
B

Radioaktif

a

b

  A B Radioaktif      a b A  A 
A  A  A total a b dN dt dN A dt
A
A
A
total
a
b
dN
dt
dN
A
dt

A

a

 

a

a

N a

b

 

b

b

N b

Radiasi yang dipancarkan memiliki energi berbeda

Nilai N b tergantung dari peluruhan N a (hasil peluruhan N a )

Laju peluruhan int i B Laju peluruhan A Laju peluruhan B

*

*

*

   

N

*

 

a

N

a

N

b

B

*

B

t

 

dN

*

 

a

N

a

N

b

B

*

B

dt

 

dN

*

a

   
 

B

 

N

 

t

 

a

N e

o

dt

b

B

*

 

N

 

a

N e

a

a

t

b

t

B

*

b

a

 

e

 

Latihan Soal

a) Suatu unsur radioaktif 22 Na dengan t 1/2 =3hari. Hitung cuplikan atom Na jika diinginkan

aktivitasnya 100 Ci.

b) Diberikan suatu reaksi peluruhan A → B → C, A radiaktif dengan t 1/2 = 2,1 tahun, B radioaktif dengan t 1/2 = 4,6 tahun dan C stabil. Jika atom A jumlah awalnya adalah A=1mol, tentukan banyaknya atom C setelah 3 jam.

Hukum-hukum Kekekalan

Kajian tentang berbagai

peluruhan radioaktif dan reaksi

inti memperlihatkan bahwa alam tidak memilih secara sembarang hasil peluruhan dan reaksi yang

terjadi, melainkan terdapat

beberapa hukum tertentu (hukum kekekalan) yang

membatasi suatu hasil yang

mungkin terjadi.

Hukum-hukum kekekalan

dalam peluruhan yaitu :

Kekekalan momentum linear

Kekekalan energi

Kekekalan momentum sudut

Kekekalan muatan listrik

Kekekalan nomor massa

Hukum Kekekalan Energi

Sebelum sampai pada pernyataan mengenai hukum

ini, terlebih dahulu akan dibahas tentang gaya-gaya

konservatif dan nonkonservatif yang bekerja pada partikel.

Gaya Konservatif

Gaya disebut konservatif apabila usaha yang

dilakukan sebuah partikel

untuk memindahkannya dari satu tempat ke tempat lain tidak bergantung pada lintasannya.

Usaha total yang dilakukan oleh gaya konservatif adalah nol apabila partikel bergerak sepanjang lintasan

tertutup dan kembali lagi ke

posisinya semula.

P

1
1

P P

2 Q

1 2
1
2

Contoh gaya-gaya yang bersifat konservatif yaitu gaya pada pegas dan gaya gravitasi

• Contoh gaya-gaya yang bersifat konservatif yaitu gaya pada pegas dan gaya gravitasi

Kekekalan Energi Mekanik

Energi mekanik suatu sistem akan selalu konstan jika gaya yang melakukan usaha adanya adalah gaya konservatif.

Penambahan

(pengurangan) energi

kinetik suatu sistem

konservatif diimbangi dengan pengurangan

(penambahan) energi

potensialnya

diimbangi dengan pengurangan (penambahan) energi potensialnya  K   U  0 E  K
 K   U  0 E  K  U  tetap
 K
 
U
 0
E
K
U
tetap

Gaya nonkonservatif

Gaya disebut tak-konservatif apabila usaha yang

dilakukan sebuah partikel untuk memindahkannya

dari satu tempat ke tempat lain bergantung pada lintasannya.

dari satu tempat ke tempat lain bergantung pada lintasannya. W A B ( sepanjang d )

W AB (sepanjang d) W AB (sepanjang s)

W

1

W

2

W

n

 

K

Teorema usaha energi

Dapat dikelompokan kembali sebagai

0

K

 W   W   W konservatif gesek nonkonservatif
W
W
W
konservatif
gesek
nonkonservatif

 

K

W

 K

U U

nonkonservatif

dalam

  W   K   U  U nonkonservatif dalam dalam  

dalam

perubahan energi bentuk lain

U U

Energi dapat diubah dari satu bentuk ke bentuk lain, tetapi tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan; energi total selalu konstan

Kekekalan energi

Ada banyak bentuk energi.

Kekekalan energi Ada banyak bentuk energi. Dalam hal ini, kita hanya fokus pada dua jenis energi

Dalam hal ini, kita hanya fokus pada dua jenis energi :

1. Energi kinetik (K)

KE = ½ mv 2 jika v jauh lebih kecil dari c (v << c)

2. Energi massa

m = massa c = kecepatan cahaya = 3x10 8 [m/s] E = mc 2
m = massa
c = kecepatan cahaya
= 3x10 8 [m/s]
E = mc 2

Jadi, massa juga merupakan suatu bentuk energi, dan Faktor konversi massa ke energi adalah c 2

Kekekalan Energi

D
D

Total Energy (initially)

= E D

= m D c 2

Misalkan inti D “meluruh” menjadi 2 partikel A and B, lalu berapa energi sistem setelah peluruhan?

A v A
A
v A
B v B
B
v B

E total setelah meluruh

=

= (KE A +m A c 2 ) + (KE B +m B c 2 )

E A

+

E B

Karena energi harus kekal pada saat peluruhan

m D c 2 = (KE A +m A c 2 ) + (KE B +m B c 2 )

Kekekalan Energi

m D c 2 = (KE A +m A c 2 ) + (KE B
m D c 2 = (KE A +m A c 2 ) + (KE B +m B c 2 )

E D

Sebelum meluruh

E A E B
E A
E B

Setelah peluruhan

Kekekalan Energi

Jika massa diam inti X lebih besar daripada massa

diam total X’ + x, kelebihan energi massa ini dilambangkan dengan Q.

2 M ( X c )  M ( X c ') 2  M
2
M
(
X c
)
M
(
X c
')
2 
M
( )
x c
2 
Q
int i
int
i
int
i
2
Q
[ M
(
X
)
M
(
X
')
M
( )]
x c
int
i
int
i
int
i

Kelebihan energi Q muncul sebagai energi kinetik partikel-partikel hasil peluruhan (dianggap X mula- mula diam).

Q K K

X '

x

Kekekalan Momentum Linear

Dari hukum kedua Newton :

d v F  m ; a   Hk Newton II .  a
d
v
F
m
;
a
Hk Newton II
.
 a
dt
d
(
m
v
)
 F
Momentum (p)
dt
d
p
 F 
dt

Jadi hukum kedua Newton juga mengatakan bahwa gaya total

ΣF yang bekerja sebuah partikel sama dengan laju waktu dari

perubahan kombinasi massa dan kecepatan (mv). Kombinasi ini disebut dengan momentum linear dan diberi simbol p.

Kekekalan Momentum Linear

Catatan :

Momentum memiliki arah, yang diberikan oleh arah kecepatan.

Partikel-partikel yang bergerak dalam arah berlawanan memiliki

momentum dengan tanda yang berbeda.

m 1 v 1
m 1
v 1

p 1 = m 1 v 1

p 2 = -m 2 v 2

v 2 m 2
v 2
m 2

Kekekalan Momentum Linear

Partikel yang bergerak memiliki momentum p=mv dan energi kinetik E k = ½mv 2 . keduanya tergantung pada massa dan kecepatan partikel. Dimana letak perbedaan mendasar keduanya?

Kekekalan Momentum Linear

Impulse dari gaya total, dilambangkan sebagai J,

didefinisikan sebagai hasil kali gaya total dengan

selang waktu.

J

F(

t t

2

1

)

F

t

Hubungan impuls dan momentum dapat dicari

melalui hukum kedua Newton dan diperoleh

F (

t

2

t

)

J

1

p

p

2

2

p

p

1

1

Kekekalan Momentum Linear

Misalkan anda mempunyai pilihan antara

menangkap bola 0,50 kg yang bergerak pada 4,0

m/s atau bola 0,10 kg yang bergerak pada 20 m/s. yang mana yang lebih mudah ditangkap?

Cari momentum dan energi kinetik masing-masing bola!

Kekekalan Momentum Linear

Jika terdapat n partikel bermassa m 1 , m 2 ,…,m n , yang masing-masing memiliki kecepatan dan

momentum, maka momentum totalnya

F

luar

M

a

P

p

1

m

1

v

1

p

2

m

2

v

p

2

P

M

v

pusat massa

n

pusat massa

maka

d

P

dt

M

Jadi F

luar

d P

dt

m

n

v

n

d

v

pusat massa

dt

M

a

pusat massa

Kekekalan Momentum Linear

Jika gaya luar resultan yang bekerja pada sistem

sama dengan nol (dP/dt = 0; P=konstan), maka

vektor momentum total sistem akan konstan.

Momentum masing-masing partikel dapat berubah,

p

1

tetapi jumlahnya tetap konstan jika tidak ada gaya

p tetap

n

p

luar.

2

Tumbukan elastik

Energi kinetik setelah tumbukan lebih besar

daripada sebelum tumbukan

Tumbukan elastik • Energi kinetik setelah tumbukan lebih besar daripada sebelum tumbukan
Tumbukan elastik • Energi kinetik setelah tumbukan lebih besar daripada sebelum tumbukan

Tumbukan nonelastik

Tumbukan nonelastik

Momentum Sudut

Untuk suatu partikel dengan massa konstan m,

kecepatan v, momentum p, dan posisi vektor r

relatif terhadap titik asal O dari kerangka inersia, kita definisikan momentum sudut L sebagai

L rp rmv

terhadap titik asal O dari kerangka inersia, kita definisikan momentum sudut L sebagai L  r

Ketika gaya total F bekerja pada suatu partikel, kecepatan dan momentumnya berubah, sehingga momentum sudutnya bisa juga berubah.

Laju perubahan momentum sudut dari suatu partikel

sama dengan torsi dari gaya total yang bekerja terhadapnya.

d L

d r

dt dt

dL

dt

m

 

v

r

m

d v

dt

(v

m

v)

(r

m

a)

d L

dt

untuk sistem partikel

Vektor kecepatan sudut ω juga berada disepanjang sumbu

putar, oleh sebab itu,

untuk benda tegar yang

berputar mengelilingi sumbu simetri, L dan ω

mempunyai arah yang

sama. Maka kita mempunyai hubungan vektor

 L  I  

L I

Ketika torsi luar

total yang bekerja pada sistem sama dengan nol, momentum sudut total dari sistem adalah konstan

(kekal)

yang bekerja pada sistem sama dengan nol, momentum sudut total dari sistem adalah konstan (kekal) d
yang bekerja pada sistem sama dengan nol, momentum sudut total dari sistem adalah konstan (kekal) d

d L

dt

0

Kekekalan Momentum Sudut

Dalam kajian mengenati inti atom, seringkali

ditemukan momentum sudut spin s dan orbital l.

Pada fenomena peluruhan, dalam kerangka diam dari inti atom X, ketika inti X mengalami peluruhan, maka kekekalan momentum sudut mensyaratkan bahwa :

s  s  s  l  l X X ' x X '
s
s
s
l
l
X
X '
x
X
'
x

Kekekalan Muatan Listrik

Ketika sejumlah muatan tertentu dihasilkan dalam

sebuah objek, sejumlah mutan yang sama namun

berlawanan juga akan dihasilkan.

Net charge produced is zero

dihasilkan dalam sebuah objek, sejumlah mutan yang sama namun berlawanan juga akan dihasilkan. Net charge produced

Kekekalan Muatan Listrik

Hukum kekekalan muatan listrik mensyaratkan

bahwa muatan listrik total sebelum dan setelah

peluruhan harus tidak berubah atau sama besar.

Contoh peluruhan yang memenuhi hukum ini :

n

p

e

p

n

e

 

p

e

n

Kekekalan Nomor Massa

Dalam proses peluruhan, jumlah nomor massa A

tidak berubah sebelum atau sesudah reaksi,

meskipun dalam beberapa proses peluruhan, neutron dapat berubah menjadi proton atau sebaliknya.

Kekekalan Nomor Massa

Contoh

14

6

14

7

0

1

0

0

C

N

Sebuah neutron meluruh menjadi proton disertai dengan pemancaran elektron; walaupun pada

reaksi tersebut, satu partikel (neutron) digantikan

oleh dua partikel (proton dan elektron), namun nomor massa sebelum dan sesudah reaksi kekal.

Interaksi Radiasi Terhadap Materi

Radiasi alfa dan beta

merupakan partikel bermuatan. Radiasi alfa

tidak lain adalah partikel

Helium-4 sedangkan radiasi beta merupakan.

Ketika mengenai

materi mungkin akan terjadi proses

Ionisasi

Eksitasi

Absorbsi

Interaksi Radiasi Terhadap Materi

Ketika radiasi gamma (radiasi EM) mengenai materi

kemungkinan yang terjadi adalah

Efek fotolistrik

Efek compton

Produksi pasangan

Ionisasi

Proses fisis yang

mengubah suatu atom

atau molekul menjadi ion melalui penambahan atau

pelepasan partikel

bermuatan seperti elektron atau lainnya.

atom atau molekul menjadi ion melalui penambahan atau pelepasan partikel bermuatan seperti elektron atau lainnya.

Eksitasi

Menurut teori atom Bohr, elektron-

elektron mengelilingi inti atom (seperti planet-planet mengitari matahari) tanpa mengeluarkan radiasi EM (keadaan stasioner)

Keadaan energi elektron terkuantisasi : energi bersifat diskrit dan tidak boleh bernilai sembarang

: energi bersifat diskrit dan tidak boleh bernilai sembarang E n   me  4

E

n

 

me

4

1

n

8

2

0

h

2

2

  

E

1

n

2

n = 1, 2, 3, 4,.

Jika elektron mendapat energi dari luar, elektron

berpindah dari tingkat energi lebih rendah ke yang

lebih tinggi (eksitasi). Dalam waktu singkat kembali lagi ke tingkat energi lebih rendah (deeksitasi) sambil memancarkan foton.

Jika elektron mengalami deeksitasi dari n2 ke n1, maka energi foton yang dipancarkan dapat dihitung dengan mencari selisihny yaitu

E

foton

E

n2

E

n1

Absorbsi

Peristiwa absorbsi

adalah peristiwa terserapnya partikel radiasi oleh suatu

bahan yang terkena

radiasi Proses penyerapan mengikuti persamaan

I I

0

t

e

Radiasi mula-mula I o
Radiasi
mula-mula
I
o

μ

Radiasi

akhir I
akhir
I

Efek fotolistrik

Interaksi radiasi EM dengan sebuah elektron yang terikat

kuat dalam atom dan elektron

menyerap seluruh energi radiasi tersebut.

Jika energi yang diserap

elektron lebih besar dari

frekuensi ambang, elektron akan lepas dan selisihnya merupakan energi kinetik E k elektron.

ambang, elektron akan lepas dan selisihnya merupakan energi kinetik E k elektron. E k  h

E k

hE

b

Eksperimen Efek Fotolistrik

Hubungan potensial

penghenti dan frekuensi ambang?

Hubungan intensitas

dengan potensial

penghenti?

Selang waktu terjadinya arus fotolistrik ?

Hubungan intensitas terhadap kuat arus fotolistrik?

foton emitter kolektor + - elektron V A
foton
emitter
kolektor
+
-
elektron
V
A

No

Bahan

Fungsi kerja (eV)

1

Tungsten

4,5

2

Litium

2,3

3

Aluminium

4,2

4

Barium

2,5

Efek compton

Jika radiasi EM (foton)

mengenai elektron terluar dari

suatu atom, elektron akan menyerap sebagian energi dan terhambur sebesar sudut terhadap arah gerak radiasi

datang.

Perbedaan panjang gelombang (λ) radiasi EM sebelum dan sesudah tumbukan dengan elektron

dilukiskan oleh persamaan

'

h

m c

e

2

(1

cos

)

elektron dilukiskan oleh persamaan     ' h m c e 2 (1 
elektron dilukiskan oleh persamaan     ' h m c e 2 (1 

Produksi pasangan

Produksi pasangan terjadi

karena interaksi antara foton dengan medan listrik dalam inti atom berat.

Foton akan lenyap dan

digantikan oleh sepasang

elektron-positron

Berdasarkan hukum

kekekalan energi diperoleh

persamaan

hv m c m c K K 2 m c

0

2

2

2

energi diperoleh persamaan hv  m c  m c  K  K  2

Kebalikan proses produksi pasangan dapat juga terjadi dan

dinamakan pemisahan pasangan

Kekekalan energi mensyaratkan bahwa, dengan mengabaikan energi kinetik elektron dan positron, masing-masing foton yang

dipancarkan harus memiliki energi yang sama dengan energi diam

kedua partikel tersebut.

Persamaan yang diperoleh dari peristiwa ini berdasarkan hukum kekekalan energi dan momentumyaitu:

2m c

0

2 K

K

hv hv

1

2

h

h

m

v

m

v

k

1

k

2

 

 

2

2

m  v  m v  k 1  k 2     

Lintasan

bahan

radiasi

dalam

gamma

Lintasan bahan radiasi dalam gamma

Lintasan

bahan

radiasi

dalam

gamma

Lintasan bahan radiasi dalam gamma

Koefisien atenuasi (μ) radiasi gamma

Total koefisien atenuasi (μ) adalah jumlah koefisien

untuk masing-masing mode interaksi foton dengan

materi.

Dimana τ, σ, κ berturut-turut adalah koefisiean karena efek fotolistrik, efek compton dan produksi pasangan.

Pengaruh energi koefisien atenuasi/absorbsi foton

Pengaruh energi koefisien atenuasi/absorbsi foton

Pengaruh nomor atom (Z)

koefisien atenuasi/absorbsi foton

Pengaruh nomor atom (Z) koefisien atenuasi/absorbsi foton

Latihan Soal

Dalam suatu proses hamburan Compton didapat

energi kinetik elektron sebesar 75 keV dan energi

foton terhambur sebesar 200 keV. Tentukan besar energi foton datang serta sudut-sudut hamburan dari elektron dan foton terhambur.

Pengukuran Radiasi

Detektor dibutuhkan untuk mendeteksi radiasi

Jenis detektor yang sering digunakan yaitu, isian gas,

sintilasi, dan semikonduktor

Alat ukur radiasidetektor + perangkat elektronik

Interaksi radiasi terhadap materi detektor sedemikian rupa

sehingga respon alat sebanding dengan efek radiasi atau

sifat radiasi yang diukur

Detektor Isian Gas

Detektor kamar ionisasi

Detektor proporsional

Detektor geiger-mueller

• Detektor kamar ionisasi • Detektor proporsional • Detektor geiger-mueller
Detektor Isian Gas • Detektor kamar ionisasi • Detektor proporsional • Detektor geiger-mueller

Detektor Sintilasi

Radiasi nuklir yang mengenai materi detektor ini akan

menimbulkan pendar cahaya. Pendar cahaya menghasilkan elektron setelah menabrak fotokatoda. Elektron diproses dalam dinoda Output

cahaya. Pendar cahaya menghasilkan elektron setelah menabrak fotokatoda. Elektron diproses dalam dinoda  Output

Detektor Semikonduktor

Bahan semikonduktor pertengahan bahan konduktor dan isolator

Semikonduktor tipe-p pembawa mayoritas adalah lubang

Semikonduktor tipe-n pembawa mayoritas adalah elektron

Pertemuan semikonduktor tipe-p dan tipe-n menimbulkan suatu sambungan p-n (p-n junction)

mayoritas adalah elektron • Pertemuan semikonduktor tipe-p dan tipe-n menimbulkan suatu sambungan p-n (p-n junction)

Detektor Semikonduktor (lanjutan)

Sambungan p-n diberi

tegangan bias balik dan menimbulkan daerah deplesi (depletion region)

Radiasi yang mengenai

detektor menghasilkan

pasangan lubang-elektron

Medan listrik akibat bias balik menggiring muatan

keluar sambungan p-n

Terbentuk pulsa listrik

• Medan listrik akibat bias balik menggiring muatan keluar sambungan p-n Terbentuk pulsa listrik 

Dosimetri Radiasi

Metode pengukuran dosis radiasi dikena dengan

sebutan dosimeteri radiasi.

Radiasi mempunyai satuan karena radiasi membawa atau mentransfer energi dari sumber radiasi yang diteruskan kepada medium yang menerima radiasi.

Besaran-besaran dosimetri yang sering digunakan yaitu, dosis serap, dosis ekuivalen, dan dosis efektif.

Dosis serap

Dosis serap didefinisikan sebagai jumlah energi

radiasi yang diserap per satua massa bahan yang

menerima penyinaran.

dE D  dm
dE
D 
dm

D = Dosis serap (joule/kg=Gray ; 1 Gray = 100 Rad)

E = Energi yang diserap oleh medium (joule)

m = massa medium (kg)

Dosis ekuivalen

Harga dosis serap yang berlainan yang berasal dari beberapa jenis radiasi, namun mengakibatkan kerusakan sistem biologis yang sama

perlu diperhatikan.

Misalnya kerusakan biologis yang disebabkan oleh radiasi neutron cepat sebesar 0,01 Gy (atau 1 Rad) akan sama akibatnya dengan yang disebabkan oleh radiasi gamma sebesar 0,1 Gy (atau 10 Rad).

Tingkat kerusakan pada sistem biologis yang mungkin ditimbulkan oleh radiasi tidak hanya tergantung pada dosis serapnya saja, akan tetapi tergantung juga pada jenis radiasinya.

Persoalan ini dihitung menggunakan besaran yang disebut dosis ekuivalen. Satuan dosis ekuivalen adalah Sievert (Sv) dan Rem. 1 Sv=

100 rem

Dosis ekuvalen = Dosis serap x faktor bobot radiasi

Nilai faktor bobot radiasi tergantung pada jenis radiasi. Nilai faktor bobot untuk beberapa radiasi yaitu sebagai berikut :

Jenis dan rentang energi radiasi

Faktor bobot radiasi (w R )