Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH NUTRISI

GIZI DAN IMUNITAS











DISUSUN OLEH :

Rani Nurizati 12334712
Riska Diaferina 12334722
Riza Apriani 12334729
Yeti Putri Utami 12334737

PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
JAKARTA
2014
2

KATA PENGANTAR


Puji syukur bagi Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan karunia-Nyasehingga penulis
berhasil menyelesaikan makalah yang berjudul Gizi dan Imunitas. Makalah ini disusun
untuk memenuhi tugas mata kuliah Nutrisi Institut Sains Teknologi Nasional

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini untuk menambah wawasan pembaca mengenai
bagaimana hubungan gizi dan sistem imun. Materi materi yang ada di dalam makalah ini
bersumber dari berbagai macam referensi dengan harapan untuk meningkatkan kulitas
penulisan makalah. Adapun materi yang akan dibahas adalah bagaimana mengetahui
pengaruh gizi terhadap keoptimalan kerja sistem imun

Penulis berharap makalah ini akan membantu pehaman konsep dan daat dijadikan sebagai
sumber revensi pembelajaran. Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.
Untuk itu, penulis mengharapkan adanya krtik dan saran dari berbagai pihak untuk membantu
kemajuan penulisan makalah ini. Akhir kata, penulis mengucapkan selamat membaca dan
memahami makalh ini semoga bermanfaat.


Jakarta, Juni 2014



Penulis








3

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ............................................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ....................................................................................................... 1
1.3 Tujuan Penulisan ......................................................................................................... 2
1.4 Manfaat Penulisan ....................................................................................................... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...................................... Error! Bookmark not defined.3
2.1 Pengertian Gizi ............................................................................................................ 3
2.2 Fungsi dari Gizi ........................................................................................................... 3
2.3 Macam macam Zat Gizi ........................................................................................... 3
2.4 Pembagian Zat Gizi berdasarkan Fungsinya .............................................................. 4
2.5 Pembagian Zat Gizi Menurut Kebutuhan.................................................................... 4
2.6 Pengertian Gizi Seimbang ........................................................................................... 4
2.7 Komposisi Gizi Seimbang ........................................................................................... 4
2.8 Sistem Imun................................................................................................................. 5
2.9 Fungsi Sistem Imun ..................................................................................................... 6
2.10 Klasifikasi Sistem Imun .............................................................................................. 6
2.11 Macam macam Kekebalan Tubuh .......................................................................... 10
2.12 Hubungan Gizi dan Sistem Imun .............................................................................. 11
BAB III DISKUSI ............................................................................................................... 17
3.1 Hubungan Gizi dengan Penderita ODHA ................................................................. 17
BAB IV PENUTUP ............................................................................................................. 21
4.1 Kesimpulan................................................................................................................ 21
4.2 Saran .......................................................................................................................... 21
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 22
4

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Sistem pertahanan tubuh merupakan gabungan sel, molekul, dan jaringan yang
berperan dalam resistensi terhadap bahan atau zat yang masuk kedalam tubuh. Jika
bakteri patogen berhasil menembus garis pertahanan pertama, tubuh melawan dengan
reaksi radang (inflamasi) atau reaksi imun yang spesifik. Reaksi yang dikoordinasikan
sel-sel dan molekul terhadap banda asing yang masuk kedalam tubuh disebut respon
imun. Sistem imun ini sangat diperlukan tubuh untuk mempertahankan keutuhannya
terhadap bahaya yang dapat ditimbulkan oleh berbagai bahan atau zat dari lingkungan
hidup. Untuk melawan benda asing, tubuh memiliki sistem pertahanan yang kuat dengan
menjaga keoptimalan kerjanya melalui asupan gizi yang berimbang.
Gizi dan imunitas merupakan dua hal yang saling berhubungan. Dalam beberapa
dekade terakhir, banyak studi yang sudah mengkonfirmasi bahwa defisiensi zat-zat gizi
dapat mengubah respon imun dan memicu timbulnya insidens infeksi yang menyebabkan
meningkatnya angka kematian, terutama pada anak-anak. KEP (Kurang Energi Protein)
banyak terjadi di negara berkembang dan mengakibatkan perubahan jumlah sel T, sel
fagosit, dan respon antibodi imunoglobulin (Ig) A, dan mengurangi komponen
komplemen.
Berdasarkan keterkaitan di atas, dalam makalah ini akan dibahas lebih lanjut
mengenai hubungan antara gizi dan imunitas.

1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Gizi ?
2. Apa fungsi Gizi bagi tubuh ?
3. Bagaimana pengelompokan zat Gizi ?
4. Apa pengertian Gizi seimbang ?
5. Apa yang dimaksud dengan Sistem Imun ?
6. Apa fungsi Sistem Imun bagi tubuh ?
7. Bagaimana klasifikasi Sistem Imun dalam tubuh ?
8. Bagaimana hubungan Gizi dan Sistem Imun ?

5


1.3 Tujuan
1. Menjelaskan apa itu Gizi.
2. Menjelaskan fungsi Gizi bagi tubuh.
3. Menjelaskan pengelompokan zat Gizi.
4. Menjelaskan pengertian Gizi seimbang.
5. Menjelaskan apa itu Sistem Imun.
6. Menjelaskan fungsi Sistem Imun bagi tubuh.
7. Menjelaskan pengklasifikasian Sistem Imun dalam tubuh.
8. Menjelaskan bagaimana hubungan Gizi dan Sistem Imun

1.4 Manfaat
1. Menambah wawasan mahasiswa mengenai hubungan antara gizi dan imunitas.
2. Mengetahui hal-hal penting faktor-faktor gizi yang dapat mempengaruhi imunitas




















6

BAB II
PEMBAHASAN


2.1 Pengertian Gizi
Secara etimologi, kata gizi berasal dari bahasa Arab yaitu ghidza, yang berarti
makanan.Menurut dialek Mesir, ghidza dibaca ghizi. Gizi adalah proses makhluk hidup
menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses digesti
(penyerapan), absorpsi, transportasi, penyimpanan, metabolism dan pengeluaran zat-zat
yang tidak digunakan, untu kmempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi
normal dari organ-organ, serta menghasilkan energi.
Seiring dengan perkembangan ilmiah di bidang medis dan biologi molekular, bukti-
bukti medis menunjukkan bahwa RDA (Recommended Dietary Allowance/ Angka
Kecukupan Gizi) belum mencukupi untuk menjaga fungsi optimal tubuh dan mencegah
atau membantu penanganan penyakit kronis. Bukti-bukti medis menunjukkan bahwa akar
dari banyak penyakit kronis adalah stres oksidatif yang disebabkan oleh berlebihnya
radikal bebas di dalam tubuh. Penggunaan nutrisi dalam level yang optimal, dikenal
dengan Optimal Daily Allowance (ODA), terbukti dapat mencegah dan menangani stres
oksidatif sehingga membantu pencegahan penyakit kronis. Level optimal ini dapat
dicapai bila jumlah dan komposisi nutrisi yang digunakan tepat. Dalam penanganan
penyakit, penggunaan nutrisi sebagai pengobatan komplementer dapat membantu
efektifitas dari pengobatan dan pada saat yang bersamaan mengatasi efek samping dari
pengobatan. Karena itu, nutrisi / gizi sangat erat kaitannya dengan kesehatan yang
optimal dan peningkatan kualitas hidup.

2.2 Fungsi dari Gizi
1. Memelihara tubuh dalam proses tumbuhkembangan serta mengganti jaringan tubuh
yang rusak.
2. Memberika asupan energi untuk melakukan aktivitas.
3. Mengatur metabolisme dan keseimbangan air, mineral dan cairan tubuh yang lain.
4. Berperan dalam mekanisme pertahanan tubuh terhadap berbagai penyakit (protein).

2.3 Macam-macamzatgizi :
1. Karbohidrat.
7

2. Protein.
3. Lemak.
4. Vitamin.
5. Mineral.
6. Air.

2.4 Pembagian zat gizi berdasarkan fungsinya :
1. Zat tenaga terdiri dari karbohidrat dan lemak.
2. Zat pembangun terdiri dari protein dan mineral.
3. Zat pengatur terdiri dari mineral, vitamin, dan air.

2.5 Pembagian zat gizi menurut kebutuhan
1. Makronutrien
a. Karbohidrat: Glukosa, Serat.
b. Lemak: Asam linoleat (omega-6); asam linolenat (omega-3).
c. Protein: Asam-asam amino, leusin, isoleusin, lisin, metionin, fenilalanin,
treonin, valin, histidin dan nitrogen nonesensial.

2. Mikronutrien
a. Mineral: Kalsium, Fosfor, Natrium, Kalium, Sulfur, Klor, Magnesium, Zat
besi, Selenium, Seng, Mangan, Tembaga, Kobalt, Iodium, Krom, Fluor,
Timah, Nikel, Silikon, Arsen, Boron, Vanadium, Molibden.
b. Vitamin: Vitamin A (retinol), vitamin D (kolekalsiferol), vitamin E
(tokoferol), vitamin K, Tiamin, Riboflavin, Niasin, Biotin, Folasin, Vitamin
B6, Vitamin B12, Asam pantotenat dan Vitamin C.
c. Air

2.6 Pengertian gizi seimbang
Gizi seimbang adalah pola makan teratur dan proporsi seimbang antar zat gizi yang
diperoleh dari aneka ragam makanan tersebut dalam memenuhi kebutuhan zat gizi untuk
hidup sehat, cerdas dan produktif.

2.7 Komposisi gizi yang seimbang
Berikut ini adalah gambar pola dari proporsi gizi seimbang.
8



Bahan makanan dikelompokan berdasarkan fungsi utama zat gizi, yang dikenal
dengan istilah Tri Guna Makanan, yaitu :
a. Sumber zat tenaga (padi-padian, umbi-umbian, dan tepung-tepungan)
b. Sumber zat pengatur (sayur dan buah-buahan)
c. Sumber zat pembangun (kacang-kacangan, makanan hewani dan hasil
pengolahannya)
Dari gambar tersebut dapat dijelaskan bahwa yang berada pada tingkat yang paling
bawah merupakan bahan makanan yang proporsinya paling banyak dibandingkan dengan
baham makanan yang lain.

2.8 Sistem Imun
Sistem kekebalan tubuh atau sistem imun adalah sistem perlindungan dari pengaruh
luarbiologis yang dilakukan oleh sel dan organ khusus pada suatu organisme. Jika system
kekebalan bekerja dengan benar, system ini akan melindungi tubuh terhadap infeksi
bakteri dan virus serta menghancurkan sel kanker dan zat asing lain dalam tubuh. Jika
system kekebalan melemah, kemampuannya melindungi tubuh juga berkurang, sehingga
menyebabkan patogen, termasuk virus yang menyebabkan penyakit, dapat berkembang
dalam tubuh. Kekuatan dari aktivasi kekebalan tubuh ini dipengaruhi juga oleh asupan
gizi yang diterima oleh tubuh. Sistem kekebalan juga memberikan pengawasan terhadap
9

sel tumor dan terhambatnya system ini juga telah dilaporkan meningkatkan resiko terkena
beberapa jenis kanker.

2.9 Fungsi Sistem Imun
Sistem imun memiliki 3 peran atau fungsi dalam metabolisme tubuh yaitu :
1. Pertahanan, yaitu menangkal bahan berbahaya agar tubuh tidak sakit, dan jika sel-sel
imun yang bertugas untuk pertahanan ini mendapatkan gangguan atau tidak bekerja
dengan baik, maka tubuh akan mudah terserang penyakit.
2. Keseimbangan, atau fungsi homeostatik artinya menjaga keseimbangan dari
komponen cairan tubuh.
3. Penjagaan, sebagian dari sel-sel imun memiliki kemampuan untuk memantau seluruh
bagian tubuh. Jika ada sel-sel tubuh yang mengalami mutasi maka sel tersebut akan
dihancurkan.

2.10 Klasifikasi Sistem Imun
1. Sistem Limfatik
Sistem limfatik terdiri dari dua bagian penting, yaitu pembuluh limfa dan organ
limfoid. Limfa adalah sebutan yang digunakan untuk cairan yang berada didalam
pembuluh limfa. Awalnya limfa berasal dari plasma darah yang merembes keluar
dari pembuluh kapiler di sistem peredaran darah. Cairan tersebut keluar menjadi
carian intertisial yang mengisi ruang antara sel-sel di jaringan. Setelah beredar ke
seluruh tubuh, cairan tersebut dikumpulkan dan dikembalikan ke sistem peredaran
darah melalui sistem limfatik. Fungsi dari sistem limfatik yaitu :
- Mengambil kelebihan cairan dari jaringan dan mengembalikannya ke
darah.
- Mengadsorbsi lemak dan lakteal di usus halus kemudian mengangkutnya
ke darah.
- Membantu pertahanan tubuh melawan penyakit.

a. Pembuluh Limfa
Pembuluh limfa merupakan bagian penting dalam sistem peredaran
limfa. Pembuluh limfa berfungsi untuk mengangkut cairan kembali ke
peredaran darah dalam peredaran terbuka. Limfa dari jaringan tubuh akan
masuk ke kapiler limfa, kapiler limfa akan bergabung dengan kapiler limfa
10

lainnya untuk membentuk pembuluh limfa yang lebih besar. Pembuluh limfa
akan berpusat pada pembuluh limfa dada. Aliran limfa dalam pembuluh limfa
dipengaruhi oleh kontraksi otot rangka. Disepanjang pembuluh limfa terdapat
buku limfa yang berbentuk seperti bulatan kecil.
Semua cairan limfa yang berasal dari daerah kepala, leher, dada, paru-
paru, jantung dan lengan kanan yang terkumpul dalam pembuluh-pembuluh
limfa kanan (duktus limfatikus dokster). Pembuluh limfa ini bermuara pada
pembuluh balik vena dibawah tulang selangka kanan. Cairan yang berasal
dari bagian selain yang bermuara di pembuluh limfa kanan bermuara pada
pembuluh limfa dada (duktus torksikus) yang bermuara di tulang selangka
kiri.

b. Organ-Organ Limfoid
Organ-organ limfoid mencakup :
- Sumsum merah
Sumsum merah mencakup jaringan yang menghasilkan limfosit. Saat
dilepaskan dari sumsum merah, sel-sel limfoid masih identik.
Perkembangan berikutnya akan menjadi sel B dan sel T (tergantung dari
tempat pematangannya). Sel B menalami pematangan di Sumsum merah
sedangakn sel T mengalami pematangan di Timus. Kedua jenis limfosit
tersebut bersirkulasi di seluruh tubuh dan limfa, kemudian terkonsentrasi
dalam limpa, nodus limpa dan jaringan limfatik.

- Nodus Limfa
Nodus limfa diselubungi oleh jaringan ikat longgar yang membagi
nodus menjadi nodulus-nodulus. Tiap nodulus mengandung ruang-ruang
(sinus) yang berisi limfosit dan makrofag. Saat cairan limfa melewati sinus
maka makrofag akan memakan bakteri dan mikroorganisme lain yang
terbawa. Jadi, Fungsi nodus limfa adalah menyaring mikroorganisme yang
ada dalam limfa. Nodus Limfa dapat bersifat tunggal maupun
berkelompok.



11

- Limpa
Limpa adalah organel limfoid terbesar. Limpa mempunyai dua fungsi,
yaitu membuang antigen yang terdapat dalam darah serta menghancurkan
sel darah merah yang sudah tua.
- Timus
Timus adalah tempat dimana limfosit berkembang menjadi sel T.
Timus mengsekresikan hormon timopoietin yang menyebabkan kekebalan
pada sel T. Timus berbeda dengan organ yang lain karena hanya berfungsi
untuk tempat pematangan limfoid. Selain itu timus merupakan satu-
satunya organ limfoid yang memerangi antigen secara langsung.
- Tosil
Tonsil adalah organ limfoid yang paling sederhana yang berfungsi
melawan infeksi pada saluran pernafasan bagian atas dan faring. Tonsil
pada manusia mencakup adenoid, tonsil saluran, palatin dan lidah

2. Sistem Kekebalan (Imunitas)
Tubuh memiliki sistem kekebalan yang berlapis. Untuk dapat masuk ke dalam
jaringan tubuh, benda asing harus melewati beberapa penghalang terlebih dahulu,
antara lain yaitu: kulit, membram mukosa, protein antimikroba, sel fagosit dan
limfosit. Sistem kekebalan terdiri dari sistem kekebalan bawaan dan adaftif.
a. Kekebalan Bawaan
Kekebalan bawaan merupakan bagian dari tubuh kita. Penghalang
yang melindungi tubuh, sel dan senyawa kimia yang berfungsi sebagai
pertahanan pertama dan telah ada sejak kita dilahirkan.
b. Perlindungan permukaan
Kulit dan membran mukosa merupakan lapisan pertama tubuh. Apabila
mikroba yang menghasilkan lendir akan menjerat mikroba tersebut dan
menetralisirnya.
c. Kekebalan dalam tubuh
Jika mikroba berhasil melewati penghalang pertama yaitu kulit maka
masih ada lapisan berikutnya yang bersiap menghalang. Penghalang yang
dimaksud adalah perlindungan dalam tubuh yang bersifat nonspesifik. Arti
dari Nonspesifik adalah penghalang tersebut melawan semua patogen tanpa
12

membeda-bedakan. Perlindungan nonspesifik ini mencakup antara lain
fagosit, Sel natural kileer (NK) dan protein antimikroba.
- Fagosit
Sel yang termasuk fagosit adalah makrofag, neutrofil dan eosinofil.
Makrofag mampu menfagosit 100 bakteri dengan cara menempelkan
bagian tubuhnya ke bakteri dengan kaki psedupodiumnya (kaki semu
amoeba) kemudian merusaknya atau memecahnya. Eosinofil merupakan
fagosit yang lemah, tetapi berperan penting dalam pertahanan tubuh
melawan cacing parasit. Sel yang telah dirusak oleh makrofag tadi akan
memberi sinyal yang berfungsi untuk memanggil neutrofil untuk
mendatangi jaringan yang telah terinfeksi. Caranya neutrofil akan keluar
dari pembuluh darah dengan menembus dinding kapiler. Neutrofil akan
menelan dan menghancurkan mikroba tersebut. Satu neutrofil mampu
mefagosit 5-20 bakteri. Saat neutrofil melakukan tugasnya melawan benda
asing, monosit akan menyusul mendatangi daerah luka. Monosit dihasilkan
di sumsum darah merah dan akan masuk ke peredaran darah.
- Sel Natural Killer (sel NK)
Sel NK berjaga di sistem peredaran darah dan limfatik. Sel NK
merupakan sel pertahanan yang mampu melisis dan membunuh sel-sel
kanker serta sel tubuh yang terinfeksi virus sebelum diaktifkan sistem
kekebalan adaftif. Sel NK tidak bersifat fagositik. Sel-sel ini membunuh
dengan cara menyerang membran sel target dan melepaskan senyawa
kimia yang disebut ferforin.
- Protein Antimikroba
Protein antimikroba meningkatkan pertahanan dalam tubuh dengan
melawan mikroorganisme secara langsung atau dengan menghalangi
kemapuannya untuk bereproduksi. Protein antimikroba yang penting
adalah interferon dan protein komplement. Interferon merupakan sustu
protein yang dihasilkan oleh sel-sel tubuh yang terinfeksi virus untuk
melindungi bagian sel lain disekitarnya. Interferon mampu menghambat
perbanyakan sel-sel yang terinfeksi, namun dapat meningkatkan
diferensiasi sel-sel.
Protein komplementer adalah sekelompok plasma protein yang
bersirkulasi di darah dalam keadaan tidak aktif. Protein komplement dapat
13

diaktifkan oleh munculnya ikatan antigen dan antibodi atau jika protein
komplement bertemu dengan molekul polisakarida dipermukaan tubuh
mikroorganisme.

d. Kekebalan Adaftif
Sistem kekebalan adaftif diaktifkan oleh sistem kekebalan bawaan.
Kekebalan adaptif mampu mengenali dan mengingat patogen spesifik
sehingga dapat bersiap bila infeksi patogen yang sama terjadi dikemudian
hari. Contoh sistem kekebaln adaptif yang penting adalah limfosit.
- Limfosit
Seperti yang telah dijelaskan dalam sistem limfatik, limfosit akan
berkembang menjadi dua jenis sel, yaitu sel B dan sel T.
Sel T umumnya bekerja melawan antigen sel ekariotik, misalnya jamur
atau sel hasil tranplantasi. Sel T juga dapat menghancurkan sel tubuh yang
terinfeksi virus atau patogen lainnya dan dapat membunuh sel kanker. Sel
B bekerja melawan antigen berupa bakteri dan racun bakteri yang masuk
ke dalam tubuh.
Jika ada protein asing (antigen) masuk ke dalam tubuh, sel B yang
telah terspesialisasi akan menghasilkan protein yang disebut dengan
antibodi.
Antibodi merupakan protein plasma yang dihasilkan oleh limfosit B.
Antibodi disebut juga dengan imunioglobulin (Ig) karena memiliki protein
darah gammaglobulin. Antibodi dihasilkan oleh individu bila ada
rangsangan antigen. Ada tiga jenis antigen, yaitu
Heteroantigen, merupakan antigen yang berasal dari spesies lain.
Isoantigen, merupakan antigen dari spesiaes yang sama tetapi struktur
genetikanya berbeda.
Autoantigen, merupakan antigen yng berasal dari tubuh itu sendiri dan
menyebabkan pembentukan antibodi tubuh juga.

2.11 Macam-Macam Kekebalan Tubuh
1. Kekebalan Aktif
Kekebalan aktif adalah bila tubuh menghasilkan antibodi untuk menahan
molekul asing (antigen). Kekebalan yang didapat setelah seseorang mengalami sakit
14

disebut kekebalan aktif yang alami. Mekanismenya, kuman penyakit yang masuk ke
dalam tubuh telah merangsang tubuh menghasilkan antibodi untuk melawan
penyakit. Bila penyakit yang sama menyerang kembali, tubuh menjadi memiliki
antibodi sehingga tubuh menjadi kebal dan tidak mudah terserang penyakit.
Kekebalan aktif dapat juga terbentuk secara buatan, yaitu dengan vaksinasi.
Vaksin dapat berupa racun bakteri, mikroorganisme yang telah dilemahkan atau
mirkoorganisme mati. Dengan pemberian vaksin antibodi tubuh jadi lebih kuat
terhadap serangan penyakit. Misalanya, vaksin polio diberikan pada anak agar anak
tersebut kebal terhadap virus polio karena telah memiliki antibodi.
2. Kekebalan Pasif
Kekebalan pasif adalah kekebalan yang didapat dari pemindahan antibodi dari
suatu individu ke individu yang lainnya. Hal ini dapat terjadi secara alami pada bayi
dalam kandungan. Antibodi wanita hamil akan masuk ke tubuh bayi lewat air susu
ibu pertama (kolestrum) yang diminumkan kepada bayi. Kekebalan pasif juga dapat
terjadi secara buatan dengan menyuntikan antibodi dari manusia atau hewan yang
kebal terhadap suatu penyakit, misalnya rabies atau penyakit ajing gila.

2.12 Hubungan Gizi dan Sistem Imun
Gizi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keoptimalan kerja dari system
imun.Yang lebih spesifik lagi yang mempengaruhi system imun adalah zat yang terdapat
dalam gizi yang mencakup Karbohidrat Protein Lemak Vitamin dan Mineral. Protein
merupakan yang paling berpengaruh terhadap kinerja sistem imun karena dalam sistem
imun terdapat Protein Antimikroba yang melawan organisme secara langsung dan
mencegahnya untuk berkembangbiak. Jika salah satu dari zat gizi (protein) atau nutrisi ini
tidak lengkap maka akan berpengaruh pada keoptimalan kinerja sistem imun, sehingga
sistem pertahanan tubuh dari hal-hal yang membahayakan tubuh akan melemah, dengan
melemahnya sistem pertahanan tubuh makan tubuh akan mudah terinfeksi virus, mudah
terserang penyakit dan lain sebagainya yang berdampak negatif.
Oleh karena itu keseimbangan dalam takaran proporsisi gizi harus dijaga agar tetap
stabil dengan cara mendapat asupan nutrisi dari makanan dan minuman yang sehat dan
bersih, dalam artian makanan dan minuman yang 4 sehat 5 sempurna yang sesuai dengan
takaran komposisi yang seimbang.
Secara umum diterima bahwa gizi merupakan salah satu determinan penting respon
imunitas. Penelitian epideminologis dan klinis menunjukan bahwa kekurangan gizi
15

menghambat respon imunitas dan meningkatkan resiko penyakit infeksi. Sanitasi dan higiene
perorangan yang buruk, kepadatan penduduk yang tinggi , kontaminasi pangan dan air , dan
pengetahuan gizi yang tidak memadai berkontribusi terhadap kerentanan terhadap penyakit
infeksi. Berbagai penelitian yang dilakukan selama kuruun waktu 35 tahun yang lalu
membuktikan bahwa gangguan imunitas adalah suatu faktor antara ( intermediate faktor) .
kaitan gizi dengan penyakit infeksi. ( Chandra ; 1997 )
Sebagai contoh kekurangan berkaitan dengan gangguan imunitas berperantara sel (
cell-mediated imunity ). Fungsi fagosit,sistem komplement, sekresi antibodi imunoglobulin
A, dan produksi sitokin. Kekurangan zat gizi tunggal, seperti seng,besi, tembaga , vitamin A,
vitamin C, juga dapat memperburuk respon imunitas. (Chandra ; 1997)
Gangguan pada berbagai aspek imunitas termasuk fagositosis, respon ploriferasi sel ke
mitogen, serta produksi T-lymphocyte dan sitokin telah ditemukan pada kondisi kekurangan
gizi ( Chandra and Kumari : 1994 chandra , 1990; Kulkarni at all 1994) sampai saat ini
mekanisme yang melaluinya kekurangan gizi mengakibatkan gangguan fungsi imunitas
masih terus mendapat perhatian serius para ahli gizi,imunolog, ahli biologi dan ahli dibidang
yang terkait.
Karena begitu eratnya kaitan antara fungsi imunitas dan gizi berbagai penelitian baik
pada tikus maupun manusia telah menhasilkan informasi penting yang berhubungan antara
susu fermentasi dan imunitas.pemberian susu fermentasi dapat mendorong pembentukan
antibodi dan respon imunitas pada orang yang sehat , funsi imunitas yang paling dipengaruhi
adalah imunitas berperantara sel dan aktifitas sitokin ( Solis Pereira ; 1997)
Walaupun ada bukti bahwa kekurangan gizi dapat mempengaruhi patogen ( Lavender ;
1997 ),akan tetapi, pada umumnya dampak kekurangan gizi pada penyakit infeksi dikaitkan
dengan menurunnya fungsi imunitas tubuh. Kekurangan energi-protein, misalnya, antara lain,
menyebabkan penurunan pada proliferasi limposit, produksi sitokin, dan respons antibodi
terhadap vaksin (Lesourd, 1997).

Berbagai macam uraian fungsi gizi dalam imunitas :
1. Energi dan Protein
Dampak KEP (zat gizi makro) pada timbulnya penyakit infeksi, terutama
padabayi dan anak-anak telah diteliti secara luas. Intervensi gizi (energi dan protein)
pada bayi dan anak-anak dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian di Asia
dan Amerika Latin. Berbagai penelitian juga telah secara meyakinkan menunjukkan
bahwa peranan gizi pada penurunan angka kematian dan kematian ini adalah melalui
16

perbaikan pada fungsi imunitas. Kekurangan energi-protein, misalnya, berkaitan
dengan gangguan imunitas berperantara sel (cell-mediated immunity), fungsi fagosit,
sistem komplemen, sekresi antibodi imunoglobulin A, dan produksi sitokin (Chandra,
1997).Penelitian pada orang usia lanjut juga menunjukkan fenomena yang sama.
Kekurangan energi-protein dapat mengarah pada imunodefisiensi yang parah
pada orang usia lanjut, yang mempengaruhi tidak hanya imunitas spesifik (B- dan T-
lymphocytes) tetapi juga imunitas nonspesifik (polymorphonuclear dan monosit).
Orang usia lanjut penderita KEP melepaskan lebih sedikit monokin yang
menyebabkan menurunnya rangsangan limposit (Lesourd, 1997). Sebagai
konsekuensinya, untuk merangsang respons imunitas spesifik pada taraf yang
memadai, tubuh mengekspresikan respons fase-akut jangka panjang. Efek ini lebi
berat pada orang usia lanjut karena mobilisasi simpanan zat gizi dalam tubuh kurang
efektif pada usia ini (Klasing, 1988).

2. Vitamin
a. Vitamin A
Dalam kaitannya dengan fungsi imunitas vitamin yang menarik
perhatian danyang sering menjadi fokus penelitian adalah vitamin A, vitamin
E, vitamin C, dan kelompok vitamin B. Di antara vitamin tersebut, vitamin A
adalah yang paling luas diteliti. Pengamatan yang mengaitkan vitamin A
dengan imunitas sudah dilakukan bahkan sebelum struktur vitamin A
diketahui dengan tepat pada tahun 1931 (Karrer et al., 1931 dalam Villamor
and Fawzi, 2005). Beberapa fakta ilmiah yang mengawali pemahaman
mengenai kaitan vitamin A dan penyakit infeksi antara lain adalah temuan
Green dan Mellanby yang menunjukkan bahwa tikus yang kekurangan
vitamin A lebih rentan terhadap infeksi (Green and Mellanby,
1928 dalam Semba, 1999). Setelah antibodi ditemukan, penelitian mengenai
mekanisme yang melaluinya vitamin A memperbaiki fungsi imunitas telah
digiatkan kembali pada tahun 1960-an (Scrimshawet al., 1968), dan kemudian
pada tahun 1980-an dengan ditemukannya efek pelindungan dari
suplementasi vitamin A pada kematian anak di Indonesia (Sommer et
al., 1986).
Penelitian mutakhir juga menunjukkan bahwa metabolit aktif vitamin
A (asam retionat) berperan pada pengaturan transkripsi gen. Informasi ini
17

menyediakan fakta mendasar pada pemahaman mekanisme bagaimana
vitamin A mempengaruhi imunitas. Vitamin A secara luas beperan pada
fungsi imunitas. Vitamin A sangat penting untuk memelihara integritas epitel,
termasuk epitel usus. Hal ini berkaitan dengan hambatan fisik terhadap
patogen dan imunitas mukosal. Pemberian vitamin A juga dapat menurunkan
episode dan kejadian diare pada anak-anak ketika dikombinasikan dengan
mineral seng (Rahman et al., 2001). Efeksuplementasi vitamin A pada
morbiditas anak meliputi penurunan keparahan cacar airyang dapat
berkorelasi dengan peningkatan produksi antibodi T-cell-
dependent(Coutsoudis et al., 1991). Oleh karena itu, suplementasi vitamin A
dianjurkan untukpenanganan infeksi cacar air (Beck, 2001).

b. Vitamin E
Vitamin E sering disebut sebagai vitamin antioksidan. Hal ini
dikarenakanperannya untuk menangkal radikal bebas. Karena kemampuannya
menahan tekananradikal oksidatif ini pula vitamin E disebut sebagai vitamin
antipenuaan.Selain sebagai antioksidan, vitamin E juga dikenal sebagai zat
gizi penting untuk pencegahan penyakit infeksi. Penelitian pada berbagai
jenis hewan coba mengindikasikan bahwa vitamin antioksidan berkaitan
dengan peningkatan fungsi imunitas (Bendich, 1990dalam Pallast et
al., 1999).
Mekanisme peningkatan fungsi imunitas oleh vitamin E masih belum
seluruhnya dipahami. Dugaan mekanisme tersebut diduga melalui efek
langsung dan tidak langsung (melalui makrofag) vitamin E pada fungsi T-cell.
Efek langsung vitamin E mungkin diperantarai oleh perubahan molekul
reseptor membran T-cell yang diinduksi oleh vitamin E. Melalui perannya
sebagai antioksidan, vitamin E juga dapat menurunkan produksi faktor
penekan imunitas (immunosuppressivefactors) seperti prostaglandin E2 dan
hidrogen peroksida dengan mengaktifkan makrofag (Beharka et
al., 1997 dalam Pallast et al., 1999). suplementasi vitamin E sebanyak 100
mg dapat bermanfaat pada fungsi imunitas seluler pada orang usia lanjut.



18

c. Vitamin C
Seperti halnya vitamin E, vitamin C juga temasuk vitamin antioksidan.
Sebagai antioksidan, efek vitamin C pada respons imunitas juga sudah banyak
diteliti. Vitamin C berakumulasi (dengan konsentrasi milimol/l) dalam
neutrofil, limposit, danmonosit (Evans et al., 1982), yang mengindikasikan
bahwa vitamin C berperan penting pada fungsi imunitas. Penelitian
menunjukkan fungsi pagosit, proliferasi Tcell, dan produksi sitokin
dipengaruhi oleh status vitamin C. Pada masa infeksi, pagosit teraktivasi
menghasilkan agen pengoksidasi yang memiliki efek antimikrobial. Akan
tetapi, itu dilepaskan ke media ektraselular sehingga membahayakan inang.
Untuk menetralisir efek peningkatan oksigen radikal ini, sel memanfaatkan
berbagai mekanisme antikoksidatif, termasuk vitamin antioksidan seperti
vitamin C (Li et al., 2006).

3. Mineral
Berbagai penelitian telah mengungkapkan peran mineral dalam kehidupan
manusia. Berapa mineral yang sebelumnya belum diketahui manfaatnya, sekarang
diketahui berperan dalam proses metabolisme tubuh, termasuk dalam fungsi
imunitas. Ada tujuh mineral mikro yang secara jelas diketahui memiliki peran gizi.
Juga, kekurangannya berdampak merugikan kesehatan, yaitu besi, iodium, seng,
tembaga, selenium, molibdenum, kromium (Diplock, 1987). Sementara itu, mineral
mikro yang banyak dikaitkan dengan fungsi imunitas, antara lain adalah selenium
dan seng.

4. Selenium
Selenium (Se) adalah suatu zat gizi mikro (trace element) yang sangat
esensialpada sejumlah protein yang berkaitan dengan fungsi enzim,
termasuk glutation peroksidase,glutation reduktase, dan tioredoksin reduktase.
Selenoprotein (ikatan antara Sel dan protein) dipercaya memainkan peran penting
sebagai enzim antioksidan(selenosistein) (Beck, 2001). Lebih dari 20 jenis
selenoprotein telah cirikan melaluipemurnian, kloning, ekspresi rekombinan, dan
perkiraan fungsinya menggunakan teknik bioinformatika. Selenium berperan penting
dalam fungsi imunitas. Selenium mempengaruhi baik sistem imunitas
19

bawaan (innate), nonadaptif, dan buatan(aquired). Selain itu,Sel mempengaruhi
fungsi neutrofil.
Selain peran Selenium dalam fungsi imunitas, kekurangan Se diketahui
mempengaruhi virus patogen. Salah satu contohnya adalah efek kekurangan Se pada
patogenitascoxsackievirus, suatu jenis virus mRNA (Levander, 1997; Beck, 2001,
Beck et al.,2003)

5. Seng
Mikromineral lain yang tak kalah pentingnya pada fungsi imunitas adalah
seng(Zn). Asupan seng merupakan faktor penting pada modulasi respons imunitas
berperantara sel. Kekurangan seng berdampak pada penurunan respons pembentukan
antibodi dalam limfa (Chandra and Au, 1980). Kekurangan seng juga berkaitan
dengan respons imunitas yang diindikasikan oleh kuantitas limposit dalam darah
perifer, proliferasi T-lymphocyte, pelepasan IL-2, atau citotoksik limposit (Keen and
Gerswhin, 1990)



















20

BAB III
DISKUSI


Gizi dan kekebalan: Anda adalah apa yang Anda makan
Oleh: Jennifer Muir Bowers, MS, RD, CNSD, ACRIA Update Musim Semi 2002

Orang dengan HIV sering memakai suplemen mikronutrien, tetapi penelitian belum
membuktikan takaran yang paling bermanfaat untuk orang dengan HIV. Bahan gizi tertentu
mungkin berpengaruh langsung terhadap kemampuan sistem kekebalan untuk melawan
infeksi. Contoh, sel yang ditambahkan dengan vitamin D tampaknya mencegah pertumbuhan
Mycobacterium avium complex (MAC) dalam makrofag pada pasien HIV-positif. Artikel ini
menilai secara singkat mikronutrien tertentu dan manfaatnya yang diketahui dalam sistem
kekebalan yang rumit. Malnutrisi dan fungsi kekebalan Sudah lama diketahui bahwa orang
yang kekurangan gizi lebih berisiko terhadap penyakit infeksi karena tanggapan
kekebalannya tidak cukup. Infeksi kemudian mengarah pada peradangan dan keadaan gizi
yang memburuk, yang memperburuk sistemkekebalan. Ini yang disebut lingkaran setan.'
Dampak dari penyakit infeksi tertentu, termasuk HIV dan tuberkulosis (TB), dapat menjadi
lebih buruk apabila orang yang terinfeksi kekurangan gizi.
Kekurangan gizi protein-kalori mempunyai dampak negatif yang bermakna terhadap
berbagai komponen sistem kekebalan. Penelitian menunjukkan penurunan fungsi organ
sistem kekebalan (timus, limpa, kelenjar getah bening) pada orang yang kekurangan gizi.
Cabang sistem kekebalan yang membuat antibodi melemah pada kasus malanutrisi, terutama
dengan menurunnya jumlah sel-B yang beredar dan tanggapan antibodi. Terkait dengan
cabang sistemkekebalan lain, orang yang kekurangan gizi menunjukkan penurunan jumlah
sel CD4 dan CD8, dan sel ini kurang mampu untuk menggandakan diri atau menanggapi
organisme yang menular seperti virus yang hidup dalam diri mereka. Mekanisme lain yang
membunuh organisme infeksi juga ditekan pada malanutrisi. Fungsi sitokin, zat kimia yang
berperan sebagai pembawa pesan sel, berubah pada orang yang kekurangan gizi. Mengganti
kalori dan protein adalah intervensi yang sulit namun penting bagi orang yang hidup dengan
HIV/AIDS untuk ditingkatkan seefektif seperti tanggapan kekebalan untuk melawan infeksi
oportunistik.


21

Vitamin tertentu dan kekebalan
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa orang HIV-positif mempunyai konsentrasi
vitamin tertentu yang lebih rendah dalam darah, terutama vitamin A, B6, B12, C, E dan folat.
Kekurangan vitamin A dapat mengganggu fungsi sel epitel, yang penting untuk
mempertahankan struktur jaringan. Kemampuan sel kekebalan tertentu membunuh organisme
infeksi dan produksi sel-B dan sel CD4 yang tergantung pada keberadaan vitamin A. Di
negaraberkembang dan maju, tingkat vitamin A dalam darah tampak lebih rendah pada orang
HIV-positif dibandingkan orang sehat. Ini terutamabenar pada orang HIV-positif dengan
infeksi oportunistik atau kanker. Beta-karotin, pendahulu vitamin A, juga tampak kurang
pada orang HIV-positif walaupun memakai suplemen vitamin.Karena beta-karotin adalah
antioksidan yang kuat, pemakaian suplemen dapat meningkatkan jumlah CD4 dan kegiatan
sel pembunuh alami. Peranan vitamin C yang terkait dengan kekebalan termasuk perpaduan
kolagen, kegiatan ledakan oksidatif fagosit, kemampuan sel-B dan sel CD4 untuk bekerja
dengan baik.
Hanya sedikit penelitian klinis yang sudah dilakukan untuk menentukan manfaat
suplemen vitamin C pada HIV/AIDS. Sebuah penelitian kecil pada delapan orang
menunjukkan peningkatan CD4 dan penurunan viral load HIV setelah enam hari memakai
vitamin C dosis tinggi (tiga gram setiap enam jam) dan N-asitilsistin (NAC). Dalam tubuh,
NAC berubah menjadi glutasion, yang melindungisel terhadap kematian dini. Efek ini hanya
terlihat pada orang yang jumlah CD4 awalnya kurang dari 200. Penelitian lain menunjukkan
bahwa vitamin C dosis tinggi sesungguhnya dapat mempercepatpengembangan infeksi, maka
terlalu dini untuk menyarankan vitamin C dosis tinggi. Tingkat vitamin B12 yang rendah
dalam darah tampaknya umum pada infeksi HIV. Suplemen vitamin B12 menunjukkan
peningkatan jumlah CD4 dan kegiatan sel pembunuh alami pada orang yang kekurangan
vitamin B12 secara bermakna. Vitamin B12 dan folat keduanya terlibat dalam pembentukan
bahan genetika. Kekurangan vitamin B6 dapat terjadi sebagai akibat dari pengobatan tertentu,
seperti isoniazid (obat TB). Kekurangan vitamin B6 dilaporkan terjadi pada orang HIV-
positif dan tampak mengurangi tanggapan CD4 dan kemampuan sel pembunuh alami
untukmembunuh organisme infeksi. Kekurangan vitamin B6 juga dikaitkan dengan
peningkatan risiko kanker tertentu. Vitamin E memainkan peranan kunci sebagai
antioksidanpada dinding sel. Karena fungsinya, vitamin E dianggap sebagai sumber gizi
"anti-virus", tetapi hal ini hanya ditunjukkan dalam laboratorium, tidak secara klinis.
Suplemen vitamin E dan A secara bersamaan pada hewan telah menunjukkan peningkatan
fungsi sel neutrofil, yang dapat membunuh organisme infeksi. Kekurangan vitamin E jarang
22

terjadi pada manusia, walaupun kepekatan dalam darah yang rendah pernah dilaporkan terjadi
pada orang dengan HIV.
Mineral tertentu dan kekebalan
Penelitian tentang mineral apa yang kurang dalam infeksi HIV saling bertentangan.
Zat besi, selenium dan magnesium ditunjukkan kurang dalam beberapa penelitian. Bahkan
kekurangan zat besi yang sedikit tampak mengurangi pembentukan dan kegiatan hormon
timik; penurunan jumlah CD4; membahayakan fungsi CD4, sel pembunuh alami dan
neutrofil; peningkatan kematian sel; merusak kemampuan sel untuk membunuh organisme
infeksi; dan mengganggu pembentukan sitokin. Apabila zat besi ditambahkan dengan vitamin
A, tampak peningkatan jumlah sel kekebalan pada manusia. Tingkat zat besi dalam darah
pada orang HIV-positif mungkin tidak dapat menggambarkan secara tepat berapa banyak zat
besi yang tersimpan dalam tubuh dan fungsi kekebalan, sehingga penggunaan suplemen
diperdebatkan. Lebih lanjut, karena kerumitan yang saling mempengaruhi antara bahan
gizidalam tubuh, konsumsi zat besi yang berlebihan dapat mengganggu penyerapan tembaga.
Peranan magnesium dalam sistem kekebalan juga belum jelas; tetapi, tingkat magnesium
yang rendah sering dilaporkan terjadi pada populasi HIV/AIDS. Tingkat zat tembaga
biasanya normal atau meningkat pada saat sakit berat atau trauma pada orang dengan HIV.
Anemia akibat kekurangan zat besi mungkin tampak pada orang dengan penyakit/infeksi
kronis, tetapi penggunaan suplemen dengan mineral ini masih diperdebatkan karena
peranannya sebagai pemicu organisme infeksi. Selenium adalah sel antioksidan yang
bermakna. Virus tertentu menjadi lebih kuat pada orang yang kekurangan selenium. Serupa
dengan itu, hewan yang kekurangan selenium lebih rentan terhadap kerusakan jantung akibat
virus. Hewan yang kekurangan zat selenium dan zat tembaga atau zat besi mempunyai
neutrofil yang kurang mampu untuk membunuh organisme infeksi. Suplemen selenium
mungkin melindungi terhadap kanker pada hewan dan manusia. Apabila vitamin E dan
selenium ditambahkan secara bersamaan pada hewan, terjadi peningkatan jumlah sel
kekebalan. Dalam sel-T, penambahan selenium menekan penggandaan HIV dan penurunan
produksi sitokin yang menyebabkan peradangan. Suplemen selenium pada orang HIV-positif
yang kekurangan selenium menunjukkan peningkatan status selenium. Kekurangan selenium
berhubungan dengan pengembangan virus dan kematian dalam infeksi HIV lebih banyak
dibandingkan kekurangan gizi lain. Dalam beberapa penelitian, selenium dalam darah
berhubungan dengan jumlah CD4, walaupun penggunaan suplemen tidak selalu
menghasilkan peningkatan jumlah CD4.
Zat gizi lain dan kekebalan
23

Asam lemak omega-3 (n-3), umumnya ditemukan dalam minyak ikan, terbukti memberi
dampak terhadap fungsi kekebalan. Dua asam lemak, asam eiko sapentanoik (EPA) dan asam
dokosaheksanoik (DHA), terbukti menurunkan peradangan dengan mengatur dan
mempengaruhisitokin pembentuk CD4. Penelitian lain menunjukkan bahwa asam lemak n-3
mengurangi kemampuan beberapa sel kekebalan untuk bereaksi terhadap organisme
penyebab infeksi. DHA juga dapat memperlambat kegiatan sel pembunuh alami. Asam alfa-
lipoik, antioksidan yang diteliti dalam infeksi HIV, tampak mampu untuk meregenerasi
vitamin C dan E, lebih meningkatkanefek antioksidan secara keseluruhan. Asam amino
tertentu, terutama glusamin dan arginin, juga berperan terhadap kekebalan. Glutamin penting
dalam mempertahankan struktur dinding usus, yang mencegah organisme penyebab infeksi
menembus masuk ke dalam aliran darah. Arginin berperan terhadappembentukan oksida
nitrik, yang mampu membunuh kegiatan organisme infeksi tertentu.

Kesimpulan
Hubungan tidak terhitung yang rumit antara status keadaan gizi, bahan gizi tertentu,
dan sistem kekebalan adalah penelitian biomedis yang menarik dan terus berlanjut. Orang
yang bergizi baik kekebalannya lebih siap untuk melawan mikroorganisme. Berbagai
mikronutrien berperan penting dalam fungsi sistem kekebalan. Jelas bahwa mempertahankan
status gizi yang baik dan cadangan mikronutrien yang cukup dalam tubuh adalah penting
untuk meningkatkan tanggapan kekebalan yang efektif terhadap infeksi oportunistik. Tetapi,
penelitian masih perlu menentukan saran yang tepat untuk orang dengan HIV. Oleh karena
itu sementara ini, makanan yang seimbang dan beragam yang mengandung semua vitamin
dan mineral tampaknya merupakan saran yang terbaik.










24

BAB IV
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Sistem kekebalan tubuh kita mempunyai hubungan kuat dengan cara hidup dan
asupan gizi kita. Jika tubuh dilengkapi dengan nutrisi yang mencukupi dan sesuai, sistem
imun kita dapat diperkuatkan dan bekerja secara optimal. Sistem imun kita berfungsi
dengan baik supaya dapat mempertahankan tubuh dan melawan dari berbagai penyakit
dengan memperhatikan dan mempertahankan status gizi dalam tubuh agar tetap seimbang
dan optimal.

3.2 SARAN
1. Agar sistem imun dapat menjalankan fungsinya dengan optimal maka kita harus :
2. Menjaga pola hidup yang sehat
3. Memperhatikan setiap makanan yang akan dikonsumsi
4. Memelihara lingkungan yang bersih




















25

DAFTAR PUSTAKA


Definisi Gizi, Ilmu Gizi, serta Fungsi dari Gizi _ Muslim Dentist - Dentist can help and pray
for your teeth
Status Gizi.Referensi Kesehatan

http://aanborneo.blogspot.com/2012/07/makalah-pengaruh-gizi-terhadap-sistem.html

http://huhhubeauty.blogspot.com/2013/10/gizi-dalam-kesehatan-imunitas.html

Siagian, Albiner. Gizi, Imunitas, dan Penyakit Infeksi. 2006. Medan : Departemen Gizi dan
Kesehatan Masyarakat USU.