Anda di halaman 1dari 14

96

VII. PENELUSURAN BANJIR






Sasaran Pembelajaran/Kompetensi:
Setelah mengikuti pembelajaran ini, mahasiswa mampu:
1. Mengetahui cara prakiraan banjir jangka pendek
2. Menghitung hidrograf satuan dari suatu titik ukur ke bagian sungai lain
3. Mengetahui perhitungan debit banjir
4. Mengetahui derivasi hidrograf sintetik


7.1 Pendahuluan
Permasalahan utama yang dihadapi praktisi hidrologi adalah mengestimasi
hydrograph menaik dan menurun dari suatu sungai pada sebaran titik pengaliran
terutama selama periode banjir. Permasalahn ini dapat diatasi dengan teknik
penelusuran aliran atau penelusuran banjir yang mengolah sifat-sifat hydrograph banjir
di hulu atau di hilir dari suatu titik ke titik yang lain sepanjang aliran sungai.
Penelusuran dilakukan dari titik dimana ada data pengamatan hidrograf aliran untuk
memudahkan proses penelusuran itu sendiri.
Suatu hidrograf banjir dapat dimodifikasi dengan dua cara sebagaimana air
hujan mengalir menuruni jaringan pengaliran air (drainage network). Pertama waktu
berkumpulnya aliran-aliran untuk terjadinya aliran dan puncaknya pada suatu titik di
daerah hilir. Ini disebut sebagai translasi. Kedua, besarnya laju aliran puncak yang
bergerak menuju titik di aliran bawah, serta lama waktu aliran mencapai titik bawah.
Modifikasi hidrograf ini disebut attenuation.
Penurunan hidrograf aliran di bagian bawah seperti B pada Gambar 7.1 dari
hulu yang disebabkan oleh pola hidrograf banjir A merupakan hal penting untuk

97

diperhatikan dalam manajemen sungai sebagai upaya prediksi banjir di wilayah bagian
river basin. Dalam hal disain, penelusuran hidrograf banjir juga penting untik
mengatur kapasitas spillway reservoir. Disamping itu jadwal pencegahan banjir atau
evaluasi tinggi bangunan jagaan banjir di tanggul sungai peru juga diperhatikan.


Gambar 7.1 Sifat translasi dan attenuasi banjir
7.2 Memilih Model Penelusuran Banjir
Pemilihan model penelusuran aliran untuk tujuan penerapan tertentu dipengaruhi oleh
tingkat berbagai kepentingan dengan mempertimbangkan faktor sebagai berikut:
1. Model menyajikan informasi hidraulik yang sesuai untuk menjawab pertanyaan
atau problem pemangku kepentingan;
2. Tingkat akurasi model;
3. Kebutuhan akurasi dalam penerapan penelusuran aliran;
4. Tipe dan ketersediaan kebutuhan data;
5. Ketersediaan fasilitas dan biaya komputasi;
6. Familiaritas dengan model yang diberikan;
7. Pengembangan dokumen, level kemampuan dan ketersediaan wadah atau paket
model penelusuran;
8. Kekompleksan formulasi matematika model penelusuran yang akan dikembangkan
dengan bahasa pemrograman komputer; dan
9. Kapabilitas dan ketersediaan waktu untuk membangun model penelusuran.

Dengan pertimbangan pertimbangan di atas, maka pemilihan model
penelusuran dapat dilakukan dengan asumsi bahwa tidak ada suatu model yang paling

98

tepat melainkan memiliki konsekuensi yang besar untuk mewujudknnya. Model
penelusuran yang sederhana paling cepat dan mudah karena keserhanaan komputasi
akan ada. Akan tetapi pertimbangan keakuratan akan membatasi penerapan model.
Akurasi Model Penelusuran Reservoir. Dalam aplikasi reservoir, akurasi model
penelusuran level-kolam sangat relatif terhadap keakurasian model penelusuran
dinamis terdistribusi
Akurasi Model Penelusuran Sungai. Pada penerapan penelusuran aliran sungai, tipe
lump dan kinematik and model penelusuran diffusi menunjukkan keuntungan
kesederhanaan dimana dampak dari aliran balik (backwater) tidak ada. Pertimbangan
kekauratan membatasi model dalam penerapannya dimana hubungan kedalaman air
dan debit adalah nilai tunggal, dan nilai pergerakan menaik hydrograph dan
kemiringan dasar saluran tidaklah kecil.
7.3 Penelusuran Aliran Tipe-Lump
Bentuk sederhana dari aliran tak tunak sepanjang pengalira air sungai adalah model
lumped dimana seluruh daerah pengaliran dianggap seragam kondisinya. Pendugaan
dilakukan jika ada aliran masuk (I) maka dapat diprediksi debit hidrograf keluar (Q)
sebagai fungsi waktu misalnya I(t) dan Q(t).
Prinsip konservasi massa dengan menghitung perbedaan antara dua aliran akan
sama dengan laju perubahan simpanan air (S) dalam suatu periode waktu seperti
disajikan pada persamaan berikut:
.. (7.1)
Fungsi sederhana simpanan terhadap debit keluaran Q, misalnya S = f(Q), atau
tinggi permukaan air h, misalnya S = f(h). Bentuk sederhana hubungan tinggi
permukan air dan simpanan biasanya ditunjukkan pada danau atau reservoir. Bentuk
hubungan akan menjadi lebih kompleks bila pada sepanjang pengaliran (sungai dan
anak sungai) simpanan menjadi fungsi dari inflow dan outflow.
Solusi persamaan untuk Q(t) dengan berbagai pendekatan simpanan dapat
dilakukan melalui penelusuran aliran seragam. Teknik grafis dan penyelesaian
persamaan matematis telah diterapkan. Model aliran lump (DAS seragam) relatif lebih
sederhana dibandingkan dengan distributed flow routing. Akan tetapi pengabaian
dampak aliran balik (waterback atau water-hammer) dapat menjadi sumber ketidak
akuratan hidrograf yang mengalami perubahan tiba-tiba sepanjang reservoir. Metode

99

Lump dapat dikategorikan ke dalam tiga tipe yakni: (1) tipe level-pool untuk reservoir,
(2) tipe simpanan (storage) untuk sungai, dan (3) tipe sistem linear dengan
karakterisasi fungsi respon, dan hubungan inflow-outflow atau input-output yang
didefinisikan dengan teknik integral konvolusi (convolution integral).
Level-Pool Reservoir Routing
Dalam sistem ini reservoir diasumsikan selalu memiliki permukaan datar
sepanjang muka air di reservoir. Penelusuran aliran tak tunak tidak akan terjadi
lama dan hidrograf tidak berubah dengan cepat terhadap waktu, sehingga reservoir
dapat didekati dengan teknik sederhana sebagai level-pool routing. Elevasi
permukaan air h berubah terhadap waktu t, dan outflow dari reservoir diasumsikan
sebagai fungsi h(t). Pendekatan ini menghasilkan suatu persamaan diferensial yang
dapat diselesesaikan dengan beberapa teknik numerik seperti metode Runge-Kutta
atau metode integrasi iterasi trapezoid.
Metode I terative Trapezoidal I ntegration. Pada metode ini aturan trapesium
digunakan untuk mengintegralkan persamaan konservasi massa. Acuan waktu
terdiri dari pembagian waktu dengan interval t, misal t = 0, t, 2 t, ... , j t, (j + 1)
t.
.. (7.2)
Dimana luas permukaan Sa merupakan fungsi h. Dengan menggunakan nilai rata-
rata untuk I(t) dan Q(t) sepanjang interval t dan substitusi (7.2) ke persamaan
(7.1) maka diperoleh:

. (7.3)
Inflow pada waktu j dan j+1 diketahui dari hidrograf inflow; outflow Q pada waktu
j dapat dihitung dari elevasi permukaan air yang diketahui h
i
dengan persamaan
spillway. Luas permukaan Sa
J
ditentukan dari nilai h
i
. Parameter yang belum
diketahui adalah h
j+1
,Q
J+1
, Sa
J+1
; Q dan Sa merupakan persamaan nonlinear dari
h
J+1
. Sehingga persamaan (7.3) dapat diselesaikan h
J+1
melalui metode iterasi
seperti Newton-Raphson:
. (7.4)

100



Muskingum River Routing
Metode Muskingum dikembangkan oleh McCarthy sebagai metode yang dikenal
luas untuk penelusuran aliran tipe lump. Metode ini mengasumsikan simpanan
sebagai fungsi variabel inflow-discharge dan persamaan simpanan:
S=K[XI+(I-X)Q] (7.5)
Laju perubahan simpanan dS/dt pada persamaan 7.1 dinyatakan sebagai berikut:

(7.6)
dimana superscripts j dan j+1 menujukkan waktu antara interval t
j
. Substitusi
persamaan (7.6) ke dalam (7.1) menghasilkan persamaan:
(7.7)
dimana penelusuran aliran Muskingum memberikan 3 koefisien:
(7.8)
dan C1+ C2 + C3 = 1, dan K/3 < t < 5 K merupakan batasan untuk t.

Contoh Soal
Jika waktu tempuh titik berat massa banjir antara huku dan hilir 9 jam dan faktor
x=0,33. Gunakan cara Muskingum untuk mencari hidrograf aliran di hilir dengan
menggunkan hidrograf aliran di hulu berikut (kehilangan air dan backwater
diabaikan):





101


Jam Q
(m
3
/det)
Jam Q
(m
3
/det)
0 10 24 91
3 31 27 69
6 92 30 54
9 163 33 41
12 204 36 33
15 210 39 27
18 190 42 24
21 129

SOLUSI
Pertama hitung K, X
Kedua Hitung C1, C2 dan C3

x = 0,2

C1 -0,03448

K=T/dt K = 9

C2 0,37931


C3 0,655172


Jam Q_In C1_I2 C2_I1 C3_O1 Q_Out
1 0 10 -1,2069 3,793103 0 0
2 3 35 -3,31034 13,27586 1,694411 2,586207
3 6 96 -5,62069 36,41379 7,639264 11,65993
4 9 163 -7,03448 61,82759 25,17983 38,43237
5 12 204 -7,24138 77,37931 52,39606 79,97293
6 15 210 -6,55172 79,65517 80,28089 122,534
7 18 190 -4,44828 72,06897 100,4932 153,3843
8 21 129 -3,13793 48,93103 110,1436 168,1139
9 24 91 -2,37931 34,51724 102,1654 155,9367
10 27 69 -1,86207 26,17241 87,99184 134,3033
11 30 54 -1,41379 20,48276 73,5773 112,3022
12 33 41 -1,13793 15,55172 60,69927 92,64626
13 36 33 -0,93103 12,51724 49,21201 75,11307
14 39 27 -0,82759 10,24138 39,83331 60,79822
15 42 24 49,24711

Gambar hidrograf aliran:

102


7.4 Penelusuran Aliran Tipe-Terdistribusi
Aliran tak tunak pada suatu pengaliran air secara tepat digambarkan sebagai suatu
proses tersdistribusi karena laju/debit aliran, kecepatan, dan kedalaman (elevation) air
bervariasi terhadap ruang (pada penampang pengaliran sepanjang saluran). Estimasi
perilaku dari suatu sistem saluran dapat ditentukan dengan emnggunakan penelusuran
aliran terdistribusi berdasarkan persamaan differensial lengkapaliran tak-tunak satu
dimensi (Persamaan Saint-Venant). Persamaan ini menghitung secara komputasi debit
aliran dan kedalaman air sebagai fungsi ruang dan waktu dan bukan hanya waktu
seperti pada metode penelusuran aliran lump. Penelusuran aliran terdistribusi yang
didasarkan pada Persamaan Saint-Venant dikenal dengan dynamic routing
(penelusuran dinamis). Penyederhanaan bentuk persamaan Saint-Venant yang
didasarkan sebagai persamaan kinematik dan diffusi (zero-inertia) apat digunakan
untuk penelusuran aliran terdistribusi.
Persamaan Saint-Venant. Persamaan asal Saint-Venant adalah persamaan konservasi
massa:
(7.9)
dan persamaan momentum:
(7.10)
0
50
100
150
200
250
0 3 6 9 12 15 18 21 24 27 30 33 36 39 42
D
e
b
i
t

O
u
t
f
l
o
w

(
m
3
/
d
e
t
)

Waktu (jam)
Q_In
Q_Out

103

Dalam hal ini t adalah waktu, x adalah jarak sepanjang pengaliran air, A adalah
luas penampang, V adalah kecepatan, q adalah inflow atau outflow lateral terdistribusi
sepanjang sumbu x pengaliran, g adalah tetapan gaya grafitasi, h adalah elevasi
permukaan air (dari datum/acuan) misalnya dh/dx = dy/dx - So dimana y adalah
kedalaman aliran dan So adalah kemiringan dasar saluran pengaliran, dan Sf adalah
kemiringan gesekan yang dapat dievaluasi secara seragam. Persamaan steady-flow
empirical resistance seperti persamaan Chezys atau Manning adalah persamaan
diferensial parsial hyperbolik quasi-linear dengan dua dependent parameter (V dan h)
yang bervariasi pada satu dimensi (arah x) dan dua independent parameter (x dan t).
Luas penampang pengaliran A dan gradien Sf merupakan fungsi dari h dan/atau
V. Tak ada solusi analitis dari persamaan differensial kompleks untuk hampir semua
praktek penerapan dalam model penelusuran banjir. Turunan persamaan Saint-Venant
mengikuti beberapa asumsi dasar:
(1) Aliran satu dimensi,
(2) Panjang sungai yang dipengaruhi oleh gelombang banjir umumnya lebih
besar dari kedalaman aliran,
(3) Percepatan vertikal diabaikan dan distribusi tekanan vertikal gelombang
adalah hidrostatik,
(4) Densitas/kerapatan massa air konstan,
(5) Dasar dan dinding saluran ditentukan dan tidak berubah-ubah, and
(6) Kemiringan dasar saluran So realitif kecil, (kurang dari 15 persen).

Aplikasi Penelusuran Aliran Terdistribusi. Model tedistribusi yang menghitung debit
lairan Q dan tinggi permukaan air h berguna untuk menentukan kedalaman genangan
banjir, kebutuhan tinggi bangunan seperti jembatan atau wilayah sempadan sungai,
and keceptan aliran air dalam transport pemindahan polutan. Model terdistribusi dapat
juga digunakan untuk penerapan lain seperti pendugaan banjir real time di sungai,
pemberian dan pengaliran air irigasi, melalui saluran, peta inundasi perencanaan dam-
break, perubahan gelombang transient yang terjadi di reservoir oleh pintu atau turbin,
longsor akibat gelombang di reservoir, dan aliran tank tunak di sistem pembuangan air
hujan.
Model Penelusuran Terdistribusi Sederhana. Sebelum perkembangan komputer
pesat, atau untuk kepentingan ekonomi dan kepraktisannya dalam sumber komputasi,

104

dalam penyelesaian persamaan Saint-Venant yang kompleks, maka dikembangkanlah
beberapa model terdistribusi yang disederhanakan. Model didasarkan pada persamaan
konservasi massa dan berbagai penyederhanaan persamaan momentum.
Model Gelombang Kinematik. Tipe tersederhana model penelusuran terdistribusi
adalah model gelombang kinematik. Model ini diperkenalkan oleh Lighthill dan
Whitham. Model ini didasarkan pada bentuk sederhana dari persamaan momentum
sebagai berikut:
Sf So = 0 (7.11)
dimana So adalah kemiringan dasar saluran (watercourse) dan komponen (dh/dx).
Asumsi ini menganggap momentum aliran unsteady sama dengan pada aliran seragam
tuank (steady) seperti yang ditinjau pada persamaan Chezy, Manning atau persamaan
sejenisnya dimana debit sebagai fungsi tunggal oleh kedalaman, misalnya, dA/dQ =
dA/dQ =1/c. Juga dA/dt = dA/dQ * dQ/dt dan Q = A V. Persamaan 7.9 dapat
dikembangkan menjadi persamaan klasik gelombang kinematik seperti berikut:
(7.12)
Dalam hal ini kecepatan gelombang kinematik atau celerity (c) didefinisikan sebagai:
c = k' V (7.13)
dimana k' adalah rasio kinematika, yang merupakan perbandingan celerity gelombang
kinematik dengan kecepatan aliran. Jika persamaan Manning digunakan untuk aliran
tunak uniform, maka rasio kinematika dinayatak dengan persamaan:
(7.14)
dimana B adalah lebar atas saluran pengaliran, A = luas penampang pengaliran, P
wetted perimeter, dan dP/dy adalah turunan P terhadap kedalaman air y. Untuk aliran
pada saluran segiempat, k' = 5/3. Metode penyelesaian persamaan gelombang
kinematik terdiri dari solusi analitis menggunakan metode karakteristik atau solusi
langsung dengan teknik pendekatan finite-difference secara explicit atau implicit.
Persamaan gelombang kinematik secara teoritis tidak mempertimbangkan kejadian
gelombang hydrograph. Model gelombang kinematik terbatas aplikasinya pada single-
value, stage-discharge ratings yang ada dimana tidak ada rating loop dan pengaruh
backwater tidak signifikan. Sejak adanya model gelombang kinematik, gangguang

105

gelombang dapat dipropagasi hanya kearah hilir, aliran sebaliknya tidak dapat
diprediksi. Model gelombang kinematik digunakan sebagai komponen model
hidrologi suatu DAS untuk penelusuran aliran overland flow; dan tidak
direkomendasikan untuk saluran kecuali hydrograph menaik sangat kecil, kemiringan
saluran moderat sampai curam, dan kejadian hydrograph cukup kecil.
Model Difusi Gelombang. Model gelombang kinematik sederhana yang laina adalah
model diffusion wave (zero-inertia), dengan pendekatan persamaan momentum
sebagai berikut:
(7.15)
Teknik pendekatan finite-difference (explicit dan implicit) telah digunakan untuk
mendapatkan solusi simultaneous persamaan penyusun. Model ini mempertimbangkan
pengaruh backwater tetapi tidak menunjukkan distribusi secara langsung terhadap
waktu sepanjang penelusuran; keakurasiannya juga rendah untuk hydrograph menaik
cepat, seperti kejadian kerusakan bendung, gelombang hujan badai, atau pelepasan
cepat air dari dam dan terputus-putus, dimana propagasi melalui pengaliran
berkemiringan sedang sampai datar.
7.5 Metode Muskingum-Cunge
Metode Muskingum dapat dimodifikasi dengan menghitung koefisien routing sebagai
bagian yang ditunjukkan oleh Cunge and peneliti lain yang merubah kinematika
berasarkan Metode Muskingum menjadi bentuk analogi difusi yang mampu
memprediksi perubahan hydrograph. Modifikasi metode Muskingum (dikenal dengan
Metode Muskingum-Cunge) lebih efektiv digunakan dalam teknik penelusuran aliran
terdistribusi. Persamaan recursive dapat diaplikasikan untuk masing-masing x; dan
untuk setiap waktu t.
(7.16)
dimana terdapat kesamaan dengan Metode Muskingum tetapi dikembangkan untuk
memasukkan pengaruh aliran inflow lateral C
4
. Q
j+1
sama dengan I
j+1
untuk
Muskingum sedangkan Q
j
dan Q
j+1
juga sama dengan I, dan Q
j
' pada motode
Muskingum. Koefisien C
1
, C
2
, dan C
3
adalah nilai positif yang jumlahnua harus sama
dengan 1.

106

(7.17)
dalam hal ini K adalah tetapan simpanan berdimensi waktu, dan X adalah weighting-
factor menunjukkan arti penting inflow dan outflow terhadap simpanan. Di sini dapat
ditunjukkan bahwa finite-difference menyajikan persamaan klasik gelombang
kinematik; akan tetapi, jika X dinyatakan sebagai fungsi bagian dari sifat aliran, maka
kombinasi persamaan penyusun akan menjadi persamaan analogi difusi parabolic yang
mempertimbangkan gelombang hidrograf banjir tetapi tidak berlaku aliran balik
(negative) atau backwater. Model ini relatif akurat dibanding Model Muskingum. Pada
metode Muskingum-Cunge, K dan X dihitung dengan:
(7.18)
(7.19)
dimana c adalah celerity, Q adalah discharge, B lebar atas saluran yang berkaitan
dengan Q, Se adalah slope energi yang didekati dengan Sf untuk kondisi awal aliran, D
adalah kedalaman hydraulic (A/B), dan k' adalah rasio gelombang kinematik. Bar
menunjukkan variabel dengan nila rata-rata sepanjang pengaliran x selama t. Untuk
kesalahan numerik minimal ditentukan oleh scheme, step waktu t dan step jarak x
harus sesuai.
(7.20)
dimana M 5, Tr adalah waktu selama menaiknya hydrograph, dan
(7.21)
dimana q adalah debit rata-rata per lebar pengaliran (Q/B) dan So adalah kemiringan
dasar saluran.
Pengembangan Persamaan Saint-Venant. Persamaan Saint-Venant lebih powerful
dan bermanfaat dimana bentuk konservasi atau divergen ditambahkan ke dalam
persamaan aliran lateral luas simpanan saluran dan dampak sinuositas. Pengembagan
persamaan Saint-Venant adalah pada persamaan konservasi massa:

107

(7.22)
dan persamaan momentum
(7.23)
Dimana h adalah water-surface elevation, A adalah luas penampang pengaliran air, Ao
adalah luas permukaan saluran tak aktif (off-channel storage) yang sering dikleluarkan
dan menyajikan friksi tahanan yang lebih tinggi untuk bagian luas penampang, s
c
and
s
m
adalah koefisien sinuositas depth-weighted yang benar untuk sinus departure dalam
saluran dari sumbu x floodplain, x adalah jarak longitudinal rata-rata pengaliran
terukur sepanjang pusat pengaliran, t adalah waktu, q adalah debit persatuan lebar
sungai lateral inflow atau outflow (inflow adalah positive dan outflow adalah
negative), p adalah koefisien momentum untuk distribusi kecepatan tak seragam
terhadap luas penampang, g adalah konstanta percepatan gravitasi, S
f
adalah
kemiringan gesekan batas, and S
ec
adalah kemiringan kontraksi-ekspansi (large eddy
loss).
Kehilangan oleh Gesekan. Kehilangan akibat gesekan S
f
dievaluasi dari persamaan
Manning untuk aliran uniform dan steady adalah:
(7.24)
K adalah faktor pengaliran saluran.
Efek Ekspansi dan Kontraksi. Bentuk variabel S
ec
dihitung dengan:
(7.25)
Routing Parameters. Faktor penelusuran ditentukan dengan rumus:
(7.26)
.

108

Lateral Flow Momentum. L adalah dampak momentum lateral aliran, dan memiliki
(1) bentuk lateral inflow, L = -qvx' dimana Vx adalah inflow lateral pada sumbu x
saluran utama; (2) seepage lateral outflow, L = -0.5qQ/A; dan (3) bulk lateral outflow,
L = -qQ/A.

7.6 PENUGASAN
1. Kembangkan model penelusuran banjir pada komputer (spreadsheet atau program
buatan dengan bahasa komputer lain seperti Fortran, Visual Basic atau Delphi)
sesuai dengan model yang telah dijelaskan.
2. Cari data hidrograf aliran sungai di DAS yang anda kerjakan dan lakukan sistem
penelusuran di daerah hilirnya (dekat wilayah pertanian atau pemukiman) dengan
model yang telah dibangun pada no. 1..
3. Hidrograf di sungai pada titik A berpenampang beton dengan n = 0,020. Lebar
saluran 100 m dengan panjang pengaliran 10 km berkemiringan dasar 0,015. Saat
mula-mula Q adalah 18,5 m
3
/det.

Waktu (mnt) 0 20 40 60 80 100 120 140 160
Q (m
3
/det)
19 52 344 430 383 202 92 30 21

Hitunglah penelusuran banjir di B dengan jarak 10 km dari hilir (A) dan
gambarkan hidrograf outflownya.


7.7 DAFTAR PUSTAKA
1. Asdak Chay (1995). Hidrologi dan Pengeloaan daerah Aliran Sungai. Yogyakarta:
Gadjah Mada Press.
2. Linsley Ray K., Joseph B. Franzini, (1985), Teknik Sumber Daya Air, Eralanga,
Jakarta.
3. Maidment, RD. (1989). Handbook of Hydrology. McGraw-Hill. New York
4. Sastrodarsono Suyono dan Kensaku Takeda, (1999), Hidrologi untuk Pengairan.
Pradnya Paramitha. Bandung.

109

5. Shaw, Elizabeth (1994). Hidrology in Practice. Taylor & Francis. England.
6. Todd, (1983), Introduction to Hydrology. Mc Graw Hill. New York.
7. Viessmann, W., Lewis, GL., and Knapp, JW., (1989), Introduction to Hydrology.
Harper Collins Pub., New York.