Anda di halaman 1dari 29

1

BAB I
PENDAHULUAN

Tumor otak adalah suatu pertumbuhan jaringan yang abnormal didalam
otak. Yang terdiri dari tumor otak benigna dan maligna. Tumor otak benigna
adalah pertumbuhan jaringan abnormal didalam otak, tetapi tidak ganas,
sedangkan tumor otak maligna adalah kanker didalam otak yang berpotensi
menyusup dan menghancurkan jaringan disebelahnya atau yang telah menyebar
(metastase) keotak dari bagian tubuh lainnya melalui aliran darah. Tumor otak
dibagi menjadi dua tipe yaitu tumor primer dan sekunder. Tumor primer yaitu
tumor yang berasal dari dalam otak sendiri. Bisa berasal dari astrosit,
oligodendrosit, ependimosit, fibroblast, arakhnoidal, neuroblas-meduloblas.
Sedangkan tumor sekunder yaitu tumor yang berasal dari karsinoma metastase
yang terjadi dibagian tubuh lainnya, contohnya yang paling sering adalah yang
berasal dari tumor paru-paru pada pria dan tumor payudara pada wanita.
Penderita tumor otak lebih banyak pada laki-laki (60,74 %) dibanding
perempuan (39,26 %) dengan kelompok usia terbanyak 51 sampai > 60 tahun
(31,85 %) selebihnya terdiri dari berbagai kelompok usia yang bervariasi dari 3
bulan sampai usia 50 tahun. Dari 135 penderita tumor otak, hanya 100 penderita
(74,1 %) yang dioperasi dan lainnya (26,9 %) tidak dilakukan operasi karena
berbagai alasan, seperti inoperable atau tumor metastase (sekunder). Lokasi tumor
terbanyak di lobus parietal (18,2%), sedangkan tumor-tumor lainnya tersebar
dibeberapa lobus otak, suprasellar, medulla spinalis, cerebellum, brainstem,
cerebellopontineangle dan multiple. Dari hasil pemeriksaan Patologi Anatomi,
jenis tumor terbanyak yang dijumpai adalah Meningioma (39,26 %), sisanya
terdiri dari berbagai jenis tumor dan lain-lani yang tidak dapat ditentukan.






2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Otak
Otak manusia mencapai 2% dari keseluruhan berat tubuh, mengkonsumsi
25% oksigen dan menerima 1,5% curah jantung. Bagian cranial pada tabung saraf
membentuk tiga pembesaran (vesikel) yang berdiferensiasi untuk membentuk otak
: otak depan, otak tengah dan otak belakang. Otak depan (proensefalon) terbagi
menjadi dua subdivisi : telensefalon dan diensefalon.
Telensefalon merupakan awal hemisfer serebral atau serebrum dan basal
ganglia serta korpus striatum (substansi abu-abu) pada serebrum.
Diensefalon menjadi thalamus, hipotalamus dan epitalamus.

Otak tengah (mesensefalon) terus tumbuh dan pada orang dewasa disebut
otak tengah. Otak belakang (rombensefalon) terbagi menjadi dua subdivisi :
metensefalon dan mielensefalon.
Metensefalon berubah menjadi batang otak (pons) dan serebelum.
Mielensefalon menjadi medulla oblongata.

Mesencephalon adalah bagian sempit otak yang bekerja melewati incisura
tentorii dan menghubungkan otak depan dan otak belakang. Mesencephalon
terdiri dari dua belahan lateral yang disebut pedunculus serebri. Masing-masing
dibagi dalam pars anterior yaitu curs serebri, dan bagian posterior yaitu
tegmentum, oleh sebuah pita substansia grisea berpigmen yang disebut substansia
nigra. Rongga sempit mesencephalon disebut aqueductus cerebri, yang
menghubungkan ventriculus tertius dengan ventriculus quartus. Tectum adalah
bagian mesencephalon yang terletak posterior terhadap aqueductus serebri.
Tectum mempunyai empat tonjolan kecil, yaitu dua colliculus superior dan dua
colliculus inferior. Colliculus ini terletak profunda di antara cerebellum dan
hemisphere serebri. Rongga pada tabung saraf tidak berubah dan berkembang
menjadi ventrikel otak dan kanal sentral medulla spinalis.

3

b. Lapisan Pelindung
Otak terdiri dari rangka tulang bagian luar dan tiga lapisan jaringan ikat
yang disebut meninges. Lapisan meningeal terdiri dari pia meter, lapisan araknoid
dan durameter.
a) Pia meter adalah lapisan terdalam yang halus dan tipis, serta melekat erat
pada otak.
b) Lapisan araknoid terletak di bagian eksternal pia meter dan mengandung
sedikit pembuluh darah. Runga araknoid memisahkan lapisan araknoid
dari piameter dan mengandung cairan cerebrospinalis, pembuluh darah
serta jaringan penghubung serta selaput yang mempertahankan posisi
araknoid terhadap piameter di bawahnya.
c) Durameter, lapisan terluar adalah lapisan yang tebal dan terdiri dari dua
lapisan. Lapisan ini biasanya terus bersambungan tetapi terputus pada
beberapa sisi spesifik. Lapisan periosteal luar pada durameter melekat di
permukaan dalam kranium dan berperan sebagai periosteum dalam pada
tulang tengkorak. Lapisan meningeal dalam pada durameter tertanam
sampai ke dalam fisura otak dan terlipat kembali di arahnya untuk
membentuk falks serebrum, falks serebelum, tentorium serebelum dan sela
diafragma. Ruang subdural memisahkan durameter dari araknoid pada
regia cranial dan medulla spinalis. Ruang epidural adalah ruang potensial
antara perioteal luar dan lapisan meningeal dalam pada durameter di regia
medulla spinalis.

c. Cairan Cerebrospinalis
Cairan serebrospinalis mengelilingi ruang sub araknoid di sekitar otak dan
medulla spinalis. Cairan ini juga mengisi ventrikel dalam otak. Cairan
cerebrospinalis menyerupai plasma darah dan cairan interstisial, tetapi tidak
mengandung protein. Cairan serebrospinalis dihasilkan oleh plesus koroid dan
sekresi oleh sel-sel ependimal yang mengitari pembuluh darah serebral dan
melapisi kanal sentral medulla spinalis. Fungsi cairan cerebrospinalis adalah
sebagai bantalan untuk pemeriksaan lunak otak dan medulla spinalis, juga
4

berperan sebagai media pertukaran nutrient dan zat buangan antara darah dan otak
serta medulla spinalis.

d. Serebrum
Serebrum tersusun dari dua hemisfer serebral, yang membentuk bagian
terbesar otak. Koterks serebral terdiri dari 6 lapisan sel dan serabut saraf.
Ventrikel I dan II (ventrikel lateral) terletak dalam hemisfer serebral. Korpus
kolosum yang terdiri dari serabut termielinisasi menyatukan kedua hemisfer.
Fisura dan sulkus. Setiap hemisfer dibagi oleh fisura dan sulkus menjadi 4 lobus
(frontal, paritetal, oksipital dan temporal) yang dinamakan sesuai tempat
tulangnya
Fisura longitudinal membagi serebrum menjadi hemisfer kiri dan kanan
Fisura transversal memisahkan hemisfer serebral dari serebelum
Sulkus pusat / fisura Rolando memisahkan lobus frontal dari lobus
parietal.
Sulkus lateral / fisura Sylvius memisahkan lobus frontal dan temporal.
Sulkus parieto-oksipital memisahkan lobus parietal dan oksipital. Girus.
Permukaan hemisfer serebral memiliki semacam konvolusi yang disebut
girus.

Cerebrum terdiri atas hemisfer kanan dan kiri yang dipisahkan oleh falks
serebri, yaitu lipatan duramater dari sisi inferior sinus sagitalis superior. Pada
hemisfer serebri kiri terdapat pusat bicara manusia yang bekerja dengan tangan
kanan, dan juga pada lebih dari 85% orang kidal. Hemisfer otak yang
mengandung pusat bicara sering disebut sebagai hemisfer dominan. Lobus frontal
berkaitan dengan fungsi emosi, fungsi motorik dan pada sisi dominan
mengandung pusat ekspresi bicara (area bicara motorik). Lobus parietal
berhubungan dengan fungsi sensorik dan orientasi ruang. Lobus temporal
mengatur fungsi memori tertentu. Pada semua orang yang bekerja dengan tangan
kanan dan sebagian besar orang kidal, lobus temporal kiri bertanggung jawab
dalam kemampuan penerimaan rangsang dan integrasi bicara. Lobus oksipital
bertanggung jawab dalam proses penglihatan.
5

e. Area Fungsional Korteks Serebri
a) Area motorik primer pada korteks
Area primer terdapat dalam girus presentral. Disini neuron
mengendalikan kontraksi volunteer otot rangka. Area pramotorik korteks
terletak tepat di sisi anterior girus presentral. Neuron mengendalikan aktivitas
motorik yang terlatih dan berulang seperti mengetik. Area broca terletak di sisi
anterior area premotorik pada tepi bawahnya.
b) Area sensorik korteks
Terdiri dari area sensorik primer, area visual primer, area auditori
primer. Area olfaktori primer dan area pengecap primer (gustatory).
c) Area asosiasitraktus serebral
Terdiri area asosiasi frontal, area asosiasi somatic, area asosiasi visual,
area wicara
d) Ganglia basal
Adalah kepulauan substansi abu-abu yang terletak jauh di dalam
substansi putih

f. Diensefalon
Terletak di antara serebrum dan otak tengah serta tersembunyi di balik
hemisfer serebral, kecuali pada sisi basal. Diencephalon hampir seluruhnya
tertutup dari permukaan otak. Terdiri atas thalamus di dorsal dan hipothalamus di
ventral. Thalamus adalah massa substansia grisea besar, yang terletak dikanan dan
kiri ventriculus tertius. Thalamus merupakan stasiun perantara besar untuk jaras
sensoris aferen yang menuju cortex cerebri. Hipotalamus membentuk bagian
bawah dinding lateral dan dasar ventriculus tertius.
Talamus, terdiri dari dua massa oval (lebar 1 cm dan panjang 3 cm)
substansi abu-abu yang sebagian tertutup substansi putih. Masing-masing massa
menonjol ke luar untuk membentuk sisi dinding ventrikel ketiga.
Hipotalamus, terletak di diding inferior thalamus dan membentuk dasar
serta bagian bawah sisi dinding ventrikel ketiga. Hipotalamus berperan penting
dalam pengendalian aktivitas SSO yang melakukan fungsi vegetatif penting untuk
kehidupan, seperti pengaturan frekwensi jantung, tekanan darah, suhu tubuh,
6

keseimbangan air, selera makan, saluran pencernaan dan aktivitas Hipotalamus
juga berperan sebagai pusat otak untuk emosi seperti kesenangan, nyeri,
kegembiraan dan kemarahan. Hipotalamus memproduksi hormon yang mengatur
pelepasan atau inhibisi hormon kelenjar hipofise sehingga mempengaruhi
keseluruhan sistem endokrin.
Epitalamus, membentuk langit-langit tipis ventrikel ketiga. Suatu massa
berukuran kecil, badan pineal yang mungkin memiliki fungsi endokrin, menjulur
dari ujung posterior epitalamus.

g. Sistim Limbik
Terdiri dari sekelompok struktur dalam serebrum dan diensefalon yang
terlibat dalam aktivitas emosional dan terutama aktivitas perilaku tak sadar. Girus
singulum, girus hipokampus dan lobus pitiformis merupakan bagian sistem
limbic dalam korteks

h. Otak Tengah
Merupakan bagian otak pendek dan terkontriksi yang menghubungkan
pons dan serebelum dengan serebrum dan berfungsi sebagai jalur penghantar dan
pusat refleks. Otak tengah, pons dan medulla oblongata disebut sebagai batang
otak.

i. Pons
Hampir semuanya terdiri dari substansi putih. Pons menghubungkan
medulla yang panjang dengan berbagai bagian otak melalui pedunkulus serebral.
Pusat respirasi terletak dalam pons dan mengatur frekwensi dan kedalaman
pernapasan. Nuclei saraf cranial V, VI dan VII terletak dalam pons, yang juga
menerima informasi dari saraf
Pons terletak pada permukaan anterior cerebellum, dibawah
mesencephalon dan diatas medulla oblongata. Terutama tersusun atas serabur-
serabut saraf yang menghubungkan kedua belahan cerebellum. Pons juga
mengandung serabut-serabut ascenden dan descenden yang menghubungkan otak
depan, mesencephalon, dan medulla spinalis. Beberapa sel saraf di dalam pons
7

berfungsi sebagai stasiun perantara, sedangkan yang lain membentuk inti saraf
otak. Mesensefalon dan pons bagian atas berisi sistem aktivasi retikular yang
berfungsi dalam kesadaran dan kewaspadaan.

j. Serebelum
Terletak di sisi inferior pons dan merupakan bagian terbesar kedua otak.
Terdiri dari bagian sentral terkontriksi, vermis dan dua massa lateral, hemisfer
serebelar. Serebelum bertanggung jawab untuk mengkoordinasi dan
mengendalikan ketepatan gerakan otot dengan baik. Bagian ini memastikan
bahwa gerakan yang dicetuskan di suatu tempat di SSP berlangsung dengan halus
bukannya mendadak dan tidak terkordinasi. Serebelum juga berfungsi untuk
mempertahankan postur.
Cerebellum bertanggung jawab dalam fungsi koordinasi dan
keseimbangan dan berperan penting dalam mengendalikan tonus otot dan
mengkoordinasikan gerak otot pada sisi tubuh yang sama. Cerebellum terletak
dalam fosa posterior, berhubungan dengan medulla spinalis, batang otak dan juga
kedua hemisfer serebri.

k. Medulla Oblongata
Panjangnya sekitar 2,5 cm dan menjulur dari pons sampai medulla spinalis
dan terus memanjang. Bagian ini berakhir pada area foramen magnum tengkoral.
Pusat medulla adalah nuclei yang berperan dalam pengendalian fungsi seperti
frekwensi jantung, tekanan darah, pernapasan, batuk, menelan dan muntah. Nuclei
yang merupakan asal saraf cranial IX, X, XI dan XII terletak di dalam medulla.
Medulla oblongata berbentuk kerucut dan menghubungkan pons diatas
dengan medulla spinalis dibawah. Fissura mediana terdapat pada permukaan
anterior dan pada setiap sisi terdapat benjolan yang disebut pyramis. Pada medulla
oblongata terdapat pusat kardiorespiratorik, yang terus memanjang sampai
medulla spinalis dibawahnya.



8

l. Formasi Retikular
Formasi retukular atau sistem aktivasi reticular adalah jarring-jaring
serabut saraf dan badan sel yang tersebar di keseluruhan bagian medulla
oblongata,pons dan otak tengah. Sistem ini penting untuk memicu dan
mempertahankan kewaspadaan serta kesadaran.

B. Medulla Spinalis
a. Fungsi Medulla Spinalis
Medulla spinalis mengendalikan berbagai aktivitas refleks dalam
tubuh. Bagian ini mentransmisi impuls ke dan dari otak melalui traktus
asenden dan desenden.

b. Struktur Umum
Medulla spinalis berbentuk silinder berongga dan agak pipih.
Walaupun diameter medulla spinalis bervariasi, diameter struktur ini biasanya
sekitar ukuran jari kelingking. Panjang rata-rata 42 cm. Dua pembesaran,
pembesaran lumbal dan serviks menandai sisi keluar saraf spinal besar yang
mensuplai lengan dan tungkai. Tiga puluh satu pasang (31) saraf spinal keluar
dari area urutan korda melalui foramina intervertebral.

c. Struktur Internal
Terdiri dari sebuah inti substansi abu-abu yang diselubungi substansi
putih. Kanal sentral berukuran kecil dikelilingi oleh substansi abu-abu
bentuknya seperti huruf H. Batang atas dan bawah huruf H disebut tanduk
atau kolumna dan mengandung badan sel, dendrite asosiasi dan neuron eferen
serta akson tidak termielinisasi. Tanduk dorsal adalah batang vertical atas
substansi abu-abu. Tanduk ventral adalah batang vertical bawah. Tanduk
lateral adalah protrusi di antara tanduk posterior dan anterior pada area toraks
dan lumbal sistem saraf perifer. Komisura abu-abu menghubungkan substansi
abu-abu di sisi kiri dan kanan medulla spinalis. Setiap saraf spinal memiliki
satu radiks dorsal dan satu radiks ventral.

9

d. Traktus Spinal
Substansi putih korda yang terdiri dari akson termielinisasi, dibagi
menjadi funikulus anterior,posterior dan lateral. Dalam funikulus terdapat
fasiukulu atau traktus. Traktus diberi nama sesuai dengan lokasi, asal dan
tujuannya.

C. Sistem Saraf Perifer
Sistem ini terdiri dari jaringan saraf yang berada di bagian luar otak dan
medulla spinalis. Sistem ini juga mencakup saraf cranial yang berasal dari otak ;
saraf spinal, yang berasal dari medulla spinalis dan ganglia serta reseptor sensorik
yang berhubungan.

2.2 Tumor Otak
1. Definisi
Tumor otak adalah lesi ekspansif yang bersifat jinak (benigna) taupun ganas
(maligna), membentuk massa dalam ruang tengkorak kepala (intracranial) atau di
sumsum tulang belakang (medulla spinalis).

2. Etiologi
Herediter
Riwayat tumor otak dalam satu anggota keluarga jarang ditemukan
kecuali pada meningioma, astrositoma dan neurofibroma dapat dijumpai pada
anggota-anggota sekeluarga. Sklerosis tuberose atau penyakit Sturge-Weber
yang dapat dianggap sebagai manifestasi pertumbuhan baru, memperlihatkan
faktor familial yang jelas. Selain jenis-jenis neoplasma tersebut tidak ada
bukti-bukti yang kuat untuk memikirkan adanya faktor-faktor hereditas yang
kuat pada neoplasma.
Sisa-sisa Sel Embrional (Embryonic Cell Rest)
Bangunan-bangunan embrional berkembang menjadi bangunan-
bangunan yang mempunyai morfologi dan fungsi yang terintegrasi dalam
tubuh. Tetapi ada kalanya sebagian dari bangunan embrional tertinggal dalam
tubuh, menjadi ganas dan merusak bangunan di sekitarnya. Perkembangan
10

abnormal itu dapat terjadi pada kraniofaringioma, teratoma intrakranial dan
kordoma.
Radiasi
Jaringan dalam sistem saraf pusat peka terhadap radiasi dan dapat
mengalami perubahan degenerasi, namun belum ada bukti radiasi dapat
memicu terjadinya suatu glioma. Pernah dilaporkan bahwa meningioma
terjadi setelah timbulnya suatu radiasi.
Substansi-substansi Karsinogenik
Penyelidikan tentang substansi karsinogen sudah lama dan luas
dilakukan. Kini telah diakui bahwa ada substansi yang karsinogenik seperti
methylcholanthrone, nitroso-ethyl-urea. Ini berdasarkan percobaan yang
dilakukan pada hewan.

3. Klasifikasi
Berdasarkan gambaran histopatologi, klasifikasi tumor otak yang penting
dari segi klinis, dapat dilihat pada table dibawah ini :

Table 1. Clinical important brain tumors
Primary brain tumor
Histologically benign or malformative
Meningioma
Pituitary adenoma
Acustic adenoma
Pilocytic astrocytoma
Hamangioblastoma
Histologically malignant
Glioma
- Anaplastic astrocytoma
- Glioblastoma multiforme
Ependymoma
Meduloblastoma
Oligodendroglioma
11

Pineal cell tumor
Chorois plexus carcinoma
Primitive neuroectodermal tumors
Metastatic brain tumors
Single or multiple metastases
Meningeal carcinomatosis

4. Gambaran Klinis
Tumor otak merupakan penyakit yang sukar terdiagnosa secara dini,karena
pada awalnya menunjukkan berbagai gejala yang tidak khas dan meragukan tapi
umumnya berjalan progresif. Manifestasi klinis tumor otak dapat berupa :
a. Gejala serebral umum
Dapat berupa perubahan mental yang ringan (psikomotor asthenia) berupa
mudah tersinggung, emosi, labil, pelupa, perlambatan aktivitas mental dan
social, kehilangan inisiatif dan spontanitas, mungkin diketemukan
ansietas dan depresi. Gejala ini berjalan progresif dan dapat dijumpai pada
2/3 kasus.

1. Nyeri kepala
Diperkirakan 1 % penyebab nyei kepala adalah tumor otak dan 30
% gejala awal tumor otak adalah nyeri kepala. Sedangkan gejala lanjut
diketemukan 70 % kasus. Sifat nyeri kepala bervariasi dari ringan dan
episodic sampai berat dan berdenyut, umunya bertambah berat pada
malam hari dan pada saat bangun tidur pagi serta pada keadaan dimana
terjadi peninggian tekanan tinggi intracranial. Adanya nyeri kepala
dengan psikomotor estenia perlu dicurigai tumor otak.

2. Muntah
Terapat 30 % kasus dan umumnya menyertai nyeri kepala. Lebih
sering dijumpai pada tumor di fossa posterior, umumnya muntah proyektif
dan tak disertai dengan mual.

12

3. Kejang
Bangkitan kejang dapat merupakan gejala awal dari tumor otak pada 25 %
kasus dan lebih dari 35 % kasus pada stadium lanjut. Diperkirakan 2 %
penyebab bangkitan kejang adalah tumor otak. Perlu dicurigai penyebab
bangkitan kejang adalah tumor otak bila :
Bangkitan kejang petama kali pada usia lebih dari 25 tahun
Mengalami post iktal paralisis
Mengalami status epilepsy
Resistensi terhadap obat-obat epilepsy
Bangkitan disertai dengan gejala TTIK lain
Bangkitan kejang ditemui pada 70 % tumor otak dikorteks, 50 %
pasien dengan astrositoma, 40 % pada pasien meningioma dan 25
% pada glioblastoma.

4. Gejala tekanan tinggi intracranial
Berupa keluhan nyeri kepala didaerah frontal dan oksipital yang
timbul pagi hari dan malam hari, muntah proyektil dan penurunan
kesadaran. Pada pemeriksaan ditemukan papil edema. Keadaan ini perlu
tindakan segera karena setiap saat dapat timbul ancaman herniasi. Selain
itu dapat dijumpai parese N. VI akibat teregangnya N. VI oleh TTIK.
Tumor-tumor yang paling sering memberikan gejala TTIK tanpa gejal-
gejala fokal maupun lateralisasi adlah meduloblastoma, spendimoma dari
ventrikel III, hemangioblastoma serebelum dan craniopharingioma.

5. Diagnosa
Untuk menegakkan dignosa pada penderita yang dicurigai menderita
tumor otak yaitu melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik neurologic yang teliti,
adapun pemeriksaan penunjang yang dapat membantu yaitu CT-Scan dan MRI.
Dari anamnesis kita dapat mengetahui gejala-gejala yang dirasakan oleh
penderita yang mungkin sesuai dengan gejala-gejala. Misalnya ada tidaknya nyeri
kepala, muntah dan kejang. Sedangkan pemeriksaan fisik neurologic mungkin
ditemukan adanya gejala seperti edema papil dan deficit lapangan pandang.
13

6. Pemeriksaan Penunjang
Setelah diagnose klinik ditentukan, harus dilakukan pemeriksaan yang
spesifik untuk memperkuat diagnose dan mengetahui letak tumor.
a. CT-Scan kepala
Sensitifitas CT-Scan untuk mendeteksi tumor yang berpenampang kurang
dari 1 cm dan terletak pada basis kranil. Gambaran CT-Scan pada tumor otak,
umumnya tampak sebagai lesi abnormal berupa massa yang mendorong struktur
otak disekitarnya. Biasanya tumor otak dikelilingi jaringan edema yang terlihat
jelas karena densitasnya lebih rendah. Adanya klasifikasi, perdarahan atau
inc=vasi mudah dibedakan dengan jaringan sekitarnya karena sifatnya yang
hiperdens. Beberapa jenis tumor akan terlihat lebih nyata bila pada waktu
pemeriksaan CT Scan disertai dengan pemberian zat kontras.
Penilaian CT Scan pada tumor otak :
Tanda proses desak ruang
Pendorongan struktur garis tengah otak
Penekanan danperubahan bentuk ventrikel
Kelianan densitas pada lesi
Hipodens
Hiperdens atau kombinasi
Kalsifikasi, perdarahan
Edema perifokal

b. Elektroensefalografi (EEG)
c. Foto polos kepala
d. Arteriografi
e. Magnetic resonance imaging (MRI)

7. Diagnosa Banding
Gejala yang paling sering dari tumor otak adalah peningkatan tekanan
intracranial, kejang dan tanda deficit neurologic fokal yang progresif. Setipa
proses desak ruang di otak dapat menimbulkan gejala diatas, sehingga
membedakan tumor otak dengan beberapa hal berikut :
14

- Abses intraserebral
- Epidural hematom
- Hipertensi intracranial benigna
- Meningitis kronik

8. Terapi
Pemilihan jenis terapi pada tumor otak tergantung pada beberapa factor,
antara lain :
Kondisi umum penderita
Tersedianya alat yang lengkap
Luasnya metastasis
Adapun terapi yang dilakukan meliputi terapi steroid, pembedahan,
radioterapi dan kemoterapi.
a. Terapi steroid
Steroid dapat mengurangi edema sekeliling tumor intracranial,
namun tidak berefek langsung terhadap tumor.
b. Pembedahan
Pembedahan dilaksanakan untuk menegakkan diagnosis histologik
dan untuk mengurangi efek akibat masa tumor. Kecuali pada tipe-tipe
tumor tertentu yang tidak dapat direkseksi.
Banyak factor yang mempengaruhi keberhasilan suatu pembedahan
tumor otak yakni : diagnose yang tepat, rinci dan seksama, perencanaan
dan persiapan pra bedah yang lengkap, teknik anestesi yang baik,
kecermatan dan keterampilan dalam pengangkatan tumor serta perawatan
pasca bedah yang baik. Berbagai cara dan teknik operasi dengan
menggunakan kemajuan teknologi seperti mikroskop, sinar laser,
ultrasound aspirarator, bipolar coagulator, realtime yang membantu ahli
bedah saraf mengeluarkan masaa tumor otak dengan aman.
c. Radioterapi
Tumor diterapi melalui radioterapi konvensional dengan radiasi
total sebesar 5.000-6.000 cGy tiap fraksi dalam beberapa arah. Kegunaan
dari radioterapi hiperfraksi ini didasarkan pada alas an bahwa sel-sel
15

normal lebih mampu memperbaiki kerusakan subletal dibandingkan sel-sel
tumor dengan dosis tersebut. Radioterapi akan lebih efisien jika
dikombinasi dengan kemoterapi intensif.
d. Kemoterapi
Jika tumor tersebut tidak dapat disembuhkan dengan pembedahan,
kemoterapi tetap diperlukan sebagai terapi tambahan dengan metode yang
beragam. Pada tumor-tumor tertentu seperti meduloblastoma dan
astrositoma dan astrositoma stadium tinggi yang meluas ke batang otak,
terapi tambahan berupa kemoterapi dan regimen radioterapi dapat
membantu sebagai terapi paliatif.

9. Prognosis
Prognosisnya tergantung jenis tumor spesifik. Berdasarkan data dinegara-
negara maju, dengan diagnosis dini juga penanganan yang tepat melalui
pembedahan dilanjutkan dengan radioterapi, angka ketahanan hidup 5 tahun
berkisar 50-60% dan angka hidup 10 tahun berkisar 30-40%.
















16

MENINGIOMA
1. Definisi
Meningioma adalah tumor otak jinak yang berasal dari sel-sel yang
terdapat pada lapisan meningen serta derivat-derivatnya. Di antara sel-sel
meningen itu belum dapat dipastikan sel mana yang membentuk tumor tetapi
terdapat hubungan erat antara tumor ini dengan villi arachnoid. Tumbuhnva
meningioma kebanyakan di tempat ditemukan banyak villi arachnoid.









Gambar 1. Meningioma

2. Insidensi
Meningioma dapat dijumpai pada semua umur, namun paling banyak
dijumpai pada usia pertengahan. Meningioma intrakranial merupakan 15-20%
dari semua tumor primer di regio ini. Meningioma juga bisa timbul di sepanjang
kanalis spinalis, dan frekuensinya relatif lebih tinggi dibandingkan dengan tumor
lain yang tumbuh di regio ini.
Di intracranial, meningioma banyak ditemukan pada wanita dibanding pria
(2 : 1), sedangkan pada kanalis spinalis lebih tinggi lagi (4 : 1). Meningioma pada
bayi lebih banyak pada pria.
Meningioma intrakranial merupakan tumor kedua yang tersering
disamping Glioma, merupakan 1320% dari tumor susunan saraf pusat.
Meningioma dapat terjadi pada semua usia namun jarang didapatkan pada bayi
dan anak-anak. Angka tertinggi penderita meningioma adalah pada usia 50-60
tahun. Meskipun demikian dilaporkan juga dua kasus meningioma kongenital
17

pada bayi. KOOS dan MULLER menyatakan mulai usia 12 tahun insidens
meningioma meningkat secara progressif. Meningioma ini lebih banyak
didapatkan pada wanita dari pada laki-laki. Perbandingan antara wanita dan laki-
laki adalah 3 : 2, sedangkan JACOBSON dkk mendapatkan perbandingan wanita
dan laki-laki adalah 7 : 4.

3. Etiologi
Faktor-faktor terpenting sebagai penyebab meningioma adalah trauma,
kehamilan, dan virus. Pada penyelidikan dilaporkan 1/3 dari meningioma
mengalami trauma. Pada beberapa kasus ada hubungan langsung antara tempat
terjadinya trauma dengan tempat timbulnya tumor. Sehingga disimpulkan bahwa
penyebab timbulnya meningioma adalah trauma. Beberapa penyelidikan
berpendapat hanya sedikit bukti yang menunjukkan adanya hubungan antara
meningioma dengan trauma.
Dilaporkan juga bahwa meningioma ini sering timbul pada akhir
kehamilan, mungkin hal ini dapat dijelaskan atas dasar adanya hidrasi otak yang
meningkat pada saat itu.
Teori lain menyatakan bahwa virus dapat juga sebagai penyebabnya. Pada
penyelidikan dengan light microscope ditemukan virus like inclusion bodies
dalam nuclei dari meningioma. Tetapi penyelidikan ini kemudian dibantah bahwa
pemeriksaan electron misroscope inclusion bodies ini adalah proyeksi cytoplasma
yang berada dalam membran inti.


4. Patogenesis
Patofisiologi terjadinya meningioma sampai saat ini masih belum jelas.
Kaskade eikosanoid diduga memainkan peranan dalam tumorogenesis dan
perkembangan edema peritumoral.
Dari lokalisasinya Sebagian besar meningioma terletak di daerah
supratentorial. Insidens ini meningkat terutama ada daerah yang mengandung
granulatio Pacchioni. Lokalisasi terbanyak pada daerah parasagital dan yang
paling sedikit pada fossa posterior.
18

Etiologi tumor ini diduga berhubungan dengan genetik, terapi radiasi,
hormon sex, infeksi virus dan riwayat cedera kepala. Sekitar 40-80% tumor ini
mengalami kehilangan material genetik dari lengan panjang kromosom 22, pada
lokus gen neurofibromatosis 2 (NF2). NF2 merupakan gen supresor tumor pada
22Q12, ditemukan tidak aktif pada 40% meningioma sporadik. Pasien dengan
NF2 dan beberapa non-NF2 sindrom familial yang lain dapat berkembang
menjadi meningioma multiple, dan sering terjadi pada usia muda. Disamping itu,
deplesi gen yang lain juga berhubungan dengan pertumbuhan meningioma.
Terapi radiasi juga dianggap turut berperan dalam genesis meningioma.
Bagaimana peranan radiasi dalam menimbulkan meningioma masih belum jelas.
Pasien yang mendapatkan terapi radiasi dosis rendah untuk tinea kapitis dapat
berkembang menjadi meningioma multipel di tempat yang terkena radiasi pada
dekade berikutnya. Radiasi kranial dosis tinggi dapat menginduksi terjadinya
meningioma setelah periode laten yang pendek.
Meningioma juga berhubungan dengan hormon seks dan seperti halnya
faktor etiologi lainnya mekanisme hormon sex hingga memicu meningioma
hingga saat ini masih menjadi perdebatan. Pada sekitar 2/3 kasus meningioma
ditemukan reseptor progesterone.

Tidak hanya progesteron, reseptor hormon lain
juga ditemukan pada tumor ini termasuk estrogen, androgen, dopamine, dan
reseptor untuk platelet derived growth factor. Beberapa reseptor hormon sex
diekspressikan oleh meningioma. Dengan teknik imunohistokimia yang spesifik
dan teknik biologi molekuler diketahui bahwa estrogen diekspresikan dalam
konsentrasi yang rendah. Reseptor progesteron dapat ditemukan dalam sitosol dari
meningioma. Reseptor somatostatin juga ditemukan konsisten pada meningioma.
Pada meningioma multiple, reseptor progesteron lebih tinggi dibandingkan
pada meningioma soliter. Reseptor progesteron yang ditemukan pada meningioma
sama dengan yang ditemukan pada karsinoma mammae. Jacobs dkk (10)
melaporkan meningioma secara bermakna tidak berhubungan dengan karsinoma
mammae, tapi beberapa penelitian lainnya melaporkan hubungan karsinoma
mammae dengan meningioma.
Meningioma merupakan tumor otak yang pertumbuhannya lambat dan
tidak menginvasi otak maupun medulla spinalis. Stimulus hormon merupakan
19

faktor yang penting dalam pertumbuhan meningioma. Pertumbuhan meningioma
dapat menjadi cepat selama periode peningkatan hormon, fase luteal pada siklus
menstruasi dan kehamilan.
Trauma dan virus sebagai kemungkinan penyebab meningioma telah
diteliti, tapi belum didapatkan bukti nyata hubungan trauma dan virus sebagai
penyebab meningioma.

Philips et al melaporkan adanya sedikit peningkatan kasus
meningioma setelah trauma kepala pada populasi western Washington state.

5. Klasifikasi
Klasifikasi menurut Kernohan dan Sayre, yaitu Meningioma
meningotheliomatosa (syncytial, endothclimatous), Meningioma fibroblastic dan
Meningioma angioblastik. Yang terakhir ada yang menggolongkan sebagai
haemangioperisitoma. Tipe transisional atau tipe campuran digolongkan ke dalam
kelompok meningioma meningotheliomatosa.

WHO juga membuat suatu klasifikasi untuk meningioma, lihat table 2.1.
Low risk of Recurrence and Aggressive Growth
Grade I
Meningothelial meningioma
Fibrous (fibroblastic) meningioma
Transitional (mied) meningioma
Psammomatous Meningioma
Angiomatous meningioma
Mycrocystic meningioma
Lymphoplasmacyte-rich meningioma
Metaplastic meningioma
Secretory meningioma
Greater Likelihood of Recurrence, Aggressive behavior, or any Type with a
High Proliferative Index
Grade II
Atypical meningioma
Clear cell meningioma (Intracranial)
20

Choroid meningioma


Grade III
Rhabdoid meningioma
Papillary meningioma
Anaplastic (malignant) meningioma
Tabel 2.1 Klasifikasi Meningioma menurut WHO

6. Manifestasi klinik
Meningioma tumbuhnya perlahan-lahan dan tanpa memberikan gejala-
gejala dalam waktu yang lama, bahkan sampai bertahun-tahun. Ini khas untuk
meningioma tetapi tidak pathognomonis. Diperkirakan meningioma
intrakranial yang merupakan 1,44% dari seluruh otopsi sebagian besar tidak
menunjukkan gejala-gejala dan didapatkan secara kebetulan. Dari permulaan
sampai timbulnya gejala-gejala rata-rata 26 bulan, dilaporkan juga gejala-
gejala yang lama timbulnya yaitu antara 20 30 tahun. Walaupun demikian
gejala-gejala yang cepat tidak menyingkir kan adanya meningoma.
Gejala-gejala umum, seperti juga pada tumor intracranial yang lain
misalnya sakit kepala, muntah-muntah, perubahan mental atau gejala-gejala
fokal seperti kejang-kejang, kelumpuhan, atau hemiplegia. Gejala umum ini
sering sudah ada sejak lama bahkan ada yang bertahun-tahun sebelum
penderita mendapat perawatan dan sebelum diagnosa ditegakkan.
Gejala-gejala yang paling sering didapatkan adalah sakit kepala. Gejala
klinis lain yang paling sering adalah berturut-turut sebagai berikut :
kejang-kejang (48%)
gangguan visus ( 29%)
gangguan mental ( 13%)
gangguan fokal ( 10%)

Tetapi timbulnya tanda-tanda dan gejala-gejala ini tergantung pada
letak tumor dan tingginya tekanan intrakranial. Tanda-tanda fokal sangat
21

tergantung dari letak tumor, gejala-gejala bermacam-macam sesuai dengan
fungsi jaringan otak yang ditekan atau dirusak, dapat perlahan-lahan atau
cepat. Menurut LEAVEN gangguan fungsi otak ini penting untuk diagnosa
dini. Gejala-gejala ini timbul akibat hemodynamic steal dalam satu hemisfer
otak, antara hemisfer atau dari otak kedalam tumor.
Disamping gejala-gejala tersebut di atas juga sering didapatkan
gangguan saraf otak (nervus cranialis) terutama yang paling sering dari kasus-
kasus Crouse yaitu N II, V, VI, IXdan X. Gejala yang menarik adalah adanya
Intermittent cerebral symptoms. Pada 219 penderita dengan meningioma supra
tentorial didapatkan gangguan fungsi serebral yang mendadak intermitten dan
sementara dapat beberapa menit atau lebih dari sehari. Gejala-gejala dapat
berupa afasia, kelumpuhan dari muka dan lidah, hemi plegia, vertigo, buta,
ataxia, hallusinasi (olfaktoris) dan kejang-kejang. Setengah dari kasus-kasus
ini gangguan fungsi serebral berulang-ulang, karena terjadi pada usia lanjut
maka seringkali diagnosa membingungkan dengan suatu infark otak atau
insuffuiensia serebrovaskuler, migrain, dan multiple sclerosis. Pada umumnya
C.V.A. dapat dibedakan dengan tumor intrakranial dengan adanya gejala-
gejala yang mendadak dan perlahan-lahan diikuti dengan kemajuan dari
gejala-gejala neurologis. Bermacam-macam gejala eurologis yang paling
sering menimbulkan kesalahan diagnose.




7. Gambaran histopatologi
Meningioma intrakranial banyak ditemukan di regio parasagital,
selanjutnya di daerah permukaan konveks lateral dan falx cerebri. Di kanalis
spinalis meningioma lcbih sering menempati regio torakal. Pertumbuhan
tumor ini mengakibatkan tekanan hebat pada jaringan sekitamya, namun
jarang menyebuk ke jaringan otak. Kadang-kadang ditemukan fokus-fokus
kalsifikasi kecil-kecil yang berasal dari psammoma bodies, bahkan dapat
ditemukan pembentukan jaringan tulang baru.
22

Secara histologis, meningioma biasanya berbentuk globuler dan
meliputi dura secara luas. Pada permukaan potongan, tampak pucat translusen
atau merah kecoklatan homogen serta dapat seperti berpasir. Dikatakan
atipikal jika ditemukan proses mitosis pada 4 sel per lapangan pandang
elektron atau terdapat peningkatan selularitas, rasio small cell dan nukleus
sitoplasma yang tinggi, uninterupted patternless dan sheet-like growth.
Sedangkan pada anaplastik akan ditemukan peningkatan jumlah mitosis sel,
nuklear pleomorphism, abnormalitas pola pertumbuhan meningioma dan
infiltrasi serebral. Imunohistokimia dapat membantu diagnosis meningioma.
Pada pasien dengan meningioma, 80% menunjukkan adanya epithelial
membrane antigen (EMA) yang positif. Stain negatif untuk anti-Leu 7
antibodi (positif pada Schwannomas) dan glial fibrillary acidid protein
(GFAP).

8. Pemeriksaan Penunjang
Diagnosa meningioma dapat ditentukan atas beberapa pemeriksaan
sebagai berikut :
Elektroensefalografi (E.E.G.).
X ray foto tengkorak.
Angiografi
Pneumoensefalografi atau Ventrikulografi.
Brain Scan.
Computerized Tomography Scan (CT scan).
Histopatologik.
Tissue Culture
1


a. Elektroensefalografi (EEG)
Tumor otak memberi EEG abnormal pada 7585% dari kasus dan 15
25% dari penderita dengan tumor otak mempunyai EEG yang normal.
Tumor otak sendiri tidak memberi aktivitas listrik abnormal. Hanya neuron-
neuron yang membuat ini pada daerah dekat tumor menjadi abnormal
sedemikian rupa sehingga hypersynchronisasi dari pelepasan-pelepasan listrik
23

dari beribu-ribu atau berjuta-juta sel saraf membentuk gelombang lambat atau
gelombang runcing pada EEG. Mungkin tumor ini memberi kelainan
metabolik dari neuron-neuron didekatnya, mungkin dengan tekanan langsung,
oedema atau mengacau (merusak) innervasi daerahnya. Meningoma
menunjukkan sedikit abnormalitas pada E.E.G. Pada kasus-kasus didapatkan
53% dengan focus abnormal. Pada meningioma intraventriculer enam dari
delapan kasus menunjukkan EEG yang abnormal.
1


b. Foto Tengkorak
Beberapa sarjana menyatakan bahwa perubahan-perubahan dari X foto
tengkorak pada meningioma 22,5% adalah normal, 75,5% abnormal. Kelainan
radiologis tersebut adalah:
Hyperostosis : 25% 44,1%
Pembesaran dari canalis yang dilalui oleh arteri meningiamedia (foramen
Spinosum) : 25%
Perkapuran dari tumor : 3% 20%
Kerusakan dari tulang : 1,5% 16,1%
Pembuatan specule : 4,3% adalah pembuatan tulang-tulang baru sebagai
tiang yang ramping tegak lurus pada permukaan tulang yang normal.
Penebalan tulang yang difus

Hyperostosis dan kalsifikasi tumor terutama Psammomatous
merupakan tanda yang paling penting untuk diagnosa meningioma disamping
peningkatan Vascularisasi dan kerusakan tulang.
1


c. Angiografi
Kelainan pembuluh darah yang paling khas pada meningioma adalah
adanya pembuluh darah yang memberi darah pada neoplasma oleh cabang-
cabang arteri sistim karotis eksterna. Bila mendapatkan arteri karotis ekstema
yang memberi darah ke tumor yang letaknya intrakranial maka ini mungkin
sekali neningioma.
1

24

Meningioma menunjukkan ciri-ciri paling khas sebagai berikut:: (i)
Mendapat darah dari sistim karotis eksterna. (ii) Homogenous akan tetapi
sharphy sircumscribed cloud, ya itu adanya tumor cloud yang homogen dari
cairan kontras pada seluruh tumor. Batas vaskuler intrinsik dari meningioma
sering jelas sekali dan konfigurasinya berbentuk bulat-bulatan (lobulated).
Dan (iii). Tetap adanya cairan kontras dalam tumor.
1

Terdapat tetap adanya tumor cloud untuk waktu yang agak lama pada
serialogram. Tumor Stain masih terlihat pada film terakhir ialah delapan
sampai sembilan detik setelah permulaan dari injeksi cairan kontras. (iii) lebih
dapat dipercaya daripada (ii).
1


d. Pneumoensefalografi atau Ventrikulografi
Pneumografi dapat menunjukkan paling jelas tumor intraventrikuler
dan tumor yang letaknya dalam, dekat pada ventrikel atau mengadakan invasi
pada struktur di garis tengah (invading midline structures).
1


e. Brain Scan
Brainscan biasanya kurang cermat untuk diagnosa dari tumor yang
tumbuh lambat dan berasal dari glia. Mungkin tak lebih dari separo
menunjukkan Brainscan yang positip. Keterbatasan atau kejelekan dari
radionucleide brainscan ini ialah tak dapat memberi petunjuk yang dapat
dipercaya mengenai jenis atau macam nature dari lesi. Ia hanya menunjukkan
suatu daerah dengan uptake yang abnormal dalam kepala, yang dapat sebagai
neoplasma, vaskuler, radang atau trauma. Ia tak memberi informasi mengenai
status dari otak dan derajad dari deformitas atau adanya edema otak, dilatasi
ventrikel atau tekanan intrakranial yang tinggi. Dalam hal ini, C.T. scan dari
otak lebih superior dibandingkan dengan isotop brainscan.
1


f. Computerized Tomography scan (CT scan)
Meningioma biasanya lebih padat dibandingkan dengan otak oleh
karena adanya Calcium dalam tumor. Nilai absorpsi mungkin antara 20 300
Um, dan lesi-lesi itu dengan densitas sedang, bertambah jelas dengan
25

penyuntikan, kontras walau dengan jumlah yang sedikit (20 40 cc). Bila
meningioma dengan densitas sangat mendekati otak,maka kita dapat salah
menerka edema sebagai tumor dan dapat mendiagnosis salah sebagai glioma.
Sesuai dengan laporan BECKER dkk (1) bila meningioma mengandung
banyak calcium, ia sangat padat dan diagnosisnya jelas.
1

CT. Scan dapat menunjukkan ventrikel dan ruangan subarachnoid,
juga massa tumor, sering dapat memberi informasi tentang lokalisasi
secara terperinci. Histopatologik. Histopatologi dari meningioma
menunjukkan gambaran yang beraneka ragam. Beberapa sarjana membagi
menjadi gambaran yang sederhana didasarkan jenis yang paling sering
didapatkan.
1


g. Pembiakan jaringan (Tissue Culture)
Sejak tahun 1928 pembiakan jaringan meningioma telah dilakukan,
tetapi tidak didapatkan bentuk-bentuk pertumbuhan, sampai COSTERO dkk
pada th 1955 mendapatkan pertumbuhan meningioma whorls yang khusus.
Bentuk whorls tidak selalu didapatkan pada semua pembiakan jaringan
meningioma, tetapi whorls ini merupakan tanda khas adanya meningioma dan
tidak pernah didapatkan pada tumor-tumor yang lain baik intra maupun
ekstraserebral.
1

Menurut U.I.C.C. (Unio Internationalis Contra Cancrum) gambaran
histopatologi sebagai berikut:
Epitheloid
Meningotheliomatous
Endotheliomatous
Fibroblastic / Fibromatous
Psammomatous
1


9. Diagnosis Banding
Diagnosa banding tergantung dari bentuk gejala sebenarnya dan usia
penderita. Telah dibuat sejumlah diagnosa banding pada beberapa
penyelidikan.Kira-kira separo dari kasus-kasus dengan insuffisiensia serebral
26

sepintas lalu dan berulang-ulang pada penderita yang tua menyerupai infark otak
atau insuffiensia serebro vaskuler. Seringkali juga menyerupai chronic subdural
hematoma, perdarahan subarachnoid dan meningitis serosa.
1



10. Penatalaksanaan
Terapi meningioma masih menempatkan reseksi operatif sebagai pilihan
pertama. Beberapa faktor yang mempengaruhi operasi removal massa tumor ini
antara lain lokasi tumor, ukuran dan konsistensi, vaskularisasi dan pengaruh
terhadap sel saraf, dan pada kasus rekurensi, riwayat operasi sebelumnya dan atau
radioterapi. Lebih jauh lagi, rencana operasi dan tujuannya berubah berdasarkan
faktor resiko, pola, dan rekurensi tumor. Tindakan operasi tidak hanya
mengangkat seluruh tumor tetapi juga termasuk dura, jaringan lunak, dan tulang
untuk menurunkan kejadian rekurensi.

11. Rencana preoperatif
Pada pasien dengan meningioma supratentorial, pemberian antikonvulsan
dapat segera diberikan, deksametason diberikan dan dilindungi pemberian H2
antagonis beberapa hari sebelum operasi dilaksanakan.
Pemberian antibiotik perioperatif digunakan sebagai profilaksis pada
semua pasien untuk organisme stafilokokkus, dan pemberian cephalosporin
generasi III yang memiliki aktifitas terhadap organisem pseudomonas, serta
pemberian metronidazol (untuk organisme anaerob) ditambahkan apabila operasi
direncanakan dengan pendekatan melalui mulut, sinus paranasal, telinga, atau
mastoid.








27

Grade I Gross total resection of tumor, dural attachments and abnormal bone
Grade II Gross total resection of tumor, coagulation of dural attachments
Grade III Gross total resection of tumor, without resection or coagulation of
dural attachments, or alternatively of its extradural extensions ( e.g
invaded sinus or hyperostotic bone)
Grade IV Partial resection of tumor
Grade V Simple decompression (biopsy)
Tabel 2.2 Klasifikasi Simpson untuk reseksi meningioma intracranial



a. Operasi
Meningioma yang terletak di vault biasanya dapat dioperasi seluruhnya.
Pada basis otak terdapat kesukaran tekhnis untuk diambil seluruhnya.
b. Drainage ventrikel
Cara ini digunakan umpamanya pada neoplasma dari fossa posterior
dengan obstruksi akut dari sistem ventrikel, tekanan intrakranial meningkat secara
massif dan oedema otak yang ikut menyertainya.
c. Penutupan vaskuler
Cara ini digunakan paling sering pada meningioma dengan banyak sekali
pembuluh darah (highly vascular meningioma). Biasanya dilakukan 24 jam
sebelum operasi yaitu penutupan dari arteria karotis eksterna yang memberi darah
pada tumor dengan macam-macam tehnik embolisasi.
d. Pembesaran lapangan operasi (Operative magnification)
Penggunaan microscope bedah atau loupe dengan cahaya fiberoptic
memberi dimensi baru untuk pendekatan operasi, dari banyak tnmor.

12. Prognosis
Pada umumnya prognosa meningioma adalah baik, karena pengangkatan
tumor yang sempurna akan memberikan peyembuhan yang permanen. Pada orang
dewasa snrvivalnya relatif lebih tinggi dibandingkan pada anak-anak, dilaporkan
survival rate lima tahun adalah 75%. Pada anak-anak lebih agresif, perubahan
28

menjadi keganasan lebih besar dan tumor dapat menjadi sangat besar. Pada
penyelidikan pengarang-pengarang barat lebih dari 10% meningioma akan
mengalami keganasan dan kekambuhannya tinggi.
Sejak 18 tahun meningioma dipandang sebagai tumor jinak, dan bila
letaknya mndah dapat diangkat seluruhnya. Degenerasi keganasan tampak bila
ada:
invasi dan kerusakan tulang
tumor tidak berkapsul pada saat operasi
invasi pada jaringan otak.
Angka kematian (mortalitas) meningioma sebelum operasi jarang
dilaporkan, dengan kemajuan tehnik dan pengalaman operasi para ahli bedah
maka angka kematian post operasi makin kecil. Diperkirakan angka kematian post
operasi selama lima tahun (19421946) adalah 7,9% dan (19571966)
adalah8,5%. Sebab-sebab kematian menurut laporan-laporan yang terdahulu yaitn
perdarahan dan oedema otak.

















29

DAFTAR PUSTAKA

1. Guyton Arthur. Fisiologi Manusia dan mekanisme penyakit. Edisi III.
EGC: Jakarta 1990.
2. Listiono LD. Tumor Otak. Ilmu Bedah Saraf Satyanegara. Edisi III.
Gramedia: Jakarta. 1998. Hal. 207
3. Lindsay KW, Bone Ian, Callender R. Neurology and Neurosurgery
Illustrated. Second Edition. Churchill Livingstone : New York. 1991
4. Berstein M, Berger SM. Neuro-oncology the essentials. Thieme Medical
Publishers: New York. 2000
5. Suwondo. Gejala kanker/tumor otak dan pencegahannya. 23-09-2011.
(Online). Diakses (03 Maret 2013). Diunduh dari URL
:http://skp.unair.ac.id/repository/GuruIndonesia/GEJALAKANKERTUM
OR_SUWONDO_15095.pdf
6. Taufik Maulana. Astrositoma. 16 april 2010. (Online). Diakses (03 Maret
2013). Diunduh dari URL : http://kumpulanmakalahkedokteran.
blogspot.com/2010/04/ astrositoma_16.html
7. Anonym. Meningioma. 18 Juli 2009. (Online). Diakses (03 Maret 2013).
Diunduh dari URL : Filed under: http://somelus.wordpress.com/
2009/07/18/meningioma/
8. Anonim. Medulloblastoma. Juni 2009. (Online). Diakses (03 Maret 2013).
Diunduh dari URL :http://www.medicinestuffs.com/2006/06/
medulloblastoma.html
9. Japardi Iskandar . Gambaran Ct Scan Pada Tumor Otak Benigna. (Online).
Diakses (03 Maret 2013). Diunduh dari URL
:http://library.usu.ac.id/download/fk/bedah-iskandar%20japardi11.pdf
10. Simon S Lo, Editor: James G Smirniotopoulos. Pilocytic
Astrocytoma. (Online). Diakses (03 Maret 2013). Diunduh dari URL :
http://emedicine.medscape.com/article /341293-overviewted: Oct 14, 2013