Anda di halaman 1dari 2

CONTOH CERPEN BERDASARKAN PENGALAMAN

ORANG LAIN
Bukan Permen tapi Coklat
Handycam itu masih tetap tergeletak di atas meja. Menemaniku yang berimajinasi memikirkan
film untuk mereka. Inilah pekerjaanku menjadi guru di sanggar sembari menjadi Pembina
ekstrakulikuler teater di sebuah SMA. Kringgg.. terdenganr ada panggilan masuk dari
HPku. Halo, selamat siang Cak ini saya ketua ekstra teater bagaimana hari ini bisa latih kami
untuk persiapan festival tidak?. Ehm, bisa-bisa saya ke sana limabelas menit lagi ya! jawabku
dengan tegas.
Jujur, sebenarnya aku bingung dengan situasi sekarang ini aku diantara dua pilihan, pasalnya
beberapa kali aku ditawari sebuah pekerjaan oleh temanku untuk ke Jakarta dan itu pasti akan
merubah nasib peruntunganku tapi jika aku menerima tawaran itu lalu bagaimana dengan
mereka? Para serdadu cilik yang akan berlomba diajang festival setingkat kabupaten. Sungguh
membuatku terkadang malas untuk melatih anak-anak teater itu.
Sesampainya di sekolah aku berbincang-bincang dengan seorang muridku katanya festival itu
akan digelar satu minggu lagi. Huh, selalu seperti itu taka da perubahan, Kenapa baru bilang
sekarang? muridku hanya terdiam tak membalas pertanyaanku. Malamnya aku mulai
menggarap berkas-berkas festival terutama efek-efek suara, yah seakan berlomba dengan waktu,
tak tidur meski jam menunjukkan pukul duabelas malam. Itu demi anak-anak yang menaruh
harapan padaku.
Latihan hari ke lima ini sungguh membuatku naik darah, tak ada kemajuan yang begitu nampak
dari mereka, maksudku perubahan dalam kedisiplinan, kesetiakawanan dan kedewasaan. Pegang
ponsel sana-sini, ngerumpi gak jelas ala burung kenari, tidak ada kesungguhan dalam latihan.
Hingga suatu ketika aku berkata, Kalian gak mau kan saya panggil anak TK? Saya gak mau
marah-marah, buang-buang energi!. Mereka lalu terpusat padaku. Tapi tak lama kemudian
mulai lagi, sekarang bertambah lagi anak yang berulah dengan berlagak seperti seles-seles yang
menawarkan barang dagangannya dengan begitu centil.
Tanggal duapuluh tiga Februari 2013, inilah saat yang ditunggu-tunggu oleh anggota teater kami.
Pukul empat sore aku bergegas menuju sekolah untuk mengantarkan murid-muridku bersiap
melaksanakan lomba. Tapi lagi-lagi keadaannya tak sesuai yang harapan sebagian dari mereka
masih luntang-lantung menunggu giliran make-up. Inilah hasilnya, kami dapat urutan terakhir
dan panitia mencemooh bahwa kami kurang professional. Untunglah dewi fortuna masih
berpihak pada kami, masuk babak final dan tandanya aku tak tidur lagi semalam suntuk. Esoknya
kami bertanding kembali untuk menentukan sang juara. Awalnya mereka menari sesuai dengan
alunan musik tapi seketika semua semrawut, temponya tidak sesuai yang aku rasakan saat ini
adalah malas, sumpek, ingin rasanya untuk segera pulang lebih lagi para juri mengkritik pedas
Saya melihat penampilan ini jenuh, jangan terlalu memaksakanlah!, katanya. Sungguh aku tak
puas dan langsung bergegas pulang tanpa pamit pada anak-anak.
Ketika aku membuka akun facebookku da nada foto anak-anak saat di atas panggung kemarin.
Cantiknya sayang tidak dapat coklat, itulah komentarku. Dua hari telah berlalu ini adalah
hari dimana evaluasi dilakukan. Tanpa banyak kata aku langsung menyanggah mereka, Kalian
itu ibaratnya ingin mendapatkan coklat tapi bukan coklat yang didapat melainkan hanya diberi
sebungkus permen kecil. Anak-anak itu hanya menunduk dan merenungi kata-kata yang aku
ucapkan. Aku lantas menyambungnya lagi, Kekeluargaan kalian itu kurang, entah model
kesetiakawanan apa yang kalian terapkan saat ini. Tetesan air mata jatuh dari salah seorang
muridku, mungkin ia menyesal dan memang penyesalan itu datangnya belakangan. Hari ini aku
juga sekaligus pamit pamit pada mereka, aku akan pergi ke Jogjakarta selama dua minggu. Ada
tugas yang harus aku selesaikan selain itu mungkin ini adalah cara ungkapan menghilangkan rasa
kekecewaanku pada mereka. Aku harap mereka bisa lebih menghargai orang lain, dapat
melahirkan karya-karya yang indah dan tentu saja bukan permen lagi yang mereka dapat
melainkan coklat.