Anda di halaman 1dari 11

1

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Konsentrasi CO
2
global (permukaan) di atmosfer telah meningkat sejak
dimulainya revolusi industri karena pertumbuhan pesat aktivitas manusia.
Aktivitas pembakaran bahan bakar fosil, limbah padat dan kayu untuk
menghangatkan bangunan, menggerakkan kendaraan dan menghasilkan listrik
mampu meningkatkan jumlah CO
2
yang dilepas ke atmosfer. Kondisi konsentrasi
CO
2
yang semakin meningkat di atmosfer adalah penyebab utama perubahan
global dan perubahan iklim (Nurmaini, 2001).
Pada saat yang sama, tingkat emisi gas rumah kaca di Indonesia cukup
tinggi, jumlah vegetasi yang mampu menyerap karbondioksida semakin
berkurang, akibat perambahan hutan untuk diambil kayunya maupun untuk
perluasan lahan pertanian. Walaupun lautan dan proses alam lainnya mampu
mengurangi karbondioksida di atmosfer, aktifitas manusia yang melepaskan
karbondioksida ke udara jauh lebih cepat dari kemampuan alam untuk
menguranginya. Maka dari itu, komitmen untuk melaksanakan kerangka
kebijakan penurunan emisi karbon dioksida dalam 20 tahun kedepan wajib
dilakukan.Jumlah emisi karbon dioksida (CO
2
) menurut laporan Bappenas
menyebutkan pada tahun 2008 adalah 1.711.626 Gg CO
2
eq dan ditargetkan
berkurang 26% pada tahun 2020.
Begitu pula dengan Tujuan Pembangunan Abad Milenium atau sering juga
disebut Program Pembangunan Milenium (Millenium Development Goals/MDGs)
merupakan program yang dicanangkan oleh PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa)
dalam Millenium Summit yang diselenggarakan pada bulan September 2000.
MDGs berisi 8 tujuan yang harus dicapai oleh 189 negara anggota PBB pada
tahun 2015. Dimana pada target 7a setiap Negara wajib memastikan kelestarian
hidup lingkungannya.Sebagai salah satu anggota PBB, Indonesia
ikutmelaksanakan komitmen tersebut. Namun pada tahun 2010, Bappenas
melaporkan bahwa terjadi kenaikan jumlah emisi CO
2
dari tahun 2000 - 2008
sekitar 30% dari jumlah sebelumnya di Indonesia. Oleh karena itu, kondisi ini
menjadi masalah yang telah digarisbawahi sebagai keadaan yang perlu perhatian
khusus oleh Bappenas.
Berbagai evaluasi dan sosialisasi terhadap upaya pencapaian MDGs di
Indonesia telah dilaksanakan.Dalam laporan menunjukkan bahwa beberapa tujuan
telah tercapai, dan sebaliknya, ada yang masih jauh dari harapan (Bappenas,
2010). Salah satunya yang masih belum tercapai adalah melestarikan lingkungan
hidup dengan indikator menurunnya emisi gas CO
2
.
Tujuan dan Manfaat
Tujuan dari gagasan ini ialah:
a. Sebagai upaya menurunkan jumlah emisi gas CO
2
di Indonesia;
b. Sebagai upaya memfasilitasi masyarakat dalam meminimalisir
peningkatan emisikarbon dioksida (CO
2
);dan
c. Sebagai upaya mencapai MDGs target 7 di Indonesia.

2

Manfaat dari gagasan ini adalah dapat mendukung pemerintah dalam
mencapai target MDGs di Indonesia mengenai melestarikan lingkungan hidup
dengan indikator menurunnya emisi gas CO
2.

GAGASAN
Kondisi Kekinian Pencetus Gagasan
Pemanasan global merupakan fenomena meningkatnya suhu permukaan
bumi akibat peningkatan kadar gas-gas rumah kaca (GRK) di atmosfer.
Sebenarnya keberadaan GRK diperlukan untuk mempertahankan kehangatan suhu
permukaan bumi sebagai penunjang kehidupan. Yang dikhawatirkan adalah
peningkatan suhu yang terus menerus sehingga melewati ambang batas normal
yang dapat membahayakan kehidupan manusia dalam bentuk gangguan
kesehatan, kekurangan pangan, dan kerusakan lingkungan (Fischer et al, 2002).
Kekhawatiran menjadi sangat beralasan ketika MacCracken dan Luther (1985,
dalam Ulumuddin, et. al. 2005) menyebutkan bahwa peningkatan konsentrasi CO
2

di atmosfer berkorelasi dengan peningkatan suhu atmosfer.
CO
2
merupakan salah satu gas rumah kaca yang utama. Laju pertambahan
emisi yang tinggi dan waktu bertahan di atmosfer yang lama ini didukung oleh
eksploitasi sumberdaya alam di bumi, khususnya sektor kehutanan, dapat
meningkatkan kadar CO
2
di udara. Kontribusi sektor kehutanan terhadap emisi
global dilaporkan dalam Inter-governmental Panel on Cimate Change (IPCC)
yang kemudian direspon oleh Conference of Parties (COP) ke-13 di Bali
Desember 2007, tentang United Nations Framework Convention on Climate
Change (UNFCCC). Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa sekitar 20% emisi
CO
2
dunia per tahun bersumber dari perusakan hutan tropis. Jumlah sebanyak ini
tidak berbeda dari apa yang dinyatakan oleh Baumert et al, (2006). Kenaikan
konsentrasi emisi CO
2
wajib dikendalikan karena waktu paruh gas ini di atmosfer
cukup lama hingga mencapai 200 tahun. Meskipun dilakukan upaya dalam
meminimalisir kegiatan masyarakatyang menghasilkan emisi ini, namun dampak
dari akumulasi emisi CO
2
dan GRK di udara tersebut masih akan tetap dirasakan
untuk jangka waktu puluhan bahkan ratusan tahun.
Keberadaan CO
2
di alam dalam jumlah yang wajar memang dibutuhkan
untuk menjaga kehangatan suhu permukaan bumi dan kenyamanan bagi
kehidupan. Namun apabila jumlah GRK tersebut berlebihan dan cenderung
meningkat akan menimbulkan dampak pemanasan global. Pemanasan global ini
tidak terjadi secara seketika, tetapi berangsur-angsur. Pemanasan global yang
mengarah pada perubahan iklim berdampak negatif pada lingkungan hidup, dan
Indonesia sangat rentan terhadap dampak negatif perubahan iklim tersebut.
Pemerintah memberikan prioritas tinggi pada program mitigasi perubahan iklim
dan adaptasi terhadap dampak perubahan iklim. Hal itu merupakanmandat
UndangUndang Nomor 32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan
lingkungan. Pada tahun 2008, Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) didirikan
dalamupaya meningkatkan koordinasi kebijakan serta memperkuat posisi
3

Indonesia di forum-foruminternasional terkait dengan perubahan iklim (Bappenas,
2010).

Solusi Yang Pernah Ditawarkan
Meningkatnya tingkat emisi karbon di dunia menyebakan kadar CO
2
diatmosfer tidak stabil. Oleh karena itu, negera-negara maju yang tergabung
dalam Annex1 berkomitmen untuk mengurangi emisi CO
2
sehingga tercetuslah
Protocol Kyoto pada tahun 1997. Dengan adanya Protocol Kyoto tersebut
diharapkan mampu mengurangi efek dari GRK di dunia. Selain itu Protocol Kyoto
diharapkan dapat meningkatkan kesadaran negara-negara di dunia terutama
negara maju untuk mengurangi emisi karbonnya.
Clean Development Mechanism (CDM) adalah salah satu dari tiga
mekanisme fleksibel dalam Protokol Kyoto yang dirancang untuk membantu
negara industri/Annex1 untuk memenuhi komitmennya mengurangi efek GRK dan
membantu negara berkembang dalam mencapai pembangunan berkelanjutan.
CDM adalah satu-satunya mekanisme fleksibel yang melibatkan negara
berkembang. Berdasarkan Protokol Kyoto, negara berkembang tidak memiliki
kewajiban membatasi emisi GRK-nya, akan tetapi dapat secara sukarela
berkontribusi dalam pengurangan emisi global dengan menjadi tempat
pelaksanaan proyek CDM.




CDM adalah mekanisme dibawah Kyoto Protocol/UNFCCCyang
dimaksudkan untuk :
a. membantu negara maju/industri memenuhi sebagian kewajibannya
menurunkan emisi GHGs;
b. membantu negara berkembang dalam upaya menuju pembangunan
berkelanjutan dan kontribusi terhadap pencapaian tujuan Konvensi
Perubahan Iklim (UNFCCC).
Dibawah Kyoto Protocol, negara-negara industri diharuskan menurunkan
emisi GHGs minimal 5% dari tingkat emisi tahun 1990, selama tahun 2008-2012.
Gambar 1. Mekanisme CDM (Kamase, 2009)
4

CDM adalah satu-satunya mekanisme dibawah Kyoto Protocol, yang
menawarkan win-win solution antara negara maju dengan negara berkembang
dalam rangka pengurangan emisi gas rumah kaca (GHGs), dimana negara maju
menanamkan modalnya di negara berkembang dalam proyek-proyek yang dapat
menghasilkan pengurangan emisi GHGs, dengan imbalan CER (Certified
Emission Reductions).
Dari sisi kepentingan nasional, CDM tidak menguntungkan apabila negara
industri menggunakan dana ODA (Official Development Assistane). Sesuai
dengan Agenda 21 UNCED (Komisi Ekonomi dan Pembangunan PBB), sumber
dana kemitraan global menuju 'sustainable development' adalah diluar ODA (new
& additional terhadap ODA funding). Tetapi dalam kenyataannya jumlah
pemberian dana ODA semakin menurun sejak awal tahun 1990-an, yang
kemungkinan dialihkan untuk membiayai komitmen lainnya, misal ke Global
Environment Facility (GEF) untuk membiayai komitmen dibawah CCC
(Konvensi Perubahan Iklim), CBD (Konvensi Keanekaragaman Hayati), CCD
(Konvensi Penanggulangan Desertifikasi). Pengalihan dan ODA ke GEF untuk
membiayai komitmen negara industri dibawah konvensi-konvensi diatas
sebenarnya sudah menyalahi komitmen yang telah dibuat negara-negara industri
sebelumnya yang dipertegas pada UNCED tahun 1992 tentang alokasi 0,7% dari
GNP-nya untuk 'ODA funding'. Sedangkan penggunaan 'ODA funding' untuk
membiayai CDM oleh negara maju merupakan pengalihan beban yang seharusnya
tidak dipikul oleh negara berkembang (Dephut, 2009).
Yang menarik adalah ditemukannya pohon sintetis oleh Profesor Klaus
Lackner dari Columbia University di New York, Amerika Serikat. Teknologi ini
mulai dikembangkan di Laboratorium Global Research Technologies, Colorado.
Bentuk dari pohon sintetis ini terbuat dari allumunium dan mirip dengan antena
penyerap sinar ultraviolet dan berukuran 30 x 5 meter (Gambar 2).





Gambar 2. Pohon Sintetis (Harold, 2011)
5

Seberapa Jauh Kondisi Kekinian Pencetus Gagasan Dapat Diperbaiki
Pada dasarnya, penyerap CO
2
pada kendaraan bermotor bekerja
berdasarkan cara kerja Pohon Sintetis.Pohon Sintetis merupakan konsep mesin
sederhana yang mampu menyerap CO
2
dan menghasilkan Oksigen
(O
2
).Kelebihanya terdapat pada efektivitas kerja mesin yang mampu menyerap
seribu kali lebih banyak dibandingkan pohon alami (Lackner, Klaus. 2011).Oleh
karena itu, mesin ini dapat diaplikasikan di Indonesia sebagai alat penyerap
CO
2
yang ditambahkan pada berbagai mesin yang menghasilkan emisi CO
2
.
Sumber utama dari emisi gas CO
2
ialah dari kendaraan bermotor maka
untuk mengurangi emisi gas tersebut lebih baik mencegah emisi gasnya
(Kristanto, 2004). Yang menjadi gagas utama adalah bahwa alat ini menjadi
bagian dari mesin tambahan kendaraan bermotoryang akan lebih efisien dalam
menyerap karbondioksida. Kendaraan bermotor yang memakai bahan bakar
minyak dan memproduksi gas CO
2
sebagai hasil pembakaran akan mengalami
perubahan hasil pembakaran sebagai O
2
yang merupakan kebutuhan utama
mahluk hidup untuk hidup sehat.
Penyerap gas CO
2
ini juga memiliki cara kerja yang diatur seperti pohon
alami. Ketika di siang hari maka alat ini akan menyerap gas CO
2
dan
mengeluarkan gas O
2
. Namun, tidak akan bekerja jika malam hari. Hal ini untuk
menyeimbangkan kondisi alam agar tidak ada ketimpangan komposisi udara. Jika
penyerap gas CO
2
ini terus bekerja dan mengeluarkan gas O
2
maka produksi O
2

akan banyak apalagi dengan jumlah pengguna kendaraan bermotor yang cukup
tinggi.
Dengan diterapkannya penyerap gas CO
2
pada kendaraan bermotor, laju
terjadinya pemanasan global di Indonesia akan dapat ditekan. Kondisi wilayah
perkotaan yang kompleks akan dampaknya terhadap peningkatan kadar CO
2
di
udara mengakibatkan alat ini perlu direalisasikan. Program penghijauan kota atau
pembukaan ruang terbuka hijau (RTH) pun kurang efektif dalam menstimulus
penurunan kadar CO
2
, karena disisi lain aktivitas manusia pun terus meningkat.
Aktivitas bisnis, pendidikan, industri, hiburan, kemacetan menjadi sulit
dikendalikan. Pengendalian polusi udara dengan penanaman pohon pun pada
akhirnya sulit mengimbangi laju peningkatan emisi gas CO
2
di udara.
Berbagai permasalahan sosial seperti ini semakin memerlukan inovasi
yang tepat, program penghijauan dapat pula disejalankan dengan kondisi
pengendara kendaraan bermotor. Jumlah pengendara yang selalu meningkat di
Indonesia dapat dijadikan sasaran pengguna alat penyerap CO
2
yang tepat,
sehingga semakin banyak pengendara maka semakin banyak pula relawan yang
menggunakan alat ini.Melihat kondisi yang cukup kuat terhadap analisis kondisi
lingkungan, maka inovasi baru yang berdasar kepada kebutuhan masyarakat pun
dapat bermanfaat secara signifikan .Salah satunya dengan model pengembangan
alat penyerap gas CO
2
yang dipadukan dengan mesin kendaraan bermotor,
menciptakan 2 (dua) kemudahan dalam merealisasikan manfatnya. Kemudahan
pertama terdapat dalam kegiatan sosialisasi yang dirasakan cukup sederhana. Kita
hanya perlu memaparkan fungsi dan manfaat yang terjadi tanpa perlu bekerja
keras berusaha untuk mengajak masyarakat menggunakan alat ini, karena alat
telah terpasang dengan paket kendaraan bermotor yang sudah ada. Sedangkan,
6

penggunaan kendaraan bermotor akan terus meningkat. Sehingga, dengan
memanfaatkan kondisi kebiasaan masyarakat sekarang ini, laju pertumbuhan
polusi CO
2
di udara dapat ditekan lebih cepat. Kemudahan kedua dapat terlihat
pada kesamaan konsep pembuatan alat ini dengan berbagai program lingkungan
yang menjadi tujuan pemerintah dan beberapa perusahaan besar di Indonesia.
Kelebihan alat penyerap CO
2
ini dapat menjawab kebutuhan para stakeholder
yang benar-benar fokus dalam mendukung kelestarian lingkungan hijau di
Indonesia sesuai dengan target 7a dalam program percepatan MDGs Indonesia
yang masih perlu perhatian khusus (Gambar. 3).



Gambar 3. Laporan Pencapaian Target 7a MDGs di tahun 2010 (Bappenas, 2010)

Pihak-pihak yang Dapat Dipertimbangkan
Sebagai upaya yang didasari dari permasalahan yang ada saat ini.
Pemerintah daerah dan beberapa perusahaan BUMN dan swasta merupakan
bagian yang sejalan dengan konsep alat ini.Program pemerintah yang selalu
difokuskan terhadap lingkungan seperti penanaman seribu pohon, pembuatan
ruang terbuka hijau atau meminimalisir polusi yang diakibatkan kemacetan dan
industry membuat konsep ini sangat tepat diterapkan di Indonesia. Peran
perusahaan BUMN dan swasta pun pastinya turut andil dalam merealisasikan alat
ini di Indonesia. Contoh sederhananya perusahaan swasta sepeda motor saat ini
memiliki Corporate Social Responsibility (CSR) yang peduli lingkungan hijau
dan Indonesia. Momentum ini merupakan peluang emas untuk memudahkan
dalam melakukan introduksi alat penyerap CO
2
ini diterapkan dalam mesin sepeda
7

motor pada tahap awalnya. Dengan adanya hal seperti ini, otomatis perusahaan
pun tidak akan memberikan harga untuk penambahan alat penyerap CO
2
ini,
karena sejalan dengan adanya konsep turut melestarikan lingkungan hijau maka
perusahaan pun sama seperti telah melaksanakan CSR bagi lingkungan dan
masyarakat Indonesia. Sehingga potensi pengembangan alat ini di Indonesia
semakin jelas dan memiliki jalur yang tepat untuk mendukung pembangunan hijau
berkelanjutan di Indonesia.

Langkah-Langkah Strategis
Dalam merealisasikan konsep dan tujuan dari Alat Penyerap CO
2
ini,
maka langkah-langkah yang akan dilaksanakan ialah:



1. Mengembangkan suatu ide/konsep kedalam sebuah tim
Membentuk sebuah tim merupakan suatu langkah strategis yang mendasar,
dengan tim yang tepat dan terorganisir maka kedepannya pun konsep akan
semakin jelas. Pembentukan tim ini difokuskan terhadap keanggotaan
yang dibagi menjadi 2 (dua) program kerja. Pertama pembentukan anggota
sebagai perencana konsep jangka pendek dan jangka panjang, kedua
merupakan anggota yang memiliki tugas dalam lingkup penelitian dan
pengembangan alat ini. Dimana pembentukan tim ini terfokus pada
keberlangsungan manfaat dari alat ini yang sesuai dengan kebutuhan
masyarakat setiap waktunya.

2. Melakukan studi kelayakan dan analisis dampak dalam masyarakat
Analisis awal melalui survey keadaan lingkungan dapat menentukan
segala aspek dasar yang perlu diperhatikan.Salah satu analisisnya adalah
Melakukan evaluasi berkesinambungan
Melakukan kerjasama dan menerapkan konsep alat di berbagai merk kendaraan
bermotor di Indonesia
Memberikan sosialisasi dampak dan manfaat melalui peran Opinion Leader
Membentuk sistem kerjasama antara Pemerintah, Perusahaan, Daerah
percontohan dan Masyarakat
Menciptakan prototype dan daerah percontohan
Melakukan studi kelayakan dan analisis dampak dalam masyarakat
Mengembangkan suatu ide/konsep ke dalam sebuah tim
Gambar 4. Langkah-langkah strategis
8

kondisi sosial dan ekonomi masyarakat, khususnya di daerah perkotaan.
Setelah membentuk tim, maka tim analisis perencanan dan litbang harus
menyesuaikan alat dengan salah satunya kondisi ekonomi masyarakat.

3. Menciptakan prototype dan daerah percontohan
Setelah analisis dampak dan lingkungan, maka perlu menciptakan sebuah
prototype dan daerah percontohan guna meyakinkan pemerintah dan
perusahaan yang mendukung. Dengan gambaran nyata terhadap hasil dan
dampak yang diberikan, semua para stakeholderakan lebih mudah
memahami manfaatnya.

4. Membentuk sistem kerjasama antara Pemerintah, Perusahaan,
Daerah percontohan dan Masyarakat
Peningkatan relasi perjanjian kerjasama antara pemerintah, perusahaan dan
masyarakat adalah langkah sebelum alat ini diaplikasikan pada beragam
jenis kendaraan bermotor. Dengan adanya pengakuan atau bukti legalitas
dari para stakeholder maka saat direalisasikan tidak ada banyak kesulitan.

5. Memberikan sosialisasi dampak dan manfaat melalui peran Opinion
Leader
Dengan tujuan menciptakan positioning manfaat di masyarakat, peran
Opinion Leader dapat mendukung percepatannya sosialisasi alat
ini.Dengan adanya Opinion Leader maka motivasi masyarakat pun dapat
terbentuk.

6. Melakukan kerjasama dan menerapkan konsep alat di berbagai merk
kendaraan bermotor di Indonesia
Setelah berbagai langkah strategis sebelumnya dilaksanakan dengan baik,
maka kerjasama dengan pihak-pihak tertentu pun wajib dilakukan.
Kerjasama diawali terhadap perusahaan pembuatan alat dan mesin yang
selanjutnya didistribusikan kepada perusahaan kendaraan bermotor yang
telah bekerjasama dan bersedia mengaplikasikan Alat Penyerap CO
2

dalam mesinnya.

7. Melakukan evaluasi berkesinambungan
Langkah yang terakhir perlu diperhatikan adalah terus melakukan
evaluasi. Inilah manfaat membuat tim yang telah terorganisir. Setiap
waktu yang telah ditetapkan untuk melakukan evaluasi maka anggota
analisis perencanaan mampu merekomendasikan konsep yang kemudian
dikembangkan oleh bagian penelitian dan pengembangan agar manfaat
dan kondisi alat pun terus dapat disesuaikan dengan keadaan masyarakat
di setiap waktunya.



9

KESIMPULAN
1. Gagasan yang Diajukan
Alat Penyerap CO
2
yang merupakan pengembangan konsep dan inovasi
dari Pohon Sintetis ini sangat potensial dalam menjawab permasalahan di
Indonesia. Kendaraan bermotor yang setiap waktu selalu bertambah
jumlah pengendaranya memberikan dasar gagasan untuk mempermudah
pengaplikasian alat ini dalam kehidupan masyarakat. Selain itu,
penyumbang terbesar emisi gas CO
2
di udara yang diketahui dari
kendaraan bermotor membuka pemikiran bahwa perlu sekali untuk
meminimalisir keadaan ini dari hal yang paling berpengaruhnya.

2. Teknik Implementasi
Pendekatan terhadap program pemerintah dan perusahaan-perusahaan
besar yang memiliki kepedulian pada lingkungan hijau membuat alat ini
memiliki peluang besa untuk direalisasikan. Dengan besarnya dukungan
dari pemerintah dan perusahaan besar pun secara keseluruhan telah
mendukung sekitar 80% dari faktor keberhasilan implementasi manfaat.
Karena pendekatan terhadap masyarakatnya dilakukan sesuai kebiasaan,
maka implementasinya pun tidak terlalu besar.

3. Prediksi Hasil Gagasan
Semakin menurunnya emisi gas CO
2
di udara dapat berdampak pada
menurunnya kerugian akibat pemanasan global. Dengan adanya
penurunan aktivitas pemanasan global maka kondisi iklim pun semakin
kembali stabil.Jika hal ini terjadi, maka keberlangsungan lingkungan
hijau atau khususnya pertanian dapat terjaga dan berkelanjutan.
DAFTAR PUSTAKA
Bappenas. 2010. Laporan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di
Indonesia 2010. Jakarta: Kementrian Perencanaan Pembangunan Nasional
Baumert, K.A., Herzog, T., Pershing, J. 2006. Navigating the Numbers
Greenhouse Gas Data and International Climate Policy. Washington:
World Resources Institute
Dephut. 2009. Clean Development Mechanism (Cdm) Sebagai Salah Satu
Sumber PendanaanAlternatif Bagi Pembangunan Kehutanan Dan
Perkebunan. Available
athttp://www.dephut.go.id/INFORMASI/INTAG/cdm.htm (diakses 8
Maret 2013)
Fischer, G., M. Shah, H. van Velthuizen, 2002. Climate Change and Agricultural
Vurnerability. IIASA Publication Departement under United Nations
Institutional Contract Agreement No 1113. Johannesburg: World Summit
on Sustainable Development
Harold. 2011. Pohon Buatan Penyerap CO2. Available
athttp://haroldlinus.blog.imtelkom.ac.id/2011/12/28/pohon-buatan-
penyerap-co2/ (diakses 2 Maret 2013)
10

Houghton, R. 2005. Tropical Deforestation and Climate Change, Edited by P.
Moutinho and S. Schwartzman. Instituto de Pesquisa Ambiental da
Amaznia (IPAM) and Environmental Defense.
Kamase. 2009. CDM Sebagai Alternatif Cara Pengurangan Emisi Karbon Di
Dunia. Available athttp://www.kamase.org/?p=932(diakses pada tgl 2
Maret 2013)
Klaus S. 2011. Synthetic Fuels and Carbon Dioxide Capture From Air.
ColumbiaUniversity.Available at:http://www.columbia.edu/cu/alliance/
documents/EDF/Wednesday/pres.Lackner.pdf (diakses pada tgl 2 Maret
2013)
Kristanto P. 2004. Ekologi Industri. Surabaya: Andi Offset.
Nurmaini. 2001. Peningkatan Zat-Zat Pencemar Mengakibatkan Pemanasan
Global. Available at
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3697/1/fkm-nurmaini3.pdf
(diakses pada tgl 10 Maret 2013)
Rainer Wal.2009.The Economic of Climate Change Policy. German:Springer.
Richard W Asplun. 2008. Profitng from Clean Energy. John wiley & Sons. USA
Ulumuddin, Y., Sulistyawati, E., Hakim, D.M., dan Harto, A.B. 2005. Korelasi
Stok Karbon dengan Karakteristik Spektral Citra Landsat: Studi Kasus
Gunung Papandayan. Surabaya: Pertemuan Ilmiah Tahunan MAPIN XIV

BIODATA KETUA DAN ANGGOTA
KETUA
Nama : Gita Kusumadiani Haryono
NPM : 260110100092
Tempat/tanggal lahir : Ciamis, 29 November 1991
Karya tulis yang pernah dihasilkan :
Greenbag Pack : Kemasan Ramah Lingkungan sebagai Langkah Aktif
Menuju Green Pharmacy.
Prestasi yang pernah diraih :
PKM-KC Lolos Didanai DIKTI 2010



(Gita Kusumadiani H.)

ANGGOTA 1
Nama : Raden Nanda Teguh Perkasa
NPM : 150510100069
Tempat/tanggal lahir : Sukabumi, 27 September 1993
Karya tulis yang pernah dihasilkan :
Efek Ekstrak Spirulina plantesis terhadap Pneumonia untuk Mempercepat
Pencapaian Target 4A MDGs Indonesia 2015
11

Prestasi yang pernah diraih :
Juara III PKM-K dalam Masa Bimbingan (Mabim) Fakultas Pertanian
Unpad 2010
Juara III Karya Tulis Nasional Peningkatan Gizi Indonesia 2012




(Raden Nanda Teguh Perkasa)

ANGGOTA 2
Nama : Alhamzah R. F
NPM : 260110110155
Tempat/tanggal lahir : Bandung, 19 Agustus 1993
Karya tulis yang pernah dihasilkan :

Prestasi yang pernah diraih :




(Alhamzah R. F.)