Anda di halaman 1dari 139

ANALISIS TATANIAGA TELUR AYAM KAMPUNG

(Studi Kasus: Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat)








SKRIPSI





BETTY SAFITRI
H34076035
















DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2009
ii

RINGKASAN


BETTY SAFITRI. Analisis Tataniaga Telur Ayam Kampung di Kabupaten
Bogor Jawa Barat. Skripsi Fakultas Ekonomi dan Manajemen Departemen
Agribisnis, Institut Pertanian Bogor. Di bawah bimbingan (NUNUNG
KUSNADI)

Pemasaran yang disebut efisien apabila tercipta keadaan dimana pihak-
pihak yang terlibat baik produsen, lembaga-lembaga pemasaran maupun
konsumen memperoleh kepuasan dengan adanya aktivitas pemasaran. Efisiensi
pemasaran adalah maksimisasi dari rasio input dan ouput. Perubahan yang
mengurangi biaya input tanpa mengurangi kepuasan konsumen akan
meningkatkan efisiensi, sedangkan perubahan yang mengurangi biaya input tetapi
mengurangi kepuasan konsumen akan menurunkan efisiensi pemasaran.
Pasar yang tidak efisien akan terjadi apabila biaya pemasaran semakin
besar dan nilai produk yang dipasarkan jumlahnya tidak terlalu besar. Oleh karena
itu, efisiensi pemasaran akan terjadi jika :a) biaya pemasaran dapat ditekan
sehingga keuntungan pemasaran dapat lebih tinggi, b) persentase perbedaan harga
yang dibayarkan konsumen dan produsen dapat lebih tinggi, c) tersedianya
fasilitas fisik pemasaran dan d) adanya kompetisi pasar yang lebih sehat. Pada
umunya indikator diatas merupakan penentu dari efisiensi pemasaran.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sistem pemasaran dan
saluran pemasaran, menganalisis marjin pemasaran, farmers share dan rasio
keuntungan biaya untuk telur ayam kampung sehingga diketahui saluran
pemasaran yang efisien. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Bogor Jawa Barat.
Penarikan sampel yang dilakukan dengan simple random sampling dan snowball
sampling, sementara analisis data dilakukan dengan menggunakan metode analisis
kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif bertujuan untuk melihat keadaan
lokasi, keadaan peternak, menganalisis saluran pemasaran, fungsi-fungsi
pemasaran, struktur pasar dan perilaku pasar, sementara analisis kuantitatif
bertujuan untuk menganalisis marjin pemasaran, farmers share, rasio keutungan
terhadap biaya dan tingkat keterpaduan pasar.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga saluran pemasaran yang
terbentuk didalam pemasaran telur ayam kampung di Kabupaten Bogor yaitu: 1)
Peternak Pedagang Pengumpul Desa (tengkulak) Pedagang Grosir - Pedagang
Pengecer Konsumen, 2) Peternak - Pedagang grosir Pedagang Pengecer
Konsumen, 3) Peternak Pedagang Pengecer Konsumen. Didalam pemasaran
telur ayam kampung semua lembaga pemasaran yang terlibat melakukan fungsi-
fungsi pemasaran di dalam melakukan distribusi produk sehingga sampai ke
konsumen. Fungsi-fungsi yang dilakukan lembaga pemasaran antara lain fungsi
pertukaran, fungsi fisik dan fungsi fasilitas. Sementara struktur pasar yang
terbentuk antara lembaga pemasaran yang terlibat berbeda-beda. Hal ini
didasarkan kepada jumlah pembeli dan penjual yang terlibat dalam pemasaran
telur ayam kampung. Ditingkat peternak struktur pasar yang terbentuk adalah
pasar oligopoli, ditingkat pedagang pengumpul oligopoli murni, ditingkat
pedagang grosir oligopoli dan ditingkat pedagang pengencer adalah kompetisi
monopolistik.
iii

Hasil analisis marjin pemasaran ketiga jalur pemasaran yang ada di


Kabupaten Bogor biaya terbesar ditanggung oleh jalur pemasaran III yaitu Rp.
375. Hal ini karena jarak distribusi yang cukup jauh walaupun rantai
pemasarannya cukup pendek tetapi telur pada saluran ini adanya penambahan
kemasan yang lebih baik, sewa tempat yang lebih bagus serta biaya tenaga kerja.
Sementara biaya terkecil terdapat pada jalur pemasaran II yaitu sebesar Rp. 214,
karena pada jalur ini jarak distribusinya cukup dekat dengan lokasi penelitian
serta rantai pemasarannya yang cukup pendek. Sementara biaya yang ditanggung
oleh jalur pemasaran I sebesar Rp. 294 merupakan rantai pemasaran yang paling
panjang. Keuntungan pemasaran terbesar terdapat pada jalur pemasaran I dan II
yaitu sebesar Rp. 436 karena merupakan rantai pemasaran terpanjang serta
konsumen akhirnya bukan hanya penduduk lokal saja sehingga pedagang menjual
komoditinya dengan harga yang cukup tinggi. Keuntungan terkecil terdapat pada
jalur pemasaran III yaitu sebesar Rp. 350, hal ini karena jumlah komoditas yang
disalurkan pada jalur ini hanya sedikit, walaupun harga jual yang diberikan
kepada konsumen cukup tinggi, selain itu pada saluran ini telur di jual bersamaan
dengan komoditas lainnya sehingga daya serap pasarnya relatif lebih kecil.
Farmers share tertinggi terdapat pada saluran pemasaran tiga yaitu
sebesar 70 persen, artinya produsen (peternak) menerima harga 70 persen dari
harga yang dibayarkan konsumen. Semakin tinggi harga ditingkat peternak, maka
biaya yang dibayarkan konsumen akhir semakin banyak di nikmati oleh peternak.
Apabila harga ditingkat akhir atau biaya yang dikeluarkan konsumen semakin
besar maka harga yang dinikmati peternak semakin kecil, dan yang menikmati
harga yang paling besar adalah lembaga-lembaga pemaasaran. Selain itu saluran
pemasaran tiga memperoleh total marjin pemasaran terkecil. Saluran pemasaran
dua adalah saluran yang memberikan bagian harga untuk peternak sebesar 63,89
persen dari harga yang dibayarkan konsumen. Sedangkan saluran pemasaran satu
memberikan bagian harga untuk peternak dengan selisih harga yang tidak jauh
berbeda. Pada umumnya harga yang diterima peternak pada analisis pemasaran
telur ayam kampung cukup tinggi. Jika dinilai dari total marjin pemasaran dan
farmers share maka saluran dua merupakan saluran yang paling efisien dengan
total keuntungan sama dengan saluran satu yaitu dengan jumlah 24,22 persen.
Total /C pada setiap saluran pemasaran telur ayam kampung memiliki
nilai lebih besar dari satu, hal ini menunjukkan bahwa kegiatan pemasaran yang
dilakukan oleh lembaga pada masing-masing saluran sudah memberikan
keuntungan. Nilai /C tertinggi terdapat pada saluran pemasaran dua yaitu sebesar
7,27, artinya jika lembaga pemasaran pada saluran pemasaran dua mengeluarkan
biaya sebesar Rp. 1/ butir telur maka keuntungan yang diperoleh sebesar Rp.7,27/
butir . Rasio keuntungan biaya terbesar pada saluran dua diperoleh oleh pedagang
grosir sebesar 3,69 yaitu dengan biaya Rp. 1/butir maka keuntungan yang
diperoleh sebesar Rp.3,69 / butir. Hal ini dikarenakan jumlah komoditas yang
dipasarkan relatif banyak dengan harga beli dari konsumen lebih rendah, tidak ada
perlakukan khusus yang dilakukan pedagang grosir dalam rangka menambah nilai
guna telur ayam kampung.



iv

Berdasarkan analisis marjin pemasaran saluran pemasaran telur ayam


kampung yang paling efisien adalah saluran pemasaran dua, pada saluran ini
peternak mendapatkan bagian terbesar yang dianalisis dengan farmers share,
sedangkan rasio keuntungan terhadap biaya juga menunjukkan saluran pemasaran
dua telah memberikan keuntungan pada setiap lembaga yang terlibat dibanding
saluran pemasaran lainnya.
Potensi pasar pada saluran pemasaran dua terbuka luas bagi setiap
peternak di lokasi penelitian untuk memasarkan produknya ke pedagang grosir
secara langsung tanpa harus berlangganan (pemasok tetap). Peternak pada saluran
pemasaran dua dapat mengakses informasi dengan baik baik dari sesama
pedagang dan peternak, memiliki posisi tawar dan jaringan yang kuat.





































v

ANALISIS TATANIAGA TELUR AYAM KAMPUNG


(Studi Kasus: Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat)








BETTY SAFITRI
H34076035








Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk
Memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada
Departemen Agribisnis







DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2009
vi

Judul Skripsi : Analisis Tataniaga Telur Ayam Kampung


(Studi Kasus: Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat)
Nama : Betty Safitri
NRP : H34076035





Disetujui,
Pembimbing




Dr.Ir. Nunung Kusnadi, MS
NIP.19580908 198403 1 002






Diketahui,
Ketua Departemen Agribisnis
Fakultas Ekonomi dan Manajemen
Institut Pertanian Bogor




Dr.Ir. Nunung Kusnadi, MS
NIP. 19580908 198403 1 002





Tanggal Lulus:
vii

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul Analisis
Tataniaga Telur Ayam Kampung di Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat
adalah karya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan
tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang
diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks
dan dicantumkan dalam bentuk daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, September 2009

Betty Safitri
H34076035




























viii

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Lintau, Padang Sumatra Barat pada tanggal 23 juni
1986. Penulis adalah anak pertama dari tiga bersaudara dari pasangan Bapak
Syafrudin dan Ibunda Syaflidar,Msi.
Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SD N.12 Patar dan pada tahun
1992 dan lulus pada tahun 1998. Pendidikan tingkat menengah dapat diselesaikan
penulis pada tahun 2001 di SLTP Negeri 5 Lintau. Penulis memilih SMUN 1
Lintau sebagai pendidikan tingkat atas dan dapat diselesaikan penulis pada tahun
2004. Pada tahun 2004, penulis diterima di Institut Pertanian Bogor, pada program
Diploma III Manajemen Agribisnis, Fakultas Pertanian melalui jalus USMI dan
lulus pada tahun 2007. Pada bulan November tahun yang sama penulis langsung
melanjutkan program S1 ekstensi Manajemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan
Manajemen, Institut Pertanian Bogor.


















ix

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat
dan kasih karunia-Nya yang begitu besar dan luar biasa, sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini. Skripsi ini merupakan hasil karya penulis guna
memenuhi persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana pada Program Ekstensi
Manajemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian
Bogor.
Skripsi ini berjudul Analisis Pemasaran Telur Ayam Kampung (Studi
Kasus Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat). Skripsi ini menganalisis tentang
sistem tataniaga telur ayam kampung yang bertujuan untuk melihat saluran
pemasaran yang terbentuk, menganalisis marjin pemasaran, farmers share, dan
rasio keuntungan terhadap biaya, keterpaduan pasar ditingkat peternak dan tingkat
pengencer.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan,
sehingga diperlukan saran dan kritik untuk perbaikan. Penulis berharap hasil
penelitian ini bermanfaat bagi para pembacanya.



Bogor, September 2009


Betty Safitri





x

UCAPAN TERIMAKASIH

Penyelesaian skripsi ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak.
Sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan, penulis ingin menyampaikan terima
kasih dan penghargaan kepada:
1. Dr.Ir. Nunung Kusnadi, MS selaku dosen pembimbing atas bimbingan, atas
bimbingan, arahan, waktu dan kesabaran yang diberikan kepada penulis
selama penyusunan skripsi ini.
2. Dr.Ir Ratna Winandi Asmarantaka, MS selaku dosen avaluator pada seminar
proposal dan dosen penguji utama yang telah banyak memberikan saran dan
masukan demi perbaikan tugas akhir ini.
3. Ir. Narni Farmayanti, MSc selaku dosen penguji komisi pendidikan yang
banyak memberikan saran.
4. Prof. Sofyan Iskandar selaku kepala Balai Penelitian Ternak yang telah banya
memberikan saran dan informasi mengenai peternakan.
5. Ade Zulkarnain selaku ketua HIMPULI (Himpunan Peternakan Unggas
Indonesia) dan pendiri KEPRAKS (Kelompok Peternakan Rakyat Ayam
Kampung Sukabumi) yang telah banyak memberikan data dan pengarahan.
6. Bapak Bambang, Bapak Budi, selaku peternak yang banyak memberikan
informasi seputar peternakan khususnya telur ayam kampung.
7. Kepada seluruh responden dan narasumber yang telah banyak membantu
dalam pengumpulan data dan informasi demi terselesainya penelitian ini.
8. Seluruh dosen, staf dan pengurus Program Studi Manajemen Agribisnis atas
bantuannya dalam memberikan informasi serta fasilitas studi.
9. Orang tua Papa Syafrudin dan Mama Syaflidar, MSi serta keluarga tercinta
untuk setiap dukungan cinta kasih dan doa yang diberikan. Semoga ini bisa
menjadi persembahan yang terbaik.
10. Kedua adek ku Silva Berlus Coni dan Rahmatul Fajra terima kasih telah
menjadi adik yang baik dan sumber inspirasi.
11. Sermatutar Thopan Dollarisko atas motivasi dan semangatnya.
12. Linawati Akbar dan Rissa Gumanti Harahap terima kasih atas persahabatan
selama ini.
xi

13. Syahrul Ramdhani selaku pembahas pada seminar hasil.


14. Teman-teman DC.8 Wati, keira, Miles, Fitri, Laras, Yati dan Rahma terima
kasih atas semangat, canda dan tawa,
15. Teman-teman MAB 41 Dedi , rendi, rasyid, devi, koko, ai, komar, ujang,
taufik, ilham, tata, sally, sekar, rini,hilda, memel, chaca, indah, agre,dan
lainnya serta Ekstensi Agribisnis angkatan 3 terima kasih atas kerjasama,
kekompakan dan semangatnya.
Akhirnya, semoga amal dan kebaikan Bapak / Ibu dan rekan-rekan
mendapat balasan yang setimpal dari Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT. Amin.
Bogor, September 2009


Penulis

xii

DAFTAR ISI


Halaman

DAFTAR TABEL................................................................................ xv
DAFTAR GAMBAR ........................................................................... xvii
DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................... xviii
I PENDAHULUAN ......................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ..................................................................... 1
1.2 Perumusan Masalah ............................................................. 7
1.3 Tujuan Penelitian .................................................................. 9
1.4 Kegunaan Penelitian ............................................................. 9
1.5 Ruang Lingkup Penelitian ..................................................... 10

II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................. 11
2.1 Karakteristik Telur Ayam Kampung .................................... 11
2.2 Penelitian Pemasaran Produk Agribisnis .............................. 14

III KERANGKA PEMIKIRAN ........................................................ 20
3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis ............................................... 20
3.1.1 Sistem Pemasaran .............................................................. 20
3.1.2 Lembaga dan Saluran Pemasaran ...................................... 22
3.1.3 Fungsi-fungsi Pemasaran ................................................... 24
3.1.4 Struktur Pasar .................................................................... 27
3.1.5 Perilaku Pasar ..................................................................... 28
3.1.6 Keragaan Pasar ................................................................... 29
a. Marjin Pemasaran ........................................................... 29
b. Farmers Share ............................................................... 32
c. Rasio Keuntungan dan Biaya ......................................... 33
3.1.7 Efisiensi Pemasaran ........................................................... 32
3.2 Kerangka Pemikiran Operasional ........................................ 34

IV METODE PENELITIAN ............................................................ 36
4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ................................................... 36
4.2 J enis dan Sumber Data .............................................................. 36
4.3 Metode Penarikan Sampel ......................................................... 37
4.4 Metode Analisis dan Pengolahan Data ..................................... 37
4.4.1 Analisis Saluran Pemasaran ................................................ 37
4.4.2.Analisis Fungsi dan Lembaga Pemasaran .......................... 38
4.4.3 Analisis Struktur dan Perilaku Pasar .................................. 39
4.4.4 Keragaan Pasar ................................................................... 40
a. Marjin Pemasaran ........................................................... 40
xiii

b. Farmers Share ............................................................... 42


c. Rasio Keuntungan dan Biaya ......................................... 42
4.4.5 Efisiensi Pemasaran ............................................................ 42
4.5 Defenisi Operasional ................................................................. 43

BAB V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN ................. 45
5.1 Letak dan Keadaan Geografis Lokasi Penelitian ...................... 45
5.1.1 Keadaan Sosial Ekonomi Penduduk ................................... 46
5.1.2 Sarana dana Prasarana ........................................................ 48
5.2 Karakteristik Peternak Responden ........................................... 49
5.2.1 Umur dan Pengalaman Usahatani
Peternak Responden ............................................................ 49
5.2.2 Luas dan Status Kepemilikan Lahan ................................... 51
5.2.3 Tingkat Pendidikan dan Mata Pencaharian ......................... 51
5.2.4 Skala Usaha Peternak.......................................................... 53
5.3 Karakteristik Pedagang ................................................................ 54
5.3.1 Usia Responden .................................................................. 55
5.3.2 Tingkat Pendidikan Pedagang Responden .......................... 55
5.3.3 Status Usaha ........................................................................ 56
5.3.4 Pengalaman Berusaha ......................................................... 56

BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN
6.1 Lembaga Pemasaran .................................................................. 59
6.2 Analisis Saluran Pemasaran ...................................................... 60
6.2.1 Pola Saluran Pemasaran 1 ................................................... 63
6.2.2 Pola Saluran Pemasaran II .................................................. 65
6.2.3 Pola Saluran Pemasaran III ................................................. 66
6.3 Fungsi-Fungsi Pemasaran ......................................................... 67
6.3.1 Fungsi Pemasaran Oleh Peternak ........................................ 69
6.3.2 Fungsi Pemasaran Oleh Pedagang Pengumpul ................... 71
6.3.3 Fungsi Pemasaran Oleh Pedagang Grosir ........................... 72
6.3 4 Fungsi Pemasaran Oleh Pedagang Pengecer....................... 74
6.4 Analisis Struktur Pasar .............................................................. 76
6.5 Struktur Pasar ............................................................................ 79
6.5.1 Keadaaan Produk ................................................................ 79
6.5.2 Hambatan Keluar Masuk Pasar ........................................... 80
6.5.3 Informasi Pasar.................................................................... 80
6.6 Analisis Perilaku Pasar ................................................................. 81
6.6.1 Praktek Pembelian dan Penjualan ....................................... 81
6.6.2 Sistem Penentuan Harga dan Pembayaran harga ................ 84
6.6.3 Kerjasaman Antara Lembaga Pemasaran ........................... 85
6.7 Keragaan Pasar .......................................................................... 86
6.7.1 Marjin Pemasaran................................................................ 86
6.7.2 Farmers share .................................................................... 90
6.7.3 Rasio Keuntungan dan Biaya .............................................. 91
xiv

6.7 Efisiensi Pemasaran Telur Ayam Kampung ............................. 93



VII KESIMPULAN DAN SARAN .................................................... 95
7.1 Kesimpulan ............................................................................... 95
7.2 Saran .......................................................................................... 97

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................... 98

LAMPIRAN ......................................................................................... 100




































xv

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1. Populasi Ternak Unggas di Indonesia Tahun 2004-2008 1
2. Produksi dan Konsumsi Telur Unggas (Ayam Kampung,
Ayam Ras dan Itik) Indonesia Tahun 2002-2006 .......................... 2
3. Pengeluaran Rata-rata Per Kapita Sebulan untuk J enis Makanan
di Kabupaten Bogor Tahun 2007 .................................................... 5
4. Fungsi-fungsi Pemasaran ................................................................ 39
5. Karakteristik Struktur Pasar Berdasarkan Sudut
Penjual dan Pembeli. ....................................................................... 40
6. J umah Penduduk Kabupaten Bogor per Kecamatan
Menurut J enis Kelamin Tahun 2006 ............................................... 47
7. Komposisi Sebaran Penduduk Berdasarkan Umur
dan J enis Kelamin di Kabupaten Bogor Tahun 2008 ...................... 47
8. Penduduk berumur 10 tahun ke atas yang Bekerja Menurut
J enis Pekerjaan Utama dan J enis Kelamin
di Kabupaten Bogor Tahun 2006 .................................................... 48
9. Karakteristik Peternak Responden Berdasarkan
Umur di Kabupaten Bogor, Tahun 2009 ......................................... 50
10. Karakteristik Peternak Responden Berdasarkan Pengalaman
dalam Usahaternak Telur Ayam Kampung, tahun 2009 ................. 50
11. Karakteristik Peternak Responden Berdasarkan Luas Lahan pada
Usahaternak di Kabupaten Bogor, Tahun 2009 .............................. 51
12. Karakteristik Peternak Responden di Kabupaten Bogor
Berdasarkan Tingkat Pendidikan, Tahun 2009 ............................... 52
13. Karakteristik Peternak Responden di Kabupaten Bogor
Berdasarkan Mata Pencaharian , Tahun 2009 ................................. 52
14. Skala Usaha Peternak di Kabupaten Bogor Berdasarkan J umlah
Ternak yang diusahakan .................................................................. 54
15. Komposisi Umur Pedagang Responden .......................................... 55
16. Komposisi Tingkat Pendidikan Pedagang Responden .................... 56
17. Komposisi Pengalaman Berusaha Pedagang Responden ................ 57
18. Kegiatan Pembelian Telur Pedagang Responden ........................... 57
xvi

19. Sistem Pemasaran dan Lokasi Pemasaran Telur oleh Responden


Pedagang ......................................................................................... 58
20. Fungsi-fungsi Pemasaran yang dilakukan oleh Lembaga-lembaga
Pemasaran Telur Ayam Kampung di Kabupaten Bogor ................. 68
21. Fungsi-fungsi Pemasaran dari Lembaga Pemasaran
Komoditas Telur Ayam Kampung .................................................. 69
22. Analisis Struktur Pasar Komoditas Telur Ayam Kampung
Di Kabupaten Bogor ........................................................................ 76
23. Analisis Farmers Share pada Saluran Pemasaran Telur Ayam
Kampung di Kabupaten Bogor Tahun 2009 ................................... 90
24. Analisis Rasio Keuntungan terhadap Biaya pada Lembaga Pemasaran
Telur Ayam Kampung di Kabupaten Bogor Tahun 2009 ............... 93




















xvii


DAFTAR GAMBAR


Nomor Halaman

1. Pola Umum Saluran Pemasaran Produk-Produk
Pertanian di Indonesia ..................................................................... 23
2. Tingkatan Saluran Pemasaran ......................................................... 24
3. Konsep Marjin Pemasaran .............................................................. 30
4. Skema Kerangka Pemikiran ............................................................ 35
5. Pola Saluran Pemasaran Telur Ayam Kampung di
Kabupaten Bogor, Tahun 2009 ....................................................... 61





























xviii


DAFTAR LAMPIRAN


Nomor Halaman

1. Produksi Telur Ayam Buras Menurut Provinsi
Tahun 2002-2006 (Ton) ...................................................................... 101
2. Perkembangan Produksi Ternak dan Kontribusi Berbagai J enis
Ternak Terhadap Produksi Daging, Telur, Susu di Kabupaten Bogor 102
3. Pencapaian Target Produksi Hasil Ternak di Kabupaten Bogor.......... 102
4. Perkembangan Populasi Ternak Unggas di Kabupaten Bogor
Tahun 2003-2008 ................................................................................. 103
5. Perkembangan Produksi Asal Ternak Tahun 2003-2008 .................... 103
6. Perkembangan Produksi Asal Ternak Tahun 2003-2008 .................... 104
7. Perkembangan Konsumsi Protein Hewani Tahun 2003-2008 ............. 104
8. Harga Rata-Rata Komoditas Peternakan Tahun 2008 ......................... 105
9. Biaya Pemasaran Telur Ayam Kampung yang dikeluarkan oleh
Setiap Lembaga Pemasaran pada Saluran I ........................................ 106
10. Biaya Pemasaran Telur Ayam Kampung yang dikeluarkan oleh
Setiap Lembaga Pemasaran pada Saluran II ....................................... 107
11. Biaya Pemasaran Telur Ayam Kampung yang dikeluarkan oleh
Setiap Lembaga Pemasaran pada Saluran III ...................................... 108
12. Marjin Pemasaran Telur Ayam Kampung pada Saluran I,II,III
di Kabupaten Bogor Tahun 2009 ......................................................... 109
13. Kuisioner Untuk Peternak .................................................................... 110
14. Kuisioner Untuk Pedagang .................................................................. 115
15. Contoh Produk Telur yang Dihasilkan oleh Peternakan Trias Farm 120
16. Tahapan dalam Proses Produksi DOC di Peternakan Trias Farm. 121
17. Proses Produksi Telur Ayam Arab di Peternakan Trias Farm.. 122





BAB I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Industri perunggasan nasional merupakan andalan subsektor peternakan
yang mempunyai peranan besar dalam perekonomian negara terutama sebagai
penghasil bahan makanan protein tinggi, menyediakan lapangan kerja yang luas
dan meningkatkan nilai tambah hasil pertanian yang sangat signifikan. Subsektor
peternakan sebagai salah satu bagian dalam bidang pertanian diharapkan mampu
memenuhi kebutuhan hidup masyarakat Indonesia, terutama dalam konsumsi
kebutuhan protein dalam rangka mendapatkan hidup yang berkualitas melalui
pemenuhan makanan yang seimbang.
J umlah populasi unggas dari tahun ke tahun selalu mengalami
peningkatan, terutama ayam buras atau yang sering disebut ayam kampung
walaupun pada beberapa komoditas terjadi penurunan pada tahun 2007 karena
masuknya penyakit baru yang berasal dari Vietnam
1
, Hongkong dan Thailand ini
yang dikenal dengan flu burung. Akan tetapi populasi ayam kampung dan jenis
unggas lainnya kembali membaik dan menunjukkan peningkatan.

Tabel 1. Populasi Ternak Unggas di Indonesia Tahun 2004-2008
Unggas
Tahun
2004 2005 2006 2007 2008
Ayam Buras/Native
Chicken
276.989 278.954 291.085 272.251 290.803
Ayam Ras
Petelur/Layer
93.416 84.790 100.202 111.489 116.474
Ayam Ras
Pedaging/Broiler
778.970 811.189 797.527 891.659 1.075.885
Itik/Duck 32.573 32.405 32.481 35.867 36.931
Puyuh/Quail - - - 6.640,1 8.524,2
Merpati/Pigion - - - 162,5 175,6

1
http://groups.or.id/mailman/options/rantau-net [2 mei 2009]

Sumber: Statistik Peternakan 2008


Perkembangan industri perunggasan merupakan salah satu penggerak
dalam sektor pertanian Indonesia. Berdasarkan data yang dipublikasikan oleh
Direktorat J enderal Produksi Peternakan 2008 menunjukkan bahwa tingkat
konsumsi telur nasional sejak tahun 2002 terjadi peningkatan sampai dengan
tahun 2006. Peningkatan konsumsi telur nasional tersebut dapat disebabkan harga
yang relatif lebih murah dibandingkan dengan sumber protein hewani lainnya
seperti daging sapi, kerbau, kambing, domba, babi, ayam, ikan, susu maupun
protein lainnya. Hanya saja pada tahun 2004 jumlah konsumsi telur indonesia
mengalami pertumbuhan negatif (Tabel 2). Hal ini disebabkan oleh adanya isu
flu burung, usaha ternak unggas menghadapi permasalahan dan mengancam
keberlanjutannya. Semakin menurunnya efisiensi biaya produksi karena semakin
mahalnya biaya produksi.
Biaya produksi terbesar pada usaha ternak ayam kampung adalah biaya
pakan. Biaya pakan bisa mencapai 80 persen dari seluruh total biaya produksi.
Secara umum, formula ransum atau pakan khusus unggas terdiri dari jagung,
bungkil kedelai, dedak padi, pollard, tepung ikan dan bahan lainnya. Berdasarkan
informasi tersebut maka dapat disimpulkan kebutuhan produk perunggasan saat
ini masih memiliki potensi untuk lebih dikembangkan.

Tabel 2. Produksi dan Konsumsi Telur Unggas (Ayam Kampung, Ayam Ras dan
Itik) Indonesia Tahun 2002-2006
Tahun
Produksi Telur (000 ton)
Konsumsi Telur Unggas
(Ayam Kampung, Ayam
Ras dan Itik)
Ayam
Kampung
Ayam Ras Itik Nasional (ton)
2002 161,69 614,41 169,65 831.238
2003 177,02 611,54 185,04 967.522
2004 172,15 762,04 173,22 894.461
2005 175,40 681,10 195,00 1.041.661
2006 181,10 751,00 201,70 1.116.920
Sumber: Direktorat J enderal Peternakan

3

Produksi yang selalu meningkat harus selalu diimbangi dengan konsumsi


yang optimal agar semua produk terserap oleh pasar. Sifat permintaan telur ayam
adalah (income estic demand), yang berarti bila pendapatan penduduk meningkat
maka konsumsi telur juga meningkat. Peningkatan konsumsi dipengaruhi oleh
beberapa faktor yang mendukung peningkatan hal tersebut. Diantaranya adalah
faktor-faktor seperti peningkatan kesadaran konsumsi gizi, peningkatan
pendapatan, tingkat pendidikan dan peningkatan jumlah penduduk. Di masa yang
akan datang, pedapatan per kapita akan meningkat terutama pada negara-negara
yang saat ini termasuk low and middle income countries. Dengan demikian,
konsumsi telur juga diperkirakan akan meningkat. Indonesia, misalnya menurut
perkiraan pada tahun 2005
2
pendapatan per kapita akan meningkat menjadi US$
2.500 dan konsumsi telur diperkirakan akan mencapai 4,07 kg per kapita. Dengan
memanfaatkan data proyeksi penduduk tahun 2005 dan proyeksi konsumsi telur
per kapita pada tahun yang sama, maka diperkirakan konsumsi telur pada tahun
tersebut mencapai 979,70 ribu ton.
Telur ayam kampung merupakan salah satu jenis makanan yang diminati
oleh masyarakat luas, karena memiliki nilai gizi terutama kadar protein yang
tinggi dibandingkan dengan hewan lainnya yaitu sebesar 16,3 persen. Selain itu
telur ayam kampung baik dikonsumsi dalam jumlah besar karena memiliki kadar
lemak yang rendah yaitu sebesar 11,5 persen. Akhir-akhir ini gejala back to
nature (kembali ke alam) menjadi suatu hal yang menarik. Masyarakat kelas
menengah ke atas yang semula mengandrungi segala sesuatu yang serba teknologi
kini mulai berubah ke situasi yang serba alami. Kecendrungan permintaan daging
dan telur ayam kampung yang terus meningkat tampaknya ikut dipengaruhi oleh
fenomena tersebut. Persepsi masyarakat tentang ayam kampung adalah ayam yang
asli, masih berbau alam, dan belum tercemar oleh zat-zat berbahaya. Terlepas
dari itu semua merupakan peluang untuk perkembangan telur ayam kampung.
Melihat telur ayam kampung sebagai salah satu komoditas yang memiliki
keunggulan-keunggulan tersebut, sebagian masyarakat menyadari peluang bisnis
yang muncul dalam usaha budidaya telur ayam kampung. Peluang bisnis ini

2
www.bi.go,id/SIPUK/ayamras_petelur/pemasaran [20 mei 2009]

kemudian menarik minat masyarakat untuk turut mengembangkannya dan lokasi-


lokasi budidaya telur ayam kampung pun bermunculan.
Di Indonesia, beberapa tempat di pulau jawa menjadi setra produksi telur
ayam kampung yang cukup besar J awa Barat merupakan salah satu provinsi
dengan produksi telur ayam buras terbesar ketiga setelah J awa Tengah dan J awa
Timur. Menurut Badan Statistik Peternakan 2006, menyatakan bahwa Provinsi
J awa Barat selalu mengalami peningkatan produksi dari tahun ke tahun terutama
dari tahun 2002 sampai 2006. Rata-rata produksi telur ayam buras mengalami
peningkatan setiap tahunnya mencapai 19 persen.
J awa Barat, khususnya wilayah Bogor memiliki kondisi alam yang sesuai
bagi budidaya telur ayam kampung, hal ini menjadi faktor pendorong utama bagi
usaha pertumbuhan telur ayam kampung. Disamping itu jumlah penduduk
wilayah Bogor merupakan populasi tertinggi di J awa Barat. Usaha-usaha
budidaya telur ayam kampung yang berkembang memiliki skala usaha yang
berbeda, dan pada akhirnya akan bermuara pada perbedaan kemampuan
penawaran telur ayam kampung kepada konsumen. Dengan skala usaha yang
berbeda tersebut, pengusaha-pengusaha ayam kampung akan memiliki saluran
pemasaran yang berbeda pula, sesuai dengan keterbatasan pasokan yang
dimilikinya.
Prospek ekonomi dari komoditas peternakan sangat menguntungkan saat
ini. Salah satu sektor peternakan yang mempunyai prospek yang cukup
menjanjikan untuk dikembangkan adalah sektor peternakan unggas. Hal ini
didukung oleh jumlah penduduk yang semakin meningkat sepanjang tahun
sehingga kebutuhan/ konsumsi akan pangan meningkat tajam.
Adapun jumlah pengeluaran per kapita perbulan berdasarkan jenis
makanan penduduk Kabupaten Bogor (Tabel 3 ). Pada tabel dibawah terlihat
pengeluaran terbesar konsumsi untuk protein hewani yaitu ikan, dan setelahnya
telur dan susu yaitu berjumlah Rp. 11.777/ orang/ bulan. Hal ini menyatakan
bahwa telur merupakan sumber protein hewani yang pokok dan sangat digemari
oleh masyarakat Kabupaten Bogor.


5

Tabel 3. Pengeluaran Rata-rata Per Kapita Sebulan untuk J enis Makanan di


Kabupaten Bogor Tahun 2007
Jenis Barang
Jumlah Pengeluaran (000 rupiah) Rata-
rata per
kapita
< 60 60 s.d
79
80 s.d
99
100
s.d
149
150 s.d
199
200
s.d
299
300
s.d
499
> 500
Padi-padian 36 39 41 36 39 41 41 40 40
Umbi-umbian 1 1 1 1 1 1 1 1 1
Ikan 5 7 9 5 7 9 13 19 11
Daging 0,81
8
1 3 0,818 1 3 7 18 6
Telur dan susu 2 4 7 2 4 7 12 28 11
Sayur-sayuran 4 6 8 4 6 8 11 16 9
Kacang-
kacangan
3 5 6 3 5 6 8 10 7
Buah-buahan 1 2 3 1 2 3 6 15 5
Minyak dan
lemak
4 5 6 4 5 6 8 10 7
Bahan minuman 2 3 5 2 3 5 7 10 6
Bumbu-
bumbuan
2 3 4 2 3 4 5 6 4
Konsumsi
lainnya
2 4 5 2 4 5 8 12 7
Makanan dan
minuman siap
saji
9 16 27 9 16 27 44 100 41
Minuman
alkohol
9 13 46 9 13 46 101 348 107
Tembakau 8 14 21 8 14 21 30 44 25
Jumlah 87 115 152 87 115 152 209 335 189
Sumber: Survei Sosial Ekonomi Daerah, Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat

Hal ini bertolak belakang dengan kondisi kebutuhan yang meningkat tetapi
upaya peningkatan dari pemenuhan kebutuhan itu sendiri diabaikan. Disini
dibutuhkan peranan pemasaran sebagai jembatan yang menghubungkan perbedaan
kepentingan antara produsen dan konsumen, yaitu penyedia kebutuhan konsumen
dan memperlancar upaya untuk pemenuhan kebutuhan.
Salah satu upaya pengembangan komoditas peternakan secara umum
adalah upaya pengembangan yang terkait dengan pemasarannya. Usaha dalam
menciptakan kondisi pasar yang ideal dilakukan baik dari harga yang baik,
6

kemudahan dalam pendistribusian, kuatnya posisi petani dalam tawar-menawar,


mengembangkan dan memperluas pasar, mendorong akses yang lebih luas
terhadap informasi pasar, mengembangkan lembaga saluran distribusi,
menciptakan tertib usaha, meningkatkan perlindungan konsumen, meningkatkan
kemampuan pengusaha kecil dan golongan ekonomi menengah, meningkatkan
sarana dan prasarana pemasaran, mengurangi penyimpangan pasar agar
terciptanya suatu kondisi pemasaran yang efisien dimulai dari peternak hingga
konsumen akhir. Perlunya identifikasi masalah dalam pemasaran suatu komoditas
adalah untuk mengetahui kondisi mana yang sudah tercipta dan kondisi mana
yang masih perlu diupayakan.
Sistem pemasaran peternakan merupakan suatu kesatuan urutan lembaga-
lembaga pemasaran yang melakukan fungsi-fungsi pemasaran untuk
memperlancar aliran produk peternakan dari produsen awal ke tangan konsumen
akhir dan sebaliknya memperlancar aliran uang, menambah nilai produk yang
tercipta oleh kegiatan produktif yang dilakukan oleh lembaga pemasaran dari
tangan konsumen akhir ke tangan produsen awal dalam suatu sistem pemasaran
komoditas. Sistem pemasaran peternakan tersebut mencakup kegiatan produktif
yang dilakukan oleh lembaga-lembaga yang ada dalam sistem pemasaran tersebut,
baik secara vertikal atau urutan penambahan kegunaan dan menciptakan nilai
tambah maupun secara horizontal berdasarkan tingkatan produktif yang sama.
Tingkat produktivitas sistem pemasaran ditentukan oleh tingkat efisiensi dan
efektivitas seluruh kegiatan fungsional sistem pemasaran tersebut selanjutnya
menetukan kinerja operasi dan proses sistem.
Gonarsyah (1998) dalam Eryani, menuliskan bahwa kunci keberhasilan
pengembangan pasar domestik adalah inovasi dan peningkatan efisiensi
pemasaran. Dalam jangka pendek, peningkatan efisiensi pemasaran domestik
lebih difokuskan pada penekanan biaya pemasaran dan pemantapan organisasi
pemasaran yang ada. Dalam jangka panjang, peningkatan efisiensi difokuskan
pada upaya mencari inovasi dan alternatif baru dalam pelaksanaan fungsi-fungsi
pemasaran yang dapat menekan biaya-biaya pemasaran serta mempertimbangkan
berbagai alternatif organisasi pemasaran dari yang sepenuhnya tergantung pada
mekanisme pasar (invisible hand) sehingga sepenuhnya terbentuk integrasi
7

vertikal. Efisiensi sistem pemasaran dapat dilihat dari terselenggaranya integrasi


vertikal dan integrasi horizontal yang kuat, terjadi pembagian yang adil dari rasio
nilai tambah yang tercipta dengan biaya yang dikeluarkan dalam kegiatan
produktif masing-masing pelaku. Sistem pemasaran tersebut sering juga disebut
sebagai saluran pemasaran atau distribusi.
Peranan pemasaran sendiri dalam peternakan/agribisnis adalah sangat
besar, karena lebih kurang 80 persen pemasaran merupakan segmen dari sistem
agribisnis dan 70 persen dari setiap pengeluaran konsumen untuk makan dan
menutupi biaya pemasaran. Permasalah yang selalu dihadapi adalah bagaimana
menciptakan sistem penanganan komoditi peternakan yang sejalan dengan
perbaikan kesejahteraan pelaku didalamnya, terutama yang berkaitan dengan
aspek-aspek perdagangan hasil peternakan

1.2. Perumusan masalah
J awa Barat merupakan salah satu provinsi yang memiliki potensi dan
daerah sentra produksi telur ayam buras terbesar ke tiga setelah J awa Tengah dan
J awa Timur. Khususnya wilayah Bogor selain memiliki wilayah yang luas juga
memiliki jumlah populasi tertinggi di J awa Barat serta merupakan tujuan pasar
utama produk ternak ayam pedaging dan petelur. Hal ini dilandasi oleh beberapa
alasan yaitu: adanya permintaan yang tinggi, akibat adanya perkembangan
industri kawasan J akarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi, jarak ke pasar utama
dekat (J akarta), dan adanya dukungan investasi industri baik industri hulu
(industri pembibitan dan industri pakan ternak) maupun industri hilir penjualan
telur ke berbagai restoran dan rumah makan.
Pemasaran merupakan suatu hal yang tidak bisa dipisahkan dengan usaha
produksi, karena pemasaran merupakan ujung tombak untuk menilai berhasil
tidaknya usaha yang dijalankan. Tujuan akhir dari suatu proses produksi adalah
manghasilkan produk untuk dipasarkan atau dijual dengan harapan mendapat
imbalan berupa penghasilan dan keuntungan yang memadai.
Skala usaha yang berbeda dan lokasi peternakan yang tersebar diberbagai
tempat mengakibatkan pemasaran telur ayam kampung di Kabupaten Bogor
menghadapi permasalahan harga dan biaya pemasaran. Biasanya harga dari setiap
8

produk berfluktuasi karena adanya persaingan harga diantara produk-produk yang


dipasarkan pada suatu pasar yang terbentuk. Pada pemasaran telur ayam
kampung, harga yang diterima peternak (produsen) masih jauh lebih rendah dari
harga yang dibayarkan oleh konsumen akhir. Harga yang diterima peternak pada
kondisi normal adalah Rp.1000,00 per butir, sementara harga yang dibayarkan
konsumen Rp.1600,00 sampai dengan Rp. 2000,00 per butir. J ika dibandingkan
dengan telur ayam ras pada kondisi normal harga yang diterima peternak adalah
Rp750 per butir sementara harga yang dibayarkan konsumen Rp 850 sampai
dengan Rp.1000 per butir. Dari kedua jenis telur diatas, harga telur ayam
kampung sangat tinggi sekali dibandingkan dengan ayam broiler. Disamping
proses produksinya yang lebih lama dibandingkan dengan telur ayam ras, telur
ayam kampung juga masih jarang diusahakan secara intensif. Selain itu proses
penyediaan DOC hingga pemasaran telur ayam kampung belum terintegrasi
seperti ayam ras kebanyakan, hal ini yang mengakibatkan perbedaan harga yang
sangat signifikan antara telur ayam kampung dengan ayam ras.
Pada pemasaran telur ayam kampung di Bogor peternak selalu berpatokan
terhadap harga jual yang terjadi didaerah J awa Tengah dan J awa Timur khususnya
Blitar sebagai sentra produksi telur ayam terbesar di Indonesia. Di daerah
tersebut harga jual telur sangat rendah dan tidak bisa menutupi harga produksi,
karena di daerah Blitar dan sekitarnya para peternak banyak mengusahakan
budidaya ayam kampung tetapi dengan skala kecil.
Pada umumnya peternak bertindak sebagai penerima harga (price taker),
sehingga menyebabkan penerimaan ditingkat peternak menjadi paling rendah. Hal
tersebut terjadi dikarenakan peternak tidak memiliki bargaining position yang
kuat dibandingkan dengan lembaga pemasaran lainnya serta tidak memiliki
informasi yang lengkap mengenai harga jual dipasaran. Selain itu, jauhnya lokasi
pemasaran dari sentra produksi memungkinkan timbulnya resiko para peternak
seandainya peternak menjual hasil panennya langsung kepada konsume akhir,
yaitu berupa biaya transpotasi. Sedangkan jika menjual hasil panen di daerah
produksinya, peternak menghadapi resiko harga penjualan terlalu rendah.
Semakin banyak pihak yang terlibat dalam pemasaran, maka akan semakin
9

banyak pula perlakuan yang diberikan dan pengambilan keuntungan oleh setiap
lembaga pemasaran.
Proses pemasaran telur ayam kampung ini terjadi melalui beberapa
lembaga pemasaran, dimulai dari peternak sampai ke pedagang pengencer yang
pada akhirnya berhubungan dengan konsumen. Panjang atau pendeknya pola
saluran pemasaran akan berpengaruh terhadap permintaan (keuntungan) peternak
pada setiap lembaga pemasaran yang terlibat. Sehingga perlu dikaji sistem
pemasaran telur ayam kampung dengan mengidentifikasi faktor-faktor
pembentukan mekanisme pasar antara lain lembaga pemasaran, pola saluran
pemasaran, fungsi-fungsi pemasaran, struktur pasar, perilaku pasar serta keragaan
pasar sehingga terjadi permasalahan tersebut.
Melihat kondisi tersebut ada beberapa permasalahan yang terjadi dan perlu
dikaji antara lain:
1. Bagaimana sistem pemasaran telur ayam kampung di Kabupaten Bogor ?
2. Apakah saluran pemasaran telur ayam kampung di Kabupaten Bogor sudah
efisien yang dapat dilihat dari marjin pemasaran, farmers share dan rasio
keuntungan biaya?

1.3. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mengidentifikasi sistem pemasaran dan saluran pemasaran yang dilakukan di
Kabupaten Bogor
2. Menganalisis efisiensi pemasaran pemasaran telur ayam kampung di
Kabupaten Bogor

1.4. Kegunaan Penelitian
Adapun hasil penelitian ini diharapkan dapat sebagai gambaran umum
bagi pelaku dalam produksi dan pemasaran telur ayam kampung dan mengambil
kebijakan atau langkah-langkah yang berkaitan dengan kondisi dan struktur pasar,
sumbangan pemikiran kepada decision maker dalam mencari alternatif untuk
meningkatkan efisiensi pemasaran komoditas telur ayam kampung di Kabupaten
Bogor, sebagai bahan pertimbangan atau literatur pada penelitian selajutnya
10

bahwa informasi mengenai pasar dan bagaimana sistemnya merupakan sumber


daya yang sangat penting sebagai kunci keberhasilan untuk mengatasi kondisi
pasar yang sering mengalami fluktuasi. Bagi peneliti sendiri, penelitian ini adalah
sebagai bentuk pengaplikasian ilmu-ilmu manajemen agribisnis yang telah
didapatkan selama masa perkuliahan

1.5. Ruang lingkup
Batasan penelitian ini hanya menganalisis kegiatan pemasaran komoditas
telur ayam kampung dilihat dari struktur pasar, perilaku pasar dan keragaan pasar
serta melihat apa-apa saja yang terlibat dan fungsi yang dilakukan oleh lembaga-
lembaga tersebut dalam kegiatan pemasaran komoditas telur ayam kampung.
Dalam hasil analisis tersebut dapat diidentifikasi bagaimana efisiensi pemasaran
komoditas telur ayam kampung yang kemudian memberikan gambaran secara
umum mengenai kegiatan pemasaran untuk telur ayam kampung di Kabupaten
Bogor.





BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Karakteristik Telur Ayam Kampung
Ayam kampung merupakan salah satu varietas dari ayam buras yang
paling banyak dikenal oleh masyarakat luas dan tersebar diseluruh pelosok tanah
air. Pengertian ayam buras meliputi seluruh ayam bukan ras atau selain ayam
negeri pedaging dan petelur. Penggolongan jenis ayam buras adalah jenis-jenis
ayam seperti ayam kampung, ayam kedu, ayam nunukan, ayam pelung ataupun
ayam hias. Selain itu, penggunaan istilah ayam kampung juga digunakan untuk
beberapa jenis ayam buras.
Menurut Sarwono Ayam buras adalah ayam jinak yang terbiasa hidup
ditengah masyarakat yang padat penduduk, mempunyai daya adaptasi tinggi
terhadap lingkungan yang berubah-rubah dan juga penyakit. Penggunaan obat-
obat untuk ayam kampung relatif sedikit, hal ini menyebabkan telur ayam
kampung lebih digemari karena lebih alami dibandingkan dengan ayam ras. Telur
ayam kampung mempunyai banyak kelebihan dibandingkan dengan telur ayam
ras, karena memiliki rasa yang lebih gurih dan kadar kemanisannya lebih rendah
dibandingkan telur ayam ras. Telur ayam kampung tidak hanya dikonsumsi
matang tetapi sering juga dikonsumsi segar atau mentah sebagai campuran madu,
susu, atau jamu untuk meningkatkan kesehatan tubuh. Selain itu, telur ayam
kampung juga banyak digunakan dalam industri obat dan kosmetik.
Selain kelebihan-kelebihan tersebut, ayam kampung juga memiliki
beberapa kelemahan antara lain sulitnya memperoleh bibit yang baik dan produksi
telurnya yang lebih rendah dibandingkan ayam ras. Namun, tidak semua ayam
kampung berproduksi lebih rendah dibandingkan ayam ras. Ayam kampung jenis
kedu dan nunukan mampu memproduksi telur setara dengan produksi telur ayam
ras.
Masalah yang paling menonjol dalam pemeliharaan ayam kampung adalah
tingginya tingkat kematian anak ayam ketika berumur dibawah dua bulan.
Penyebab utamanya adalah serangan penyakit. Setelah melewati umur dua bulan,
biasanya ayam kampung lebih tahan terhadap serangan penyakit dibandingkan
dengan ayam ras. Selain karena penyakit, penyebab kematian ayam bisa
12

disebabkan oleh pengaruh pakan dan lingkungan yang kurang memadai. Menurut
Sujionohadi 2007 beberapa penyakit yang sering menyerang dan berbahaya serta
penyebab lainnya yang sering menganggu pertumbuhan ayam kampung antara
lain:
a. Tetelo/New Castle Disease (NCD)
b. Gumboro/ (Infectious Bursal Disease)
c. Marek (Leukosis Akuta)
d. Pilek Ayam (Infectious Coryza Snot)
e. Mencret
Pemanenan telur ayam dapat dimulai setelah ayam dara berumur 6 bulan.
Dalam pemanenan yang perlu diperhatikan adalah cara memungut telur karena
telur mudah rusak. Dengan sistem intensif, produksi telur yang dihasilkan
diperkirakan bisa mencapai 50 persen dengan masa produksi selama satu tahun.
Penanganan pasca panen merupakan usaha untuk menjaga agar produk tetap
berkualitas baik,dan tidak mudah rusak. Penanganan pasca panen yang dilakukan
antara lain seleksi mutu dan pengemasan. Seleksi mutu dilaksanakan berdasarkan
mutu yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Klasifikasi telur yang baik antara lain
bentuk telurnya normal, kulitnya mulus dan warna kulitnya seragam.
Telur
1
merupakan bahan makanan yang sangat akrab dengan kehidupan
kita sehari-hari. Telur sebagai sumber protein mempunyai banyak keunggulan
antara lain, kandungan asam amino paling lengkap dibandingkan bahan makanan
lain seperti ikan, daging, ayam, tahu, tempe, dll. Telur mempunyai citarasa yang
enak sehingga digemari oleh banyak orang. Telur juga berfungsi dalam aneka
ragam pengolahan bahan makanan. Selain itu, telur termasuk bahan makanan
sumber protein yang relatif murah dan mudah ditemukan. Hampir semua orang
membutuhkan telur. Telur ayam mengandung protein 12,8 persen, telur bebek
13,1 persen dan telur puyuh 10,3 persen. Selain itu telur mengandung sejumlah
mineral seperti zat besi, fosfor, kalsium, sodium dan magnesium dalam jumlah
yang cukup.

1
mietha.wordpress.com/2008/11/26/telur-makanan-berlimpah-gizi [5 mei 2009]
13

Telur
2
ayam mengandung asam amino yang lebih baik dan lebih tinggi
dibanding ayam ras maupun ayam negeri. Hal ini yang menyebabkan semua
kandungan gizi pada ayam telur kampung bisa diserap tubuh dengan lebih baik.
Meski begitu, dari segi kandungan gizi, seperti lemak, kolesterol, vitamin, dan
lainnya, tidak ada perbedaan yang signifikan antara telur ayam kampung dan
ayam ras maupun ayam negeri
Struktur sebuah telur terdiri atas sel hidup yang dikelilingi oleh kuning
telur sebagai cadangan makanan terbesar. Kedua komponen itu dikelilingi oleh
putih telur yang mempunyai kandungan air tinggi, bersifat elastis dan dapat
mengabsorpsi goncangan yang mungkin terjadi pada telur tersebut. Putih telur
dikelilingi dan dilindungi oleh kulit telur yang berfungsi untuk mengurangi
kerusakan fisik dan biologis.
Kualitas telur ditentukan oleh dua faktor, yakni kualitas luarnya berupa
kulit, cangkang dan isi telur. Faktor luar meliputi bentuk, warna, tekstur,
keutuhan dan kebersihan kulit, sedangkan faktor isi telur meliputi kekentalan
putih telur, warna serta posisi kuning telur dan ada tidaknya noda-noda pada putih
dan kuning telur. Dalam suhu ruang, telur akan mengalami kerusakan setelah
disimpan lebih dari dua minggu. Kerusakan ini biasanya ditandai bila telur
dipecahkan isinya/kuning dan putih telur tidak menggumpal lagi. Tanda-tanda
telur segar yang baik adalah bentuk kulitnya bagus, cukup tebal, tidak cacat/retak,
teksturnya baik, warnanya bersih,rongga udara dalam telur kecil, posisi kuning
telur di tengah dan tidak tidak terdapat bercak atau noda merah.
Dalam pemasaran telur dengan harga yang bagus harus dilakukan
standarisasi berdasarkan mutu, berat, keutuhan dan kebersihan kulit telur.
Berdasarkan kriteria itu, telur dikelompokkan menjadi beberapa kelompok
kualitas. Telur yang berkualitas baik mempunyai harga yang lebih mahal
dibandingkan dengan yang berkualitas tidak baik. J ika akan dijual ke pasar,
pengemasan menjadi hal yang harus diperhatikan. Menurut Agus,dkk (2001),
Pengemasan yang baik, selain mencegah telur pecah juga memudahkan

2
www.mail-archive.com/milis-nakita@news.gramedia-majalah.com/msg01732.html - 16k -
[5 mei 2009]

14

pengangkutan. Secara tradisional, telur dikemas dalam kotak kayu yang diberi
jerami, hal ini sangat mudah dan kurang aman. Cara terbaik adalah mendesain
kantung khusus yang biasanya terbuat dari plastik untuk meletakkan telur, dengan
cara ini, telur dikemas rapi dan aman. Untuk pasar premium (pasar swalayan dan
supermarket), pengemasan ini telah menjadi standar.

2.2. Penelitian Pemasaran Produk Agribisnis
Pemasaran merupakan suatu kegiatan atau jasa yang dilakukan untuk
memindahkan barang dari produsen ke konsumen. Penelitian mengenai
pemasaran produk agribisnis telah banyak dilakukan antara lain tentang
pemasaran telur ayam ras. Hasil yang diperoleh tentu saja berbeda dengan
karakteristik tempat dan komoditi yang diteliti. Ramdhiani dan Dame (2008)
meneliti tentang permintaan telur ayam ras dan buras. Faktor-faktor yang
mempengaruhi permintaan pasar secara umum antara lain: (1) Rata-rata
pendapatan konsumen, apabila pendapatan naik maka konsumen cenderung
membeli lebih banyak, (2) Ukuran pasar, kota yang populasinya lebih besar akan
membeli lebih banyak dari pada kota yang populasinya kecil, (3) Harga dan
ketersediaan produk-produk yang berkaitan atau produk substitusi, (4) Selera
konsumen dan (5) Pengaruh lainnya seperti perayaan hari besar agama, tahun
baru.
Ramdhiani (2008) dalam penelitiannya tentang permintaan telur ayam ras
dan ayam buras menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan
ayam ras dan ayam buras di DKI J akarta yaitu harga telur ayam ras, harga telur
ayam buras dan jumlah anggota rumah tangga. Begitu juga dengan Dame (2008)
dalam penelitiannya mengenai permintaan rumah tangga konsumen terhadap telur
ayam ras menyimpulkan bahwa, faktor-faktor yang berpengaruh terhadap
permintaan telur ayam buras di Kecamatan Kandis, Kabupaten Siak Riau adalah
jumlah anggota keluarga dan selera. Kedua penelitian diatas tentang permintaan
telur ayam dapat disimpulkan bahwa, yang mempengaruhi permintaan telur ayam
ras maupun ayam buras adalah harga, pendapatan dan jumlah anggota keluarga
serta selera. Selain itu faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan telur ayam
tidak jauh berbeda dengan komoditas agribisnis lainnya.
15

Fungsi-fungsi pemasaran produk agribisnis secara umum telah banyak


dilakukan penelitian oleh Surya, Eryani, dan Sigalingging dalam penelitian
mereka tentang analisis pendapatan dan pemasaran produk agribisnis yang tidak
terlepas dari peranan pedagang grosir. Surya (2004) dalam penelitiannya tentang
Analisis Pendapatan dan Pemasaran Telur Ayam Ras Kotamadya Depok Provinsi
J awa Barat mempunyai tujuan mempelajari, menganalisa serta menghitung
pendapatan usaha , mempelajari saluran pemasaran telur ayam ras berdasarkan
daerah tujuan pemasaran yang paling efisien ditinjau dari segi teknis, ekonomi,
marjin pemasaran serta farmers share. Selain itu juga mempunyai tujuan
mempelajari dan menganalisa fungsi-fungsi pemasaran, struktur dan perilaku
pasar pada setiap lembaga pemasaran telur serta menghitung sebaran marjin
pemasaran telur pada setiap jalur pemasaran yang terjadi.
Penelitian ini menggunakan metode snowball sampling dengan jumlah
responden 30 persen dari jumlah pengencer yang melakukan pembelian ke
pedagang grosir. Saluran pemasaran telur ayam ras di Kelurahan Serua terdiri
dari 13 pola saluran pemasaran. Didalam pola saluran pemasaran tersebut
didalamnya tidak lepas dari peranan pedagang grosir. Sistem pembayaran grosir
kepada peternak yaitu sistem tunai dan sistem cek. Sistem pembayaran pengencer
kepada grosir yaitu sistem tunai dan sistem pembayaran kemudian (hutang).
Eryani (2009) dalam penelitiannya yang berjudul Analisis Pemasaran
Mangga Gedong Ginju (Mangifera indica L), di Kabupaten Cirebon J awa Barat.
Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mempelajari saluran pemasaran dan fungsi
pemasaran, menganalisis struktur, perilaku dan keragaan pasar, mengidentifikasi
efisiensi pemasaran. Pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan dan
wawancara langsung yang dilkakukan secara sengaja (purposive) berdasarkan
jumlah respoden baik itu petani, pedagang pengumpul, pedagang besar, pedagang
grosir dan pedagang pengencer. Penelitian ini menyimpulkan bahwa saluran
pemasaran mangga gedong ginju hingga ke konsumen melibatkan beberapa
pelaku pemasaran diantaranya pedagang pengumpul, pedagang besar, pedagang
grosir, supplier, dan pengencer. Saluran yang terbentuk sebanyak sembilan
saluran pemasaran juga didalamnya tidak lepas dari peranan padagang grosir.
16

Sigalingging (2007) menyatakan dalam penelitiannya tentang Analisis


Efisiensi Pemasaran Ayam ras Pedaging (Broiler) di Kecamatan Pemijahan
Kabupaten Bogor mempunyai tujuan menganalisis saluran pemasaran ayam
broiler, menganalisis marjin pemasaran dan nilai perolehan peternak serta
menganalisis tingkat keterpaduan harga ditingkat pengencer dan harga ditingkat
peternak. Penelitian ini menggunakan metode simple random sampling dan
purposive. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat enam saluran
pemasaran yang didasarkan kepada jumlah pembeli dan penjual yang terlibat
didalam pemasaran ayam ras pedaging. Saluran yang terbentuk ditingkat peternak
hanya satu saluran yaitu peternak menjual semua produknya ke inti. Dalam
pemasaran ayam pedaging ke inti lebih banyak menjual ayam kepada pedagang
pengumpul, karena pedagang pengumpul tidak memperlakukan ukuran standar
ayam sehingga peternak akan diuntungkan karena peternak tidak melakukan
penyortiran. Volume penjualan kepada pedagang pengencer lebih besar,
sementara efisiensi harga tercapai apabila perubahan harga yang terjadi ditingkat
konsumen harus langsung ditransmisikan kepada produsen oleh pelaku pasar.
Dari beberapa saluran pemasaran pada penelitian diatas, peranan
pedagang grosir masih berperan besar. Peran pedagang grosir atau pengencer
sangatlah penting, mengingat hubungan mereka sangat dekat dan langsung
berkaitan dengan peternak seperti penelitian Surya, Eryani dan Sigalingging
menyatakan bahwa hampir semua lembaga dan saluran pemasaran tidak terlepas
dari pedagang grosir atau pengencer.
Pemasaran disebut efisien apabila tercipta keadaan dimana pihak-pihak
yang terlibat baik produsen, lembaga-lembaga pemasaran maupun konsumen
memperoleh kepuasan dengan adanya aktivitas pemasaran. Pengukuran efisiensi
pemasaran telah dilakukan penelitian terdahulu oleh Surya, Kurniawati, dan
Sigalingging. Surya (2004) dalam penelitiannya tentang analisis pendapatan dan
pemasaran telur ayam ras menyimpulkan bahwa struktur pasar yang hadapi
peternak cenderung cenderung mendekati struktur pasar oligopoli. Struktur pasar
yang dihadapi pedagang grosir di Pasar Parung, Pasar Buncit dan Pasar Ciputat
cenderung oligopoli. Struktur pasar yang dihadapi pedagang grosir di Pasar
17

Gaplok cenderung monopoli. Pada tingkat pedagang pengencer cenderung


mendekati struktur pasar persaingan sempurna.
Berdasarkan nilai indeks efisiensi teknis terendah dan nilai indeks efisiensi
ekonomi serta farmers share tertinggi terdapat pada saluran yang dimulai dari
produsen-pedagang grosir konsumen. Farmers share pada setiap saluran
pemasaran berkisar antara 82,43 persen sampai 96,88 persen. Secara keseluruhan
saluran pemasaran yang terbentuk cukup baik, karena harga yang diterima
produsen dari harga jual ditingkat konsumen cukup besar. Farmers share selalu
bertolak belakang dengan marjin pemasaran, semakin tinggi marjin maka semakin
kecil farmers share yang didapat.
Sigalingging (2007) dalam penelitiannya menyatakan bahwa berdasarkan
pendekatan analisis marjin, farmers share, rasio keuntungan terhadap biaya dan
IMC saluran pemasaran yang paling efisien terdapat pada saluran pemasaran dari
peternak langsung menjual semua produknya ke inti (pengumpul). Pemasaran
langsung ke pengumpul tidak memerlukan ukuran standar sehingga peternak lebih
diuntungkan.
Kurniawati (2007) dalam penelitiannya Analisis Pemasaran Buah stroberi
mempunyai tujuan menganalisis terjadinya perbedaan yang besar diantara harga
jual ditingkat pedagang pengencer,menganalisis sistem pemasaran pada lokasi
penelitian dengan menganalisis saluran pemasaran, lembaga pemasaran, struktur
pasar dan fungsi lembaga pemasaran serta menganalisis tingkat efisiensi.
Perilaku pasar pada pemasaran buah stroberi ini terjadi dengan melihat
sistem penentuan harga dan pembayaran harga stroberi yang terjadi serta
kerjasama diantara lembaga-lembaga pemasaran yang terlibat. Sistem penentuan
harga yang terjadi pada proses pemasaran buah stoberi di Desa Alamendah
berdasarkan dua cara yaitu berdasarkan penetapan berdasarkan kondisi pasar yang
sedang berlaku dan melihat kondisi kualitas dan permintaan produk. Hasil
perhitungan marjin pemasaran terbesar pada saluran satu yaitu 57,14 persen, total
marjin pemasaran berikutnya adalah pola pemasaran tiga dengan marjin sebesar
55,71 persen. Marjin pemasaran terkecil adalaha sebesar 42,86 persen.
Farmers share terbesar yaitu pada saluran pemasaran ke lima sebesar 60
persen, selanjutnya diikuti 53,33 persen pada saluran empat, 50 persen pada
18

saluran pemasaran dua, 45,71 persen pada saluran tiga serta farmers share
terkecil pada pola pemasaran satu sebesar 42,86 persen. Berdasarkan perhitungan
marjin pemasaran, dan farmers share maka saluran pemasaran buah stroberi yang
paling efisien di Desa Alamendah adalah pada saluran dimana petani langsung
menjual hasil panennya kepada pedagang pengencer. Dari penelitian diatas dapat
disimpulkan bahwa semakin pendek saluran pemasaran suatu produk, maka
semakin efisien dan semakin banyak keuntungan yang diterima petani.
Analisis pemasaran Sayuran Organik di PT Agro Lestari, Ciawi Bogor
J awa Barat merupakan skripsi yang diangkat oleh Batubara (2009). Tujuan
penelitian tersebut adalah mengidentifikasi sistem pemasaran dan saluran
pemasaran sayuran organik di PT Agro Lestari, menganalisis perbedaan harga jual
ditingkat petani dan ditingkat pemasok serta menganalisis farmers share dan
rasio keutungan biaya untuk mendapatkan saluran pemasaran yang efisien.
Struktur pasar yang dihadapi oleh petani sayuran organik bersifat pasar
persaingan sempurna, hal ini didasarkan pada jumlah petani (penjual) yang
banyak, dimana sebagian besar penduduk didaerah perusahaan bermata pencarian
pokok sebagai petani, sehingga petani yang menjual sayuran organik bersaing
dengan petani sayuran non organik. Struktur pasar yang dihadapi pedagang
pengumpul dan petani besar yaitu perusahaan sebagai penjual dan pemasok
sebagai pembeli menghadapi struktur pasar monopsoni karena jumlah pedagang
pengumpul hanya ada satu sementara pemasok cukup banyak. Struktur pasar
yang terjadi dipemasok merupakan struktur pasar oligopoli dimana penjual
sayuran organik lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah pembeli (konsumen
akhir).
Penelitian ini menghasilkan tiga pola saluran pemasaran, yang
menunjukkan bahwa total marjin pemasaran terbesar terdapat pada pola
pemasaran komoditi wortel organik dan petai organik yaitu sebesar 68 persen dan
70,86 persen. Marjin pemasaran terkecil yaitu pada pemasaran komoditi
kangkung 60,02 persen. Dari kepentingan petani saluran pemasaran yang
mendapatkan keuntungan terbesar adalah pada komoditas kangkung organik
dengan farmers share terbesar 40 persen.
19

Berdasarkan penelitian-peneliatian diatas, baik penelitian pemasaran


tentang ayam maupun penelitian pemasaran produk agribisnis lainnya, belum
terdapat penelitian mengenai analisis pemasaran telur ayam terutama telur ayam
kampung. Telur ayam kampung merupakan suatu produk yang digemari
konsumen teruatama karena masih alami,mempunyai rasa yang lebih gurih,
kandungan protein tinggi serta kandungan gizinya bagus. Agar suatu produk
mampu bersaing, diperlukan suatu pengetahuan pemasaran yang menyeluruh, dan
salah satu bentuk pengetahuan yang diperlukan pada pemasar adalah pengetahuan
terhadap saluran pemasaran, fungsi-fungsi yang ada disetiap lembaga pemasaran,
struktur pasar, perilaku pasar dan keragaan pasar. Penelitian ini menganalisis
perubahan nilai yang terjadi ketika terjadi perpindahan komoditas dari setiap
lembaga pemasaran baik dari segi perubahan fungsi, bentuk dan waktu.
Kesenjangan perubahan harga antara peternak dan konsumen akhir menjadikan
penyebab mengapa penelitian dengan judul Analisis Pemasaran Telur Ayam
Kampung di Kabupaten Bogor ini jelas berbeda dengan penelitian-penelitian
sebelumnya, terutama mengangkat telur ayam kampung sebagai topik utama.


BAB III. KERANGKA PEMIKIRAN

3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis

Kerangka pemikiran teoritis dimaksudkan untuk memberikan gambaran
atau batasan-batasan tentang teori yang akan dipakai sebagai landasan penelitian
yang akan dilakukan, adalah teori mengenai variabel-variabel yang akan diteliti.
Variabel-variabel yang akan diteliti pada penelitian analisis pemasaran Telur
Ayam Kampung di Kabupaten Bogor J awa Barat terdiri dari saluran pemasaran,
lembaga pemasaran, fungsi-fungsi pemasaran, struktur serta perilaku pasar untuk
menilai efisiensi harga. Marjin pemasaran, farmers share dan rasio keuntungan
biaya digunakan untuk menilai efisiensi pemasaran secara operasional.

3.1.1. Sistem Pemasaran
Kohl dan Uhl (1985), mendefinisikan tataniaga atau pemasaran pangan
merupakan keragaan dari semua aktivitas bisnis dalam aliran barang atau jasa
komoditas pertanian mulai dari titik produksi (petani) sampai ke tangan
konsumen. Limbong dan Sitorus (1987) menyatakan bahwa pemasaran mencakup
segala aktivitas yang diperlukan dalam pemindahan hak milik yang
menyelenggarakan saluran fisiknya termasuk jasa-jasa dan fungsi-fungsi dalam
menjalankan distribusi barang dari produsen sampai ke konsumen termasuk
didalamnya kegiatan-kegiatan tertentu yang menghasilkan perubahan-perubahan
bentuk dari barang yang ditujukan untuk mempermudah penyaluran dan
memberikan kepuasan yang lebih tinggi kepada konsumen. Dengan kata lain
pemasaran merupakan serangkaian fungsi yang diperlukan untuk menggerakkan
produksi mulai dari produsen utama hingga sampai ke konsumen akhir.
Di Indonesia istilah tataniaga disamakan dengan pemasaran atau distribusi,
disebut tataniaga karena niaga identik dengan barang dagang sehingga tataniaga
berarti segala sesuatu yang menyangkut aturan permainan dalam hal perdagangan
barang-barang. Perdagangan biasanya dijalankan melalui pasar maka tataniaga
disebut juga pemasaran atau marketing. Dalam suatu sistem pemasaran terdapat
komponen-komponen yang terlibat yaitu produsen, lembaga pemasaran dan
21

konsumen serta lembaga lain yang langsung atau tidak langsung terlibat
didalamnya. Sejauh mana tiap komponen tersebut terlibat dalam sistem
pemasaran komoditi pertanian rakyat tergantung pada aktivitas mereka dalam
membina sistem pemasaran yang sedang berlaku. Pada tiap tingkat waktu,
kegiatan komponen tersebut akan menentukan tingkat efisiensi pemasaran.
Kohl dan Uhl (2002) mendefinisikan pasar sebagai suatu arena untuk
mengatur dan menfasilitasi aktivitas bisnis serta untuk menjawab pertanyaan-
pertanyaan dasar ekonomi mengenai: produk apa yang dihasilkan, berapa banyak
produksi, bagaimana cara memproduksi, dan bagaimana produk didistribusikan.
Sedangkan menurut Dahl and Hammond (1977), secara garis besar pasar
merupakan sejumlah lingkungan atau tempat dimana, (1) kekuatan permintaan
dan penawaran saling bertemu, (2) terbentuk harga serta perubahan harga terjadi,
(3) terjadinya perpindahan kepemilikan sejumlah barang dan jasa dan, (4)
beberapa susunan fisik dan institusi dibuktikan.
Kohl dan Uhl (2002) merumuskan pemasaran sebagai bentuk dari segala
aktivitas bisnis termasuk didalamnya aliran barang-barang dan jasa dari titik
dimana produk pertanian dihasilkan sampai berada ditangan konsumen akhir.
Pemasaran mencakup segala kegiatan dan usaha yang berhubungan
dengan perpindahan hak milik dan fisik dari tangan produsen ke tangan
konsumen, termasuk didalamnya kegiatan-kegiatan tertentu yang menghasilkan
perubahan bentuk dari barang yang ditujukan untuk lebih mudah penyalurannya
dan memberikan kepuasan yang lebih tinggi kepada konsumennya. Konsep
tersebut menunjukkan adanya kegunaan bentuk, kegunaan waktu, kegunaan
tempat dan kegunaan hak milik yang menyebabkan pemasaran merupakan
kegiatan yang produktif (Limbong dan Sitorus, 1987).
Pemasaran memiliki sasaran dan berusaha untuk memaksimumkan tingkat
konsumsi masyarakat terhadap berbagai jenis produk yang dipasarkan. Upaya ini
menjadi salah satu sasaran karena dengan tingkat konsumsi masyarakat yang
tinggi akan berimplikasi kepada peningkatan volume penjualan dan pada
gilirannya akan merangsang peningkatan volume produksi. Dengan kata lain,
memaksimumkan tingkat konsumsi akan memaksimumkan pula tingkat produksi,
kesempatan kerja, kesempatan berusaha,kesejahteraan dan mutu hidup
22

masyarakat. Tingkat produksi yang tinggi akan berpengaruh positif kepada


pertumbuhan dan perkembangan ekonomi secara makro dan selanjutnya akan
memperbaiki kualitas hidup masyarakat, meningkatkan daya beli potensial dan
merangsang peningkatan investasi pada sektor-sektor produktif, baik dibidang
produktif, baik dibidang pertanian maupun dibidang lainnya yang terkait.

3.1.2. Lembaga dan Saluran Pemasaran
Limbong dan Sitorus (1987), mendefinisikan lembaga tataniaga sebagai
suatu lembaga perantara yang berperan dalam kegiatan penyaluran barang dan
jasa dari produsen ke konsumen. Lembaga-lembaga yang terlibat dalam proses
pemasaran barang mulai dari titik produsen sampai ke titik konsumen
dikelompokkan menjadi empat kelompok antara lain:
1. Pengelompokkan berdasarkan fungsi yang dilakukan
Berdasarkan fungsi yang dilakukan, lembaga-lembaga pemasaran dapat
dibedakan menjadi:
a. Lembaga pemasaran yang melakukan kegiatan pertukaran seperti pengecer,
grosir, dan lembaga perantara lainnya.
b. Lembaga pemasaran yang melakukan kegiata fisik seperti pengolahan,
pengangkutan dan penggudangan.
c. Lembaga pemasaran yang menyediakan fasilitas-fasilitas pemasaran seperti
informasi pasar, Kredit Desa, KUD, Bank Unit Desa dan lain-lainnya.
2. Pengelompokkan berdasarkan penguasaan terhadap suatu barang.
Berdasarkan penguasaan terhadap suatu barang, lembaga-lembaga pemasaran
dapat dibedakan menjadi:
a. Lembaga pemasaran yang menguasai dan memiliki barang yang dapat
dipasarkan seperti: pengecer, grosir, pedagang pengumpul, tengkulak, dan
lain-lain.
b. Lembaga pemasaran yang menguasai tetapi tidak memiliki barang yang
dipasarkan seperti: agen, broker, lembaga pelanggan dan lain-lain.
c. Lembaga pemasaran yang tidak menguasai dan tidak memiliki barang yang
dipasarkan seperti: lembaga pengangkutan, pengolahan, perkreditan, dll.

23

3. Pengelompokkan berdasarkan kedudukannya dalam struktur pasar


a. Lembaga pemasaran yang bersaing sempurna, seperti pengecer beras,
pengecer rokok, dan lain-lain.
b. Lembaga pemasaran yang memonopolistis seperti pedagang bibit,
pedagang benih, dan lain-lain.
c. Lembaga pemasaran yang oligopolis, seperti importir cengkeh, perusahaan
semen, dan lain-lain.
4. Pengelompokkan berdasarkan bentuk usahanya
a. Berbadan hukum seperti Perseroan Terbatas (PT), Firma, Koperasi.
b. Tidak berbadan hukum, seperti perusahaan perseorangan, pedagang
pengecer, tengkulak dan sebagainya.
Saluran pemasaran adalah serangkaian organisasi yang saling tergantung
dan terlibat dalam proses untuk menjadikan suatu barang atau jasa untuk
digunakan atau dikonsumsi. Sebuah saluran pemasaran melaksanakan tugas
memindahkan barang dari produsen ke konsumen. Hal ini mengatasi kesenjangan
waktu, tempat, dan pemilikan yang memisahkan barang dan jasa dari orang-orang
yang membutuhkan atau menginginkannya.
Sebagian besar produsen tidak menjual barang mereka langsung ke
pemakai akhir. Antara produsen dan pemakai akhir terdapat satu atau beberapa
saluran pemasaran, yaitu serangkaian perantara pemasaran yang melaksanakan
berbagai fungsi. Keputusan saluran pemasaran merupakan salah satu keputusan
plaing rumit dan menantang yang dihadapi produsen. Saluran yang dipilih sangat
mempengaruhi semua keputusan pemasaran lain (Limbong dan Sitorus, 1987).
Pola umum saluran pemasaran produk-produk pertanian di Indonesia dapat
dilihat pada Gambar:





Gambar 1: Pola Umum Saluran Pemasaran Produk-Produk Pertanian di
Indonesia
Sumber: Limbong dan Sitorus, 1987

Produsen
Tengkulak
Koperasi/KUD Pengecer
Pedagang Besar
Perantra
Konsumen Akhir
Domestik
Pabrik/Eksportir
24

Pihak produsen menggunakan perantara bila mereka kekurangan sumber


daya finansial untuk melakukan pemasaran langsung atau bila mereka dapat
memperoleh penghasilan lebih banyak dengan menggunakan perantara.
Kegunaan perantara bersumber pada keunggulan efisiensi mereka untuk membuat
produk tersedia luas dan jangkauan oleh pasar sasaran. Fungsi paling penting
yang dilakukan perantara adalah informasi, promosi, negosiasi, pemesanan,
pembiayaan, pengambilan resiko, pemilikan fisik dan pembayaran (Kotler, 2002).
Tiap perantara yang melakukan tugas membawa produk dan
kepemilikannya lebih dekat ke pembeli akhir merupakan satu tingkat saluran.
Saluran nol-tingkat terdiri dari produsen yang menjual langsung ke konsumen
akhir. Saluran satu-tingkat berisi satu perantara penjualan, seperti pengecer.
Saluran dua-tingkat berisi dua perantara. Dalam pasar barang konsumsi, mereka
pada umunya adalah pedagang besar dan pengecer. Saluran tiga-tingkat berisi
tiga perantara, misalnya pedagang besar, pemborong, dan pengecer. Hal tersebut
dapat dilihat pada Gambar 2:






Gambar 2. Tingkatan Saluran Pemasaran

3.1.3. Fungsi-fungsi Pemasaran
Proses penyaluran barang atau jasa dari produsen ke tangan konsumen
memerlukan berbagai kegiatan fungsional pemasaran yang ditujukan untuk
memperlancar proses penyaluran barang atau jasa secara efektif dan efisien, untuk
memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen. Kegiatan fungsional tersebut
disebut sebagai fungsi-fungsi pemasaran. Fungsi-fungsi pemasaran dilakukan
oleh lembaga-lembaga pemasaran yang terkait atau terlibat dalam proses
pemasaran suatu komoditas, dan membentuk rantai pemasaran atau sering disebut
sebagai sistem pemasaran.

Peternak
Pdg Besar
Pemborong
Pengecer

Konsumen
Pdg Besar
Pengecer
Pengecer
25

Aliran produk pertanian dari produsen sampai ke konsumen disertai


dengan peningkatan nilai guna komoditi pertanian tersebut. Peningkatan nilai
guna ini terwujud apabila terdapat lembaga-lembaga pemasaran yang
melaksanakan fungsi-fungsi pemasaran. Pada umumnya fungsi-fungsi pemasaran
yang dilaksanakan oleh lembaga-lembaga pemasaran adalah fungsi pertukaran,
fungsi fisik dan fungsi fasilitas.
Komoditi agribisnis bersifat Non Supporting Self, mudah rusak,
voluminous, dan bersifat musiman. Sifat-sifat tersebut membutuhkan penanganan
yang cermat dalam usaha pendistribusian peternakan hingga ke tangan konsumen.
Berbagai kegiatan penanganan dapat dikelompokkan ke dalam fungsi fisik,
pertukaran, fasilitas (Sudiyono, 2002).
Fungsi Pertukaran yaitu semua kegiatan yang berhubungan dengan
perpindahan hak milik dari barang dan jasa yang dipasarkan. Fungsi pertukaran
ini terdiri dari dua fungsi yaitu fungsi pembelian dan fungsi penjualan. Fungsi
fisik merupakan semua tindakan yang berhubungan langsung dengan barang dan
jasa sehingga menimbulkan kegunaan tempat, waktu dan bentuk. Fungsi ini
meliputi fungsi penyimpanan, fungsi pengolahan, dan fungsi pengangkutan.
Fungsi fasilitas adalah semua tindakan yang berhubungan dengan kegiatan
pertukaran yang terjadi antra produsen dan konsumen. Fungsi fasilitas terdiri dari
fungsi standarisasi dan grading, fungsi penanggung resiko, fungsi pembayaran
dan fungsi informasi pasar.
Dari kesembilan fungsi pemasaran tersebut terdapat empat fungsi yang
berhubungan dengan kegiatan perbaikan mutu produk agribisnis. Keempat fungsi
tersebut adalah fungsi penyimpanan, pengemasan, pengangkutan, sortasi dan
grading.
Fungsi penyimpanan diperlukan untuk menyimpan barang selama belum
dikonsumsi atau menunggu untuk diangkut ke daeah pemasaran. Selama
pelaksanaan penyimpanan dilakukan beberapa tindakan untuk menjaga mutu
terutama bagi hasil-hasil pertanian yang mempunyai sifat mudah busuk. Pada


26

proses penyimpanan semua biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan yang


dilaksanakan adalah biaya penyimpanan termasuk biaya pemeliharaan fisik
gudang, resiko kerusakan selama penyimpanan dan biaya-biaya lainnya yang
dikeluarkan selama barang tersebut masih disimpan.
Fungsi pengangkutan bertujuan untuk menyediakan barang didaerah
konsumen sesuai dengan kebutuhan konsumen baik menurut waktu, jumlah dan
mutunya. Adanya keterlambatan dalam pengangkutan dan jenis alat angkutan
yang tidak sesuai dengan sifat barang yang akan diangkut dapat menimbulkan
kerusakan dan penurunan mutu barang yang bersangkutan.
Fungsi standarisasi adalah merupakan suatu ukuran atau penentuan mutu
suatu barang dengan menggunakan berbagai ukuran seperti warna, susunan kimia,
ukuran bentuk, tingkat kematangan, ras dan kriteria lain. Sedangkan yang
dimaksud dengan grading adalah tindakan menggolong-golongkan hasil pertanian
menurut suatu standarisasi yang diinginkan sehingga kelompok-kelompok barang
yang terkumpul sudah merupakan ukuran standar. Fungsi standarisasi dan
grading memberikan manfaat dalam proses pemasaran yaitu mempermudah
pembeli dan penjual untuk memberikan nilai terhadap barang yang bersangkutan,
mempermudah pelaksanaan jual beli serta mengurangi biaya pemasaran terutama
biaya pengangkutan.
Sistem pemasaran digunakan untuk mengidentifikasi dan menganalisis
masalah pemasaran suatu komoditi. Hasil yang dicapai adalah skema arus
komoditas (flow of goods). Dalam hal ini skema arus komoditas menggambarkan
macam saluran dan volume komoditi yang keluar dan masuk melalui saluran
pemasaran tertentu. Pembuatan skema arus komoditas akan menerangkan saluan
atau pola pemasaran yang memungkinkan kegiatan dapat lebih efisien. Analisis
saluran pemasaran juga dapat dipergunakan untuk membantu menganalisis margin
pemasaran dan integrasi pasar.

3.1.4. Struktur Pasar
Struktur pasar adalah dimensi yang menjelaskan sistem pengambilan
keputusan oleh perusahaan maupun industri, jumlah perusahaan dalam suatu
pasar, konsentrasi perusahaan, jenis-jenis dan diferensiasi produk serta syarat-
27

syarat masuk pasar ( Limbong dan Sitorus, 1987). Struktur pemasaran paling
banyak digunakan dalam menganalisis sistem pemasaran, karena melalui analisis
struktur pasar dapat dijelaskan bagaimana perilaku lembaga yang terlibat dan
akhirnya akan menunjukkan keragaan yang terjadi akibat dari struktur dan
perilaku pasar yang ada dalam sistem pemasaran tersebut.
Berdasarkan sifat dan bentuknya, pasar dibedakan menjadi dua macam
struktur pasar yaitu: (1) pasar persaingan sempurna, (2) pasar tidak bersaing
sempurna. Suatu pasar dapat digolongkan kedalam struktur pasar bersaing
sempurna jika memenuh ciri-ciri antara lain: terdapat banyak penjual maupun
pembeli, pembeli dan penjual hanya menguasai sebagian kecil dari barang dan
jasa yang dipasarkan sehingga tidak dapat mempengaruhi harga pasar (penjual
dan pembeli berperan sebagai price taker), barang dan jasa yang dipasarkan
bersifat homogen, penjual dan pembeli bebas keluar masuk pasar.
Menurut Dahl dan Hammond (1977), pasar bersaing tidak sempurna dapat
dilihat dari dua sisi yaitu sisi pembeli dan sisi penjual. Sisi pembeli terdiri dari
pasar monopoli, oligopsoni, dan sebagainya. Dari sisi penjual terdiri dari pasar
persaingan monopolistik, pasar monopoli, oligopoli, duopoli dan sebagainya.
Pasar dapat diklasifikasikan menjadi empat struktur pesar berdasarkan
sifat dan bentuknya Limbong dan Sitorus, 1987 yaitu:
1. Struktur Pasar Bersaing Sempurna
Pada struktur pasar bersaing sempurna terdapat banyak penjual dan pembeli
yang bebas keluar masuk pasar. Barang dan jasa yang dipasarkan bersifat
homogen. Dengan struktur biaya tertentu, perusahaan tidak dapat menetapkan
harga sendiri untuk memaksimumkan keuntungan. Sehingga perusahaan hanya
sebagai penerima harga (price taker) dan hanya menghadapi satu tingkat
harga.
2. Struktur Pasar Bersaing Monopolistik
Struktur pasar bersaing monopolistik terdiri dari bayak pembeli dan penjual
yang melakukan transaksi pada berbagai tingkat harga. Produk yang dijual
perusahaan tidak bersifat homogen tetapi memiliki perbedaan, seperti
perbedaan pengepakan, warna kemasan, harga dan pelayanannya. Untuk
28

mencapai keuntungan maksimum perusahaan dapat menekan biaya produksi


atau dengan cara perubahan teknologi.
3. Struktur Pasar Oligopoli
Perusahaan pada struktur pasar oligopoli tidak bebas untuk menentukan harga
produk yang dihasilkan untuk mencapai keuntungan maksimum, karena
perusahaan tergantung kepada struktur biaya dan permintaan produk yang
ditawarkan serta kepada tindakan perusahaan pesaing. Tindakan penurunan
harga produk oleh suatu perusahaan pada pasar oligopoli dengan tujuan untuk
mendapatkan keuntungan atau market share tertentu, tidak selalu dapat
dilakukan, dimana keputusan perusahaan harus didasarkan pada perusahaan
pemimpin (leader). Perusahaan leader ini dapat lebih bebas menentukan harga
dalam mencapai tujuan perusahaan.
4. Struktur Pasar Monopoli
Perusahaan monopoli dapat berbentuk monopili pemerintah, monopoli swasta
menurut undang-undang, dan monopoli swasta murni. Salah satu tindakan
perusahaan monopili untuk memperoleh keuntungan maksimum adalah melalui
diskriminasi harga (discrimatory pricing). Diskriminasi harga adalah menjal
produk yang sama pada tingkat harga yang berbeda dan pada pasar yang
berbeda.

3.1.5. Perilaku Pasar
Menurut Dahl and Hammond (1977), perilaku pasar merupakan pola
tingkah laku dari lembaga tataniaga yang menyesuaikan dengan struktur pasar
dimana lembaga tersebut melakukan kegiatan pembelian dan penjualan,
penentuan harga, dan kerjasama antar lembaga tataniaga. Perilaku pasar dapat
diketahui dengan mengamati praktek penjualan dan pembelian yang dilakukan
oleh masing-masing lembaga tataniaga, sistem penentuan harga, kemampuan
pasar untuk menerima sejumlah komoditi yang dijual, stabilitas pasar, sistem
pembayaran dan kerjasama diantara berbagai lembaga tataniaga.
Kohl dan Uhl (2002), menjelaskan bahwa dalam menggambarkan perilaku
pasar, terdapat empat hal yang harus diperhatikan yaitu: (1) Input-output system,
sistem input-output ini menerangkan bagaimana tingkah laku perusahaan dalam
29

mengelola sejumlah input menjadi satu set output, (2) Power system, sistem
kekuatan ini menjelaskan bagaimana suatu perusahaan dalam suatu sistem
tataniaga, misalnya kedudukan perusahaan dalam suatu sistem tataniaga sebagai
perusahaan yang memonopoli suatu produk sehingga perusahaan tersebut dapat
sebagai penentu harga, (3) Communications system, sistem komunikasi ini
mempelajari tentang perilaku perusahaan mengenai mudah tidaknya mendapatkan
informasi dan, (4) System for adapting to internal and external change, sistem
adaptif menerangkan bagaimana perilaku perusahaan dalam beradaptasi pada
suatu sistem tataniaga agar dapat bertahan di pasar.
Perilaku pasar dapat diketahui melalui pengamatan terhadap penjual dan
pembeli yang dilakukan tiap lembaga pemasaran, sistem penentuan harga dan
pembayaran, serta kerjasama diantara berbagai lembaga pemasaran. Perilaku
pasar juga menentukan strategi yang dilakukan oleh para pelaku pasar dalam
menghadapi pesaing. Pelaku pasar harus memahami penampilan pasar agar dapat
mengetahui secara jelas bagaimana sistem pemasaran terjadi.

3.1.6. Keragaan Pasar
Dahl and Hammond (1977), mengemukakan bahwa keragaan pasar
merupakan akibat dari keadaan struktur dan perilaku pasar dalam kenyataan
sehari-hari dengan ditunjukkan dengan variabel harga, biaya, dan volume
produksi dari output yang pada akhirnya akan memberikan penilaian baik atau
tidaknya suatu sistem tataniaga. Deskripsi dari keragaan pasar dapat dilihat dari
indikator: (1) harga dan penyebarannya ditingkat produsen dan konsumen, dan (2)
marjin dan penyebarannya pada setiap pelaku pemasaran
a. Marjin Pemasaran
Marjin pemasaran merupakan perbedaan antara harga diberbagai lembaga
tingkat pemasaran didalam sistem pemasaran. Hal ini sering digunakan untuk
menjelaskan fenomena yang menjembatani gap (bridging the gap) antara pasar
ditingkat petani (farmer) dengan pasar ditingkat eceran (retailer).
Marjin pemasaran menurut Kohls (2002) adalah the price of all utility
adding and functions by food marketing firms. This price includes the expenses of
performing marketing function and also the food marketing profits. Dikatakan
30

bahwa marjin pemaaran merupakan harga dari penambahan kegunaan dan fungsi
yang ditunjukkan oleh perusahaan pemasaran. Harga ini termasuk dari
pengeluaran dari fungsi pemasaran yang ditunjukkan dan juga keuntungan
pemasaran. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa marjin pemasaran
merupakan perbedaan harga antara produsen dan konsumen tingkat akhir, dimana
didalamnya terdapat harga penambahan nilai kegunaan dan fungsi serta
keuntungan bagi lembaga pemasaran.
Menurut Azzaino dalam Widiyanti 2008, marjin pemasaran adalah
perbedaan harga yang dibayarkan oleh konsumen akhir untuk suatu produk dan
harga yang diterima petani produsen untuk produk yang sama. Margin pemasaran
termasuk semua biaya yang menggerakkan produk tersebut, mulai dari petani
hingga ke konsumen. Sehingga konsep marjin pemasaran dapat menjelaskan
bahwa kegiatan pemasaran merupakan suatu kegiatan dalam menciptakan
tambahan nilai (value added) baik nilai tempat, waktu, bentuk maupun hak milik
melalui proses keseimbangan supply dan demand oleh pedagang yang berfungsi
sebagai perantara antara petani (produsen) dengan konsumen akhir.
Pada (gambar 3) dapat dilihat besarnya marjin pemasaran yang merupakan
hasil perkalian dari perbedaan harga pada dua tingkat lembaga pemasaran dengan
jumlah produk yang dipasarkan.
Harga (P)
Sr
Sf

Pr

Pf


Dr
Df
Qrf Jumlah (Q)
Gambar 3: Konsep Marjin Pemasaran
Sumber: Dahl and Hammond (1977)
31

Keterangan:
Pr =Harga retail (tingkat pengencer)
Pf =Harga farmer (tingkat petani)
Sr =Supply retail (penawaran di tingkat pengencer)
Sf =Supply farmer (penawaran di tingkat petani)
Dr =Demand retail (permintaan di tingkat pengencer)
Df =Demand farmer (permintaan di tingkat petani)
(Pr-Pf) =Marjin tataniaga
(Pr-Pf) Qrf =Nilai marjin tataniaga
Qr,f =J umlah keseimbangan di tingkat petani dan pengencer

Berdasarkan Gambar 3. dapat dijelaskan bahwa dengan jumlah barang
yang sama, harga yang diterima petani lebih rendah dari pada yang dibayarkan
konsumen. Penawaran (Sf) pada harga ditingkat petani lebih besar dari pada
penawaran (Sr) pada harga ditingkat pengencer. Artinya jumlah barang yang
ditawarkan di tingkat petani mencakup semua input dan hasil akhir sedangkan
penawaran ditingkat pedagang pengencer telah ditambah dengan biaya-biaya
seperti biaya angkut dan sebagainya. Kondisi permintaan di tingkat petani (Df)
lebih kecil dari pada di tingkat pedagang pengencer (Dr), artinya permintaan di
tingkat pedagang pengumpul (tengkulak) lebih sedikit dari pada di tingkat
konsumen akhir.
Gambar 3 menjelaskan besarnya marjin pemasaran suatu komoditi per
satuan atau per unit ditunjukkan oleh besaran (Pr-Pf). Sedangkan nilai marjin
pemasaran (value of marketing margin) merupakan hasil perkalian dari perbedaan
harga pada dua tingkat lembaga pemasaran ( dalam hal ini selisih harga eceran
dengan tingkat harga petani) dengan jumlah produk yang dipasarkan. Besarnya
nilai marjin pemasaran dinyatakan dalam (Pr-Pf) x Qr,f. Marjin pemasaran hanya
menunjukkan perbedaan harga yang terjadi dan tidak menunjukkan jumlah produk
yang dipasarkan, sehingga jumlah produk ditingkat petani sama dengan jumlah
produk ditingkat petani sama dengan jumlah produk di tingkat pengencer atau
Qr =Qf =Qrf.


32

b. Farmers Share
Marjin pemasaran bukanlah satu-satunya indikator yang menentukan
efisiensi suatu komoditas. Salah satu indikator lain adalah dengan
membandingkan harga yang dibayar oleh konsumen akhir atau yang biasa disebut
farmers share (bagian harga yang diterima petani) dan sering dinyatakan dalam
persen. Farmers share mempunyai hubungan yang negatif dengan marjin
pemasaran, sehingga semakin tinggi marjin pemasaran maka bagian yang
diperoleh petani akan semakin rendah. Menurut Kohls dan Uhls (2002),
mendefinisikan farmers share sebagai selisih antara harga retail dengan marjin
pemasaran. Farmers share merupakan bagian dari harga konsumen yang
diterima oleh petani, dan dinyatakan dalam persentase harga konsumen. Hal ini
berguna untuk mengetahui porsi harga yang berlaku ditingkat konsumen
dinikmati oleh petani. Besarnya farmers share biasanya dipengaruhi oleh : (1)
Tingkat pemrosesan, (2) Biaya transportasi, (3) Keawetan produk dan (4) J umlah
produk.

c. Rasio Keuntungan dan Biaya
Tingkat efisiensi suatu sistem pemasaran dapat diihat dari besarnya
margin pemasaran dan farmers share, juga dapat dilihat dari penyebaran rasio
keuntungan dan biaya. Semakin meratanya penyebaran rasio keuntungan
terhadap biaya pada setiap lembaga pemasaran, maka secara teknis sistem
pemasaran tersebut semakin efisien. Rasio keuntungan dan biaya digunakan
untuk mengetahui seberapa besar keuntungan yang diperoleh oleh lembaga
pemasaran ketika biaya pemasaran naik sebesar satu satuan.

3.1.7. Efisiensi Pemasaran
Pemasaran disebut efisien apabila tercipta keadaan dimana pihak-pihak
yang terlibat baik produsen, lembaga-lembaga pemasaran maupun konsumen
memperoleh kepuasan dengan adanya aktivitas pemasaran tersebut (Limbong dan
Sitorus, 1987).
Efisiensi pemasaran adalah maksimisasi dari rasio input dan output.
Perubahan yang mengurangi biaya input tanpa mengurangi kepuasan konsumen
33

akan meningkatkan efisiensi, sedangkan perubahan yang mengurangi biaya input


tetapi mengurangi kepuasan konsumen akan menurunkan efisiensi pemasaran.
Pasar yang tidak efisien akan terjadi apabila biaya pemasaran semakin
besar dan nilai produk yang dipasarkan jumlahnya tidak terlalu besar. Oleh karena
itu efisiensi pemasaran akan terjadi jika: (1) biaya pemasaran dapat ditekan
sehingga keuntungan pemasaran dapat lebih tinggi, (2) persentase perbedaan
harga yang dibayarkan konsumen dan produsen dapat lebih tinggi, (3) tersedia
fasilitas fisik pemasaran, (4) adanya kompetisi pasar yang lebih sehat. Umumnya
di negara-negara berkembang, empat kriteria di atas umunya digunakan sebagai
indikator efisiensi pemasaran ( Soekartawi dalam Sigalingging, 2007).
Efisiensi pemasaran dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu efisiensi
operasional (teknologi) dan efisiensi harga (ekonomis). Menurut Dahl dan
Hammond (1997), efisiensi operasional menunjukkan keadaan dimana biaya input
pemasaran dapat diturunkan tanpa mempengaruhi jumlah output barang dan jasa.
Analisis yang digunakan untuk menentukan efisiensi operasional pada proses
pemasaran suatu produk yaitu analisis marjin pemasran, farmers share serta rasio
keuntungan biaya.
Efisiensi harga dalam kegiatan pembelian, penjualan dan aspek harga dari
proses pemasaran. Terdapat tiga kondisi untuk menentukan adanya efisiensi
harga, yaitu tersedianya alternatif pilihan bagi konsumen, perbedaan harga pada
beberapa alternatif pilihan dapat mencerminkan perbedaan biaya yang dikeluarkan
dalam menyediakan pilihan-pilihan tersebut, produsen memiliki kebebasan untuk
masuk dan keluar pasar yang dilakukan sebagai jawaban atas keuntungan maupun
kerugian dari perbedaan harga tersebut.
Menurut Limbong dan Sitorus (1987), rendahnya nilai marjin pemasaran
suatu komoditi belum tentu dapat mencerminkan efisiensi yang tinggi dalam
pemasaran suatu komoditi. Salah satu indikator yang sangat berguna adalah
memperbandingkan bagian yang diterima petani (farmers share) dari harga yang
dibayar dari konsumen akhir. Lebih lanjut lagi mereka menjelaskan bahwa nilai
marjin tataniaga hanya menunjukkan selisih antara harga yang dibayarkan
konsumen dengan harga yang diterima produsen.


34

3.2. Kerangka Pemikiran Operasional


Dalam sistem pemasaran komoditas telur ayam kampung di Kabupaten
Bogor terdapat variasi saluran pemasaran. Adanya perbedaan ini mengakibatkan
perbedaan dalam hal harga jual, keuntungan, serta biaya pemasaran untuk masing-
masing lembaga pemasaran termasuk peternak. Kondisi yang terjadi dalam
pemasaran telur ayam kampung adalah rendahnya harga yang diterima peternak
dibandingkan dengan harga yang terjadi di konsumen, besarnya selisih antara
harga jual yang diterima peternak dengan harga yang dibayar oleh konsumen.
Penelitian ini menganalisis pemasaran telur ayam kampung di
Kabpaten Bogor dengan dimulai dari meninjau peternak sebagai produsen,
lembaga-lembaga pemasaran yang terlibat dan masyarakat sebagai konsumen
akhir.
Analisis kualitatif meliputi analisis saluran pemasaran yang digunakan
untuk mengidentifikasi lembaga-lembaga yang terlibat dalam pemasaran telur
ayam kampung,identifikasi fungsi-fungsi pemasaran yang dilaksanakan oleh
setiap lembaga pemasaran guna mengetahui aktivitas yang dilakukan guna
memberikan nilai tambah dan memperlancar arus pemasaran komoditi ke tangan
konsumen dengan menggunakan analisis fungsi pemasaran, analisis struktur
pasar, perilaku pasar dan keragaan pasar yang meliputi pengamatan jumlah dan
ukuran lembaga pemasaran, pandangan pembeli mengenai produk dan kegiatan
pemasaran telur ayam kampung, mudah tidaknya keluar masuk pasar,
ketersediaan informasi, tatacara penjualan, dan tatacara pembelian, pembentukan
harga disetiap jalur pemasaran. Analisis kuatitatif digunakan untuk melihat
tingkat efisiensi yang terjadi disetiap pola saluran pemasaran telur ayam kampung
yang meliputi analisis marjin pemasaran, perbandingan keuntungan terhadap
biaya (benefit/cost rasio) dan bagian harga yang diterima petani (farmers share).
Hasil analisis yang dilakukan dari sistem pemasaran telur ayam kampung
yang ada, maka akan diketahui efisiensi sistem pemasaran telur ayam kampung di
Kabupaten Bogor. Dengan demikian, akan diperoleh bagaimana perumusan
mengenai upaya-upaya perbaikan dan nantinya dapat diinformasikan kepada
peternak sebagai produsen, lembaga-lembaga pemasaran yang terlibat sebagai
penyalur dan pemerintah yang berperan sebagai lembaga yang mengawasi dan
35

memberikan kebijakan-kebijakan yang dapat mendukung upaya pemasaran telur


ayam kampung khususnya di Kabupaten Bogor.



















Keterangan:
: Informasi dua arah
:Arus barang satu arah
: Arus uang satu arah
Gambar 4 : Skema Kerangka Pemikiran Operasional
Lembaga Pemasaran
Pemasok
Pedagang pengumpul
Pengecer
Analisis Kuantitatif
Marjin pemasaran
Farmers share
Rasio keuntungan biaya
Analisis Kualitatif
Saluran dan lembaga pemasaran
Fungsi pemasaran
Struktur pasar dan perilaku pasar
Peternak

Konsumen
Terjadi perbedaan harga yang cukup besar antara
harga jual telur ayam kampung di tingkat
peternak dan harga jual di tingkat konsumen
Pemilihan saluran pemasaran
yang efisien
BAB IV. METODE PENELITIAN

4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi Penelitian dilakukan di Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat.
Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive) dengan
pertimbangan bahwa daerah tersebut merupakan salah satu sentra produksi ayam
dan penduduk terbanyak di Provinsi Jawa Barat. Kegiatan pengumpulan data
dilakukan selama 2 bulan, yaitu pada bulan Mei 2009 sampai dengan Juli 2009.

4.2. Jenis dan Sumber Data
Penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder yang
dikumpulkan dari beberapa sumber. Data primer diperoleh melalui pengamatan
dan wawancara langsung kepada peternak dengan menggunakan daftar pertanyaan
(kuisioner) yang telah disiapkan sebelumnya kepada pihak-pihak yang terlibat
langsung dengan pemasaran telur ayam yaitu: peternak responden dan pedagang
respoden (pedagang pengumpul desa, pedagang besar, dan pedagang pengecer).
Adapun jenis pertanyaan yang menjadi masalah yaitu yang terkait dengan
pemasaran, bagaimana sistem pemasaran yang dilaksanakan oleh peternak
maupun lembaga pemasaran, waktu pembelian dan penjualan, jumlah komoditas
yang diperjualbelikan, siapa yang menjadi konsumen dan sebagainya.
Data sekunder diperoleh dari berbagai instansi dan lembaga pemerintah
yang terkait dengan masalah penelitian diantaranya Dinas Peternakan, Balai
Penelitian Ternak, Direktorat jenderal Peternakan, Badan Pusat Statistik (BPS).
Untuk melengkapi data-data yang diperlukan diperoleh dari hasil penelusuran
melalui internet, hasil penelitian terdahulu, artikel-artikel pada surat kabar,
majalah, buku-buku serta literatur lain yang mendukung juga digunakan sebagai
sumber informasi. Adapun data yang diperlukan mengenai informasi
perkembangan peternakan khususnya peternakan ayam kampung di Kabupaten
Bogor, permintaan penduduk akan unggas, jumlah konsumsi telur per tahun, serta
keadaan geografis daerah Kabupaten Bogor.

37

4.3. Metoda Penarikan Responden


Penarikan sampel peternak maupun lembaga pemasaran seperti pedagang
pengumpul, pedagang grosir, pedagang pengecer di Kabupaten Bogor dipilih
dengan teknik snowball sampling mengikuti alur saluran pemasaran telur ayam
kampung dari peternak hingga ke pedagang pengencer. Tekhnik ini dipilih karena
tidak ada kepastian jumlah peternak ayam kampung di Kabupaten Bogor, sulitnya
menemukan peternakan ayam kampung murni serta populasi terlalu menyebar
menurut area. Adapun jumlah peternak yang menjadi responden adalah
berjumlah lima orang yang terdiri dari dua orang peternak skala kecil ( < dari
5000 ekor), satu orang peternak skala menengah ( 5000-10.000 ekor) dan dua
orang peternak dengan skala besar (> 10.00 ekor). Area pemilihan sampel
peternak diantaranya daerah Sukabumi, Cisarua, Leuwiliang dan Parung.
Jumlah responden lembaga pemasaran untuk masing-masing pedagang
berbeda-beda, jumlah responden pedagang pengumpul berjumlah lima orang,
pedagang grosir berjumlah 10 orang dan pedagang pengecer 10 orang. Area
pemilihan sampel pedagang terdapat di Pasar Bogor, Pasar Leuwiliang, Pasar
Parung, Pasar Depok, dan minimarket maupun supermarket di Bogor dan Jakarta.

4.4. Metoda Analisis dan Pengolahan Data
Data dan informasi yang telah dikumpulkan kemudian diolah dengan
menggunakan bantuan kalkulator, komputer dan disajikan dalam bentuk
deskriptif, gambar dan tabulasi yang nantinya digunakan untuk mengelompokkan
dan mengklasifikasikan data yang ada dalam melakukan analisis data.
Perhitungan marjin pemasaran, farmers share dan rasio keutungan dan biaya
(Benefit/Cost ratio) dilakukan dengan menggunakan kalkulator. Pengolahan data
dilakukan secara bertahap, dimulai dengan mengelompokkan data, perhitungan
penyesuaian-penyesuaian untuk kemudian ditabelkan menurut keperluan.

4.4.1. Analisis Saluran Pemasaran
Metoda analisis pasar digunakan untuk mengetahui aliran pemasaran telur
ayam kampung dipihak produsen sampai ke pihak konsumen. Metoda ini
menganalisis himpunan perusahaan dan perorangan yang mengambil alih hak,
38

atau membantu dalam pengalihan hak atas barang atau jasa selama barang atau
jasa tersebut berpindah dari produsen ke konsumen. Panjang pendeknya saluran
pemasaran yang dilalui oleh suatu hasil peternakan tergantung pada beberapa
faktor, diantaranya jarak antara produsen dengan konsumen, mudah tidaknya
produk itu rusak, skala produksi dan posisi keuangan perusahaan. Sehingga, dari
saluran-saluran pemasaran hasil analisa dapat menggambarkan pola pemasaran
secara keseluruhan dari komoditas telur ayam kampung.
Alur pemasaran telur ayam kampung ditelusuri mulai dari peternak sampai
kepada pengencer dan nantinya akan sampai ke konsumen akhir. Alur pemasaran
ini yang akan menjadi dasar dalam penggambaran pola pemasaran dari komoditi
telur ayam kampung. Semakin panjang saluran pemasaran, maka saluran
pemasaran tersebut semakin tidak efisien karena marjin yang tercipta dari semakin
panjangnya saluran pemasaran semakin besar antara peternak dan konsumen
akhir.
Perbedaan saluran pemasaran yang dilalui suatu komoditi akan
mempengaruhi pembagian pendapatan yang diterima masing-masing lembaga
pemasaran yang terlibat didalamnya. Bisa disimpulkan pula bahwa saluran
pemasaran yang berbeda akan memberikan keuntungan yang berbeda bagi tiap-
tiap lembaga pemasaran.

4.4.2. Analisis Fungsi dan Lembaga Pemasaran
Analisis lembaga pemasaran dilakukan untuk mengetahui fungsi-fungsi
pemasaran yang dilakukan oleh masing-masing lembaga pemasaran. Lembaga
pemasaran berperan sebagai perantara penyampaian barang dan produsen ke
konsumen yang kemudian membentuk saluran pemasaran. Analisis dari fungsi
pemasaran dapat digunakan untuk mengevaluasi biaya pemasaran.
Analisis fungsi pemasaran dilihat berdasarkan kegiatan pokok yang
dilakukan masing-masing lembaga pemasaran. Lembaga pemasaran berperan
sebagai perantara penyampaian barang dari produsen ke konsumen yang
kemudian membentuk saluran pemasaran. Analisis dari fungsi pemasaran dapat
digunakan untuk mengevaluasi biaya pemasaran.
39

Analisis fungsi pemasaran dilihat berdasarkan kegiatan pokok yang


dilakukan masing-masing lembaga pemasaran dalam proses penyaluran telur
ayam kampung di Kabupaten Bogor dari titik produsen ke titik konsumen seperti
fungsi pertukaran, fungsi fisik dan fungsi fasilitas.

Tabel 4. Fungsi-fungsi Pemasaran
No Macam Fungsi Jenis Fungsi
1 Fungsi Pertukaran Fungsi Pembelian
Fungsi Penjualan
2 Fungsi Fisik Fungsi Penyimpanan
Fungsi Pengemasan
Fungsi Pengangkutan
3 Fungsi Fasilitas Standarisasi dan grading
Fungsi Penanggungan Resiko
Fungsi Pembiayaan
Fungsi Informasi Harga
Sumber: Limbong dan Sitorus, 1987

Fungsi penyimpanan merupakan kegunaan waktu yang meliputi kegiatan
untuk meningkatkan waktu penyimpanan mengingat telur ayam mudah rusak.
Fungsi pengemasan dilakukan dengan cara mengemas produk yang akan dijual ke
pasar. Fungsi ini digunakan untuk mengetahui biaya pengemasan. Fungsi
pengangkutan meliputi kegiatan penyampain barang dari produsen ke konsumen.
Standarisasi dan grading merupakan kegiatan mengelompokkan produk
sesuai dengan ketentuan konsumen. Fungsi pembiayaan merupakan kegunaan
uang untuk berbagai aspek pemasaran. Fungsi penanggung resiko merupakan
penerimaan kemungkinan dari kerugian atas pemasaran produk.

4.4.3. Analisis Struktur dan Perilaku Pasar
Analisis ini diperlukan untuk mengetahui kecendrungan struktur suatu
pasar, apakah mendekati persaingan sempurna atau persaingan tidak sempurna
dengan melihat komponen-komponen yang mengarahkan pasar ke arah struktur
tertentu. Beberapa indikator untuk menganalisa struktur pasar yaitu jumlah
40

pedagang pengumpul di tiap tingkat pemasaran, hambatan masuk dan keluar


usaha pemasaran, metoda transaksi, frekuensi transaksi, sifat dan karakter dari
telur ayam kampung, sistem kelembagaan pemasaran, hak dan kontrol pelaku
pemasaran. Sedangkan perilaku pasar dapat diketahui melalui tata cara penjualan
dan pembelian serta keterkaitan antara berbagai lembaga pemasaran yang terlibat
dan sistem penentuan harga dan sistem pembayarannya.

Tabel 5 .Karakteristik Struktur Pasar Berdasarkan Sudut Penjual dan Pembeli
No
Karakteristik Struktur Pasar
Jumlah
penjual/pembeli
Sifat produk Sudut penjual Sudut pembeli
1 Banyak Homogen Persaingan murni Persaingan murni
2 Banyak Diferensiasi Persaingan
monopolistik
Persaingan
monopolistik
3 Sedikit Homogen Oligopoli murni Oligopsoni murni
4 Sedikit Diferensiasi Oligopoli
diferensiasi
Oligopsoni
diferensiasi
5 Satu Unik Monopoli Monopsoni
Sumber: Dahl and Hammond (1977)

4.4.4. Keragaan Pasar
Keragaan pasar merupakan akibat dari keadaan struktur dan perilaku pasar
dalam kenyataan sehari-hari yang ditunjukkan dengan variabel harga, biaya, dan
volume produksi dari output yang pada akhirnya akan memberikan penilaian baik
atau tidaknya suatu sistem pemasaran. Analisis keragaan pasar dilakukan dengan
menggunakan indikator marjin pemasaran, farmers share dan rasio keuntungan
biaya.

a. Marjin Pemasaran
Marjin pemasaran atau marjin kotor dikenal sebagai selisih harga antara
produsen dan konsumen tingkat akhir yang didalamnya terdapat harga
penambahan nilai kegunaan dan keuntungan bagi lembaga pemasaran. Besarnya
marjin pemasaran pada dasarnya merupakan penjumlahan dari biaya-biaya
pemasaran dan keuntungan yang diterima lembaga pemasaran. Dalam melakukan
41

analisis marjin pemasaran ini menggunakan data harga ditingkat peternak dan
harga ditingkat lembaga pemasaran. Sedangkan marjin keuntungan dan marjin
bersih adalah marjin kotor dikurangi biaya-biaya pemasaran. Menurut Limbong
dan Sitorus, secara matematik akan diperoleh perhitungan sebagai berikut:
M
j
= Ps
i
- Pb
i
.........................(1)
M
j
= bt
i
+
i
.........................(2)
Dengan menggabungkan persamaan (1) dan (2) maka:
Ps
i
Pb
i
= bt
i
+
i
Maka besarnya marjin pemasaran adalah:
M
j
= Mj
i
Keterangan:
Mj
i
= Marjin pada lembaga pemasaran ke-i (%)
Ps
i
= Harga penjualan lembaga pemasaran ke-i (Rp)
Ps
i
= Harga pembelian lembaga pemasaran ke-i (Rp)
bt
i
= Biaya pemasaran lembaga lembaga ke-i (Rp/Kg)

i
= Keuntungan lembaga pemasaran ke-i (Rp/Kg)
M
j
= Marjin pemasaran (%)
i = 1,2,3..............n
Menurut Raju dalam Eryani (2009), terdapat dua metoda dalam
perhitungan marjin pemasaran yaitu metoda tenggat waktu (time lag method) dan
metoda berbarengan. Metoda tenggat waktu dilakukan dengan cara mengikuti
aliran barang sepanjang rantai pemasaran dengan memperhitungkan berbagai
biaya pemasaran di berbagai tingkat lembaga pemasaran yang dilalui. Dengan
demikian unsur waktu dapat diperhitungkan dengan lebih seksama dalam
perhitungan marjin pemasaran. Kendala yang dihadapi dalam perhitungan ini
adalah sukarnya pelaksanaan dan memerlukan banyak waktu. Salah satu
kesukarannya adalah harga dan mutu mengalami perubahan pada tiap tingkat
pasar atau lembaga pemasaran.
Metoda berbarengan dilakukan dengan cara membandingkan harga pada
berbagai tingkat saluran pemasaran pada tingkat waktu yang sama. Walaupun
tidak seakurat metoda tenggang waktu, namun metoda ini lebih mudah
pelaksanaanya. Oleh karena itu, metoda ini lebih sering digunakan.
42

b. Farmers Share
Indikator lain untuk membandingkan harga yang dibayarkan oleh
konsumen akhir yaitu dengan melihat farmers share yang dinyatakan dalam
persentase. Tersebarnya lokasi dalam wilayah yang luas dan jauh dari pusat
pemasaran menyebabkan banyak lembaga pemasaran yang terlibat atau semakin
panjangnya rantai pemasaran sehingga biaya pemasaran semakin tinggi. Hal
tersebut yang menyebabkan farmers share berhubungan negatif dengan marjin
pemasaran, semakin rendah farmers share maka bagian yang akan diperoleh
peternak semakin rendah. Secara matematik dirumuskan sebagai berikut:
FS = x 100%
Keterangan:
FS = Farmers Share (100%)
P = Harga ditingkat peternak (Rp/kg)
K = Harga yang dibayarkan oleh konsumen akhir (Rp/kg)

c. Rasio Keuntungan Terhadap Biaya
Efisiensi pemasaran juga dapat dilihat dari rasio keuntungan terhadap
biaya pemasaran. Semakin meratanya penyebaran rasio keuntungan terhadap
biaya pada setiap lembaga pemasaran, maka secara teknis sistem pemasaran
tersebut semakin efisien. Penyebaran rasio keuntungan dan biaya pada masing-
masing lembaga pemasaran dapat dirumuskan sebagai berikut:
Rasio keuntungan biaya (%)= x 100%
Dimana:
Li = Keuntungan lembaga pemasaran
Ci = Biaya pemasaran

4.4.5. Efisiensi Pemasaran
Efisiensi pemasaran merupakan suatu perubahan yang mengurangi biaya
input tanpa mengurangi kepuasan konsumen dengan output barang dan jasa.
Biaya pemasaran baik besar atau kecil adalah indikasi efisiensi, bahwa pemasaran
sudah dilakukan. Efisiensi merupakan patokan yang paling sering digunakan
dalam menilai kinerja pemasaran. Kinerja pemasaran adalah bagaimana suatu
43

sistem pemasaran dijalankan dan apa yang diharapkan oleh lembaga-lembaga atau
pihak yang terlibat didalamnya. Peningkatan efisiensi adalah salah satu tujuan
umum dari peternak, pedagang perantara dan konsumen. Efisiensi yang tinggi
menggambarkan kinerja pemasaran yang baik, sedangkan efisiensi yang rendah
berarti sebaliknya.
Pemasaran yang efisien merupakan tujuan akhir yang ingin dicapai dalam
suatu sistem pemasaran. Suatu saluran pemasaran dapat dikatakan efisien
berdasarkan dari hasil analisis pemasaran yang meliputi: saluran dan lembaga
pemasaran, fungsi-fungsi pemasaran, struktur pasar, perilaku pasar serta keragaan
pasar yang berdasarkan pada tiga indikator yaitu marjin pemasaran, farmers
share, serta rasio keuntungan dan biaya. Oleh karena itu, efisiensi pemasaran
akan tercapai jika sistem tersebut dapat memberikan kepuasan kepada pihak-pihak
yang terlibat yaitu: produsen, pedagang perantara dan konsumen akhir.
Saluran pemasaran dikatakan efisien apabila (1) mampu menyampaikan
hasil-hasil dari peternak (produsen) kepada konsumen dengan biaya yang
semurah-murahnya, (2) mampu mengadakan pembagian yang adil dari
keseluruhan harga yang dibayar oleh konsumen akhir kepada semua pihak yang
ikut serta dalam kegiatan produksi dan pemasaran barang tersebut.

4.5. Defenisi Operasional
1. Peternak ayam adalah pihak-pihak yang melakukan usaha budidaya-budidaya
ayam. Hasil produksi dari akivitas produsen adalah dalam bentuk ayam maupun
telur ayam yang siap di jual.
2. Pedagang pengumpul desa (tengkulak) adalah pedagang yang melakukan
pembelian dari peternak dan yang menyalurkan produk kepada pedagang
pengumpul kecamatan, pedagang grosir atau langsung menjualnya kepada
pedagang pengecer.
3. Pedagang pengumpul kecamatan adalah pedagang yang melakukan pembelian
telur dari pedagang pengumpul desa, dan menyalurkan produk kepada pedagang
grosir.
4. Pedagang grosir adalah pedagang yang menerima produk dari pedagang
pengumpul untuk kemudian mengirimkannya kepada pedagang pengecer.
44

5. Pedagang pengecer adalah pedagang yang menerima kiriman produk dari


pedagang pengumpul atau dari pedagang grosir untuk kemudian dijual kepada
konsumen akhir.
6. Konsumen akhir adalah pihak yang membeli telur dari pengencer, pedagang
besar, pengumpul atau produsen untuk kemudian dikonsumsi atau kemudian
dijual kembali dalam jenis atau bentuk berbeda dari produk asalnya.
7. Harga jual peternak (Rp) adalah harga rata-rata produk yang diterima petani per
butir.
8. Harga beli pedagang (Rp) adalah harga rata-rata produk per butir yang dibeli
dari peternak atau pedagang ditingkat sebelumnya.
9. Harga jual pedagang (Rp) adalah harga rata-rata per butir yang dijual pedagang
kepada pedagang lainnya atau kepada konsumen akhir.
10. Harga beli konsumen adalah harga yang dibayarkan oleh konsumen kepada
lembaga pemasaran yang bertransaksi telur dengannya.
11. Biaya pemasaran (Rp/butir) adalah biaya-biaya yang diperlukan untuk
memasarkan produk dari produsen ke konsumen.
12. Keuntungan pemasaran (Rp/butir) adalah selisih dari harga jual dengan biaya-
biaya yang dikeluarkan dalam pemasaran produk.
13. Farmers share (persentase) adalah bagian harga yang diterima konsumen
dibandingkan dengan harga yang dibayarkan oleh konsumen akhir dikalikan 100
persen.
14. Marjin pemasaran (Rp/ butir atau persentase) adalah selisih harga jual produk
dari suatu lembaga pemasaran, dengan harga beli dari lembaga pemasaran
sebelumnya.

BAB V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

5.1. Letak dan Keadaan Geografis Lokasi Penelitian
Kabupaten Bogor merupakan salah satu wilayah yang berbatasan langsung
dengan Ibu Kota RI dan secara geografis Kabupaten Bogor terletak diantara 6,19
6,47 Lintang Selatan (LS) dan 106 - 107 Bujur Timur (BT). Luas wilayah
berdasarkan data terakhir adalah 2.301,95 Km2.
Batas-batas Wilayah ini adalah: Sebelah Utara berbatasan dengan
Kabupaten Tangerang, Kota Depok, Kota Bekasi dan Kabupaten Bekasi, sebelah
Barat dengan Kabupaten Lebak (Prov. Banten), sebelah Barat Daya Kabupaten
Tangerang, sebelah Timur dengan Kabupaten Karawang, sebelah Timur Laut
dengan Kabupaten Purwakarta, sebelah Selatan dengan Kabupaten Sukabumi ,
sebelah Tenggara dengan Kabupaten Cianjur dan sebelah Tengah dengan
Kotamadya Bogor
Berdasarkan hasil Pendataan Sosial Ekonomi 2005, Kabupaten Bogor
memiliki 40 Kecamatan, 427 desa/kelurahan, 13.541 RT dan 913.206 rumah
tangga. Dari jumlah tersebut 234 desa mempunyai ketinggian sekitar kurang dari
500m diatas permukaan laut (dpl), 144 desa diantaranya 500-700m dan sisanya 49
desa sekitar lebih dari 500m dpl. Hampir sebagian besar desa di Kabupaten
Bogor sudah terklasifikasi sebagai desa Swakarya yakni 236 desa, lainnya 191
desa Swasembada dan tidak ada desa Swadaya.
Berdasarkan klasifikasi daerah, dilihat dari aspek potensi lapangan usaha,
kepadatan penduduk dan sosial terdapat kategori desa perkotaan sebanyak 199
dan desa pedesaan sebanyak 228 desa. Kabupaten Bogor dibagi dalam
perwilayahan pembangunan yang merupakan dasar penyusunan agenda
pembangunan dan rencana strategis setiap bidang dan program pembangunan
dalam rangka penyeimbangan pembangunan antar wilayah. Maksud dan tujuan
perwilayahan pembangunan adalah untuk meningkatkan pertumbuhan wilayah
secara seimbang antar kawasan dengan memanfaatkan sumber daya secara
optimal dan berkesinambungan.
Melihat karakteristik wilayah dan perkembangan ekonomi wilayah, pola
interaksi internal dan eksternal yang didukung oleh jaringan infrastruktur
46

pelayanan baik lokal maupun regional serta kebijakan pengembangan dan


penyebaran penduduk secara seimbang sesuai dengan daya dukung lingkungan,
maka wilayah Kabupaten Bogor dibagi menjadi 3 (tiga) wilayah pembangunan,
yaitu: wilayah pembangunan barat, tengah dan timur. Pembangunan wilayah
barat meliputi 13 (tiga belas) kecamatan, yaitu Kecamatan Jasinga, Parung
Panjang, Tenjo, Cigudeg, Sukajaya, Nanggung, Leuwiliang, Leuwisadeng,
Tenjolaya, Cibungbulang, Ciampea, Pamijahan dan Kecamatan Rumpin, dengan
luas wilayah sekitar 128.750 Ha. Pembangunan wilayah tengah meliputi 20 (dua
puluh) kecamatan, yaitu Kecamatan Gunung Sindur, Parung, Ciseeng, Kemang,
Rancabungur, Bojonggede, Tajurhalang,Cibinong,Sukaraja, Dramaga, Cijeruk,
Cigombong, Caringin, Ciawi, Megamendung, Cisarua, Citeureup, Babakan
Madang, Ciomas dan kecamatan Tamansari, dengan luas wilayah sekitar 87.552
Ha.
Pembangunan wilayah timur meliputi 7 (tujuh) kecamatan, yaitu
Kecamatan Gunung Putri, Cileungsi,Klapanunggal, Jonggol, Sukamakmur,
Tanjungsari dan Kecamatan Cariu. Masyarakat Kabupaten Bogor memiliki
beberapa karakteristik yaitu:wilayah Bogor bagian utara corak penduduknya
adalah Betawi Ora (atau campuran suku Betawi dan Sunda), wilayah Bogor
bagian selatan corak dan bahasa penduduknya adalah campuran antara Bogor
dengan Cianjur dan Sukabumi, sebelah barat corak dan bahasa penduduknya
campuran antara Bogordan Banten, bagian timur corak dan bahasa penduduknya
campuran Bogor dengan Karawang, sedikit dengan Cianjur dan Bekasi.

5.1.1. Keadaan Sosial Ekonomi Penduduk
Kabupaten Bogor merupakan daerah dengan populasi penduduk tertinggi
dari 17 kabupaten dan sembilan kota di Jawa Barat. Penduduk Kabupaten Bogor
sampai pada tahun 2008 sebanyak 4.316.236 jiwa yang terdiri dari 2.204.952 laki-
laki dan 2.111.284 perempuan di Kabupaten Bogor mengungguli Kabupaten
Bandung diposisi kedua dengan jumlah penduduk 3.033.038 jiwa. Jumlah
Penduduk Kabupaten Bogor per kecamatan berdasarkan jenis kelamin dapat
dilihat pada Tabel.

47

Tabel 6. Jumah Penduduk Kabupaten Bogor per Kecamatan Menurut


JenisKelamin Tahun 2006.
Kecamatan Laki-Laki Perempuan Jumlah
Bogor Selatan 77.254 73.881 151.135
Bogor Timur 38.307 38.958 77.265
Bogor Utara 64.148 61.710 125.858
Bogor Barat 86.496 84.148 170.644
Bogor Tengah 46.235 46.620 92.855
Tanah Sareal 67.006 65.487 132.493
Jumlah 379.446 370.804 750.250
Sumber : Data Monografi Kabupaten Bogor, Tahun 2006

Pada umumnya faktor usia sangat mempengaruhi tingkat produktivitas
kerja seseorang karena akan termasuk golongan usia angkatan kerja. Komposisi
sebaran penduduk berdasarkan umur dan jenis kelamin di Kabupaten Bogor dapat
dilihat pada Tabel.

Tabel 7. Komposisi Sebaran Penduduk Berdasarkan Umur dan Jenis Kelamin di
Kabupaten Bogor Tahun 2008
Umur (Tahun)
Jumlah Penduduk (jiwa)
Persentase (%)
Laki-laki Perempuan
< 15 522,097 416.043 21,73
15-49 1.378.155 1.290.980 61,80
>50 304.700 404.261 16,47
Jumlah 2.204.952 2.111.284 100,00
Sumber : Data Monografi Kabupaten Bogor, Tahun 2008

Berdasarkan tabel diatas terlihat bahwa usia antara 15-49 tahun memiliki
persentase yang cukup tinggi yaitu sebesar 61,80 persen. Pada usia tersebut
merupakan termasuk ke dalam golongan usia angkatan kerja. Sedangkan
persentase terendah terdapat pada golongan usia lebih dari 50 tahun yaitu sebesar
16,47 persen, dan sisanya sebanyak 21,73 persen pada usia kurang dari 15 tahun.
Mata pencaharian penduduk Kabupaten Bogor cukup beragam,
diantaranya bekerja sebagai tenaga profesional, tenaga kepemimpinan, pedagang,
48

tenaga usaha jasa, tenaga produksi maupun anggota TNI. Namun mayoritas
penduduk bekerja sebagai tenaga produksi (Tabel 8 ).

Tabel 8. Penduduk berumur 10 tahun ke atas yang Bekerja Menurut Jenis
Pekerjaan Utama dan Jenis Kelamin di Kabupaten Bogor Tahun 2006
Lapangan Usaha Laki-Laki Perempuan Jumlah
Tenaga Profesional 33.472 32.645 66.117
Tenaga Kepemimpinan 7.348 812 8.160
Pejabat Pelaksana tatausaha 60.408 16.340 76.748
Tenaga usaha penjualan 204.577 102.797 307.374
Tenaga usaha jasa 85.605 79.114 164.719
Tenaga usaha pertanian 195.230 52.810 248.040
Tenaga produksi 403.445 91.389 494.834
Anggota TNI 6.526 0 6.526
Lainnya 16.295 817 17.112
Jumlah 1.012.906 376.724 1.389.630

5.1.2. Sarana dan Prasarana
Sarana transportasi di Kabupaten Bogor hanya menggunakan jalur darat
yaitu jalanan, baik yang berupa jalan aspal maupun jalan yang terbuat dari
campuran kerikil dan tanah. Sarana transportasi darat di daerah ini sudah modern
dan lengkap yang terdiri dari kereta api, mobil (pribadi dan angkutan umum),
sepeda motor (ojek), becak, sepeda. Transportasi di daerah ini didominasi oleh
angkot yang dapat menghubungkan seseorang dari lokasi satu ke lokasi lainnya di
dalam daerah tersebut. Hal ini dikarenakan lokasi daerah Kabupaten Bogor yang
sangat luas dan penduduknya yang banyak.
Sarana dan prasarana lainnya telah telah lengkap didaerah ini antara lain 1.
Sarana dan prasarana perekonomian seperti Koperasi, Bank, Pasar, Minimarket,
Supermarket, warung serta badan perpajakan 2. Sarana dan prasarana pendidikan
berupa play group, TK, SD, SLTP, SMA, Perguruan Tinggi, Lembaga pendidikan
keagamaan dan lainnya, 3. Sarana dan prasaran kesehatan antara lain posyandu,
puskesmas, bidan, rumah sakit, klinik dokter dan lainnya.
49

5.2. Karakteristik Peternak Responden


Peternak responden didaerah penelitian memiliki berbagai karakteristik
yang berbeda-beda, seperti perbedaan umur, pengalaman berusaha, tingkat
pendidikan, luas lahan yang dimiliki dan mata pencaharian. Perbedaan tersebut
mempengaruhi tehknik dan kebiasaan mereka dalam beternak ayam. Pada
umunya usahaternak ayam merupakan salah satu usaha pokok bagi peternak
Kabupaten Bogor karena dianggap sangat menguntungkan.

5.2.1. Umur dan Pengalaman Usahatani peternak Responden
Faktor umur peternak secara langsung akan mempengaruhi produktivitas
hasil peternakan. Peternak yang memiliki umur relatif muda biasanya memiliki
kemampuan fisik yang cukup kuat, sedangkan peternak yang berumur relatif tua
tentunya akan mengalami penurunan kinerja seiring dengan berkurangnya daya
tahan dan kekuatan tubuhnya, namun biasanya memiliki pengalaman beternak
yang cukup lama.
Peternak responden yang mengusahakan beternak ayam rata-rata berusia
antara 41 sampai 70 tahun. Jika dilihat dari sebaran umur peternak responden,
maka sebagian besar responden adalah peternak produktif yang berusia antara 41-
50 tahun, walaupun demikian para peternak yang sudah berusia lanjut, pada
umumnya segala sesuatu dikerjakan oleh pekerja (karyawan) sehingga mereka
hanya memantau perkembangan usaha. Adapun karakteristik responden peternak
dapat dilihat pada Tabel.










50

Tabel 9. Karakteristik Peternak Responden Berdasarkan Umur di Kabupaten


Bogor, Tahun 2009
Kelompok Umur (tahun) Jumlah (orang) Persentase (%)
20-30 - -
31-40 - -
41-50 3 60,00
51-60 1 20,00
61-70 1 20,00
71-80 - -
Jumlah 5 100,00

Berdasarkan Tabel di atas menunjukkan bahwa, dari 5 orang peternak
responden kelompok umur yang mendominasi dalam beternak ayam yaitu pada
usia 41-50 tahun yaitu sebesar 60 persen . Sedangkan persentase kelompok umur
yang terendah tidak ada karena diasumsikan bahwa pada usia dewasa mereka
belum tertarik ke bidang peternakan ataupun belum mempunyai modal yang
cukup untuk memulai usaha. Adapun responden dengan kelompok umur terbesar
yaitu berusia antara 61-70 tahun.
Pengalaman peternak responden dalam beternak ayam ini cukup lama
karena mereka pada umunya beternak semenjak remaja sampai dewasa, sehingga
pengalamannya sudah tidak diragukan lagi. Pengalaman dari peternak responden
ini dibagi menjadi dua kelompok, yaitu pengalaman peternak yang kurang dari 15
tahun dan pengalaman peternak yang lebih dari 15 tahun. Karakteristik peternak
responden berdasarkan pengalaman dalam usahaternak telur ayam kampung di
Kabupaten Bogor dapat dilihat pada Tabel.

Tabel 10. Karakteristik Peternak Responden Berdasarkan Pengalaman dalam
Usahaternak Telur Ayam Kampung, tahun 2009
Pengalaman Usahaternak
(tahun)
Peternak (orang) Persentase (%)
1 20,00
4 80,00
Jumlah 5 100,00

51

Berdasarkan Tabel 10, dapat dilihat bahwa pengalaman peternak


responden di Kabupaten Bogor cukup lama karena rata-rata peternak telah
memiliki pengalaman beternak lebih dari 15 tahun dengan persentase sebesar 80
persen. Sedangkan bagi peternak yang memiliki pengalaman kurang dari 15 tahun
sebesar 20 persen. Pada umumnya peternak memiliki latar belakang pendidikan
dari peternakan serta memperoleh pengalaman dan pengetahuan mengenai
budidaya dan usahaternak ayam kampung secara turun temurun.

5.2.2. Luas dan Status Kepemilikan Lahan
Luas lahan yang dikelola dalam usahaternak ayam di Kabupaten Bogor
cenderung relatif luas, yaitu lebih dari satu hektar. Selain itu pada umumnya
sebagian besar dari peternak merupakan pengusaha dan memiliki penginapan serta
perkebunan di sekitar peternakan. Lahan yang digarap peternak pada umumnya
lahan milik sendiri, walaupun ada sebagian kecil peternak yang menggunakan
lahan sewa (Tabel).

Tabel 11: Karakteristik Peternak Responden Berdasarkan Luas Lahan pada
Usahaternak di Kabupaten Bogor, Tahun 2009
Luas Lahan (Ha) Peternak (orang) Persentase (%)
0-1 1 20,00
1-2 2 40,00
2-3 2 40,00
Jumlah 5 100,00

Tabel 11, menunjukkan bahwa sebagian besar peternak responden
mengolah lahan peternak yang luas, yaitu lebih dari satu hektar dengan persentase
40 persen. Jika dilihat dari luas lahan yang digarap / diolah, menunjukkan bahwa
usahaternak telur ayam kampung di Kabupaten Bogor ini termasuk kedalam
usahaternak skala sedang dan besar.

5.2.3. Tingkat Pendidikan dan Mata Pencaharian
Tingkat pendidikan yang baik merupakan salah satu faktor penting yang
akan mempermudah peternak, khususnya dalam penerimaan informasi tentang
52

teknologi pengembangan usaha beternak ayam. Tingkat pendidikan para peternak


responden di Kabupaten Bogor cukup bervariasi dan cukup tergolong tinggi yaitu
mulai dari peternak yang tamantan SMA sampai peternak yang tamat Perguruan
Tinggi (PT). Namun pada umumnya sebagian besar peternak responden
mengenyam pendidikan sampai tingkat Perguruan Tinggi karena dalam beternak
dibutuhkan keahlian dan pengalaman yang banyak, karena dalam berusaha ternak
ayam dibutuhkan modal yang besar.

Tabel 12. Karakteristik Peternak Responden di Kabupaten Bogor Berdasarkan
Tingkat Pendidikan, Tahun 2009
Tingkat Pendidikan Peternak (orang) Persentase (%)
Tamat SMU 1 20,00
Tamat PT 4 80,00
Jumlah 5 100,00

Tabel 12, menunjukkan bahwa persentase tingkat pendidikan peternak
responden yang terbesar adalah sampai tamatan Perguruan Tinggi, yaitu sebanyak
80 persen. Sedangkan persentase yang terkecil adalah tamat SMU yaitu sebanyak
20 persen.
Berdasarkan jenis mata pencahariannya, secara umum peternak responden
di Kabupaten Bogor tidak memiliki pekerjaan lain selain beternak. Hal ini
berkaitan dengan usahaternak ayam membutuhkan konsentrasi dan fokus terhadap
usahanya, karena dalam berusaha ternak apabila mengalami kerugian, maka
kerugian yang dialami dalam jumlah yang besar. Mata pencaharian peternak
responden di Kabupaten Bogor dapat dilihat pada tabel.

Tabel 13. Karakteristik Peternak Responden di Kabupaten Bogor Berdasarkan
Mata Pencaharian , Tahun 2009
Mata Pencaharian Peternak (orang) Persentase (%)
Beternak Pokok (utama) 3 60,00
Beternak dan lainnya 2 40,00
Jumlah 5 100,00


53

Tabel 13, menunjukkan bahwa karakteristik peternak responden


berdasarkan mata pencaharian dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu beternak
pokok (utama) dan beternak dengan usaha yang lainnya. Berdasarkan data diatas,
diketahui bahwa 60 persen peternak responden tidak memiliki mata pencaharian
yang lain, mereka hanya terfokus dalam beternak ayam kampung, sedangkan
sisanya 40 persen peternak responden bermatapencaharian sebagai peternak dan
juga mempunyai pekerjaan diluar sektor peternakan, yaitu merangkap sebagai
karwayan perusahaan dan sebagai Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
(AKABRI).
Peternak yang hanya bekerja sebagai peternak beranggapan bahwa saat ini
sektor peternakan bisa diandalkan dan mempunyai prospek yang menjanjikan
untuk memenuhi kebutuhan hidup, hanya saja butuh ketekunan,keahlian, modal
yang memadai serta pengalaman. Hal yang sama juga dikatakan oleh peternak
responden yang memiliki pekerjaan sampingan, bahkan pekerjaan sebagai
peternak justru menghasilkan keuntungan yang lebih besar dibandingkan dengan
menjadi karyawan maupun sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS).

5.2.4. Skala Usaha Peternak

Jumlah ternak yang dimiliki menentukan besarnya skala usaha yang
diusahakan. Pada umumnya peternak yang mengusahakan beternak ayam
kampung secara komersil masih sedikit dibandingkan dengan beternak ayam ras.
Beternak ayam kampung biasanya hanya diusahakan dengan skala rumah tangga
dengan jumlah ternak tidak lebih dari 10 ekor, akan tetapi dengan melihat
permintaan dan peluang pasar yang semakin meningkat maka semakin banyak
peternak yang mengusahakan peternakan ayam kampung secara komersil.
Berdasarkan hasil responden, jumlah dan skala usaha yang diusahakan oleh
peternak di Kabupaten Bogor sebagai berikut:






54

Tabel 14. Skala Usaha Peternak di Kabupaten Bogor berdasarkan Jumlah Ternak
yang diusahakan.
Skala Usaha Jumlah Ternak (ekor) Persentase (%)
Skala kecil < 5.000 40,00
Skala Menengah 5. 000 - 10.000 20,00
Skala Besar >10.000 40,00

Berdasarkan skala usaha diatas, peternak responden yang paling banyak
mengusahakan peternakan yaitu dengan skala kecil dan besar dengan masing-
masing persentase 40 persen. Sedangkan dengan skala menengah hanya 20
persen responden. Responden ternak dengan skala besar pada umumnya sudah
terintegrasi jadi mereka bisa menyediakan bibit dan pakan sendiri. Tujuan pasar
peternakan skala besar yaitu pedagang grosir dan supermarket. Untuk tujuan
pasar supermarket maupun minimarket peternak beralasan agar memperoleh
keuntungan lebih besar sedangkan untuk peternak yang menjual langsung kepada
pedagang grosir karena pedagang grosir membeli dalam jumlah banyak dan
peternak tidak ada melakukan proses penyusutan maupun kerugian lagi.

5.3. Karakteristik Pedagang
Lembaga pemasaran dalam penyampaian komoditi peternakan dari
produsen sampai ke tangan konsumen, selalu berhubungan satu sama lainnya dan
membentuk jaringan pemasaran. Setelah dilakukan penelusuran, terdapat
beberapa lembaga pemasaran yang terlibat dalam sistem pemasaran telur ayam di
Kabupaten Bogor yaitu: pedagang pengumpul desa (tengkulak), pedagang besar
(bandar), dan pedagang pengecer.
Pengambilan sampel untuk responden pedagang dilakukan dengan
menggunakan snowbowling sampling, yaitu dengan mengikuti alur pemasaran
telur ayam kampung didaerah penelitian berdasarkan informasi yang didapat dari
pelaku pasar sebelumnya. Responden yang diambil adalah pedagang pengumpul
desa (tengkulak) berjumlah lima orang, pedagang besar (bandar) 10 orang, dan
pedagang pengecer 10 orang. Masing-masing individu dari lembaga pemasaran
tersebut memiliki berbagai karakter yang dapat mempengaruhi aktivitas
55

pemasaran yang dilakukan. Karakteristik pedagang responden dalam penelitian


ini meliputi usia responden, tingkat pendidikan responden, dan status usaha.

5.3.1. Usia Responden
Responden pedagang secara keseluruhan berjumlah 25 orang yang berjenis
kelamin laki-laki dan perempuan. Secara umum usia rata-rata dari responden 40
tahun dengan pedagang termuda berusia 30 tahun dan pedagang tertua berumur 55
tahun. Ini menunjukkan bahwa pedagang responden yang dipilih masih berusia
produktif sehingga memiliki kemungkinan berusaha yang masih lama. Adanya
pedagang responden yang berusia 55 tahun menujukkan bahwa lamanya
pengalaman berusaha. Semakin lama ia berusaha maka akan mempermudah
dalam hal informasi tentang pasar dan memiliki banyak kepercayaan dari
pedagang responden yang lain karena ia memiliki koneksi yang banyak.

Tabel 15. Komposisi Umur Pedagang Responden
Kelompok umur
Jumlah
Orang Persentase (%)
35 6 24,00
36-50 14 56,00
51 5 20,00
Jumlah 25 100,00

Pedagang responden yang termasuk dalam pola saluran pemasaran telur
ayam kampung di Kabupaten Bogor sebagian besar berada pada kelompok umur
36- 50 tahun sebanyak 14 orang (56 persen) dan masih tergolong usia produktif.
Pada tingkat umur 35 jumlah pedagang responden sebanyak enam orang ( 24
persen) dan pada tingkat umur 51 jumlah pedagang responden sebanyak lima
orang ( 30 persen).

5.3.2. Tingkat Pendidikan Pedagang Responden
Tingkat pendidikan pedagang responden terdapat pada tabel di bawah
menunjukkan, sebanyak empat orang (16 persen) dengan pendidikan tamat SD,
tujuh orang (28 persen) dengan pendidikan tamat SLTP, 11 orang (44 persen)
56

lulusan SMU dan tiga orang ( 12 persen ) lulusan perguruan tinggi atau sederajat.
Hampir sebagian besar dari pedagang responden memiliki tingkat pendidikan
yang cukup yaitu lulusan SMU karena tingkat pendidikan menentukan tingkat
penyerapan informasi pasar dalam proses pemilihan saluran pemasaran yang tepat
dan menguntungkan.

Tabel 16 . Komposisi Tingkat Pendidikan Pedagang Responden
Tingkat Pendidikan
Jumlah
Orang Persentase (%)
Tamat SD 4 16,00
Tamat SLTP 7 28,00
Tamat SMU 11 44,00
Perguruan Tinggi 3 12,00

5.3.3. Status Usaha
Sebagian besar responden menjadi pedagang telur merupakan mata
pencarian utama karena mempunyai prospek yang menjanjikan. Akan tetapi para
pedagang tidak hanya menjual telur ayam kampung, tetapi juga menjual telur jenis
lainnya yaitu telur ayam ras, telur bebek, telur puyuh, dan telur lainnya.

5.3.4. Pengalaman Berusaha
Pada tabel dibawah dapat dilihat bahwa pedagang responden yang
memiliki pengalaman berusaha 10 tahun sebanyak sembilan orang (36 persen),
antara 11-25 tahun sebanyak 52 persen dan yang mempunyai pengalaman lebih
dari 25 tahun yaitu sebanyak tiga orang (12 persen). Adanya pedagang responden
yang memiliki pengalaman berusaha yang lebih dari 25 tahun menunjukkan
bahwa pengalaman berusaha sangat dibutuhkan oleh pelaku pemasaran telur ayam
kampung karena dibutuhkan koneksi dan pengetahuan serta informasi yang
banyak dalam menjalankan usaha sebagai pemasar telur karena pada umumnya
jalinan kerja yang terbentuk antara para pelaku pemasaran telur didasarkan atas
kepercayaan dan lamanya hubungan kerja yang terjalin diantara sesama pedagang.
Semakin lama ia berusaha, maka ia akan lebih mudah untuk mendapatkan
57

kepercayaan dari pihak pedagang lain. Komposisi lengkap pengalaman berusaha


pedagang responden dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 17 . Komposisi Pengalaman Berusaha Pedagang Responden
Pengalaman Berusaha
Jumlah
Orang Persentase (%)
10 tahun 9 36,00
11-25 tahun 13 52,00
25 tahun 3 12,00

Adapun kegiatan pembelian telur yang dilakukan oleh para pedagang
responden yang ada didaerah penelitian dapat dilihat pada Tabel 18. Terlihat
jumlah telur yang dipasarkan, sistem pembayaran yang dilakukan serta pasar-
pasar yang dituju oeh para pedagang. Pada umumnya pedagang di daerah
penelitian melakukan system pembayaran tunai dan bayar dimuka, sedangkan
pasar yang menjadi tujuan utama pemasaran adalah pasar Bogor, pasar Anyar,
pasar Cibinong, pasar Leuwiliang, pasar Parung dan sebagainya.

Tabel 18. Kegiatan Pembelian Telur Pedagang Responden
Jumlah penjualan
(Butir)/hari
Pasar yang dituju
Jumlah
Orang Persentase
5000
600
1000
3000
6000
Pasar Bogor
Pasar Anyar
Pasar Leuwiliang
Pasar Cibinong
Pasar parung
10
2
3
5
5
40
8
12
20
20

Dari table dapat dilihat bahwa jumlah telur paling banyak dijual di daerah
Parung yaitu sebanyak 6.000 butir karena didaerah parung banyak terdapat jumlah
peternak dibandingkan dengan daerah lain yang ada di Kabupaten Bogor, setelah
itu pasar kedua paling banyak menjual telur perhari adalah pasar Bogor yaitu
sebesar 5.000 butir telur. Pasar yang paling sedikit menjual telur untuk kawasan
58

kabupaten Bogor adalah pasar Anyar yaitu dengan jumlah konsumsi telur
perharinya sebanyak 600 butir.
Sistem pemasaran yang dilakukan oleh lembaga pemasaran berbeda-
beda tergantung bagaimana kesepakatan yang terjadi dan terjalin antara setiap
lembaga pemasaran. Pada umumnya system pemasaran yang terjadi ada yang
berupa pembayaran tunai dan pembayaran non tunai. Tergantung letak lokasi dan
siste yang terjadi sebelumnya. Pada umunya pedagang yang melakukan sitem
pembelian dan penjualan tunai berdasarkan jumlah telur yang dipasarkan serta
lamanya ikatan yang terjalin antara sesame pedagang. Adapun system pemasaran
dan lokasi pemasaran dapat dilihat pada Tabel. 19.

Tabel 19. Sistem Pemasaran dan Lokasi Pemasaran Telur oleh Responden
Pedagang
Sistem Pemasaran
Lokasi Pemasaran
Jumlah
Tunai Tidak tunai Orang Persentase

-


-
-


-

-
-


-
-
Pasar Bogor
Pasar anyar
Pasar Leuwiliang
Jakarta
Cibinong
Depok
Parung
Bekasi
8
2
3
3
2
2
4
1
32
8
12
12
8
8
16
4


BAB VI.
HASIL DAN PEMBAHASAN

6.1. Lembaga Pemasaran
Kehadiran lembaga pemasaran dalam proses menggerakkan barang atau
jasa dari titik produsen ke titik konsumen sangat diperlukan. Lembaga-lembaga
pemasaran dapat memperlancar pergerakan barang dari produsen sampai ke
tingkat konsumen melalui berbagai kegiatan yan dikenal sebagai perantara.
Lembaga-lembaga ini bisa dalam bentuk perorangan, perserikatan, atau
perseorangan. Dalam sistem pemasaran telur ayam kampung di Kabupaten Bogor
umumnya lembaga-lembaga yang terlibat adalah peternak ayam kampung,
pedagang pengumpul (tengkulak), pedagang grosir, dan pedagang pengecer.
Peternak merupakan produsen dari telur ayam kampung juga bertindak
sebagai lembaga pemasaran karena beberapa dari peternak juga berperan sebagai
pembeli hasil produksi dari peternakan lain apabila terjadi kekurangan persediaan
sedangkan permintaan dari pelanggan tetap ataupun bertambah banyak. Peternak
skala kecil dengan jumlah ternak kurang dari 5.000 ekor pada umumnya menjual
telur ke pedagang pengumpul ataupun pedagang grosir. Sedangkan untuk
peternak skala besar dengan jumlah ternak lebih dari 10.000 ekor pada umumnya
menjual hasil produksi mereka kepada pedagang grosir maupun langsung ke pasar
minimarket maupun supermarket.
Jumlah responden peternak yang berjumlah lima orang itu, diambil
berdasarkan skala usaha yang diusahakan peternak. Skala usaha yang besar hanya
dimiliki oleh dua orang peternak di Kabupaten Bogor untuk itu dipilih satu orang
peternak yang mempunyai jumlah ternak yang lebih besar. Lokasi peternakan
dengan skala usaha yang besar itu terdapat di daerah Leuwiliang. Sedangkan
untuk peternak dengan skala usaha menengah dan kecil dipih berdasarkan lokasi
usaha yang tidak terlalu jauh dari pemukiman masyarakat. Peternak skala
menengah yang menjadi responden berlokasi di daerah Sukabumi dan Leuwiliang
dan peternak dengan skala usaha kecil berlokasi di daerah Sindur Parung.
60

Pedagang pengumpul sangat berperan dalam memasarkan produk telur


ayam kampung baik di daerah Bogor sendiri maupun luar daerah Bogor seperti
Jakarta,Cibinong, Depok, Parung dan Bekasi. Dalam penelitian ini terdapat lima
orang pedagang pengumpul yang berada dekat dengan lokasi penelitian. Hal ini
memberikan sedikit keuntungan terhadap peternak terutama dalam hal biaya
transportasi karena biaya yang dikeluarkan dapat dikurangi. Rata-rata jumlah
telur yang dipasarkan oleh pedagang pengumpul setiap harinya berkisar antara
10.000 sampai 14.000 butir perhari.
Pedagang grosir adalah pedagang yang membeli produk dalam kapasitas
besar dimana rata-rata pembeliannya 8.500 butir per hari. Pada umunya para
pedagang grosir ini berlokasi dipasar tradisonal seperti dipasar Bogor sebanyak
tiga orang, Pasar Anyar dua orang, Pasar Ciawi dua orang dan Pasar Parung tiga
orang. Pedagang grosir ini dipilih
Pedagang pengecer merupakan pedagang yang langsung berhubungan
dengan konsumen. Pedagang pengecer yang terdapat dalam penelitian ini
sebanyak 10 orang baik yang berasal dari Bogor maupun luar Bogor. Untuk
pedagang yang berada didaerah Bogor berlokasi dibeberapa tempat antara lain
pasar Bogor, pasar Anyar, warung kelontong, minimarket maupun supermarket
sedangkan untuk kawasan luar Bogor antara lain Depok, Gunung putri, Cikeas,
Cileungsi, Meruya (Jakarta Barat), Perumahan Perumahan disekitar Jabodetabek.
Pembelian yang dilakukan oleh pedagang pengecer setiap harinya berkisar antara
100 sampai 2000 butir telur per hari. Permintaan tergantung bagaimana kondisi
pasar serta besarnya tempat yang dimiliki pedagang.

6.2. Analisis Saluran Pemasaran
Pemasaran telur ayam kampung di Kabupaten Bogor sebagian besar masih
dikuasai oleh pedagang pengumpul desa (tengkulak) dan pedagang grosir. Hal ini
disebabkan oleh berbagai keterbatasan yang dimiliki peternak antara lain,kurang
tersedianya fasilitas guna menghubungi pembeli, kurangnya modal, rendahnya
tingkat pengetahuan peternak dalam proses pemasaran telur serta lebih efisien
baik dari waktu maupun biaya. Disisi lain pedagang dikota besar akan membeli
61

produk langsung kepada pedagang karena lebih efisien, untuk itu peranan
pedagang sangatlah penting.
Berdasarkan hasil pengamatan, diketahui bahwa pemasaran telur ayam
kampung di Kabupaten Bogor terdapat beberapa saluran pemasaran yang
melibatkan beberapa lembaga pemasaran, yaitu pedagang pengumpul desa
(tengkulak), pedagang pengumpul grosir dan pedagang pengecer. Adapun bentuk
saluran pemasaran tersebut dapat dilihat pada Gambar 5.

Pola I ( dua orang = 40%)




Pola II (dua orang = 40%)



Pola III (satu orang = 20%)


Gambar 5. Pola Saluran Pemasaran Telur Ayam Kampung di Kabupaten Bogor,
Tahun 2009.

Keterangan:
40 % = Persentase jumlah peternak yang menjual produk ke pedagang
pengumpul dari jumlah keseluruhan peternak.
40 % = Persentase jumlah peternak yang menjual produk ke pedagang grosir
dari jumlah keseluruhan peternak.
20 % = Persentase jumlah peternak yang menjual produk ke pedagang
pengecer dari jumlah keseluruhan peternak.

Dari skema di atas terbentuk suatu sistem pemasaran yang merupakan satu
kesatuan yang secara fisik terdiri dari bagian-bagian yang saling berkaitan dan
bekerjasama dalam sistem yang terorganisir. Gambar 3 menunjukkan beberapa
pola (jalur ) saluran pemasaran telur ayam kampung di Kabupaten Bogor yaitu:
Peternak Pedagang
Grosir
Konsume
Pedagang
Pengecer
Pedagang
Grosir
Pedagang
pengumpul desa
(Tengkulak)
Pedagang
Pengecer
Pedagang
Pengecer
Konsumen
Konsumen
62

a. Pola Saluran I : Peternak Pedagang Pengumpul Desa (tengkulak)


Pedagang Grosir - Pedagang Pengecer Konsumen
b. Pola Saluran II : Peternak - Pedagang grosir Pedagang Pengecer
Konsumen
c. Pola Saluran III : Peternak Pedagang Pengecer Konsumen

Proses pemasaran di Kabupaten Bogor diawali dari penjualan telur ayam
kampung oleh peternak melalui tiga cara, yaitu penjualan kepada pedagang
pengumpul, melalui pedagang grosir dan melalui pedagang pengecer. Jalur
pemasaran telur ayam kampung cukup bervariasi, hal ini tidak terlepas dari daerah
pemasaran yang cukup luas. Hasil produksi telur ayam kampung yang ada di
Kabupaten Bogor sebagian besar dipasarkan di Pasar Leuwiliang, Pasar Bogor,
Pasar Parung, Pasar Anyar, Pasar Cibinong, Depok, Gunung putri, Cikeas,
Cileungsi, Meruya (Jakarta Barat), Perumahan Perumahan disekitar Jabodetabek,
minimarket, dan konsumen rumah tangga di daerah Bogor dan Jakarta.
Pelaku pemasaran menggunakan saluran pemasaran yang menunjukkan
bagaimana arus komoditi mengalir dari produsen ke konsumen akhir. Para pelaku
pemasaran yang terlibat dalam menyalurkan telur dari peternak responden adalah
pedagang pengumpul desa (tengkulak), pedagang grosir dan pedagang pengecer.
Pola saluran pemasaran talas di Kabupaten Bogor ini berbeda-beda, dan pemilihan
saluran pemasaran tersebut didasarkan pada beberapa hal, diantaranya: harga jual,
transportasi, sumber pembelian dan tujuan penjualan.
Dari ketiga jalur pemasaran tersebut, jumlah telur yang dipasarkan rata-
rata setiap harinya melalui jalur I sebanyak 12.000 butir, melalui jalur II sebanyak
8.500 butir dan melalui jalur III sebanyak 2.000 butir. Dari hasil tersebut 80
persen telur dijual kepada pedagang pengumpul (tengkulak) dan sisanya dijual ke
pedagang grosir dan pedagang pengecer. Hal ini disebabkan karena peternak
tidak perlu mencari pasar dan menghemat waktu penjualan, serta pedagang
pengumpul mampu menampung berapapun jumlah telur yang masuk sehingga
peternak tidak perlu khawatir dengan adanya produk yang tidak laku di pasar.




63

6.2.1. Pola Saluran Pemasaran I


Saluran pemasaran I digunakan oleh dua orang peternak responden (40
persen dari total peternak responden) merupakan saluran terpanjang pada rantai
pemasaran telur ayam kampung. Pada umunya peternak yang melewati pola
saluran ini adalah peternak dengan skala kecil karena kurangnya fasilitas,jauhnya
lokasi pemasaran, kurangnya informasi pasar serta adanya penambahan biaya
apabila peternak tersebut yang langsung memasarkan ke pasar atau ke konsumen
akhir. Peternak peternak dengan skala usaha kecil tersebut menjual langsung ke
pedagang pengumpul (tengkulak), kemudian pedagang pengumpul menjual
kepada pedagang grosir maupun ke pedagang pengecer yang ada di kawasan
Bogor seperti di Pasar Leuwiliang, Pasar Bogor, Pasar Parung, Pasar Anyar,
Pasar Cibinong, Depok, Gunung putri, Cikeas, Cileungsi, Meruya (Jakarta Barat),
Perumahan Perumahan disekitar Jabodetabek, minimarket, dan konsumen rumah
tangga di daerah Bogor dan Jakarta untuk dijual kembali kepada konsumen akhir.
Alasan peternak menggunakan saluran ini karena jauhnya lokasi peternakan dari
lokasi pemasaran, memudahkan peternak karena produknya langsung habis terjual
serta mengurangi timbulnya resiko seandainya peternak yang menjual langsung
kepada konsumen akhir berupa biaya transportasi yang besar, biaya pembelian
maupun penyewaan kios dan lainnya.
Pedagang pengumpul pada saluran ini menentukan harga yang berlaku
berdasarkan harga yang terjadi di pasar dan informasi harga berasal dari sesama
pedagang pengumpul maupun dari pedagang pengecer. Sistem pembelian
dilakukan secara tunai dan pembayaran kemudian. Sistem pembayaran kemudian
yang paling banyak dilakukan antara peternak dengan pedagang pengumpul
dikarenakan adanya rasa saling percaya antara keduanya. Sedangkan pembayaran
secara tunai dilakukan karena pedagang pengumpul sangat jarang dilakukan
karena pedagang pengumpul biasanya menjual kembali telur ke pedagang
pengecer juga dengan sistem pembayaran kemudian. Dalam melakukan
pembelian di tingkat peternak,pedagang pengumpul tidak perlu bersusah payah
untuk mencari peternak yang akan menjual telurnya karena para peternak
umumnya sudah berlangganan tetap dengan para pedagang pengumpul. Kegiatan
tersebut dilakukan oleh peternak pada pagi hingga sore hari, keesokan harinya
64

setelah telur di panen dari kandang. Peternak membawa telur hasil peternakannya
dengan menggunakan sepeda motor, mobil pribadi, mobil box ataupun mobil pick
up tergantung sebarapa banyak jumlah telur yang akan dipasarkan.
Pedagang pengumpul membeli telur dari beberapa peternak responden
yang telah menjadi langgananya karena ada ikatan saling percaya diantara
keduanya. Pedagang pengumpul melakukan pengumpulan barang dikios maupun
di gudangnya dan keesokan harinya baru dijual ke pedagang grosir yang menjadi
langgananya dipasar yang sama ataupun di pasar yang berbeda. Alat transportasi
yang digunakan berupa mobil pick up, motor, Selanjutnya pedagang pengecer
memasarkan ke konsumen akhir.
Peternak menjual hasil panen telurnya secara borongan kepada pedagang
pengumpul desa (tengkulak) dengan harga Rp. 1100,00 per butir, kemudian dari
pedagang pengumpul desa (tengkulak) diangkut ke pasar dan dijual kepada
pedagang grosir dengan harga Rp. 1200,00 sampai dengan Rp. 1400,00 per butir.
Selanjutnya pedagang grosir menjual kembali telur ke pedagang pengecer dengan
harga Rp. 1300,00 sampai dengan Rp. 1600,00 dan pada akhirnya pedagang
pengecer menjual kembali kepada konsumen akhir sebesar Rp. 1600,00 sampai
dengan Rp.2000,00 per butir.
Dengan demikian, pada saluran ini peternak tidak mengeluarkan biaya
pemasaran karena hasil produksi telurnya dijual langsung secara borongan kepada
pedagang pengumpul desa (tengkulak). Sehingga pihak yang mengeluarkan biaya
pemasaran disini yaitu pedagang pengumpul desa (tengkulak), pedagang grosir
dan pedagang pengecer. Pedagang pengumpul besar (tengkulak) mengeluarkan
biaya pemasaran berupa biaya transportasi, biaya pungutan liar, biaya bongkar
muat, akomodasi serta biaya penyimpanan. Pada pedagang grosir, biaya
pemasaran yang dikeluarkan yaitu biaya pengangkutan, biaya sortasi, biaya
akomodasi, biaya retribusi, biaya sampah serta biaya keamanan. Sedangkan pada
pedagang pengecer biaya pemasaran yang dikeluarkan berupa biaya angkut, biaya
retribusi, biaya sampah, biaya keamanan serta biaya penyimpanan dan akomodasi.




65

6.2.2. Pola Saluran Pemasaran II


Saluran pemasaran kedua ini digunakan oleh dua orang peternak
responden (40 persen). Saluran ini terdiri dari peternak, pedagang grosir, dan
pedagang pengecer. Pada umunya peternak yang memasarkan produknya melalui
pola saluran ini adalah peternak dengan skala usaha menengah dan skala usaha
besar. Alasan peternak menjalankan saluran ini karena jumlah telur yang dimiliki
peternak cukup banyak dan pedagang grosir mampu membeli dalam jumlah yang
banyak dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan pedagang
pengumpul untuk kemudian dijual atau dipasarkan ke pedagang pengecer. Selain
itu peternak tidak direpotkan dengan penanganan lebih lanjut seperti pengemasan
yang lebih baik, penyimpanan maupun kemungkinan produk yang tidak terjual.
Volume penjualan telur ayam kampung yang melewati saluran ini berkisar
antara 8.500 butir per hari atau sebesar 37,8 persen dari total volume penjualan
telur ayam kampung. Sebanyak satu orang peternak dengan skala usaha
menengah dan satu orang peternak dengan skala usaha besar responden telah
memiliki jaringan yang kuat hingga bisa menembus pasar modern dan telah
menjual telur ayam kampung ke pasar modern untuk kemudian dijual ke
swalayan-swalayan.
Telur hasil peternak diangkut menggunakan mobil box, mobil pick up,
motor (sesuai jumlah telur yang akan dipasarkan) dengan biaya transportasi yang
ditanggung peternak. Setelah sampai dilokasi transaksi antara peternak dengan
pedagang grosir tersebut baru dilakukan. Harga jual rata-rata yang diterima
peternak pada tipe saluran ini adalah Rp. 1150 per butir. Sistem pembayaran yang
dilakukan oleh pedagang grosir terhadap peternak adalah dengan sistem tunai.
Sedangkan harga beli untuk pedagang grosir seharga Rp. 1450. Harga jual
pedagang pengecer berkisar antara Rp. 1600 sampai dengan Rp. 2000. Harga
beli pengecer ini ditentukan melalui proses tawar menawar antara kedua belah
pihak yang bertransaksi. Biaya-biaya yang harus ditanggung oleh pedagang
pengecer ini adalah biaya sewa tempat, biaya transportasi, retribusi, dan sortasi.
Pedagang grosir menjual kembali produknya kepada pedagang pengecer di
Kabupaten Bogor maupun di luar Kabupaten Bogor. Sistem pembayaran yang
dilakukan oleh pedagang grosir dengan pedagang pengecer adanya yang bersifat
66

tunai dan ada juga dengan sistem bayar kemudian, tergantung bagaimana
kesepakatan diantara keduanya.

6.2.3. Pola Saluran Pemasaran III
Pola saluran pemasaran III merupakan pola saluran yang terdiri dari
peternak - pedagang pengecer - konsumen. Dari penelitian yang dilakukan
diperoleh data sebanyak satu orang (20 persen) dari jumlah responden yang
menjual produk telur ayam kampung langsung kepada pedagang pengecer.
Peternak yang menjual produk yang melewati saluran ini adalah peternak dengan
skala usaha besar, karena mereka mampu menjaga kontinuitas persediaan produk.
Volume penjualan pada saluran ini adalah sebesar 2.000 butir telur per hari atau
sebesar 8,88 persen dari total volume penjualan telur ayam kampung.
Pada pola pemasaran ini, target pasar lebih difokuskan kepada minimarket
maupun supermarket, sehingga pada saluran ini membutuhkan biaya yang lebih
besar karena peternak menambah nilai produk berupa kemasan dari bambu
maupun pemasangan merk telur. Jumlah telur yang dipasarkan pada jalur ini
hanya sedikit yaitu sebesar 2000 butir per hari dan dipasarkan ke berbagai
minimarket dan supermarket yang ada di Bogor, Jakarta dan sekitarnya. Pada
umumnya yang menerapkan pola ini adalah peternakan kecil (skala 5000 ekor)
karena adanya tambahan pekerjaan serta adanya penambahan resiko.
Alasan peternak menggunakan pola saluran pemasaran ini dikarenakan
dapat mempermudah dalam proses penjualan telur ayam kampung. Peternak
biasanya akan membawa langsung produknya kepada pedagang pengecer yang
sudah mereka kenal sebelumnya. Hubungan yang terjadi antara peternak dengan
pedagang pengecer adalah hubungan beli lepas dengan sistem pembayaran beli
putus. Peternak langsung menjual hasil panennya kepada pedagang pengecer
dengan harga Rp.1300 sampai dengan Rp.1500 Kemudian pedagang pengecer
tersebut menjual kembali ke konsumen akhir sebesar Rp.2000.
Hal ini cukup menguntungkan peternak, karena biasanya jika peternak
menjual hasil panennya ke pedagang pengumpul desa (tengkulak) dengan harga
Rp. 1100,00 sampai Rp. 1150,00 per butir. Besarnya selisih hasil penjualan
antara saluran pemasaran 1 dan 2 adalah Rp. 500 per butir. Oleh karena itu, maka
67

dalam hal penjualan peternak lebih diuntungkan pada saat menjual langsung
kepada pedagang pengecer.
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat dijelaskan bahwa peternak pada
saluran III sama seperti saluran-saluran yang sebelumnya, mengeluarkan biaya
pemasaran yang lebih besar dibandingkan pola pemasaran I dan II akan tetapi juga
mendapatkan keuntungan yang lebih besar dibandingkan dengan pola pemasaran I
dan II. Harga jual untuk peternak tinggi, namun harga beli pada pedagang
pengecer rendah jika dibandingkan dengan harga beli pada pedagang pengecer di
saluran lain (pola saluran 1 dan 2). Hal tersebut dikarenakan pedagang pengecer
melakukan pembelian langsung kepada peternak, tanpa melalui pihak-pihak lain.
Sehingga walaupun mengeluarkan biaya pemasaran yang cukup banyak seperti
biaya penyewaan tempat dan tenaga kerja yang lebih besar, pedagang pengecer
tersebut tetap untung.

6.3. Fungsi- Fungsi Pemasaran
Fungsi pemasaran dilakukan oleh lembaga pemasaran yang terlibat dalam
proses pemasaran suatu komoditas, serta membentuk rantai pemasaran atau sering
disebut sebagai sistem pemasaran. Fungsi pemasaran sangat penting untuk
mengatasi hambatan yang dihadapi oleh produsen dalam upaya memuaskan
konsumen secara lebih efektif dan efisien. Hambatan tersebut terutama terkait
dengan kendala waktu, jarak tempat, kekurangan informasi pasar serta adanya
perbedaan penilaian dan hak milik terhadap suatu produk.
Dalam kegiatannya, lembaga pemasaran menjalankan fungsi-fungsi
pemasaran untuk memperlancar proses penyampaian barang atau jasa. Pada
umumnya fungsi-fungsi pemasaran yang dilaksanakan oleh lembaga pemasaran
diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu fungsi pertukaran, fungsi fisik dan fungsi
fasilitas. Fungsi-fungsi pemasaran dalam pemasaran telur ayam kampung di
Kabupaten Bogor, dapat dilihat pada tabel 20.




68

Tabel 20. Fungsi-fungsi Pemasaran yang dilakukan oleh Lembaga-lembaga


Pemasaran Telur Ayam Kampung di Kabupaten Bogor
Saluran
dan
Lembaga
Pemasaran
Fungsi-fungsi Pemasaran
Pertukaran Fisik Fasilitas
Jual Beli Angkut Kemas Simpan Sortasi
P.
resiko
Biaya
Inform
asi
Pasar
Saluran I
Peternak
Tengkulak
Grosir
Pengecer







-





-


-


-




-
-




-
-

-
















-
Saluran II
Peternak
Grosir
Pengecer






-






-






-




-


















Saluran III
Peternak
Pengecer





-




-


-

-




-










-

Pada setiap lembaga pemasaran selalu melakukan berbagai fungsi-fungsi
pemasaran. Namun fungsi-fungsi pemasaran yang dilakukan oleh semua pihak
yang terlibat dalam kegiatan pemasaran ini adalah fungsi penjualan, fungsi
penanggungan resiko, fungsi pembiayaan dan fungsi penyediaan informasi pasar.
Hal tersebut dilakukan karena fungsi-fungsi tersebut dapat mempengaruhi tingkat
efisiensi suatu proses pemasaran.








69

Tabel 21. Fungsi-fungsi Pemasaran dari Lembaga Pemasaran Komoditas Telur


Ayam Kampung
Lembaga Pemasaran Fungsi Pemasaran Aktivitas
1. Peternak Fungsi pertukaran Penjualan
Fungsi Fisik Pengangkutan dan
pengemasan
Fungsi fasilitas Sortasi, pembiayaan,
Penanggung resiko, dan
informasi pasar
2. Tengkulak Fungsi pertukaran Pembelian dan penjualan
Fungsi Fisik Pengangkutan
Fungsi fasilitas Pembiayaan, informasi
pasar, dan Penanggung
resiko
3. Pedagang grosir Fungsi pertukaran Pembelian dan penjualan
Fungsi Fisik Pengangkutan, pengemasan,
dan penyimpanan
Fungsi fasilitas Standarisasi, dan grading,
pembiayaan,penanggungan
resiko, dan informasi pasar.
4. Pedagang Pengecer Fungsi pertukaran Pembelian dan Penjualan
Fungsi Fisik Pengangkutan, Pengemasan,
penyimpanan
Fungsi fasilitas Standarisasi, Pembiayaan,
Penanggungan resiko,
Informasi Pasar dan
penanggungan resiko

6.3.1. Fungsi Pemasaran oleh Peternak
Peternak melakukan kegiatan yang sama pada semua saluran pemasaran
telur ayam kampung, baik saluran pemasaran I, II maupun saluran III karena
semua peternak melakukan sistem transaksi yang sama. Peternak telur ayam di
70

Kabupaten Bogor melakukan fungsi pertukaran yaitu kegiatan penjualan kepada


semua saluran pemasaran. Peternak responden menjual hasil peternakannya
setiap hari kepada pedagang pengumpul desa (tengkulak), pedagang grosir, dan
pedagang pengecer. Penjualan dilakukan oleh oleh peternak kepada lembaga
pemasaran secara tunai maupun dengan sistem nota penjualan yakni pembayaran
dilakukan pada hari berikutnya, atau pada saat penjualan produk selanjutnya.
Semua hasil panen peternak langsung dijual kepada kepada lembaga
pemasaran diberbagai tempat setiap hari, fungsi fisik penyimpanan tidak
dilakukan oleh peternak, akan tetapi pengangkutan dan pengemasan dilakukan
oleh peternak walau sederhana yaitu memakai peti kayu yang dapat menampung
300 butir telur untuk memudahkan pengangkutan. Fungsi pembiayaan yang
dilakukan oleh peternak adalah penyediaan modal untuk melakukan usahaternak
telur ayam kampung yang berupa biaya produksi. Biaya produksi yang
diproduksi meliputi pembelian ataupun produksi DOC, pakan, obat-obatan dan
vaksin dan sebagainya serta peralatan selama masa produksi seperti mesin
penetas.
Fungsi fasilitas yang dilakukan peternak adalah penanggungan resiko dan
informasi pasar. Fungsi informasi pasar adalah fungsi yang meliputi
pengumpulan informasi pasar serta menafsirkan informasi data pasar tersebut.
Berdasarkan hasil wawancara informasi pasar yang sangat berguna adalah
informasi harga. Informasi mengenai harga dipasar berkaitan dengan panen telur
dan harga telur yag berlaku di Jawa Tengah dan Jawa Timur tepatnya di daerah
Blitar dan Temanggung karena daerah tersebut merupakan sentra produksi telur di
Indonesia. Informasi penjualan telur ayam yang diperlukan antara lain adalah
informasi mengenai perkembangan harga jual telur, pasar, jumlah dan kualitas
serta waktu yang tepat untuk memasarkan telur tersebut.
Pada fungsi penanggungan resiko berdasarkan hasil wawancara,
pembayaran yang tertunda dari pedagang, peternak bertanggung jawab terhadap
harga telur yang berfluktuatif akibat banyaknya pasokan telur dari daerah Blitar,
resiko ayam mati karena terserang penyakit, telur yang pecah selama
pengangkutan, terjadinya perubahan harga yang negatif atau biaya produksi yang
dikeluarkan lebih besar dibandingkan dengan harga jual.
71

6.3.2. Fungsi Pemasaran oleh Pedagang Pengumpul


Pedagang pengumpul hampir melakukan kegiatan yang sama dalam setiap
saluran pemasarannya, karena pedagang pengumpul hanya menjual hasil
pembeliannya kepada pedagang grosir dan pedagang pengecer. Fungsi pemasaran
yang dilakukan oleh pedagang pengumpul dapat dibedakan menjadi dua jenis,
yaitu fungsi pemasaran yang dilakukan kepada pedagang grosir dan fungsi
pemasaran yang dilakukan kepada pedagang pengecer.
Pada saluran I dan II fungsi pemasaran dilakukan oleh pedagang
pengumpul adalah sama, karena pada saluran I pedagang pengumpul berhubungan
langsung dengan pedagang grosir dan pada saluran II pedagang pengumpul
berhubungan dengan pedagang pengecer. Fungsi pemasaran yang dilakukan oleh
pedagang pengumpul desa (tengkulak) berupa fungsi pertukaran, fisik dan
fasilitas. Fungsi pertukaran yang dilakukan oleh pedagang pengumpul berupa
fungsi pembelian dan penjualan. Fungsi pembelian yang dilakukan dengan
mendatangi langsung peternak dan melakukan sistem pembelian dengan
pembayaran tunai, menggunakan nota penjualan ataupun sistem nota bergulir.
Pedagang pengumpul menanggung resiko sendiri biaya pengangkutan atau
transportasi serta resiko biaya selama perjalanan seperti barang yang retak
ataupun pecah. Fungsi penjualan dilakukan dengan mengirim sendiri produk
yang telah dibeli dari peternak ke pedagang grosir, sedangkan pedagang pengecer
datang sendiri kepada pedagang pengumpul dan sebagian juga ada yang diantar
oleh pedagang pengumpul. Sistem penjualan kepada pedagang grosir dilakukan
dengan pembayaran tunai maupun nota penjualan bergulir yakni penjualan hari ini
dibayar keesokan harinya apabila pasokan barang datang kembali.
Fungsi fisik yang dilakukan oleh pedagang pengumpul pada saluran
pemasaran I berupa pengangkutan hasil panen dari peternak untuk kemudian
disalurkan kepada pedagang grosir, sedangkan pedagang pengecer mengangkut
sendiri dari tempat pedagang pengumpul. Fungsi pengemasan dilakukan untuk
mengurangi kerusakan telur akibat benturan, memudahkan pengangkutan,
mempermudah penyusunan, mempermudah perhitungan serta merapikan
penampilan. Fungsi pengemasan kepada pedagang grosir maupun pedagang
72

pengecer tidak berlaku, karena pedagang pengumpul masih menggunakan peti


kayu dari peternak yang berkapasitas sekitar 300 butir per peti.
Fungsi penyimpanan dilakukan adalah dengan menyetok barang di gudang
yang tidak habis terjual pada hari itu. Penyimpanan pada pedagang pengumpul
tidak berlangsung lama, karena pedagang pengumpul hanya membeli telur sesuai
dengan permintaan pasar. Pada penjualan telur ayam kampung, pengumpul
biasanya menjual telur dalam keadaan segar yang berarti putih dan kuning
telurnya belum pecah dan cair.
Pada saluran pemasaran I, pedagang pengumpul melakukan fungsi fasilitas
berupa fungsi sortasi, biaya, penanggungan resiko dan fungsi informasi pasar.
Sortasi hanya dilakukan untuk memisahkan produk yang mengalami kerusakan
akibat pengangkutan selama perjalanan dari tempat peternak tanpa disertai
grading yaitu pengelompokkan produk berdasarkan kualitasnya. Fungsi biaya
yang ditanggung oleh pedagang pengumpul adalah biaya pengangkutan atau
transportasi, sortir, retribusi, bongkar muat dan lain-lain.
Fungsi penanggungan resiko berupa kerusakan barang selama
pengangkutan diperjalanan dan resiko pembayaran yang tertunda dari pedagang
grosir. Informasi pasar diperoleh dari tempat penjualan, yakni pasar Bogor, Pasar
Parung, Pasar Anyar, Pasar Cibinong, Depok, serta dari daerah daerah Blitar
Jawa Timur sebagai sentra produksi telur ayam di Indonesia.

6.3.3. Fungsi Pemasaran oleh Pedagang Grosir
Keterlibatan pedagang grosir dalam saluran pemasaran telur ayam
kampung terdapat pada saluran pemasaran I dan II. Pedagang grosir yang terlibat
dalam rantai tataniaga ini meliputi pedagang grosir di Pasar Bogor, Pasar Anyar
dan Pasar Parung. Fungsi pemasaran yang dilakukan oleh pedagang grosir pada
saluran pemasaran I dan II meliputi fungsi pertukaran, fisik dan fasilitas.
Fungsi pertukaran berupa pembelian dari pedagang pengumpul dan
penjualan kepada pedagang pengencer I maupun pedagang pengencer II
(pengencer kecil). Fungsi pembelian ini dilakukan dengan nota penjualan kepada
pedagang pengumpul. Pembayaran dilakukan keesokan harinya apabila produk
datang kembali, sama dengan sistem yang dilakukan oleh pedagang pengumpul
73

kepada peternak. Jumlah produk yang akan dibeli kepada pedagang pengumpul
biasanya sesuai dengan permintaan pasar pada saat itu, biasanya para pedagang
grosir menelpon dulu kepada peternak maupun pedagang grosir. Fungsi
pertukaran berupa penjualan kepada pedagang pengencer I maupun pedagang
kecil dilakukan secara tunai pada saat transaksi berlangsung.
Fungsi fisik dilakukan oleh pedagang grosir berupa fungsi penyimpanan,
dan pengemasan. Fungsi penyimpanan dilakukan ketika produk dari peternak
maupun dari pedagang pengumpul tidak langsung dijual pada saat itu. Walaupun
telur masih ada atau belum terjual semua, tetapi pedagang grosir tidak melakukan
penyimpanan secara khusus misalnya didalam ruang pendingin yang berfungsi
menjaga kesegaran telur agar lebih tahan lama. Alasan lain pedagang grosir ini
karena masa kesegaran telur relatif lebih lama, serta jumlah telur yang tersisa
hanya sedikit sehingga hanya disimpan dalam suhu kamar atau ruangan tempat
penjualan.
Kegiatan sortasi, pembebanan biaya, penanggungan resiko, dan informasi
pasar merupakan bagian dari fungsi fasilitas yang dilakukan oleh pedagang grosir.
Fungsi sortasi yang dilakukan oleh pedagang grosir berupa pemisahan produk
apabila terjadi kerusakan seperti pecah ataupun retak selama dalam perjalanan.
Selain itu, kegiatan sotrasi bertujuan untuk memisahkan telur berdasarkan kondisi
telur.
Fungsi biaya dilakukan untuk memperlancar proses penjualan yang
meliputi biaya penyimpanan apabila diperlukan,biaya pengemasan berupa egg try
kalau ada konsumen ataupun pedagang pengecer yang membeli telur kurang dari
300 butir, sewa, retribusi, bongkar muat, sortir dan grading, serta biaya tenaga
kerja untuk melayani pembeli. Fungsi penanggungan resiko berupa kelebihan
produk dan kekurangan produk seperti yang diinginkan konsumen melalui
pedagang pengecer. Akan tetapi sejauh ini, permintaan dan penawaran akan telur
ayam kampung cenderung stabil. Fungsi informasi pasar tidak berlaku, karena
pada umumnya pedagang grosir menerima harga dari peternak maupun pedagang
pengumpul, apabila harga meningkat maka pedagang grosir juga akan
meningkatkan harga jual kepada pedagang pengecer.

74

6.3.4. Fungsi Pemasaran oleh Pedagang Pengecer


Pedagang pengecer terbagi atas dua yaitu pedagang pengecer I dan
pedagang pengecer II. Pedagang pengencer I adalah pedagang yang membeli dari
pedagang pengumpul maupun pedagang grosir dengan jumlah pembelian lebih
dari tiga ratus butir setiap transaksi dan melakukan fungsi sortasi yang langsung
berhubungan dengan pedagang pengecer II maupun konsumen akhir. Produk
yang dijual oleh pedagang pengecer Idiperoleh dari pedagang pengumpul yang
ditunjukkan dalam saluran II serta pedagang grosir yang terdapat pada saluran I
serta langsung peternak yang terdapat pada saluran III. Fungsi pemasaran yang
dilakukan oleh masing masing saluran adalah sama. Fungsi pemasaran meliputi
fungsi pertukaran, fisik dan fasilitas. Fungsi pertukaran meliputi pembelian dari
pedagang grosir dan pedagang pengumpul serta peternak dengan melakukan
penjualan kepada pedagang pengecer II maupun konsumen akhir. Sistem
pembelian dan penjualan dilakukan secara tunai pada saat transaksi dilakukan.
Fungsi fisik berupa penyimpanan, pengangkutan dan pengemasan
dilakukan oleh pedagang pengecer I. Fungsi penyimpanan kadang-kadang
dilakukan, apabila terjadi kelebihan produk atau produk yang tidah habis terjual
pada beberapa hari. Penyimpanan yang dilakukan tidak diperlakukan secara
khusus seperti disimpan ditempat pendingin karena jumlah produknya hanya
sedikit. Fungsi pengangkutan dilakukan oleh pedagang pengecer ketika membeli
dari peternak, maupun pedagang pengumpul. Pengemasan dilakukan sesuai
dengan volume pembelian, antara lain untuk supermarket ataupun minimarket
atau pembelian dengan jumlah 8 sampai 10 butir dikemas dalam keranjang dari
bambu ataupun kotak plastik untuk memudahkan pembelian dalam
pengangkutannya.
Fungsi fasilitas yang dilakukan oleh pedagang pengecer I meliputi fungsi
biaya, penanggungan resiko dan informasi pasar. Fungi sortasi tidak dilakukan
karena karena jumlah yang dibeli dari pedagang pengumpul, pedagang grosir,
maupun peternak tidak begitu banyak. Fungsi biaya meliputi fungsi
pengangkutan dari pedagang pengumpul, pedagang grosir maupun peternak, biaya
sewa tempat, retribusi, bongkar muat dan biaya penyusutan. Sedangkan fungsi
penaggungan resiko tidak laku dijual. Fungsi informasi pasar diperoleh dari
75

pedagang pengumpul maupun pedagang grosir, akan tetapi pada umumnya harga
telur relatif stabil, jadi pedagang penger tidak terlalu berpatokan terhadap
informasi harga.
Pedagang pengecer II merupakan pedagang yang membeli dengan
kuantitas produk yanng dibeli sedikit, yaitu tidak lebih dari 300 butir. Pedagang
pengecer II dapat memperoleh produk baik dari pedagang grosir seperti terdapat
pada saluran pemasaran I ataupun dari pedagang pengumpul seperti saluran II dan
dari peternak pada saluran III. Harga yang diperoleh oleh pedagang pengecer II
dari kedua pedagang tersebut tentu saja berbeda. Harga ditingkat pedagang
pengecer I lebih mahal dari harga yang diterimanya dari pedagang grosir. Namun,
perbedaan harga tersebut sebanding dengan biaya untuk memperolehnya.
Jauhnya jarak menuju pasar pengumpul maupun pasar grosir menjadi
pertimbangan pada pedagang pengecer II untuk lebih memilih pedagang pengecer
I sebagai sumber pembeliannya. Pada umunya pedagang pengencer II seperti
penjual jamu, warung kelontong, rumah makan, perusahaan roti, tempat pusat
kebugaran dll.
Fungsi tataniaga yang melibatkan pedagang pengecer II adalah sama
dengan pedagang pengecer I. Fungsi tataniaga tersebut meliputi fungsi
pertukaran, fisik dan fasilitas. Fungsi pertukaran berupa pembelian dan penjualan
langsung kepada konsumen. Kegiatan pembelian dan penjualan dilakukan secara
tunai saat transaksi dilakukan.
Fungsi fisik berupa fungsi penyimpanan, pengangkutan dan pengemasan
dilakukan oleh pedagang pengecer II. Fugsi penyimpanan kadang-kadang
dilakukan apabila produk tidak laku terjual. Penyimpanan yang dilakukan oleh
pedagang ini biasa saja tanpa ada perlakukan khusus karena jumlah produk hanya
sedikit. Fungsi pengangkutan dilakukan ketika membeli dari pedagang pengecer
I, akan tetapi tidak terlalu besar, karena pedagang pengumpul II membarengi
dengan membeli produk lainnya. Pengemasan dilakukan hanya menggunakan
kantong plastik untuk memudahkan pembelian dalam membawanya.
Fungsi fasilitas yang dilakukan adalah fungsi biaya, penanggungan resiko
dan fungsi informasi pasar. Biaya yang dikeluarkan berupa biaya pengangkutan
ketika melakukan pembelian dari pedagang pengecer I, biaya retribusi dan biaya
76

sewa. Pedagang pengecer II menanggung resiko tidak laku dijual, serta


memperoleh informasi pasar pedagang grosir maupun pedagang pengecer I, akan
tetapi pada umumnya harga telur relatif stabil, jadi pedagang pengecer tidak
terlalu berpatokan terhadap informasi harga.

6.4. Analisis Struktur Pasar
Analisis struktur pasar dalam penelitian ini dilakukan dengan
memperhatikan sifat produk yang dipasarkan, jumlah pembeli dan pembeli yang
terlibat, informasi pasar yang berkaitan dengan harga dan kondisi pasar serta
hambatan keluar masuk pasar. Secara umum struktur pasar tersebut dapat terlihat
pada Tabel 22.

Tabel 22. Analisis Struktur Pasar Komoditas Telur Ayam Kampung di
Kabupaten Bogor
Sifat Produk
yang
diperjualbelikan
Jumlah Lembaga
Pemasaran
Informasi Pasar
oleh Peternak
Hambatan keluar
masuk pasar
- Homogen
(tidak bisa
dipisahkan)
- Peternak ayam
kampung yang
menjadi responden
berjumlah lima orang
- Pedagang pengumpul
sebanyak lima orang
- Pedagang grosir
berjumlah 10 orang
- Pedagang grosir
berjumlah 10 orang
Umumnya peternak
mengetahui
informasi harga,
akan tetapi
tergantung
bagaimana
permintaan di pasar
dan tawar menawar
dengan lembaga
pemasaran
Peternak bebas
menjual telurnya
ke pedagang
pengumpul
ataupun pedagang
grosir. Akan
tetapi memiliki
kendala di
kapasitas
produksi dan
modal


Berdasarkan Tabel 22, struktur pasar yang dihadapi oleh masing-masing
lembaga pemasaran berbeda-beda antara lain:


77

Struktur pasar yang dihadapi oleh peternak ayam kampung di Kabupaten


Bogor mengarah kepada struktur pasar oligopoli karena peternak berjumlah lima
orang, peternak tidak dapat mempengaruhi harga serta peternak bebas untuk
keluar masuk pasar. Hal ini dicirikan dengan jumlah peternak sebagai produsen
lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah pedagang, yaitu petenak berjumlah lima
orang sedangkan jumlah pedagang sebanyak 25 orang. Produk peternak bersifat
homogen, hal ini terlihat dari keseragaman produk serta kualitas hasil peternakan.
Peternak melakukan kegiatan peternakan secara continue.
Informasi harga yang dimiliki peternak cukup baik, peternak tidak
memerlukan biaya untuk mendapatkan informasi tentang harga. Peternak
mendapatkan informasi tentang harga dari pedagang pengumpul ataupun dari
peternak lainnya. Sistem penentuan harga ditenttukan oleh pedagang berdasarkan
harga yang berlaku dipasar sehingga kedudukan peternak dalam system tataniaga
sangat lemah. Peternak tidak memiliki posisi tawar menawar yang memadai dan
hanya bertindak sebagai penerima harga (price taker).
Struktur pasar yang dihadapi oleh pedagang pengumpul di Kabupaten
Bogor adalah mengarah ke pasar oligopoli karena pedagang pengumpul berjumlah
lima orang. Hal ini dicirikan dengan jumlah pedagang pengumpul sebagai
perantara lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah pedagang lain, yaitu
pedagang pengumpul berjumlah lima orang sedangkan jumlah pedagang lainnya
sebanyak 20 orang. Produk peternak bersifat homogen, hal ini terlihat dari
keseragaman produk serta kualitas hasil peternakan.
Pada umumnya pedagang pengumpul memiliki hubungan yang erat
dengan peternak. setiap pedagang pengumpul telah memiliki peternak langganan,
meskipun demikian peternak mungkin saja menjual produk yang dihasilkannya ke
pedagang pengumpul yang bukan langganannya. Jumlah pedagang pengumpul di
Kabupaten Bogor sama dengan jumlah peternak ayam kampung yang ada di
kabupaten Bogor. Pedagang pengumpul memiliki kekuatan untuk mempengaruhi
harga yang terjadi di kabupaten Bogor terutama untuk peternakan kecil. Informasi
harga diperoleh pedagang pengumpul melalui survei pasar dan dari pedagang
lainnya.

78

Pedagang grosir mengahadapi struktur pasar yang cenderung oligopoli


murni ketika berhadapan dengan pedagang pengumpul selaku pembeli dan
oligopoli murni ketika berhadapan dengan ketika berhadapan dengan pedagang
pengecer I dan pedagang pengecer II (selaku penjual). Hal ini ditunjukkan dengan
jumlah pembeli yang lebih banyak jika dibandingkan dengan jumlah penjual.
Hambatan masuk bagi pedagang grosir cukup tinggi, karena cukup sulitnya
memperoleh izin dari pengelola pedagang grosir untuk berjualan disana.
Disamping itu, sulitnya mendapatkan kios kosong yang dapat digunakan untuk
berjualan. Namun demikian, pendatang baru masih bias masuk ke pasar grosir,
terutama apabila mempunyai modal yang cukup dan kemampuan mengakses
pasar. Pedagang grosir tidak hanya menjual telur ayam kampung, tetapi juga
menjual jenis telur lainnya seperti telur ayam ras, bebek,maupun telur puyuh. Jadi
pedagang grosir dalam tataniaga telur ayam kampung dapat dikatakan sebagai
pedagang grosir telur ayam kampung.
Struktur pasar yang dihadapi oleh pedagang pengecer adalah pasar
persaingan sempurna, karena jumlah pedagang pengecer cukup banyak , produk
yang diperjualbelikan bersifat homogen dan pedagang pengecer tidak dapat
mempengaruhi pasar sehingga bertindak sebagai price taker.
Sistem pembayaran harga yang berlaku di pasar pengecer adalah tunai.
Harga telur ayam kampung ditentukan berdasarkan harga yang berlaku dipasar,
tetapi pembeli dapat melakukan kegiatan tawar-menawar dengan pedagang
pengecer. Informasi harga yang didapatkan pedagang pengecer melalui survei
pasar ataupun pedagang lainnya. Selain itu pedagang pengecer dapat dengan dapat
dengan mudah keluar masuk pasar, karena tidak terdapat hambatan bagi pedagang
pengecer lain untuk memasuki pasar. Pedagang pengecer tidak hanya menjual
telur ayam kampung, tetapi juga menjual telur lainnya seperti telur bebek, telur
puyuh, telur ayam ras dan lainnya.

6.5. Struktur Pasar

Struktur pasar merupakan suatu dimensi yang menjelaskan pengambilan
keputusan oleh perusahaan maupun industri, jumlah perusahaan suatu pasar,
distribusi perusahaan menurut berbagai ukuran (pangsa pasar yang terkonsentrasi
79

atau menyebar), deskripsi produk dan syarat-syarat keluar masuk pasar. Struktur
pasar sangat diperlukan dan paling banyak digunakan dalam menganalisis sisem
pemasaran. Hal ini disebabkan karena melalui analisis pemasaran secara otomatis
didalamnya akan menjelaskan bagaimana perilaku partisipan yang terlibat dan
akhinya akan menunjukkan keragaan yang terjadi akibat dari struktur dan perilaku
pasar yang ada dalam sistem pemasaran.
Struktur pasar yang terjadi pada setiap lembaga-lembaga pemasaran yang
terlibat dalam proses pemasaran telur ayam kampung di Kabupaten Bogor ber
beda-beda. Struktur pasar yang terjadi pada daerah penelitian dapat digunakan
dengan menganalisis struktur pasar, analisis struktur pasar dilakukan berdasarkan
jumlah pembeli dan penjual atau jumlah lembaga pemasaran yang terlibat,
keadaan produk, dan hambatan keluar masuk pasar serta informasi pasar berupa
biaya, harga dan kondisi pasar. Struktur dapat menentukan tingkat efisiensi suatu
saluran pemasaran.

6.5.1. Keadaan Produk
Keadaan produk menjelaskan tentang bentuk fisik poduk itu sendiri secara
keseluruhan. Telur ayam kampung merupakan produk yang dihasilkan dari
daerah penelitian ini di Kabupaten Bogor, telur ayam kampung mengalami proses
sortasi dan grading yang dilakukan oleh pedagang grosir dan pedagang pengecer.
Proses penyortiran dan grading dilakukan oleh grosir dan pedagang
pengecer untuk mengelompokkan telur ayam kampung sesuai dengan yang
diinginkan konsumen dengan cara memisahkan telur yang baik dan yang rusak.
Pengelompokkan telur berdasarkan bobot, kualitas, bentuk, kemulusan cangkang,
warna cangkang.
Terdapat tiga grade kualitas telur ayam kampung berdasarkan kualitasnya
antara lain grade A, grade B dan grade C. Perlakuan sortasi dan grading pada
telur ayam kampung dilakukan secara manual. Telur ayam kampung dengan
grade A dengan bentuk cangkang bersih, bobotnya sedang atau seukuran 35 gram
yang biasanya dijual ke perumahan-perumahan, tempat pusat kebugaran (fitness),
minimarket, pasar swalayan dan pasar modern. Grade B dengan bentuk yang
relatif lebih kecil dibandingkan dengan grade A, warna yang kurang seragam,
80

cangkang yang kurang bersih, pada umumnya dijual ke pasar tradisional,


konsumen rumah tangga, perusahaan roti, rumah makan, kios dan warung-
warung kelontong. Sedangkan grade C dengan kualitas telur yang sudah retak,
pecah biasanya di jual ke konsumen rumah tangga, perusahaan roti dan rumah
makan. Pada waktu panen biasanya telur ayam kampung di pungut oleh anak
kandang dan langsung dimasukkan ke dalam peti kayu agar tidak mudah pecah.

6.5.2. Hambatan Keluar Masuk Pasar
Setiap lembaga pemasaran di Kabupaten Bogor ini memiliki hambatan
yang berbeda-beda, umumnya hambatan keluar masuk pasar dalam proses
pemasaran telur ayam kampung sangat dipengaruhi oleh besar kecilnya modal
yang dimiliki oleh lembaga pemasaran yang terlibat. Selain karena dipengaruhi
adanya modal, hambatan keluar masuk pasar juga dipengaruhi hubungan
kepercayaan di antara pelaku pasar, harga serta adanya pengaruh karena kualitas
dari telur ayam kampung tersebut.
Pada umumnya lembaga pemasaran yang terlibat pada sistem pemasaran
telur ayam kampung di lokasi penelitian memiliki pengalaman yang cukup lama
dengan modal yang relatif besar serta memiliki hubungan kepercayaan yang baik
denga lembaga pemasaran yang lainnya. Selain itu, hambatan yang lain adalah
kualitas telur yang diinginkan konsumen, harga yang kurang konstant karena
tergantung pada harga yang berlaku di Jawa Timur dan Jawa Tengah sebagai
pusat peternakan di Indonesia. Persaingan pasar juga menjadi hambatan yang
terjadi diantara lembaga pemasaran yang lainnya yang semakin ketat walaupun
suatu lembaga pemasaran tersebut sudah mempunyai langganan yang tetap.

6.5.3. Informasi Pasar
Informasi pasar dalam kegiatan proses pemasaran berupa tingkat
pengetahuan dari pelaku pasar atau partisipan dalam pemasaran yang memberikan
informasi pasar berupa biaya, harga, dan kondisi pasar antar partisipan. Informasi
pasar pada proses pemasaran dalam hal biaya yang dibutuhkan pada lokasi
penelitian diperoleh dari lembaga-lembaga pemasaran, sesama peternak, serta
pihak-pihak yang berkaitan dengan kegiatan pemasaran.
81

Informasi mengenai harga terjadi secara timbal balik diantara partisipan


pemasaran. Kondisi pasar yang terjadi diantara partisipan terbentuk dengan
adanya hubungan kepercayaan sehingga informasi mengenai keadaan pasar dapat
diperoleh dengan mudah.

6.6. Analisis Perilaku Pasar
Perilaku pasar merupakan tingkah laku lembaga pemasaran dalam struktur
pasar tertentu. Analisis perilaku pasar dapat diketahui dengan mengamati praktek
penjualan dan pembelian yang dilakukan oleh masing-masing lembaga
pemasaran, sistem penentuan harga dan pembayaran serta kerjasama antara
lembaga pemasaran.

6.6.1. Praktek Pembelian dan Penjualan
Peternak ayam di Kabupaten Bogor yang menjadi responden dalam
penelitian ini menjual seluruh hasil panennya kepada pedagang pengumpul
(tengkulak), pedagang grosir, pedagang pengecer maupun langsung ke konsumen
akhir. Panen telur dilakukan setiap hari yaitu pada pagi dan sore hari. Produksi
rata-rata telur per hari dengan jumlah 5000 ekor ayam adalah 2000 butir per hari.
Sistem penjualan yang dilakukan oleh peternak adalah dengan tunai maupun
dengan menggunakan nota penjualan. Untuk peternakan dengan skala lebih dari
20.000 ekor ayam, pedagang pengumpul mengambil sendiri hasil panen di
kandang peternak sehingga peternak hanya menaggung biaya panen dan biaya
pengangkutan ditanggung oleh pedagang pengumpul. Peternak hanya
menyalurkan hasil panennya kepada pedagang pengumpul, karena peternak
merasa lebih efisien waktu, resiko yang ditanggung lebih rendah seperti resiko
tidak laku di jual dan resiko pembebanan biaya angkut.
Jika pedagang perantara (pedagang pengumpul desa, pedagang grosir dan
pedagang pengecer) membutuhkan telur dalam jumlah tertentu, umumnya mereka
melakukan pertemuan langsung dan hubungan komunikasi lewat telepon dengan
peternak maupun diantara pedagang perantara yang lain untuk menanyakan
keberadaan telur. Selain itu, untuk mengetahui perubahan harga telur dan kondisi
harga di pasar-pasar lain, peternak mempunyai patokan harga telur yang berlaku
82

di Blitar ( Jawa Timur) yang merupakan sentra peternakan ayam kampung di


Indonesia. Sedangkan untuk berhubungan dengan pedagang perantara melakukan
hubungan komunikasi lewat telepon maupun pertemuan secara langsung,
sehingga informasi pasar dapat diperoleh dengan cepat dan mudah.
Pada umumnya peternak responden melakukan penjualan hasil panen telur
kepada pedagang perantara dalam bentuk borongan. Secara umum sistem jual
beli yang berlaku adalah bebas dan langganan. Peternak bebas menjual telur
kepada pedagang tujuannya, asalkan terjadi kesepakatan harga yang
menguntungkan peternak. Namun ada beberapa peternak yang menjual hasil
panennya kepada pedagang pengumpul desa (tengkulak), karena peternak sudah
berlangganan dan terjadi kontinuitas pembelian telur.
Tahap selanjutnya pedagang pengumpul desa (tengkulak) menjual telur
kepada pedagang grosir maupun ke pedagang pengecer. Dalam proses jual beli
tersebut dilakukan secara bebas maupun langganan tanpa ada keterikatan apapun.
Kesepakatan harga yang terbentuk merupakan hasil tawar menawar antara kedua
belah pihak yang bersangkutan.
Sistem yang dilakukan oleh pedagang pengumpul sama dengan sistem
penjualan yang dilakukan oleh peternak. Pedagang pengumpul mendatangi
peternakan dan mengambil hasil panen yang telah dilakukan oleh peternak.
Selain dari peternak telur ayam kampung yang ada di Kabupaten Bogor, para
pedagang pengumpul juga melakukan pembelian ke peternak lainnya di luar
Kabupaten Bogor seperti Depok, Bekasi, Tangerang dan lainnya.
Pedagang grosir responden melakukan pembelian telur dari peternak
maupun pedagang pengumpul dengan transaksi rata-rata 10.000 sampai 12.000
butir telur per hari. Sistem pembelian dari peternak maupun pedagang pengumpul
dilakukan secara tunai maupun dengan nota penjualan. Pembayaran dengan nota
penjualan yakni pembayaran dilakukan tidak saat transaksi, tetapi pada saat
transaksi berikutnya.
Pada pedagang grosir, penjualan telur dilakukan kepada pedagang
pengecer dalam bentuk telur yang sudah disortir dan di grading terlebih dahulu.
Sortasi yaitu proses pembersihan dan pemisahan antara telur yang bagus dan yang
kurang bagus akibat proses distribusi. Sedangkan grading yaitu proses pemasaran
83

telur berdasarkan ukurannya (kecil, sedang dan besar). Dampak dari proses
sortasi dan grading tersebut adalah kepada harga jual telur, sehingga berdasarkan
ukurannya (kecil, sedang dan besar) harga telur juga akan berbeda-beda.
Penjualan telur dilakukan tanpa ada ikatan kontrak jual beli antara kedua belah
pihak, sama seperti pada umunya, jual beli tersebut merupakan sistem jual beli
secara bebas maupun berlangganan.
Pedagang pengecer terbagi menjadi dua kelompok berdasarkan praktek
pembeliannya, yaitu pedagang pengecer yang langsung membeli telur dari
produsen (peternak) dan pedagang pengecer yang membeli telur dari pedagang
pengumpul desa (tengkulak) mapun pedagang grosir. Kedua kelompok pedagang
pengencer ini sama dalam fungsinya, yaitu sebagai pedagang yang berhubungan
langsung dengan konsumen akhir. Namun dari segi biaya berbeda, karena
pedagang pengecer yang langsung melakukan pembelian telur kepada produsen
(peternak) lebih banyak mengeluarkan biaya pemasaran.
Pada umumnya proses penjualan telur yang dilakukan oleh kedua
kelompok pedagang pengencer kepada konsumen akhir yaitu secara langsung
dengan sistem jual beli secara bebas. Hal tersebut berdasarkan proses keputusan
pembelian yang dilakukan oleh konsumen yang biasanya membeli telur ayam
kampung dengan berbagai macam alasan, misalnya : untuk konsumsi sehari-hari,
membuat kue, obat, jamu, dan sebagainya.
Pembelian yang dilakukan pedagang pengecer adalah secara tunai baik
kepada peternak, pedagang pengumpul maupun ke pedagang grosir dengan cara
mendatangi langsung sumber pembelian. Telur yang dibeli oleh pedagang
pengecer I dari pedagang grosir rata-rata lebih dari 500 butir, sedangkan pedagang
pengecer II (pedagang kecil ) membeli dalam jumlah kurang dari 100 butir.
Peranan pedagang pengecer ini adalah sebagai perpanjangan saluran pemasaran
untuk disalurkan langsung kepada konsumen, karena keberadaannya memberikan
kemudahan kepada konsumen untuk memperoleh telur ayam kampung. Penjualan
pedagang pengecer kepada konsumen adalah secara tunai saat transaksi
berlangsung.


84

6.6.2. Sistem Penentuan Harga dan Pembayaran Harga


Harga merupakan pertemuan antara permintaan dan penawaran.
Terbentuknya harga akibat adanya tawar menawar antara pembeli dan penjual.
Penjual menawarkan harga tertentu terhadap komoditasnya sesuai dengan
pertimbangan-pertimbangan yang telah dilakukan oleh penjual dan pembeli
menawarkan harga tertentu untuk komoditi bersangkutan sesuai dengan
pertimbangan yang diambil pembeli. Bila terjadi kesesuain harga yang
ditawarkan penjual dengan harga yang diminta oleh pembeli, maka pada saat
itulah terjadi harga pasar dan kemudian baru terjadi transaksi.
Sistem penentuan harga yang terjadi pada proses pemasaran telur ayam
kampung di Kabupaten Bogor berdasarkan dengan dua cara yaitu dengan
menggunakan sistem penetapan berdasarkan kondisi harga pasar yaitu disesuaikan
dengan harga pasar yang sedang berlaku dengan melihat kualitas dan permintaan
yang diinginkan dari konsumen dan penentuan harga yang ditentukan oleh
kesepakatan sesama peternak serta informasi harga yang berlaku di Jawa Tengah
dan Jawa Timur selaku pusat peternakan di Indonesia.
Sistem penentuan harga telur ayam kampung ditingkat peternak dengan
pedagang pengumpul desa (tengkulak), pedagang besar (bandar), dan pedagang
pengecer dilakukan dengan menentukan harga berdasarkan dengan harga yang
telah berlaku di pasar, jumlah permintaan, serta harga yang ditentukan oleh
pedagang pengumpul desa (tengkulak). Peternak tidak memiliki kekuatan dalam
menentukan harga karena posisi tawar menawar di tingkat peternak sangat rendah
sehingga peternak hanya bertindak sebagai penerima harga (price taker). Harga
yang diterima peternak lebih kecil apabila dibandingkan dengan harga di tingkat
pedagang pengumpul desa (tengkulak), pedagang besar (bandar), dan pedagang
pengecer desa. Selain itu terjadinya kenaikan bahan baku serta fluktuasi harga
jual peternak tidak bisa memegang peranan dalam menentukan harga, karena
harga telur ayam kampung tergolong lebih konstant dibandingkan telur lain
maupun komoditas lainnya.
Pedagang pengumpul desa (tengkulak) akan menentukan harga
berdasarkan harga yang berlaku ditingkat pedagang pengumpul desa lainnya atau
berdasarkan harga pasaran dan bandar lainnya. Pedagang pengumpul desa tidak
85

memiliki kebebasan dalam menentukan harga, karena harga terbentuk berdasarkan


kondisi harga pasar yang berlaku. Selain itu pedagang pengumpul desa juga tidak
dapat menentukan harga, karena biasanya harga ditentukan oleh bandar. Pada
umumnya harga yang diterima peternak jauh lebih kecil karena panjang saluran
pemasaran serta keterbatasan informasi yang dimiliki oleh peternak di Kabupaten
Bogor.
Sistem penentuan harga di tingkat pedagang besar (bandar) kepada
pengecer kadang dilakukan dengan cara tawar menawar sesuai dengan harga pasar
yang terjadi berdasarkan permintaan yang konsumen inginkan. Sistem penentuan
harga dengan cara tawar menawar juga jarang dilakukan karena pasar sudah
menentukan harga telur ayam kampung berdasarkan grade yang sudah ditentukan.
Pedagang grosir selain mengetahui harga telur ayam kampung dari pasar juga
dapat mengetahui harga telur ayam kampung dari pengencer yang kemudian
diketahui oleh peternak.
Sistem pembayaran harga yang dilakukan oleh lembaga-lembaga
pemasaran yang terlibat dalam pemasaran telur dapat berupa pembayaran secara
tunai dan kredit (bon bergulir). Sistem pembayaran tersebut tergantung pada
tingkat kepercayaan dan perjanjian antara kedua belah pihak. Sistem pembayaran
secara tunai dengan harga yang telah disepakati bersama, sedangkan sistem
pembayaran kredit yaitu sistem pembayaran dengan cara pembayaran dengan
cicilan dari sejumlah harga yang telah disepakati, dan sebagian dari sisa harga
yang dibayarkan kemudian sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati
bersama ataupun dengan bergulir bon yaitu dengan cara bon yang lalu dibayarkan
pada pengambilan barang saat ini.

6.6.3. Kerjasama Antara Lembaga Pemasaran
Kerjasama diantara lembaga pemasaran sangat penting dan diperlukan
dalam memperlancar proses pemasaran. Bentuk kerjasama yag dilakukan diantara
lembaga-lembaga pemasaran yaitu dalam hal sarana produksi dan perdagangan.
Hubungan kerjasama yang terjadi diantara lembaga pemasaran pada umumnya
sudah berlangsung lama, sehingga terjalin suatu hubungan yang baik serta rasa
saling percaya.
86

Bentuk kerjasama yang terjadi diantara lembaga-lembaga pemasaran


misalnya pada saat menjalankan usahaternak ayam, biasanya beberapa peternak
saling bekerjasama dalam hal penggunaan input (sarana produksi) seperti mesin
penetas dan sebagainya. Sedangkan bentuk kerjasama diantara pedagang dengan
pedagang lain yaitu dalam proses jual beli dan pemasaran telur.

6.7. Keragaan Pasar
6.7.1 Marjin Pemasaran
Marjin pemasaran merupakan perbedaan harga atau selisih harga yang
dibayarkan konsumen akhir dengan harga yang di terima produsen. Total marjin
pemasaran merupakan penjumlahan seluruh biaya pemasaran dengan keuntungan
yang diambil oleh lembaga pemasaran. Marjin pemasaran terdiri dari dua
komponen yaitu biaya pemasaran dan keuntungan pemasaran. Biaya pemasaran
telur ayam kampung terdiri dari biaya transportasi, biaya pengemasan, biaya
restribusi, biaya sortasi, tenaga kerja, biaya sewa tempat serta biaya pungutan liar.
Pada saluran pemasaran satu, biaya pemasaran yang dikeluarkan peternak
terdiri dari biaya transportasi Rp 160.000/ hari, biaya pengemasan peti kayu Rp.
200.000. Biaya pemasaran yang dikeluarkan pedagang pengumpul antara lain
biaya transportasi Rp 360.000/ hai/ sekali angkut, biaya retribusi Rp 10.000, biaya
komisi Rp.10.000, biaya pengutan liar Rp.10.000/hari serta biaya tenaga kerja
Rp.35.000. Biaya pemasaran oleh pedagang grosir antara lain biaya pengemasan
Rp.100.000, biaya retribusi Rp. 10.000, biaya sortasi Rp. 20.000, biaya bongkar
muat Rp.10.000 dan biaya sewa tempar Rp.20.000/hari. Adapun biaya-biaya
yang dikeluarkan pedagang pengecer antara lain biaya retribusi Rp.5.000, biaya
sewa tempat Rp. 20.000 dan biaya pengemasan Rp. 20.000 (Lampiran I). Biaya
pemasaran terbesar ditanggung oleh pedagang pengumpul yaitu sebesar
Rp.425.000/hari karena pedagang pengumpul pada umumnya membeli telur
kepada peternak-peternak kecil yang lokasinya tersebar dimana-mana, sedangkan
biaya pemasaran terkecil terdapat pada pedagang pengecer yaitu Rp.45.000/hari
hal ini dikarenakan pedagang pengecer tidak hanya menjual telur ayam kampung
akan tetapi ada telur jenis lainnya.
87

Pada saluran pemasaran kedua, biaya pemasaran yang dikeluarkan


peternak antara lain biaya transportasi Rp. 160.000 dan biaya pengemasan Rp
200.000/ hari/8500 butir telur. Biaya pemasaran oleh pedagang grosir antara lain
biaya pengemasan Rp 100.000, biaya retribusi Rp 10.000, biaya sortasi Rp
20.000, biaya bongkar muat Rp.10.000 dan biaya sewa tempat Rp. 20.000/ hari.
Sedangkan biaya pemasaran untuk pedagang pengecer antara lain biaya retribusi
Rp 5.000, biaya sewa tempat Rp.20.000, biaya pengemasan Rp.20.000 (Lampiran
II). Biaya pemasaran terbanyak ditanggung oleh peternak yaitu Rp 360.000
dikarenakan peternak menanggung biaya transportasi kepada pedagang grosir
serta adanya pengemasan berupa peti kayu yang ditanggung peternak.
Pada saluran pemasaran ketiga, biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh
peternak antara lain biaya trasnportasi Rp 100.000/ sekali angkut, biaya packaging
(pengemasan) yang terbuat dari anyaman bambu Rp75.000 serta biaya tenaga
kerja Rp. 25.000. Biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh pedagang pengecer
antara lain biaya sewa tempat Rp. 20.000/ hari, biaya penyusutan atau biaya
resiko apabila produk tidak habis terjual. Saluran ini target pasarnya adalah pasar
modern seperti swalayan untuk itu diperlukan kesegaran produk. Sebaran marjin
pemasaran pada setiap saluran pemasaran telur ayam kampung di Kabupaten
Bogor dapat dilihat pada Lampiran5.
Harga jual peternak untuk komoditas telur ayam kampung di Kabupaten
Bogor berbeda-beda untuk setiap jalur. Hal tersebut karena setiap jalur
mempunyai daerah dan target pemasaran yang berbeda-beda sehingga pedagang
pun membeli dengan harga yang berbeda pula sesuai dengan tingkat keuntungan
yang diharapkan. Namun semakin besar jumlah telur yang dibeli oleh pedagang,
biasanya semakin murah harga belinya sebab pedagang akan berusaha mencari
potongan harga.
Saluran pemasaran I adalah saluran terpanjang yaitu mulai dari peternak,
pedagang pengumpul, pedagang grosir, pedagang pengecer. Di dalam saluran
tersebut, lembaga yang mengeluarkan biaya pemasaran paling banyak adalah
pedagang pengecer yaitu sebanyak Rp. 150 per butir karena jumlah telur yang
dijual lebih sedikit dibandingkan dengan lembaga pemasaran lainnya, adanya
penyewaan tempat dan penambahan kemasan untuk untuk menambah nilai jual
88

kepada konsumen akhir. Walaupun demikian pedagang pengecer masih tetap


untung yaitu sebesar Rp. 150 per butir. Lembaga yang paling sedikit
mengeluarkan biaya pemasaran adalah pedagang pedagang pengumpul. Dengan
biaya Rp.50 per butir, pedagang pengumpul memperoleh keutungan Rp. 150 per
butir. Hal ini terjadi karena pedagang pengumpul membeli dan menjual
produknya dalam jumlah banyak sehingga biaya pemasarannya semakin kecil,
hanya saja pedagang pengumpul harus mempunyai modal yang besar dan jaringan
pemasaran yang jelas. Lembaga pemasaran yang paling diuntungkan pada saluran
ini adalah pedagang pengumpul dan pedagang pengecer yaitu memperoleh
keuntungan sama yaitu Rp. 150 per butir. Pada umumnya semua lembaga
pemasaran pada saluran I memperoleh keuntungan dalam memasarkan telur ayam
kampung.
Saluran pemasaran II, dimana peternak langsung menjual produknya
kepada pedagang grosir lalu disalurkan ke pedagang pengecer. Lembaga
pemasaran yang mengeluarkan biaya pemasaran terbesar adalah pedagang
pengecer yaitu Rp.150 per butir karena pedagang pengecer pada saluran ini
mengeluarkan biaya sewa tempat dan pengemasan, sedangkan keuntungan yang
diperoleh adalah Rp. 200 per butir. Lembaga pemasaran yang paling sedikit
mengeluarkan biaya pemasaran adalah pedagang grosir yaitu Rp. 64 per butir
dengan keuntungan Rp. 236 per butir. Lembaga pemasaran yang paling
diuntungkan pada saluran II adalah pedagang grosir karena telur langsung
diantarkan oleh peternak jadi pedagang grosir tidak mengeluarkan biaya
transportasi. Selain itu pedagang grosir tidak merubah bentuk apapun hanya saja
kemasan dalam bentuk peti sebagian diganti menjadi kemasan egg try tergantung
seberapa besar jumlah telur yang dijual.
Saluran pemasaran III merupakan saluran pemasaran terpendek pada
pemasaran telur ayam kampung. Biaya pemasaran yang paling besar ditanggung
oleh pedagang pengecer yaitu Rp.250 per butir kaena adanya penambahan
kemasan berupa anyaman bambu agar telur terlihat lebih menarik. Sedangkan
peternak mengeluarkan biaya pemasaran Rp. 125 per butir. Adapun keuntungan
pemasaran yang diterima pedagang pengecer pada saluran ini adalah Rp.350 per
89

butir karena pedagang pengecer pada saluran ini lebih mengorientasikan


pemasaran di minimarket maupun supermarket.
Marjin pemasaran terbesar terdapat pada jalur I sebesar Rp 700 hal ini
karena jalur I merupakan rantai pemasaran terpanjang dari kesemua jalur
distribusi yang ada serta konsumen akhirnya bukan hanya penduduk Kabupaten
Bogor saja, sehingga pedagang menjual komoditinya dengan harga yang cukup
tinggi. Pemasaran telur di Jakarta di anggap potensial karena potensi pasarnya
yang sangat besar serta harga jual yang lebih baik. Marjin pemasaran terkecil
terdapat pada saluran pemasaran III yaitu Rp.600. Hal ini disebabkan daerah
tujuan pemasaran hanya dikhususkan untuk supermarket maupun minimarket di
kawasan Kabupaten Bogor dan Jakarta. Pedagang menjual dengan marjin yang
cukup rendah sesuai dengan biaya yang dikeluarkan, jumlah produk yang sedikit,
serta selalu menjaga kualitas jadi besarnya keutungan tidak terlihat. Pada saluran
pemasaran I, II dan III besarnya marjin pemasaran ditentukan oleh jarak distribusi
dan panjang pendeknya rantai pemasaran.
Pada ketiga jalur pemasaran yang ada di Kabupaten Bogor biaya terbesar
ditanggung oleh jalur pemasaran III yaitu Rp. 375. Hal ini karena jarak distribusi
yang cukup jauh walaupun rantai pemasarannya cukup pendek tetapi telur pada
saluran ini adanya penambahan kemasan yang lebih baik, sewa tempat yang lebih
bagus serta biaya tenaga kerja. Sementara biaya terkecil terdapat pada jalur
pemasaran II yaitu sebesar Rp. 214, karena pada jalur ini jarak distribusinya
cukup dekat dengan lokasi penelitian serta rantai pemasarannya yang cukup
pendek. Sementara biaya yang ditanggung oleh jalur pemasaran I sebesar Rp. 294
merupakan rantai pemasaran yang paling panjang.
Keuntungan pemasaran terbesar terdapat pada jalur pemasaran I dan II
yaitu sebesar Rp. 436 karena merupakan rantai pemasaran terpanjang serta
konsumen akhirnya merupakan bukan hanya penduduk lokal saja sehingga
pedagang menjual komoditinya dengan harga yang cukup tinggi. Keuntungan
terkecil terdapat pada jalur pemasaran III yaitu sebesar Rp. 350, hal ini karena
jumlah komoditas yang disalurkan pada jalur ini hanya sedikit, walaupun harga
jual yang diberikan kepada konsumen cukup tinggi, selain itu pada saluran ini
90

telur di jual bersamaan dengan komoditas lainnya sehingga daya serap pasarnya
relatif lebih kecil.
Jika ditinjau dari jumlah marjin, biaya dan keuntungan maka saluran
pemasaran II merupakan saluran pemasaran yang lebih efisien, hal ini dikarenakan
marjin pemasarannya yang lebih kecil, biaya pemasaran yang cukup kecil serta
keuntungan yang cukup besar jika dibandingkan dengan saluran pemasaran I dan
III. Walaupun pada saluran pemasaran III jumlah marjinnya paling kecil akan
tetapi biaya dan total keuntungan yang dihasilkan lebih kecil dibandingkan
dengan saluran pemasaran II. Dari sisi volume penjualan saluran pemasaran II
sudah efisien karena bisa menjual sebanyak 2.500 butir telur per hari kepada
pedagang pengencer atau sekitar 20,8 persen dari total keseluruhan. Sedangkan
pada saluran pemasaran III mampu menjual sebanyak 100 butir telur per harinya
atau sekitar 5 persen dari total keseluruhan. Dilihat dari volume penjualan maka
yang paling efisien adalah saluran pemasaran I, karena mampu menjual sebanyak
8500 butir telur perharinya atau sekitar 70,83 persen dari total keseluruhan ke
beberapa pedagang grosir di Kabupaten Bogor maupun di Jakarta dan sekitarnya.

6.7.2. Farmers Share
Farmers share merupakan perbandingan antara harga yang diterima oleh
peternak dengan harga yang dibayarkan oleh konsumen, dan pada umumnya
dinyatakan dalam persentase. Farmers share berhubungan terbalik dengan
marjin pemasaran, artinya semakin tinggi marjin pemasaran maka akan semakin
lebih rendah farmers share nya. Besarnya bagian yang diterima peternak telur
ayam kampung dapat dilihat pada Tabel.

Tabel 23. Analisis Farmers Share pada Saluran Pemasaran Telur Ayam
Kampung di Kabupaten Bogor Tahun 2009
Saluran Pemasaran

Harga di Tingkat
Peternak (Rp/Butir)
Harga di Tingkat
Konsumen
(Rp/Butir)
Farmers Share
(%)
I 1100 1800 61,11
II 1150 1800 63,89
III 1400 2000 70,00


91

Farmers share tertinggi terdapat pada saluran pemasaran tiga yaitu


sebesar 70 persen, artinya produsen (peternak) menerima harga 70 persen dari
harga yang dibayarkan konsumen. Selain itu saluran pemasaran tiga memperoleh
total marjin pemasaran terkecil. Saluran pemasaran dua adalah saluran yang
memberikan bagian harga untuk peternak sebesar 63,89 persen dari harga yang
dibayarkan konsumen. Sedangkan saluran pemasaran satu memberikan bagian
harga untuk peternak dengan selisih harga yang tidak jauh berbeda. Pada
umumnya harga yang diterima peternak pada analisis pemasaran telur ayam
kampung cukup tinggi. Jika dinilai dari total marjin pemasaran dan farmers
share maka saluran dua merupakan saluran yang paling efisien dengan total
keuntungan sama dengan saluran satu yaitu dengan jumlah 24,22 persen.

6.7.3. Rasio Keuntungan dan Biaya
Biaya pemasaran adalah biaya yang dikeluarkan oleh lembaga pemasaran
dalam menyalurkan telur ayam kampung dari peternak ke konsumen akhir yang
dinyatakan dalam rupiah per butir. Sedangkan keuntungan lembaga pemasaran
merupakan selisih antara marjin pemasaran dengan biaya yang dikeluarkan selama
proses pemasaran. Analisis keuangan per biaya dapat digunakan untuk
mengetahui apakah kegiatan pemasaran yang dilakukan memberikan keuntungan
kepada pelaku pemasaran. Jika nilai /C lebih dari satu (/C > 1) maka kegiatan
pemasaran tersebut menguntungkan,sebaliknya jika nilai /C kurang dari satu
maka (/C <1) maka kegiatan tersebut tidak memberikan keuntungan
Pada saluran I, total biaya yang dikeluarkan adalah sebesar Rp. 264 per
butir. Biaya terbesar ditanggung oleh pedagang pengencer yaitu sebesar Rp. 150
per butir dan biaya pemasaran terendah ditanggung oleh peternak yaitu Rp. 30 per
butir. Keuntungan terbesar diperoleh oleh pedagang pengumpul dan pedagang
pengencer sebesar Rp. 150 per butir dan keuntungan terkecil diperoleh pedagang
grosir yaitu sebesar Rp. 136 per butir.
Pada saluran pemasaran II, total biaya yang dikeluarkan adalah sebesar
Rp. 214 per butir. Biaya pemasaran terbesar ditanggung oleh pedagang pengecer
yaitu Rp. 150 per butir dan biaya pemasaran terendah ditanggung oleh peternak
yaitu Rp.30 per butir. Keuntungan terbesar diperoleh pedagang grosir sebesar Rp.
92

236 per butir dan keuntungan terkecil diperoleh oleh pedagang pengecer yaitu
sebesar Rp.200 per butir.
Pada saluran pemasaran III, total biaya yang dikeluarkan adalah sebesar
Rp. 259 per butir. Biaya pemasaran terbesar ditanggung oleh pedagang pengecer
yaitu Rp. 250 per butir serta keuntungan terbesar pun juga di peroleh oleh
pedagang pengecer yaitu sebesar Rp. 350 per butir.
Untuk mengetahui lembaga manakah yang paling besar meraih
keuntungan dapat dilihat melalui rasio keuntungan terhadap biaya. Rasio ini
menunjukkan besar keuntungan yang diperoleh terhadap biaya pemasaran yang
dikeluarkan oleh masing-masing lembaga pemasaran.
Berdasarkan Tabel 23. total /C pada setiap saluran pemasaran telur ayam
kampung memiliki nilai lebih besar dari satu, hal ini menunjukkan bahwa
kegiatan pemasaran yang dilakukan oleh lembaga pada masing-masing saluran
sudah memberikan keuntungan. Nilai /C tertinggi terdapat pada saluran
pemasaran dua yaitu sebesar 7,27, artinya jika lembaga pemasaran pada saluran
pemasaran dua mengeluarkan biaya sebesar Rp. 1/ butir telur maka keuntungan
yang diperoleh sebesar Rp.7,27/ butir. Rasio keuntungan biaya terbesar pada
saluran dua diperoleh oleh pedagang grosir sebesar 3,69 yaitu dengan biaya Rp.
1/butir maka keuntungan yang diperoleh sebesar Rp.3,69 / butir. Hal ini
dikarenakan jumlah komoditas yang dipasarkan relatif banyak dengan harga beli
dari konsumen lebih rendah, tidak ada perlakukan khusus yang dilakukan
pedagang grosir dalam rangka menambah nilai guna telur ayam kampung.















93

Tabel 24. Analisis Rasio Keuntungan terhadap Biaya pada Lembaga Pemasaran
Telur Ayam Kampung di Kabupaten Bogor Tahun 2009
Lembaga Pemasaran
Keuntungan
(Rp/Butir)
Biaya (Rp/Butir) /C
Saluran I
Peternak 1.070 - -
Ped. Pengumpul 150 50 3,0
Ped.Grosir 136 64 2,12
Ped. Pengecer 150 150 1,0
Total 1.506 264 5,70
Saluran II
Peternak 1.120 - -
Ped. Grosir 236 64 3,69
Ped. Pengecer 200 150 1,33
Total 1.556 214 7,27
Saluran III
Peternak 1.275 - -
Ped. Pengecer 350 250 1,4
Total 1.625 259 6,27

6.7. Efisiensi Pemasaran Telur Ayam Kampung
Pemasaran yang efisien merupakan tujuan akhir yang ingin dicapai dalam
suatu sistem pemasaran. Efisiensi pemasaran berarti memaksimisasi penggunaan
input output, berupa perubahan yang mengurangi kepuasan konsumen dengan
output barang dan jasa. Para pelaku pemasaran suatu komoditi harus mengetahui
keragaan pasar yang akan dihadapinya sehingga dapat diketahui apakah sistem
pemasaran yang dilakukan sudah efisien atau tidak. Efisiensi pemasaran biasanya
dibagi menjadi dua kategori yaitu efisiensi operasional (teknologi) dan efisiensi
harga (ekonomi).
Efisiensi operasional meliputi efisiensi dalam pengolahan, pengemasan,
pengangkutan, dan fungsi lain dari sistem pemasaran. Dengan adanya efisiensi
operasional tersebut, biaya akan lebih rendah dan output dari barang dan jasa
94

tidak berubah atau bahkan meningkat kualitasnya. Efisiensi harga meliputi


kegiatan pembelian, penjualan, dan aspek harga. Untuk mencapai efisiensi harga
harus memperhatikan jumlah produsen yang ada di pasar, kemampuan dari
produsen baru untuk memasuki pasar dan kemungkinan terjadinya kolusi antar
produsen. Analisis yang dapat digunakan untuk mengetahui efisiensi operasional
terdiri dari analisis marjin pemasaran, farmers share dan rasio keutungan biaya.
Berdasarkan analisis marjin pemasaran saluran pemasaran telur ayam
kampung yang paling efisien adalah saluran pemasaran dua, pada saluran ini
peternak mendapatkan bagian terbesar yang dianalisis dengan farmers share,
sedangkan rasio keuntungan terhadap biaya juga menunjukkan saluran pemasaran
dua telah memberikan keuntungan pada setiap lembaga yang terlibat dibanding
saluran pemasaran lainnya.
Potensi pasar pada saluran pemasaran dua terbuka luas bagi setiap
peternak di lokasi penelitian untuk memasarkan produknya ke pedagang grosir
secara langsung tanpa harus berlangganan (pemasok tetap). Peternak pada saluran
pemasaran dua dapat mengakses informasi dengan baik baik dari sesama
pedagang dan peternak, memiliki posisi tawar dan jaringan yang kuat.




BAB VII. KESIMPULAN DAN SARAN

7.1. Kesimpulan
1. Pemasaran telur ayam kampung di Kabupaten Bogor terdiri dari tiga saluran
pemasaran. Lembaga pemasaran yang terlibat terdiri dari peternak sebagai
produsen, pedagang pengumpul (tengkulak), pedagang grosir dan pedagang
pengecer. Fungsi-fungsi pemasaran yang dilakukan oleh setiap lembaga yaitu
fungsi pertukaran, berupa pembelian dan penjualan, fungsi fisik berupa
kegiatan pengemasan, pengangkutan, dan penyimpanan. Fungsi fasilitas
berupa kegiatan standarisasi dan sortasi, fungsi pembiayaan, fungsi
penanggungan resiko dan fungsi informasi pasar.
Struktur pasar yang dihadapi peternak adalah mengarah kepada pasar
oligopoli karena jumlah peternak hanya lima orang dibandingkan dengan
jumlah pedagang 25 orang serta peternak tidak bisa mempengaruhi harga.
Struktur pasar yang dihadapi oleh pedagang pengumpul adalah pasar
oligopoli karena pedagang pengumpul lebih sedikit dibandingkan dengan
jumlah pedagang lainnya yaitu sebanyak 20 orang serta produk bersifat
homogen. Struktur pasar yang dihadapi oleh pedagang grosir juga mengarah
kepada pasar oligopoli dan struktur pasar yang dihadapi oleh pedagang
pengecer adalah pasar persaingan sempurna, karena jumlah pedagang
pengecer cukup banyak dan produknya homogen.
Telur ayam kampung merupakan produk yang dihasilkan dari daerah
penelitian di Kabupaten Bogor, telur ayam kampung mengalami proses
sortasi dan grading yang dilakukan oleh pedagang grosir dan pedagang
pengecer. Penyebab adanya hambatan untuk keluar masuk pasar antar
sesama lembaga pemasaran adalah besar kecilnya modal yang dimiliki oleh
lembaga pemasaran yang terlibat, kepercayaan di antara pelaku pasar, harga
serta adanya pengaruh karena kualitas dari telur ayam kampung. Praktek
penjualan dan pembelian yang dilakukan oleh pedagang pengumpul yaitu
peternak mengantarkan langsung produk ke pedagang ataupun sebaliknya
dengan sistem pembayaran tunai maupun nota. Begitu juga dengan penjualan
produk ke pedagang grosir, peternak akan mengantarkan langsung telur ke
96

lembaga pemasaran dengan terlebih dahulu di hubungin oleh lembaga


pemasaran berapa jumlah telur yang diperlukan. Adapun penjualan produk
yang langsung kepada pengecer dilakukan dengan mengantarkan langsung ke
pedagang pengecer, dengan penambahan nilai telur yaitu dengan penambahan
kemasan yang lebih baik karena mempunyai target pasar di minimarket dan
supermarket. Adapun sistem pembayarannya adalah dengan sistem nota
(pembayaran kemudian). Hubungan kerjasama yang terjadi diantara lembaga
pemasaran pada umumnya sudah berlangsung lama, sehingga terjalin suatu
hubungan yang baik serta rasa saling percaya.
2. Berdasarkan analisis marjin pemasaran, farmers share dan rasio keuntungan
terhadap biaya menunjukkan bahwa saluran pemasaran dua adalah saluran
pemasaran yang paling efisien karena memiliki nilai marjin pemasaran
terendah, farmers share tertinggi dan juga kegiatan pemasaran pada saluran
dua menguntungkan bagi setiap lembaga yang terlibat.
7.2 Saran
Saluran pemasaran dua dapat dijadikan alternatif saluran pemasaran yang
dapat dipilih oleh setiap lembaga pemasaran, jika untuk meningkatkan pendapatan
peternak saluran pemasaran dua dan tiga merupakan alternatif saluran pemasaran
yang dapat dipilih peternak, karena peternak mendapatkan bagian terbesar pada
saluran ini. Peternak bisa melakukan tawar menawar untuk menyepakati harga
sehingga posisi tawar di tingkat peternak menjadi kuat.
Untuk meningkatkan efisiensi harga, para pelaku pemasaran perlu
memperhatikan jumlah pesaing, informasi pasar, dan standarisasi produk. Untuk
meningkatkan efisiensi operasional, beberapa kegiatan peningkatan nilai tambah
seperti pengemasan yan lebih baik, warna kuning telur yang lebih cerah, daya
tahan telur yang lebih lama dirasakan perlu agar peternak dan lembaga-lembaga
yang lain yang terlibat bisa mendapatkan keuntungan yang lebih besar dan resiko
akan kerusakan produk yang menyebabkan kerugian bisa dikurangi.


DAFTAR PUSTAKA

Agus, dkk Tim Redaksi Agromedia Pustaka.2001.Ayam Kampung Petelur.
Agromedia Pustaka. J akarta
Batubara, SR. 2009. Analisis Pemasaran Sayuran Organik di PT Agro Lestari
Ciawi Bogor J awa Barat (Skripsi). Program Sarjana Ekstensi
Manajemen Agribisnis Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.
Bogor
Clara, Marisa. 2008. Analisis Nilai Tambah Pemasaran Ayam kampung di Kota
J akarta Selatan (Skripsi). Program Studi Sosial Ekonomi Peternakan.
Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor.
Dahl, D.C And Hammond J .W.1977. Market and Price Analysis the Agricultural
Industries. Mc. Graw Hill Book Company, Inc.
Dame,Sari.2008. Permintaan Rumah Tangga Konsumen Terhadap Telur Ayam
Ras di Kecamatan Kandis Kabupaten Siak, Riau (Skripsi). Program
Studi Sosial Ekonomi Peternakan. Fakultas Peternakan. Institut
Pertanian Bogor.
Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian
Bogor.2009.Bunga Rampai Agribisnis seri Pemasaran.IPB Press
Kampus IPB Darmaga Bogor.
Dinas Peternakan Kabupaten Bogor. 2009. Badan Laporan Tahunan Tahun 2008.
Bogor
Eryani, Yeyen. 2009. Analisis Pemasaran Mangga Gedong Ginju (Mangifera
indica L) di Kabupaten Cirebon Propinsi J awa Barat (Skripsi). Program
Studi Manajemen Agribisnis Fakultas Pertanian Institut Pertanian
Bogor.
Kohls, R.L and J .N. Uhl. 1985. Marketing og Africultural Products. MacMillian
Publishing Company. New York
Kohls, R.L and J .N. Uhl. 2002. Marketing og Africultural Products. MacMillian
Publishing Company. New York
Kurniawati, SR. 2007. Analisis Sistem Pemasaran Buah Stroberi (Kasus di Desa
Alamenda, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Provinsi J awa
Barat) (Skripsi). Program Sarjana Ekstensi Manajemen Agribisnis
Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.
Limbong, W.H dan Sitorus, Panggabean. 1987. Pengantar Tataniaga Pertanian
jurusan Ilmu-Ilmu Sosial Pertanian. Fakultas Pertanian. IPB.Bogor.
Pambudhi, Widharto.2003. Beternak Ayam Arab Merah si Tukang
Bertelur.Agromedia Pustaka. J akarta
Rachmina D, Burhanuddin.2008. Panduan Penulisan Proposal dan Skripsi.
Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut
Pertanian Bogor.Bogor.

98

Ramdhiani, Hilma. 2008. Analisis Permintaan Telur Ayam Ras dan Ayam Buras
di Propinsi DKI J akarta :Penerapan Model Almost Ideal Demand
System dengan Data Susenas 2005(Skripsi) .Program Study Sosial
Ekonomi Peternakan. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor.
Rasyaf,M. 1994.Beternak Ayam Petelur.Penebar Swadaya.J akarta
Sarwono.1999.Beternak Ayam Buras.Penebar Swadaya.J akarta
Sigalingging, J ean.2007. Analisis Efisiensi Pemasaran Ayam Ras Pedaging di
Kecamatan Pamijahan Kabupaten Bogor (Skripsi). Program Sarjana
Ekstensi Manajemen Agribisnis Fakultas Pertanian Institut Pertanian
Bogor.
Suharno,B. 2002.Agribisnis Ayam Buras. Penebar Swadaya. J akarta
Sujionohadi K, Ade IS.2007. Ayam Kampung Petelur edisi revisi. Penebar
Swadaya. J akarta.
Surya, FS.2004. Analisis Pendapatan dan Pemasaran Telur Ayam Ras di
Kelurahan Seruan Kecamatan Sawangan Kotamadya Depok Propinsi
J awa Barat (Skripsi). Program Sarjana Ekstensi Manajemen Agribisnis.
Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor.






LAMPIRAN







101

Lampiran 1. Produksi Telur Ayam Buras Menurut Provinsi Tahun 2002-


2006 (Ton)
No Provinsi
Tahun
2002 2003 2004 2005 2006
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
NAD
Sumut
Sumbar
Riau
J ambi
Sumsel
Bengkulu
Lampung
DKI J akarta
Jabar
J ateng
DKI Yogyakarta
J atim
Bali
NTB
NTT
Kalbar
Kalteng
Kalsel
Kaltim
Sulut
Sulteng
Sulsel
Sultra
Maluku
Papua
Babel
Banten
Gorontalo
Malut
Kepri
Irjabar
Sulbar
7,443
17,456
3,269
3,108
1,312
4,988
1,260
13,436
37
18,566
27,124
2,625
20,640
2,891
1,669
4,101
2,590
1,702
4,512
2,139
1,471
575
8,541
3,188
14
770
744
5,088
23
409
-
-
-
12,049
18,190
4,018
3,366
1,445
5,000
383
12,301
22
19,193
28,796
2,975
26,383
1,947
1,736
4,225
2,002
2,363
5,371
2,281
1,327
591
8,582
3,229
473
1,069
1,069
6,194
31
404
-
-
-

8,086
18,900
4,875
2,912
1,416
5,042
1,034
11,238
44
18,876
29,283
2,699
26,805
2,805
1,685
3,996
1,931
2,915
5,553
2,144
1,374
720
6,204
3,385
614
1,013
1,101
5,062
31
404
-
-
-

7,862
17,390
3,607
3,111
1,674
5,146
1,171
11,831
33
19,006
29,610
2,592
27,232
3,370
1,686
4,043
1,856
2,371
6,467
2,146
1,420
843
6,552
3,467
778
875
1,530
3,647
571
252
443
87
2,577
7,941
17,397
3,751
2,754
1,624
4,590
1,265
12,362
31
20,811
29,643
2,618
27,503
3,468
1,854
4,091
2,088
3,308
6,983
2,189
1,477
894
7,207
3,701
860
892
1,836
3,742
703
265
447
93
2,706
Indonesia 161,691 177,015 172,147 175,428 181,095
Sumber: BPS (Statistik Peternakan 2006)













102

Lampiran 2. Perkembangan Produksi Ternak dan Kontribusi Berbagai J enis Ternak


Terhadap Produksi Daging, Telur, Susu di Kabupaten Bogor.
No Jenis Produksi Tahun
2007
Kontribusi
%
Tahun
2008
Kontribusi
(%)
(2007-
2008) %
Daging (Kg)
1 Sapi 9.504.130 12,22 8.311.289 10,24 -12,55
2 Kerbau 113.497 0,15 124.816 0,15 9,97
3 Kambing 915.199 1,18 860.461 1,06 -5,98
4 Domba 2.722.128 3,50 2.361.591 2,91 -13,24
5 Ayam ras 63.499.899 81,64 68.486.233 84,41 7,85
6 Ayam buras 932.356 1,20 913.052 1,13 -2,07
7 Itik 94.181 0,12 79.965 0,10 -15,09
J umlah 77.781.390 100,00 81.137.407 100,00 4,31
Telur (Kg)
1 Ayam ras 34.853.078 95,60 36.150.621 96,16 3,72
2 Ayam buras 617.701 1,69 604.911 1,61 -2,07
3 Itik 987.188 2,71 838.187 2,23 -15,09
J umlah 36.457.967 100,00 37.593.719 100,00 3,12
Susu (Liter)
1 Sapi perah 9.294.648 100,00 10.422.075 100,00 12,13
Sumber: Data Potensi Peternakan 2008


Lampiran 3. Pencapaian Target Produksi Hasil Ternak di Kabupaten Bogor
No Komoditi Target Tahun 2008 Realisasi Tahun 2008 Pencapaian Target
(%)
1
2
3
Daging (Kg)
Telur (Kg)
Susu (Liter)
83.870.592
39.018.628
9.545.188
81.137.407
37.593.719
10.422.075
96,74
96,35
109,19
Sumber: Data Potensi Peternakan 2008








103

Lampiran 4. Perkembangan populasi Ternak Unggas di Kabupaten Bogor Tahun 2003-2008


Tahun
J enis Ternak
Ayam Buras Itik
2003 1.417.613 121.500
r(%) 0,01 6,05
2004 1.417.800 128.846
r(%) 13,00 5,57
2005 1.233.467 136,018
r(%) 2,58 77,40
2006 1.201.644 241.299
r(%) 16,18 37,43
2007 1.007.202 150.986
r(%) 2,07 15,09
2008 986.348 128.197



Lampiran 5. Perkembangan Produksi Asal Ternak Tahun 2003-2008
Tahun
J enis Ternak
Ayam Buras Petelur Ayam Ras Pedaging
2003 3.439.104 7.028.804
r(%) 11,16 18,00
2004 3.055.300 8.294.000
r(%) 0,33 0,44
2005 3.045.200 8.257.900
r(%) 16,02 43,67
2006 3.533.007 11.864.000
r(%) 7,33 7,52
2007 3.791.836 12.756.300
r(%) 3,72 7,99
2008 3.933.002 13.775.475










104

Lampiran 6. Perkembangan Produksi Asal Ternak Tahun 2003-2008


Tahun
J enis Produksi
Daging Telur Susu
2003 43.842.413 33.274.702 10.902.138
r(%) 8,39 10,45 3,46
2004 47.519.115 29.796.837 11.279.736
r(%) 3,02 0,54 1,47
2005 48.956.205 29.636.080 11.446.110
r(%) 52,82 17,39 21,03
2006 74.814.008 34.788.651 9.038.816
r(%) 3,97 4,80 2,83
2007 77.781.390 36.457.967 9.294.648
r(%) 4,31 3,12 12,13
2008 81.137.407 37.593.719 10.422.075


Lampiran 7. Perkembangan Konsumsi Protein Hewani Tahun 2003-2008
J enis Konsumsi 2003 r(%) 2004 r(%) 2005 r(%) 2006 r(%) 2007 r(%) 2008
Protein hewani
asal Ternak
3,93 1,78 4,00 0,25 4,01 5,99 4,25 3,06 4,38 2,74 4,50




















105

Lampiran 8. Harga Rata-Rata Komoditas Peternakan Tahun 2008


No Komoditas Satuan Harga Produsen Harga Konsumen
1 2 3 4 5
I

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

II

1
2
3
4
5

III

1
2
3

IV

1
2
3
4
Ternak

Sapi Potong
Kerbau
Kambing
Domba
Ayam buras
Ayam ras pedaging
DOC layer
DOC ayam ras
DOC ayam buras
DOC itik

Daging

Sapi potong
Kerbau
Kambing
Domba
Ayam ras

Telur

Telur itik
Telur ayam kampung
Telur ayam ras

Kulit

Kulit sapi
Kulit kerbau
Kulit kambing
Kulit domba


Kg/BH
Kg/BH
Kg/BH
Kg/BH
1,5 Kg
Kg/BH
Ekor
Ekor
Ekor
Ekor



Kg
Kg
Kg
Kg
Kg



Butir
Butir
Kg



Kg/ Basah
Kg/ Basah
Kg/ Basah
Kg/ Basah


22.594
22.219
20.083
20.083
24.229
14.254
5.256
3.337
3.167
3.167



47.417
47.417
31.771
3.177
17.766



1.175
1.117
11.979



8.502
7.960
18.958
18.958


25.000
24.458
23.229
23.229
31.813
16.265
5.864
3.726
4.417
4.000



51.563
51.563
40.021
40.021
21.485



1.388
1.404
13.437



10.794
9.940
23.167
23.167






106

Lampiran 9. Biaya Pemasaran Telur Ayam Kampung yang dikeluarkan oleh setiap Lembaga
Pemasaran pada Saluran Pemasaran I

Biaya Jumlah Jumlah Rata-Rata
(Rp/Butir)
Peternak (12.000 butir)
1. Biaya Transpor
160.000

2. Kemasan peti kayu @ 5000 200.000
Jumlah 360.000 30
Pedagang pengumpul (8500 butir)
1. Biaya Pengangkutan

Bensin 200.000
Tol 40.000
sopir 50.000
konsumsi 70.000
2. Biaya retribusi 10.000
3. Biaya komisi 10.000
4. Biaya pungli 10.000
5. Tenaga kerja 35.000
Jumlah 425.000 50
Pedagang Grosir (2500 butir)
1. Biaya Pengemasan

100.000

2. Biaya Retribusi 10.000
3. Biaya Sortasi 20.000
4. Biaya bongkar muat 10.000
5. Biaya Sewa Tempat 20.000
Jumlah 160.000 64
Pedagang Pengecer (500 butir)
1. Biaya Retribusi 5000
2. Biaya Sewa Tempat 20.000
3. Biaya Pengemasan 20.000
Jumlah 45.000 150
Total Biaya Pemasaran 989.000 294










107

Lampiran 10. Biaya Pemasaran Telur Ayam Kampung yang dikeluarkan oleh setiap
Lembaga Pemasaran pada Saluran Pemasaran II

Biaya Jumlah Jumlah Rata-Rata
(Rp/Butir)
Peternak (8.500 butir)
1. Biaya Transpor
160.000

2. Kemasan peti kayu @ 5000 200.000
Jumlah 360.000 30
Pedagang Grosir (2500 butir)
1. Biaya Pengemasan

100.000

2. Biaya Retribusi 10.000
3. Biaya Sortasi 20.000
4. Biaya bongkar muat 10.000
5. Biaya Sewa Tempat 20.000
Jumlah 160.000 64
Pedagang Pengecer (500 butir)
1. Biaya Retribusi 5000
2. Biaya Sewa Tempat 20.000
3. Biaya Pengemasan 20.000
Jumlah 45.000 150
Total Biaya Pemasaran 565.000 244




















108

Lampiran 11. Biaya Pemasaran Telur Ayam Kampung yang dikeluarkan oleh setiap
Lembaga Pemasaran pada Saluran Pemasaran III

Biaya Jumlah Jumlah Rata-Rata
(Rp/Butir)
Peternak (2.000 butir)
1. Biaya Transpor
100.000

2.Kemasan keranjang ( isi 8 butir
@ Rp.300)
75.000
3. Tenaga Kerja 25.000
Jumlah 250.000 125
Pedagang Pengecer (100 butir)
1. Biaya Sewa Tempat 20.000
2. Biaya penyusutan/tidak habis
terjual
5000
Jumlah 25.000 250
Total Biaya Pemasaran 275.000 375


























109

Lampiran 12. Marjin Pemasaran Telur Ayam Kampung Pada Saluran 1,2,3 di Kabupaten
Bogor Tahun 2009

Uraian
Saluran Pemasaran
1 2 3
Nilai
(Rp/butir)
% Nilai
(Rp/butir)
% Nilai
(Rp/butir)
%
Peternak

Harga jual
1100 61,11 1150 63,8 1400 70,0
Biaya pemasaran
30 1,67 30 1,67 125 6,25
Pedagang Pengumpul

Harga Beli
1100 56,11
Biaya Pemasaran
50 2,77
Keuntungan
150 8,33
Harga J ual
1300 72,22
Marjin
200 11,11
Pedagang grosir

Harga Beli
1300 72,22 1150 63,8
Biaya Pemasaran
64 3,55 64 3,55
Keuntungan
136 7,55 236 13,11
Harga jual
1500 83,3 1450 83,3
Marjin
200 11,11 300 16,67
Pedagang Pengecer

Harga Beli
1500 83,3 1450 83,8 1400 70,0
Biaya Pemasaran
150 8,33 150 8,33 250 12,5
Keuntungan
150 8,33 200 11,11 350 17,5
Harga jual
1800 100 1800 100 2000 100
Marjin
300 16,67 350 19,44 600 30,0
Total Biaya Pemasaran
294 16,33 214 11,88 375 18,75
Total Keuntungan
436 24,22 436 24,22 350 17,5
Total Marjin
700 38,88 650 36,11 600 30,0
R/C Rasio
1,48 2,03 0,93

110

Lampiran 13. Kuisioner untuk Peternak



Analisis Pemasaran Telur Ayam Kampung
(Studi Kasus: Bogor Provinsi J awa Barat)
Betty Safitri (H34076035)
Institut Pertanian Bogor

KUISIONER UNTUK PETERNAK
1.Identitas Responden/Usaha
1.1 Nama :............................................................
1.2 Alamat :...........................................................
1.3 Kelamin /Umur :...........................................................
1.4 Tempat Lahir :...........................................................
1.5 Pendidikan
a. Formal
( ) Tidak Sekolah ( ) SMU
( ) Tidak Tamat Sekolah ( ) Universitas D3, S1
( ) Tamat SD ( ) Lian-lain Sebutkan
( ) SMP
b. Non Formal : ( ) Pernah ( ) Tidak Pernah
J ika Pernah, sebutkan:
(i)..................... : tahun..........di.................
(ii).................... : tahun..........di.................
1.6 Sejak kapan usaha saudara ini di mulai? Bulan...............tahun..................
Apakah saudara memiliki jenis pekerjaan atau usaha lain?
Pekerjaan lain :.................................................................
Usaha Lain :.................................................................
1.7 Apakah saudara memiliki jenis pekerjaan atau usaha lain?
( ) Ya ( ) Tidak
J ika Ya, sebutkan :
a. Nama Perkumpulan: .............................................
b. Status / J abatan :..............................................
c. Keanggotaan sejak: ..............................................
J ika Tidak, mengapa?........................................................................................

111

1.8 Apakah saudara melakukan kemitraan dengan usaha lain:


( ) Ya ( ) Tidak
J ika Ya, sebutkan:
a.Nama Perusahaan kemitraan saudara :...................................
b. J enis Kemitraan:
( ) Inti Plasma ( ) Agen ( ) Bentuk lain,........
( ) Dagang umum ( ) Sub kontrak
2. Profil Pola Pembiayaan Usaha
2.1 Apa alasan saudara melakukan usaha ini?
a. Harganya bagus ( ) Ya ( ) Tidak
b. Pemasaran terjamin ( ) Ya ( ) Tidak
c. Ketersediaan Kredit ( ) Ya ( ) Tidak
d. Keturunan / Tradisi ( ) Ya ( ) Tidak
e. Perawataanya mudah ( ) Ya ( ) Tidak
f. Iklim Cocok ( ) Ya ( ) Tidak
g. Telah menguasai tekhnik budidayanya ( ) Ya ( ) Tidak
h. Lainnya.............................................................................................
2.2 Apakah saudara pernah menerima bantuan kredit / Modal?
( ) Pernah ( ) Tidak Pernah
J ika Pernah, sebutkan:
a. Dari siapa......................................................................
b. J enis Kredit/ Bantuan yang didapat.............................
c. J umlah bantuan yang didapat......................................
d. Tingkat bunga..............................................................
e. J angka waktu pengembalian........................................
f. Besar angsuran kredit per bulannya.............................
2.3 Adakah perjanjian/ ketentuan dengan pemberi bantuan mengenai cara / aturan
penjualan hasil ternak saudara? ( ) Ya ( ) Tidak
J ikaYa,sebutkan.........................................................................................................
.................................................................................................................................
2.4 Apakah bantuan/kredit tersebut membuat penjualan saudara semakin
meningkat?
112

( ) Ya ( ) Tidak

J ika Tidak,
Mengapa?...................................................................................................................
....................................................................................................................................
3. Aspek Tekhnis
3.1 Usahatani telur ayam yang saudara lakukan mencakup
Kegiatan Dilakukan
pada umur
Dilakukan
pada suatu
musim
Dilakukan
oleh tenaga
kerja
Upah TK
(Rp/HOK)











3.2 Berapa banyak jumlah ayam yang anda miliki..............................ekor
3.3 Luas Kandang yang diusahakan............................m
2

3.4 Apakah status lahan yang diusahakan ( sewa/milik sendiri/garapan)
3.5 Pola beternak yang saudara terapkan : harian/mingguan/ lainnya................
3.6 J umlah produksi/panen.................kg per ( ) Hari ( ) minggu ( ) lainnya
3.7 Apakah saudara selalu mengetahui informasi tentang cara meningkatkan
produksi telur ayam ( ) Ya ( ) Tidak
J ika Ya, dari mana saudara mendapatkannya...................................................
..........................................................................................................................
3.8 Adakah kesulitan yang anda temui dalam berusaha ternak ayam ini?.................
............................................................................................................................
4. Aspek Pemasaran
4.1 Penjualan hasil produksi telur saudara saat ini dilakukan oleh:
( ) Sendiri/Petani ( ) Melalui Kelompok Ternak
( ) Melalui Koperasi ( ) Lainnya......................

113

4.2 Biaya Pemasaran yang harus saudara tanggung terdiri dari:


( ) Tenaga kerja Rp....................../..........................
( ) Pengangkutan Rp....................../..........................
( ) Pungutan Rp....................../..........................
( ) Komisi Rp....................../..........................
( ) Lainnya Rp....................../..........................
4.3 Apakah saudara mengalami kesulitan memasarkan hasil?
( ) Ya, Mengapa....................................................................................
( ) Tidak, Mengapa...............................................................................
4.4 Ada berapa jumlah usaha sejenis di Desa ini?
4.5 Apakah usaha telur ini masih memiliki prospek
( ) Ya, mengapa.....................................................................................
( ) Tidak, mengapa.................................................................................
4.6 Kegiatan penjualan
Lembaga
Pemasaran
Harga J ual J umlah
Penjualan
Sistem
Pembayaran
Pasar yang
dituju




4.7 Apakah lembaga pemasaran yang menerima hasil dari peternak menerapkan
suatu standarisasi mutu? ( ) Ya ( ) Tidak
J ika Ya, jelaskan.......................................................................................................
.................................................................................................................................
4.8 Bagaimana saudara menentukan harga jual telur ini?
4.9 Sebelum menjual apakah saudara melakukan penyortiran ? ( ) Ya ( ) Tidak
J ika Ya, berdasarkan apa...........................................................................................
...................................................................................................................................




114

4.10 Sebutkan jenis/mutu telur yang saudara produksi dan berapa persentasenya
dari hasil produksi telur saudara per bulan?
J enis/ mutu Persyaratan Harga jual Persentase




4.11 Selain telur, adakah hasil sampingan lain yang dapat dijual?............................
J ika ada, sebutkan......................................................................................................
4.12 Berapa besar permintaan pasar untuk komoditi telur per bulan.......................?
4.13 Apakah jika harga dipasar sedang turun, saudara tetap melakukan panen dan
pemasaran? ( ) Ya ( ) Tidak
Mengapa....................................................................................................................
4.14 Apakah saudara melakukan penyimpanan hasil produksi telur ?
( ) Ya ( ) Tidak
J ika Ya,
a. Kapan dan apa alasan saudara melakukan penyimpanan?.............................
b. J umlah komoditi yang disimpan :........................Kg/...................................
c. Lama penyimpanan.......................................................................................
d. Cara penyimpanan........................................................................................
e. Biaya penyimpanan : Rp..............................................................................

5. Hambatan dan dukungan pengembangan produksi telur
Aspek Hambatan Dukungan
1. Kelompok tani/ usaha
2. Pelayanan mitra
3. Pelayanan Bank
4. Tekhnis Produksi
5. Pemasaran
6. Sarana transportasi
7. Infrastruktur lain
8. Masyarakat sekitar
115

Lampiran 14. Kuisioner untuk Pedagang


Analisis Pemasaran Telur Ayam Kampung
(Studi Kasus: Bogor Provinsi J awa Barat)
Betty Safitri (H34076035)
Institut Pertanian Bogor

KUISIONER UNTUK PEDAGANG
1. Identitas Responden/Usaha
1.1 Nama :............................................................
1.2 Alamat :...........................................................
1.3 Kelamin /Umur :...........................................................
1.4 Tempat Lahir :...........................................................
1.5 Pendidikan
a.Formal
( ) Tidak Sekolah ( ) SMU
( ) Tidak Tamat Sekolah ( ) Universitas D3, S1
( ) Tamat SD ( ) Lian-lain Sebutkan
( ) SMP
b.Non Formal : ( ) Pernah ( ) Tidak Pernah
J ika Pernah, sebutkan:
(i)..................... : tahun..........di.................
(ii).................... : tahun..........di.................
1.6 Sejak kapan usaha saudara ini di mulai? Bulan...............tahun
Apakah saudara memiliki jenis pekerjaan atau usaha lain?
Pekerjaan lain :.................................................................
Usaha Lain :.................................................................
1.7 Apakah saudara memiliki jenis pekerjaan atau usaha lain?
( ) Ya ( ) Tidak
J ika Ya, sebutkan :
d. Nama Perkumpulan: .............................................
e. Status / J abatan :..............................................
f. Keanggotaan sejak: ..............................................
J ika Tidak, mengapa?........................................................................................

116

1.8 Apakah saudara melakukan kemitraan dengan usaha lain:


( ) Ya ( ) Tidak
J ika Ya, sebutkan:
a.Nama Perusahaan kemitraan saudara :...................................
b. J enis Kemitraan:
( ) Inti Plasma ( ) Agen ( ) Bentuk lain,........
( ) Dagang umum ( ) Sub kontrak
2. Profil Pola Pembiayaan Usaha
2.1 Apa alasan saudara melakukan usaha ini?
a. Harganya bagus ( ) Ya ( ) Tidak
b. Pemasaran terjamin ( ) Ya ( ) Tidak
c. Ketersediaan Kredit ( ) Ya ( ) Tidak
d. Keturunan / Tradisi ( ) Ya ( ) Tidak
e. Perawataanya mudah ( ) Ya ( ) Tidak
f. Iklim Cocok ( ) Ya ( ) Tidak
g. Telah menguasai tekhnik budidayanya ( ) Ya ( ) Tidak
h. Lainnya.............................................................................................
2.2 Apakah saudara pernah menerima bantuan kredit / Modal?
( ) Pernah ( ) Tidak Pernah
J ika Pernah, sebutkan:
a. Dari siapa......................................................................
b. J enis Kredit/ Bantuan yang didapat.............................
c. J umlah bantuan yang didapat......................................
d. Tingkat bunga..............................................................
e. J angka waktu pengembalian........................................
f. Besar angsuran kredit per bulannya.............................

2.3 Apakah bantuan atau kredit tersebut membuat penjualan saudara semakin
meningkat?
( ) Ya ( ) Tidak


117

J ika Tidak,
Mengapa?...................................................................................................................
....................................................................................................................................
2.4 Adakah perjanjian atau ketentuan dengan pemberi bantuan mengenai cara atau
aturan penjualan? ( ) Ya ( ) Tidak
J ika Ya,
Sebutkan.....................................................................................................................
....................................................................................................................................

3. Aspek Pemasaran
3.1 Dengan siapakan saudara melakukan kegiatan pembelian telur?
Lembaga
Pemasaran
Alamat/
Lokasi
Harga Beli
(Rp/Kg)
J umlah
Pembelian (Kg)
Sistem
Pembayaran






3.2 Bagaimana cara pembelian telur yang saudara lakukan ?
( ) Borongan ( ) Bertahap
3.3 Apakah saudara melakukan kegiatan penjualan telur ? ( ) Ya ( ) Tidak
J ika Ya, dengan siapakah saudara melakukan kegiatan penjualan ?
Lembaga
Pemasaran
Alamat /
Lokasi
Harga J ual
(Rp/Kg)
J umlah
Pembelian (Kg)
Sistem
Pembayaran








118

J ika Tidak, mengapa?................................................................................................


3.4 Biaya Pemasaran yang harus saudara tanggung terdiri dari:
( ) Tenaga kerja Rp....................../..........................
( ) Pengangkutan Rp....................../..........................
( ) Pungutan Rp....................../..........................
( ) Komisi Rp....................../..........................
( ) Lainnya Rp....................../..........................
3.5 Apakah saudara menjual komoditi lainnya?
3.6 Apakah saudara memiliki tempat sendiri untuk berjualan? ( ) Ya ( ) Tidak
J ika Ya, Sebutkan.....................................................................................................
3.7 Berapa waktu yang dibutuhkan sampai produk terjual habis?
3.8 Apakah saudara mengalami kesulitan memasarkan hasil?
( ) Ya, mengapa?..............................................................................................
............................................................................................................................
( ) Tidak, mengapa..........................................................................................
3.9 Berapa usaha sejenis didaerah (pasar) ini?
3.10 Apakah usaha telur ayam ini masih memiliki prospek?
( ) Ya, Mengapa?.................................................................................................
..............................................................................................................................
( ) Tidak, mengapa?............................................................................................
3.11 Apakah saudara menerapkan standarisasi mutu terhadap komoditi yang
saudara beli dan jual? ( ) Ya ( ) Tidak
J ika Ya, J elaskan.......................................................................................................
...................................................................................................................................
3.12 Sebelum penjualan, apakah saudara melakukan penyortiran kembali?
( ) Ya ( ) Tidak
( ) J ika Ya, berdasarkan apa....................................................................................
..................................................................................................................................

3.13 Berapa besar permintaan pasar untuk komoditi telur ayam ini per bulan?........
...................................................................................................................................
3.14 Apakah saudara sanggup memenuhi permintaan tersebut ?
119

( ) Ya ( ) Tidak
( ) J ika Tidak, mengapa...........................................................................................
..................................................................................................................................
3.15 Bagaimana saudara memperoleh informasi tentang harga jual telur ayam .....
.................................................................................................................................
3.16 Bagaimana saudara menentukan harga jual ?...................................................
..................................................................................................................................
3.17 Apakah saudara melakukan penyimpanan hasil produksi telur?
( ) Ya ( ) tidak
J ika Ya,
a. Kapan dan apa alasan anda melakukan penyimpanan?......................................
b. J umlah komoditi yang disimpan............................Kg/......................................
c. Lama penyimpanan............................................................................................
d. Cara penyimpanan.............................................................................................
e. Biaya penyimpanan............................................................................................
3. 18 Apakah saudara menanggung sendiri resiko dari kegiatan penjualan ?...........
..................................................................................................................................
3. 19 Apakah saudara memberikan bantuan / kredit kepada peternak telur ?
J ika Ya, berapa lama dan kapan jangka waktu pengembaliannya............................
..................................................................................................................................
3.20 Apakah saudara mengalami hambatan dalam memasarkan telur....................?








120

Lampiran 15. Contoh Produk Telur yang Dihasilkan oleh Peternakan Trias
Farm

Telur Ayam Arab di Peternakan Trias Farm

Telur Ayam Arab di peternakan Trias Farm

Telur Ayam Kampung
121

Lampiran 16. Tahapan dalam Proses Produksi DOC di Peternakan Trias Farm


Tahap Bumigasi Telur Timbangan Telur


Mesin Tetas Telur yang disortasi


Mesin Tetas Telur Tetas


122

Lampiran 17. Proses Produksi Telur Ayam Arab di Peternakan Trias Farm

Ayam berumur 1-21hari


Ayam berumur 21- 120 hari


Ayam berumur 4-20 bulan