Anda di halaman 1dari 6

2.

2 Anatomi Maksilofasial
Pertumbuhan kranium terjadi sangat cepat pada tahun pertama dan kedua setelah lahir
dan lambat laun akan menurun kecepatannya. Pada anak usia 4-5 tahun, besar kranium sudah mencapai
90% cranium dewasa. Maksilofasial tergabung dalam tulang wajah yang tersusun secara
baik dalam membentuk wajah manusia.
1

Daerah maksilofasial dibagi menjadi 3 bagian. Bagian pertama adalah wajah bagian atas,
di mana patah tulang melibatkan frontal dan sinus. Bagian kedua adalah midface tersebut.
Midface dibagi menjadi bagian atas dan bawah. Para midface atas adalah di mana rahang atas Le
Fort II dan III Le Fort fraktur terjadi dan / atau di mana patah tulang hidung, kompleks
nasoethmoidal atau zygomaticomaxillary, dan lantai orbit terjadi. Bagian ketiga dari daerah
maksilofasial adalah wajah yang lebih rendah, di mana patah tulang yang terisolasi ke rahang
bawah.
1,2,3



Gambar 1. Anatomi Maksilofasial.

Tulang pembentuk wajah pada manusia bentuknya lebih kecil dari tengkorak otak.
Didalam tulang wajah terdapat rongga-rongga yang membentuk rongga mulut (cavum oris), dan
rongga hidung (cavum nasi) dan rongga mata (orbita).
1

a. Bagian hidung terdiri atas :
Os Lacrimal (tulang mata) letaknya disebelah kiri/kanan pangkal hidung disudut mata. Os Nasal
(tulang hidung) yang membentuk batang hidung sebelahatas. Dan Os Konka nasal (tulang karang
hidung), letaknya di dalam ronggahidung dan bentuknya berlipat-lipat. Septum nasi (sekat
rongga hidung) adalahsambungan dari tulang tapis yang tegak.
1


b. Bagian rahang terdiri atas tulang-tulang seperti :
Os Maksilaris (tulang rahang atas), Os Zigomaticum, tulang pipi yangterdiri dari dua tulang kiri
dan kanan. Os Palatum atau tulang langit-langit, terdiridari dua dua buah tulang kiri dan kanan.
Os Mandibularis atau tulang rahangbawah, terdiri dari dua bagian yaitu bagian kiri dan kanan
yang kemudian bersatudi pertengahan dagu. Dibagian depan dari mandibula terdapat processus
coracoids tempat melekatnya otot.
1



Facial danger zones (Zona bahaya wajah)
Secara anatomi, wajah memiliki beberapa serabut-serabut saraf yang tersebar di beberapa lokasi
di wajah, ada 7 lokasi-lokasi penting di sekitar wajah yang apabila terjadi trauma atau kesalahan
dalam penanganan trauma maksilofasial akan berakibat fatal, lokasi-lokasi tersebut disebut
dengan facial danger zone.
1,2


Gambar 2. Facial Danger Zones


2.5 Klasifikasi Trauma Maksilofasial
Trauma maksilofasial dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian, yaitu trauma jaringan keras
wajah dan trauma jaringan lunak wajah. Trauma jaringan lunak biasanya disebabkan trauma
benda tajam, akibat pecahan kaca pada kecelakaan lalu lintas atau pisau dan golok pada
perkelahian.
3


2.5.1 Trauma jaringan lunak wajah

Luka adalah kerusakan anatomi, diskontinuitas suatu jaringan oleh karena trauma dari luar.
Trauma pada jaringan lunak wajah dapat diklasifikasikan berdasarkan :
3,5

1. Berdasarkan jenis luka dan penyebab:
a. Ekskoriasi
b. Luka sayat, luka robek , luka bacok.
c. Luka bakar
d. Luka tembak
2. Berdasarkan ada atau tidaknya kehilangan jaringan
3. Dikaitkan dengan unit estetik
Menguntungkan atau tidak menguntungkan, dikaitkan dengan garis Langer.
2.5.2 Trauma jaringan keras wajah
Klasifikasi trauma pada jaringan keras wajah di lihat dari fraktur tulang yang terjadi dan dalam
hal ini tidak ada klasifikasi yg definitif. Secara umum dilihat dari terminologinya, trauma pada
jaringan keras wajah dapat diklasifikasikan berdasarkan :
3

1. Dibedakan berdasarkan lokasi anatomic dan estetik.a
a. Berdiri Sendiri : fraktur frontal, orbita, nasal, zigomatikum, maxilla, mandibulla, gigi dan
alveolus.
2. Berdasarkan Tipe fraktur :
3

a. Fraktur simpel
Merupakan fraktur sederhana, liniear yang tertutup misalnya pada kondilus, koronoideus,
korpus dan mandibula yang tidak bergigi.
Fraktur tidak mencapai bagian luar tulang atau rongga mulut. Termasuk greenstik fraktur yaitu
keadaan retak tulang, terutama pada anak dan jarang terjadi.

b. Fraktur kompoun
Fraktur lebih luas dan terbuka atau berhubungan dengan jaringan lunak.
Biasanya pada fraktur korpus mandibula yang mendukung gigi, dan hampir selalu tipe fraktur
kompoun meluas dari membran periodontal ke rongga mulut, bahkan beberapa luka yang parah
dapat meluas dengan sobekan pada kulit.

c. Fraktur komunisi
Benturan langsung terhadap mandibula dengan objek yang tajam seperti peluru yang
mengakibatkan tulang menjadi bagian bagian yang kecil atau remuk.
Bisa terbatas atau meluas, jadi sifatnya juga seperti fraktur kompoun dengan kerusakan tulang
dan jaringan lunak.

d. Fraktur patologis
keadaan tulang yang lemah oleh karena adanya penyakit penyakit tulang, seperti Osteomyelitis,
tumor ganas, kista yang besar dan penyakit tulang sistemis sehingga dapat menyebabkan fraktur
spontan.

3. Perluasan tulang yang terlibat
3

1. Komplit, fraktur mencakup seluruh tulang.
2. Tidak komplit, seperti pada greenstik, hair line, dan kropresi ( lekuk )

4 . Konfigurasi ( garis fraktur )
3

1. Tranversal, bisa horizontal atau vertikal.
2. Oblique ( miring )
3. Spiral (berputar)
4. Komunisi (remuk)

5. Hubungan antar Fragmen
3

1. Displacement, disini fragmen fraktur terjadi perpindahan tempat
2. Undisplacement, bisa terjadi berupa :
a. Angulasi / bersudut
b. Distraksi
c. Kontraksi
d. Rotasi / berputar
e. Impaksi / tertanam

Pada mandibula, berdasarkan lokasi anatomi fraktur dapat mengenai daerah :
8

a. Dento alveolar
b. Prosesus kondiloideus
c. Prosesus koronoideus
d. Angulus mandibula
e. Ramus mandibula
f. Korpus mandibula
g. Midline / simfisis menti
h. Lateral ke midline dalam regio insisivus

6. Khusus pada maksila fraktur dapat dibedakan :
4

a. Fraktur blow-out (fraktur tulang dasar orbita)
b. Fraktur Le Fort I, Le Fort II, dan Le Fort III
c. Fraktur segmental mandibula


Gambar 6. (A). I Le Fort I, II Le Fort II, III Le Fort III (pandangan anterior)


Daftar Pustaka
1. Snell, Ricard S. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran. Jakarta: EGC. 2006
2. Sjamsuhidajat, R. Dan Jong, Wim de. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. Jakarta: EGC. 2004
3. Sood, J. Maxillofacial and Upper Airway Injuries Anaesthetic Impact. Indian Journal of
Anaesthesia 2008;52:Suppl (5):688-698.
4. Chesshire, NJ, Knight DJW.The Anaesthetic Management of Facial Trauma and Fraktur.
British Journal of Anaesthesia.2001;04:108-112.