Anda di halaman 1dari 38

Inverter 7-1

BAB VII
INVERTER

7.1 Pendahuluan
Inverter adalah suatu rangkaian pengubah dari dc menjadi ac. Lebih tetaptnya
inverter adalah memindahkan daya dad sumber dc ke beban ac. Pada bab ini
akan ditekankan pada bagaimana proses inverter menghasilkan keluaran ac
dengan masukan dc. Inverter banyak diaplikasikan pada pengaturan
kecepatan motor ac, Uninteruptable Power Supply (UPS) dan
peralatan-peralatan rumah tangga ac yang dicatu dari baterai mobil.
7.2 Itonverter jembatan-pcnuh (Full-bridge Converter)
Konverter jembatan penuh pada gambar 7-1 a adalah rangkaian dasar untuk
mengubah dari dc ke ac. Tegangan keluaran ac dapat dikendalikan dengan
mengatur urutan penyalaan dan pemadaman saklar dari masukan dc.
Tegangan keluaran v
0
dapat menjadi +Vdc, -Vdc atau nol tergantung pada
saklar yang ditutup. Gambar 7-lb hingga 7-le menunjukkan rangkaian
ekivalen dari kombinasi saklar.









Inverter 7-2

Inverter 7-3
Catatan : bahwa Si dan S
4
tidak konduksi (menutup) secara bersamaan, demikian
juga S
2
dan S3 karena akan berakibat hubung singkat pada sumber dc. Pada
kenyataanya saklar yang sebenarnya tidak dapat konduksi dan pada secara cepat.
Oleh karenanya, waktu transisi pensaklaran harus diperhitungkan dalam
pengendalian saklarnya. Setiap kali terjadi overlap pada saklar konduksi akan
mengakibatkan hubung singkat pada rangkaian, kadang-kadang disebut juga
dengan gangguan "shoot-through" pada tegangan sumber dc. Waktu teijadinya
hubung singkat tersebut disebut dengan waktu "blinking".
7.3 Inverter gelombang kotak (The square-wave inverter)
Pensaklaran sederhana pada converter jembatan-penuh menghasilkan tegangan
keluaran kotak. Saklar-saklar akan menghubungkan beban terhadap +V<j
c
ketika
S\ dan S2 ditutup atau -V
dc
ketika S3 dan S4 ditutup. Periode pensaklaran tegangan
beban antara + Vd
C
dan -V
dc
menghasilkan tegangan kotak pada sisi beban.
Meskipun tegangan keluaran tidak sinusoidal tetapi sudah memenuhi untuk
beberapa aplikasi beban ac.
Bentuk gelombang arus pada beban tergantung pada komponen beban. Untuk
beban resistif bentuk gelombang arusnya sama dengan tegangan keluaran.
Sedangkan untuk beban induktif, bentuk gelombang arusnya akan lebih sinusoidal
dari pada tegangannya karena sifat induktansi sebagai filter.
Untuk beban R-L seri dan tegangan kotak, dengan asumsi bahwa saklar Si dan S2
pada gambar 7-la ditutup pada saat t=0. Maka tegangan pada beban adalah +Vd
C

dan arus mulai naik yang mengalir melalui beban, Si dan S2. Arusnya dinyatakan
sebagai penjumlahan dari tanggapan paksa dan alamiah :

dimana A adalah konstanta yang dapat diperoleh dari kondisi awal dan t-L/R.
Pada saat t=T/2, Si dan S2 membuka, dan S3 dan S
4
menutup. Tegiingan pada
beban R-L menjadi -Vd
C
dan arusnya mempunyai bentuk :
Inverter 7-4

dimana B adalah konstanta yang dapat diperoleh pada kondisi awal.
Bila pada kondisi awal konduktor tidak bermuatan (arus awal inductor nol), maka akan
terjadi transient sebelum arusnya mencapai keadaan mantap. Pada keadaan mantap i
0
periodic dan simelris tetapi nol seperti yang ditunjukkan pada gambar 7-2. Misalnya
kondisi awal arus yang dideskribsikan pada persamaan 7-1 adalah I
m
in, dan dan kondisi
awal arus yang dideskribsikan pada persamaan 7-2 adalah I
max
.

Dari persamaan 7-1 pada t=0
Inverter 7-5


Pada keadaan mantap, bentuk gelombang yang dideskribsikan pada persamaan 7-1
dan 7-2 akan menjadi:
Dengan mensubstitusikan -I
max
untuk I
m
j
n
pada persamaan 7-6 akan diperoleh solusi dari
I
max-



karena simetri, sehingga
Imax diperoleh dengan mengevaluasi bagian pertama persamaan 7-5 pada t=T/2.
Inverter 7-6

Jadi persamaan 7-5 dan 7-8 mendeskribsikan arus pada beban R-L dalam keadaan
mantap bila tegangan yang diberikan berbentuk kotak. Gambar 7-2 menunjukkan arus-
arus beban, sumber dan saklar.
Daya yang diserap oleh beban dapat diperoleh dari I
2
rm
R, dimana arus rms beban dapat
dicari dari definisi-definisi persamaan pada bab 2. Karena masing-masing kotak dari
arus setengah periode adalah identik, maka cukup hanya bagian setengah periode
pertama saja yang dievaluasi:

Bila diasunsikan saklar ideal, daya yang dicatu oleh sumber harus sama dengan daya
yang diserap beban. Daya dari sumber dc ditentukan dari:

seperti yang telah diturunkan pada bab 2.
Contoh 7-1 :
Sebuah inverter full-bridge gambar 7-1 mempunya urutan pensaklaran yang
menghasilkan bentuk gelombang kotak pada sisi beban R-L. Frekuensi pensaklaran 60
Hz, V
dc
=100V, R=10Q dan L=25mH. Hitunglah (a) pernyataan arus beban. (b) daya
yang diserap beban. (c) arus rata-rata adari sumber dc Solusi:
(a) Dari parameter tersebut diperoleh :


Persamaan 7-8 digunakan untuk menentukan arus maksimum dan minimum :
Inverter 7-7





(c) Arus rata-rata sumber dapat juga dihitung dengan persamaan daya sumber dan
beban, dengan asumsi bahwa rugi-rugi converter diabaikan. Menggunakan
persamaan 7-10,

Daya rata-rata dapat juga dihitung dari rata-rata pernyataan arus pada bagian a.
Arus pada saklar gambar 7-2 menunjukkan bahwa saklar-saklar pada rangkaian full-
bridge harus mampu mengalirkan kedua arah arus positif dan negatif beban R-L. Akan
tetapi , divais elektronik secara umum hanya konduksi satu arah saja, sehingga untuk
mengatasi hal tersebut harus dipasangkan sebuah diode anti paralel {feedback diode)
pada setiap saklar. Selama interval waktu arus negative, diaode akan mengalirkan arus.
Persaman 7-5 digunakan untuk mendapatkan arus beban

(b) Daya dihitung dari I
2
rm
,R, dimana Irm
S
dapat dihitung dari persamaan 7-9

Inverter 7-8
Diode akan reverse ketika arus pada saklar positif. Gambar 7-3a menujukkan inverter
full-bridge dengan saklar menggunakan BJT dan Diode

Gambar 7-3 (a) Inverter full-bridge menggunakan BJT. (b) Arus keadaan mantap untuk
beban R-L
Arus-arus pada transistor dan diode untuk tegangan kotak dan beban R-L ditubjukkan
pada gambar 7-3b. Umumnya modul semikonduktor daya tersebut sudah dikemas dalam
bentuk satu chip.
Inverter 7-15

Ketika Qi dan Q2 pada gambar 7-3 a dipadamkan, maka arus beban harus kontinyu
mengalir dan akan dipindahkan ke diode D3 dan D4, sehingga akan menghasilakn
tegangan keluaran -V<jc, secara efektif lintasan 3 dan 4 menyala sebelum Q3 dan
Q4 dinyalakan. Transistor Q3 dan Q4 harus dinyalakan sebelum arus beban
menjadi nol.
7.4 Analisis deret Fourier
Metode deret Fourier dalam prakteknya banyak digunakan untuk menganalisa arus
beban dan untuk menghitung daya yang diserap beban, khususnya untuk
beban-beban yang kompleks atau beban R-L. Tanpa komponen dc pada keluaran :
dan
Daya yang diserap oleh bebanresistif seri dapat dicari dengan I
7
rms
R, dimana arus
rms dapat ditentukan dari arus rms masing-masing komponen dalam deret
Fourier-nya :
dimana

Zn adalah impedansi beban pada harmonisa yang ke-nSecara ekivalen, daya yang
diserap oleh beban resistor dapat ditentukan dari masing-masing frekuensi dalam
deret Fourier- nya. Total daya dapat ditentukan dari :

Inverter 7-16




Dalam kasusu gelombang kotak, deret Fourier mengandung harmonisa ganjil dan dapat
direpresentasikan sebagai:

Contoh 7-2:
Dari inverter pada contoh 7-1 (V
dc
=100V, R=10Q, L=25mH dan f^60Hz),
hitunglah amplitude bagian deret Fourier tegangan kotak beban, amplitude bagian deret
Fourier untuk arus beban dan daya yang diserap oleh beban

Solusi:
Tegangan beban dapat direpresentasikan sebagai deret Fourier dalam persamaan 7-
16. Amplitudo masing-masing tegangan adalah :



Amaplitudo masing-masing arus ditentukan dari persamaan 7-14 :


Daya pada masing-masing frekuensi ditentukan dari persamaan 7-15 :

dimana I
n>rm
s adalah / /V2

Inverter 7-17

Tabel 7-1 adalah rangkuman besaran-besaran deret Fourier untuk rangkaian
contoh 7-1. Dengan naiknya nomor harmonisa n, maka amplitude komponen
tegangan Fourier turun dan magnitude impedasi yang bersesuaian juga naik,
keduanya akan menghasilkan aeus yang rendah untuk tingkat harmonisa yang
tinggi. Oleh karenanya hanya deret pertamanya saja yang menarik dalam
prakteknya. Daya yang diserap oleh beban dapat dihitung dari persamaan 7-15
:


7.5 Total Distorsi Harmonisa (Total Harmionic Distortion-THD)
Mengingat bahwa inverter digunakan untuk mengubah sumber dc yang mencatu
beban ac, maka perlu untuk dibahas kualitas tegangan dan arus keluaran ac-nya.
Kualitas bentuk gelombang sinusoidal dapat dinyatakan dalam bentuk THD.
Dengan sumsi bahwa tidak ada komponen dc pada keluarannya (dari bab 2)

THD arus dapat ditentukan dngan substitusi dari arus-arus pada persamaan
sebelumnya. THD arus beban lebih menarik dari pada THD tegangan.
Contoh 7-3 : Tentukan THD tegangan bebandan arus beban untuk inverter
gelombang kotak pada contoh 7-1 dan 7-2.


Yang hasilnya sama dengan contoh 7-1.
Tabel 7-1 Besaran-besaran deret Fourier untuk contoh 7-2
Inverter 7-18

Solusi: Nilai rms gelombang kotak tegangan sama dengan nilai puncak, dan komponen
frekuensi fundamental adalah bagian pertama dari persamaan 7-16







Menghitung THD tegangan dengan persamaan 7-17 :



THD arus dihitung dengan menggunakan potongan deret Fourier yang sudah
ditentukan pada contoh 7-2 :


Inverter 7-19

7.6 lasi PSpice inverter gelombang kotak
Jika hanya bentuk gelombang arus pada beban yang diinginkan, haltersebut sudah
memenuhi untuk menetapkan sumber yang akan mengahasilkan tegangan yang
susuai yang diharapkan pada keluaran inverter. Ssbagai contoh sebuah inverter
full-bridge yang dapat menghasilkan gelombang kotak dapat diganti dengan
tegangan sumber gelombang kotak menggunakan sumber PULSE. Simulasi ini
akan memprediksi perilaku arus pada beban tetapi akan memberikan informasi
tidak langsung tentang saklar. Demikan juga, asumsi pendekatan ini bahwa operasi
saklar secara langsung menghasilkan keluaran yang diinginkan.
Contoh 7-4:
Beban R-L seri pada rangkaian inverter full-bridge dengan keluaran tegagan
kotak. Catu sumber dc-nya adalah 100V, R=10Q, L=25mH dan frekuensi
pensaklarannya adalah 60Hz.. (a) Dengan asumsi saklar ideal, gunakan
PSpice untuk menghitung arus makasimum dan minimum pada beban dalam
keadaan mantap. (b) Tentukan daya yang diserap beban. (c) Tentukan THD
arus beban. Solusi:
File masukan PSpice untuk rangkaian tersebut adalah sebagai berikut:


Inverter 7-20


Bila menginginkan perilaku saklar, pada simulasi PSpice dapat juga dimasukkan model
saklar pada inverter. Pendekatan perilaku inverter gambar 7-3 a. digunakan sebagai
model bawaan (default) PSpice untuk transistor dan diode. Hasil simulasi ini akan
memberikan informasi tentang arus-arus dan tegangan-tegangan untuk divais saklar.
Contoh lain, file masukan PSpice untuk rangkaian dengan BJT pada gambar 7-3a
diberikan pada contoh 7-5. Model bwaan dari transistor dan diode dapat digunakan.
Akan ada perbedaan sedikit antara hasil simulasi dengan rangkaian ini dan dengan
rangkaian dengan saklar ideal. Rangkaian drive untuk transistor dari tegangan sumber
pulsa. Duty ratio dibuat sedikit kurang dari 50% untuk mencegah overlap penutupan
saklar, yang akan berdampak hubung singkat pada tegangan catu.
Contoh 7-5 :
Ulangi contoh 7-4, tetapi menggunakan rangkaian gambar 7-3
a Solusi :
File masukan PSpice adalah sebagai berikut. Menggunakan model bawaan PSpice
NPN transistor dan diode


Inverter 7-21


Inverter 7-22









Untuk menampilkan bentuk gelombang arus pada transistor, diode, dan
tegangan dc
sumber yaitu dengan memasukkan IC(Q1), I(D3), -I(VDC), dan seterusnya.

7.7 Kontrol amplitude dan harmonisa.
Amplitudo frekuensi fundamental untuk gelombang kotak dari inverter full-bridge
ditentukan oleh tegangan dc masukan (persamaan 7-16). Keluaran yang terkendali
dapat dihasilkan oleh modifikasi pola pensaklaran. Bentuk tegangan keluaran pada
gambar 7- 4a mempunyai interval nol, +V
dc
dan -V
dc
. Tegangan keluaran ini dapat
dikendalikan dengan mengatur interval a pada setiap sisi pulsa dimana keluaran
nol.
Inverter 7-23



Gambar 7-4 (a) Keluaran inverter untuk control amplitude dan frekuensi. (b) Urutan
pensaklaran intuk inverter full-bridge gambar 7-la
Nilai rms bentuk gelombang tegangan pada gambar 7-4a adalah :

Deret Fourier bentuk gelombangnya adala :

Karena setengah gelobang simetris, maka amplitude :

Inverter 7-24


dimana adalah sudut tegangan nol pada setiap akhir pulsa. Amplitudo setiap keluaran
adalah merupakan fungsi . Jadi, amplitude frekuensi fundamental dapat dikendalikan
dengan mengatur :
mengontrol amplitude dan harmonisa menggunakan pola pensaklaran ini, dan
memerlukan pengontrolan tegangan masukan dc inverter.
Integrasi pada koefisien deret Fourier persamaan 7-20 memberikan pengertian yang
sama pada eliminasi harmonisa. Dari bab 2 terlihat bahwa koefisien deret Fourier
ditentukan dari integral perkalian bentuk gelombang dan sinusoid. Gambar 7-5a
menujukkan bentuk gelombang keluaran untuk - 30 dan sinusoid - 3co
0
. Hasil
perkalian antara dua bentuk gelombang mempunyai luasan nol, yang berarti bahwa
harmonisa ketiga adalah nol. Gambar 7-5b menunjukkan bentuk gelombang untuk
=18 dan sinusoid = 5
0
, yang berarti bahwa harmonisa kelima tereliminasi untuk
ini
Kandungan harmonisa juda dapat dikendalikan dengan mengatur . Jika =30 (sebagai
contoh), V3=0. Hal inipenting karena harmonisa ketiga dapat dihilangkan (dieliminasi) dari
keluaran tegangan dan arus. Harmonisa yang lain dapat dihilangkan dengan memilih nilai a
yang membuat bagian kosinus persamaan 7-20 menjadi nol. Harmonisa ke-n tereliminasi
jika :

Pola pensaklaran gambar 7-4b adalah cara untuk mengimplementasikan bentuk gelombang
keluaran yang diinginkan.Kontrol amplitude dan reduksi harmonisa tidak kompatibel.
Sebagai contoh, pada - 30 untuk mengeliminasi harmonisa ketiga,

Inverter 7-25


Pola penyalaan yang lain dapt mengeliminasi kelipatan hannonisa-harmonisanya.
Sebagai contoh, Keadaan bentuk gelombang gambar 7-5c mengeliminasi harmonisa
ketiga dan kelima seperti yang ditunjukkan oleh kedua luasan adalah nol

Gambar 7-5 Eliminasi harmonisa. (a) Harmonisa ketiga. (b) Harmonisa keempat (c)
Harmonisa ketiga dan keempat
Inverter 7-26


Contoh 7-6:
Disain sebuah inverter yang akan digunakan untuk mencatu beban R-L seri dengan
R=10Q dan L=25mH dengan amplitude arus frekuensi fundamental adalah 9,27A,
tetapi THD lcurang dari 10%. Tagangan dc sumber variable. Solusi:
Sebuah inverter gelombang kotak menghasikan THD arus 16,7% (dari contoh 7-3),
yang tidak memenuhi spesifikasi. Arus harmonisa yang dominant adalah pada n=3,
sehingga pola pensaklaran untuk mengeliminasi harmonisa ketiga yang akan
mengurangi THD. Amplitudo tegangan yang diperlukan pada frekuensi
fundamental adalah
Dengan menggunakan pola pensaklaran pada gambar 7-4b, maka persamaan 7-21
menjelaskan amplitude tegangan frekuensi fundamental:
Tegangan harmonisa yang laindijelaskan dengan persamaa 7-20 dan arus -arus
pada harmonisa tersebut ditentukan dari amplitudo tegangan dan impedansi beban
menggunakan teknik yang sama dengan inverter gelombang kotak pada contoh
7-2. Hasilnya dapat diringkas pada table 7-2.
Tegangan dc masukan yang diperlukan dengan = 30 adalah :



Inverter 7-27



yang mencapai spesifikasi perencanaan.
File masukan PSpice untuk inverter full-bridge dengan control amplitude dan frekuensi
adalah sebagai berikut. Data masukan yang di-entri adalah nilai alpha, frekuensi
fundamental keluaran, tegangan dc masukan ke inverter dan beban. saklarnya dilengkapi
dengan diode feedback.
THD arus beban adalah :

Inverter 7-28



Bentuk gelombang tegangan dan arus hasil simulasi dapat dilihat pada gambar 7-6.
Arus dengan factor skala 10 untuk meniuijukkan hubungannya dengan bentuk
gelombang tegangan. THD arus beban diperoleh dari analisis Fourier pada file
keluaran seperti 6,6%.

Inverter 7-29



7.8 Inverter Setengah-Jembatan (The Half-Bridge Inverter).
Ganbar 7-7 menunjukkan inverter setengah-jembatan. Pada inverter
setengah-jembatan ini banyaknya saklar berkurang dua yaitu dengan membagi
tegangan dc menjadi dua bagian dengan kapasitor. Nilai kedua kapasitor sama dan
mempunyai tegangan V4J2. Ketika Si ditutup, , tegangan pada beban sebesar
-Vdc/2. Ketika S2 ditutup, , tegangan pada beban sebesar +V
do
/2. Maka tegangan
keluaran kotak atau keluaran dua polaritas (biplolar) yang termodulasi lebar pulsa
akan dihasilkan.
Tegangan pada saklar pada saat membuka adalah dua kali tegangan beban atau
sama dengan Vd
C
. Seperti pada inverter jembatan-penuh, blinking time untuk
saklar diperlukan untuk mencegah hubung singkat pada sumber dan diode feedback
diperlukan untuk memberikan kontinyuitas arus pada beban induktif.
Inverter 7-30




Gambar 7-7 Inverter setengah jembatan menggunakan IGBT, keluaran
V
dc
/2

7.9 Keluaran Termodulasi Lebar Pulsa
Modulasi lebar pulsa (PWM) adalah suatu cara untuk menurunkan THD arus beban.
Seluruh keluaran PWM inverter dengan beberapa rangkaian filter secara umum dapat
memenuhi THD yang diperlukan lebih mudah dari pada pola pensaklaran gelombang
kotak. PWM yang tidak difilter akan mempunyai THD relative tinggi, tetapi
harmonisanya akan lebih tinggi dari pada gelombang kotak yang membuat mudah
filternya.
Dalam PWM amplitude tegangan keluaran dapat dikendalikan dengan modulasi
bentuk gelombang. Pengurangan filter akan menaikkan harmonisa dan control
amplitude tegangan keluaran adalah dua keuntungan yang nyata dari PWM.
Kerugiannya adalah rangkaian control lebih kompleks dan menaikkan rugi-rugi
karena frekuensi pensaklaran yang tinggi.
Kontrol saklar untuk keluaran PWM sinusoidal memmerlukan :
7.3 Sinyal referensi (sinyal control atau modulasi) yang sinusoid dalam kasus
ini
Inverter 7-31

7.4 Sinyal pembawa yang berbentuk gelombang segitiga yang mengontrol
frekuensi pensaklaran.

Pensaklaran Bipolar
Gambar 7-8 adalah prinsip PWM bipolar sinusoida, sedangkan gambar 7-8a adalah
sinyal referensi sinusoidal dan sinyal pembawa segitiga. Ketiak nilai sesaat sinyal
referensi lebih besar dari sinyal pembawa segitiga, keluaran menjadi +V
dc
, dan
ketika sinyal referensi kurang dari sinyal pembawa maka keluarannya menjadi
-Vd
C
:

PWM ini disebut bipolar karena keluarannya bolak-balik antara plus dan minus
dari sumber tegangan catu dc.
Pola pensaklaran yang akan mengimplementasikan pensaklaran bipolar dapat
menggunakan inverter jembatan-penuh gambar 7-1 yaitu ditentukan dengan
merabandingkan sinyal-sinyal referensi dan pembawa sesaat:
Inverter 7-32


Pensaklaran Unipolar
Pada pola pensaklaran unipolar untuk Modulasi Lebar Pulsa, keluaran yang
dihasilkan adalah merupakan pensaklaran dari tinggi ke nol maupun dari
rendah ke nol. Satu pola pensaklaran unipolar mempunyai control saklar
sebagai berikut:

Nampak bahwa pasangan saklar (Si, S
4
) dan (S
2
, S
3
) adalah saling
melengkapi ketika satu pasangan saklar tertutup pasangan saklar saklar yang
lain membuka. Tegangan v
a
dan V
b
pada gambar 7-9a bergantian antara +V
de

Inverter 7-33
dan nol. Tegangan keluaran V
o
=V
ab
=V
a
- V
b
seperti yang ditunjukkan pada
gambar 7-9b.

Gambar 7-9 (a) Konverter jembatan-penuh untuk PWM unipolar, (b) Sinyal
refirensi dan pembawa. (c) tegangan pada jembatan v
a
dan v
b
. (d) Tegangan
keluaran
Inverter 7-34


Pola pensaklaran unipolar yang lain hanya mempunyai satu pasangan saklar yang
beroperasi pada frekuensi pembawa, sementara pasangan yang lain beroperasi
pada frekeunsi referensi sehingga mempunyai dua saklar frekuensi tinggi dan dua
saklar frekunsi rendah. Pola pensaklaran ini adalah :

dimana gelombang sinus dan segitiga seperti terlihat pada gambar 7-1 Oa.
Alternatif lain pasangan S2 dan S3 dapat sebagai saklar frekuensi tinggi, sedangkan
Si dan S4 dapat sebagai saklar frekuensi rendah.
Inverter 7-35
Inverter 7-36

7.10 Definisi dan Pertimbangan-pertimbangan PWM
Beberapa definisi dan pertimbangan-pertimbangan bila menggunakan PWM.
1. Rasio modulasi frekuensi, mf : derete Fourier tegangan keluaran PWM
mempunyai frekuensi fundamental yang sama dengan sinyal referensi.
Frekuensi harmonisa yang ada sekitar kelipatan darai frekuensi
pensaklarannya. Magnitude beberapa harmonisa sangat besar,
kadang-kadang lebih besar dari frekuensi fundamentalnya. Akan tetapi
karena harmonisa-harmonisa ini terletak pada frekuensi tinggi, maka
dengan low-pass filter sederhana dapat digunakan untuk
menghilangkannya. Rasio frekuensi modulasi mf adalah didefinisika
sebagai perbandingan antara frekuensi sinyal pembawa dan sinyal
referensi

Naiknya frekuensi pembawa (naiknya mf) akan menimbulkan naiknya
frekuensi harmonisa. Kerugian frekuensi pensaklaran yang tinggi akan
menaikkan rugi-rugi pada saklar elektronik yang digunakan pada
inverter.
2. Rasio modulasi frekuensi m
a
: didefinisikan sebagai rasio dari amplitude
sinyal referensi terhadap sinyal pembawa :
Jika m
a
<, 1, amplitude frekuensi fundamental tegangan keluaran adalah berbanding
linier terhadap m
a
, maka:

Jadi amplitude frekuensi fundamental dari keluaran PWM dapat dikendalikan dengan
m
a
. Hal ini sangat penting dalam kasus dimana tegangan dc catu nya tidak teregulasi,
karena dengan mengatur m
a
maka diperoleh catu tegangan dc yang bervariasi,
menghasilkan keluaran amplitudo yang konstan. Jadi m
a
dapat
Inverter 7-37

digunakan untuk mengubah amplitudo keluaran. Jika m
a
> 1 amplitudo
keluaran naik terhadap m
a
, tetapi tidak linier.
3. Saklar : saklar pada rangkaian jembatan-penuh harus mampu dialiri
arus dalam dua arah dari PWM, tidak seperti pada operasi gelombang
kotak. Diode feeback yang dipasangkan pada divais pensaklaran
diperlukan seperti yang dilakukan pada gambar 7-3a. Disamping itu
pada saklar riil yang tidak dapat konduksi dan padam secara cepat.
4. Tegangan referensi : tegangan referensi sinusoidal harus dibangkitkan
didalam rangkaian control dari inverter atau bisa diperoleh dari
referensi luar. Haltersebut terlihat bahwa fungsi inverter bridge tidak
diperlukan, karena tegangan sinusoidal harus ada sebelum bridge dapat
beroperasi untuk menghasilkan keluaran sinusoidal, sehingga
diperlukan daya yang sangat kecil untuk sinyal referensi. Daya yang
dicatukan ke beban dipenuhi oleh sumber daya dc. Sinyal referensi
tidak harus sinusoid. Sinyal referensi dapat juga dari sinyal audio,
sehingga rangakaian jembatan-penuh dapat digunakan sebagai penguat
audio PWM.

7.11 Harmonisa PWM
Pensaklaran Bipolar
Deret Fourier dari keluaran PWM bipolar ditunjukkan pada gambar 7-8
ditentukan oleh penjelasan masing-masing pulsa. Bentuk gelobambang
segitika disinkronisasikan terhadap sinyal referensi sperti yang ditunjukkan
pada gambar 7-8a dan mf ditentukan bulat ganjil. Keluaran PWM
menunjukkan simetri ganjil dan deret Fourienya dapt dinyatakan sebagai
berikut:
Untuk pulsa yang ke-k keluaran PWM pada gambar 7-11, koefisien Fourier-nye
adalah :
Inverter 7-38




Gambar 7-11 Pulsa PWM tunggal untuk penentuan deret Fourier pada PWM
bipolar.
Setiap koefisien Fourier V
n
untuk bentuk gelombang PWM adalah penjumlahan
Vk untuk p pulsa dalam satu periode :

Spektrum frekuensi ternirmalisasi untuk pensaklaran bipolar untuk m
a
=l
ditunjukkan pada gambar 7-12. Amplitudo harmonisa adalah inerupakan fungsi
Inverter 7-39
m
a
karena lebar setiap pulsa tergantung pada amplitude relative gelombang sinus
dan segitiga. Frekuensi harmonisa pertama pada keluaran spectrum adalah m
f


Tabel 7-3 menunjukkan harmonisa pertama pada keluaran PWM bipolar.
Koefisien Fourier tidak merupakan fungsi mf, jika mf besar (> 9).
Tabel 7-3 Koefisien Fourier ternormalisasi V
n
/V
dc
untuk PWM bipolar

Contoh 7-7:
Inverter jembatan penuh digunakan untuk mengahasilkan tegangan 60
Hz pada beban R-L seri menggunakan PWM bipolar. Tegangan do
masukan ke inverter adalah 100V, rasio modulasi amplitude m
a
adalah
0,8, rasio modulasi frekuensi m
f
adalah 21 [ftri = (21)(60) = 1260Hz].
Beban mempunyai resistansi R=10 Ohm dan induktansi L=20 mH.
Hitunglah (a) Apmlitudo komponen 60 Hz dari tegangan keluaran dan
arus beban, (b) Daya yang diserap oleh beban resistor, dan (c) THD arus
beban.
Solusi:
Inverter 7-40
(a) Dengan menggunakan persamaan 7-26 dan table 7-3, Amplitudo
frekuensi fundamental 60 Hz adalah :



Arus pada masing-masing harmonisa ditentukan dari persamaan 7-30
Daya pada masing-masing frekuensi ditentukan dari
Hasil dari amplitudo tegangan, arus dan daya pada frekuensi ini ditunjukkan pada
tabel 7-4.
Tabel 7-4 Besaran deret Fourier untuk inverter PWM contoh 7-7

Amplitudo arus ditentukan dengan menggunakan analisis fasor :
Dengan Frekuensi fundamental

(b) Dengan m
f
= 21, harmonisa pertama adalah pada n = 21, 19 dan 23.
Menggunakan tabel 7-3 diperoleh
Daya yang diserap oleh beban resistor adalah

Inverter 7-41
Orde harmonisa yang lebih tinggi mengkontribusikan daya yang kecil dan dapat
ditiadakan.

(c) THD dari arus beban ditentukan dengan menggunakan persamaan 7-17, dengan
arus rms dari harmonisa dengan pendekatan bagian dari tabel 7-4 :

Dengan menggunakan potongan deret Fourier dalam tabel 7-4, maka THD
diluar perkiraan. Bagaimanapun juga, impedansi beban naik dan amplitudo
harmonisa secara umum turun dengan n naik., sehingga pendekatan tersebut
dapat diterima. (termasuk n = 100 mengahasilakan THD 9,1%).
Contoh 7-8 :
Rencanakan inverter PWM bipolar yang akan menghasilkan keluaran 75
V-rms 60
Hz dari sumber 150 V-dc. Beban R-L seri dengan R = 12 Ohm dan L = 60 mH.
Pilih frekuensi pensaklaran sehingga THD arus kurang dari 10%.
Solusi:
Rasio modulasi amplitudo yang diperlukan ditentukan dari persamaan 7-26 :
Nilai rms arus harmonisa yang dibatasi oleh THD yang diperlukan :
Amplitudo arus pada 60 Hz adalah
Inverter 7-42

Nampak bahwa akan menghasilkan arus harmonisa yang dominant pada frekuensi
pensaklaran. Sebagai pendekatan, dengan asumsi bahwa kandungan harmonisa
dari arus beban adalah sama dengan harmonisa dominant pada frekuensi pembawa
:
Tabel 7-3 menunjukkan bahwa harmonisa tegangan temormalisasi untuk n = mf
dan m
a
= 0,7 adalah 0,92. Amplitudo tegangan untuk n = me adalah :

Impedansi beban minimum pada frekuensi pembawa adalah

Karena impedansi pada frekuensi pembawa harus lebih besar dari 12 Ohm
resitansi beban, maka asumsi impedansi pada frekuensi pembawa secara
keseluruhan adalah reaktansi induktif:


Untuk impedansi beban yang lebih besar dari 333 Ohm



Pemilihan mf lebih kecil dari 15 dapat memenuhi spesifikasi perencanaan. Akan
tetapi, estimasi kandungan harmonisa dalam perhitungan akan rendah, sehingga
pemilihan frekuensi pembawa yang lebih tinggi harus lebih hati-hati. Misal mf =
17, yang menhasilkan ganjil bulat. Frekuensi pembawa :
Amplitudo harmonisa arus pada frekuensi pembawa dengan pendekatan seperti:
Inverter 7-43

Naiknya mf akan mengurangi THD arus tetapi akan menaikkan rugi-rugi
pensaklaran yang tinggi.
Pensaklaran Unipolar
Dengan pola pensaklaran unipolar dalam gambar 7-9, beberapa hrmonisa pada
spectrum pola bipolar tidak nampak. Harmonisa keluaran milai nampak sekitar
2mf dan mf dipilih bilangan bulat.Gambar 7-13 menunjukkan spectrum
frekuensi untuk pensaklaran unipolar dengan m
a
= 1

Tabel 7-5 menunjukkan harmonisa yang pertama keluaran PWM unipolar. Pola
PWM unipolar menggunakan saklar frekuensi tinggi dan rendah seperti yang
ditunjukkan pada gambar 7-10 akan mempunyai hasil yang serupa dengan tabel
7-5, tetapi harmonisa akan mulai sekitar mf lebih besar dari 2mf.

Tabel 7-5 Koefisien Fourier ternormalisasi V
n
/Vd
C
untuk PWM unipolar gambar
7-9



Inverter 7-44




DAFTAR PUSTAKA

1. Fisher J. Marvin, "Power Electronics", PWS-KENT Publishing Company,
Boston, 1991
2. Hart W. Daniel, "Introduction to Power Electonics", Prentice-Hall, Inc,
Canada, 1997
3. Lander W. Cyril, "Power Electronics", McGraw-Hill Book Company, United
Kingdom, England, 1993
4. Mohan Ned, Underland M. Tore and Robbins P. William, "Power Elektronics
: Converter, Application and Design", Jhon Wiley &sons, Inc, Singapore,
1995
5. Ramshaw R.S., "Power Electronics Semiconductor Switches", Chapman &
Hall, 2-6 Boundary Row London SEI 8HN, United Kingdom, 1993
6. Rashid, M.H., "Power Electronics : circuit, design and application", New
Jersey, Prentice Hall, Inc., 1993
7. Sen P.C., "Power Electronics", Tata McGraw-Hill Publishing Company
Limited, Sixth repiint, 1993