Anda di halaman 1dari 61

Hukum dan Hak Asasi Manusia

Oleh : Kelompok 2
Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dan konsep dari Hak Asasi Manusia?
2. Bagaimana sejarah perkembangan Hak Asasi Manusia?
3. Apa saja konsep-konsep dan elemen-elemen Negara
hukum?
4. Apa pengertian dan hakekat hukum?
5. Apa pengertian perlindungan hukum?
6. Apa hubungan perlindungan hukum terhadap Hak Asasi
Manusia?
7. Bagaimana aplikasi perlindungan hukum terhadap Hak
Asasi Manusia dalam skala global dan nasional?
8. Bagaimana reformasi hukum yang ada di Indonesia?
9. Apa saja bentuk dan model pelanggaran hukum di
Indonesia?
10. Bagaimana pelaksanaan perlindungan Hak Asasi Manusia
di Indonesia?
11. Apa upaya pemerintah Indonesia dalam melakukan
perlindungan Hak Asasi Manusia?

1. Pengertian Hak Asasi Manusia
dan Konsep Dasar Hak Asasi
Manusia
Pengertian
Berdasarkan UU Republik Indonesia no. 39 thn 1999
Hak Asasi Manusia (HAM) : seperangkat hak yg
melekat pd hakikat & keberadaan manusia sebagai
makhluk Tuhan YME & merupakan anugerah-Nya yg
wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh
negara, hukum, Pemerintah, &setiap orang demi
kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat
manusia.

HAM hak dasar yg secara kodrati melekat pada
diri manusia, bersifat universal & langgeng, shg
harus dilindungi, dihormati, dipertahankan, dan tidak
boleh diabaikan, dikurangi, atau dirampas oleh
siapapun.


KONSEP DASAR HAK ASASI MANUSIA
Semua orang dilahirkan bebas dan setara dalam martabat dan hak-haknya.
Mereka dikaruniai akal dan hati nurani dan hendaknya memperlakukan orang
lain dengan persaudaraan.

Setiap orang berhak atas semua hak dan kebebasan-kebebasan yang
tercantum di dalam Deklarasi ini dengan tidak ada kekecualian apa pun,
seperti pembedaan ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, politik
atau pandangan lain, asal-usul kebangsaan atau kemasyarakatan, hak milik,
kelahiran ataupun kedudukan lain.

Selanjutnya, tidak akan diadakan pembedaan atas dasar kedudukan politik,
hukum atau kedudukan internasional dari negara atau daerah dari mana
seseorang berasal, baik dari negara yang merdeka, yang berbentuk wilyah-
wilayah perwalian, jajahan atau yang berada di bawah batasan kedaulatan
yang lain.

HAM bersifat universal, dan berlaku untuk siapapun, dimanapun dalam
keadaan apapun
2. Sejarah Perkembangan Hak Asasi
Manusia
Periode perkembangan HAM di Indonesia
dipaparkan sebagai berikut:
1. Periode 1908-1945
2. Periode 1945-1950
3. Periode 1950-1959
4. Periode 1959-1966
5. Periode 1966-1998
6. Periode 1998-sekarang


1. Periode 1908-1945
Konsep pemikiran HAM dikenal sejak tahun 1908
lahirnya Budi Utomo, yakni di tahun mulai timbulnya
kesadaran akan pentingnya pembentukan suatu negara
bangsa (nation state).
Konsep HAM yg mengemuka : konsep-konsep mengenai
hak atas kemerdekaan, dalam arti hak sebagai bangsa
merdeka yg bebas menentukan nasib sendiri (the rights
of self determination).
Perkembangan HAM di Indonesia selanjutnya tumbuh
seiring dengan kemunculan berbagai organisasi
pergerakan yg intinya sebagaimana diperjuangkan oleh
Perhimpunan Indonesia yaitu hak menentukan nasib
sendiri.
Pada masa-masa selanjutnya, Perkembangan pemikiran
HAM mengalami masa-masa penting manakala terjadi
perdebatan tentang Rancangan UUD oleh BPUPKI
2. Periode 1945-1950


Hak asasi barulah mendapatkan tempat yang
penting utamanya pada masa KRIS 1949 dan UUDS
1950, karena kedua UUD atau konstitusi itu memuat
HAM secara terperinci. Hal itu disebabkan KRIS
1949 dibuat setelah lahirnya Declaration of Human
Right 1948, sedangkan UUDS 1950 adalah
perubahan dari KRIS 1949 melalui UU Federal No. 7
tahun 1950 (Kusniati R, 2005).


3. Periode 1950-1959

Memasuki periode kedua berlakunya UUD 1945 yaitu sejak
dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959, gagasan atau
konsepsi Presiden Soekarno mengenai demokrasi terpimpin
dilihat dari sistem politik yang berlaku yang berada di bawah
kontrol/kendali Presiden.

Dalam perspektif pemikiran HAM, terutama hak sipil dan
politik, sistem politik demokrasi terpimpin tidak memberikan
keleluasaan ataupun menenggang adanya kebebasan
berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pikiran dengan
tulisan.

Di bawah naungan demokrasi terpimpin, pemikiran tentang
HAM dihadapkan pada restriksi atau pembatasan yang ketat
oleh kekuasaan, sehingga mengalami kemunduran (set back)
sebagai sesuatu yang berbanding terbalik dengan situasi pada
masa Demokrasi Parlementer.


4. Periode 1959-1966

Pemberontakan G30S/PKI tanggal 30 September 1966
mengantarkan Indonesia kembali mengalami masa kelam kehidupan
berbangsa.

Presiden Soekarno mengeluarkan Supersemar yang dijadikan
landasan hukum bagi Soeharto untuk mengamankan Indonesia.
Masyarakat Indonesia dihadapkan kembali pada situasi dan
keadaan dimana HAM tidak dilindungi ini krn disebabkan oleh
pemikiran para elite kekuasaan terhadap HAM.

Umumnya era ini ditandai oleh pemikiran HAM adalah produk barat.
Pada saat yg sama Indonesia sedang memacu pembangunan
ekonomi dengan mengunakan slogan pembangunan sehingga
segala upaya pemajuan dan perlindungan HAM dianggap sebagai
penghambat pembangunan. Hal ini tercermin dari berbagai produk
hukum yang dikeluarkan pada periode ini, yang pada umumnya
bersifat restriktif terhadap HAM.


4. Periode 1966-1998

Pada pihak lain,
masyarakat umumnya
diwakili LSM &
kalangan akademisi
berpandangan bahwa
HAM adalah universal.
Keadaan minimnya
penghormatan dan
perlindungan HAM ini
mencapai titik nadir
pada tahun 1998 yg
ditandai oleh turunnya
Soeharto sebagai
Presiden.
Periode 1966-1998 ini
secara garis besar
memiliki karakteristik
tahapan berikut:

1. Tahap represi &
pembentukan jaringan
(repression and
activation of network)
2. Tahap Penyangkalan
3. Tahap Konsesi Taktis
4. Tahap Penentuan

5. Periode 1998 sekarang
Pergantian rezim pemerintahan pada thn 1998
memberi dampak yg besar pada pemajuan &
perlindungan HAM di Indonesia.
Mulai dilakukan pengkajian thd beberapa kebijakan
pemerintah orde baru yg beralwanan dgn pemjuan &
perlindungan HAM dilakukan penyusunan peraturan
perundang-undangan yg berkaitan dgn pemberlakuan
HAM dlm kehidupan ketatanegaraan &
kemasyarakatan di Indonesia Hasilnya
menunjukkan banyaknya norma & ketentuan hukum
nasional khususnya yg terkait dgn penegakan HAM
diadopsi dari hukum & instrumen Internasional dlm
bidang HAM.

Cont
Strategi penegakan HAM pada periode ini dilakukan
melalui 2 tahap yaitu tahap status penentuan &
tahap penataan aturan secara konsisten.

tahap penentuan telah ditetapkan beberapa
penentuan perundang-undangan tentang HAM ,spt:
amandemen konstitusi Negara (UUD 1945 ),
ketetapan MPR (TAP MPR), Undang-undang (UU),
peraturan pemerintah dan ketentuan perundang-
undangan lainnya.


3. Konsep-Konsep dan Elemen-
Elemen Negara Hukum
Konsep-Konsep Negara Hukum
Negara hukum merupakan salah satu bentuk tipe
kenegaraan modern yang lahir dari hasil perdebatan para
filsuf dan sarjana hukum tentang negara dan hukum,
terutama sekali dalam memperbincangkan sumber
kekuasaan yang dimiliki oleh negara.
Awalnya ditemukan dua teori besar di bidang
ketatanegaraan, yaitu: teori tentang kedaulatan dan teori
asal mula negara
Sehingga timbul dualisme pemerintahan (antara Gereja
dan raja) :
Kedaulatan Teokrasi (Tuhan) : Kedaulatan Mutlak atau Absolut
Dimana dinyatakan bahwa Raja bertakhta karena kehendak
Tuhan, dan kekuasaan raja dari Tuhan. Raja adalah wakil
Tuhan, bayangan Tuhan, letnan Tuhan di dunia.
Kedaulatan Hukum (teori asal mula negara)
Ini muncul sebagai bentuk kecaman terhadap kedaulatan
mutlak dimana seharusnya ada batas-batas dan aturan-aturan
yang membatasi kekuasaan seorang Raja dan mengikat
semua rakyat yang kemudian disebut Hukum
Dikatakan oleh John Locke dalam bukunya yang
berjudul Two Treaties of Civil Government, bahwa
kekuasaan penguasa tidak pernah mutlak, tetapi
selalu terbatas karena dalam mengadakan perjanjian
dengan seseorang atau sekelompok orang, individu-
individu tidak menyerahkan seluruh hak alamiah
mereka. Ada hak-hak alamiah yang merupakan hak-
hak asasi yang tidak bisa dilepaskan atau dipisahkan,
bahkan juga tidak oleh individu sendiri. Pemerintah
yang diserahi tugas mengatur hidup individu dalam
ikatan kenegaraan harus menghormati hak-hak asasi
tersebut. Fungsi perjanjian masyarakat menurut Locke
ialah untuk menjamin dan melindungi hak-hak kodrat
itu, sehingga ajaran John Locke menghasilkan bentuk
negara konstitusional.
Di dalam buku tersebut John Locke mengemukakan
bahwa untuk membatasi kekuasaan penguasa negara
agar hak-hak asasi warganya terlindungi, maka
kekuasaan negara harus dibagi, sehingga muncul teori
pembagian kekuasaan.
John Locke membagi tiga kekuasaan, yaitu:
Kekuasaan legislatif adalah kekuasaan yang meliputi
pembuatan peraturan perundang-undangan.
Kekuasaan eksekutif meliputi mempertahankan peraturan dan
mengadili.
Kekuasaan federatif meliputi kekuasaan yang tidak termasuk
dalam kekuasaan terdahulu, misalnya hubungan luar negeri.
Yang lebih lanjut oleh sarjana dari Perancis,
Montesquieu, dikembangkan dengan teorinya Trias
Politica yang membagi kekuasaan ke dalam tiga macam
kekuasaan, yaitu: kekuasaan legislatif, kekuasaan
eksekutif, dan kekuasaan yudikatif.

Dengan demikian konsep negara hukum pada
dasarnya merupakan reaksi atas absolutisme yang
telah melahirkan negara kekuasaan, sehingga
kekuasaan penguasa harus dibatasi agar tidak
berbuat sewenang-wenang terhadap rakyat dan
warganya.
Latar belakang kelahiran konsep negara hukum atau
the rule of law yaitu menginginkan perlindungan
terhadap hak-hak asasi manusia dan martabat
manusia (the dignity of man).
Elemen-Element Utama Negara
Hukum
International Commission of Jurist telah berusaha
merumuskan elemen-elemen atau unsur-unsur pokok
atau prinsip-prinsip umum dari konsep negara hukum,
sehingga dapat dipergunakan oleh bermacam-macam
sistem hukum di berbagai negara yang mempunyai latar
belakang sejarah, struktur politik, ekonomi, dan budaya,
serta pandangan filsafat yang berbeda-beda.
Adapun prinsip atau elemen utama negara hukum atau
rule of law menurut International Commission of Jurist
adalah sebagai berikut:
Negara harus tunduk kepada hukum;
Pemerintah harus menghormati hak-hak individu di bawah rule
of law;
Hakim-hakim harus dibimbing oleh rule of law, melindungi dan
menjalankan tanpa takut dan tanpa berpihak serta menentang
setiap campur tangan pemerintah, atau partai-partai terhadap
kebebasannya sebagai hakim.

Dalam Repelita Buku II C bab XIII, rule of law
dimaknakan sebagai terjelma ke dalam 3 (tiga)
unsur, yaitu:
Pengakuan dan perlindungan hak-hak asasi manusia;
Peradilan yang bebas dan tidak memihak; dan
Legalitas dalam arti hukum, baik formal maupun material.
Sedangkan F. Julius Stahl mengemukakan empat
unsur/elemen negara hukum, yaitu:
Hak-hak dasar manusia;
Pembagian kekuasaan;
Pemerintahan berdasarkan peraturan perundangan; dan
Peradilan tata usaha dan perselisihan.


Dengan demikian, maka elemen-elemen yang
penting dalam suatu negara hukum ialah:
Asas pengakuan dan perlindungan hak-hak asasi
manusia;
Asas legalitas; asas pembagian kekuasaan;
Asas peradilan yang bebas dan tidak memihak; dan
Asas kedaulatan rakyat.
Dengan adanya elemen-elemen utama dalam rule of
law dapat dikemukakan bahwa suatu negara dapat
dikatakan sebagai negara hukum (rechtsstaat).

4. Pengertian dan Hakekat Hukum
Definisi hukum menurut para sarjana
hukum
a. Prof.Mr.E.M.Meyers dalam bukunya De Algemene
begrifen van het Burgerlijk Recth
Hukum ialah semua aturan yang mengandung
pertimbangan kesusilaan, ditujukna kepada tingkah
laku manusia dala masyarakat, dan yang menjadi
pedoman bagi penguasa-penguasa negara dalam
melakukan tugasnya.
b. Leon Duguit
Hukum ialah aturan tingkah laku para anggota masyarakat ,
aturan yang daya penggunaannya pada saat tertentu
diindahkan oleh masyarakat sebagai jaminan dari
kepentingan bersama dan jika dilanggar, menimbulkan
reaksi bersama terhadap orang yang melakukan
pelanggaran itu.
c. Immanuel Kanat
Hukum ialah keseluruhan syarat-syarat yang dengan ini
kehendak bebas dari orang yang atu dapat menyesuaikan
diri dengan kehendak bebeas dari orang lain, menuruti
peraturan hukum tentang kemerdekaan.

Sebenarnya hukum itu sulit untuk didefinisikan dengan
tepat Adapun sebab mengapa hukum itu sulit
diberikan definisi yang tepat ialah karena hukum itu
mempunyai segi dan bentuk yang sangat banyak,
sehingga tak mungkin tercakup keseluruhan segi
dan bentuk hukum itu dalam suatu definisi.

Menurut Prof.Muchsin, pada hakekatnya hukum
merupakan alat atau sarana untuk mengatur dan
menjaga ketertiban guna mencapai suatu
masyarakat yang berkeadilan dalam
menyelengarakan kesejahtraan sosial yang
berupa peraturan-peraturan yang bersifat
memaksa dan memberikan sangsi bagi yang
menyelengarakannya, baik itu untuk mengatur
masyarakat ataupun aparat pemerintah sebagai
penguasa.

5. Pengertian Perlindungan Hukum
perlindungan (kamus umum bahasa indonesia)
tempat berlindung atau merupakan perbuatan (hal)
melindungi.
hukum (Sudikno Mertokusumo ) kumpulan peraturan
atau kaedah yang mempunyai isi yang bersifat umum
dan normatif, umum karena berlaku bagi setiap orang
dan normatif karena menentukan apa yang
seyogyanya dilakukan, apa yang tidak boleh dilakukan
atau harus dilakukan serta menentukan bagaimana
caranya melaksanakan kepatuhan pada kaedah-
kaedah.
Perlindungan hukum suatu perbuatan hal
melindungi subjek-subjek hukum dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku dan
pelaksanaannya dpat dipaksakan dengan suatu
sanksi.

6. Hubungan Perlindungan Hukum
terhadap Hak Asasi Manusia
Hukum
Hukum adalah kumpulan peraturan yang terdiri atas
norma dan sanksi yang bertujuan mengadakan
ketertiban dalam pergaulan manusia, sehingga
keamanan dan ketertiban terpelihara.
Hukum itu mempunyai sifat mengatur dan memaksa.
Ia merupakan peraturan-peraturan hidup
bermasyarakat yang dapat memaksa orang supaya
menaati tata tertib dalam masyarakat serta
memberikan sanksi yang tegas (berupa hukuman)
terhadap siapa saja yang tidak menaatinya.
Hukum bertujuan menjaga kepentingan tiap-tiap
manusia supaya kepentingan-kepentingan itu tidak
dapat diganggu.
Hak Asasi Manusia
Hak Asasi Manusia (HAM) adalah hak dasar yang
melekat pada diri manusia yang sifatnya kodrati dan
universal sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa
dan berfungsi untuk menjamin kelangsungan hidup,
kemerdekaan, perkembangan manusia dan
masyarakat, yang tidak boleh diabaikan, dirampas,
atau diganggu oleh siapa pun (Tap MPR Nomor
XVII/MPR/1999).
Hubungan hukum dan HAM
Antara Hak Asasi Manusia dan Hukum memiliki
hubungan yang erat. Karena didalam melakukan
penegakan HAM selalu dilandasi oleh aturan hukum.
Sebaliknya dalam konteks negara hukum
mewajibkan pemerintah melakukan penegakan dan
perlindungan HAM kepada warga negaranya.
Agar HAM dapat ditegakan dalam berbagai kehidupan
harus ada instrumen yang mengaturnya. Instrumen
tersebut berisi aturan-aturan bagaimana HAM itu
ditegakkan dan mengikat seluruh warga negara.
Didalam penegakan HAM dibentuk suatu pengadilan
HAM yang diatur dalam UU Nomor 26 tahun 2000.
Pengadilan itu khusus diperuntukkan bagi pelanggaran
hak asasi manusia yang berat.

Banyak hal-hal yang telah dilakukan pemerintah
Indonesia dalam penegakan dan perlindungan HAM
terhadap warga negaranya. Seperti dibentuknya
lembaga-lembaga khusus mengenai pengaduan
HAM dan adanya reformasi hukum yang mengatur
tentang penegakan dan perlindungan HAM.
7. Aplikasi Perlindungan Hukum
terhadap Hak Asasi Manusia dalam
Skala Global dan Nasional
Sejak PBB diberdirikan tahun 1945 untuk
mengupayakan perdamaian dunia, PBB dan
organisasi internasional lainnya telah menerbitkan
101 instrumen hukum dalam rangka penegakan
HAM yang dikenal sebagai langkah yuridis PBB
untuk memperkuat HAM.

Dari 101 instrumen hukum yang dimiliki PBB dan
organisasi internasional lainnya, Indonesia memiliki
5 instrumen hukum yaitu:
1. International Convention on the Elimination of all
Forms of Discrimination Against Woman
2. International Convention on the Political Right of
Woman
3. International Convention on the Right of the Child
4. International Convention against Apartheid in
Sports
5. Convention Against Torture and Other Cruel,
Inhuman or Degrading Treatment or Punishment
8. Reformasi Hukum yang ada di
Indonesia
Definisi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, reformasi
hukum adalah perubahan secara drastis untuk
perbaikan di bidang hukum dalam suatu masyarakat
atau negara.
Sedangkan menurut Muladi, reformasi hukum adalah
proses demokratisasi dalam pembuatan,
penegakkan,
dan kesadaran hukum.
Dalam hal pembuatan hukum bukan aspirasi
penguasa saja yang ditonjolkan melainkan juga
harus mendengarkan aspirasi dari siapa saja yang
berkepentingan dengan pemerintahan
Reformasi hukum di Indnesia
Kondisi Hukum Indonesia saat ini belum dilaksanakan
sesuai dengan azaz hukum yang berkeadilan. Hal ini
dapat dilihat sorotan yang amat tajam dari seluruh
lapisan masyarakat, baik dari dalam negeri maupun
luar negeri terhadap dunia hukum di Indonesia.

Di Indonesia reformasi hukum masih berjalan lambat
dan belum memberikan rasa keadilan bagi
masyarakat.
Tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa pada
dasarnya apa yang terjadi akhir-akhir ini merupakan
ketiadaan keadilan yang dipersepsi masyarakat (the
absence of justice).
Ketiadaan keadilan ini merupakan akibat dari:
pengabaian hukum (diregardling the law),
ketidakhormatan pada hukum (disrespecting the
law), ketidakpercayaan pada hukum (distrusting the
law) serta adanya penyalahgunaan hukum (misuse
of the law)

Reformasi hukum di Indonesia dibahas dalam 3
masalah yaitu masalah pelaksanaan hukum,
masalah pencabutan perundangan-undangan yang
tidak demokratik, dan masalah impunity (kebebasan/
bebas dari tuntutan) dalam kaitannya dengan
Amandemen Kedua UUD 45 Pasal 28 I ayat (1)
1. Masalah pelaksanaan hukum (Law
enforcement) di Indonesia tidak dijalankan
secara lugas sehingga keadilan belum bisa
diwujudkan.
2. Masalah pencabutan perundangan- undangan
yang tidak demokratik
3. Masalah impunity (kebebasan/ bebas dari
tuntutan) dalam kaitannya dengan Amandemen
Kedua UUD 45 Pasal 28 I ayat (1)

Kegiatan reformasi hukum perlu dilakukan dalam rangka
mencapai
supremasi hukum yang berkeadilan.
Beberapa konsep yang perlu diwujudkan antara lain:
a. Penggunaan hukum yang berkeadilan sebagai landasan
pengambilan keputusan oleh aparatur negara.
b. Tidak adanya intervensi terhadap lembaga pengadilan
c. Aparatur penegak hukum yang profesional
d. Penegakan hukum yang berdasarkan prinsip keadilan
e. Pemajuan dan perlindungan HAM
f. Partisipasi publik
g. Mekanisme kontrolyang efektif.
9. Bentuk dan Model Pelanggaran
Hukum di Indonesia
1. Pelanggaran HAM yang bersifat berat
2. Pelanggaran HAM yang bersifat ringan
Pembunuhan Genosida
setiap perbuatan yang dilakukan dengan maksud
untuk menghancurkan atau memusnahkan seluruh
atau sebagian kelompok bangsa, ras, etnis dan
agama dengan cara melakukan tindak kekerasan
Kejahatan kemanusiaan
adalah suatu yang dilakukan berupa serangan
yang ditujukan secara langsung terhadap
penduduk sipil seperti seperti pengusiran
penduduk secara paksa, pembunuhan,
penyiksaan, perbudakan, pemerkosaan dan lain-
lain
Pelanggaran HAM meliputi :
1 Pemukulan
2 Penganiayaan
3 Pencemaran nama baik
4 Menghalangi orang untuk mengemukakan
pendapat
5. Menghilangkan nyawa orang lain


Macam-macam pelanggaran HAM yang
terjadi di indonesia
Kasus Aceh
Unjuk Rasa Buruh di medan
Kasus HKBP
Pembredelan majalah tempo
Kasus gedung ombo
PHK di kodim
Persidangan kasus marsinah
Kasus waduk nipah (sampangan Madura )
Kasus Sei Lapan
Kasus liquica

Pelanggarah HAM masa kini
banyak dilakukan oleh para tokoh militer dan
kepolisisan sebagai dalangnya.
10. Pelaksanaan Perlindungan Hak
Asasi Manusia di Indonesia
Indonesia menyambut baik kerja sama internasional
dalam upaya menegakkan HAM di seluruh dunia
atau di setiap negara dan Indonesia sangat
merespons terhadap pelanggaran HAM internasional
hal ini dapat dibuktikan dengan kecaman Presiden
atas beberapa agresi militer di beberapa daerah
akhir-akhir ini contoh; Irak, Afghanistan, dan baru-
baru ini Indonesia juga memaksa PBB untuk
bertindak tegas kepada Israel yang telah menginvasi
Palestina dan menimbulkan banyak korban sipil,
wanita dan anak-anak.

Komitmen Pemerintah Indonesia dalam mewujudkan
penegakan HAM, antara lain telah ditunjukkan dalam
prioritas pembangunan Nasional tahun 2000-2004
(Propenas) dengan pembentukan kelembagaan
yang berkaitan dengan HAM. Dalam hal
kelembagaan telah dibentuk Komisi Nasional Hak
Asasi Manusia dengan kepres nomor 50 tahun 1993,
serta pembentukan Komisi Anti Kekerasan terhadap
perempuan

Pengeluaran Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999
tentang hak asasi manusia , Undang-undang nomor
26 tahun 2000 tentang pengadilan HAM, serta masih
banyak UU yang lain yang belum tersebutkan
menyangkut penegakan hak asasi manusia.

11. Upaya Pemerintah Indonesia
dalam Melakukan Perlindungan Hak
Asasi Manusia
Upaya pemerintah melakuakn perlindungan
HAM (Winandi,2011)
1. Membentuk Komnas HAM berdasarakan Keppres
No. 50 tahun 1993 tentang pembentukan Komisi
Nasional HAM (Komnas HAM) yang merupakan
variabel kondusif tersendiri,
2. Melakukan ratifikasi terhdap berbgai dokumen
internasional

Fungsi komnas ham (Winandi,2011):
Menyebarluaskan wawasan nasional dan
internasional mengenai Ham, baik kepada
masyarakat Indonesia maupun masyarakt
internasional
Mengkaji berbagai instrumen PBB tentang HAM
dengan memberikan saran tentang kemungkinan
aksesi dan ratifikasi
Memantau dan menyelidiki oelaksanaan HAM, serta
memberikan pendapat, pertimbangan, dan saran
kepada instansi pemerintah tentang pelaksanaan
HAM dan
Mengadakan kerja sama regional dan internasional
di bidang HAM


Berbagai kegiatan di masyarakat yang dapat dimasukan dalam
upaya perlindungan HAM menurut Lukman Soetrisno seorang
sosiolog antara lain (Muhammad, 2008):
Kegiatan belajar bersama, berdiskusi untuk memahami
pengertian HAM;
Mempelajari peraturan perundang undangan mengenai
HAM maupun peraturan hukum pada umumnya, karena
peraturan hukum yang umum pada dasarnya juga telah
memuat jaminan perlindungan HAM;
Mempelajari tentang peran lembagalembaga
perlindungan HAM, seperti Komnas HAM, Komisi
Nasional Perlindungan Anak (KNPA), LSM, dan
seterusnya;
Memasyarakatkan tentang pentingnya memahami dan
melaksanakan HAM, agar kehidupan bersama menjadi
tertib, damai dan sejahtera kepada lingkungan masing
masing;
cont
Menghormati hak orang lain, baik dalam keluarga, kelas,
sekolah, pergaulan, maupun masyrakat;
Bertindak dengan mematuhi peraturan yang berlaku di
keluarga, kelas, sekolah, OSIS, masyarakat, dan kehidupan
bernegara;
Berbagai kegiatan untuk mendorong agar negara mencegah
berbagai tindakan anti pluralisme (kemajemukan etnis,
budaya, daerah, dan agama);
Berbagai kegiatan untuk mendorong aparat penegak hukum
bertindak adil;
Berbagai kegiatan yang mendorong agar negara mencegah
kegiatan yang dapat menimbulkan kesengsaraan rakyat untuk
memenuhi kebutuhan dasarnya seperti, sandang, pangan,
papan, kesehatan dan pendidikan

Terima kasih