Anda di halaman 1dari 25

1

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang
Pada tahun 2001 Urban land Institute (ULI) menyatakan pengembangan
koridor komersial menjadi kurang pasti. Seiring berjalannya waktu, retail linier
semakin kehilangan nilai. Kurangnya investasi pada koridor komersial, pusat kota,
dan pusat-pusat persimpangan karena sampai saat ini masih mengulangi pola
pengembangan linier.
Kelemahan-kelemahan lainnya pembangunan di sepanjang koridor jalan
antara lain :
1. Kelebihan pasokan zona untuk fungsi retail
2. Konfigurasi properti koridor yang kaku dan memiliki blok yang terlalu
panjang.
3. Kavling kecil secara ekonomi tidak efisien untuk redevelopment, karena
dibatasi oleh hunian keluarga tunggal yang kokoh dan bernilai tinggi.
Motivasi untuk merencanakan kembali koridor komersial selain untuk
mengembalikan vitalitas ekonomi juga untuk mengurangi ketergantungan pada
mobil dan untuk mengendalikan tata guna lahan.
Kelemahan dan kekurangan serta kecenderungan persoalan yang terjadi
pada koridor komersial menyebabkan lahirnya kekuatan ruang komersial baru
dalam bentuk retail pola memusat. Permintaan untuk penggunaan fungsi
campuran dan efisiensi energi mempercepat siklus perubahan dari retail strip
linear berorientasi ke retail pola pusat, dari menyebar ke terkonsentrasi, dan dari
berorientasi kendaraan ke pejalan kaki dan berorientasi transit.
Pertumbuhan ekonomi perkotaan secara bertahap mengubah fungsi lahan
dari hunian menjadi komersial di beberapa kawasan Kota Gorontalo termasuk
salah satunya adalah koridor Jalan Agus Salim. Fenomena yang terjadi pada
koridor komersial terjadi pula pada koridor komersial Jalan Agus Salim.
Jalan Agus Salim adalah pusat mobilitas penduduk dari luar kota menuju
ke tempat kerja dan kembali ke tempat tinggal (Commute), menjadikannya
sebagai kawasan cepat tumbuh. Posisi jalan yang strategis didukung oleh akses


2

yang dekat dengan fungsi-fungsi strategis kota berupa terminal antar kota, pusat
perdagangan primer pasar Sentral, pusat perdagangan kota lama dan koridor
komersial Jl. Kartini, Jl. Ahmad Yani Jl Panjaitan. Peran dan fungsi Jl. Agus
salim didukung oleh kebijakan dalam revisi RTRW Kota Gorontalo tahun 2009
2029 yang menetapkan dalam rencana pola ruang bahwa koridor Jalan Agus
Salim sebagai kawasan perdagangan dan jasa. RDTRK Gorontalo tahun 2009-
2029 menetapkan rencana peruntukan blok Koridor Jl. Agus Salim terdiri dari
blok Perdagangan, jasa dan hunian.
Perpetakan lahan properti komersial berbentuk pola linier di jalan arteri
primer pada kota yang baru berkembang, memperluas permintaan lahan untuk
investasi komersial sepanjang strip jalan. Investor membeli lahan dari satu atau
beberapa pemilik hunian tunggal sepanjang koridor jalan sehingga terjadi alih
fungsi lahan dari hunian ke komersial. Alih fungsi lahan terus bertambah sehingga
terbentuk blok-blok ruko di antara hunian. Karakter perkembangan koridor seperti
ini berdampak pada menurunnya kualitas fisik ruang kawasan koridor sehingga
tidak nyaman untuk beraktifitas.
Kawasan komersial sepanjang koridor Jalan Agus Salim hadir sekedar
memenuhi transaksi dagang dan jasa serta investasi lahan tanpa
mempertimbangkan kualitas fisik ruang kota. Suatu tatanan kawasan komersial
yang memberikan kenyamanan, kegembiraan, keragaman dan keunikan fungsi
dan aktifitas ruang bagi pemakainya kurang dipertimbangkan.
Persoalan dan potensi pada kawasan koridor dan arahan tata ruang dalam
hal peruntukan lahan bagi koridor komersial Jalan Agus Salim menunjukkan
urgensi kawasan. Oleh karena itu sangat dibutuhkan strategi penataan untuk
kawasan koridor ini yang dilakukan melalui studi untuk menemukan strategi
perancangan kawasan komersial pada koridor jalan arteri primer. Studi yang
dilakukan diharapkan dapat meningkatkan potensi yang dimiliki dan
menyelesaikan persoalan kawasan. Studi ini dari sudut pandang rancang kota akan
menghasilkan prinsip-prinsip, konsep dan simulasi perancangan kawasan
komersial pada koridor Jalan Agus Salim.




3

I.2 Persoalan Kawasan dan Persoalan Perancangan
1.2.1 Persoalan kawasan
Persoalan kawasan yang dimaksud adalah persoalan yang terjadi di
kawasan koridor Jalan Agus Salim. Persoalan utama kawasan adalah: kawasan
koridor kurang aktif dan tidak menjadi destinasi perbelanjaan utama padahal
investasi properti ruko dan rukan terus berkembang. Persoalan lainnya adalah
penurunan kualitas fisik ruang kawasan.
Kawasan komersial koridor Jalan Agus salim tumbuh secara spontan
dengan pola linier sepanjang strip jalan.
Karakter fisik pertumbuhan kawasan yang terjadi saat ini adalah :
1. Fungsi komersial tumbuh di antara fungsi hunian tunggal.
2. Terdiri dari berbagai jenis usaha perdagangan dan jasa
3. Koridor Jalan Agus Salim sejak dulu dikenal sebagai pusat penjualan hasil
industri furnitur rotan di Kota Gorontalo.
4. Tumbuh subur properti komersial berupa blok ruko yang tediri dari satu
sampai empat deret.
5. Sirkulasi kendaraan dua arah tanpa median, masing-masing terdiri dari dua
lajur.
6. Lebar daerah manfaat jalan adalah 11,3 M 14,2 M.
7. Kecepatan kendaraan di atas 60 Km/jam pada kondisi normal, dan 40 Km
pada jam sibuk.
8. Dilalui semua jenis kendaraan, formal maupun informal (transportasi lokal).
9. Lebar trotoar 120-200 cm. Sisi kiri dan kanan jalan tidak seluruhnya terdapat
trotoar.
10. Halaman depan bangunan komersial adalah tempat parkir dan bongkar muat
barang.
11. Antara satu blok bangunan komersial dan blok lainnya diberi pembatas berupa
pagar.
12. Sempadan jalan bangunan bervariasi. Sempadan jalan bangunan komersial nol
sampai enam meter, bangunan hunian lebih dari empat meter.
13. Pedagang kaki lima menempati ruang publik koridor berupa trotoar dan ruang
sempadan depan bangunan.


4

14. Terdapat berbagai bentuk elemen penanda komersial dan non komersial
(elemen lalu lintas).
Karakter kawasan komersial koridor Jalan Agus salim berdampak pada
munculnya persoalan di sepanjang koridor jalan dan sekitar koridor jalan yang
dipahami sebagai persoalan kawasan. Persoalan kawasan komersial koridor Jalan
Agus Salim mencakup dua hal yakni persoalan desain dan persoalan non desain.
Pembahasan tesis akan difokuskan pada persoalan desain fisik kawasan yang
diidentifikasi berdasarkan elemen fisik rancang kota sebagai berikut :
1. Tata guna lahan
Perubahan guna lahan dari hunian menjadi komersial yang tidak dibarengi
dengan instrumen peraturan dan pengendalian serta fasilitas pendukung untuk
fungsi komersial menimbulkan persoalan:
a) Konflik penggunaan lahan antara fungsi komersial dan hunian.
b) Penurunan kualitas lingkungan karena fasilitas pendukung untuk fungsi
komersial minim bahkan tidak ada.
c) Pola perpetakan lahan komersial linier sepanjang koridor jalan di antara
fungsi hunian menyebabkan tidak adanya konektifitas antar fungsi
komersial. Kondisi ini tidak nyaman dan tidak efisien bagi pejalan kaki
karena sulitnya akes antar bangunan komersial yang dituju.
d) Intensitas lahan yang tidak konsisten, dimana kepadatan tinggi terjadi di
area lahan dekat jalan utama sedangkan area belakang koridor tingkat
kepadatan bangunan rendah.
e) Kurangnya keanekaragaman penggunaan lahan oleh fungsi komersial yang
aktif sepanjang hari 24 jam, menyebabkan kawasan mati di malam hari.
2. Tata bangunan
a) Bentuk dan ukuran blok tidak beraturan.
b) Pengelompokkan dan konfigurasi blok tidak jelas.
c) Pengelompokkan dan konfigurasi perpetakan lahan tidak beraturan.
d) Orientasi bangunan di daerah belakang koridor tidak jelas dan tidak
beraturan.


5

e) Pelanggaran terhadap sempadan bangunan yang meliputi: garis sempadan
muka bangunan, garis sempadan samping bangunan, dan garis sempadan
belakang bangunan.
f) Rukonisasi wajah kota yang tampil tunggal rinupa minim estetika visual.
g) Fasade bangunan komersial tidak menyatu dengan lingkungan sekitarnya.

3. Sirkulasi, jalur penghubung dan tata parkir
a) Jalur sirkulasi kendaraan tidak dilengkapi perlengkapan jalan arteri primer
menimbulkan kondisi tidak aman, tidak selamat dan tidak nyaman bagi
pengguna jalan (pengendara, pejalan kaki).
b) Kemacetan yang disebabkan oleh parkir kendaraan tepi jalan
mempersempit ruang gerak untuk sirkulasi kendaraan dan dominasi
penggunaan ruang jalan oleh kendaraan umum informal.
c) Konflik sirkulasi kendaraan bongkar muat barang, kendaraan yang melalui
jalan dan kendaraan pengunjung toko, berdampak pada ketidaknyamanan
pengunjung.
d) Minimnya ketersediaan ruang parkir, mendorong parkir tepi jalan dan
depan hunian privat, yang jika tidak diatur mengganggu kelancaran
sirkulasi kendaraan dan pejalan kaki.
e) Penempatan dan desain halte untuk sistem angkutan umum masal tidak
mempertimbangkan keselamatan, kemudahan, keamanan dan kenyamanan
pengguna.
4. Jalur Pedestrian
a) Trotoar jarang difungsikan karena tidak aman dan nyaman bagi pejalan
kaki. Lebar trotoar rata-rata 1,2 meter , minim elemen peneduh, banyak
interupsi oleh entrance ke bangunan, penempatan pot tanaman
menghalangi pergerakan pejalan kaki.
b) Kawasan koridor tidak berorientasi pejalan kaki.
Tidak terdapat jalur pedestrian yang menghubungkan pejalan kaki ke
bangunan komersial yang aman dan nyaman.
5. Ruang terbuka dan ruang terbuka hijau


6

Tidak tersedianya ruang terbuka yang direncanakan pada kawasan berdampak
pada tidak terpenuhinya kebutuhan dasar ruang terbuka untuk bersosialisasi
bagi penduduk dan tempat bermain anak.
Kurangnya ruang terbuka hijau berupa pepohonan dan vegetasi lainnya
sepanjang strip jalan tidak menghidupkan aktifitas pejalan kaki.
6. Aktifitas Pendukung
Aktifitas pedagang informal yang tidak diatur mengganggu fungsi ruang
publik pada koridor. Aktifitas menunggu kendaraan informal yang mendiami
sepanjang bahu jalan mengganggu sistem sirkulasi dan kenyamanan pejalan
kaki serta pengendara.
Tumbuhnya kios-kios yang tidak tertata di sepanjang strip koridor merusak
visual wajah jalan.
7. Elemen penanda
Penempatan Elemen penanda tidak beraturan, pada beberapa tempat tidak
terbaca, bentuk dan ukuran tidak sesuai kebutuhan dan tidak aman bagi
pengguna jalan.
Secara keseluruhan persoalan spesifik koridor komersial Jl. Agus Salim
adalah :
1. Persaingan pangsa pasar
Pertumbuhan properti retail positif namun tidak efektif menjadi tujuan utama
untuk berbelanja karena sampai dengan saat ini belum ada blok komersial
yang menjual segala kebutuhan pokok sebagai pasar modern serba ada
sehingga kurang diminati pengunjung di bandingkan koridor komersial
lainnya. Destinasi ke pusat perbelanjaan lebih memilih ke koridor komersial
yang memiliki pusat-pusat kawasan perbelanjaan yang dapat memenuhi semua
kebutuhan dari aneka jenis barang jualan. Pengunjung cenderung memilih
kawasan pasar tua/ kampung cina dan koridor Jl. Kartini.
2. Kawasan komersial tidak aktif sepanjang hari dalam waktu 24 jam.
Fungsi komersial umumya mewadahi transaksi perdagangan dan jasa yang
aktif hanya sampai pukul 18.00.




7

3. Pola perletakan blok bangunan.
Perletakan blok bangunan pertokoan secara linier yang terpisah dalam jarak
cukup jauh tanpa adanya jalur penghubung tidak disukai pembelanja karena
tidak efisien dan tidak memudahkan pengunjung.
4. Konflik fungsi jalan arteri primer, komersial, dan hunian.
Terjadi konflik antara pengguna fungsi jalan arteri primer, fungsi komersial
dan hunian antara lain :
a. Kemacetan akibat aktifitas komersial mengganggu efisiensi, kemudahan
dan kenyamanan perjalanan comute.
b. Hunian daerah belakang tidak memiliki orientasi karena dibelakangi blok
komersial di depan jalan.
c. Aksesibilitas hunian ke jalur sirkulasi utama tidak nyaman bahkan tidak
terwadahi.
d. Aktifitas bongkar muat barang berupa pergudangan dan kendaraan service
mengganggu kenyamanan hunian.
5. Kawasan berorientasi kendaraan, tidak berorientasi pejalan kaki.
Tidak terdapat jalur pedestrian yang menghubungkan pejalan kaki ke
bangunan komersial dan antar bangunan komersial serta tidak tersedianya
trotoar yang nyaman bagi pejalan kaki.

1.2.2 Persoalan Perancangan
Berdasarkan persoalan kawasan, maka dirumuskan persoalan perancangan
sebagai berikut :
1. Belum adanya arahan rencana penataan kawasan koridor komersial Jl. Agus
Salim yang mewadahi berbagai macam fungsi komersial lengkap dengan
fasilitasnya.
2. Belum adanya arahan prinsip dan konsep penataan yang dapat menghidupkan
kawasan komersial sepanjang waktu.
3. Belum adanya prinsip dan konsep perancangan kawasan komersial yang
berkarakter dan beridentitas dengan mengembangkan dan mengoptimalkan
potensi kawasan yang ada.


8

4. Belum adanya prinsip dan konsep penataan kawasan koridor komersial yang
memberi kemudahan, kenyamanan dan kegembiraan atau pengalaman
berbelanja yang menyenangkan bagi pejalan kaki.
5. Belum adanya arahan prinsip dan konsep penataan kawasan komersial pada
koridor jalan arteri primer yang dapat mewadahi standar kebutuhan layanan
fungsi jalan arteri primer, dan penggabungan fungsi perdagangan, jasa, hunian
dan fasilitasnya.
6. Belum adanya arahan prinsip dan konsep penataan jalur pedestrian yang
terhubung dengan sistem transportasi kota dengan fungsi ruang disekitar
kawasan koridor.

I.3 Gagasan dasar perancangan
Berdasarkan fenomena kawasan komersial khususnya perkembangan
koridor komersial dan perubahan gaya hidup dan persoalan perancangan maka
gagasan dasar perancangan kawasan koridor jalan Agus Salim Kota Gorontalo
adalah :
Penataan kembali kawasan koridor komersial jalan Agus Salim Kota
Gorontalo yang mewadahi berbagai bentuk komersial, memiliki karakter dan
keunikan tempat/place, mengembangkan fungsi campuran, terhubung secara
sirkular internal dan eksternal kawasan, berorientasi pejalan kaki dan komunitas.
Gagasan dasar perancangan diharapkan menjadikan kawasan ini sebagai kawasan
koridor komersial yang aktif, berkarakter, nyaman untuk berbelanja, bekerja,
berekreasi dan bertempat tinggal sehingga menjadi kawasan destinasi komersial di
Kota Gorontalo.

I.4 Tujuan, sasaran dan manfaat
Tujuan studi adalah menata kawasan koridor komersial Jl. Agus Salim
Kota Gorontalo sehingga tercipta kawasan koridor komersial yang aktif,
berkarakter, nyaman untuk berbelanja, bekerja, berekreasi dan bertempat tinggal
sehingga menjadi kawasan destinasi komersial di Kota Gorontalo.
Untuk mewujudkan tujuan tersebut maka sasaran yang harus dicapai
adalah sebagai berikut :


9

1. Mengidentifikasi prinsip-prinsip normatif penataan kawasan koridor komersial
yang aktif, berkarakter, mewadahi keragaman fungsi, adaptif terhadap
pengembangan baru, berorientasi pejalan kaki (walkabel) dan berorientasi
komunitas.
2. Malakukan tinjauan dalam konteks makro kawasan yang meliputi: kondisi
umum kota Gorontalo, arahan dan kebijakan tata ruang dan kondisi regional
ekonomi berupa kondisi pasar dan investasi properti komersial.
3. Mengidentifikasi potensi dan persoalan dalam konteks mikro kawasan,
kecenderungan perkembangan kawasan, kondisi fisik, ekonomi dan investasi
kawasan dan arahan kebijakan pengembangan kawasan.
4. Menganalisis hasil identifikasi potensi dan persoalan dengan menggunakan
strategi SWOT guna menemukan strategi yang mengarahkan prinsip
perancangan untuk kawasan koridor Jl. Agus Salim Kota Gorontalo.
5. Merumuskan prinsip-prinsip penataan untuk kawasan komersial pada koridor
Jalan Agus Salim kota Gorontalo sesuai berdasarkan strategi SWOT.
6. Merumuskan konsep perancangan kawasan koridor komersial pada koridor
Jalan Agus Salim kota Gorontalo yang aktif, berkarakter, mewadahi
keragaman fungsi, adaptif terhadap pengembangan baru, berorientasi pejalan
kaki dan komunitas serta terintegrasi secara internal dan eksternal.
7. Membuat simulasi rancangan kawasan komersial pada koridor Jalan Agus
Salim kota Gorontalo sesuai rumusan konsep.
Studi ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara akademik dan
praktikal. Secara akademik dapat memberikan informasi tentang prinsip-prinsip
dan konsep-konsep pengembangan kawasan komersial pada koridor jalan arteri
primer.
Bagi pemerintah daerah hasil studi ini bermanfaat sebagai :
a) Salah satu alternatif konsep pengembangan kawasan komersial koridor Jalan
Agus Salim.
b) Salah satu alternatif desain dalam melakukan penataan kawasan atau sub
kawasan pada koridor jalan Agus Salim.


10

c) Hasil analisis potensi dan persoalan dapat menjadi masukan data dalam
melakukan pemilihan lokasi prioritas dengan sistem skoring untuk
penyusunan RTBL pada kawasan Jl. Agus Salim.

I.5 Ruang Lingkup
Ruang lingkup yang dimaksud adalah pembahasan yang meliputi
pengertian dan batasan, lingkup substansi materi dan batasan wilayah
perancangan.

1.5.1 Pengertian dan Batasan
Uraian pengertian yang berkaitan dengan judul tesis tentang penataan
kawasan koridor komersial pada jalan arteri primer dijelaskan sebagai berikut :
1. Penataan kawasan
Penataan kawasan adalah upaya pengaturan yang dilakukan untuk
meminimalisasi kondisi-kondisi tak terduga dari pengembangan atau
pembangunan kawasan tertentu, berupa prinsip-prinsip perancangan bangunan
dan lingkungan yang menghasilkan desain bangunan dan lingkungan pada
ruang tertentu.
2. Kawasan komersial
Area yang mempunyai fungsi dominan untuk kegiatan komersial.
Seringkali disebut sebagai kawasan pusat perniagaan/usaha, yakni tempat
pusat kegiatan perniagaan kota, letaknya tidak selalu di tengah-tengah kota
dan mempunyai pengaruh besar terhadap kegiatan ekonomi kota (Kamus Tata
Ruang, s.v.kawasan komersial). Dari pengertian ini kawasan perancangan
dikategorikan sebagai kawasan komersial bukan di tengah-tengah kota (town
center), melainkan di sepanjang koridor jalan (main street).
3. Jalan
Jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan,
termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi
lalu lintas, yang berada pada permukaan tanah, di atas permukaan tanah, di
bawah permukaan tanah dan/atau air, serta di atas permukaan air, kecuali jalan
kereta api, jalan lori, dan jalan kabel (Pasal 1 UU No. 38 tahun 2004).


11

4. Koridor jalan
Koridor jalan didefinisikan oleh jalur-jalur jalan dan elemen bangunan
berupa dinding yang ada di kedua sisinya (Bishop. tt : 2-3).
Batas koridor jalan merupakan area yang ditetapkan sepanjang jalur jalan
dengan batas yang linier dan seragam, dibatasi antara fasade bangunan ke
fasade bangunan di seberang jalan.
5. Koridor jalan komersial
Koridor jalan komersial merupakan koridor jalan yang pemanfaatan ruang
di sepanjang jalannya untuk kegiatan komersial, perkantoran yang kompleks
dan pusat pekerjaan di dalam kota (Bishop. tt : 3-6).
6. Jalan Arteri Primer
Jalan Arteri Primer merupakan sistem jaringan jalan dengan peranan
pelayanan distribusi barang dan jasa untuk pengembangan semua wilayah di
tingkat nasional, dengan menghubungkan semua simpul jasa distribusi yang
berwujud pusat-pusat kegiatan.
Jalan arteri adalah jalan umum yang berfungsi melayani angkutan utama
dengan ciri perjalanan jarak jauh, kecepatan rata-rata tinggi, dan jumlah jalan
masuk dibatasi secara berdaya guna.
Berdasarkan penjelasan devinisi setiap kata dalam judul tesis dapat
disimpulkan pengertian Penataan kawasan koridor komersial pada jalan arteri
primer adalah: upaya pengaturan yang dilakukan untuk meminimalisasi kondisi-
kondisi tak terduga dari pengembangan atau pembangunan kawasan yang
mempunyai fungsi dominan untuk kegiatan komersial berupa perdagangan dan
jasa yang terletak pada jalana primer dengan ciri perjalanan jarak jauh, kecepatan
rata-rata tinggi, dan jumlah jalan masuk dibatasi secara berdaya guna.

1.5.2 Lingkup Materi
Lingkup materi penelitian adalah pembahasan dan kajian yang dibatasi
pada penataan elemen fisik rancang kota yang difokuskan pada perancangan
kualitas fisik ruang kawasan komersial berdasarkan konsep pengembangan dan
perancangan kawasan.



12

1.5.3 Lingkup dan batasan wilayah
Lingkup wilayah kajian meliputi :
a. Lingkup wilayah studi adalah kawasan komersial pada koridor Jl. Agus Salim
dan kawasan sekitarnya.
b. Batasan wilayah kawasan perancangan adalah kawasan komersial pada
koridor Jl. Agus Salim sepanjang 1480 M dengan deliniasi sebagai berikut :
1. Utara berbatasan kawasan komersial berupa ruko furnitur, material
bangunan, dan stationary serta hunian tunggal. Bagian utara pada posisi
koridor Jl. Sudirman dibatasi oleh institusi pemerintah kota Gorontalo
berupa kantor pengadilan agama dan Dinas Pendapatan Daerah.
2. Selatan berbatasan dengan kawasan koridor komersial Jl. Kartini dengan
fungsi Pedagangan, jasa dan hunian.
3. Timur berbatasan dengan kawasan permukiman berupa hunian tunggal dan
perumahan, serta sarana pendidikan.
4. Barat berbatasan denan kawasan permukiman berupa hunian tunggal dan
perumahan baru dan kawasan pertanian lahan basah.


















13

































Gambar I. 1 Kondisi Eksisting pada batas Kawasan Perancangan
Sumber : Hasil survei , 2010
200
100 400 m
0


14

I.6 Metodologi
1.6.1 Metode Studi
Bentuk studi adalah applied research yang fokus pada pemecahan
masalah. Penelitian terapan perkotaan fokus pada proses dan hasil dengan tujuan
mendapatkan pemahaman yang lebih tajam untuk keperluan pembuatan kebijakan
dan penyediaan kualitas hidup yang lebih baik bagi penduduk di perkotaan.
Penelitian terapan rancang kota berarti identifikasi dan solusi dari permasalahan
yang terjadi di ruang kota (Andranovich, 1993).
Menurut cara melakukannya studi yang dilakukan adalah eksploratory
research yakni melakukan kajian/ tinjauan bagaimana prinsip-prinsip penataan
kawasan komersial pada koridor Jalan arteri primer. Pendekatan yang dilakukan
melalui kajian teori dan studi kasus persoalan sejenis untuk menemukan prinsip-
prinsip normatif penataan kawasan komersial pada koridor Jalan arteri primer.
Selanjutnya adalah mengidentifikasi dan menganalisis potensi dan persoalan
kawasan untuk menemukan prinsip penataan kawasan komersial pada koridor
Jalan Agus Salim Kota Gorontalo. Hasil studi adalah konsep dan simulasi
perancangan kawasan komersial pada koridor Jl. Agus Salim Kota Gorontalo.
Metode pembahasan studi adalah metode deduktif yakni menyatakan
persoalan pada awal penelitian, melakukan kajian teori untuk mendapatkan model
teori berupa prinsip normatif perancangan kawasan komersial pada koridor jalan
arteri primer. Rumusan prinsip normatif perancangan kawasan komersial pada
koridor jalan arteri primer adalah prinsip umum yang dapat diterapkan di tempat
lain dengan fungsi kawasan yang sama. Prinsip umum kemudian dielaborasi
dengan hasil analisis tapak yang menghasilkan prinsip khusus berupa prinsip
penatan bangunan dan lingkungan kawasan komersial pada koridor Jalan Agus
Salim Kota Gorontalo dengan fungsi layanan jalan arteri primer. Metode ini
bersifat menjelaskan dari hal- hal yang umum ke hal-hal yang khusus.

1.6.2 Metode Proses Perancangan
Metode Proses perancangan yang digunakan adalah Synoptic Method
(metode sinoptik) yang menggabungkan secara konsisten berbagai alternatif untuk
mencari penyelesaian persoalan (Shirvani Hamid 1985)


15

Tahapan dalam metode perancangan Synoptic Method :
1. Pengumpulan data dan informasi meliputi lingkungan alamiah, lingkungan
terbangun dan kondisi sosial ekonomi.
2. Analisis data adalah langkah awal dalam mengkonversi data ke alternatif
desain dengan menerapkan beberapa teknis analisis sesuai dengan jenis data
hasil analisis yang dibutuhkan.
3. Merumuskan tujuan dan sasaran yang merupakan langkah yang memimpin
dalam mendesain (leading to design). Tujuan dan sasaran menjelaskan
maksud dan tujuan akhir perencanaan, berupa variabel dan bagaimana
perencanaan dapat diterapkan serta tingkat kekuatannya.
4. Merunutkan konsep-konsep alternatif atas dua tahapan yakni Merumuskan
konsep alternatif menjadi dua langkah :
a) Identifikasi prinsip-prinsip disain secara teratur yang merupakan ide
dasar/konsep dasar rancangan.
b) Mendefinisikan secara lebih detail berbagai konsep dasar untuk masing-
masing alternatif.
5. Pengembangan konsep, memperluas proses dengan mencari/menemukan
alternatif-alternatif solusi.
6. Evaluasi dari alternatif solusi untuk mendapatkan konsep perancangan terpilih
7. Menerjemahkan konsep perancangan dalam bentuk simulasi rancangan
penataan bangunan dan lingkungan kawasan komersial pada jalan arteri
primer.












16

Bentuk umum proses disain metode sinoptik dideskripsikan pada gambar berikut :






























Diagram I.1 Bentuk proses disain metode sinoptik

Sumber : Shirvany Hamid, The urban design process, 1985

Penerapan proses perancangan metode sinoptik pada penelitian ini dijelaskan pada
tabel tahapan perancangan dan kerangka pikir sebagai berikut :



1) Pengumpulan Data, survei kondisi eksisting
lingkungan alamiah, lingkungan terbangun
dan kondisi sosial ekonomi
2) Analisis data, Identifikasi potensi dan
persoalan serta batasan atau ruang lingkup
penelitian
3) Merumuskan tujuan dan sasaran
4) Menggali alternatif konsep
5) Mengelaborasi setiap konsep menjadi solusi
yang terbaik
6) Mengevaluasi solusi alternatif
7) Menterjemahan solusi kedalam kebijakan,
perencanaan, pedoman dan program


17



























Diagram I.2 Kerangka Pikir
LATAR BELAKANG

TUJUAN

ISU
PERANCANGAN
KAWASAN

SASARAN

GAGASAN DASAR PERANCANGAN :

Penataan kawasan koridor komersial pada jalan arteri
primer yang integratif secara internal dan eksternal,
berkarakter, memiliki kualitas ruang sehingga menjadi
kawasan koridor komersial yang aktif, prospektif, dan
nyaman ditinggali.



KAJIAN TEORI
1. Linkage sebagai elemen pemersatu kawasan koridor komersial
2. Identitas sebagai pembentuk citra kawasan.
3. Urban infiil sebagai upaya mengaktifkan kawasan koridor yang
kurang aktif.
4. Placemaking sebagai upaya untuk mencapai kesuksesan
kawasan koridor komersial:
Strategi Pengembangan fungsi campuran pada kawasan
koridor komersial (Mixed use corridor).
Strategi pengembangan kawasan koridor komersial yang
berorientasi pejalan kaki (walkable corridor)

STUDI KASUS
1. Bogor Nirwana
Residences
2. Kawasan Komersial
City of London,
Ontario, Canada.
3. Valenncia Town
Center, California.
4. Orchard Road,
Singapore.

TEMUAN STUDI LITERATUR
1. Strategi Penngembanngan kawasan Koridor Komersial
2. Komponen penataan kawasan koridor komersial.
3. Prinsip prinsip normatif penataan kawasan koridor komersial
TINJAUAN KAWASAN PERANCANGAN
1. Tinjauan Makro Kawasan Perancangan
Gambaran umum kota Gorontalo
Arahan dan kebijakan Tata Ruang Kota terkait Kawasan Perancangan
Tinjauan Ekonomi, pasar dan properti di Kota Gorontalo
2. Tinjauan Mikro Kawasan Perancangan.



ANALISIS
Analisis Faktor Internal dan analisis faktor eksternnal
Built environment
Social economi environment
Natural environment


STRATEGI RESTRUKTURISASI
KAWASAN KORIDOR Jl. Agus
Salim kota Gorontalo
1. Restrukturisasi kawasan
2. Restrukturisasi ruang jalan

PRINSIP-PRINSIP PENATAAN KAWASAN
KORIDOR Jl. Agus Salim kota Gorontalo
1. Prinsip Penataan kembali (restrukturisasi)
kawasan
2. Prinsip Penataan kembali (restrukturisasi)
kawasan ruang jalan




KONSEP PERANCANGAN KAWASAN
KORIDOR Jl. Agus Salim kota Gorontalo




SIMULSI PERANCANGAN KAWASAN
KORIDOR Jl. Agus Salim kota Gorontalo






18

1.6.3 Pendekatan Perancangan
Pendekatan perancangan yang digunakan dalam perancangan adalah
beberapa pendekatan yang dapat menjawab isu/persoalan kawasan dan tujuan
perancangan. Beberapa pendekatan yang diterapkan terdiri dari :

A. Pendekatan Teori
Pendekatan teori diharapkan dapat menjawab persoalan dan mencapai
tujuan untuk menciptakan kawasan koridor komersial yang aktif, berkarakter,
nyaman ditinggali (livable), walkable dan terintegrasi. Pendekatan teori yang
digunakan terdiri dari:
1. Linkage sebagai elemen pemersatu kawasan koridor komersial
2. Identitas sebagai pembentuk karakter/citra kawasan koridor komersial
3. Urban infiil sebagai upaya mengaktifkan kawasan koridor yang kurang aktif
dan munyuntikkan fungsi baru pada lahan terbangun.
4. Placemaking sebagai upaya untuk mencapai kesuksesan tempat/ruang
kawasan koridor komersial, yang terdiri dari :
a. Mixed use corridor sebagai strategi pendekatan pengembangan fungsi
campuran pada kawasan koridor komersial.
b. Walkable corridor sebagai strategi pengembangan kawasan koridor
komersial yang berorientasi pejalan kaki.
c. Livable corridor sebagai strategi pendekatan yang menggabungkan Mixed
use dan Walkable yang ditambahkan dengan kehadiran fungsi/bangunan
umum.
d. The Third Place sebagai bentuk pendekatan penyediaan ruang rekreasi
yang lebih bersifat entertainment dalam kawasan komersial setelah ruang
pertama (hunian) dan ruang kedua (bekerja, berbelanja, bersekolah dan
lain-lain).

B. Pendekatan Studi kasus
Pendekatan studi kasus dimaksudkan untuk mendapatkan data dan
informasi tentang strategi panataan kawasan koridor komersial yang memiliki
persoalan sejenis dengan kawasan perancangan. Studi kasus yang dilakukan


19

meliputi empat obyek kajian yakni: kawasan Nirwana Epycentrum Bogor,
Indonesia; kawasan komersial City of London, Ontario, Canada; Valencias town
center drive, California dan Orchard Road, Singapore.

C. Pendekatan pasar dan kompetitor
Pendekatan pasar dilakukan dengan menganalisis kondisi pasar di bidang
properti ritail, perkantoran dan hunian di Kota Gorontalo, karena tiga jenis
properti ini yang sedang berkembang pada kawasan koridor. Pendekatan pasar
dilakukan untuk menentukan :
1) Jenis komersial yang akan dikembangkan pada kawasan
2) Program kebutuhan ruang akan dikembangkan pada kawasan
3) Tipologi retail, blok perkantoran dan tipe hunian yang akan dikembangkan
pada kawasan perancangan.
4) Menentukan skala pelayanan apakah skala kota Gorontalo atau regional
provinsi Gorontalo.
Pendekatan kompetitor dilakukan untuk menentukan peran kawasan
apakah sebagai pusat orientasi kawasan komersial, bersaing dengan kawasan
komersial lainnya atau saling melengkapi dengan kawasan komersial di
sekitarnya.

D. Pendekatan tapak
Pendekatan tapak merupakan bentuk pendekatan dengan menganalisis
tapak, melalui identifikasi potensi dan persoalan tapak. Dari sisi potensi, tapak
kawasan koridor komersial Jl. Agus Salim adalah kawasan komersial yang berada
pada jalur arteri primer yang sedang mengalami pertumbuhan pesat. Tapak
kawasan sejak dulu dikenal sebagai pusat penjualan furniture rotan yang masih
berlangsung sampai sekarang. Skala layanan kegiatan komersial umumnya skala
regional. Dari sisi persoalan adalah belum tertatanya kawasan sebagai kawasan
komersial karena belum ada arahan bentuk intervensi penataan kawasan dari
pemerintah terkait, padahal dalam RTRW dan RDTRK tapak kawasan telah
ditetapkan sebagai koridor komersial sepanjang lebih dari tiga kilometer dari Jl.
Kartini sampai dengan perlimaan yang berbatasan dengan kabupaten Gorontalo.


20

1.6.4 Metode Pendataan, analisis dan sintesis
Metode pendataan :
Cara untuk mendapatkan data dan informasi yang diperlukan dilakukan
melalui studi kepustakaan dan studi lapangan. Studi kepustakaan dilakukan
dengan mengkaji literatur, dan beberapa hasil penelitian Sejenis. Studi kasus
dilakukan melalui studi kepustakaan dan observasi langsung.
Studi lapangan dilakukan dengan menggunakan instrumen pendataan berupa
alat untuk mendapatkan data antara lain:
a. Peta-peta.
Peta yang diperlukan berupa peta regional (kota) untuk mendapatkan data
potensi wilayah dan kawasan strategis dalam skala makro untuk menganalisis
keterkaitan fungsi yang berdampak langsung atau tidak langsung pada lokasi
kajian. Peta kota diperlukan untuk menunjukkan lokasi kawasan perencanaan
untuk mendata rencana-rencana terkait, sebagai alat analisis jaringan sirkulasi
serta analisis fungsi-fungsi utama kota. Peta kawasan perencanaan dan
perancangan diperlukan untuk melakukan analisis mikro pada tapak kawasan
yang lebih detail.
b. Rekaman visual (foto).
Foto kawasan perencanaan diperlukan untuk memberikan gambaran kondisi
eksisting kawasan koridor.
c. Dokumen-dokumen Tata Ruang, dimaksudkan untuk mendapatkan informasi
tentang arahan rencana dan kebijakan tata ruang terkait pengembangan
kawasan, berupa : arahan peruntukan lahan, arahan sirkulasi dan pergerakan,
rencana peruntukan blok, arahan tata bangunan, arahan ruang terbuka dan
ruang terbuka hijau, dan peraturan zonasi jika sudah ada.
d. Informasi langsung dari pihak terkait melalui wawancara, media komunikasi
elektronik dan lain-lain.
Metode Analisis
Penelitian ini menerapkan beberapa metode analisis data sesuai dengan
kebutuhan hasil yang ingin dicapai dari data yang diperoleh untuk menyelesaikan
persoalan yang dituju. Secara umum metode analisis yang digunakan adalah


21

analisis deskriptif, kualitatif dan kuantitatif. Melakukan analisis data secara
deskriptif dalam menjelaskan hasil identifikasi data visual, menjelaskan hasil
pendataan secara kualitatif dan menjelaskan hasil pendataan berupa angka atau
jumlah.
Secara spesifik metode analisis yang diterapkan dalam penelitian ini meliputi :
a. Identifikasi potensi dan persoalan yang diterapkan pada bagian awal analisis
site.
b. Urban Visual Description
Metode Urban Visual Description bertujuan untuk memberikan penjelasan
secara deskriptif berupa peta kawasan dan obyek foto yang dilengkapi dengan
bahasa grafis dengan paramater-parameter tertentu menurut jenis analisis.
Metode ini akan diterapkan pada analisis tapak kawasan koridor.
c. SWOT Analysis adalah untuk mengidentifikasi serta mengevaluasi berbagai
faktor internal maupun faktor eksternal permasalahan menuju keberhasilan
tujuan dan sasaran perancangan. Maksud penggunaan analisis ini adalah,
dapat dijadikan sebagai input dalam mengembangkan strategi prinsip-prinsip
perancangan. Prinsip dasar Teknik ini adalah Penyesuaian (match) dan
penyederhanaan permasalahan dalam kecenderungan faktor internal (strength
and weakness) dan faktor eksternal (opportunities and threats).
Komponen analisis :
a. Lingkungan terbangun
b. Lingkungan alami
c. Sosial ekonomi dan budaya
d. Aspek legal kawasan.
Metode Sintesis
Tahap sintesis adalah merumuskan konsep-konsep pengembangan kawasan
yang merupakan terjemahan dari prinsip normatif dan strategi pengembangan
kawasan koridor komersial yang merupakan hasil dari analisis swot. Strategi
pengembangan kawasan menghasilkan prinsip perancangan kawasan. Prinsip
perancangan diterjemahkan dalam bentuk konsep perancangan yang akan
menghasilkan beberapa alternatif rancangan/desain yang disimulasikan dalam
bentuk Site planning, denah, potongan dan detail eleman.


22

Tabel I. 1 Metode pengumpulan data, analisis dan sintesis
Sasaran
Input
Metode Analisis Output
Data/Variabel Sumber Metode Pengumpulan
1. Identifikasi kriteria
normatif
pengembangan
kawasan komersial
pada jalan arteri
primer

1. Pengembangan kawasan pada koridor
komersial.
2. Penggunaan lahan pada kawasan koridor
komersial.
3. Tata bangunan pada kawasan koridor
komersial.
4. Pola sirkulasi dan ruang terbuka
5. Intensitas, jenis dan komposisi fungsi
yang dapat dikembangkan
6. Kriteria pengembangan kawasan
pengembangan kawasan koridor
komersial yang walkable, mixed use dan
liveable.
Data sekunder : Buku,
jurnal, studi kasus

Kajian literatur

Analisis Deskriptif
kualitatif

1. Konsep dan prinsip umum
pengembangan kawasan koridor
komersial pada jalan arteri primer
2. Prinsip normatif perancangan &
pengembangan kawasan koridor
komersial pada jalan arteri primer
2. Identifikasi potensi,
persoalan, prospek,
jenis dan proporsi
fungsi prospektif
bagi pengembangan
kawasan koridor
komersial Jl. Agus
Salim Kota
Gorontalo.
1. Potensi, masalah dan prospek secara
makro (kondisi umum kota Gorontalo,
wadministrasi, geografis, demografi dan
sosial budaya).
2. Arahan struktur tata ruang perdagangan
dan jasa kota Gorontalo dan arahan tata
bangunan dan lingkungan.
3. Potensi, masalah dan prospek secara
mikro (Guna Lahan, tata masa &
bangunan, pergerakan dan akses, Ruang
terbuka dan ruang terbuka hijau sekitar
kawasan perancangan).
4. Kondisi ekonomi, tren pasar properti,
tingkat hunian untuk fungsi yang
prospektif
1. Data primer : Survei
lapangan
2. Data Sekunder :
RTRW dan RDTRK
kota Gorontalo

1. Kajian literatur
(teori dan kasus
sejenis).
2. Observasi Lapangan
3. Wawancara dengan
stakeholder

1. Metode identifikasi
persoalan.
2. Analisis tapak (kondisi
eksisting dan potensi
serta kendala)
3. Analisis pasar properti
4. Analisis kompetitor
1. Bentuk dan jenis serta fasilitas
komersial yang prospektif untuk
dikembangkan di kawasan
koridor komersial Jl. Agus Salim
Kota Gorontalo.
2. Intensitas lahan dan bangunan
yang akan dikembangkan pada
kawasan.
3. Merumuskan
prinsip
pengembangan dan
perancangan
kawasan koridor
1. Prinsip normatif perancangan kawasan
koridor komersial kota Gorontalo.
2. Hasil analisis tapak.
3. Fungsi prospektif yang akan
dikembangkan.
1. Data primer : Survei
lapangan
2. Data Sekunder :
RTRW dan RDTRK
kota Gorontalo
1. Observasi Lapangan.
2. Studi literatur:
Kebijakan dan
Rencana Tata Ruang
kota Gorontalo.
Analisis SWOT 1. Strategi pengembangan kawasan
koridor komersial Jl. Agus Salim
Kota Gorontalo.
2. Prinsip pengembangan kawasan
koridor komersial Jl. Agus Salim


23

komersial Jl. Agus
Salim Kota
Gorontalo
3. Data Sekunder :
Buku dan jurnal
3. Kajian literatur prinsip
perancangan kawasan
koridor komersial yang
walkable, mixed use,
livable.
Kota Gorontalo
4. Merumuskan
konsep
pengembangan dan
perancangan
kawasan koridor
komersial Jl. Agus
Salim Kota
Gorontalo.
a. Peraturan dan persyaratan bangunan
RDTRK Kota Gorontalo.
b. Prinsip-prinsip perancangan pada
kawasan koridor komersial yang livable
c. Prinsip-prinsip perancangan kawasan
koridor komersial yang menghadirkan
ruang ketiga.
4. Data primer : Survei
lapangan
5. Data Sekunder :
RDTRK kota
Gorontalo
6. Data Sekunder :
Buku dan jurnal
1. Observasi Lapangan.
2. Studi literatur:
Kebijakan dan
Rencana Tata Ruang
kota Gorontalo.
3. Kajian literatur prinsip
perancangan kawasan
koridor komersial yang
walkable, mixed use,
livable.
4. Kajian literatur prinsip
perancangan kawasan
koridor komersial yang
menghadirkan ruang
ketiga.
1. Analisis tata guna lahan
2. Analisis tata bangunan
3. Analisis ruang terbuka
dan ruang terbuka
hijau.
4. Analisis sirkulasi
kendaraan & parkir
5. Analisis pedestrian
6. Analisis streetscape
7. Analisis pencahayaan
8. Analisis elemen
penanda.
9. Analisis aktifitas
pendukung.
1. Konsep pengembangan kawasan
koridor komersial Jl. Agus Salim
Kota Gorontalo.
2. Konsep perancangan kawasan
koridor komersial Jl. Agus Salim
Kota Gorontalo.

5. Membuat simulasi
pengembangan dan
perancangan
kawasan koridor
komersial Jl. Agus
Salim Kota
Gorontalo.
1. Konsep pengembangan kawasan koridor
komersial Jl. Agus Salim Kota
Gorontalo.
2. Konsep perancangan kawasan koridor
komersial Jl. Agus Salim Kota
Gorontalo.
Rumusan konsep
pengembangan dan
perancangan kawasan
koridor komersial Jl.
Agus Salim Kota
Gorontalo yang
walkable, mixed use
dan livable.
1. Studi literatur:
Kebijakan dan
Rencana Tata Ruang
Kota Gorontalo
2. Studi literatur: prinsip
perancangan kawasan
koridor komersial
yang walkable, mixed
use dan livable.
1. Deskriptif kualitatif dan
kuantitatif
2. Ilustrasi skematik
perancangan dan
pengembangan
kawasan koridor
komersial yang
walkable, mixed use
dan livable.
Ilustasi rancangan kawasan
koridor komersial yang walkable,
mixed use dan livable.





24

I.7 Keaslian Studi
Studi dengan tema yang sejenis telah dilakukan oleh beberapa peneliti
sebelumnya. Untuk keaslian studi, berikut ini dijelaskan substansi studi sejenis
yang pernah dilakukan sebelumnya.

Tabel I.2. Penelitian tentang koridor jalan yang pernah dilakukan
untuk menunjukkan keaslian penelitian.

No Judul dan lokasi Hasil/ keluaran Peneliti Substansi
1. Perancangan koridor
jalan melalui
pendekatan waktu
dalam ruang
Menata pasar temporer Sogo
Jongkok dengan menganalisa
beberapa aspek perancangan (aspek
hukum, aspek sirkulasi, aspek
manajemen waktu dan aspek
disain).
Dody
Kurniawan,
Tahun 2004
Aspek Sosial,
Ekonomi dan
aspek legal

2 Prinsip perancangan
untuk penanganan
konflik pada koridor
jalan komersial.
Karakter koridor jalan komersial
baik fungsional, struktural,
stakeholder beserta hak-haknya di
dalam koridor jalan komersial.
Petrus
Natalivan,
Tahun 2002
Aspek
fungsional,
struktural,
stakeholder
3. Pendekatan Simbiosis
dalam Perancangan
Koridor Komersial di
kota lama Semarang
konsep mixed-use,konsep rhyzome
(memberikan pengalaman visual
yang kaya dalam berbelanja di kota
lama) dan ruang komunal (saisho),
guna memberikan ruang untuk
berkegiatan.
Sandy
Anggono
Tahun 2005
Aspek Normatif
kawasan
komersial
konservasi

4. Perlindungan
Panorama Alam pada
perancangan koridor
jalan utama kota
Bandung
Arahan perancangan koridor jalan
jalan utama kota Bandung yang
memanfaatkan potensi (view) ke
arah pegunungan sebagai salah satu
unsur pengembangan kualitas
visual kota.
Robinson Ferly
Pamusu,
Tahun 2005
Aspek Visual
Lingkungan
Kawasan
5. Kajian Dampak
penetrasi kegiatan
perdagangan pada
koridor Jl. Martadinata
kota Bandung.
dampak dari kegiatan perdagangan
di koridor Jl. Martadinata sebagai
dasar pertimbangan dalam
pengendalian pemanfaatan ruang di
koridor utama Kota Bandung
Rr. Vivin
Puspitasari,
Tahun 2002.
Aspek
Pengendalian
Pemanfaatan
ruang
6. Analisis Intensitas
Bangunan Koridor
jalan Raya Cimahi
Berdasarkan Kapasitas
Jalan.
intensitas bangunan maksimum
koridor Jalan Raya Cimahi
berdasarkan fungsi dalam RTRW
Kota Cimahi dan kapasitas
jalannya.
Beri Titania,
Tahun 2007
Aspek Daya
Dukung Jalan
7. Penataan Kawasan
Koridor komersial
pada jalan arteri
primer.
Kasus : Jalan Agus
Salim Kota Gorontalo
Prinsip, Konsep dan rancangan
kawasan komersial pada koridor
Jalan Agus Salim kota Gorontalo .
Zuhriati A.
Djailani,
Tahun 2010
Penataan
kawasan
koridor
komersial yang
menggabungkan
bentuk memusat
dan linier

Sumber : hasil identifikasi, 2010






25

I.8 Sistematika Pembahasan
Penyajian keseluruhan materi studi dibahas dalam lima bagian bab meliputi :
BAB I Pendahuluan
Bagian awal yang menjelaskan latar belakang dan signifikansi pengembangangan
Kawasan koridor Komersial pada jalan arteri primer serta relevansinya dengan
pengembangan kawasan komersial yang aktif, berkarakter, nyaman ditinggali
(livable) dan berorientasi pedesatrian (walkable).
BAB II Pengembangan kawasan koridor komersial pada jalan arteri primer.
Merupakan kaijan literatur untuk eksplorasi prinsip normatif penataan kawasan
komersial pada koridor jalan arteri primer berdasarkan kesimpulan bentuk
pendekatan, kajian teori yang mendukung, dan studi kasus .
BAB III Tinjauan dan analisis pengembangan kawasan
Bab ini mendeskripsikan kondisi makro dan mikro kawasan dalam peran dan
fungsinya di kota Gorontalo yang akan menjadi aspek yang dipertimbangkan
dalam melakukan analisis tapak, pasar dan properti serta perumusan prinsip
pengembangan dan perancangan kawasan koridor komersial Jl. Agus Salim Kota
Gorontalo
BAB IV Konsep dan simulasi perancangan kawasan
Bagian ini menjelaskan konsep dan simulasi perancangan kawasan meliputi:
konsep dasar dan integrasi kawasan, tata guna lahan, sirkulasi dan jalur
pedestrian, tata bangunan, ruang terbuka dan ruang terbuka hijau serta parkir.
Konsep perancangan diterjamahkan dalam simulasi rancangan dalam bentuk
gambar master plan, site plan, denah, potongan dan suasana.
BAB V Penutup
Merumuskan secara umum kesimpulan penataan kawasan koridor komersial pada
jalan arterti primer dengan mengubah bentuk koridor komersial pola linier ke
bentuk yang menggabungkan pusat kawasan dan strip koridor. Strategi dan
tindakan yang diperlukan untuk mendukung penyelesaian persoalan disampaikan
dalam bentuk saran pada bab ini.

Anda mungkin juga menyukai