Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Dalam suatu pengembangan di bidang industri, Penggunaan bata dan batako
sebagai bahan bangunan pembuat dinding sudah populer dan menjadi pilihan
utama masyarakat di Indonesia sampai dengan saat ini. Batako adalah bata beton
yang berukuran hampir sama dengan ukuran bata merah dan terbuat dari
campuran semen, pasir, dan agregat serta banyak digunakan untuk konstruksi
dinding.
Karaksteristik bata beton yang umum ada dipasaran adalah memiliki densitas
rata-rata > 2000kg/m3, dengan kuat tekan bervariasi 3 5 MPa. Ditinjau dari
densitasnya batako tergolong cukup berat sehingga untuk proses pemasangan
sebagai konstruksi dinding memerlukan tenaga yang cukup kuat dan waktu yang
lama (Simbolon Tiurma, 2009).
Densitas batako ini dapat dikurangi yaitu dengan penggunaan bahan-bahan
alternatif berupa penggunaan bahan limbah dari jenis bahan organik dan
anorganik. Salah satu jenis bahan limbah yang bersifat organik tersebut adalah
sekam padi yang merupakan limbah yang terdapat pada lingkungan penggilingan
padi yang saat ini belum optimal dalam pemanfaatannya.
Di dalam ilmu fisika, Bila dalam suatu sistem terdapat gradien temperatur,
atau bila ada dua sistem yang temperaturnya berbeda bersinggungan, maka akan
terjadi perpindahan kalor. Proses dimana sesuatu yang dipindahkan diantara
sebuah sistem dan sekelilingnya akibat perbedaan temperatur ini berlangsung
disebut kalor Perpindahan kalor pada umumnya terbagi tiga yaitu konduksi,
koveksi, dan radiasi. Hal tersebut di atas sangat berhubungan dengan bahan
material yang baik untuk bangunan karena dapat dilihat dari konduktivitas suatu
bahan.
Beberapa penelitian yang telah dilakukan mengenai bahan bangunan dengan
memanfaatkan beton sekam padi sebagai panel dinding (batako) memberikan
hasil bahwa semakin besarnya penambahan proporsi sekam padi pada campuran
menjadikan bahan bangunan lebih ringan, akan tetapi kekuatan yang didapat
lebih rendah. Maka dari itu diadakan penelitian ini yang bertujuan untuk menguji
besar konduktivitas bahan antara batako biasa tanpa sekam padi dan batako yang
berisi campuram sekam padi.


1.2.Rumusan Masalah
1.3.Tujuan Penelitian















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Dasar Dari Transfer Panas
Ilmu pengetahuan termodinamika yang berhubungan dengan jumlah
transfer panas sebagai suatu sistem yang menjalankan suatu proses dari satu
titik stabil ke titik stabil lainnya, dimana ilmu pengetahuan tentang transfer
panas berhubungan dengan kecepatan dari transfer panas yang merupakan
sesuatu yang penting dalam mendisain dan mengevaluasi dari peralatan transfer
panas.

2.1.1. Mekanisme Transfer Panas
Panas dapat ditransfer melalui tiga cara yaitu : konduksi, konveksi,
dan radiasi. Semua cara tersebut memerlukan keberadaan dari perbedaan
temperatur, dan semua cara berasal dari tempat yang bertemperatur
tinggi ke tempat yang bertemperatur rendah.

2.1.2. Konduksi
Konduksi adalah bentuk dari transfer energi dari pertikel partikel yang
mempunyai energi yang lebih banyak ke partikel partikel yang
mempunyai energi yang lebih rendah dan sebagai hasil dari
interakasinya diantara partikel partikel tersebut. Konduksi dapat
terjadi pada benda padat, cair, atau gas. Di dalam benda cair dan gas,
konduksi terjadi karena tabrakan dan difusi dari molekul molekul
selama pergerakan yang acak. Dalam benda padat, konduksi terjadi
karena kombinasi dari getaran dari molekul dalam kisi kisi
dan perpindahan energi oleh elektron bebas. Kecepatan dari konduksi
panas dalam suatu medium bergantung pada geometri dari medium
tersebut, ketebalannya, bahannya, dan juga perbedaan temperatur
disepanjang medium tersebut.



Gambar 2.1. Konduksi panas melalui tembok besar

Anggap konduksi panas stabil terjadi disepanjang tembok yang
mempunyai ketebalan x = L dan luas A. perbedaan temperature
disepanjang tembok adalah T = T2 T1. Percobaan menunjukkan
bahwa kecepatan dari transfer panas Q melalui tembok adalah dua kali
ketika perbedaan temperatur T sepanjang tembok atau luas A normal
terhadap arah transfer panas adalah dua kalinya, tetapi setengahnya ketika
ketebalan tembok L dua kalinya. Jadi kita mengambil kesimpulan bahwa
kecepatan konduksi panas melalui bidang datar adalah sebanding dengan
perbedaan temperature disepanjang medium dan luas transfer panas,
tetapi berbanding terbalik dengan ketebalan medium. Atau dengan kata
lain



dimana k adalah suatu konstanta pembanding yang merupakan
konduktifitas panas dari bahan, yang diukur dari kemampuan bahan untuk
mengkonduksikan panas. Dalam kasus pembatasan x 0 , persamaan
diatas berubah menjadi bentuk turunan




yang dinamakan dengan hukum Fourier dari konduksi panas setelah J.
Fourier yang mengemukakan pertama kali dalam tulisan transfer
panasnya tahun 1822. Disini dT/dx adalah gradien dari temperatur, yang
merupakan kemiringan dari kurva T x.

2.1.3. Konveksi
Konveksi adalah salah satu cara perpindahan energi diantara
permukaan padat dan cair atau gas yang besebelahan dalam pergerakan
ini, dan melibatkan efek yang digabungkan dari konduksi dan
pergerakan cairan.
Konveksi dinamakan konveksi yang ditekan jika cairan di dorong
untuk mengalir melalui permukaan dengan benda benda luar seperti
kipas angin, pompa, atau angin. Sebaliknya, konveksi dinamakan
konveksi alami jika pergerakan cairan disebabkan oleh gaya mengapung
yang diinduksi oleh perbedaan kepadatan selama perubahan temperatur
dalam cairan. Disamping kekompleksitas dari konveksi, kecepatan dari
konveksi transfer panas sebanding dengan perbedaan temperatur, dan
dinyatakan dengan hukum Newton dalam pendinginan sebagai berikut


Dimana h adalah koefisien konveksi transfer panas dalam


atau
Btu / h ft
2

o
F, As adalah luas permukaan dimana
konveksi transfer panas, Ts adalah temperatur permukaan dan T adalah
temperature dalam cairan yang jauh dari permukaan Perhatikan bahwa
pada permukaan, temperatur cairan sama dengan permukaan temperatur
dalam benda padat.
Koefisien konveksi transfer panas h bukan merupakan bagian dari
cairan. Itu secara percobaan ditentukan yang nilainya bergantung
pada semua variabel yang mempengaruhi konveksi seperti geometri
permukaan, pergerakan alami cairan, dan kecepatan curah cairan.

2.1.4. Radiasi
Radiasi adalah energi yang dipancarkan dalam bentuk gelombang
eloktromagnet ( atau photons ) dan sebagai hasil dari perubahan dalam
konfigurasi elektronik dari atom atau molekul. Tidak seperti konduksi
dan konveksi, perpindahan energi dengan radiasi tidak memerlukan
suatu bahan penghubung. Bahkan, nyatanya transfer energi dengan
radiasi adalah yang tercepat (pada kecepatan cahaya) dan dapat
melewati ruang hampa. Ini merupakan cara dari energi matahari sampai
ke bumi.
Kecepatan maksimum dari radiasi yang dapat dipancarkan dari
satu permukaan pada temperatur absolut Ts diberikan oleh hukum
Stefan-Boltzman sebagai berikut :


Dimana = 5,67 x10
8
W / m
2
K
4
atau 0,1714x10
8
Btu / h ft
2
R
4
Adalah konstanta Stefan-Boltzman. Permukaan yang ideal yang
memancarkan radiasi pada kecepatan maksimum ini dinamakan
blackbody, dan radiasi yang dipancarkan oleh blackbody dinamakan
radiasi blackbody. Radiasi yang dipancarkan oleh semua permukaan
adalah lebih kecil daripada radiasi yang dipancarkan oleh blackbody
pada temperatur yang sama, seperti dituliskan sebagai berikut


s

s
dimana merupakan emisitivitas dari permukaan. Bagian dari
emisivitas yang nilainya berada diantara 0 1 , diukur dengan cara
seberapa dekat suatu permukaan mendekati sebuah blackbody yang
mempunyai = 1 .
Bagian dari radiasi yang juga penting dari permukaan adalah
tingkat penyerapannya , yang merupakan pecahan dari tabrakan energi
radiasi pada permukaan yang diserap oleh permukaan. Seperti emisivitas,
nilai dari tingkat penyerapan juga berada diantara 0 1. Sebuah
blackbody menyerap semua radiasi yang menabrak kepadanya. Karena
itu blackbody adalah penyerap radiasi yang paling baik, seperti juga
pemancar radiasi yang baik.
Secara umum, keduanya dan dari suatu permukaan bergantung
pada temperatur dan panjang gelombang dari radiasi. Hukum radiasi
Kirchoff menyatakan bahwa emisivitas dan tingkat penyerapan dari
permukaan pada temperatur yang diberikan dan panjang gelombang
adalah sama. Tingkat dari satu permukaan menyerap radiasi ditentukan
dari


Dimana

adalah tingkat dimana radiasi bertabrakan pada


permukaan dan adalah tingkat penyerapan dari permukaan.
Untuk permukaan yang transparan, besar dari radiasi tabrakan yang
tidak diserap oleh permukaan adalah dipantulkan kembali.

2.2. Batako

Penggunaan bata merah dan batako sebagai bahan bangunan pembuat dinding
sudah populer dan menjadi pilihan utama masyarakat di Indonesia sampai
dengan saat ini, namun dari bahan-bahan bangunan ini mempunyai kelemahan
tersendiri yaitu berat per meter kubiknya yang cukup besar sehingga
berpengaruh terhadap besarnya beban mati pada struktur bangunan. Menurut
Wijanarko, W. 2008 yang dikutipnya dari Tjokrodimuljo, 1996. Ada beberapa
metode yang dapat digunakan untuk mengurangi berat jenis beton atau membuat
beton lebih ringan antara lain sebagai berikut:
Dengan membuat gelembung-gelembung gas/udara dalam adukan semen
sehingga terjadi banyak pori-pori udara di dalam betonnya. Salah satu cara
yang dapat digunakan adalah dengan menambah bubuk aluminium kedalam
campuran adukan beton.
Dengan menggunakan agregat ringan, misalnya tanah liat, batu apung atau
agregat buatan sehingga beton yang dihasilkan akan lebih ringan dari pada
beton biasa.
Dengan cara membuat beton tanpa menggunakan butir-butir agregat halus
atau pasir yang disebut beton non pasir.
Batako tergolong suatu komposit dengan matriks adalah perekat (semen) dan
pengisinya (filler) adalah agregat (batu kecil atau pasir). Proses penguatan atau
pengerasan pada batako sangat tergantung pada perbandingan (ratio berat) air :
sekam padi, normalnya bervariasi dari 0,8 1,2. Batako dikualifikasikan
menjadi dua golongan yaitu batako normal dan batako ringan. Sedangkan untuk
batako ringan adalah batako yang memiliki densitas < 1,8 gr/cm3 (Maydayani,
2009), begitu juga kekuatan mekaniknya biasanya disesuaikan pada
penggunaan dan pencampuran bahan bakunya (mix design). Jenis batako ringan
terbagi menjadi dua bagian yaitu: batako ringan berpori ( aerated concrete) dan
batako ringan non aerated. Batako ringan ini dibuat dari campuran air, semen,
pasir dan sekam padi.
Batako yang baik adalah setiap batako permukaannya rata dan saling tegak
lurus serta mempunyai kuat tekan yang tinggi. Persyaratan batako menurut
PUBI-(1982) pasal 6 antara lain adalah permukaan batako harus mulus,
berumur minimal satu bulan, waktu pemasangan harus sudah kering, berukuran
panjang 400 mm, lebar 200 mm, tebal 100 200 mm, kadar air 25 35%
dari berat, dengan kuat tekan 2 7 MPa (Wijanarko, W, 2008).

2.3. Sekam Padi
Sekam padi merupakan lapisan keras yang meliputi kariopsis yang terdiri dari
dua belahan yang disebut lemma dan palea yang saling bertautan. Pada proses
penggilingan beras, sekam akan terpisah dari butir beras dan menjadi bahan
sisa atau limbah penggilingan. Sekam dikategorikan sebagai biomassa yang
dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan seperti bahan baku industri, pakan
ternak dan energi atau bahan bakar, limbah sekam padi seperti gambar 2.5
berikut.


Gambar 2.3 Tumpukan Limbah Sekam Padi

Dari proses penggilingan padi biasanya diperoleh sekam sekitar 20 - 30%,
dedak antara 8 - 12%, dan beras giling antara 50 63,5 % data bobot awal
gabah. Sekam dengan persentase yang tinggi tersebut dapat menimbulkan
problem lingkungan (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 1994).
Sekam dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan diantaranya :
Sebagai bahan baku pada industri kimia, terutama kandungan zat kimia
furtural yang dapat digunakan sebagai bahan baku dalam berbagai industri
kimia.
Sebagai bahan baku pada industri bangunan, terutama kandungan silika
(SiO2) yang dapat digunakan untuk campuran pada pembuatan semen
portland, bahan isolasi, husk-board dan campuran pada bata merah,
Sebagai sumber energi panas pada berbagai keperluan manusia, kadar
selulosa yang cukup tinggi dapat memberikan pembakaran yang merata.

Tabel 2.3 Komposisi Kimiawi Sekam Padi (Badan penelitian dan
Pengembangan Pertanian, 1994).
Komponen Presentasi
Kandungan
A. Menurut Suharno 9,02
Kadar Air 3,03
Protein Kasar 1,18
Lemak 35,68
Serat kasar 17,71
Abu
Karbohidrat
B. Menurut DTC IPB
Karbon (zat arang) 1,33
Hidrogen 1,54
Oksigen 33,64
Silikat 16,98

Sekam memiliki kerapatan jenis (bulk density) 1125 kg/m3, dengan nilai
kalori 1 kg sekam sebesar 3300 k.kalori. Menurut Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian, 1994 yang dikutip dari Houston (1972) sekam
memilki bulk density 0,100 gr/ml, nilai kalori antara 3300 3600 k. kalori/kg
sekam dengan konduktivitas panas 0,271 BTU .
Beberapa penelitian yang telah dilakukan mengenai bahan bangunan dengan
memanfaatkan beton sekam padi sebagai panel dinding (batako) memberikan
hasil bahwa semakin besarnya penambahan proporsi sekam padi pada
campuran menjadikan bahan bangunan lebih ringan, akan tetapi kekuatan yang
didapat lebih rendah. Oleh karena itu, pada penelitian ini mencoba untuk
melakukan peningkatan kekuatan dengan campuran semen pasir secara
bervariasi. (Sumaryanto D., Satyarno I., Tjokrodimulyo K, 2009).