Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Manusia tak pernah berhenti melakukan berbagai macam penelitian untuk mendapatkan fakta
yang tepat dan akurat tentang obat. Mereka juga mencari tahu tentang bentuk sediaan, cara
pembuatan dan berbagai hal yang ada kaitannya dengan obat.
Obat yang beredar di masyarakat ada berbagai macam jenis. Bentuk yang dibuat disesuaikan
dengan tujuan pemakaiaannya. Bentuk sediaan obat tidak hanya konsep dasar, tetapi ada
beberapa bentuk lainnya.
Namun demikian, jika kita melihat kenyataan bahwa obat dengan bentuk sediaan cair dan
semi solid dapat dirasakan faedahnya, tetapi minat seorang formulator terhadap sediaan padat
tidak menurun.
Berpijak dari kenyataan tersebut, maka penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa obat
dengan bentuk konsep dasar merupakan bagian penting dalam masyarakat. Karena bentuk
sediaan ini efisien dan bisa dikonsumsi dengan mudah oleh masyarakat.
1.2 Maksud dan tujuan
Maksud dari penulis membuat makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata
diklat Mengelola Proses Produksi Farmasi Padat (MPPFP). Sebelum melaksanakan suatu
kegiatan terlebih dahulu agar pelaksanaannya terarah pada tujuan yang di tentukan. Adapun
tujuan penulis menyusun makalah ini yaitu untuk menambah ilmu pengetahuan khususnya
pada mata diklat Mengelola Proses Produksi Farmasi Padat (MPPFP).
1.3 Ruang Lingkup Pembahasan
Dalam pembahasan ini mencakup seluruh kerangka dan tujuan masalah yang disampaikan.
Dengan mengambil materi dari berbagai sumber. Sumber tersebut tentunya berisi materi yang
ada kaitannya dengan masalah konsep dasar. Serta banyak penjelasan yang diambil untuk
pelengkap pembahasan ini sehingga, materi akan terbentuk secara teratur dan mudah untuk
difahami.
1.4 Sistematis Pembahasan
Untuk mempermudah dalam pembahasan materi, maka dibuatlah kerangka-kerangka
pembahasan agar tidak keluar dari apa yang sebenarnya dibahas dan kiranya inilah yang
menjadi dasar pada sistematis pembuatan ini. Lebih jelasnya sebagai berikut :
1. Kata Pengantar
2. Pendahuluan, meliputi latar belakang masalah, tujuan pembahasan, ruang lingkup
pembahasan dan sistematis pembahasan.
3. Pembahasan
4. Penutup, meliputi kesimpulan dan saran
5. Daftar Pustaka.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 BATASAN OBAT
Sebagai bahan kimia, obat identik dengan racun. Yang membedakan adalah cara pemberian
dan dosisnya. Bila indeks terapinya sempit, seperti digoksin dan xantine, tingkat toksisitasnya
akan semakin tinggi.
Berdasarkan Permenkes RI No. 242/1990, OBAT JADI: merupakan sediaan atau paduan
bahan-bahan yang siap digunakan untuk mempengaruhi/menyelidiki sistem fisiologi atau
keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan,
peningkatan kesehatan dan kontrasepsi.
Kegunaan obat, antara lain:
1. Diagnosis
Contohnya barium sulfat (BaSO4) yang digunakan sebagai cairan kontras dalam pemeriksaan
radiology untuk melihat fungsi organ tertentu.
2. Pencegahan
Misalnya Vaksin yang diberikan pada adik bayi.
3. Mengurangi/menghilangkan gejala
Untuk menghilangkan gejala simtomatis ada golongan analgetika yang udah kita kenal
seperti Antalgin, Paracetamol.
4. Menyembuhkan penyakit
Diantaranya antibiotic, yang harus kita tegaskan aturan minumnya agar tak terjadi resistensi.
5. Memperelok tubuh
Obat jerawat, pemutih kulit,dll.
2.2 KATEGORI OBAT
1. MENURUT UU FARMASI
a. Obat Bebas
Obat ini dijual bebas biasanya bertanda lingkaran hijau.
b. Obat Bebas Terbatas
Tandanya lingkaran biru, jenis ini dapat diperoleh tanpa resep dokter namun ada pembatasan
aturan minum yang biasanya dicantumin di kemasan. Contohnya: antimo, procold,dll.
c. Obat Keras
Harus dengan resep dokter, bertanda lingkaran merah dengan huruf K di tengahnya.
d. Obat Narkotika
Kemasannya bertanda lingkaran putih dengan palang merah di tengahnya.

2. MENURUT BENTUK FISIK
a. Obat Baku (bahan baku)
Merupakan substansi yang belum dicampur dengan bahan lain. Diistilahkan formula
magistralis.
b. Obat Jadi (Obat standart/generik)_ Formula officinalis.
Obat dengan komposisi dan nama teknis standar seperti dalam buku Farmakope Indonesia
atau buku resmi lain yang ditetapkan pemerintah.
c. Obat Paten (Obat jadi dengan nama dagang)_ Formula spesialistis
Obat ini terdaftar dengan nama pabrik atau yang dikuasakan.
d. Obat Asli (Obat tradisional)
Merupakan obat-obat yang didapat lansung dari bahan-bahan alami, istilahnya reservoir.
Banyak tanaman asli Indonesia yang terbukti berkhasiat secara klinis misalnya, anti
hipertensi kapsol yang berasal dari Kapsus.sp, digoxin dari digitalis purpurea, vincristin,
vinblastine dari tapak dara, dll. (hiks.. kenapa yang mematenkan justru orang asingL
ayo..semangat !)
e. Obat Baru (belum diketahui khasiat dan keamanan)
Jangan sekali-kali meresepkan ini, ya.. Obat ini masih butuh uji klinik untuk dapat beredar di
masyarakat.
3. MENURUT CARA PEMBERIAN
a. Obat dalam
Obat ini masuk ke dalam sirkulasi sistemik, baik per oral, i.v, i.m, dll.
b. Obat luar
Biasanya dimasukkan ke tubuh melalui kulit (dioleskantopical), dalam resep ditulis u.e =
usus externus

4. MENURUT KHASIAT/EFEK OBAT
Berdasarkan efek farmakologinya obat-obatan diklasifikasikan mejadi kelas terapi menurut
DOEN (Daftar Obat Essensial Nasional).
Contoh:
Phenobarbital
Tempat kerja dalam tubuh Bekerja pada SSP
Aktivitas terapeutik / penerapannya Sedatif hipnotik Mekanisme kerja farmakologi
Depresan SSP Sumber asal atau sifat obat Turunan asam berbiturat

5. BERDASARKAN SIFAT KIMIA OBAT
a. ASAM > Acetosal, Barbital, Vitamin C > Acetosal, Barbital, Vitamin C
> Acetosal, Barbital, Vitamin C
b. BASA > Alukol, Bisacodil, HCT > Alukol, Bisacodil, HCT
> Alukol, Bisacodil, HCT
c. GARAM > NaCl, Papaverin HCl> NaCl, Papaverin HCl
> NaCl, Papaverin HCl
d. ESTER > Kloramfenikol palmitat, Glyceril guayacolat> Kloramfenikol palmitat,
Glyceril guayacolat
> Kloramfeniko l palmitat, Glyceril guayacolat
e. KRISTAL MENGANDUNG AIR > Ampicillin trihidrat, Codein HCl > Ampicillin
trihidrat, Codein HCl
> Ampicillin trihidrat, Codein HCl
> Acetosal, Barbital, Vitamin C > Alukol, Bisacodil, HCT> NaCl, Papaverin HCl>
Kloramfenikol palmitat, Glyceril guayacolat > Ampicillin trihidrat, Codein HCl
TATANAMA OBAT
(Sesuai monografi FI_ Farmakope Indonesia)
NAMA LATIN : Acidum acetyl salicylicum, Acetaminophenum, Methampyronum
NAMA INDONESIA : Asam asetil salisilat, Asetaminofen, metampiron
NAMA GENERIK : Asetosal, Parasetamol, Antalgin
(Sesuai monografi FI_ Farmakope Indonesia)
2.3 DERIVAT OBAT
Sekelompok/segolongan obat yang diturunkan/ berasal dari senyawa yang sama (senyawa
induk) masing-masing mempunyai struktur/rumus kimia yang berbeda. Umumnya digunakan
untuk sekelompok obat yang mempunyai khasiat sama. Turunan ini didapatkan dari hasil
manipulasi molekuler suatu senyawa induk dengan struktur kimia tertentu.
Tujuan dibuat derivate adalah untuk mendapatkan obat baru dengan:
efek sama, dengan poteni lebih tinggi, dan efek samping obat lebih kecil. Contohnya;
penicillin ampicillinefek berbeda Obat lain. Contoh : sulfanilamidum yang merupakan
anti infeksi, carbonic anhydrase inhibitor, dapat diturunkan menjadi:
1. sulfisimidinum yang merupakan anti infeksi dengan penambahan PABA
2. chlortiazide ( saluric) lalu fursemide yang merupakan diuretik kuat
3. chlorpropamidum yang merupakan antidiabetikum oral.
2.4 DOSIS OBAT
Adalah sejumlah obat dalam satuan berat/isi/ unit yang memberikan efek terapetik pada
penderita dewasa.
MACAM-MACAM DOSIS
dosis lazim adalah dosis yang biasa diberikan untuk suatu obat.
dosis terapeutik adalah range dosis yang masih aman untuyk terapi.
Dosis yang lain:
Dosis toksik : dosis di atas dosis terapi sehingga dapat menimbulkan toksisitas
Dosis letalis : dosis toksik yang bila diberikan dapat mengakibatkan kematian
Dosis permulaan : dosis permulaan yang diberikan kepada penderita (initial dose)
Dosis pemeliharaan : dosis obat yang berfungsi untuk menjaga agar kadar obat dalam
darah tetap berada dalam dosis terapeutik (maintenance dose)
Dosis maksimum : dosis di antara dosis terapeutik & dosis toksik, tapi blm bersifat
toksik serius
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DOSIS
1. FAKTOR OBAT:
Sifat Fisika : Kelarutan obat (air/lipid); Bentuk (Kristal/Amorf)
Sifat Kimia : Asam, Basa, Garam, Ester, PH, Toksisitas
2. FAKTOR CARA PEMBERIAN:
Oral : Dimakan / Diminum
Parenteral : Subkutan, im, iv
Rektal, Vaginal, Uretral
Lokal, Topikal
3. FAKTOR PENDERITA:
Umur : Anak, dewasa, geriatrik
BB : Normal, obesitas
Ras : Metabolisme obat
Sensitivitas individual
4. INDIKASI DAN PATOFISIOLOGI PENYAKIT:
Penyebab penyakit
Keadaan patofisiologis
DOSIS OBAT UNTUK ANAK (Pediatrik)
KATEGORI ANAK :
Anak premature : lahir kurang 35 minggu
Anak baru lahir : Neonatus s/d 28 hari
Bayi : infant s/d 1 tahun
Balita : 1-5 tahun
Anak : 6-12 tahun
PENENTUAN DOSIS ANAK
Dalam menentuklan dosis anak, ada beberapa masalah yang harus kita perhatikan. Organ
(hepar, ginjal, SSP) belum berfungsi secara sempurna, metabolisme obat belum maksimal.
Distribusi cairan tubuh berbeda dengan orang dewasa
Neonatus >29,7% dari dewasa
Bayi 6 bulan >20,7% dari dewasa
Anak s/d 7 th. >5,5% dari dewasa
Faktor lain yang perlu diperhatikan
Farmakokinetika obat (ADME)
o Perbedaan absorpsi (perbedaan kepadatan sel)
o Perbedaan distribusi (% cairan ekstrasel & cairan tubuh total
o Perbedaan metabolisme (ensimatik yang belum sempurna)
o Perbedaan ekskresi (glomerulus belum berkembang lengkap)
CARA MENGHITUNG DOSIS ANAK ( PEDIATRIC THERAPEUTIC )
Ada lebih dari 30 rumus untuk menghitung dosis yang akan diberikan pada anak. Di
antaranya sbb.
1. DASAR PERBANDINGAN ATAS UKURAN FISIK ANAK SECARA INDIVIDUAL
Ada 2 cara, yaitu:
1. Sesuai dengan berat badan anak (Kg)
2. Sesuai dengan LPTa (m2)

2. DASAR PERBANDINGAN DENGAN DOSIS DEWASA
a. Perbandingan umur (dewasa 20-24tahun) n
Rumus Young (anak<12 th) Da =Dd (mg)
n+12
n Rumus Dilling Da= Dd (mg) 20
Keterangan: Da = Dosis obat untuk anak Dd = Dosis obat untuk dewasa
n = Umur anak dalam tahun
b. Perbandingan berat badan (dewasa 70 kg)
BBa
Rumus Clark = Dd (mg)
70
Keterangan: Bba = berat badan anak (kg)
c. Perbandingan luas permukaan tubuh (LPT) (Dewasa = 1,73 cm2) LPT (anak)
Rumus (Crawford-Terry-Rourke) =Dd (mg)
1,73
Catatan: Perhitungan dosis menggunakan dasar perbandingan dengan dosis dewasa punya
kelemahan sbb.
Perhitungan dosis menggunakan dasar perbandingan dengan dosis dewasa punya kelemahan
sbb.
Umur-Tidak tepat (variasi BB & LPT)
BB -Tidak dapat bagi semua obat
LPT Tidak praktis

DOSIS OBAT UNTUK OBESITAS
Definisis obesitas adalah berat badan > 20% BB ideal, akibatnya ada perbedaan komposisi
komponen tubuh dengan BB normal.
Menurut Rische, BB ideal = (T-100) x 0,9 (Kg) ; T = Tinggi (cm)
Yang harus diperhatikan dalam penghitungan dosis:
Lipofilisitas obat
Jika suatu obat bersifat lipofilik maka distribusi obat naik , T 1/2 eliminasi lebih lama.
Mis. Benzodiazepin
Daya larut obat dalam lemak kecil.
Perhitungan dosis didasarkan pada Berat badan tanpa lemak (BBTL).
Mis. Digitoxin, kanamycin, Streptomycin
Daya larut obat dalam lemak besar.
Perhitungan dosis didasarkan Berat badan nyata (BBN).
Mis. Thiopental
DOSIS UNTUK GERIATRIK (Umur > 65 tahun)
Ketika umur bertambah, terjadi perubahan fisiologi dan patologi tubuh yang menentukan
perubahan konsentrasi obat di dalam tubuh karena perubahan fase farmakokinetika = ADME.
Penentuan dosis obat:
1. Dasar : Pola MIC Pola kurva log dosis respon
2. Dasar: Clearance individual
DOSIS LAZIM/TERAPEUTIK (tertulis dalam pustaka)
Dosis sekali : Bisacodyl, 5-10 mg/dosis tunggal
Dosis sehari : Diazepam,5-30 mg dalam dosis terbagi; Dexamethason, 0,5-2 mg/hari.
Dosis/kgbb/kal : Etambutol, 15-25 mg/kgbb/ dosis tunggal.
Dosis/kgbb/hari : Ampisilin, 50-150 mg/kgbb/ hari. Dalam dosis terbagi tiap 6 jam
Dosis untuk efek berbeda :
Ex:Phenobarbital Sedative-hipnotik:30mg/3-4dd; Antikonvulsan:30-60mg/2-3 dd.
Ex:Phenobarbital Sedative-hipnotik:30mg/3-4dd; Antikonvulsan:30-60mg/2-3 dd.
2.5 JADWAL PEMBERIAN OBAT
Hal-hal yang harus kita pertimbangkan adalah sbb.
1. Tujuan terapi / Indikasi penyakit
sistemik / lokal
onset dan durasi
2. Kondisi pasien
menerima / menyenangkan
aman, dapat menelan dll.
3. Sifat fisika-kimia obat
Stabilitas
Iritasi
MACAM-MACAM CARA PEMBERIAN OBAT
1. OR A L
2. PARENTERAL
3. INHALASI
4. MEMBRAN MUKOSA
5. KULIT/TOPIKAL

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Melalui pembahasan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa :
1. Proses pembuatan berbeda-beda.
2. Jenis yang beredar banyak macamnya.
3. Setiap sediaan obat memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
3.2 Saran
Melalui pembahasan diatas maka di sarankan untuk :
1. Dalam pemilihan proses pembuatan, sesuaikan dengan sifat zat aktifnya.
2. Untuk memilih jenis yang akan dibuat harus sesuai dengan tujuan pembuatan..
3. Dalam setiap proses pembuatan obat gunakan jenis sediaan obat yang paling sesuai
dengan tujuan pembuatan.
DAFTAR PUSTAKA

Dep Kes RI., 1995, Farmakope Indonesia, Ed. V., Jakarta
Howard. C. Ansel, 1981, Introduction to Pharmaceutical Dosage Form
Nanizar Zaman, J., 1990 & 1995, Ars Prescribendi Resep yang Rasional, Jilid 1, 2 & 3.
Airlangga University Press, Surabaya
Reynold, J. E. F. & Prasad, 1996, Martindale the Extra Pharmacopoea, 31st. Ed. The
Pharmaceutical Press
Undang-Undang Kesehatan RI., No. 32, tahun 1992




prinsip dan teknik pemberian obat oral, sublingual, ic, sc
dan im Presentation Transcript
1. PRINSIP DAN TEKNIK PEMBERIAN OBAT
2. Klasifikasi Per oral (po), Sublingual Secara Suntikan / Parenteral (Intracutan,
Subcutan, Intramuskuler, Intravena ) Rectal Intra Vaginal Obat Luar ( Topikal,
Melalui Paru-paru / Inhalasi )
3. Per oral Cara pemberian obat yang paling umum dilakukan Adalah obat yang cara
pemberiannya melalui mulut dengan tujuan mencegah, mengobati, mengurangi rasa
sakit sesuai dengan efek terapi dari jenis obat. Keuntungan: praktis, aman, dan
ekonomis Kelemahan dari pemberian obat secara oral adalah efek yang tibul
biasanya lambat, tidak efektif jika pengguna sering muntah-muntah, diare, tidak sabar,
tidak kooperatif, kurang disukai jika rasanya pahit (rasa jadi tidak enak), iritasi pada
saluran cerna
4. Per oral
5. Sublingual Adalah obat yang cara pemberiannya ditaruh di bawah lidah.
Tujuannya adalah agar efek yang ditimbulkan bisa lebih cepat karena pembuluh darah
di bawah lidah merupakan pusat dari sakit. Kelebihan dari cara pemberian obat
dengan sublingual adalah efek obat akan terasa lebih cepat dan kerusakan obat pada
saluran cerna dan metabolisme di dinding usus dan hati dapat dihindari.
6. Sublingual
7. Parenteral Adalah cara pemberiaan obat tanpa melalui mulut (tanpa melalui
saluran pencernaan) tetapi langsung ke pembuluh darah Keuntungan : efek timbul
lebih cepat dan teratur dapat diberikan pada penderita yang tidak kooperatif, tidak
sadar, atau muntah-muntah sangat berguna dalam keadaan darurat. Kerugian :
dibutuhkan kondisi asepsis, menimbulkan rasa nyeri, tidak ekonomis, membutuhkan
tenaga medis. Meliputi: Intracutan, intravena (iv), subcutan (sc), dan intramuscular
(im),
8. Intracutan Prinsipnya memasukan obat kedalam jaringan kulit Merupakan
pemberian obat melalui jaringan intrakutan ini dilakukan di bawah dermis atau
epidermis, secara umum dilakukan pada daerah lengan tangan bagian ventral.
intracutan biasa digunakan untuk mengetahui sensitivitas tubuh terhadap obat yang
disuntikan agar menghindarkan pasien dari efek alergi obat (dengan skin test),
menentukan diagnosa terhadap penyakit tertentu (misalnya tuberculin tes).
9. Intracutan
10. Subcutan Pemberian obat secara subkutan adalah pemberian obat melalui
suntikan ke area bawah kulit yaitu pada jaringan konektif atau lemak di bawah
dermis Jenis obat yang lazim diberikan secara SC 1. Vaksin 3. Narkotik 5. Heparin 2.
Obat-obatan pre operasi 4. Insulin Pemberian obat melalui subkutan ini umumnya
dilakukan dalam program pemberian insulin yang digunakan untuk mengontrol kadar
gula darah Pada pemakaian injeksi subkutan untuk jangka waktu yang alam, maka
injeksi perlu direncanakan untuk diberikan secara rotasi pada area yang berbeda.
Hanya boleh dilakukan untuk obat yang tidak iritatif terhadap jaringan. Absorpsi
biasanya berjalan lambat dan konstan, sehingga efeknya bertahan lebih lama.
Absorpsi menjadi lebih lambat jika diberikan dalam bentuk padat yang ditanamkan
dibawah kulit atau dalam bentuk suspensi. Pemberian obat bersama dengan
vasokonstriktor juga dapat memperlambat absorpsinya.
11. Subcutan
12. Intramusculer Merupakan cara memasukkan obat ke dalam jaringan otot. Tujuan
: pemberian obat dengan absorbsi lebih cepat dibandingkan dengan subcutan Lokasi
penyuntikan dapat pada daerah paha (vastus lateralis), ventrogluteal (dengan posisi
berbaring), dorsogluteal (posisi tengkurap), atau lengan atas (deltoid), daerah ini
digunakan dalam penyuntikan dikarenakan massa otot yang besar, vaskularisasi yang
baik dan jauh dari syaraf. Pemberian obat secara Intramusculer sangat dipengaruhi
oleh kelarutan obat dalam air yang menentukan kecepatan dan kelengkapan absorpsi
obat . Obat yang sukar larut seperti dizepam dan penitoin akan mengendap di tempat
suntikan sehingga absorpsinya berjalan lambat, tidak lengkap dan tidak teratur. Obat
yang larut dalam air lebih cepat diabsorpsi
13. Intramusculer
14. Intravena Pengertian : Memasukkan cairan obat langsung kedalam pembuluh
darah vena waktu cepat sehingga obat langsung masuk dalam sistem sirkulasi darah.
Tujuan : 1. Memasukkan obat secara cepat 2. Mempercepat penyerapan obat Lokasi
yang digunkan untuk penyuntikan : 1. Pada lengan (vena mediana cubiti / vena
cephalica ) 2. Pada tungkai (vena saphenosus) 3. Pada leher (vena jugularis) khusus
pada anak 4. Pada kepala (vena frontalis, atau vena temporalis) khusus pada anak
15. Intravena
16. Intravena
17. Intravena1. Pemberian Obat Intravena Melalui Selang2. Pemberian Obat Intravena
Tidak Langsung (via Wadah) Merupakan cara memberikan obat dengan
menambahkan atau memasukkan obat ke dalam wadah cairan intravena yang
bertujuan untuk meminimalkan efek samping dan mempertahankan kadar terapetik
dalam darah.
18. Intravena
19. Rectal Pemberian Obat via Anus / Rektum / Rectal, Merupakan cara memberikan
obat dengan memasukkan obat melalui anus atau rektum, dengan tujuan memberikan
efek lokal dan sistemik. Tindakan pengobatan ini disebut pemberian obat
suppositoria yang bertujuan untuk mendapatkan efek terapi obat, menjadikan lunak
pada daerah feses dan merangsang buang air besar. Contoh pemberian obat yang
memiliki efek lokal seperti obat dulcolac supositoria yang berfungsi secara lokal
untuk meningkatkan defekasi dan contoh efek sistemik pada obat aminofilin
suppositoria dengan berfungsi mendilatasi bronkus. Pemberian obat supositoria ini
diberikan tepat pada dnding rektal yang melewati sfingter ani interna. Kontra
indikasi pada pasien yang mengalami pembedahan rektal.
20. Rectal
21. Rectal
22. Rectal
23. Intra Vaginal Pemberian Obat per Vagina, Merupakan cara memberikan obat
dengan memasukkan obat melalui vagina, yang bertujuan untuk mendapatkan efek
terapi obat dan mengobati saluran vagina atau serviks. Obat ini tersedia dalam bentuk
krim dan suppositoria yang digunakan untuk mengobati infeksi lokal.
24. Intra Vaginal
25. Intra Vaginal
26. Topikal Adalah obat yang cara pemberiannya bersifat lokal, misalnya tetes mata,
salep, tetes telinga dan lain-lain. Pemberian Obat pada Kulit Merupakan cara
memberikan obat pada kulit dengan mengoleskan bertujuan mempertahankan hidrasi,
melindungi permukaan kulit, mengurangi iritasi kulit, atau mengatasi infeksi.
Pemberian obat kulit dapat bermacam-macam seperti krim, losion, aerosol, dan sprei.
Pemberian Obat pada Telinga Cara memberikan obat pada telinga dengan tetes telinga
atau salep. Obat tetes telinga ini pada umumnya diberikan pada gangguan infeksi
telinga khususnya pada telinga tengah (otitis media), dapat berupa obat antibiotik.
27. Topikal Pemberian Obat pada Hidung Cara memberikan obat pada hidung
dengan tetes hidung yang dapat dilakukan ada seseorang dengan keradangan hidung
(rhinitis) atau nasofaring. Pemberian Obat pada Mata Cara memberikan obat pada
mata dengan tetes mata atau salep mata obat tetes mata digunakan untuk persiapan
pemeriksaan struktur internal mata dengan cara mendilatasi pupil, untuk pengukuran
refraksi lensa dengan cara melemahkan otot lensa, kemudian juga dapat digunakan
untuk menghilangkan iritasi mata.
28. Topikal Pada Dewasa 10. Obat tetes mata dapat menimbulkan rasa pedih selama
beberapa menit. Jika tetap berlanjut1. Cucilah tangan anda. berkonsultasilah kepada
dokter anda.2. Jangan memegang mulut botol atau ujungpenetes.3. Melihatlah ke arah
atas.4. Tariklah pelupuk mata bawah ke bawah sehinggamembentuk kantung (lihat
gambar ).5. Peganglah penetes sedekat mungkin dengankantung tanpa menyentuh
mata atau kantungtersebut.Teteskan obat sejumlah yang tertulis di etiket.7.
Pejamkan mata selama 2 menit. Janganmemejamkan mata terlalu rapat atau berkedip
terlalusering.8. Cairan obat yang berlebih bisa dihilangkandengan tissue9. Jika anda
menggunakan lebih dari satu macamtetes mata, tunggulah paling sedikit 5
menitsebelum meneteskan obat yang lainnya
29. Topikal Pada Anak-anak1. Baringkanlah anakterlentang dengan kepalategak
menghadap ke atas.2. Suruhlah ia memejamkanmata.3. Teteskan obat sesuai
yangtertulis di etiket pada ujungmata sebelah dalam (dekathidung).
30. Inhalasi Adalah cara pemberian obat dengan cara disemprotkan ke dalam mulut.
Kelebihan dari pemberian obat dengan cara inhalasi adalah absorpsi terjadi cepat dan
homogen, kadar obat dapat terkontrol, terhindar dari efek lintas pertama dan dapat
diberikan langsung kepada bronkus. Untuk obat yang diberikan dengan cara inhalasi
ini obat yang dalam keadaan gas atau uap yang akan diabsorpsi akan sangat cepat
bergerak melalui alveoli paru-paru serta membran mukosa pada saluran pernapasan.
31. Inhalasi
32. 6B:1. Benar obat2. Benar pasien3. Benar dosis pemberian4. Benar cara
pemberian5. Benar waktu pemberian6. Benar pendokumentasian