Anda di halaman 1dari 3

No

Konsep

Intisari Konsep

Sumber Konsep

Signifikansi Konsep pada Penelitian


1


Subkultur
Subkultur merupakan
ekses dari budaya
dominan yaitu budaya
pop, subkultur selalu
tampil dalam bentuk yang
resisten atau setidak-
tidaknya berbeda dari
budaya dominan.

Subkultur juga dipandang
sebagai ruang bagi budaya
menyimpang untuk
mengasosiasikan dan
menegosiasikan ulang
posisi mereka atau untuk
meraih tempat bagi dirinya
sendiri didalam kontestasi
budaya.
John Storey, Cultural Studies dan
Kajian Budaya Pop, Jalasutra, 2007

Sarah Thornton, Club Cultures:
Music, Media, and Subcultural
Capital, Wesleyan University Press,
1997


Konsep subkultur dapat menjadi landasan utama
dalam penelitian ini, karena konsep ini dapat
menjelaskan tentang pembedaan yang
diusahakan oleh kelompok alay terhadap
acuannya gaul dan menjelaskan bagaimana
mereka mendapat tempat di budaya remaja kota.

Meskipun sepintas mereka terlihat sama dengan
si gaul, tetapi alay memiliki semangat
perlawanan yang terlihat dari atribut budaya
yang mereka kenakan dan sikap rebel mereka
dalam upaya mendobrak masuk kedalam budaya
remaja kota yang dikuasai gaul.


2


Identitas
Identitas sosial merupakan
adalah konsep mendasar
yang merupakan derivasi
dari peran sosial.
George Ritzer. 2005. Encyclopedia of
Social Theory Vol. I. London: Sage
Publications.

Laughley, Dan. 2006. Music and Youth
Culture. Edinburgh: Edinburgh
University Press.

Rudyansjah, Tony. 2009. Kekuasaan,
Sejarah, & Tindakan. Jakarta: Rajawali
Press.
Signifikansi konsep ini memberikan penjelasan
dan gambaran dasar dalam penelitian sekaligus
untuk memberikan argumentasi tentang alay
sebagai identitas yang memiliki peran sosial di
dalam sebuah struktrur sosial yang ada dan
bagaimana peran lingkungan dalam membentuk
alay sebagai identitas sosial.


3 Disctinction (Distingsi) Konsep ini menjelaskan
Ritzer, George dan Goodman, Douglas
Signifikansi dari konsep ini adalah menjelaskan
tentang pembedaan
konsumsi budaya yang
didasari atas kepemilikan
modal material dan
kultural yang menciptakan
pembedaan selera.

Selera adalah preferensi
kultural yang menjadi
kesempatan bagi
seseorang untuk
menyatakan posisi di
dalam sebuah arena.

Namun arena kelas sosial
membawa banyak dampak
bagi kemampuan
seseorang untuk
memainkan permainan ini;
mereka yang mempunyai
kelas lebih tinggi mampu
membuat selera mereka
diterima dan menentang
selera mereka yang
berada pada kelas lebih
rendah.

Karena struktur,
khususnya arena dan
habitus, cenderung tetap,
maka preferensi kultural
dari berbagai kelompok di
J., Teori Sosiologi, Kreasi Wacana,
Yogyakarta 2009

tentang bagaimana pengetahuan akan selera
(preferensi kultural) di tentukan oleh oleh kelas
sosial seseorang. Selera dapat membedakan
seseorang didalam suatu arena khususnya arena
kelas sosial.

Selera seseorang cenderung bersifat tetap dan
saling bertautan didalam satu kelas sehingga
menciptakan distingsi dalam hal preferensi
kultural.

Konsep ini menjelaskan bagaimana sekuat
mungkin alay ingin mengacu kepada gaul
mereka tetap memiliki pembedaan mendasar
dalam hal preferensi kultural. Meskipun
Industri imitasi dari produk-produk yang
dikonsumsi kelompok gaul semakin marak
namun gaul akan terus membedakan preferensi
kulturalnya sekaligus menentang selera si alay.
dalam masyarakat
(khususnya kelas dan
fraksi kelas) menciptakan
sistem yang koheren.
Bourdieu memusatkan
perhatian pada variasi
selera estetis, disposisi
yang diperoleh untuk
membedakan beragam
objek kultural kenikmatan
estetis dan memberinya
apresiasi secara berbeda.