Anda di halaman 1dari 24

PEMBUATAN POLIPROPILENA

KELOMPOK 5
M. Muhajir Syarifudin
Nur Nofiyantika
Puspo Rachmadani Rahayu
Kelas2D Teknik Kimia Politeknik Negeri Malang

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Polimer merupakan molekul besar yang terbentuk dari unit unit berulang
sederhana. Nama ini diturunkan dari bahasa Yunani Poly, yang berarti banyak dan
mer, yang berarti bagian. Sedangkan industry polimer (polimer sintesis) baru
dikembangkan beberapa puluh tahun terakhir ini.
Polimer tersusun atas perulangan monomer menggunakan ikatan kimia tertentu.
Ukuran polimer, dinyatakan dalam massa (massa rata-rata ukuran molekul dan jumlah
rata-rata ukuran molekul) dan tingkat polimerisasi, sangat mempengaruhi sifatnya,
seperti cuhu cair dan viskositasnya terhadap ukuran molekul (missal seri hidrokarbon).
Polimer merupakan molekul besar (makromolekul) yang terbangun oleh susunan
unit ulangan kimia yang kecil, sederhana dan terikat oleh ikatan kovalen. Unit ulangan
ini biasanya setara atau hampir setara dengan monomer yaitu bahan awal dari polimer.
Dalam kehidupan sehari-hari banyak barang-barang yang digunakan merupakan
polimer sintetis mulai dari kantong palstik untuk belanja, plastic pembungkus makanan
dan minuman, kemasan plastic, alat-alat listrik, alat-alat rumah tangga, dan alat-alat
elektronik.
Kata polimer pertama kali digunakan oleh kimiawan Swedia, Berzelius pada tahun
1833, sepanjang abad 19 para kimiawan bekerja dengan makromolekul tanpa memiliki
suatu pengertian yang jelas mengenai strukturnya. Sebenarnya beberapa polimer alam
yang termodifikasi telah dikomersialkan. Sebagai cntoh, selulosa nitrat dipasarkan di
bawah nama-nama celluloid dan guncotton. Sepanjang tahun 1839 dilaporkan
mengenai polimerisasi stirena, dan selama 1860-an dipublikasikan sintesis poli (etilena
glikol) dan poli (etilena suksinat) bahkan dengan struktur-struktur yang tepat.
Bahan plastic buatan pertama kali dikembangkan pada abad ke-19, dan saat ini di
awal abad ke-21 jenis bahan ini telah ada di sekeliling kita dalam bentuk dan kegunaan
yang sangat beragam. Cellulose nitrate merupakan salah satu jenis bahan plastic yang
pertama-tama dikembangkan. Ahan ini ditemukan Alexander Parkes di pertengahan
abad ke-19 dan pertama kali dipamerkan pada suatu Pameran Akbar di London tahun
1862 dalam bentuk sol sepatu dan bola-bola billiard. Pada tahun 1869 John Wesley
Hyatt mengembangkan bahan Cellulose nitrate lebih lanjut dengan cara
mencampurkannya dengan camphor menjadi bahan baru yang kemudian diberi nama
Celluloid. Bahan ini menjadi sangat popular digunkan pada produk-produk sisir rambut,
kancing pakaian dan gagang pisau.



















BAB II

1. Propilena
Meupakan bahan baku dalam pembuatan polipropilena jenis homopolimer
sedangkan untuk jenis random copolymer dan impact copolymer selain propilena
diperlukan juga etilena dengan komposisi tertentu.
Propilena merupakan hidrokarbon alfatik dengan satu rantainya mempunyai ikatan
rangkap dua atau ikatan tidak jenuh. Polipropilena merupakan golongan olefin yang
diperoleh dari hasil cracking (perengkahan) minyak bumi pada temperature 700-900
0
C,
untuk menghilangkan gas nafhtalena dan dilanjutkan dengan proses fraksionasi.

2. Polipropilena
Polipropilena atau polipropena (PP) adalah sebuah polimer termo-plastik yang
dibuat oleh industry kimia dan digunakan dalam berbagai aplikasi, diantaranya
pengemasan, tekstil (contohnya tali, pakaian dalam termal, dan karpet), alat tulis,
berbagai tipe wadah etrpakaikan ulang serta bagian plastic, perengkapan laboratorium,
pengeras suara, komponen otomotif, dan uang kertas polimer. Polimer adisi yang
terbuat dari propilena monomer, permukannya tidak rata serta memiliki sifat resistan
yang tidak biasa terhadap kebanyakan pelarut kimia, basa dan asam.
Struktur molekul propilena dapat dilihat pada gambar berikut.
CH
2
=CH-CH
3


Secara industry, polimerisasi polipropilena dilakukan dengan menggunakan katalis
koordinasi. Proses polimerisasi ini akan menghasilkan suatu rantai linear yang berbetuk
A-A-A-A-A- , dengan A merupakan propilena. Reaksi polimerisasi dari propilena secara
umum dapat dilihat pada gambar berikut.

Pengolahan lelehnya polipropilena bisa dicapai melalui ekstrusi dan pencetakan.
Metode ekstrusi (peleleran) yang umum menyertakan produksi serta pintal ikat (spun
bond) dan tiup (hembus) leleh untuk membentuk gulungan yang panjang untuk
nantinya diubah menjadi beragam produk yang berguna seperti masker muka,
penyaring, dan lap.
Teknik pembentukan yang paling umum adalah pencetakan suntik, yang digunakan
untuk berbagai bagian seperti cangkir, alat pemotong, botol kecil, topi, wadah,
perabotan, dan suku cadang otomotif seperti baterai. Teknik pencetakan tiup dan
injection-stretch blow molding juga digunakan, yang melibatkan ekstrusi dan
pencetakan.
Ada banyak penerapan penggunaan akhir untuk PP (polipropilena) karena dalam
proses pembuatannya bisa di-tailor grade dengan aditif serta sifat molekul yang spesifik.
Sebagai missal, berbagai aditif antistatic bisa ditambahkan untuk memperkuat resistensi
permukaan polipropilena terhadap debu dan pasir. Kebanyakan teknik penyelesaikan
fisik, seperti permesinan, bisa pula digunakan pada polpropilena. Perawatan permukaan
bisa diterapkan ke berbagai bagia polipropilena untuk meningkatkan adhesi (rekatan)
cat dan tinta cetak.
Gambaran umum Polipropilena :
Penggunaan : Termoplastik, fiber, termoplastik elastomer
Monomer : propilena
Polimerisasi : Ziegler-Natta, metallocene catalyst
Titik leleh : 165
0
C
Temperature glass transition : -17
0
C

3. Manfaat Polipropilena
Karena polipropilena kebal dari lelah, kebanyakan living hinge (engsel fleksibel tipis
yang terbuat dari plastic yang menghubungkan dua bagian dari palstik yang kaku),
seperti yang ada di botol dengan tutup flip top, dibuat dari bahan ini.
Lembar propilena yang sangat tipis dipakai sebagai dielektrik dalam pulsa berdaya
tinggi tertentu serta kondensator frekuesni radio yang kehilangan frekuensinya rendah.
Kebanyakan barang dari palstik untuk keperluan medis atau laboratorium bisa
dibuat dari polipropilena karena mampu menahan panas di dalam autoklaf. Sifat tahan
panas ini menyebabkan digunakan sebagai bahan untuk membuat ketel (ceret) tingkat-
konsumen. Wadah penyimpan makan yang terbuat darinya takkan meleleh di dalam
mesin cuci piring dan selama proses pengisian panas industry berlangsung. Untuk alasan
inilah sebagian besar tong plastic untuk produk susu perahan terbuat dari polpropilena
yang ditutupi dengan foil aluminium (keduanya merupakan bahan tahan panas). Sesuai
produk diinginkan, tabung sering diberi tutup yang terbuat dari bahan yang kurang
tahan panas, seperti polietilena berdensitas rendah (LDPE) atau polistirena. Wadah
seperti ini merupakan contoh yang bagus mengenai perbedaan modulus, karena tampak
jelas beda kekenyalan LDPE (lebih lunak, lebih mudah dilenturkan) dengan polipropilena
yang tebalnya sama. Jadi wadah penyimpan makan dari polpropilena sering memiliki
tutup yang terbuat dari LDPE yang lebih fleksibel agar bisa tertutup rapat-rapat.
Polipropilena juga bisa dibuat menjadi botol sekali pakai untuk menyimpan produk
konsumen berbentuk cairan atau tepung, meski HDPE dan polietilena tereftalatlah yang
umumnya dipakai untuk membuat botol semacam itu. Ember plastic, baterai mobil,
container penyejuk, piring dan kendi sering terbuat dari polipropilena atau HDPE,
keduanya memliki penampilan, rasa, serta sifat yang hampir sama pada suhu ambient.
Polipropilena merupakan sebuah polimer utama dalam barang-barang tak tertenun.
Sekitar 50% digunakan dalam berbagai produk sanitasi yang dipakai untuk menyerap air
(hidrofil), bukan yang secara alami menolak air (hidrofobik). Penggunaan tak tertenun
lainnya yang menarik adalah saringan udara, gas, dan cair dimana serat bisa dibentuk
menjadi lembaran atau jarring yang bisa dilipat untuk membentuk kartrij atau lapisan
yang menyaring dalam batas-batas 0.5 sampai 30 mikron. Aplikasi ini bisa ditemukan di
dalam rumah sebagai saringan air atau saringan tipe pengondisian udara. Wilayah
permukaan tinggi serta polipropilena hidrofobik alami yang tak tertenun merupakan
penyerap tumpahan minyak yang ideal dengan perintang apung yang biasanya
diletakkan di dekat tumpahan minyak di sungai.
Polipropilena juga umum digunakan sebagai polipropilena berorientasi dwi sumbu
Biaxially Oriented Polypropilene (BOPP). Lembaran BOPP ini digunakan untuk membuat
berbagai macam bahan seperti clear bag (tas yang transparan). Saat polipropilena
berorientasi dwi sumbu, ia menjadi sejernih Kristal dan berfungsi sebagai bahan
pengemasan untuk berbagai produk artistic eceran.
Polipropilena yang berwarna-warni banyak dipakai dala pembuatan permadani dan
tatakan untuk digunakan di rumah.
Militer AS pernah menggunakan polipropilena atau polypro untuk membuat
lapisan dasar cuaca dingin seperti kaos lengan panjang atau celana dalam yang panjang.
(Saat ini polyester menggantikan polipropilena dalam berbagai aplikasi di militer AS).
Kaos dari polipropilena tidak mudah terbakar, tapi bisa meleleh yang berakibat pada
bekas terbakar pada bagian baju yang terkena apapun jenis ledakan atau api.
Polipropilena digunakan pula sebagai pengganti polivinil klorida (PVC) sebagai
insulasi untuk kabel listrik LSZH (Low Smoke Zero Halogen) dalam lingkungan ventilasi
rendah, terutama sekali terowongan. Ini karena polipropilena mengeluarkan sedikit
asap serta halogen yang tidak beracun, yang akan menghasilkan asam pada suhu tinggi.

4. Struktur Kristalinitas Polipropilena
Kristalinitas merupakan sifat penting yang terdapat pada polimer. Kristalinitas
merupakan ikatan antara rantai molekul sehingga menghasilkan susunan olekul yang
lebih teratur. Pada polimer polipropilena, rantai polimer yang trebentuk dapat tersususn
membentuk daerah kristalin (molekul tersusun teratur) dan bagian lain membentk
daerah amorf (molekul tersusun secara tidak teratur)
Dalam struktur polimer atom-atom karbon terikat secara tetrahedral dengan sudut
ikatan C-C 109.5
0
dan membentuk rantai zigzag planar sebagai berikut :



Untuk polipropilena struktur zigzag planar dapat terjadi dalam tiga cara yang
berbeda-beda tergantung pada posisi relative gugus metal satu sama lain di dalam
rantai polimernya. Ini menghasilkan struktur isotaktik, ataktik dan sindotaktik.
(a) Struktur isotatik

Dikatakan bersturktur isotaktik jika gugus metal pada posisi yang sama di dalam
polimer tersebut.
(b) Struktur ataktik

Disebut polimer ataktik apabila gugus alkil/fenil yang berada pada rantai
karbonnya berposisi secara random.


(c) Struktur sindotaktik

Sedangkan disebut dengan polimer sindotaktik apabila gugus alkil/fenil memiliki
kedudukan yang tidak sama misalnya cis dan trans, namun kedudukan tersebut
berubah secara beraturan.

Ketiga struktur polipropilena tersebut pada dasarnya secara kimia berbeda satu
sama lain. Polipropilena ataktik tidak dapat berubah menjadi polipropilena sindotaktik
atau menjadi struktur lainnya tanpa memutuskan dan menyusun kembali beberapa
ikatan kimia. Struktur yang lebih teratur memiliki kecenderungan yang lebih besar untuk
berkristalisasi daripada struktur yang tidak teratur. Jadi, struktur isotaktik dan
sindotaktik lebh cenderung membentuk daerah kristalin daripada ataktik. Polipropilena
berstruktur stereogular seperti isotatik dan sindotaktik adalah sangat kristalin bersifat
keras dan kuat. Dalam struktur polipropilena ataktik gugus metal bertindak seperti
cabang rantai pendek yang muncul pada sisi rantai secara acak. Ini mengakibatkan
sulitnya untuk mendapatkan daerah-daerah rantai yang sama (tersusun) sehingga
mempunyai sifat kristalin rendah menyebabkan tingginya kadar oksigen pada bahan
tersebut sehingga bahan polimer ini mudah terdegradasi oleh pengaruh lingkungan
seperti kelembaban cuaca, radiasi sinar matahari dan lain sebagainya.

5. Sifat sifat Polipropilena
Polipropilena merupakan bahan baku plastic yang ringan dengan densitas 0.90-0.92 ,
memiliki kekerasan dan kerapuhan yang paling tinggi dan bersifat kurang stabil terhadap
paas dikarenakan adanya hydrogen tersier. Penggunaan pengisi dan penguat
memungkinkan polipropilena memiliki mutu kimia yang baik sebagai bahan polimer dan
tahan terhadap pemecahan karena tekanan (stress-cracking) walaupun pada
temperatur tinggi.
Kerapuhan plipropilena di bawah 0
0
C dapat dihilangkan dengan penggunaan bahan
pengisis. Dngan bantuan pengisis dan penguat, akan terdapat adisi yang baik.
Polimer yang memiliki konduktivitas rendah seperti polpropilena (konduktivitas =
0.12 W/m) kristalinitasnya sangat rentan terhadap laju pendinginan. Misalnya dalam
suatu proses pencetakan termoplastik membentuk barang jadi yang tebal dan luas,
bagian tengah akan menjadi dingin lebih lambat daipada bagian luar, yang besentuhan
langsung dengan cetakan. Akibatnya akan terjadi perbedaan derajat kristalinitas pada
permukaan dengan bagian tengahnya.
Polipropilena mempunyai tegangan (tensile) yang rendah, kekuatan benturan
(impact strength) yang tinggi dan ketahanan yang tinggi terhadap pelarut organic.
Polipropilena juga mempunyai sifat usolator yang baik, mudah diproses dan sangat
tahan terhadap air karena sedikit sekali menyerap air, dan sifat kekakuan yang tinggi.
Seperti polyolefin lain, polipropilena juga mempunyai ketahanan yang baik terhadap
bahan kimia anorganik non pengoksidasi, deterjen, alcohol dan sebagainya. Tetapi
polipropilena dapat terdegradasi oleh zat pengoksidasi seperti asam nitrat dan hydrogen
peroksida. Sifat kristalinitasnya yang tinggi menyebabkan daya regangannya tinggi, kaku
dan keras.
Sifat fisik polipropilena ditunjukkan pada table berikut :
Parameter Nilai
Berat molekul 42.078
Titik didih ( P=101.3 kPa dlm
0
C) 47.7
Titik leleh (
0
C) 190-20
Temperature kritik (
0
C) 92
Densitas kritik (g/ml) 0.2333
Tekanan kritik (MPa) 4.3
Lower explosion limit (% V udara) 24
Upper explosion limit (% V udara) 11.1
Temperature autoignition (
0
C) 224
Kelarutan dalam air (T=20
0
C ; P 101.3 kPa) 44.6
Bau Bau gas alam
Titik nyala (
0
C) 08
Densitas uap 1.5
Specific gravity 0.516
Tekanan uap (20
0
C dlm psig) 132
Indeks bias 1.49
Tensile strength (psi) 4300-5500
Elongation (%) 200-700
Tensile modus (10
3
, psi) 1.6-2.3
Impact of strength (ft-lb/in of notch) 0.5-2.0
Densitas 0.855 gr/cm
3

Titik leleh 160
0
C

Sifat kimia polipropilena adalah sebagai berikut :
1. Polipropilena diproduksi melalui system cracking pada proses pmurnian minyak
bumi yang juga menghasilkan etile, metana dan hydrogen. Reaksi yang terjadi
adalah :
2CH
3
CH
2
CH
3
CH
3
CH=CH
2
+ CH
2
=CH
2
+ CH
4
+ H
2

2. Reaksi polipropilena dengan ammonia menghasilkan akrilonitrit pada industry
asam akrilit. Reaksi yang terjadi adalah :
CH
3
CH=CH
2
+ NH
3
+ 3/2 O
2
CH
2
CHCN + 3H
2
O
3. Pada temperature tinggi klorinasi propilen dengan klorida memproduksi gliserol.
Reaksi yang terjadi adalah :
CH
3
CH=CH
2
+ Cl
2
770 K Ch
2
=CH
2
Cl + HCl





5. Pembagian Polipropilena
Berdasarkan monomer penyusunnya polipropilena dapat dibedakan menjadi :
a. Polipropilena Homopolimer, yaitu polipropilena uang disusun hanya oleh
monomer propilena. Sifat utama jenis polipropilena ini adalah kekauannya yang
bahkan juga dimiliki pada temperature tinggi. Jenis polipropilena ini memiliki
temperature transisi gelas 0
0
C, sehingga polipropilena jenis ini bersifat getas
pada temperature rendah. Pada sifat optis, jeis polipropilena ini memiliki tingkat
kebeningan sedang (translucent). Polipropilena jenis ini juha memiliki sifat
kemengkilapan yang baik. Aplikasinya meliputi kemasan makanan (baik rigid
maupun flexible), peralatan rumah tangga, karung palstik, dan lain-lain.
b. Polipropilena Random Copolimer yaitu polipropilena yang disusun oleh
monomer propilena dan etilena yang tersusun acak dalam ranati polipropilena.
Random copolymer dikenal terutama dari kebeningannya dan kelenturannya
yang tinggi. Karenanya, polipropilena random copolymer banyak digunakan
untuk pembuatan peralatan yang bening, tutup botol jenis flip top dan kemasan
lainnya.
Karakteristik yang penting lainnya adalah polipropilena random copolymer
memiliki temperature leleh yang lebih rendah dibanding polipropilena
homopolymer. Namun kekuatan dan kekerasannya kurang jika dibandingkan
oleh polipropilena homopolimer. Karena karakteristik ini, polipropilena random
copolymer juga digunakan sebagai bahan laminasi (extrusion coating) untuk
aplikasi karung.
c. Polipropilena Impact Copolimer (ICP) yaitu polipropilena yang disusun oleh
monomer propilena dan etilena yang tersusun dalam dua blok fasa, yaitu
polipropilena homopolimer dan ethylene-propylene-rubber (EPR). ICP
menawarkan variasi sifat yang besar, namun terutama dapat dikenali dari
sifatnya yang memiliki ketahanan pembebanan kejut yang sangat baik, termasuk
pada temperature rendah (memiliki temperature transisi gelas -30
0
C) dan
berwarna putih susu doff, berbeda dengan polipropilena homopolimer atau juga
polipropilena random copolymer. Aplikasi polipropilena jenis ini antara lain
bahan baku pembuatan kaleng plastic, pallet, elektronik dan perlengkapan
otomotif.
6. Pembuatan Polipropilena
Polipropilena adalah hasil polimerisasi propena. Polimerisasi adalah penggabungan
molekul molekul sejenis menjadi molekul raksasa sehingga beranati karbon sangat
panjang. Molekul yang bergabung disebut monomer monomer. Sedangkan molekul
raksasa yang terbentuk disebut polimer.
Jenis polimerisasi yang terjadi pada pembuatan polipropilena ini adalah polimerisasi
adisi, karena terjadi ikatan antara monomer propilena melalui ikatan rangkapnya.
Pertumbuhan yang terjadi pada polimerisasi ini disebabkan karena adanya penambahan
monomer yang berlangsug secara terus menerus pada pusat aktif radikal bebas.
Polimerisasi adisi menghasilkan berat molekul yang sama dengan berat semu unit
menome yeng tergabung dalam rantai polimer.
Polimerisasi ini akan berlangsung sampai semua monomer habis bereaksi. Akan
tetapi, terminasinya dapat diatur dengan menambah molekul hydrogen yan
memutuskan pertumbuhan atau perpanjangan rantai polimer. Polimerisasi adisi pada
umumnya berlangsung dalam kondisi tanpa katalisator dan temperature kamar, pada
polimerisasi adisi juga tidak dihasilkan molekul-molekul ringan sebagai produk samping.
Adapun sifat-sifat polimerisasi adalah :
a. Tidak ada hasil samping
b. Mekanisme reaksi adalah reaksi rantai (chain growth) berlangsung cepat
c. Hasilnya pada umumnya adalah polimer termoplastik, artinya dengan
pemanasan dapat melebur lagi, dan dapat berubah menjadi bentuk lain.
n
CH
2
= CH CH
2
(-CH
2
CH-)
n
CH
3

Mekanisme rekasi yang terjadi terdiri dari 3 tahapan, yaitu :
1. Inisiasi
2. Propagasi, dan
3. Terminasi

Polimerisasi Ziegler-Natta merupakan metode sintesis polimer dengan monomer
yang memliki ikatan rangkap, termasuk jenis polimerisasi adisi, metode ini sesuai
dengan namanya, ditemukan oleh dua ilmuwan yaitu Ziegler dan Natta. Polimerisasi
Ziegler-Natta menggunakan system katalis dank o-katalis dalam reaksi polimerisasinya.
Katalis ini merupakan senyawa komplek dari golongn I-III dengan halide dan turunan
logam transisi golongan IV-VII.
Katalis Ziegler-Natta biasanya adalah senyawa TiCl
3
sebagai ko-katalis yang
digunakan adalah TiCl
3
dan Al(C
2
H
5
)
2
Cl atau TiCl
4
dengan Al(C
2
H
5
)
3
. Reaksi antara katalis
dank o katalis ini akan menghasilkan suatu kompleks yang selanjutnya akan bereaksi
dengan molekul propilena. Pada proses pengakhiran, polimerisasi Ziegler-Natta
dilakukan dengan menambahkan molekul hydrogen akan memutuskan pertumbuhan
rantai polimer.
Sebelum terjadi ketiga tahapan reaksi tersebut, katalis TiCl
4
diaktifkan terlebih
dahulu oleh ko-katalis Al(C
2
H
5
)
3
sehingga akan terbentuk pusat aktif (active center)
katalis seperti pada reaksi berikut :

Setelah katalis diaktifkan oleh ko-katalis membentuk radikal bebas Ti, maka
monomer propilen akan menyerang abgian aktif ini dan berkoordinasi dengan logam
transisi, selanjutnya ia menyisip antara metal dan grup alkil, sehingga mulailah
terbentuk rantai polipropilena.


Radikal propilena yang terbentuk akan menyerang monomer propilena lainnya terus
menerus dan membentuk radikal polimer yang panjang. Pada tahap ini tidak terjadi
pengakhiran, polimerisasi terus berlangsung sampai tidak ada lagi gugs fungsi yang
tersedia untuk berekasi. Cara penghentian reaksi yang biasa dikenal adalah dengan
penghentian ujung atau dengan menggunakan salah satu monomer secara berlebihan.

Pada tahap terminasi ini diinjeksikan sejumlah hydrogen yang berfungsi sebagai
terminator. Hydrogen sebagai terminator akan bergabung dengan sisi aktif katalis
sehingga terjadi pemotongan radkal polimer yang akan menghentikan polimerisasi
propilen.

Dalam pembuatan polipropilena terdapat dua macam bahan baku, yakni
a. Bahan baku utama (feedstock) dari polipropilena adalah propilena (C
3
H
6
) yang
diambil dari minyak bumi untuk menjadi polipropilena.
b. Bahan baku penunjang, antara lain :
Katalis (Kaminsk / Ziegler-Natta / metallocene)
Katalis Ziegler-Natta mampu membatasi berbagai monomer
mendatang ke sebuah orientasi yang spesifik, hanya menambahkan
monomer-monomer itu ke rantai polimer jika mereka menghadap ke
arah yang benar. Polipropilena yang paling tersedia secara komersial
dibuat dengan katalis Ziegler-Natta, yang menghasilkan polipropilena
yang ada pada umumnya isotaktik. Dengan gugus metal konsisten di
satu sisi, molekul seperti itu cenderung melingkar ke dalam bentuk
heliks; heliks-heliks ini lalu berjajar bersebelahan untuk membentuk
Kristal yang memberikan sifat-sifat yang diinginkan dari sebuah
polipropilena komersial.
Katalis Kaminsky yang terekayasa dengan lebih presisi menawarkan
tingkat kendali yang lebih besar. Didasarkan pada molekul
metalosena, katalis ini menggunakan gugus organic untuk
mengendalikan monomer yang ditambahkan, sehingga pilihan katalis
yang lebih tepat mampu menghasilkan polipropilena isotaktik,
sindotaktik atau ataktik, atau bahkan kombinasi dari ketiga sifat
tersebut. Selain control kualitatif tadi, katalis Kaminsky membolehkan
control kuantitatif yang lebih baik, dengan jauh lebih baiknya rasio
taktisitas yangdiinginkan daripada teknik Ziegler-Natta sebelumnya.
Katalis ini menghasilka pula distribusi berat molekul yag lebih sempit
daripada katalis Ziegler-Natta yang tradisional, yang mampu
meningkatkan berbagai sifat lebih jauh lagi.
Reaksi kebanyakan katalis metolesena membutuhkan sebuah ko-
katalis untuk pengaktifan. Salah satu ko-katalis yang paling umum
digunakan untuk tujuan ini adalah Methylaluminumoxane (MAO). Ko-
katalis yang lain adalah Al(C
2
H
5
)
3
. Ada sejumlah katalis metalosena
yang bisa digunakan untuk polimerisasi polipropilena. (Sejumlah
katalis metalosena dipakai untuk proses industry, sedangkan yang lain
tidak, dikarenakan harganya yang tinggi). Salah satunya yang paling
sederhana adalah Cp
2
MCl
2
(M=Zr, Hf). Katalis yang berbeda bisa
menghasilkan polimer dengan berat molekul serta sifat yang berbeda.
Katalis metalosena sedang diteliti secara aktif.
Katalis metalosena bereaksi dulu dengan ko-katalis. Jika MAO adalah
ko-katalisnya, langkah pertama adalah menggantikan satu atom Cl d
katalis dengan satu gugus metal dari MAO. Gugus metal di MAO
digantikan oleh Cl dari katalis. MAO lalu menghilangkan Cl lainnya
dari katalis. Ini membuat katalis bermuatan positif dan rentan
terhadap serangan dari propilena.
Begitu katalis diaktifkan, ikatan ganda di propena berkoordinasi
dengan logamnya katalis. Gugus metal di katalis lalu bermigasi ke
propena, dan ikatan ganda terputus. Hal ini memulai polimerisasi.
Begitu metal bermigrasi maka katalis bermuatan positif terbentuk
kembali dan propena yang lain berkoordinasi dengan logam. Propena
kedua berkoordinasi dan migras berlanjut serta sebuah rantai polimer
tumbuh dari katalis metalosena.
Ko katalis Tri Ethyl Aluminium (TEAL), Al(C
2
H
5
)
3

Ko-katalis berfungsi sebagai pembentuk kompleks katalis aktif yang
digunakan adalah Tri Ethyl Alumunium (TEAL). TEAL berwujud cairan
pada kondisi ruang, bening dan tidak berwarna.
Sifat-sifat fisik TEAL
No Sifat Fisik Nilai
1 Titik didih (
0
C) 185
2 Titik beku (
0
C) -58
3 Tekanan uap (mmHg) 0.025
4 Densitas (gr/mL) 0.8324
TEAL merupakan senyawa yang reaktif terhadap air dan udara, dan
dapat menyala secara spontan di udara. Apabila terjadi kebakaran
gunakan dry chemical, vermisalite, atau pasir kering sebagai pemadam.
Jangan gunakan air. Produk dekomposisi TEAL berbahaya, dapat berupa
oksida karbon, oksida alimunium, dan uap flammable yang mengandung
debu. Laju alir TEAL yang diumpankan ditentukan oleh rasio katalis
terhadap ko-katalis dalam reactor.
Selectivity Control Agent (NPTMS)
Hydrogen
Nitrogen
Carbon Monoxide
Aditif
Aditif ditambahkan guna mendapatkan produk polipropilena dengan
sifat tertentu sesuai dengan yang diinginkan. Aditif berbentuk padatan
dan cairan. Aditif ditambahkan dalam resin sebelum proses pelleting.
Aditif padat ditambahkan ke resin pada master mix blender. Sedangkan
aditif cair ditambahkan pada mixer hopper sebelum extruder. Secara
umum fungsi zat aditif antara lain :
Untuk mempengaruhi sifat-sifat dari produk
Untuk mempermudah proses fibrikasi
Untuk mencegah pelapukan material akibat pengaruh sinar
UV atau sinar matahari
Untuk member warna dengan mengatur sifat transparansi
Macam-macam zat aditif yang digunakan yaitu :
o Antioksidan : berfungsi untuk mencegah oksidasi dan
perubahan warna dari polimer maupun penurunan sifat
mekanik.
o Acid acceptor (penetral asam) : berfungsi untuk mencegah
terjadinya degradasi polimer dan korosi pada mesin produksi
dengan menetralisir residu anion yang bersifat asam.
o Heat stabilizer (penstabil panas) : berfungsi mengurangi
kemungkinan kerusakan akiat adanya panas.
o Nucleating and clarifying agent : berfungsi untuk
meningkatkan kejernihan produk dengan mempengaruhi
ukuran Kristal lebih halus dan homogeny. Millad merupakan
clarifying agent yang berbentuk serbuk putih dengan titik
leleh 270
0
C dan berat molekul 378 gram/mol. Clarifying agent
merupakan perkembangan dari nucleating agent. Nucleating
agent berfungsi untuk membentuk lebih banyak Kristal atau
pertumbuhan inti Kristal.
o Slip agent : berfungsi untuk melicinkan permukaan.
o Anti block agent : berfungsi untuk mencegah lengket.
o Optical brightening agent : berfungsi untuk menigkatkan
keputihan.
Polipropilena dapat dibuat dari monomer propilen melalui proses polimerisasi
menggunakan katalis Ziegler-Natta, Kaminsky, atau metallocene. Pembuatan propilena
terdir dari 4 tahap besar. Pertama, persiapan bahan baku dari minyak mentah untuk
mendapatkan monomer. Kedua, monomer mengalami polimerisasi pada produksi yang
lebih besar. Ketiga, hasil dari polimerisasi terbentuk resin-resin (pelet/butiran).
Keempat, produk resin yang terbentuk akan diolah lebih lanjut untuk menjadi produk
baru.

Berikut adalah diagram alir pembuatan propilena.

Tahapan proses pembuatan Polipropilena
a. Persiapan bahan baku, dimana seperti yang telah dijelaskan jika bahan baku
utama pembuatan polipropilena adalah propena yang diambil dari minyak bumi
untuk menjadi polipropilena.
b. Selanjuutnya bahan dimasukkan ke dalam reactor dimana di dalam rekator
terjadi reaksi polimerisasi propilen menjadi resin propilena dengan
menggunakan fluidized bed reactor fasa gas, reaksi ini terjadi di dalam unggun
resin polipropilena yang terfluidakan dengan menggunakan unggun resin.
c. Product Discharge System merupakan suatu system yang digunakan untuk
mengeluarkan resin yang terbentuk di dalam reactor dan dikirim ke product
receiver.
d. Pada product receiver ini terjadi proses pemisahan campuran gas hidrokarbon,
hydrogen, dan nitrogen dengan resin polipropilene, dari bagian bawah product
receiver dimasukkan gas nitrogen yang berasal dari nitrogen surge tank.
e. Purge bin merupakan alat yang digunakan untuk menetralisir sisa katalis dank o
katalis (TEAL) serta menghilangkan sisa-sisa gas yang masih terdapat di dalam
resin.
f. Pelletizing system dimana untuk proses pembuatan pellet polipropilen dari resin
polipropilena. Resin polipropilene yang berasal dari product purge bin dan aditif
masuk ke dalam polipropilen dan additive dicampur dan diletakkan di dalam long
continous mixer masuk ke dalam melt pump yang berfungsi untuk menaikkan
tekanan polimer agar polimer melewati transition piece1, screen changer
transition piece 2 dan die plate.
g. Hasil dari pelletizing system akan masuk ke dalam silo angd bagging dimana
pellet yang dihasilkan akan dimasukkan ke dalam silo dan untuk proses
pengantongan produk.





Bagan pembuatan Polipropilena dapat diringkas sebagai berikut :


Resin atau biji plastic yan telah terbentuk kemudian diproses lebih lanjut untuk
dijadikan produk baru. Salah satu caranya adalah dengan metode ekstrusi seperti
yang telah dijelaskan sebelumnya. Proses ekstrusi adalah proses mengubah bentuk
dari bahan baku bijih plastic menjadi gulungan-gulungan atau roll plastic. Pertama-
tama bijih plastic dilelehkan pada Ekstruder, kemudian diinjeksikan melalui cetakan,
setelah keluar dari cetakan yang sesuai dengan profil yang diinginkan dimasukkan ke
dalam alat kalibrasi. Keluar dari alat kalibrasi masuk tangki air untuk didinginkan,
setelah dingin dimasukka ke bahan penarik kemudian dipotong-potong sesuai
dengan ukuran yang diminta pada alat potong dan disusun pada alat penyusun.

Berdasarkan kualitasnya, produk polipropilena yang dihasilkan PT Chandra Asri
Petrochemical Polypropylene Plant digolongkan menjadi 3 jenis, yaitu :
a. Primer; merupakan produk yang memenuhi kualitas yang diinginkan
b. Near prime; merupakan produk yang menyimpang sedikit dari kualitas yang
diinginkan
c. Utility; merupakan produk yang tidak memenuhi kualitas yang diinginkan.
Selain ketiga kategori di atas sebagai hasil sisa produk juga dihasilkan enam jenis
hasil sisa (scarp) yang masing-masing memiliki nilai jual tertentu dan disimpan di
gudang pokok. Keenam hasil sisa tersebut adalah :
a. Rebagging ; produk dari tumpahan pellet akibat karung yang rusak atau
berlubang, baik dari proses bagging maupun loading. Produk ini dikemas
dalam karung dan dapat diolah tetapi harus dipertimbangkan adanya
pengotor.
b. Trash ; diperoleh dari proses produksi (ayakan), merupakan pellet over size
atau less than size.
c. Sweeping ; merupakan scarp yang sama dengan rebagging, kandungan
pengotor lebih banyak.
d. Dust ; merupakan ekor pellet yang memang harus dihilangkan dalam proses
produksi.
e. Resin ; berupa bubuk yang merupakan hasil reaksi yang tidak memenuhi
spesifikasi dan kualifikasi sehingga tidak menjadi pellet.







Daftar Pustaka
http:www/firdaus ali POLIPROPILENA (polypropylene).html
http:www/Polimer Polipropilena (Pp), Acrylonitrile Butadiene Styrene (Abs) , Dan
Poliuretan _tommy putra simeulue.html
http:www/200912140808370.BukuSaku-Catatan2-Pengetahuan Dasar Polipropena.pdf
http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-
kesehatan/makromolekul/polimerisasi/
http://www.chandra-asri.com/product_types.php
http://id.wikipedia.org/wiki/Polipropilena