Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM PROSES PRODUKSI

DEPARTEMEN TEKNIK MESIN FTUI


LABORATORIUM TEKNOLOGI MEKANIK
2009

UNIVESITAS INDONESIA DEPOK 1

BAB I
PENDAHULUAN

I.1. LATAR BELAKANG
Perkembangan teknologi saat ini telah berkembang dan menuju tingkat yang modern. Kemajuan
ini sangat bermaanfaat di segala bidang terutama di bidang Industri manufacture saat ini.
Kebutuhan akan pengembangan proses-proses produksi saat ini sudah menjadi kebutuhan yang
sangat penting dimana tiap pembentukan suatu benda dengan komposisi material tertentu pasti
akan melibatkan proses-proses produksi yang akan membentuk model yang diinginkan.
Proses produksi melibatkan beberapa proses yang dalam pembuatannya telah menuju
kemudahan dalam teknologinya, contohnya pemotongan dengan menggunakan mesin bubut
atau gergaji otomatis yang memiliki fungsinya masing-masing guna membentuk suatu
komponen yang diinginkan.
Pemanfaatan dari proses produksi telah diaplikasikan dan dilakukan oleh Departemen
Teknik Mesin FT-UI. Contohnya dalam praktikum produksi atau pembuatan tugas merancang,
melibatkan proses produksi dengan alat-alat yang telah tersedia oleh Departemen Teknik Mesin.
Untuk mengetahui lebih lanjut dan memupuk sense of Engineer dari proses-proses
produksi yang ada, kami memulainya dengan pembuatan dan proses produksi dari dudukan mic
yang dalam pengaplikasiannya banyak bermanfaat contohnya bagi forum-forum seminar dan
pidato. Dudukan mic yang dibuat disesuaikan dengan fungsi yang diinginkan.

I.2. PEMBATASAN MASALAH
Dalam laporan akhir ini yang akan dijelaskan adalah tentang proses pembuatan beserta analisa
dari proses produksi dudukan mic dari proses pemotongan material-material yang tidak
digunakan hingga proses-proses penyambungan tiap-tiap komponennya. Dudukan mic ini kita
beri nama Threading System Mic holder. Mekanisme dari Threading System Mic holder ini
terdiri dari empat part dan menggunakan system ulir dalam pemposisian tinggi rendahnya.

I.3. MAKSUD DAN TUJUAN PRAKTIKUM
Mata kuliah praktikum teknologi mekanik merupakan mata kuliah yang wajib diambil oleh
LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM PROSES PRODUKSI
DEPARTEMEN TEKNIK MESIN FTUI
LABORATORIUM TEKNOLOGI MEKANIK
2009

UNIVESITAS INDONESIA DEPOK 2

mahasiswa jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Praktikum teknologi
mekanik ini diadakan agar mahasiswa Teknik Universitas Indonesia dapat mengetahui
pengoperasian mesin-mesin antara lain:
1. Mesin Bubut
2. Mesin Frais
3. Mesin las listrik
4. Mesin bor
5. Dan lain-lain
Sesuai dengan karakteristik dari mesin-mesin itu sendiri; mempelajari dasar-dasar
membuat/merakit elemen-elemen dari sebuah ragum sampai menjadi sebuah ragum yang utuh;
mengetahui kesalahan-kesalahan apa saja dan penyimpangan yang terjadi pada saat pembuatan
atau pelaksanaan sehingga dapat dilihat baik tidaknya hasil kerja yang telah dilaksanakan.
Selain itu juga memupuk disiplin, tanggung jawab kerja, kerja sama yang baik yang
dapat menjadi bekal yang cukup di kemudian hari.
Melatih kreatifitas anggota untuk berkreasi terhadap benda yang praktikan akan buat
dan mengetahui bagaimana suatu benda dapat diproduksi menjadi tujuan dan maksud dari
praktikum ini.













LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM PROSES PRODUKSI
DEPARTEMEN TEKNIK MESIN FTUI
LABORATORIUM TEKNOLOGI MEKANIK
2009

UNIVESITAS INDONESIA DEPOK 3

BAB II
PROSES PENGERJAAN

II.1. PROSES DETAIL BENDA KERJA
Dudukan mic atau stand mic merupakan alat bantu untuk meletakkan mic dan mempermudah
posisi mic bagi penggunanya. Contoh pengaplikasian dudukan mic ini dapat dilihat pada di
seminar-seminar, konser, ataupun pidato.
Dudukan mic yang akan kami buat terdiri dari tiga bagian utama yaitu; kaki penopang,
body, dan handle mic. Pada penopang dudukan terdapat tiga kaki yang berfungsi sebagai
penumpu dudukan tersebut, tiga kaki tersebut terpisah dengan sudut 120
o
sehingga kekuatan
penopangannya lebih seragam. Kaki penopang tersebut berbentuk plat pejal persegi yang
dihubungkan ke body dudukan dengan proses pengelasan (welding). Besar sudut antara kaki
penopang dengan ground adalah 30.
Body pada dudukan terdiri dari silinder hollow dan silinder pejal yang dihubungkan
dengan sistem ulir dalam pada silinder hollow dan ulir luar pada silinder pejal. Sistem ulir
tersebut selain untuk menghubungkan kedua silinder tersebut juga berfungsi untuk mengatur
ketinggian/posisi yang sesuai bagi pengguna mic.
Dudukan mic ini kami rancang untuk para pengguna yang memiliki ketinggian rata-
rata di Indonesia, yaitu antara 164 cm 170 cm. Oleh karena itu cara penyimpanan dudukan
mic ini adalah dengan cara melepas silinder pejal dari slinder hollow, karena ulir yang dibuat
tidak sampai ujung dari masing- masing silinder.
II.1.1. Proses Pemotongan dan Pembubutan Material
1. Silinder hollow part A
Silinder hollow berdiameter luar 20 mm dan diameter dalam 18 mm dipotong dengan
gergaji otomatis sehingga memiliki panjang 22 mm. setelah itu dilakukan pemotongan
dengan penggergajian secara manual dengan teknik menjauhi penggergaji sehingga
silinder hollow memiliki celah sebesar 10 mm dan memiliki sudut potongnya 40
o
.
2. Silinder pejal part C
Silinder pejal berdiameter 25 mm dipotong dengan gergaji otomatis sehingga memiliki
LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM PROSES PRODUKSI
DEPARTEMEN TEKNIK MESIN FTUI
LABORATORIUM TEKNOLOGI MEKANIK
2009

UNIVESITAS INDONESIA DEPOK 4

panjang 180 mm. kemudian silinder pejal tersebut dibubut hingga memiliki panjang 175
mm. kemudian setelah dilakukan pembubutan, silinder tersebut di buat menjadi silinder
hollow dengan pemboran sehingga silinder memiliki diameter dalam 20 mm. Setelah
pamboran kemudian dilakukan penguliran dengan kedalam ulir 40 mm dan pitch 1 mm.
3. Silinder pejal part B
Silinder pejal berdiameter 20 mm dipotong sehingga memiliki panjang 100 mm. Setelah
pemotongan, kemudian dilakukan pembubutan dengan membuat ulir luar dengan panjang
ulir 40 mm dan pitch 1 mm.
4. Pelat pejal part D
Pelat pejal berdimensi tebal 9 mm dan lebar 65 mm dipotong menjadi 3 bagian dengan
penggergaji otomatis. Kemudian setelah dibagi menjadi 3 plat persegi panjang dilakukan
penggergajian secara manual dengan teknik menjauhi penggergaji untuk mendapatkan
profil trapesium. Sisi atas trapesium dibuat sepanjang 60 mm dan sisi bawah trapesium
dibuat sepanjang 100 mm. Tinggi trapesium dibuat setinggi 17,3 mm dan sudut pada
masing masing kaki trapesium yaitu 30 dan 60.
II.1.2 Proses Pengelasan Seluruh Part
Pengelasan adalah proses penyambungan menjadi satu potongan-potongan atau bagian
yang berbahan logam dengan cara melekatkannya satu sama lain serta memanaskannya
agar terjadi situasi fusi (meleleh) atau plastis pada tempat-tempat yang bersinggungan.
Pengelasan dilakukan dengan cara SMAW dengan jenis lasan lap joint.
1. Pengelasan antara part A dan B
Part A dan B disambung dengan posisi part A tegak lurus terhadap part B pada sisi yang
berlawanan dengan posisi ulir luar pada silinder pejal.
2. Pengelasan antara part C dan D
Part C dan D disambung dengan posisi part D membentuk sudut 30 terhadap ground.
Part D terdiri atas tiga bagian yang akan dilas dengan sudut antar-kaki penopang
sebesar 120.
II.1.3 Finishing
Proses finishing dapat berupa pengikiran bagian tidak rata, pengecekan hasil akhir benda
LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM PROSES PRODUKSI
DEPARTEMEN TEKNIK MESIN FTUI
LABORATORIUM TEKNOLOGI MEKANIK
2009

UNIVESITAS INDONESIA DEPOK 5

yang dihasilkan, dan proses penyelesaian tahap akhir sebelum benda di-assembly.
II.1.4 Proses Assembly
Proses assembly atau proses penggabungan antar-part menjadi barang jadi yang siap pakai.
Proses ini dilakukan dengan memutar silinder pejal part A-B pada silinder hollow part C-D
dengan sistem ulir.

FLOW CHART KERJA

START
Silinder Hollow
Silinder Pejal
Plat pejal
Menentukan
disain model
Menentukan
dimensi model
Memotong
material sesuai
dimensi
Membubut
material sesuai
bentuk yang
diperlukan
Buat ulir dalam
pada silinder pejal
yang sudah dibubut
menjadi hollow
Proses finishing
Dudukan mic
telah jadi
Finish
Pengelasan part A
dan part B
Pengelasan Part
C dan D
Melakukan
assembly
Buat ulir luar pada
silinder pejal


LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM PROSES PRODUKSI
DEPARTEMEN TEKNIK MESIN FTUI
LABORATORIUM TEKNOLOGI MEKANIK
2009

UNIVESITAS INDONESIA DEPOK 6

II.2. GAMBAR BENDA KERJA
I.2.1 Tiga dimensi


Gambar dudukan mic
I.2.2 Part dua dimensi



LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM PROSES PRODUKSI
DEPARTEMEN TEKNIK MESIN FTUI
LABORATORIUM TEKNOLOGI MEKANIK
2009

UNIVESITAS INDONESIA DEPOK 7

BAB III
ANALISA

III. 1. ANALISA ALAT
A. PENGGERGAJIAN
Proses penggergajian pada pembuatan dudukan mic merupakan pengerjaan yang paling banyak
berperan dalam proses produksi dari dudukan mic. Pada penggergajian dapat dianalisis beberapa
hal yang berpengaruh pada alat gergaji yang digunakan praktikan
a) Pitch yang merupakan jumlah gigi pada sebuah gergaji sangat lah penting karena baik dalam
mencocokkan antara pitch dengan material yang digergaji. Setiap gigi akan bertumbukan pada
suatu bagian dari material yang akan digergaji maka pada bagian tersebut akan terjadi
pembebanan yang berlebih. Pada padatan akan lebih mudah untuk menggunakan gergaji yang
lebih kasar karena gigi-giginya dibebankan dengan sesuatu yang lebih datar. Kesimpulannya
adalah semakin besar potongan melintang maka semakin besar pitchnya.

Gambar terminology yang terdapat pada gergaji

b) Rake angle merupakan sudut pada gigi gergaji yang terhubung dengan pemotongan. Sudut
Rake yang lebih curam membuat gergaji menjadi lebih agresif. Sebuah gergaji yang terlalu
agresif tidak baik pada beberapa material karena kemungkinan gigi-giginya tidak terlalu
kokoh untuk mengakomodasi beban dari chip.
c) Kerf yang merupakan lebar dari alur gergaji ketika memindahkan chip dari pemotongan. Kerf
sangat lah penting karena gergaji harus dikonfigurasi untuk menaikkan stock dengan kerf-nya.
Jika gergaji tidak memiliki kerf yang sesuai yang di set pada index, maka panjang dari
LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM PROSES PRODUKSI
DEPARTEMEN TEKNIK MESIN FTUI
LABORATORIUM TEKNOLOGI MEKANIK
2009

UNIVESITAS INDONESIA DEPOK 8

bagiannya tidak akan tepat. Sebagai contoh pada literatur, sebuah gergaji 1 1/4" menyediakan
sebuah kerf yang kira-kira 1/16".
d) Gullet adalah space antara tiap individual tooth. Satu alasan yang penting adalah karena dengan gergaji
yang memiliki pitch yang lebih besar, gullet menjadi lebih besar dan lebih dalam. Gergaji yang lebih
kecil tidak memiliki lebar yang cukup pada band untuk mengakomodasi gullet-gullet tersebut karena
mereka memperlemah band. Band yang yang lebih kecil memulai dengan ketiadaan akan kekuatan
beam karena ketiadaanya akan dimensi. Selain itu, gullet yang lebih besar juga merupakan bagian dari
yang memungkinkan gergaji untuk membawa chip melewati pemotongan. Jika gullet disumbat,
mereka tidak akan membawa sebuah chip. Hal tersebut menyebabkan peningkatan beban pada gergaji
dan mesin.
Pada saat penggergajian manual dengan gergaji besi, ragum digunakan sebagai penahan
benda agar dalam proses penggergajian benda tidak bergeser dan menghasilkan benda kerja yang
baik dalam pemotongannya. Cara kerja dari ragum ini adalah benda kerja dijepit dengan gaya
yang yang ditransmisikan lewat handle. Kelemahan dari penggunaan ragum ini adalah deformasi
plastis yang akan terjadi pada benda kerja yang dikarenakan pemberian gaya pada penahanan
bendakerja yang berlebihan, sehingga menyebabkan dimensi atau profil dari benda tidak
seragam, melainkan terdeformasi sebesar luasan dari gaya atau penahan dari bendakerja tersebut
yang dijepit.

B. PEMBUBUTAN
Proses pembubutan dilakukan dengan menggunakan Mesin Horrison M 300. Proses pembubutan
dari mesin tersebut adalah dengan proses turning benda kerja lewat spindle yang ada, sedangkan
gerakan maju dilakukan oleh pahat yang ada. Benda kerja dipasang kuat-kuat pada spindle dan
menguncinya dengan three-jaw chuck yang dapat diatur cengkramannya.

Gambar mesin bubut dan komponennya
LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM PROSES PRODUKSI
DEPARTEMEN TEKNIK MESIN FTUI
LABORATORIUM TEKNOLOGI MEKANIK
2009

UNIVESITAS INDONESIA DEPOK 9

Pada mesin bubut tersebut terdapat head stock yang dalamnya terdapat motor penggerak
dan gear. Daya untuk berputar didistribusikan dari bagian tersebut. Ways merupakan rail bagi
carriage untuk bergerak maju dan mundur. Tail stock digunakan untuk memegang ujung bagian
lain dari benda kerja jika terlampau panjang, namun pada pembubutan ini tail stock tidak
digunakan. Bed merupakan bagian bawah yang menampung chips dan cutting fluid yang jatuh.
Lead screw merupakan screw yang besar yang digunakan untuk pemotongan ulir (cutting
threads).
Mata pahat pada mesin bubut menjadi perhatian yang dominan dalam pembubutan. Hal ini
disebabkan karena pahat yang relative kecil tersebut mendapat tekanan dan temperature tinggi.
Pada saat melakukan proses pemotongan pertimbangan pemilihan bahan pahat antara lain:
a) Bahan pahat lebih keras dari bahan yang paling keras pada benda kerja, tidak hanya pada
temperature kamar tetapi juga pada temperature operasi.
b) Keuletan dibutuhkan agar tahan terhadap impact dalam pemotongan yang terputus.
c) Ketahanan terhadap thermal shock, ketika panas atau dingin yang menyerang tiba-tiba terjadi
ketika pemotongan terputus.
d) Sifat adhesi (menempel atau melekat) yang rendah antara pahat dan benda kerja, mencegah
terjadinya localized welding.
e) Difusi mempercepat keausan. Dengan begitu daya campur (solubility) bahan pahat ke
dalam bahan bendakerja harus rendah.
Keausan pada mata pahat dapat disebabkan karena:
a) Keausan yang terjadi karena gosokan dengan permukaan benda kerja yang baru terpotong.
Keausan ini akan menyebabkan permukaan potong menjadi kasar, ukuran potong menjadi
tidak jelas dan panas yang terbentuk meningkat.
b) Takik atau alur yang terbentuk akibat gesekan pada rake face dengan chip.
c) Temperatur tinggi yang timbul pada bagian rake face digabung dengan tegangan geser dapat
mengakibatkan terjadinya carter pada jarak tertentu dari tool edge.
d) Mata pahat menjadi bulat sehingga rake angle menjadi negative.
e) Mata pahat terkelupas yang disebabkan karena bahan pahat yang getas dan operasi sering
terhenti. Permukaan potong benda akan menjadi jelek dan pahat akhirnya bisa patah.
LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM PROSES PRODUKSI
DEPARTEMEN TEKNIK MESIN FTUI
LABORATORIUM TEKNOLOGI MEKANIK
2009

UNIVESITAS INDONESIA DEPOK 10

f) Edge cracking yang disebabkan kelelahan akibat temperature tinggi dan menyebabkan mata
pahat menjadi retak dalam arah tegak lurus atau sejajar dengan mata pahat.

C. PENGELASAN
Pada pengelasan digunakan Arc Welding Rectifier type LEGS 225. Pengelasan menggunakan
batang elektroda dengan diameter 5,0 mm. Pada alat tersebut terdapat Interruptor switch yang
berguna untuk menyalakan atau mematikan arus yang mengalir pada rangkaian mesin tersebut.
Welding Current Rheostat merupakan pengatur arus yang ingin digunakkan saat pengelasan.
Pada penggunaannya, jika arus yang digunakan lebih besar maka filler material akan lebih cepat
meleleh dari pada penggunaan arus yang kecil.

Gambar alat-alat yang berperan dalam pengelasan

III. 2 ANALISA BAHAN
Pada pembuatan dudukan mic ini material yang digunakan adalah cast iron yang antara lain
terdiri dari:
1. Pelat datar dengan lebar 65 mm dan tebal 9 mm
2. Silinder pejal dengan diameter 25 mm
3. Silinder pejal dengan diameter 20 mm
Part dan material yang ada tersebut disesuaikan dengan fungsi dari dudukan mic yang akan
digunakan. Pelat datar merupakan penopang atau sebagai kaki bagi dudukan mik. Silinder pejal
berdiameter 25 mm digunakan sebagai body dari dudukan dan dibuat ulir dalam. Sedangkan
silinder pejal 20 mm digunakan sebagai body untuk pembuatan ulir luar.
Dengan pengujian kekasaran menggunakan roughness tester. Di ambil sampel material
LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM PROSES PRODUKSI
DEPARTEMEN TEKNIK MESIN FTUI
LABORATORIUM TEKNOLOGI MEKANIK
2009

UNIVESITAS INDONESIA DEPOK 11

cast iron pada pelat persegi dan silinder hollow dimana kekasaran pada pelat persegi
mempunyai kekasaran 5,9 dengan Rmax 30,4. Setelah dilakukan beberapa proses produksi
dalam pembentukan dudukan mic, maka nilai kekasaran bahan tersebut berubah:
1. Pada pengukuran kekasaran saat silinder hollow tersebut dibubut, maka
memperoleh nilai kekasaran 3,9 dengan Rmax 16,4.
2. Pada pengukuran kekasaran saat pelat di gerinda, maka memperoleh nilai
kekasaran 2,9 dengan Rmax 15,3
3. Pada pengukuran kekasaran saat pelat di gergaji, maka memperoleh nilai
kekasaran 8,7 dengan Rmax 72,6
4. Pada pengukuran kekasaran saat pelar di kikir, maka memperoleh nilai kekasaran
3,7 dengan Rmax 27.6
Dari data-data yang diperoleh membuktikan bahwa tiap proses yang terjadi dalam pembuatan
dudukan mic akan mempengaruhi tingkat kekasaran dari hasil benda yang diproses. Hal ini
dipengaruhi bentuk dari alat potong dan bahan potong yang digunakan dan juga bahan dari
benda kerja yang digunakan.
Dari data tersebut, dapat dilihat bahwa dengan penggerindaan menghasilkan
permukaan yang lebih rata sedangkan dengan penggergajian menghasilkan permukaan yang
paling kasar pada permukaan benda kerja.

III. 3. ANALISA CHIP
A. PEMBUBUTAN
Chip terbentuk oleh proses geseran local oleh mata pahat yang terjadi pada daerah yang sempit.
Sifat dari bahan mempengaruhi pembentukan chip pada proses pembubutan. Keliatan benda
kerja merupakan hal yang penting. Bahan yang liat dapat tidak hanya menyebabkan
meningkatnya temperature dan panas serta enegy, tetapi juga mengakibatkan tejadinya chip yang
panjang (continuous chip), berbentuk keriting. Sedangkan untuk besi cor yang memiliki sifat
kurang liat menyebabkan chips yang terbentuk cepat putus (segmented chips). Temperatur dan
tekanan yang tinggi yang timbul di cutting zone dapat mengakibatkan bahan memberikan
tekanan pada mata pahat dengan membentuk BUE (Built Up Edge). Rake angle menjadi lebih
besar dan konsumsi energy turun, akan tetapi sebagai akibatnya permukaan yang terbentuk tidak
LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM PROSES PRODUKSI
DEPARTEMEN TEKNIK MESIN FTUI
LABORATORIUM TEKNOLOGI MEKANIK
2009

UNIVESITAS INDONESIA DEPOK 12

terpotong sempurn, tetapi juga terkelupas, sehingga menjadi kasar. BUE dapat mengakibatkan
perubahan pada bentuk pahat, BUE dapat dikurangi dengan mengurangi tebal pemotongan,
mengubah kecepatan potong, dan menggunakan coolant (pendingin).
Panas dan temperature dari proses pemotongan terdapat dari 3 sumber, yaitu:
a) proses pemotongan (penggeseran) itu sendiri dimana deformasi plastis menghasilkan panas
dan sebagian besar panas tinggal dalam chips.
b) Daerah kontak chips-pahat, dimana tambahan deformasi plastis berlangsung pada chip, dan
banyak panas yang timbul sebagai akibat gesekan chip dengan pahat.
c) Sisi dasar (flank) pahat, dimana permukaan benda kerja yang baru terbentuk menggosok
pahat.
Pada kecepatan potong yang rendah, jumlah panas yang terbentuk terbagi rata pada benda
kerja, pahat dan chip. Gesekan pada rake face akan berkurang, sehingga sudut potong akan
membesar dan chip menjadi tipis juga keriting dan kebutuhan tenaga menurun. Tetapi seiring
meningkatnya kecepatan potong, sebagian besar panas terserap pada chips.

Gambar sebelah kiri merupakan bentuk chips dari pemotongan dengan kecepatan yang rendah
dan sebelah kanan pemotongan dengan kecepatan tinggi

B. PENGGERGAJIAN
Pada gambar tersebut dapat dilihat proses pembentukan chips dari proses penggergajian ini. Saat
mata potong penggergaji pertama memasuki benda, maka chips akan terangkat sebagian,
kemudian chips akan menggulung sejauh mata pahat tersebut memotong benda kerja. Pada
proses penggergajian ini akan timbul panas yang disebabkan karena gesekan yang ada antara
benda kerja dan gergaji.
LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM PROSES PRODUKSI
DEPARTEMEN TEKNIK MESIN FTUI
LABORATORIUM TEKNOLOGI MEKANIK
2009

UNIVESITAS INDONESIA DEPOK 13



Gambar Proses cutting pada orthogonal cutting

III. 4.ANALISA PROSES dan HASIL
III.4.1 PROSES
A. PENGGERGAJIAN
Dalam penggergajian digunakan dua macam penggergaji yaitu penggergaji manual dan
otomatis. Dalam penggergaian manual digunakan teknik penggergajian menjauhi penggergaji,
metode dari penggergajian ini adalah tangan kanan memegang handle dari gergaji dan tangan
kiri memegang ujung dari gergaji, namun tangan kiri tidak mencengkram dengan kuat karena
fungsinya hanya sebagai penstabil dari penggergajian. Saat penggergajian menjauhi
penggergaji, maka tekanan diberikan dan saat menariknya tekanan tidak diberikan kepada
benda kerja.
Spine dapat dikatakan sama dengan gaya yang terdistribusi dari gergaji dan mengacu
pada jumlah kekuatan yang dimiliki untuk menahan defleksi pada arah yang berlawanan
dengan arah pemotongan. Jika band terdefleksi berlawanan dengan gaya, maka gaya juga akan
didefleksikan secara lateral. Pemotongan yang bengkok dan kehilangan set pada satu sisi dari
gergaji yang akan menyebabkan kegagalan premature pada gergaji.
Feed rate merupakan kecepatan aktual untuk gergaji agar gergaji tersebut berjalan
sepanjang pekerjaan. Gergaji hanya mampu untuk memindahkan jumlah tertentu dari material
yang bergantung pada jenis material dan ketahanan terhadap pemindahan chip, pitch dari
tooth, rake angle dari pitch, dan kecepatan band, tekanan yang diterapkan pada gergaji dan
nilai yang di set untuk menekan benda kerja selama pengerjaan. Jika nilai penekanannya
terlalu besar, gergajinya akan mengalami pembengkokan, tooth strippage dan premature band
LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM PROSES PRODUKSI
DEPARTEMEN TEKNIK MESIN FTUI
LABORATORIUM TEKNOLOGI MEKANIK
2009

UNIVESITAS INDONESIA DEPOK 14

failure dapat terjadi. Gergaji dapat menjadi tumpul dan akan gagal secara premature tanpa
menunjukkan hasil produksi yang baik.
Speed Rate pada proses pemotongan akan terhambat jika gigi-gigi bergerak pada benda
kerja terlalu cepat sehingga benda kerja tidak terpotong dengan baik dan teeth tidak
memotong dengan cukup baik karena tidak adanya cutting edge. Panas pun dapat timbul saat
pemotongan dengan speed seperti itu. Sedangkan jika speed-nya terlalu rendah, gigi dapat
memotong terlalu dalam dan menyebabkan setiap gigi mendapatkan beban yang berlebihan.

B. PEMBUBUTAN
Proses pembubutan digunakan untuk membuat silinder hollow, membuat ulir luar, dan
membuat ulir dalam. Dari ketiga pengerjaan ini yang paling membutuhkan tingkat ketelitian
tinggi adalah membuat ulir, dimana kita harus memperhatikan gerakan dan pemakanan mata
pahat apabila ulir ingin sempurna.
a) Pembuatan silinder hollow dari silinder pejal yang memiliki diameter 25 mm dan
dilakukan pemboran dengan bertahap, yang pertama menggunakan mata pahat yang
digunakan untuk membor diameter 10 mm, kemudian dilakukan lagi pemboran dengan
mata pahat yang berdiameter 13 mm, dan akhirnya dilakukan pemboran akhir hingga
silinder berbentuk hollow dengan diameter dalam 18 mm.
b) Pembuatan ulir luar dengan penggunaan silinder pejal dengan diameter 20 mm.
Settingan jarak antar pitch disesuaikan untuk jarak pitch 1 mm dan kecepatan putar
180 rpm dengan feed 1 mm.
c) Pembuatan ulir dalam, melanjutkan proses dari pembuatan silinder hollow, kemudian
dilakukan pembuatan ulir dengan feed 1 mm dan settingan jarak antar pitch
disesuaikan untuk jarak pitch 1 mm.
Dalam perputaran dan pemakanan membubut, kecepatan potong dipengaruhi oleh factor-
faktor antara lain kekuatan bahan yang dikerjakan, dalamnya pemotongan, kecepatan
pemakanan, bahan pahat yang dipakai, bentuk pahat, penjepit benda kerja, dan keadaan dari
mesin bubut.
Pada proses pembubutan digunakan cutting fluids yang memiliki fungsi antara lain;
LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM PROSES PRODUKSI
DEPARTEMEN TEKNIK MESIN FTUI
LABORATORIUM TEKNOLOGI MEKANIK
2009

UNIVESITAS INDONESIA DEPOK 15

a) Pelumasan, untuk mempercepat kecepatan potong dan mengurangi gesekan dengan
permukaan benda kerja yang baru terpotong sehingga kehalusan permukaan dapat
meningkat.
b) Pendinginan
c) Menghilangkan chips dari cutting zone dan mencegah pahat macet
Kesalahan yang dapat terjadi dari proses pembubutan antara lain:
a) Tumpulnya alat potong, tumpulnya alat potong tersebut disebabkan karena mata pahat
yang sudah berkali-kali digunakan. Tumpulnya alat potong ini menyebabkan menurunnya
presisi dari kemampuan potong alat tersebut. Pada saat proses pembubutan, mata pahat
yang tumpul kembali dipertajam dengan proses penggerindaan.
b) Ketidaktepatannya benda kerja, jika benda kerja tidak tepat dalam pengapitannya
menyebabkan friksi pada proses pembubutannya dan berakibat pergeseran dan perubahan
pemotongan dari yang diinginkan.
c) Kesalahan dalam parameter pemotongan, jika pada parameter pemotongan seperti feed
rate, kecepatan spindle, atau kedalaman pemotongan yang terlalu besar, permukaan dari
benda akan lebih kasar dari yang diinginkan dan mungkin akan terdapat cacat atau
goresan. Besarnya kedalaman pemotongan juga dapat disebabkan karena vibrasi yang
disebabkan oleh alat yang mengakibatkan ketidakakuratannya proses pembubutan
tersebut.

C. PENGELASAN
Proses pengelasan dilakukan dengan proses arc-welding dimana api listrik terpancar dari
aliran electron melalui suatu medium di antara dua elektroda, yang disertai dengan
pembentukan dan pancaran panas yang besar. Untuk menghasilkan busur api listrik perlu
ionisasi terhadap udara atau medium gas yang ada di antara dua elektroda. Ini membutuhkan
sejumlah energy yang didapat dari kekuatan ionisasi untuk melepas elektron-elektron dari
keterikatannya dengan inti atom.
LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM PROSES PRODUKSI
DEPARTEMEN TEKNIK MESIN FTUI
LABORATORIUM TEKNOLOGI MEKANIK
2009

UNIVESITAS INDONESIA DEPOK 16


Gambar proses pengelasan

Busur listrik terjadi setelah diberi kontak dengan logam yang menjadi alas dalam
pengelasan, setelah logam tersebut dihubungkan dengan arus listrik. Pengontakan pada logam
tersebut juga digunakan untuk memeriksa besar kecilnya arus yang digunakan, apabila
kampuh terlihat masih mentah dan elektroda sudah menempel pada benda kerja berarti arus
telah sesuai pengelasan. Setelah ada kontak ringan elektroda segera di dekatkan pada logam
dasar yang ingin dilas, namun tidak terlalu dekat dengan logam dasar tersebut agar elektroda
tidak menempel dengan logam dasar tersebut.
Hal-hal yang mepengaruhi dalam proses pengelasan terutama dalam pengisian filler
material antara lain, gerakan ujung elektroda saat pengelasan. Pemilihan gerakan dan
kecepatan saat menggerakan elektroda sepanjang objek yang ingin dilas akan menentukan
hasil dari lasan terutama pada pengisian filler material.
Sebelum dilakukannya pengelasan benda kerja terlebih dahulu dibersihkan dengan
sikat kawat dan saat pengelasan selesai , dibersihkan kembali hasil pengelasan dengan martil
dan sikat kawat untuk menghilangkan kerak-kerak yang ada pada saat pengelasan dan
menunjukkan hasil yang baik dengan ratanya pengelasan. Sambungan lap joint adalah
sambungan dimana benda yang ingin disambungkan menindih benda yang lainnya dalam
pembebanan secara aksial. Pembersihan yang tepat dalam permukaan yang disambung
menjadi syarat utama untuk memperoleh kwalitas pengelasan yang tinggi.



LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM PROSES PRODUKSI
DEPARTEMEN TEKNIK MESIN FTUI
LABORATORIUM TEKNOLOGI MEKANIK
2009

UNIVESITAS INDONESIA DEPOK 17

III.4.2 HASIL
A. PENGGERGAJIAN
Proses penggergajian dilakukkan di seluruh komponen dari dudukan mic. Hasil dari
penggergajian tersebut tergantung dari metode penggergaji saat melakukan penggergajian.
Hasil yang kasar dan tidak rata dapat dirasakan dengan meraba permukaan dari hasil
penggergajian tersebut. Kekasaran tersebut dapat dihilangkan dengan dilakukkannya
pengikiran hingga dimensi dan kerataan dari permukaan benda yang diinginkan.
Selain dari kesalahan penggergajian, ketidakrataan disebabkan karena tumpulnya alat
yang digunakan, sehingga saat digunakan penggergaji yang baru, penggergajian memperoleh
hasil yang lebih baik dari penggergajian sebelumnya.

Gambar hasil penggergajian dengan cara manual dan otomatis

B. PEMBUBUTAN
Proses pembubutan dilakukan pada bahan silinder pejal. Proses pembubutan digunakan untuk
membuat ulir dalam, ulir luar, pengeboran, dan facing. Pada pengeboran memperoleh
dimensi dari diameter yang diinginkan, hal tersebut disebabkan hati-hatinya dalam
penggunaan mata bor dari yang terkecil sampai dimensi yang diinginkan.
Pada pembuatan ulir, ketidaktepatannya parameter-parameter yang ditetapkan pada
pembubutan menyebabkan hasil dari ulir kurang sempurna, dimana ulir tidak dapat berfungsi
sebagaimana mestinya pada dudukan mic ini.
LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM PROSES PRODUKSI
DEPARTEMEN TEKNIK MESIN FTUI
LABORATORIUM TEKNOLOGI MEKANIK
2009

UNIVESITAS INDONESIA DEPOK 18


Gambar hasil pembubutan membentuk ulir luar dan dalam

C. PENGELASAN
Pengelasan dilakukan untuk menyambung bagian dari kaki dan body dari dudukan mic dan
menyambung bagian kepala dengan body (penyambungan bagian kepala dan body belum
sempat dilakukan. Pengelasan sulit dilakukan karena terdapatnya sudut antara kaki dan bodi
dari dudukan. Material pengisi tidak dapat mengisi secara utuh lubang-lubang yang ada dan
saat pembersihan kerak dengan menggunakan martil, maka kaki dari dudukan tidak dapat
menahan gaya yang dikontakkan sehingga terjadi pelepasan kembali. Hasil dari pengelasan
kurang baik, karena bendakerja yang digunakkan ikut meleleh dan merusak profil dari
bendakerja awal.













LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM PROSES PRODUKSI
DEPARTEMEN TEKNIK MESIN FTUI
LABORATORIUM TEKNOLOGI MEKANIK
2009

UNIVESITAS INDONESIA DEPOK 19

BAB IV
PERTANYAAN DAN KESIMPULAN

IV.1. PERTANYAAN
Terlampir

IV.2. KESIMPULAN
Dalam proses produksi Threading Mic Holder dibutuhkan penginspeksian terhadap material
dan bahan yang tersedia agar proses produksi dapat sesuai dengan hasil yang diinginkan.
Pembagian tugas dan managerial dari team akan menjadi landasan berhasil atau tidaknya
proses produksi yang dikerjakan. Pembuatan alur pengerjaan akan menjadi panduan yang baik
dan mempermudah pengerjaan dengan system yang teratur. Untuk proses produksi dari suatu
benda, dibutuhkan pula persiapan akan peralatan-peralatan apa sajakah yang akan digunakan
dan pemahaman mengenai peralatan-perlatan yang dipakai.
















LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM PROSES PRODUKSI
DEPARTEMEN TEKNIK MESIN FTUI
LABORATORIUM TEKNOLOGI MEKANIK
2009

UNIVESITAS INDONESIA DEPOK 20

DAFTAR PUSTAKA

Ullman, D.G., The Mechanical Design Process, McGraw-Hill, 1997
Assoc Prof Zainal Abidin Ahmad. Dept of Manufacturing&Industrial Engineering Faculty
of Mechanical Engineering University Teknologi Malaysia
Schey, John A. 1987. Introduction to Manufacturing Processes. New York: mcGraw-Hill
Book Company
DeGarmo, E. Paul. Et al. 1997. Materials and Process in Manufacuring. Upper Saddle River.
Prentice Hall International Inc