Anda di halaman 1dari 36

Dibuat untuk memenuhi tugas matakuliah

FORMULASI KOSMETIKA I
FORMULASI SABUN WAJAH UNTUK KULIT
BERMINYAK DENGAN ZAT AKTIF BAHAN ALAM
Dibuat oleh:
Ayu Nuki Wahyuni
NPM: 13-047
KOSMETIKA BAHAN ALAM
MAGISTER FARMASI UNIVERSITAS PANCASILA
JAKARTA
2014
ii
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang . 1
1.2 Tujuan Penulisan . 2
1.3 Manfaat Penulisan 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA .. 3
2.1 Anatomi Dan Fisiologi Kulit Manusia . 3
2.1.1 Anatomi Kulit .. 3
2.1.2 Fisiologi Kulit .. 6
2.1.3 Fungsi Kulit . 7
2.1.4 Jenis Jenis Kulit 9
2.2 Mentimun . 13
2.2.1 Klasifikasi Mentimun ... 13
2.2.2 Kandungan Mentimun . 13
2.2.3 Manfaat Mentimun untuk Wajah . 14
2.3 Sabun Wajah 14
2.3.1 Jenis Sabun Wajah ... 15
2.3.2 Mekanisme Kerja Sabun .. 15
2.3.3 Bahan Baku Pembuatan Sabun 16
2.3.4 Metode Pembuatan Sabun 17
2.3.5 Evaluasi Sediaan Sabun ... 19
2.3.6 Syarat Mutu Sabun ... 20
2.4 Praformulasi Sediaan 21
BAB III PEMBAHASAN .. 26
3.1 Formula Sabun Wajah untuk Kulit Berminyak 26
3.2 Pembahasan .. 27
BAB IV PENUTUP 30
4.1 Kesimpulan .. 30
4.2 Saran 30
iii
DAFTAR PUSTAKA .. 31
DISKUSI DAN PERTANYAAN 33
1
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Sabun berfungsi mengangkat kotoran yang menempel pada kulit baik berupa kotoran
keringat, lemak ataupun debu, mengangkat sel-sel kulit mati, dan sisa-sisa kosmetik.
Menurut jenisnya sabun dibagi menjadi dua, yakni sabun cair dan sabun padat. Sabun
padat merupakan sabun yang dibuat dari reaksi saponifikasi dari lemak padat dengan
NaOH. Sabun dibagi menjadi tiga jenis, yaitu: Cold made, opaque, dan sabun tranparan.
Sabun cold made adalah sabun yang cocok digunakan di dalam air garam, sabun opaque
adalah sabun mandi yang biasa digunakan sehari-hari, dan sabun tranparan adalah sabun
yang sering digunakan untuk sabun kecantikan wajah dan sabun kesehatan. (12)
Berdasarkan perkembangan teknologi dan penggunaan sabun yang meningkat, maka
dilakukan survey tentang sabun, kegunaan sabun, manfaat sabun, dan jenis sabun yang
diminati oleh konsumen, khususnya untuk merawat wajah. Dan dari hasil survey tersebut
diketahui bahwa jenis sabun transparan untuk wajah sangat diminati oleh pada konsumen.
Berdasarkan hasil survey tersebut, dapat disimpulkan bahwa sabun transparan lebih
menarik dan banyak peminatnnya. (18)
Kulit berminyak banyak dialami oleh wanita di daerah tropis. Karena pengaruh
hormonal, kulit berminyak biasa dijumpai pada remaja puteri usia sekitar 20 tahunan,
meski ada juga pada wanita usia 30-40 tahun yang mengalaminya. Penyebab kulit
berminyak adalah karena kelenjar minyak (sebaceous gland) sangat produktif, hingga
tidak mampu mengontrol jumlah minyak (sebum) yang harus dikeluarkan. Apalagi kulit
berminyak sangat rentan terhadap tumbuhnya jerawat.
Manfaat mentimun atau cucumber untuk kulit wajah sudah diketahui sejak zaman dahulu
kala. Buah Mentimun memberikan manfaat bagi kulit sebagai pembersih juga sebagai
efek pendingin pada wajah. Kandungan yang terdapat pada buah ketimun bukan hanya
air yang tinggi melainkan juga ada vitamin A, B, dan C; serta mineral, seperti
magnesium, kalium, mangan, dan silica. Selain untuk menyegarkan mata, mentimun juga
sangat baik untuk perawatan kulit berminyak. (1, 7, 8)
2
Sabun wajah sebagai kebutuhan utama untuk membersihkan kulit wajah dari debu,
minyak dan sisa-sisa kosmetik, melindungi kulit dari paparan sinar matahari, mencegah
timbulnya jerawat dan mengontrol pengeluaran minyak di wajah.
Sabun juga termasuk produk kecantikan yang harganya terjangkau untuk semua
kalangan. Ditambah lagi adanya tren back to nature sehingga masyarakat lebih memilih
barang-barang yang terbuat dari alam. Hal inilah yang melatar belakangi dilakukakannya
penulisan makalah ini.
2. Tujuan Penulisan
Tujuan dilakukannya penulisan makalah ini adalah memformulasi dan memahami cara
pembuatan sabun wajah untuk kulit berminyak dengan bahan aktif berasal dari bahan
alam.
3. Manfaat Penulisan
Dilakukannya penulisan makalah ini diharapkan memberikan manfaat bagi penulis
maupun pembaca yakni sebagai tambahan sumber informasi mengenai sediaan sabun
wajah untuk kulit berminyak, khususnya yang berasal dari bahan alam.
3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi Dan Fisiologi Kulit Manusia
Kulit adalah suatu organ pembungkus seluruh permukaan luar tubuh, merupakan organ
terberat dan terbesar dari tubuh. Seluruh kulit beratnya sekitar 16 % berat tubuh, pada
orang dewasa sekitar 2,7 3,6 kg dan luasnya sekitar 1,5 1,9 meter persegi. Tebalnya
kulit bervariasi mulai 0,5 mm sampai 6 mm tergantung dari letak, umur dan jenis
kelamin. Kulit tipis terletak pada kelopak mata, bibir, penis, labium minus dan kulit
bagian medial lengan atas. Sedangkan kulit tebal terdapat pada telapak tangan, telapak
kaki, punggung, bahu dan bokong. (4)
Gambar 1. Struktur kulit
2.1.1 Anatomi Kulit
Kulit adalah suatu organ pembungkus seluruh permukaan luar tubuh, merupakan organ
terberat dan terbesar dari tubuh. Seluruh kulit beratnya sekitar 16 % berat tubuh, pada
4
orang dewasa sekitar 2,7 3,6 kg dan luasnya sekitar 1,5 1,9 meter persegi. Tebalnya
kulit bervariasi mulai 0,5 mm sampai 6 mm tergantung dari letak, umur dan jenis
kelamin. Kulit tipis terletak pada kelopak mata, bibir, penis, labium minus dan kulit
bagian medial lengan atas. Sedangkan kulit tebal terdapat pada telapak tangan, telapak
kaki, punggung, bahu dan bokong. Secara embriologis kulit berasal dari dua lapis yang
berbeda, lapisan luar adalah epidermis yang merupakan lapisan epitel berasal dari
ectoderm sedangkan lapisan dalam yang berasal dari mesoderm adalah dermis atau
korium yang merupakan suatu lapisan jaringan ikat. (4)
Secara histopatologis kulit tersusun atas 3 lapisan utama yaitu :
a. Epidermis
Epidermis adalah lapisan luar kulit yang tipis dan avaskuler. Terdiri dari epitel berlapis
gepeng bertanduk, mengandung sel melanosit, Langerhans dan merkel. Tebal epidermis
berbeda-beda pada berbagai tempat di tubuh, paling tebal pada telapak tangan dan kaki.
Ketebalan epidermis hanya sekitar 5 % dari seluruh ketebalan kulit. Terjadi regenerasi
setiap 4-6 minggu. Epidermis terdiri atas lima lapisan (dari lapisan yang paling atas
sampai yang terdalam):
1. Stratum Korneum
Terdiri dari sel keratinosit yang bisa mengelupas dan berganti.
2. Stratum Lusidum
Berupa garis translusen, biasanya terdapat pada kulit tebal telapak kaki dantelapak
tangan. Tidak tampak pada kulit tipis.
3. Stratum Granulosum
Ditandai oleh 3-5 lapis sel polygonal gepeng yang intinya ditengah dan sitoplasma
terisi oleh granula basofilik kasar yang dinamakan granula keratohialin yang
mengandung protein kaya akan histidin.
4. Stratum Spinosum
Terdapat berkas-berkas filament yang dinamakan tonofibril, dianggap filamenfilame
tersebut memegang peranan penting untuk mempertahankan kohesi sel dan melindungi
terhadap efek abrasi.
5. Stratum Basale (Stratum Germinativum)
5
Terdapat aktifitas mitosis yang hebat dan bertanggung jawab dalam pembaharuan sel
epidermis secara konstan.
Epidermis diperbaharui setiap 28 hari untuk migrasi ke permukaan, hal ini tergantung
letak, usia dan faktor lain.Merupakan satu lapis sel yang mengandung melanosit. Fungsi
Epidermis : Proteksi barier, organisasi sel, sintesis vitamin D dan sitokin, pembelahan
dan mobilisasi sel, pigmentasi (melanosit) dan pengenalan alergen (sel Langerhans). (4,
15)
b. Dermis
Merupakan bagian yang paling penting di kulit yang sering dianggap sebagai True
Skin. Terdiri atas jaringan ikat yang menyokong epidermis dan menghubungkannya
dengan jaringan subkutis. Tebalnya bervariasi, yang paling tebal pada telapak kaki sekitar
3 mm. Dermis terdiri dari dua lapisan :
Lapisan papiler; tipis mengandung jaringan ikat jarang.
Lapisan retikuler; tebal terdiri dari jaringan ikat padat.
Serabut-serabut kolagen menebal dan sintesa kolagen berkurang dengan bertambahnya
usia. Serabut elastin jumlahnya terus meningkat dan menebal, kandungan elastin kulit
manusia meningkat kira-kira 5 kali dari fetus sampai dewasa. Dermis mempunyai banyak
jaringan pembuluh darah. Dermis juga mengandung beberapa derivat epidermis yaitu
folikel rambut, kelenjar sebasea dan kelenjar keringat. Kualitas kulit tergantung banyak
tidaknya derivat epidermis di dalam dermis. Fungsi Dermis : struktur penunjang,
mechanical strength, suplai nutrisi, menahan shearing forces dan respon inflamasi. (4, 15)
c. Subkutis
Merupakan lapisan di bawah dermis atau hipodermis yang terdiri dari lapisan lemak.
Lapisan ini terdapat jaringan ikat yang menghubungkan kulit secara longgar dengan
jaringan di bawahnya. Jumlah dan ukurannya berbeda-beda menurut daerah di tubuh dan
keadaan nutrisi individu. Berfungsi menunjang suplai darah ke dermis untuk regenerasi.
Fungsi Subkutis / hipodermis : melekat ke struktur dasar, isolasi panas, cadangan kalori,
kontrol bentuk tubuh dan mechanical shock absorber. (15)
6
2.1.2 Fisiologi Kulit
Kulit merupakan organ yang berfungsi sangat penting bagi tubuh diantaranya adalah
memungkinkan bertahan dalam berbagai kondisi lingkungan, sebagai barier infeksi,
mengontrol suhu tubuh (termoregulasi), sensasi, eskresi dan metabolisme. Fungsi
proteksi kulit adalah melindungi dari kehilangan cairan dari elektrolit, trauma mekanik,
ultraviolet dan sebagai barier dari invasi mikroorganisme patogen. Sensasi telah diketahui
merupakan salah satu fungsi kulit dalam merespon rangsang raba karena banyaknya
akhiran saraf seperti pada daerah bibir, puting dan ujung jari. Kulit berperan pada
pengaturan suhu dan keseimbangan cairan elektrolit. Termoregulasi dikontrol oleh
hipothalamus. Temperatur perifer mengalami proses keseimbangan melalui keringat,
insessible loss dari kulit, paru-paru dan mukosa bukal. Temperatur kulit dikontrol dengan
dilatasi atau kontriksi pembuluh darah kulit. Bila temperatur meningkat terjadi
vasodilatasi pembuluh darah, kemudian tubuh akan mengurangi temperatur dengan
melepas panas dari kulit dengan cara mengirim sinyal kimia yang dapat meningkatkan
aliran darah di kulit. Pada temperatur yang menurun, pembuluh darah kulit akan
vasokontriksi yang kemudian akan mempertahankan panas. dapat meningkatkan aliran
darah di kulit. Pada temperatur yang menurun, pembuluh darah kulit akan vasokontriksi
yang kemudian akan mempertahankan panas. (4)
Sensasi kulit adalah sensasi yang reseptornya ada dikulit, sedangkan sensasi visera adalah
sensasi yang berkaitan dengan persepsi lingkungan dalam, nyeri dari alat-alat visera
biasanya digolongkan sebagai sensasi visera. Terdapat 4 sensasi kulit yaitu: raba-tekan
(tekanan adalah rabaan yang ditahan agak lama), dingin, hangat, dan nyeri. Kulit
mengandung berbagai jenis ujung saraf sensorik yang meliputi ujung saraf telanjang,
saraf yang melebar, serta ujung saraf yang terselubung. (4)
Reseptor yang cepat beradaptasi di kulit yaitu reseptor taktil (sentuh) dikulit yang
memberitahu mengenai perubahan tekanan pada permukaan kulit. Karena reseptor ini
cepat beradaptasi maka seseorang tidak menyadari sedang memakai jam tangan, cincin
dan sebagainya. Sewaktu memakai sesuatu maka akan terbiasa karena adanya adaptasi
cepat reseptor tersebut. Sewaktu mencopotnya maka akan menyadarinya karena adanya
off response. (15)
7
Mekanisme adaptasi untuk korpus atau badan Pacini (Pacinian corpuscle) suatu reseptor
kulit yang mendeteksi tekanan dan getaran diketahui dari sifat-sifat fisiknya. Korpus
Pacini adalah suatu ujung reseptor khusus yang terdiri dari lapisan-lapisan konsentrik
jaringan ikat mirip kulit bawang yang membungkus ujung perifer suatu neuron aferen.
(15)
Setiap neuron sensorik berespons terhadap informasi sensorik hanya dalam daerah
terbatas dipermukaan kulit sekitarnya, daerah ini dikenal sebagai lapangan reseptif
(receptive field). Ukuran lapangan reseptif bervariasi berbanding terbalik dengan
kepadatan reseptor didaerah tersebut. Semakin dekat penempatan reseptor jenis tertentu,
maka semakin kecil daerah kulit yang terpantau oleh reseptor tersebut. Semakin kecil
lapangan reseptif di suatu daerah maka semakin besar ketajaman (acuity) atau
kemampuan diskriminatif. (15)
Arteri yang memberi nutrisi pada kulit membentuk pleksus terletak antara lapisan papiler
dan retikuler dermis dan selain itu antara dermis dan jaringan subkutis. Cabang kecil
meninggalkan pleksus ini memperdarahi papilla dermis, tiap papilla dermis punya satu
arteri asenden dan satu cabang vena. Pada epidermis tidak terdapat pembuluh darah tapi
mendapat nutrient dari dermis melalui membran epidermis. (9)
2.1.3 Fungsi Kulit
Kulit mempunyai berbagai fungsi yaitu sebagai berikut : (4, 9, 15)
1. Pelindung atau proteksi
Epidermis terutama lapisan tanduk berguna untuk menutupi jaringanjaringan tubuh di
sebelah dalam dan melindungi tubuh dari pengaruhpengaruh luar seperti luka dan
serangan kuman. Lapisan paling luar dari kulit ari diselubungi dengan lapisan tipis
lemak, yang menjadikan kulit tahan air. Kulit dapat menahan suhu tubuh, menahan
luka-luka kecil, mencegah zat kimia dan bakteri masuk ke dalam tubuh serta
menghalau rangsang-rangsang fisik seperti sinar ultraviolet dari matahari.
2. Penerima rangsang
Kulit sangat peka terhadap berbagai rangsang sensorik yang berhubungan dengan
sakit, suhu panas atau dingin, tekanan, rabaan, dan getaran. Kulit sebagai alat perasa
dirasakan melalui ujung-ujung saraf sensasi.
8
3. Pengatur panas atau thermoregulasi
Kulit mengatur suhu tubuh melalui dilatasi dan konstruksi pembuluh kapiler serta
melalui respirasi yang keduanya dipengaruhi saraf otonom. Tubuh yang sehat
memiliki suhu tetap kira-kira 98,6 derajat Farenheit atau sekitar 36,50C. Ketika terjadi
perubahan pada suhu luar, darah dan kelenjar keringat kulit mengadakan penyesuaian
seperlunya dalam fungsinya masing-masing. Pengatur panas adalah salah satu fungsi
kulit sebagai organ antara tubuh dan lingkungan. Panas akan hilang dengan penguapan
keringat.
4. Pengeluaran (ekskresi)
Kulit mengeluarkan zat-zat tertentu yaitu keringat dari kelenjar-kelenjar keringat yang
dikeluarkan melalui pori-pori keringat dengan membawa garam, yodium dan zat kimia
lainnya. Air yang dikeluarkan melalui kulit tidak saja disalurkan melalui keringat
tetapi juga melalui penguapan air transepidermis sebagai pembentukan keringat yang
tidak disadari.
5. Penyimpanan.
Kulit dapat menyimpan lemak di dalam kelenjar lemak.
6. Penyerapan terbatas
Kulit dapat menyerap zat-zat tertentu, terutama zat-zat yang larut dalam lemak dapat
diserap ke dalam kulit. Hormon yang terdapat pada krim muka dapat masuk melalui
kulit dan mempengaruhi lapisan kulit pada tingkatan yang sangat tipis. Penyerapan
terjadi melalui muara kandung rambut dan masuk ke dalam saluran kelenjar palit,
merembes melalui dinding pembuluh darah ke dalam peredaran darah kemudian ke
berbagai organ tubuh lainnya.
7. Penunjang penampilan
Fungsi yang terkait dengan kecantikan yaitu keadaan kulit yang tampak halus, putih
dan bersih akan dapat menunjang penampilan Fungsi lain dari kulit yaitu kulit dapat
mengekspresikan emosi seseorang seperti kulit memerah, pucat maupun konstraksi
otot penegak rambut.
9
2.1.4 Jenis Jenis Kulit
Upaya untuk perawatan kulit secara benar dapat dilakukan dengan terlebih dahulu harus
mengenal jenis-jenis kulit dan ciri atau sifat-sifatnya agar dapat menentukan cara-cara
perawatan yang tepat, memilih kosmetik yang sesuai, menentukan warna untuk tata rias
serta untuk menentukan tindakan koreksi baik dalam perawatan maupun dalam tata rias.
Kulit yang sehat memiliki ciri :
1. Kulit memiliki kelembaban cukup, sehingga terlihat basah atau berembun
2. Kulit senantiasa kenyal dan kencang
3. Menampilkan kecerahan warna kulit yang sesungguhnya
4. Kulit terlihat mulus, lembut dan bersih dari noda, jerawat atau jamur
5. Kulit terlihat segar dan bercahaya
6. Memiliki sedikit kerutan sesuai usia.
Pada umumnya jenis kulit manusia dapat dikelompokkan menjadi :
1. Kulit Normal
Kulit normal cenderung mudah dirawat. Kelenjar minyak (sebaceous gland) pada kulit
normal biasanya tidak bandel, karena minyak (sebum) yang dikeluarkan seimbang,
tidak berlebihan ataupun kekurangan. Meski demikian, kulit normal tetap harus dirawat
agar senantiasa bersih, kencang, lembut dan segar. Jika tidak segera dibersihkan, kotoran
pada kulit normal dapat menjadi jerawat. Selain itu kulit yang tidak terawat akan mudah
mengalami penuaan dini seperti keriput dan tampilannya pun tampak lelah.
Ciri-ciri kulit normal adalah kulit lembut, lembab berembun, segar dan bercahaya, halus
dan mulus, tanpa jerawat, elastis, serta tidak terlihat minyak yang berlebihan juga tidak
terlihat kering. Meskipun jika dilihat sepintas tidak bermasalah, kulit normal tetap harus
dijaga dan dirawat dengan baik, karena jika tidak dirawat, kekenyalan dan kelembaban
kulit normal akan terganggu, terjadi penumpukan kulit mati dan kotoran dapat
menyebabkan timbulnya jerawat.
2. Kulit Berminyak
Kulit berminyak banyak dialami oleh wanita di daerah tropis. Karena pengaruh
hormonal, kulit berminyak biasa dijumpai pada remaja puteri usia sekitar 20 tahunan,
meski ada juga pada wanita usia 30-40 tahun yang mengalaminya. Penyebab kulit
berminyak adalah karena kelenjar minyak (sebaceous gland) sangat produktif, hingga
10
tidak mampu mengontrol jumlah minyak (sebum) yang harus dikeluarkan. Sebaceaous
gland pada kulit berminyak yang biasanya terletak di lapisan dermis, mudah terpicu
untuk bekerja lebih aktif. Pemicunya dapat berupa faktor internal atau faktor eksternal,
yaitu :
a. Faktor internal meliputi :
1) Faktor genetis : anak dari orang tua yang memiliki jenis kulit berminyak,
cenderung akan memiliki kulit berminyak pula.
2) Faktor hormonal : hormon manusia sangat mempengaruhi produksi keringat.
Karena itulah pada wanita yang sedang menstruasi atau hamil akan lebih sering
berkeringat. Selain itu stres dan banyak gerak juga dapat menjadi pemicu
keringat berlebihan.
b. Faktor eksternal meliputi :
o Udara yang terlalu panas atau terlalu lembab
o Penggunaaan sabun wajah atau pembersih wajah yang terlalu keras dapat memicu
produksi minyak berlebih
o Mencuci muka terlau sering sehingga menghilangkan sebum di kulit, sehingga
merangsang kelenjar sebasea memproduksi sebum lebih banyaka lagi
o Penggunaan kosmetik yang tidak cocok
o Memekan terlalu banyak makanan berminyak
Kulit berminyak memerlukan perawatan khusus dibandingkan kulit normal. Pada jenis
kulit ini, minyak berlebihan yang dibiarkan akan menjadi media yang baik bagi
pertumbuhan bakteri yang pada saat selanjutnya akan menjadi jerawat, radang atau
infeksi.
Merawat kulit berminyak bukan berarti membuat kulit benarbenar bebas minyak, karena
minyak pada kulit tetap diperlukan sebagai alat pelindung alami dari sengatan sinar
matahari, bahanbahan kimia yang terkandung dalam kosmetika maupun terhadap polusi.
Yang perlu dilakukan adalah menjaga agar kadar sebum tetap seimbang dan kulit tetap
dalam keadaan bersih agar bakteri penyebab jerawat dapat terhambat. Memiliki jenis
kulit berminyak, memiliki kelebihan yaitu membantu menjaga kelembaban lapisan
dermis hingga memper-lambat timbulnya keriput.
11
Ciri-ciri kulit berminyak yaitu : minyak di daerah T tampak berlebihan, tekstur kulit tebal
dengan pori-pori besar hingga mudah menyerap kotoran, mudah berjerawat, tampilan
wajah berkilat, riasan wajah seringkali tidak dapat melekat dengan baik dan cepat luntur
serta tidak mudah timbul kerutan.
3. Kulit Kering
Kulit kering memiliki karakteristik yang cukup merepotkan bagi pemiliknya, karena pada
umumnya kulit kering menimbulkan efek yang tidak segar pada kulit, dan kulitpun
cenderung terlihat berkeriput. Kulit kering memiliki kadar minyak atau sebum yang
sangat rendah dan cenderung sensitif, sehingga terlihat parched karena kulit tidak mampu
mempertahankan kelembabannya. Ciri dari kulit kering adalah kulit terasa kaku seperti
tertarik setelah mencuci muka dan akan mereda setelah dilapisi dengan krim pelembab.
Kondisi kulit dapat menjadi lebih buruk apabila terkena angin, perubahan cuaca dari
dingin ke panas atau sebaliknya. Garis atau kerutan sekitar pipi, mata dan sekitar bibir
dapat muncul dengan mudah pada wajah yang berkulit kering.
Kulit kering memiliki ciri-ciri : kulit halus tetapi mudah menjadi kasar, mudah merekah
dan terlihat kusam karena gangguan proses keratinisasi kulit ari, tidak terlihat minyak
berlebihan di daerah T yang disebabkan oleh berkurangnya sekresi kelenjar keringat dan
kelenjar palit atau kelenjar minyak. Ciri lainnya yaitu mudah timbul kerutan yang
disebabkan oleh menurunnya elastisitas kulit dan berkurangnya daya kerut otot-otot,
mudah timbul noda hitam, mudah bersisik, riasan yang dikenakan tidak mudah luntur,
reaktivitas dan kepekaan dinding pembuluh darah terhadap rangsangan-rangsangan
berkurang sehingga peredaran darah tidak sempurna dan kulit akan tampak pucat, suram
dan lelah.
4. Kulit Sensitif
Diagnosis kulit sensitif didasarkan atas gejala-gejala penambahan warna, dan reaksi cepat
terhadap rangsangan. Kulit sensitif biasanya lebih tipis dari jenis kulit lain sehingga
sangat peka terhadap hal-hal yang bisa menimbulkan alergi (allergen). Pembuluh darah
kapiler dan ujung saraf pada kulit sensitif terletak sangat dekat dengan permukaan kulit.
Jika terkena allergen, reaksinya pun sangat cepat. Bentuk-bentuk reaksi pada kulit
sensitif biasanya berupa bercak merah, gatal, iritasi hingga luka yang jika tidak dirawat
secara baik dan benar akan berdampak serius. Warna kemerahan pada kulit sensitif
12
disebabkan allergen memacu pembuluh darah dan memperbanyak aliran darah ke
permukaan kulit. Berdasarkan sifatnya tadi, perawatan kulit sensitif ditujukan untuk
melindungi kulit serta mengurangi dan menanggulangi iritasi.
Kulit sensitif seringkali tidak dapat diamati secara langsung, diperlukan bantuan dokter
kulit atau dermatolog untuk memeriksanya dalam tes alergi-imunologi. Dalam
pemeriksaan alergi, biasanya pasien akan diberi beberapa allergen untuk mengetahui
kadar sensitivitas kulit. Kulit sensitif memiliki ciri-ciri sebagai berikut : mudah alergi,
cepat bereaksi terhadap allergen, mudah iritasi dan terluka, tekstur kulit tipis, pembuluh
darah kapiler dan ujung saraf berada sangat dekat dengan permukaan kulit sehingga kulit
mudah terlihat kemerahan. Faktor-faktor yang dapat menjadi allergen bagi kulit sensitif
antara lain : makanan yang pedas dan berbumbu tajam, kafein, nikotin dan minuman
beralkohol, niasin atau vitamin B3, kandungan parfum dan pewarna dalam kosmetika,
sinar ultraviolet dan gangguan stres. Kulit sensitif berbeda dengan kulit reaktif. Meski
timbul bercak kemerahan atau gatal-gatal akibat penggunaan kosmetika tertentu, belum
tentu menjadi gejala atau tanda kulit sensitif. Kemungkinan bercak kemerahan tadi hanya
menandakan iritasi ringan, yang akan hilang sendiri. Kulit reaktif seperti ini dapat
menjadi sensitif jika iritasi kemudian meluas dan sukar sembuh. Untuk membedakannya
perlu dilakukan tes alergi-imunologi oleh dokter kulit.
5. Kulit Kombinasi atau Kulit Campuran
Faktor genetis menyebabkan kulit kombinasi banyak ditemukan di Asia. Banyak wanita
timur terutama di daerah tropis yang memiliki kulit kombinasi : kering-berminyak atau
normal-berminyak. Pada kondisi tertentu kadang dijumpai kulit sensitif-berminyak. Kulit
kombinasi terjadi jika kadar minyak di wajah tidak merata. Pada bagian tertentu kelenjar
keringat sangat aktif sedangkan daerah lain tidak, karena itu perawatan kulit kombinasi
memerlukan perhatian khusus. Area kulit berminyak dirawat dengan perawatan untuk
kulit berminyak dan di area kulit kering atau normal dirawat sesuai dengan jenis kulit
tersebut. Kulit kombinasi atau kulit campuran memiliki ciri-ciri sebagai berikut : kulit di
daerah T berminyak sedangkan di daerah lain tergolong normal atau justru kering atau
juga sebaliknya. Di samping itu tekstur kulit sesuai jenisnya yakni di area kulit
berminyak akan terjadi penebalan dan di area normal atau kering akan lebih tipis. (1)
13
2.2 Mentimun
Mentimum adalah salah satu jenis sayur-sayuran yang dikenal di hampir setiap negara.
Tanaman ini berasal dari Himalaya di Asia Utara. Saat ini, budidaya mentimum sudah
meluas ke seluruh baik wilayah tropis atau subtropis. Mentimun memiliki berbagai nama
daerah seperti timun (Jawa), bonteng (jawa barat), temon atau antemon (Madura), ktimun
atau antimun (Bali), hantimun (lampung) dan Timon (Aceh).(7)
Gambar 2. Buah Mentimun (Cucumis sativus .L)
2.2.1 Klasifikasi mentimun
Klasifikasi botani tanaman mentimun adalah sebagai berikut:
a) Divisi : Spermatophyta
b) Sub divisi : Angiospermae
c) Kelas : Dicotyledonae
d) Keluarga : Cucurbitaceae
e) Genus : Cucumis
f) Spesies : Cucucmis sativus .L
2.2.2 Kandungan mentimun
Mentimun memiliki banyak kandunganzat yang bermanfaat antara lain: (7, 8)
Fosfor, vitamin C dan asam folat pada mentimun berfungsi untuk memperlancar
buang air seni dan untuk menghilangkan ketegangan atau anti stress.
Mengandung zat-zat saponin (mengeluarkan lendir), protein, lemak, kalsium, fosfor,
besi, belerang, vitamin A, B1, dan C.
Biji buah mentimun mengandung banyak vitamin E untuk menghambat penuaan dan
menghilangkan keriput.
Mengandung flavonoid dan polifenol.
Mengandung asam malonat
14
Tinggi serat
Mengandung kukurbitasin C,
2.2.3 Manfaat Mentimun untuk wajah
Mentimun sudah sejak lama digunkan dalam perawatan kilut dan wajah, adapun manfaat
mentimun untuk wajah adalah sebagai berikut:
a. Mentimun dapat mengurangi lingkaran hitam pada mata
Mentimun mempunyai kekuatan yang cepat, aman serta gampang saat mengurangi
lingkaran hitam pada mata. Mentimun mempunyai kandungan antioksidan serta silika
yang berkhasiat untuk meremajakan serta bikin kulit halus dan lembut.
b. Mentimun dapat mengurangi bengkak pada kantung mata
Mentimun mempunyai kandungan asam askorbat yang berkhasiat untuk mengurangi
retensi air hingga bisa mengurangi pembengkakan pada mata.
c. Mentimun dapat mengurangi bitik hitam
Cahaya matahari bisa mengakibatkan bintik-bintik hitam pada kulit kita. Mentimun bisa
dipakai sebagai tonik untuk mengurangi timbulnya bintik-bintik pada kulit.
d. Mentimun bisa meremajakan kulit
Khasiat umum mentimun yaitu dapat meremajakan kulit. Mentimun dapat digunakan
sebagai masker untuk menjadikan kulit lebih halus dan lembut.
e. Mentimun berkhasiat untuk perawatan sunburn / terbakar matahari
Dampak pendingin yang didapatkan dari mentimun merupakan langkah alami dan lembut
untuk menjadikan kulit seperti semula dan mempercepat sistem pengobatan.
f. Mentimun berkhasiat untuk mengencangkan pori-pori yang terbuka.
Mentimun merupakan toner yang sangat baik untuk mengencangkan dan menutupi pori-
pori yang terbuka.
g. Selain untuk menyegarkan mata, mentimun juga sangat baik untuk perawatan kulit
berminyak. (7, 8)
2.3 Sabun Wajah
Sabun adalah garam dari basa dan asam lemak rantai panjang. Ketika lemak atau minyak
tersabunkan, natrium atau kalium dengan asam lemak rantai panjang membentuk garam,
hal inilah yang disebut dengan sabun. (19)
15
Sabun wajah adalah sabun yang dikhususkan untuk membersikan wajah, biasanya
memiliki pH rendah atau mendekati pH normal kulit yakni 4.5 6.5 dan berisikan
detergent yang lebih ringan.
Sabun yang biasa kita gunakan dibuat melalui reaksi saponifikasi dari minyak dan lemak
dengan NaOH atau KOH, atau memalui reaksi netralisasidari asam lemak yang
dihasilkan melalui pemisahan dari minyak dan lemak dengan NaOH atau KOH. (19)
2.3.1 Jenis Sabun Wajah
Sabun dapat digolongkan menjadi 3 kategori berdasarkan bentuknya, yaitu:
1. Sabun padat
2. Sabun pasta
3. Sabun cair
Peerbedaan ketiganya terletak pada jumlah dan tipe garam basanya. Sabun padat lebih
banak mengandung NaOH sebab garam natrium dari asam lemak berbentuk padat dan
garam kalium labih lembut. Sedangkan pada sabun pasta dan sabun cair lebih banyak
mengandung KOH. (22)
2.3.2 Mekanisme Kerja Sabun
Sabun berfungsi untuk memindahkan kotoran dari permukaan kulit wajah. Kotoran
biasanya merupakan campuran dari bahan berlemak. Lemak dapat berupa sebum yang
dihasilkan oleh kulit dan bertindak sebagai pengikat kotoran yang baik. Untuk
membersihkan kotoran yang berupa minyak, pembilasan dengan air saja tidak cukup.
Dibutuhkan zat lain untuk menurunkan tegangan antar muka antara minyak dan air,
mengemulsi dan mensuspensi kotoran hingga kotoran tercuci.(14)
Sabun mempunyai dua bagian polaritas yang berbeda, bagian rantai karbon yang panjang
merupakan bagian nonpolar (hidrofobik) dan bagian garam karboksilat merupakan bagian
polar (hidrofilik). Ketika sabun digunakan untuk membersihkan kotoran, bagian nonpolar
dari sabun melarutkan bagian nonpolar dari lemak dan minyak dari kotoran sedangkan
bagian polar dari sabun melarutkan kotoran yang larut dalam air. Molekul sabun melapisi
minyak dan lemak dari kotoran, membentuk kelompok yang disebut misel, kemudian
bagian polar dari sabun membentuk misel menjadi polar, mengemulsi misel tersebut di
16
dalam air. Hasilnya globul-globul kecil dari minyak dan lemak terlapisi molekul sabun
kemudian tertarik ke dalam air dan bagian tersebut dapat tercuci. (11, 14)
2.3.3 Bahan Baku Pembuatan Sabun
a. Bahan Utama (20)
1. Basa
Dalam pembuatan sabun, basa yang sering digunakan misalnya Na
2
CO
3,
NaOH,
NH
4
OH, KOH dan Etanolamin
2. Lemak,asam lemak dan minyak
a. Lemak dan minyak hewani
Berasal dari minyak sapi, kambinng, domba dan hewan lain
b. Lemak dan minyak dari tumbuhan
Berasal dari lemak dan minyak dari tumbuhan antara lainminyak kelapa,
minyak kelapa sawit, minyak zaitun, minyak jeruk, minyak biji kapas, minyak
biji rami, danmasih banyak lagi minyak dan lemak dari tumbuhan.
c. Asam lemak
Asam Lemak yang biasa digunakan dalam pembuatan sabun antara lain asam
linoleat, asam oleat, asam stearat, asam ricinoleat, dan asam kaporat.
b. Bahan Tambahan
Untuk menghasilkan formula yang dibutuhkan saat ini perlu adanya bahan tambahan
yang digunakan dalam pembuatan sabun padat utnuk penampilan dan estetika produk
yang baik. Zat tambahan meliputi pewangi, pelembab, pewarna, antioksidan serta
pengkhelat (pengikat logam).
c. Bahan Tambahan Khusus
Berbagai tambahan untuk memenuhi kebutuhn pasar produsesn, maupun segi
ekonomi dapat dimasukkan ke dalam sabun. Dewasa ini dikenal berbagai macam
sabun khusus, misalnya sabun super fairy, sabun tranparan, sabun deodorant, sabun
antiseptik, sabun bayi yang lebih berminyak, sabun netral, sabun apricot. Selain itu
ada berbagai jenis sabun dipasarkan, misalkan sabun kastil, nafta, cocoa French yang
dasarnya tidak jauh berbeda.
17
2.3.4 Metode Pembuatan Sabun
Pada umumnya metode pembuatan sabun dapat dibagi menjadi 2, yaitu reaksi
penyabunan (saponifikasi) dan reaksi netralisasi. Pada reaksi saponifikasi prinsipnya
yaitu tersabunkannya asam lemak dengan alkali , baik asam lemak yang terdapat dalam
keadaan bebas atau asam lemak yang terikat sebagai minyak atau lemak (gliserida)
dengan cara minyak dan lemak direaksikan dengan alkali menghasilkan sabun dan
gliserin. Pada reaksi netralisasi, sabun dihasilkan oleh reaksi asam lemak langsung
dengan alkali. (21)
a. Reaksi saponifikasi
b. Reaksi netralisasi
Metode pembuatan sabun ada beberapa cara, antara lain:
a. Metode panas (full-boiled)
Metode ini menghasilkan dasr sabun melalui beberapa proses, yaitu penyabuanan
(saponifikasi), penggaraman (salting-out), pencucian dan penyempurnaan. Pertama
campuran minyak dan lemak di tempatkan pada wadah yang besar dan dipanaskan.
Tambahkan larutan NaOH yang akan bereaksi dengan minyak dan lemak menjadi
asam lemak dan gliserin, kemudian asam lemak akan bereaksi dengan NaOH
membentuk asam lemak natrium (sabun) dan gliserin yang bercampur dengan air.
Setelah reaksi saponifikasi selesai, tambahkan garam atau larutan garam yang sudah
jenuh, sambil diaduk terus untuk menghilangkan air, proses ini disebut penggaraman.
18
Setelah itu pemanasan dan pengadukan dihentikan dan campuran didiamkan untuk
beberapa jam atau beberapa hari. Akan terbentuk dua lapisan, lapisan atas adalah
sabun dan bagian bawah adalah sisa sabun, yaitu campuran garam, kelebihan NaOH,
gliserin, kotoran dan larutan air. (21)
b. Metode setengah panas (semi-boiled)
Metode ini hampir sama dengan metode panas, tetapi dalam metode ini hanya
dilakukan dua proses yaitu penyabunan (saponifikasi) dan penggaraman (salting-
out). Banyak sekali jenis minyak yang dapat dibuat sabundengan proses ini.
Penyabunan atau tersabunkannyaminyak dilakukan pada panic yang berukuran besar,
yang dipasang dalam sebuah tungku pembakaran. Hal ini membantu dalam proses
pemanasan secara keseluruhan dari bahan yang terdapat dalam panic dijaga pada 80
o
C. Larutan alkali ditambahkan secara perlahan-lahan ke dalam minyak. Hal ini
dilakukan untuk mencegah masa agar tidak menggumpal, keadaan tersebut dijaga
supaya proses reaksi penyabunan tidak terlalu cepat dan pada saat bahan-bahan di
dalam panel mendidih tidak meluap. Pendidihan akan berlangsung perlahan dan
menghasilkan massa yang bergolak, pangadukan wajid dilakukan untuk
menghasilkan masa yang sempurna. Alkali ditambahkan pada saat tidak terlalu
mendidih, hal ini dilakukan agar proses penyabunan sempurna. Air ditambahkan
dalam jumlah yang sedikit ke dalm masa untuk menganti kekurang pada saat proses
penguapan menjelang akhir pendidihan. Masssatersebut dituang kedalam cetakan,
dikeluarkan setelah mengeras, dipotong-potong dan dikemas. (20)
c. Metode dingin (suhu kamar)
Proses saponifikasin dari minyak kelapa tersadi sangat mudah. Pada proses ini dasar
panic yang silinder, bulat atau datar bisa digunakan untuk mendukung proses reaksi.
Pengadukan juga bisa digunakan, tetapi harganya lebih mahal. Campuran minyak
yang ada di panic kemudian dipanaskanuntuk menjadikannya bentuk cairan
(temperature dari campuran ini pada suhu 40-50
o
c). Kemudian larutan alkali secara
perlahan-lahan ditambahkan ke campuran tersebut dengan pengadukan yang terus
menerushingga terbentuk massa sabun. Campuran tersebut secara spontan akan
memanas. Massa yang panas ini dituang ke dalamcetakan harus cepat sebelum
mengeras. Massa yang dingin kemudian dikeluarkan dari cetakan lalu dipotong
19
potong sesuai bentuk yang diinginkan lalu dikemas. Pada metode ini jumlah minyak
dan alkali harus diperhtiungkan. Perbandingan antara lemak dan minyak dengan
alkali biasanya 2:1. (20)
2.3.5 Evaluasi Sediaan Sabun
Evaluasi sediaan sabun antara lain:
1. Evaluasi fisika kimia sabun, terdiri dari:
a. Organoleptik
b. Tinggi stabilitas busa
Tinggi stabilitas busa ini diukur pada tinggi dan stabilitas busa dalam air
suling sert atinggi dan stabilitas busa dalam air sadah
c. Uji kekerasan sabun
Uji ini dilakukan dengan menggunkan alat penetrometer
d. Keseragaman bobot sabn
e. Uji pH
f. Kadar air
g. Uji lemak bebas atau alkali bebas
2. Evaluasi stabilitas
Evalusai ini menggunakan uji stabilitas dipercepat. Pengujian ini dimaksudkan untuk
mendapatkan informasi yang diinginkan pada waktu sesingkat mungkin dengan cara
menyimpan sample pada kondisi yang dirancang untuk mempercepat terjadinya
perubahan yang biasanya terjadi pada kondisi normal. Uji penyimpanan pada suhu
40C / kelembaban 70% : 3 hari, 1,2,3,4 minggu; 2,3,6, bulan.
3. Uji keamanan sabun
Uji keamanan sabun ini berupa uji iritasi sabun, dilakukan dengan metode:
a. Chamber Test
Digunakan 80% larutan (b/v) dengan menggunakan potongan sabun di air dan
dipanaskan perlahan-lahan. Bila dingin larutan akan menjadi pasta, dengan
memanaskan 40C, pasta itu akan mencair kembali. Yang dinilai adalah erytema
(kemerahan), scalling (pengelupasan), fissures (retak - retak). Jika terjadi erytema
hebat, test dihentikan.
20
h. Wash Test
1. Antecubital wash test
Daerah antecubital dicuci dengan bahan yang akan ditest dua kali sehari.
Sepotong kapas non-woven (5x5 cm) dilembabkan dengan air hangat.
Busa dibuat di tempat sabun lalu kulit dicuci selama satu menit dengan
kapas yang diberi busa.
Sesudah dibilas ringan ulang prosedur no. 3 1 menit lagi.
Busa ditanggalkan di kulit selama 2 manit, kemudian bilas bersih.
Kulit dikeringkan dengan handuk lembut
Dilakukan test yang sama dengan bahan yang sama di daerah antecubital
yang lain
2. Facial wash test
Kedua belah pipi dicuci dua kali sehari seperti wash test, kecuali bahwa
busa segera dibilas setelah pipi dicuci dengan sabun selama dua menit.
Reaksi dikulit dinilai 30 menit setelah itu.
Penilai terhadap erythema, discomfort (rasa terganggu)
Pencucian di dkedua pipi dihentikan bila segera timbul iritasi hebat, atau
ketidaknyamanan yang berupa sakit ringan (rasa terbakar) dan sakit hebat.
i. Scarification Test
Untuk menilai kerusakan jaringan
Tanpa stratum corneum sebagai penghalang
Test dilakukan pada sekelompok sabun dibedakan dengan kulit yang utuh.
Sesudah kulit dilukai dengan jarum halus,produk dengan konsentrasi 0,1% dan
1,5% diaplikasikan dengan system occlusive selama 3 hari ke bagian dalam
lengan bawah.
Reaksi dinilai pada hari terakhir dengan nilai, 0 = negative, 4 = kemerahan
hebat dengan nekrosis. (5)
2.3.6 Syarat Mutu Sabun
a. Lemak yang tidak tersabunkan
Syarat: < 2,5%
21
Lemak yang tidak tersabunkan adalah lemak netral atau trigliserida netralyang tidak
bereaksi selama proses penyabunan. (19)
b. Kadar air
Syarat: maks. 15%
Prosedur: penetapan air secara titrimetri berdasarkan atas reaksi secara kuantitatif, air
dengan larutan anhidrat belerang dioksida dan iodium dengan adanya dapar yang
bereaksi dengan ion hydrogen. (19)
c. Asam lemak bebas atau alkali bebas\
Syarat: asam lemak bebas < 2.5%
Alkali bebas (dihitung sebagai NaOH maks. 0.1%
Asam lemak bebas adalah asam lemak yang berada dalam sabun, tetapi yang tidak
terikat dalam senyawa natrium ataupun senyawa trigliserida (lemak netral). Adanya
asam lemak bebas diperiksa bila pada pemeriksaan alkali bebs ternyata setelah
pendidihan dalam alcohol netral tidak terjadi warna merah dari penunjuk
phenolptalein. Asam lemak bebas yang melarut dalam alcohol netral dititrasi dengan
KOH-alkohol. (19)
2.4 Praformulasi Sediaan
Bahan pembentuk sabun antara lain sebagai berikut :
1. Minyak kelapa (2, 3, 17)
Minyak kelapa adalahminyak lemakyang diperoleh dengan pemerasan bagian padat
endosperm Cocos Nucifera Linne (familia : Palmae) yang dikeringkan.
a. Pemerian : Cairan jernih, tidak tengik. tidak berwarna/kuning pucat,
bau khas.
b. Kelarutan : sangat mudah larut dalam eter (p) atau kloroform (p),
pada suhu 60
o
C. mudah larut dalametanol 95%(p), kurang mudah larut dalampada
suhu yang lebih rendah.
c. Bilangan Iodium : 7,0 11,0
d. Bilangan Penyabunan : 251 263
e. Kegunaan : Perawatan kulit
22
2. Minyak Jarak (2, 3, 17)
Minyak jarak adalah minyak lemak yang diperoleh dari biji Ricinus communis I. (familia:
Euphorbiaceae). Tidak mengandung bahan tambahan
a. Sinonim : Castor oil atau Oleum ricini
b. Pemerian : cairan kental, jernih, hampir tidak berbau atau kuning
pucat, rasa tawar, khas, bau lemah, bebas dari dari bau asing dan tengik
c. Kelarutan : larut dalam etanol 95%, dapat bercampur dengan etanol,
mutlak, asam asetat glukal, kloroform, dan eter.
d. Bilangan iodium : 83 88
e. Bilangan penyabunan : 170 182
f. Kegunaaan : perawatankulit, emollient (pelembut) dan pelarut
3. Asam Stearat (2, 3, 17)
Asam stearat merupakan campuran dari asam stearat (C
18
H
32
O
2)
dan asam palmitat
(C
16
O
32
O
2
) diperoleh dari lemak dan minyak yang dapat dimakan, mengandung tidak
kurang dari 40% dan jumlah keduanya tidak kurang dari 90%.
a. Sinonim : Crodacid, crosterene, glycon S-90,Hysterene
b. Pemerian : Hablur padat warna putih atau kekuningan pucat,keras,
mengkilap, mirip seperti lilin, bau dan rasa lemah mirip lemak.
c. Kelarutan : Mudah larut dalam kloroform dan eter, larut dalam etanol, praktis
tidak larut dalam air
d. Rumus struktur : CH
3
(CH
12
)
16
COOH
e. Rumus Molekul : C
18
H
36
O
2
f. Bobot Molekul : 284,47
g. BilanganIodium : tidak lebih dari 4
h. Fungsi umum : bahan tambahan pada kosmetik, sebagai lubrikan pda tablet
dankapsul, pengikat, sebagai surfaktan dan pengemulsi
i. Fungsi dalam formula : mengeraskansabun dan menstabilakan busa
j. Konsentrasi : 1-20%
4. Natrium hidroksida (2, 17)
23
a. Sinonim : caustic soda, lye, soda lye, sodium hidrat
b. Pemerian : serbuk, warna putih sampai putih kekuningan, tidak
berbau atau hampir tidak berbau, higroskopis.
c. Kelarutan : larut dalam air pada semua suhu, memberikan larutan
jernih, tidak larut dalam sebagian besar pelarut organic.
d. Rumus molekul : NaOH
e. Bobot molekul : 40.00
f. Fungsi dalam formula : beraksi dengan minyak, lemak dan asam lemak
membentuk sabun (saponifikasi)
5. Gula (sukrosa) (2, 17)
Sukrosa adalah gul ayang diperoleh dari Saccharum officinarum Linne (fam:
Graminaceae), Beta vulgaris Linne (fam: chenopodiaceae) dan sumber lain. Tidak
menganr=dung zat tambahan.
a. Pemerian : hablur, masa atau gumpalan hablur, tidak berwarna atau
warna putih, tidak berbau, rasa manis, stabil diudara.
b. Kelarutan : sangat mudah larut dalam air, lebih mudah larut dalam air
mendidih, sukar larut dalam etanol, praktis tidak larut dalam kloroform dan eter.
c. Rumus molekul : C
12
H
22
O
11
d. Bobot molekul : 342.30
e. Konsentrasi : 5%
f. Fungsi umum : perawatan kulit, humektan
g. Fungsi dalam formula : memberikan warna transparan pada sabun,
mempertahankan stabilitas kimia sediaan sabun, mencegah terjadinya penguapan dari
etanol dan dapat sebagai pelembab.
6. Gliserin (2, 3, 17)
Gliserol mengandung tidak kurang dari 95.0% dan tidak lebih dari 101.0% C
3
H
8
O
3.
a. Sinonim : croderol, gliserin, optim
b. Pemerian : cairan kental, jernih tidak berwarna hanya boleh berbau
khas lemah, bukan bau yang keras atau tidak enak, rasa manis, higroskopis.
24
c. Kelarutan : dapat bercampur dengan air, dengan etanol, tidak larut
dalam kloroform, eter dan minyak atsiri.
d. Bobot molekul : 92.09
e. Fungsi dalam formula : sebagai humektan dan memberikan warna transparan pada
sabun
f. Kosentrasi : < 30% sebagai humektan dan untuk emollient. 5% sebagai
transparent agent
7. Etanol (2, 3, 17, 18)
Etanol mengandung tidak kurang dari 92.3% b/b dan tidak lebih dari 93.8% b/b C
2
H
5
OHl
pada suhu 15.56
o
C.
a. Sinonim : etil alcohol, etil hidroksida, grain alcohol, metal karbinol.
b. Pemerian : cairan jernih, mudah menguap, dan mudah bergrak, tidak
berwarna, bau khas, rasa panas pada lidah, mudah terbakar, mendidih pada suhu
78
o
C.
c. Kelarutan : mudah bercampur denga air, eter, dan klorofom
d. Bobot molekul : 46.07
e. Fungsi dalam formula : digunakan sebagai pelarut, sebagai pengawet ( > 10 %)
dan memberikan warna transparent pada sabun.
8. BHT (Butil hidroksi toluene) (2, 17)
a. Sinonim : agidol, BHT, dalpac, lonalCP,sustane, topanol, vianol.
b. Pemerian : serbuk hablur warna putih atau hampir putih atau padat
seperti malam , berwarna putih kekuningan bau aromatic.
c. Kelarutan : larut dalam etanol (95%) propilenglikol danlarutanalkali hidroksida
praktis tidak larut dalam air
d. Bobot molekul : 180,20
e. Sisa pemijaran : tidak lebih dari 0,1%
f. Fungsi dalam formula : sebagai antioksidan
g. Konsentrasi : 0,02% sebagai antioksidan untuk minyak dan lemak
25
9. Tetrasodium edetat (2, 17)
b. Sinonim : Edetat sodium, edetic acid tetrasodium salt, EDTA tetrasodium, versene
c. Pemerian : serbuk hablur berwarna putih, tidak berbau
d. Kelarutan : Larut dalam air, sukar larut dalam etanol (96%) praktis tidak larut
dalam kloroform dan eter
e. Bobot Molekul : 380,20
f. Fungsi umum : pengkhelat (membentuk ikatan kompleks dengan logam berat)
g. pH :11,3 (1%b/v dalam larutan air
h. fungsi dalam formula : sebagai zat pengkhelat
i. konsentrasi : 0,01% - 0,1 %
26
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Formula Sabun Wajah untuk Kulit Berminyak
F I F II F III FS
Asam Strearat
6.5 7 9
thickening agent dan
penstabil busa
BHT 0,02 antioksidan
Castor Oil 7 emollient
Clay 1 absorbent
Coconut Oil 20 20 pembentuk sabun
EDTA 0.3 0,01 chelating agent
Etanol 96% 16 15 20
pelarut dan memberikan
warna transparan pada
sabun. pengawet
Glycherine 7 15 13 15
humektan dan pemberi
warna tranparan
Lauric Acid 0.2 surfaktan
Minyak Nilam 3 zat aktif
VCO 20 pembentuk sabun
NaOH 30% 25 20.3 19 pembentuk sabun
Asam Sitrat 4 3 pH adjuster
Cocoamide DEA 5 3 Foaming agent
Perfume 1.3 1 qs pengharum
Ekstrak mentimun 7
bahan aktif (anti fungi dan
keratolitikum)
NaCl 0.8 0.2
thickening agent dan
penstabil busa
Ekstrak Aloe Vera 5 zat aktif
Sodium Tallow /Coconutoil 70.3 soap base
Sukrosa 5 7.5 7
memberika warna
transparan dan humektan
TiO2 0.1 opacifier
Tripotasium Citrate Monohydrate 2 pH adjuster
Water ad 100 ad 100 ad 100 ad. 100 pelarut
Ket:
F I : Ridley, et al. US Patent No. 4,678,598
F II : Supandi, dkk. Formulasi Sabun Transparan Minyak Nilam Sebagai Obat Jerawat
F III : Ike Anjani,dkk.Pengaruh Penambahan Sari Aloe Vera terhadap sifat fisik dan masa simpan sediaan sabun transparan untuk wajah. e-journal Vol. 03 No. 02 Tahun 2014
FS : Formula sendiri
% b/b
Fungsi Bahan
27
Formula Karakteristik
F I Bentuk sabun transparan, beraroma khas, daya buih mudah berbuih
F II Bentuk sabun transparan, beraroma minyak nilam, warna bening kecoklatan,
daya buih mudah berbuih, dan tekstur agak lunak.
F III Beraroma aloe vera, transparan dan dapat menembus < 6 cm, tekstur keras
tidak berminyak dan daya buih mudah berbuih
FS Bentuk sabun transparan berwarna bening agak kehijauan, beraroma mint,
tekstur keras, daya buih cukup baik dan tidak mudah tengik.
3.2 Pembahasan
Formula I
Pada formula II ini bahan-bahan yang digunakan berupa sodium tallow/coconut (dengan
perbandingan 80/20) sebagai bahan pembentuk sabun, campuran bahan ini akan
mengalami reaksi saponifikasi. Untuk metode pembuatan menggunakan metode dingin.
Bahan aktif yang digunakan untuk menghilangkan minyak pada kulit yakni menggunkan
smectite-type clay material. Clay material tersebut berisikan zat yang bernama sodium
dan kalsium montmorillonite. Penggunaan bahan ini diklaim tidak hanya mampu untuk
menghilangkan minyak berlebih pada wajah, tetapi juga meningkatkan kinerja sabun
seperti memberbanyak busa, lebih lembut, meningkatkan karakteristik fisik dari sabun
serta meningkatkan estetika atau tampilan dari sabun tersebut (lebih transparan).
Formula II
Sebagai asam lemak dari formula sabun transparan digunakan VCO. Kandungan asam
lemak terutama asam laurat dan oleat dalam VCO, dapat berfungsi untuk melembutkan
kulit, peningkat penetrasi, moisturizer dan mempercepat penyembuhan pada kulit.
Disamping itu, VCO aman digunakan pada kulit karena tidak mengiritasi.(23)
Metode pembuatan yang digunakan menggunakan metode setengah panas (semi-boiled)
Berdasarkan jurnal tersebut didapatkan hasil dan evaluasi dari sabun tersebut
menunjukkan organoleptis sabun transparan yang meliputi bentuk, bau, warna dan
transparansi menunjukkan bahwa sabun tidak mengalami perubahan selama
penyimpanan. Minyak nilam dapat diformulasi menjadi sabun transparan dengan
menggunakan bahan tambahan VCO. Peningkatan kadar VCO dalam formulasi sabun
28
transparan minyak nilam dapat meningkatkan diameter daerah hambat sabun transparan
minyak nilam terhadap bakteri S. epidermidis dan P. acnes.
Formula III
Pada formula ini digunakan minyak kelapa sebagai lemak atau minyak pembentuk sabun
dan NaOH sebagai basa pembentuk sabun. Dari kedua bahan ini akan terbentuk reaksi
penyabunan (saponifikasi). Penambahan gliserin dan gula pasir pada formula tersebut
berfungsi membantu pembentukan struktur transparan sabun. Metode pembuatan yang
digunakan menggunakan metode setengah panas (semi-boiled),
Sementara bahan alam yang digunakan adalah Aloe vera. Aloe vera memiliki gel yang
bersifat astringent, mengencangkan dan mengurangi iritasi. Aloe vera memiliki keasanan
pH yang natural sama dengan pH kulit manusia, hal ini dapat menghindari terjadinya
alergi kulit bagi pemakainya. Senyawa lignin dan polisakarida member kemampuan
untuk memebus kulit sekaligus sebagai media pembawa nutrisi yang diperlukan kulit.
Asam aminonya akan membantu perkembangan sel-sel baru serta beberapa mineral yang
digunakan untuk enzim dan saponin yang berfungsi sebagai antimikroba, dapat mencegah
timbulnya jerawat, detoksifikasi kulit, mengurangi peradangan serta peremajaan kulit,
dan menghilangkan sel-sel yang telah mati dari epidermis. Selain bermanfaat untuk kulit,
aloe vera juga bermanfaat dalam pembuatan sabun antara lain: Stigma stearat sebagai
pembantu dalam kekerasan pada sabun, asam oleat dapat membantu melembutkan kulit
dan menstabilkan busa, phospatidil etanolamin dapat membantu membunuh bakteri dan
sebagai pelarut pada air dan lemak, dan Sulfoquinovosil diglyserida sebagai pembantu
transparansi. Serta saponin selain dapat membantu membersihkan kulit dari minyak dan
kotoran, dapat meningkatkan jumlah busa.(12)
Adapun kriteria sabun transparent yang dihasilkan memiliki karakteristik beraroma aloe
vera, transparan dan dapat menembus <6cm, tekstur keras tidak berminyak, dan daya
buih mudah berbuih. Hasil uji mikrobiologi, tidak terdapat pengaruh dengan penambahan
sari aloe vera terhadap sediaan sabun transparan, jumlah mikroba pada sabun transparan
dengan jumlah koloni >10
5
.
29
Formula sendiri (IV)
Pada formula yang saya buat merupakan formula untuk menghasilkan sabun transparan.
Sabun transparan dipilih karena sabun transparan cenderung memiliki kadar yang lebih
ringan, selain itu secara estetika tampilan sabun transparan lebih menarik karena
tampilannya yang jernih. Metode pembuatan yang digunakan menggunakan metode
setengah panas (semi-boiled), karena waktu yang dibutuhkan untuk pembuatan jauh lebih
singkat dibandingkan dengan metode panas (full-boiled).
Pada formula ini minyak kelapa sebagai lemak atau minyak pembentuk sabun dan NaOH
sebagai Basa pembentuk sabun. Dari kedua bahan ini akan terbentuk reaksi penyabunan
(saponifikasi). Penambahan gliserin dan gula pasir pada formula tersebut berfungsi
membantu pembentukan struktur transparan sabun. Dan bahan aktif yang digunakan
berasal dari bahan alam, yakni ekstrak mentimun. Ekstrak mentimun ini didapatkan
dengan proses maserasi, sehingga diharapkan zat-zat berkhasiat dalam mentimun tidak
rusak. Mentimun sangat bermanfaat bagi kecantikan dan kesehatan kulit karena memiliki
kandungan air yang tinggi,kaya akan vitamin A, B, C serta beberapa mineral seperti
Mangan, Silika, Magnesium dan Kalium. Adanya kandungan silica pada mentimun ini
lah yang diharapkan dapat menyerap kelebihan minyak yang ada pada kulit. Selain itu,
mentimun dapat bersifat sebagai astringent sehingga dapat memperkecil pori-pori pada
kulit dan akhirnya dapat mengontrol pengeluaran minyak agar tidak berlebih.
30
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
1. Secara umum karakteristik sabun wajah yang dihasilkan ialah beraroma khas sesuai
sediaan yang dihasilkan, meiliki tekstur yang keras, memiliki daya buih yang baik, untuk
sabun transparan tampilan harus jernih (transparan), tidak terjadi perubahan (fisika dan
kimia) selama proses penyimpanan.
2. Komponen dalam pembuatan sabun meliputi basa dengan lemak/asam lemak/minyak
untuk reaksi saponifikasi, zat aktif dan bahan tambahan lain (pewangi, antioksidan,
pewarna, dll). Sementara penggunaan gliserin, etanol dan sukrosa berfungsi untuk
pembentukan struktur transparan sabun.
3. Sediaan pada formula IV yang dihasilkan diharapkan memiliki karakteristik daya
transparansi yang baik, berwarna bening agak kehijauan, beraroma mint, memiliki tekstur
keras, daya buih yang baik, serta stabil selama masa penyimpanan. Adanya kandungan
silica pada mentimun diharapkan dapat menyerap kelebihan minyak yang ada pada kulit.
4.2 Saran
Sebaiknya dilakukan percobaan mengenai jumlah konsentrasi ekstrak mentimun yang
efektif untuk mengontrol pengeluaran minyak pada kulit. Serta dilakukan pembuatan
terhadap formula-formula tersebut sehingga dapat dilakukan evaluasi terhadap sedian
tersebut, baik evaluasi secara fisik maupun evaluasi uji keamanan sabun wajah. Sehingga
dapat ditemukan formula sabun wajah yang benar-benar efektif untuk mengatasi kulit
wajah yang berminyak.
31
DAFTAR PUSTAKA
1. Cara Alami Mengatasi Kulit Berminyak. Diambil dari situs
http://www.pastipinter.com/2013/03/cara-alami-mengatasi-kulit-berminyak.html. di akses
tanggal 16 Mei 2014
2. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1993. Kodeks Kosmetika Indonesia, edisi 11.
Vol I. Jakarta: Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan.
3. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia, edisi IV.
Jakarta: Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan.
4. Ganong, W.F. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC.
5. Iswari, Retno. 2007. Buku Pegangan Ilmu Pengetahuan Kosmetik. Jakarta: PT. gramedia
Pustaka Utama.
6. Jenis dan fungsi sabun. di ambil dari http://www.hanyawanita.com/beuty/tips/article.htm.
diakses tanggal 12 mei 2014.
7. Manfaat Timun untuk Kulit Wajah. Di ambil dari situs http://manfaatsehat.com/manfaat-
timun-untuk-kulit-wajah/. Diakses tanggal 16 mei 2014
8. Manfaat mentimun untuk kecantikan wajah. Diambil dari situs http://anekacara-
tips.blogspot.com/2013/11/manfaat-mentimun-untuk-kecantikan-wajah.html. Diakses
tanggal 16 mei 2014
9. Moffat, dkk.2004. At a Glance Anatomy. Jakarta: Penerbit Erlangga.
10. Nina. 2007. Kajian Penggunaan Lidah Buaya (Aloe vera). (online)
file:///J:/refrensi%20new/KAJIAN%20PENGGUNAAN%20LIDAH%20BUAYA%20%
28Aloe%20vera%29%20%20%20bismillah.htm. Diakses tanggal: 16 mei 2014
11. Poucher, WA. 1979. Parfumes, Cosmetic and Soap, 2
nd
Ed Vo. 1. London: Chapman and
Hall.
12. Putri, Ike Anjani Roso dan Suhartiningsih. 2014. Pengaruh penambahan Sari aloe vera
terhadap sifat fisik dan masa simpan sediaan sabun transparan untuk wajah. e-journal,
vol. 03 No. 02 tahun 2014, edisi Yudisium Periode Juni 2014, hal. 23 29.
13. Ridley. 1987. US Patent No. 4,678,598. Transparent or tranclucent Toilet Bars
Containing a smectite-type clay.
32
14. Rieger MM, editor. 2000. Harry's cosmeticology. 8
lh
ed. New York: Chemical Publishing
Co. Inc.
15. Sherwood, L. 2001. Figiologi Manusia: dari Sel ke Sistem. Jakarta: EGC
16. Sinatriya, Muqitta. 2009. Sifat Organoleptik Sabun Transparan dengan Penambahan
Aloe Vera, Bogor
17. Wade, A. Weller PJ, editors. Handbook of Pharmaceutical excipient, 2
nd
Ed. London:
American Pharmaceutical Press.
18. Hambali, E. M. Rival dan Ani Suryani. 2005. Membuat Sabun Transparan untuk Gift dan
Kecantikan. Jakarta: Penerbar Swadaya.
19. Standar Nasional Indonesia. 1994. SNI No. 06-3532-1994. Jakarta: Dewan Standarisasi
Nasional.
20. Srivasta, SB. 1974. Small Scale Manufacture of Soap and Detergent ed. 26
th
. New Delhi:
Small Industries Research Institute.
21. Mitsui, T. 1993. New Cosmetic Science. Amsterdam: Elsevier.
22. Umbach, W. 1991. Cosmetic and Toiletries and Use, 1
st
Edition. New York: Ellis
Horwood Limited.
23. Supandi dan Sri Nevi Gantini. 2011. Formulasi Sabun Transparan Minyak Nilam
Sebagai Obat Jerawat. Jakarta: Lembaga Penelitian & Pengembangan Uhamka.
33
DISKUSI DAN PERTANYAAN
1. Pertanyaan Oleh : Rika Revina
Apakah ada perbedaan komponen sabun untuk kulit berminyak dengan sabun untuk kulit
sensitive?
Perbedaannya hanya terdapat pada zat aktifnya saja, jika untuk kulit berminyak zat aktif
yang digunakan harus bisa mengatasi kelebihan minyak di wajah. Sementara untuk kulit
sensitive bahan yang digunakan harus untuk kulit snstif dan jenis surfaktan yang
digunakan harus lebih ringan agar tidak mengiritasi, misalnya menghindari penggunaan
basa-basa kuat seperti NaOH, dan KOH.
2. Pertanyaan Oleh: Andri Prasetya
Apa komponen khusus untuk sabun transparan dan berapa % yang anda gunakan?
Komponen yang digunakan untuk pembentuk struktur transparan adalah gliserin, gula,
dan etanol. Dengan presentase yang saya gunakan:gliserin 15%, gula 7%, dan etanol
20%.
3. Pertanyaan Oleh: Subur Widodo
Bagaimana memperoleh ekstrak yang anda gunakan?apakah dengan konsentrasi tersebut
tidak memepengaruhi bentuk sediaan, terutama tingakat transparansi?
Ekstrak yang saya gunakan didapat melalui proses maserasi dengan alcohol 96%
kemudian dipekatkan. Sementara kadar yang saya gunakan ialah 7%, hal ini diharapkan
ektrak tersebut dapat berkerja baik untuk mengurangi kelebihan minyak di wajah. Namun
untuk kestabilan bentuk sediaan dan tingkat transparansi masih belum saya ketahui
karenanya diperluran trial untuk mengetahui berapa % konsentrasi ekstrak yang paling
efektif untuk membuat sediaan sabun wajah transparan dan dapat mengatasi minyak di
wajah.