Anda di halaman 1dari 27

Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan

BAB III Urusan Desentralisasi


LPPD Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2012 128
13. URUSAN KETAHANAN PANGAN
a. Program dan Kegiatan.
Program dan kegiatan urusan ini dilaksanakan oleh Badan Ketahanan
Pangan Provinsi Kalimantan Selatan, pada Tahun Anggaran 2012 sesuai
dengan DPA-SKPD melaksanakan 4 program yang terdiri dari 39 kegiatan,
yaitu :
1) Program Pelayanan Administrasi Perkantoran.
2) Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur.
3) Program Peningkatan Pengembangan Sistem Pelaporan Capaian Kinerja
dan Keuangan.
4) Program Peningkatan Ketahanan Pangan (Pertanian/Perkebunan).
b. Tingkat Pencapaian Standar Pelayanan Minimal.
Berikut ini adalah uraian hasil kegiatan yang telah dilaksanakan untuk
program peningkatan ketahanan pangan (pertanian/ perkebunan),
program ini dianggarkan sebesar Rp 5.994.852.000,00 dengan realisasi Rp
4.389.259.500,00 atau 73,22%. Hasil pelaksanaan program yaitu
dilaksanakannya kegiatan-kegiatan:
1) Penanganan Daerah Rawan Pangan (PDRP);
a) Sasaran
Seiring tujuan kegiatan PDRP, maka sasaran kegiatan PDRP adalah
terantisipasinya kejadian rawan pangan secara dini, serta
tertanggulanginya kejadian rawan pangan transien dan kronis.
Sedangkan sasaran penerima manfaat diarahkan kepada masyarakat
yang terindikasi rawan pangan.
b) Hasil Kegiatan
Pada tahun 2012, FSVA dilanjutkan dengan FSVA Kabupaten
dengan tingkat analisis sampai tingkat desa. FSVA Kabupaten ini
menggunakan indikator yang berbeda dengan FSVA Nasional maupun
FSVA Provinsi karena ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan,
yaitu karakteristik desa berbeda dengan karakteristik kabupaten dan
kecamatan, serta ketersediaan data sampai tingkat desa. Walaupun FIA
dan FSVA berhasil mengungkap perbedaan tingkat ketahanan dan
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan
BAB III Urusan Desentralisasi
LPPD Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2012 129
kerentanan pangan dan gizi di Indonesia tetapi belum ada alat yang
dapat digunakan untuk menganalisis dan mengklasifikasikan
ketahanan dan kerentanan pangan pada tingkat desa. Penyusunan
FSVA sampai tingkat desa dikembangkan sebagai suatu alat baru yang
dipergunakan untuk perencanaan dan pengambilan keputusan dalam
mengidentifikasi desa yang membutuhkan perhatian khusus dalam hal
ketahanan pangan dan gizi. Pengembangan FSVA tingkat desa
dianggap hal penting, dimana kondisi ekologi dan kepulauan yang
membentang dari timur ke barat, kondisi iklim yang dinamis dan
keragaman sumber penghidupan msyarakat menunjukkan adanya
perbedaan situasi ketahanan pangan dan gizi di masing-masing
wilayah. FSVA Kabupaten akan menjadi alat yang sangat penting dalam
perencanaan dan pengambilan keputusan untuk mengurangi
kesenjangan ketahanan pangan merupakan tantangan besar. Di tahun
2012 ada 3 Kabupaten yang membuat FSVA Kabupaten dengan tingkat
analisis sampai tingkat desa yaitu Kabupaten Balangan, Barito Kuala
dan Hulu Sungai Utara.
Berdasarkan Peta FSVA Kabupaten dengan tingkat analisis sampai
tingkat desa, untuk Prioritas 1 merupakan prioritas utama yang
menggambarkan tingkat kerentanan yang paling tinggi, sedangkan
prioritas 6 merupakan prioritas yang relatif lebih tahan pangan.
Dengan kata lain, wilayah (kecamatan) prioritas 1 memiliki tingkat
resiko kerawanan pangan yang lebih besar dibandingkan wilayah
(kecamatan) lainnya sehingga memerlukan perhatian segera.
Meskipundemikian, wilayah (kecamatan) yang berada pada prioritas 1
tidak berarti semua penduduknya berada dalam kondisi rawan
pangan, juga sebaliknya wilayah (kecamatan) pada prioritas 6 tidak
berarti semua penduduknya tahan pangan. Adapun untuk hasil per
Kabupatennya sebagai berikut :
Kabupaten Balangan
Berdasarkan hasil analisis tersebut, dari 152 desa yang ada di
Kabupaten Balangan maka didapatkan 7 desa (Prioritas 1), 13 desa
(Prioritas 2), 3 desa (Prioritas 3), 39 desa (Priorotas 4), 46 desa
(Prioritas 5) dan 44 desa (Prioritas 6).
Kabupaten Barito Kuala
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan
BAB III Urusan Desentralisasi
LPPD Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2012 130
Berdasarkan hasil analisis tersebut, dari 200 desa yang ada di
Kabupaten Barito Kuala maka didapatkan 24 desa (Prioritas 1), 12
desa (Prioritas 2), 9 desa (Prioritas 3), 72 desa (Prioritas 4), 54
desa (Prioritas 5) dan 29 desa (Prioritas 6).
Kabupaten Hulu Sungai Utara
Berdasarkan hasil analisis tersebut, dari 219 desa yang ada di
Kabupaten Hulu Sungai Utara didapatkan 26 desa (Prioritas 1), 31
desa (Prioritas 2), 14 desa (Priorotas 3).
Salah satu kegiatan penanganan daerah rawan pangan tahun
2012 adalah pembelian gabah dalam rangka penanganan daerah
rawan pangan yang diberikan kepada 20 desa rawan pangan yang
tersebar di 8 kabupaten. Daftar penerima bantuan gabah ini disajikan
dalamTabel 3.6. berikut ini :
Tabel 3.6.
Penetapan Alokasi Jumlah Gabah
Dalam Rangka Penanganan Daerah Rawan Pangan Tahun 2012
No Daerah Rawan Pangan
Jumlah Gabah
yang Diterima
(Ton)
1 Desa Handil Birayang Bawah RT 6 RW 2 Kecamatan Bumi
Makmur Kabupaten Tanah Laut
1,1
2 Desa Panjaratan RT/RW 09/III Kecamatan Pelaihari
Kabupaten Tanah Laut
1,1
3 Desa Kali Besar Kecamatan Kurau Kabupaten Tanah Laut 1,1
4 Desa Kayu Abang Kecamatan Tambang Ulang Kabupaten
Tanah Laut
1,1
5 Padang Luar/Amuntai Utara Kabupaten Hulu Sungai Utara 1,1
6 Tandilang/Batang Alai Timur Kabupaten Hulu Sungai
Tengah
1,1
7 Cukan Lipai/Batang Alai Selatan Kabupaten Hulu Sungai
Tengah
1,1
8 Desa Murung B RT/RW IV Kecamatan Hantakan Kabupaten
Hulu Sungai Tengah
1,1
9 Desa Pauh RT/RW 01 Kecamatan Limpasu Kabupaten Hulu
Sungai Tengah
1,1
10 Desa Maringit RT 03 RW 02 Kecamatan Batang Alai Utara
Kabupaten Hulu Sungai Tengah
1,1
11 Desa Setiap RT 004 Kecamatan Pandawan Kabupaten Hulu
Sungai Tengah
1,1
12 Desa Aluan Sumur RT/RW 04/II Kecamatan Batu Benawa
Kabupaten Hulu Sungai Tengah
1,1
13 Desa Muning Baru RT 02 KM 06 Kecamatan Daha Selatan
Kabupaten Hulu Sungai Selatan
1,1
14 Desa Balimau RT 03 Kecamatan Kalumpang Kabupaten Hulu
Sungai Selatan
1,1
15 Desa Panjampang Bahagia Kecamatan Simpur Kabupaten
Hulu Sungai Selatan
1,1
16 Desa Muning Tengah Kecamatan Daha Selatan Kabupaten
Hulu Sungai Selatan
1,1
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan
BAB III Urusan Desentralisasi
LPPD Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2012 131
No Daerah Rawan Pangan
Jumlah Gabah
yang Diterima
(Ton)
17 Desa Marampiau Hilir RT/RW 03/II Kecamatan Candi Laras
Utara Kabupaten Tapin
1,1
18 Desa Pandulangan RT 04 RW II Kecamatan Tapin Tengah
Kabupaten Tapin
1,1
19 Desa Masta RT 02 RW II Kecamatan Bakarangan Kabupaten
Tapin
1,1
20 Desa Keramat Baru Kecamatan Martapura Barat Kabupaten
Banjar
1,1
Sumber : BKP Prov. Kalsel
2) Analisis dan Penyusunan Pola Konsumsi dan Suplai Pangan.
a) Sasaran
Tersedianya informasi tentang pola konsumsi masyarakat di
Kalimantan Selatan
Tersusunnya program pola konsumsi untuk masyarakat di
Kalimantan Selatan
Terwujudnya ketahanan pangan ditingkat rumah tangga melalui
peningkatan akses masyarakat terhadap pola konsumsi yang lebih
baik yaitu memenuhi gizi seimbang
b) Hasil Kegiatan
Pengumpulan data konsumsi pangan dilakukan dengan cara
survey dengan metode mengingat-ingat (food recall method). Pada
prinsipnya metode pengumpulan data konsumsi ini dilakukan
dengan cara mencatat jenis dan jumlah bahan makanan yang
dikonsumsi pada masa 24 jam yang lalu melalui wawancara.
Teknik pengambilan contoh yang digunakan dalam design survey
konsumsi pangan wilayah adalah kombinasi area sampling technique.
Disamping itu prinsip keterwakilan angka kecukupan gizi keluarga
maka penentuan keluarga yang dijadikan sampel pada tingkat desa
sebagai wilayah terkecil dilakukan secara purposive.
Hasil pemantauan konsumsi gizi Provinsi Kalimantan Selatan
tahun 2011, konsumsi energi sebesar 1.624 Kkal/kapita/hari dan
protein sebesar 56,2 gram/kapita/hari. Konsumsi energi tertinggi
adalah komoditas padi-padian sebesar 921,6 kkal/kapita/hari dan
konsumsi energi terendah adalah pada komoditas lain-lain sebesar
11,8 kkal/kapita/hari. Komposisi sumbangan energi dari tiap
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan
BAB III Urusan Desentralisasi
LPPD Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2012 132
kelompok bahan makanan pengaruhnya sangat besar pada naik
turunnya skor PPH. Analisis penilaian konsumsi pangan dengan PPH,
hampir semua responden mengkonsumsi energi asal padi-padian
secara dominan dan masih kurang mengkonsumsi umbi-umbian,
serta masih kurangnya konsumsi sayuran dan buah.
3) Monitoring, Evaluasi dan Pelaporan Kebijakan Perberasan.
a. Sasaran
Terkumpul dan terpantaunya data produksi di tingkat kabupaten
oleh petugas pemantauan ketersediaan pangan pokok kebaupaten
untuk dianalisis dan dilaporkan ke bidang ketersediaan dan
kerawanan pangan Badan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan
Selatan.
b. Hasil Kegiatan
Dari kegiatan monitoring, evaluasi dan pelaporan kebijakan
perberasan beberapa hal yang bisa dilaporkan adalah bahwa
pemerintah daerah agar lebih memperhatikan kebijakan dalam
upaya menjaga stabilitas komoditas yang memiliki kontribusi dan
bersifat persisten tinggi, yaitu beras yang masuk dalam volatile food.
Perlu diperhatikan pula bahwa karakteristik masyarakat Kalimantan
Selatan yang lebih menyukai mengkonsumsi beras lokal.
Karena nilai inflasi dipengaruhi oleh ekspektasi masyarakat yang
berlebihan, maka perlu disusun sebuah kebijakan daerah yang dapat
meredam atau mengendalikan ekspektasi masyarakat. Mencegah
timbulnya spekulan harga perlu dilakukan koordinasi pihak terkait
yang lebih intens. Mencermati kebutuhan dan produksi beras,
surplus beras tidak berimbas pada harga beras di pasaran. Potensi
ekspor luar Kalimantan Selatan (untuk kebutuhan industri dan
rumah tangga) turut menyumbang tingginya harga beras di
Kalimantan Selatan.
Menjelang dan selama hari besar dan keagamaan nasional
(HBKN) tahun 2012 seperti pada hari raya idul fitri, idul adha, natal
dan tahun baru dapat dilaporkan bahwa ketersediaan beras cukup
dan tersedia. Meskipun mengalami kenaikan harga tetapi masih
dalam batas kewajaran..
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan
BAB III Urusan Desentralisasi
LPPD Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2012 133
4) Pemanfaatan Pekarangan Untuk Pengembangan Pangan
a. Sasaran
Meningkatkan partisipasi kelompok wanita dalam penyediaan
sumber pangan keluarga yang beragam, bergizi seimbang dan aman
melalui pemanfaatan pekarangan sebagai penghasil sumber
karbohidrat, vitamin, mineral dan protein untuk konsumsi keluarga.
Meningkatnya motivasi, partisipasi dan aktifitas masyarakat dalam
penganekaragaman konsumsi pangan.
b. Hasil Kegiatan
Sosialisasi konsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang dan
aman serta optimalisasi pemanfaatan pekarangan kepada kelompok
penerima manfaat yang dilakukan dengan metode sekolah lapang.
Pemanfaatan pekarangan, dimana setiap anggota kelompok wanita
penerima manfaat, memiliki lahan pekarangan/kebun kelompok untuk
dapat dijadikan sebagai sumber pangan dan pendapatan keluarga.
Peran serta penyuluh pendamping yang berperan dalam
pelaksanaan kegiatan di lapangan sangat membantu dalam kegiatan di
lapangan. Pendampingan difokuskan pada pengolahan budidaya
tanaman yang dilaksanakan pada demplot atau lahan pekarangan
anggota yang merupakan sumber karbohidrat, protein, vitamin dan
mineral, pengelolaan panen dan pasca panen, pengolahan bahan
pangan, penyusunan menu dan penyajian pangan yang beragam,
bergizi seimbang dan aman berbasis pangan lokal bagi keluarga setiap
harinya, serta cara beternak ayam buras, itik atau puyuh.
Adapun kegiatan-kegiatan dalam rangka pemanfaatan
pekarangan yang telah dilaksanakan adalah sebagai berikut :
1) Perkarangan Percontohan
Melalui anggaran APBD I Provinsi Kalimantan Selatan diberikan
anggaran untuk pekarangan percontohan pada 2 (dua) lokasi yaitu
Kota Banjarbaru dan Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Besarnya
anggaran untuk lokasi percontohan adalah sebagai berikut :
- Honor pengolah lahan (4 org x 1 kl x 2 lokasi x Rp 750.000) Rp.
6.000.000,-
- Honor pemeliharaan kebun (2 org x 10 bln x 2 lokasi x Rp
500.000) Rp.20.000.000,-
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan
BAB III Urusan Desentralisasi
LPPD Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2012 134
- Pembelian bibit dan saprodi (2 paket x Rp 10.000.000) Rp.
20.000.000,-
2) Lomba Perkarangan
Penilaian lomba pekarangan tingkat provinsi dilaksanakan pada
bulan September tahun 2012 dengan tim juri penilaian lomba dari
Badan Ketahanan Pangan, Universitas Lambung Mangkurat, Dinas
Pertaniaan Tanaman Pangan, Dinas Perindustriaan dan
Perdagangan, Dinas Koperasi, Dinas Kesehatan dan Tim Penggerak
PKK tingkat Provinsi Kalimantan Selatan. Hadiah diberikan dalam
bentuk hibah paket pengolahan hasil yang diserahkan oleh ketua
Tim Penggerak PKK Provinsi Kalimantan Selatan Ibu Hayatun
Fardah Rudi Arifin pada acara penutupan Work Shop Pemanfaatan
Pekarangan untuk pengembangan Pangan pada hari Rabu tanggal
07 November 2012 di Hotel Banjarmasin Internasional (HBI).
Adapun pemenangnya adalah :
Juara I : Kelompok Wanita Tani Kenaga, Desa Harapan
Masa Kabupaten Tapin
Juara II : Kelompok Wanita Tani Makarti Mukti, Desa
Sidomakmur Kabupaten Tanah Bumbu
Juara III : Kelompok Wanita Tani Anggrek Desa
Sidomakmur Kabupaten Barito Kuala
Harapan I : Kelompok Wanita Tani Cempaka Kabupaten
Hulu Sungai Utara
Harapan II Kelompok Wanita Tani Harapan Kita Desa Tirta
Jaya Kabupaten Tanah Laut
Harapan III Kelompok Wanita Tani Suka Maju Kabupaten
Tabalong
3) Pemberiaan Bibit Tanaman, Pupuk dan Pestisida
Untuk kegiatan pemanfaatan pekarangan untuk pengembangan
pangan Badan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Selatan
menerima dana APBDP untuk pemberiaan bibit, pupuk dan
pestisida ke masyarakat ada 3 Kabupaten yang menerima bantuan
tersebut yaitu Kabupaten Banjar, Tanah Laut dan Barito Kuala, yang
masing-masing Kabupaten terdiri dari 4 Kelompok, sedangkan
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan
BAB III Urusan Desentralisasi
LPPD Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2012 135
untuk kebun percontohan PKK pada 13 Kab/Kota masing-masing
mendapat bibit/tanaman sayuran, buah, pupuk dan pestisida.
Penyerahan langsung diantar kelokasi masing-masing..
5) Pemantauan dan Analisis Akses Pangan Masyarakat.
a. Sasaran
Teridentifikasinya wilayah yang akses pangannya rendah
berdasarkan titik-titik rawan akses pangan di wilayah pedesaan dan
perkotaan;
Terlaksananya pembuatan peta analisis akses pangan pedesaan dan
perkotaan;
Terlaksananya analisis akses pangan pedesaan dan perkotaan;
Tersusunnya peta analisis akses pangan pedesaan dan perkotaan.
b. Hasil Kegiatan
Berdasarkan hasil pemetaan komposit (gabungan) di 2 kota yang
ada di Provinsi Kalimantan Selatan masing-masing masuk dalam
prioritas 5 atau akses pangan tinggi. Kondisi akses pangan di
perkotaan mengalami peningkatan dibanding tahun 2011. Pada tahun
2011 kedua kota tersebut berada pada kondisi akses pangan cukup
tinggi dan berubah menjadi kondisi akses pangan tinggi pada tahun
2012.
Hasil analisis situasi akses pangan pedesaan tahun 2011 sebagian
besar yakni sebanyak 8 kabupaten di Provinsi Kalimantan Selatan
berada pada gradasi warna hijau muda yang artinya sebagian besar
kabupaten di Provinsi Kalimantan Selatan akses pangannya berada
pada kondisi cukup tinggi. Adapun rinciannya yaitu Kabupaten
Tabalong, Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan,
Tapin, Banjar, Tanah Laut dan Kotabaru. Sedangkan sebanyak 3
kabupaten berada pada gradasi merah muda yang masuk dalam
kondisi akses pangan cukup rendah yaitu Kabupaten Balangan, Barito
Kuala, Tanah Bumbu.
Pada Tahun 2012 terdapat 6 kabupaten yang mengalami
peningkatan akses pangan yakni 3 kabupaten (Tanah Laut, Kotabaru
dan Tabalong) dari priotas 4 menjadi prioritas 5 atau dari kondisi
akses pangan cukup tinggi menjadi akses pangan tinggi; 2 kabupaten
(Barito Kuala dan Tanah Bumbu) dari prioritas 3 menjadi prioritas 4
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan
BAB III Urusan Desentralisasi
LPPD Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2012 136
atau dari kondisi akses pangan cukup rendah menjadi akses pangan
cukup tinggi; dan 1 kabupaten (Balangan) dari prioritas 3 menjadi
prioritas 5 atau dari kondisi akses pangan cukup rendah menjadi akses
pangan tinggi.
Sedangkan 5 kabupaten (Banjar, Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu
Sungai Tengah dan Hulu Sungai Utara) tidak mengalami peningkatan
akses pangan/ tetap pada prioritas 4 atau kondisi akses pangan
cukup tinggi.
6) Pemantauan dan Analisis Harga Pangan Pokok
a. Sasaran
Tersedianya data dan informasi harga pangan di tingkat produsen
dan konsumen
Tersedianya model analisis harga pangan.
b. Hasil Kegiatan
Pemantauan dan analisis Harga Pangan Tingkat Konsumen dan
Produsen.
Pemantauan dan analisis ini dilaksanakan untuk memantau dan
menganalisa harga pangan di tingkat konsumen dan produsen.
Kegiatan ini dilaksanakan di provinsi maupun di kabupaten/kota
Pemantauan Harga pada Hari Keagamaan dan Hari Besar Nasional
Kegiatan ini dilaksanakan untuk memantau dan mengevaluasi
perkembangan harga pangan dalam menghadapi hari-hari besar
seperti: Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, Hari Natal, dan Tahun
Baru. Kegiatan yang dilakukan antara lain : menyusun prognosa
ketersediaan dan kebutuhan pangan; meningkatkan pemantauan
stok dan harga pangan; sidak ke sentra produksi, pasar induk,
eceran, ke gudang pangan pemerintah dan non pemerintah; rapat
koordinasi (distributor pangan, pemuka agama); mengintensifkan
dan memperbanyak lokasi pasar murah/pasar masyarakat; dan
menyampaikan informasi melalui elektronik lebih intensif.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan
BAB III Urusan Desentralisasi
LPPD Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2012 137
7) Pengembangan Cadangan Pangan Daerah
a. Sasaran
Pada 53 kelompok lumbung pangan masyarakat yang terdiri dari 25
kelompok (tahap pengembangan) 16 kelompok baru (tahap
kemandirian) dan 13 kelompok lama (yang mandiri)
b. Hasil Kegiatan
Tahun 2012 pengembangan cadangan pangan masyarakat telah
memasuki tahap pengembangan dan tahap kemandiriaan. Kegiatan
utamanya penguatan modal kelembagaan lumbung pangan yang
berfungsi untuk meningkatkan kesejahteraan anggota dan insentif
untuk mempertahankan atau meningkatkan cadangan pangan yang
dikelola oleh kelompok.
Pada tahap pengembangan melalui Surat Keputusan Kepala Badan
Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2012 tentang
penetapan kelompok pelaksana penerima pemanfaatan dana bansos
lumbung DAK 2011 Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2012. Selain
pencairan dana bansos terhadap lumbung pangan DAK tahun 2011
juga dilaksanakan pencairan dana bansos terhadap kelompok lumbung
pangan secara bersamaan berdasarkan surat realokasi pencairan dana
bansos dari Badan Ketahanan Pangan Pusat Kementrian Pertaniaan.
Pada Tahap Kemandiriaan melalui Surat Keputusan Kepala Badan
Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2012 tentang
penetapan kelompok penerima dana bansos Lumbung DAK 2010
(Tahap pengembangan) Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2012.
Untuk cadangan pangan pemerintah di tahun 2012, Provinsi
Kalimantan Selatan melaksanakan pembangunan Gudang Cadangan
Pangan Pemerintah Kabupaten/Kota di 7 kabupaten dengan jumlah 8
unit Gudang Cadangan Pangan yaitu di kabupaten Tanah Bumbu (1
unit Gudang Cadangan Pangan), Tapin (1 unit Gudang Cadangan
Pangan), Tanah Laut (1 unit Gudang Cadangan Pangan), Barito Kuala
(1 unit Gudang Cadangan Pangan), Hulu Sungai Utara (1 unit Gudang
Cadangan Pangan), Kotabaru (2 unit Gudang Cadangan Pangan), dan
Banjar (1 unit Gudang Cadangan Pangan). Gudang Cadangan Pangan
Pemerintah tersebut masih dalam proses pembangunan.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan
BAB III Urusan Desentralisasi
LPPD Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2012 138
Kegiatan yang tidak terealisasi pada tahun anggaran 2012 untuk
pembelian beras untuk cadangan pangan pemerintah, setelah melalui
konsultasi dengan LKPP di Jakarta, BPKP Provinsi Kalimantan Selatan
dan belajar ke Provinsi Jawa Barat yang telah melaksanakan kegiatan
serupa maka mekanisme pengadaan menuntut kehati-hatian dengan
sisa waktu di TA 2012 sangat terbatas. Apabila mengikuti atau
menindak lanjuti saran dari LKPP dengan mekanisme lelang terbuka,
maka dipastikan waktu yang ada tidak terpenuhi, dan apabila
mengikuti atau menindak lanjuti saran dari BPKP Provinsi Kalimantan
Selatan proses MoU antara Kepala Bulog dan Gubernur Kalimantan
Selatan tidak sempat selesai pada tahun 2012 padahal proses tersebut
sudah dijalani/dilaksanakan. Pada tahun 2013 pemerintah pusat
dalam hal ini BKP Kementerian Pertaniaan akan membuat pedoman
umum Pengadaan Cadangan Pangan Pemerintah, yang proses
penyusunannya dibahas bersama dan dikonsultasikan dengan LKPP
dan Bulog. Dan pada tahun anggaran 2013 melalui dan APBD Provinsi
Kalimantan Selatan kembali menganggarkan pembelian beras untuk
cadangan pangan pemerintah.
Salah satu kegiatan pengembangan cadangan pangan daerah tahun
2012 melalui dana APBD adalah pembelian gabah untuk cadangan
pangan yang diberikan kepada 14 kelompok di 14 desa yang tersebar
di 6 kabupaten. Daftar penerima bantuan gabah ini disajikan dalam
Tabel 3.7. berikut ini.
Tabel 3.7.
Alokasi Gabah Dalam Rangka Pengembangan Cadangan Pangan Daerah
Untuk Penguatan Cadangan Pangan Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2012
No Kabupaten Desa Kecamatan
Nama
Kelompok
Alokasi
(Ton)
1 Tanah Laut Sumber Makmur Takisung Lestari Makmur 1
Karang Rejo Jorong Unggul II 1
Tanjung Dewa Penyipatan Rezeky Tanjung 1
Panjaratan Pelaihari Mufakat 1
2 Kotabaru Cantung Kiri Hulu Hampang Serai Wangi 1
3 Tanah
Bumbu
Segumbang Bati Licin Mega Buana 1
Batarang Kusan Hilir Cahaya Padi 1
Sei. Lembu Kusan Hilir Sirennuang 1
Pakktellu Kusan Hilir Bunga Padi 1
4 Tapin Marampiau Hilir Candi Laras Utara Murai 1
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan
BAB III Urusan Desentralisasi
LPPD Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2012 139
No Kabupaten Desa Kecamatan
Nama
Kelompok
Alokasi
(Ton)
Bungur Baru Bungur Sejahtera
Bungur Baru
1
5 Hulu Sungai
Utara
Padang Luar Amuntai Utara Murah Rezeki 1
6 Hulu Sungai
Tengah
Tandilang Batang Alai Timur Serius 1
Cukan Lipai Batang Alai
Selatan
Sederhana II 1
Sumber : BKP Prov. Kalsel
8) Pengembangan Desa Mandiri Pangan
a. Sasaran
Rumah tangga miskin di desa rawan pangan untuk mewujudkan
kemandirian pangan masyarakat.
b. Hasil kegiatan
Kegiatan pengembangan desa mandiri pangan di Kalimantan Selatan
dimulai tahun 2006 dan sampai sekarang masih terus berjalan. Target
kegiatan ini dilaksanakan di 11 kabupaten. Sampai saat ini telah
terbentuk 13 desa inti, 39 desa replikasi, 27 desa lama, dan 9 desa baru
mandiri pangan.
Jumlah desa mandiri pangan di Kalsel tahun 2012 disajikan
sebagaimana Tabel 3.8. berikut :
Tabel 3.8.
Jumlah Desa Mandiri Pangan Di Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2012
(Tahap Persiapan Sampai Dengan Tahap Kemandiriaan)
No Kabupaten Desa/Kecamatan
Tahap
Persiapan
Tahap
Pertumbuhan
Tahap
Pengembangan
Tahap
Kemandiriaan
1 Tabalong Desa Binturu
Kecamatan
Kelua
- Desa Padangin
Kecamatan
Muara Harus
Desa Habali
Kecamatan
Banua Lawas
2 Hulu Sungai
Utara
- - - Desa T.Serikat
Kecamatan
Banjang
3 Hulu Sungai
Tengah
- - Desa Setiap
Kecamatan
Pandawan
Desa Pauh
Kecamatan
Limpasu
4 Hulu Sungai
Selatan
- - Desa
Panjampang
Bahagia
Kecamatan
Simpur
Desa Tabihi
Kecamatan
Padang Batung
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan
BAB III Urusan Desentralisasi
LPPD Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2012 140
No Kabupaten Desa/Kecamatan
Tahap
Persiapan
Tahap
Pertumbuhan
Tahap
Pengembangan
Tahap
Kemandiriaan
5 Tapin Desa Rawana
Hulu
Kecamatan
Candi Laras
Utara
Desa
Pandulangan
Kecamatan
Tapin Tengah
Desa Masta
Kecamatan
Bakarangan
Desa
Maramping
Hilir
Kecamatan
Candi Laras
Sealatn
Desa
Baramban
Kecamatan
Piani
6 Banjar Desa Tambak
Baru Ilir
Kecamatan
Martapura
Desa Kerambat
Baru Ulu
Kecamatan
Martapura
Timur
Desa Tambak
Baru Ulu
Kecamatan
Martapura
Desa Teluk
Selong Ulu
Kecamatan
Martapura
Barat
7 Barito Kuala Desa
Sampurna
Kecamatan
Jejangkit
Desa
Samuda
Kecamatan
Belawang
- Desa Handil
Barabai
Kecamatan
Barambai
Desa Simpang
Nungki
Kecamatan
Cerbon
8 Tanah Laut Desa Muara
Kintap
Kecamatan
Kintap
- Desa Kali Besar
Kecamatan
Kurau
Desa Tanjung
Dewa
Kecamatan
Panyipatan
9 Balangan Desa Bungur
Kecamatan
Batu Mandi
Desa Palajau
Kecamatan
Batu Mandi
- Desa Bungin
Kecamatan
Paringin
Desa
Awayan
Hilir
Kecamatan
Awayan
10 Tanah Bumbu Desa
Bakarangan
Kecamatan
Kusan Hulu
- Desa Beringin
Kecamatan
Kusan Hilir
Desa Tanete
Kecamatan
Kusan Hilir
Desa Muara
Pagatan
Tengah
Kecamatan
Kusan Hilir
11 Kotabaru Desa Sumber
Sari
Kecamatan
Pulau Laut
Barat
Desa Terangkih
Kecamatan
Pulau Laut
Barat
Desa
Hampang
Kecamatan
Hampang
Desa Cantung
Kiri Hulu
Kecamatan
Hampang
-
Sumber : BKP Prov. Kalsel
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan
BAB III Urusan Desentralisasi
LPPD Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2012 141
9) Pengembangan Lumbung Pangan Desa.
a. Sasaran
Sasaran pelaksanaan pengembangan lumbung pangan desa adalah
aparat pelaksana di pusat, provinsi dan kabupaten.
b. Hasil Kegiatan
Pada tahun 2012 ini tidak diadakan pembangunan lumbung pangan
yang diberdayakan. Total lumbung pangan yang dikembangkan sampai
tahun 2012 ini sebanyak 55 unit.
Salah satu kegiatan pengembangan lumbung pangan desa tahun 2012
melalui dana APBD adalah pembelian gabah untuk pengembangan
lumbung pangan yang diberikan kepada 11 kelompok di 11 desa yang
tersebar di 4 kabupaten. Daftar penerima bantuan gabah ini disajikan
dalam Tabel 3.9. berikut ini.
Tabel 3.9.
Alokasi Gabah Dalam Rangka Pengembangan Lumbung Pangan Desa
Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2012
No Kabupaten Desa Kecamatan Nama Kelompok
Alokasi
(Ton)
1 Tanah Laut Sumber Makmur Takisung Lestari Makmur 1
Karang Rejo Jorong Unggul II 1
Tanjung Dewa Penyipatan Rezeky Tanjung 1
Panjaratan Pelaihari Mufakat 1
2 Kotabaru Cantung Kiri
Hulu
Hampang Serai Wangi 1
3 Tanah Bumbu Segumbang Bati Licin Mega Buana 1
Batarang Kusan Hilir Cahaya Padi 1
Sei. Lembu Kusan Hilir Sirennuang 1
Pakktellu Kusan Hilir Bunga Padi 1
4 Tapin Marampiau Hilir Candi Laras Utara Murai 1
Bungur Baru Bungur Sejahtera Bungur
Baru
1
Sumber : BKP Prov. Kalsel
10) Peningkatan Mutu dan Keamanan Pangan
a. Sasaran
Sasaran kegiatan Pembinaan dan Pengawasan Keamanan Pangan
secara umum adalah terlaksananya kegiatan penanganan keamanan
pangan segar sedangkan secara khusus sebagai berikut :
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan
BAB III Urusan Desentralisasi
LPPD Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2012 142
1. Meningkatnya koordinasi lintas sektoral sebagai Tim Pokja
Keamanan Pangan (SK. Kepala Badan Nomor :
035/SK/BKP/I/2012 tanggal 24 Januari 2012
2. Eksistensi Kelembagaan Keamanan Pangan di 13 Kabupaten/Kota
3. Meningkatnya pengetahuan masyarakat melalui kegiatan
sosialisasi dan promosi keamanan pangan segar
4. Bertambahnya jumlah produk pangan segar buah import dan
sayuran yang di uji laboratorium 4 (empat) paket terhadap pangan
segar ikan kering, daging sapi olahan, daging ayam olahan dan hati
sapi.
5. Regulasi yang tepat dan efektif untuk meminimalisasi kasus
ketidakamanan pangan
6. Meningkatkan pengetahuan aparat/koordinasi di tingkat nasional
maupun dalam wilayah Kalimantan Selatan terhadap 13
Kabupaten/ Kota (Pertemuan, Konsultasi, Workshop, Perencanaan
dalam kegiatan Keamanan Pangan)
7. Pengawasan/Pembinaan yang berkelanjutan di 13 Kabupaten/
Kota yang menangani keamanan pangan dalam pengambilan
sampel di pasar-pasar tradisional/Hypermart.
b. Hasil Kegiatan :
Uji Laboratorium Keamanan Pangan Segar kerjasama dengan
Departemen Peternakan Kementrian Pertanian (Balai Penyidik
dan Pengujian Veteriner Regional V Banjarbaru) bulan September
Oktober 2012.
Uji Laboratorium (Diagnosa Laboratorium):
1. Ikan kering (Uji Formalin)
2. Daging sapi olahan (Uji Boraks,)
3. Daging ayam olahan (Uji Coliform dan Uji TPC)
4. Hati sapi (Uji Residu Kanamycin dan Uji Oxytetracyclin)
Uji Laboratorium Keamanan Pangan Segar kerjasama dengan Balai
Besar Penelitian dan Pengembangan Pasca Panen Pertanian
Badan Penelitian dan Pengawasan Pertanian Kementrian
Pertanian Bogor. Jenis analisa buah import ; jeruk santang, pear,
apel Fuji, apel USA dan anggur terhadap cemaran residu pe stisida
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan
BAB III Urusan Desentralisasi
LPPD Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2012 143
golongan Organochlor, Organophosphate, Karbamat dan
Pyrethoid.
11) Monitoring, Evaluasi dan Pelaporan.
a. Sasaran
Dipertahankannya ketersediaan pangan yang cukup, meningkatkan
kemandirian masyarakat, pemantapan ketahanan pangan dan
menurunnya tingkat kerawanan pangan.
Lancarnya distribusi dan stabilisasi harga pangan utama nabati dan
hewani di tingkat petani.
Percepatan diversifikasi pangan dan keamanan pangan masyarakat.
b. Hasil Kegiatan
Berdasarkan hasil kegiatan monitoring dan evaluasi maka ada
beberapa faktor yang mempengaruhi pencapaian output/outcome dari
kegiatan yang telah dilaksanakan Badan Ketahanan Pangan Provinsi
Kalimantan Selatan adalah : adanya perubahan-perubahan
nomenklatur di tingkat Kabupaten/Kota Kalimantan Selatan mengenai
Badan/Dinas/Unit/ Lembaga yang menangani Ketahanan Pangan;
pada beberapa kegiatan mengalami keterlambatan realisasi
pelaksanaan keuangan maupun fisiknya, karena terdapat revisi DIPA;
laporan dari kabupaten/kota untuk SKPG (sistem kewaspadaan
pangan dan gizi) belum masuk dan SK bupati untuk pembentukan tim
juga terlambat masuk; masih banyaknya sarana dan prasarana untuk
mendukung distribusi dan akses pangan yang kurang memadai; tidak
tersedianya peralatan pasca panen dan penggilingan yang memadai
ditingkat kelompok atau desa dalam mendukung lumbung pangan
masyarakat atau desa; SDM pengelola lumbung pangan belum terlatih
dengan baik untuk aspek teknis dan manajerial.
Pemecahan masalah yang dilaksanakan antara lain adalah
mengadakan sosialisasi untuk konsumsi pangan yang beragam, bergizi,
seimbang dan aman bagi penduduk di kabupaten; pembinaan terhadap
gapoktan yang berada di kabupaten/kota lebih ditingkatkan lagi;
untuk mendukung percepatan konsumsi pangan dan gizi sangat
diperlukan promosi dan sosialisasi untuk meningkatkan citra pangan
lokal secara lebih gencar melalui media cetak dan elektronik dengan
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan
BAB III Urusan Desentralisasi
LPPD Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2012 144
dukungan anggaran yang memadai; meningkatkan kerjasama
kelompok atau desa dalam pemanfaatan lumbung (khususnya
lumbung padi) dengan penggilingan padi atau lembaga usaha ekonomi
pedesaan terdekat.
Rekomendasi yang dapat disampaikan adalah : untuk
memperlancar tugas fungsi, kegiatan dan peningkatan capaian kinerja
diharapkan adanya keterpaduan dan koordinasi antara semua
bidang/sekretariat serta instansi terkait (lapangan); perlu adanya
dukungan sarana dan prasarana yang memadai dalam rangka
pengkajian, pemantauan serta evaluasi ketahanan pangan; perlu
dilakukannya peningkatan kompetensi aparatur pada lingkungan
internal Badan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Selatan,
terutama dikaitkan dengan tugas pokok dan fungsi yang diemban
sebagai organisasi yang berperan dalam menyelenggarakan
perumusan dan penetapan kebijakan teknis bidang ketahanan
pangan, serta penyelenggaraan pemberian dukungan atas
penyelenggaraan pemerintah daerah bidang ketahanan pangan; perlu
dikembangkan strategi koordinasi yang pada gilirannya akan
meningkatkan kinerja organisasi melalui dukungan ekternalitas
organisasi.
12) Peningkatan Manajeman Ketahanan Pangan;
Sasaran Program adalah meningkatnya ketahanan pangan melalui
pemberdayaan ketersediaan, distribusi, konsumsi dan keamanan pangan
segar, di tingkat masyarakat serta terkoordinasinya kebijakan ketahanan
pangan:
Tersusunnya program dan kegiatan ketahanan pangan provinsi dan
kabupaten/kota Tahun 2013.
Adanya sinergitas perencanaan program ketahanan pangan provinsi
dan kabupaten/kota tahun 2013.
Tersusunnya RKA SKPD ketahanan pangan tahun 2013.
Pada pertemuan penyusunan rencana kerja ketahanan pangan
tahun 2013 disepakati beberapa rumusan mensinkronkan Rencana Kerja
SKPD yang dituangkan dalam Renja SKPD Ketahanan Pangan tahun 2013
mulai dari tingkat Kabupaten/Kota dan Provinsi; sasaran strategis Badan
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan
BAB III Urusan Desentralisasi
LPPD Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2012 145
Ketahanan Pangan tahun 2013 adalah a) mengurangi jumlah penduduk
rawan pangan dan mencegah masalah pangan, melalui pengembangan
Desa Mandiri Pangan, penanganan Daerah Rawan Pangan,
b)memantapkan stabilitas harga dan pasokan pangan melalui a)
penguatan Lembaga Distribusi Pangan Masyarakat dan Dana Penguatan
Modal Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan, Pengembangan Lumbung
Pangan, c) meningkatnya penganekaragaman konsumsi dan keamanan
pangan, serta mengurangi konsumsi beras melalui a) percepatan
Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) melalui SD/MI, kelompok
Wanita Tani, Pekarangan, b) penanganan keamanan pangan segar;
Strategi dalam pencapaian sasaran tahun 2013 antara lain :
a)melaksanakan koordinasi secara sinergis dalam penyusunan kebijakan
ketersediaan, distribusi, konsumsi pangan, dan keamanan pangan segar,
b) mendorong pengembangan cadangan pangan, sistem distribusi
pangan, penganekaragaman konsumsi dan keamanan pangan segar,
c)mendorong peran serta swasta, masyarakat sipil dan kelembagaan
masyarakat lainnya dalam ketersediaan, distribusi, konsumsi dan
keamanan pangan segar, d) menyelenggarakan program aksi
pemberdayaan masyarakat dalam memecahkan permasalahan ketahanan
pangan masyarakat, e) mendorong sinkronisasi pembiayaaan program
aksi antara APBN, APBD dan dana masyarakat, f) memecahkan
permasalahan strategis ketahanan pangan melalui mekanisme Dewan
Ketahanan Pangan.
13) Pengembangan Perstatistikan dan Informasi Ketahanan Pangan;
a. Sasaran
Sasaran dari kegiatan ini adalah tersedianya data ketahanan
pangan yang baku sebagai acuan untuk digunakan oleh provinsi dan
kabupaten/kota dalam menyusun database ketahanan pangan.
Sedangkan sasaran petugas yang menangani data/statistik di tingkat
provinsi dan kabupaten/kota sehingga dapat membangun kerangka
database ketahanan pangan secara maksimal dan berguna.
b. Hasil Kegiatan
Ketersediaan data dan informasi pada level kabupaten/kota
maupun wilayah administrasi yang lebih kecil pada level kecamatan
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan
BAB III Urusan Desentralisasi
LPPD Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2012 146
atau desa merupakan suatu hal yang sangat dibutuhkan. Bagi
pemerintah daerah, data dan informasi yang dihasilkan dari estimasi
area kecil akan sangat bermanfaat dalam penyusunan perencanaan,
pemantauan dan evaluasi pembangunan daerah atau kebijakan
penting lainnya.
Untuk mencapai keberhasilan tugas dan fungsi BKP dalam rangka
pemantapan ketahanan pangan, diperlukan dukungan data yang
terhimpun dalam database ketahanan pangan. Database ketahanan
pangan ini adalah database ketahanan pangan yang baku, yang diacu
dan digunakan oleh provinsi, dan kabupaten/kota dalam menyusun
data dan statistik ketahanan pangan. Database Ketahanan Pangan ini
dapat digunakan sebagai bahan untuk mengukur keberhasilan dan
sebagai acuan dalam menentukan kebijakan ketahanan pangan.
Salah satu upaya dalam rangka penyajian data-data ketahanan
pangan pada tahun 2012 telah dilaksanakan pembuatan buku pintar
ketahanan pangan.
Rumusan pertemuan analisis dan informasi ketahanan pangan
adalah sebagai berikut : dalam upaya penyediaan kebutuhan data dan
informasi statistik ketahanan pangan baik untuk pemerintah pusat
maupun daerah, serta untuk keperluan masyarakat luas secara cepat,
tepat dan akurat maka perlu adanya dukungan bagi peningkatan baik
kualitas dan kuantitas data statistik dan informasi ketahanan pangan;
penyediaan data ketahanan pangan seperti ketersediaan energy dan
protein, data harga pangan dan data konsumsi energi dan protein
juga merupakan salah satu Standar Pelayanan Minimal ketahanan
pangan yang harus dilaksanakan. Sehingga perlu adanya dukungan
angggaran yang memadai diharapkan dapat dianggarkan pada
masing-masing Badan/Kantor lingkup ketahanan pangan
kabupaten/kota; format penyusunan laporan data statistik harus
membuat data-data pokok ketahanan pangan seperti ketersediaan
pangan, distribusi pangan dan konsumsi serta keamanan pangan;
keberadaan website sebagai salah satu media informasi public yang
mudah, murah dan cepat diakses oleh masyarakat perlu adanya.
Sebagaimana diamanatkan Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2003
tentang e-government yaitu penyelenggaraan layanan masyarakat
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan
BAB III Urusan Desentralisasi
LPPD Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2012 147
secara lebih cepat, efektif, transparan, dan efisien oleh instansi
pemerintah menggunakan teknologi informasi; dengan adanya
website Badan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Selatan
dengan alamat www.bkp.kalselprov.go.id maka diharapkan
badan/kantor lingkup ketahanan pangan kabupaten/kota dapat juga
membuat website masing-masing dengan sub domain pada website
pemerintah kabupaten/kota.
14) Peningkatan Peran Dewan Ketahanan Pangan;
Adanya peraturan presiden No. 83 Tahun 2006 sebagai
penyempurnaan dari Keppres No. 132 Tahun 2001 tentang Dewan
Ketahanan Pangan, diharapkan akan meningkatkan peran lembaga
fungsional Dewan Ketahanan Pangan (DKP), sehingga dapat menjalankan
fungsi koordinasi, dengan cara memfasilitasi dan kerjasama lintas sektor
di tingkat wilayah (provinsi dan kabupaten/kota) dan nasional, sesuai
dengan semangat desentralisasi dan otonomi daerah.
a. Sasaran
Terwujudnya kelembagaan Dewan Ketahanan Pangan, dan
pengelola sekretariat DKP yang mampu melaksanakan tugas dan
fungsinya dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan daerah dan
nasional.
b. Hasil Kegiatan
Dewan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Selatan telah
menyelenggarakan rapat koordinasi paada tanggal 20 Desember 2012
di Banjarbaru dengan tema Percepatan Pencapaian Penganeka-
ragaman Pangan dan Gizi.
Rumusan Rapat Koordinasi Dewan Ketahanan Pangan Tahun
2012 adalah penganekaragaman pangan lokal bersumber
karbohidrat seperti singkong, jagung dan sagu masih rendah
dibandingkan dengan beras, begitu juga sayuran dan buah-buahan;
konsumsi masyarakat Kalimantan Selatan terhadap buah dan
sayuran tahun 2011 cukup tinggi sebesar 390,1 gr/kap/tahun sedang
yang tersedia sebesar 275,63 gr/kap/tahun; kebijakan pangan sangat
erat kaitannya dengan faktor distribusi tidak hanya masalah
konsumsi khususnya bagi masyarakat yang tinggal di daerah
terpencil sulit jalur transportasinya; percepatan pencapaian
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan
BAB III Urusan Desentralisasi
LPPD Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2012 148
penganekaragaman konsumsi pangan dan pengurangan konsumsi
beras per kapita bisa dilakukan terutama melalui : kampanye dan
promosi penganekaragaman pangan dengan mengkonsumsi pangan
yang beragam, bergizi seimbang dan aman, memperbanyak model
Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) di kabupaten/kota,
pengembangan industri pangan berbasis sumberdaya lokal; perlu
dilakukan pemetaan potensi pangan lokal sumber karbohidrat,
produksi sayuran dan buah di setiap kabupaten/kota di Kalimantan
Selatan; Badan Ketahanan Pangan Provinsi memprakarsai
tersusunnya Rencana Aksi Daerah bersama SKPD terkait dan Badan
POM tentang keamanan pangan; untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat perlu : meningkatkan kualitas pelayanan, memberikan
motivasi kepada keluarga, memberikan saran-saran kepada penentu
kebijakan, meningkatkan dukungan masyarakat; pengembangan
hortikultura perlu diarahkan untuk mewujudkan usaha agribisnis
yang menghasilkan produk yang bermutu, aman dikonsumsi dan
berdaya saing; untuk meningkatkan produksi hortikultura dilakukan
melalui : penerapan sentra pengembangan, penerapan GAP/SOP
teknologi maju, penerapan PHT, penerapan teknologi panen dan
pasca panen (GHP); dan peningkatan kerjasama dan koordinasi
khususnya antara anggota DKP sangat penting untuk mewujudkan
terlaksananya program kerja Dewan Ketahanan Pangan.
15) Pendampingan Operasional DPM-LUEP
Dana talangan atau DPM-LUEP yang tersedia dari APBD Provinsi
Kalimantan selatan tahun 2012 sebesar Rp 15.000.000.000,00.
Dengan adanya bantuan dana talangan ini bagi LUEP yang
memerlukan dana untuk pembelian gabah petani dimaksudakan agar
pada saat panen raya, LUEP yang bersangkutan dapat membeli gabah
petani pada tingkat yang layak dan wajar dengan mengacu pada Harga
Pembelian Pemerintah (HPP) sehingga kegiatan ini diharapkan dapat
memberikan sumbangan yang nyata di tingkat petani bagi upaya
mencapai stabilitas harga gabah/beras baik antar waktu maupun wilayah
yang pada gilirannya dapat meningkatkan ketahanan pangan di tingkat
rumah tangga, wilayah dan nasional.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan
BAB III Urusan Desentralisasi
LPPD Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2012 149
a. Sasaran
Petani, kelompok tani yang bermitra dengan Lembaga Usaha
Ekonomi Pedesaan dapat berbentuk koperasi, pengusaha
penggilingan padi dan lumbung pangan
Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan
LUEP yang memanfaatkan dana talangan akan mengembalikan dana
talangan tersebut tepat waktu dan jumlah sehingga tidak ada
tunggakan
Kabupaten yang diberi kepercayaan sebagai pelaksana kegiatan
DPM-LUEP tahun 2012 yang bersumber dari APBD Provinsi
Kalimantan Selatan merupakan daerah sentra padi, yaitu sebanyak
6 kabupaten.
b. Hasil Kegiatan
Pelaksanaan kegiatan Dana Penguatan Modal Lembaga Usaha
Ekonomi Pedesaan (DPM-LUEP) Provinsi Kalimantan Selatan dari
dana APBD mulai dilaksanakan tahun 2003 dan sampai saat ini masih
berlangsung. DPM-LUEP merupakan dana talangan yang harus
dikembalikan pada tahun berjalan yang bertujuan pengendalian
stabilitas harga gabah di tingkat petani. Tahun 2010 terdapat 111
LUEP pelaksana kegiatan ini yang tersebar di 11 kabupaten sentra
produksi. Tahun 2011 terdapat 62 LUEP yang tersebar di 9
kabupaten/kota. Tahun 2012 hanya terdapat 21 LUEP yang tersebar di
6 kabupaten.
Dari 6 kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Selatan yang
merealisasikan dana penguatan modal lembaga usaha ekonomi
pedesan (DPM-LUEP) dari dana APBD, yang paling banyak adalah
kabupaten Hulu Sungai Utara dengan jumlah 3 LUEP dan realisasi
pencairan sebesar Rp 925.000.000,00. Tahun 2012 terjadi penurunan
baik dari jumlah LUEP, pencairan dana maupun jumlah gabah yang
dibeli LUEP jika dibandingkan dengan tahun 2011. Jumlah anggaran
yang disediakan untuk Dana Penguatan Modal Lembaga Usaha
Ekonomi Pedesaan tahun 2012 sebesar Rp 15.000.000.000,00 namun
yang berhasil direalisasikan hanya sebesar Rp 3.079.000.000,00 atau
sebesar 20,53% dari total anggaran.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan
BAB III Urusan Desentralisasi
LPPD Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2012 150
Berdasarkan jumlah usulan LUEP yang disampaikan ke Badan
Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Selatan pada tahun 2012
tercatat 45 LUEP. Selanjutnya berdasarkan hasil verifikasi oleh Bank
BPD yang memenuhi syarat sebanyak 32 LUEP.
Mengingat waktu pencairan dengan waktu pengembalian sangat
pendek maka dari 32 LUEP mengundurkan diri sebanyak 11 LUEP
sehingga yang di tetapkan berjumlah 21 LUEP, maka hal tersebut
berdampak kepada realisasi pencairan.
Tahun 2012 terdapat 16 gapoktan yang tersebar di 7 kabupaten
pelaksana P-LDPM yang bersumber dari dana APBD. Masing-masing
gapoktan mendapat dana yang bervariasi jumlahnya mulai dari
Rp50.000.000,00 sampai dengan Rp 150.000.000,00 yang seluruhnya
digunakan untuk distribusi atau jual/beli gabah/beras.
Tabel 3.10.
Gapoktan Pelaksana Kegiatan Penguatan Lembaga Distribusi Pangan
Masyarakat (P-LDPM) Sumber Dana APBD
No Kabupaten Nama Poktan/Gapoktan Besar Dana Bansos (Rp)
1
Balangan Panca Usaha 150.000.000
2
Hulu Sungai Tengah
Sungai Awang 75.000.000
Karya Bersama 75.000.000
3
Tapin Karya Bersama 75.000.000
4
Banjar
Tani Subur 100.000.000
Hubbul Wathon 100.000.000
Maju Bersama 150.000.000
5
Tanah Bumbu
Swadaya 75.000.000
Poliwale 75.000.000
6
Tanah Laut
Rakat Mufakat 50.000.000
Artha Lestari 125.000.000
Beruntung Tani Maju 50.000.000
Berkat Hemat 125.000.000
7
Barito Kuala
Purwosari Baru 75.000.000
Margo Mulyo 100.000.000
Karya Membangun 100.000.000
Jumlah 16 Poktan/Gapoktan 1.500.000.000
Sumber : BKP Prov. Kalsel
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan
BAB III Urusan Desentralisasi
LPPD Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2012 151
16) Percepatan Diversifikasi Pangan
a. Sasaran
Sasaran gerakan diversifikasi konsumsi pangan adalah
meningkatnya kesadaran dan membudayakan diversifikasi konsumsi
pangan bagi seluruh masyarakat. Kelompok sasaran adalah aparat,
seperti petugas, penyuluh, media masa, organisasi wanita dan
masyarakat luas. Sasaran jangka panjang yang dituju adalah Pola
Pangan Harapan (PPH) ideal mendekat 100 pada tahun 2015.
b. Hasil Kegiatan
Pelaksanaan promosi penganekaragaman konsumsi pangan
dilakukan melalui media cetak yaitu pembuatan leaflet, poster dan x
banner. Media promosi ini disalurkan melalui BPP dan masyarakat,
sekolah dan kelompok wanita (dasa wisma). Selain di lokasi P2KP juga
dilakukan sosialisasi pada pertemuan di BPP masing-masing
kecamatan dan disampaikan oleh penyuluh pendamping dan petugas
dari kabupaten. Hal ini agar masyarakat dapat menerapkan,
memahami tujuan program P2KP dan dapat menerapkannya dalam
keluarga dan bisa memahami pangan yang beragam, bergizi seimbang
dan aman.
One Day No Rice adalah salah satu bentuk kampanye untuk
membangun kesadaran perlunya diversifikasi konsumsi pangan kea
rah yang lebih beragam, bergizi seimbang dan aman. Apabila
kampanye ini sukses dilakukan setiap satu bulan satu hari, maka
konsumsi beras Kalimantan Selatan per tahun dapat dihemat hingga
12.202 ton. Gerakan one day no rice tersebut merupakan diversifikasi
pangan sekaligus implementasi peraturan presiden no 22 tahun 2009
dan peraturan gubernur no 083 tahun 2009 tentang percepatan
penganekaragaman konsumsi pangan berbasis budaya lokal atau
selain beras.
Kegiatan lomba cipta menu beragam, bergizi seimbang dan aman
(B2SA) dilaksanakan di Gedung Sultan Suriansyah Banjarmasin pada
hari selasa tanggal 26 Juni 2012. Lomba ini terbagi dalam 4 kategori
pemenang yaitu ketegori umum (3 pemenang); kategori pemanfaatan
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan
BAB III Urusan Desentralisasi
LPPD Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2012 152
pangan lokal spesifik wilayah; kategori kreativitas pengembangan
resep dan kategori penyajian terbaik.
Kegiatan pemberian makanan pangan lokal dilaksanakan pada 2
sekolah dasar (SDN Kota I dan SDN Landasan Ulin Timur), 2 sekolah
menengah pertama (SMP Negeri 2 dan SMP Negeri 11), 2 sekolah
menengah atas (SMA Negeri 3 dan SMK Negeri 1) yang semuanya
berada di Kota Banjarbaru. Penunjukan lokasi ini berdasarkan surat
dari Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru No.420/1414/Dikdas/DP
tanggal 10 Mei 2012 perihal Pemberiaan Makanan Pangan Lokal dalam
rangka Promosi P2KP yang dilaksanakan serempak pada hari jumat
tanggal 29 Juni 2012.
Lomba cipta kreasi resep pangan lokal SLTA adalah salah satu
bentuk sosialisasi konsumsi pangan beragam, bergizi seimbang dan
aman (B2SA) yang dilaksanakan tingkat Provinsi dan diikuti oleh siswa
SLTA se Kalimantan Selatan yang dilaksanakan pada tanggal 04 Juli
2012 di Gedung Bina Satria Banjarbaru.
c. Satuan Kerja Perangkat Daerah yang menyelenggarakan.
SKPD yang menyelenggarakan urusan ketahanan pangan di Provinsi
Kalimantan Selatan yaitu: Badan Ketahanan Pangan Provinsi Kalsel.
d. Jumlah Pegawai, Latar Belakang Pendidikan, Pangkat Dan Golongan,
Jumlah Pejabat Struktural Dan Fungsional.
Data Pegawai yang menangani urusan ini dapat dilihat pada data PNS
Provinsi Kalimantan Selatan akhir tahun 2012 berdasarkan SKPD /UPT
lamiran Buku II LPPD sebagaimana terlampir.
e. Alokasi dan Realisasi Anggaran.
Penyelenggaraan Urusan Ketahanan Pangan di Kalimantan Selatan
tahun 2012 telah dialokasikan anggaran belanja langsung APBD Tahun
2012 sebesar Rp 6.918.977.000,00 dan telah direalisasikan sebesar
Rp5.229.309.732,00 atau 75,58%.
f. Proses Perencanaan Pembangunan.
Perencanaan pembangunan dimulai dari pengusulan program dan
kegiatan sesuai sasaran RPJMD 2011-2015 dan Renstra SKPD kepada
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan
BAB III Urusan Desentralisasi
LPPD Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2012 153
Bappeda, selanjutnya dibahas melalui pelaksanaan rangkaian kegiatan
Musrenbang Provinsi untuk ditetapkan dan dianggarkan melalui APBD
dan usulan APBN.
g. Kondisi Sarana dan prasarana yang digunakan.
Sarana kantor berupa Alat Perlengkapan Kantor (APK) Badan
Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Selatan relatif cukup memadai.
Namun demikian, kendaraan roda 4 untuk menunjang kegiatan
operasional Badan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Selatan tahun
2012 dirasa masih kurang, karena kegiatan banyak melakukan
monitoring di kabupaten/kota.
h. Permasalahan dan Solusi.
Permasalahan :
1) Koordinasi lintas sektor dalam upaya menjamin kemanan pangan
secara umum belum dapat berjalan optimal, atau masih berjalan
secara sendiri-sendiri;
2) Produk pangan segar hasil pertanian masih belum ditangani secara
baik;
3) Percepatan penganekaragaman konsumsi pangan dan gizi masih
belum optimal karena konsumsi pangan pokok masyarakat di
perkotaan dan pedesaan masih tergantung pada beras, dan
cenderung stabil dengan jumlah yang cukup tinggi di atas angka
anjuran, sedangkan di sisi lain konsumsi umbi-umbian cenderung
menurun dan belum diminati dan cenderung di bawah angka
anjuran;
4) Masih kurangnya pemahaman masyarakat tentang pola konsumsi
pangan yang beragam, bergizi, seimbang dan aman;
5) Masih rendahnya pemantauan pola konsumsi, analisis konsumsi dan
kebutuhan konsumsi;
6) Masih banyaknya sarana dan prasarana untuk mendukung distribusi
dan akses pangan yang kurang memadai;
7) Pencatatan harga kebutuhan pokok dari kabupaten/kota belum
semua menyampaikan laporannya tiap bulan;
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan
BAB III Urusan Desentralisasi
LPPD Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2012 154
8) Tidak tersedianya peralatan pasca panen dan penggilingan yang
memadai ditingkat kelompok atau desa dalam mendukung lumbung
pangan masyarakat atau desa;
9) SDM pengelola lumbung pangan belum terlatih dengan baik untuk
aspek teknis dan manajerial.
Solusi :
1) Perlu adanya pembenahan regulasi yang terkait atau yang
berhubungan dengan keamanan pangan dan perlu ditindaklanjuti
oleh masing-masing daerah;
2) Perlu adanya pembagian tupoksi dan kewenangan masing-masing
satuan kerja/institusi/dinas/badan yang menangani keamanan
pangan;
3) Perlu adanya kerjasama dengan para pelaku usaha untuk
memanfaatkan dan menyediakan pangan lokal, terutama sumber
karbohidrat non beras yang berasal dari bahan umbi-umbian;
4) Perlunya peningkatan pemahaman masyarakat tentang pola
konsumsi pangan yang beragam, bergizi, seimbang dan aman dengan
memanfaatkan pangan khas daerah maupun meningkatkan konsumsi
umbi-umbian, serta pangan alternative agar ketergantungan
terhadap konsumsi beras dapat dikurangi;
5) Peningkatan kualitas aparat dalam melakukan pemantauan pola
konsumsi, analisis konsumsi dan kebutuhan konsumsi, sehingga
terwujud kemandirian daerah dalam perencanaan perbaikan pola
konsumsi dan perencanaan penyediaan pangan;
6) Perlu adanya pembangunan/rehabilitasi sarana dan prasarana dalam
rangka memperlancar distribusi barang dari sentra produksi ke
sentra konsumsi;
7) Perlu adanya pelatihan bagi aparat/pelaksana tentang pencatatan
harga kebutuhan pokok dan menerapkan IT untuk penyampaian
laporan sehingga dapat terkirim dengan cepat;
8) Meningkatkan kerjasama kelompok atau desa dalam pemanfaatan
lumbung pangan (khususnya lumbung padi) dengan penggilingan
padi atau lembaga usaha ekonomi pedesaan terdekat;
9) Pelatihan untuk peningkatan pemanfaatan dan manajemen lumbung
pangan atau kelompok di masing masing kabupaten (APBD II).