Anda di halaman 1dari 16

Reaksi Oksidasi dan Reduksi ( Redoks )

October 20, 2011 by sentotpujianto


Reaksi oksidasi dan Reduksi ( Redoks )


Reaksi oksidasi reduksi atau sering disebut reaksi redoks merupakan bagian yang
penting dalam ilmu kimia untuk dipahami dan dimengerti. Reaksi redoks
merupakan perubahan kimia yang berhubungan dengan pengaruh arus listrik

Dalam kehidupan sehari-hari banyak perubahan kimia yang termasuk reaksi
redoks, seperti proses perkaratan, pembakaran, pernafasan, metabolisme dan
fotosintesis. Beberapa industri juga sering melibatkan reaksi redoks, misalnya
pengolahan logam dari bijihnya, pelapisan logam (elektroplating).


PERKEMBANGAN REAKSI REDOKS.

1. Reaksi redoks sebagai peristiwa pengikatan dan pelepasan oksigen.

Reaksi antara unsur atau senyawa dengan oksigen disebut reaksi oksidasi. Atau
dengan kata lain, reaksi oksidasi adalah reaksi penambahan/pengikatan oksigen
oleh suatu unsur atau senyawa.


Contoh : 2 Fe(s) + O
2
(g) > 2 FeO(s)

4 Na(s) + O
2
(g) > 2 Na
2
O(s)
CH
4
(g) + 2 O
2
(g) > CO
2
(g) + 2 H
2
O(l)

Dari ketiga contoh diatas logam besi, logam natrium dan gas metana mengalami
oksidasi, sedang gas oksigen bertindak sebagai pengoksidasi atau oksidator.

Sekarang marilah kita perhatikan suatu contoh reaksi oksidasi yang berlangsung
pada tubuh kita. Misalnya metabolisme karbohidrat yang membutuhkan gas
oksigen dan menghasilkan gas karbon dioksida serta uap air. Secara sederhana
reaksi metabolisme karbohidrat dapat ditulis sebagai:
C
6
H
12
O
6
(s) + 6 O
2
(g) > 6 CO
2
(g) + 6 H
2
O(l)

Reaksi ini juga termasuk reaksi redoks, karena terjadi pengikatan oksigen.
Reaksi sebaliknya dapat terjadi jika gas hidrogen (H
2
) dialirkan kedalam padatan
CuO panas. Pada reaksi ini CuO akan melepaskan oksigen sehingga membentuk
logam Cu, sedangkan gas hidrogen mengikat oksigen membentuk uap air. Reaksi
pelepasan oksigen oleh suatu zat disebut sebagai reaksi reduksi dan zat
yang menyebabkan terjadinya reaksi reduksi disebut reduktor. Reaksi yang
terjadi dapat ditulis sebagai berikut:


CuO(s) + H
2
(g) > Cu(s) + H
2
O

2. Reaksi redoks sebagai reaksi perpindahan elektron

Apakah reaksi logam magnesium dengan larutan hidrogen klorida yang dapat ditulis
seperti persamaan reaksi dibawah ini juga termasuk reaksi redoks?
Mg(s) + 2 HCl(aq) > MgCl
2
(aq) + H
2
(g)

Jika diperhatikan reaksi tersebut tidak melibatkan oksigen. Untuk dapat menjawab
pertanyaan tersebut perhatikan kembali reaksi logam natrium dengan oksigen
membentuk natrium oksida

4 Na(s) + O
2
(g) > 2 Na
2
O(s)

Dalam reaksi tersebut logam Na mengikat oksigen sehingga dikatakan mengalami
oksidasi. Senyawa Na
2
O merupakan senyawa ionik, jadi senyawa tersebut terdiri
atas ion Na
+
dan ion O
2-
. Peristiwa pembentukan ion-ion tersebut dapat
digambarkan sebagai berikut:

Na(s) > Na
+
(s) + e
-


O
2
(g) + 2e
-
> O
2-
(g)

Dalam reaksi tersebut logam natrium melepaskan elektron, padahal logam natrium
mengalami peristiwa oksidasi. Jadi dapat dikatakan bahwa oksidasi adalah peristiwa
pelepasan elektron. Sekarang perhatikan reaksi logam magnesium dengan larutan
hidrogen klorida yang reaksinya dapat dituliskan sebagai berikut:


Mg(s) + 2 HCl(aq) > MgCl
2
(aq) + H
2
(g)

atau

Mg(s) -> Mg
2+
(aq) + 2e (pelepasan electron, oksidasi)

2 H
+
(aq) + 2e > H
2
(g) (penerimaan electron, reduksi)

Mg(s) + 2 H
+
(aq) > Mg
2+
(aq) + H
2
(g)

alam reaksi di atas logam magnesium bertindak sebagai pereduksi (reduktor)dan
ion hidrogen bertindak sebagai pengoksidasi (oksidator) . Reaksi oksidasi selalu
diikuti dengan reaksi reduksi, dan sebaliknya reaksi reduksi juga tidak mungkin
terjadi tanpa reaksi oksidasi. Karena itu gabungan kedua reaksi tersebut
dinamakan reaksi redoks. Sedangkan reaksi oksidasi saja disebut setengah reaksi
oksidasi dan reaksi reduksi disebut setengah reaksi reduksi.



3. Reaksi redoks sebagai reaksi perubahan bilangan oksidasi.

Bilangan oksidasi suatu unsur menyatakan banyaknya elektron yang dapat dilepas
atau diterima maupun digunakan bersama dalam membentuk ikatan dengan unsur
lain. Sehingga bilangan oksidasi dapat positip, nol atau negatif. Dalam suatu
senyawa, unsur yang lebih elektronegatif mempunyai bilangan oksidasi negatif.
Untuk menentukan bilangan oksidasi suatu zat harus mengikuti aturan tertentu.

Sebagai contoh:

Unsur F merupakan unsur paling elektronegatif, oleh karena itu didalam
senyawanya F selalu mempunyai bilangan oksidasi -1.

Unsur O merupakan unsur yang keelektronegatifannya sangat besar dan didalam
senyawanya, atom O selalu mempunyai bilangan oksidasi -2, kecuali dalam
senyawa OF
2
(bilangan oksidasi O = +2), dan dalam senyawa peroksida, H
2
O
2
,
Na
2
O
2
, K
2
O, BaO
2
(bilangan oksidasi O = -1)

Unsur hidrogen dalam senyawa H
2
O, NH
3
, HCl mempunyai bilangan oksidasi +1,
karena atom H kurang elektronegatif dibanding unsur yang lain, tetapi dalam
senyawa LiH, NaH, MgH
2
, BaH
2
(senyawa hidrida logam) atom H mempunyai
bilangan oksidasi +1.


Cara menentukan bilangan oksidasi:
a. Bilangan oksidasi unsur-unsur bebas, yaitu unsur yang tidak terikat dengan
unsur lain = 0

b. Jumlah aljabar bilangan oksidasi unsur-unsur dalam senyawa atau molekul netral
= 0

c. Jumlah aljabar bilangan oksidasi unsur-unsur penyusun ion adalah sama dengan
muatan ion tersebut.

d. Dalam senyawanya, bilangan oksidasi unsur-unsur golongan IA (Li, Na, K, Rb,
Cs) = +1, golongan IIA (Be, Mg, Ca, Sr, Ba) = +2 dan golongan IIIA = +3.

e. Dalam senyawa ida (senyawa tanpa oksigen) bilangan oksidasi halogen = -1,
unsur-unsur golongan VIA = -2 dan nitrogen = -3.

Menentukan bilangan oksidasi ( Biloks ) unsur yang belum masuk aturan di atas.
Contoh :

Tentukan biloks Sulfur pada asam sulfat H2SO4.

Jawab :
(2 x biloks H ) + Biloks S + ( 4 x Biloks O ) = 0
( 2 x 1 ) + Biloks S + ( 4 x- 2 ) = 0
2 + bilok S -8 = 0
Biloks S = 8-2
Biloks S = 6


Selanjutnya cara atas dapat diketahui perubahan bilangan oksidasi yang terjadi
dalam suatu reaksi oksidasi-reduksi.




Dari contoh diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa reduksi adalah penguragan
bilangan oksidasi dan oksidasi adalah bertambahnya bilangan oksidasi.





















Contoh soal 1. : Menentukan bilangan oksidasi
Tentukan bilangan oksidasi atom yang dicetak tebal pada zat/spesi di bawah ini!
a. Fe
2
O
3

b. Cu(NO
3
)
2

c. S
2
O
3
2-

d. Cr
2
O
7
2-

Jawab :
a. Fe
2
O
3
: Bilangan oksidasi senyawa netral = 0
bilangan oksidasi (b.o.) atom O = -2
( 2 x b.o. Fe ) + ( 3 x b.o. O ) = 0
( 2 x b.o. Fe ) + ( 3 x -2 ) = 0
( 2 x b.o. Fe ) = +6
( b.o. Fe ) = +3
b. Cu(NO
3
)
2 :
terdiri atas ion Cu
2+
dan 2 ion NO
3
-
. Biloks ion mono atomik = muatannya.
Muatan ion Cu
2+
adalah 2+ jadi biloks Cu dalam senyawa ini = +2
Untuk ion NO
3
-

Jumlah total biloks = -1
bilangan oksidasi (b.o.) atom O = -2
( b.o. N ) + ( 3 x b.o. O ) = -1
( b.o. N ) + ( 3 x -2 ) = -1
( b.o. N ) = +5
c. S
2
O
3
2-
: jumlah total biloks = -2
bilangan oksidasi (b.o.) atom O = -2
( 2 x b.o. S ) + ( 3 x b.o. O ) = -2
( 2 x b.o. S ) + ( 3 x -2 ) = -2
( b.o. S ) = +2
d. Cr
2
O
7
2-
: jumlah total biloks = -2
bilangan oksidasi (b.o.) atom O = -2
( 2 x b.o. Cr ) + ( 7 x b.o. O ) = -2
( 2 x b.o. Cr ) + ( 7 x -2 ) = -2
( b.o. Cr ) = +6
Latihan soal

Contoh Soal 2. : Menentukan jenis reaksi redoks atau bukan
Periksalah apakah reaksi berikut tegolong reaksi redoks atau bukan redoks!
a. 2K
2
CrO
4
(aq) + H
2
SO
4
(aq) K
2
SO
4
(aq)

+ K
2
Cr
2
O
7
(aq) +H
2
O(l)
b. 2FeCl
3
(aq) + H
2
S(g) 2FeCl
2
(aq) + 2HCl(aq) + S(s)
Analisis masalah :
Beberapa tips untuk menbantu menyelesaikan soal di atas :
- Reaksi yang melibatkan unsur bebas umumnya tergolong reaksi redoks.
- Atom unsur yang perlu diperiksa adalah atom unsur yang dalam reaksi berganti tipe
rumusnya.
Misalnya,
H
2
SO
4
K
2
SO
4
: atom S tidak perlu diperiksa, sebab tetap sebagai ion SO
4
2-

FeCl
3
FeCl
2
: atom Fe perlu diperiksa, sebab berganti tipe rumusnya.
- Koefisien reaksi tidak mempengaruhi bilangan oksidasi.

Jawab :
a. 2K
2
CrO
4
(aq) + H
2
SO
4
(aq) K
2
SO
4
(aq)

+ K
2
Cr
2
O
7
(aq) +H
2
O(l)
+1 +6 -2 +6
Atom H,S,O dan K tidak perlu diperiksa karena tidak berganti tipe rumus. Atom Cr perlu
diperiksa, karena berganti tipe rumusnya. Dari persamaan tersebut ternyata atom Cr
tidak mengalami perubahan biloks, demikian juga dengan atom yang lain. Jadi, reaksi
ini bukan reaksi redoks.
a. 2FeCl
3
(aq) + H
2
S(g) 2FeCl
2
(aq) + 2HCl(aq) + S(s)
+3 -2 +2 0
Atom Fe dan S perlu diperiksa biloksnya karena mengalami perubahan tipe rumus.
Biloks Fe berubah dari +3 menjadi +2 artinya Fe mengalami reduksi. Biloks S berubah
dari -2 menjadi 0, artinya S mengalami oksidasi. Jadi, reaksi ini tergolong reaksi redoks.
Latihan soal


Contoh soal 3. Menentukan oksidator dan reduktor dalam reaksi redoks.
Tentukan reduktor, oksidator, hasil reduksi dan hasil oksidasi dalam reaksi berikut ini!
2Al(s) + 3Pb(NO
3
)
2
(g) 2Al(NO
3
)
3
(aq) + 3Pb(s)
Jawab :











Bilangan oksidasi Al berubah dari 0 menjadi +3 dan Pb dari +2 menjadi 0. Maka,
Oksidator : Pb(NO
3
)
2

Reduktor : Al
Hasil oksidasi : Al(NO
3
)
3

Hasil reduksi : Pb










Berdasarkan sifat daya hantar listriknya, larutan dibagi menjadi dua yaitu larutan elektrolit dan
larutan non elektrolit. Sifat elektrolit dan non elektrolit didasarkan pada keberadaan ion dalam
larutan yang akan mengalirkan arus listrik. Jika dalam larutan terdapat ion, larutan tersebut
bersifat elektrolit. Jika dalam larutan tersebut tidak terdapat ion larutan tersebut bersifat non
elektrolit.


Larutan elektrolit adalah larutan yang dapat menghantarkan arus listrik. Larutan non elektrolit
adalah larutan yang tidak dapat menghantarkan arus listrik. Hantaran listrik melalui larutan
dapat dtunjukkan dengan alat uji elektrolit . Jika larutan menghantarkan arus listrik, maka lampu
dalam rangkaian tersebut akan menyala dan timbul gas atau endapan pada salah satu atau
kedua elektroda.


MENGAPA LARUTAN ELEKTROLIT DAPAT MENGHANTARKAN LISTRIK DAN NON
ELEKTROLIT TIDAK ?
itu karena larutan elektrolit mengandung ion positif dan ion negatif sehingga bisa
menghantarkan listrik ,sehingga dengan keberadaan kedua ion itu dapat mencukupi sehingga
bisa menghantarkan listrik.

Contoh lain adalah, bila NaCl dilarutan dalam air akan terurai menjadi ion positif dan ion negatif.
Ion positif yang dihasilkan dinamakan kation dan ion negatif yang dihasilkan dinamakan anion.
Larutan NaCl adalah contoh larutan elektrolit.




Larutan gula merupakan salah satu contoh larutan non elektrolit bagaimana bisa ?
Bila gula dilarutkan dalam air, molekul-molekul gula tersebut tidak terurai menjadi ion tetapi
hanya berubah wujud dari padat menjadi larutan. Larutan gula adalah contoh dari larutan non
elektrolit.

Dalam kehidupan sehari-hari kita banyak menemukan contoh larutan elektrolit maupun non
elektrolit.

1. Contoh larutan elektrolit: larutan garam dapur, larutan cuka makan, larutan asam sulfat,
larutan tawas, air sungai, air laut.

2. Contoh larutan non elektrolit adalah larutan gula, larutan urea, larutan alkohol, larutan
glukosa.

Banyak jenis larutan elektrolit dan non elektrolit dalam dunia ini namun hanya yang tercantum
di atas yang paling banyak dikenal.

Larutan elektrolit yaitu larutan yang dapat menghantarkan arus listrik, seperti larutan garam
dapur, natrium hidroksida, hidrogen klorida, amonia, dan cuka.
Setelah semua alat(kabel, larutan
elektrolit,elektroda, lampu holder dan bola lampu) disusun, dan kemudian dihubungkan ke
sumber listrik, terlihat lampu tidak menyala. Ini membuktikan bahwa pada gambar tidak
mengalir melalui larutan non elektrolit.
Larutan nonelektrolit yaitu larutan yang tidak menghantarkan arus listrik, seperti air suling,
larutan gula, dan alkohol.












Ikatan kimia merupakan sebuah proses fisika yang bertanggungung jawab dalam gaya interaksi
tarik menarik antara dua atom atau molekul yang menyebabkan suatu senyawa diatomik atau
poliatomik menjadi stabil. Secara umum, ikatan kimia dapat digolongkan menjadi dua jenis,
yaitu:
A. Ikatan antar atom:
1. Ikatan ion = heteropolar
Ikatan ionik adalah sebuah gaya elektrostatik yang
mempersatukan ion-ion dalam suatu senyawa ionik. Ion-ion yang
diikat oleh ikatan kimia ini terdiri dari ka2tion dan juga anion. Kation
terbentuk dari unsur-unsur yang memiliki energi ionisasi rendah dan biasanya
terdiri dari logam-logam alkali dan alkali tanah. Sementara itu, anion
cenderung terbentuk dari unsur-unsur yang memiliki afinitas elektron tinggi,
dalam hal ini unsur-unsur golongan halogen dan oksigen. Oleh karena itu,
dapat dikatakan bahwa ikatan ion sangat dipengaruhi oleh besarnya beda
keelektronegatifan dari atom-atom pembentuk senyawa tersebut. Semakin
besar beda keelektronegatifannya, maka ikatan ionik yang
dihasilkan akan semakin kuat. Ikatan ionik tergolong ikatan kuat, dalam
hal ini memiliki energi ikatan yang kuat sebagai akibat dari perbedaan
keelektronegatifan ion penyusunnya.
Pembentukan ikatan ionik dilakukan dengan cara transfer elektron. Dalam hal
ini, kation terionisasi dan melepaskan sejumlah elektron hingga mencapai
jumlah oktet yang disyaratkan dalam aturan Lewis. Selanjutnya elektron yang
dilepaskan ini akan diterima oleh anion hingga mencapai jumlah oktet. Proses
transfer elektron ini akan menghasilkan suatu ikatan ionik yang
mempersatukan ion anion dan kation.
Sifat-Sifat ikatan ionik adalah:
a. Bersifat polar sehingga larut dalam pelarut polar
b. Memiliki titik leleh yang tinggi
c. Baik larutan maupun lelehannya bersifat elektrolit
2. Ikatan kovalen = homopolar
Ikatan kovalen merupakan ikatan kimia yang terbentuk dari
pemakaian elektron bersama oleh atom-atom pembentuk
ikatan. Ikatan kovalen biasanya terbentuk dari unsur-unsur non logam.
Dalam ikatan kovalen, setiap elektron dalam pasangan tertarik ke dalam
nukleus kedua atom. Tarik menarik elektron inilah yang menyebabkan kedua
atom terikat bersama.
Ikatan kovalen terjadi ketika masing-masing atom dalam ikatan tidak mampu
memenuhi aturan oktet, dengan pemakaian elektron bersama dalam ikatan
kovalen, masing-masing atom memenuhi jumlah oktetnya. Hal ini mendapat
pengecualian untuk atom H yang menyesuaikan diri dengan konfigurasi atom
dari He (2 valensi) untuk mencapai tingkat kestabilannya. Selain itu, elektron-
elektron yang tidak terlibat dalam ikatan kovalen disebut elektron bebas.
Elektron bebas ini berpengaruh dalam menentukan bentuk dan geometri
molekul.
Ada beberapa jenis ikatan kovalen yang semuanya bergantung pada jumlah
pasangan elektron yang terlibat dalam ikatan kovalen. Ikatan tunggal
merupakan ikatan kovalen yang terbentuk 1 pasangan elektron. Ikatan
rangkap 2 merupakan ikatan kovalen yang terbentuk dari dua pasangan
elektron, beitu juga dengan ikatan rangkap 3 yang terdiri dari 3 pasangan
elektron. Ikatan rangkap memiliki panjang ikatan yang lebih pendek daripada
ikatan tunggal. Selain itu terdapat juga bermacam-macam jenis ikatan kovalen
lain seperti ikatan sigma, pi, delta, dan lain-lain.
Senyawa kovalen dapat dibagi mejadi senyawa kovalen polar dan non polar.
Pada senyawa kovalen polar, atom-atom pembentuknya mempunyai gaya
tarik yang tidak sama terhadap elektron pasangan persekutuannya. Hal ini
terjadi karena beda keelektronegatifan antara atom-atom penyusunnya.
Akibatnya terjadi pemisahan kutub positif dan negatif. Sementara itu pada
senyawa kovalen non-polar titik muatan negatif elekton persekutuan berhimpit
karena beda keelektronegatifan yang kecil atau tidak ada.

Gambar Ikatan Kovalen pada metana
3. Ikatan kovalen koordinasi = semipolar
Ikatan kovalen koordinat merupakan ikatan kimia yang terjadi apabila
pasangan elektron bersama yang dipakai oleh kedua atom disumbangkan oleh
sala satu atom saja. Sementara itu atom yang lain hanya berfungsi sebagai
penerima elektron berpasangan saja.
Syarat-syarat terbentuknya ikatan kovalen koordinat:
1. Salah satu atom memiliki pasangan elektron bebas
2. Atom yang lainnya memiliki orbital kosong
Susunan ikatan kovalen koordinat sepintas mirip dengan ikatan ion, namun
kedua ikatan ini berbeda oleh karena beda keelektronegatifan yang kecil pada
ikatan kovalen koordinat sehingga menghasilkan ikatan yang cenderung mirip
kovalen.
4. Ikatan Logam
Ikatan logam merupakan salah satu ciri khusus dari logam, pada ikatan logam
ini elektron tidak hanya menjadi miliki satu atau dua atom saja, melainkan
menjadi milik dari semua atom yang ada dalam ikatan logam tersebut.
Elektron-elektron dapat terdelokalisasi sehingga dapat bergerak bebas dalam
awan elektron yang mengelilingi atom-atom logam. Akibat dari elektron yang
dapat bergerak bebas ini adalah sifat logam yang dapat menghantarkan listrik
dengan mudah. Ikatan logam ini hanya ditemui pada ikatan yang seluruhnya
terdiri dari atom unsur-unsur logam semata.
B. Ikatan antar molekul
1. Ikatan hidrogen
Ikatan hidrogen merupakan gaya tarik menarik antara atom H dengan atom
lain yang mempunyai keelektronegatifan besar pada satu molekul dari
senyawa yang sama. Ikatan hidrogen merupakan ikatan yang paling kuat
dibandingkan dengan ikatan antar molekul lain, namun ikatan ini masih lebih
lemah dibandingkan dengan ikatan kovalen maupun ikatan ion.
Ikatan hidrogen ini terjadi pada ikatan antara atom H dengan atom N, O, dan
F yang memiliki pasangan elektron bebas. Hidrogen dari molekul lain akan
bereaksi dengan pasangan elektron bebas ini membentuk suatu ikatan
hidrogen dengan besar ikatan bervariasi. Kekuatan ikatan hidrogen ini
dipengaruhi oleh beda keelektronegatifan dari atom-atom penyusunnya.
Semakin besar perbedaannya semakin besar pula ikatan hidrogen yang
dibentuknya.
Kekuatan ikatan hidrogen ini akan mempengaruhi titik didih dari senyawa
tersebut. Semakin besar perbedaan keelektronegatifannya maka akan semakin
besar titik didih dari senyawa tersebut. Namun, terdapat pengecualian untuk
H2O yang memiliki dua ikatan hidrogen tiap molekulnya. Akibatnya, titik
didihnya paling besar dibanding senyawa dengan ikatan hidrogen lain, bahkan
lebih tinggi dari HF yang memiliki beda keelektronegatifan terbesar.
2. Ikatan van der walls
Gaya Van Der Walls dahulu dipakai untuk menunjukan semua jenis gaya tarik
menarik antar molekul. Namun kini merujuk pada gaya-gaya yang timbul dari
polarisasi molekul menjadi dipol seketika. Ikatan ini merupakan jenis ikatan
antar molekul yang terlemah, namun sering dijumpai diantara semua zat
kimia terutama gas. Pada saat tertentu, molekul-molekul dapat berada dalam
fase dipol seketika ketika salah satu muatan negatif berada di sisi tertentu.
Dalam keadaa dipol ini, molekul dapat menarik atau menolak elektron lain dan
menyebabkan atom lain menjadi dipol. Gaya tarik menarik yang muncul sesaat
ini merupakan gaya Van der Walls.