Anda di halaman 1dari 21

Skenario Tn.

Fatris
(Binsar Silalahi)
24 Januari 2011

Jenazah Tn. Fatris, laki-laki, 35 tahun, dibawa ke departemen kedokteran forensik
oleh manjemen perusahaan pabrik gula di daerah untuk dilakukan autopsy guna mengetahui
penyebab kematian. Dr. BS menganjurkan lapor ke penyidik untuk dibuat permintaan visum
et repertum. Pihak manajemen mengatakan tidak usah karena tidak menuntut dan hanya
untuk kepentingan perusahaaan.
Tn. Fatris meninggal dunia setelah makan siang di pabrik tersebut, 1 jam setelah
makan mengalami mual, muntah, kepala pusing, perut terasa sakit, sesak nafas, dan badan
lemah, lalu dibawa ke emergensi. Dalam perjalanan ke emergensi, sesak nafas bertambah. Di
emergensi, timbul kejang dan belum sempat mendapatkan pengobatan apapun di emergensi
Tn. Fatris meninggal dunia.
Akhirnya dilakukan autopsi:
Pemeriksaan Luar (PL)
Kulit : sawo matang, sianosis pada ujung-ujung jari tangan dan kaki, terlihat
penonjolan pembuluh darah pada leher.
Mata : bola mata bening, terdapat bintik perdarahan pada kedua bola mata.
Lebam mayat : warna merah keunguan, agak lebih terang, sukar hilang pada
penekanan.
Kaku mayat : terdapat pada mulut, leher, kedua lengan agak sukar dilawan, kedua
tungkai agak mudah dilawan.
Luka-luka : tidak ada.

Pemeriksaan dalam (PD)
Pada pengirisan darah berwarna merah, agak gelap, kental.
Alat-alat dalam (paru-paru, limpa, kedua ginjal) distended, warna merah agak gelap,
pada pengirisan darah berwarna merah gelap dan kental.
Lambung berisi makanan yang baru dicerna, dan permukaan dalam dinding lambung
hiperemis.
Darah dan organ-organ (lambung beserta isinya, usus halus 60 cm, ginjal, limpa, otak)
diambil untuk dilakukan pemeriksaan laboratoris guna untuk mengetahui penyebab
kematiannya.

I. Klarifikasi Istilah
1. Kedokteran forensik
2. Autopsi
3. Penyebab kematian
4. Penyidik
5. Visum et repertum
6. Mual
7. Muntah
8. Kepala pusing
9. Perut terasa sakit
10. Sesak nafas
11. Badan lemah
12. Pemeriksaan luar
13. Sianosis
14. Bintik perdarahan
15. Penonjolan pembuluh darah pada leher
16. Lebam mayat
17. Kaku mayat
18. Luka
19. Pemeriksaan dalam
20. Lambung hiperemis


II. Identifikasi Masalah
1. Pihak manajemen perusahaan tempat Tn.Fatris bekerja meminta dilakukan
autopsi tanpa melapor kepada pihak penyidik dan keluarga terlebih dahulu.
2. Tn. Fatris meninggal dunia setelah makan siang di pabrik, 1 jam setelah
makan mengalami mual, muntah, kepala pusing, perut terasa sakit, sesak nafas,
dan badan lemah, lalu dibawa ke emergensi. Dalam perjalanan ke emergensi,
sesak nafas bertambah. Di emergensi, timbul kejang dan belum sempat
mendapatkan pengobatan apapun di emergensi Tn. Fatris meninggal dunia.
3. Hasil pemeriksaan luar :
Kulit : sawo matang, sianosis pada ujung-ujung jari tangan dan kaki,
terlihat penonjolan pembuluh darah pada leher.
Mata : bola mata bening, terdapat bintik perdarahan pada kedua bola
mata.
Lebam mayat : warna merah keunguan, agak lebih terang, sukar
hilang pada penekanan.
Kaku mayat : terdapat pada mulut, leher, kedua lengan agak sukar
dilawan, kedua tungkai agak mudah dilawan.
Luka-luka : tidak ada
4. Pemeriksaan dalam (PD)
Pada pengirisan, darah berwarna merah, agak gelap, kental.
Alat-alat dalam (paru-paru, limpa, kedua ginjal) distended, warna
merah agak gelap, pada pengirisan darah berwarna merah gelap dan
kental.
Lambung berisi makanan yang baru dicerna, dan permukaan dalam
dinding lambung hiperemis.

III. Analisis Masalah
1. Apakah pihak manajemen perusahaan bisa meminta dilakukan visum et
repertum?
Apa dimaksud visum et repertum ?
Bagaimana syarat permintaan visum et repertum dan landasan
hukumnya?
Apa tujuan dibuat visum et repertum?
2. Apa kemungkinan penyebab kematian Tn.Fatris berdasarkan gejala-gejala yang
ada?
Bagaimana mekanisme timbulnya gejala-gejala tersebut?
Diagnosis banding
Apakaj bisa kematian disebabkan karean penyakit?
3. Bagaimana teknik pemeriksaan, mekanisme dan interpretasi hasil pemeriksaan
luar, serta hubungannya dengan kematian Tn.Fatris?
Kulit
Mata
Lebam mayat
Kaku mayat
Luka-luka
4. Bagaimana cara pemeriksaan, mekanisme dan interpretasi hasil pemeriksaan
dalam, serta hubungannya dengan kematian Tn.Fatris?
Pada pengirisan
Alat-alat dalam (paru-paru, limpa, kedua ginjal)
Bagaimana syarat pengiriman organ untuk pemeriksaan laboratorium
forensik?
5. Bagaimana hubungan hasil pemeriksaan dan pemeriksaan luar (jika ada)?
6. Pemeriksaan tambahan apa lagi yang dapat dilakukan?
7. Apa kesimpulan penyebab kematian Tn.Fatris dan perkiraan waktu
kematiannya?

IV. Hipotesis
Tn.Fatris (laki-laki, 35 tahun) meninggal dunia karena asfiksia e.c racun.

V. Sintesis
1. Apakah pihak manajemen perusahaan bisa meminta dilakukan visum et repertum?
Bisa, asalkan pihak manajemen melapor ke penyidik (dalam KUHAP pasal 6,
bahwa penyidik adalah polisi republik Indonesia [POLRI]) terlebih dahulu
sehingga penyidik lah yang mengajukan Visum et Repertum (termasuk di
dalamnya permintaan untuk pemeriksaan luar dan otopsi) kepada dokter ahli.
Pada kasus Tn Fatris ini, pihak manajemen tidak boleh meminta Visum et
Repertum ke departemen forensik, karena yang berhak meminta Visum et
Repertum adalah pihak penyidik, sebagaimana yang telah diatur dalam
KUHAP pasal 133 ayat 1 Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan
menangani seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga
karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan
permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran atau dokter dan atau ahli
lainnya.

- Apa yang dimaksud Visum et Repertum?
Visum et Repertum adalah surat keterangan yang dibuat oleh dokter ahli
atas permintaan penyidik berisi hasil pemeriksaan medis dari manusia baik
hidup atau mati ataupun bagian atau diduga bagian dari tubuh manusia,
berdasarkan keilmuannya, di bawah sumpah, untuk kepentingan peradilan.

- Bagaimana syarat permintaan Visum et Repertum dan landasan
hukumnya?
Menurut KUHAP pasal 133, prosedur permintaan Visum et Repertum
adalah sebagai berikut:
Diminta oleh penyidik dalam hal ini POLRI dengan pangkat
minimal pembantu letnan dua atau jabatan kapolsek.
Permintaan Visum et Repertum harus tertulis.
Untuk korban jenazah, jelas periksa luar dan/atau periksa
dalam.
Diberi label pada ibu jari kaki jenazah atau bagian tubuh
lainnya.

- Apa tujuan Visum et Repertum?
Secara umum untuk mengungkapkan tindak pidana menjadi
terang.
Secara khusus:
1. Sebagai alat bukti sah (sesuai dengan KUHAP pasal
184).
2. Sebagai pengganti manusia yang telah sembuh atau
mayat terutama saat sidang pengadilan.
3. Pada korban mati adalah untuk mencari sebab
kematiannya. Pada korban hidup adalah untuk
mencari hubungan sebab dan akibat yang ditimbulkan
tindak pidana.
4. Tujuan ikutan yaitu menentukan waktu kematian,
mengidentifikasi korban-korban yang tak dikenal.
5. Membantu pihak penyidik untuk menentukan cara
kematian.

2. Apa kemungkinan penyebab kematian Tn.Fatris berdasarkan gejala-gejala
yang ada?
Zat yang bersifat korosif seperti asam dapat mengiritasi lambung,sehingga
timbul sakit perut, selain itu juga merangsang n. phrenicus dan n.vagus
sehingga timbul mual muntah.
Hipoksia pada jaringan menyebabkan sesak napas, pada otak menyebabkan
kepala pusing,drowsiness
Difrensial Diagnosis kasus Tn Fatris
Gejala, hasil
PL&PD/Diagnosis
Banding
Asfiksia-
histotoksik
Keracunan
Sianida
Keracunan
CO
Keracunan
Alkohol
Keracunan
Arsen
Mati Mendadak
karena penyakit*
Mual
+(tergantung
bahan yang
meracuni)
+ - + + +(pada penyakit
GIT,SSP)
Muntah + - + + +(pada penyakit
GIT,SSP)
Kepala pusing + - + +(pada penyakit
SSP)
Perut sakit + - + +(pada penyakit
GIT)
Sesak napas + - +(pada penyakit
paru,jantung)
Kejang + +/-(arsin) +(pada penyakit
SSP)
Sianosis pada
ujung jari
+ -(bibir,dan
mulut
sianosis
dan
berbusa)
+ +(pada penyakit
kardiovaskuler
dan paru)
Penonjolan
pembuluh darah
leher
+ +(pada penyakit
jantung, paru,dan
hepar)
Bintik perdarahan
pada kedua bola
mata
+ + + +/-
Lebam mayat
merah
keunguan,agak
terang.
+ (warna
tergantung
bahan yang
meracuni)
+(merah
terang)
Cherry
pink
- Normal seperti
pada umumnya
Darah berwarna
merah,agak
gelap&kental
+(warna
tergantung
bahan yang
meracuni)
+(merah) Cherry
pink
-(encer
dan merah
gelap)
-, pada
pemeriksaan
dalam
kemungkinan
besar dapat
ditentukan
kelainan pada
organ yang
menyebabkan
kematian.
Paru,limpa, kedua
ginjal distended&
warna merah
gelap
+(warna
tergantung
pada bahan
yang
meracuni)
+&+ +&-
(cherry
pink)
+
Lambung
hiperemis
+ + + +/- +

Penyakit-penyakit yang dapat menyebabkan mati mendadak (<24 jam)
A. Penyakit-penyakit sistem kardiovaskuler (45 50%)
1. Miokarditis akut, misalnya akibat difteri, enteritis atau infeksi non-spesifik
2. Infark miokard
3. Gagal jantung kiri, akibat penyakit pada katup jantung atau hipertensi
4. Ruptur aneurisma atau robeknya pembuluh darah besar yang letaknya
berdekatan dengan jantung
5. Trombosis mural atau emboli
6. Emboli paru
7. Penyakit jantung kongenital pada bayi baru lahir

B. Penyakit pada sistem pernafasan (15-23%)
1. Pneumonia lobaris
2. Bronko-pneumonia
3. Benda asing yang menyumbat saluran pernafasan
4. Edema paru
5. Edema akut pada glotis
6. Karsinoma paru
7. Laringitis difteri
8. Emboli udara
9. Tuberkulosis paru
10. Pneumonia aspirasi
11. Kolaps jaringan paru yang luas

C. Penyakit pada sistem pencernaan (6-8%)
1. Perdarahan dari tukak peptik, kanker lambung, varises esofagus
2. Perforasi tukak pada sistem pencernaan, misalnya tukak peptik, tukak
enterik, tukak karsinomatosa, tukak tuberkulosa
3. Obstruksi usus halus
4. Pankreatitis akut, kolesistitis akut
5. Ruptur hernia, biasanya akibat strangulasi
6. Abses hati yang pecah
7. Ruptur limpa

D. Penyakit pada sistem saraf pusat (10-18%)
1. Perdarahan serebral
2. Emboli serebral
3. Aterosklerosis atau trombosis serebral
4. Perdarahan subarachnoid
5. Meningitis
6. Abses otak
7. Ensefalitis akut
8. Tumor otak
9. Epilepsi

E. Penyakit pada sistem genitourinaria (3-5%)
1. Gagal ginjal akut akibat pembentukan batu, infeksi, tumor
2. Ruptur pada bagian saluran kemih yang mengalami obstruksi akibat batu,
tumor, striktura uretra
3. Keracunan kehamilan (eklampsia)
4. Ruptur kehamilan ektopik
5. Perdarahan uterus yang hebat disebabkan oleh berbagai macam hal

F. Syok akibat ketakutan atau rangsangan berlebihan

G. Lain-lain (5-10%)
1. Diabetes mellitus
2. Diskrasia darah dan ketidakcocokan transfusi darah
3. Reaksi idiosinkrasi tubuh terhadap obat, misalnya syok anafilaktik pada
penggunaan penisilin
4. Malaria serebral-filaria serebral
5. Penyakit Addison
3. Bagaimana teknik pemeriksaan, mekanisme dan interpretasi hasil pemeriksaan luar
pada Tn. Fatris?
a. Kulit : sawo matang, siamosis pada ujung-ujung jari tangan dan kaki, terlihat
penonjolan pembuluh darah pada leher.
- Teknik Pemeriksaan :
Pemeriksaan kulit pada mayat meliputi penilaian warna kulit secara
keseluruhan, ujung-ujung jari tangan dan kaki, keadaan pembuluh darah
menonjol atau tidak dengan cara inspeksi. Pada kasus yang diduga terjadi
karena keracunan kulit diperiksa untuk mencari luka bekas suntikan yang
baru. Tidak ada teknik khusus dalam pemeriksaan ini
- Mekanisme :
Keracunan gangguan pertukaran udara pernapasanpenurunan kadar
oksigen sel darah merah (hipoksia) dan penimbunan CO2 (hiperkapnea) dalam
plasmahemoglobin tidak mengandung O2 dalam jumlah yang berlebihan
dalam pembuluh darah kulit terutama kapilerwarna biru keunguan/sianosis
yang terlihat pada kulit atau bagian tubuh lain seperti ujung-ujung jari
(sianosis mulai timbul jika darah arteri mengandung 5 gr Hb yang tidak
mengandung O2 dalam setiap 100 ml darah.
Keracunan gangguan pertukaran udara pernapasan dilatasi
kapilerstasis darah pada kapiler venous atau pembuluh darah lain
nyakongestif/bendungan darah penonjolan pembuluh darah (pada kasus
pembuluh darah leher)
- Interpretasi :
Sianosis dan penonjolan pembuluh darah merupakan tanda-tanda asfiksia yaitu
suatu keadaan tubuh kekurangan O2 atau sama sekali tidak mempunyai O2
yang dapat berakibat pada kematian.

b. Mata: Bola mata bening, terdapat bintik perdarahan pada kedua bola mata
- Teknik Pemeriksaan :
Pada pemeriksaan mata dinilai mata tertutup atau terbuka, selain itu dinilai
juga kelopak mata : adakah kelainan seperti ectropion, entropion, blepharitis.
Bola mata : adakah kelainan seperti pthysis bulbi, exophtalmus. Selaput
bening mata jernih, keruh. Warna iris: coklat, biru, hitam. Teleng mata :
kanan-kiri sama besar atau tidak.
- Mekanisme :
Hipoksia merusak kapiler kapiler yang terdiri dari selapis sel pecah
timbul bintik perdarahan.
- Interpretasi :
Bola mata berwarna bening waktu kematian adalah sekitar 10-12 jam
sebelum dilakukan pemeriksaan luar ini
Bintik perdarahantanda asfiksia karena pecahnya kapiler

c. Lebam mayat ( livor mortis ): warna merah keunguan, agak lebih terang, sukar hilang
pada penekanan
- Teknik pemeriksaan :
Tekan dengan telapak jari jempol atau telunjuk kemudian lepas. Lihat apakah
bekas tekanan tersebut warna nya berubah pucat atau tidak. Atau dengan
tekanan kuat dan lama nilai cepat hilang pada penekanan atau tidak.
- Mekanisme :
Pasca mati eritrosit menempati tempat terbawah akibat gaya gravitasi
mengisi vena dan venulamembentuk bercak warna ungu/livide.
Lebam mulai tampak 20-30 menit pasca mati, makin lama intensitasnya makin
bertambah dan menjadi lengkap dan menetap 8-12 jam.
- Interpretasi :
ditekan mudah hilang saat kematian kurang dari 8-12 jam sebelum
saat pemeriksaan
agak mudah hilang saat kematian lebih dari 12 jam sebelum saat
pemeriksaan
sukar hilang saat kematian lebih dari 12 jam sebelum saat
pemeriksaan
Pada kasus ini di mana lebam mayat sudah sukar hilang berarti korban
sudah meninggal kurang dari 12 jam sebelum dilakukan pemeriksaan.
Lebam yang berwarna merah terang dapat diduga karena keracunan
CO atau CN.


d. Kaku mayat (rigor mortis): terdapat pada mulut, leher, kedua lengan agak sukar
dilawan, kedua tungkai agak mudah dilawan
- Teknik Pemeriksaan :
Membuka mulut, leher ditekuk, memfleksikan sendi siku untuk menilai kaku
mayat pada kedua lengan, memfleksikan kedua sendi lutut
- Mekanisme :
Pasca kematian cadangan glikogen dalam otot habisenergi tidak
terbentuk lagiaktin dan miosin menggumpalotot kaku.
Kaku mayat mulai timbul kira-kira 2 jam setelah mati klinis, dimulai dari
bagian luar tubuh (otot-otot kecil) ke arah dalam (sentripetal). Setiap mati
klinis 12 jam kaku mayat menjadi lengkap dan dipertahankan selama 12 jam
dan kemudian menghilang dalam urutan yang sama.
- Interpretasi :
tidak ada kaku
mudah dilawan
agak mudah dilawan
sukar dilawan
Bila dilihat pada korban yang kakinya masih agak mudah dilawan
sedangkan pada mulut leher dan kedua lengan agak sukar dilawan,
waktu perkiraan kematian adalah 6-8 jam sebelum korban diperiksa

e. Luka-luka : tidak ada
- Teknik pemeriksaan :
pemeriksaan luka hendaklah didahului dari yang paling berbahaya atau
merupakan sebab kematian baru
dicatat pertama lokalisasi umum (misal dada kiri), kemudian tentukan
lokalisasi khusus (setinggi ICS III-ordinat, empat sentimeter dari garis
tengah depan-axsis). Hendaklah tofogarfi diambil pada titik yang tidak
bergerak.
Deskripsi luka : diuraikan tentang data-data mengenai gambaran luka.
Luka menganga, bentuk elips, tepi rata, sudut luka runcing atau
tumpul, panjang, dasar menembus bagian organ lain tidak
Sekitar luka
Arah luka
- Interpretasi :
Tidak ada kondisi ketidaksinambungan pada jaringan kematian korban tidak
disebabkan oleh trauma fisik

4. Bagaimana teknik pemeriksaan, mekanisme dan interpretasi hasil pemeriksaan dalam,
serta hubungannya dengan kematian Tn.Fatris?
- Teknik Pemeriksaan :
1. Dibuat sayatan kulit berupa garis lurus mulai dari bagian bawah dagu
sepanjang pertengahan badan sampai ke batas tulang kemaluan/symphisis
pubis (I incision). Ketika sayatan akan mencapai pusar (umbilicus), arah
sayatan dibelokkan ke kiri kemudian membuat setengah lingkaran untuk
menghindari pusar.
2. Sayatan diperdalam mulai dari ujung bawah tulang dada (sternum) sampai
menembus selaput dinding perut (peritoneum). Masukkan jari telunjuk dan jari
tengah tangan kiri ke dalam rongga perut untuk mengangkat dan
merenggangkan rongga perut sehingga lebih mudah untuk membuat sayatan
selanjutnya dengan meletakkan pisau di antara kedua jari tadi. Irisan
diteruskan sesuai dengan sayatan yang sudah dibuat pada kulit ke arah bawah.
3. Kulit dan otot dilepaskan dari dinding dada (thorax). Caranya ialah dengan
memegang dinding perut bagian atas dengan tangan kiri dimana ibu jari di
bagian selaput dinding perut dan keempat jari yang lain pada kulit dinding
perut, sehingga kulit dan otot-otot dinding dada terpuntir keluar. Kemudian
otot-otot diiris sepanjang lengkung iga (arcus costae). Mata pisau hendaknya
agak tegak lurus terhadap tulang-tulang iga. Irisan ini diteruskan ke atas
sampai daerah tulang selangka (clavicula) dan ke samping sampai ke garis
ketiak depan (linea axilaris anterior). Lalu dilepaskan kulit leher dengan cara
yang sama, tetapi otot-otot leher tidak ikut di sayat. Setelah selesai, lakukanlah
pemeriksaan terhadap leher, dinding dada, dan perut.
4. Untuk membuka rongga dada, rawan iga-iga dipotong kira-kira 1 cm medial
dari persambungan rawan iga mulai dari iga kedua sampai memotong
lengkung iga. Kemudian tulang dada dilepaskan dari perlekatannya dengan
dinding depan kantong jantung (pericardium). Iga pertama dipotong dari arah
kaudal miring ke arah craniolateral untuk menghindari manubrium sterni.
Persambungan tulang dada dengan tulang selangka dipotong dari arah kaudal
agar pembuluh darah subclavia tidak terpotong. Tulang dada diangkat ke arah
cranial, sehingga persambungannya lebih renggang dan dapat dilepaskan.
Kondisi sekarang telah terlihat bagian dalam otot-otot dinding leher, dinding
dada. Tulang sternum telah terangkat dan dinding perut telah terbuka.
5. Pemeriksaan terhadap leher
Periksa lapisan dalam kulit leher (resapan darah, luka, memar, dan lainnya),
periksan perdarahan di jaringan ikat, otot-otot, patah tulang, luka pada
pembuluh darah, syaraf, dan pembesaran kelenjar gondok.
6. Pemeriksaan terhadap dada
Dinding dada:
- perhatikan apakah ada perdarahan di jaringan ikat dan otot, perubahan
warna otot, luka-luka, patah tulang, kelenjar kacangan (thymus), tinggi
diafragma kiri dan kanan.
- Ukurlah tampak berapa jari kantong jantung di antara kedua paru-paru.
Lalu buka kantong jantung dengan gunting mulai dari tengah membentuk
huruf Y terbalik.
- Ukuran jantung (sebesar kepalan tangan mayat). Perhatikan dinding
jantung, apakah ada pelebaran pembuluh darah, bintik perdarahan, dan
warna dinding jantung
- Sisipkan keempat jari tangan kanan ke dalam rongga dada antara dinding
dada dan paru-paru, periksa paru-paru, apakah mengembang, kuncup,
emfisematus, dan perlekatan dengan dinding thorax. Kalau ada
pneumothorax, lakukan pemeriksaan khusus.
7. Pemeriksaan terhadap perut
- Tentukan tebal dan warna jaringan lemak di bawah kulit, luka/resapan
darah pada dinding perut bagian dalam,
- Selaput dinding perut (peritoneum) periksa: licin/kasar, mengkilat/suram,
bening/keruh, dan ada/tidaknya fibrin.
- Tirai usus (omentum) diperiksa lemak dan perlekatannya
- Batas bawah arcus costae kanan
- Periksa perlekatan antara lambung dan usus
- Adakah cairan dalam rongga perut, perdarahan, dan luka
8. Pengangkatan alat leher
- Potong otot-otot dasar mulut sepanjang tepi rahang bawah, lidah ditarik
keluar, periksa palatum dan faring, iris palatum molle sepanjang palatum
durum kemudian diteruskan ke samping kiri dan kanan, sehingga tonsil
terangkat. Pisahkan dan lepaskan alat-alat leher dengan columna
vertebralis
9. Pengeluaran alat-alat rongga dada
- Putuskan pembuluh darah dan syaraf di belakang clavicula, lepaskan
perlekatan paru-paru ,
- Dengan memegang laring, alat-alat leher ditarik ke kaudal, sehingga
esofagus, trakea, dan aorta terlepas dari columna vertebralis, sehingga
paru-paru dan jantung ikut keluar.
- Esofagus diikat di atas diafragma dan diputuskan di atas ikatan
- Aorta dan kantong jantung dipotong tepat di atas diafragma, sehibgga alat-
alat leher dan rongga dada dapat dikeluarkan en masse
10. Pengeluaran alat-alat rongga perut
- Perbatasan duodenum dan jejenum diikat dengan dua ikatan, lalu potong di
antara ikatan, lepaskan jejenum, ileum, dan colon dari perlekatannya
- Urutlah rectum ke proximal, lalu buat dua ikatan benang di bawah
kumpulan feses, rektum dipotong. Semua usus dapat dikeluarkan
- Lambung, duodenum, pancreas, hati, limpa, dan ginjal di angkat sekaligus,
dengan memotong diafragma dekat perlekatannya dengan dinding tubuh,
serta perlekatan alat-alat tersebut dengan dinding belakang abdomen

Interpretasi dan Mekanisme Hasil Pemeriksaan Dalam
Hasil Pemeriksaan
Dalam
Interpretasi Mekanisme terjadinya
Pada pengirisan, darah Tanda-tanda Fibrinolisis darah meningkat pasca mati
merah, agak gelap,
kental
asfiksia
Alat-alat dalam (paru-
paru, limpa, ginjal)
distended, merah agak
gelap, darah merah
gelap dan kental
Tanda-tanda
asfiksia
Pada asfiksia, terjadi kekurangan O
2,
sehingga terjadi dilatasi kapiler yang
menyebabkan stasis darah pada kapiler
venous atau pembuluh darah lainnya,
terjadilah kongestif (bendungan darah).
Bendungan sirkulasi ini menyebabkan
darah berwarna lebih gelap dan kental,
serta organ dalam mengembang
(distended)
Lambung berisi
makanan yang baru
dicerna, permukaan
dalam dinding lambung
hiperemis
Tanda
keracunan
sianida
Hiperemis karena efek korosif dari
sianida

Bagaimana syarat pengiriman organ untuk pemeriksaan laboratorium forensik?
1. Pada saat autopsi yang dilakukan oleh dokter forensik, disaksikan oleh
penyidik (polisi)
2. Wadah berdinding gelas dan bermulut lebar
3. Setiap sampel atau organ dimasukkan dalam satu wadah yang telah diberi
pengawet sebagai berikut:
a. Lambung dan isinya dengan pengawet alkohol 96%
b. Usus halus 60cm dengan pengawet alkohol 96%
c. Usus besar 60cm dengan pengawet alkohol 96%
d. Paru (satu atau dua) dengan pengawet alkohol 96%
e. Limpa dengan pengawet alkohol 96%
f. Separuh ginjal kiri dan kanan dengan pengawet alkohol 96%
g. Hati (seluruh) dengan pengawet alkohol 96%
h. Otak (separuh atau semua) dengan pengawet alkohol 96%
i. Darah 20cc dengan pengawet natrium florida 1 %
j. Urin dengan pengawet natrium benzoate 2%
4. Setiap wadah diberi label dengan ditandatangani dokter pemeriksa dan
penyidik, serta disegel.
5. Dibuat berita acara penyegelan yang ditandatangani dokter pemeriksa dan
penyidik (terlampir)
6. Dibuat surat permintaan zat atau bahan apa yang akan diperiksa pusat
laboratorium forensik serta ditandatangani oleh dokter pemeriksa.

5. Bagaimana hubungan hasil pemeriksaan dan pemeriksaan luar (jika ada)?
Hasil Pemeriksaan Luar : Sianosis, penonjolan pembuluh darah, dan bintik perdarahan
pada mata merupakan tanda-tanda asfiksia.
Hasil Pemeriksaan Dalam : Darah yang lebih gelap juga merupakan tanda-tanda asfiksia

6. Pemeriksaan Pemeriksaan tambahan apa lagi yang dapat dilakukan?
Pemeriksaan toksikologi pada sampel yang diberikan kepada polisi di laboraturium
forensik untuk mendapatkan zat yang menyebabkan kematian pada korban.

7. Kesimpulan (lampiran)

Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal
RS Dr. Mohammad Hoesin Palembang
Pro : Justicia
Rahasia
No : HK.
Lampiran : -
Perihal : Pemeriksaan jenazah
a.n. Mrs. X

Pada hari Rabu tanggal dua Februari tahun dua ribu sebelas pukul satu lewat tiga
puluh menit dini hari, Waktu Indonesia Barat, bertempat di Departemen Ilmu Forensik
Rumah Sakit Umum Dokter Mohammad Hoesin, melalui permintaan visum et repertum
Kepolisian Negara Republik Indonesia Resort Daerah Sumatra Selatan Kota Besar
Palembang dengan Nomor Polisi R/ /VER/ /2011/ tanggal Januari tahun dua ribu
sebelas, telah dilakukan pemeriksaan luar oleh: ...........................................................................
dr. Binsar Silalahi, Sp.F, DFM, SH : dokter forensik pada Departemen Ilmu Kedokteran
Forensik dan Medikolegal Rumah Sakit Umum
Dokter Mohammad Hoesin Palembang ........................
dibantu oleh:..................................................................................................................................
1. Siti Dina Firda, S.Ked
Telah melakukan pemeriksaan luar dan dalam terhadap jenazah, tidak berlabel dan tidak
bersegel, dengan keterangan Visum et Repertum tertera sebagai berikut : ..................................
Nama : Mrs.X ...........................................................................................
Umur : tahun........................... .................................................................
Jenis kelamin : Perempuan........... ................................................................
Kewarganegaraan : .....................................................................................................
Agama : .....................................................................................................
Pekerjaan : .....................................................................................................
Alamat :......................................................................................................

Adapun hasil pemeriksaan sebagai berikut: ..................................................................................
Jenazah terlebih dahulu telah dimasukka dalam laci pendingin sejak tanggal empat belas
Januari dua ribu sebelas................................................................................................................
A. Pemeriksaan luar ............................................................................................................
1. Label dan segel mayat tidak ada. ................................................................................
2. Alas mayat : perlak berwarna putih dengan motif bunga-bunga berwarna merah
jambu dan biru dan Koran Kontan tanggal sepuluh November tahun dua ribu
sepuluh. .......................................................................................................
3. Penutup mayat Koran Berita Pagi tanggal delapan Januari dua ribu sebelas. ............
4. Pakaian : baju daster batik berwarna coklat hijau......................................
5. Perhiasan : cincin karet gradasi merah, kuning, hijau pada jari manis tangan
kanan, pergelangan tangan kiri taerdapat gelang karet dua buah berwarna merah,
dua buah berwarna kuning, dan dua buah berwarna hijau, pada leher terdapat
kalung terbuat dari benang berwarna merah dengan satu buah manic-manik
berwarna bening, pada telinga kanan terdapat antingan berwarna keperakan,
panjang empat centimeter, dengan motif bunga, pada telinga kiri terdapat anting
berupa gantungan kunci stenlis.
6. Benda disekitar mayat : payung kecil berwarna hijau dengan motof daun-daun
pada empat per lima bagian atas dan berwarna orange pada satu per lima bagian
bawah dan gagang payung berwarna kuning keemasan.




7. Kulit : warna sawo matang........................................................................................
Panjang tubuh seratus lima delapan senti meter. .......................................................
8. Rambut : .....................................................................................................................
a. Kepala : warna kusam dengan beberapa helai rambut berwarna putih, ikal,
panjang rata-rata Sembilan sentimeter, mudah dicabut.
b. Alis : warna hitam, tipis, tidak menyatu, panjang rata-rata satu sentimeter,
tidak mudah dicabut ..............................................................................................
c. Bulu mata : warna hitam, tidak lentik, panjang rata-rata delapan milimeter,
tidak mudah dicabut ..............................................................................................
d. Janggut : tidak ada ................................................................................................
e. Kumis : tidak ada ..................................................................................................
f. Ketiak : dicukur.....................................................................................................
g. Kemaluan : warna hitam, keriting, kasar, lima sentimeter, tidak mudah
dicabut..... ..............................................................................................................
9. Lubang-lubang : ..........................................................................................................
a. Mata : kedua kelopak mata tertutup, kedua teleng mata berbentuk bulat dengan
garis tengah lebih kurang tiga milimeter, kedua selaput bola mata bening
jernih, warna tirai mata cokelat, tidak terdapat pelebaran pembuluh darah,
selaput kelopak mata pucat. ..................................................................................
b. Hidung : tidak keluar apa-apa ...............................................................................
c. Telinga : tidak keluar apa-apa ...............................................................................
d. Mulut : susah dibuka, lidah tidak tergigit, gigi depan pertama atas sebelah
kanan warna kuning kehitaman, gigi seri sebelah kiri tanggal .............................
e. Kemaluan : berjenis kelamin perempuan, tidak keluar cairan ..............................
f. Dubur : tidak keluar apa-apa .................................................................................
10. Tanda-tanda kematian:...............................................................................................
a. Lebam mayat : tidak ditemukan adanya perubahan warna kulit kemerahan
sampai keunguan pada tubuh korban. .................................................... ..............
b. Kaku mayat : seluruh tubuh kaku karena dimasukkan dalam lemari pendingin ..
c. Pembusukan : tidak terlihat warna kehijauan pada perut kanan bawah ................
11. Luka-luka: ...................................................................................................................
a. Pinggang : terdapat kulit mengelupas pada pinggang sebelah kanan dengan
panjang lebih kurang sepuluh sentimeter lebar delapan sentimeter dengan jarak
tujuh sentimeter dari garis tengah ........................................................................
12. Patah tulang: tidak ada ................................................................................................


B. PEMERIKSAAN DALAM
1. Kepala......
a. Kulit kepala lapisan dalam berwarna keputih-putihan, utuh,tidak ada resapan
darah................................
b. Tulang kepala berwarna putih, utuh tidak ada retak
c. Selaput keras otak, warna putih keabuan, utuh, tidak ada robek, tidak terlihat
adanya resapan darah........................
d. Otak berwarna putih, tidak membubur, tampak pelebaran pembuluh darah,
pada pengirisan tidak ditemukan bintik-bintik perdarahan..........................
e. Tulang dasar tengkorak berwarna keputihan, utuh tidak ada yang retak.
2. Leher
Jaringan otot/ jaringan ikat : berwarna putih kemerahan, tidak ada resapan
darah maupun robek........
Tulang-tulang rawan krikoid dan tiroid putih tidak ada retak..
Ruas tulang belakang leher utuh, tidak ada yang retak
Saluran pernafasan : selaput dalam dinding pernafasan mulai dari faring,
trakea, sampai ke bronkus berwarna putih kemerahan, licin, tidak terdapat
benda asing didalamnya
Saluran pencernaan : selaput dalam esophagus berwarna putih kemeran, licin,
tidak terdapat benda asing didalamnya......
3. Dada
a. Dinding dada
Otot-otot warna merah keputihan, utuh, tidak ada resapan darah, maupun
robekan........................
Tulang-tulang dada : iga, selangka, dan belikat utuh, tidak terdapat patah
tulang ataupun retak....................
b. Rongga dada.
Rongga dada kanan ada perlengketan dinding dada, paru cukup
mengembang pada pengirisan........................................
Rongga dada kiri tidak ada perlengketan pada paru kiri dan jantung,
paru cukup mengembang pada pengirisan
Saluran pernafasan pada lapisan dalam (trakea, bronkus) berwarna
putih, utuh, tidak retak, tidak terdapat benda asing...
Saluran pencernaan (esophagus) lapisan dalam berwarna merah
kecoklatan, licin, tidak terdapat resapan darah, tidak terdapat benda
asing.

C. Jantung
Selaput jantung berwarna putih kemerahan, utuh, tidak ada
robekan, tidak terdapat resapan darah..
Jantung berwarna kemerahan, ukuran sama dengan ukuran
genggaman tangan kiri mayat, terlihat bintik-bintik
perdarahan
11. Perut.
a. Dinding perut : lapisan dalam kuning, utuh, mengeras, tidak terdapat
resapan
darah......
b. Tirai usus : warna kekuningan, tidak terdapat resapan darah.
c. Usus besar dan usus halus : warna putih kemerahan , tidak terdapat
resapan darah......
d. Limpa : berwarna merah keunguan.........
e. Lambung : lambung utuh, tidak ada resapan darah, lapisan dalam
dinding lambung berwarna putih kemerahan , lambung tidak ada isi....
f. Hati : tidak melebihi lengkung iga kanan, berwarna merah coklat, tepi
tajam, permukaan licin.......................................
g. Ginjal : kedua ginjal berwarna kemerah-merahan, utuh, tidak terdapat
resapan darah atau bintik-bintik perdarahan.......................................
h. Panggul : pada lapisan luar kantong kemih berwarna putih
kekuningan, utuh, tidak terdapat resapan darah, kantung kemih
kosong....................................................................................................

RINGKASAN.

a. tidak terdapat luka-luka pada tubuh.................................................................................
b. Jantung terdapat bintik-bintik perdarahan.......................................................................

Kesimpulan :
Mayat dalam keadaan gizi jelek, tidak terdapat luka-luka pada tubuh korban. Sebab
kematian sulit ditentukan, mayat telah mengalami pembusukan lanjut.......................................
Demikian saya uraikan dengan sejujur-jujurnya atas sumpah jabatan sesuai dengan
Lembar Negara tahun seribu Sembilan ratus tiga puluh tujuh nomor tiga ratus lima puluh
untuk digunakan bila perlu.....

Dokter yang memeriksa





Dr. Binsar Silalahi, SpF, DMF,SHH
Nip : 194602161976031002