Anda di halaman 1dari 5

Journal Reading

CHRONIC SUPPURA TIVE OTITIS MEDIA;


EMPIRIC QUINOLONES IN CHILDREN
Dr. Munir Lodhi FCPS., Dr. Kamran Aziz, FCPS., Dr. Tehminamunir, MCPS, FCPS.,
Dr. Hamza Lodhi, MBBS





Dipresentasi oleh:
Fahri Husaini Alkaff 09711124


Pembimbing:
Slamet Suwondo, Dr., Sp. THT-KL




KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT THT
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. Soedono
MADIUN
2013



ii

Introduksi
Otitis media supuratif kronis adalah penyakit menular yang umum di negara-
negara berkembang dan industri. Istilah otitis media kronis termasuk pada episode
infeksi akut yang berulang dan durasi efusi pada telinga tengah yang berkepanjangan
pada episode infeksi akut sebelumnya. Hal ini menyebabkan morbiditas dan menjadi
penyebab global yang utama terhadap gangguan pendengaran pada anak-anak. Selain
itu mungkin mengarah ke komplikasi ekstrakranial dan intrakranial serius, seperti
mastoiditis dan meningitis. Oleh sebab itu maka menghindari komplikasi serius dan
pendekatan dalam pengelolaan otitis media supuratif kronis adalah suatu keharusan.
Namun untuk memulai terapi yang tepat sesuai dengan organisme penyebab dan
kepekaannya terhadap berbagai antibiotik kita harus menunggu selama 48-72 hari untuk
hasil kultur dan laporan sensitivitasnya. Keterlambatan terapi selama 2 sampai 3 hari
dapat memperburuk gejala pasien atau mungkin kontribusi komplikasi jangka panjang.
Meskipun begitu, masih ada banyak kontroversi mengenai Pertanyaan dan
Pengobatan pilihan terbaik untuk anak-anak yang menderita infeksi telinga kronis.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan organisme yang paling umum pada
otitis media kronis dan kepekaan mereka terhadap berbagai antimikroba sehingga terapi
yang tepat dapat dimulai segera sambil menunggu hasil kultur dan sensitivitas terhadap
berbagai antibiotik. Setelah hasil kultur ini tersedia, jika diperlukan maka antibiotik yang
diberikan kepada pasien dapat dimodifikasi.
Pasien dan Metode
Pengaturan dan Peserta
Penelitian observasional prospektif ini dilakukan di Rumah Sakit militer
gabungan, Lahore dari Jan 2006 sampai Desember 2007. Dalam studi ini total 156 pasien
yang berusia kurang dari 15 tahun yang mempunyai sekret pada salah satu atau kedua
telinganya selama minimal 1 minggu dengan perforasi membran timpani dimasukkan
dalam penelitian.
Kriteria eksklusi
Menderita demam pada saat ini, penggunaan antibiotik pada saat ini, alergi
terhadap obat-obatan ontologis dan alergi tertentu terhadap fluoroquinolones, operasi



iii

telinga baru-baru ini, atau timpanostomi tube atau pemasangan grommet, operasi
mastoid dalam 12 bulan sebelumnya, kelainan kongenital terhadap telinga atau
pendengaran, sumbatan pada telinga tengah (contoh: polip).
Metode
Inform consent diperoleh dari orang tua masing-masing anak. Contoh dari sekret
telinga dikumpulkan dengan swab sebelum memulai pemberian antibiotik dan dikultur
pada agar Mac Conckey dan agar darah serta diinkubasi pada suhu 37C selama 24-48
hari. Organisme gram positif diidentifikasi berdasarkan morfologi koloni, gram Stain,
katalase dan test tabung koagulase. Organisme gram negatif diidentifikasi dengan uji
oksidase dan API 20e. Sensitivitas isolat ke berbagai antibiotik diuji dengan teknik difusi
Kirby Bauer disk yang sesuai dengan pedoman klinis dan standar laboratorium dengan
menggunakan disk antimikroba. Antibiotik yang digunakan: Ampisilin 10mcg, 5mcg
ciprofloxacin, sulphamethoxazole / trimetoprim (co trimoxazole) 25mcg, gentamisin
30mcg.
Hasil
Sebanyak 156 pasien yang termasuk dalam studi ini terdiri dari 96 pria (61,5%)
dan 60 perempuan (38,9%). Rasio pria dengan perempuan pada penelitian ini adalah 1,6
: 1. Rata-Rata usia pasien adalah 3,47 tahun (SD 2,45 tahun) dan usia pasien berkisar
antara 6 bulan dan 13 tahun. Pasien dengan sekret pada kedua telinganya sebanyak 70
pasien (44,87%), sedangkan yang dengan sekret pada satu telinga sebanyak 86 pasien
(55,1)%. Organisme yang terisolasi adalah Staphylococcus aureus sebanyak 79 pasien
(50,6%), Pseudomonas aeruginosa pada 45 pasien (28,8%) dan Proteus mirabilis pada 17
pasien (10,9%). Escherichia coli, spesies acinetobacter dan streptokokus terisolasi pada
pasien sesekali. Staphylococcus aureus adalah organisme yang paling umum terisolasi
diikuti oleh Pseudomonas aeruginosa dan Proteus mirabilis.
Sebanyak 54 sampel (34,6%) Staphylococcus aureus yang terisolasi sensitif
terhadap gentamisin, 52 (33,3%) sensitif terhadap ciprofloxacin dan 42 (26,9%) sensitif
terhadap ciprofloxacin dan gentamisin. Pseudomonas aeruginosa yang sensitif terhadap
gentamisin sebanyak 40 (25,6%), sebanyak 27 (17,3)% terhadap ciprofloxacin dan 22
(14,1%) terhadap ciprofloxacin dan gentamisin.



iv

Dari 156 isolat sebanyak 93 isolat (59,6%) sensitif terhadap ciprofloxacin dan 63
(40,3%) isolat resisten. Sebanyak 114 (73,1%) pasien sensitif terhadap gentamisin
sedangkan 33 (27%) resisten. Demikian pula 35 isolat (22,4%) yang sensitif terhadap
kotrimoksazol sedangkan 66 (42,3%) resisten. Sensitivitas Pseudomonas aeruginosa
untuk kotrimoksazol tidak diuji genetik karena organisme mengalami resistensi terhadap
antibiotik ini. Diantara isolat Proteus mirabilis, 12 yang sensitif terhadap gentamisin, 11
yang sensistif terhadap ciprofloxacin, dan 11 yang sensitif terhadap ciprofloxacin dan
gentamisin. Antibiotik lain yang sensitivitas terhadap Pseudomonas aeruginosa adalah
ceftazidime dan cefoperazone / sulbaktam yang juga sensitif terhadap semua isolat.
Diskusi
Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa Staphylococcus aureus adalah
organisme yang paling sering terisolasi dalam otitis media supuratif kronik (OMSK)
diikuti oleh Pseudomonas aeruginosa dan Proteus mirabilis. Organisme yang sama
dilaporkan menjadi organisme yang sering terisolasi dalam studi OMSK sebelumnya.
Meskipun biasanya pengobatan penyakit telinga dapat memberikan hasil yang berbeda.
Namun pemberian kuinolon tetes telinga jika digunakan dengan atau tanpa steroid
menunjukan hasil yang efektif untuk pengobatan infeksi akut dan kronis pada telinga
tengah.
Sebelumnya amoksisilin atau ampisilin yang digunakan untuk infeksi telinga
tengah akut dan kronis untuk membandingkan biaya yang lebih rendah dibandingkan
dengan kuinolon. Para dokter juga ingin menghindari penggunaan kuinolon karena efek
negatif pada pertumbuhan tulang rawan pada anak-anak setelah penggunaan lama dan
berulang. Namun telah didokumentasikan bahwa kuinolon dapat digunakan jika
diperlukan pada anak-anak tanpa kekhawatiran. Semua telah membandingkan
rekomendasi pada penggunaan amoksisilin telinga tetes dalam OMSK dengan atau tanpa
deksametason. Dalam penelitian kami lebih dari 50% dari isolat kami adalah
Pseudomonas aeruginosa yang secara genetik resisten terhadap ampisilin atau penisilin
amoxyicillin jadi ini bukan pengobatan pilihan untuk pasien dengan isolat tersebut.
Apalagi sebagian besar isolat kami yang lain (Staphylococcus aureus, Proteus mirabilis
dll) yang resisten terhadap penisilin ini. Oleh karena ampisilin atau amoksisilin tidak
dapat direkomendasikan secara empiris pada pasien kami dengan OMSK. Dibandingkan
dengan penisilin ini ciprofloxacin tampaknya lebih cocok secara empiris pada pasien



v

kami dengan melihat tingkat yang lebih tinggi secara sensitivitasnya terhadap antibiotik.
Dohar et Al juga menemukan penggunaan ciprofloxacin lebih baik dari pada amoksisilin
pada otitis media.
Melihat sensitivitas gentamisin tetes telinga ini maka dapat direkomendasikan
secara empiris pada pasien kami. Namun terkait efek samping berupa ototoksik maka
penggunaannya telah dibatasi dan tetes telinga kuinolon dikatakan lebih efektif dan
lebih aman daripada aminoglikosida. Van der Veena dkk telah bereksperimen
menggunakan trimetoprim / sulphamethoxazole tetes telinga selama 6-12 minggu dan
mencatat bahwa ottorhea teratasi pada 75% pasien-pasiennya. Namun tampaknya ada
beberapa perbedaan dalam hasil ketika ia melaporkan bahwa 38% dari isolat dalam
studinya adalah Pseudomonas aeruginosa yang secara genetik resisten terhadap
trimetoprim / sulphamethoxazole dan karenanya tidak efektif sama sekali. Sebelumnya,
antibiotik tidak efektif dalam mengobati otitis media akut dan kronis, karenanya
direkomendasikan bahwa tidak ada antibiotik yang diberikan kepada pasien. Namun
penelitian terus-menerus dan percobaan pada pasien dengan otitis media kronis telah
menemukan bahwa kuinolon topikal dapat menghilangkan sekret lebih baik daripada
tidak ada obat atau hanya antiseptik telinga.
Simpulan
Melihat tingginya prevalensi Staphylococcus aureus dan Pseudomonas
aeruginosa dan tingkat resistensi mereka terhadap kuinolon, ciprofloxacillin tetes telinga
secara empiris aman direkomendasikan pada anak dengan infeksi telinga kronis. Terapi
awal dapat dimodifikasi dan terapi yang tepat dimulai jika hasil dari kultur dan laporan
sensitivitas menunjukkan isolat menjadi resisten terhadap kuinolon.