Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN AWAL

PRAKTIKUM EKSPERIMEN IIA


DERET BALMER PADA SPEKTRUM HIDROGEN
(K-1)

Nama : Amty Marufah Ardhiyah Dalimunthe
NPM : 140310090007
Partner I : Meti Megayanti
NPM : 140310090001
Hari/ Tgl Praktikum : Selasa/ 18 Oktober 2011
Asisten :








Laboratorium Fisika Lanjutan
Jurusan Fisika
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Padjadjaran
2011
LEMBAR PENGESAHAN
DERET BALMER PADA SPEKTRUM HIDROGEN
(K-1)


Nama : Amty Marufah Ardhiyah Dalimunthe
NPM : 140310090007
Partner I : Meti Megayanti
NPM : 140310090001
Hari/ Tgl Praktikum : Selasa/ 18 Oktober 2011
Waktu Praktikum : 15.00 17.00 WIB
Asisten :




Jatinangor, 18 Oktober 2011
Asisten,


(.......)





NILAI
LAPORAN
AWAL
SPEAKEN
LAPORAN
AKHIR

Bab I
Pendahuluan
I.1 Latar Belakang
Pada eksperimen kali ini spectrum (diskrit) atom hydrogen dan beberapa
atom lainnya diamati dan dianalisis untuk memahami fenomena kuantisasi energi
atomic dan kaitannya dengan struktur atom atom tersebut serta proses emisi
cahaya yang terjadi. Kita akan mengukur panjang gelombang spectrum atom
hydrogen yang dipancarkan lampu hydrogen (lampu balmer). Panjang gelombang
ditentukan dengan bantuan spectrum kisi (crossbow spectrometer).
Studi tentang spektra cahaya yang dipancarkan dari pembakaran dan
lecutan listrik pada gas telah menunjukkan karakteristik spektra atom dari unsur
kimia. Pada masa awal abad ke-20, studi terhadap struktur dalam suatu atom telah
berkembang dan menjelaskan mekanisme dari karakteristik spektra atom.Lecutan
listrik pada gas hidrogen memberikan spektrum atom hidrogen yang berupa garis-
garis yang terang yang membentuk sebuah deret yang terdiri dari 4 panjang
gelombang pada daerah.

I.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka, rumusan masalah yang akan
diteliti dalam percobaan ini adalah bagaimana adanya spektrum diskrit atom
hidrogen, bagaimana menggunakan rumus Balmer untuk menentukan konstanta-
Rydberg, berapakah panjang gelombang untuk garis spektrum H (merah), H
(hijau-kebiruan), H (biru), bagaimana grafik e terhadap a untuk masing-
masing garis spektrum, bagaimana perbandingan hasil dalam teori dengan
hasil percobaan, serta berapakah energi foton untuk ketiga garis spektrum
tersebut dengan menggunakan konstanta planck.


I.3 Tujuan Percobaan
1. Mempelajari struktur elektronik atom hidrogen dan atom-atom lainnya.
2. Memahami kuantisasi energi elektron atomik.
3. Memahami mekanisme pemancaran cahaya (foton) oleh suatu atom.

Bab II
Teori Dasar

Jika sebuah gas diletakkan di dalam tabung kemudian arus listrik dialirkan ke
dalam tabung, gas akan memancarkan cahaya. Cahaya yang dipancarkan oleh setiap
gas berbeda-beda dan merupakan karakteristik gas tersebut. Cahaya dipancarkan
dalam bentuk spektrum garis dan bukan spektrum yang kontinu. Kenyataan bahwa
gas memancarkan cahaya dalam bentuk spektrum garis diyakini berkaitan erat dengan
struktur atom. Dengan demikian, spektrum garis atomik dapat digunakan untuk
menguji kebenaran dari sebuah model atom.
Istilah atom pertama kali diperkenalkan oleh seorang ahli filsafat Yunani
bernama Democritus (460-370 SM). Setiap zat dapat dibagi atas bagian-bagian yang
lebih kecil, sampai mencapai bagian yang paling kecil yang tidak dapat dibagi lagi.
Bagian yang tak dapat dibagi itu oleh Demokritus disebut atom ,dari kata Yunani
atomos yang artinya tak dapat dibagi.
Selanjutnya, para filsuf yang muncul kemudian, seperti Plato dan Aristoteles
merumuskan sebuah pemikiran bahwa bisa jadi tidak ada partikel yang tidak dapat
dibagi. Berarti, menurut dugaan mereka atom pun masih dapat dibagi lagi. Bersamaan
dengan itu, pandangan mengenai atom berdasarkan pemikiran Demokritus mulai
tersingkir.
Pada tahun 1803, John Dalton mengemukakan mengemukakan pendapatnya
tentang atom. Teori atom Dalton didasarkan pada dua hukum, yaitu hukum kekekalan
massa (hukum Lavoisier) dan hukum susunan tetap (hukum prouts). Lavosier
mennyatakan bahwa Massa total zat-zat sebelum reaksi akan selalu sama dengan
massa total zat-zat hasil reaksi. Sedangkan Prouts menyatakan bahwa
Perbandingan massa unsur-unsur dalam suatu senyawa selalu tetap. Dari kedua
hukum tersebut Dalton mengemukakan pendapatnya tentang atom sebagai berikut:
1. Atom merupakan bagian terkecil dari materi yang sudah tidak dapat dibagi lagi
2. Atom digambarkan sebagai bola pejal yang sangat kecil, suatu unsur memiliki
atom-atom yang identik dan berbeda untuk unsur yang berbeda
3. Atom-atom bergabung membentuk senyawa dengan perbandingan bilangan bulat
dan sederhana. Misalnya air terdiri atom-atom hidrogen dan atom-atom oksigen
4. Reaksi kimia merupakan pemisahan atau penggabungan atau penyusunan kembali
dari atom-atom, sehingga atom tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan.
Hipotesa Dalton digambarkan dengan model atom sebagai bola pejal seperti
pada tolak peluru. Seperti gambar berikut ini:

Kelemahan:
Teori dalton tidak menerangkan hubungan antara larutan senyawa dan daya hantar
arus listrik.
Berdasarkan penemuan tabung katode yang lebih baik oleh William
Crookers, maka J.J. Thomson meneliti lebih lanjut tentang sinar katode dan dapat
dipastikan bahwa sinar katode merupakan partikel, sebab dapat memutar baling-
baling yang diletakkan diantara katode dan anode. Dari hasil percobaan ini, Thomson
menyatakan bahwa sinar katode merupakan partikel penyusun atom (partikel
subatom) yang bermuatan negatif dan selanjutnya disebut elektron. Atom merupakan
partikel yang bersifat netral, oleh karena elektron bermuatan negatif, maka harus ada
partikel lain yang bermuatan positif untuk menetralkan muatan negatif elektron
tersebut. Dari penemuannya tersebut, Thomson memperbaiki kelemahan dari teori
atom Dalton dan mengemukakan teori atomnya yang dikenal sebagai Teori Atom
Thomson. Yang menyatakan bahwa:
Atom merupakan bola pejal yang bermuatan positif dan didalamya tersebar muatan
negatif elektron
Model atom ini dapat digambarkan sebagai jambu biji yang sudah dikelupas
kulitnya. biji jambu menggambarkan elektron yang tersebar marata dalam bola
daging jambu yang pejal, yang pada model atom Thomson dianalogikan sebagai bola
positif yang pejal. Model atom Thomson dapat digambarkan sebagai berikut:

Kelemahan:
Kelemahan model atom Thomson ini tidak dapat menjelaskan susunan muatan positif
dan negatif dalam bola atom tersebut.
Rutherford bersama dua orang muridnya (Hans Geigerdan Erners
Masreden) melakukan percobaan yang dikenal dengan hamburan sinar alfa ()
terhadap lempeng tipis emas. Sebelumya telah ditemukan adanya partikel alfa, yaitu
partikel yang bermuatan positif dan bergerak lurus, berdaya tembus besar sehingga
dapat menembus lembaran tipis kertas. Percobaan tersebut sebenarnya bertujuan
untuk menguji pendapat Thomson, yakni apakah atom itu betul-betul merupakan bola
pejal yang positif yang bila dikenai partikel alfa akan dipantulkan atau dibelokkan.
Dari pengamatan mereka, didapatkan fakta bahwa apabila partikel alfa ditembakkan
pada lempeng emas yang sangat tipis, maka sebagian besar partikel alfa diteruskan
(ada penyimpangan sudut kurang dari 1), tetapi dari pengamatan Marsden diperoleh
fakta bahwa satu diantara 20.000 partikel alfa akan membelok sudut 90 bahkan
lebih. Berdasarkan gejala-gejala yang terjadi, diperoleh beberapa kesipulan beberapa
berikut:
1. Atom bukan merupakan bola pejal, karena hampir semua partikel alfa diteruskan
2. Jika lempeng emas tersebut dianggap sebagai satu lapisanatom-atom emas, maka
didalam atom emas terdapat partikel yang sangat kecil yang bermuatan positif.
3. Partikel tersebut merupakan partikelyang menyusun suatu inti atom, berdasarkan
fakta bahwa 1 dari 20.000 partikel alfa akan dibelokkan. Bila perbandingan
1:20.000 merupakan perbandingan diameter, maka didapatkan ukuran inti atom
kira-kira 10.000 lebih kecil daripada ukuran atom keseluruhan.
Berdasarkan fakta-fakta yang didapatkan dari percobaan tersebut, Rutherford
mengusulkan model atom yang dikenal dengan Model Atom Rutherford yang
menyatakan bahwa Atom terdiri dari inti atom yang sangat kecil dan bermuatan
positif, dikelilingi oleh elektron yang bermuatan negatif. Rutherford menduga bahwa
didalam inti atom terdapat partikel netral yang berfungsi mengikat partikel-partikel
positif agar tidak saling tolak menolak.
Model atom Rutherford dapat digambarkan sebagai beriukut:

Kelemahan:
Tidak dapat menjelaskan mengapa elektron tidak jatuh ke dalam inti atom.
Perkembangan teori selanjutnya tentang atom hidrogen dikemukakan oleh
Niels Bohr, dan dikenal sebagai teori atom Bohr. Niels Bohr menyusun model atom
hydrogen seperti model atom Rutherford tetapi dengan memasukkan teori kuantum
untuk menyempurnakan kelemahan teori atom Rutherford. Teori atom Bohr
berdasarkan dua postulat, yaitu:

Postulat 1.
Elektron-elektron yang mengelilingi inti mempunyai lintasan tertentu yang disebut
lintasan stasioner dan tidak memancarkan energi. Dalam gerakannya elektron
mempunyai momentum angular sebesar ;



Postulat 2.
- Dalam tiap lintasannya elektron mempunyai tingkat energi tertentu (makin
dekat dengan inti tingkat energinya makin kecil dan tingkat energi paling kecil n
= 1)
- Bila elektron pindah dari kulit luar ke dalam maka akan memancarkan energi
berupa foton. Sebaliknya bila pindah dari kulit dalam ke luar akan menyerap
energi. Atau



Namun demikian model atom Bohr masih mempunyai beberapa kelemahan, yaitu:
1) Model atom Bohr hanya dapat menjelaskan atom hydrogen,sedangkan untuk atom
berelektron banyak tidak dapat dijelaskan
2) Lintasan elektron sebenarnya tidak sesederhana seperti yang diajukan
Bohr(lintasan lingkaran),tetapi juga ellips(menurut Sommerfeld)
3) Tidak dapat menerangkan garis-garis halus pada spektrum yang semula diketahui
hanya satu garis saja
4) Teori atom Bohr tidak dapat menjelaskan kejadian-kejadian dalam ikatan kimia
dan tidak dapat menjelaskan pengaruh medan magnet terhadap spektrum atom.

Model atom Bohr untuk atom hidrogen diperlihatkan seperti gambar di bawah ini










Jari-jari orbit elektron adalah r, dan massanya m bergerak dengan laju singgung tetap
v. Gaya tarik Coulomb berperan memberikan percepatan sentripetal, sehingga:



Sehingga besar energi kinetik T adalah:
-e
+Ze
F
v


Besar energi potensial antara elektron dan inti yang merupakan energi potensial
Coulomb adalah :


Sehingga energi total sistem diberikan oleh:


Menurut teori Bohr, besar momentum anguler elektron sebanding dengan kelipatan
bulat dari , sehingga :


Dengan mensubtitusi persamaan (8) ke persamaan (4), maka diperoleh:


Maka kita akan peroleh beberapa nilai r yang tergantung pada n, yaitu:



Sehingga diperoleh besar jari-jari Bohr untuk n =1, dan dapat dituliskan dalam bentuk

(10)
Dengan mensubtitusi nilai r pada persamaan (9) ke persamaan (7) akan diperoleh:


Bohr menjelaskan bahwa jika elektron melompat dari tingkat energi yang lebih besar
dengan jari-jari orbit r
B
ke lintasan lebih dalam r
A
, maka energinya akan berkurang
berupa radiasi foton,
E
B
E
A
= h
Sehingga menghasilkan:

)
Atau

)
Dengan R adalah konstanta Rydberg, yaitu:


Pengukuran panjang gelombang dapat dilakukan dengan menggunakan kisi difraksi
yang diletakkan pada meja spektrometer. Saat cahaya melewati kisi, terjadi peristiwa
difraksi :
d sin u = n atau =
n
d u sin
(14)
dengan : d = jarak antara celah kisi ( m)
n = orde spektrum ( = 1,2,3,....)
Elektron dalam atom hidrogen berputar mengelilingi inti untuk
mempertahankan diri agar tidak tertarik ke dalam inti, tetapi elektron itu juga
memancarkan radiasi energi elektromagnetik terus-menerus. Dalam dunia atom,
materi terdiri dari partikel-partikel elementer yang memiliki massa diam tertentu,
muatan selalu merupakan kelipatan bilangan bulat dari +e atau e, gelombang
elektromagnetik dalam frekuensi v muncul sebagai arus foton, masing-masing dengan
energi sebesar hv.
E
tot
= E
awal
- E
akhir

E
awal
= Ei = -
2 2
4
8 h
me
o
c
2
1
ni

E
akhir
= E
f
= -
2 2
4
8 h
me
o
c
2
1
nf

E
tot
= -
2 2
4
8 h
me
o
c
2
1
ni
+
2 2
4
8 h
me
o
c
2
1
nf

E
tot
= -
2 2
4
8 h
me
o
c
|
|
.
|

\
|

2 2
1 1
nf ni

=
2 2
4
8 h
me
o
c
|
|
.
|

\
|

2 2
1 1
ni nf
(15)

Atom dalam suatu unsur dapat menghasilkan spektrum emisi (spektrum
diskret) dengan menggunakan alat spectrometer, sebagai contoh spectrum hidrogen.
Atom hidrogen memiliki struktur paling sederhana dan spektrum yang dihasilkan
oleh atom hidrogen merupakan spektrum paling sederhana . Oleh karena itu,
spektrum hidrogen dijadikan prototipe untuk mempelajari spektrum atom yang lebih
rumit. Untuk menghasilkan spektrum atom hidrogen digunakan gas hidrogen yang
disimpan dalam tabung dengan tekanan yang sangat rendah. Beda potensial diberikan
kepada ujung-ujung tabung tersebut. Molekul-molekul gas hidrogen terurai menjadi
atom-atom hidrogen dan memancarkan energi foton atau cahaya.
Spektrum yang dihasilkan adalah atom hidrogen yang merupakan spektum
yang paling sedehana. Spektrum garis atom hydrogen berhasil dijelaskan oleh Niels
Bohr pada tahun 1913.









Gambar 1. Spektrum garis berbagai gas

Spektrum garis membentuk suatu deretan warna cahaya dengan panjang
gelombang berbeda. Untuk gas hidrogen yang merupakan atom yang paling
sederhana, deret panjang gelombang ini ternyata mempunyai pola tertentu yang dapat
dinyatakan dalam bentuk persamaan matematis. Seorang guru matematika Swiss
bernama Balmer menyatakan deret untuk gas hidrogen sebagai persamaan berikut ini.
Selanjutnya, deret ini disebut deret Balmer.
2
1 1 1
4
R
n
| |
=
|
\ .
, n = 3, 4, 5, ..


Dimana panjang gelombang dinyatakan dalam satuan nanometer (nm).
Garis Balmer secara historis disebut sebagai H-alpha. H-beta, H-
gamma dan seterusnya, dimana H adalah unsur Hidrogen. Empat dari garis Balmer
merupakan bagian dari spektrum garis yang terlihat, dengan panjang gelombang lebih
panjang dari 400 nm. Bagian dari deret Balmer dapat dilihat pada spektrum cahaya
matahari. H-alpha adalah garis penting yang digunakan dalam astronomi untuk
mendeteksi keberadaan Hidrogen.
Beberapa orang yang lain kemudian menemukan deret-deret yang lain selain
deret Balmer sehingga dikenal adanya deret Lyman, deret Paschen, Bracket, dan
Pfund. Pola deret-deret ini ternyata serupa dan dapat dirangkum dalam satu
persamaan. Persamaan ini disebut deret spektrum hidrogen.

Dimana R adalah konstanta Rydberg yang nilainya 1,097 10
7
m
1
.
o Deret Lyman (m = 1) terletak pada daerah ultra violet
dengan n = 2, 3, 4, .
o Deret Balmer (m = 2) terletak pada daerah cahaya tampak
dengan n = 3, 4, 5 .
o Deret Paschen (m = 3) terletak pada daerah infra merah 1
dengan n = 4, 5, 6 .
o Deret Bracket (m = 4) terletak pada daerah infra merah 2
dengan n = 5, 6, 7, .
o Deret Pfund (m = 5) terletak pada daerah infra merah 3
dengan n = 6, 7, 8 .


Bab III
Metodologi Percobaan
Alat Percobaan :


Gambar 1. Susunan Peralatan Percobaan untuk Deret Balmer

1 Balmer lamp, power supply unit
1 Bench top clamp
1Small optical bench
6 Leybold multiclamps
1 Adjustable slit
1 Spring clamp holder
1 Copy of the Rowland grating
1 Lens f = 50 mm
1 Lens f = 100 mm
1 Translucent

Prosedur Percobaan :

(Perhatikan! Jangan menyalakan lampu Balmer lebih dari 30 detik, dinginkan
selama minimal 30 detik sebelum dinyalakan kembali)
1. Menyusun peralatan optis seperti pada gambar diatas
2. Menyalakan lampu Balmer, mengukur pita spektrum biru, biru-hijau dan merah
dari terang pusat.
3. Memvariasikan jarak kisi ke layar (3-5 variasi), melakukan pengukuran seperti
pada poin nomer 2.
Daftar Pustaka

http://kimiamifkho.wordpress.com/2009/07/22/perkembangan-teori-atom/
Krane, Kenneth . 1986 . Fisika Modern . UI-Press : Jakarta
Zeemansky, Sears. 1987 . Fisika Universitas 3, Optika dan Fisika Modern . Trimitra
Mandiri : Jakarta