Anda di halaman 1dari 30

1 Kimia Analisis Terapan

K I M I A A N A L I S I S T E R A P A N
ABSORBSI TETRAKLORO MEKURAT (TCM) TERHADAP GAS SO
2
DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-Vis
MAKALAH
Dilakukan pengamatan ini sebagai salah satu syarat memperoleh nilai
pada matakuliah Kimia Analisis Terapan Program Studi Kimia
DOSEN PENGAMPU :
Prof. Drs. H. SUTRISNO, M.Sc., Ph.D.
RESTINA BEMIS, S.Si., M.Si.
NAMA PENGAMAT :
1. BOBY LASMANA (F1C111014)
2. ERNILAWATI S (F1C111015)
3. PRANGKY RAMOS (F1C111017)
4. OLIVIA STEPHANI (F1C111040)
5. LENNY THERESIA (F1C111041)
6. SLAMET RIYANTO (F1C111059)
PROGRAM STUDI KIMIA
JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS SAINS DAN TENOLOGI
UNIVERSITAS JAMBI 2013
1 Kimia Analisis Terapan
K I M I A A N A L I S I S T E R A P A N
ABSORBSI TETRAKLORO MEKURAT (TCM) TERHADAP GAS SO
2
DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-Vis
MAKALAH
Dilakukan pengamatan ini sebagai salah satu syarat memperoleh nilai
pada matakuliah Kimia Analisis Terapan Program Studi Kimia
DOSEN PENGAMPU :
Prof. Drs. H. SUTRISNO, M.Sc., Ph.D.
RESTINA BEMIS, S.Si., M.Si.
NAMA PENGAMAT :
1. BOBY LASMANA (F1C111014)
2. ERNILAWATI S (F1C111015)
3. PRANGKY RAMOS (F1C111017)
4. OLIVIA STEPHANI (F1C111040)
5. LENNY THERESIA (F1C111041)
6. SLAMET RIYANTO (F1C111059)
PROGRAM STUDI KIMIA
JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS SAINS DAN TENOLOGI
UNIVERSITAS JAMBI 2013
1 Kimia Analisis Terapan
K I M I A A N A L I S I S T E R A P A N
ABSORBSI TETRAKLORO MEKURAT (TCM) TERHADAP GAS SO
2
DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-Vis
MAKALAH
Dilakukan pengamatan ini sebagai salah satu syarat memperoleh nilai
pada matakuliah Kimia Analisis Terapan Program Studi Kimia
DOSEN PENGAMPU :
Prof. Drs. H. SUTRISNO, M.Sc., Ph.D.
RESTINA BEMIS, S.Si., M.Si.
NAMA PENGAMAT :
1. BOBY LASMANA (F1C111014)
2. ERNILAWATI S (F1C111015)
3. PRANGKY RAMOS (F1C111017)
4. OLIVIA STEPHANI (F1C111040)
5. LENNY THERESIA (F1C111041)
6. SLAMET RIYANTO (F1C111059)
PROGRAM STUDI KIMIA
JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS SAINS DAN TENOLOGI
UNIVERSITAS JAMBI 2013
2 Kimia Analisis Terapan
ABSTRAK
Pengamatan mengenai absorbsi tetrakloro makurat (TCM) terhadap gas SO
2
kandang peternakan sapi Universitas Jambi. Pengamatan ini bertujuan untuk
memperoleh data mengenai kadar gas SO
2
di udara dengan menggunakan alat
spektrofotometer UV-Vis dan larutan pararosanilin. berdasarkan hasil pengamatan
didapatkan kurva kalibrasi standar y = 257,1x 26,25, maka dapat dicari kadar gas SO
2
sebesar 0,0483 ppm per m
3
data ini menunjukan kadar gas SO
2
di daerah kandang
peternakan masih dibawah nilai ambang batas gas SO
2
yang dapat diterima oleh
manusia dan masih cenderung sangat aman.
Keywords : SO
2
, TCM, Pararosanilin, Spektofotometer UV-Vis.
3 Kimia Analisis Terapan
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan
hidayah Nya, sehingga pengamat dapat menyelesaikan Makalah ini sesuai dengan
waktu yang telah ditentukan. Makalah ini berjudul Absorbsi Tetrakloro Mekurat (Tcm)
Terhadap Gas So
2
Dengan Metode Spektrofotometri Uv-Vis.
Makalah ini disusun dengan tujuan memenuhi persyaratan memperoleh nilai
pada mata kuliah Kimia Analisis Terapan, Program Studi Kimia, Universitas Jami.
Mungkin Makalah ini masih jauh dari sempurna, hal ini dikarenakan terbatasnya
kemampuan dan pengalaman dalam melakukan pengamatan. Dengan ini pengamat
sangat mengharapkan kritik dan saran ilmiah demi kesempurnaan pengamatan dan
penulisan dimasa yang akan datang.
Pengamatan ini berhasil diselesaikan berkat adanya bantuan, bimbingan dan
kerja sama yang baik dari beragai pihak. Untuk itu, disampaikan ucapan terima kasih
kepada yang terhormat Dosen pembimbing yaitu Prof. Drs. H. Sutrisno, M.Sc., Ph.D.
dan Restina Bemis, S.Si., M.Si., yang telah memberikan pengarahan dan perbaikan
terhadap Makalah ini. Tidak kalah penting penyusun mengucapkan terimakasih kepada
teman teman yang telah membantu selama pengamatan berlangsung. Semoga
Makalah ini dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan khususnya Kimia
Analisis Terapan.
Jambi, April 2014
Pengamat
4 Kimia Analisis Terapan
DAFTAR ISI
ABSTRAK 2
KATA PENGANTAR 3
DAFTAR ISI 4
DAFTAR TABEL DAN GAMBAR 6
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 7
1.2 Identifikasi Masalah 8
1.3 Batasan Masalah 8
1.4 Rumusan Masalah 8
1.5 Tujuan Pengamatan 8
1.6 Manfaat Pengamatan 9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pencemaran Udara 10
2.2 Sumber Pencemar Udara 11
2.3 Sulfur Dioksida (SO
2
) 12
2.4 Pengukuran Gas SO
2
14
BAB III METODE PENGAMATAN
3.1 Alat dan Bahan 17
3.1.1 Alat 17
3.1.2 Bahan 17
3.2 Metode Pengamatan 17
3.2.1 Penyiapan Larutan (Reagen) 17
3.2.2 Pengambilan Sampel Udara 18
3.2.3 Pengujian Larutan Sampel dengan Spektrofotometer UV-Vis 19
3.2.4 Perhitungan 19
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Larutan Penyerap 21
4.2 Pengambilan Sampel 22
4.3 Penentuan dengan Spektrofotometer UV-Vis 24
4.4 Kadar Gas Sulfur Dioksida (SO
2
) 25
5 Kimia Analisis Terapan
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan 28
5.2 Saran 28
UCAPAN TERIMA KASIH 29
DAFTAR PUSTAKA 30
LAMPIRAN
6 Kimia Analisis Terapan
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Toksisitas Polutan Udara 11
Tabel 2. Pengaruh Sulfur Dioksida Terhadap Manusia 14
Tabel 3. Metode Pengukuran SO
2
15
Tabel 4. Hasil Pengukuran Absorbansi Dalam Kurva Kalibrasi Standarisasi 24
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Grafik Kurva Kalibrasi Standar 24
Gambar 2. Grafik Spektrum Sampel gas SO
2
di daerah kandang
peternakan sapi Universitas Jambi. 25
7 Kimia Analisis Terapan
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hewan sapi merupakan salah satu hewan yang banyak dimanfaatkan oleh
masyarakat, seperti sapi perah, sapi potong yang diambil bagian daging, isi dalamnya
(usus, hati, jantung, paru dll), tulang hingga bagian kepala dapat dijadikan bahan
makanan dan susu bahkan bagian kulitnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan kerajianan
dan fesesnya dapat dijadikan energi alternatif (biomassa) yang dapat menambah nilai
jual seekor sapi sangatlah mahal dan menjadikan komuditas hewan ternak yang sangat
menjanjikan. Oleh sebab itu banyak masyarakat berternak hewan menyusui ini.
Semakin banyaknya masyarakat yang berternak hewan ini semakin banyak pula gas
buangan (emisi) yang dihasilkannya, seperti ammoniak, sulfur dioksida dll. Emisi yang
dihasilkan oleh sapi ini apabila dibiarkan begitu saja maka dapat mengganggu kesehatan
manusia yang dapat menyebabkan ISPA.
Dibalik pesatnya sentra peternakan di wilayah Jambi yang dianggap
menguntungkan juga berindikasi mempunyai dampak negatif yaitu terjadinya degradasi
kualitas lingkungan secara luas. Limbah peternakan menghasilkan gas gas yang cepat
menguap dan menimbulkan bau yang tidak sedap. Dari berbagai hasil penelitian
tertangkap bahwa beberapa jenis gas yang dihasilkan antara lain CO, CO
2
, CH
4
, NO
2
,
NO, NH
3
, SO, SO
2
dengan konsentrasi yang bervariasi menurut jumlah dan spesies
ternaknya (Freddy Pattiselanno, 2013). Menurut Sastrawijaya (2000) pengaruh SO
2
pada manusia telah banyak dibicarakan dalam kalangan kedokteran. Jika konsentrasi
SO
2
naik, orang mulai merasa terganggu. Kadar 6 bj SO
2
akan melumpuhkan dan
merusak organ pernapasan, karena itu kadar di udara perlu di cek secara berkala; dan
diumumkan ke masyarakat.
Berbagai pendekatan pengelolaan lingkungan telah banyak berkembang sebagai
suatu cara untuk mengurangi hasil sampingan ternak sapi ini sehingga tidak akan
menghasilkan banyak limbah yang dapat mencemari lingkungan terutama pencemaran
udara. Beberapa pendekatan tersebut mengetahui kadar gas yang dapat diterima oleh
8 Kimia Analisis Terapan
tubuh manusia dengan cara ini dapat meminimalkan gas buangan yang juga berdampak
pada pengurangan pencemaran lingkungan. Salah satu gas buangan yang berbahaya
adalah gas sulfur dioksida dikarenakan gas ini merupakan salah satu penyebab radikal
bebas yang dapat menimbulkan penyakit degeneratif pada manusia.
Pengamatan ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh kegiatan ternak sapi
terhadap udara disekitarnya dan mengetahui kadar (emisi) gas buang SO
2
terhadap
pencemaran udara. Pemilihan titik sampling diutamakan pada wilayah Ternak
Universitas Jambi sedangkan parameter yang diukur adalah gas SO
2
.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, adapun masalah yang muncul dalam
pengamatan ini adalah sebagai berikut :
1. Berapakah kadar gas SO
2
di sekitar kanadang peternakan sapi Universitas
Jambi ?
2. Apakah kadar gas SO
2
yang dihasilkan dari kandang peternakan sapi
Universitas Jambi melebihi nilai ambang batas (NAB) yang ditetapkan Menteri
Lingkungan Hidup tahun 1995 ?
3. Bagaimana uji analisis kuantitatif yaitu menggunakan spektrofotometri UV-
Vis.
1.3 Batasan Masalah
Agar pembahasan ini tidak menyimpang dari tujuan yang ingin dicapai
maka dibatasi oleh beberapa hal seperti pengamatan ini adalah mengenai kadar gas
SO
2
yang terdapat di daerah peternakan sapi Universitas Jambi.
1.4 Tujuan Pengamatan
Adapun tujuan dari penelitian ini sebagai berikut :
1. Mengetahui kadar gas SO
2
di daerah peternakan sapi Universitas Jambi.
2. Mengetahui cara menggunakan alat Air Sampling Pump Model Lamotte.
3. Mengetahui nilai ambang batas kadar SO
2
yang dapat diterima oleh makhluk
hidup.
9 Kimia Analisis Terapan
1.5 Manfaat Pengamatan
1. Manfaat Teoritis
Pengamatan ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih cara mengetahui
kadar gas SO
2
di Udara dengan menggunakan metode Spektrofotometri UV-
Vis.
2. Manfaat Praktis
Manfaat pengamatan ini adalah memberikan suatu informasi dan referensi
bagi masyarakat dan praktisi dalam mengetahui nilai ambang batas gas SO
2
yang dapat diterima oleh manusia dapat mengetahui sumber gas SO
2
.
10 Kimia Analisis Terapan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pencemaran Udara
Menurut Harsema (1998), pencemaran udara diawali oleh adanya emisi. Emisi
merupakan jumlah pollutant (pencemar) yang dikeluarkan ke udara dalam satuan
waktu. Emisi dapat disebabkan oleh proses alam maupun kegiatan manusia. Emisi yang
disebabkan proses alam disebut biogenic emmisions, sebagai contoh gas Metana (CH
4
)
yang terjadi sebagai akibat dekomposisi bahan organik oleh bakteri pengurai. Emisi
yang disebabkan kegiatan manusia disebut anthropogenic emmisions. Contoh emisi
diudara yang disebabkan oleh kegiatan manusia adalah hasil pembakaran bahan bakar
fosil (bensin, solar, batubara), pemakaian zat-zat kimia yang disemprotkan ke udara dan
sebagainya. Penyebab polusi dapat diklasifikasikan sebagai polusi udara primer dan
sekunder. Polusi primer seperti SO
2
dapat langsung mencemari udara sebagai proses
alamiah atau aktivitas manusia. Polusi sekunder seperti asam sulfat terbentuk di udara
melalui reaksi kimia antara polusi primer dengan komponen kimia yang sudah ada
diudara (Darmono,2001).
Pengertian Pencemaran udara menurut Peraturan Pemerintah RI no 41/1999
tentang pengendalian pencemaran udara adalah masuknya atau dimasukannya zat, atau
energi, dan/atau komponen lain kedalam udara ambien oleh kegiatan manusia, sehingga
mutu udara ambien turun sampai ketingkat tertentu yang menyebabkan udara
ambien tidak dapat memenuhi fungsinya.Prinsip dari pencemaran udara adalah
bilamana dalam udara terdapat unsur-unsur pencemar (biasa disebut polutan baik primer
maupun sekunder yang bersumber dari aktifitas alam dan kebanyakan dari aktifitas
manusia) yang dapat mempengaruhi keseimbangan udara normal dan mengakibatkan
gangguan terhadap kehidupan manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan dan benda-
benda lain.
Sulfat dioksida (SO
2
), Carbon monooksida (CO), Partikulat Matter,
Hidrocarbon (HC), Nitrogen Oksida ( NO
2
) Photochemical Oxidant, Timah (Pb),
Ozon dan Volatile Organic Compounds (VOC), merupakan polutan-polutan yang
11 Kimia Analisis Terapan
bersumber dari antropogenik yang dapat mencemarkan udara, seperti halnya juga
mengakibatkan gangguan pada kesehatan, mengakibatkan pula kerusakan pada
lingkungan.
1.2 Sumber Pencemar Udara
Menurut Wardhana, 1984 di dunia dikenal zat pencemar udara utama yang
berasal dari kegiatan manusia berupa gas buangan hasil pembakaran bahan bakar fosil
dan industri. Perkiraan poersentase komponen pencemar udara utama di Indonesia
khususnya transportasi dan industri yaitu :
Karbon monoksida (CO) 70,50%
Oksida. Sulfur (SOx) 0,9%
Nitrogen Oksida(NOx) 8,9%
Partikulat sebesar 1,33%
Hidrokarbon (HC) 18,34%
Gas rumah Kaca (CH4, CO
2
dan N
2
O), tersebar dalam nilai persentase sumber
utama (Sugarti, 2009).
Tabel 1. Toksisitas Polutan Udara
Polutan
Level Toleransi
Toksisitas Relatif
ppm g/m
3
CO 32,0 40000 1,00
HC 19300 2,07
Sox 0,50 1430 28,0
Nox 0,25 514 77,8
Partikel 375 106,7
Sumber : Babcock (1971) dalam Fardiaz (2003).
Bahan pencemar udara atau polutan dapat dibagi menjadi dua bagian :
1. Polutan primer, adalah polutan yang dikeluarkan langsung dari sumber tertentu, dan
dapat berupa :
a. Polutan gas terdiri dari:
Senyawa karbon, yaitu hidrokarbon, hidrokarbon teroksigenasi, dan karbon
oksida (CO atau CO
2
).
Senyawa Sulfur, yaitu sulfur oksida
12 Kimia Analisis Terapan
Senyawa nitrogen, yaitu oksida dan amoniak.
Senyawa halogen, yaitu flour, klorin, hidrogen klorida, hidrokarbon terklorinasi,
dan bromin. Penyebab pencemaran udara biasanya berasal dari sumber
kendaraan bermotor dan indusri.
b. Partikel, dapat berupa zat padat maupun suspensi aerosol cair di atmosfer. Bahan
tersebut dapat berasal dari proses kondensasi, proses dispersi maupun proses erosi
bahan tertentu.
2. Polutan sekunder, biasanya terjadi karena reaksi dari dua atau lebih bahan kimia di
udara, misalnya reaksi fotokimia. Polutan sekunder ini mempunyai sifat fisik dan
sifat kimia yang tidak stabil.(Mukono,2006)
1.3 Sulfur Dioksida (SO
2
)
Belerang oksida atau sering ditulis dengan SOx terdiri atas gas Sulfur Dioksida
(SO
2
) dan gas Sulfur Trioksida (SO
3
) yang keduanya mempunyai sifat berbeda. Pada
dasarnya, semua Sulfur yang memasuki atmosfer dirubah dalam bentuk SO
2
dan hanya
1%-2% saja sebagai SO
3
. Gas SO
2
berbau tajam dan tidak mudah terbakar. Cairan SO
2
melarutkan banyak senyawaan organik dan anorganik dan digunakan sebagai pelarut
dalam pembuatan reaksi. Cairannya tidak melakukan pengionan-diri dan hantarannya
terutama merupakan cermin bagi kemurniannya. Sulfur dioksida mempunyai pasangan-
pasangan menyendiri dan dapat bertindak sebagai basa lewis. Meskipun demikian, ia
juga bertindak sebagai asam Lewis menghasilkan kompleks, misalnya dengan amina
seperti Me
3
HSO
2
, dan dengan kompleks logam transisi yang kaya elektron. Dalam
senyawa kristal SbF
5
SO, yang menarik karena penggunaan SO
2
sebagai pelarut bagi
sistem super-asam. SO
2
sangat larut dalam air; suatu larutan yang memiliki sifat asam,
telah lama dikenal sebagai larutan asam sulfit, H
2
SO
3
. Gas SO
2
diudara bereaksi dengan
uap air atau larut pada tetesan air membentuk H
2
SO
4
yang merupakan komponen utama
dari hujan asam.
Emisi SOx terbentuk dari fungsi kandungan sulfur dalam bahan bakar, selain itu
kandungan sulfur dalam pelumas, juga menjadi penyebab terbentuknya SOx emisi.
13 Kimia Analisis Terapan
Struktur sulfur terbentuk pada ikatan aromatic dan alkyl. Dalam proses pembakaran
sulfur dioxide dan sulfur trioxide terbentuk dari reaksi:
S + O
2
SO
2
SO2 + 1/2O
2
SO
3
Kandungan SO
3
dalam SOx sangat kecil. sekali yaitu sekitar 1-5%. Gas yang
berbau tajam tapi tidak berwarna ini dapat menimbulkan serangan asma, gas ini pun jika
bereaksi di atmosfir akan membentuk zat asam. Badan WHO PBB menyatakan bahwa
pada tahun 1987 jumlah sulfur dioksida di udara telah mencapai ambang batas yang
ditetapkan oleh WHO (Sugarti, 2009)
Gas SO
2
juga dapat membentuk garam sulfat apabila bertemu dengan oksida
logam, yaitu melalui proses kimiawi berikut ini :
4MgO + 4SO
2
3MgSO
4
+ MgS
Udara yang mengadung uap air akan bereaksi dengan gas SO
2
sehingga membentuk
asam sulfit :
SO
2
+ H
2
O H
2
SO
3
(asam sulfit)
Udara yang mengandung uap air juga akan bereaksi dengan gas SO
3
membentuk asam
sulfat :
SO
3
+ H
2
O H
2
SO
4
(asam sulfat) (wisnu,2001)
Pencemaran SO
2
diudara berasal dari sumber alamiah maupun sumber buatan.
Sumber alamiah adalah gunung-gunung berapi, pembusukan bahan organik oleh
mikroba, dan reduksi sulfat secara biologis. Proses pembusukan akan menghasilkan
H
2
S yang akan cepat berubah menjadi SO
2
. Sumber SO
2
buatan adalah pembakaran
bahan bakar minyak, gas, dan terutama batubara yang mengandung sulfur tinggi.
Sumber-sumber buatan ini diperkirakan memberi kontribusi sebanyak sepertiganya saja
dari seluruh SO
2
atmosfir/tahun. Akan tetapi, karena hampir seluruhnya berasal dari
buangan industri, maka hal ini bertambah di kemudian hari, maka dalam waktu singkat
sumer-sumber ini akan dapat memproduksi lebih banyak SO
2
daripada sumber alamiah.
Gas SO
2
diproduksi terutama oleh insinerator yang menggunakan bahan bakar fosil
seperti batu bara dan minyak bumi. SO
2
diemisikan oleh pabrik kimia, pabrik pemroses
14 Kimia Analisis Terapan
besi dan baja, pembuatan semen, pabrik batu bata, industri keramik, pembuatan kaca
dan pelepasan asap buangan (Nugroho,2005).
Selain pengaruhnya terhadap kesehatan, sulfur dioksida juga berpengaruh
terhadap tanaman dan hewan. Pengaruh SO
2
terhadap hewan sangat menyerupai efek
SO
2
pada manusia. Efek SO
2
terhadap tumbuhan tampak terutama pada daun yang
menjadi putih atau terjadi nekrosis, daun yang hijau dapat berubah menjadi kuning,
ataupun terjadi bercak-bercak putih. Pengaruh pada daun ini terjadi terutama di siang
hari sewaktu stomata daun sedang terbuka. Apabila yang terpapar SO
2
itu adalah
sayuran, maka perubahan pada warna daun tentunya sangat mempengaruhi harga jual
sayuran. Harta benda dapat juga terpengaruh oleh SO
2
. Gedung-gedung yang
mempunyai arti sejarah, patung-patung bernilai seni dapat rusak karena SO
2
mudah
menjadi H
2
SO
4
yang sangat korosif (Slamet.S,2002).
Tabel 2. Pengaruh Sulfur Dioksida Terhadap Manusia
Sumber : www.depkes.go.id
2.4 Pengukuran Gas SO
2
Absorber dan Stripper merupakan contoh unit yang dapat memisahkan SO
2
dari
gas buang. Gas buang dilewatkan melalui absorber, yang merupakan tabung vertical
dimana gas lewat dari bawah keatas sedangkan cairan penyerap (absorbent) lewat dari
atas kebawah. Untuk menjamin kontak antara gas buang dan absorbent, didalam
absorber dilengkapi dengan packing. Setelah terjadi kontak antara absorbent dengan gas
14 Kimia Analisis Terapan
besi dan baja, pembuatan semen, pabrik batu bata, industri keramik, pembuatan kaca
dan pelepasan asap buangan (Nugroho,2005).
Selain pengaruhnya terhadap kesehatan, sulfur dioksida juga berpengaruh
terhadap tanaman dan hewan. Pengaruh SO
2
terhadap hewan sangat menyerupai efek
SO
2
pada manusia. Efek SO
2
terhadap tumbuhan tampak terutama pada daun yang
menjadi putih atau terjadi nekrosis, daun yang hijau dapat berubah menjadi kuning,
ataupun terjadi bercak-bercak putih. Pengaruh pada daun ini terjadi terutama di siang
hari sewaktu stomata daun sedang terbuka. Apabila yang terpapar SO
2
itu adalah
sayuran, maka perubahan pada warna daun tentunya sangat mempengaruhi harga jual
sayuran. Harta benda dapat juga terpengaruh oleh SO
2
. Gedung-gedung yang
mempunyai arti sejarah, patung-patung bernilai seni dapat rusak karena SO
2
mudah
menjadi H
2
SO
4
yang sangat korosif (Slamet.S,2002).
Tabel 2. Pengaruh Sulfur Dioksida Terhadap Manusia
Sumber : www.depkes.go.id
2.4 Pengukuran Gas SO
2
Absorber dan Stripper merupakan contoh unit yang dapat memisahkan SO
2
dari
gas buang. Gas buang dilewatkan melalui absorber, yang merupakan tabung vertical
dimana gas lewat dari bawah keatas sedangkan cairan penyerap (absorbent) lewat dari
atas kebawah. Untuk menjamin kontak antara gas buang dan absorbent, didalam
absorber dilengkapi dengan packing. Setelah terjadi kontak antara absorbent dengan gas
14 Kimia Analisis Terapan
besi dan baja, pembuatan semen, pabrik batu bata, industri keramik, pembuatan kaca
dan pelepasan asap buangan (Nugroho,2005).
Selain pengaruhnya terhadap kesehatan, sulfur dioksida juga berpengaruh
terhadap tanaman dan hewan. Pengaruh SO
2
terhadap hewan sangat menyerupai efek
SO
2
pada manusia. Efek SO
2
terhadap tumbuhan tampak terutama pada daun yang
menjadi putih atau terjadi nekrosis, daun yang hijau dapat berubah menjadi kuning,
ataupun terjadi bercak-bercak putih. Pengaruh pada daun ini terjadi terutama di siang
hari sewaktu stomata daun sedang terbuka. Apabila yang terpapar SO
2
itu adalah
sayuran, maka perubahan pada warna daun tentunya sangat mempengaruhi harga jual
sayuran. Harta benda dapat juga terpengaruh oleh SO
2
. Gedung-gedung yang
mempunyai arti sejarah, patung-patung bernilai seni dapat rusak karena SO
2
mudah
menjadi H
2
SO
4
yang sangat korosif (Slamet.S,2002).
Tabel 2. Pengaruh Sulfur Dioksida Terhadap Manusia
Sumber : www.depkes.go.id
2.4 Pengukuran Gas SO
2
Absorber dan Stripper merupakan contoh unit yang dapat memisahkan SO
2
dari
gas buang. Gas buang dilewatkan melalui absorber, yang merupakan tabung vertical
dimana gas lewat dari bawah keatas sedangkan cairan penyerap (absorbent) lewat dari
atas kebawah. Untuk menjamin kontak antara gas buang dan absorbent, didalam
absorber dilengkapi dengan packing. Setelah terjadi kontak antara absorbent dengan gas
15 Kimia Analisis Terapan
buang, SO
2
dalam gas buang akan terikat di absorbent dan dibawa ke bawah sedangkan
gas yang sudah bersih akan keluar melalui puncak absorber. Selanjutnya absorbent yang
sudah mengandung SO
2
dimasukkan kedalam stripper untuk pengolahan selanjutnya.
Selain itu, pemisahan gas SO
2
dari gas buang dapat juga dilakukan dengan
menggunakan scrubber. (Mulia.R.M.,2005)
Dalam dokumen Enviromental Health Criteria 8 dinyatakan bahwa metode
pengukuran/analisis SO
2
adalah metode yaitu padatabel 3 berikut :
Tabel 3. Metode Pengukuran SO
2
Metode Pengukuran Referensi
Metode Pararosaniline West & Gaeke, 1956
Metode Asidimetri Organization for Economic Cooperation
and Delopment, 1956
Metode Konduktivity Adam dkk, 1971
Metode Detector Tube Meansurment Ash & lynch, 1972
Metode Iodine Elkins, 1959
Metode Automaticinstrumens Hollowell dkk, 1973
Metode Sulfation Rute British Standards Institution, 1969
Sumber : EHC 8, 1979
Spektrofotometer merupakan suatu alat analisis yang didasarkan pada
pengukuran serapan sinar monokromatis suatu jalur larutan dengan menggunakan
monokromator sistem prisma atau kisi difraksi dan detektor fotosel. Spektrofotometer
terdiri dari spektrometer dan fotometer. Spektrometer menghasilkan sinar dari spektrum
dengan panjang gelombang tertentu dan fotometer adalah alat pengukur intensitas
cahaya yang ditransmisikan atau diabsorbsi. Jadi, spektrofotometer digunakan untuk
mengukur energi secara relatif jika energi tersebut ditransmisikan, direfleksikan atau
diemisikan sebagai fungsi gelombang (Khopkar, 1990).
Radiasi elektromagnetik UV-Vis tersebut mempunyai panjang gelombang
berkisar 200 - 800 nm. Sinar UV mulai dari 200 - 400 nm dan sinar tampak 400 - 800
nm. Untuk pengukuran secara kuantitatif, metoda spektrofotometri UV-Vis digunakan
untuk menentukan konsentrasi larutan, dimana absorbsi sinar oleh larutan merupakan
fungsi kosentrasi. Pada kondisi optimum, dapat dibuat hubungan linier secara langsung
antara absorbsi larutan dan konsentrasi larutan tersebut. Persamaan yang
menggambarkan hubungan linier tersebut dikenal dengan hukum Lambert-Beer, yaitu :
16 Kimia Analisis Terapan
A = .b.c, dimana A merupakan absorban, sebagai serapan spesifik (cm
-1
M
-1
), b
menunjukkan lajur larutan (cm) dan c menyatakan konsentrasi (M).
Suatu spektrofotometer tersusun dari sumber spektrum sinar yang kontiniu,
monokromator, sel pengadsorbsi untuk larutan sampel atau blanko dan suatu alat untuk
mengukur perbedaan adsorpsi antara sampel dan blanko ataupun pembanding.
Sumber cahaya yang biasa digunakan untuk sinar tampak adalah lampu wolfram
dan untuk daerah UV adalah lampu hidrogen dan lampu deuterium. Monokromator
digunakan untuk memperoleh sumber sinar yang monokromatis biasanya berupa prisma
ataupun grating. Untuk mengarahkan sinar monokromatis yang diinginkan dari hasil
penguraian ini dapat digunakan celah. Jika celah posisinya tetap maka prisma
gratingnya yang dirotasikan untuk mendapatkan panjang gelombang yang diinginkan.
Sel absorbsi, pada pengukuran di daerah tampak, kuvet kaca atau kuvet corex dapat
digunakan, tetapi pengukuran di daerah UV kita harus menggunakan sel kuarsa gelas
tidak tembus cahaya di daerah ini. Umumnya tebal kuvet adalah 10 mm. Detektor,
peranan detektor penerima adalah memberikan respon terhadap cahaya pada berbagai
panjang gelombang. Detektor ini terdiri dari tabung gelas hampa yang berisi anoda,
katoda, dan jendela kuarsa. Katoda ini terbuat dari logam alkali atau alkali alkoksida
atau dari logam lain yang dilapisi dengan alkali, karena logam alkali atau alkoksidanya
mudah melepaskan elektron. Jendela kuarsa digunakan untuk melewatkan cahaya dari
sumber radiasi. Detektor yang sering digunakan adalah sebuah photomultiplier tube atau
photodiodaarray (Underwood, 1988).
17 Kimia Analisis Terapan
BAB III
METODE PENGAMATAN
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat
Alat yang digunakan pada pengamatan ini adalah alat penjerap Impinger Air
Sampling Pump Model : Lamotte, Helping people solve, Analytical Challenges, botol
penjerap, flowmeter, termometer, Humedity, labu ukur, gelas piala, labu erlenmayer,
batang pengaduk, corong pisah, kuvet dan alat Spektrofotometer UV-Vis U2900 dan
Lutron M800.
3.1.2 Bahan
Bahan yang digunakan adalah larutan penyerap tetrakloromerkurat (TCM),
larutan induk pararosanilin, larutan kerja pararosanilin, larutan formaldehida, larutan
asam sulfamat, larutan induk SO
2
dan larutan kerja SO
2.
3.2 Metode Pengamatan
3.2.1 Penyiapan Larutan (Reagen)
1. Pembuatan larutan Penyerap Tertrakloromekurat (TCM) 0,1 M
Dilarutkan 10, 86 gr HgCl2 dan 6,0 gr KCl dengan air suling sampai tanda
batas; simpan dalam labu, larutan ini dapat bertahan selama 6 bulan dan dapat
digunakan kembali asal tidak terbentuk endapan.
2. Pembuatan Larutan Induk Pararosanilin Hidroklorida 0,0006 M
Dilarutkan 0,2 gr pararosanilin hidroklorida kedalam labu takar 100 mL
dengan air suling, didiamkan selama 48 jam ditempat gelap, kemudian disaring;
larutan ini dapat disimpan selama 3 bulan apabila disimpan dalam refrigerator.
3. Pembuatan larutan Kerja Pararosanilin
Larutan induk pararosanilin dipipet sebanyak 20 mL dimasukan dalam labu
takar 100 mL, ditambahkan 6 mL HCl, diencerkan hingga tanda batas dengan air
suling; lautan akan berubah warna dari merah menjadi kekuning kuningan,
larutan ini dapat disimpan selama 2 minggu apabila dalam refrigerator.
18 Kimia Analisis Terapan
4. Pembuatan Larutan formaldehida 0,2%
Dipipet 5 mL HCHO 37% dan dimasukan dalam labu takar 1000 mL,
diencerkan dengan air suling sampai tanda batas tera lalu homogenkan.
5. Pembuatan Larutan Asam Sulfamat 0,6%
Asam sulfamat 0,6 gr dilarutkan ke dalam labu takar 100 mL, diencerkan
dengan air suling sampai batas tera, dihindari langsung dengan udara agar stabil
selama beberapa hari.
6. Pembuatan larutan Standar
a. Larutan induk SO
2
(800 ppm)
dilarutkan sodium sulfit dengan air suling sampai 500 mL yang sudah di didihkan.
b. Larutan Kerja SO
2
(4 ppm)
diencerkan 2 mL larutan induk SO
2
dengan larutan penyerap sampai volume 100
mL.
3.2.2 Pengambilan Sampel Udara
1. Sampel Penelitian
Sampel yang digunakan dalam pengamatan ini adalah gas SO
2
yang diambil
di lokasi kandang peternakan sapi Universitas Jambi.
2. Teknik Pengambilan Sampel
Dalam pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan alat yaitu Air
Sampling Pump Model Lamotte. Prinsip dari metode ini adalah berdasarkan pada
absorbsi gas SO
2
dari udara pada larutan penyerap kalium teterakloromerkurat
(TCM).
3. Variabel Pengambilan Sampel
Dalam pengamatan ini sampel diukur di dalam kandang, waktu pengambilan
sampel dilakukan di satu titik tepat di tengah kandang dan dilakukan pada pagi hari
dengan durasi pengambilan selama 1 jam dengan jumlah sapi sekitar 20 ekor.
19 Kimia Analisis Terapan
3.2.3 Penggujian larutan Sampel dengan Spektrofotometer UV-Vis
1. Penentuan Panjang Gelombang Maksimum
Mengukur salah satu larutan konsentrasi SO
2
, yaitu larutan SO
2
yang berada
pada urutan konsentrasi kemudian dianalisis dengan spektofotometer UV-Vis
dengan mengambil hasilnya yang terletak pada absorbansi tertinggi yaitu pada
panjang gelombang 560 nm.
2. Penentuan kurva kalibrasi standar
Alat spektofotometer di operasikan sesuai petunjuk penggunaan alat,
disiapkan 5 buah labu ukur 1 mL, 2 mL, 3 mL 4 mL dan 5 mL larutan kerja SO
2
serta ditambahkan larutan penyerap samapi tanda batas; pindahkan larutan kerja
standar ke dalam tabung uji 25 ml, tambahkan 1 mL asam sulfamat 0,6% dan
diamkan selama 10 menit; tambahkan 1 mL larutan pararosanilin dan 1 mL
formaldehida 0,2%; campurkan dengan baik dan diamkan selama 20 menit; baca
serapan masing masing standar menggunakan spektofotometer pada panjang
gelombang 560 nm, pengukuran absorbans setiap konsentrasi dilakukan sebanyak 3
kali.
3. Pengujian Sampel
Uji kadar sulfur dioksida dengan tahapan sebagai berikut : sampel yang telah
didapat dari lokasi yaitu berupa larutan penyerap TCM gas SO
2
10 mL, pindahkan
kedalam tabung 25 mL, diamkan selama 20 menit lalu tambahkan 1 mL asam
sulfamat 0,6% dan diamkan kembali selama 10 menit; tambahkan 1 mL larutan
pararosanilin dan 1 mL larutan formaldehida 0,2%; campurkan dengan baik dan
diamkan selama 20 menit lakukan larutan blanko seperti perlakuan contoh uji; baca
serapan contoh uji dan blanko pada panjang gelombang 560 nm; catat konsentrasi
contoh uji dengan meplotkan serapannya pada kurva kalibrasi.
3.2.4 Perhitungan
Perhitungan volume udara yang dialirkan pada larutan penyerap dapat dihitung
dengan rumus:
=
298
101,3
20 Kimia Analisis Terapan
Perhitungan konsentrasi SO
2
di udara :
C
SO2
=
Keterangan :
V
udara yang diserap
= Volume udara yang melewati larutan penyerap.
V
bacaan gas meter
= Volume yang ditunjukkan gas meter.
Pa = Tekanan saat pengambilan sampel.
Ta = Suhu saat pengambilan sampel.
289 = Suhu pada kondisi normal 25
0
C (K)
101,3 = Tekanan pada kondisi normal 1 atm (kPA)
21 Kimia Analisis Terapan
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Larutan Penyerap
Udara yang mengandung gas SO
2
diserap menggunakan larutan
tetracloromecurate (TCM) 0,1 M sebanyak 10 mL, dengan cara udara yang
menggandung gas SO
2
ditarik melalui larutan tetracloromecurate (TCM) dalam satu
botol penyerap menggunakan pompa pengisap udara. Gas SO
2
akan terserap
membentuk dichlorosulfitomercurate (II) / Complex [HgCl
2
SO
3
]
2-
. Reaksi yang terjadi
dalam pembuatan TCM samapi terjadi saat penyerapan SO
2
di udara dalam larutan
penyerap sebagai berikut :
HgCl2 + 2KCl [HgCl
4
]
2-
+ 2K
+
[HgCl
4
]
2-
+ SO
2
+ H
2
O [HgCl
4
]
2-
+ 2H
+
+ SO
3
-
[HgCl
4
]
2-
.H
2
O
SO2
[HgCl
4
]
2-
+ H
2
SO
3
[HgCl
4
]
2-
+ SO
3
2-
[HgCl
2
SO
3
]
2-
+ 2HCl
[HgCl
2
SO
3
]
2
HgCl
2
+ SO
3
2-
Reaksi Penyerapan
SO
2
+ [HgCl
4
]
2-
+ H
2
O [HgCl
2
SO
3
]
2-
+ 2Cl
-
+ 2H
+
Tetrakloromerkurat diklorosulfitmerkurat
[HgCl
2
SO
3
]
2-
+ HCHO + 2H
+
HOCH
2
SO
3
H + HgCl
2
Diklorosulfitmerkurat formaldehida acidhidroximetilsulfinit
22 Kimia Analisis Terapan
Reaksi pembuatan pararosanilin dan pembentukan warna merah muda (purple)
4.2 Pengambilan Sampel
Pengambilan sampel gas SO
2
menggunakan metode pararosanilin dengan
peralatan impinger. Prinsip dari metode ini adalah berdasarkan pada absorbsi gas SO
2
dari udara pada larutan penyerap kalium tetra kloromerkurat (TCM). Dalam hal ini
terbentuk kompleks diklorosulfito merkurat yang tahan oksidasi udara. Selanjutnya
kompleks tersebut kemudian direaksikan dengan pararosanilin dan formaldehida
membentuk asam pararosanilin metil sulfonat yang berwarna. Intensitas warna yang
terjadi diukur dengan spektrofotometer yang dihubungkan langsung dengan jumlah SO
2
yang ada dalam sample udara yang telah diambil.
Pengambilan sampel ini di lokasi kandang ternak sapi Universitas Jambi dengan
menggunakan alat Air Sampling Pump Model Lamotte dan larutan pengabsorbsi adalah
klorotetramerkurat (TCM). Pada saat dilakuakan proses penyerapan, volume larutan
penyerap sedikit menurun dengan bertambahnya suhu, hal ini dikarenakan suhu diluar
kandang lebih tinggi dibandingkan suhu didalam kandang, hal ini disebabkan oleh
aktivitas dari hewan ternak (sapi) yang menyebabkan kelembaban udara meningkat dan
tekanan pada alat mengalami penurunan dari 2,0 atm menjadi 1,8 atm di dalam kandang
sedangkan untuk mengetahui suhu kerja pada saat pengamatan menggunaka Lutron
8000 dimana suhu tercatat yaitu 31,2
o
C.
23 Kimia Analisis Terapan
Pengamatan dilakukan pada siang hari dengan suhu 31,2
o
C sehingga
kelembaban udara tidak terlalu besar. Lembab ataupun basahnya kotoran tersebut
mengakibatkan semakin banyak jumlah protein yang dirombak oleh mikroba yang salah
satunya menjadi gas SO
2
. Menurut Ryak (1992), kelembaban udara memegang peranan
dalam proses metabolisme mikroorganisme yang secara tidak langsung berpengaruh
pada suplai oksigen. Apabila kelembaban udara lebih besar dari 60%, hara akan tercuci,
volume udara berkurang akibatnya aktivitas mikroorganisme akan menurun dan akan
terjadi fermentasi anaerobik yang menimbulkan bau tidak sedap. Menurut Charles dan
Hariono (1991), senyawa yang menimbulkan bau dapat mudah terbentuk dalam kondisi
anaerob seperti tumpukan kotoran yang masih basah. Senyawa tersebut dapat dihasilkan
selama proses dekomposisi pada kotoran sapi.
Setelah dilakukan pengamatan selama 1 jam tehadap gas SO
2
Larutan penyerap
yaitu tetrakloromerkurat (TCM) ditambahkan larutan pararosanilin, saat dicampurkan
larutan berubah menjadi warna unggu pekat. Hal ini merupakan tanda bahwa gas SO
2
telah terabsorbsi (terserap) dengan adanya perubahan warna larutan dari bening menjadi
unggu/merah muda.
V udara yang diserap = V bacaan gas meter
298
101,3
V udara yang diserap = 10. 10 L
101,3
304,2
298
101,3
V udara yang diserap = 9,7958 10
-3
L
V udara yang diserap = 9,7958 10
-6
m
3
Semakin tinggi udara, maka kelarutannya akan semakin berkurang. Hal ini
disebabkan penambahan panas akan menyebabkan energi kinetik menjadi besar
sehingga kecepetan molekul akan bertambah. Penambahan kecepatan ini akan
menyebabkan frekuensi tumbukan antara molekul menjadi tinggi, sehingga molekul
akan keluar dari sistem. Kelarutan yang berkurang akan menyebabkan nilai konstanta
menjadi kecil sehinggagas SO
2
di udara akan bertambah.
24 Kimia Analisis Terapan
4.3 Penentuan dengan Spektrofotometer UV-Vis
Hasil pengukuran larutan standar SO
2
(natrium sulfit) menggunakan
spektrofotometer UV-Vis diperoleh absorbansi sebagai berikut :
Tabel 4. Hasil Pengukuran Absorbansi Dalam Kurva Kalibrasi Standarisasi
SAMPEL ABSORBANSI (A) KONSENTRASI (C) ppm
Blanko 0,000 0,000
Larutan Kerja 1 0,107 1,200
Larutan Kerja 2 0,108 1,600
Larutan Kerja 3 0,110 2,000
Berdasarkan hasil pengukuran tersebut, selanjutnya dibuat kurva kalibrasi
standar membuat hubungan antara konsentrasi pada sumbu (x) dan absorban pada
sumbu (y) seperti gambar berikut :
Gambar 1. Grafik Kurva Kalibrasi Standar
Melalui kurva kalibrasi tersebut diperoleh suatu persamaan garis lurus yang
dapat digunkan untuk perhitungan konsentrasi laruton contoh uji (sampel) berdasarkan
hasil absorbans yang terukur. Hasil persamaan regresi adalah sebagai berikut :
y = 257,1x 26,25
R
2
= 0,964
Dimana : y adalah absorbansi dan x adala konsentrasi.
24 Kimia Analisis Terapan
4.3 Penentuan dengan Spektrofotometer UV-Vis
Hasil pengukuran larutan standar SO
2
(natrium sulfit) menggunakan
spektrofotometer UV-Vis diperoleh absorbansi sebagai berikut :
Tabel 4. Hasil Pengukuran Absorbansi Dalam Kurva Kalibrasi Standarisasi
SAMPEL ABSORBANSI (A) KONSENTRASI (C) ppm
Blanko 0,000 0,000
Larutan Kerja 1 0,107 1,200
Larutan Kerja 2 0,108 1,600
Larutan Kerja 3 0,110 2,000
Berdasarkan hasil pengukuran tersebut, selanjutnya dibuat kurva kalibrasi
standar membuat hubungan antara konsentrasi pada sumbu (x) dan absorban pada
sumbu (y) seperti gambar berikut :
Gambar 1. Grafik Kurva Kalibrasi Standar
Melalui kurva kalibrasi tersebut diperoleh suatu persamaan garis lurus yang
dapat digunkan untuk perhitungan konsentrasi laruton contoh uji (sampel) berdasarkan
hasil absorbans yang terukur. Hasil persamaan regresi adalah sebagai berikut :
y = 257,1x 26,25
R
2
= 0,964
Dimana : y adalah absorbansi dan x adala konsentrasi.
24 Kimia Analisis Terapan
4.3 Penentuan dengan Spektrofotometer UV-Vis
Hasil pengukuran larutan standar SO
2
(natrium sulfit) menggunakan
spektrofotometer UV-Vis diperoleh absorbansi sebagai berikut :
Tabel 4. Hasil Pengukuran Absorbansi Dalam Kurva Kalibrasi Standarisasi
SAMPEL ABSORBANSI (A) KONSENTRASI (C) ppm
Blanko 0,000 0,000
Larutan Kerja 1 0,107 1,200
Larutan Kerja 2 0,108 1,600
Larutan Kerja 3 0,110 2,000
Berdasarkan hasil pengukuran tersebut, selanjutnya dibuat kurva kalibrasi
standar membuat hubungan antara konsentrasi pada sumbu (x) dan absorban pada
sumbu (y) seperti gambar berikut :
Gambar 1. Grafik Kurva Kalibrasi Standar
Melalui kurva kalibrasi tersebut diperoleh suatu persamaan garis lurus yang
dapat digunkan untuk perhitungan konsentrasi laruton contoh uji (sampel) berdasarkan
hasil absorbans yang terukur. Hasil persamaan regresi adalah sebagai berikut :
y = 257,1x 26,25
R
2
= 0,964
Dimana : y adalah absorbansi dan x adala konsentrasi.
25 Kimia Analisis Terapan
Dari persamaan tersebut didapatkan slope (b) 257,1 dan intersep (a) -26,25 serta
koefisien korelasinya (r) 0,964. Slope atau kemiringan merupakan sensitivitas untuk
kurva kalibrasi. Untuk menentukan hubungan dua variabel yaitu konsentrasi [C] dan
absorbans (A) secra statistik ditentukan oleh inilai koefisien korelasi (r) kedua variabel
tersebut. Batas nilai r adalah +1 1 -1, bila nilai r mendekati +1 atau -1 berarti ada
hubungan yang baik anatara C dan A.
Dari data kurva kalibrasi dapat ditentukan absortivitas dengan menggunkan
hukum Lambert-Beer yaitu : A = .b.C . Dengan menggunakan rumus tersebut dapat
dilihat hubungan antara absorbansi dengan konsentrasi, semakin besar konsentrasinya
semakin besar pula absorbansinya.
4.4 Kadar Gas Sulfur Dioksida (SO
2
)
Untuk mengetahui berapa konsentrasi SO2 yang terkandung dalam larutan
sampel, maka sampel di analisis menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Dengan
menggunakan rumus persamaan kurva kalibrasi y = 257,1x 26,25 dapat ditentukan
konsentrasi gas SO2 dalam larutan sampel dengan absorbansi maksimal 0,142 sebagai
berikut.
Gambar 2. Grafik Spektrum Sampel gas SO
2
di daerah kandang peternakan sapi
Universitas Jambi.
25 Kimia Analisis Terapan
Dari persamaan tersebut didapatkan slope (b) 257,1 dan intersep (a) -26,25 serta
koefisien korelasinya (r) 0,964. Slope atau kemiringan merupakan sensitivitas untuk
kurva kalibrasi. Untuk menentukan hubungan dua variabel yaitu konsentrasi [C] dan
absorbans (A) secra statistik ditentukan oleh inilai koefisien korelasi (r) kedua variabel
tersebut. Batas nilai r adalah +1 1 -1, bila nilai r mendekati +1 atau -1 berarti ada
hubungan yang baik anatara C dan A.
Dari data kurva kalibrasi dapat ditentukan absortivitas dengan menggunkan
hukum Lambert-Beer yaitu : A = .b.C . Dengan menggunakan rumus tersebut dapat
dilihat hubungan antara absorbansi dengan konsentrasi, semakin besar konsentrasinya
semakin besar pula absorbansinya.
4.4 Kadar Gas Sulfur Dioksida (SO
2
)
Untuk mengetahui berapa konsentrasi SO2 yang terkandung dalam larutan
sampel, maka sampel di analisis menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Dengan
menggunakan rumus persamaan kurva kalibrasi y = 257,1x 26,25 dapat ditentukan
konsentrasi gas SO2 dalam larutan sampel dengan absorbansi maksimal 0,142 sebagai
berikut.
Gambar 2. Grafik Spektrum Sampel gas SO
2
di daerah kandang peternakan sapi
Universitas Jambi.
25 Kimia Analisis Terapan
Dari persamaan tersebut didapatkan slope (b) 257,1 dan intersep (a) -26,25 serta
koefisien korelasinya (r) 0,964. Slope atau kemiringan merupakan sensitivitas untuk
kurva kalibrasi. Untuk menentukan hubungan dua variabel yaitu konsentrasi [C] dan
absorbans (A) secra statistik ditentukan oleh inilai koefisien korelasi (r) kedua variabel
tersebut. Batas nilai r adalah +1 1 -1, bila nilai r mendekati +1 atau -1 berarti ada
hubungan yang baik anatara C dan A.
Dari data kurva kalibrasi dapat ditentukan absortivitas dengan menggunkan
hukum Lambert-Beer yaitu : A = .b.C . Dengan menggunakan rumus tersebut dapat
dilihat hubungan antara absorbansi dengan konsentrasi, semakin besar konsentrasinya
semakin besar pula absorbansinya.
4.4 Kadar Gas Sulfur Dioksida (SO
2
)
Untuk mengetahui berapa konsentrasi SO2 yang terkandung dalam larutan
sampel, maka sampel di analisis menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Dengan
menggunakan rumus persamaan kurva kalibrasi y = 257,1x 26,25 dapat ditentukan
konsentrasi gas SO2 dalam larutan sampel dengan absorbansi maksimal 0,142 sebagai
berikut.
Gambar 2. Grafik Spektrum Sampel gas SO
2
di daerah kandang peternakan sapi
Universitas Jambi.
26 Kimia Analisis Terapan
Dari analisis spektrofotometri UV-Vis pada gambar 2 diperoleh panjang
gelombang maksimum 566 nm, tetapi berdasarkan Balai Penelitian Dampak
Lingkungan (1997) mengemukakan bahwa pengukuran gas SO
2
dengan menggunakan
spektrofotometr dibaca serapannya pada panjang gelombang maksimum 560 nm. Hal
ini sesuai dinyatakan Christian, Gary D., (1994), Complex dichlorosulfitomercurate
yang terbentuk dari penyerapan SO
2
akan menahan oksidasi oksigen dari uadar serta
bereaksi dengan formaldehyde dan pararosaniline dalam larutan asam yang membentuk
Pararosaniline Methylsulfonic Acid dimana berwarna merah muda dan menyerap pada
panjang gelombang 560 nm.
Perbedaan panjang gelombang maksimum yang terbaca pada spektrum yang
berbeda dengan panjang gelombang pada literatur ini dapat disebabkan oleh beberapa
faktor seperti suhu, pelarut, waktu dan logam berat (terlampir).
Pengambilan sampel.
Y = 257,1x 26,25
0,142 = 257,1x 26,25
0,142 + 26,25 = 257,1x
26,392 = 257,1x
X = 0,1027 ppm atau 0,1027 g/mL, dalam 10 mL larutan penyerap diperoleh gas
SO
2
adalah (0,1027 g/mL x 10 mL) = 1,027 g.
CSO
2
=
Untuk mencari volume Molar menggunakan rumus :
V
m
=
Dimana :
R = 0,0821 L.atm mol
-1
K
-1
T = 304,2 K
P = 101,3 kPa x
,
= 1 atm.
27 Kimia Analisis Terapan
Sehingga :
V
m
=
, . ,
V
m
= 24,975 L mol
-1
atau 0,0249 m
3
mol
-1
CSO
2
=
CSO
2
=
,
,

,
CSO
2
= 40,83 g/gr
CSO
2
= 40,83 ppm dalam per m
3
didapatkan konsentrasi SO
2
adalah 0,04083 ppm/m
3
.
Dari analisis kadar gas SO
2
tersebut di atas kualitas pada gas SO
2
di udara
sekitar kandang peternakan sapi Universitas Jambi masih dibawah ambang batas.
Menurut Kristanto, P (2002), Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa iritasi
pada tenggorokan terjadi pada konsentrasi SO
2
sebesar 5 ppm atau lebih, bahkan pada
beberapa individu yang sensitif, iritasi terjadi pada konsentrasi 1-2 ppm. SO
2
dianggap
polutan yang berbahaya bagi kesehatan terutama terhadap manusia usia lanjut dan
penderita yang mengalami penyakit kronis pada sistem pernafasan dan kardiovaskular.
Individu dengan gejala tersebut sangat sensitif jika kontak dengan SO
2
walaupun
dengan konsentrasi yang relatif rendah, misalnya 0,2 ppm atau lebih.
Menurut Slamet (2002), Efek SO
2
terhadap tumbuhan tampak terutama pada
daun yang menjadi putih atau terjadi nekrosis, daun yang hijau dapat berubah menjadi
kuning, ataupun terjadi bercak-bercak putih. Pengaruh pada daun ini terjadi terutama di
siang hari sewaktu stomata daun sedang terbuka. Apabila yang terpapar SO
2
itu adalah
sayuran, maka perubahan pada warna daun tentunya sangat mempengaruhi harga jual
sayuran. Harta benda dapat juga terpengaruh oleh SO
2
. Gedung-gedung yang
mempunyai arti sejarah, patung-patung bernilai seni dapat rusak karena SO
2
mudah
menjadi H
2
SO
4
yang sangat korosif.
28 Kimia Analisis Terapan
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan yang diperoleh maka dapat
diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Kadar gas SO
2
yang diserap di dalam kandang peternakan sapi Universitas Jambi
diperoleh hasil yaitu 9,7958 x10
-6
m
3
. Dengan panjang gelombang maksimum yang
terbaca adalah 566 nm.
2. Kadar SO
2
yang dihasilkan dari limbah peternakan ayam Universitas Jambi yaitu
sebesar 0,04083 ppm per m
3
dan masih dibawah nilai ambang batas yang telah
ditetapkan.
5.2 Saran
Diperlukan adanya penelitian lebih lanjut tentang penentuan tempat
pengambilan sampel dan pemberian perlakuan uji sehingga pengamatan yang akan
datang lebih akurat.
29 Kimia Analisis Terapan
UCAPAN TERIMA KASIH
Pengamat dan Penyusun ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada Dosen
Pengampu Prof. Drs. H. Sutrisno, M.Sc., Ph.D dan Restina Bemis, S.Si., M.Si atas
pengarahannya dalam Pengamatan dan pembuatan makalah ini, sehingga penulisan ini
dapat sesuai dengan koridor pembuatan makalah yang berlaku dan juga kepada rujukan
buku atau jurnal yang telah mendukung terbentuknya makalah ini yaitu Khairul Nisak
(2014) dalam skripsinya Penentuan Kadar Gas Sulfur Dioksida (SO2) Di Sekitar
Kandang Pertenakan Ayam Universitas Jambi Dengan Spektrofotometri Ultra
Lembayung Sinar Tampak.
30 Kimia Analisis Terapan
DAFTAR PUSTAKA
Arya Wardana, Wisnu. 2001. Dampak Pencemaran Lingkungan. Yogyakarta : Penerbit
Andi.
Christian, Gary D. 1994. Analytical Chemistry. John Wiley & Sons : Inc. USA
Darmono. 2001. Lingkungan Hidup dan Pencemaran. Jakarta : UI-Press.
Departemen Kesehatan, Keputusan Menteri Kesehatan RI, tentang Pengaruh
Konsentrasi SO
2
terhadap Kesehatan. www.depkes.go.id.
Enviromental Health Criteria 8. 1979. Sulfur Oxides and Suspended Particulate matter.
World Health Organization : Geneva
Enviromental Protection Agency. 2003. Reference Method for Determination of Sulfur
Dioxide in The Atmosfere (Pararosaniline Method). EPA : U.S
Khopkar, S.M. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta : UI-Press.
Kristanto, P.2002. Ekologi Industri. Yogyakarta: Andi.
Mulia, R.M. 2005. Kesehatan Lingkungan. Yogyakarta : Graha Mulya.
Nisak, Khairun. 2014. Penentuan Kadar Gas Sulfur Dioksida (SO
2
) Di Sekitar Kandang
Peternakan Ayam Universitas Jambi Dengan Spektofotometer Ultra Lembayung
Sinar Tampak (Skripsi). Jambi : Universitas Jambi
Sastrawijaya, A. Tresna. 2000. Pencemaran Lingkungan. Bandung : Rieneka Cipta.
Slamet, J.S. 2002. Kesehatan Lingkungan. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Underwood., A, L & Day, R., Jr. 1996. Analisis Kimia Kuantitatif. Terjemahaan
Pujaatmaka, A., H. Jakarta : Erlangga.