Anda di halaman 1dari 7

TANGGUNG JAWAB SOSIAL ORGANISASI BISNIS (CSR)

Pengertian CSR
Corporate Social Responsibility (CSR) ialah sebuah pendekatan dimana
perusahaan mengintegrasikan kepedulian sosial di dalam operasi bisnis mereka
dan dalam interaksi mereka dengan para stakeholder berdasarkan prinsip
kemitraan dan kesukarelaan (Nuryana, 2005).
CSR (Program Corporate Social Reponsibility) merupakan salah satu
kewajiban yang harus dilaksanakan oleh perusahaan sesuai dengan isi pasal 74
Undang-undang Perseroan Terbatas (UUPT) yang baru. Undang-undang ini
disyahkan dalam sidang paripurna DPR.
Sejarah CSR
Istilah CSR pertama kali menyeruak dalam tulisan Social Responsibility of the
Businessman tahun 1953. Konsep yang digagas Howard Rothmann Browen ini
menjawab keresahan dunia bisnis. Belakangan CSR segera diadopsi, karena bisa
jadi penawar kesan buruk perusahaan yang terlanjur dalam pikiran masyarakat
dan lebih dari itu pengusaha di cap sebagai pemburu uang yang tidak peduli pada
dampak kemiskinan dan kerusakan lingkungan. Kendati sederhana, istilah CSR
amat marketable melalu CSR pengusaha tidak perlu diganggu perasaan bersalah.
Dalam konteks global, istilah CSR mulai digunakan sejak tahun 1970-an dan
semakin populer terutama setelah kehadiran buku Cannibals with Forks: The
Triple Bottom Line in 21st Century Business (1998) karya John Elkington.
Mengembangkan tiga komponen penting sustainable development, yakni
economic growth, environmental protection, dan social equity yang digagas the
World Commission on Environment and Development (WCED) dalam Brundtland
Report (1987), Elkington mengemas CSR ke dalam tiga fokus: 3P (profit, planet,
dan people). Perusahaan yang baik tidak hanya memburu keuntungan ekonomi
belaka (profit), tetapi memiliki kepedulian terhadap kelestarian lingkungan
(planet) dan kesejahteraan masyarakat (people).
Di Indonesia, istilah CSR semakin populer digunakan sejak tahun 1990-an.
Beberapa perusahaan sebenarnya telah lama melakukan CSA (corporate social


activity) atau aktivitas sosial perusahaan. Walaupun tidak menamainya sebagai
CSR, secara faktual aksinya mendekati konsep CSR yang merepresentasikan
bentuk peran serta dan kepedulian perusahaan terhadap aspek sosial dan
lingkungan.
Prinsip-Prinsip Yang Harus Dipegang Dalam Melaksanakan CSR
Prinsip pertama adalah kesinambungan atau sustainability. Ini bukan berarti
perusahaan akan terus-menerus memberikan bantuan kepada masyarakat.
Tetapi, program yang dirancang harus memiliki dampak yang berkelanjutan. CSR
berbeda dengan donasi bencana alam yang bersifat tidak terduga dan tidak dapat
di prediksi. Itu menjadi aktivitas kedermawanan dan bagus.
Prinsip kedua, CSR merupakan program jangka panjang. Perusahaan mesti
menyadari bahwa sebuah bisnis bisa tumbuh karena dukungan atmosfer sosial
dari lingkungan di sekitarnya. Karena itu, CSR yang dilakukan adalah wujud
pemeliharaan relasi yang baik dengan masyarakat. Ia bukanlah aktivitas sesaat
untuk mendongkrak popularitas atau mengejar profit.
Perinsip ketiga, CSR akan berdampak positif kepada masyarakat, baik secara
ekonomi, lingkungan, maupun sosial. Perusahaan yang melakukan CSR mesti
peduli dan mempertimbangkan sampai kedampaknya.
Prinsip keempat, dana yang diambil untuk CSR tidak dimasukkan ke dalam
cost structure perusahaan sebagaimana budjet untuk marketing yang pada
akhirnya akan ditransformasikan ke harga jual produk. CSR yang benar tidak
membebani konsumen.
Indikator Keberhasilan CSR
Indikator keberhasilan dapat dilihat dari dua sisi perusahaan dan masyarakat.
Dari sisi perusahaan, citranya harus semakin baik di mata masyarakat. Sementara
itu, dari sisi masyarakat, harus ada peningkatan kualitas hidup. Karenanya,
penting bagi perusahaan melakukan evaluasi untuk mengukur keberhasilan
program CSR, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Satu hal yang perlu
diingat, Salah satu ukuran penting keberhasilan CSR adalah jika masyarakat yang
dibantu bisa mandiri, tidak melulu bergantung pada pertolong orang lain.


Manfaat Tanggung Jawab Sosial Perusahaan:
1. Manfaat bagi Perusahaan
Tanggung jawab sosial perusahaan tentunya akan menimbulkan citra positif
perusahaan di mata masyarakat dan pemerintah.
2. Manfaat bagi Masyarakat
Selain kepentingan masyarakat terakomodasi, hubungan masyarakat dengan
perusahaan akan lebih erat dalam situasi win-win solution.
3. Manfaat bagi Pemerintah
Dalam hal ini pemerintah merasa memiliki partner dalam menjalankan misi
sosial dari pemerintah dalam hal tanggung jawab sosial.
Strategi Pengelolaan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan
1. Strategi Reaktif
Kegiatan bisnis yang melakukan strategi reaktif dalam tanggung jawab sosial
cenderung menolak atau menghindarkan diri dari tanggung jawab sosial.
2. Strategi Defensif
Strategi defensif dalam tanggung jawab sosial yang dilakukan oleh perusahaan
terkait dengan penggunaan pendekatan legal atau jalur hukum untuk
menghindarkan diri atau menolak tanggung jawab sosial.
3. Strategi Akomodatif
Strategi Akomodatif merupakan tanggung jawab sosial yang dijalankan
perusahaan dikarenakan adanya tuntutan dari masyarakat dan lingkungan
sekitar akan hal tersebut.
4. Strategi Proaktif
Perusahaan memandang bahwa tanggung jawab sosial adalah bagian dari
tanggung jawab untuk memuaskan stakeholders. Jika stakeholders terpuaskan,
maka citra positif terhadap perusahaan akan terbangun.
Dampak Lingkungan Dan Pembangunan Berkelanjutan
- Dampak Pencemaran Air
Air yang telah tercemar dapat mengakibatkan kerugian terhadap manusia juga
ekosistem yang ada didalam air.


- Dampak Pencemaran Udara
Dengan dibangunnya pabrik di perkotaan asapnya dapat mengakibatkan polusi
udara sehingga menganggu kenyamanan bagi para pemakai jalan. Apabila udara
telah tercemar maka akan menimbulkan penyakit seperti sesak napas.
- Dampak Pencemaran Tanah
Tanah yang telah tercemar oleh bahan pencemar seperti senyawa karbonat maka
tanah tersebut akan menjadi asam, H2S yang bersama CO membentuk senyawa
beracun didalam tanah sehingga cacing penggembur tanah mati.
Dampak Positif/Manfaat CSR
- Bagi Perusahaan ; Tanggung jawab sosial perusahaan tentunya akan
menimbulkan citra positif perusahaan di mata masyarakat dan
pemerintah.
- Bagi Masyarakat ; Selain kepentingan masyarakat terakomodasi,
hubungan masyarakat dengan perusahaan akan lebih erat dalam situasi
win-win solution, dan juga Tingkat pengangguran berkurang di tengah
maraknya PHK besar-besaran.
- Bagi Pemerintah ; Dalam hal ini pemerintah merasa memiliki partner
dalam menjalankan misi sosial dari pemerintah dalam hal tanggung jawab
sosial.
Upaya Penerapan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan untuk Berkembang
Bersama Masyarakat.
Perusahaan Akan memberikan kontribusi dalam pencapaian kualitas hidup
yang lebih baik bagi masyarakat. Perhatian utama Perusahaan adalah
memenangkan hati pelanggan (internal dan eksternal) dan upaya
membahagiakan konsumen dan masyarakat secara terus-menerus, dengan
memahami dan mengantisipasi kebutuhan mereka, serta menanggapinya secara
mandiri, dengan cara :
a. Secara proaktif mendengarkan kebutuhan konsumen dan masyarakat
menghasilkan tindakan yang berfokus pada peningkatan nilai.


b. Menanggapi dengan serius setiap persoalan pelanggan, pembeli dan
masyarakat.
c. Merencanakan secara efektif memberikan waktu persiapan yang cukup
untuk bekerja dengan baik.
d. Memenuhi apa yang dijanjikan tepat waktu.
e. Peduli terhadap kondisi sosial masyarakat di sekitar.
Bentuk Tanggung Jawab Sosial Bentuk terhadap Pencemaran Limbah yang
Ditimbulkan.
Tanggung jawab social perusahaan mengenai pencemaran limbah yang
ditimbulkan perusahaan, dapat diwujudkan melalui beberapa program, antara
lain :
Program Pengembangan Usaha Kecil Menengah;
Program Pelestarian Sumber Air;
Program Daur Ulang dan
Program Pendidikan Kesehatan Masyarakat.
Regulasi Tanggung Jawab Sosial Dan Lingkungan Dalam Perusahaan
Di Indonesia sendiri, munculnya Undang-Undang No. 40 tahun 2007 tentang
Perseroan Terbatas (UU PT) menandai babak baru pengaturan CSR. Selain itu,
pengaturan tentang CSR juga tercantum di dalam Undang-Undang No. 25 tahun
2007 tentang Penanaman Modal (UU PM). Walaupun sebenarnya pembahasan
mengenai CSR sudah dimulai jauh sebelum kedua undang-undang tersebut
disahkan. Salah satu pendorong perkembangan CSR yang terjadi di Indonesia
adalah pergeseran paradigma dunia usaha yang tidak hanya semata-mata untuk
mencari keuntungan saja, melainkan juga bersikap etis dan berperan dalam
penciptaan investasi sosial.
Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan dalam Undang-Undang RI No. 40
Tahun 2007 tanggal 16 Agustus 2007 yang tercantum dalam bab V pasal 74.
Dalam pasal 74 di sebutkan sebagai berikut :


1. Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau
berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan Tanggung Jawab
Sosial dan Lingkungan.
Ketentuan ini bertujuan untuk tetap menciptakan hubungan Perseroan
yang serasi, seimbang, dan sesuai dengan lingkungan, nilai, norma, dan
budaya masyarakat setempat.Yang dimaksud dengan Perseroan yang
menjalankan kegiatan usahanya di bidang sumber daya alam adalah
Perseroan yang kegiatan usahanya mengelola dan memanfaatkan sumber
daya alam. Yang dimaksud dengan Perseroan yang menjalankan kegiatan
usahanya yang berkaitan dengan sumber daya alam adalah Perseroan yang
tidak mengelola dan tidak memanfaatkan sumber daya alam, tetapi kegiatan
usahanya berdampak pada fungsi kemampuan sumber daya alam.
2. Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
merupakan kewajiban Perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan
sebagai biaya Perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan
memperhatikan kepatutan dan kewajaran.
3. Perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
Yang dimaksud dengan dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan adalah dikenai segala bentuk sanksi yang
diatur dalam peraturan perundang-undangan yang terkait.
4. Ketentuan lebih lanjut mengenai Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan
diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Sedangkan pengaturan di dalam UU PM, yaitu di dalam Pasal 15 huruf b adalah
sebagai berikut ; Setiap penanam modal berkewajiban melaksanakan tanggung
jawab sosial perusahaan.
Kemudian di dalam Pasal 16 huruf d UU PM disebutkan sebagai berikut ; Setiap
penanam modal bertanggung jawab menjaga kelestarian lingkungan hidup.

Beri Nilai