Anda di halaman 1dari 27

MAKALAH MANAJEMEN LABORATORIUM

ORGANISASI LABORATORIUM

Di Susun Oleh :
1) Aenolia Farizki Novi (P07134012 001)
2) Dhika Juliana Sukmana (P07134012 009)
3) Dian Ekawati (P07134012 010)
4) Mang Bagus Purwantadi (P07134012 024)
5) Muhammad Rizqi Adityansyah (P07134012
025)
6) Nurkomalasari (P07134012 033)
7) Nurul Hikmatil Hasanah (P07134012 035)
8) Rival Anugrah Ramdhani (P07134012 039)
9) Siti Rifah Sabariah (P07134012 043)
10) Suriyani (P07134012 045)


11) Wahyu Kurnia (P07134012 046)
12) Winda Permata Sari (P07134012 048)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN MATARAM
JURUSAN ANALIS KESEHATAN MATARAM
Jalan Praburangkasari Dasan Cermen Cakranegara Telepon
(0370) 631160
2014
i

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena hanya
dengan segala rahmat dan karunia-Nya sajalah penulis dapat membuat makalah tentang
Organisasi Laboratorium ini. Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk
menambah pengetahuan tentang organisasi laboratorium dalam manajemen laboratorium.
Kami juga sebagai penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
telah berpartisipasi dalam pembuatan makalah ini. Penulis menyadari bahwa makalah ini
jauh dari sempurna, baik dari segi materi maupun bahasanya. Hal tersebut terjadi karena
keterbatasan pengetahuan, kemampuan dan pengalaman yang dimiliki penulis. Oleh karena
itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran demi perbaikan makalah ini. Semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca, khususnya mahasiswa Poltekkes Kemenkes
Mataram dan semua pihak pada umumnya.



Mataram, Maret 2014

Tim Penyusun




ii

DAFTAR ISI
Kata Pengantar ....................................................................................................... i
Daftar Isi ................................................................................................................. ii
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ............................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah....................................................................................... 2
C. Tujuan ......................................................................................................... 3
BAB II. PEMBAHASAN
A. Organisasi Laboratorium ............................................................................ 4
B. Struktur Organisasi ..................................................................................... 6
C. Ketatausahaan ........................................................................................... 8
BAB III. PENUTUP
A. Kesimpulan .................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................
3

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Telah diketahui bahwa laboratorium merupakan perangkat penunjang
pelaksanaan akademik dalam sebagian atau satu cabang ilmu pengetahuan dan
teknologi di Politeknik Kesehatan Mataram. Laboratorium diharapkan mampu
melayani kebutuhan proses ekademik pada suatu cabang-cabang ilmu yang
relevan, sehingga pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian pada
masyarakat yang membutuhkan perangkat laboratorium dapat terpenuhi dan
terlayani dengan baik. Pelayanan suatu laboratorium tidak hanya terbatas untuk
kalangan internal perguruan tinggi, akan tetapi juga diharapkan mampu melayani
masyarakat secara luas dalam cabang ilmu penge tahuan dan teknotogi yang
relevan. Untuk itu, diperlukan pengelolaan laboratorium secara baik sesuai
dengan kapasitas dan fasilitas yang dimiliki setiap laboratorium.
Pengelolaan laboratorium harus dilakukan sebaik mungkin agar
pemanfaatannya dapat diperoleh secara maksimal untuk mencapai sasaran
pendidikan di suatu perguruan tinggi. Selain fasilitas laboratorium yang tersedia,
pemanfaatan laboratorium sangat bergantung kepada pengelola labaratorium itu
sendiri. Kelengkapan komponen-komponen pengelola laboratorium, relevansi
bidang ilmu, serta kinerja yang baik akan dapat mewujudkan perannya melayani
proses akademik secara maksimal. Oleh karena itu pada suatu laboratorium,
setiap komponen pengelolanya harus memahami tanggung jawab dan
wewenang masing-masing.
4

Manajemen laboratorium (laboratory management) adalah usaha untuk
mengelola laboratorium. Suatu laboratorium dapat dikelola dengan baik sangat
ditentukan oleh beberapa faktor yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya.
Beberapa alat-alat laboratorium yang canggih, dengan staf profesional yang
terampil belum tentu dapat berfungsi dengan baik, jika tidak didukung oleh
adanya manajemen laboratorium yang baik. Oleh karena itu manajemen
laboratorium adalah suatu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan
laboratorium sehari-hari.
Pengelolaan laboratorium akan berjalan dengan lebih efektif bilamana
dalam struktur organisasi laboratorium didukung oleh Board of Management
yang berfungsi sebagai pengarah dan penasehat. Board of Management terdiri
atas para senior/profesor yang mempunyai kompetensi dengan kegiatan
laboratorium yang bersangkutan.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Organisasi Laboratorium?
2. Apa saja bagian dari Organisasi Laboratorium?
3. Bagaimana organisasi dan tata kerja laboratorium?
4. Bagaimana peranan dan fungsi Ketatausahaan dalam Laboratorium?

C. Tujuan
1. Mahasiswa dapat memahami mengenai Organisasi Laboratorium
2. Mahasiswa dapat mengetahui bagian dan peranan dari masing-masing
komponen Organisasi Laboratorium
5

3. Mahasiswa dapat mengetahui peranan dan fungsi Ketatausahaan dalam
Laboratorium

















6

BAB II
PEMBAHASAN
A. ORGANISASI LABORATORIUM
Organisasi adalah kesatuan atau kelompok kerjasama untuk
menggerakkan aktivitas guna mencapai tujuan bersama dan terikat secara
formal dalam suatu ikatan hirarki, dimana selalu terdapat hubungan antara
seseorang/sekelompok orang yang disebut pimpinan dan seorang/sekelompok
orang yang disebut bawahan.
. Laboratorium adalah tempat riset ilmiah, eksperimen, pengukuran ataupun
pelatihan ilmiah yang dilakukan. Pada SPTK-21 dikemukakan Laboratorium
merupakan tempat untuk mengaplikasikan teori keilmuan, pengujian teoritis,
pembuktian uji coba, penelitian, dan sebagainya dengan menggunakan alat
bantu yang menjadi kelengkapan dari fasilitas dengan kuantitas dan kualitas
yang memadai (Depdiknas, 2002).
Tergantung dari status laboratorium, laboratorium dapat juga berfungsi
dalam pelayanan, pelatihan, pendidikan dan penelitian di bidang laboratorium
klinik antara lain hematologi, kimia klinik, imunologi, mikrobiologi klinik, urinalisis
dan analisis cairan tubuh lainnya, baik untuk keperluan lab. klinik sendiri maupun
bersama bidang lainnya terutama bidang klinik.
Setiap organisasi berlandaskan participative governance artinya ada
kerjasama antar setiap bidang atau unit untuk mencapai tujuan, atau di rumah
sakit merupakan clinical governance yang memprioritaskan partisipasi antar
unit untuk pengembangan profesional berkelanjutan. Selanjutnya organisasi
tersebut menggunakan good governance artinya memanfaatkan pemerintah
7

misalnya dalam kebijakan, sektor swasta misalnya bantuan dan masyarakat sipili
(civil society) misalnya akademisi, kelompok profesi untuk berinteraksi konstruktif
dalam mencapai tujuan.
Untuk organisasi, berbadan hukum, rumah sakit, apalagi yang sudah
menjadi Perjan, termasuk laboratorium perlu berlandaskan corporate
governance artinya di samping berlandaskan partisipatisi (participative
governance) dan kebersamaan (good governance) perlu berusaha mandiri
agar lestari artinya dalam usahanya harus ada keuntungan supaya tetap
eksis, lestari dan lebih baik (sustainable development) di samping tetap
memperhatikan usaha sosial misalnya memberikan dispensasi bagi yang miskin
dalam pelayanan laboratorium klinik.
Dalam pelayanan laboratorium perlu adanya peran gender, artinya peran
pria dan wanita dalam laboratorium tersebut dari segi sosial sama tingginya,
siapa yang lebih baik dari segi profesi dan prestasi, kepemimpinan dan
manajemen berhak mendapatkan kedudukan atau jabatan dan reward yang
sesuai.

B. ORGANISASI DAN TATA KERJA LABORATORIUM
Organsiasi laboratorium sebaiknya memperhatikan pilar-pilar organisasi
untuk mencapai tujuan atau sasaran. Sedikitnya ada sepuluh pilar yang perlu
dimanfaatkan yaitu nilai (values), struktur (stuctures), kepemimpinan
(leadership), proses manajemen (management pro- cesses), informasi
(information), tata kerja dan kemitraan (procedures and partnership) kompetensi
(competences), pengawasan (controls),kinerja (performance), dan pembayaran
8

(pay)
)
.
Pilar-pilar organisasi tersebut yaitu :
1. Nilai atau Wawasan Organisasi laboratorium
Nilai merupakan hal yang mendasar, antara lain berisi visi, misi dan
tujuan/sasaran organisasi. Sejumlah nilai ini tak begitu nampak dalam tata
kerja sehari-hari, namun bila ada kesempatan atau ancaman, nilai tersebut
sangat berguna untuk mewujudkan partisipasi dan kebersamaan dalam
memecahkan permasalahan atau mencapai sasaran.
Sebagai contoh visi, misi dan sasaran laboratorium secara garis besar
adalah sebagai berikut :
Visi
Menjadi pusat unggulan dalam pelayanan, pendidika, pelatihan dan penelitian
laboratorium serta pengembangannya sesuai kebijakan untuk memuaskan
pengguna jasa.

Misi:
1. Memberikan pelayanan laboratorium secara optimal yang memuaskan
pengguna jasa dan karyawan laboratorium tentang skrining penyakit,
diagnosis, prognosis dan monitoring terapi.
2. Memfasilitasi pelaksanaan pendidikan, pelatihan, penelitian dan
penggunaan teknologi baru dan manajemen di bidang laboratorium
klinik untuk meningkatkan mutu produktivitas secara berkelanjutan.
3. Menjalin tata kerja dan kemitraan berkelanjutan berpedoman pada:
3.1 Participative governance dalam unit kerja artinya partisipatif,
9

transparan, akuntabel, sustainabel, keadilan, kesetaraan gender
dan lain-lain syarat governance, dan;
3.2 good governance dengan sesama unit kerja, pimpinan rumah
sakit, pemerintah, masyarakat sipil (civil society) terutama dokter,
ahli dalam berbagai bidang dan swasta antara lain industri,
donor agency, dan pengguna laboratorium, serta;
3.3 corporate governance untuk kemandirian, kelestarian dan
kesejahteraan.

4. Mengembangkan jenis dan paket/panel pelayanan laboratorium yang
diperlukan pengguna jasa dan memanfaatkan laboratorium untuk
meningkatkan produktivitas antara lain mengurangi biaya operasional
namun tetap menambah pendapatan.
5. Memberikan informasi yang berkaitan dengan pelayanan dan
pengembangan laboratorium secara cepat, tepat, teliti dan terpadu
serta terus diperbaiki.
6. Menjaga produktivitas dan kinerja laboratorium yang terus
meningkat dalam mutu, akreditasi, untuk kepentingan kesehatan dan
kesejahteraan.
7. Menyesuaikan dengan pengguna jasa dan kemampuan laboratorium
serta cost effectiveness arah pelayanan laboratorium abad 21 yaitu
antara lain:
10


a. Diagnosis sel dan diagnosis molekuler misalnya PCR, DNA
probes.
b. Genetika dan biologi misalnya neorobiologi dan biologi reproduksi.
c. Segala jenis tes Imunologi untuk diagnosis.
d. Point of Care Testing (POCT).
e. Otomatisasi tes sampai dengan tes secara robotik dengan
memperhatikan kebutuhan.
f. Telemedicine dalam hal ini telepathology dan
telecommunications yang semuanya diarahkan untuk kesehatan
penderita/pengguna jasa.

Sasaran dan Tujuan:
Terwujudnya mutu pelayanan laboratorium yang terus meningkat secara
berkelanjutan yang didukung kebijakan pimpinan rumah sakit dan memuaskan
pengguna jasa pada era globalisasi khususnya AFTA tahun 2003, sehat untuk
semua 2010 dan Health for All 2025.
Nilai merupakan wawasan organisasi. Dalam pengembangannya agar selalu
sesuai dengan kebijakan dan kebutuhan pengguna jasa karena itu selalu dapat
dipertimbangkan inisiatif atau referensi baru yang memperbaiki wawasan tersebut.




11

2. Struktur Organisasi Laboratorium
Pengorganisasian atau pengelolaan laboratorium dapat diartikan sebagai
pelaksanaan dalam pengadministrasian, perawatan, pengamanan, serta
perencanaan untuk pengembangan secara efektif dan efisien.
Salah satu contoh struktur organisasi laboratorium disajikan pada gambar
berikut :

Semua komponen dalam organisasi laboratorium memiliki peranan dan fungsi
masing-masing. Dalam menjalankan peranan tersebut diatur dan diawasi
berdasarkan manajemen yang telah disepakati bersama dalam organisasi
sebagai salah satu fungsi manajemen. Berikut adalah fungsi dari komponen
organisai laboratorium :
12

a) Kepala laboratorium. Kepala laboratorium memiliki peranan sebagai
seorang pimpinan dalam organisasi, dalam hal ini Laboratorium. Segala
kebijakan akan diputuskan dan ditetapkan oleh seorang pemimpin atau ketua
dengan koordinasi dengan bagian yang terkait. Semua koordinasi dalam
organisasi terpusat pada seorang pemimpin. Kepala Laboratorium
memegang fungsi pengawasan dalam setiap langkah organisasi dalam
perjalanannya mencapai tujuan bersama.
b) Koordinator Teknis, Mutu, Administrasi Pelayanan dan Keuangan.
Koordinator merupakan perpanjangan tangan dari ketua dalam rangka
mengkoordinasi dan mengawasi jalannya organisasi dalam bidangnya
masing-masing. Segala masalah dalam masing-masing bidang akan
ditampung oleh coordinator dan dalam penyelesaiannya akan di
koordinasikan bersama dengan ketua atau pimpinan organisasi. Coordinator
akan membawahi kepala-kepala bagian dari masing-masing unit
laboratorium (mis: unit Mikrobiologi dsb). Coordinator teknis akan
mengkoordinasi dan mengawasi perjalanan teknis dari laboratorium, mulai
dari SOP yang digunakan, penggunaan alat dan bahan secara efisien guna
mendapat keuntungan yang maksimal dan sebagainya. Koordinator mutu,
bertanggung jawab atas jaminan mutu produk yang dikeluarkan oleh
laboratorium. Sedangkan coordinator pelayanan dan administrasi memegang
peranan dalam pengurusan administrasi laboratorium mulai dari pendataan
hingga masalah keuangan laboratorium dan memberi batasan masalah
pelayanan yang terkait.
13

c) Petugas. Petugas laboratorium/laboran memiliki peranan sebagai kaki
tangan organisasi dalam kehidupan berorganisasi. Petugas merupakan salah
satu bagian vital bagi organisai, karena jika tanpa petugas, maka jalannya
organisasi tidak akan mulus.
d) Klien. Klien merupakan pengguna jasa dari suatu organisai.

3. Tata Kerja di Laboratorium Klinik
Tata kerja menggambarkan sistim aliran kegiatan dalam organisasi dalam
hal ini lab. hingga lab. tersebut berfungsi. Agar fungsi lab. tersebut produktif,
perlu diterapkan beberapa prinsip, proses, deskripsi pekerjaan dan alur
kerja.
Prinsip Tata Kerja
Prinsip tata kerja tersebut antara lain adalah keamanan
(security/safety), kesederhanaan (simpilcity), efektivitas dan efisiensi
(effectiviness and efficiency), keadilan (equity), kualitas (quality), kelestarian
(sustainability), tanggung jawab (responsibility) dan kesejahteraan (welfare)
(8)
.
Secara singkat contoh prinsip tersebut adalah sebagai berikut:
Security and safety :
o keamanan dalam tata kerja lab. pra-analitik, analitik, pasca-
analitik.
o keamanan dalam tata kerja administrasi yang memerlukan
kerjasama, partisipasi dan tanggung jawab karyawan tim yang
berkaitan.
Simplicity :
14

o kesederhanaan prosedur administrasi hingga birokrasi diperpendek
dan pro- sedur tetap tes pra-analitik, analitik, dan pasca analitik.
Efficiency & Effectiveness :
o semua bertanggung jawab atas kecepatan prosedur tata kerja hingga
dapat selesai tepat waktu.
Equity :
o keadilan dalamprosedur tata kerja antara lain tak membedakan gender
dan kaya miskin dalam pelayanan.
Quality :
o kualitas hasil tata kerja administrasi maupun hasil lab harus
baik.
Responsibility :
o anggung jawab semua karyawan sesuai deskripsi pekerjaaan dan tata
kerja sesuai tugasnya.
Welfare :
o kesejahteraan karyawan maupun pengguna jasa misalnya memberi
kemu- dahan bagi yang tak mempu untuk tetap meningkatkan
kesehatan.
Sustainability :
o kelestarian pengembangan fungsi lab. hingga terjadi perbaikan
berkelanjutan
(continous improvement).




15

Proses Tata Kerja
Tata kerja adalah aturan atau mekanisme fungsi unit, seksi atau sub unit di
lab. klinik dengan prinsip partisipatif, profesional dan kebersamaan kerja untuk
mencapai sasaran. Koordinasi menyeluruh oleh kepala lab. dimulai dari
perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi hasil. Untuk jelasnya
diberikan pengertian-pengertian sebagai berikut:
1. Koordinasi adalah suatu upaya/usaha pimpinan untuk menyelaraskan
kegiatan masing-masing petugas dalam organisasi dengan maksud agar
supaya semua kegiatan yang terkait dapat diselesaikan tepat waktu sesuai
rencana dengan hasil tepat sasaran atau target. Hal ini dapat dilaksanakan
dengan jalan mengadakan rapat-rapat baik formal maupun non formal yang
membahas berbagai hambatan yang dihadapi oleh berbagai petugas atau
seksi/sub unit organisasi. Dalam pembahasan tersebut diharapkan akan
mencapai kesepakatan bersama apa yang harus dilakukan agar dapat
mengatasi hambatan-kelemahan dan meningkatkan kesempatan-
kekuatan untuk memperoleh hasil yang memuaskan.
2. Perencanaan adalah proses atau kegiatan menetapkan apa yang akan
kita kerjakan di masa yang akan datang baik mengenai waktu, jumlah, dan
mutunya dalam rangka mencapai sasaran tertentu. Bila perencanaan
tersebut dapat dicapai dan diselesaikan dengan lebih baik dan rinci maka
tujuan usaha ini dapat dicapai dan diselesaikan dengan lebih memuaskan
karena dapat diselesaikan menurut urutan tingkatan penting dan yang
kurang penting. Perencanaan biasanya dibagi menjadi jangka panjang
misal untuk 10-25 tahun, jangka menengah untuk lima tahun dan jangka
16

pendek atau rencana tahunan.
3. Organisasi dan Pelaksanaan adalah pelaksanaan atau tata kerja
berdasarkan organisasi yang ada atau yang dibentuk, semua kegiatan
lab. klinik selama 24 jam (lab. pagi, sore dan malam, lab. rawat darurat
dan lab intensif). Pelaksanaan kegiatan selalu berlandaskan
efektivitas, efisiensi dan produktifitas.
a. Efektivitas adalah evaluasi atau penilaian tentang apakah
kegiatan telah dilakukan sesuai dengan yang direncanakan baik
mengenai waktu kerja maupun mengenai mutu dan volume kerja.
b. Efisiensi adalah suatu evaluasi terhadap suatu proses atau
kegiatan dengan jalan mengukur masukan (input) dengan
keluaran (output), atau antara sumber daya yang digunakan
dengan hasilnya, atau satuan biaya tertentu dengan hasilnya.
c. Produktivitas dapat didefinisikan dengan efisiensi penggunaan
sumber daya tertentu dalam menghasilkan output. Cara
pengukurannya antara lain adalah sebagai berikut:
o Keluaran/hasil (output) per jam orang.
o Keluaran/hasil (output per unit modal.
4. Pengawasan adalah segala upaya yang harus dilakukan oleh atasan
langsung dengan maksud agar segala sasaran atau rencana yang ingin
dilakukan dapat terlaksana dengan baik. Upaya- upaya dilakukan dalam
pengawasan itu banyak bentuk serta variasinya. Apa saja yang harus
diketahui agar supaya pengawasan dapat dilakukan antara lain adalah
sebagai berikut:
17

a. Apa yang harus dikerjakan, misalnya:
o jumlah dan jenis tes
o mutu hasil tes
o waktu yang tersedia
b. Sumber daya yang dipakai untuk pekerjaan atau tes tersebut:
o tenaga kerja misalnya tenaga administrasi atau analis.
o bahan-bahan misalnya formulir permintaan dan formulir jawaban
tes.
o peralatan operasional dan telah distandarisasi.
o fasilitas lainnya misalnya aliran listrik dengan tegangan tetap, air
bersih, AC., dll.
c. Segera mengetahui bila terjadi hambatan:
o apa yang terjadi misalnya hasil tes tak cocok dengan
penyakitnya.
o apa sebabnya misalnya aliran listrik dan tegangannya.
o cara mengatasinya misalnya stabilitas aliran listrik dan
memisahkan dengan fungsional lain, standarisasi ulang,
gangguan alat dan sebagainya.
d. Apa yang dilakukan dalam mengatasi hambatan itu:
o siapa yang melakukan
o bagaimana caranya
o berapa biayanya
o kapan selesainya
e. Bila pekerjaan selesai:
18

o berapa waktu penyelesaiannya.
o bagaimana mutu hasil tes.
o bagaimana biayanya dibandingkan dengan biaya
operasionalnya.
f. Bagaimana pekerjaan dapat lestari:
o prasarana lab., air, listrik dan lain-lain baik.
o sarana: alat, reagen dan lain-lain tersedia dan diperkirakan tidak
kadaluwarsa.
o SDM terlatih untuk tiap kegiatan tersedia.
g. Stabilitas ekonomi, politik dan keamanan yang mendukung fungsi
lab. klinik serta strategi pemasaran yang berhasil untuk
pengembangan lab.
5. Evaluasi Hasil adalah penilaian hasil kegiatan apakah sesuai dengan
perencanaan, apakah ada hambatan-kelemahan hingga perlu analisis
SWOT untuk mengurangi hambatan-kelemahan dan meningkatkan
kesempatan kekuatan.

C. KETATAUSAHAAN
Ditinjau dari asal katanya Tata Usaha terdiri dari kata Tata dan Usaha ,
masing masing memiliki pengertian : Tata adalah suatu peraturan yang harus
ditaati, dan usaha adalah energi atau tenaga yang dikeluarkan untuk
tercapainya suatu maksud / tujuan. Jadi menurut arti kata tata usaha adalah suatu
peraturan yang terdapat dalam suatu proses penyelenggaraan kerja. Dalam
kamus bahasa Indonesia : Tata Usaha ialah penyelenggaraan tulis menulis
19

(keuangan dan sebagainya) diperusahaan, Negara dan sebagainya, sedangkan
pinata usaha adalah orang yang menyelenggarakan tata usaha.
Bagian Tata Usaha
Bagian Tata Usaha mempunyai tugas memberikan pelayanan teknis administratif
kepada seluruh satuan organisasi. Dalam melaksanakan tugas, Bagian Tata
Usaha menyelenggarakan fungsi:
Pelaksanaan urusan persuratan dan kepegawaian
Pelaksanaan urusan keuangan
Pelaksanaan urusan perlengkapan dan rumah tangga
Pelaksanaan administrasi kegiatan ilmiah, dokumentasi dan publikasi
Bagian Tata Usaha, terdiri dari:
1. Subbagian Persuratan dan Kepegawaian
Memimpin, merencanakan, mengorganisasi, mengarahkan dan mengawasi
seluruh sumber daya dalam rangka urusan persuratan dan kepegawaian.
2. Subbagian Keuangan
Memimpin, merencanakan, mengorganisasi, mengarahkan dan mengawasi
seluruh sumber daya dalam rangka urusan keuangan.
3. Subbagian Perlengkapan
20

Memimpin, merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan dan
mengawasi seluruh sumber daya dalam rangka urusan perlengkapan dan
rumah tangga.
4. Subbagian Dokumentasi Ilmiah
Memimpin, merencanakan, mengorganisasi, mengarahkan dan mengawasi
seluruh sumber daya dalam rangka urusan administrasi kegiatan ilmiah,
dokumentasi dan publikasi.
Peranan tata usaha labkes :
1. Penyediaan data dan laporan
2. Kepegawaian
3. Keuangan
4. Perlengkapan
Pengadaan sarana
Pemeliharaan sarana
5. Umum
Administrasi perkantoran
Perpustakaan
RT
21

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Telah diuraikan secara singkat organisasi laboratorium untuk peningkatan
produktivitas dan pengembangannya serta pertumbuhan berkelanjutan dengan
berlandaskan governance. Dalam era globalisasi, reformasi dan desentralisasi atau
otonomi daerah, organisasi laboratorium perlu ditingkatkan untuk menjadi salah
satu unggulan. Untuk itu perlu peningkatan pengelolaannya, baik partisipasi antar
unit di laboratorium atau clinical governance, kemitraan dengan swasta,
masyarakat sipil dan pemerintah atau good governance serta bersama pengguna
jasa dan pemilik meningkatkan produktivitas unit usaha rumah sakit yaitu corporate
governance secara profesional untuk mendapat keuntungan namun tetap
memperhatikan faktor sosial. Dengan demikian laboratorium akan mengoptimalkan
kualitas fungsinya yaitu pelayanan, memfasilitasi penelitian, pendidikan dan
pelatihan laboratorium klinik untuk kepuasan pengguna jasa mapun untuk
kesehjateraan karyawan dan kelestarian atau pembangunan berkelanjutan.
22

23

24

1