Anda di halaman 1dari 164

JudulBuku : Supplemen Astrofisika

Penulis : Dr. Chatief Kunjaya MSc


PerancangKulit : Charlie Bronson Wuli
Foto Cover : Muhammad Yusuf
Ilustrasi : Arif Ridwan Abriyanto
Tata Letak : Listya Dara Sunda Prabawa
Diterbitkan oleh : PT Trisula Adisakti
PemegangHakCipta : Dr. Chatief Kunjaya MSc.
Hak cipta 2014
CetakanBuku :
ISBN :
Dilarang keras mengutip, menjiplak atau memfotokopi baik sebagian atau seluruh
isi buku ini serta memperjualbelikannya tanpa mendapat izin tertulis dari Penulis.
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 19 TAHUN 2002
TENTANG HAK CIPTA
Pasal 72
KetentuanPidana
SangsiPelanggaran
1. Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau
memperbanyak suatu ciptaan atau memberikan izin untukitu, dipidana
dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) bulandan/ataudenda paling
sedikitRp 1.000.000,00 (satujuta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7
(tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima
milyar rupiah).
2. Barang siapa dengan sengaja menyerahkan, menyiarkan,
memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan
atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagai mana
dimaksud pada ayat (1), dipidanadenganpidanapenjara paling lama 5 (lima)
tahundan/ataudenda paling banyakRp 500.000.000,00 (lima ratusjuta
rupiah)

iii


KATA PENGANTAR

Angkasa luar adalah harapan bagi masa depan umat manusia, karena
sumber daya di Bumi terbatas sementara populasi manusia semakin
meningkat. Perubahan di Bumi antara lain juga dipengaruhi oleh peristiwa
yang terjadi di angkasa luar, sebagai contoh, perubahan aktivitas matahari
mempengaruhi iklim di Bumi dan mempengaruhi hayat hidup orang
banyak. Kebergantungan manusia pada angkasa luar juga semakin
meningkat, telekomunikasi sangat bergantung pada keberadaan satelit
komunikasi yang melayang-layang di angkasa luar. Itu adalah sedikit
contoh betapa semakin penting kita mempunyai pengetahuan tentang
angkasa luar, masih banyak contoh-contoh lain yang dapat ditampilkan.
Beberapa decade lalu, ketika manusia baru mulai memasuki abad angkasa
luar, pelajaran tentang ilmu-ilmu angkasa luar terasa dipentingkan
keberadaannya sehingga menjadi mata pelajaran tersendiri di Sekolah
Menengah Atas, yaitu ilmu Falak. Ironisnya, sekarang pada saat ilmu-ilmu
angkasa luar seperti astronomi semakin berkembang pesat dan semakin
penting, aplikasinya semakin banyak, manusia semakin bergantung kepada
satelit-satelit di angkasa luar, justru pelajaran astronomi menjadi hilang
dari kurikulum SMA. Materi astronomi dilempar sana lempar sini, pernah
bergabung dengan Ilmu Bumi menjadi IPBA, pernah menjadi bagian dari
Fisika akhirnya menjadi bagian dari pelajaran Geografi.
Sebenarnya boleh saja astronomi masuk ke dalam pelajaran geografi,
karena memang ada juga hubungannya. Namun penunjang utama
astronomi adalah matematika dan fisika, sedangkan geografi merupakan
bagian dari pelajaran IPS di kelas 3 SMA, sehingga kemungkinan guru
geografi bisa kesulitan dalam mengajarkan aspek fisika dari materi
astronomi. Ironisnya, pada kurikulum yang lalu siswa yang mempunyai
dasar yang kuat untuk belajar astronomi yaitu siswa jurusan IPA tidak
mendapat kesempatan untuk mendalami Astronomi di kelas 3, sementara
siswa jurusan IPS yang tidak lagi belajar fisika harus mempelajari ilmu
yang membutuhkan dasar pengetahuan fisika. Ironi berikutnya adalah
siswa jurusan IPS yang di kelas 3 SMA belajar astronomi justru tidak dapat
mendaftar ke jurusan astronomi di universitas, sedangkan yang siswa
jurusan IPA yang tidak lagi belajar astronomi di kelas 3 SMA justru bisa
mendaftar ke jurusan astronomi kalau mau.

iv KATA PENGATAR

Untuk menjembatani hal ini, telah diusulkan kepada Badan Standard
Nasional Pendidikan untuk menerapkan prinsip-prinsip fisika yang
dipelajari di mata pelajaran fisika dalam problem-prolem bernuansa
astronomi di dalam pelajaran fisika. Dengan demikian guru fisika tidak
perlu mengajarkan materi astronomi secara tersendiri, melainkan tinggal
melanjutkan ke contoh astronomi dari konsep fisika yang telah diajarkan.
Di dalam kurikulum SMA 2013, sudah ada perubahan yang lebih positif,
yaitu siswa dari peminatan berbeda masih ada kemungkinan mengambil
pilihan pelajaran di peminatan yang lain.
Buku ini ditulis dengan semangat yang searah dengan perubahan
kurikulum SMA 2013. Dengan menggunakan buku ini para siswa yang ingin
memperdalam fisika bisa melakukan pendalaman ke arah aplikasi
astronomi dengan berpijak pada dasar pengetahuan fisika sebelumnya.
Para siswa yang berminat berpartisipasi dalam olimpiade astronomi dapat
menggunakan buku ini sebagai pegangan, karena seleksi daerah akan lebih
memperhatikan kurikulum 2013. Para guru pembina olimpiade astronomi
dapat lebih mampu membina siswanya dalam menghadapi seleksi daerah.
Siswa yang mengambil peminatan ilmu-ilmu sosial dapat mendalami
pelajaran geografinya ke arah astronomi dengan menggunakan buku ini.
Sekolah-sekolah juga dapat membuat mata pelajaran astronomi tersendiri
sebagai pendalaman mata pelajaran Fisika atau Geografi.
Akhir kata, penulis menyampaikan puji syukur dan terima kasih kepada
Tuhan Yang Maha Kuasa atas izinnya buku ini dapat diselesaikan, semoga
bermanfaat bagi kemajuan belajar para siswa Indonesia di seluruh
Indonesia.
Bandung 28 Januari 2014

Penulis
v


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR iii
DAFTAR ISI v
Bab 1 PENGUKURAN 1
Pendahuluan 1
Waktu 3
Panjang 5
Besaran Turunan dari Kecepatan dan Waktu 5
Massa 10
Temperatur 11
Soal-soal 12
Bab 2 GERAK MELINGKAR PADA BENDA LANGIT 13
Pendahuluan 13
Rotasi Benda Langit 15
Gerak Bulan 17
Gerak Satelit Buatan 19
Gerak Planet 20
Soal-soal 24
Bab 3 HUKUM GERAK DAN GRAVITASI 27
Hukum Newton I 27
Hukum Newton II 29
Hukum Newton III 32
Hukum Newton Tentang Gravitasi 33
Medan Gravitasi 38
Hukum-Hukum Kepler 38
Penjelasan Hukum Kepler 1 39
Penjelasan Hukum Kepler 2 40
Penjelasan Hukum Kepler 3 41
Soal-soal 42

vi DAFTAR ISI

Bab 4 TEROPONG BINTANG 47
Pendahuluan 47
Prisma Sebagai Pengurai Cahaya 51
Lensa Sebagai Pengumpul Cahaya 53
Lensa Gravitasi 54
Teropong Bintang 56
Refraktor 56
Reflektor 62
Soal-soal 64
Bab 5 ENERGI GRAVITASI 69
Pendahuluan 69
Orbit Satelit 72
Orbit Planet 75
Kecepatan Lepas 77
Energi Gravitasi Black Hole 78
Soal-soal 80
Bab 6 MOMENTUM 81
Pendahuluan 79
Impuls 82
Tumbukan 83
Soal-soal 86
Bab 7 ATMOSFER PLANET 87
Pendahuluan 87
Planet Venus dan Pemanasan Global 90
Tekanan Atmosfer 93
Soal-soal 94
Bab 8 ROTASI BENDA LANGIT 95
Pendahuluan 95
Radius Girasi Bumi 98
Presesi 100
Soal-soal 103

DAFTAR ISI vii

Bab 9 RADIASI GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK 105
Pendahuluan 105
Hukum Radiasi Planck 107
Ukuran Terang Bintang 110
Kuadrat Kebalikan 111
Efek Doppler Pada Cahaya 114
Radiasi Gelombang Energi Tinggi di Alam Semesta 120
Soal-soal 123
Bab 10 MEDAN MAGNET BENDA ANGKASA 125
Magnet Bumi 125
Gerak Partikel Angin Matahari dalam Medan Magnet Bumi 126
Aurora 131
Magnet Matahari 132
Bintang Neutron 134
Medan Magnet Galaksi 136
Soal-soal 137
Bab 11 DATA DIGITAL BENDA LANGIT 139
Efek Foto Listrik 139
Kamera CCD 140
Perekaman Spektrum Bintang 143
Penyimpanan Citra Benda Langit 144
Soal-soal 146
Bab 12 RADIOAKTIVITAS DAN REAKSI INTI DI DALAM ASTRONOMI 147
Reaksi Inti di dalam Bintang 147
Sinar Kosmik 153
Soal-soal 155
REFERENSI 157
LAMPIRAN 159



1


Bab 1
Satuan, Pengukuran dan Gerak Lurus Dalam
Astronomi




Pendahuluan
Ketika kita melihat langit yang cerah dipenuhi bintang-bintang, apa yang
ada dalam benak kita tentang alam semesta? Orang zaman dahulu
memandang langit itu seperti sebuah kubah raksasa, bintang-bintang
menempel di kubah yang berputar, tidak diketahui berapa jauhnya
bintang-bintang itu, mungkin umumnya memikirkan bahwa jarak bintang-
bintang, planet dan Matahari kira-kira sama yaitu sama dengan jari-jari
kubah raksasa itu. Tentu saja sekarang, setelah mempelajari astronomi,
para ilmuwan mengetahui bahwa pemikiran itu salah. Betapa kecilnya
alam semesta ini dalam alam pemikiran orang-orang zaman dahulu, dan
mungkin juga menurut orang-orang zaman sekarang yang belum
mempelajari astronomi.
Setelah mempelajari astronomi, kita akan menyadari bahwa betapa
besarnya alam semesta ini, dan betapa kecilnya Bumi tempat tinggal kita.
Bumi ini jauh lebih kecil daripada Matahari, Matahari jauh lebih kecil
daripada ukuran tata surya ini, ukuran tata surya sangat kecil dibanding
ukuran galaksi dan seterusnya. Sementara itu di antara bintang-bintang
yang terlihat dari Bumi ada yang berukuran raksasa, bahkan maharaksasa,
Materi : Satuan dan Pengukuran, Gerak Lurus

Kelas X

Kompetensi dasar :
X.3.1 Memahami hakikat fisika dan prinsip-prinsip pengukuran (ketepatan,
ketelitian dan aturan angka penting)
X.4.1 Menyajikan hasil pengukuran besaran fisis dengan menggunakan teknik
yang tepat untuk suatu penyelidikan ilmiah
X.3.3 Menganalisis besaran-besaran fisis pada gerak lurus dengan kecepatan
konstan dan gerak lurus dengan percepatan konstan

2 SATUAN DAN PENGUKURAN

yang membuat ukuran matahari yang berdiameter 1,4 juta km menjadi
nampak sangat kecil. Sebagai contoh bintang Antares di Rasi Scorpio
diameternya lebih dari satu milyar km. Seandainya Matahari kita adalah
bintang Antares maka Bumi ini berada di dalam bintang yang kitarinya.
Jarak bintang-bintang sangat jauh, bahkan bintang terdekat pun jaraknya
ratusan ribu kali jarak Bumi Matahari. Jarak Matahari dan bintang-bintang
lain di dekatnya puluhan ribu kali lebih kecil daripada ukuran galaksi
Bimasakti yang terdiri dari ratusan milyar bintang yang merupakan galaksi
tempat Bumi dan Matahari ini berada. Galaksi Bimasakti ini bukan satu-
satunya benda yang memenuhi alam semesta, masih banyak galaksi-galaksi
lain yang jaraknya jauh lebih besar daripada ukuran galaksi Bimasakti.
Dengan mempelajari astronomi kita dapat menyadari, betapa besarnya
kuasa Tuhan yang menciptakan alam semesta ini.
Ilmu dasar pendukung Astronomi yang utama adalah fisika dan
matematika. Besaran-besaran pokok fisika tentu digunakan juga di dalam
astronomi, hanya satuan yang digunakannya bisa berbeda karena skala
yang berbeda, bahkan besaran pokok yang sama di dalam astronomi bisa
menggunakan satuan yang berbeda. Sebagai contoh, satuan panjang yang
di dalam sistem SI adalah meter, di dalam astronomi bisa Angstrom, meter,
kilometer, satuan astronomi (sa), parsek dan lain-lain bergantung pada
besarnya obyek yang ditinjau.
Saat menganalisis spektrum bintang, satuan panjang gelombang cahaya
yang digunakan mungkin Angstrom atau nano meter, saat membahas
ukuran asteroid, meter yang digunakan sebagai satuan, seperti di dalam
sistem SI. Saat membahas jarak bintang, digunakan satuan tahun cahaya
atau parsek. Jika kita menggunakan satu satuan untuk semua skala jarak,
maka kita harus berurusan dengan angka yang rentangnya sangat lebar,
dari 10
-10
meter hingga 10
22
meter dan kita kehilangan rasa tentang jarak
itu.
Demikian juga dengan ukuran waktu yang merentang dari jangka waktu
yang sangat singkat, milidetik pada periode rotasi pulsar hingga milyar
tahun pada usia galaksi dan alam semesta. Ukuran massa merentang dari
massa sub atomik hingga massa alam semesta. Untuk massa yang besar,
tidak lagi digunakan kilogram tapi lebih sering massa Matahari sebagai
satuan. Jika massa Matahari disimbolkan dengan M

, dan massa sebuah


bintang dituliskan 5 M

artinya massa bintang itu lima kali massa Matahari,


atau 5 1,99 10
30
kg = 9,95 10
30
kg.



SATUAN DAN PENGUKURAN 3

Waktu
Waktu yang dikenal oleh manusia, digunakan sehari-hari hingga kini di
dalam berbagai ilmu pengetahuan berasal dari fenomena astronomi. Sejak
dahulu kala, orang menghitung waktu sejak matahari terbit hingga terbit
lagi sebagai satu hari. Dari purnama hingga purnama berikutnya sebagai
satu bulan, dari musim hingga musim yang sama berikutnya sebagai satu
tahun. Manakala manusia membutuhkan pecahan waktu yang lebih kecil
digunakan sudut bayangan Matahari, atau untuk jangka yang lebih tetap
dan konsisten, dipecahlah satu hari beberapa bagian yang lebih kecil.
Pecahan hari yang digunakan sekarang adalah jam, jam dipecah menjadi 60
menit dan menit menjadi 60 detik. Detik inilah yang digunakan sebagai
satuan waktu standar yang diakui oleh dunia, dan menjadi satuan besaran
fisika yang paling banyak digunakan untuk menyatakan jangka waktu.
Besaran turunan waktu yang paling dekat adalah periode, yaitu jangka
waktu sejak suatu fenomena terjadi sampai fenomena yang sama
berikutnya. Sebagai contoh, periode sejak Venus nampak sebagai bintang
Timur, lalu menjadi bintang Barat lalu menjadi bintang Timur lagi disebut
dengan periode sinodis Venus. Turunan lain dari waktu antara lain
frekuensi yang merupakan kebalikan dari periode,

T
f
1



Frekuensi dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai
kekerapan. Kekerapan menunjukkan seberapa sering suatu fenomena
terjadi. Misalnya kekerapan gerhana adalah 4 kali per tahun, dapat
dikatakan frekuensi gerhana adalah 4 gerhana/tahun, kekerapan jatuhnya
meteor rata-rata saat hujan meteor adalah 10 meteor / jam dan lain-lain.
Turunan dari besaran waktu yang lain adalah kombinasi dengan besaran
lain. Sebagai contoh, besarnya kecepatan Bumi mengelilingi Matahari
adalah 29 km/detik.
Pada zaman sekarang, orang membutuhkan satuan waktu yang jauh lebih
presisi sehingga menggunakan fenomena alam sehari-hari sebagi acuan
pengukuran waktu dianggap tidak memadai lagi. Rotasi bintang neutron
yang menyebabkan fenomena pulsar milidetik, sering dijadikan acuan
waktu yang jauh lebih presisi.
Bintang neutron dapat menjadi acuan waktu karena berrotasi sangat cepat
dengan periode yang sangat akurat. Hal ini disebabkan bintang neutron
bermassa besar, lebih besar dari Matahari, namun ukurannya kecil, hanya
sekitar 10 sampai 15 km saja. Karena kekekalan momentum sudut, maka
kecepatan rotasinya konstan. Dari Bumi, bintang neutron yang berrotasi
(1.1)

4 SATUAN DAN PENGUKURAN

cepat sering terdeteksi sebagai pulsar yaitu sumber gelombang radio atau
sinar X yang perubahan cahayanya berupa pulsa-pulsa.

Gambar 1.1 Bintang neutron berotasi cepat yang sumbu rotasinya tidak berimpit dengan
sumbu magnet. Dalam rotasinya, saat kutub magnet menghadap Bumi terjadi peningkatan
intensitas pancaran gelombang radio.

Pulsa itu terdeteksi di Bumi karena sumbu rotasi dan sumbu magnetiknya
tidak sejajar. Pada saat kutub magnet yang memancarkan radisi lebih besar
mengarah ke Bumi, intensitas radiasi yang diterima Bumi melonjak,
sehingga terdeteksi sebagai pulsa. Fenomena ini dapat dibandingkan
dengan lampu sirene ambulans yang nampak berkelap-kelip karena lampu
itu berputar. Fenomena yang sekarang dipakai sebagai acuan waktu
standard adalah getaran atom sesium 133. Satu detik didefinisikan sebagai
waktu yang diperlukan atom sesium 133 untuk bergetar 9.192.631.770
kali.
Ketelitian pengukuran waktu berdasarkan rotasi pulsar sangat tinggi,
karena jumlah pulsa yang diterima pengamat dari pulsar sangat banyak
dalam waktu yang singkat sehingga sampel pengukuran sangat banyak. Jika
kita menggunakan pulsar di nebula kepiting yang mempunyai periode
0,033 detik sebagai acuan penentuan waktu misalnya, kita ambil dua pulsa
berdekatan sebagai acuan, maka ketelitiannya kurang lebih sebesar jangka
waktu antara dua pulsa itu. Akan tetapi pulsa yang dapat diterima antena
radio di Bumi bisa sangat banyak, sehingga ketidak-pastian pengukuran
bisa jauh lebih kecil dari 0,033 detik.

SATUAN DAN PENGUKURAN 5

Misalnya kita mengamati pulsar itu sepanjang malam, selama 6 jam.
Banyaknya pulsa yang dapat direkam adalah 6 x 60 x 60 / 0,033 = 654545
pulsa. Andaikan yang data yang baik untuk digunakan ada 500 000 pulsa,
maka ketelitian pengukuran waktu berdasarkan itu menjadi 0,033/500000
= 6 x 10
-8
detik. Betapa akuratnya! Jauh lebih akurat dibandingkan dengan
stopwatch, itu sebabnya pulsar dapat digunakan sebagai salah satu acuan
penentuan waktu yang baik.
Panjang
Satuan panjang yang digunakan di dunia Astronomi, merentang dari yang
paling pendek yaitu panjang gelombang elektromagnetik hingga yang
paling panjang, jarak bintang, jarak galaksi, alam semesta. Oleh karena itu
ada berbagai satuan panjang. Untuk ukuran diameter debu antar bintang
misalnya, digunakan mikron, untuk diameter asteriod meter atau
kilometer. Yang paling umum dipakai adalah satuan astronomi (sa) untuk
skala jarak di dalam tata surya, dan parsek untuk skala jarak antar bintang.
Besaran Turunan dari Kecepatan dan Waktu
Dari besaran pokok dapat diturunkan besaran-besaran turunan yang
merupakan kombinasi besaran-besaran pokok. Sebagai contoh, kecepatan
adalah besaran turunan dari panjang dan waktu. Kecepatan didefinisikan
sebagai besarnya perubahan posisi tiap satuan waktu,

t
x
v
(1.2)

Dengan mengenal arti kecepatan, kita dapat menerapkannya untuk
mengukur jarak, yang pada hakekatnya besaran panjang juga. Pengukuran
jarak benda-benda langit yang relatif dekat dapat dilakukan dengan
menggunakan gelombang elektromagnetik. Sebagai contoh, pengukuran
jarak bulan, planet Mars, planet Venus, dapat dilakukan dengan
memancarkan sinar laser atau radar, kemudian dideteksi pantulannya. Jika
pantulan diterima dalam waktu t detik setelah dipancarkan, maka jarak
benda langit itu adalah :

2
ct
x
(1.3)

Dengan c adalah kecepatan cahaya di ruang hampa.


6 SATUAN DAN PENGUKURAN


Satuan yang sering digunakan untuk menyatakan jarak bintang adalah
parsek, parsek mempunyai arti paralax second. Artinya bintang yang
jaraknya satu parsek adalah bintang yang paralaksnya satu detik busur.
Apakah paralaks itu? Jika kita bergerak sambil memandang dua benda
pada arah yang sama tapi jaraknya berbeda, kita akan melihat benda yang
lebih dekat akan nampak lebih cepat bergerak berlawanan dengan arah
gerak kita dibandingkan benda yang jauh. Fenomena ini adalah fenomena
paralaks.
Bumi yang bergerak mengelilingi Matahari juga menyebabkan fenomena
paralaks pada bintang-bintang. Karena revolusi Bumi, bintang-bintang
yang jaraknya relatif dekat seolah mempunyai gerak relatif tahunan di
langit berbentuk elips dibandingkan dengan bintang-bintang yang sangat
jauh.
Pada gambar di bawah, p adalah sudut paralaks, d

adalah jarak Matahari


dari Bumi, d
*
adalah jarak bintang dari Matahari. Elips paralaktik adalah
elips yang dibentuk oleh citra bintang dalam waktu setahun di langit, relatif
terhadap bintang-bintang atau obyek latar belakang yang jauh. Dari
gambar diatas dapat dituliskan :
*
tan
d
d
p

(1.4)
Karena p adalah sudut yang sangat kecil, maka tan p ~ p sehingga dapat
dituliskan :
*
d
d
p

(1.5)


Contoh :
Untuk mengukur jarak bulan ditembakkan sinar laser ke Bulan,
pantulan sinar laser itu diterima di Bumi setelah 2,565 detik. Ketelitian
pengukuran waktu adalah 1/1000 detik. Jika diketahui kecepatan
cahaya adalah 299.792.458 m/s berapakah jarak bulan pada saat
diukur itu?
Jawab :
dengan menggunakan rumus diatas dapat dihitung x = 384 483 827 m.
Karena ketidak pastian pengukuran waktu adalah 1/1000 detik dan
dalam jangka waktu itu cahaya sudah menempuh kira-kira 299792
meter atau sekitar 300 km, maka hasil pengukuran dituliskan : (384500
300) km.

SATUAN DAN PENGUKURAN 7















Gambar 1.2 Bintang-bintang yang dekat nampak berubah posisi terhadap bintang-bintang
yang jauh. Hal ini dimanfaatkan untuk mengukur jarak.
Asalkan p dalam satuan radian. Satuan yang umum digunakan oleh
astronom untuk jarak Bumi-Matahari adalah Satuan Astronomi (sa=jarak
Bumi-Matahari = 150 juta km). Jika satuan untuk jarak Bumi Matahari
adalah sa dan satuan untuk p adalah detik busur, maka satuan untuk d
*

disebut parsek. Dengan demikian hubungan antara sudut paralaks (dalam
detik busur) dan jarak bintang (dalam parsek) adalah :

*
1
d
p
(1.6)

Dari persamaan ini kita dapat melihat makna satu parsek yaitu jarak
bintang yang paralaksnya satu detik busur.
Bagaimana akurasi penentuan jarak bintang dengan cara ini ? Akurasinya
tentu bergantung pada akurasi pengukuran paralaks. Satelit Hipparchos
misalnya mempunyai ketelitian penentuan posisi benda langit hingga mili

d


d
*

p
Bumi
Matahari
Elips paralaktik








8 SATUAN DAN PENGUKURAN

detik busur (mili arc second) atau seper seribu detik busur. Ketelitian
penentuan jarak dapat ditentukan dengan metode penjalaran kesalahan :
p
p
d
2
1
(1.7)


Besaran turunan panjang dan waktu yang lain adalah percepatan.
Percepatan didefinisikan sebagai perubahan kecepatan tiap satuan waktu,

t
v
a

(1.8)
Satuan percepatan tentu merupakan satuan kecepatan dibagi satuan
waktu, misalnya (m/detik)/detik, dapat dituliskan m/dt
2
. Sebagai contoh,
jika sebuah benda bergerak dengan kecepatan mula-mula 2 m/dt
kemudian makin cepat sehingga setelah 4 detik menjadi 10 m/dt, maka
perubahan kecepatannya adalah 8 m/dt, sehingga setiap detik
kecepatannya berubah sebesar 2 m/dt
2
. Maka dikatakan percepatan gerak
benda itu adalah 2 m/dt
2
.
Karena v adalah perubahan kecepatan yang artinya beda kecepatan
antara dua waktu. Jika mula-mula kecepatan v
o
lalu berubah menjadi v,
maka v = v - v
o
. maka rumus untuk menghitung kecepatan benda setelah
bergerak selama t menjadi:
at v v
o
(1.9)
Contoh :
Sebuah bintang diukur dengan paralaksnya menggunakan satelit yang
mempunyai ketelitian pengukuran 0,001 detik busur. Ternyata
diperoleh paralaksnya 0,037 detik busur. Berapakah jarak bintang itu?
Berapa ketidak-pastian jarak itu?
Jawab :
Jarak :

Ketidak pastiannya:

Maka dilaporkan : d = 27,0 0,7 parsek

SATUAN DAN PENGUKURAN 9

Contoh nyata percepatan di alam adalah percepatan gravitasi di
permukaan planet, misalnya percepatan gravitasi Bumi yang besarnya
kurang lebih 9,8 meter/dt
2
, percepatan gravitasi di permukaan Bulan kira-
kira 1/6 percepatan gravitasi Bumi. Percepatan gravitasi ini sering diberi
lambang g. Itulah sebabnya jika kita melempar benda vertikal ke atas,
geraknya akan makin lambat, lalu berhenti di suatu ketinggian lalu
bergerak makin cepat ke arah Bumi.
Jika kita melepaskan sebuah batu dari jendela hotel yang tinggi, berapa
kecepatan batu itu 2 detik setelah dilepaskan? Dengan menggunakan
rumus (1.9), dengan a = g dan v
o
= 0 karena dilepaskan, diperoleh
kecepatan setalah waktu t : v = gt = 9,82=19,6 m/dt.
Untuk menghitung jarak yang ditempuh, digunakan rumus :
2
2
1
at t v x
o
(1.10)
Karena kecepatan dan percepatan adalah besaran vektor, dalam
menggunakan rumus tersebut harus diperhatikan arah. Jika arah kecepatan
awal berlawanan, maka tandanya pun harus berlawanan. Sebagai contoh,
jika kita melemparkan sebuah batu vertikal ke atas, maka arah kecepatan
awal ke atas sedangkan percepatan ke bawah. Jika kita mendefinisikan
arah ke atas positif, maka kecepatan awal positif, dan percepatan negatif.
Maka kita bisa memodifikasi rumus (1.10) menjadi:

2
2
1
gt t v h
o
(1.11)

Contoh :
Seorang astronot di permukaan Bulan melompat vertikal ke atas
dengan kecepatan awal 1,2 m/dt. Berapa tinggi maksimum yang dicapai
astronot itu jika diketahui percepatan gravitasi di permukaan Bulan 1,6
m/dt
2
?
Jawab :
Di titik tertingginya, kecepatan astronot nol, maka

Sehingga dapat diperoleh waktu yang diperlukan hingga mencapai titik
maksimum t = 1,2/1,6 = 0,75 detik.
Dalam waktu 0,75 detik itu, ketinggian yang dapat dicapai :


= 0,45 meter


10 SATUAN DAN PENGUKURAN

Massa
Massa planet biasanya dinyatakan dalam massa Bumi, massa bintang atau
galaksi biasanya menggunakan satuan massa Matahari. Bagaimana
manusia bisa mengukur massa Bumi? Massa Bumi ditentukan secara tidak
langsung dengan menggunakan hukum Newton atau Kepler yang akan
dibahas di dalam bab yang akan datang. Namun sebagai perkenalan, dapat
disebutkan disini bahwa massa Bumi dapat diketahui dari periode Bulan
mengelilingi Bumi dan jarak Bumi-Bulan. Jika jarak Bumi-Bulan diketahui
(dapat diukur dengan radar secara langsung) dan periode revolusi Bulan
diketahui (dari pengamatan jangka waktu fenomena bulan) maka massa
Bumi dapat diperoleh dari Hukum Kepler III (akan dibahas di bab yang
akan lain):

2 2
3
4
GM
T
r



Dari periode revolusi Bumi mengelilingi Matahari dan jarak Bumi-
Matahari, menggunakan metode yang sama dapat dihitung massa Matahari,
yaitu 1,9910
30
kg.
Untuk penentuan massa bintang ganda (dua bintang yang saling mengitari
satu sama lain), hukum Kepler III juga dapat digunakan. Namun untuk
bintang ganda yang massa kedua anggotanya setara sehingga massa
bintang yang lebih kecil tidak dapat diabaikan, rumus yang digunakan
adalah :
Contoh :
Periode orbit Bulan mengelilingi Bumi adalah 27 hari, jarak Bumi
Bulan (misalkan ditentukan dengan radar) adalah 384400 km.
Berapakah massa Bumi ? (G = 6,67 10
-11
Nm
2
/kg
2
).
Jawab :
Ubah satuan periode ke dalam detik :27 24 60 60 = 2361600,
masukkan ke persamaan hukum Kepler 3:

Diperoleh massa Bumi M 610
24
kg

(1.12)

SATUAN DAN PENGUKURAN 11

2
2 1
2
3
4
) (

M M G
T
r



Dengan M
1
dan M
2
adalah massa masing-masing bintang.


Temperatur
Satuan temperatur yang digunakan di dalam Astronomi sama dengan di
dalam sistem SI yaitu Kelvin dan biasanya tidak menggunakan satuan lain
seperti pada satuan massa dan panjang. Hal ini disebabkan rentang
temperatur pada benda-benda angkasa tidak besar seperti pada massa dan
panjang. Temperatur adalah suatu besaran kualitatif dari panas, bukan
kuantitatif seperti massa dan panjang sehingga kurang bermakna jika kita
sebut misalnya temperatur bintang A lima kali temperatur Matahari.
Besaran kuantitatif dari panas adalah kalor, yang dapat disetarakan dengan
energi, sehingga dapat ditambahkan atau dikurangkan dengan energi.
Di laboratorium kita mengukur temperatur suatu benda dengan
menggunakan thermometer, hal ini tidak dapat dilakukan pada bintang
misalnya, karena bintang sangat jauh dan sangat panas. Oleh karena itu
astronom memperkirakan temperatur bintang dengan cara tidak langsung,
misalnya dengan mencocokkan distribusi panjang gelombang radiasi
cahaya bintang dengan grafik pancaran radiasi benda hitam yang terkenal
sebagai hukum Planck, atau dengan cara mengenali warna bintang yang
diamati. Semakin biru bintang semakin tinggi temperaturnya, semakin
merah semakin dingin.
Berdasarkan temperaturnya, bintang-bintang dikelompokkan kedalam
kelas spektrum. Bintang yang paling dingin adalah kelas M yang berwarna
merah dengan temperatur permukaan berkisar 2500 Kelvin sedangkan
yang paling panas adalah kelas O yang berwarna biru dengan temperatur
permukaan diatas 30 000 Kelvin. Urutan kelas spektrum bintang
berdasarkan temperaturnya dari yang paling panas ke yang paling dingin
adalah O, B, A, F, G, K, M. Matahari tergolong bintang kelas G yang
temperatur permukaannya berkisar 5000 K 6000 K. Temperatur bagian
dalam Matahari tentu lebih panas. Pusat Matahari diperkirakan
bertemperatur antara 10 juta hingga 15 juta Kelvin.






(1.13)

12 SATUAN DAN PENGUKURAN


Soal-soal
1. Untuk menentukan jarak satu SA, yaitu jarak Bumi Matahari, astronom
menembakkan radar ke Venus dan mendeteksi pantulannya, dari sana,
dengan geometri segitiga dapat dihitung jarak Bumi Matahari.
Andaikan saat Venus berada di elongasi (jarak sudut dari Matahari,
dilihat dari Bumi) terbesarnya ditembakkan radar ke Venus dan
pantulannya tiba kembali di Bumi setelah 694 detik. Jika sudut
elongasi terbesar Venus adalah 46,dan orbit planet dianggap
lingkaran, berapakah jarak Bumi-Matahari?

2. Periode orbit Phobos mengelilingi Mars adalah 7,7 jam. Dari Bumi
dapat diukur jarak Phobos dari Mars, diperoleh setengah sumbu
panjang orbitnya adalah : 9830 km. Hitunglah massa planet Mars.

3. Sebuah alat penting terlepas dari stasiun ruang angkasa ISS sehingga
bergerak melayang di angkasa menjauhi stasiun dengan kecepatan 0,5
m/dt. Untuk mengambilnya, astronot yang sedang space walk,
melompat kearah alat itu 2 detik setelah alat terlepas, dengan
kecepatan 1,25 m/dt. Dalam waktu berapa lama alat itu dapat diraih?
Pada jarak berapa meter alat itu dapat tertangkap?

4. Astronot yang sedang berjalan di permukaan Bulan menemui jurang
yang dalamnya 6 meter. Jika astronot itu berniat melompat masuk ke
dalam jurang itu, dengan kecepatan berapa dia tiba di dasar jurang?
Berapa lama waktu ia melayang dari bibir hingga dasar jurang?
Diketahui percepatan gravitasi Bulan 1,6 m/dt.


13


BAB 2
GERAK MELINGKAR PADA BENDA LANGIT



Pendahuluan
Banyak sekali benda langit mengalami gerak melingkar atau hampir
melingkar, sehingga gerak melingkar merupakan gerak yang umum terjadi
di alam semesta, oleh kerena itu pemahaman gerak melingkar mutlak
harus dimiliki seorang astronom.
Mari kita tinjau gerak Bumi mengelilingi Matahari. Periode orbit Bumi
mengelilingi Matahari adalah satu tahun, atau lebih tepatnya 365,25 hari.
Jejari orbit Bumi mengelilingi Matahari adalah jarak rata-rata Bumi-
Matahari yang besarnya kira-kira 149,6 juta km. Jarak ini disebut satu SA
(Satuan Astronomi). Berapa kecepatan linier gerak Bumi mengelilingi
Matahari?
r v e =
(2.1)

Dengan = kecepatan sudut revolusi Bumi
r = jejari orbit Bumi atau jarak Bumi Matahari
Atau dapat juga dituliskan

T
r
v
t 2
=
(2.2)

Konversikan satuan waktu untuk periode orbit Bumi menjadi detik, dan
angkanya dimasukkan ke persamaan diatas, diperoleh v = 30 km/detik
atau 108 000 km/jam
Materi : Gerak Melingkar

Kelas X

Kompetensi dasar :
X.3.5 Menganalisis besaran fisis pada gerak melingkar dengan laju konstan dan
penerapannya dalam teknologi
X.4.5 Menyajikan ide / gagasan terkait gerak melingkar

(2.1)
(2.2)

14 GERAK MELINGKAR PADA OBJEK LANGIT

Cepat sekali bukan? Jauh lebih cepat daripada pesawat tempur supersonik.
Manusia yang berada di permukaan Bumi juga mengalami gerak melingkar
beraturan karena rotasi Bumi. Manusia yang tinggal di daerah khatulistiwa
misalnya, sebenarnya bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi
karena rotasi Bumi, jika dihitung dengan rumus diatas dengan menganggap
radius Bumi 6378 km dan periode rotasi Bumi 23 jam 56 menit diperoleh
kira-kira 460 meter/detik atau 1670 km/jam, masih lebih cepat dari pada
kecepatan pesawat terbang komersial antar benua. Jika sebuah pesawat
terbang kearah Barat di sepanjang khatulistiwa, dengan kecepatan ini
orang-orang di pesawat ini tidak akan mengalami pergantian siang dan
malam. Jika misalnya mula-mula pilot pesawat melihat matahari sedang
tenggelam di ufuk Barat, maka selama penerbangan dengan kecepatan
tersebut kearah Barat, pilot akan selalu melihat Matahari berada di horizon
Barat sedang tenggelam.
Mengapa Bumi bisa terus menerus bergerak mengelilingi Matahari? Karena
ada gaya tarik Matahari. Jika tidak ada gaya tarik Matahari maka sesuai
dengan hukum Newton pertama, Bumi akan bergerak lurus dengan
kecepatan konstan. Gaya tarik Mataharilah yang membuat lintasan Bumi
terus-menerus membelok sehingga nampak sebagai lintasan lingkaran atau
lebih tepatnya elips dengan kelonjongan kecil. Gaya gravitasi Matahari
yang menyebabkan adanya gaya sentripetal sehingga orbit Bumi hampir
lingkaran. Menurut mekanika, rumus percepatan sentripetal adalah :

r
v
a
cp
2
=
(2.3)

Karena percepatan gravitasi Matahari lah yang berperan sebagai
percepatan sentripetal bagi gerak melingkar Bumi, maka g
M
=a
cp
.

r
v
r
GM
2
2
=

r T
r
r
GM
2
2 2
2
4t
=

2
3
2
4 T
r GM
=
t
(2.4)

Ini adalah hukum Kepler yang ketiga.



GERAK MELINGKAR PADA BENDA LANGIT 15

Rotasi Benda Langit
Kecepatan gerak suatu titik di permukaan Bumi karena rotasi Bumi
berbeda-beda tergantung lintangnya. Semakin tinggi lintang suatu tempat
semakin lambat geraknya. Jika kita melihat gerak Bumi dari langit ke arah
Kutub Utara akan nampak seperti pada gambar 2.1.
Titik A adalah sebuah titik di daerah khatulistiwa Bumi, B adalah sebuah
titik di lintang tertentu. Karena Bumi berotasi sebagai benda tegar,
kecepatan sudut titik A sama dengan kecepatan sudut titik B. Kecepatan
linier di titik A (v
A
) lebih besar daripada di titik B (v
B
).
Lihat gambar 2.2, yang ekivalen dengan gambar 2.1, tapi merupakan
penampang lintang, dengan Bumi dilihat ke arah khatulistiwanya.
Andaikan titik B berada di lintang .
Kecepatan rotasi Bumi di titik B : cos
A B
v v = . Itu sebabnya pesawat
antariksa yang diluncurkan dari daerah khatulistiwa membutuhkan energi
yang lebih sedikit dibandingkan dengan kalau diluncurkan dari lintang
tinggi, karena energi kinetik awalnya lebih besar di daerah khatulistiwa.

Gambar 2.1 Gerak titik di permukaan Bumi dilihat dari arah kutub langit
(perpanjangan sumbu rotasi Bumi). Kecepatan gerak titik di lintang lebih tinggi
lebih kecil daripada di khatulistiwa.

16 GERAK MELINGKAR PADA OBJEK LANGIT


Gambar 2.2 Bola Bumi dilihat dari arah khatulistiwa langit.
Adanya rotasi Bumi ini membuat Bumi nampak agak pepat, keliling Bumi
dalam arah katulistiwa lebih besar daripada kutub, seolah-olah ada
percepatan keluar yang dialami oleh benda yang berada di khatulistiwa
selain percepatan gravitasi Bumi ke dalam. Percepatan keluar itu
sebenarnya percepatan semu yang dinamakan percepatan sentrifugal yang
besarnya sama dengan percepatan sentripetal namun arahnya berlawanan.
Periode rotasi Bumi tidak terlalu besar sehingga percepatan sentrifugal
jauh lebih kecil daripada percepatan gravitasi dan kita tidak merasakan
keberadaannya.
Khatulistiwa langit adalah bidang khatulistiwa Bumi di langit. Lain halnya
dengan asteroid, adanya percepatan sentrifugal bisa membuat situasi tidak
memungkinkan mendarat di permukaan asteroid jika percepatan
sentrifugalnya lebih besar dari percepatan gravitasi asteroid.

Contoh :
Jika ada asteroid berbentuk bola yang radiusnya 100 km dan massanya
2 10
19
kg, maka dengan hukum gravitasi Newton percepatan gravitasi
di permukaannya dapat dihitung sebesar 0,14 m/dt
2
. Jika periode rotasi
asteroid itu 80 menit, Apakah pesawat antariksa dapat mendarat
dipermukaannya?


GERAK MELINGKAR PADA BENDA LANGIT 17


Matahari juga sama seperti Bumi dan Asteroid, berrotasi juga, hanya
bedanya, karena Matahari berupa gas, bukan benda tegar seperti Bumi, ada
perbedaan kecepatan sudut rotasi pada lintang yang berbeda. Lintang yang
lebih tinggi kecepatan rotasinya lebih rendah. Jika diukur di daerah
ekuatornya periode rotasi Matahari adalah 24,47 hari, tapi dilihat dari
Bumi periode rotasi itu adalah 26,24 hari, karena Bumi tidak diam, tapi
bergerak mengelilingi Matahari. Periode ini disebut periode sinodis rotasi
Matahari. Periode rotasi pada lintang 26 adalah sekitar 27,275 hari dilihat
dari Bumi. Rotasi Matahari pada posisi ini disebut Carrington Rotation,
yang didasarkan pada pengamatan bintik Matahari yang umumnya muncul
di lintang sekitar 26.

Gerak bulan
Bulan bergerak mengelilingi Bumi dalam lintasan elips dengan
eksentrisitas yang kecil dengan periode 27,3 hari, atau lebih tepatnya 27
hari 7 jam 43 menit. Tapi mengapa kita tidak melihat bulan purnama 27
hari sekali melainkan 29 atau 30 hari sekali? Jawabnya adalah karena Bumi
bukan benda diam melainkan bergerak mengelilingi Matahari, jadi posisi
Bumi terhadap Matahari selalu berubah, padahal fase-fase bulan juga
bergantung pada arah datangnya sinar Matahari. Periode 29,5 hari atau
lebih tepatnya 29 hari 12 jam 44 menit disebut periode sinodis. Bagaimana
hubungan antara periode sideris dan sinodis Bulan ?
Jawab :
Percepatan sentrifugal di permukaan asteroid itu adalah :


Dengan memasukkan data radius dan periode rotasi ke dalam
persamaan ini, diperoleh
a
cf
= 0,17 m/dt
2
Ini lebih besar dari pada gaya gravitasi. Dengan percepatan sentrifugal
seperti ini, pesawat yang mencoba mendarat akan terlontar kembali
oleh rotasi asteroid.

18 GERAK MELINGKAR PADA OBJEK LANGIT

Andaikan adalah symbol untuk Bumi dan L (Luna) adalah symbol untuk
Bulan, T
S
adalah periode sinodis bulan yaitu jangka waktu sejak bulan baru
hingga bulan baru berikutnya atau sejak suatu purnama hingga purnama
berikutnya. Lihat gambar diatas, dalam waktu T
S
ketika mengelilingi Bumi,
bulan sudah menempuh sudut sebesar 2+ dan jika kecepatan sudut
Bulan adalah
L
maka diperoleh:
S L
T e u t = A + 2
(2.5)















Gambar 2.3 Posisi Bumi, Bulan, dan Matahari saat Purnama (a), setelah 27,3 hari
(b), dan pada saat purnama berikutnya (c).
Lihat gambar di atas, sudut juga adalah sudut yang ditempuh oleh Bumi
dalam peredarannya mengelilingi Matahari selama waktu T
S
, sehingga
persamaan tersebut dapat dituliskan sbb :

GERAK MELINGKAR PADA BENDA LANGIT 19

S L S
T T e e t = +

2
(2.6)

Ruas kiri dan kanan dibagi dengan 2/T
S
, maka diperoleh :
L S
T T T
1 1 1
= +

(2.7)

Persamaan ini menunjukkan bahwa ternyata ada hubungan yang erat
antara periode perubahan fasa Bulan, periode revolusi Bumi dan periode
revolusi Bulan.
Gerak Bulan yang lain adalah rotasi. Periode rotasi Bulan sama dengan
periode revolusinya, akibatnya bagian permukaan Bulan yang menghadap
Bumi selalu sama, artinya juga ada bagian permukaan Bulan yang tidak
pernah terlihat dari Bumi.

Gerak Satelit Buatan
Satelit buatan ada yang mengelilingi Bumi melalui kutub, ada juga yang di
khatulistiwa. Satelit yang mengorbit tidak jauh dari permukaan Bumi
dapat terlihat sebagai titik cahaya seperti bintang yang bergerak cukup
cepat di langit. Di dalam bab ini hanya akan dibahas satelit buatan tertentu
saja yaitu satelit geostasioner, lainnya akan dibahas dalam bab yang
membahas hukum Kepler. Satelit geostasioner dinamakan demikian karena
dilihat dari Bumi, posisinya akan tetap di langit, tidak berpindah, tidak
mengalami terbit dan terbenam. Mengapa demikian ? karena satelit itu
mengelilingi Bumi diatas khatulistiwa dengan periode yang sama dengan
periode rotasi Bumi. Satelit komunikasi adalah salah satu contoh satelit
jenis ini. Ia harus berada di posisi yang tetap diatas wilayah yang
dilayaninya agar penerimaan dan pengiriman sinyal dapat berlangsung 24
jam sehari tanpa henti.


Contoh Soal:
Ketinggian satelit geostasioner adalah sekitar 36000 km dari
permukaan Bumi. Berapakah kecepatan satelit itu mengelilingi Bumi?
Jawab :
Periode satelit 24 jam, atau lebih tepatnya 23 jam 56 menit = 86160
detik. Ketinggiannya 36000 km. maka kecepatannya
2x(36000+6400)/86160 3 km/s

20 GERAK MELINGKAR PADA OBJEK LANGIT

Gerak Planet
Planet artinya pengembara, mengapa disebut pengembara? Karena planet-
planet selalu berpindah tempat relatif terhadap bintang-bintang. Bintang-
bintang memang seolah beredar di langit namun itu disebabkan karena
rotasi Bumi. Sendainya Bumi tidak berotasi maka bintang-bintang akan
nampak tetap di tempatnya, tidak bergerak dan berada dalam formasi yang
tetap. Orang-orang zaman dahulu membayangkan bahwa langit adalah
sebuah bola raksasa yang berputar perlahan dan bintang-bintang
menempel di permukaan dalam bola raksasa itu.
Akan tetapi planet-planet mengembara diantara bintang-bintang, sehingga
ada kalanya planet bisa menghalangi suatu bintang tertentu seperti Bulan
menghalangi Matahari waktu gerhana Matahari total. Peristiwa
terhalangnya suatu bintang oleh planet atau Bulan disebut okultasi.
Pengembaraan planet tidak sembarangan tapi hanya disekitar suatu
daerah tertentu yang berbentuk jalur melingkar di langit. Di jalur itu
terdapat 13 rasi bintang yang termasuk zodiac, seperti Cancer, Taurus,
Scorpio, Ophiucus dan lain-lain. Selain planet-planet, Matahari juga
mengembara di jalur zodiac itu. Lintasan yang dilewati Matahari dalam
peredaran tahunannya disebut lingkaran ekliptika. Kalau Matahari selalu
berada di lingkaran ekliptika, tapi planet-planet beredar di sekitar
lingkaran ekliptika, kadang-kadang melintasi lingkaran itu.
Sebenarnya ekliptika ini adalah lingkaran peredaran Bumi mengelilingi
Matahari, tapi karena kita merasa Bumi yang diam, seolah-olah Matahari
yang beredar di ekliptika relatif terhadap bintang-bintang, sekali dalam
setahun. Semua planet di Tata Surya kita nampak dari Bumi beredar di
sekitar lingkaran ekliptika ini. Rasi-rasi bintang yang termasuk tiga belas
rasi Zodiac seperti Taurus, Libra, Leo dan lain-lain dilalui lingkaran
ekliptika.


Contoh Soal:
Mengapa Matahari dan planet-planet mengembara disekitar suatu jalur
sempit sekitar ekliptika di angkasa?
Jawab :
Karena sebenarnya Bumi dan planet-planet bergerak mengelilingi
Matahari dengan orbit yang hampir sebidang, bidang itu disebut bidang
ekliptika.

GERAK MELINGKAR PADA BENDA LANGIT 21


Gambar 2.4 Peta langit di sekitar Rasi Aquarius. Garis melintang di tengah adalah
khatulistiwa langit, yang melintang dari kiri atas ke kanan bawah yang melalui rasi
Pisces, Aquarius dan Capricornus adalah ekliptika. Di daerah dekat garis ekliptika
itulah planet-planet selalu berada.
Gambar diambil dari http://www.me-church.org/calendar.php


Info :
Bidang edar Pluto mengelilingi Matahari menyimpang cukup jauh dari
bidang ekliptika, itu salah satu sebabnya mengapa Pluto sekarang tidak
diklasifikasikan sebagai planet. Menurut Hukum Kepler, planet-planet
mengelilingi Matahari dalam orbit berbentuk elips. Akan tetapi
umumnya eksentrisitas (ukuran kelonjongan) lintasan orbit planet tidak
besar sehingga masih mirip dengan lingkaran, sehingga jika kita
menerapkan rumus-rumus gerak melingkar pada gerak planet
kesalahannya tidak terlalu besar. Eksentrisitas orbit Pluto lebih besar
daripada planet lain, sehingga kadang jaraknya ke Matahari lebih dekat
dibandingkan dengan Neptunus. Ini adalah salah satu alasan lain
mengapa Pluto dikeluarkan dari kelompok planet dan masuk dalam
kelompok planet kerdil.

22 GERAK MELINGKAR PADA OBJEK LANGIT


Gambar 2.5 Orbit planet-planet mengelilingi Matahari, kurang lebih sebidang,
sumber gambar : http://www.mmastrosociety.com/images/planets/orbit.jpeg
Berapa kecepatan linier planet? Diatas telah dihitung kecepatan linier Bumi
mengelilingi Matahari. Bagaimana dengan planet lain? misalnya Jupiter?
Periode orbit Jupiter adalah 11,86 tahun atau 4332 hari. Dengan
menggunakan hukum Kepler III, yang akan dibahas pada bab berikutnya
kita dapat menghitung jarak Jupiter dari Matahari yaitu 5,2 satuan
astronomi. Dengan mengasumsikan orbit Jupiter sebagai lingkaran,
kecepatan linier rata-rata Jupiter dapat dihitung sebagai berikut :

T
a
v
t 2
=
(2.8)

Dengan mengubah satuan panjang ke km dan periode ke detik, diperoleh
v = 13 km/s.
Seperti juga Bulan, planet juga mempunyai periode sideris dan sinodis.
Periode sideris planet adalah periode planet mengelilingi Matahari,
sedangkan periode sinodis adalah jangka waktu planet berada pada posisi
yang sama di langit relatif terhadap Matahari dilihat dari Bumi. Misalnya
jangka waktu sejak planet berada dekat Matahari di langit hingga kembali
dekat Matahari disebut periode sinodis, atau sejak planet dalam keadaan
oposisi (berlawanan pihak dengan Matahari dilihat dari Bumi) hingga
oposisi berikutnya.

GERAK MELINGKAR PADA BENDA LANGIT 23

Dalam keadaan oposisi planet akan nampak paling terang karena paling
dekat dengan Bumi dan juga paling lama terlihat karena posisinya yang
berlawanan dengan Matahari. Dalam keadaan oposisi, planet akan terbit
saat Matahari terbenam, dan planet akan nampak pada posisi paling tinggi
di langit saat tengah malam.
Mari kita tinjau gerak planet Mars.

Gambar 2.6 Mars mengelilingi Matahari dengan jejari orbit yang lebih besar dan
kecepatan gerak yang yang lebih rendah dari pada Bumi.
Anggap orbit planet Mars mengelilingi Matahari berbentuk lingkaran.
Karena eksentrisitas orbit planet Mars kecil, asumsi orbit lingkaran ini
dapat dikatakan merupakan pendekatan yang cukup baik. Radius orbit
Mars kira-kira 1,5 satuan astronomi (sa = au) atau 1,5 kali jarak rata-rata
Bumi Matahari. Saat oposisi, jarak Bumi-Mars hanya sekitar 0,5 sa, dan
Mars akan Nampak sangat terang di langit. Saat konjungsi, Mars sangat
redup karena jaraknya 2,5 sa (lima kali saat oposisi) dari Bumi, lagi pula
Mars nampak dekat dengan Matahari sehingga sulit diamati.
Karena Bumi lebih dekat ke Matahari, sesuai dengan hukum Kepler,
kecepatan liniernya lebih besar daripada kecepatan linier Mars, demikian
pula kecepatan angulernya. Maka setelah oposisi, Bumi akan meninggalkan
Mars yang bergerak lebih lambat.
Andaikan jangka waktu sejak oposisi pertama hingga oposisi berikutnya
adalah T
SM
. T
SM
ini adalah periode sinodis Mars. Andaikan dalam jangka
waktu T
SM
ini Mars sudah menempuh jarak sudut =
M
T
SM
, maka Bumi
sudah menempuh satu lingkaran ditambah , atau 2 + . Dipihak lain

24 GERAK MELINGKAR PADA OBJEK LANGIT

jarak sudut ini juga dapat dihitung dari kecepatan sudut Bumi dikali jangka
waktu antara kedua oposisi.

SM
T

= + e o t 2
(2.9)

SM SM M
T T

= + e e t 2
(2.10)

Kedua ruas dibagi dengan 2/T
SM
, diperoleh :

= +
T T T
M SM
1 1 1
(2.11)
Jadi dengan mengamati waktu sejak oposisi Mars hingga oposisi berikutnya
kita dapat mengetahui periode orbit Mars dan setelah itu dengan bantuan
Hukum Kepler III kita dapat menghitung radius orbit Mars. Cara ini dapat
juga diterapkan untuk planet-planet luar lainnya.

Soal-soal
1. (OSKK 2007) Periode rotasi Bulan sama dengan periode revolusinya
mengelilingi bumi. Jika kita berada di suatu lokasi di permukaan Bulan,
maka yang akan kita amati adalah:
a. Panjang satu hari satu malam di Bulan sama dengan panjang
interval waktu dari bulan purnama ke bulan purnama berikutnya
jika diamati dari Bumi
b. Bumi akan melewati meridian pengamat di Bulan setiap sekitar
29,5 hari sekali
c. Bumi akan selalu diamati dalam fase purnama
d. Matahari selalu bergerak lebih lambat dari Bumi
e. Wajah Bumi yang diamati dari Bulan selalu sama dari waktu ke
waktu

2. (OSKK 2008) Perioda sideris revolusi Venus dan Mars adalah masing-
masing 225 dan 687 hari. Maka perioda sinodis Venus dilihat dari
Mars.
a. 169 hari d. 617 hari
b. 462 hari e. 912 hari
c. 335 hari

GERAK MELINGKAR PADA BENDA LANGIT 25

3. (OSKK 2009) Pada jam 7.00 WIB, Superman mulai terbang pada
ketinggian 130 km dan dengan kecepatan 1000 km/s. Apabila Bumi
dianggap bulat sempurna dengan radius 6370 km, jam berapakah
Superman akan menyelesaikan terbang satu putaran mengelilingi Bumi
di atas ekuator ?
a. Jam 15.34 WIB d. Jam 18.34 WIB
b. Jam 16.34 WIB e. Jam 19.34 WIB
c. Jam 17.34 WIB

4. (OSP 2009) Teleskop ruang angkasa Hubble mengedari Bumi pada
ketinggian 800 km, kecepatan melingkar Hubble adalah,
a. 26 820 km/jam d. 26 850 km/jam
b. 26 830 km/jam e. 26 860 km/jam
c. 26 840 km/jam

5. (OSP 2009) Bianca adalah bulannya Uranus yang mempunyai orbit
berupa lingkaran dengan radius orbitnya 5,92 10
4
km, dan periode
orbitnya 0,435 hari. Tentukanlah kecepatan orbit Bianca.
a. 9,89 10
2
m/s d. 9,89 10
5
m/s
b. 9,89 10
3
m/s e. 9,89 10
6
m/s
c. 9,89 10
4
m/s

27


Bab 3
HUKUM GERAK DAN GRAVITASI


Hukum Newton I
Hukum Newton yang pertama tentang gerak menyatakan bahwa jika pada
sebuah benda tidak ada gaya yang bekerja atau jumlah gaya yang bekerja
adalah nol, maka benda itu akan diam atau bergerak lurus dengan
kecepatan konstan, bergantung pada keadaan awalnya. Pada benda yang
diam dengan mudah kita menyetujui hukum ini, namun bagaimana kita
dapat melihat keberlakuan hukum ini pada benda bergerak. Di dalam
kehidupan sehari-hari kita melihat semua benda bergerak di sekitar kita
pada akhirnya akan berhenti jika tidak diberi upaya untuk
mempertahankan geraknya. Sebuah mobil yang bergerak di jalan mendatar
lalu dinetralkan giginya dan dimatikan mesinnya akan bergerak melambat
akhirnya akan berhenti.
Jadi, dalam peristiwa nyata apakah kita bisa memperoleh bukti langsung
keberlakuan hukum Newton I ini ? Sebelum menjawab, mari kita telaah
dulu mengapa mobil yang bergerak dengan mesin mati itu dapat berhenti.
Mobil menjadi melambat lalu berhenti karena ada gaya gesekan yang
menghambatnya. Gesekan udara, gesekan antara ban dan jalan, gesekan
Materi : Hukum Gerak dan Gravitasi

Kelas X

Kompetensi dasar :
X.3.3 Menganalisis besaran-besaran fisis pada gerak lurus dengan kecepatan
konstan dan gerak lurus dengan percepatan konstan
X.3.4 Menganalisis hubungan antara gaya, massa dan gerakan benda pada
gerak lurus
Tingkat : kelas XI
Kompetensi dasar :
XI.3.2 Mengevaluasi pemikiran dirinya terhadap keteraturan gerak planet dalam
tata surya berdasarkan hukum Newton
XI.4.2 Menyajikan data dan informasi tentang satelit buatan yang mengorbit
Bumi dan dampak yang ditimbulkannya

28 HUKUM GERAK DAN GRAVITASI

antara ban dan as dan lain-lain. Pada kenyataannya semua benda bergerak
di permukaan Bumi mengalami gaya gesekan sehingga cenderung
melambat dan berhenti.
Jadi untuk melihat langsung keberlakuan hukum Newton pertama untuk
benda bergerak kita harus berada di tempat yang tidak ada gesekan. Di
udara? Tidak! Di udara masih ada partikel-partikel atmosfir yang dapat
menghambat gerak benda, jadi masih ada gesekan. Kita harus pergi ke
tempat yang tidak ada udara, yaitu angkasa luar. Disana, karena tidak ada
udara, tidak ada gesekan yang menghambat gerak benda.
Sebuah benda yang dilemparkan di angkasa luar akan cenderung bergerak
lurus dengan kecepatan konstan atau mengalami Gerak Lurus Beraturan
(GLB). Benda bergerak diangkasa luar baru akan berbelok lintasannya bila
pergeraknnya diganggu oleh gravitasi benda angkasa seperti Matahari,
planet, satelit dan lain-lain, itu pun biasanya dengan kelengkungan yang
landai.
Pesawat Voyager I dan II yang diluncurkan tahun 1977, bisa meluncur
terus menjauhi Matahari hingga sekarang merupakan bukti nyata
keberlakuan hukum Newton I. Kedua pesawat itu telah melayang di
angkasa luar selama berpuluh-puluh tahun, bermilyar-milyar kilometer
hingga keluar Tata Surya.
Gambar 3.1 Pesawat Voyager yang diluncurkan pada tahun 1977, hingga sekarang
masih terus terbang menjauhi Matahari, pada tahun 2013 pesawat itu sudah keluar
dari Tata Surya.
http://www.jpl.nasa.gov/images/voyager/20110427/voyager20110427-full.jpg

HUKUM GERAK DAN GRAVITASI 29

Pada tahun 2012, Voyager I berada pada jarak 17,8 milyar km, sedangkan
Voyager II 14,7 milyar km dari Matahari. Ini lebih jauh dari planet terjauh,
Neptunus,bahkan lebih jauh dari planet kerdil Pluto. Kedua pesawat itu
bergerak tanpa menggunakan bahan bakar. Bahan bakar nuklir yang ada di
dalam pesawat bukan untuk bergerak, melainkan untuk menghidupkan
komponen elektroniknya sehingga dapat berkomunikasi dengan Bumi. Ini
adalah bukti nyata keberlakuan hukum Newton I untuk benda bergerak.

Hukum Newton II
Hukum Newton yang kedua tentang gerak menyatakan bahwa pada sebuah
benda yang dikenakan gaya akan terjadi percepatan yang dapat mengubah
kecepatan benda itu. Jadi jika di angkasa luar ada sebuah benda, misalnya
pesawat angkasa luar bermassa m, yang mula-mula diam, lalu roketnya
dinyalakan, maka pesawat akan mendapat gaya konstan F dari roket ke
arah yang berlawanan dengan arah semburan roket.
Gambar 3.2 Gerak roket berlawanan dengan arah semburan gas buangnya
Percepatan yang dialami pesawat adalah :

m
F
a
(3.1)

Pesawat akan terus bergerak makin cepat selama roket dinyalakan. Jika
pada saat kecepatannya v, roket dimatikan, pesawat tidak akan berhenti,
melainkan akan bergerak terus dengan kecepatan konstan sebesar v. Jadi

30 HUKUM GERAK DAN GRAVITASI

saat roket menyala berlaku hukum Newton II, saat roket mati berlaku
hukum Newton I. Bagaimana caranya kita menghentikan pesawat di
angkasa luar? Caranya adalah dengan menyalakan roket dengan arah
semburan yang persis searah dengan arah gerak, sehingga menimbulkan
gaya yang berlawanan dengan arah gerak. Tepat pada saat kecepatan nol
roket dimatikan, maka pesawat akan berhenti.
Bagaimana halnya jika arah semburan roket tidak sejajar dengan arah
gerak? Misalnya tegak lurus atau membentuk sudut tertentu? Pesawat
akan berbelok, dan lajunya bisa saja tetap sama. Apakah ini tidak
bertentangan dengan hukum Newton II bukankah harus timbul
percepatan? Tidak bertentangan! Percepatan adalah perubahan kecepatan,
kecepatan adalah besaran vektor yang mempunyai arah dan nilai. Jadi
kalau karena roket dinyalakan pesawat menjadi belok tanpa berubah
lajunya, kita tetap mengatakan pesawat itu mengalami percepatan,
percepatan yang mengubah arah kecepatan, bukan nilainya, disebut
percepatan sentripetal.
Bagaimana halnya dengan bulan yang mengelilingi Bumi? Jika tidak ada
Bumi, Bulan akan mengalami GLB. Tarikan gaya gravitasi Bumi lah yang
membuat lintasan Bulan menjadi melengkung. Karena tarikan gravitasi
Bumi cukup kuat karena Bulan cukup dekat dengan Bumi sementara
kecepatan bulan tidak terlalu besar, lintasan bulan menjadi melengkung
terus sehingga hampir lingkaran. Jika sebuah benda bergerak melingkar
ada suatu gaya yang terus-menerus menarik benda itu sehingga geraknya
terus melengkung. Pada pergerakan Bulan, yang menjadi gaya
sentripetalnya adalah gaya gravitasi Bumi. Oleh karena itu gaya
sentripetalnya harus sama dengan gaya gravitasi Bumi.
Keterikatan secara gravitasi seperti ini bukan hanya berlaku pada sistem
Bumi Bulan, tapi juga pada planet-planet yang mengelilingi Matahari,
pada bintang ganda, pada satelit yang mengelilingi planet dan lain-lain.
Lintasan sistem dua benda yang terikat secara gravitasi ini tidak harus
lingkaran, tapi pada umumnya berbentuk elips dan harus dalam sebuah
bidang datar yaitu bidang orbit.
Salah satu contoh akibat percepatan sentripetal adalah gerak benda
angkasa mengelilingi benda angkasa yang lebih besar, misalnya bulan
mengelilingi Bumi, satelit mengelilingi Bumi, planet mengelilingi Matahari,
Callisto mengelilingi Jupiter dan lain-lain. Penyebab percepatan
sentripetalnya adalah gaya gravitasi. Jadi gravitasi berperan sebagai gaya
sentripetal.
Lintasan Bumi mengelilingi Matahari yang tidak lurus melainkan hampir
lingkaran (dapat diartikan terus-menerus berbelok) menunjukkan adanya

HUKUM GERAK DAN GRAVITASI 31

percepatan sentripetal yang terus menerus juga. Jika Matahari tiba-tiba
hilang, gaya gravitasi hilang, percepatan hilang, maka gerak Bumi akan
langsung berubah menjadi GLB. Jadi percepatan sentripetal itulah yang
mempertahankan gerak melingkar, dan percepatan sentripetal itu
disebabkan oleh gaya sentripetal:
r
mv
F
cp
2

(3.2)
Sehingga percepatan sentripetal :
r
v
a
cp
2

(3.3)


Gambar 3.3 Revolusi Bumi mengelilingi Matahari dipertahankan oleh percepatan
sentripetal yang disebabkan oleh gravitasi Matahari

Untuk kasus planet mengelilingi Matahari, penyebab gaya sentripetal
adalah gaya gravitasi. Jika sebuah planet mengorbit matahari dengan
lintasan lingkaran, artinya jarak ke Matahari selalu konstan, besarnya gaya
sentripetal selalu konstan. Besarnya percepatan sentripetal juga tetap,
arahnya selalu ke arah Matahari, artinya selalu tegak lurus terhadap
lintasan dan selalu tegak lurus terhadap arah vektor kecepatan. Dalam
keadaan ini laju gerak planet konstan. Waktu yang dibutuhkan planet
untuk mengelilingi Matahari satu kali disebut periode revolusi.

32 HUKUM GERAK DAN GRAVITASI


Periode revolusi Bumi adalah satu tahun atau lebih akuratnya 365,25 hari,
periode revolusi Mars adalah 687 hari. Memang orbit Bumi mengelilingi
Matahari tidak lingkaran sempurna, melainkan agak lonjong (elips), tapi
kelonjongannya kecil, sehingga kalau dianggap lingkaran pun kesalahannya
tidak terlalu besar. Selain laju linier kita bisa juga meninjau besarnya sudut
yang ditempuh oleh planet dilihat dari Matahari tiap satuan waktu, besaran
ini disebut kecepatan sudut . Misalnya dalam sehari Bumi menempuh
sudut hampir 1 dalam revolusinya mengelilingi Matahari, atau lebih
akuratnya dalam setahun (365,25 hari) menempuh sudut sebesar 360
atau kecepatan sudut Bumi kira-kira = 0,9856/hari.

Hukum Newton III
Hukum Newton yang ketiga menyatakan bahwa pada sebuah benda yang
mengalami aksi (gaya) akan ada gaya reaksi yang besarnya sama tapi
berlawanan arah. Pada sistem Bumi-Matahari, misalnya, bukan hanya Bumi
yang ditarik oleh gravitasi Matahari tapi Matahari juga ditarik oleh Bumi
tapi karena massa Bumi terlalu kecil dibanding Matahari, tarikan gravitasi
Bumi tidak terasa oleh Matahari. Untuk dua benda yang massanya kurang
lebih berimbang, gaya tarik kedua benda bisa berpengaruh pada pola gerak
kedua benda, misalnya sistem Bumi Bulan. Bukan hanya Bulan yang
mengelilingi Bumi, tapi gaya tarik Bulan juga berpengaruh pada Bumi,
misalnya dalam fenomena pasang surut air laut. Selain itu, sebenarnya
karena gaya tarik Bulan, gerak Bumi mengelilingi Matahari tidak berbentuk
elips sempurna melainkan elips yang bergelombang.
Jika planet berukuran cukup besar dan cukup dekat ke bintang pusatnya
tarikan gravitasi planet tersebut bisa berpengaruh cukup signifikan pada
Contoh :
Berapakah kecepatan linier gerak Bumi mengelilingi Matahari jika
diketahui Periode revolusi Bumi 365,25 hari dan jarak Bumi Matahari
150 juta km dan orbit Bumi dianggap berbentuk lingkaran? Jika
Matahari tiba-tiba hilang bagaimanakah gerak Bumi?
Jawab:
Kecepatan gerak melingkar v = 2r/T =
2150.000.000/(365,25246060) = 29,9 km/s
Jika Matahari tiba-tiba hilang maka Bumi akan bergerak lurus dengan
kecepatan 29,9 km/s


HUKUM GERAK DAN GRAVITASI 33

pola gerak bintangnya. Hal ini dimanfaatkan oleh astronom yang mencari
extra solar planet (planet yang mengelilingi bintang lain). Pengaruh
gravitasi planet cukup besar menyebabkan bintang pusatnya menjauh
mendekat secara periodik sehingga jika diamati secara spektroskopi, garis-
garis pada spektrum bintang berpindah-pindah panjang gelombang secara
periodik juga, sesuai dengan periode orbit planet.

Hukum Newton Tentang Gravitasi
Pada dua benda yang berdekatan, ada gaya tarik menarik gravitasi yang
besarnya berbanding lurus dengan masing-masing benda dan berbanding
terbalik dengan kuadrat jarak.
Secara matematis hal ini dapat dituliskan :

2
2 1
r
m m
G F
(3.4)

Dengan G adalah konstanta gravitasi yang besarnya 6,67 10
-11
N m
2
/ kg
2
,
m
1
dan m
2
adalah massa benda pertama dan kedua, r adalah jarak antara
kedua benda.


Jika massa benda yang ditarik oleh gravitasi Bumi di dekat permukaan
Bumi adalah satu satuan massa, misalnya 1 kg, maka gaya yang dialami
adalah sama dengan percepatan gravitasi Bumi. Percepatan gravitasi juga
dapat dipandang sebagai gaya gravitasi per satuan massa. Jadi percepatan
gravitasi di permukaan Bumi dapat dituliskan :
Contoh :
Jika diketahui massa Bumi adalah 5,97 10
24
kg, jejarinya 6400 km,
sebuah benda bermassa 3 kg di permukaan Bumi akan mendapat gaya
sebesar :

Jika benda itu dibawa ke ketinggian 12800 km dari permukaan Bumi,
maka gaya gravitasi Bumi yang dirasakan benda itu akan menjadi 1/9
semula, atau 3,24 N, karena jaraknya dari pusat Bumi menjadi 3 kali
lipat semula. Jika kita menimbang benda itu dengan neraca pegas di
ketinggian 12800 km, maka neraca akan menunjukkan angka 1/3 kg
(mengapa?).

34 HUKUM GERAK DAN GRAVITASI


2


R
M
G
m
F
a
g
g
(3.5)

Dapat dihitung besarnya percepatan gravitasi Bumi itu 9,8 m/dt
2
. Untuk
benda yang agak jauh dari permukaan Bumi (misalnya pada jarak r dari
pusat Bumi) percepatan gravitasi Bumi yang dialami benda itu :
2
r
M
G a
g

(3.6)

Sekarang marilah kita bandingkan dengan percepatan gravitasi Bulan,
dengan menggunakan rumus yang sama, tapi massanya massa Bulan:
7,34 10
22
kg, dan r adalah jejari orbit bulan mengelilingi Bumi:
384400 km, maka diperoleh percepatan gravitasi Bulan di Bumi = 3,32
10
-5
m/dt
2
.
Percepatan sentripetal yang dialami Bumi karena gaya gravitasi Matahari
adalah percepatan gravitasi Matahari di posisi Bumi berada. Jika massa
Matahari adalah 1,99 10
30
kg, Jarak Bumi-Matahari 149,6 juta km dan
G = 6,68 10
-11
Nm
2
/kg
2
. Maka percepatan gravitasi Matahari di Bumi
adalah :
2
r
GM
g
M
= 5,94 10
-3
m/dt
2
(3.7)
Percepatan gravitasi Matahari inilah yang berfungsi sebagai percepatan
sentripetal sehingga Bumi bisa bergerak melingkar mengelilingi Matahari
dengan stabil selama berjuta-juta tahun. Kalau percepatan gravitasi
Matahari lebih besar daripada Bulan, mengapa pasang surut air laut di
Bumi lebih dipengaruhi oleh gravitasi Bulan dan bukan oleh gravitasi
Matahari? Jawabnya adalah bahwa pasang-surut lebih dipengaruhi oleh
perbedaan gaya gravitasi antara dua titik daripada gaya gravitasi itu
sendiri. Sebaliknya, berapa percepatan gravitasi Bumi yang dirasakan oleh
Bulan? Dengan menggunakan rumus diatas dan menggunakan massa Bumi
dapat diperoleh g = 2,7 10
-3
m/dt
2
.
Bagaimanakah pola gerak dua benda yang saling tarik-menarik karena
gravitasi? Jika kedua benda mula-mula diam, maka keduanya akan
cenderung saling mendekat karena gaya gravitasinya, akhirnya akan
bertabrakan. Contoh kasus ini adalah benda jatuh bebas di atas permukaan
Bumi. Benda akan ditarik oleh gravitasi Bumi hingga menabrak Bumi. Jika
benda bergerak dalam pengaruh gravitasi Bumi mula-mula bergerak tidak
dalam arah menuju ke arah Bumi, ada beberapa kemungkinan :
1. Jika kecepatan relatif keduanya sangat rendah, maka keduanya bisa
saling mendekat dan kemungkinan bisa bertabrakan, contoh hal ini

HUKUM GERAK DAN GRAVITASI 35

adalah benda yang dilempar oleh manusia di atas permukaan Bumi.
Benda tidak cukup cepat untuk bisa lepas dari tarikan gravitasi
Bumi sehingga tak lama kemudian akan jatuh. Lintasan benda akan
berbentuk parabola kecuali kalau dilempar tepat vertikal keatas.

Gambar 3.4a Benda yang dilemparkan diatas permukaan Bumi,
lintasannya berbentuk Parabola

Peluru yang ditembakkan horizontal oleh pistol memang kecepatan
awalnya cukup besar, akan terlontar jauh, tetapi lintasannya tetap
akan berbentuk parabola.

Gambar 3.4b Peluru yang ditembakkan dari pistol secara horizontal juga akan
menempuh lintasan parabola

2. Peluru kendali balistik ditembakkan dengan kecepatan awal besar
sehingga jatuh ribuan kilometer dari tempat semula, biasanya
lintasannya akan berbentuk elips, tapi hanya sebagian karena
sebelum membuat lintasan elips lengkap, benda sudah jatuh.

36 HUKUM GERAK DAN GRAVITASI

Kecepatan awalnya tetap masih kurang tinggi untuk membuatnya
lepas dari tarikan gravitasi Bumi, akhirnya jatuh.

Gambar 3.5 Lintasan peluru kendali balistik jarak menengah di dekat permukaan
Bumi berbentuk elips yang tidak lengkap.


Gambar 3.6 Lintasan peluru kendali balistik jarak jauh di dekat permukaan Bumi
berbentuk elips yang hampir lengkap.

HUKUM GERAK DAN GRAVITASI 37

3. Jika kecepatannya cukup tinggi, kedua benda bisa bergerak saling
mengitari. Jika kedua benda itu adalah Bumi dan sebuah benda lain
yang diluncurkan dari permukaan Bumi dengan kecepatan awal
yang tinggi kemungkinan lintasan benda itu akan dapat berbentuk
elips penuh, dan akan mengorbit Bumi, tidak jatuh ke permukaan.
Contoh lain dari kasus ini adalah satelit telekomunikasi yang
diluncurkan dari Bumi dan juga Bulan yang mengelilingi Bumi.
Gambar 3.7 Orbit satelit yang diluncurkan dari permukaan Bumi berbentuk elips
yang lengkap.

4. Jika kecepatannya sangat tinggi, kedua benda bisa terpisah. Untuk
kasus benda yang ditembakkan dari permukaan Bumi dengan
kecepatan sangat tinggi, benda itu bisa lepas dari tarikan gravitasi
Bumi. Lintasannya bisa berbentuk parabola atau hiperbola. Contoh
kasus ini adalah pesawat-pesawat antariksa yang dikirim manusia
menjelajahi tata surya hingga ke planet-planet lain atau hingga
keluar Tata Surya. Kecepatan minimum yang dibutuhkan untuk
lepas dari tarikan gravitassi Bumi disebut kecepatan lepas, yang
besarnya

R
GM
v
2
(3.8)


38 HUKUM GERAK DAN GRAVITASI

Medan Gravitasi
Kita bisa mempunyai cara pandang lain tentang gravitasi. Sebuah benda
yang mempunyai massa mempunyai kemampuan untuk menarik benda
lain yang berada di sekitarnya. Semakin besar benda itu semakin kuat
kemampuan menarik benda lain itu. Kemampuan sebuah benda menarik
benda lain di sekitarnya dapat digambarkan sebagai adanya medan
gravitasi di sekitar benda tersebut. Semakin besar massa benda semakin
kuat medan gravitasi di sekitarnya dan semakin jauh jangkauan medan
gravitasi itu.
Sebagai gambaran, medan garvitasi Matahari masih dapat dirasakan oleh
planet-planet yang letaknya sangat jauh hingga bermilyar-milyar
kilometer. Planet Neptunus dan planet kerdil Pluto masih dipengaruhi oleh
gravitasi Matahari, terbukti keduanya masih mengelilingi Matahari
meskipun jaraknya sangat jauh, bermilyar-milyar km. Bahkan kemudian
masih ditemukan planet-planet kerdil lain yang lebih jauh yang
mengelilingi Matahari. Medan gravitasi Matahari dapat menjangkau tempat
yang demikian jauh karena massa Matahari sangat besar, yaitu sekitar
1,99 10
30
kg.
Bagaimana kita menggambarkan medan gravitasi di sekitar sebuah benda?
Kuat medan gravitasi dapat didefinisikan sebagai gaya yang dialami oleh
satu satuan massa benda lain jika berada di dalam medan gravitasi itu.
Gaya tersebut arahnya ke arah benda yang menjadi sumber medan
gravitasi. Jadi di sekitar benda yang mempunyai massa dapat kita
bayangkan ada medan gaya yang arahnya memusat. Semakin dekat ke
pusat, kuat medannya semakin besar. Albert Einstein menggambarkan
medan gravitasi sebagai kelengkungan ruang waktu.

Hukum-hukum Kepler
Hukum-hukum Kepler dinyatakan oleh Johannes Kepler untuk menjelaskan
pola gerak planet mengelilingi Matahari. Hukum-hukum ini diformulasikan
secara empirik berdasarkan hasil pengamatan posisi planet selama
berpuluh-puluh tahun oleh Tycho Brahe, dilanjutkan oleh Johannes Kepler
dengan menggunakan alat ukur quadrant yang berukuran besar sehingga
mempunyai presisi yang paling tinggi pada zamannya. Hasil pengamatan
mereka cocok dengan pendapat Copernicus yang menyatakan bahwa
planet-planet tidak mengelilingi Bumi melainkan mengelilingi Matahari.
Bumi juga mengelilingi Matahari dan bukan Matahari yang mengelilingi
Bumi.

HUKUM GERAK DAN GRAVITASI 39

Perbedaan hukum Kepler dari Copernicus adalah bahwa menurut Kepler
orbit planet berbentuk elips, sedangkan menurut Copernicus berbentuk
lingkaran. Sebenarnya asumsi orbit lingkaran ini tidak begitu cocok dengan
hasil pengukuran posisi planet dari waktu ke waktu. Untuk membuatnya
cocok, Copernicus menganggap bahwa planet-planet juga bergerak dalam
lingkaran kecil yang disebut epicycle.
Alat ukur yang digunakan oleh Kepler dan Tycho Brahe lebih presisi
sehingga hasil-hasil penguklurannya lebih akurat. Maka penyimpangan
hasil pengukuran posisi terhadap asumsi orbit lingkaran lebih meyakinkan
berasal dari penyebab alam, bukan ketelitian alat ukur. Berdasarkan hal
itulah Kepler yakin bahwa orbit planet bukan lingkaran sempurna,
melainkan elips. Hasil pengamatan dan analisa Kepler disimpulkan dalam
bentuk hukum-hukum berikut :

Hukum-hukum ini sebenarnya merupakan konsekuensi logis dari hukum
Newton tentang gerak dan gravitasi, karenanya hukum Kepler dapat
diturunkan dari hukum Newton. Akan tetapi Newton baru menyatakan
hukum-hukumnya setelah Kepler tiada. Kepler meninggal tahun 1630
sedangkan Newton baru lahir tahun 1643. Hasil pekerjaan Kepler
digunakan oleh Newton antara lain untuk mengkonfirmasi kebenaran
formulasi hukum-hukumnya.

Penjelasan Hukum Kepler 1
Lintasan planet tidak berbentuk lingkaran melainkan elips, dengan
Matahari di salah satu titik api atau titik fokusnya, bukan di pusat elips.
Artinya planet mendekat dan menjauhi Matahari satu kali setiap kali
perioda revolusinya. Saat planet berada paling dekat dengan Matahari,
dikatakan bahwa planet berada di perihelion, sedangkan titik terjauh
Hukum Kepler 1
Planet-planet mengelilingi Matahari dalam lintasan berbentuk elips
dengan Matahari di salah satu titik fokusnya.
Hukum Kepler 2
Garis hubung Matahari dan planet menyapu luas yang sama dalam
selang waktu yang sama.
Hukum Kepler 3
Jarak rata-rata planet dari Matahari pangkat tiga berbanding lurus
dengan kuadrat periode orbit.

40 HUKUM GERAK DAN GRAVITASI

disebut aphelion. Penurunan hukum ini dari Hukum Newton
membutuhkan kalkulus sehingga tidak dibahas disini.

Gambar 3.8 Orbit planet mengelilingi Matahari berbentuk elips dengan Matahari
sebagai salah satu titik fokusnya.

Penjelasan Hukum Kepler 2
Jika M adalah Matahari, jarak AB ditempuh dalam jangka waktu yang sama
dengan jarak CD, luas AMB sama dengan luas CMD. Konsekuensi dari
hukum ini adalah saat planet berada dekat dengan Matahari kecepatan
liniernya lebih tinggi dibandingkan dengan saat jauh dari Matahari.

Gambar 3.9 Luas daerah yang disapu garis hubung Matahari-Planet per satuan
waktu tetap.

HUKUM GERAK DAN GRAVITASI 41

Hal ini juga sesuai dengan hukum kekekalan momentum sudut. Selama
planet mengelilingi Matahari momentum sudutnya konstan. Penurunan
hukum ini dari hukum Newton juga membutuhkan kalkulus sehingga tidak
dibahas disini.

Penjelasan Hukum Kepler 3
Jika orbit planet lingkaran atau dianggap lingkaran (pada kenyataannya
eksentrisitas atau kelonjongan orbit planet tidak besar sehingga masih
cukup dekat dengan lingkaran), hukum Kepler 3 dapat diturunkan dari
hukum Newton sebagai berikut :
Yang berperan sebagai gaya sentripetal di dalam sistem Matahari planet
adalah gaya gravitasi, maka kita dapat memformulasikan gaya sentripetal
sebagai berikut :
2
2
r
Mm
G
r
v
m
(3.9)

Dengan
G konstanta gravitasi
m massa planet,
M Massa Matahari
v kecepatan orbit planet
r radius orbit

GM
r
r r

2 2 2

(3.10)

GM
T
r

2
3 2
4
(3.11)

2 2
3
4
GM
T
r

(3.12)


Karena M adalah massa Matahari, harganya sama untuk semua planet,
maka ruas kanan persamaan diatas konstan. Jadi terbukti bahwa jarak
pangkat tiga sebanding dengan perioda kuadrat. Hukum Kepler 3 ini
berlaku juga untuk lintasan elips, bukan hanya lingkaran. Jika diterapkan
untuk elips, radius orbit r harus diganti dengan setengah sumbu panjang a.

42 HUKUM GERAK DAN GRAVITASI


Soal-soal
1. (OSKK 2008) Apabila Bumi jaraknya menjadi 3 AU dari Matahari, maka
besarnya gaya gravitasi antara Bumi dan Matahari, menjadi,
a. 3 kali daripada gaya gravitasi sekarang.
b. 1,5 kali daripada gaya gravitasi sekarang.
c. sama seperti sekarang.
d. sepertiga kali daripada gaya gravitasi sekarang.
e. sepersembilan kali daripada gaya gravitasi sekarang.
2. (OSP 2007) Ilustrasi berikut menggambarkan wahana (space-probe)
yang melakukan perpindahan orbit Hohmann (lingkaran ke
lingkaran) dari Bumi ke Mars. Jika jarak rata-rata Mars-Matahari=1,52
SA. Perkirakan waktu yang dibutuhkan oleh wahana tersebut untuk
sampai ke planet Mars.

3. (OSN 2007) Mars mempunyai dua buah satelit Phobos dan Deimos.
Jika diketahui Deimos bergerak mengelilingi Mars dengan jarak a =
23490 km dan periode revolusinya P = 30jam 18 menit. Berapakah
massa planet Mars bila dinyatakan dalam satuan massa Matahari? Jika
Periode revolusi Phobos 7jam 39menit, berapakah jaraknya dari Mars?


HUKUM GERAK DAN GRAVITASI 43

4. (OSKK 2008) Seorang astronot terbang di atas Bumi pada ketinggian
300 km dan dalam orbit yang berupa lingkaran. Ia menggunakan roket
untuk bergeser ke ketinggian 400 km dan tetap dalam orbit lingkaran.
Kecepatan orbitnya adalah,
a. lebih besar pada ketinggian 400 km
b. lebih besar pada ketinggian 300 km
c. Kecepatannya sama karena orbitnya sama-sama berupa lingkaran
d. kecepatannya sama karena dalam kedua orbit efek gravitasinya
sama
e. tidak cukup data untuk menjelaskan
5. Andaikan Matahari tiba-tiba runtuh menjadi sebuah black hole, maka
Bumi akan
a. Mengorbit lebih cepat tapi pada jarak yang sama
b. Jatuh dengan cepat ke dalam black hole tersebut
c. Radiasi gravitasional akan membuat Bumi juga menjadi black hole
d. bergerak perlahan dalam lintasan spiral hingga akhirnya jatuh ke
dalam black hole
e. tidak mengalami perubahan orbit
6. (OSN 2008) Seorang astronot mempunyai bobot 60 N di Bumi.
Berapakah bobotnya pada sebuah planet yang mempunyai rapat
massa yang sama dengan rapat massa Bumi tetapi radiusnya 2 kali
radius Bumi. (Andaikan percepatan gravitasi Bumi= 9,6 m/s
2
)
a. 102,0 N d. 132,5 N
b. 112,5 N e. 142,0 N
c. 120,0 N
7. (OSKK 2009) Callisto yang merupakan bulannya planet Jupiter,
mengedari planet Jupiter pada berjarak 1,88 juta kilometer dan dengan
periode 16,7 hari. Apabila massa Callisto diabaikan, karena jauh lebih
kecil daripada massa Jupiter, maka massa planet Jupiter adalah,
a. 10,35 x 10
-4
massa Matahari
b. 9,35 x 10
-4
massa Matahari

Djoni N. Dawanas 2009

c. 8,35 x 10
-4
massa Matahari
d. 7,35 x 10
-4
massa Matahari
e. 6,35 x 10
-4
massa Matahari

44 HUKUM GERAK DAN GRAVITASI

8. (OSKK 2009) Jika massa Matahari menjadi dua kali lebih besar dari
sekarang, dan apabila planet-planet termasuk Bumi tetap berada pada
orbitnya seperti sekarang, maka periode orbit Bumi mengelilingi
Matahari adalah,
a. 258 hari d. 423 hari
b. 321 hari e. 730 hari
c. 365 hari
9. (OSKK 2009) Sebuah satelit terbang di atas Bumi pada ketinggian 300
km dan dalam orbit yang berupa lingkaran. Dengan menggunakan roket,
satelit tersebut bergeser ke ketinggian 400 km dan tetap dalam orbit
lingkaran. Kecepatan orbitnya
a. lebih besar pada ketinggian 400 km
b. lebih besar pada ketinggian 300 km
c. sama karena orbitnya sama-sama berupa lingkaran
d. sama karena dalam kedua orbit efek gravitasinya sama
e. tidak cukup data untuk menjelaskan

10. (OSKK 2009) Sebuah pesawat ruang angkasa mengelilingi Bulan dengan
orbit yang berupa lingkaran pada ketinggian 1737 km dan dengan
periode orbit sebesar 2 jam . Apabila gaya gravitasi yang disebabkan
Bulan pada pesawat ruang angkasa ini sama dengan gaya
sentrifugalnya, maka massa Bulan yang ditentukan berdasarkan kedua
gaya ini adalah (konstanta gravitasi G = 6,67 x 10
-11
m
3
kg
-1
s
-2
).
a. 5,98 x 10
26
kg
b. 5,98 x 10
24
kg
c. 5,98 x 10
22
kg
d. 5,98 x 10
20
kg
e. Massa bulan tidak bisa ditentukan dengan cara ini


11. (OSKK 2009) Matahari mengorbit pusat galaksi Bima Sakti dengan
setengah sumbu panjang orbitnya
9
10 8 , 1 AU dan periodenya
8
10 2
tahun. Apabila massa Matahari diabaikan terhadap massa Bima Sakti,
dan hukum Kepler III berlaku, maka massa galaksi Bima Sakti adalah :
a.
7
10 46 , 1 kali massa Matahari
b.
7
10 05 , 4 kali massa Matahari

HUKUM GERAK DAN GRAVITASI 45

c.
11
10 46 , 1 kali massa Matahari
d.
11
10 05 , 4 kali massa Matahari
e.
19
10 02 , 1 kali massa Matahari
12. (OSP 2009) Dengan menggabungkan hukum Newton dan hukum
Kepler, kita dapat menentukan massa Matahari, asalkan kita tahu:
a. Massa dan keliling Bumi.
b. Temperatur Matahari yang diperoleh dari Hukum Wien.
c. Densitas Matahari yang diperoleh dari spektroskopi.
d. Jarak Bumi-Matahari dan lama waktu Bumi mengelilingi Matahari.
e. Waktu eksak transit Venus dan diameter Venus.



47


Bab 4
TEROPONG BINTANG



Pendahuluan
Peristiwa pembelokan cahaya yang terjadi bila cahaya itu merambat
melewati dua atau lebih medium yang kerapatannya berbeda disebut
fenomena pembiasan atau refraksi. Mengapa cahaya itu bisa membelok?
Karena jika cahaya merambat melalui dua medium yang kerapatannya
berbeda kecepatannya berubah. Mengapa kecepatan rambat berubah harus
membelok? Ilustrasi berikut ini diharapkan dapat memberikan penjelasan.
Gambar 4.1 Batu yang dijatuhkan di permukaan air akan membentuk lingkaran-
lingkaran konsentris yang semakin besar. Lingkaran-lingkaran itu adalah muka
gelombang. Arah penjalaran gelombang yang menjauhi pusat adalah sinar
gelombang.
Materi : Alat optik

Kelas X

Kompetensi dasar :
X.3.9 Menganalisis cara kerja alat optik menggunakan sifat pencerminan dan
pembiasan oleh cermin dan lensa
X.4.9 Menyajikan ide/rancangan sebuah alat optik dengan menerapkan prinsip
pemantulan dan pembiasan pada cermin dan lensa

48 TEROPONG BINTANG

Jika sebuah titik menjadi sumber cahaya, maka cahaya akan dipancarkan
ke segala arah. Mari kita sebut arah rambat cahaya sebagai sinar yang
berbeda pengertiannya dengan cahaya. Bagian cahaya yang dipancarkan
pada saat yang sama membentuk muka gelombang yang semakin besar
menjauhi sumber cahaya. Untuk memudahkan pemahaman tentang sinar
dan muka gelombang ini, mari kita bandingkan dengan gelombang air. Jika
kita menjatuhkan batu di air kolam yang tenang, tempat jatuhnya batu itu
adalah sumber gelombang air.
Kita akan melihat lingkaran-lingkaran yang bergerak makin besar
menjauhi tempat jatuhnya batu. Lingkaran-lingkaran itu adalah muka
gelombang. Arah gerak gelombang air itu menjauhi tempat jatuhnya batu.
Jika kita tarik garis dari pusat gelombang ke luar mengikuti arah gerak
muka gelombang, itulah sinar gelombang.
Sinar gelombang selalu tegak lurus terhadap muka gelombang. Pada
peristiwa perambatan gelombang air, medium perambatannya adalah dua
dimensi yaitu permukaan air, maka muka gelombangnya berbentuk
lingkaran yang makin lama makin besar. Pada cahaya, medium
perambatannya 3 dimensi, sehingga muka gelombangnya berupa
permukaan bola yang makin lama makin besar. Namun pada kedua
peristiwa itu tetap berlaku aturan sinar gelombang tegak lurus terhadap
muka gelombang.
Jika cahaya merambat dan dalam perambatannya kecepatannya berubah
karena berpindah medium, dan muka gelombang yang berfase sama tidak
mengalami perubahan kecepatan itu secara bersamaan, maka sinar
gelombang harus membelok, jika tidak, muka gelombang dan sinar
gelombang tidak akan tegak lurus. Hal ini dijelaskan pada gambar 4.2 dan
4.3.
Pada Gambar 4.2, andaikan cahaya dari udara masuk ke air tidak
membelok, sementara kecepatan cahaya di air lebih kecil dari pada di
udara. P dan R berada dalam muka gelombang yang sama. Saat sinar
gelombang 1 mencapai P, sinar gelombang 2 mencapai R, setelah itu
kecepatan sinar gelombang 2 lebih kecil dari sinar gelombang 2 padahal
keduanya berada dalam muka gelombang yang sama.
Saat sinar gelombang 1 menempuh jarak PQ, sinar gelombang 2 hanya
menempuh jarak RS karena kecepatannya lebih rendah. Akibatnya muka
gelombang QS tidak dapat tegak lurus terhadap sinar gelombang RS.
Keadaan ini tidak diperbolehkan.


TEROPONG BINTANG 49

Gambar 4.2 Ilustrasi apabila cahaya datang dari udara ke air tidak membelok,
maka muka gelombang dan sinar gelombang tidak dapat tegak lurus bila sudut
datang tidak nol.
Pada gambar 4.3 diilustrasikan keadaan jika sinar gelombang harus dibuat
tegak lurus terhadap muka gelombang, maka konsekuensinya sinar
gelombang harus membelok di perbatasan antara dua medium. Itulah
sebabnya mengapa perubahan kecepatan menyebabkan pembelokan pada
cahaya yang masuk dari medium satu ke medium lain.
Gambar 4.3 Cahaya yang masuk dari udara ke air harus membelok sebagai
konsekuensi dari perubahan kecepatannya
Dalam menganalisis besarnya pembelokan cahaya karena cahaya pindah
medium, didefinisikan besaran indeks bias yang merupakan perbandingan
kecepatan cahaya di ruang hampa dengan di medium:
v
c
n =
(4.1)

50 TEROPONG BINTANG

Andaikan indeks bias medium A adalah n
A
, dan medium B adalah n
B
, jika
cahaya datang dari medium A dengan sudut datang i dan masuk ke medium
B, meninggalkan perbatasan kedua medium dengan sudut r, berlaku :

r
i
n
n
B
A
sin
sin
=
(4.2)

Jika cahaya datang dari udara, masuk ke kaca lalu keluar lagi pada di
permukaan yang lain, dan jika kacanya datar, maka arah sinar datang
masih sejajar dengan sinar yang keluar dari permukaan yang lain. Tapi
kalau permukaan kaca tempat sinar datang dan permukaan lain tempat
sinar keluar tidak sejajar, maka sinar datang umumnya tidak sejajar lagi
dengan cahaya yang keluar dari bidang yang lain. Dengan kata lain cahaya
itu dibelokkan oleh kaca.
Contoh, jika cahaya menembus prisma maka sinar datang dan sinar yang
keluar dari prisma tidak sejajar. Contoh lain, jika kaca itu berupa lensa
cembung maka setiap berkas sinar datang akan dibelokkan sedemikian
rupa sehingga akan mengumpul atau menyebar bergantung pada jarak
sumber cahayanya. Jika semua berkas sinar datang sejajar, maka sinar yang
keluar dari lensa akan dikumpulkan di titik fokus.


Gambar 4.4 Pembelokan cahaya ketika melewati medium yang berbeda
i
r
Medium A
Medium B


TEROPONG BINTANG 51

Di dalam bidang ilmu astronomi, salah satu contoh peristiwa pembiasan
adalah cahaya yang datang dari bintang menuju pengamat di permukaan
Bumi dan bintang tersebut tidak tepat diatas kepala. Cahaya bintang tidak
datang tegak lurus terhadap permukaan Bumi.
Cahaya itu akan mengalami pembelokan karena pembiasan oleh atmosfir
Bumi. Hal ini disebabkan sebelum masuk ke atmosfir cahaya bintang
datang dari ruang hampa udara. Ketika masuk atmosfir Bumi, yang lebih
rapat, kecepatannya berkurang, mengalami pembiasan dan dapat sedikit
membelok.
Gambar 4.5 Pembelokan cahaya bintang ketika memasuki atmosfir Bumi
Sebuah bintang yang nampak berada di horizon, sebenarnya sudah berada
di bawah horizon sejauh 35 menit busur, jadi seharusnya tidak akan
tampak jika Bumi tidak mempunyai atmosfir. Bintang itu masih dapat
tampak oleh pengamat di Bumi karena cahayanya membelok.

Prisma Sebagai Pengurai Cahaya
Jika sinar datang ke permukaan prisma, di dalam prisma cahaya akan
dibelokkan karena perbedan indeks bias udara dengan kaca. Jika cahaya
Matahari dilewatkan pada prisma, cahaya Matahari yang sebenarmya
terdiri dari berbagai panjang gelombang (dideteksi sebagai warna oleh
manusia) itu akan terurai.

52 TEROPONG BINTANG

Hal ini disebabkan indeks bias bergantung pada panjang gelombang, maka
warna yang berbeda akan dibelokkan dengan ketajaman yang berbeda.
Akibatnya cahaya matahari akan nampak terurai menjadi berbagai warna
setelah melewati prisma.


Gambar 4.6 Cahaya Matahari yang melalui prisma akan diuraikan, karena
kecepatan cahaya di dalam kaca bergantung pada panjang gelombang
Fenomena ini dimanfaatkan oleh para astronom untuk mempelajari
komposisi cahaya Matahari dan bintang-bintang dengan lebih mendetail.
Cahaya Matahari atau bintang diuraikan dengan prisma lalu direkam dan
dianalisis. Rekaman hasil penguraian cahaya itu disebut spektrum. Alat
untuk menguraikan cahaya disebut spektrograf. Ternyata spektrum benda
langit mengandung banyak informasi tentang keadaan fisik benda langit,
seperti temperatur, komposisi kimia, pola gerakan dan lain-lain.
Pada masa kini, pengurai cahaya benda langit tidak lagi berupa prisma,
karena daya urai prisma tidak begitu besar. Ada berbagai macam teknik
penguraian cahaya benda langit yang menghasilkan berbagai macam
dispersi, masing-masing mempunyai tujuan ilmiah tersendiri. Secara
umum alat untuk menguraikan cahaya benda langit untuk menghasilkan
spektrum disebut spektrograf saja.



TEROPONG BINTANG 53


Gambar 4.7 Contoh spektrum bintang, hasil penguraian oleh prisma atau kisi. Pola
garis-garis pada bintang-bintang berbeda-beda, masing-masing mengandung
informasi fisik tentang bintang yang diamati

Lensa sebagai pengumpul cahaya
Lensa adalah benda transparan dari material tembus cahaya yang
mempunyai indeks bias lebih besar dari udara, dengan permukaan
lengkung. Lengkungnya permukaan lensa, membuat cahaya yang datang
pada posisi yang berbeda di permukaan lensa akan dibiaskan dengan sudut
yang berbeda. Setelah menembus lensa, di permukaan sebaliknya cahaya
akan keluar dengan sudut yang berbeda pula, artinya cahaya membelok.
Dua kali melalui batas melengkung dua medium itu akan memberi efek
cahaya akan mengumpul atau menyebar. Jika lengkungan membuat lensa
cembung, maka cahaya akan cenderung mengumpul, sedangkan lensa
cekung akan membuat cahaya menyebar.
Hasil pengumpulan atau penyebaran cahaya ini akan menentukan dimana
posisi bayangan apabila ada benda di depan lensa, bergantung pada posisi
fokus lensa. Posisi fokus lensa bergantung pada kelengkungan permukaan
lensa. Jika jarak fokus pada sumbu utama dari lensa adalah f, jarak benda S
dan jarak bayangan adalah S maka hubungan ketiga besaran itu adalah :

'
1 1 1
S S f
+ =
(4.3)

Pada teropong bintang, jarak S sangat jauh dibandingkan dengan f, dengan
demikian 1/S dapat diabaikan sehingga :
f S ~ ' (4.4)
Artinya, jika kita mengarahkan teropong ke suatu bintang, maka cahaya
dari bintang itu akan dikumpulkan di titik fokus lensa obyektif. Sifat ini
juga dapat kita lihat dengan jelas ketika menghadapkan lensa cembung ke
Matahari pada siang hari dan di bawahnya diletakkan kertas. Jika posisi
kertas tepat pada titik fokus, kertas itu dapat terbakar. Itu sebabnya titik
fokus sering disebut juga titik api.
Jika kita ingat peristiwa penguraian cahaya oleh prisma mungkin muncul
juga pertanyaan, apakah panjang gelombang yang berbeda difokuskan

54 TEROPONG BINTANG

pada jarak yang berbeda setelah melewati lensa, mengingat pembiasan
bergantung pada panjang gelombang. Memang benar sebuah lensa bisa
mempunyai jarak fokus yang sedikit berbeda untuk panjang gelombang
yang berbeda. Gejala ini disebut aberasi kromatik. Namun pembuat lensa
teropong bintang dengan berbagai teknik, misalnya menggunakan
gabungan lensa, pemilihan bahan dan lain-lain, dapat mengurangi efek
aberasi kromatik ini. Lensa yang tidak mempunyai aberasi kromatik ini
disebut lensa apokromatik.

Lensa Gravitasi
Kita mengenal lensa di Bumi yang dapat memfokuskan cahaya. Fenomena
dasar yang dapat membuat sebuah lensa mengumpulkan cahaya adalah
fenomena pembiasan, yaitu pembelokan cahaya yang merambat melalui
dua medium yang berbeda sehingga kecepatannya berubah. Di alam
semesta, pembelokan cahaya dapat terjadi bukan hanya disebabkan oleh
proses pembiasan, tetapi juga oleh tarikan gravitasi yang sangat kuat.
Peristiwa pembelokan cahaya oleh gravitasi pertama kali dikemukakan
oleh Albert Einstein sebagai konsekuensi dari teori relativitas umum.


Gambar 4.8 Pembelokan cahaya bintang oleh gravitasi Matahari, sehingga bintang
yang berada di belakang Matahari masih dapat diamati oleh pengamat di Bumi.
Kesempatan pertama untuk membuktikan pembelokan cahaya oleh
gravitasi datang pada saat terjadi gerhana Matahari total tahun 1919.


TEROPONG BINTANG 55

Mengapa saat gerhana Matahari total? Karena pada saat itu permukaan
Matahari yang menyilaukan tertutup Bulan sehingga bintang bisa
kelihatan. Pembelokan cahaya oleh Matahari terhadap cahaya bintang yang
berada di belakang Matahari membuat bintang menjadi bisa terlihat meski
pun seharusnya tertutup oleh piringan Matahari. Penyebab pembelokan
cahaya bintang itu adalah gaya tarik gravitasi Matahari.
Bukti lain adanya peristiwa lensa gravitasi adalah dari citra gugus galaksi
di bawah ini.

Gambar 4.9 Citra fenomena lensa gravitasi. Galaksi berwarna biru dan melengkung
itu sebenarnya berada di belakang kumpulan galaksi besar di tengah, namun
tarikan gravitasi besar itu membuat cahaya dari galaksi di belakang membelok ke
arah pengamat. Sumber : Hubble Site
Karena jarak tempuh cahaya selama mengalami pelensaan jauh lebih kecil
dibanding jarak sumber dengan pengamat, maka pembelokan cahaya oleh
gravitasi umumnya mempunyai sifat-sifat yang sama dengan pembelokan
cahaya oleh lensa tipis.



56 TEROPONG BINTANG


Teropong Bintang
Salah satu alat optik yang digunakan untuk mengamati sumber cahaya
yang redup dan sangat jauh adalah teropong bintang. Secara umum
teropong bintang dibagi dalam dua golongan besar, refraktor dan reflektor.
Teropong refraktor menggunakan lensa, sedangkan reflektor meng-
gunakan cermin sebagai pengumpul cahaya utamanya. Teropong reflektor
masih dibagi menjadi beberapa jenis lagi, misalnya Newtonian, Schmidt,
Cassegrain dan lain lain.

Refraktor
Teropong refraktor atau pembias menggunakan lensa sebagai komponen
pengumpul cahayanya. Teropong jenis ini pertama kali diperkenalkan oleh
Galileo Galilei tahun 1609 dengan ukuran yang kecil dan perbesaran yang
kecil pula, hanya berkisar antara 3 hingga 30 kali. Pada zaman sekarang
teropong refraktor itu sudah bisa dibuat dengan ukuran yang lebih teliti,
perbesaran lebih besar dan ukurannyapun bisa jauh lebih besar. Sebagai
contoh, teropong refraktor Zeiss di Observatorium Bosscha mempunyai
lensa obyektif berdiameter 60 cm.


(kiri)


Gambar 4.10 Contoh teropong bintang jenis
refraktor kecil yang mirip dengan teropong
Galileo dan mudah dirakit sendiri
Gambar 4.11 Galileo Galilei
penemu teropong bintang
dan bulan-bulan Jupiter



TEROPONG BINTANG 57

Pada teropong yang mempunyai perbesaran tinggi, diperlukan sebuah
teropong yang lebih kecil, yang disebut finder, untuk mempermudah
pencarian obyek langit yang diinginkan. Hal ini disebabkan perbesaran
yang tinggi menyebabkan medan langit yang bisa dilihat menjadi kecil
sehingga teropong meleset sedikit saja dari obyek yang dituju, obyek
menjadi tidak nampak dalam medan pandang (field of view) teropong.
Teropong finder mempunyai perbesaran yang kecil dan medan pandang
yang lebih luas sehingga arah teropong meleset sedikit dari obyek tidak
membuat obyek keluar dari medan pandang. Pada saat kita akan
mengarahkan teropong ke suatu bintang, misalnya, biasanya kita melihat
melalui finder, kemudian teropong digerakkan sedikit demi sedikit
sehingga bintang berada tepat di tengah medan pandang finder. Jika sumbu
teropong utama dan teropong finder sejajar, dapat dipastikan bintang yang
berada tepat di tengah finder akan masuk ke dalam medan pandang
teropong utama.

Gambar 4.12 Skema teropong refraktor
Lensa pengumpul cahaya disebut lensa obyektif. Cahaya bintang yang
masuk ke dalam teropong melalui lensa obyektif merupakan cahaya yang
sejajar dengan sumbu utama karena letak obyek yang sangat jauh, sehingga
cahaya bintang akan terkumpul di fokus lensa obyektif tersebut. Citra yang
terbentuk di fokus itu merupakan citra nyata. Agar citra bintang dapat
dilihat dengan mata, diperlukan satu lensa lagi, yang disebut lensa okuler

58 TEROPONG BINTANG

atau eyepiece yang membuat citra menjadi maya. Agar cahaya yang
melewati lensa okuler dan masuk ke mata sejajar, maka lensa okuler harus
dipasang sedemikian rupa sehingga citra yang dikumpulkan oleh obyektif
terletak di fokus lensa okuler.
Pada saat kita memasang lensa okuler, dan kita lihat bintang melalui
teropong kemungkinan citra yang dilihat nampak buram, artinya citra dari
obyektif tidak tepat berada di fokus lensa okuler. Kita harus menggeser-
geser lensa okuler menjauhi atau mendekati obyektif sehingga diperoleh
citra paling tajam. Proses ini disebut dengan focusing atau pengaturan
fokus.
Perbesaran teropong bintang adalah perbandingan panjang fokus obyektif
dan okuler :
ok
obj
f
f
M =
(4.5)

Citra benda yang terlihat melalui teropong bintang sebenarnya terbalik,
namun kita tidak merasakannya ketika meneropong bintang karena
bintang adalah sumber cahaya titik. Namun jika kita menggunakan
Contoh Soal
Sebuah teropong refraktor mempunyai karakteristik sebagai berikut :
Lensa obyektif : diameter 10 cm, panjang fokus 1,5 m
Lensa okuler : diameter 0,5 cm, panjang fokus 1,5 cm

Maka perbesaran teropong itu adalah :
a. 10 kali
b. 15 kali
c. 20 kali
d. 100 kali
e. 200 kali

Jawab : d
Penjelasan : perbesaran teropong ditentukan oleh perbandingan panjang
fokus obyektif dan okuler :



TEROPONG BINTANG 59

teropong bintang untuk meneropong benda-benda yang ada di permukaan
Bumi, maka citra benda yang kita lihat akan terbalik. Untuk membuat citra
benda tegak kembali seperti semula diperlukan satu lensa tambahan yaitu
lensa pembalik. Dengan melakukan itu sebenarnya kita memperoleh
teropong medan. Jika teropong medan dibuat sepasang untuk mata kiri dan
kanan kita akan memperoleh binokuler.
Mengapa para pembuat teropong bintang membiarkan citra yang
dihasilkan teropong bintang terbalik? Karena pada benda-benda angkasa
tidak ada istilah atas dan bawah, mana atas mana bawah tidak jelas,
semuanya diatas, sehingga membalik citra tidak mempunyai arti apa-apa
malah merugikan. Mengapa merugikan? Karena tambahan lensa pembalik
akan membuat harga teropong lebih mahal dan intensitas citra yang
diperoleh sedikit lebih redup, karena serapan cahaya yang terjadi di lensa
pembalik.

Gambar 4.13 Skema Lintasan cahaya pada teropong refraktor
Jika perbesaran hanya ditentukan oleh fokus obyektif dan okuler, apa
peran diameter teropong? Mengapa orang membuat teropong yang
semakin hari semakin besar kalau perbesaran hanya ditentukan oleh jarak
fokus? Diameter teropong menentukan dua hal yaitu daya pisah
(resolution) dan kecerlangan citra. Jika kita memperpanjang fokus obyektif
teropong memang akan didapatkan citra yang berukuran lebih besar
namun semakin redup, karena pencahayaan (iluminasi) yang kurang.
Pencahayaan akan semakin tinggi apabila cahaya yang dikumpulkan
semakin banyak, dan hal itu dapat diperoleh bila luas lensa obyektif
teropong semakin besar. Jika pencahayaan dinyatakan dengan J dan
diameter obyektif D maka:
2
2
|
.
|

\
|
=
D
J t
(4.6)

60 TEROPONG BINTANG

Sementara itu panjang citra berbanding lurus dengan panjang fokus
obyektif f
obj
, sehingga luas citra berbanding lurus terhadap f
2
obj
. Maka
pencahayaan per satuan luas citra akan berbanding lurus terhadap kuadrat
perbandingan fokus terhadap diameter. Perbandingan fokus terhadap
diameter obyektif disebut focal ratio F:
D
f
F =
(4.7)
Dua teropong yang focal rationya sama akan memberikan kesan
kecerlangan citra yang sama meskipun besar teropongnya berbeda. Focal
ratio ini juga menjadi salah satu faktor yang menentukan lamanya waktu
pemotretan atau kecepatan kamera. Focal ratio biasanya dituliskan dalam
bentuk f/F, misalnya sebuah kombinasi teropong dan kamera mempunyai
focal ratio 5, maka dituliskan f/5, untuk menunjukkan focal ratio 5. Ada
juga yang mengatakan bahwa kamera yang focal rationya lebih kecil lebih
cepat.
Bagaimana hubungan diameter teropong dengan daya pisah? Yang
dimaksudkan daya pisah adalah kemampuan teropong memisahkan dua
titik cahaya yang berdekatan. Biasanya yang dimaksud berdekatan disini
bukanlah berdekatan dalam ukuran panjang tapi dalam ukuran sudut,
maka jaraknya pun dinyatakan dalam jarak sudut.
Jarak sudut adalah besar sudut yang dibentuk oleh garis hubung antara
pengamat dengan masing-masing titik. Daya pisah juga ditentukan oleh
panjang gelombang cahaya yang diterima oleh pengamat dari kedua
sumber. Semakin pendek panjang gelombang cahaya yang diamati semakin
dekat jarak sudut kedua titik yang dapat dipisahkan. Besarnya daya pisah
itu dapat dinyatakan oleh kriteria Rayleigh sbb :

D

u 22 , 1
min
=
(4.8)


Dengan

min
adalah jarak sudut paling kecil yang dapat dipisahkan oleh
teropong
adalah panjang gelombang cahaya yang diterima pengamat dari
kedua sumber.



TEROPONG BINTANG 61


Contoh Soal (OSP 2009 essay)
Sebuah teleskop dengan diameter bukaan 0,5 meter memerlukan
waktu 1 jam untuk mengumpulkan cahaya dari obyek astronomi yang
redup agar dapat terbentuk citranya pada detektor. Berapa waktu yang
diperlukan oleh teleskop dengan diameter bukaan 2,5 meter untuk
mengumpulkan jumlah cahaya yang sama dari obyek astronomi redup
tersebut?

Jawab:
Waktu yang diperlukan oleh sebuah teleskop untuk mengumpulkan
sejumlah cahaya berbanding terbalik dengan luas bukaan. Jadi:

, dengan A
i
: luas lingkaran dengan radius i
, dengan A
i
: luas lingkaran dengan radius i







Dalam waktu 2,24 menit sebuah teleskop dengan diameter bukaan 2,5
meter dapat mengumpulkan cahaya yang sama dengan teleskop
berdiameter 0,5 meter dalam waktu 1 jam.

62 TEROPONG BINTANG

Reflektor
Komponen pengumpul cahaya utama pada teropong reflektor adalah
sebuah cermin cekung dengan permukaan berbentuk paraboloida,
sehingga cahaya yang sejajar dengan sumbu utama akan difokuskan di
fokus cermin cekung itu. Bagaimana melihat citra yang difokuskan oleh
cermin itu? Kalau kita melakukannya sama seperti pada teropong
refraktor, maka kita harus meletakkan okuler di depan cermin dan pada
saat kita meneropong, cahaya bintang akan terhalang oleh kepala kita, yang
terlihat malah kepala kita, bukan bintang.
Untuk mengatasi hal ini ada beberapa macam ide sehingga dilahirkan
beberapa macam teropong reflektor. Issac Newton pada tahun 1668
mempunyai ide untuk memasang cermin kedua berukuran kecil di dekat
fokus cermin utama yang dapat memantulkan cahaya dari cermin utama ke
samping teropong. Lensa okuler dipasang tegak lurus terhadap sumbu
utama cermin utama, menghadap ke cermin kedua, sehingga dapat
menerima cahaya bintang yang dipantulkan oleh cermin utama dan cermin
kedua, seperti pada gambar berikut ini.


Gambar 4.14 Lintasan cahaya pada teropong reflektor tipe Newton
Cara kedua adalah dengan membuat lubang ditengah cermin utama dan
memasang cermin kedua menghadap ke cermin utama, sehingga cahaya
bintang yang dipantulkan oleh cermin utama dan kedua kemudian masuk
ke lubang di tengah cermin utama Di balik lubang cermin utama dipasang
lensa okuler. Ide ini dipublikasikan oleh Laurent Cassegrain tahun 1672.


TEROPONG BINTANG 63

Dari ide Cassegrain ini telah muncul berbagai variasi rancangan yang
berbeda-beda, seperti Schmidt-Cassegrain, Maksutov Cassegrain, Ritchey
Chrtien, Coud dan lain-lain.

Gambar 4.15 Skema lintasan cahaya pada teropong reflektor jenis Cassegrain

Seperti juga lensa, cermin cekung pun mempunyai fokus. Ke titik fokus itulah
cahaya yang berasal dari tempat yang jauh dipusatkan. Jika bentuk permukaan
cermin seperti potongan bola, cahaya yang dipantulkan oleh bagian cermin yang
berbeda akan dipusatkan di titik yang berbeda. Gejala ini disebut aberasi sferis.
Untuk menghindari aberasi sferis, bentuk geometri permukaan cermin dibuat
seperti potongan paraboloida.
Pada teropong refraktor, semakin besar diamter lensa, ketebalannya pun semakin
besar dan semakin sulit membuatnya. Teropong reflektor dapat dibuat sangat
besar karena diameter cermin tidak mempengaruhi ketebalannya. Itulah sebabnya
teropong-teropong raksasa seperti Subaru, Keck, Gemini dan lain-lain semua
merupakan teropong reflektor.








64 TEROPONG BINTANG

Soal-soal
1. (OSKK 2008) Jarak antara lensa objektif dan lensa okuler sebuah
teropong adalah 1,5 m. Jika panjang fokus okulernya 25 mm, berapakah
panjang fokus lensa objektifnya?
a. 2,5 x 10
-2
m
b. 0,6 m
c. 1,475 m
d. 6 m
e. 15,95 m

2. (OSKK 2007) Pengaruh refraksi pada saat Matahari terbit/terbenam
adalah:
a. Bentuk Matahari terdistorsi sehingga nampak lebih kecil
b. Kedudukan Matahari lebih tinggi dari yang seharusnya
c. Pengaruhnya terlalu kecil sehingga bisa diabaikan
d. Warna Matahari menjadi merah
e. Tidak ada jawaban yang benar

3. (OSKK 2008) Daya pisah (resolving power) sebuah teleskop lebih
besar jika
a. panjang fokus lebih besar
b. diameter obyektif lebih besar
c. panjang fokus lebih kecil
d. hanya bekerja dalam cahaya merah
e. diameter obyektif lebih kecil

4. (OSKK 2009) Perbedaan refraktor dan reflektor yang paling tepat
adalah,
a. Refraktor tidak mempergunakan lensa okuler sedang reflektor
mempergunakannya
b. Refraktor tidak memiliki panjang fokus sedang reflektor memiliki


TEROPONG BINTANG 65

panjang fokus
c. Reflektor mempergunakan lensa pengumpul cahaya
d. Kolektor radiasi refraktor adalah lensa, sedangkan untuk reflektor
adalah cermin
e. Tidak ada jawaban yang benar

5. (OSKK 2009) Sebuah teleskop dilengkapi dengan lensa obyektif dan
okuler dan diarahkan ke bulan. Melalui lensa okuler dan dengan
mengatur fokusnya, bulan terlihat begitu jelas kawahnya. Apabila kamu
memotret bulan dengan menempelkan kamera di belakang lensa
okuler, maka
a. Citra kawah bulan tidak fokus sehingga tidak sama dengan yang dilihat
dengan mata biasa
b. Citra kawah bulan yang dipotret sama dengan yang dilihat melalui
okuler
c. Citra kawah bulan akan lebih kecil ukurannya dalam hasil potret
d. Citra kawah bulan akan lebih besar ukurannya dalam hasil potret
e. Citra kawah bulan yang dipotret lebih besar dari yang dilihat melalui
okuler

6. (OSKK 2009) Jika kamu memiliki 2 buah teleskop dengan diameter 5
cm dan 10 cm, dan akan digunakan untuk mengamati sebuah bintang,
maka dalam keadaan fokus,
a. Bintang akan tampak lebih besar dengan teleskop 10 cm
b. Bintang akan lebih terang dengan teleskop diameter 5 cm
c. Bintang tampak lebih besar dengan teleskop 5 cm
d. Bintang tidak terlihat dengan teleskop 5 cm
e. Bintang akan tampak sama besar ukurannya di kedua teleskop
tersebut

7. (OSKK 2009) Sebuah teleskop dengan diameter 20 cm (f/D=10)
dilengkapi lensa okuler. Dua buah lensa okuler yakni dengan panjang
fokus 15 mm (okuler A)dan 40 mm (okuler B) digunakan untuk melihat
planet Jupiter yang berdiameter sudut 40 detik busur. Hasil yang

66 TEROPONG BINTANG

diperoleh adalah
a. Planet Jupiter akan tampak lebih besar dengan menggunakan
okuler B
b. Planet Jupiter akan sama besar baik dengan menggunakan okuler A
maupun okuler B
c. Planet Jupiter akan tampak lebih besar dengan menggunakan
okuler A
d. Planet Jupiter akan tampak sama redup di kedua okuler tersebut
e. Planet Jupiter akan tampak sama terang di kedua okuler tersebut

8. (OSKK 2009) Bulan dengan diameter sudut 30 menit busur dipotret
dengan sebuah teleskop dengan panjang fokus 5000 mm. Sebuah
kamera dijital dengan ukuran bidang pencitraan 0,6 cm x 0,5 cm
digunakan untuk memotret bulan tersebut. Hasil yang diperoleh adalah
a. Setengah dari piringan bulan yang dapat dipotret
b. Piringan bulan seutuhnya akan dapat dipotret
c. Hanya sepertiga dari piringan bulan yang dapat dipotret
d. Bulan tidak dapat dipotret
e. Hanya sabit bulan yang dapat dipotret

9. (OSKK 2009) Komet merupakan obyek yang membentang dan bergerak
cepat yang dicirikan oleh ekor dan koma. Untuk mengamati seluruh
bentuk komet yang terang, instrumen yang tepat adalah,
a. Teleskop berdiameter besar dengan f/D besar
b. Mata telanjang
c. Teleskop berdiameter kecil dengan f/D besar
d. Teleskop berdiameter besar dengan f/D kecil
e. Teleskop berdiameter kecil dengan f/D kecil

10. (OSKK 2009) Apabila dibandingkan antara teleskop yang berdiameter
efektif 10 meter dengan teleskop terbesar di Observatorium Bosscha
yang berdiameter 60 cm, maka
a. kuat cahaya yang dikumpulkan oleh teleskop berdiameter 10 m
adalah 278 kali kuat cahaya yang dikumpulkan oleh teleskop
berdiameter 60 cm

Djoni N. Dawanas 2009



TEROPONG BINTANG 67

b. kuat cahaya yang dikumpulkan oleh teleskop berdiameter 10 m
adalah 0,0036 kali kuat cahaya yang dikumpulkan oleh teleskop
berdiameter 60 cm
c. kuat cahaya yang dikumpulkan oleh teleskop berdiameter 10 m
adalah 17 kali kuat cahaya yang dikumpulkan oleh teleskop
berdiameter 60 cm
d. kuat cahaya yang dikumpulkan oleh teleskop berdiameter 10 m
adalah 0,06 kali kuat cahaya yang dikumpulkan oleh teleskop
berdiameter 60 cm
e. kuat cahaya yang dikumpulkan oleh teleskop berdiameter 10 m,
sama dengan kuat cahaya yang dikumpulkan oleh teleskop
berdiameter 60 cm

11. (OSP 2009) Bulan yang berdiameter sudut 30 menit busur dipotret
dengan sebuah teleskop berdiameter 50 cm (f/D=10). Untuk
memotret bulan tersebut, teleskop dilengkapi dengan kamera dijital
yang bidang pencitraannya berukuran 0,6 cm x 0,5 cm. Dari hasil
pemotretan ini maka,
a. Seluruh piringan Bulan dapat dipotret
b. Hanya sebagian piringan Bulan yang dapat dipotret
c. Hanya seperempat Bagian Bulan yang dapat dipotret
d. Seluruh piringan Bulan tidak bisa dipotret
e. Jawaban tidak ada yang benar

12. (OSP 2009) Untuk mengamati bintang ganda yang jaraknya saling
berdekatan. Sebaiknya menggunakan teleskop.
a. Diameter okuler besar
b. diameter obyektif yang besar
c. panjang fokus kecil
d. hanya bekerja dalam cahaya merah
e. diameter obyektif kecil

69


Bab 5
ENERGI GRAVITASI




Pendahuluan
Jika kita berada di dekat permukaan Bumi, melempar batu misalnya, maka
batu akan jatuh kembali ke permukaan Bumi karena tarikan gravitasi
Bumi. Di dalam peristiwa itu ada gaya dan ada perpindahan, gayanya
adalah gaya gravitasi, perpindahannya adalah beda posisi batu mula-mula
dan kemudian. Kita dapat menghitung usaha yang bekerja pada benda yang
bergerak itu sebagai berikut:
x F W A =
(5.1)

F adalah gaya yang bekerja, yaitu gaya gravitasi sehingga F=mg, x adalah
perpindahan dalam arah F, yaitu h, sehingga usaha dapat ditulis sebagai :
h mg W A =
(5.2)

Jadi benda yang berada pada ketinggian h dari permukaan Bumi
berpotensi untuk melakukan usaha sebesar mgh jika jatuh ke permukaan
Bumi. Usaha dapat diterjemahkan sebagai perubahan energi, tarikan
gravitasi Bumi menyebabkan batu yang berada pada posisi tertentu
mempunyai energi potensial gravitasi. Untuk benda yang melayang tidak
jauh dari permukaan Bumi, praktis besarnya gaya gravitasi tetap.
Perubahan energi potensial gravitasi yang terjadi jika benda berpindah
dari satu tempat ke tempat lain, hanya bergantung pada perbedaan
ketinggian dari permukaan Bumi. Andaikan sebuah benda bermassa m
Materi : Usaha dan Energi

Kelas XI

Kompetensi Dasar :
XI.3.3 Menganalisis konsep energi, usaha, hubungan usaha dan perubahan
energi untuk menyelesaikan permasalahan gerak dalam kehidupan sehari-hari
XI.4.3 Memecahkan masalah dengan menggunakan metode ilmiah terkait
dengan dengan konsep gaya dan kekekalan energi

70 ENERGI GRAVITASI

berpindah dari titik A ke titik B, maka perubahan energy potensialnya
adalah :
A B P
mgh mgh E W = A =
(5.3)

Dengan :
m = massa benda
g = percepatan gravitasi Bumi
h
A
dan h
B
adalah ketinggian benda di titik A dan titik B
Grafik di bawah ini menyajikan suatu contoh gerak benda bermassa 0,2 kg
di atas permukaan Bumi. Mula-mula benda berada pada ketinggian 2,5 m,
lalu dilempar ke udara. Pada saat mencapai titik B yang tingginya 0,75 m,
energi potensialnya berubah sebesar :
) (
A B p
h h mg E = A
(5.4)

Dengan memasukkan angka-angka diatas dan mengasumsikan percepatan
gravitasi Bumi 9,8 m/s
2
. Diperoleh: 43 , 3 = A
P
E joule. Tanda minus
artinya energi potensial berkurang. Pada contoh diatas permukaan Bumi
telah digunakan sebagai acuan. Namun sebenarnya bidang acuan boleh
dipilih, asalkan konsisten.

Gambar 5.1 Lintasan benda yang dilemparkan dari ketinggian tertentu.

ENERGI GRAVITASI 71

Misalnya, kalau ketinggian titik A kita anggap sebagai ketinggian nol, maka
ketinggian titik B adalah minus 1,75 meter, maka perubahan energi
potensial E
P
yang didapat akan sama.
Menurut hukum kekekalan energi, energi tidak dapat hilang begitu saja,
maka berkurangnya energi potensial diatas harus menyebabkan
pertambahan energi lain. Lazimnya dalam gerak benda seperti diatas,
kecepatan benda akan makin lambat sebelum mencapai maksimum lalu
makin cepat setelah melewati maksimum. Dalam kasus diatas, karena
kecepatan bertambah dengan semakin rendahnya posisi benda, maka
dapat diduga bahwa energi potensial berubah menjadi energi kinetik, maka
pertambahan energi kinetiknya adalah +3,43 joule. Perubahan energi
kinetik itu berhubungan dengan perubahan kecepatan melalui persamaan
berikut :

2
2
1
2
2
1
A B K
mv mv E = A
(5.5)

Dengan demikian kalau kita tahu kecepatan awal batu ketika dilemparkan
dari titik A, maka dengan mudah kita dapat menghitung kecepatan batu itu
di B. Jika kecepatan awal di A adalah 4,4 m/s, maka dengan menggunakan
rumus energi kinetik itu dapat dihitung kecepatan di B, yaitu sekitar : 7,3
m/s. Dengan menggunakan cara perhitungan energi ini kita tidak perlu
mengetahui bagaimana sudut elevasi atau pun lintasan batu itu, karena
perhitungan energi tidak bergantung pada lintasan.
Karena dalam peristiwa diatas hanya ada perubahan energi potensial
menjadi energi kinetik dan sebaliknya, pengurangan energi potensial sama
dengan penambahan energi kinetik, maka dapat dituliskan :

K P
E E A = A
(5.6)


2
2
1
2
2
1
) (
A B A B
mv mv h h mg =
(5.7)

2
2
1
2
2
1
B B A A
mv mgh mv mgh + = +
(5.8)

Rumus ini adalah representasi matematika dari hukum kekekalan energy
mekanik. Titik A dan titik B bisa dimana saja asal tidak terlalu jauh dari
permukaan Bumi. Jumlah energi potensial dan energi kinetik di suatu titik
disebut energi mekanik. Rumus diatas dapat dibaca bahwa energi mekanik
konstan selama batu melayang dari A ke B.
Rumus energi potensial diatas sebenarnya merupakan rumus pendekatan,
bukan rumus eksak. Rumus itu hanya berlaku jika medan gravitasi dapat
diangap sama di semua titik yang ditinjau. Dengan demikian rumus

72 ENERGI GRAVITASI

tersebut hanya berlaku di dekat permukaan Bumi. Bagaimana halnya kalau
benda bergerak sangat jauh di dalam medan gravitasi Bumi sehingga
selama bergerak, benda melalui titik-titik yang percepatan gravitasinya
berbeda? Dalam hal ini, akan lebih baik apabila digunakan bukan rumus
pendekatan tapi perumusan yang lebih fundamental, yaitu :
r
m M
G E
P

=
(5.9)

Dengan :
G adalah konstanta gravitasi
M

adalah Massa Bumi


m adalah massa benda yang bergerak
r adalah jarak benda dari pusat Bumi
Dalam perumusan ini titik acuan untuk penentuan ketinggian adalah pusat
Bumi, bukan permukaan Bumi, akan tetapi energi potensial nol bukan di
pusat Bumi melainkan di suatu titik yang sangat jauh dari Bumi (r= ).
Dalam perumusan ini pula kita melihat bahwa energi potensial gravitasi
Bumi di semua titik adalah negatif kecuali di tempat yang sangat jauh atau
di titik r = .
Rumus energi potensial diatas dapat diperoleh dari rumus dasar :
x F W A =
(5.10)

Jika gerak benda yang ditinjau jauh sehingga gaya gravitasi yang
dialaminya tidak dapat dianggap tetap maka perlu dilakukan integrasi
untuk menghitung usaha, dan rumus gaya gravitasi yang digunakan harus
rumus yang lebih fundamental yaitu gaya gravitasi Newton :

2
r
m M
G F

=
(5.11)

Tanda negatif artinya gaya tarik menarik. Proses integrasinya tidak
diuraikan disini karena membutuhkan kalkulus yang belum diajarkan,
namun sebagai petunjuk, kita dapat melihat bahwa perbedaan rumus E
P

dan F hanya pada penyebut yang pangkat satu pada rumus E
P
pangkat dua
untuk rumus F. Jika F dikalikan dengan r maka kita akan mendapatkan E
P
,
padahal di dalam rumus usaha diatas, F tidak dikalikan dengan r melainkan
r, maka diperlukan proses integrasi untuk sampai pada rumus E
P
.


ENERGI GRAVITASI 73


Orbit Satelit
Sebuah satelit yang bergerak mengelilingi Bumi, dalam orbit elips energi
makaniknya tetap, meskipun jaraknya berubah-ubah dari Bumi. Maka
dapat diduga bahwa kecepatan gerak satelit itu pun berubah-ubah
bergantung pada jaraknya dari Bumi, pada saat jaraknya dekat
kecepatannya tinggi, saat jaraknya jauh geraknya melambat. Hal ini sesuai
dengan hukum Kepler ke dua. Pada saat satelit paling dekat dengan Bumi,
dikatakan satelit itu berada di perigee, sedangkan pada saat paling jauh
dikatakan berada di apogee.
Dengan menggunakan rumus energi ini, kita dapat menghitung kecepatan
orbit satelit, meskipun orbitnya elips, tanpa harus berurusan dengan
persamaan elips. Energi total sebuah satelit yang mengorbit Bumi adalah :

a
m M
G E
2

=
(5.12)

Dengan a adalah setengah sumbu panjang orbit elips dari satelit. Di dalam
sebuah sistem yang terikat secara gravitasi, energi kinetik rata-rata gerak
benda yang mengelilingi benda yang lebih masif adalah minus dua kali
energi potensialnya. Pernyataan ini disebut teorema virial. Dapat juga
dikatakan bahwa energi mekanik total adalah setengah dari energi
potensial. Energi total itu harus sama dengan jumlah energi kinetik dan
potensial, maka:

r
m M
G mv
a
m M
G

=
2
2
1
2
(5.13)

Dengan demikian kecepatan satelit dalam orbitnya ketika jaraknya r dari
pusat Bumi adalah :

|
.
|

\
|
=

a r
GM v
1 2
(5.14)
Jika orbit satelit berbentuk lingkaran dengan jari-jari r, maka r = a =
konstan, sehingga kecepatan gerak menjadi :

r
GM
v

=
(5.15)


74 ENERGI GRAVITASI

Rumus-rumus kecepatan tersebut berlaku untuk satelit yang mengorbit
tanpa membutuhkan energi, tidak berlaku untuk satelit yang mendapat
dorongan roket. Satelit yang baru diluncurkan mendapat dorongan dari
roket peluncur sehingga energi totalnya bertambah terus selama mendapat
dorongan roket.
Pesawat atau satelit yang diterbangkan ke angkasa luar dari permukaan
Bumi hanya beberapa menit pertama terbangnya vertikal, kemudian akan
berbelok agar dapat mengorbit Bumi. Untuk berpindah dari satu ketinggian
ke ketinggian lain atau untuk lepas dari gravitasi Bumi dan masuk ke
gravitasi Bulan atau planet lain pesawat antariksa melakukan transfer
orbit. Apa yang disebut dengan transfer orbit? Transfer orbit artinya
membuat orbit satelit pindah dari suatu jarak dari Bumi ke jarak lain. Cara
transfer orbit ini membuat pemakaian energi menjadi lebih sedikit. Energi
hanya digunakan saat mengubah kecepatan, pada sebagian besar lintasan
tidak dibutuhkan energi.
Gambar 5.2 Skema proses transfer orbit pesawat antariksa dari Bumi ke Bulan


ENERGI GRAVITASI 75

Pada perjalanan pesawat antariksa dari Bumi ke Bulan, misalnya, setelah
pesawat mengorbit Bumi pada ketinggian tertentu, roket dinyalakan untuk
menambah kecepatan. Skema lintasan pesawat antariksa ke Bulan adalah
seperti pada gambar 5.2.
Posisi, saat dan lamanya roket dinyalakan harus dihitung dengan saksama
agar dicapai kecepatan yang dapat membuat lintasan pesawat berubah
menjadi sangat lonjong, dengan titik apogee (titik terjauh dari Bumi)
berada di sekitar orbit bulan.


Contoh :
Sebuah satelit yang semula mengelilingi Bumi dengan orbit lingkaran
dan jari-jari orbit 1 juta km, akan dipindahkan orbitnya ke ketinggian 2
juta km. Caranya adalah dengan menyalakan roket beberapa saat
sehingga kecepatan gerak bertambah dan orbitnya menjadi elips,
dengan jarak terdekat ke Bumi (perigee) 1 juta km dan terjauh (apogee)
2 juta km. Selama satelit melambung hingga mencapai jarak 2 juta km
roket mati. Untuk membuat orbit satelit lingkaran, di apogee roket
dinyalakan lagi sehingga kecepatannya bertambah lagi secukupnya
untuk membuat orbit satelit menetap di ketinggian 2 juta km. Pada saat
radius orbit pesawat 1 juta km, itu kecepatan liniernya adalah:



Dengan massa Bumi M

=5,97 10
24
kg dan G =6,68 10
-11
Nm
2
/kg
2
.
Untuk membuat orbitnya elips, roket dinyalakan beberapa saat untuk
mempercepat geraknya menjadi sekitar 729 m/dt setelah mencapai
kecepatan itu roket dimatikan dan dibiarkan melambung hingga jarak 2
juta km. Pada jarak itu kecepatan roket mencapai minimum yaitu 365
m/dt, kalau dibiarkan, pesawat akan bergerak makin cepat mendekati
Bumi lagi. Jika kita ingin membuatnya mengorbit Bumi dalam orbit
lingkaran dengan radius orbit 2 juta km, maka roket harus dinyalakan
lagi beberapa saat hingga kecepatannya mencapai 447 m/dt, lalu
matikan.


76 ENERGI GRAVITASI

Orbit Planet
Hukum-hukum yang mengatur orbit satelit mengelilingi Bumi sama dengan
yang mengatur orbit planet mengelilingi Matahari, maka rumus diatas juga
berlaku untuk orbit planet, termasuk Bumi:
|
.
|

\
|
=
a r
GM v
1 2
(5.16)
Dengan M adalah massa Matahari


Contoh : berapakah kecepatan gerak Bumi mengelilingi Matahari saat
Bumi di Perihelion jika eksentrisitas orbit Bumi 0,017?
Jawab :
Jarak perihelion adalah :

Maka kecepatan dapat dituliskan :

Dengan menggunakan :
G = 6,67 x 10
-11
Nm
2
/kg
2
;
M =Massa Matahari = 1,9910
30
kg
Maka diperoleh v = 30,30 km/s.
Berapa kecepatan gerak Bumi di aphelion? Dengan menggunakan
rumus yang sama, dengan jarak aphelion

Diperoleh :

Kecepatan v = 29,28 km/s

ENERGI GRAVITASI 77

Bagaimana kecepatan geraknya ketika di tempat lain selain perihelion dan
aphelion? Pasti antara 29,28 km/ s dan 30,30 km/s, karena jarak Bumi
Matahari tidak bisa lebih dekat dari jarak perihelion dan tidak bisa lebih
jauh dari jarak aphelion.

Kecepatan lepas
Ada beberapa kemungkinan yang terjadi pada sebuah benda yang berada
di dalam medan gravitasi benda lain, bergantung pada kecepatannya.
Mungkin benda itu jatuh ke pusat gravitasi, mungkin mungkin mengorbit,
mungkin terlepas dari medan gravitasi itu. Untuk bisa terlepas dari medan
gravitasi kecepatan gerak benda harus cukup tinggi, melebihi suatu batas
tertentu.
Batas kecepatan itu disebut kecepatan lepas. Jika kecepatan gerak benda
sama atau melebihi kecepatan lepas itu, maka benda akan lepas dari medan
gravitasi benda pertama untuk selamanya kecuali kalau arah geraknya
tepat menuju pusat gravitasi. Untuk mencari besarnya kecepatan lepas ini
dapat digunakan konsep energi. Berdasarkan definisi, di tempat tak
berhingga, energi potensial gravitasinya nol. Jadi kecepatan yang
diperlukan adalah kecepatan yang dapat membuat benda mencapai tak
berhingga, untuk itu energi total benda minimum nol.
0
2
2
1
=

r
m M
G mv
(5.17)
r
m M
G mv

=
2
2
1
(5.18)

r
GM
v
esc

=
2
(5.19)
Inilah rumus untuk menghitung kecepatan lepas.

78 ENERGI GRAVITASI



Energi Gravitasi Black Hole
Sumber energi apakah yang paling efisien? Kita sudah membahas bahwa
benda yang berada pada posisi yang tinggi mempunyai energi potensial
gravitasi dan energi potensial ini dapat diubah menjadi bentuk energi lain
yang dapat dimanfaatkan manusia. Sebagai contoh air sungai yang
mengalir dari tempat tinggi dapat diambil energi potensialnya dan diubah
menjadi energi listrik di dalam Pembangkit Listrik Tenaga Air. Mari kita
bandingkan sumber energi ini dengan sumber energi lain. Agar
perbandingan adil kita ambil jumlah massa yang sama dari masing-masing
sumber energi, misalnya 1 kg. Energi potensial gravitasi yang dimiliki 1 kg
air yang berada di permukaan bendungan yang tingginya 100 meter
adalah:

joule 1000 100 10 1 = = =mgh E
p

Selanjutnya kita bandingkan dengan bensin, berapa besar energi yang bisa
dihasilkan oleh 1 kg bensin jika dibakar? 41800 kilo joule. Yang ketiga,
Contoh :
Berapakah kecepatan minimum sebuah benda dilontarkan dari
permukaan Bumi agar dapat lepas dari pengaruh medan gravitasi
Bumi?
Jawab :
Massa Bumi : 5,98 10
24
kg, radiusnya : 6378 km, G = 6,67 10
-11

Nm
2
/kg
2
.
11 km/s
Jadi untuk meluncurkan pesawat ke angkasa luar diperlukan roket
yang bisa mendorong pesawat hingga mencapai kecepatan lebih dari
11 km/s.


ENERGI GRAVITASI 79

bahan bakar nuklir, besarnya energi nuklir yang dapat dihasilkan jika 1 kg
uranium di ubah melalui reaksi fisi? Kira-kira 2 10
13
joule. Berapakah
energy yang dilepaskan oleh 1 kg benda yang jatuh ke dalam lubang hitam?
Ambil contoh lubang hitam yang massanya 100 kali massa Matahari (kita
ambil contoh massa yang lebih besar juga sama saja). Energi dilepaskan
hingga benda itu mencapai event horizon. Radius event horizon dapat
dihitung dengan menggunakan rumus Scwarzchild:

2
2
c
GM
r
s
=
(5.20)
Dengan memasukan G= 6,6710-11 N m
2
kg
-2
, massa Matahari 1,98910
30

kg dan kecepatan cahaya 310
8
m/dt, diperoleh radius event horizon 295
km. Jadi energi potensial yang dapat dikonversi adalah 4,4 10
16
joule. Dari
perbandingan ini dapat disimpulkan bahwa energi yang dapat
dibangkitkan oleh lubang hitam per satuan massa bahan bakar lebih besar
dari sumber energi nuklir, artinya lebih efisien. Mungkinkah di masa depan
kita dapat memanfaatkan lubang hitam sebagai sumber energi?
Jika meninjau teori fisika tentang massa lubang hitam, berdasarkan
perhitungan teoretis, massa terkecil yang dapat dimiliki sebuah lubang
hitam adalah 22 mikrogram. Jadi jika para ilmuwan dapat menemukan cara
membuat lubang hitam bermassa kecil, mungkin di masa depan sumber
energi lubang hitam dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan energi umat
manusia.








80 ENERGI GRAVITASI

Soal-soal
1. (OSKK 2006) Seorang astronot terbang di atas Bumi pada ketinggian
300 km dan dalam orbit yang berupa lingkaran. Ia menggunakan roket
untuk bergeser ke ketinggian 400 km dan tetap dalam orbit lingkaran.
Kecepatan orbitnya adalah,
a. lebih besar pada ketinggian 400 km
b. lebih besar pada ketinggian 300 km
c. Kecepatannya sama karena orbitnya sama-sama berupa lingkaran
d. kecepatannya sama karena dalam kedua orbit efek gravitasinya
sama
e. tidak cukup data untuk menjelaskannya

2. Apabila Bumi mengkerut sedangkan massanya tetap, sehingga
jejarinya menjadi 0,25 dari jejari yang sekarang, maka diperlukan
kecepatan lepas yang lebih besar. Yaitu;
a. 2 kali daripada kecepatan lepas sekarang.
b. 1,5 kali daripada kecepatan lepas sekarang
c. sama seperti sekarang.
d. sepertiga kali daripada kecepatan lepas sekarang
e. sepersembilan kali daripada kecepatan lepas sekarang

3. Sebuah satelit mengelilingi Bumi pada ketinggian 20000 km dengan
orbit lingkaran. Jika satelit itu akan dinaikkan orbitnya menjadi satelit
geostasioner dengan orbit lingkaran, berapa energi yang dibutuhkan
dari roket?

4. (OSN 2013) Sebuah satelit dengan massa 500 kg mengorbit Bumi pada
ketinggian 36.000 km dari pusat Bumi. Perbandingan energi kinetik
terhadap energi potensial gravitasi satelit tersebut adalah
A. (1/2)
B. 2
C. + (1/2)
D. 5
E. 2

81


Bab 6
MOMENTUM



Pendahuluan
Momentum didefinisikan sebagai massa dikalikan kecepatan:
mv p
(6.1)

Karena v adalah besaran vektor dan m adalah skalar, maka momentum juga
merupakan besaran vektor. Besaran ini memberikan gambaran tentang
kekuatan gerakan suatu benda. Jika benda itu bermassa besar, tentu
gerakannya mempunyai kekuatan yang besar. Demikian pula jika benda itu
kecepatannya tinggi, juga ada kekuatan besar dalam gerakannya. Benda
langit seperti bulan, karena massanya sangat besar, tentu gerakannya
mengelilingi Bumi juga mengandung kekuatan yang besar. Jika massa
bulan adalah 7,1 x 10
22
kg, kecepatan Bulan 163 m/detik, momentum gerak
bulan mengelilingi Bumi adalah : mv = 1,16 10
25
kg m/detik, luar biasa
besarnya!
Peristiwa tumbukan benda langit yang sering teramati oleh manusia adalah
tumbukan antara Bumi dengan asteroid atau pecahan komet. Tumbukan
itu biasanya dikenal sebagai meteor, yang nampak sebagai garis cahaya
sekejap di langit malam yang cerah. Meteor yang jatuh ke Bumi biasanya
mempunyai kecepatan yang tinggi. Meskipun massanya kecil,
kecepatannya yang sangat tinggi mempunyai daya rusak yang tinggi.
Sebuah meteor yang ketika menumbuk Bumi besarnya sebesar bola tenis
saja mampu merusak dan melubangi lantai beton. Sebagian besar meteor-
meteor habis dikikis dan dibakar di atmosfir Bumi, namun meteor yang
Materi : Momentum dan Tumbukan

Kelas XI

Kompetensi Dasar:
XI.3.5 Menerapkan konsep momentum dan impuls, serta hukum kekekalan
momentum dalam kehidupan sehari-hari
(6.1)

82 MOMENTUM

berukuran besar tidak habis dikikis partikel atmosfir dan sisanya bisa
sampai permukaan Bumi. Batuan meteor yang tersisa sampai di
permukaan Bumi disebut meteorit.

Impuls
Impuls merupakan hasil kali gaya dengan waktu. Waktu yang dimaksud
adalah lamanya gaya tersebut bekerja pada benda.
t F I
(6.2)

Benda yang dikenai gaya akan mengalami percepatan, artinya
kecepatannya berubah, momentumnya berubah. Dapat dibuktikan bahwa
impuls yang dialami sebuah benda akan sama dengan perubahan
momentum benda itu selama tidak ada gaya lain. Jika ada gaya lain, maka
semua gaya yang bekerja pada benda harus dijumlahkan dulu. Hubungan
antara impuls dan momentum dapat dituliskan :
mv mv I ' (6.3)
Peristiwa terdorongnya roket yang menyemburkan gas buang dapat juga
dijelaskan dengan kekekalan momentum. Bahan bakar dibakar di dalam
ruang pembakaran pada mesin roket, gas itu kemudian mengembang,
tekanan menjadi tinggi. Gas akan keluar dari bagian belakang roket
(nozzle), jadi ada materi gas yang bergerak ke belakang roket dengan
kecepatan tinggi dan membawa momentum. Sesuai dengan hukum
kekekalan momentum, momentum ke belakang itu harus diimbangi dengan
momentum ke depan, yaitu dalam bentuk gerakan roket ke depan. Hal ini
ekivalen dengan terjadinya gaya dorong roket ke depan.

Andaikan ada pesawat antariksa yang massanya m
1
sedang bergerak
dengan kecepatan v
1
, dalam keadaan roket mati. Kemudian roket
dinyalakan selama selang waktu t. Kecepatan semburan gas roket ke
belakang adalah v
r
, jumlah gas yang disemburkan adalah m
r
yang jauh lebih
kecil daripada massa pesawat. Setelah selang waktu t itu, kecepatan
pesawat menjadi v
2
, maka hukum kekekalan momentum akan
menghasilkan :

r r
v m v m v m
2 1 1 1
(6.4)
Arah v
2
dan v
r
berlawanan, sehingga tandanya harus berlawanan.
Perubahan momentum roket adalah :
) (
1 2 1
v v m p
(6.5)


Momentum 83

Besarnya perubahan momentum itu sama dengan impuls, maka gaya
dorong roket :

t
v m
t
v v m
F
r r

) (
1 2
(6.6)

Tanda negatif menunjukkan bahwa arah F dan momentum gas buang
berlawanan.
Jika arah semburan gas berlawanan dengan arah gerak roket, maka roket
akan bergerak semakin cepat sedangkan kalau searah roket akan semakin
lambat. Untuk membuat roket pindah orbit ke orbit yang lebih tinggi,
dilakukan manuver sehingga arah semburan roket berlawanan dengan
arah gerak roket, sedangkan untuk turun ke orbit yang lebih rendah, arah
semburan roket harus searah dengan arah gerak. Saat roket dinyalakan
selama selang waktu t, pesawat mengalami gaya F dari semburan roket,
maka hal ini ekivalen dengan pesawat mengalami impuls Ft.



Tumbukan
Di dalam setiap peristiwa tumbukan antara dua benda selalu berlaku
hukum kekekalan momentum. Jumlah momentum dua benda sebelum
bertumbukan akan sama dengan sesudah bertumbukan. Jika ada dua benda
Contoh Soal
Sebuah roket massanya 20 000 kg sedang terbang dengan kecepatan
konstan di ruang antar planet. Kemudian roket pesawat dinyalakan.
Jika kecepatan semburan gas ke belakang 1000 m/detik, dan dalam
satu detik disemburkan 50 kg gas hasil pembakaran, berapakah
percepatan yang dialami roket?
Jawab:
Perubahan momentum roket dalam satu detik :

F=50000 kg m/dt
2



84 MOMENTUM

m
1
dan m
2
yang masing-masing bergerak dengan kecepatan v
1
dan v
2

bertumbukan, dan setelah tumbukan itu kecepatannya menjadi v
1
' dan v
2
',
maka berlaku :
'
2 2
'
1 1 2 2 1 1
v m v m v m v m (6.7)
Jika tumbukan elastik sempurna akan berlaku hukum kekekalan energi :
2 '
2 2 2
1
2 '
1 1 2
1
2
2 2 2
1
2
1 1 2
1
v m v m v m v m
(6.8)

Harus diingat bahwa momentum adalah besaran vektor, jadi perhitungan
momentum ini harus juga memperhitungkan arah gerak. Peristiwa
tumbukan pada benda langit biasanya bersifat tidak elastik, karena
melibatkan kecepatan yang sangat tinggi sehingga tumbukan mengubah
struktur kedua benda. Meteor yang jatuh di Bulan misalnya, tidak pernah
terpantul balik dengan sempurna, melainkan melesak ke dalam Bulan,
menghasilkan kawah bekas tumbukan. Itu sebabnya di permukaan Bulan
kita melihat banyak kawah, meskipun tidak ada aktivitas vulkanik di Bulan.
Kawah-kawah seperti itu sering disebut impact crater.
Pada tumbukan tidak elastik sama sekali, kedua benda yang bertumbukan
akan bersatu setelah tumbukan terjadi, dalam hal ini v
1
' dan v
2
' sama.
' ) (
2 1 2 2 1 1
v m m v m v m
(6.9)
Pada peristiwa tumbukan jenis ini jumlah energi kinetik tidak kekal, maka
pasti ada perubahan energi ke dalam bentuk lain. Pada peristiwa jatuhnya
meteor ke permukaan Bumi, sesaat setelah tumbukan suhu di kawah bekas
tumbukan akan sangat panas. Hal itu disebabkan terjadinya perubahan
energi kinetik menjadi energi kalor.


Contoh soal (OSN 2010)
Massa Bulan adalah 7,1 x 10
22
kg, orbit Bulan mengelilingi Bumi
dianggap lingkaran dengan radius 384.400 km dan periode 27 hari.
Apabila pada suatu saat bulan bertabrakan dengan sebuah astroid besar
bermassa 3,2 x 10
18
kg, dengan arah tumbukan sentral, asteroid
menghujam permukaan Bulan secara tegak lurus dengan kecepatan
relatif 30 km/s terhadap bulan. Vektor kecepatan asteroid tepat
berlawanan dengan vektor kecepatan Bulan dalam orbitnya
mengelilingi Bumi. Berubah menjadi berapa lama periode orbit bulan?


Momentum 85


Gambar 6.1 Ilustrasi soal OSN 2010

Jawab:
Hukum Kepler III : GM = 402065,86
Kecepatan Bulan mengelilingi Bumi adalah : 384400/(27246060)
= 0,162771 km/s
Hukum kekekalan momentum :

v=1021.3222 m/s
Energi total orbit Bulan karena gravitasi Bumi sebelum tumbukan :

Energi total orbit Bulan setelah tumbukan :

Perubahan Energi total Bulan sebelum dan sesudah tumbukan sama
dengan perubahan energi kinetik, karena energi potensial tidak
berubah


86 MOMENTUM



Soal-soal

1. Sebuah roket mula-mula bergerak dengan kecepatan 25 000 km/jam,
menyemburkan gas dengan kecepatan semburan 2000 m/detik dengan
debit 1 kg per detik. Jika massa roket 800 kg, berapa lama roket harus
dinyalakan agar kecepatannya menjadi 26 000 km/jam?

2. Jarak Bumi Bulan 384400 km, massa Bulan 7,35 x 10
22
kg dan periode
sideris revolusi Bulan adalah 27,3 hari. Jika ada komet yang massanya
1 juta ton menumbuk bulan secara sentral dengan kecepatan 100
km/detik dengan arah tepat berlawanan dengan kecepatan tangensial
bulan, menjadi berapakah periode orbit Bulan ?



Setengah sumbu panjang a = 383369477 m

Diperoleh T'= 27 hari 5 jam 22 menit, berarti sekitar 2,5 jam lebih
singkat.

87


BAB 7
ATMOSFER PLANET



Pendahuluan
Planet lain, seperti juga Bumi, biasanya mempunyai atmosfer, ada yang
tebal ada yang tipis. Ada juga planet yang berukuran kecil tidak
mempunyai atmosfir karena gravitasi planetnya tidak cukup kuat
mempertahankan gas untuk tidak lepas dari dekat permukaannya.
Keberadaan atmosfir juga bergantung pada temperatur rata-rata diatas
permukaan planet dan juga sumber gas. Planet yang dekat dengan
Matahari, mendapat penyinaran yang kuat dari Matahari sehingga
temperatur permukaannya bisa menjadi sangat tinggi. Menurut teori
kinetik gas, semakin tinggi temperatur suatu gas, semakin tinggi pula laju
rata-rata partikel gas itu. Hal itu dinyatakan oleh rumus berikut:

m
kT
v
3
rms
=
(7.1)

Dengan k adalah konstanta Boltzmann, T adalah temperatur gas dan m
adalah massa satu partikel gas. Temperatur gas di atmosfer planet
dipengaruhi terutama oleh temperatur permukaan planet itu. Temperatur
rata-rata permukaan planet ditentukan oleh banyak faktor seperti albedo
Materi : Fluida statik, teori kinetik gas, pemanasan global
global
Kelas X, XI

Kompetensi Dasar:
X.3.7 Menerapkan hukum-hukum pada fluida statik dalam kehidupan sehari-hari
XI.3.8 Memahami teori kinetik gas dalam menjelaskan karakteristik gas pada
ruang tertutup
XI.3.9 Menganalisis gejala pemanasan global dan dampaknya bagi kehidupan dan
lingkungan
XI.4.8 Menyajikan ide/gagasan pemecahan masalah gejala pemanasan global
dan dampaknya bagi kehidupan dan lingkungan

88 ATMOSFER PLANET

(A = kemampuan untuk memantulkan cahaya) planet, temperatur bagian
dalam planet dan lain-lain. Tetapi faktor yang paling besar pengaruhnya
adalah temperatur permukaan Matahari dan jarak planet tersebut dari
Matahari. Jika temperatur Matahari adalah T
*
radiusnya R dan jarak planet
d, maka fluks energi radiasi matahari yang sampai di sekitar planet:

4
*
2
2
4
*
2
4
4
T
d
R
d
T R
f o
t
o t
|
.
|

\
|
= =
(7.2)

Jika radius planet adalah R
p
dan albedonya A, energi matahari yang diserap
planet :
f A R E
p serap
) 1 (
2
=t
(7.3)

Jika planet dapat dianggap sebagai benda hitam sempurna, maka energi
yang dipancarkannya adalah :

4 2
4
p p rad
T R E o t =
(7.4)

Karena temperatur rata-rata planet tidak berubah dari waktu ke waktu,
energi yang diserap harus sama dengan yang dipancarkan, maka dapat
diperoleh temperatur rata-rata planet :

4
2
2
*
4
) 1 (
d
R A
T T
p

=
(7.5)

Tentunya tidak semua partikel gas yang bertemperatur T
p
itu mempunyai
laju seperti pada rumus diatas, ada yang lajunya lebih rendah ada yang
lebih tinggi, distribusi laju itu mengikuti distribusi Maxwell - Boltzmann.
Makin jauh laju partikel dari laju v
rms
itu makin sedikit jumlahnya. Semakin
tinggi temperatur, atmosfir semakin banyak partikel gas yang mempunyai
laju tinggi. Di suatu planet, semakin tinggi temperatur rata-rata atmosfer,
semakin banyak partikel yang mempunyai kecepatan melebihi laju lepas
v
esc
.

r
GM
v
2
esc
=
(7.6)

Dengan G adalah konstanta gravitasi, M adalah massa planet dan r adalah
radius planet. Kecepatan lepas adalah kecepatan minimum yang diperlukan
suatu suatu benda atau partikel untuk bisa lepas dari ikatan gravitasi,
menjadi partikel bebas. Diperkirakan di atmosfer sebuah planet akan
makin lama makin tipis apabila :

ATMOSFER PLANET 89


esc rms
6
1
v v >
(7.7)

Dengan demikian dapatlah dimengerti mengapa atmosfir planet Merkurius
sangat tipis, pertama karena massanya planet itu kecil, kedua sangat dekat
dengan Matahari sehingga temperatur rata-rata permukaannya tinggi.
Sementara itu pada planet-planet raksasa seperti Jupiter, Saturnus dan
lain-lain temperaturnya tidak terlalu tinggi karena jauh dari Matahari. Lagi
pula massa planet sangat besar sehingga gas di atmosfir planet-planet itu
mengalami gaya gravitasi yang besar. Itu sebabnya atmosfir planet-planet
besar itu sangat tebal, unsur-unsur ringan bisa bertahan berada di
atmosfir. Sebagian besar atmosfir planet-planet besar itu adalah hidrogen.
Darimana datangnya hidrogen itu? Hidrogen itu adalah sisa pembentukan
Tata Surya di masa lalu. Ketika Matahari dan anggota Tata Surya lain masih
berupa gas, komposisi terbesar gas itu adalah hidrogen. Pada planet-planet
yang dekat dengan Matahari gas hidrogen tidak dapat bertahan di
atmosfirnya karena temperatur yang tinggi dan gravitasi yang lebih lemah.
Di Bumi, hidrogen dapat merupakan sumber energi yang ramah
lingkungan, karena hasil pembakaran hidrogen adalah air. Dengan fuel cell
kita dapat langsung membangkitkan listrik dari gas hidrogen dan oksigen.
Atmosfir planet raksasa umumnya lebih dari 90% komposisi kimianya
adalah hidrogen, maka atmosfir planet-planet raksasa itu adalah sumber
energi yang luar biasa besarnya, yang mungkin dapat dimanfaatkan di
masa depan.
Contoh Soal
Apakah molekul oksigen dan hidrogen di atmosfir Bumi akan makin
lama makin tipis karena molekul oksigen itu sedikit demi sedikit lepas
dari atmosfir ?
Jawab :
Temperatur rata-rata atmofir Bumi adalah 287 K, massa molekul
oksigen (O
2
) 5,32 10
-26
kg, massa molekul hidrogen (H
2
) 3,32 10
-27
kg,
konstanta Boltzmann 1,38 10
-23
JK
-1
, massa Bumi 5,97 10
24
kg, radius
Bumi 6378 km. Di atmosfir Bumi molekul oksigen relatif kekal
sedangkan hidrogen akan semakin menipis karena lepas ke luar
angkasa, hal ini ditunjukkan dengan perhitungan berikut:
kecepatan lepas dari Bumi adalah :

90 ATMOSFER PLANET



Planet Venus dan Pemanasan Global
Jika kita tinjau planet Venus dan membandingkannya dengan Bumi akan
terasa ganjil, karena Venus mempunyai atmosfir yang lebih tebal daripada
Bumi, yang tercermin dari tekanan udaranya yang sangat tinggi, hingga
lebih dari 90 kali tekanan atmosfir Bumi, padahal Venus lebih kecil dan
lebih dekat ke Matahari dibandingkan dengan Bumi. Atmosfir Venus
didominasi oleh CO
2
. Apakah gas CO
2
Venus mudah lepas dari atmosfirnya?
Kecepatan lepas Venus :
m/s 10359
2
= =
r
GM
v
esc

Kecepatan CO
2
:

m/s 671
3
= =
m
kT
v
rms

Nilai ini masih lebih kecil dari 1/6 kecepatan lepas. Maka CO
2
di Venus
akan abadi. Darimana datangnya CO
2
itu ? Diperkirakan dari aktivitas
vulkanik.
Temperatur di permukaan planet Venus yang sangat tinggi terutama
disebabkan oleh efek rumah kaca. Gas CO
2
di atmosfir Venus memerangkap
cahaya infra merah dari permukaan Venus, karena gas CO
2
sukar ditembus

Untuk oksigen yang massanya 32 SMA (Satuan Massa Atom):
473 m/s
Sedangkan untuk hidrogen yang massanya 2 SMA: v
rms
= 1891 m/s,
artinya kecepatan rata-rata molekul oksigen jauh lebih kecil dari
sehingga oksigen tidak akan lepas dari atmosfir, sedangkan kecepatan
hidrogen sedikit lebih besar dari . Itu sebabnya di atmosfir Bumi
molekul H
2
sangat sedikit sedangkan molekul O
2
berlimpah.


ATMOSFER PLANET 91

oleh sinar infra merah, sementara ada sebagian cahaya Matahari yang
dapat menembus atmosfir sampai ke permukaan.

Gambar 7.1 Mekanisme terjadinya pemanasan global di planet Venus.
Dikhawatirkan mekanisme yang sama terjadi di Bumi menyebabkan peningkatan
suhu atmosfir Bumi.
Efek rumah kaca seperti di planet Venus ini yang dikhawatirkan terjadi di
Bumi apabila jumlah CO
2
di atmosfir Bumi semakin meningkat karena
pembakaran bahan bakar fosil terus menerus. Temperatur atmosfir Bumi
akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya kadar CO
2
di udara.
Fenomena ini disebut pemanasan global atau global warming. Akibat dari
pemanasan global ini pola iklim dapat berubah dan mengancam kehidupan
di Bumi, termasuk manusia.
Jika iklim berubah, pengaruhnya akan besar, misalnya pada musim hujan
dan kemarau. Jika musim kemarau dan hujan menjadi tak menentu,
kemungkinan petani bercocok tanam pada waktu yang salah menjadi besar
dan menyebabkan kegagalan panen yang merugikan.
Contoh akibat lainnya adalah kekuatan badai secara rata-rata menjadi lebih
kuat dari sebelumnya menyebabkan kerusakan yang lebih besar. Salah satu

92 ATMOSFER PLANET

badai yang sangat hebat yang diduga dipengaruhi oleh pemanasan global
adalah badai Katrina tahun 2005 yang merusak sebagian dari benua
Amerika terutama di wilayah Amerika serikat, yang menimbulkan kerugian
milyaran dollar dan korban nyawa manusia. Juga diduga badai dahsyat
Haiyan yang melanda Filipina 2013 dan badai salju hebat yang melanda
Amerika Serikat di awal 2014 disebabkan perubahan iklim.
Oleh karena itu manusia sebaiknya semakin bijak dalam mengkonsumsi
energi dan memelihara lingkungan. Berbagai negara telah melakukan
upaya-upaya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan menggalakkan
penanaman pohon untuk meningkatkan penyerapan CO
2
di udara.
Akan tetapi ada juga pendapat lain tentang pemanasan global. Catatan
sejarah menunjukkan bahwa ada korelasi antara perubahan pancaran
cahaya Matahari dengan perubahan temperatur di Bumi. Maka ada
pendapat bahwa pemanasan global yang terjadi beberapa dekade terakhir
ini disebabkan perubahan aktivitas Matahari.
Aktivitas matahari berubah dengan periode sekitar 11 tahun. Memang
pada abad ke dua puluh ada kecenderungan amplitudo puncak aktivitas
Matahari semakin meningkat seperti yang nampak pada gambar.

Gambar 7.2 Perubahan aktivitas Matahari yang tercermin dari banyaknya bintik
Matahari, dalam 250 tahun terakhir.
Sumber : http://spaceweather.com/glossary/sunspotnumber.html

ATMOSFER PLANET 93

Hingga dekade 60an puncak aktivitas terus meninggi, setelah itu hingga
akhir abad ke 20 cenderung tinggi. Akan tetapi puncak aktivitas Matahari
sejak akhir abad ke 20 hingga sekarang cenderung menurun. Akankah ini
menjadi awal dari penurunan suhu Bumi pada tahun-tahun yang akan
datang? Apa pun penyebab pemanasan global, tetap lebih bijaksana apabila
kita hemat energi, menghemat sumber daya alam, menjaga kelestarian
lingkungan dan menggalakkan penghijauan.

Tekanan Atmosfer
Tekanan atmosfir dapat dinyatakan oleh rumus hidrostatik berikut :
gh P =
(7.8)

Dengan adalah massa jenis rata-rata, g adalah percepatan gravitasi dan h
adalah ketebalan efektif atmosfir. Rumus ini berlaku untuk fluida, baik cair
maupun gas. Rumus tekanan hidrostatik diatas berlaku umum untuk
semua planet, oleh karena itu berlaku juga untuk Bumi.
Jika diketahui, di Bumi, massa jenis udara 1,225 kg/m
3
, percepatan
gravitasi Bumi 9,8 m/s
2
dan tekanan atmosfir 101 kPa, maka dengan
menggunakan rumus hidrostatik diatas, dapat dihitung ketebalan efektif
(scale height) atmosfir Bumi sekitar 8,2 km. Artinya kalau tekanan rata-
rata atmosfir Bumi sama dengan tekanan di permukaan Bumi dan
kerapatannya konstan sama dengan kerapatan (density) di permukaan
Bumi, maka ketebalan atmosfir adalah sekitar 8,2 km. Pada kenyataannya
kerapatan atmosfir tidak merata, melainkan semakin tinggi semakin
renggang, dan batas antara atmosfir Bumi dan angkasa luar tidak jelas.
Dengan penalaran yang sama kita juga dapat menghitung ketebalan
atmosfir Venus. Dengan tekanan permukaan 9292 kPa, percepatan
gravitasi permukaan 8,9 m/s
2
, kerapatan rata-rata atmosfirnya 67 kg/m
3
.
Maka ketebalan efektif atmosfir Venus adalah sekitar 15,6 km, hampir dua
kali lipat atmosfir Bumi. Jadi tekanan gas yang besar di Venus disebabkan
oleh massa total dan kerapatan atmosfirnya memang besar.






94 ATMOSFER PLANET


Soal-soal
1. (OSK 2009) Titan, salah satu satelit planet Saturnus memiliki atmosfer
yang sangat tebal, sementara planet Merkurius sama sekali tidak
mempunyai atmosfer, hal ini disebabkan karena:
a. Titan lebih masif dibanding Merkurius
b. Gravitasi Matahari menyebabkan atmosfer Merkurius lepas
c. Gas dingin di atmosfer Titan bergerak sangat lambat dibanding gas
panas di atmosfer Merkurius
d. Lebih banyak gas di Tatasurya luar, sehingga Titan lebih mempu
mempertahankan keberadaan atmosfernya.
e. Titan mirip dengan Bumi di masa depan.

2. (OSP 2009) Korona Matahari yang diamati pada waktu gerhana
Matahari total adalah:
a. gas renggang yang terdiri dari ion dan electron bertemperatur tinggi
mencapai sejuta derajat K, terdapat ion besi dan kalsium
terbungkus dalam debu dingin di sekitar Matahari
b. gas pada atmosfer Bumi yang menyebarkan cahaya Matahari
c. gas komet yang terbakar di sekitar Matahari
d. gas dan debu antar planet di sekitar Bulan yang menyebarkan cahaya
Matahari
e. cahaya zodiac

95


Bab 8
ROTASI BENDA LANGIT




Pendahuluan
Benda-benda langit umumnya berevolusi dan berrotasi. Contoh yang
terdekat adalah Bumi. Kita bisa mengetahui adanya rotasi Bumi dari
fenomena siang dan malam. Karena Bumi berrotasi maka bagian
permukaan yang menghadap Matahari berubah terus, yang menghadap
Matahari menjadi wilayah yang mengalami siang, sedangkan yang
membelakangi Matahari menjadi wilayah yang mengalami malam.
Panjangnya siang dan malam ditentukan antara lain oleh seberapa cepat
Bumi berrotasi, selain arah rotasi.
Benda yang berrotasi mempunyai momen inersia. Untuk benda berbentuk
bola pejal seperti Bumi, momen inersia dinyatakan oleh rumus :

2
5
2
MR I
(8.1)

Dengan M adalah massa benda berbentuk bola yang berrotasi dan R adalah
radiusnya. Dari rumus diatas dapat disimpulkan juga bahwa satuan untuk
momen inersia dalam sistem SI adalah kg m
2
. Sebagai contoh, Bumi yang
massanya 5,97 10
24
kg dan radiusnya 6378 km, jika Bumi dianggap benda
pejal yang kerapatannya sama, dengan rumus diatas dapat dihitung momen
inersianya adalah 9,71 10
37
kg m
2
. Nilai momen inersia ini sangat besar
sehingga sangat sulit untuk mengubah periode rotasinya, dibutuhkan gaya
dan momen gaya yang sangat besar untuk mengubahnya sedikit saja.
Materi : Momen Inersia, momentum sudut global

Kelas XI

Kompetensi Dasar :
XI.3.6 Menerapkan konsep torsi, momen inersia, titik berat dan momentum sudut
pada benda tegar (statis dan dinamis) dalam kehidupan sehari-hari

96 ROTASI BENDA LANGIT

Revolusi Bumi mempunyai harga momen inersia yang berbeda dengan
momen inersia rotasi. Momen inersia Bumi mengelilingi Matahari adalah :

2
Md I
rev

(8.2)

Dengan d adalah jarak Bumi Matahari. Dengan memasukkan massa Bumi
dan jarak Bumi Matahari 150 juta km, diperoleh : I
rev
= 1,34 10
47
kg m
2
.
Jadi momen inersia revolusi Bumi jauh lebih besar dibandingkan dengan
momen inersia rotasi Bumi.
Benda yang berrotasi juga mempunyai momentum sudut yang bergantung
pada momen inersia dan kecepatan sudut rotasinya :
I L
(8.3)

Semakin cepat sebuah benda berrotasi semakin besar momentum
sudutnya. Momentum sudut ini kekal selama tidak ada momen gaya dari
luar yang bekerja pada benda itu. Oleh sebab itu dalam kurun waktu
bermilyar tahun, kecepatan rotasi Bumi tidak jauh berbeda, karena tidak
banyak momen gaya yang didapat Bumi dari luar. Salah satu yang mungkin
dapat berkontribusi dalam mengubah rotasi Bumi adalah tumbukan
meteor besar, namun itu pun sedikit sekali mengubah periode rotasi.
Momentum sudut rotasi Bumi adalah
s
P
I L
rot
rot rot
/ m kg 10 06 , 7
2
2 33



Kemana arah vektor momentum sudut ini? Karena Bumi berrotasi dari
Barat ke Timur (sehingga kita merasa bahwa Matahari bergerak dari Timur
ke Barat). Maka arah vektor momentum sudut Bumi adalah ke arah kutub
langit utara, atau sejajar dengan sumbu rotasi Bumi. Dengan cara yang
sama dapat dihitung momentum sudut revolusi Bumi sebesar 2,67 10
40

kg m
2
/s, dengan arah ke kutub ekliptika utara.
Matahari juga sama seperti Bumi dan Asteroid, berrotasi juga, hanya
bedanya, karena Matahari berupa gas, bukan benda tegar seperti Bumi, ada
perbedaan kecepatan sudut rotasi pada lintang yang berbeda. Lintang yang
lebih tinggi kecepatan rotasinya lebih rendah.

ROTASI BENDA LANGIT 97


Gambar 8.1 Matahari, bola gas panas yang berrotasi
Jika diukur di daerah ekuatornya periode rotasi Matahari adalah 24,47
hari, tapi dilihat dari Bumi periode rotasi itu adalah 26,24 hari, karena
Bumi tidak diam, tapi bergerak mengelilingi Matahari. Periode ini disebut
periode sinodis rotasi Matahari.
Sebagai contoh, periode rotasi Matahari pada lintang 26 adalah sekitar
27,275 hari dilihat dari Bumi. Rotasi Matahari pada posisi ini disebut
Carrington Rotation, yang didasarkan pada pengamatan bintik Matahari
yang umumnya muncul di lintang sekitar 26. Untuk benda seperti
Matahari, menghitung momen inersianya lebih rumit, karena Matahari
adalah bola gas yang kerapatannya tidak merata dan kecepatan rotasi
berbeda-beda antara satu titik dengan titik lainnya. Namun dapat
dipastikan momen inersia Bumi tidak ada artinya dibandingkan dengan
Matahari karena massa dan radius Matahari jauh lebih besar dibandingkan
dengan Bumi.
Bintang-bintang juga seperti Matahari, berrotasi, ada yang berrotasi cepat
ada yang lambat. Mengapa Matahari dan bintang-bintang dapat berrotasi?
Dari momentum sudut yang dibawanya sejak masih berupa awan gas antar
bintang.

98 ROTASI BENDA LANGIT



Radius Girasi Bumi
Radius Girasi atau jari-jari girasi adalah jari-jari gerak melingkar sebuah
benda titik yang massanya dan momen inersianya sama dengan massa dan
momen inersia benda yang berotasi terhadap pusat massanya

Contoh
Seandainya Matahari berasal dari awan gas antar bintang yang total
massanya sama dengan Matahari tapi radiusnya sangat besar,
misalnya 100 satuan astronomi. Diketahui Massa Matahari 1,98 10
30

kg dan bahwa momentum sudut Tata Surya sebagian besar berada di
planet-planet, sedangkan Matahari yang mempunyai 99% massa Tata
Surya hanya memiliki 1% momentum sudutnya. Berapa kecepatan
rotasi rata-rata awan gas antar bintang cikal bakal Matahari ?
Jawab:
Radius Matahari sekarang 700 000 km dan periode rotasinya 25 hari.
Anggap Matahari adalah benda pejal dan materi antar bintang
berbentuk bola.
Kecepatan sudut rotasi Matahari :

Momentum sudut sekarang = momentum sudut dahulu
Momentum sudut Matahari sekarang :
=1,045 10
42
kgm
2
s
-2

Momentum sudut Tata Surya : 1,045 10
44
kgm
2
s
-2

Massa Tata Surya : 100/99 1,98 10
30
kg = 2 10
30
kg
Radius materi antar bintang 100 au = 1,5 10
13
m
Momentum sudut awan antar bintang :
=1,045 10
42
kgm
2
s
-2

Maka periode rotasi rata-ratanya kira-kira 954 hari.

ROTASI BENDA LANGIT 99


pm g
I Mr
2
(8.4)

Atau

M
I
r
pm
g

(8.5)
Sebagai contoh radius girasi Bumi adalah :
km 4034
10 5,97
10 9,52
24
31

g
r
Jadi momen inersia Bumi sama dengan momen inersia sebuah titik yang
massanya sama dengan massa Bumi yang bergerak melingkar dengan jari-
jari 4034 km.
Radius girasi ini tentu berbeda dengan radius revolusi Bumi mengelilingi
Matahari. Dalam revolusinya mengelilingi Matahari, karena radius Bumi
jauh lebih kecil dibandingkan dengan radius orbit Bumi, maka Bumi dapat
dipandang sebagai benda titik. Radius girasi revolusi Bumi kira-kira sama
dengan radius revolusi Bumi mengelilingi Matahari.

Contoh Soal
Sebuah Meteor besar berbentuk kira-kira bundar dengan radius 1 km
dan massa jenis kira-kira sama dengan massa jenis Bumi, yaitu 5500
kg/m
3
menumbuk sebuah gunung di Bumi. Arah datang Meteor itu tepat
sejajar dengan permukaan Bumi dan berhenti setelah menabrak gunung
itu. Lokasi gunung yang ditumbuk meteor itu berada di dekat daerah
khatulistiwa dan arah datang meteor itu tepat dari Timur, dengan
kecepatan 20 km/detik relatif terhadap permukaan Bumi. Jika dianggap
tumbukan itu tidak berpengaruh pada revolusi Bumi, berapa besar
perubahan periode rotasi Bumi? Massa dan radius Bumi adalah
5,97x10
24
kg dan 6378 km.
Jawab:
Momen inersia Bumi :



100 ROTASI BENDA LANGIT



Presesi
Pernahkah kamu memperhatikan gerakan gasing yang diputar? Suatu saat
mungkin kita melihat sumbu putar gasing itu tetap tegak lurus terhadap
permukaan Bumi. Akan tetapi di saat lain kita mungkin melihat sumbu
putar gasing itu bergeser perlahan-lahan sehingga ujung sumbu gasing
Momentum sudut bumi mula-mula


Momentum sudut Meteor sesaat sebelum menumbuk gunung =

Keterengan : kecepatan sesaat ketika tumbukan sama dengan kecepatan
sesaat jika meteor itu mengelilingi Bumi dekat permukaan Bumi dengan
kecepatan linier 20 km/detik

Momentum sudut total mula-mula :

Keterangan : arah kecepatan meteor berlawanan dengan arah rotasi
Bumi di permukaan Bumi

Momentum sudut total akhir :

Keterangan : Bumi dan meteor bersatu setelah tumbukan.

Karena momentum sudut awal = momentum sudut akhir, maka :



Maka pertamabahan periode rotasi Bumi hanya enam per sejuta detik.



ROTASI BENDA LANGIT 101

bergerak perlahan membentuk lingkaran. Gerak perubahan sumbu rotasi
ini disebut presesi. Hal ini disebabkan ada gaya gravitasi Bumi yang
menggeser arah vektor rotasi.
Lalu mengapa gasing tidak langsung jatuh saja ditarik gravitasi Bumi?
Karena benda berotasi mempunyai momentum sudut dan momentum
sudut ini harus kekal selama tidak ada momen gaya atau torka (torque)
yang mengubahnya (hukum kekekalan momentum sudut). Kalau ada
presesi artinya momentum sudut berubah, lalu mana torkanya? Torka
merupakan perkalian antara gaya dan lengannya. Gaya yang bekerja adalah
gaya gravitasi Bumi, sedangkan lengannya adalah jarak antara pusat massa
gasing dan titik tumpu. Perkalian vektor antara gaya dan lengannya itu:
r F Q
(8.6)

menghasilkan vektor torka Q yang tegak lurus terhadap gaya dan
lengannya. Karena arah momentum sudut segaris dengan lengan maka Q
juga tegak lurus terhadap momentum sudut. Bandingkan dengan gerak
linier, jika sebuah benda bergerak dengan momentum p mendapat gaya F
yang selalu tegak lurus p, maka lintasan benda menjadi melingkar. Maka
dapat dimengerti mengapa arah momentum sudut juga akan berubah
mengikuti lintasan lingkaran jika mendapat torka yang tegak lurus.
Gambar 8.2 Gerak presesi gasing karena momentum sudut diganggu gaya gravitasi
Peristiwa presesi seperti pada gasing itu juga terjadi pada sumbu rotasi
Bumi. Sumbu rotasi Bumi berubah orientasi perlahan secara periodik
dengan periode sekitar 25000 tahun. Karena arah sumbu rotasi berubah,

102 ROTASI BENDA LANGIT

maka orientasi lingkaran khatulistiwa Bumi dan khatulistiwa langit juga
berubah perlahan.
Khatulistiwa langit, terutama titik potongnya dengan lingkaran ekliptika,
merupakan acuan penentuan koordinat bintang. Karena presesi maka
posisi titik acuan ini juga berubah. Jika titik acuannya berubah, tentu angka
koordinat bintang-bintang juga berubah. Maka koordinat bintang dalam
sistem koordinat khatulistiwa (equator) sebenarnya terus berubah
perlahan. Bukan posisi bintangnya yang berubah, melainkan acuannya.
Dalam jangka waktu satu atau dua tahun perubahan koordinat itu tidak
begitu berarti, namun menjadi berarti dalam jangka waktu puluhan tahun.
Oleh karena itu dalam menuliskan koordinat bintang dalam sistem
koordinat khatulistiwa, biasanya dicantumkan juga angka tahun (disebut
juga epoch), artinya koordinat itu untuk tahun tersebut. Contoh, jika
koordinat sebuah bintang dituliskan sebagai berikut:
2000
= 2
h
34
m
51
s
,

2000
=-231108, artinya itu adalah koordinat bintang itu pada tahun 2000.
Cara ini biasanya tidak diterapkan untuk menuliskan koordinat obyek
langit bergerak seperti planet, bulan, asteroid, komet dan lain-lain, karena
posisinya berubah terus, melainkan, koordinat dituliskan dengan
mencantumkan tanggal dan waktu.

Gambar 8.3 Presesi Bumi yang disebabkan momentum sudut rotasi Bumi diganggu
oleh gaya gravitasi Matahari
Gaya apa yang menyebabkan presesi Bumi? Gaya gravitasi Matahari! Gaya
gravitasi Matahari itu membentuk sudut tertentu terhadap arah
momentum sudut Bumi. Sehingga menyebabkan perubahan arah
momentum sudut rotasinya. Presesi ini membuat titik acuan penentuan
koordinat di dalam sistem koordinat ekuator (khatulistiwa), yaitu titik
musim semi (Vernal Equinox) menjadi bergeser terus. Dahulu titik acuan

ROTASI BENDA LANGIT 103

ini sering disebut titik Aries, karena berada di rasi bintang Aries. Namun
sekarang titik tersebut sudah berada di rasi Pisces.

Soal-soal
Soal 1
Sebuah Asteroid yang berbentuk agak lonjong seperti bola rugby bermassa
1 juta ton, berotasi dengan periode 1,2 jam, dengan radius girasi 2 km.
Manusia berniat membuat astreoid itu berhenti berrotasi dengan cara
menembakkan bola besi bermassa 10 ton ke permukaan asteroid hingga
bola besi itu melesak ke dalamnya, pada posisi 2 km dari pusat massa,
dengan arah yang tepat dapat menghentikan rotasi asteroid itu. Dengan
kecepatan berapakah bola besi itu harus ditembakkan untuk menghentikan
rotasi asteroid?

Soal 2
Berapakah besar momen gaya yang menyebabkan presesi Bumi?
105

Bab 9
RADIASI GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK



Pendahuluan
Benda langit yang paling banyak bisa kita lihat di langit adalah bintang-
bintang. Bintang yang paling dekat ke Bumi adalah Matahari. Bintang-
bintang, termasuk Matahari, bisa memproduksi energi sendiri, lalu energi
itu dipancarkan dalam bentuk gelombang elektromagnetik. Kita bisa
melihat keberadaan bintang-bintang itu karena mata kita bisa menerima
sebagian kecil gelombang elektromagnetik itu yaitu cahaya tampak. Akan
tetapi sebenarnya selain cahaya tampak masih jauh lebih banyak
gelombang elektromagnetik yang tidak dapat ditangkap oleh mata,
misalnya, Sinar X, Ultraviolet, gelombang radio dan lain-lain.
Panjang gelombang cahaya tampak adalah antara 4000 (Angstrom)
hingga 8000 . Satu Angstrom sama dengan 10
-10
meter. Gelombang
elektromagnetik yang panjang gelombangnya lebih pendek daripada
cahaya tampak antara lain sinar Ultra violet, sinar X dan sinar Gamma.
Sedangkan yang lebih panjang antara lain sinar infra merah yang dapat kita
rasakan sebagai gelombang panas, gelombang mikro dan gelombang radio.
Bintang-bintang, jika dilihat dengan panjang gelombang berbeda, akan
beda pula penampakannya. Sebagai contoh citra Matahari nampak sangat
berbeda pada panjang gelombang sinar X, UV, cahaya tampak dan
gelombang radio, bahkan ukurannya pun bisa berbeda.
Materi : Gelombang Elektromagnetik

Kelas XI, XII

Kompetensi Dasar :
XI.3.10 Menganalisis gejala dan ciri-ciri gelombang secara umum
XII.3.1 Menerapkan konsep dan prinsip gelombang bunyi dan cahaya dalam
teknologi
XII.3.7 Mengevaluasi pemikiran dirinya tentang radiasi elektromagnetik,
pemanfaatannya dalam teknologi dan dampaknya pada kehidupan
XII.4. Menyajikan hasil analisis tentang radiasi elektromagnetik, pemanfaatannya
dalam teknologi dan dampaknya pada kehidupan

106 RADIASI GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK

Selain dengan panjang gelombang, jenis radiasi elektromagnetik juga dapat
diidentifikasi dengan frekuensinya karena ada hubungan antara panjang
gelombang dan frekuensi sbb :

v
c
= (9.1)
Dengan c adalah kecepatan cahaya yang besarnya 2,997925 10
8
meter
dan v adalah frekuensi. Astronom radio yang biasa mengamati bintang
dengan teropong radio, biasanya lebih suka menggunakan domain
frekuensi daripada panjang gelombang. Sebagai contoh, jika gelombang
radio yang panjang gelombangnya 1 meter sering dinyatakan sebagai
gelombang berfrekuensi 300 megahertz (MHz), menggunakan hubungan
9.1.

Gambar 9.1 Matahari dalam berbagai panjang gelombang. Dalam sinar X dari
sateli YOHKOH (A), dalam ultraviolet dari satelit SOHO (B), dalam cahaya tampak
menggunakan neutral density filter (C), dalam panjang gelombang 6563
menggunakan filter H (D), dalam infra merah (E), dalam gelombang radio (F).
Sumber : http://coolcosmos.ipac.caltech.edu.
Astronom yang bidang kerjanya menganalisis sinar X atau sinar Gamma
dari benda langit sering kali tidak menggunakan domain panjang
gelombang atau frekuensi, melainkan energi. Penggunaan domain energi
ekivalen dengan panjang gelombang atau frekuensi, karena frekuensi foton
dapat dikonversikan menjadi energi foton dengan hubungan:
v h E=
(9.2)


RADIASI GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK 107

Dengan h adalah konstanta Planck yang besarnya 6,626 10
-34
kg m
2
/s.
Gelombang berfrekuensi tinggi mempunyai energi yang tinggi juga untuk
tiap fotonnya, maka bidang astrofisika yang mempelajari sifat-sifat benda
langit pada panjang gelombang yang pendek seperti sinat X dan sinar
Gamma, disebut bidang ilmu Astrofisika Energi Tinggi (High Energy
Astrophysics). Tabel 9.1 menunjukkan berbagai macam radiasi gelombang
elektromagnetik.
Tabel 9.1

Sumber : http://csep10.phys.utk.edu/astr162/lect/light/spectrum.html
Benda umumnya bintang memancarkan gelombang elektromagnetik dalam
berbagai panjang gelombang dengan intensitas yang berbeda-beda. Dalam
mempelajari macam-macam radiasi yang dipancarkan benda didefinisikan
suatu konsep yang disebut benda hitam yang perilakunya mengikuti suatu
aturan yang sederhana sehingga mudah dimengerti, dimanipulasi,
diaplikasikan dan dihubungkan dengan besaran fisis lain secara matematis.
Tidak ada benda yang pancaran radiasinya 100% memenuhi definisi benda
hitam, namun ada yang sifatnya cukup dekat dengan definisi tersebut.

Hukum Radiasi Planck
Suatu ciri dari benda hitam adalah bahwa benda itu memancarkan
berbagai macam panjang gelombang cahaya, namun mengikuti suatu
kecenderungan umum. Mula-mula intensitasnya meningkat jika kita
merunut dari panjang gelombang cahaya yang paling pendek menuju yang
lebih panjang. Pada panjang gelombang tertentu mencapai puncak, lalu

108 RADIASI GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK

menurun lagi untuk panjang gelombang yang lebih panjang lagi. Secara
skematis kecenderungan itu dapat diilustrasikan seperti pada gambar 9.2.
Planck telah menemukan suatu perumusan matematis untuk
mendeskripsikan kecenderungan tersebut sebagai berikut :
1
1 2
) (
/ 5
2

=
kT hc
e
hc
T B

(9.3)

Panjang gelombang puncak dari grafik diatas dapat memberikan informasi
tentang temperatur benda hitam yang sedang diamati. Persamaan Planck
ini menyajikan intensitas cahaya yang dipancarkan oleh satu satuan luas
permukaan benda hitam bertemperatur T, pada panjang gelombang
tertentu, setiap satuan waktu.


Gambar 9.2 Distribusi energi radiasi menurut hukum Planck
Pancaran radiasi dari bintang-bintang kebanyakan mengikuti pola ini, ada
yang cukup dekat ada juga yang agak jauh dari pola ini. Artinya permukaan
bintang memiliki sifat-sifat benda hitam yang memancarkan energi ke
segala arah secara radiatif. Salah satu beda distribusi energi yang
dipancarkan bintang dengan distribusi Planck adalah, pada spektrum
pancaran radiasi bintang-bintang biasanya ada garis-garis serapan,

RADIASI GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK 109

sementara distribusi Planck nampak mulus. Juga, pada spektrum beberapa
bintang tertentu bisa muncul garis-garis emisi.
Dari posisi puncak distribusi energi spektrum kita dapat memperkirakan
secara kasar temperatur permukaan bintang yang diamati. Bintang yang
puncak distribusi radiasinya berada pada frekuensi yang lebih tinggi (atau
pada panjang gelombang lebih pendek) temperaturnya lebih tinggi,
sebaliknya jika puncak itu berada pada frekuensi yang lebih rendah artinya
temperaturnya lebih rendah. Kemudian, karena semakin tinggi temperatur
permukaan bintang puncak distribusi energinya semakin bergeser kearah
panjang gelombang pendek, maka bintang yang bertemperatur lebih tinggi
akan nampak lebih biru.
Wien memberikan hubungan sederhana antara posisi puncak distribusi
dengan temperatur. Jika Temperatur dinyatakan dalam Kelvin dan panjang
gelombang dalam cm, maka hubungan antara panjang gelombang
maksimum dan temperature adalah sebagai berikut:
T
2898 , 0
max
=
(9.4)

Energi dipancarkan secara radiatif dari permukaan bintang ke ruang antar
bintang, sedangkan kita tahu bahwa energi radiasi yang dipancarkan
bintang berasal dari reaksi nuklir di pusat bintang. Bagaimana energi yang
dibuat di pusat itu bisa sampai ke permukaan? Kita mengetahui tiga cara
perpindahan energi yaitu konduksi, konveksi dan radiasi. Perpindahan
energi panas secara konduksi memang terjadi di dalam bintang namun
sangat kecil dibandingkan cara perpindahan energi lain.
Konveksi terjadi di bagian lapisan yang lebih luar dari bintang. Konveksi ini
dapat teramati di permukaan matahari jika kita mengamati permukaan
Matahari dengan menggunakan filter H, yaitu filter yang hanya dapat
melewatkan cahaya yang panjang gelombangnya sekitar 6563 , yaitu
panjang gelombang tempat terbentuknya garis Balmer . Sedangkan
perpindahan energi secara radiasi dominan terjadi di bagian yang lebih
dalam dari bintang, lalu di atas fotosfir hingga ruang antar bintang.
Jika kita ingin mengetahui jumlah pancaran total untuk seluruh panjang
gelombang, maka kita harus menjumlahkan pancaran radiasi dari setiap
panjang gelombang. Secara matematis hal ini dapat dilakukan dengan
perhitungan integrasi fungsi Planck B terhadap . Hasilnya, energi radiasi
total yang dipancarkan benda itu yang berbanding lurus terhadap
temperatur pangkat empat. Secara matematis dituliskan:

4
T B o = (9.5)

110 RADIASI GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK

Dengan adalah sebuah konstanta yang besarnya 5,67 10
-8
W m
-2
K
-4
.
Persamaan 9.5 disebut persamaan Stefan-Boltzmann dan konstanta
disebut dengan konstanta Stefan-Boltzmann.

Ukuran Terang Bintang
Para astronom mempunyai kebiasaan menyatakan terang bintang dengan
magnitudo. Kebiasaan ini sudah berlangsung selama lebih dari 2000 tahun,
yaitu sejak Hipparchus pada abad kedua sebelum masehi mengelompokkan
bintang menjadi 6 kelompok. Kelompok pertama adalah bintang-bintang
yang paling terang, disebut bintang-bintang golongan magnitude satu.
Golongan kedua yang lebih redup disebut magnitudo dua, hingga bintang-
bintang yang paling redup yang masih bisa dilihat dengan mata disebut
magnitude enam.
Ternyata mata manusia bersifat logaritmik ketika mendeteksi cahaya.
Menyadari hal ini, Pogson pada tahun 1856 mencoba menyatakan
pengelompokan kecerlangan bintang Hipparchus ini dalam bentuk
pernyataan matematika. Jika ada dua bintang yang magnitudonya m
1
dan
m
2
, fluks cahaya yang diterima pengamat dari kedua bintang itu f
1
dan f
2
,
maka hubungan antara magnitudo dan fluks dapat dinyatakan sebagai :
2
1
2 1
log 5 , 2
f
f
m m =
(9.6)

Dengan menggunakan pernyataan (9.6), bintang-bintang paling terang
akan mempunyai magnitudo sekitar 1 dan yang paling redup sekitar 6,
sesuai dengan pengelompokan Hipparchus, namun dapat lebih teliti dalam
membedakan kecerlangan satu bintang dengan yang lain.

Contoh soal
Sebuah bintang yang magnitudonya 1,8 diketahui fluksnya 10
-8
watt/m
2
.
Berapakah fluks bintang yang magnitudonya 4,3?
Jawab :


Diperoleh : f
2
10
-9
watt/m
2
.

RADIASI GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK 111

Kuadrat Kebalikan
Jika kita melihat sumber cahaya dari dekat yang cukup terang, sumber
cahaya itu akan terasa meredup ketika kita menjauhinya. Hal ini
disebabkan cahaya menyebar ke semua arah. Andaikan kita membuat bola
yang berpusat di sumber cahaya itu dan jari-jarinya sama dengan jarak
mata kita kesana, dan andaikan jumlah energi radiasi yang menembus
seluruh permukaan bola itu tiap detik adalah L. Besaran L ini sama dengan
energi total yang dipancarkan sumber tiap satuan waktu dan disebut
luminositas.
Jika kita menjauh, luas permukaan bola itu akan membesar, namun energi
radiasi total yang menembus bola itu tetap L karena adanya hukum
kekekalan energi. Satu satuan luas permukaan bola akan mendapat bagian
radiasi sebesar pancaran energy radiasi total dibagi luas permukaan bola:
2
4 r
L
E
t
=
(9.7)

Faktor 4r
2
adalah luas permukaan bola berjari-jari r. E adalah energy
yang menembus satu satuan luas permukaan, sering disebut juga fluks. Dari
persamaan 9.7 jelas bahwa besarnya fluks ini berbanding terbalik dengan
jarak kuadrat. Maka rumus diatas sering disebut juga hukum kuadrat
kebalikan. Sebenarnya besaran E inilah yang ditangkap oleh mata kita,
itulah sebabnya mengapa semakin jauh sumber cahaya nampak semakin
redup dan peredupannya berbanding terbalik terhadap r
2
.
Hal ini berlaku baik jika kita mengambil panjang gelombang tertentu saja,
maupun energi total asalkan tidak ada proses serapan selama cahaya
merambat. Pada kenyataannya jika cahaya atau gelombang EM pada
umumnya merambat di dalam medium yang bukan ruang hampa, fluks
cahaya yang diterima pengamat dari sumber diredupkan bukan hanya oleh
jarak tetapi juga oleh proses serapan oleh medium yang dilalui.

Contoh soal
Menurut hukum radiasi, benda hitam akan memancarkan energi total
yang sebanding dengan temperatur pangkat empat. Jika setiap lapisan
Matahari dianggap memancarkan radiasi seperti benda hitam,
temperatur permukaan Matahari adalah 5800 K dan diameternya 1,4
juta km, berapakah temperatur Matahari pada kedalaman 525 000 km
dari permukaannya?

112 RADIASI GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK


Jika kita mengambil sedikit cahaya Matahari, melewatkannya pada prisma,
maka cahaya Matahari itu akan terurai menjadi berbagai warna. Jika uraian
warna itu kita potret, kita akan mendapat spektrumnya. Kita akan melihat
adanya berbagai warna cahaya seperti pelangi, karena cahaya matahari
diuraikan menurut panjang gelombangnya. Akan nampak bahwa intensitas
cahaya biru relatif lebih lemah. Semakin ke kanan, artinya ke arah panjang
gelombang yang lebih panjang, intensitasnya semakin tinggi, mencapai
puncak pada warna hijau kekuningan, lalu menurun lagi. Kalau kita
grafikkan intensitas terhadap panjang gelombang, maka akan diperoleh
grafik seperti pada gambar 9.3.
Pola yang mirip juga ada pada spektrum bintang-bintang yang mirip
dengan distribusi Planck, namun dihiasi dengan banyak garis serapan.
Radiasi yang pola distribusi energinya mirip grafik Planck sering disebut
juga radiasi thermal.
Jawab :
Radius Matahari R
M
= 700 000 km.
Luminositas Matahari :




Total energi yang keluar dari Matahari lapisan dalam Matahari juga harus
sama karena harus memenuhi hukum kekekalan energi.
Pada kedalaman 525 000 km, total energi yang keluar dari pusat adalah
total energi yang keluar dari bola dengan radius R = 700 000 525 000 =
175 000 km.


T'=11600 K

RADIASI GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK 113

Bintang-bintang dikelompokkan berdasarkan antara lain temperaturnya
atau lebih lazim kelas spektrumnya, dan setiap kelas spektrum diberi nama
dengan huruf. Urutan kelas spektrum bintang dari yang paling panas
hingga yang paling dingin adalah O, B, A, F, G, K dan M. Temperatur bintang
kelas O berkisar 30 000 50 000 K sedangkan kelas M sekitar 2000 Kelvin.
Jadi spektrum seperti gambar 9.3 bukan hanya dihasilkan dari cahaya
Matahari, tetapi juga bintang-bintang sekelas Matahari yaitu kelas G. Secara
umum grafik ini mempunyai kemiripan dengan kurva Planck, bedanya,
grafik spektrum bintang ini mengandung derau sehingga tidak mulus
seperti kurva Planck. Selain itu pada grafik spektrum terdapat palung-
palung tajam seperti stalagtit. Pada citra spektrum hal ini nampak sebagai
garis-garis gelap, oleh karena itu disebut garis-garis absorpsi. Hal ini
disebabkan adanya atmosfir bintang yang menyerap cahaya dari dalam
bintang pada panjang gelombang panjang gelombang tertentu saja. Garis
garis absorpsi ini disebabkan oleh elektron yang mengalami eksitasi di
dalam atom atau ion, karena menyerap foton.
()

Spektrum Bintang Kelas G
0
20
40
60
80
100
120
140
3500 4000 4500 5000 5500 6000 6500
Panjang Gelombang
I
n
t
e
n
s
i
t
a
s
Ho H| H Ho
Hc
G band
K+H Lines
Mg I Mg I

Gambar 9.3 Spektrum bintang kelas G, sekelas dengan Matahari, yang temperatur
permukaannya sekitar 6000 K. Gambar bawah adalah contoh citra spektrum
bintang kelas G, grafik diatasnya adalah grafik hasil perunutan spektrum tersebut.

114 RADIASI GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK

Untuk bintang jenis lain, misalnya bintang kelas A, kita akan melihat
puncak grafik agak lebih ke kiri, dan garis-garis serapannya nampak lebih
gelap pada citra spektrum dan lebih dalam pada grafik spektrum. Karena
puncak grafik bintang kelas A lebih ke kiri (sekitar 4000 4100),
sedangkan pada bintang kelas G di sekitar 4500 - 4700 . Hal ini
menunjukkan bahwa temperatur bintang kelas A lebih tinggi dari bintang
kelas G. Bintang kelas A akan nampak lebih biru daripada kelas G.
()

Spektrum Bintang Kelas A
0
20
40
60
80
100
120
140
160
180
200
3500 4000 4500 5000 5500 6000 6500
Panjang Gelombang
I
n
t
e
n
s
i
t
a
s
Ho
H|
H
Ho
Hc
H,
Hq
Hu

Gambar 9.4 Spektrum bintang kelas A, yang temperatur permukaannya sekitar
6000K. Gambar bawah adalah contoh citra spektrum bintang kelas A, grafik
diatasnya adalah grafik hasil perunutan spektrum tersebut. Perhatikan garis garis
gelap pada bintang kelas A lebih jelas daripada kelas G dan puncak distribusinya
lebih ke kiri

Efek Doppler Pada Cahaya
Berubahnya panjang gelombang atau frekuensi gelombang yang diterima
oleh pengamat dari sumber yang menjauh atau mendekat disebut efek
Doppler. Sebagai contoh, suara mobil balap yang mendekati penonton di
sebuah sirkuit akan terdengar bernada lebih tinggi ketika mobil mendekat

RADIASI GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK 115

hingga saat mobil itu melintas di depan penonton itu lalu terdengar lebih
rendah setelah melintas, meskipun kecepatannya tetap. Hal ini disebabkan
ketika mobil mendekat, panjang gelombangnya suara mobil yang diterima
penonton memendek dan frekuensi meninggi dibandingkan saat
dipancarkan dan sebaliknya saat menjauh.
Karena cahaya juga adalah gelombang, maka cahaya juga dapat mengalami
efek doppler, namun karena kecepatan cahaya sangat tinggi, jauh lebih
tinggi daripada kecepatan suara, efek doppler itu tidak terdeteksi apabila
sumber bergerak hanya secepat mobil balap. Diperlukan kecepatan yang
jauh lebih tinggi dan detektor yang lebih sensitif untuk dapat mendeteksi
efek doppler pada cahaya.
Besarnya perubahan panjang gelombang karena kecepatan relatif antara
pengamat dan sumber dapat dinyatakan oleh persamaan berikut :

c
v
= A
(9.8)

Dengan v adalah kecepatan radial relatif antara sumber dan pengamat, c
adalah kecepatan cahaya dan adalah panjang gelombang yang
dipancarkan oleh sumber.
Jika ada sebuah bintang bergerak menjauhi Bumi dengan kecepatan
konstan sebesar v maka sesuai dengan rumus diatas, garis spektrum yang
di dalam laboratorium berada pada panjang gelombang akan muncul di
dalam spektrum pada panjang gelombang '=+.


Gambar 9.5 Gambar spektrum bintang. Gambar (b) adalah spektrum bintang jika
bintang tidak bergerak relatif (diam) terhadap pengamat. Gambar (a) adalah
spektrum bintang yang sama jika bergerak mendekati pengamat, sedangkan
gambar (c) jika bintang bergerak menjauh.

A
A
a
b
c


116 RADIASI GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK

Jika kita tahu panjang gelombang diam suatu garis spektrum, misalnya dari
spektrum pembanding atau perhitungan mekanika kuantum, dan kita
dapat mengukur panjang gelombang garis itu dari hasil pengamatan
spektroskopi, maka kecepatan radial (menjauh atau mendekat) bintang itu
dapat dihitung dengan rumus 9.8.
Contoh sumber efek doppler pada cahaya bintang yang dapat diamati
adalah akibat dari revolusi Bumi, yaitu berupa pergeseran garis-garis
spektrum bintang-bintang yang berada di dekat bidang ekliptika (ekliptika
adalah bidang edar Bumi mengelilingi Matahari). Kecepatan gerak revolusi
Bumi dapat dihitung dari data periode revolusi Bumi, yaitu 365,25 hari dan
jarak Bumi Matahari sekitar 150 juta km. Diperoleh kecepatan revolusi
Bumi sekitar 30 km/detik. Ini jika kita sudah tahu jarak Bumi Matahari.
Sebaliknya, jarak Bumi - Matahari dapat dihitung dari pengamatan
pergeseran doppler tahunan bintang-bintang di sekitar ekliptika.
Karena Bumi bergerak mengelilingi Matahari, maka relatif terhadap
bintang-bintang di sekitar ekliptika, Bumi bergerak setengah tahun
mendekat dan setengah tahun menjauh. Akibatnya garis-garis spektrum
bintang bergeser dari panjang gelombang diamnya karena efek Doppler.
Dari besarnya pergeseran maksimum panjang gelombang itu dapat
dihitung kecepatan revolusi Bumi. Kecepatan ini jika dikalikan dengan
jumlah detik dalam satu tahun akan menghasilkan keliling orbit Bumi,
sehingga jari-jari orbit Bumi dapat dihitung. Pengukuran kecepatan radial
30 km/detik membutuhkan teropong yang cukup besar dengan
spektrograf resolusi tinggi, karena pada spektrum, kecepatan radial 30
km/detik didapat dari pergeseran doppler sekitar 0,5 Angstrom untuk
panjang gelombang garis di sekitar cahaya tampak 5000 Angstrom.

Contoh soal
Dari hasil eksperimen di laboratorium garis Balmer H

semestinya
muncul pada panjang gelombang 4861,3 . Pada spektrum sebuah
bintang, garis ini muncul pada panjang gelombang 4863,7 . Berapakah
kecepatan radial bintang itu terhadap pengamat ? menjauh atau
mendekat?
Jawab :
= 4863,7 4861,3 = 2,4 .



RADIASI GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK 117


Garis spektrum bintang bisa juga bergerak bolak-balik bukan karena gerak
revolusi Bumi melainkan karena bintang itu merupakan anggota pasangan
bintang ganda, saling mengitari satu sama lain, asalkan bidang orbitnya
tidak tegak lurus terhadap garis pandang yang menghubungkan pengamat
dengan bintang. Komponen kecepatan yang menyebabkan efek Doppler
adalah komponen kecepatan radial, sedangkan kecepatan tangensial tidak
berpengaruh.

Gambar 9.6 Vektor kecepatan gerak bintang diuraikan atas kecepatan
radial dan tangensial

Di dalam orbitnya kecepatan radial relatif anggota bintang ganda itu
terhadap Bumi bisa berubah-ubah, ada kalanya menjauh ada kalanya
mendekat dengan teratur dan mempunyai periode tertentu. Jika kita plot
kecepatan terhadap waktu, diperoleh kurva kecepatan radial.
Dengan asumsi bahwa kecepatan cahaya di ruang hampa 300 000
km/detik, maka dapat diperoleh v = 148,1 km/s, menjauh. Alasan :
panjang gelombang teramati lebih besar dari pada panjang gelombang
diam.

118 RADIASI GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK


Gambar 9.7 Pada gambar stage 1 bintang primer menjauhi pengamat sehingga
garis-garis spektrumnya bergeser ke arah merah dan bintang sekunder mendekati
pengamat sehingga garis-garis spektrumnya bergeser ke arah biru. Pada gambar
stage 2 dan 4 kedua bintang bergerak secara tangensial terhadap pengamat
sehingga garis-garis spektrumnya bergabung dan tidak bergeser. Gambar stage 3
berkebalikan dari stage 1.

RADIASI GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK 119

Hasil pengamatan efek doppler pada galaksi-galaksi pernah membuat
perubahan besar pada pengetahuan manusia tentang alam semesta. Mula-
mula manusia berpikir bahwa alam semesta ini statis. Namun ketika Edwin
Hubble mengamati banyak galaksi secara spektroskopi, ia mendapati
bahwa garis-garis spektrum galaksi-galaksi mengalami efek doppler. Garis-
garis spektrum hampir semua galaksi, kecuali beberapa galaksi tetangga,
bergeser ke arah yang lebih merah. Fenomena itu disebut pergeseran
merah atau redshift. Semakin redup dan kecil citra galaksi (sehingga
diperkirakan lebih jauh) pergeseran doppler ke arah merahnya semakin
besar. Berdasarkan azas doppler, dapat dipastikan galaksi-galaksi itu
bergerak menjauhi Bumi, semakin jauh suatu galaksi kecepatannya
semakin tinggi. Berarti antara galaksi yang dekat dan yang jauh masing-
masing juga menjauh satu terhadap yang lain. Galaksi-galaksi yang berada
dalam arah berbeda juga saling menjauh satu terhadap yang lain. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa alam semesta ini mengembang karena
setiap galaksi menjauhi galaksi lain.
Kalau semua galaksi menjauhi Bumi, artinya jarak antar galaksi semakin
besar, artinya alam semesta ini mengembang. Hal ini berarti di masa lalu
jarak antar galaksi lebih dekat daripada sekarang, semakin lampau,
semakin dekat jarak antar galaksi sehingga diduga pada awalnya galaksi-
galaksi itu merupakan suatu kesatuan. Maka lahirlah teori ledakan besar
atau big bang yang menyatakan bahwa alam semesta ini lahir dari sebuah
ledakan besar. Hubungan antara kecepatan menjauh dan jarak adalah :

Hd v =
(9.9)

H disebut konstanta Hubble, yang besarnya sekitar 70 km/s/Mpc. Artinya,
jika kita bandingkan dua galaksi yang jaraknya berbeda 1 mega parsek,
beda kecepatan radialnya kira-kira 70 km/s.
Pada grafik kecepatan v terhadap jarak d hasil pengamatan tidak persis
berimpit pada garis lurus, hal ini karena ada gerak diri galaksi-galaksi yang
bersifat acak. Kecepatan acak ini sering disebut kecepatan pekuliar
(peculiar velocity).


120 RADIASI GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK


Gambar 9.8 Grafik Hubungan antara Kecepatan dan jarak berdasarkan hasil
pengamatan galaksi-galaksi yang dipublikasikan oleh Hubble dan Humason pada
tahun 1931. Sumber: http://certificate.ulo.ucl.ac.uk

Radiasi Gelombang Energi Tinggi di Alam Semesta
Di alam semesta ini ada juga radiasi yang non thermal, sebagai contoh,
pancaran sinar X dari sekitar lubang hitam atau bintang neutron. Pancaran
radiasi tersebut disebut radiasi synchrotron. Radiasi jenis ini dipancarkan
oleh elektron yang bergerak dengan kecepatan mendekati kecepatan
cahaya. Polanya tidak mengikuti grafik Planck, maka disebut juga radiasi
non thermal.
Di langit ada banyak sumber sinar X, tetapi sinar X tidak dapat menembus
atmofir Bumi, sehingga tidak dapat diamati dari permukaan Bumi. Oleh
karena itu era astronomi sinar X baru dimulai ketika manusia dapat
meluncurkan satelit yang membawa teropong sinar X ke angkasa luar dan
mengendalikannya dari Bumi untuk merekam sinar X dari benda-benda
angkasa. Teropong yang dapat terbang sambil mendeteksi sinar X di atas
atmosfir Bumi pertama kali diluncurkan tahun 1962. Setelah itu berbagai
satelit sinar X diluncurkan oleh negara-negara maju untuk mempelajari
berbagai sumber sinar X di angkasa.
Contoh sumber sinar X di angkasa yang menarik antara lain pulsar sinar X
yang memancarkan sinar X berupa pulsa-pulsa dengan periode yang sangat
pendek. Misalnya Hercules X-1, sumber sinar X pertama yang ditemukan di

RADIASI GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK 121

rasi bintang Hercules, memancarkan pulsa-pulsa dengan periode sekitar
1,24 detik. Contoh lain adalah Centaurus X-3, sumber sinar X ketiga yang
ditemukan di rasi Centaurus, periode denyutannya sekitar 4, 48 detik,
tetapi periode itu berubah secara teratur dengan periode 2,09 hari. Hal ini
menunjukkan bahwa Centaurus X-3 merupakan anggota pasangan bintang
ganda. Perubahan periode setiap 2,09 hari menunjukkan periode orbit
bintang ganda tersebut. Pendapat ini diperkuat dengan fakta lain bahwa
kuat pancaran sinar X itu mengalami penurunan setiap 2,09 hari.
Penyebabnya adalah sumber sinar X itu terhalang bintang pasangannya
ketika melintas di belakangnya dalam orbitnya.

Gambar 9.9 Kiri atas, ilustrasi bintang ganda yang terdiri dari sebuah bintang
normal dan bintang kompak (lubang hitam atau bintang neutron). Materi yang
disedot dari bintang normal membentuk piringan akresi bertemperatur tinggi
disekitar bintang kompak, dan memancarkan sinar X. Kanan, bintang neutron yang
sumbu magnetnyatidak berimpit dengan sumbu rotasi. Pancaran sinar X maksimum
terjadi saat kutub magnet menghadap pengamat.
Mekanisme pembangkitan sinar X yang berpulsasi adalah sebagai berikut.
Sumbernya adalah pasangan bintang ganda yang terdiri dari sebuah
bintang normal atau raksasa dan sebuah bintang neutron. Gravitasi bintang
neutron yang mengorbit di dekat bintang itu menyedot materi dari bintang.
Sebelum jatuh ke permukaan bintang neutron itu, materi bergerak dengan
kecepatan yang sangat tinggi mengitari bintang neutron sehingga
temperaturnya menjadi sangat tinggi sehingga mampu memancarkan foton

122 RADIASI GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK

sinar X. Karena medan magnet bintang neutron yang kuat, gas akan
mengalir menuju kutub magnetnya dan bagian kutub magnet itulah tempat
jatuhnya materi, sehingga pancaran sianar X akan lebih banyak
dipancarkan oleh kutub magnet. Sumbu magnet tidak berimpit dengan
sumbu rotasi, sehingga arah kutub magnet selalu berputar. Saat muncul
pulsa sinar X adalah saat kutub magnet menghadap Bumi.
Contoh lain adalah sinar X dari pusat-pusat galaksi dengan lubang hitam
super massif di pusatnya. Ketika lubang hitam menghisap gas di sekitarnya,
gas akan bergerak berputar membentuk piringan dengan kecepatan sangat
tinggi mendekati kecepatan cahaya sebelum masuk ke lubang hitam.
Kecepatan yang sangat tinggi itu mengakibatkan temperatur yang sangat
tinggi sehingga terpancar sinar X.
Contoh radiasi non thermal lain, di Bumi ada radiasi sinar Gamma yang
dipancarkan oleh atom radio aktif ketika mengalami peluruhan. Ada juga
benda langit yang memancarkan sinar Gamma dengan intensitas yang
sangat tinggi dalam waktu sangat singkat. Peristiwa itu disebut Gamma Ray
Burst (GRB, kilatan sinar Gamma). Hingga saat ini peristiwa ledakan pada
Gamma Ray Burst ini diketahui sebagai ledakan yang paling dahsyat di
alam semesta, setelah big bang. Energi yang dipancarkan oleh GRB lebih
besar daripada yang dipancarkan ledakan bintang supernova yang
beberapa puluh tahun yang lalu masih dianggap sebagai ledakan
terdahsyat.
Penyebab Gamma Ray Burst masih belum disepakati, ada yang
berpendapat itu adalah hipernova, ledakan bintang yang sangat masif. Ada
juga yang berpendapat bahwa itu adalah tumbukan dua bintang neutron.
Namun mekanisme sebenarnya dari Gamma Ray Burst masih terus
diselidiki. Kesulitan mempelajarinya antara lain karena jangka waktu
terjadinya sangat pendek, hanya dalam orde menit. Oleh karena itu
dibutuhkan beberapa satelit detektor sinar Gamma yang selalu siaga
merekam kilatan sinar Gamma dari arah manapun di langit. Total energy
yang dipancarkan dalam waktu beberapa menit itu setara dengan total
energi yang dipancarkan Matahari selama hidupnya yang sepuluh milyar
tahun.






RADIASI GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK 123


Soal-soal
1. (OSN 2008) Puncak spektrum pancaran bintang A terdeteksi pada
panjang gelombang 2000 Angstrom, sedangkan puncak spektrum
bintang B berada pada panjang gelombang 6500 Angstrom,
berdasarkan data ini maka
a. Bintang A 0,31 kali lebih terang daripada bintang B
b. Bintang B 0,31 kali lebih terang daripada bintang A
c. Bintang A 3,25 kali lebih terang daripada bintang B
d. Bintang B 3,25 kali lebih terang daripada bintang A
e. Bintang A sama terangnya dengan bintang B

2. (OSN 2008) Temperatur efektif Matahari adalah 5800 K. Berdasarkan
hukum Stefan-Boltzmann, energi yang dipancarkan permukaan
Matahari ke ruang angkasa persatuan waktu untuk tiap meter persegi
adalah
a. 6,42 10
7
J
b. 3,29 10
-4
J
c. 5,99 10
-26
J
d. 5,01 10
-23
J
e. 4,01 10
3
J

3. (OSKK 2009) Bintang Sirius dikenal sebagai bintang ganda, bintang
primernya disebut Sirius A, dan bintang sekundernya disebut Sirius B
yang merupakan bintang katai putih. Temperatur efektif Sirius A
adalah 9 200 K dan radiusnya adalah 1,76 kali radius Matahari,
sedangkan temperatur efektif Sirius B adalah 27 400 K dan radiusnya
adalah 0,0070 kali radius Matahari. Perbandingan luminositas antara
Sirius A dengan Sirius B adalah,
a. Luminositas Sirius B adalah 800 kali luminositas Sirius A
b. Luminositas Sirius A adalah 800 kali luminositas Sirius B
c. Luminositas Sirius A adalah 80 kali luminositas Sirius B
d. Luminositas Sirius A adalah 80 kali luminositas Sirius B
e. Luminositas Sirius A sama dengan luminositas Sirius B

124 RADIASI GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK

4. (OSKK 2009) Bintang Sirius dikenal sebagai bintang ganda, bintang
primernya disebut Sirius A, dan bintang sekundernya disebut Sirius B
yang merupakan bintang katai putih. Temperatur efektif Sirius A
adalah 9 200 K dan radiusnya adalah 1,76 kali radius Matahari,
sedangkan temperatur efektif Sirius B adalah 27 400 K dan radiusnya
adalah 0,0070 kali radius Matahari. Perbandingan luminositas antara
Sirius A dengan Sirius B adalah,
a. Luminositas Sirius B adalah 800 kali luminositas Sirius A
b. Luminositas Sirius A adalah 800 kali luminositas Sirius B
c. Luminositas Sirius A adalah 80 kali luminositas Sirius B
d. Luminositas Sirius A adalah 80 kali luminositas Sirius B
e. Luminositas Sirius A sama dengan luminositas Sirius B

5. (OSKK2009) Sebuah bintang dengan temperatur permukaannya
10500 K akan memancarkan spektrum benda hitam yang berpuncak
pada panjang gelombang
a. 2,76 10
-7
meter
b. 2,76 10
-7
nanometer
c. 2,76 10
-5
meter
d. 2,76 10
-5
nanometer
e. 2,76 10
-5
centimeter

6. (OSN 2008) Sebuah galaksi yang sangat jauh terdeteksi oleh sebuah
detektor yang berada di sebuah satelit di luar atmosfer Bumi
mempunyai kecepatan radial 3000 km/s. Pada panjang gelombang
berapakah garis Lyman Alpha terdeteksi oleh detektor ini? pilih yang
paling dekat!
a. 1216,21 Angstrom
b. 1200,21 Angstrom
c. 1228,16 Angstrom
d. 1216,01 Angstrom
e. 1220,01 Angstrom

125


Bab 10
MEDAN MAGNET BENDA ANGKASA



Magnet Bumi
Bumi mempunyai medan magnet, hal ini dapat diketahui dari arah yang
ditunjuk jarum kompas. Jarum kompas adalah magnet, orientasinya akan
dipengaruhi medan magnet di tempatnya berada. Jarum kompas akan
selalu menunjuk ke kutub magnet Bumi, kutub utara kompas akan
menunjuk ke kutub Selatan magnet Bumi, yang berada di dekat kutub
Utara geografis, sedangkan kutub selatan kompas akan menunjuk ke kutub
Utara magnet Bumi yang berada di dekat Kutub Selatan geografis.
Letak kutub-kutub magnet Bumi tidak sama dengan kutub Bumi, tapi letak
keduanya relatif dekat. Titik kutub magnet Bumi juga tidak selalu tetap,
tapi bisa bergeser setiap tahun. Apa yang menyebabkan Bumi mempunyai
medan magnet sedangkan Bulan tidak? Diduga, medan magnet Bumi
terjadi karena adanya pusaran logam cair di dalam perut Bumi.
Sebagaimana kita ketahui perut Bumi adalah tempat yang sangat panas,
sehingga logam pun dapat meleleh. Dalam bentuk cair, karena rotasi Bumi,
logam cair itu menjadi berpusar.
Medan magnet Bumi, meskipun tidak terlalu kuat, rata-rata hanya sekitar
0,5 gauss, mempunyai peran penting sebagai pelindung Bumi dari
hantaman partikel bermuatan dari langit. Partikel bermuatan itu bisa
berasal dari Matahari, bintang-bintang lain, supernova atau pusat galaksi.
Materi : Gejala kemagnetan

Kelas XII

Kompetensi Dasar :
XII.3.4 Menganalisis induksi magnet dan gaya magnetik pada berbagai produk
teknologi
XII.4.4 Melaksanakan pengamatan induksi magnet dan gaya magnetik di sekitar
kawat berarus listrik

126 MEDAN MAGNET BENDA ANGKASA


Gambar 10.1 Pola medan magnet Bumi
Partikel bermuatan berkecepatan tinggi itu, yang kebanyakan berupa
proton dapat menumbuk inti atom yang berada di dalam partikel atmosfir
seperti oksigen, nitrogen dan lain-lain. Tumbukan berkecepatan tinggi itu
dapat membuat inti atom pecah menghasilkan partikel-partikel lain yang
lebih elementer namun berusia sangat pendek. Partikel-partikel tersebut
terdeteksi di Bumi dalam bentuk pancaran sinar kosmik. Jika partikel
bermuatan dari langit itu langsung mengenai manusia, kesehatan manusia
dan mahluk hidup akan terganggu bahkan menyebabkan kematian. Sulit
dibayangkan apakah akan ada mahluk hidup di Bumi apabila tidak ada
medan magnet.

Gerak Partikel Angin Matahari dalam Medan Magnet Bumi
Angin Matahari yang memasuki medan magnet Bumi akan mengalami gaya
Lorentz karena angin Matahari itu terdiri dari partikel-partikel bermuatan
seperti elektron dan proton. Ilustrasi dasar gaya Lorentz itu dapat dilihat
pada mekanisme siklotron seperti pada gambar di bawah ini. Jika sebuah
partikel bermuatan positif, misalnya proton masuk ke dalam medan
magnet B yang ditimbulkan oleh dua buah logam magnetik, maka partikel
itu akan mengalami gaya Lorentz :


MEDAN MAGNET BENDA ANGKASA 127












Gambar 10.2 Partikel bermuatan yang masuk ke dalam medan magnet akan
mendapat gaya Lorentz

B v F q
(10.1)

Dengan
q adalah muatan yang masuk,
v adalah kecepatan partikel bermuatan ketika berinteraksi dengan
medan magnet,
B adalah kuat medan magnet
F adalah gaya yang dialami partikel bermuatan, arahnya tegak lurus
terhadap arah v dan juga terhadap arah B.
Pada gambar diatas, medan magnet di dalam ruang antara kedua tablet
magnet itu ke bawah, arah datang proton dari kanan ke kiri, maka gaya
Lorentz yang dihasilkan adalah ke tegak lurus B dan tegak lurus v ke arah
pengamat. Jika arah datang partikel bermuatan tepat tegak lurus terhadap
garis gaya magnet yang uniform, maka lintasan partikel dapat menjadi
berbentuk lingkaran. Besarnya radius lintasan partikel itu adalah:
qB
mv
R
(10.2)

Jika arah datang partikel bermuatan itu sejajar dengan medan magnet,
maka, menurut rumus gaya Lorentz diatas,gaya yang dialami partikel itu
nol, atau tidak mengalami gaya Lorentz. Akan tetapi jika arah datang
partikel tidak tepat tegak lurus terhadap garis gaya magnet, kita perlu
menguraikan komponen kecepatan menjadi dua yaitu yang tegak lurus

128 MEDAN MAGNET BENDA ANGKASA

terhadap medan magnet dan yang sejajar medan magnet. Jika arah
kecepatan v membentuk sudut sebesar terhadap medan magnet B, maka
komponen v yang tegak lurus terhadap B adalah v sin sedangkan yang
sejajar dengan B adalah v cos.

Gambar 10.3 vektor kecepatan v diuraikan menjadi komponen yang sejajar dengan
B dan tegak lurus B. Hasil perkalian silangnya adalah vektor F yang tegak lurus
terhadap v dan B dan arahnya keluar dari bidang gambar menuju pengamat.
Komponen v yang tegak lurus terhadap B, akan cenderung membuat
partikel berputar dalam lintasan lingkaran, sementara komponen v yang
sejajar dengan B akan membuat partikel bergerak lurus mengikuti garis
gaya magnet B. Resultan dari dua macam gerak itu akan membuat partikel
bergerak dalam lintasan helix.
Gambar 10.4 Lintasan helix partikel dalam medan magnet. Arah medan magnet B
adalah arah z. Vektor kecepatan tidak tepat tegak lurus terhadap medan magnet,
melainkan ada komponen yang sejajar z. Arah perpindahannya partikel adalah arah
z, sedangkan bidang putarnya bidang xy

MEDAN MAGNET BENDA ANGKASA 129

Jika ditinjau perpindahannya saja, maka partikel akan berpindah mengikuti
garis gaya magnet. Itu yang dapat terjadi pada partikel bermuatan pada
angin Matahari yang masuk ke dalam medan magnet Bumi. Jika ditinjau
secara global, resultan lintasan partikel bermuatan dari Matahari akan
mengikuti garis gaya magnet Bumi ke arah kutub. Karena di kutub medan
magnet lebih kuat maka semakin ke kutub jejari lintasan helix semakin
kecil, frekuensi gerak helix semakin tinggi. Semakin mendekat ke Kutub
semakin mendekat ke permukaan Bumi, semakin tinggi kerapatan atmosfir
yang dilalui partikel bermuatan itu dan semakin besar probabilitas untuk
terjadinya tumbukan antara partikel bermuatan itu dengan partikel
atmosfir.
Sebaliknya, angin Matahari pun menyebabkan medan magnet karena angin
Matahari terdiri dari partikel-partikel bermuatan yang bergerak sehingga
dapat dipandang sebagai arus listrik dan arus listrik menghasilkan medan
magnet. Karena pengaruh magnet yang dibawa angin Matahari, medan
magnet Bumi pun terdistorsi, memanjang menjauhi Matahari.



Gambar 10.5 Lintasan partikel bermuatan dai Matahari yang masuk ke dalam
medan magnet Bumi bergerak dalam lintasan helix mengikuti garis gaya magnet
Bumi kearah kutub magnet Bumi.


130 MEDAN MAGNET BENDA ANGKASA


Gambar 10.6 Angin Matahari yang terdiri dari partikel bermuatan mendistorsi
medan magnet Bumi menjadi memanjang searah dengan arah angin Matahari.
Sumber :
http://stargazers.gsfc.nasa.gov/images/geospace_images/magnet_in_space/Plasma
_fountain.jpg



Contoh soal
Sebuah proton masuk ke daerah khatulistiwa Bumi. Pada saat
ketinggiannya 20 km dari permukaan Bumi, kecepatan proton itu 0,5
kali kecepatan cahaya dengan arah tegak lurus terhadap permukaan
Bumi diatas khatulistiwa Bumi. Apakah proton itu dapat mencapai
permukaan Bumi jika tidak menumbuk partikel lain?
Diketahui massa proton : 1,6726 10
-27
kg, muatan proton : 1,6 10
-19

Coulomb dan medan magnet Bumi 0,6 gauss.

Jawab:
Karena medan magnet Bumi, gerak proton akan mendapat gaya ke arah
Timur sehingga lintasannya akan melengkung dengan jejari :



Dengan memasukkan angka-angka diatas diperoleh R 26 km. Karena
ketinggiannya lebih kecil dari R maka proton itu akan sampai ke
permukaan Bumi meski pun membelok.



MEDAN MAGNET BENDA ANGKASA 131

Aurora
Pada saat partikel bermuatan angin Matahari menumbuk partikel atmosfir
Bumi, terjadi eksitasi atau ionisasi pada molekul atau atom di atmosfir,
kemudian dapat terjadi pelepasan gelombang elektromagnetik pada saat
elektron yang tereksitasi kembali ke tingkat energi yang lebih rendah atau
terjadi rekombinasi pada unsur yang terionisasi. Karena unsur terbanyak
di atmosfir adalah oksigen dan nitrogen, maka tumbukan dengan kedua
jenis unsur itulah yang paling sering sehingga menghasilkan warna khas
yang dipancarkan oleh proses deeksitasi elektron-elektron kedua unsur itu.
Karena kerapatan partikel angin matahari semakin tinggi saat mendekati
kutub, maka probabilitas tumbukan semakin besar ketika semakin dekat
dengan permukaan Bumi sehingga cahaya Aurora yang relatif dekat
dengan permukaan Bumi yang bisa nampak dengan mata telanjang. Pada
lokasi yang lebih tinggi, tumbukan yang terjadi relatif sedikit karena
rendahnya kerapatan atmosfir sehingga cahaya yang dipancarkan tidak
cukup terang untuk ditangkap oleh mata.
Pada lokasi yang terlalu dekat dengan permukaan Bumi, sisa partikel sinar
kosmik yang dapat mengeksitasi atau mengionisasi partikel atmosfir
praktis sudah habis diserap di tempat yang lebih tinggi, sehingga tidak ada
lagi yang dapat menyebabkan eksitasi atau ionisasi, dan di tempat yang
dekat sekali dengan permukaan Bumi tidak ada lagi cahaya aurora yang
terpancar. Rata-rata ketinggian Aurora yang dapat dilihat dengan mata
telanjang adalah 80 km dari permukaan Bumi.

Gambar 10.7 Cahaya aurora apabila dilihat dari angkasa luar, membentuk
lingkaran yang mengelilingi kutub magnet Bumi. Sumber:
http://spacemath.gsfc.nasa.gov/

132 MEDAN MAGNET BENDA ANGKASA


Gambar 10.8 Cahaya Aurora yang dilihat dari Bumi di wilayah yang dekat dengan
lingkaran kutub. Sumber : http://apod.nasa.gov/apod/ap071009.html Foto diambil
oleh Bud Kuenzli, kuenzli@gci.net, dipublikasikan di APOD tgl 9 Okt 2007.

Magnet Matahari
Matahari mempunyai medan magnet, karena banyaknya arus partikel
bermuatan disana. Struktur medan magnet Matahari tidak sederhana dan
juga selalu berubah-ubah. Di tempat tertentu kadang-kadang terbentuk
medan magnet yang lebih kuat dibandingkan dengan daerah lain. Kekuatan
medan magnet yang terkonsentrasi di suatu daerah dapat membuat daerah
tersebut bertemperatur lebih rendah sehingga nampak lebih gelap.
Daerah itu disebut bintik Matahari (sunspot). Di dalam bintik Matahari
temperatur berkisar 4500 K, tapi bisa juga lebih rendah dari itu.
Temperatur ini lebih rendah dibandingkan dengan temperatur rata-rata
permukaan Matahari yaitu sekitar 5800 K. Kuat medan magnet di dalam
sunspot adalah sekitar 2000 hingga 4000 gauss, jauh lebih tinggi
dibandingkan dengan di luar bintik yang rata-rata hanya sekitar satu gauss.
Banyaknya bintik Matahari di permukaan Matahari berubah-ubah. Dalam
jangka panjang, ada suatu keteraturan dalam penampakan bintik Matahari
yaitu banyaknya bintik meningkat dan menurun dengan secara cukup
teratur periode sekitar 11 tahun. Periode perubahan aktivitas Matahari ini
disebut siklus Matahari. Pada saat banyak bintik di permukaan Matahari
aktivitas Matahari meningkat dan kita akan dapat mengamati lebih banyak
terjadi flare, lontaran massa korona, prominensa dan aktivitas lain.
Flare adalah ledakan dahsyat di permukaan Matahari. Daerah yang
mengalami flare akan nampak jauh lebih terang daripada sekitarnya
karena temperaturnya sangat tinggi. Kejadiannya dapat dibandingkan
dengan terjadinya halilintar di Bumi, tapi dalam skala yang jauh lebih

MEDAN MAGNET BENDA ANGKASA 133

besar. Flare ini terjadi karena hubungan pendek (rekoneksi) medan
magnet yang berlawanan polaritasnya.
Prominensa adalah jilatan lidah api yang menjulang tinggi keluar dari
permukaan Matahari. Biasanya dasar dari prominensa ini di permukaan
Matahari adalah bintik Matahari yang berpasangan dan beda polaritas.
Materi bermuatan mengalir dari satu bintik ke bintik pasangannya dengan
mengikuti garis gaya magnet yang menghubungkan keduanya. Selama
mengalir mengikuti garis gaya magnet itu materi berpendar karena
panasnya sehingga dapat terlihat dengan jelas dari Bumi dengan
menggunakan teropong matahari yang dilengkapi dengan filter H.

Gambar 10.9 Pola Medan Magnet Matahari, garis-garis gaya pada gambar adalah
dibuat untuk memberikan gambaran tentang keadaan garis gaya disana.
Sumber: http://spacefellowship.com/wpcontent/uploads/2010/08/sunmaglines.jpg
Gambar 10.9 adalah citra Matahari dengan gambaran garis gaya magnet di
sekitarnya. Nampak bahwa medan magnet di atmosfir matahari ternyata
tidak sederhana bentuknya, hal ini karena matahari terdiri dari gas panas
bermuatan yang terus bergerak mengalir, sehingga disana-sini terjadi

134 MEDAN MAGNET BENDA ANGKASA

pusaran. Pusaran-pusaran itu akan mengakumulasikan medan magnet.
Semakin kuat medan magnet, tekanan magnetik semakin tinggi, membuat
probabilitas terjadinya rekoneksi magnetik (flare) juga semakin tinggi.

Bintang Neutron
Bintang neutron adalah bintang yang komponen dasarnya adalah neutron,
diameternya berkisar 10 - 15 km, sementara massanya lebih besar dari
massa Matahari. Dapat dibayangkan bahwa bintang neutron merupakan
kumpulan neutron yang berdesak-desakan seperti proton dan neutron di
dalam inti atom, berbeda dengan atom yang sebagian besar isinya
merupakan ruang kosong. Maka dapat dimengerti bahwa kerapatan
bintang neutron sangat tinggi, ratusan juta ton per cm
3
.
Bintang neutron dihasilkan dari peristiwa runtuh gravitasi inti bintang.
Runtuh gravitasi ini disebabkan tekanan gas atau tekanan elektron tidak
mampu menahan pengerutan bintang karena gaya gravitasi dirinya,
sehingga bintang mengerut dengan cepat. Peristiwa runtuh gravitasi bisa
terjadi melalui dua cara, yaitu pada bintang bermassa besar yang
mengalami ledakan supernova di akhir riwayatnya atau bintang katai putih
yang menyedot massa dari bintang pasangannya sehingga massanya
melebihi batas Chandrasekar dan tekanan gas dan elektron tidak mampu
melawan tarikan gravitasi.
Bintang neutron mula-mula terdeteksi sebagai sumber pulsa gelombang
radio yang sangat teratur dan kuat, oleh karena itu ketika ditemukan
disebut Pulsars (pulsating radio sources).Pulsa-pulsa itu mula-mula
ditemukan oleh Jocelyn Bell pada tahun 1967 melalui pengamatan
menggunakan teropong radio. Penemuan pulsar itu kemudian membuat
pembimbing Jocelyn Bell, yaitu Antony Hewish memenangkan hadiah
nobel pada tahun 1974 karena berhasil menunjukkan bahwa sumber
pulsa-pulsa itu adalah bintang neutron, sekaligus membuktikan
keberadaan bintang neutron secara observasi.
Bagaimana pulsa-pulsa gelombang radio itu dapat terjadi? Perhatikan
ilustrasi bintang neutron pada gambar 10.10. Sumbu magnet bintang
neutron tidak sama dengan sumbu rotasinya, sehingga arah kutub magnet
berubah secara periodik sesuai dengan periode rotasinya. Kalau kebetulan
dalam rotasinya arah kutub magnet menyapu arah ke Bumi, saat kutub
magnet bintang neutron tepat mengarah ke Bumi terjadi lonjakan sinyal
radio. Lonjakan sinyal radio itu yang terdeteksi sebagai pulsa oleh
teropong radio.

MEDAN MAGNET BENDA ANGKASA 135


Gambar 10.10 Pola garis gaya magnet bintang neutron atau pulsar, sumbu rotasi
bisa saja tidak berimpit dengan sumbu magnetik.

Bagaimana menghadapnya kutub magnet pulsar ke Bumi bisa
menghasilkan lonjakan gelombang radio? Mari kita tinjau salah satu
ilustrasi berikut. Seandainya kita dapat memasang sebuah batang magnet
yang dihubungkan dengan sebuah pemutar sehingga kutub-kutub batang
magnet itu dapat berputar dengan kecepatan anguler konstan. Pada bidang
putar ditempatkan sebuah kawat berbentuk lingkaran atau solenoida yang
sumbunya berimpit dengan garis hubung magnet dan pusat lingkaran.
Pada saat salah satu kutub menyapu lingkaran kawat, pada bidang yang
dilingkupi lingkaran kawat itu terjadi perubahan fluks magnet. Fluks
magnet paling rapat pada saat sumbu magnet berimpit dengan sumbu
lingkaran. Saat itu juga terjadi perubahan fluks magnet yang terbesar.
Gambar 10.11 Pulsa arus dapat terjadi pada kawat apabila magnet di dekatnya
berotasi. Puncak arus terjadi saat kutub magnet tepat menghadap kawat.

136 MEDAN MAGNET BENDA ANGKASA

Menurut hukum Faraday perubahan fluks magnet di bidang lingkaran akan
menghasilkan arus listrik disepanjang kawat. Tegangan yang dihasilkan
disebut GGL induksi :

dt
d
N


(10.3)

Saat kutub magnet menyapu kawat saat itulah terjadi pulsa tegangan.
Analogi dengan peristiwa itu, saat kutub magnet pulsar menghadap Bumi,
dideteksi pulsa gelombang radio oleh teropong radio. Dibandingkan
dengan kekuatan magnet batang, tentu kekuatan magnet bintang neutron
jauh lebih besar. Medan magnet di permukaan bintang neutron rata-rata
sekitar 9 x 10
13
gauss. Bintang neutron yang medan magnetnya jauh lebih
kuat dari rata-rata disebut magnetar. Kuat medan magnet magnetar dapat
mencapai 2 x 10
15
gauss!
Akan tetapi nampaknya pulsa yang dapat terjadi seperti mekanisme diatas
terlalu kecil, karena jarak pulsar yang sangat jauh. Para astronom lebih
mempercayai terjadinya pancaran gelombang radio di sekitar kutub
berasal dari pusaran elektron di sekitar kutub magnet bintang neutron.

Medan Magnet Galaksi
Dari pengamatan materi antar bintang diketahui bahwa di dalam ruang
antar bintang yang nyaris hampa itu ternyata ada medan magnet. Medan
magnet ini mempengaruhi perilaku materi antar bintang yang dilalui
cahaya, sehingga ketika cahaya itu ditangkap oleh detector di Bumi, tanda-
tanda pengaruh medan magnet tertangkap juga. Medan magnet
menyebabkan bulir debu materi antar bintang yang tidak simetri bola
menjadi mempunyai kecenderungan orientasi tertentu. Akibatnya cahaya
bintang yang dihamburkan cenderung mempunyai polarisasi kearah
tertentu.
Dengan mempelajari polarisasi cahaya bintang yang disebabkan materi
antar bintang dari berbagai penjuru galaksi, dapat dipelajari struktur
medan magnet galaksi. Besarnya medan magnet ini jauh lebih kecil
dibanding medan magnet Bumi, akan tetapi cukup berpengaruh terhadap
gerak materi antar bintang, sinar kosmik galaksi dan lain-lain. Karena
gerak partikel dipengaruhi medan magnet, dalam skala besar, struktur
galaksi juga akan terpengaruh, misalnya dalam pembentukan lengan spiral,
pembentukan batang, kelengkungan bidang galaksi dan lain-lain.

MEDAN MAGNET BENDA ANGKASA 137

Medan magnet galaksi yang lemah memang hanya membelokkan partikel
sinar kosmik dengan sudut yang sangat kecil. Akan tetapi karena skala
jarak yang begitu besar, satu kali pembelokan yang kurang dari satu detik
busur pun dapat menyebabkan penyimpangan lintasan jauh lebih besar
dari ukuran tata surya. Oleh karena itu jika sepanjang lintasannya sinar
kosmik galaksi selalu dipengaruhi oleh medan magnet yang lemah, tentu
pembelokan totalnya menjadi signfikan.

Soal-soal
1. (OSP 2004) Bintik Matahari berwarna gelap disebabkan oleh
a. planet dan asteroid melintas Matahari
b. medan magnetik kuat
c. aliran gas ke atas
d. awan di Matahari
e. reaksi nuklir di dalam Matahari

2. (OSKK 2007) Partikel angin Matahari dapat ditangkap oleh
Magnetosfer Bumi. Ketika partikel-partikel ini bergerak secara spiral di
sepanjang medan magnet, akan menghasilkan peristiwa ...
a. Efek rumah kaca
b. Tropical storms (daerah dimana udara berotasi dengan cepat)
c. Warna kemerah-merahan yang sering kita lihat ketika Matahari
terbenam
d. Aurora (cahaya di arah utara dan selatan)
e. Kualitas program di televisi di belahan Bumi utara menjadi
terganggu

3. (OSP 2013) Sebuah proton datang dari angkasa luar ke arah
khatulistiwa Bumi. Arah gerak proton tegak lurus terhadap permukaan
Bumi. Proton akan dibelokkan oleh gaya Lorentz yang disebabkan oleh
medan magnet Bumi. Apakah proton itu dapat mencapai permukaan
Bumi jika tidak bertumbukan dengan partikel lain di udara?
a. Dapat jika kecepatannya sangat tinggi melebihi kecepatan
cahaya.

138 MEDAN MAGNET BENDA ANGKASA

b. Dapat jika kecepatannya sangat tinggi melebihi kecepatan
suara.
c. Dapat jika kecepatannya sangat tinggi sehingga jejari
pembelokannya sangat besar sehingga lintasannya memotong
permukaan Bumi.
d. Dapat jika kecepatannya sangat tinggi, sehingga perisai
magnetik Bumi dapat ditembus oleh proton itu.
e. Tidak dapat karena gaya Lorentz akan membelokkan proton ke
arah Timur sebelum proton mencapai tanah.

4. Jika ada suatu elektron yang karena fenomena angin Matahari
dilontarkan dari Matahari ke arah Bumi, lintasannya tepat tegak lurus
terhadap permukaan Bumi diatas provinsi Riau. Bagaimana lintasan
elektron itu ketika masuk ke magnetosfir bumi ?
a. terus lurus menuju permukaan Bumi hingga sampai permukaan
Bumi
b. dibelokkan ke arah Barat
c. dipantulkan oleh mangnetosfir sehingga berbalik ke arah Matahari
d. dibelokkan ke arah Timur
e. lintasannya tidak dapat diprediksi
139


Bab 11
DATA DIGITAL BENDA LANGIT



Efek Fotolistrik
Efek fotolistrik adalah peristiwa timbulnya akumulasi muatan atau arus
listrik pada suatu bahan yang disinari cahaya. Hal ini disebabkan electron
yang terlepas dari ikatan atom atau ion karena ditumbuk oleh foton. Efek
fotolistrik ini memberi petunjuk bahwa cahaya juga mempunyai sifat
partikel. Jika cahaya bersifat gelombang, mestinya semakin besar intensitas
semakin banyak elektron yang terlepas dari ikatannya.
Akan tetapi pada kenyataannya berbeda, besarnya arus listrik yang
ditimbulkan lebih bergantung pada frekuensi atau panjang gelombang
cahaya yang menyinarinya. Ada suatu frekuensi yang menjadi batas antara
ada arus dan tidak ada arus. Jika frekuensi cahayanya lebih dari batas itu
ada arus, meskipun intensitas cahaya tidak tinggi. Jika frekuensi cahaya
kurang dari batas itu tidak ada arus sama sekali, meskipun intensitas
cahayanya tinggi. Memang ada kebergantungan kuat arus pada intensitas
cahaya. Semakin tinggi intensitas cahayanya semakin besar arusnya, tapi
itu hanya berlaku untuk frekuensi diatas frekuensi batas.
Hal adanya frekuensi batas ini dapat dijelaskan sebagai berikut, elektron
yang terikat membutuhkan energi minimum tertentu untuk bisa lepas dari
Materi : Efek fotolistrik, data digital

Kelas XII

Kompetensi dasar :
XII.3.8 Memahami efek fotolistrik dan sinar X dalam kehidupan sehari-hari
XII.3.9 Memahami transmisi dan penyimpanan data dalam bentuk digital dan
penerapannya dalam teknologi informasi dan komunikasi
XII.4.8 Menyajikan hasil analisis data tentang penerapan efek fotolistrik dan sinar
X dalam kehidupan sehari-hari
XII.4.9 Menyajikan hasil penelusuran informasi tentang transmisi dan
penyimpanan data dalam bentuk digital dan penerapannya dalam teknologi
informasi dan komunikasi

140 DATA DIGITAL BENDA LANGIT

ikatan dan menjadi arus listrik. Cahaya merupakan paket-paket seperti
partikel-partikel yang masing-masing energinya h. Kalau h ini lebih besar
daripada energy minimum yang dibutukan elektron untuk lepas, maka
paket h ini dapat menumbuk elektron hingga terpental dari ikatannya.
Sedangkan jika energy tiap fotonnya lebih kecil dari h, foton-foton itu
tidak dapat melepaskan elektron meskipun paket-paket fotonnya banyak.
Efek fotolistrik ini kemudian mulai dimanfaatkan di dunia Astronomi
dengan dibuatnya photoelectric photometer menggunakan bahan yang
sensitive terhadap cahaya. Fotometer ini adalah alat untuk mengukur kuat
arus suatu sumber cahaya. Cahaya dari sumber itu dijatuhkan pada suatu
material yang memiliki sifat efek fotolistrik. Sumber cahaya yang kuat
menimbulkan kuat arus yang besar. Maka, dengan mengukur kuat arus,
dapat diperoleh harga fluks cahaya relatif, kemudian melalui kaliberasi
didapatkan harga pengukuran fluks. Kemudian, para ilmuwan dapat
memperkecil ukuran detektor hingga berukuran micron. Dengan demikian
banyak detektor kecil dapat disusun dalam bentuk matriks. Setiap detector
disebut pixel dan setiap pixel dapat diukur kuat arusnya, dari sana lahirlah
kamera CCD.

Kamera CCD
Teropong bintang membantu astronom untuk melihat bintang atau obyek
langit lain secara lebih teliti. Untuk keperluan analisis dan penelitian lebih
lanjut, obyek langit yang dilihat itu perlu direkam. Sebelum manusia
mengenal alat untuk merekam, obyek yang terlihat melalui teropong
bintang itu digambar dengan tangan. Setelah ditemukan zat kimia,
khususnya emulsi yang sensitif terhadap cahaya, ilmuwan membuat pelat
fotografi dengan melapisi kaca atau plastik dengan emulsi tersebut untuk
merekam citra benda langit. Kemudian setelah ditemukannya efek
fotolistrik, manusia membuat kamera elektronik, diantaranya yang paling
banyak dipakai di dunia astronomi adalah kamera CCD (Charge Coupled
Device).
Kamera CCD adalah alat yang dapat merekam cahaya sehingga
menghasilkan citra. Bagian utama kamera CCD yang sensitif terhadap
cahaya adalah chip. Chip ini terdiri dari ribuan pixel yang sensitif terhadap
cahaya. Sebuah chip CCD yang terdiri dari 1024 baris x 1024 kolom pixel
misalnya, mempunyai lebih dari satu juta pixel. Setiap pixel adalah titik
yang sensitif terhadap cahaya yang mandiri, yang dapat melepaskan
elektron jika mendapat iluminasi cahaya. Semakin tinggi intensitas cahaya
yang jatuh pada pixel semakin banyak elektron yang dapat lepas dari pixel.

DATA DIGITAL BENDA LANGIT 141


Gambar 11.1 Chip CCD KAF 1001-E buatan SBIG, gambar kanan adalah ilustrasi
sebagian kecil chip CCD.
sumber: http://astronomyonline.org/astrophotography/ccd.asp
Elektron yang lepas dan ditampung di dalam pixel chip itu kemudian dapat
dideteksi (dibaca) secara elektronik dan direkam sebagai angka dengan
konversi tertentu, misalnya, setiap 5 elektron dihitung sebagai 1 count,
ditulis 5e-/ADU, ADU adalah singkatan dari Analog-Digital Unit.
Daya tampung setiap pixel tentu saja terbatas, maka pada pixel CCD ada
batas saturasi. Misalkan dalam sebuah chip setiap pixel maksimum hanya
dapat menampung kira-kira 459000 elektron pada kamera 16 bit, jumlah
count maksimum yang dapat direkam untuk setiap pixel adalah 459000e-
/65535 ADU, maka faktor konversinya adalah kira-kira 7e-/ADU.
Ketika citra itu direkam menjadi file citra di dalam memori komputer,
sebenarnya yang direkam adalah deretan angka-angka jumlah count dari
setiap pixel. Citra sebuah bintang mungkin menempati beberapa pixel.
Semakin terang sebuah bintang, semakin banyak foton yang diterima chip
dari bintang itu, membuat lebih banyak pixel yang menerima foton,
membuat citra bintang semakin besar dan angka count yang diterima pixel-
pixel itu juga semakin tinggi.






Gambar 11.2 Ilustrasi cara penyimpanan data dalam file hasil rekaman dari
kamera CCD. Angka count itu berbanding lurus dengan jumlah foton yang tiba pada
pixel yang terkena sinar.

142 DATA DIGITAL BENDA LANGIT

Untuk mengukur kuat cahaya bintang, secara prinsip sangat mudah, yaitu
tinggal menjumlahkan angka-angka count pada pixel-pixel yang menerima
foton dari bintang yang dipotret. Akan tetapi pada prakteknya masih ada
koreksi-koreksi yang harus dilakukan, misalnya karena pengaruh
temperatur, karena perbedaan sensitivitas antara satu pixel dengan yang
lain, karena pengaruh cahaya langit latar belakang dan lain-lain. Setelah
koreksi-koreksi itu dilakukan, barulah angka-angka cacah foton dari
beberapa pixel yang mendapat cahaya bintang dapat dijumlahkan dan
kemudian dikonversikan menjadi satuan kecerlangan bintang, magnitudo
seperti yang telah dijelaskan di bab 9.
Kemungkinan melakukan koreksi ini membuat kamera CCD menjadi lebih
unggul dari pelat fotografi. Pada pemotretan dengan pelat fotografi, cahaya
yang diterima oleh pelat bukan hanya cahaya bintang, melainkan juga
cahaya langit yang berasal dari permukaan Bumi dan disebarkan oleh
partikel-partikel atmosfir. Gangguan cahaya dari permukaan Bumi ini akan
semakin buruk di lingkungan perkotaan yang mempunyai banyak sumber
cahaya. Banyaknya cahaya permukaan Bumi yang disebarkan oleh atmosfir
yang mengganggu citra benda langit disebut polusi cahaya. Citra bintang
menjadi lebih suram dan cahaya bintang yang diukur kecerlangannya
merupakan jumlah cahaya yang berasal dari bintang dan dari atmosfir.
Pada pemotretan dengan pelat fotografi kita tidak dapat melakukan
koreksi yang mengompensasi polusi cahaya ini. Akan tetapi pada citra
elektronik yang didapat dari kamera CCD, kita dapat mengukur cacah foton
rata-rata di bagian-bagian yang tidak mengandung bintang pada citra. Ini
disebut cacah foton langit latar belakang (sky background photon count).
Angka-angka pada pixel-pixel yang mengandung cahaya bintang kemudian
dikurangkan dengan angka cacah foton langit latar belakang ini, diperoleh
citra bersih benda langit. Citra hasil koreksi ini akan nampak lebih bersih
dan lebih kontras dibanding semula.

Contoh soal
Sebuah bintang diamati dengan teropong dan kamera CCD, setelah
dilakukan koreksi dan semua pixel yang dianggap menampung cahaya
bintang itu dijumlahkan diperoleh cacah foton total 28971 count.
Sedangkan bintang lain yang udah diketahui magnitudonya 3,6 cacah
fotonnya 97853 count. Berapakah magnitudo bintang itu?
Jawab:
Dengan mengingat bahwa cacah foton sebanding dengan fluks, maka
kita

DATA DIGITAL BENDA LANGIT 143



Perekaman Spektrum Bintang
Hasil pengamatan spektrum bintang bisa juga direkam di dalam kamera
CCD. Cahaya bintang yang diuraikan oleh spektrograf dapat dijatuhkan
pada permukaan chip kamera CCD dan direkam. Salah satu contoh hasil
perekaman adalah seperti pada gambar 11.3. Citra bagian bawah adalah
citra yang direkam pada kamera CCD. Jika kita merunut pixel-pixel citra
spektrum itu dari kiri ke kanan, artinya kita merunut menurut perubahan
panjang gelombang. Tetapi jika kita merunut dari atas ke bawah, pixel-pixel
pada kolom yang sama memuat informasi fluks dari panjang gelombang
yang sama. Oleh karena itu kita dapat menjumlahkan angka-angka pada
spektrum yang kolomnya sama karena merupakan informasi tentang
panjang gelombang yang sama.
Penjumlahan angka cacah foton pada kolom yang sama ini meningkatkan
jumlah cacah foton sehingga meningkatkan ketelitian pengukuran. Jika
hasil penjumlahan cacah foton per kolom itu digrafikkan diperoleh
representasi spektrum dalam bentuk grafik seperti pada gambar 11.3
bagian atas. Spektrum dalam bentuk grafik ini akan memudahkan peneliti
menyerap informasi dari spektrum. Seperti misalnya perhitungan
kecepatan gerak bintang, perhitungan lebar garis, kuat garis dan lain-lain.
Lagipula ukuran data spektrum dalam bentuk grafik lebih kecil
dibandingkan dalam bentuk citra, oleh karena itu sekarang umumnya
spektrum bintang disajikan dalam bentuk grafik.

dapat menggunakan persamaan (9.6) dengan mengganti fluks dengan
cacah foton


m
1
= 4,9


144 DATA DIGITAL BENDA LANGIT

()

Spektrum Bintang Kelas G
0
20
40
60
80
100
120
140
3500 4000 4500 5000 5500 6000 6500
Panjang Gelombang
I
n
t
e
n
s
i
t
a
s
H H H H
H
G band
K+H Lines
Mg I Mg I

Gambar 11.3 Contoh spektrum bintang. Bagian bawah adalah hasil perekaman
dengan kamera CCD, bagian atas adalah grafik hasil perunutan spektrum.

Penyimpanan Citra Benda Langit
Hasil pemotretan dengan kamera CCD disimpan secara elektronik di dalam
CD ROM atau di dalam Hardisk atau Solid State Hardisk atau alat
penyimpanan elektronik (storage) lain. Dengan berkembangnya teknologi
alat penyimpan data bisa mempunyai kapasitas semakin lama semakin
besar dengan ukuran yang relatif kecil.
Data citra benda langit dapat disimpan dalam bentuk data digital,
kombinasi antara 0 dan 1 yang disebut bit. Pada sistem penyimpanan 32
bit misalnya, satu huruf atau karakter dapat disajikan dalam kombinasi 0
atau 1 sebanyak 32 buah, dan disebut satu bita (byte). Hardisk berukuran
100 giga byte (GB), misalnya, dapat menyimpan kira-kira 10
11
huruf.
Bagaimana dengan penyimpanan data gambar? Pada dasarnya gambar foto
disimpan dalam bentuk byte juga, satu pixel bisa disimpan dalam 1, 2 atau
4 byte bergantung pada gradasi, warna dan sistem penyimpanannya.
Seandainya data satu pixel disimpan dalam 4 byte, maka file citra hasil
pemotretan dari satu chip CCD berukuran 736 x 1024 pixel, akan

DATA DIGITAL BENDA LANGIT 145

mempunyai ukuran file kira-kira 3 megabyte. Akan tetapi sekarang ada
teknologi kompresi sehingga ukuran file citra yang disimpan bisa
diperkecil. Misalnya, jika dengan teknologi kompresi, file 3 megabyte dapat
dimampatkan menjadi 1 megabyte saja, maka hardisk 100 gigabyte yang
berukuran sebesar sebuah telefon genggam dapat menyimpan kira-kira
100 000 citra. Jika citra itu dalam bentuk pelat fotografi, maka diperlukan
sebuah gudang untuk menampungnya. Betapa besar daya tampung sebuah
storage elektronik pada masa kini.
Penyimpanan data dalam bentuk elektronik ini juga mempermudah
pengiriman dan penggandaan. Melalui internet, data dapat dikirim,
disimpan jarak jauh, diunduh dengan mudah. Kecepatan transfer data
melalui internet juga semakin lama semakin tinggi sehingga dapat
mempercepat proses pengiriman dan pengambilan data ke dan dari tempat
yang jauh.
Sementara itu fasilitas pengamatan benda langit di berbagai negara
semakin lama semakin banyak, membuat data citra dan katalog hasil
pengamatan semakin banyak juga. Untuk memudahkan para astronom dan
masyarakat pada umumnya memanfaatkan data itu, telah dibuat banyak
pusat data astronomi hasil pengamatan, baik oleh teropong di permukaan
Bumi maupun oleh satelit dari angkasa luar. Pusat data citra benda langit
yang dapat diakses oleh masyarakat melalui internet itu sering disebut
virtual observatory (observatorium maya).
Para astronom dapat mengunduh data citra atau data numerik benda langit
yang sudah diolah dan dikoreksi, untuk keperluan penelitian atau
pendidikan atau keperluan lain. Contoh observatorium virtual adalah Sloan
Digital Sky Survey (SDSS) dengan alamat web : http://www.sdss.org dan
Simbad dengan alamat http://simbad.u-strasbg.fr/simbad. Data dari
berbagi observatorium itu juga dapat dikombinasikan dengan software
peta bintang sehingga bersifat lebih interaktif, edukatif dan menarik
seperti pada software World Wide Telescope yang dapat diunduh melalui
alamat web http://www.wwt.com







146 DATA DIGITAL BENDA LANGIT


Soal-soal

1. (IOAA 2009) Diberikan citra hasil pengamatan bintang yang sudah
diolah sehingga bersih, berukuran 50 50 pixel, disana nampak
citra 5 buah bintang. Tabel angka cacah foton tiap pixel diberikan
dalam bentuk matriks. Tiga buah bintang diketahui magnitudonya.
Siswa diminta menghitung magnitudo dua bintang lainnya dengan
menggunakan aperture berbentuk bujur sangkar.
2. Berapa byte ukuran sebuah citra benda langit yang terdiri dari
756 948 pixel yang data setiap pixelnya disimpan dalam memory
4 byte?

147


Bab 12
RADIOAKTIVITAS DAN REAKSI INTI DI DALAM
ASTRONOMI



Reaksi Inti di Dalam Bintang
Matahari dan bintang-bintang menciptakan energi di pusatnya. Proses
pembangkitan energi itu berupa reaksi inti yang sebagian besar
merupakan reaksi Hidrogen dengan Hidrogen menjadi Helium. Jadi reaksi
ini merupakan reaksi penggabungan inti yang lebih ringan menjadi inti
yang lebih berat. Jenis reaksi inti seperti ini disebut reaksi fusi. Salah satu
contoh teaksi fusi yang pernah terjadi di Bumi adalah ledakan Bom
hidrogen. Selain reaksi fusi ada juga jenis reaksi inti yang membelah inti
berat menjadi inti-inti yang lebih ringan, reaksi ini disebut reaksi fisi.
Mekanisme ledakan bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki
adalah contoh ledakan reaksi fisi. Reaksi fisi tidak terjadi di dalam bintang.
Reaksi penggabungan inti Hidrogen menjadi Helium tidaklah sederhana,
reaksi ini membutuhkan temperatur dan tekanan yang sangat tinggi,
mengapa? Karena ketika dua proton saling mendekat, akan segera menjauh
lagi karena gaya elektrostatik yang saling tolak diantara kedua proton.
Diperlukan kecepatan gerak saling mendekat yang sangat tinggi agar kedua
proton bisa berada sangat dekat sebelum gaya tolak elektrostatik membuat
kedua proton terpental.
Hal ini dapat dibandingkan dengan kalau kita berupaya menumbukkan
kutub-kutub yang sama dari dua batang magnet (misalnya kutub utara
dengan utara). Kalau kecepatan mendekat kedua kutub itu rendah,
sebelum sampai bersentuhan, gaya tolak kedua kutub akan mendorong
Materi : Inti Atom

Kelas XII

Kompetensi dasar :
XII.3.10 Memahami karakteristik inti atom, radioaktivitas dan pemanfaatannya
dalam teknologi

148 RADIO AKTIVITAS DAN REAKSI INTI

kedua magnet saling menjauh. Tetapi kalau kita menggerakkan kedua
magnet saling mendekat dengan kecepatan yang tinggi, kedua kutub utara
bisa sampai saling menyentuh sebelum tertolak lagi.
Pada dua buah proton yang saling mendekat, jika kedua proton bisa sangat
dekat, ada suatu jenis gaya yang disebut gaya kuat inti (strong nuclear
force) yang bisa membuat kedua proton tarik menarik sehingga saling
terikat. Gaya kuat inti ini adalah gaya yang mengikat proton dan neutron di
dalam inti atom. Jangkauan gaya ini sangat pendek, yaitu sekitar 10
-15

meter, lebih dari itu gaya tidak terasa oleh partikel. Oleh karena itu
kecepatan proton harus sangat tinggi sehingga dua proton bisa melawan
gaya tolak elektrostatik dan saling mendekat sedekat 10
-15
m agar dapat
bereaksi.
Kecepatan gerak proton bergantung pada temperaturnya, semakin tinggi
temperatur semakin cepat proton bergerak. Ternyata dibutuhkan
temperatur jutaan derajat kelvin agar gerak mendekat dua proton bisa
membuatnya bersatu.
Reaksi proton proton menjadi helium sebenarnya tidak sederhana,
melainkan melalui dari beberapa tahap. Tahap pertama adalah :
1
H
1
+
1
H
1

1
D
2
+ e
+
+ (12.1)
Dengan
1
H
1
adalah Hidrogen,
1
D
2
adalah deuterium, yaitu isotop Hidrogen
yang mempunyai satu proton dan satu neutron di dalam intinya, e
+
adalah
positron yang massanya sama dengan elektron namun bermuatan positif
seperti proton dan adalah neutrino yang bermassa seperti elektron tapi
tak bermuatan. Jadi ini adalah reaksi dua inti hidrogen menjadi satu
deuterium. Positron yang dilepaskan akan bertabrakan dengan elektron
bebas di dalam bintang, saling menghilangkan (anihilasi) dan menciptakan
sinar .
Pada tahap kedua, inti Deuterium yang terbentuk dapat bereaksi lagi
dengan inti Hidrogen (proton) yang lain membentuk inti Helium
2
He
3
yaitu
inti yang bermassa 3 satuan massa atom karena terdiri dari dua proton dan
satu neutron
1
D
2
+
1
H
1

2
He
3
+ (12.2)
Pada tahap ketiga, dua inti
2
He
3
bergabung menghasilkan inti
2
He
4
yang
terdiri dari dua proton dan dua neutron, ditambah dengan pancaran sinar
. Tentu untuk reaksi ini dibutuhkan kecepatan yang lebih tinggi karena
gaya tolak intinya menjadi empat kali lipat dibandingkan dengan reaksi
proton-proton. Artinya dibutuhkan temperatur yang lebih tinggi. Kelebihan

RADIO AKTIVITAS DAN REAKSI INT 149

dua proton kemudian dilepaskan untuk kelak bisa bereaksi kembali pada
reaksi proton proton atau proton deuterium yang lain.
2
He
3
+
2
He
3

2
He
4
+ 2
1
H
1
(12.3)

Gambar 12.1 Diagram rangkaian reaksi proton-proton
Ketiga reaksi diatas, secara efektif merupakan reaksi penggabungan empat
proton menjadi satu helium dengan melepaskan dua positron, neutrino dan
sinar
4
1
H
1
He
4
+ 2e
+
+ + (12.4)

Reaksi berantai yang disebut reaksi proton proton (PP) ini menghasilkan
energi yang sangat besar, karena ada massa yang berubah menjadi energi,
sehingga cenderung meningkatkan temperatur.
Besarnya massa yang diubah menjadi energi dapat diketahui dari
perbedaan massa empat proton dengan satu helium. Massa 4 proton adalah
4 x 1,0079 sma = 4,0316 sma. Sma adalah Satuan Massa Atom (Atomic
Mass Unit) yang setara dengan 1,66 x 10
-27
kg. Massa satu inti Helium (yang
terdiri dari 2 proton dan 2 neutron) adalah 4,0026 sma. Artinya ada massa
yang hilang menjadi energi sebesar 0,029 sma atau sekitar 0,7% dari massa
empat proton. Kemudian energi yang tercipta dapat dihitung dengan
menggunakan rumus kesetaraan massa dan energi yang merupakan
konsekuensi dari teori relativitas umum Einstein:

2
mc E
(12.5)

(12.5)
(12.4)

150 RADIO AKTIVITAS DAN REAKSI INTI

Di dalam rumus itu m adalah massa yang hilang ketika terjadi reaksi inti
dan c adalah kecepatan cahaya di ruang hampa. Temperatur yang lebih
tinggi membuat kecepatan gerak rata-rata partikel menjadi lebih tinggi
sehingga kecepatan reaksi menjadi lebih tinggi lagi. Kecepatan reaksi lebih
tinggi akan membuat produksi energi semakin cepat dan cenderung
membuat temperatur lebih tinggi lagi dan seterusnya. Sementara itu,
sebagian energi yang dihasilkan dipancarkan keluar sehingga cenderung
menurunkan temperatur. Pada saat laju energi yang tercipta dari reaksi inti
menjadi sama dengan laju energi yang terpancar keluar, laju reaksi menjadi
konstan. Pancaran radiasi yang diterima Bumi yang relatif tetap saat ini
menunjukkan bahwa Matahari berada dalam keadaan kesetimbangan,
artinya laju reaksi fusi konstan.
Reaksi Hidrogen menjadi Helium di pusat Matahari dan bintang-bintang
dapat juga dipercepat oleh karbon, nitrogen dan oksigen kalau di dalam
bintang terdapat banyak unsur-unsur tersebut. Akhir reaksinya sama yaitu
hidrogen menjadi helium, unsur C, N dan O hanya berfungsi sebagai katalis
yang mempercepat reaksi hidrogen menjadi Helium dengan
mengembalikan C, N dan O, oleh karena itu siklus reaksi itu disebut siklus
CNO. Reaksi proton menjadi helium yang melalui siklus CNO ini
diperkenalkan oleh Bethe pada tahun 1939. Rangkaian reaksi inti siklus
CNO ini adalah sebagai berikut:

6
C
12
+
1
H
1

7
N
13
+ (12.6)

7
N
13

6
C
13
+ e
+
+ (12.7)
6
C
13
+
1
H
1

7
N
14
+ (12.8)
7
N
14
+
1
H
1

8
O
15
+ (12.9)
8
O
15

7
N
15
+ e
+
+ (12.10)
7
N
15
+
1
H
1

6
C
12
+
2
He
4
(12.11)

Siklus ini membutuhkan temperatur yang lebih tinggi untuk bisa terjadi,
oleh karena itu reaksi ini hanya bisa terjadi pada bintang-bintang populasi
I yang bermassa besar dan temperatur pusatnya lebih tinggi. Bintang-
bintang populasi I yang banyak terdapat di bidang galaksi banyak
mengandung unsur C, N dan O yang diproduksi bintang-bintang generasi
sebelumnya, oleh karena itu bintang-bintang disana yang bermassa besar
bisa mengalami siklus ini dan ber-evolusi lebih cepat. Pada bintang-bintang
bermassa kecil seperti Matahari, reaksi intinya hanya sampai Helium dan
tidak akan mengalami rantai reaksi CNO.
Kumpulan massa nebula yang lebih kecil lagi mungkin malah tidak dapat
mencapai suhu yang cukup tinggi untuk memulai reaksi proton-proton,

RADIO AKTIVITAS DAN REAKSI INT 151

sehingga tidak dapat menjadi bintang yang bersinar. Apabila di dalam
awan antar bintang itu banyak terdapat unsur-unsur yang lebih berat yang
diproduksi bintang-bintang generasi sebelumnya, maka unsur-unsur berat
itu akan cenderung berkumpul di tempat yang lebih dalam, hidrogen di
bagian luar.
Kita dapat melihat planet-planet raksasa seperti Jupiter, Saturnus dan lain-
lain atmosfirnya sebagian besar terdir dari hidrogen, sementara di bagian
dalamnya diyakini terkumpul unsur-unsur yang lebih berat. Oleh karena
itu, diduga planet terbentuk dari pengerutan awan antar bintang dengan
proses yang sama dengan Matahari, namun tidak dapat sampai pada
temperatur yang cukup tinggi untuk terjadinya reaksi fusi di pusatnya.
Dari rangkaian reaksi ini dapat kita lihat bahwa atom karbon yang pertama
bereaksi dengan H kembali dihasilkan di akhir reaksi, sementara di dalam
proses, ada tambahan 3 atom H yang ikut bereaksi sehingga, secara neto,
yang bereaksi adalah :
4
1
H
1

2
He
4
+ 2e
+
+ + (12.12)
Pada reaksi ini tidak ada perubahan jumlah karbon. Jadi pada dasarnya
reaksi ini sama dengan reaksi proton-proton diatas, hanya saja, siklus ini
menggunakan karbon, nitrogen dan oksigen sebagai katalis yang
mempercepat reaksi. Pada temperatur 10 juta Kelvin hanya siklus PP saja
yang dapat berlangsung karena pada temperatur tersebut inti karbon dan
inti hidrogen belum dapat bereaksi. Siklus PP ini termasuk siklus yang
lambat, lambatnya reaksi ini merupakan salah satu penyebab panjangnya
umur bintang bermassa kecil. Pada temperatur 13 juta Kelvin, siklus CNO
baru mulai dapat berkontribusi. Pada temperatur 18 juta Kelvin energi
yang dihasilkan oleh siklus PP dan CNO kira-kira sama. Diatas temperatur
itu siklus CNO mendominasi, menjadi proses yang lebih banyak, dan proses
reaksi pembentukan helium dari hidrogen menjadi lebih cepat. Oleh karena
itu bintang yang bermassa lebih besar yang temperatur pusatnya lebih
tinggi, lebih cepat berevolusi, dan umurnya lebih pendek. Di pusat bintang
panas, siklus CNO berlangsung dengan lebih cepat dibandingkan dengan
PP.
Pada bintang yang lebih masif lagi, temperatur di pusatnya bisa lebih tinggi
lagi antara lain karena cepatnya produksi energi oleh reaksi siklus PP dan
terutama siklus CNO. Jika temperatur di pusat bintang mencapai orde
ratusan juta derajat, Helium bisa bereaksi menghasilkan unsur yang lebih
berat seperti karbon dan oksigen, misalnya melalui rangkaian reaksi yang
disebut reaksi triple alpha :

2
He
4
+
2
He
4

4
Be
8
(12.13)
(12.7)
(12.8)

152 RADIO AKTIVITAS DAN REAKSI INTI


4
Be
8
+
2
He
4

6
C
12
+ (12.14)
Dinamakan triple alpha karena melibatkan tiga inti helium, sedangkan inti
helium ini yang pernah dideteksi sebagai sinar asing yang dinamakan sinar
alpha. Pada temperatur yang lebih tinggi lagi bisa terjadi reaksi
pembentukan oksigen sebagai berikut :
6
C
12
+
2
He
4

8
O
16
+ (12.15)
Dengan demikian pada inti bintang yang bermassa lebih besar dari
Matahari dapat terjadi produksi unsur-unsur yang lebih berat dari Helium.
Jika mengingat bahwa atom-atom yang pertama terbentuk di alam semesta
ini setelah ledakan besar adalah hidrogen, sementara di dalam tubuh kita
banyak terdapat atom karbon, nitrogen, oksigen dan lain-lain, dapat diduga
bahwa unsur-unsur selain hidrogen di dalam tubuh kita dahulu dibentuk di
pusat bintang masif.
Jumlah energi yang dihasilkan dari reaksi inti tiap satuan waktu di pusat
bintang sama dengan daya yang dipancarkan (luminositas) Matahari.
Dengan demikian, jika kita dapat mengukur jumlah energi Matahari yang
sampai atmosfir Bumi tiap detik tiap meter persegi, maka kita dapat
menghitung energi total yang diproduksi oleh pusat Matahari setiap detik,
dan kemudian dapat juga menghitung laju pengurangan massa Matahari
karena diubah menjadi energi.
Fluks energi (daya per satuan luas) Matahari di sekitar Bumi, yang disebut
juga konstanta Matahari adalah kurang lebih f = 1380 joule/(m
2
dt). Maka
daya total yang menembus bola yang berpusat di Matahari dan berjari-jari
sama dengan jarak Bumi-Matahari adalah :
f d L
2
4
(12.16)
Di dalam persamaan diatas 4d
2
adalah luas permukaan bola yang berjari-
jari d yaitu jarak Bumi-Matahari, yang sekitar 150 juta km. Dengan
demikian kita dapat menghitung daya Matahari. Jumlah ini sama dengan
yang diproduksi oleh pusat Matahari dari reaksi hidrogen menjadi helium,
sebab Matahari berada dalam keadaan setimbang thermal. Yang dimaksud
dengan setimbang thermal adalah temperatur di setiap lapisan Matahari
kurang lebih konstan untuk jangka waktu yang cukup panjang.
Selain memproduksi helium reaksi ini juga mengubah 0,7% massanya
menjadi energi, sehingga massa yang hilang tiap satuan waktu dapat
dihitung dan banyaknya hidrogen yang berubah menjadi helium juga dapat
dihitung. Akhir riwayat bintang adalah ketika 10% massa hidrogen sudah
berubah menjadi helium, dengan demikian kala waktu hidup Matahari
dapat dihitung.

RADIO AKTIVITAS DAN REAKSI INT 153



Sinar kosmik
Sinar kosmik sebenarnya adalah partikel subatomik yang datang dari
angkasa. Sinar kosmik yang terdeteksi di Bumi kebanyakan merupakan
partikel yang terbentuk di atmosfir atas, dari tumbukan partikel
bermuatan dari angkasa luar. Partikel bermuatan yang berasal dari
Matahari atau dari bintang-bintang di galaksi menghantam atmosfir Bumi
dengan kecepatan sangat tinggi. Kecepatan angin Matahari berkisar antara
1,2 juta hingga 3 juta km/jam, kecepatan proton yang berasal dari bintang-
Contoh Soal:
Dari pengukuran fluks energi Matahari di Bumi, dan rumus kesetaraan
massa - energi Einsten dan perkiraan bahwa Matahari berada di akhir
riwayat hidupnya ketika massa helium yang terkumpul di pusatnya
10% dari massa matahari, para astronom dapat memperkirakan kala
hidup matahari. Berapakah usia matahari ketika riwayatnya berakhir,
dihitung sejak kelahirannya?
Jawab :
Fluks energi radiasi matahari di sekitar Bumi f = 1380 joule/(m
2
dt)
Maka Luminositas Matahari :
L

= 4d
2
f=3,910
26
joule/detik
Energi ini berasal massa yang hilang dari reaksi fusi, jadi massa yang
hilang dapat dihitung dengan menggunakan persamaan Einstein :
E=mc
2

diperoleh massa yang hilang tiap detik 4,3 juta ton atau 1,37 10
17

kg/tahun.
Massa matahari M

= 1,99 10
30
kg. Sepuluh persen dari Massa ini
1,99 10
29
kg.
Prosentase massa yang hilang dari reaksi hidrogen menjadi helium
adalah 0,7%, maka banyaknya massa yang berubah menjadi energi
selama hidup Matahari adalah
0,7% 1,99 10
29
kg = 1,39 10
27
kg
Massa sejumlah itu dihabiskan dalam waktu :
atau 10 milyar tahun.

154 RADIO AKTIVITAS DAN REAKSI INTI

bintang lain di galaksi jauh lebih tinggi lagi sehingga ketika menumbuk
partikel di atmosfir, bisa terjadi pecahan berupa partikel lain yang lebih
kecil dan berumur pendek. Partikel-partikel berumur pendek itulah yang
kebanyakan kita kenal sebagai sinar kosmik, dan dapat terdeteksi oleh
kamera pada saat kita memotret benda langit lain.
Awal penemuan sinar kosmik adalah ketika kadang orang mendeteksi
adanya berkas cahaya berupa garis tipis dan terang pada film di dalam
kamera, padahal shuter kamera dalam keadaan tertutup, artinya ada
berkas cahaya yang dapat menembus shutter dan dinding kamera. Makin
tinggi posisi orang yang membawa kamera, semakin sering pula terdeteksi
berkas sinar itu, sehingga orang yakin bahwa sinar itu berasal dari angkasa,
itu sebabnya disebut sinar kosmik. Sinar kosmik jelas bukan gelombang
cahaya, karena dapat menembus shutter kamera dan tidak menyebar,
melainkan lebih mirip benda kecil yang melintas. Namun karena sudah
terlanjur dianggap sebagai sinar, maka penamaannya tetap sinar kosmik.
Sifat-sifat benda kecil sinar kosmik itu berbeda dengan partikel-partikel
elementer yang dikenal seperti proton, elektron dan neutron. Orang
menduga bahwa partikel sinar kosmik itu adalah pecahan inti atom. Maka
mulailah orang memanfaatkan sinar kosmik untuk mempelajari partikel-
partikel yang merupakan komponen pembentuk proton, dan neutron.
Sinar kosmik yang datang dari angkasa tidak menentu, kadang ada, kadang
tidak, arah datangnya pun tidak bisa diprediksi. Hal ini menyulitkan
pengukuran dalam penelitian. Kemudian orang mencoba membuat sinar
kosmik buatan dengan cara mempercepat gerak proton sehingga setara
dengan proton yang datang dari angkasa luar ke atmosfir, lalu
menumbukkannya dengan proton lain. Dengan cara itu para fisikawan bisa
mendapatkan partikel seperti partikel sinar kosmik dengan lebih
terkendali dan dalam jumlah banyak, tanpa harus menunggu datangnya
sinar kosmik dari langit yang tidak menentu.
Bagaimana cara mempercepat proton? Para fisikawan partikel pun
merancang akselerator yaitu alat untuk mempercepat partikel. Saat ini
akselerator partikel terbesar di dunia adalah LHC (Large Hadron Collider)
di perbatasan Swiss dan Perancis. Keliling akselerator itu adalah 27 km.
Kemampuannya luar biasa hebat, dapat mempercepat proton hingga
99,999999% kecepatan cahaya. Setelah mencapai kecepatan itu
ditembakkan proton-proton lain dari arah berlawanan. Sebagian kecil dari
proton-proton itu akan bertumbukan dan pecah. Pecahannya itu kemudian
dideteksi dan diukur karakteristiknya, seperti massanya, muatannya, kala
hidupnya dan lain-lain.


RADIO AKTIVITAS DAN REAKSI INT 155

Soal-soal
1. (OSKK 2010) Energi Matahari dibangkitkan oleh reaksi fusi
thermonuklir dibagian pusatnya. Proses thermonuklir mengubah
empat inti A menjadi inti lebih berat dan mengeluarkan sejumlah
energi. Apakah inti A itu ?
a. Hidrogen
b. Helium
c. Oksigen
d. Karbon
e. Uranium

2. (OSKK 2010) Sumber energi bintang berkaitan dengan
a. reaksi atom di korona bintang
b. reaksi nuklir di inti bintang
c. reaksi atom di atmosfer bintang
d. pembakaran elemen hingga menjadi radioaktif
e. pembakaran unsur berat


159


Lampiran
DAFTAR RUMUS

1. Luminositas matahari :
4 2
4
ef
T R L o t =
2.
Luminositas bintang :
4 2
4
- - -
=
ef
T R L o t

3. Fluks pancaran yang diterima di bumi
2
4 d
L
E
t
= , L = luminositas
bintang, d = jarak bintang.
4. Kecepatan gerak sebuah benda dalam lintasan elips dengan
setengah sumbu panjang a, dan pada jarak r dari M:
|
.
|

\
|
=
a r
GM v
1 2
2
2

5. Jarak terjauh dua benda yang saling mengitari dengan lintasan elips
yang eksentrisitasnya e adalah r = a (e+1)
6. Jarak terdekat dua benda yang saling mengitari dengan lintasan
elips yang eksentrisitasnya e adalah r = a (e-1)
7. Beda magnitudo dua bintang:
2
1
2 1
log 5 . 2
E
E
m m = ,
dimana: m
1
& m
2
masing-masing adalah magnitudo semu bintang 1
& 2; E
1
& E
2
adalah fluks bintang 1 & 2 yang diterima pengamat.
8. Modulus jarak:
d M m log 5 5+ = ,
dimana: m, M & d masing-masing adalah magnitudo semu,
magnitudo absolut & jarak bintang.
9. Hukum Wien
] [
2898 , 0
] [
max
K T
cm
o
=

LAMPIRAN 160


DAFTAR KONSTANTA
Massa Bumi (
B
M ) 5,97 x 10
24
kg
Massa Matahari ( M) 1,99 x 10
30
kg
Massa Bulan 7,34 x 10
22
kg
Massa Mars 6,424 10
23
kg
Radius Bulan 1738 km

Radius Mars 3396 km
Radius Jupiter 71492 km
Radius Bumi 6,37 x 10
6
m

Radius Matahari 6,96 x 10
8
m
Satu tahun sideris 365,256 hari = 3,16 x 10
7
detik
Temperatur efektif Matahari 5880 K
Kecepatan orbit Bumi (mengitari
matahari)
2,98 10
4
meter/det
Tahun cahaya, ly 9,5 10
15
menit
Jarak bumi matahari (1SA) 150 juta km
Jarak Matahari-Jupiter rata-rata 5,2 SA
Jarak rata-rata bumi bulan 384 000 km
Jejari matahari 700 000 km
Jejari bumi 6378 km
Konstanta gravitasi umum (G) 6,68 x 10
-11
Nm
2
/kg
2

Daya pisah mata manusia 15 detik busur
Kecepatan cahaya di ruang hampa 300 000 km/detik
Percepatan gravitasi di permukaan
Bumi
9,8 meter/detik
2

F
bolometrik Matahari
6,28 x 10
7
J dt
1
m
2

Konstanta radiasi Matahari 1,368 x 10
3
J m
2

Konstanta Stefan Boltzmann, o 5,67 x 10
8
J dt
1
m
2
K
4



LAMPIRAN 161


Tabel Konversi
1 0.1 nm
1 barn 10
-28
m
2

1 gauss 10
-4
tesla
1 erg = 1dyne cm 10
-7
Joule
1 watt 1 J s
-1
= 1 kg m
2
s
-3
1 esu 3.3356 10
-10
C
1 amu (atomic mass unit) g 10 6606 . 1
24

1 atm (atmosphere) 101,325 Pa = 1.01325 bar

1 dyne 10
-5
N



157


REFERENSI

Abdullah M., 2006, Fisika 1A SMA dan MA untuk kelas X Semester I, Penerbit
ESIS, Jakarta
Abdullah M., 2006, Fisika 1B SMA dan MA untuk kelas X Semester II,
Penerbit ESIS, Jakarta
Abdullah M., 2006, Fisika 2B SMA dan MA untuk kelas XI Semester II,
Penerbit ESIS, Jakarta
Abdullah M., 2006, Fisika 3A SMA dan MA untuk kelas XII Semester I,
Penerbit ESIS, Jakarta
Abdullah M., 2007, Fisika 3B SMA dan MA untuk kelas XII Semester II,
Penerbit ESIS, Jakarta
Aprilia, Indrajaya B., Dermawan B. et al., 2013, Soal dan Jawaban Olimpiade
Astronomi 1, editor Chatief Kunjaya, Penerbit Trisula Adisakti, Jakarta
Kanginan M., 2006, Fisika 2 untuk SMA/MA kelas XI, Penerbit Erlangga,
Jakarta
Kunjaya C., Herdiwijaya D., Dawanas D.N. et al., 2013, Soal dan Jawaban
Olimpiade Astronomi 2, editor Chatief Kunjaya, Penerbit Trisula
Adisakti, Jakarta
Kunjaya, C., Suhardja, D.W., Dawanas N.D., Radiman I., Siregar S., dan
Herdiwijaya D., 2010, Bahan Ajar Menuju Olimpiade Sains
Nasional/Internasional Astronomi, Tim Pembina Olimpiade
Astronomi, Bandung.
Sutantyo W., 2009, Bintang-bintang di Alam Semesta, Penerbit ITB,
Bandung

REFERENSI 158

Peraturan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan no. 69 tahun 2003 tentang
Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum Sekolah Menengah Atas /
Madrasah Aliyah
http://apod.nasa.gov/apod/ap071009.html
http://astronomyonline.org/astrophotography/ccd.asp
http://certificate.ulo.ucl.ac.uk
http://coolcosmos.ipac.caltech.edu.
http://csep10.phys.utk.edu/astr162/lect/light/spectrum.html
http://hubllesite.org/
http://spacemath.gsfc.nasa.gov/
http://spaceweather.com/glossary/sunspotnumber.html
http://stargazers.gsfc.nasa.gov/images/geospace_images/magnet_in_space/
Plasma_fountain.jpg
http://www.jpl.nasa.gov/images/voyager/20110427/voyager20110427-
full.jpg
http://www.me-church.org/calendar.php
http://www.mmastrosociety.com/images/planets/orbit.jpeg