Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN

FRAKTUR PELVIS








Disusun Oleh :
MASYKUR KHAIR



PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2014

FRAKTUR PELVIS

A. Pengertian
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang yang ditandai oleh rasanyeri,
pembengkakan, deformitas, gangguan fungsi, pemendekan, dan krepitasi. Fraktur
adalah terputusnya jaringan tulang/tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh ruda
paksa. Sehingga fraktur pelvis dapat dikatakan sebagai trauma tulang rawan pada pelvis
yang disebabkan oleh ruda paksa, misal : kecelakaan, benturan hebat yang ditandai oleh
rasa nyeri, pembengkakan, deformitas, dan lain-lain.
Fraktur pelvis merupakan 5 % dari seluruh fraktur. 2/3 trauma pelvis terjadi akibat
kecelakaan lalu lintas. 10% diantaranya disertai trauma pada alat-alat dalam rongga
panggul seperti uretra, buli-buli, rektum serta pembuluh darah.
Fraktur pelvis berhubungan dengan injuri arteri mayor, saluran kemih bagian
bawah, uterus, testis, anorektal dinding abdomen, dan tulang belakang. Dapat
menyebabkan hemoragic (pelvis dapat menahan sebanyak 4 liter darah) dan
umumnya timbul manifestasi klinis seperti hipotensi, nyeri dengan penekanan pada
pelvis, perdarahan peritoneum atau saluran kemih.
Fraktur pelvis berkekuatan-tinggi merupakan cedera yang membahayakan jiwa.
Perdarahan luas sehubungan dengan fraktur pelvis relatif umum namun terutama lazim
dengan fraktur berkekuatan-tinggi. Kira-kira 1530% pasien dengan cedera pelvis
berkekuatan-tinggi tidak stabil secara hemodinamik, yang mungkin secara langsung
dihubungkan dengan hilangnya darah dari cedera pelvis. Perdarahan merupakan
penyebab utama kematian pada pasien dengan fraktur pelvis, dengan keseluruhan
angka kematian antara 6-35% pada fraktur pelvis berkekuatan-tinggi rangkaian besar.

B. Manifestasi Klinis
Fraktur panggul sering merupakan bagian dari salah satu trauma multipel yang
dapat mengenai organ-organ lain dalam panggul. Keluhan berupa gejala
pembengkakan, deformitas serta perdarahan subkutan sekitar panggul. Penderita
datang dalam keadaan anemia dan syok karena perdarahan yang hebat.
Pengkajian awal yang perlu dilakukan adalah riwayat kecelakaan sehingga luasnya
trauma tumpul dapat diperkirakan. Sedangkan untuk trauma penetrasi, pengkajian yang
perlu dilakukan adalah posisi masuknya dan kedalaman. Klien dapat menunjukkan
trauma abdomen akut. Pada kedua tipe trauma terjadi hemoragi baik baik internal
maupun eksternal. Jika terjadi rupture perineum, manifestasi peritonitis berisiko
muncul,seluruh drainase abdomen perlu dikaji untuk mengetahui isi drainase tersebut.
Bilas abdomen umumnya dilakukan untuk mengkaji adanya perdarahan diseluruh
abdomen yang mengalami luka, dengan cara memasukkan cairan kristaloid ke dalam
rongga peritoneum diikuti dengan paracentesis (rainase isi abdomen).Catat dan
dokumentasikan warna dan jumlah drainase.

C. Etiologi
1. Trauma langsung: benturan pada tulang dan mengakibatkan fraktur pada tempat
tersebut.
2. Trauma tidak langsung: bilamana titik tumpul benturan dengan terjadinya fraktur
berjauhan.
3. Proses penyakit: kanker dan riketsia.
4. Compresion force: klien yang melompat dari tempat ketinggian dapat
mengakibatkan fraktur kompresi tulang belakang.
5. Muscle (otot): akibat injuri/sakit terjadi regangan otot yang kuat sehingga dapat
menyebabkan fraktur (misal; elektrik shock dan tetani).

D. Patofisiologi
Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekuatan dan gaya pegas untuk
menahan. Tapi apabila tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang dapat
diserap tulang, maka terjadilah trauma pada tulang yang mengakibatkan rusaknya atau
terputusnya kontinuitas tulang. Setelah terjadi fraktur, periosteum dan pembuluh darah
serta saraf dalam korteks, marrow, dan jaringan lunak yang membungkus tulang rusak.
Perdarahan terjadi karena kerusakan tersebut dan terbentuklah hematoma di
rongga medula tulang. Jaringan tulang segera berdekatan ke bagian tulang yang patah.
Jaringan yang mengalami nekrosis ini menstimulasi terjadinya respon inflamasi yang
ditandai dengan vasodilatasi, eksudasi plasma dan leukosit, dan infiltrasi sel darah
putih. Kejadian inilah yang merupakan dasar dari proses penyembuhan tulang nantinya
Trauma biasanya terjadi secara langsung pada panggul karena tekanan yang besar
atau karena jatuh dari ketinggian. Pada orang tua dengan osteoporosis dan
osteomalasia dapat terjadi fraktur stress pada ramus pubis.

E. Klasifikasi
Menurut Marvin Tile disruption of pelvic ring dibagi :
1. Stable (Tipe A)
2. Unstable (Tipe B)
3. Miscellaneous (Tipe C)
Fraktur Tipe A : pasien tidak mengalami syok berat tetapi merasa nyeri bila
berusaha berjalan. Terdapat nyeri tekan lokal tetapi jarang terdapat kerusakan pada
visera pelvis. Fraktur Tipe B dan C: pasien mengalami syok berat, sangat nyeri dan tidak
dapat berdiri, serta juga tidak dapat kencing. Kadang kadang terdapat darah di
meatus eksternus. Nyeri tekan dapat bersifat lokal tetapi sering meluas, dan jika
menggerakkan satu atau kedua ala ossis ilium akan sangat nyeri.


F. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan radiologis:
a. Setiap penderita trauma panggul harus dilakukan pemeriksaan radiologis dengan
prioritas pemeriksaan rongent posisi AP.
b. Pemeriksaan rongent posisi lain yaitu oblik, rotasi interna dan eksterna bila
keadaan umum memungkinkan.
2. Pemeriksaan urologis dan lainnya:
a. Kateterisasi
b. Ureterogram
c. Sistogram retrograd dan postvoiding
d. Pielogram intravena
e. Aspirasi diagnostik dengan lavase peritoneal

G. Penatalaksanaan
1. Tindakan operatif bila ditemukan kerusakan alat alat dalam rongga panggul
2. Stabilisasi fraktur panggul, misalnya:
a. Fraktur avulsi atau stabil diatasi dengan pengobatan konservatif seperti istirahat,
traksi, pelvic sling
b. Fraktur tidak stabil diatasi dengan fiksasi eksterna atau dengan operasi yang
dikembangkan oleh grup ASIF
Berdasarkan klasifikasi Tile:
1. Fraktur Tipe A: hanya membutuhkan istirahat ditempat tidur yang dikombinasikan
dengan traksi tungkai bawah. Dalam 4-6 minggu pasien akan lebih nyaman dan bisa
menggunakan penopang.
2. Fraktur Tipe B:
1. Fraktur tipe open book
Jika celah kurang dari 2.5cm, diterapi dengan cara beristirahat ditempat tidur,
kain gendongan posterior atau korset elastis. Jika celah lebih dari 2.5cm dapat
ditutup dengan membaringkan pasien dengan cara miring dan menekan ala ossis
ilii menggunakan fiksasi luar dengan pen pada kedua ala ossis ilii.
2. Fraktur tipe close book
Beristirahat ditempat tidur selama sekitar 6 minggu tanpa fiksasi apapun bisa
dilakukan, akan tetapi bila ada perbedaan panjang kaki melebihi 1.5cm atau
terdapat deformitas pelvis yang nyata maka perlu dilakukan reduksi dengan
menggunakan pen pada krista iliaka.
3. Fraktur Tipe C
Sangat berbahaya dan sulit diterapi. Dapat dilakukan reduksi dengan traksi kerangka
yang dikombinasikan fiksator luar dan perlu istirahat ditempat tidur sekurang
kurangnya 10 minggu. Kalau reduksi belum tercapai, maka dilakukan reduksi secara
terbuka dan mengikatnya dengan satu atau lebih plat kompresi dinamis.

H. Komplikasi
1. Komplikasi segera
a. Trombosis vena ilio femoral : sering ditemukan dan sangat berbahaya. Berikan
antikoagulan secara rutin untuk profilaktik.
b. Robekan kandung kemih : terjadi apabila ada disrupsi simfisis pubis atau tusukan
dari bagian tulang panggul yang tajam.
c. Robekan uretra : terjadi karena adanya disrupsi simfisis pubis pada daerah uretra
pars membranosa.
d. Trauma rektum dan vagina
e. Trauma pembuluh darah besar yang akan menyebabkan perdarahan masif sampai
syok.
f. Trauma pada saraf :
1) Lesi saraf skiatik : dapat terjadi pada saat trauma atau pada saat operasi.
Apabila dalam jangka waktu 6 minggu tidak ada perbaikan, maka sebaiknya
dilakukan eksplorasi.
2) Lesi pleksus lumbosakralis : biasanya terjadi pada fraktur sakrum yang bersifat
vertikal disertai pergeseran. Dapat pula terjadi gangguan fungsi seksual apabila
mengenai pusat saraf.
2. Komplikasi lanjut
a. Pembentukan tulang heterotrofik : biasanya terjadi setelah suatu trauma jaringan
lunak yang hebat atau setelah suatu diseksi operasi. Berikan Indometacin sebagai
profilaksis.
b. Nekrosis avaskuler : dapat terjadi pada kaput femur beberapa waktu setelah
trauma.
c. Gangguan pergerakan sendi serta osteoartritis sekunder : apabila terjadi fraktur
pada daerah asetabulum dan tidak dilakukan reduksi yang akurat, sedangkan
sendi ini menopang berat badan, maka akan terjadi ketidaksesuaian sendi yang
akan memberikan gangguan pergerakan serta osteoartritis dikemudian hari.
d. Skoliosis kompensator

I. Fokus Pengkajian
Menurut Doengoes, ME (2000) pengkajian fraktur meliputi :
1. Aktivitas/istirahat
Tanda : Keterbatasan/ kehilangan fungsi pada bagian yang terkena (mungkin segera,
fraktur itu sendiri, atau trjadi secara sekunder, dari pembengkakan jaringan, nyeri)
2. Sirkulasi
Gejala : Hipertensi (kadang-kadang terlihat sebagai respon terhadap nyeri/ansietas),
atau hipotensi (kehingan darah)
3. Neurosensori
Gejala : Hilang gerak/sensasi,spasme otot, Kebas/kesemutan (parestesis)
Tanda : Demormitas local; angulasi abnormal, pemendakan, ratotasi, krepitasi (bunyi
berderit, spasme otot, terlihat kelemahan atau hilang fungsi).
4. Nyeri/kenyamanan
Gejala : Nyeri berat tiba-tiba pada saat cidera (mungkin terlokalisasi pada ara
jaringan/kerusakan tulang; dapat berkurang pada imobilisasi) tak ada nyeri akibat
kerusakan saraf.
5. Penyuluhan/Pembelajaran
Gejala : Lingkungan cidera
Pertimbangan : DRG menunjukkan rerata lama dirawat : femur 7-8 hari,
panggul/pelvis 6-7 hari, lain-lainya 4 hari bila memerlukan perawatan dirumah sakit
6. Rencana pemulangan :
Membutuhkan dengan transportasi, aktivitas perawatan diri, dan
tugas/pemeliharaan rumah.

J. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri (biologi, kimia, fisik, psikologis),
kerusakan jaringan
2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kehilangan integritas struktur tulang,
gangguan metabolisme sel, kerusakan muskuloskletal dan neuromuskuler, nyeri.
3. Resiko infeksi berhubungan dengan kerusakan jaringan dan peningkatan paparan
lingkungan, prosedur infasif, pertahanan primer yang tidak adekuat (kerusakan kulit,
trauma jaringan)

K. Intervensi Keperawatan
1. Nyeri akut (00132)
Definisi : sensori yang tidak menyenangkan dan pengalaman emosional yang timbul
dari kerusakan jaringan aktual atau potensial atau penggambaran dari kerusakan
(International association for the study of pain); yang terjadi tiba-tiba atau secara
pelan-pelan dari intensitas ringan hingga berat dengan diantisipasi atau dapat
diprediksi dan dalam waktu kurang dari 6 bulan.
Defining characteristics :
a. Perubahan respirasi (normalnya 12-20x/menit)
b. Laporan secara verbal dari pasien
NOC (Nursing Outcome Classifications) :
a. Comfort level (tingkat kenyamanan)
Definisi : Perasaan fisik dan psikologi yang tenang
Indikator :
1) Melaporkan kesejahteraan fisik
2) Melaporkan kepuasan dengan kontrol gejala
3) Melaporkan kesejahteraan psikologis
4) Mengekspresikan kepuasan dengan kontrol nyeri
b. Pain Control (kontrol nyeri)
Definisi : Tindakan seseorang untuk mengatasi nyeri

Indikator :
1) Mengenal penyebab nyeri
2) Mengenal onset nyeri
3) Menggunakan tindakan pencegahan
4) Menggunakan pertolongan non-analgetik
5) Menggunakan analgetik dengan tepat
6) Mengenal tanda-tanda pencetus nyeri untuk mencari pertolongan
7) Menggunakan sumber-sumber yang ada
8) Mengenal gejala nyeri
9) Melaporkan gejala-gejala kepada tenaga kesehatan profesional
10) Melaporkan kontrol nyeri
c. Pain Level (Tingkat nyeri)
Definisi : Gambaran nyeri atau nyeri yang ditunjukkan
Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam pada pasien
dengan gangguannyeri akut dapat teratasi dengan kriteria :
1) Melaporkan nyeri berkurang
2) Tidak menununjukkan ekspersi wajah menahan nyeri
3) Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan tehnik
nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan)
4) Tidak mual
5) Tanda vital dalam rentang normal
Nursing Intervention Classification (NIC) Pain Acute
Intervensi
a. Kaji secara komphrehensif tentang nyeri, meliputi: lokasi, karakteristik dan onset,
durasi, frekuensi, kualitas, intensitas/beratnya nyeri, dan faktor-faktor presipitasi
b. Observasi isyarat-isyarat non verbal dari ketidaknyamanan, khususnya dalam
ketidakmampuan untuk komunikasi secara efektif
c. Gunakan komunikasi terapeutik agar pasien dapat mengekspresikan nyeri
d. Tentukan dampak dari ekspresi nyeri terhadap kualitas hidup: pola tidur, nafsu
makan, aktifitas kognisi, mood, relationship, pekerjaan, tanggungjawab peran
e. Berikan informasi tentang nyeri, seperti: penyebab, berapa lama terjadi, dan
tindakan pencegahan
f. Kontrol faktor-faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon pasien
terhadap ketidaknyamanan (ex: temperatur ruangan, penyinaran, dll)
g. Ajarkan penggunaan teknik non-farmakologi (ex: relaksasi, guided imagery, terapi
musik, distraksi, aplikasi panas-dingin, massase, TENS, hipnotis, terapi bermain,
terapi aktivitas, akupresusure)
h. Tingkatkan tidur/istirahat yang cukup
i. Modifikasi kontrol nyeri sesuai respon pasien
j. Kolaborasi : Beri analgetik sesuai dengan indikasi

2. Gangguan mobilitas fisik (00085)
Definisi : keterbatasan pada kemandirian, pergerakan fisik dari tubuh dengan
maksud tertentu atau dari salah satu atau lebih dari ekstremitas.
Defining characteristics :
a. Keterbatasan pergerakan
b. Keterbatasan kemampuan untuk melakukan gerak yang benar
Faktor yang berhubungan :
a. Intoleransi aktivitas
b. Kehilangan integritas dari struktur tulang
c. Gangguan musculoskeletal
d. Nyeri
e. Pembatasan bergerak sesuai medikasi dari medis
NOC (Nursing Outcome Classifications):
a. Joint Movement : Active, Range of Motion pada sendi
b. Mobility Level : Kemampuan untuk bergerak dengan tujuan tertentu
c. Transfer performance
Setelah dilakukan tindakan keperawatan gangguan mobilitas fisik teratasi dengan
kriteria hasil :
1) Klien meningkat dalam aktivitas fisik
2) Mengerti tujuan dari peningkatan mobilitas
3) Memverbalisasikan perasaan dalam meningkatkan kekuatan dan kemampuan
berpindah
4) Memperagakan penggunaan alat Bantu untuk mobilisasi (walker)
Nursing Intervention Classification (NIC) Gangguan Mobilitas Fisik
a. Perawatan Bed Rest
Definisi: dukungan kenyamanan dan keamanan dan pencegahan komplikasi pada
pasien yang tidak mampu untuk turun dari tempat tidur
Aktivitas
1) Jelaskan alasan mengapa pasien perlu bed rest
2) Jaga linen kasur tetap bersih, kering dan bebas dari kerutan
3) Gunakan perlengkapan pelindung bagi pasien pada bed
4) Monitor kondisi kulit
5) Melakukan latihan rentang gerak aktif dan pasif
6) Tingkatkan kebersihan
7) Bantu aktivitas sehari-hari pasien
8) Monitor fungsi perkemihan
9) Monitor terhadap konstipasi
10) Monitor status pernafasan
b. Pengaturan posisi
Definisi: penentuan penempatan pasien atau bagian tubuh pasien untuk
mendukung fisik dan psikologis yang baik
Aktivitas
1) Membantu pasien dalam perubahan posisi
2) Monitor status oksigen/pernafasan sebelum dan setelah perubahan posisi
dilakukan
3) Pemberian dukungan pada bagian tubuh yang perlu diimobilisasikan
4) Fasilitasi posisi yang mendukung ventilasi/perfusi
5) Lakukan latihan rentang gerak pasif dan aktif
6) Cegah penempatan pasien pada posisi yang dapat meningkatkan nyeri
7) Minimalkan gesekan ketika positioning
8) Posisikan pasien pada posisi yang mendukung drainase perkemihan
9) Posisikan pada posisi yang dapat mencegah penekanan pada luka
10) Instruksikan pasien terkait bagaimana postur yang baik
11) Atur jadwal perubahan posisi pada pasien
3. Resiko infeksi (00004)
Definisi : terjadi peningkatan resiko terhadap terjangkitnya organisme patogenik
Faktor resiko :
a. Pertahanan primer yang inadekuat (kerusakan kulit, jaringan traumatis)
b. Prosedur invasif
c. Trauma
NOC (Nursing Outcome Classifications):
a. Immune Status : ketahanan (natural dan didapat) yang adekuat terhadap antigen
eksternal dan internal.
b. Knowledge : Infection control, Peningkatan pemahaman mengenai pencegahan
dan kontrol infeksi
c. Risk control : Tindakan untuk menghilangkan dan mengurangi ancaman kesehatan
yang aktual, personal, dan modifikasi
Setelah dilakukan tindakan keperawatan pasien tidak mengalami infeksi dengan
kriteria hasil:
a. Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi
b. Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi
c. Jumlah leukosit dalam batas normal
d. Menunjukkan perilaku hidup sehat
e. Status imun, gastrointestinal, genitourinaria dalam batas normal
Nursing Intervention Classification (NIC) Resiko Infeksi
a. Kontrol Infeksi
Definisi: Meminimalkan paparan dan transmisi agen infeksi
Aktivitas
1) Bersikan lingkungan secara tepat setelah digunakan oleh pasien
2) Ganti peralatan pasien setiap selesai tindakan
3) Gunakan sarung tangan steril
4) Lakukan perawatan aseptic pada semua jalur IV
5) Lakukan teknik perawatan luka yang tepat
6) Anjurkan istirahat
7) Berikan terapi antibiotik
b. Infection Protection (proteksi terhadap infeksi)
Definisi: Pencegahan dan deteksi dini infeksi pada pasien yang beresiko
Aktivitas
1) Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal
2) Monitor angka granulosit, WBC dan hasil yang berbeda
3) Partahankan teknik aspesis pada pasien yang beresiko
4) Berikan perawatan kulit yang tepat pada area edematous
5) Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan, panas, atau
drainase
6) Ispeksi kondisi luka
7) Dukungan masukkan nutrisi yang cukup
8) Dukungan masukan cairan
9) Instruksikan pasien untuk minum antibiotik sesuai resep
c. Skin surveillance/pengawasan terhadap kulit
Definisi: Mengkoleksi dan menganalisis data pasien untuk mempertahankan
integritas kulit dan membran mukosa
Aktivitas
1) Mengamati ekstremitas terhadap kemerahan, panas, bengkak, tekanan,
tekstur, edema dan ulserasi
2) Mengamati kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan, panas yang
ekstrim, atau drainase
3) Monitor terhadap sumber penekanan dan friksi/gesekan
4) Monitor terhadap infeksi
d. Perawatan luka
Definisi: Mencegah komplikasi luka dan meningkatkan kesembuhan
Aktivitas
1) Monitor karakteristik luka meliputi drainase, warna, ukuran dan bau
2) Pertahankan teknik steril dalam perawatan luka
3) Inspeksi luka setiap melakukan pergantian dreesing
4) Atur posisi untuk mencegah tekanan pada daerah luka
5) Tingkatkan intake cairan
6) Ajarkan pada pasien/anggota keluarga tentang prosedur perawatan luka
7) Ajarkan pada pasien/anggota keluarga tentang tanda dan gejala infeksi
8) Dokumentasikan lokasi luka, ukuran, dan penampakannya.

DAFTAR PUSTAKA

Herdman, T. Heather.2009. Nursing Diagnoses : Definitions and Classification 2009-2011.
USA : Wiley-Blackwell.

Johnson, M., Mass, M., Moorhead, S., 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC) second
Edition. Missouri : Mosby

Dochterman, Joanne M., Bulecheck, Gloria N.2003.Nursing Intervention classification (NIC)
4
th
Edition. Missouri : Mosby.

Marylin E. Doenges. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan
dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3. Penerbit Buku Kedoketran EGC.
Jakarta.




PENYIMPANGAN KDM FRAKTUR
Trauma langsung Trauma tidak langsung Kondisi patologis
FRAKTUR
Diskontinuitas tulang Pergeseran fragmen tulang Nyeri
Perubahan jaringan sekitar
Pergeseran fragmen
tulang
Deformitas
Gangguan fungsi
Gangguan mobilitas
fisik
Kerusakan fragmen tulng
Tekanan sumsum tulang >
tinggi dari kapiler
Reaksi stress klien
Melepaskan katekolamin
Memobilisasi asam lemak
Bergabung dgn teombosit
Emboli
Menyumbat pembuluh
darah
Laserasi kulit
Terputusnya vena/arteri
Perdarahan
Kehilangan volume
cairan
Syok hipovolemik
Kerusakan
integritas kulit
Spasme otot
Peningkatan tekanan
kapiler
Pelepasan histamin
Protein plasma hilang
Edema
Penekanan pembuluh darah
Penurunan perfusi jaringan
Gangguan perfusi
jaringan