Anda di halaman 1dari 31

Tanaman bayam diklasifikasikan sebagai berikut :

Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotiledonae
Ordo : Caryophyllales
Famili : Amaranthaceae
Genus : Amaranthus
Species : Amaranthus hybridus L

Bayam yang dalam bahasa latin ditulis: "Amaranthus spp." adalah tumbuhan yang mudah
ditanam untuk dikonsumsi daunnya sebagai sayuran hijau. Tumbuhan ini berasal dari Amerika
tropik dan sekarang tersebar ke seluruh dunia. Tumbuhan ini dikenal sebagai sayuran sumber
zat besi. Bayam tumbuh dengan baik di iklim yang hangat dan cahaya kuat, tahan terhadap
pencahayaan langsung karena merupakan tumbuhan C4 (jenis tumbuhan yang hidup di daerah
panas seperti jagung, tebu, rumput-rumputan, memiliki kebiasaan saat siang hari mereka tidak
membuka stomatanya secara penuh untuk mengurangi kehilangan air melalui
evaporasi/transpirasi). Bayam berbatang yang berair dan kurang berkayu. Daun bertangkai,
berbentuk elips, lemas, berwarna hijau, merah, atau hijau cenderung putih. Bunga tersusun
majemuk tipe tukal yang rapat, bagian bawah duduk di ketiak, bagian atas berkumpul menjadi
karangan bunga di ujung tangkai dan ketiak percabangan. Bijinya berwarna hitam, kecil dan
keras.

Jenis Bayam Konsumsi
Umumnya dikenal dua macam bayam untuk sayur: bayam petik dan bayam cabut. Bayam petik
berdaun lebar dan tumbuh tegak besar (hingga dua meter) dan daun mudanya dimakan
terutama sebagai lalapan (misalnya pada pecel, gado-gado), urap, serta digoreng setelah dibalur
tepung. Daun bayam cabut berukuran lebih kecil dan ditanam untuk waktu singkat (paling lama
25 hari) dan selebihnya daun akan mengeras dan kurang lezat jika disayur, 2 jenis bayam ini
lebih cocok untuk dibuat sup encer seperti sayur bayam dan sayur bobor. Bayam petik biasanya
berasal dari jenis A. hybridus (bayam kakap) dan bayam cabut terutama diambil dari A. tricolor
(bayam hijau, bayam putih, bayam merah). Jenis-jenis lainnya yang juga dimanfaatkan adalah A.
spinosus (bayam duri) dan A. blitum (bayam kotok).
Klasifikasi Ilmiah Bayam
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Hamamelidae
Ordo: Caryophyllales
Famili: Amaranthaceae (suku bayam-bayaman)
Genus: Amaranthus
Spesies: Amaranthus hybridus L.

Tanaman :
Nama
Indonesia
: Bayam
Nama Ilmiah : Amaranthus tricolor L.
Familia : amaranthaceae.
Uraian : Bayam berasal dari Amerika tropik. Sampai sekarang, tumbuhan ini sudah tersebar di daerah
tropis dan subtropis seluruh dunia. Di Indonesia, bayam dapat tumbuh sepanjang tahun dan
ditemukan pada ketinggian 5-2.000 m dpl, tumbuh di daerah panas dan dingin, tetapi tumbuh
lebih subur di. dataran rendah pada lahan terbuka yang udaranya agak panas. Herba setahun,
tegak atau agak condong, tinggi 0,4-1 m, dan bercabang. Batang lemah dan berair. Daun
bertangkai, berbentuk bulat telur, lemas, panjang 5-8 cm, ujung tumpul, pangkal runcing, serta
warnanya hijau, merah, atau hijau keputihan. Bunga dalam tukal yang rapat, bagian bawah
duduk di ketiak, bagian atas berkumpul menjadi karangan bunga di ujung tangkai dan ketiak
percabangan. Bunga berbentuk bulir. Bayam yang dijual di pasaran dan biasa dikonsumsi
sebagai sayuran dikenal dengan bayam cabutan atau bayam sekul. Terdapat tiga varietas
bayam yang termasuk ke dalam Amaranthus tricolor, yaitu bayam hijau biasa, bayam merah
(Blitum rubrum), yang batang dan daunnya berwarna merah, dan bayam putih (Blitum album),
yang berwarna hijau keputih-putihan. Sebagai informasi, daun dan batang bayam merah
mengandung cairan berwarna merah. Selain A. tricolor, terdapat bayam jenis lain, seperti
bayam kakap (A. hybridus), bayam duri (A.spinosus), dan bayam kotok/bayam tanah (A.
blitum). Jenis bayam yang sering dibudidayakan adalah A. tricolor dan A. hybridus sedangkan
jenis bayam lainnya tumbuh liar. Panen bayam cabut paling lama dilakukan selama 25 hari.
Setelah itu, kualitasnya akan menurun karena daunnya menjadi kaku. Bayam dapat disayur
bening, dibuat gado-gado, pecal, atau direbus untuk lalap. Kadangkadang, daun bayam yang
muda dan lebar digunakan pula sebagai bahan rempeyek. Tanaman bayam dapat diperbanyak
dengan biji.
Sifat Kimia :
Farmakologis : Secara umum, tanaman bayam dapat meningkatkan kerja ginjal dan melancarkan
pencernaan. Akar bayam merah berkhasiat sebagai obat disentri. Bayam termasuk sayuran
berserat yang dapat digunakan untuk memperlancar proses buang air besar. Makanan
berserat sangat dianjurkan untuk dikonsumsi oleh penderita kanker usus besar, penderita
kencing manis (diabetes mellitus), kolesterol darah tinggi, dan menurunkan berat badan.
Infus daun bayam merah 30% per oral dapat meningkatkan kadar besi serum, haemoglobin,
dan hematokrit kelinci yang dibuat anemia secara nyata. Peningkatan tersebut tidak
berbeda jika dibandingkan dengan kelompok kelinci yang diberi sulfas ferosus. Sebagai
pembanding, digunakan air suling.
Tanaman :
Kandungan
Kimia
: Bayam mengandung protein, lemak, karbohidrat, kalium, zat besi, amarantin, rutin, purin, dan
vitamin (A, B dan C).
Bayam yang dikenal dengan nama ilmiah Amaranthus spinosus L. Yang kini dikenal di seluruh
penjuruh dunia, berasal dari daerah Amerika tropika. Jenis jenis Amaranthus sp memiliki wujud
yang menarik dari daun daunnya yang berukuran besar, berwarna hijau dan merah, serta merah
yang keluar dari ujungnya. Ada 3 jenis (spesies) bayam yang diusahakan di kawasan Amerika Latin,
yaitu Amaranthus caudatus berkembang di Argentina, Peru, dan Bolivia ; Amarantuhs cruentus di
Guatemala ; sedangkanAmaranthus hypochondricus di Meksiko (Arief, 1990).
Negara yang menjadi pusat penyebaran bayam antara lain Papua Nugini, Taiwan, Hongkong, India,
Nigeria, Dahomey, Amerika Serikat, dan Indonesia. Bayam tersebar luas di daerah tropis dan daerah
beriklim sedang. Di Indonesia, tanaman bayam tersebar di seluruh wilayah nusantara. Tanaman
bayam ada yang tumbuh di hutan hutan, dan sebagian lagi mulai dibudidayakan di sawah,
pekarangan, sepanjang endapan lumpur atau sungai, dan ada pula yang ditanam dalam pot
(Anonim, 2012).
Tanaman bayam digolongkan ke dalam keluarga Amaranthaceae, marga Amaranthus. Sebagai
keluarga Amaranthaceae, bayam termasuk tanaman gulma yang tumbuh liar. Namun, karena
perkembangannya, manusia memanfaatkan tanaman bayam sebagai tanaman budidaya yang
mengandung gizi tinggi (Anonim, 2009). Bayam merupakan bahan sayuran dunia yang bergizi tinggi
dan digemari oleh semua lapisan masyarakat (Hendro, 1984).
Tanaman bayam semula dikenal sebagai tumbuhan hias. Dalam perkembangan bayam selanjutnya,
tanaman bayam dipromosikan sebagai bahan pangan sumber protein, terutama untuk Negara
Negara berkembang (Arief, 1990). Secara umum, tanaman bayam dapat meningkatkan kerja ginjal
dan melancarkan pencernaan. Akar bayam merah berkhasiat sebagai obat disentri. Bayam termasuk
sayuran berserat yang dapat digunakan untuk memperlancar proses buang air besar. Makanan
berserat sangat dianjurkan untuk dikonsumsi oleh penderita kanker usus besar, penderita kencing
manis (diabetes mellitus), kolesterol darah tinggi, dan menurunkan berat badan. Infus daun bayam
merah 30% per oral dapat meningkatkan kadar besi serum, haemoglobin, dan hematokrit kelinci
yang dibuat anemia secara nyata. Peningkatan tersebut tidak berbeda jika dibandingkan dengan
kelompok kelinci yang diberi sulfas ferosus. Sebagai pembanding, digunakan air suling. (Ernawati
Santoso, Fakultas Farmasi, WIDMAN, 1986).
Di duga, tanaman bayam masuk ke Indonesia pada abad XIX ketika lalu lintas perdagangan luar
negeri ke wilayah Indonesia. Pusat penanaman bayam di Indonesia adalah Jawa Barat (4.273 hektar),
Jawa Tengah (3.479 hektar), dan Jawa Timur (3.022 hektar) (Hendro, 1984). Varietas bayam unggul
ada 7 macam yaitu, Varietas Giri Hijau, Giri Merah, Maksi Raja, Betawi, Skop, dan Hijau. Bayam
merupakan bahan sayuran daun yang bergizi tinggi dan digemari oleh semua lapisan masyarakat.
Daun bayam dapat dibuat berbagai sayur mayor, bahkan disajikan sebagai hidangan mewah
(Henssayon, 1985).
Menurut Ware George and J. P MC. Collum pada bukunya Producing Vegetable Crops, sistematika
dari tanaman bayam sebagai berikut.
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Sub division : Angiospermae
Class : Dicotyledonae
Ordo : Amaranthales
Family : Amaranthaceae
Genus : Amaranthus
Species : Amaranthus spinosus L.
(Ware, 1975)
BAB III
HABITATIO
Habitus
Amaranthus spinosus L. Perawakan tanaman bayam ini bervariasi dari yang tumbuh merangkak
sampai tegak. dapat tumbuh sepanjang tahun dan ditemukan pada ketinggian 5-2.000 m dpl,
tumbuh di daerah panas dan dingin, tetapi tumbuh lebih subur di. dataran rendah pada lahan
terbuka yang udaranya agak panas. Herba setahun, tegak atau agak condong, tinggi 0,4-1 m, dan
bercabang. Berbatang basah, bulat. Daun berselang-seling,tepi helai rata, daun tunggal
dan pertulangan daunnya menyirip. Bunga majemuk bentuk bulir, muncul dari ketiak daun atau
ujung batang. Kelopak bunga nya berbentuk corong. Ujung bertaju, warna hijau. Biji bulat kecil
warna hitam. Akarnya ketika masih segar berwarna kuning abu-abu.
Habitat
Bayam duri merupakan tumbuhan liar yang diantara sema-semak, perkarangan rumah, ladang, tepi
jalan atau lahan kosong yang tidak terpelihara. Lebih menyukai lahan yang kering, seperti lahan padi
gogo atau tumbuh bersama tanaman lain dilahan yang kering. Bayam duri tumbuh baik di tempat-
tempat yang cukup sinar matahari dengan suhu udara antara 25 35 Celcius. Tanaman ini mudah
tumbuh didataran rendah sampai ketinggian 50-100 cm. Bayam duri ini, mudah berkembang dengan
bijinya yang kecil-kecil.
BAB IV
DESKRIPTIO
Organa Nutritiva
1.1.Akar ( Radix )
Amaranthus spinosus L. berupa akar tunggang, tidak berkayu ( herbaceous ) dan berwarna putih
kekuningan. Akarnya ketika masih segar berwarna kuning abu-abu.
1.2.Batang ( Caulis )
Amaranthus spinosus L. berbentuk berbatang bulat, tegak, berduri pada setiap ruasnya,termasuk
berbatang basah. Batang berwarna hijau atau kemerahan, bercabang banyak.
1.3 Daun ( Folium )
Amaranthus spinosus L. daun spesies ini termasuk daun tunggal,bundar telur, memanjang sampai
lanset, tata letak daun tersebar ( Phyllotaxis ), daun berselang-seling,bulat atau oval, menyempit
kebagian ujungnya, panjang tangkai daun 2-8 cm, berujung runcing serta urat-urat daun yang
kelihatan jelas, tulang daun menyirip,tepi daun rata, bertangkai panjang,letak berseling warnanya
hijau, merah, atau hijau keputihan, mmbentuk bundar telur memanjang (ovalis). Panjang daun 1,5
cm sampai 6,0 cm. Lebar daun 0,5 Berwarna kehijauan, bentuk bundar telur memanjang (ovalis).
Panjang daun 1,5 cm sampai 6,0 cm. Lebar daun 0,5 3,2 cm. Ujung daun obtusus dan pangkal daun
acutus. Tangkai daun berbentuk bulat dan permukaannya opacus. Panjang tangkai daun 0,5 sampai
9,0 cm. Bentuk tulang daun bayam duri penninervis dan tepi daunnya repandus. Daun tenda bunga
setinggi-tingginya 2,5 mm.
Organa Reproduktiva
1.1.Bunga ( flos )
Bunga Amaranthus spinosus L. bunga berkelamin tunggal, termasuk bunga dalam tukal yang rapat,
bunga majemuk kumpulan bunganya berbentuk bulir untuk bunga jantannya sedangkan bunga
betina berbentuk bulat, yang terdapat dibagian bawah duduk di ketiak daun atau ujung atas
batang,bagian atas berkumpul menjadi karangan bunga di ujung tangkai dan ketiak percabangan,
padat berwarna hijau. Kelopak bunganya berbentuk corong. Ujung bertaju, warna hijau agak
putih. Daun tenda bunga setinggi-tingginya 2,5 mm Merupakan bunga berkelamin tunggal, yang
berwarna hijau. Bunga setiap bunga memiliki berbilangan 5 daun mahkota berlepasan, panjangnya
1,5-2,5 mm. Bakal biji satu. Bunga ini termasuk bunga inflorencia.
2.2 Buah ( Fruktus )
Amaranthus spinosus L. buah mengandung biji yang sangat kecil, berbentuk bulat panjang dan
berwarna hitam mengkilat. Berbentuk lonjong berwarna hijau dengan panjang 1,5 mm.
2.3 Biji ( Semen )
Amaranthus spinosus L. Berbijinya bulat kecil berwarna hitam dengan panjang antara 0,8 1 mm.
BAB V
RINGKASAN
Bayam yang dikenal dengan nama ilmiah Amaranthus spinosus. Yang kini dikenal di seluruh
penjuruh dunia, berasal dari daerah Amerika tropika. Ada 3 jenis (spesies) bayam yang diusahakan di
kawasan Amerika Latin, yaitu Amaranthus caudatus berkembang di Argentina, Peru, dan Bolivia
; Amarantuhs cruentus di Guatemala ; sedangkan Amaranthus hypochondricus di Meksiko (Arief,
1990). Terdapat tiga varietas bayam yang termasuk ke dalam Amaranthus tricolor, yaitu bayam hijau
biasa, bayam merah (Blitum rubrum), yang batang dan daunnya berwarna merah, dan bayam putih
(Blitum album), yang berwarna hijau keputih-putihan. Sebagai informasi, daun dan batang bayam
merah mengandung cairan berwarna merah. Selain A. tricolor, terdapat bayam jenis lain, seperti
bayam kakap (A. hybridus), bayam duri (A.spinosus), dan bayam kotok/bayam tanah (A. blitum).
Jenis bayam yang sering dibudidayakan adalah A. tricolor dan A. hybridus sedangkan jenis bayam
lainnya tumbuh liar. Panen bayam cabut paling lama dilakukan selama 25 hari. Setelah itu,
kualitasnya akan menurun karena daunnya menjadi kaku. Bayam dapat disayur bening, dibuat gado-
gado, pecal, atau direbus untuk lalap. Kadangkadang, daun bayam yang muda dan lebar digunakan
pula sebagai bahan rempeyek. Tanaman bayam dapat diperbanyak dengan biji.
Negara yang menjadi pusat penyebaran bayam antara lain Papua Nugini, Tiawan, Hongkong, India,
Nigeria, Dahomey, Amerika Serikar, dan Indonesia. Bayam tersebar luas di daerah tropis dan daerah
beriklim sedang. Di Indonesia, tanaman bayam tersebar di seluruh wilayah nusantara. Tanaman
baya,m ada yang tumbuh di hutan hutan, dan sebagian lagi mulai dibudidayakan di tegalan,
pekarangan, sepanjang endapan lumpur atau sungai, dan ada pula yang ditanam dalam pot
(Anonim, 2012).
Secara umum, tanaman bayam dapat meningkatkan kerja ginjal dan melancarkan pencernaan. Akar
bayam merah berkhasiat sebagai obat disentri. Bayam termasuk sayuran berserat yang dapat
digunakan untuk memperlancar proses buang air besar. Makanan berserat sangat dianjurkan untuk
dikonsumsi oleh penderita kanker usus besar, penderita kencing manis (diabetes mellitus),
kolesterol darah tinggi, dan menurunkan berat badan. Infus daun bayam merah 30% per oral dapat
meningkatkan kadar besi serum, haemoglobin, dan hematokrit kelinci yang dibuat anemia secara
nyata. Peningkatan tersebut tidak berbeda jika dibandingkan dengan kelompok kelinci yang diberi
sulfas ferosus. Sebagai pembanding, digunakan air suling. (Ernawati Santoso, Fakultas Farmasi,
WIDMAN, 1986).
Dalam keadaan mendesak, orang sering memanfaatkan aneka bahan dapur seperti sayuran untuk
ramuan obat. Ini bukan semata-mata mepertimbangkan soal kemudahannya, melainkan memang
beberapa sayuran, umbi dan buah telah diteliti oleh para ahli kesehatan dunia dan diakui memiliki
khaisat tertentu. Dalam hal ini pilihlah sayur yang masih segar yang kandungan kimianya masih
lengkap. Bukan saja di Indonesia atau Asia saja, bahkan di negara-negara Amerika latin, Eropa dan
Timur Tengah, sudah mulai kembali ke bahan obat alami. Kelemahannya yaitu sulit didapatkan bila
ramuannya terdiri dari berbagai macam tumbuhan. Tetapi kelebihannya, efek sampingnya tidak ada
atau aman, asal sesuai dengan takaran ramuan yang lazim.
Amaranthus spinosus L. merupakan tumbuhan herba berumur 1 tahun, tegak atau condong
kemudian tegak, tinggi 0,4 1 m, kerapkali bercabang banyak dan berduri. Daun bulat telur dan
memanjang bentuk lanset, panjang 4 8 cm, dengan ujung tumpul dan pangkal runcing. Bunga
dalam tukal yang rapat, yang bawah duduk di ketiak, yang atas berkumpul menjadi karangan bunga
di ujung dan duduk di ketiak, bentuk bulir atu bercabang pada pangkalnya. Bulir ujung sebagian
besar jantan, tidak berduri, tidak berduri temple,mula-mula naik lalu menggantungg. Tukal betina
dengan 2 duri lurus yang lancip, dan menjauhi batang. Daun pelindung dan anak daun pelindung
runcing, sepanjang-panjangnya sama dengan tenda bunga. Daun tenda bunga 5, panjang 2 3 mm,
gundul, hijau atau ungu dengan tepi transparan. Benang sari 5, lepas, tanpa taju yang disisipkan
diantaranya. Kepala putik duduk, bentuk benang. Buah bulat memanjang, dengan tutup yang rontok,
berbiji 1. Tegalan, halaman rumah, semak, kebun, tepi jalan; 1 1.400 m. Bayam duri, Ind, J. S,
Senggang cucuk, S, Bayem raja, J, Bayem roda, J, Bayem cikron, J, Cikron, J, Tarnyak lakek, Md,
Stekelamarant, N.
DAFTAR PUSTAKA
Gembong Tjitrosoepomo. 1993. Taksonomi Umum. 1993. Yogyakarta: Gajah Mada University Press
Sudarsono, dkk. 2005. Taksonomi Tumbuhan Tinggi. Yogyakarta: Jurusan Pendidikan Biologi FMIPA
UNY
Anonim. 2011. http://www.e-dukasi.net/index.php?q=gerak+pada+tumbuhan&t=materipokok
Campbell, Neil A,dkk. 2003. Biologi Jilid 2 Edisi Kelima. Jakarta : Erlangga
E.S. Sri Mulyani. 2006. Anatomi Tumbuhan. Yogyakarta : Penerbit Kanisius
Tjitrosoepomo, Gembong. 2007. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta : UGM Press Anonim. 2009

Amaranthus spinosus (bayam duri)



Batang dan Bunga Bayam Duri



Budidaya bayam atau Amaranthus Spp. efektif dilakukan didataran rendah maupun dataran
tinggi hingga ketinggian 1000 meter dari permukaan laut. Di Indonesia terdapat dua jenis
tanaman bayam yang biasa dibudidayakan para petani. Pertama, jenis tanaman bayam cabut
yang terdiri dari bayam hujau dan bayam merah. Cirinya, lebar daun relatif kecil, untuk jenis
bayam hijau warnanya hijau terang agak keputih-putihan, untuk bayam merah warnanya
merah hati cenderung gelap. Jenis kedua, bayam yang berdaun lebar atau bayam raja. Warna
daunnya hijau tua cenderung keabu-abuan, tumbuh berdiri tegak. Cara panennya bisa dicabut
atau dipotong.
Tanaman bayam merupakan tanaman semusim dengan siklus panen yang relatif singkat.
Tanaman ini sangat mudah dibudidayakan secara organik karena umurnya relatif singkat, bisa
dipanen setelah 20 hari, sehingga resiko serangan hama pun relatif lebih kecil. Secara
metode, budidaya bayam organik mempunyai perlakuan sama dengan budidaya non-organik,
perbedaannya pada pemberian jenis pupuk. Sedangkan untuk pengendalian hama, petani
biasa menanganinya dengan memperbaiki kesehatan tanaman seperti pemberian pupuk,
pengairan dan menjaga kebersihan kebun.
Budidaya bayam lebih efektif dilakukan tanpa tahapan persemaian terlebih dahulu. Hal yang
perlu diperhatikan adalah tanaman bayam memerlukan cahaya matahari penuh. Suhu ideal
berkisar antara 16-20
o
C, dengan kelembaban udara antara yang sedang. Namun bayam bisa
beradaptasi pada suhu panas seperti di Jakarta sepanjang kelembabannya tinggi. Pada musim
hujan bayam tidak begitu baik tumbuhnya, daun bayam mudah rusak terkena hujan yang
terus-menerus.
Berikut ini langkah-langkah melakukan budidaya bayam organik, untuk jenis bayam cabut
baik yang berdaun hijau maupun merah.
Penyiapan benih bayam
Benih untuk budidaya bayam disiapkan melalui perbanyakan biji. Benih diambiul dari
tanaman bayam yang dipelihara hingga tua berumur sekitar 3 bulan. Apabila tanaman masih
muda sudah diambil bijinya, daya simpan benih tidak lama dan tingkat perkecambahan
rendah. Benih bayam yang baik bisa disimpan hingga umur satu tahun.
Benih bayam tidak memerlukan masa dorman. Jadi, benih yang baru dipanen sebenarnya
sudah siap untuk langsung ditanam. Kebutuhan benih untuk budidaya bayam adalah 5-10 kg
per hektar, sangat tergantung pada keterampilan menebar.

Pengolahan lahan budidaya bayam organik
Pertama-tama haluskan tanah dan buat bedengan. Lebar bedangan satu meter dan tinggi 20-
30 cm sedangkan panjangnya mengikuti kondisi lahan. Jarak antar bedengan 30 cm.
Sebaiknya bedengan membujur dari timur-barat untuk mendapatkan pencahayaan yang
maksimal.
Budidaya bayam sensitif dengan keasaman tanah. Apabila derajat keasaman tanah rendah pH
kurang dari enam sebaiknya netralkan dengan kapur atau dolomit sebanyak 2-3 ton per
hektar. Apabila pH lebih dari 7 netralkan dengan belerang. Tebarkan pupuk kandang, paling
baik kotoran ayam, sebanyak 10 ton per hektar lalu diamkan selama 2-3 hari. Kotoran ayam
merupakan pupuk kandang yang sangat kaya dengan nitrogen yang sangat dibutuhkan
tanaman bayam dan jenis sayuran daun lainnya.
Penebaran benih bayam
Benih bayam sangat kecil, dalam budidaya bayam biasanya benih ditebar dengan tangan atau
saringan. Usahakan benih menyebar dengan baik. Kepadatan tebar benih adalah 0,5-1 gram
per meter persegi. Agar penebaran benih merata, kita juga bisa mencampurkan benih dengan
tanah atau kompos lalu ditebar di atas bedengan. Berikut ini gambar benih bayam:
http://www.alamtani.com/wp-content/uploads/2013/02/benih-bayam.jpg

Perawatan budidaya bayam
Perawatan yang paling penting dalam budidaya bayam adalah pengaturan air, terutama saat
awal benih ditebar. Lakukan penyiraman dua kali sehari saat musim kemarau. Jaga selalu
kelembaban tanah hingga bayam berkecambah.
Setelah bayam bayam berkecambah, siangi gulma atau rumput yang tumbuh bersama
kecambah bayam. Gulma akan berebut nutrisi dengan tanaman bayam. Berikut beberapa
hama dan penyakit yang kerap menyerang budidaya bayam, yaitu ulat daun, kutu daun,
tungau, busuk basah dan karat putih. Penanganannya adalah dengan menjaga kesehatan
tanaman dengan penyiraman teratur. Jika sudah meleati ambang ekonomis yakni dengan
penggunaan pestisida hayati, untuk pencegahan lakukan budidaya tanaman sehat, mencegah
timbulnya jamur dan mempertinggi kekebalan tanaman
Menginjak usia tanaman dua minggu, apabila daun terlihat menguning, berikan pemupukan
tambahan. Pemupukan tambahan bisa menggunakan kompos atau kotoran ayam yang telah
matang. Atur pemupukan sehemat mungkin untuk menjaga budidaya bayam tetap ekonomis.
Panen dan pasca panen
Budidaya bayam bisa dipanen mulai 20 hari setelah tanam atau tinggi tanaman sekitar 20 cm.
Dengan pencabutan rata-rata panen yang dihasilkan dalam satu hektar adalah 20 ton.
Sedangkan pada budidaya bayam potong biasanya dipanen pada umur 1-1,5 bulan dengan
interval pemerikan seminggu sekali.
Setelah dipanen cuci dan sortir tanaman. Sebelum dikirim, bayam diikat dengan bilah bambu,
setiap 50 ikatan digambungkan dalam satu gabung. Simpan hasil panen budidaya bayam
ditempat teduh karena bayam termasuk tanaman yang cepat layu.

Bayam Cabut
Indonesia memang menjadi surga bagi kita semua yang menyukai aktivitas bercocok tanam,
karena hampir semua pohon ataupun tanaman bisa hidup di tanah agraris ini. Dengan keadaan
alam yang sangat mendukung seperti ini, sebenarnya kita bisa memanfaatkan peluang untuk
menggenjot bisnis di sektor pertanian. Budidaya bayam adalah salah satu peluang yang bisa
coba kita manfaatkan mengingat sayuran ini adalah salah satu sayuran yang telah sangat
populer di tengah-tengah kehidupan masyarakat.
Dengan kepopulerannya, otomatis konsumsi sayur bayam di masyarakat akan terus tinggi
sehingga hasil dari panen kita akan mudah untuk dipasarkan. Selain telah populer di kalangan
masyarakat, ada lagi beberapa faktor penting tentang budidaya bayam yang bisa menjadi
pertimbangan kita untuk mengerjakan budidaya sayuran ini. Yang pertama yaitu bahwa cara
budidaya bayam tergolong tidak merepotkan. Kemudian yang kedua yaitu bahwa
menumbuhkan tanaman bayam cukup mudah, karena hanya menggunakan cara tanam yang
sederhana dan gampang untuk dipelajari.

Pengolahan Lahan untuk Tanaman Bayam Cabut
Pengolahan lahan untuk tanaman bayam cabut dimulai dengan mencangkuli lahan supaya
tanah semakin gembur. Selanjutnya kita membuat bedengan yang lebarnya kurang lebih yaitu
100 cm atau bisa juga dibuat lebih lebar sampai sekitar 200 cm. Tinggi ideal untuk bedengan
tersebut yakni kurang lebih 20 cm. Kemudian jangan lupa pula membuat saluran air selebar
kurang lebih 30 cm dengan kedalaman 30 cm pula. Selanjutnya, agar tanah semakin subur
maka bisa kita lakukan pemupukan di atas bedengan-bedengan tersebut dan membiarkannya
dulu selama beberapa minggu sebelum tanam.

Pembenihan Tanaman Bayam cabut
Proses pembenihan bayam cabut maupun jenis bayam yang lainnya dilakukan dengan
menyiapkan lahan khusus untuk pembenihan. Sebaiknya tanah yang digunakan adalah tanah
yang dulunya juga ditanami bayam dengan jenis yang sama. Sebetulnya bisa juga kita
menggunakan tanah bekas tanaman bayam jenis lain, namun harus dibiarkan dulu selama tiga
bulan sebelum digunakan untuk pembenihan. Kemudian pembenihan tanaman bayam juga
harus dilakukan dengan tidak berdampingan dengan jenis bayam lainnya, atau paling tidak
kedua jenis bayam tidak berbunga pada waktu yang sama.
Selanjutnya, ketika tanaman bayam untuk pembenihan sudah berbunga dan tandan bunganya
sudah matang, maka kita lakukan pemanenan. Tandan bunga itulah yang nantinya
menjadi bibit tanaman bayam. Setelah tandan bunga dipanen, maka kita jemur kurang lebih
selama 4 hari, kemudian kita remas-remas dengan halus sehingga terkelupas lah kulitnya.
Setelah itu kita pisahkan bibit-bibitnya dan kita simpan di wadah yang kedap udara agar
jangan sampai basah sebelum penanaman.

Teknik Menanam Bayam Cabut
Teknik menanam bayam cabut ada 2 cara, yakni secara langsung maupun tidak
langsung. Cara menanam dengan langsung lebih sederhana, yakni kita tinggal
menebar bibit bayam di atas lahan dan menutupnya dengan lapisan tanah yang cukup tipis.
Sedangkan untuk cara menanam yang tidak langsung, berarti kita harus menumbuhkan dulu
bibit-bibit tersebut baru kemudian menanamnya kembali secara rapi di atas lahan yang telah
kita persiapkan.
Setelah ditanam, kita harus merawat tanaman bayam dengan seksama agar panen yang akan
kita dapatkan bisa maksimal. Proses yang harus kita lakukan yakni diantaranya adalah
mengendalikan hama. Ketika daun bayam sudah mulai tumbuh, kita harus waspada terhadap
serangan hama. Kita bisa memberikan semprotan anti hama pada tanaman bayam cabut.
Selain itu, lahan tanam juga harus bersih dari tanaman-tanaman liar.

Pemanenan Bayam Cabut
Setelah ditanam, bayam cabut biasanya akan dipanen ketika sudah mencapai ketinggian rata-
rata yakni sekitar 20 cm. Untuk mencapai ketinggian tersebut, biasanya tanaman bayam
cabut memerlukan waktu kurang lebih tiga minggu setengah. Senada dengan namanya,
jenis bayam cabut kita panen dengan cara mencabut tanaman hingga akarnya terlepas dari
tanah.

Diantara berbagai macam jenis sayuran yang paling banyak dikonsumsi masyarakat, bayam adalah salah satu
diantaranya. Bayam yang memiliki nama ilmiah Amaranthus spp, berasal dari daerah Amerika tropis. Tanaman
ini awalnya hanya dimanfaatkan sebagai tumbuhan hias. Namun dalam perkembangannya, tanaman bayam
beralih fungsi menjadi bahan pangan yang kaya akan protein dan zat besi. Tanaman bayam diperkirakan masuk
ke Indonesia sekitar abad XIX di saat lalu lintas perdagangan internasional mulai berjalan dan banyak orang luar
negeri yang datang ke wilayah Indonesia.
Saat ini total lahan yang dimanfaatkan untuk budidaya bayam di Indonesia mencapai 31.981 hektar yang
tersebar di beberapa wilayah, yakni di Jawa Timur 3.022 hektar, di Jawa Tengah 3.479 hektar, di Jawa Barat
4.273 hektar, sedang di propinsi lainnya sekitar 2.376 hektar. Produk bayam nasional saat ini mencapai 72.369
ton atau rata-rata 22,63 kuintal/ hektar.

Tanaman dari family Amaranthaceae ini meski memiliki sekitar 800 spesies bayam, namun seringkali hanya
dibedakan atas 2 jenis, yakni bayam liar dan bayam budidaya. Bayam liar sendiri terdiri atas 2 macam, yakni
bayam tanah (A. blitum L.) serta bayam berduri (A. spinosus L.). Ciri utama dari bayam liar, warna batangnya
merah dengan daun yang kaku (kasap).
Sedang untuk jenis bayam budidaya juga dibedakan atas 2 macam, yakni: Bayam cabut yang juga dikenal
dengan bayam sekul atau bayam putih (A. tricolor L.), dengan ciri warna batangnya kemerah-merahan atau hijau
keputih-putihan, dan bunganya keluar dari ketiak cabang. Bayam cabut yang berbatang merah kerap disebut
bayam merah, sedang yang berbatang putih sering disebut bayam putih.
Jenis bayam budidaya yang kedua adalah bayam tahun yang sering disebut bayam skop atau bayam kakap (A.
hybridus L.). Ciri-ciri dari bayam ini, daunnya lebar-lebar. Bayam skop ini memiliki 2 spesies, pertama hybridus
caudatus L., yang mempunyai daun agak panjang berujung runcing, dengan warna hijau kemerah-merahan atau
merah tua. Kedua, hibridus paniculatus L., dengan ciri memiliki dasar daun yang lebar sekali, warnanya hijau,
serta rangkaian bunganya panjang tersusun teratur dan besar-besar yang tumbuh pada ketiak daun.
Untuk dapat mengetahui budidaya dan cara menanam bayam yang baik simak beberapa tahapan berikut ini:
1. Syarat Pertumbuhan
Tanaman bayam paling cocok jika ditanam di daerah dataran dengan curah hujan yang juga cukup tinggi hingga
mencapai lebih dari 1.500 mm / tahun. Selain itu, tanaman bayam juga membutuhkan sinar matahari penuh,
sehingga jika tempat tumbuhnya ternaungi, maka pertumbuhannya tidak akan dapat maksimal. Namun demikian,
untuk tanaman bayam yang pertumbuhannya sudah cukup tinggi, angin kencang dapat menjadi musuh
utamanya karena dapat merobohkan tanaman. Suhu yang ideal untuk tumbuh kembangnya tanaman ini berkisar
antara 16o 20o Celcius, dengan kelembaban udara antara 40 60%.
Tanaman bayam akan tumbuh dengan baik jika ditanam di tanah yang gembur dan subur, dan kandungan
haranya terpenuhi. Bayam tergolong peka terhadap pH tanah. Jika pH tanah di atas 7 (alkalis), daun-daun muda
(pucuk) akan memucat putih kekuning kuningan (klorosis) dalam pertumbuhannya. Sebaliknya, jika pH di
bawah 6 (asam), bayam tidak akan tumbuh sempurna akibat kekurangan beberapa unsur. Karena itu pH tanah
yang ideal bagi tanaman bayam antara 6 7.
Bayam juga sangat membutuhkan air yang cukup dalam pertumbuhannya. Jika sampai kekurangan air, maka
pertumbuhannya akan terganggu. Untuk itu, tanamlah bayam pada akhir musim kemarau atau di awal musim
hujan.

2.Pembibitan/Pembenihan
Benih tanaman bayam harus berasal dari induk yang sehat, memiliki kemurnian benih dengan daya
berkecambah mencapai 80%, dengan tujuan agar dalam pertumbuhannya nanti memiliki ketahanan terhadap
hama dan penyakit. Untuk lahan seluas 1 hektar, benih yang dibutuhkan berkisar antara 5 10 kg, atau 0,5 1,0
gram per m2 luas lahan.
Untuk proses pembibitan dilakukan beberapa proses, seperti :
a. Pilihlah tanah yang lebih tinggi dari sekitarnya untuk lahan pembibitan, agar terbebas dari hama dan penyakit
tanaman. Lahan pembibitan harus diberi atap, bisa dibuat dari plastik atau atap jerami padi. Benih bayam
selanjutnya disebar secara merata atau disebar berbaris baris pada lahan persemaian sebelum ditutup dengan
selapis tanah tipis.
b. Lakukan penyiraman dengan teratur dan hati-hati selama pemeliharaan benih / bibit. Jika diperlukan, gunakan
pupuk kandang untuk menjaga kesuburan tanah. Jika dalam pertumbuhannya ada bibit yang terserang
hama/penyakit, semprotlah dengan pestisida dosis rendah.
c. Ketika bibit berumur 7 14 hari, pindahkan bibit-bibit tersebut ke dalam pot-pot yang terbuat dari kantong
plastik atau daun pisang yang sebelumnya diisi dengan media tanam berupa campuran tanah dan pupuk organik
halus (1:1). Siram dengan teratur bibit dalam pot setelah berumur 7 14 hari, hingga siap untuk dipindahkan ke
lahan tanam.
3. Pengolahan Media Tanam
Pembuatan media tanam dilakukan dengan mencangkul/membajak tanah sedalam 30 40 cm. Seluruh sisa
tanaman serta gulma disingkirkan, dan tanah diratakan. Biarkan lahan tersebut selama beberapa hari agar tanah
benar-benar matang.
Proses selanjutnya dari Pengolahan Media tanam adalah :
a. Membuat bedengan dengan lebar antara 120 160 cm, tergantung populasi tanaman yang nantinya akan
ditanam. Buat juga parit antar bedengan selebar 20 30 cm, dengan kedalaman 30 cm untuk drainase. Di atas
bedengan itulah lubang lubang tanam dibuat dengan jarak antar barisan 60-80 cm, dan jarak antar lubang
(dalam barisan) 40-50 cm.
b. Jika pH tanah terlalu rendah, lakukanlah pengapuran dengan menggunakan kapur pertanian seperti Calcit
maupun Dolomit. Untuk tipe tanah pasir dan pasir berlempung, diperlukan 988 kg kapur pertanian / ha.Sedang
kebutuhan kapur pertanian untuk tanah lempung berpasir dan liat berlempung sekitar 1.730 4.493 kg / hektar.
Sebaliknya, jika ingin menurunkan pH tanah, gunakan tepung Belerang (S) atau Gipsum sebanyak 6 ton / hektar.
Pemberian tepung belerang dilakukan dengan cara menyebarkannya secara merata dan dicampur tanah sekitar
sebulan sebelum tanam.
c. Sekitar 1 2 minggu sebelum tanam, berikan pupuk kandang yang telah masak dengan cara
menyebarkannya secara merata di atas bedengan, lalu diaduk dengan tanah lapisan atas. Pemupukan diberikan
per lubanng tanam dengan cara memasukkan pupuk ke dalam lubang tanam. Untuk setiap lubang tanam
dibutuhkan sekitar 1-2 kg pupuk kandang, sehingga untuk setiap hektar diperlukan pupuk kandang sekitar 10
ton.
Agar hasil produksi memiliki kualitas yang baik maka, saat penanaman sebaiknya diberi mulsa atau dipasang
palstik perak-hitam. Penggunaan plastik ini bertujuan untuk mengurangi serangan hama dan penyakit, termasuk
juga gangguan gulma.

4. Teknik Penanaman
Tanaman bayam dapat langsung di tanam di lahan tanpa melalui proses penyemaian. Namun hasil yang
diperoleh akan lebih baik jika melalui proses penyemaian karena benih yang ditanam terlebih dahulu diseleksi
kualitasnya. Untuk penanaman yang tanpa penyemaian, biji bayam yang disebarkan langsung di atas bedengan,
terlebih dahulu dicampur abu. Penyebarannya dilakukan menurut barisan dengan arah membujur. Benih yang
telah disebar selanjutnya ditutup tanah halus dan disiram sampai basah. Waktu terbaik untuk melakukan
penanaman adalah awal musim hujan.
Jarak tanam berkisar antara 60 cm x 50 cm atau 80 cm x 40 cm, atau disesuaikan dengan tingkat kesuburan
tanah serta varietas bayam. Untuk setiap 1 hektar lahan, populasi tanaman berkisar antara 30.000 60.000
tanaman.
5. Pemeliharaan Tanaman
Untuk budidaya bayam yang penanamannya dilakukan dengan langsung menyebar benih, pertumbuhannya
seringkali tidak merata, diantaranya ada yang tumbuh mengelompok sehingga menghambat pertumbuhan.
Karena itu, harus dilakukan penjarangan yang juga sekaligus panen pertama. Untuk tanaman bayam yang
dihasilkan dari persemaian, adakalanya beberapa diantara tanaman yang ada mati atau terserang penyakit,
sehingga harus dilakukan penyulaman dengan mengganti tanaman tersebut dengan tanaman yang baru.
a. Lakukan penyiangan jika muncul gulma tanaman utamanya Gelang (Portulaca oleracea), karena gulma gelang
bisa menurunkan produksi bayam sampai dengan 30 65%. Ketika melakukan penyiangan, lakukan pula
penggemburan tanah secara bersamaan, dengan menggunakan cangkul kecil atau sabit.
b. Karena bayam memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap air, maka penyiraman harus mendapat
perhatian. Pada awal pertumbuhan lakukanlah penyiraman secara intensif sebanyak 1 -2 kali sehari, utamanya
di musim kemarau. Penyiraman dilakukan pada pagi dan sore hari, dengan memakai alat bantu gembor agar air
yang disiramankan dapat merata.
c. Jika tanaman terserang hama, seperti ulat grayak, tungau dan kutu daun, semprotkan pestisida yang
mengandung margosin dan glikosdida flafonoid. Sedang untuk mengendalikan penyakit, bisa digunakan obat-
obatan yang mengandung unsur bunga Camomil (Chamaemelum spp). Cara penggunaannya, campurkan
pestisida dan obat-obatan sebanyak 60 cc untuk setiap 1 liter air, lalu semprotkan ke tanaman yang terserang
hama pada daun dan batangnya dengan rasio 1 minggu 1 kali.
6. Panen dan Pasca Panen
Tanaman bayam siap untuk dipanen pada umur 25 35 hari setelah tanam. Ketika itu, tinggi tanaman antara 15
20 cm dan masih belum berbunga. Saat panen yang paling baik adalah pada pagi atau sore hari, yakni di saat
suhu udara tidak terlalu tinggi. Setelah panen pertama, dilanjutkan dengan panen berikutnya setiap 3-5 hari
sekali. Jika umur tanaman sudah sampai 35 hari, maka seluruh tanaman bayam harus dipanen secara
keseluruhan, sebab jika melampaui umur tersebut, kualitas bayam akan menurun karena daun-daunnya menjadi
kasar. Untuk setiap hektar lahan, hasil panen bayam bisa mencapai 22.630 kg.

Bayam yang telah dipanen, harus diletakkan di tempat yang teduh atau tidak terkena sinar matahari langsung,
agar daunnya tidak layu. Setelah itu dilakukan penyortiran untuk memisahkan bayam yang busuk atau rusak
dengan bayam yang baik dan segar. Penggolongan terhadap bayam juga dilakukan berdasarkan besar kecilnya
daun. Selesai penyortiran atau bersamaan dengan penyortiran, bayam diikat sesuai dengan kebutuhan
pemasaran.
Bayam yang tidak langsung dipasarkan dapat disimpan selama 12 jam pada tempat terbuka, dan proses
penyimpanan dapat diperpanjang hingga 12 14 hari pada suhu dingin mendekati 0o Celcius.

Tag: cara menanam bayam, budidaya bayam, menanam bayam, cara tanam bayam, tanaman bayam, cara
menanam sayur bayam, cara menanam bayam dalam polybag, cara budidaya bayam, tanam bayam, budi daya
bayam

Bayam (Amaranthus spp. L) termasuk jenis sayuran daun yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat karena
sayuran ini banyak mengadung vitamin dan
mineral. Ada tiga jenis bayam yang
biasanya ditanami petani yaitu (1) Amaranthus
tricolor, (2) Amaranthus dubius dan (3)
Amaranthus cruentus. Amaranthus tricolor
termasuk jenis bayam cabut berbatang merah
(bayam merah) atau hijau keputih-
putihan. Amaranthus dubius termasuk jenis
bayam petik yang tumbuhnya tegak dan
berdaun lebar. Daunnya berwarna hijau tua
dan ada pula berwarna kemerah-merahan.
Amaranthus cruentus termasuk jenis bayam
cabut dan juga bisa dipetik. Jenis bayam ini
tumbuh tegak, berdaun besar berwarna hijau
keabu-abuan.
Bercocok tanam bayam biasanya melalui biji. Biji bayam yang telah berumur 3 bulan sudah cukup tua untuk
dijadikan benih. Benih bayam yang cukup tua daya kecambahnya cepat dan dapat disimpan sampai satu tahun.
Biji bayam tidak memiliki masa dormansi. Kebutuhan per hektar 5-10 kg benih atau 0,5 1 gram tiap m2.
Tanah yang gembur dan subur dengan kisaran pH 6-7 merupakan media tumbuh yang baik untuk menanam
bayam. Tanaman ini dapat tumbuh sepanjang tahun dan toleran sampai pada ketinggian 1000 m dpl. Waktu
tanam yang terbaik pada awal musim hujan dan awal musim kemarau.
Usaha sayuran bayam tidah hanya di kebun, tetapi dapat pula di pekarangan rumah. Bila lahan pekarangan
luas, bayam dapat ditanam langsung pada bedengan. Bila lahan pekarangan sempit bayam dapat ditanam
menggunakan pot, polibag atau rak bertingkat (vertikultur).
Pemilihan Varietas
Varietas yang dianjurkan adalah Giti Hijau, Giti Merah, Kakap Hijau, Bangkok dan Cimangkok. Namun yang
tersedia di tempat penjualan be nih adalah varietas Bisi dan Maestro. Daya tumbuhnya lebih dari 90 %, vigor
murni, bersih dan sehat.
Model Budidaya Bedengan
Pengolahan tanah.
Tanah dicangkul sedalam 20 30 cm supaya gembur. Setelah itu, bedengan dibuat dengan ketinggian sekitar
20-30 cm, lebar sekitar 1 m, dan panjang tergantung ukuran/bentuk lahan. Jarak antar bedengan sekitar 40 cm
atau disesuaikan dengan keadaan tanah. Setelah tanah diratakan, permukaan bedengan diberi pupuk kandang
yang sudah matang, dengan dosis 100 kg/100 m. Semprot larutan pupuk cair Bioboost/EM4 (10 ml/1 liter air)
pada permukaan bedengan, kemudian permukaan bedengan ditutup dengan tanah. Biarkan selama 3 hari dan
bedengan siap untuk ditanami.
Penanaman
Sebelum dilakukan penanaman, bedeng disiram lebih dahulu untuk memudahkan penanaman. Penanaman dapat
dilakukan dengan tiga cara :
a) Cara menyebar langsung pada bedengan. Cara ini digunakan untuk menanam bayam cabut.
b) Biji bayam disebar pada larikan/barisan dengan jarak antar barisan 1015 cm. Kemudian larikan ditutup
dengan lapisan tanah tipis.
c) Melalui persemaian. Cara ini digunakan untuk menanam bayam petik. Pertama benih disemai, kurang dari 10
hari benih sudah tumbuh. Kemudian dilakukan pembumbunan dan dipelihara selama 3 minggu sampai bibit siap
dipindahkan ke lapangan. Jarak tanam pada system ini adalah 50 x 30 cm.
Model budidaya pot/polibag dan rak vertikultur
Pot/polibag dan rak vertikultur adalah wadah tanam yang digunakan sebagai suatu model budidaya sayuran
pada lahan pekarangan yang sempit. Pot atau polibag yang berukuran 30x30 cm dapat digunakan untuk
menanam bayam. Pot atau polibag harus dilubangi 4-5 lubang dibagian bawah sisi kiri dan kanan wadah untuk
membuang air berkelebihan supaya tidak tergenang. Sebaiknya polibag dibalik dahulu sebelum diisi media
tanam agar polibag dapat berdiri kokoh dan tidak mudah roboh.
Rak vertikultur adalah wadah tanam yang terbuat dari kayu dan talang paralon. Rak bisa dibuat sampai 4
tingkatan dengan tinggi 1,25 m dan panjang 80 cm. Sedangkan panjang talang 1 m dan lebar talang 12 cm.
Dasar talang di lubangi 4-5 lubang untuk pembuangan air berkelebihan supaya tidak tergenang. Selanjutnya rak
ini akan diisi dengan media tanam.
Media tanam yang digunakan berupa campuran tanah dan pupuk kandang atau kompos. Perbandingannya dapat
1:1, 1:2, atau 1:3, bergantung pada tingkat kesuburan dan tekstur tanah. Masukan media ke dalam wadah
sampai penuh. Sisakan jarak sekitar 1 cm dari bibir wadah.
Penanaman
Sebelum dilakukan penanaman, pot/polibag dan rak vertikultur disiram lebih dahulu untuk memudahkan
penanaman. Penanaman di pot atau polibag dilakukan dengan cara sebar langsung. Sedangkan penanaman
didalam rak vertikultur bisa dengan cara sebar langsung atau sebar pada larikan/barisan dengan jarak antar
barisan 10-15 cm.
Perawatan
Tanaman perlu diperhatikan dan dirawat secara rutin. Penyiraman dilakukan pagi dan sore hari. Pupuk susulan
pertama setelah tanaman berumur 4 hst dengan cara semprot larutan pupuk cair Bioboost/EM4 (10 ml/1 liter
air) pada tanaman. Pupuk susulan kedua dan ketiga setelah tanaman berumur 11 hst dan 17 hst. Cara
memupuk dan dosis pupuk sama seperti pemupukan susulan pertama. Pupuk organic cair Landeto (pupuk daun)
atau Hantu juga dapat diberikan pada tanaman sebagai pupuk tambahan dengan dosis 2 tutup botol/10 liter air.
Larutan pupuk ini disemprot pada tanaman dengan waktu pemberian setelah tanaman berumur 7 hst dan 14
hst. Penyiangan dapat dilakukan jika tumbuh gulma terutama untuk pertanaman bayam cabut. Jika ada
serangan hama dan penyakit, segera ditanggulangi secara mekanis (dicabut dan dibakar) atau disemprot dengan
fungisida dan insektisida nabati.
Panen
Bayam cabut dapat dipanen bila umur tanaman antara 3 4 minggu setelah tanaman tumbuh dengan tinggi
sekitar 20 cm. Cara panen ialah dicabut dengan akarnya atau dengan cara memotong pada bagian pangkal
sekitar 2 cm di atas permukaan tanah. Bayam petik mulai dipanen bila umur tanaman antara 1 1,5 bulan
dengan interval pemetikan seminggu sekali. Produksi tanaman bayam yang dipelihara dengan baik dapat
mencapai 50 100 kg/100 m.

SISTEM PERTANIAN ORGANIK

Sejak tahun 1990, isu pertanian organik mulai berhembus keras di dunia. Sejak saat itu mulai
bermunculan berbagai organisasi dan perusahaan yang memproduksi produk organik. Di
Indonesia dideklarasikan Masyarakat Pertanian Organik Indonesia (MAPORINA) pada tgl 1
Februari 2000 di Malang. Di Indonesia telah beredar produk pertanian organik dari produksi
lokal seperti beras organik, kopi organik, teh organik dan beberapa produk lainnya. Demikian
juga ada produk sayuran bebas pestisida seperti yang diproduksi oleh Kebun Percobaan Cangar
FP Unibraw Malang. Walaupun demikian, produk organik yang beredar di pasar Indonesia
sangat terbatas baik jumlah maupun ragamnya.

Pertanian organik dapat didefinisikan sebagai suatu sistem produksi pertanian yang
menghindarkan atau mengesampingkan penggunaan senyawa sintetik baik untuk pupuk, zat
tumbuh, maupun pestisida. Dilarangnya penggunaan bahan kimia sintetik dalam pertanian
organik merupakan salah satu kendala yang cukup berat bagi petani, selain mengubah budaya
yang sudah berkembang 35 tahun terakhir ini pertanian organik membuat produksi menurun
jika perlakuannya kurang tepat.

Di sisi lain, petani telah terbiasa mengandalkan pupuk anorganik (Urea, TSP, KCl dll) dan
pestisida sintetik sebagai budaya bertani sejak 35 tahun terakhir ini. Apalagi penggunaan
pestisida, fungisida pada petani sudah merupakan hal yang sangat akrab dengan petani kita.
Itulah yang digunakan untuk mengendalikan serangan sekitar 10.000 spesies serangga yang
berpotensi sebagai hama tanaman dan sekitar 14.000 spesies jamur yang berpotensi sebagai
penyebab penyakit dari berbagai tanaman budidaya.

Alasan petani memilih pestisida sintetik untuk mengendaliakan OPT di lahannya a.l. karena
aplikasinya mudah, efektif dalam mengendalikan OPT, dan banyak tersedia di pasar. Bahkan
selama enam dekade ini, pestisida telah dianggap sebagai penyelamat produksi tanaman selain
kemajuan dalam bidang pemuliaan tanaman. Pestisida yang beredar di pasaran Indonesia
umumnya adalah pestisida sintetik.

Sistem Pertanian Organik adalah sistem produksi holistic dan terpadu, mengoptimalkan
kesehatan dan produktivitas agro ekosistem secara alami serta mampu menghasilkan pangan
dan serat yang cukup, berkualitas dan berkelanjutan (Deptan 2002).

Sebenarnya, petani kita di masa lampau sudah menerapkan sistem pertanian organik dengan
cara melakukan daur ulang limbah organik sisa hasil panen sebagai pupuk. Namun dengan
diterapkannya kebijakan sistem pertanian kimiawa yang berkembang pesat sejak
dicanangkannya kebijakan sistem pertanian kimiawi yang berkembang yang berkembang pesat
sejak dicanangkannya Gerakan Revolusi Hijau pada tahu 1970-an, yang lebih mengutamakan
penggunaan pestisida dan pupuk kimiawi, walaupun untuk sementara waktu dapat
meningkatkan produksi pertanian, pada kenyataannya dalam jangka panjang menyebabkan
kerusakan pada sifat fisik, kimia, dan biologi tanah, yang akhirnya bermuara kepada semakin
luasnya lahan kritis dan marginal di Indonesia.

Sistem pertanian organik sebenarnya sudah sejak lama diterap kan di beberapa negara seperti
Jepang, Taiwan, Korea Selatan dan Amerika Serikat (Koshino, 1993). Pengembangan pertanian
organik di beberapa negara tersebut mengalami kemajuan yang pesat disebabkan oleh
kenyataan bahwa hasil pertanian terutama sayur dan buah segar yang ditanam dengan
pertanian sistem organik (organic farming system) mempunyai rasa, warna, aroma dan tekstur
yang lebih baik daripada yang menggunakan pertanian anorganik (Park 1993 dalam
Prihandarini, 1997).

Selama ini limbah organik yang berupa sisa tanaman (jerami, tebon, dan sisa hasil panen
lainnya) tidak dikembalikan lagi ke lahan tetapi dianjurkan untuk dibakar (agar praktis)
sehingga terjadi pemangkasan siklus hara dalam ekosistem pertanian. Bahan sisa hasil panen
ataupun limbah organik lainnya harus dimanfaatkan atau dikembalikan lagi ke lahan pertanian
agar lahan pertanian kita dapat lestari berproduksi sehingga sistem pertanian berkelanjutan
dapat terwujud.




BAB II
TEKNIK BUDIDAYA ORGANIK


Teknik Budidaya merupakan bagian dari kegiatan agribisnis harus berorientasi pada permintaan
pasar. Paradigma agribisnis : bukan Bagaimana memasarkan produk yang dihasilkan, tapi
Bagaimana menghasilkan produk yang dapat dipasarkan. Terkait dengan itu, teknik budidaya
harus mempunyai daya saing dan teknologi yang unggul. Usaha budidaya organik tidak bisa
dikelola asal - asalan, tetapi harus secara profesional. Ini berarti pengelola usaha ini harus
mengenal betul apa yang dikerjakannya, mampu membaca situasi dan kondisi serta inovatif
dan kreatif. Berkaitan dengan pasar (market), tentunya usaha agribisnis harus dilakukan
dengan perencanaan yang baik dan berlanjut, agar produk yang telah dikenal pasar dapat
menguasai dan mengatur pedagang perantara bahkan konsumen dan bukan sebaliknya.

Teknik budidaya organik merupakan teknik budidaya yang aman, lestari dan mensejahterakan
petani dan konsumen. Berbagai sayuran khususnya untuk dataran tinggi, yang sudah biasa
dibudidayakan dengan sistem pertanian organik, diantaranya : Kubis (Brassica oleraceae var.
capitata L.), Brokoli (Brassica oleraceae var. italica Plenk.), Bunga kol (Brassica oleraceae var.
brotritys.), Andewi (Chicorium endive), Lettuce (Lactuca sativa), Kentang (Solanum tuberosum
L.), Wortel. (Daucus carota).

Sayuran ini, mengandung vitamin dan serat yang cukup tinggi disamping juga mengandung
antioksidan yang dipercaya dapat menghambat sel kanker. Semua jenis tanaman ini ditanam
secara terus menerus setiap minggu, namun ada juga beberapa jenis tanaman seperti kacang
merah (Vigna sp.), kacang babi (Ficia faba), Sawi (Brassica sp) yang ditanam pada saat
tertentu saja sekaligus dimanfaatkan sebagai pupuk hijau dan pengalih hama. Ada juga
tanaman lain yang ditanam untuk tanaman reppelent (penolak) karena aromanya misalnya
Adas.

2.1. Sejarah Singkat Bayam (Amaranthus spp)

Bayam merupakan tanaman sayuran yang dikenal dengan nama ilmiah Amaranthus spp. Kata
"amaranth" dalam bahasa Yunani berarti "everlasting" (abadi). Tanaman bayam berasal dari
daerah Amerika tropik. Tanaman bayam semula dikenal sebagai tumbuhan hias. Dalam
perkembangan selanjutnya. Tanaman bayam dipromosikan sebagai bahan pangan sumber
protein, terutama untuk negara-negara berkembang. Diduga tanaman bayam masuk ke
Indonesia pada abad XIX ketika lalu lintas perdagangan orang luar negeri masuk ke wilayah
Indonesia.

2.2. Sentra Penanaman
Pusat penanaman bayam di Indonesia adalah Jawa Barat (4.273 hektar), Jawa Tengah (3.479
hektar), dan Jawa Timur (3.022 hektar). Propinsi lainnya berada pada kisaran luas panen
antara 13.0 - 2.376 hektar. Di Indonesia total luas panen bayam mencapai 31.981 hektar atau
menempati urutan ke-11 dari 18 jenis sayuran komersial yang dibudidayakan dan dihasilkan
oleh Indonesia. Produk bayam nasional sebesar 72.369 ton atau rata-rata 22,63 kuintal per
hektar.

2.3. Jenis Tanaman
Keluarga Amaranthaceae memiliki sekitar 60 genera, terbagi dalam sekitar 800 spesies bayam
(Grubben, 1976). Dalam kenyataan di lapangan, penggolongan jenis bayam dibedakan atas 2
macam, yaitu bayam liar dan bayam budidaya. Bayam liar dikenal 2 jenis, yaitu bayam tanah
(A. blitum L.) dan bayam berduri (A. spinosus L.). Ciri utama bayam liar adalah batangnya
berwarna merah dan daunnya kaku (kasap).

Jenis bayam budidaya dibedakan 2 macam, yaitu:


1. Bayam cabut atau bayam sekul alias bayam putih (A. tricolor L.). Ciri - ciri bayam
cabut adalah memiliki batang berwarna kemerah-merahan atau hijau keputih -
putihan, dan memilki bunga yang keluar dari ketiak cabang. Bayam cabut yang
batangnya merah disebut bayam merah, sedangkan yang batangnya putih disebut
bayam putih.
2. Bayam tahun, bayam skop atau bayam kakap (A. hybridus L.). Ciri - ciri bayam ini
adalah memiliki daun lebar - lebar, yang dibedakan atas 2 spesies yaitu:

hybridus caudatus L., memiliki daun agak panjang dengan ujung runcing, berwarna
hijau kemerah - merahan atau merah tua, dan bunganya tersusun dalam rangkaian
panjang terkumpul pada ujung batang.
hibridus paniculatus L., mempunyai dasar daun yang lebar sekali, berwarna hijau,
rangkaian bunga panjang tersusun secara teratur dan besar - besar pada ketiak daun.
Varietas bayam unggul ada 7 macam yaitu; varietas Giri Hijau, Giti Merah, Maksi, Raja, Betawi,
Skop, dan Hijau. Sedangkan beberapa varietas bayam cabut unggul adalah Cempaka 10 dan
Cempaka 20.

2.4. Manfaat Tanaman
Bayam merupakan bahan sayuran daun yang bergizi tinggi dan digemari oleh semua lapisan
masyarakat. Daun bayam dapat dibuat berbagai sayur mayur, bahkan disajikan sebagai
hidangan mewah (elit). Di beberapa negara berkembang bayam dipromosikan sebagai sumber
protein nabati, karena berfungsi ganda bagi pemenuhan kebutuhan gizi maupun pelayanan
kesehatan masyarakat.

Manfaat lainnya adalah sebagai bahan obat tradisional, dan juga untuk kecantikan. Akar bayam
merah dapat digunakan sebagai obat penyembuh sakit disentr. Daun dan bunga bayam duri
berkhasiat untuk mengobati penyakit asma dan eksim. Bahkan sampai batas tertentu, bayam
dapat mengatasi berbagai jenis penyakit dalam. Untuk tujuan pengobatan luar, bayam dapat
dijadikan bahan kosmetik (kecantikan). Biji bayam digunakan untuk bahan makanan dan obat -
obatan. Biji bayam dapat dimanfaatkan sebagai pencampur penyeling terigu dalam pembuatan
roti atau dibuat bubur biji bayam. Ekstrak biji bayam berkhasiat sebagai obat keputihan dan
pendarahan yang berlebihan pada wanita yang sedang haid.

2.5. Syarat Pertumbuhan
a. Iklim

1. Keadaan angin yang terlalu kencang dapat merusak tanaman bayam khususnya untuk
bayam yang sudah tinggi. Kencangnya angin dapat merobohkan tanaman.
2. Karena tanaman bayam cocok ditanam di dataran tinggi maka curah hujannya juga
termasuk tinggi sebagai syarat pertumbuhannya. Curah hujannya bisa mencapai lebih
dari 1.500 mm / tahun.
3. Tanaman bayam memerlukan cahaya matahari penuh. Kebutuhan akan sinar matahari
untuk tanaman bayam cukup besar. Pada tempat yang terlindungi (ternaungi),
pertumbuhan bayam
4. Suhu udara yang sesuai untuk tanaman bayam berkisar antara 16 - 20 derajat Celcius.
5. Kelembaban udara yang cocok untuk tanaman bayam antara 40 - 60%.

2.6. Media Tanam

1. Tanaman bayam menghendaki tanah yang gembur dan subur. Jenis tanah yang sesuai
untuk tanaman bayam adalah yang penting kandungan haranya terpenuhi.
2. Tanaman bayam termasuk peka terhadap pH tanah. Bila pH tanah di atas 7 (alkalis),
pertumbuhan daun-daun muda (pucuk) akan memucat putih kekuning - kuningan
(klorosis). Sebaliknya pada pH di bawah 6 (asam), pertumbuhan bayam akan merana
akibat kekurangan beberapa unsur. Sehingga pH tanah yang cocok adalah antara 6 - 7.
3. Tanaman bayam sangat reaktif dengan ketersediaan air di dalam tanah. Bayam
termasuk tanaman yang membutuhkan air yang cukup untuk pertumbuhannnya. Bayam
yang kekurangan air akan terlihat layu dan terganggu pertumbuhannya. Penanaman
bayam dianjurkan pada awal musim hujan atau akhir musim kemarau.
4. Kelerengan lahan untuk budidaya tanaman bayam adalah sekitar 15 - 45 derajat.

2.7. Ketinggian Tempat
Dataran tinggi merupakan tempat yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman bayam. Ketinggian
tempat yang baik yaitu 2000 m dpl.

2.8. Pembibitan
a. Persyaratan Benih
1) berasal dari induk yang sehat,
2) bebas dari hama / penyakit,
3) daya kecambah 80 prosen, dan
4) memiliki kemurnian benih yang tinggi.
Disamping persyaratan seperti yang disebutkan diatas, benih / bibit yang digunakan kalau bisa
merupakan benih unggul agar nantinya tahan terhadap hama dan penyakit.

b. Penyiapan Benih
Benih Bayam sayur yang ditanam petani kebanyakan swadaya dari tanaman terdahulu yang
sengaja dibiarkan tumbuh terus untuk produksi biji. Keperluan benih untuk lahan 1 hektar
berkisar antara 5 - 10 kg, atau 0,5 - 1,0 gram per m2 luas lahan. Biji dipanen pada waktu
musim kemarau dan hanya dipilih tandan yang sudah tua (masak). Tandan harus dijemur
beberapa hari, kemudian biji dirontokkan dari tandan dan dipisahkan dari sisa - sisa tanaman.
Untuk memproduksi bibit bagi satu hektar kebun yang berisi 25000 - 40000 tanaman,
kemungkinan dibutuhkan sekitar 1 - 2 kg benih.

c. Teknik Penyemaian Benih
Lahan untuk pembibitan dipilih yang lebih tinggi dari sekitarnya dan bebas dari hama dan
penyakit tanaman maupun gulma. Pembibitan diberi atap plastik atau atap jerami padi. Benih
bayam disebar merata atau berbaris - baris pada tanah persemaian dan ditutup dengan selapis
tanah tipis.

d. Pemeliharaan Pembibitan / Penyemaian
Dalam pemeliharaan benih / bibit perlu dilakukan penyiraman dengan teratur dan hati-hati.
Tanah yang digunakan juga perlu dipupuk agar kesuburannya tetap terjaga. Pupuk yang
digunakan sebaiknya pupuk kandang. Setelah bibit tumbuh dan ada benih yang terserang hama
/ penyakit maka perlu disemprot dengan pestisida dengan dosis rendah.

e. Pemindahan Bibit
Setelah bibit tumbuh berumur sekitar 7 - 14 hari, bibit dipindah-tanam ke dalam pot-pot yang
terbuat daun pisang atau kantong plastik es mambo yang sebelumnya telah diisi dengan
medium tumbuh campuran tanah dan pupuk organik yang halus (1:1). Bibit dalam pot disiram
teratur dan setelah berumur sekitar 7 - 14 hari setelah dipotkan, bibit tersebut telah siap
untuk dipindah-tanam ke lapangan.

2.9. Pengolahan Media Tanam
a. Persiapan
Sebelum pengolahan lahan dilakukan perlu diketahui terlebih dahulu pH tanah yang sesuai
yaitu antara 6 - 7 sehingga perlu dilakukan pengukuran dengan menggunakan pH-meter.
Selanjutnya menganalisis tanah yang cocok untuk tanaman bayam, apakah perlu dilakukan
pemupukan atau tidak. Kapan tanaman akan ditanam dan sebaiknya pada awal musim hujan
atau akhir musim kemarau. Berapa luas lahan yang akan ditanami dan akan melakukan sistem
polikultur atau monokultur. Dan berapa banyak kebutuhan benih untuk dapat memenuhi
produk bayam yang diinginkan.

b. Pembukaan Lahan
Lahan yang akan ditanami dicangkul / dibajak sedalam 30 - 40 cm, bongkah tanah dipecah
gulma dan seluruh sisa tanaman diangkat dan disingkirkan lalu diratakan. Lahan kemudian
dibiarkan selama beberapa waktu agar tanah matang benar.

c. Pembentukan Bedengan
Setelah tahap pencangkulan kemudian dibuat bedengan dengan lebar sekitar 120 cm atau 160
cm, tergantung jumlah populasi tanaman yang akan ditanam nanti. Dibuat parit antar
bedengan selebar 20 - 30 cm, kedalaman 30 cm untuk drainase. Pada bedengan dibuat lubang -
lubang tanam, jarak antar barisan 60-80 cm, jarak antar lubang (dalam barisan) 40-50 cm.


Gambar. Pembuatan Media Tanam (Bedengan)

d. Pengapuran
Apabila pH tanah terlalu rendah maka diperlukan pengapuran untuk menaikkannya.
Pengapuran dapat menggunakan kapur pertanian atau Calcit maupun Dolomit. Pada tipe tanah
pasir sampai pasir berlempung yang pH-nya 5,5 diperlukan 988 kg kapur pertanian / ha untuk
menaikkan pH menjadi 6,5. Kisaran kebutuhan kapur pertanian pada tanah lempung berpasir
hingga liat berlempung ialah antara 1.730 - 4.493 kg / hektar. Sebaliknya, untuk menurunkan
pH tanah, dapat digunakan tepung Belerang (S) atau Gipsum, biasa sekitar 6 ton / hektar. Cara
pemberiannya, bahan - bahan tersebut disebar merata dan dicampur dengan tanah minimal
sebulan sebelum tanam.

e. Pemupukan
Pemupukan awal menggunakan pupuk kandang yang telah masak. Waktu pemupukan dilakukan
satu minggu atau dua minggu sebelum tanam. Cara pemupukan adalah dengan disebarkan
merata diatas bedengan kemudian diaduk dengan tanah lapisan atas. Untuk pemupukan yang
diberikan per lubanng tanam, cara pemberiannya dilakukan dengan memasukkan pupuk ke
dalam lubang tanam. Dosis pemberian pupuk dasar disesuaikan dengan jenis tanaman dan
keadaan lahan. Akan tetapi dosis untuk pupuk kandang sekitar 10 ton per hektar. Pemupukan
per lubang tanam biasanya diperlukan sekitar 1 - 2 kg per lubang tanam.

f. Pemberian Mulsa
Untuk memperoleh hasil produksi yang berkualitas baik maka di dalam penanaman perlu
dipasang palstik perak-hitam sebagai mulsa. Dengan penggunaan plastik ini dapat mengurangi
serangan hama dan penyakit termasuk gangguan gulma dan lainnya.

2.10. Teknik Penanaman
a. Penentuan Pola Tanam
Jarak tanam untuk tanaman bayam adalah antara 60 cm x 50 cm atau 80 cm x 40 cm. Jarak
tanam tersebut dapat divariasikan sesuai dengan tingkat kesuburan tanah dan jenis bayam
sehingga populasi tanaman per hektar berkisar antara 30.000 - 60.000 tanaman. Pola tanam
untuk bayam cabut adalah monokultur. Dalam satu hamparan lahan biasanya ditanam berbagai
jenis tanaman dengan pola mosaik (perca), yaitu berbagai tanaman ditanam monokultur pada
petak - petak tersendiri. Tanaman lainnya tadi antara lain seperti kakngkung (darat), selada,
lobak, paria, kemangi dan sayuran lalapan lainnya.

b. Pembuatan Lubang Tanam
Lubang tanam dapat dibuat dengan menggunakan alat kayu dengan cara di pukul-pukul
sehingga membentuk lubang. Jarak antara barisan adalah 60 - 80 cm dan jarak antar lubang
(antar barisan) 40 - 50 cm.

c. Cara Penanaman
Penanaman dapat langsung di lapangan tanpa penyemaian atau dengan penyemaian terlebih
dahulu. Apabila tanpa penyemaian maka biji bayam dicampur abu disebarkan langsung di atas
bedengan menurut barisan pada jarak antar barisan 20 cm dan arahnya membujur dari Barat
ke Timur. Setelah disebarkan benih segera ditutup dengan tanah halus dan disiram hingga
cukup basah. Waktu penanaman paling baik adalah pada awal musim hujan. Dengan
penyemaian maka tanaman dapat tumbuh dengan lebih baik karena benih diperoleh dengan
cara seleksi untuk ditanam.

2.11. Pemeliharaan Tanaman
a. Penjarangan dan Penyulaman
Apabila sewaktu menyebar benih secara langsung di lapangan tidak merata maka akan terjadi
pertumbuhan yang mengelompok (rapat) sehingga pertumbuhannya terhambat karena saling
bersaing satu sama lain. Oleh karena itu perlu dilakukan penjarangan sekaligus sebagai panen
pertama. Apabila tanaman bayam dihasilkan dari benih yang disemai maka setelah penanaman
di lapangan ada yang mati / terserang penyakit, maka perlu dilakukan penyulaman dengan
mengganti tanaman dengan yang baru. Caranya dengan mencabut dan apabila terserang
penyakit segera dimusnahkan agar tidak menular ke tanaman lainnya. Penyulaman dapat
dilakukan seminggu setelah tanam.

b. Penyiangan
Penyiangan dilakukan apabila muncul gulma tanaman Gelang (Portulaca oleracea) dan rumput
liar lainnya. Kehadiran gulma gelang dapat menurunkan produksi bayam antara 30 - 65%.
Penyiangan dilakukan bersamaan dengan penggemburan tanah. Alat yang digunakan dalam
penyiangan dapat berupa cangkul kecil atau sabit. Caranya dengan dicangkul untuk mencabut
gulma atau langsung dicabut dengan tangan. Disamping itu pencangkulan dilakukan untuk
menggemburkan tanah.

c. Pembubunan
Proses pembubunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan.

d. Perempalan
Apabila perawakan tanaman terlalu subur, mungkin perlu dilakukan perempalan tunas - tunas
liar dan pemasangan ajir / turus untuk memperkuat tegaknya tanaman agar tidak rebah.

e. Pemupukan
Pemupukan dilakukan dengan menggunakan pupuk organik, untuk tiap lubang calon tanaman
sekitar 0,4 - 0,8 kg. Dengan demikian kuantum pupuk organik akan berkisar 15 - 30 ton
(http://Cerianet-agricultur.blogspot.com/2008/12/budidaya-bayam.html)
Karena bercocok tanam secara organik tidak menggunakan pupuk sintetis, sebagai gantinya
mereka mengandalkan metode alami, seperti kompos dan mengganti tanaman jenis panen,
seperti tanaman polong. Sayangnya, kompos tidak dapat mencukupi pengembalian nitrogen ke
dalam tanah guna menumbuhkan sejumlah besar tanaman yang diperlukan untuk memberi
makan pada ternak dunia.

Mengganti tanaman dengan jenis panen sebetulnya adalah sangat menjanjikan, namun banyak
petani tidak mampu menanam tanaman yang mereka sendiri tidak mampu menjualnya.
Meskipun beberapa jenis tanaman polong dapat dikonsumsi, namun jenis paling baik dalam
memproduksi nitrogen justru dari jenis yang tidak bisa dimakan
(http://erabaru.net/kesehatan/34-kesehatan/1913-beralih-ke-organik-sebanding-harganya)

f. Pengairan dan Penyiraman
Pada fase awal pertumbuhan, sebaiknya penyiraman dilakukan rutin dan intensif 1 - 2 kali
sehari, terutama di musim kemarau. Waktu yang paling baik untuk menyiram tanaman bayam
adalah pagi atau sore hari, dengan menggunakan alat bantu gembor (emrat) agar air
siramannya merata (http://cerianet-agricultur.blogspot.com/2008/12/budidaya-bayam.html).

g. Waktu Penyemprotan Pestisida
Jenis pestisida yang digunakan pada budidaya tanaman bayam secara organik adalah daun
Mindi yang mengandung margosin, glikosdida flafonoid untuk mengendalikan ulat grayak dan
kutu daun, Surian yang daun dan kulit batangnya berfungsi untuk mengendalikan hama ulat,
tungau dan lain-lain. Sedangkan untuk mengendalikan penyakit bisa digunkan bunga Camomil
(Chamaemelum spp). Pengaplikasian dengan menggunakan 60 cc untuk 1 lt air, disemprotkan
ke tanaman yang terkena hama pada daun dan batangnya 1 minggu 1 kali (google search:
pembuatan pestisida alami, Blog Lesman).

Penyemprotan dilakukan dengan menggunakan alat penyemprot berupa tangki sprayer. Cara
penyemprotan yaitu jangan dilakukan ketika angin bertiup kencang dan jangan menentang
arah datangnya angin. Jangan melakukan penyemprotan pada saat akan hujan dan sebaiknya
dicampurkan bahan perekat. Waktu penyemprotan dilakukan pada pagi hari benar atau sore
hari ketika udara masih tenang. Hal tersebut untuk menghindari matinya lebah atau serangga
lainnya yang menguntungkan.

2.12. Hama dan Penyakit
a. Hama
1) Serangga ulat daun (Spodoptera Plusia Hymenia)
Gejala: daun berlubang - lubang. Pengendalian: pestisida / cukup dengan menggoyangkan
tanaman.
2) Serangga kutu daun (Myzus persicae Thrips sp.)
Gejala: daun rusak, berlubang dan layu. Pengendalian: pestisida / cukup dengan
menggoyangkan tanaman.
3) Serangga tungau (Polyphagotarsonemus latus)
Gejala: daun rusak, berlubang dan layu. Pengendalian: pestisida / cukup dengan
menggoyangkan tanaman.
4) Serangga lalat (Liriomyza sp.)
Gejala: daun rusak, berlubang dan layu. Pengendalian: pestisida / cukup dengan
menggoyangkan tanaman.

b. Penyakit
1) Rebah kecambah
Penyebab: cendawan Phytium sp. Gejala: menginfeksi batang daun maupun batang daun.
Pengendalian: Fungisida
2) Busuk basah
Penyebab: cendawan Rhizoctonia sp. Gejala: adanya bercak - bercak putih. Pengendalian:
sama dengan pengendalian penyakit rebah kecambah.
3) Karat putih
Penyebab: cendawan Choanephora sp. Gejala: menginfeksi batang daun dan daunnya.
Pengendalian: sama dengan pengendalian penyakit rebah kecambah.

c. Gulma
Jenis gulma: rumput - rumputan, alang-alang. Ciri - ciri: tumbuh mengganggu tanaman
budidaya. Gejala: lahan banyak ditumbuhi pemila liar. Pencegahan: herbisida.

2.13. Panen
a. Ciri dan Umur Panen
Ciri-ciri bayam cabut siap panen adalah umur tanaman antara 25 - 35 hari setelah tanam.
Tinggi tanaman antara 15 - 20 cm dan belum berbunga. Waktu panen yang paling baik adalah
pagi atau sore hari, saat suhu udara tidak terlalu tinggi.

b. Cara Panen
Cara panennya adalah dengan mencabut seluruh bagian tanaman dengan memilih tanaman
yang sudah optimal. Tanaman yang masih kecil diberi kesempatan untuk tumbuh membesar,
sehingga panen bayam identik dengan penjarangan.

c. Periode Panen
Panen pertama dilakukan mulai umur 25 - 30 hari setelah tanam, kemudian panen berikutnya
adalah 3-5 hari sekali. Tanaman yang sudah berumur 35 hari harus dipanen seluruhnya, karena
bila melampaui umur tersebut kualitasnya menurun atau rendah; daun - daunnya menjadi
kasar dan tanaman telah berbunga.

d. Prakiraan Produksi
Produksi bayam per hektar dapat mencapai sekitar 22.630 kg.

e. Pascapanen
1) Pengumpulan
Pengumpulan dilakukan setelah panen dengan cara meletakkan di suatu tempat yang teduh
agar tidak terkena sinar matahari langsung, karena dapat membuat daun layu.

2) Penyortiran dan Penggolongan
Penyortiran dilakukan dengan memisahkan bayam yang busuk dan rusak dengan bayam yang
baik dan segar. Disamping itu juga penggolongan terhadap bayam yang daunnya besar dan yang
daunnya kecil. Setelah itu diikat besar - besar maupun langsung degan ukuran ibu jari.

3) Penyimpanan
Penyimpanan untuk menjaga kesegaran bayam dapat diperpanjang dari 12 jam tempat terbuka
(suhu kamar) menjadi 12 - 14 hari dengan perlakuan suhu dingin mendekati 0 derajat C,
misalnya dengan remukan es.

4) Pengemasan dan Pengangkutan
Pengemasan (pewadahan) dalam telombong atau dedaunan yang digulungkan menyelimuti
seluruh bagian bayam, sehingga terhindar dari pengaruh langsung sinar matahari.
Pengangkutan ke pasar dengan cara dipikul maupun angkutan lainnya, seperti mobil atau
gerobak.

5) Pencucian
Pencucian hasil panen pada air yang mengalir dan bersih, atau air yang disemprotkan melalui
selang maupun pancuran.

6) Penanganan Lain
Bayam dapat diolah menjadi berbagai jenis masakan. Sewaktu memasak bayam ialah tidak
boleh terlalu lama. Bayam cukup hanya direbus selama 5 menit. Memasak bayam terlalu
lama akan menyebabkan daun-daunnya menjadi hancur (lonyoh), rasanya tidak enak, dan
kandungan vitamin C nya menghilang (menguap)
(http://cerianet-agricultur.blogspot.com/2008/12/budidaya-bayam.html)

Penyiapan Lahan
Tanah harus memiliki pH sekitar 7, jika lebih dari itu maka bayam bisa mengalami penurunan
kualitas berupa daun-daun yang akan menguning.
Lakukan penggemburan tanah dengan cara dicangkul atau bisa juga dibajak. Pastikan tanah
menjadi gembur dan bebas dari gulma.
Bila tanah sudah gembur, buat bedengan (seperti gundukan tanah) kira-kira selebar 50-100
cm, lebar ini tergantung pada jumlah benih yang akan disemai nanti. Sedangkan parit antar
bedengan kira-kira selebar 20 cm. Buatlah tanda berupa lubang-lubang untuk penanaman
bibit bayam, jarak dari satu lubang ke lubang yang lain adalah 20-30 cm.
Bila bedengan sudah siap, lakukan pemupukan dan pemberian air agar tanah terjaga
kelembabannya.
Tutupi bedengan dengan plastik mulsa (biasanya berwarna hitam atau perak) yang
bisa Anda beli di toko perlengkapan pertanian/perkebunan. Hal ini berguna untuk menjaga kualitas
lahan dan menjaganya dari hama maupun tanaman pengganggu. Jangan lupa untuk melubangi
plastik agar bisa ditanami bayam.

Bibit dan Cara Penananam
Pemilihan benih adalah faktor penting dalam budidaya bayam, karena dari benih inilah Anda bisa
tahu seperti apa kualitas hasil budidaya bayam nanti. Yang dimaksud benih bayam adalah biji-biji
sayur tersebut yang sudah tua.
Jemur tandan bayam yang mengandung biji, lalu rontokkan hingga biji-biji bayam bisa dikumpulkan.
Benih ini sebenarnya bisa langsung ditanam ke atas lahan, namun juga bisa disemai terlebih dahulu.
Caranya sebagai berikut:
Siapkan tanah gembur yang dicampur pupuk kandang sebagai media penyemaian.
Sebar biji bayam lalu tutupi biji-biji tersebut dengan tanah, tipis saja asalkan biji sudah tertutup
oleh tanah.
Beri sedikit air agar tanah tetap basah dan membuat biji cepat berkembang.
Bila biji sudah tumbuh menjadi bibit bayam (kira-kira berumur seminggu), pindahkan bibit
tersebut dalam polybag dan dirawat selama seminggu lagi hingga agak besar.
Benih dari polybag kemudian dipindahkan ke lahan budidaya bayam yang sudah dipersiapkan
sebelumnya.



Perawatan Bayam
Saat bibit bayam sudah tertanam di bedengan, langkah selanjutnya dalam budidaya bayam adalah
memelihara sayuran tersebut agar tumbuh dengan baik tanpa gangguan hama dan gulma. Lakukan
penyiraman dan pemupukan secara teratur serta bersihkan gulma atau tanaman pengganggu. Anda
juga bisa memakai pestisida apabila diperlukan.