Anda di halaman 1dari 15

A.

Pengertian
Luka bakar adalah luka yang dapat timbul akibat kulit terpajan ke suhu tinggi,
syok listrik, atau bahan kimia (Corwin, 2001).
Luka bakar adalah luka yang disebabkan oleh pengalihan energi dari suatu
sumber panas pada tubuh, panas dapat dipindahkan oleh hantaran/radiasi
electromagnet (Brunner & Suddarth, 2002).
Luka bakar merupakan luka yang unik diantara bentuk-bentuk luka lainnya
karena luka tersebut meliputi sejumlah besar jaringan mati (eskar) yang tetap
berada pada tempatnya untuk jangka waktu yang lama (Smeltzer, 2001).

B. Klasifikasi
1. Berdasarkan penyebab :
a. Luka bakar karena api
b. Luka bakar karena air panas
c. Luka bakar karena bahan kimia
d. Luka bakar karena listrik
e. Luka bakar karena radiasi
f. Luka bakar karena suhu rendah (frost bite)
2. Berdasarkan kedalaman luka bakar :
a. Luka bakar derajat I
Luka bakar derajat pertama adalah setiap luka bakar yang di dalam
proses penyembuhannya tidak meninggalkan jaringan parut. Luka bakar
derajat pertama tampak sebagai suatu daerah yang berwarna kemerahan,
terdapat gelembung gelembung yang ditutupi oleh daerah putih,
epidermis yang tidak mengandung pembuluh darah dan dibatasi oleh
kulit yang berwarna merah serta hiperemis. Luka bakar derajat pertama
ini hanya mengenai epidermis dan biasanya sembuh dalam 5-7 hari,
misalnya tersengat matahari. Luka tampak sebagai eritema dengan
keluhan rasa nyeri atau hipersensitifitas setempat. Luka derajat pertama
akan sembuh tanpa bekas.


b. Luka bakar derajat II
Kerusakan yang terjadi pada epidermis dan sebagian dermis, berupa
reaksi inflamasi akut disertai proses eksudasi, melepuh, dasar luka
berwarna merah atau pucat, terletak lebih tinggi di atas permukaan kulit
normal, nyeri karena ujungujung saraf teriritasi. Luka bakar derajat II ada
dua
1) Derajat II dangkal (superficial), kerusakan yang mengenai bagian
superficial dari dermis, apendises kulit seperti folikel rambut,
kelenjar keringat, kelenjar sebasea masih utuh. Luka sembuh dalam
waktu 10-14 hari.
2) Derajat II dalam (deep), kerusakan hampir seluruh bagian dermis.
Apendises kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar
sebasea sebagian masih utuh. Penyembuhan terjadi lebih lama,
tergantung apendises kulit yang tersisa. Biasanya penyembuhan
terjadi dalam waktu lebih dari satu bulan.
c. Luka bakar derajat III
Kerusakan meliputi seluruh ketebalan dermis dan lapisan yang lebih
dalam, apendises kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar
sebasea rusak, tidak ada pelepuhan, kulit berwarna abu-abu atau coklat,
kering, letaknya lebih rendah dibandingkan kulit sekitar karena koagulasi
protein pada lapisan epidermis dan dermis, tidak timbul rasa nyeri.
Penyembuhan lama karena tidak ada proses epitelisasi spontan.
3. Berdasarkan tingkat keseriusan luka
a. Luka bakar ringan (minor)
1) Luka bakar dengan luas < 15 % pada dewasa
2) Luka bakar dengan luas < 10 % pada anak dan usia lanjut
3) Luka bakar dengan luas < 2 % pada segala usia (tidak mengenai
muka, tangan, kaki, dan perineum.
b. Luka bakar sedang (moderate burn)
1) Luka bakar dengan luas 15 25 % pada dewasa, dengan luka bakar
derajat III kurang dari 10 %
2) Luka bakar dengan luas 10 20 % pada anak usia < 10 tahun atau
dewasa > 40 tahun, dengan luka bakar derajat III kurang dari 10 %
3) Luka bakar dengan derajat III < 10 % pada anak maupun dewasa
yang tidak mengenai muka, tangan, kaki, dan perineum.
d. Luka bakar berat (major burn)
1) Derajat II-III > 20 % pada pasien berusia di bawah 10 tahun atau di
atas usia 50 tahun
2) Derajat II-III > 25 % pada kelompok usia selain disebutkan pada
butir pertama
3) Luka bakar pada muka, telinga, tangan, kaki, dan perineum
4) Adanya cedera pada jalan nafas (cedera inhalasi) tanpa
memperhitungkan luas luka bakar
5) Luka bakar listrik tegangan tinggi
6) Disertai trauma lainnya
7) Pasien-pasien dengan resiko tinggi
(Brunner & Suddarth, 2002)
C. Etiologi
Luka bakar disebabkan oleh pengalihan energi dari suatu sumber panas kepada
tubuh melalui hantaran atau radiasi elektromagnetik (Smeltzer, 2001). Berikut
ini adalah beberapa penyebab luka bakar, antara lain :
1. Panas, misal api, air panas, uap panas
2. Radiasi
3. Listrik
4. Petir
5. Bahan kimia (sifat asam dan basa kuat)
6. Ledakan kompor, udara panas
7. Ledakan ban, bom
8. Sinar matahari
9. Suhu yang sangat rendah (frost bite)



D. Patofisiologi
Kulit adalah organ terluar tubuh manusia dengan luas 0,025m
2
pada dewasa. Bila
kulit terbakar akan terjadi peningkatan permeabilitas karena rusaknya pembuluh
darah kapiler, dan area-area sekitarnya. Sehingga terjadi kebocoran cairan
intrakapiler ke intertisial sehingga menimbulkan udem dan bula yang
mengandung banyak elektrolit.
Kulit terbakar juga berakibat kurangnya cairan intravaskuler. Bila kulit terbakar
> 20% dapat terjadi syok hipovolemik dengan gejala: gelisah, pucat, akral
dingin, berkeringat, nadi kecil, cepat, TD menurun, produksi urin berkurang dan
setelah 8 jam dapat terjadi pembengkakan. Saat pembuluh darah kapiler terpajan
suhu tinggi, sel darah ikut rusak sehingga berpotensi anemia. Sedangkan bila
luka bakar terjadi di wajah dapat terjadi kerusakan mukosa jalan napas karena
asap, gas, atau uap panas yang terhirup, oedema laring menyebabkan hambatan
jalan napas yang mengakibatkan sesak napas, takipnea, stridor, suara parau, dan
dahak bewarna gelap. Selain itu dapat juga terjadi keracunan gas CO
2
, karena
hemoglobin tidak mampu mengikat O
2
ditandai dengan lemas, binggung,
pusing, mual, muntah dan berakibat koma bahkan meninggal dunia (Corwin,
2001).
Reaksi tubuh yang lain berdasarkan patofosiologinya yang dapat menjadikan
manifestasi sistemik tubuh, antara lain :
1. Respon Kardiovaskuler
Curah jantung akan menurun sebelum perubahan yang signifikan pada
volume darah terlihat dengan jelas. Karena berlanjutnya kehilangan cairan
dan berkurangnya volume vaskuler, maka curah jantung akan terus turun dan
terjadi penurunan tekanan darah. Keadaan ini merupakan awitan syok luka
bakar. Sebagai respon, sistem saraf simpatik akan melepaskan katekolamin
yang meningkatkan resistensi perifer (vasokontriksi) dan frekuensi denyut
nadi. Selanjutnya vasokontriksi pembuluh darah perifer menurunkan curah
jantung.
2. Respon Renalis
Ginjal berfungsi untuk menyaring darah jadi dengan menurunnya volume
intravaskuler maka aliran darah ke ginjal dan GFR menurun mengakibatkan
keluaran urin menurun dan bisa berakibat gagal ginjal
3. Respon Gastro Intestinal
Ada dua komplikasi gastrointestinal yang potensial, yaitu ileus paralitik
(tidak adanya peristaltik usus) dan ulkus curling. Berkurangnya peristaltik
usus dan bising usus merupakan manifestasi ileus paralitik yang terjadi
akibat luka bakar. Distensi lambung dan nausea dapat mengakibatkan
vomitus kecuali jika segera dilakukan dekompresi lambung (dengan
pemasangan sonde lambung). Perdarahan lambung yang terjadi sekunder
akibat stres fisiologik yang masif dapat ditandai oleh darah dalam feses atau
vomitus yang berdarah. Semua tanda ini menunjukkan erosi lambung atau
duodenum (ulkus curling).
4. Respon Imunologi
Pertahanan imunologik tubuh sangat berubah akibat luka bakar. Sebagian
basis mekanik, kulit sebagai mekanisme pertahanan dari organisme yang
masuk. Terjadinya gangguan integritas kulit akan memungkinkan
mikroorganisme masuk kedalam luka.
5. Respon Pulmoner
Pada luka bakar yang berat, konsumsi oksigen oleh jaringan akan meningkat
dua kali lipat sebagai akibat dari keadaan hipermetabolisme dan respon
lokal. Cedera pulmoner dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kategori
yaitu cedera saluran napas atas terjadi akibat panas langsung, cedera inhalasi
di bawah glotis terjadi akibat menghirup produk pembakaran yang tidak
sempurna atau gas berbahaya seperti karbon monoksida, sulfur oksida,
nitrogen oksida, senyawa aldehid, sianida, amonia, klorin, fosgen, benzena,
dan halogen. Komplikasi pulmoner yang dapat terjadi akibat cedera inhalasi
mencakup kegagalan akut respirasi dan ARDS (adult respiratory distress
syndrome).
(Smeltzer, 2002).


E. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis yang muncul dilihat berdasarkan pada derajat luka bakarnya,
yaitu :
1. Luka bakar derajat I
a. Kerusakan terbakar pada lapisan epidermis (superficial)
b. Rasa nyeri mereda jika didinginkan
c. Kesemutan
d. Hiperestesia (super sensitivitas)
e. Penampilan luka memerah dan menjadi putih jika ditekan
f. Minimal atau tanpa edema (tanpa bullae)
2. Luka bakar derajat II
a. Kerusakan meliputi epidermis dan sebagian dermis
b. Hiperestesia
c. Sensitif terhadap udara dingin
d. Nyeri karena ujung-ujung saraf sensorik teriritasi
e. Penampilan luka melepuh, dasar luka berbintik-bintik merah
f. Edema (terdapat bullae)
1) Derajat II dangkal (superficial)
a) Kerusakan mengenai bagian superfisial dari dermis.
b) Organ-organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar
sebasea masih utuh.
c) Penyembuhan spontan dalam waktu 10-14 hari, tanpa skin graft
2) Derajat II dalam (deep)
a) Kerusakan hampir seluruh bagian dermis.
b) Organ-organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar
sebasea sebagian besar masih utuh
c) Penyembuhan terjadi lebih lama, tergantung biji epitel yang tersisa.
Biasanya penyembuhan lebih dari satu bulan. Bahkan perlu dengan
operasi penambalan kulit (skin graft).
3. Luka bakar derajat III
a. Kerusakan meliputi seluruh tebal dermis dan lapisan yang lebih dalam
b. Tidak dijumpai rasa nyeri dan hilang sensasi, oleh karena ujung-ujung
saraf sensorik mengalami kerusakan/kematian
c. Syok
d. Hematuria dan kemungkinan hemolisis (detruksi sel darah merah)
e. Kering: luka bakar berwarna putih atau gosong
f. Edema
(Smeltzer, 2002)
F. Penatalaksanaan
Menurut R. Sjamsuhidajat, (2010) Penatalaksanaan medis pada penderita luka
bakar sebagai berikut:
1. Mematikan sumber api
Upaya pertama saat terbakar adalah mematikan api pada seluruh tubuh
(menyelimuti, menutup bagian yang terbakar, berguling, menjatuhkan diri ke
air).
2. Merendam atau mengaliri luka
Setelah sumber panas hilang adalah dengan merendam luka bakar dalam air
atau menyiram dengan air mengalir selama kurang lebih 15 menit. Pada luka
bakar ringan tujuan ini adalah untuk menghentikan proses koagulasi protein
sel jaringan dan menurunkan suhu jaringan agar memperkecil derajat luka
dan mencegah infeksi sehingga sel-sel epitel mampu berfoliferasi.
3. Rujuk ke Rumah Sakit
Pada luka bakar dalam pasien harus segera di bawa ker Rumah Sakit yang
memiliki unit luka bakar dan selama perjalanan pasien sudah terpasang
infus.
4. Resusitasi
Pada luka bakar berat penanganannya sama seperti diatas . namun bila terjadi
syok segera di lakukan resusitasi ABC.
a) Airway Management
- Bersihkan jalan napas dengan tangan dan mengangkat dagu pada
pasien tidak sadar.
- Lindungi jalan napas dengan nasofarigeal.
- Pembedahan (krikotiroldotomi) bila indikasi trauma silafasial/gagal
intubasi.
b) Breathing/Pernapasan
- Berikan supplement O2.
- Nilai frekuensi napas dan pergerakkan dinding toraks.
- Pantau oksimetri nadi dan observasi.
c) Circulation
- Nilai frekuensi nadi dan karakternya
- Ambil darah untuk cross match, DPL, ureum dan elektrolit.
5. Perawatan lokal
Untuk luka bakar derajat I dan II bias dilakukan perawatan lokal yaitu
dengan pemberian obat topical seperti salep antiseptic contoh golongan:
silver sulfadiazine, moist exposure burn ointment, ataupun yodium providon.
6. Pemberian cairan intravena
Untuk pemberian cairan intravena pada pasien luka bakar bias menggunakan
rumus yang di rekomendasikan oleh Envans, yaitu:
- Luas luka dalam persen x BB(kg) = mL NaCl /24 jam
- Luas luka dalam persen x BB (kg) = mL Plasma/24 jam
- 2000 cc gluksosa 5%/24 jam
Penderita mula-mula dipuasakan karena keadaan syok menyebabkan
peristaltik usus terhambat. Dan di berikan minum setelah fungsi usus normal
kembali. Jika diuresis pada hari ketiga memuaskan dan penderita dapat
minum tanpa kesulitan, infuse dapat dikurangi, bahkan dihentikan.
7. Pemberian obat-obatan
Pemberian obat seperti antibiotic spectrum luas bertujuan untuk mencegah
infeksi terhadap pseudomonas yang dipakai adalah golongan
aminoglikosida. untuk mengatasi nyeri diberikan opiate dalam dosis rendah
melalui intravena.
8. Nutrisi
Nutrisi harus diberikan cukup untuk menutup kebutuhan kalori dan
keseimbangan nitrogen yang negatif pada fase katabolisme, yaitu sebanyak
2.500-3.000 kalori sehari dengan kadar protein tinggi
G. Pengkajian
a. Pengkajian pola fugsi
1. Aktifitas/istirahat:
Tanda: Penurunan kekuatan, tahanan; keterbatasan rentang gerak pada
area yang sakit; gangguan massa otot, perubahan tonus.
2. Sirkulasi:
Tanda (dengan cedera luka bakar lebih dari 20% APTT): hipotensi
(syok); penurunan nadi perifer distal pada ekstremitas yang cedera;
vasokontriksi perifer umum dengan kehilangan nadi, kulit putih dan
dingin (syok listrik); takikardia (syok/ansietas/nyeri); disritmia (syok
listrik); pembentukan oedema jaringan (semua luka bakar).
3. Integritas ego:
Gejala: masalah tentang keluarga, pekerjaan, keuangan, kecacatan.
Tanda: ansietas, menangis, ketergantungan, menyangkal, menarik diri,
marah.
4. Eliminasi:
Tanda: haluaran urine menurun/tak ada selama fase darurat; warna
mungkin hitam kemerahan bila terjadi mioglobin, mengindikasikan
kerusakan otot dalam; diuresis (setelah kebocoran kapiler dan mobilisasi
cairan ke dalam sirkulasi); penurunan bising usus/tak ada; khususnya
pada luka bakar kutaneus lebih besar dari 20% sebagai stres penurunan
motilitas/peristaltik gastrik.
5. Makanan/cairan:
Tanda: oedema jaringan umum; anoreksia; mual/muntah.
6. Neurosensori:
Gejala: area batas; kesemutan.
Tanda: perubahan orientasi; afek, perilaku; penurunan refleks tendon
dalam (RTD) pada cedera ekstremitas; aktifitas kejang (syok listrik);
laserasi korneal; kerusakan retinal; penurunan ketajaman penglihatan
(syok listrik); ruptur membran timpanik (syok listrik); paralisis (cedera
listrik pada aliran saraf).
7. Nyeri/kenyamanan:
Gejala: Berbagai nyeri; contoh luka bakar derajat pertama secara
eksteren sensitif untuk disentuh; ditekan; gerakan udara dan perubahan
suhu; luka bakar ketebalan sedang derajat kedua sangat nyeri; smentara
respon pada luka bakar ketebalan derajat kedua tergantung pada
keutuhan ujung saraf; luka bakar derajat tiga tidak nyeri.
8. Pernafasan:
Gejala: terkurung dalam ruang tertutup; terpajan lama (kemungkinan
cedera inhalasi).
Tanda: serak; batuk mengii; partikel karbon dalam sputum;
ketidakmampuan menelan sekresi oral dan sianosis; indikasi cedera
inhalasi.
9. Keamanan:
Tanda: kulit umum: destruksi jaringan dalam mungkin tidak terbukti
selama 3-5 hari sehubungan dengan proses trobus mikrovaskuler pada
beberapa luka.
b. Pemeriksaan diagnostik:
1. LED: mengkaji hemokonsentrasi.
2. Elektrolit serum mendeteksi ketidakseimbangan cairan dan biokimia. Ini
terutama penting untuk memeriksa kalium terdapat peningkatan dalam
24 jam pertama karena peningkatan kalium dapat menyebabkan henti
jantung.
3. Gas-gas darah arteri (GDA) dan sinar X dada mengkaji fungsi pulmonal,
khususnya pada cedera inhalasi asap.
4. BUN dan kreatinin mengkaji fungsi ginjal.
5. Urinalisis menunjukkan mioglobin dan hemokromogen menandakan
kerusakan otot pada luka bakar ketebalan penuh luas.
6. Bronkoskopi membantu memastikan cedera inhalasi asap
7. Koagulasi memeriksa faktor-faktor pembekuan yang dapat menurun
pada luka bakar masif.
8. Kadar karbon monoksida serum meningkat pada cedera inhalasi asap.

H. Pathways Keparawatan (Terlampir)
I. Diagnosa Keperawatan
1. Risiko bersihan jalan napas tidak efektif b.d. edema dan efek dari inhalasi
asap.
2. Risiko ketidakseimbangan cairan dan elektrolit b.d. peningkatan
permeabilitas kapiler dan kehilangan cairan akibat evaporasi dari daerah luka
bakar.
3. Nyeri b.d hipoksia jaringan, cedera jaringan, serta saraf dan dampak
emosional dari luka bakar.
4. Risiko tinggi infeksi b.d. hilangannya barier kulit dan terganggunya respon
imun.
5. Gangguan intergritas kulit b.d. luka bakar terbuka

J. Intervensi dan Rasional
1. Risiko bersihan jalan napas tidak efektif b.d. edema dan efek dari inhalasi
asap.
Tujuan: Dalam waktu 1x 24 jam kebersihan jalan pasien tetap optimal
Kriteria Hasil: Jalan napas bersih, tidak ada obstruksi, suara napas normal
tidak ada bunyi napas tambahan seperti stridor, tidak ada penggunaan otot
bantu napas.
Intervensi:
a. Kaji dan monitor jalan napas
Rasional: Deteksi awal untuk interprestasi selanjutnya.
b. Tempatkan pasien di bagian resusitasi
Rasional: Memudahkan melakukan monitoring status kardiorespirasi dan
intervensi kedaruratan.
c. Beri oksigen 4 liter/menit dengan kanul atau sungkup
Rasional: Membantu meningkatkan paO
2
di cairan otak yang akan
mempengaruhi pengaturab pernapasan,
d. Lakukan tindakkan kedaruratan jalan napas agresif.
Rasional: Tindakkan ini termasuk membalikkan tubuh pasien,
mendorong pasien bernapas dalam, mengeluarkan timbunan sekret
melalui penghisapan trakea.
e. Bersihkan jalan napas dengan suctioning bila kemampuan mengeluarkan
sekret tidak efektif.
Rasional: Pernapasan menjadi adekuat bila jalan napas bersih
f. Intruksikan pasien untuk napas dalam dan batuk efektif
Rasional: Pernapasan diafragma dapat meningkatkan ekspansi paru
sehingga pasien dapat melakuan inspirasi maksimal. Batuk efektif
melonggarkan mukus.
g. Evaluasi dan monitor keberhasilan intervensi bersihan jalan napas.
Rasional: Memantau status respirasi dan keberhasilan bersihan jalan
napas
2. Risiko ketidakseimbangan cairan dan elektrolit b.d. peningkatan
permeabilitas kapiler dan kehilangan cairan akibat evaporasi dari daerah luka
bakar.
Tujuan : Dalam waktu 1x 24 jam tidak terjadi ketidakseimbangan cairan dan
elektrolit.
Kriteria Hasil yang di harapkan : Pasien tidak mengeluh pusing, TTV batas
normal, kesadaran potimal, urine > 600ml/hari, Keluhan diare, mual, muntah
berkurang, Hasil lab: nilai elektrolit dan analisis gas darah normal
Intervensi :
a. Identifikasi faktor penyebab, spesifikasi luka, luas luka bakar, kedalaman
luka bakar, dan riwayat penyakit lain
Rasional: Sebagai parameter dalam menentukan intervensi kedaruratan.
b. Kaji status dehidrasi.
Rasional: Menentukan jumlah cairan yang akan diberikan sesuai dengan
derajat dehidrasi dari individu.
c. Lakukan pemasangan IVFD (intravenous fluid drops).
Rasional: Kompensasi awal hidrasi cairan di gunakan untuk mencegah
syok hipovolemik
d. Kaji penurunan kadar peurunan elektrolit
Rasional: Mendeteksi kondisi hiponatremi dan hipokalemi sekunder dari
hilangnya elektrolit dari plasma.
3. Nyeri b.d hipoksia jaringan, cedera jaringan, serta saraf dan dampak
emosional dari luka bakar
Tujuan : Dalam waktu 1x 24 jam nyeri berkurang.
Kriteria hasil yang di harapkan : Secara subyektif melaporkan nyaeri
berkurang, Dapat mengidentifikasi aktivitas yang meningkatkan atau
menurunkan nyeri.
Intervensi :
a. Kaji nyeri dengan pendekatan PQRST.
Rasional: Parameter dasar untuk mengetahui sejauh mana intervensi
yang diperlukan dan sebagai evaluasi kberhasilan intervensi manajement
nyeri.
b. Atur posisi fisiologis
Rasional: Meningkatkan asupan O2 ke jaringan yang mengalami
peradangan.
c. Istirahatkan klien.
Rasional: Meningkatkan suplai darah pada jaringan yang mengalami
peradangan.
d. Ajarkan teknik relaksasi pernapasan dalam.
Rasional: Menurunkan nyeri sekunder dari peradangan.
e. Ajarkan teknik distraksi pada saat nyeri
Rasional: Memblok reseptor nyeri untuk tidak dikirimkan ke korteks
cerebri sehingga menurunkan persepsi nyeri.
f. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgetik preparat
morfinAjarkan teknik distraksi pada saat nyeri.
Rasional: Memblok lintasan nyeri sehingga menurunkan nyeri.
4. Resiko tinggi infeksi b.d hilangnya barier kulit dan tergangguanya respon
imun.
Tujuan : Dalam waktu 7x 24 jam tidak terjadi infeksi, terjadi perbaikan pada
integritas jaringan lunak
Kriteria Evaluasi: lesi luka bakar mulai menutup pada hari ke-7 minimal o,5
cm tanpa adanya tanda-tanda infeksi dan peradangan pada area lesi, Leukosit
dalam batas norma TTV dalam batas normal.
Intervensi :
a. Kaji derajat, kondisi kedalaman, luasnya lesi luka bakar, serta apakah
adanya advice dokter dalam perawatan luka.
Rasional: Mengidentifikasi kemajuan atau penyimpangan dari tujuan
yang diharapkan.
b. Lakukan perawatan steril setiap hari
Rasional: Menurunkan kontak kuman ke dalam lesi
c. Pantau ketat TTV ( respiratori, renal, atau gastrointestinal)
Rasional: Mampu mendeteksi dengan cepat mulainya suatu infeksi.
d. Buat kondisi balutan dalam keadaan bersih dan kering
Rasional: Menghindari kontaminasi
e. Kalaborasi penggunaan antibiotic
Rasional: Mencegah aktivasi yang masuk
5. Gangguan integritas kulit b/d luka bakar terbuka.
Tujuan: Dalam 1x 24 ja, integritas kulit membaik secara optimal.
Kriteria Hasil: Pertumbuhan jaringan membaik dan lesi psoriasis berkurang.
Intervensi:
a. Kaji kerusakan jaringan kulit yang terjadi pada klien.
Rasional: Data dasar untuk memberikan informasi intervensi perawatan
yang akan digunakan
b. Lakukan perawatan luka terbuka
Rasiomal: Kadang-kadang luka bakar dibiarkan terbuka agar terkena
udara. Dengan tetap mempertahankan lingkungan poasien tetap bersih
dan tetap membatasi infeksi luka bakar.
c. Lakukan komunikasi efektif
Rasional: komunikasi yang akbrab dan kerja sama antar pasien
menghasilkan perawatan luka yang optimal.
d. Lakukan perawatan luka tertutup.
Rasional: mencegah infeksi dan mempercepat proses perbaikan kulit



Daftar Pustaka :

Marylin E. Doenges. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk
Perencanaandan Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi 3. Penerbit Buku
Kedoketran. Jakarta: EGC
R. Sjamsuhidajat. (2010). Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC
Smeltzer, S.C. and Bare, B.G. (2005). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8
Vol.2. Jakarta : EGC.
Brunner & Suddarth. (2002). Keperawatan Medikal Bedah. Vol. 2. Jakarta: EGC
Corwin, Elizabeth J. (2001). Buku Saku PATOFISIOLOGI. Jakarta : EGC