Anda di halaman 1dari 15

HIPOTALAMUS dan SISTEM LIMBIK

Lilian Anggrek / 102010002*


Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Email : liliananggrek@yahoo.com

PENDAHULUAN
Konsep emosi mencakup perasaan emosional subyektif dan suasana hati (misalnya marah,
takut, kegemberiaan) plus respon fisik nyata yang berkaitan dengan persaan persaan tersebut.
Emosi mempunyai komponen mental dan fisik. Ia melimbatkan kognisi, kesadaran akan sensasi
dan biasanya penyebabnya; afek, perasaan itu sendiri; konasi, desakan bertindak; dan
perubahan fisik seperti hipertensi, takikardia dan berkeringat. Hypothalamus dan sistem limbik
berhubungan erat dengan ekspresi emosi dan pembentukan emosi.
PEMBAHASAN
1. Hypothalamus
Hypothalamus merupakan bagian ujung anterior diechephalon yang terletak dibawah sulcus
hypothamalus dan di depan nuclei interpedunculares.
1
Hipothalamus terletak tepat di bawah talamus dan dibatasi oleh sulcus hipothalamus.
Hipothalamus berlokasi di dasar diencephalon dan sebagian dinding lateral ventrikel III.
Hipotalamus meluas ke bawah sebagai kelenjar hipofise yang terletak di dalam sela tursika os
sfenoid. Hipothalamus ini berkaitan dengan pengaturan rangsangan dari sistem susunan saraf
otonom perifer yang menyertai ekspresi tingkah laku dan emosi.
1
Bagian anterior hipothalamus adalah suatu substansi yang disebut substansi abu abu atau
substansi grisea yang menyelubungi kiasma optik, yang merupakan persilangan dari saraf optik.
Sedangkan bagian tengah hipothalamus terdiri dari infundibulum (berbentuk batang) kelenjar
hipofisis posterior tempat melekatnya kelenjar hipofisis.
1
Hipothalamus adalah daerah otak yang paling jelas terlibat dalam pengaturan langsung
lingkungan internal. Contoh : jika kita merasa lapar, hipothalamus yang berfungsi sebagai
pemberitahu jika kita membutuhkan makan, maka dicetuskan rasa lapar. Daerah daerah lain di
otak, misalnya korteks cerebrum, bekerja secara lebih tidak langsung untuk mengatur lingkungan
internal. Contoh : jika kita merasa lapar, daerah korteks cerebrum yang akan memberitahu kita
apa yang harus kita lakukan, lapar harus makan. Bahkan aktivitas perilaku volunter ini sangat
dipengaruhi oleh hipotalamus, yang sebagai bagian dari sistem limbik, berfungsi bersama
korteks untuk mengontrol emosi dan perilaku yang termotivasi.
1,2
Hubungan dengan hypophysis
Ada hubungan saraf antara hypothalamus dan lobus posterior hypophysis serta hubungan
vaskular di antara hypothalamus dan lobus anterior. Secara embriologi hypophysis posterior
muncul sebagian evaginasi lantai ventriculus tertius. Sebagian besarnya dibentuk dari ujung
akson dari bada sel di dalam nuclei supraopticus dan paraventriculares serta berjalan ke
hypophysis posterior melalui tractus hipothalamohypophysialis. Pembuluh darah porta
hypophysialis membentuk hubungan vaskular langsung antara hypothalamus dan hypophysis
anterior. Ranting arteri dan arteria carotis dan circulus Willis membentuk jalinan kapiler
fenestrasi yang dinamai plexus primer pada permukaan ventral hypothalamus. Gelung kapiler
juga menembus eminentia medialis. Eminentia medialis didefinisikan sebagai bagian
hypothalamus ventralis, tempat muncul pembuluh darah porta. Daerah ini di luar sawar darah-
otak. Gelung kapiler juga menembus eminentia medialis. Kapiler mendrainase ke dalam
pembuluh porta sinusoid hypophysialis yang membawa darah menuruni infundibulum
hypophysis ke kapiler hypophysis anterior. Sistem ini dimulai dan berakhir di dalam kapiler
tanpa menuju jantung, sehingga suatu sistem porta sejati.
1,2
Hubungan Aferen dan eferen hipothalamus
Kebanyakan serabut ini tak bermielin. Banyak yang menghubungkan hypothalamus ke sistem
limbik. Juga ada hubungan penting antara hypothalamus dan nuclei di dalam tegmentum
mesencephali, pons dan rhombencephalon.
1
Neuron pensekresi norepinefrin bersama badan selnya di dalam rhombencephalon berakhir di
dalam banyak bagian hypothalamus berbeda. Neuron paraventricularis yang mungkin mensekresi
oksitosin dan vasopresin kemudian diproyeksikan ke rhombencephalon dan medula spinalis.
Neuron yang mensekresi epinefrin mempunyai badan selnya di dalam hypothalamus ventralis.
Ada sistem neuron pensekresi dopamin intrahypothalamus, yang mempunyai badan selnyaa di
dalam nucleus arcuata dan berakhir pada atau dekat kapiler yang membentuk pembuluh darah
porta di dalam eminentia medialis. Neuron yang mensekresi serotonin diproyeksikan ke
hypothalamus dari nuclei raphae.
2
Fungsi hipothalamus
Fungsi Aferen Dari Area Intergasi
Regulasi suhu Reseptor dingin kulit; sel
sensitif suhu di dalam
hypothalamus.
Hypothalamus anterior,
berespon terhadap panas;
hypothalamus posterior,
berespon terhadap dingin.
Kontrol neuroendokrin
Katekolamin
Rangsangan emosi, mungkin
melalui sistem limbik
Hypothalamus dorsomedial dan
posterior
Vasopresin Osmoreseptor, reseptor
volume, lainnya
Nuclei supraoptici dan
paraventriculares
Oksitosin Reseptor raba di dalam
payudara, uterus, genitalis.
Nuclei supraoptici dan
paraventriculares
Reseptor suhu pada bayi,
mungkin lainnya.
Nuclei paraventriculares dan
area berdekatan
Hormon adrenokortikotropik
(ACTH) dan B-lipotropin (B-
LPH) melalui CRH
Sistem limbik (rangsangan
emosi; formatio reticularis
(rangsangan sistemik); sel
hypothalamus atau hypophysis
anterior yang sensitif terhadap
kadar kortisol darah yang
bersikulasi; nuclei
suprachiasmaticus.
Nuclei paraventriculares
Hormon perangsang folikel
(FSH) dan hormon luteinisasi
(LH) melalui LHRH
Sel hypothalamus sensitif
estrogen; mata, reseptor raba di
dalam kulit dan genitalia dari
Area preoptica, area lain
spesies berovulasi refleks.
Prolaktin melalui PIH dan PRH Reseptor raba di dalam
payudara, reseptor lain yang tak
diketahui
Necleus arcuata, area lain
(hypothalamus tidak
menghambat sekresi)
Hormon pertumbuhan melalui
somatosiatin dan GRH
Reseptor tidak diketahui Nucleus paraventriculares,
nucleusarcuata
Perilaku nafsu, Haus Osmoresptor, organ subfornix Hypothalamus superior lateralis
Lapar Sel glukostat sensitif terhadap
kecepatan penggunaan glukosa
Pusat kenyang ventromedial,
pusat lapar lateral, juga
komponen limbik
Perilaku seks Sel sensitif terhadap estrogen
dan androgen yang bersikulasi,
lainnya
Hypothalamus ventralis
anterior, ditambah cortex
piriformis pada pria
Reaksi pertahanan
Ketakutan, kemarahan
Orgab indera dan neocortex,
jaras tak di ketahui
Difus dalam sitem limbik dan
hypothalamus
Kendali berbagai endokrin dan
irama aktivitas
Retina melalui serabut
retinohypothalamicus
Nuclei suprachiasmaticus
Table 1.1. fungsi hipotalamus
Hubungan hipothalamus dengan fungsi autonom
Rangsangan hypothalamus menimbulkan respon autonom, tetapi sedikit bukti bahwa
hypothalamus dihubungkan dengan regulasi fungsi visera sendiri. Agaknya respon autonom yang
dicetuskan dalam hypothalamus merupakan bagian fenomena lebih rumit seperti kemarahan dan
emosi lain.
2
2. Sistem Limbik
Anatomi
Istilah lobus limbik atau sistem limbik diberikan ke bagian otak yang terdiri dari tepi jaringan
cortex sekeliling hilus dari hemispherium cerebri dan sekelompok struktur profunda
berhubungan amygdala, hippocampus dan nuclei septal.
2
Sistem ini merupakan suatu pengelompokan fungsional bukan pengelompokan anatomis yang
terdiri atas komponen serebrum, diencephalon, dan mesencephalon.
2

Gambar 2.1 Sistem Limbik, terdiri dari beberapa komponen, seperti talamus, gyrus cinguli
fornix, amygdala, dan hipokampus.
(sumber http://hil4ry.files.wordpress.com/2007/07/brain_headborder.jpg)

Sistem limbik terdiri dari sekelompok struktur dalam cerebrum dan diensefalon yang terlibat
dalam aktivitas emosional dan terutama aktivitas perilaku tidak sadar (involuntar).
Bagian bagian dari sistem limbik :
2
1) gyrus cinguli, girus hipocampus, dan lobus piriformis merupakan bagian
sistem limbik dalam korteks serebral
2) forniks dan area septum pada bagian frontal otak dekat bagian radiks bulbus
olfaktorius adalah sub-kortikal sistem limbik
3) Bagian-bagian hipothalamus, badan mamilari, nukleus amigladoid, dan beberapa
nukleus talamius anterior tertentu juga termasuk sistem limbik.

Korteks Limbik. Bagian dari sistem limbik yang sedikit dimengerti adalah cincin korteks limbik,
yang mengelilingi struktur subkortikal limbik. Korteks ini memiliki fungsi sebagai zona
transisional yang dilewati oleh sinyal-sinyal yang dijalarkan oleh sisa korteks otak ke dalam
sistem limbik dan juga ke arah yang berlawanan. Oleh karena itu, korteks limbik berfungsi
sebagai area asosiasi serebral untuk mengatur perilaku.
2
Korteks limbik ini dimulai dari otak area orbito frontalis pada permukaan ventral lobus
frontalis, menyebar ke atas ke dalam girus subkalosal, kemudian melewati ujung atas korpus
kolosum ke bagian medial hemisferum serebri dalam girus singulata, dan akhirnya berjalan di
belakang korpus kolosum dan ke bawah menuju permukaan ventromedial lobus temporalis ke
girus parahipokampal dan unkus. Lalu pada permukaan medial dan ventral dari setiap
hemisferum serebri ada sebuah cincin, terutama merupakan paleokorteks, yang mengelilingi
sekelompok struktur dalam yang sangat berkaitan dengan prilaku dan emosi. Sebaliknya, cincin
korteks ini juga berfungsi sebagai alat komunikasi dua arah dan merupakan tali penghubung
antara neokorteks dan struktur limbik yang lebih rendah.
2

Histologi
Cortex limbik merupakan bagian cortex cerebri tertua secara filogenetik. Secara histologi ia
dibentuk dari jenis primitif jaringan cortex yang dinamai alcortex (yang mengelilingi hilus
hemispherium) dan cincin kedua dai jenis cortex transisional yang dinamai juxtallocortex di
antara allocortex dan bagian hemispherium cerebri lain. Jaringan cortext bagian hemispherium
cerebri lain. Jaringan cortex bagian non-limbik lain dari hemispherium dinamai neocortex dan
merupakan jenis yang berkembang paling tinggi. Luas sebenarnya area allocortex dan
juxtallocortex telah berubah sedikit sewaktu mammalia berkembang, tetapi daerah ini telah
dibelakangi oleh pertumbuhan neocortex yang besar sekali, yang mencapai perkembangan
terbesar dalam manusia.
2,3
Hubungan Aferen dan Eferen
Fornix menghubungkan hippocampus dengan corpus mamillare, yang kemudian berhubungan
dengan nuclei anteriores thalami oleh fasciculus mamillothalamicus. Nuclei anteriores thalami
diproyeksikan ke cprtex cinguli dan dari cortex cinguli ada hubungan ke hippocampus, yang
melengkapi suatu sirkuit tertutup yang rumit ini. Sirkuit ini mula-mula digambarkan oleh Papez
dan telah dinamai sirkuit Papez.
2
Hubungan antara struktur dan fungsi
Dari sifat sistem limbik, salah satunya tak adanya hubungan di antaranya dan neocortex. Nauta
secara tepat mengatakan bahwa neocortex duduk mengangkangi sistem limbik seperti seorang
penunggang seekor kuda tanpa kendali. Sebenarnya ada sedikit hubungan dan dari sudut
pandang fungsional, aktivitas neocortex memodifikasi perilaku emosi dan sebalikya. Tetapi salah
satu sifat emosi bahwa ia tak dapat dihidupkan dan dimatikan semaunya.
2
Sifat lain sirkuit limbik adalah pelepasan listrik susulannya yang lama setelah perangsangan. Hal
ini bisa menjelaskan sebagian fakta bahwa umumnya respon emosi memanjang ketimbang
menghilang dan lebih lama daripada rangsangan yang memulainya.
2
Fungsi Limbik
Percobaan rangsangan dan ablasi menunjukkan bahwa di samping perannya dalam penciuman,
sistem limbik berhubungan dengan perilaku makan. Bersama dengan hypothalamus, ia juga
berhubungan dengan perilaku seks, emosi kemarahan dan ketakutan serta ketakutan.
2
3. Saraf Otonom
Penataan sistem saraf otonom, seperti sistem saraf somatik, merupakan pentaan lengkung refleks.
Implus yang dimulai dari reseptor visera dihantarkan melalui jalur aferen otonom ke sistem saraf
pusat, diintergasikan di situ dalam berbagai tingkat, dan diteruskan melalui jaras eferen ke
efektor visela. Pengaturan ini perlu ditekankan karena komponen-komponen aferen yang
berperan penting sering diabaikan.
3
Susunan anatomik persarafan otonom
Bagian motorik perifer sistem saraf otonom terdiri atas neuron preganglionik dan
pascaganglionik. Badan sel neuron preganglionik terletak di kolumna grisea intermediolateral
(eferen visera) medula spinalis atau di nukleus motorik homologus saraf-saraf otak. Akson-
aksonnya sebagian besar merupakan serat penghantar lambat B mielin. Akson-akson itu
bersinaps di badan sel neuron pascaganlionik yang terletak di luar sistem saraf pusat setiap akson
preganglionik terbagi menjadi sekitar 8-9 neuron pascaganglionik. Dengan demikian, persarafan
otonom bersifat difus. Akson neuron pascaganglionik, yang sebagian besar merupakan serat C
tak bermielin, berakhir di efektor visera.
3
Secara anatomik, persarafan otonom dibagi menjadi 2 komponen : divisi simpatis dan
parasimpatis sistem saraf otonom. Banyak ahli fisiologi menambahkan sistem saraf enterik
sebagia bagian ketiga.
3

Pusat parasimpatis
Rangsangan hypothalamus superior anterior kadang-kadang menyebabkan kontraksi vesica
urinaria, suatu respon parasimpatis. Terutama berdasarkan ini, sering dibuat pernyataan bahwa
ada pusat parasimpatis di dalam hypothalamus anterior. Tetapi kontraksi vesica urinaria dapat
juga dibangkitkan oleh rangsangan bagian lain hypothalamus dan rangsangan hypothalamus
menyebabkan sangat sedikit respon parasimpatis lain. Sehingga ada sangat sedikit bukti bahwa
ada pusat parasimpatis terlokalisata. Perangsang hypothalamus dapat menyebabkan aritmia
jantung dan ada alasan untuk percaya bahwa ia karena aktivitas serentak nervus vagus dan
simpatis terhadap jantung.
2,3
Divisi Parasimpatis
Keluaran kranial divisi parasimpatis mempersarafi struktur visera di kepala melalui saraf
okulomotor, fasicial dan glosofaingeal, serta strukutur di toraks dan abdomen bagian atas melalui
saraf vagus. Keluaran sakral mempersarafi visera panggul melalui cabang pelvis saraf spinal
sakral kedua sampai keempat. Serat preganglionik di kedua keluaran tersebut berakhir di neuron
pascaganglionik pendek yang terletak pada atau dekat struktur visera tersebut.
3
Respon Simpatis
Rangsangan berbagai bagian hypothalamus (terutama area lateral) menimbulkan peningkatan
tekanan darah, dilatasi pupil, piloreksi dan tanda lain pengeluaran noradrenergik difus.
Rangsangan yang mencentuskan pola respon ini dalam hewan utuh bukan implus regulasi dari
visera, tetapi rangsangan emosi, terutama kemarahan dan ketakutan. Respon noradrenergik juga
dicetuskan sebagai bagian reaksi yang menghemat panas.
2,3
Rangsangan listrik voltase rendah pada bagian mediodorsalis hypothalamus menyebabkan
vasodilatasi dalam otot. Vasokonstriksi penyerta di dalam kulit dan tempat lain mempertahankan
tekanan darah pada tingkat yang cukup tetap. Observasi ini dan bukti lain menyokong
kesimpulan bahwa hypothalamus suatu stasiun jalan bagi yang dinamai sistem vasodilator
simpatis kolinergik, yang berasal di dalam cortex ceberi. Bisa sistem ini yang bertanggung jawab
bagi dilatasi pembuluh darah otot pada saat awal gerak badan.
2,3
Rangsangan area hypothalamus posterior dan nuclei medialis dorsalis menimbulkan
peningkatkan sekresi epinefrin dan norepinefrin dari medulla adrenalis. Peningkatan sekresi
medulla adrenalis merupakan salah satu perubahan fisik yang menyertai kemarahan dan
ketakutan serta bisa timbul bla sistem vasodilator simpatis kolinergik diaktivasi. Telah diklaim
bahwa ada pusat hypothalamus terpisah bagi pengendalian sekresi epinefrin dan neropinefrin.
Sekresi diferensial satu katekolamin medulla adrenalis ini atau lainnya timbul dalam keadaan
tertentu, tetapi kecil peningkatan selektif.
2,3
Divisi Simpatis
Akson neuron preganglionik simpatis meninggalkan medulla spinalis bersama radiks ventralis
saraf torakal pertama sampai saraf spinal lumbal ketiga atau keempat. Akson-akson ini berjalan
melalui ramil komunikans putih ke rantai ganglion simpatis paravertebra, dan sebagian besar
beraj]khir di badan sel neuron pascaganglionik. Akson sebagian neuron pascaganglionik berjalan
ke visera dalam berbagai saraf simpatis. Sebagaian lain masuk kembali ke dalam saraf spinal
melalui ramus komunikans kelabu dari rantai ganglion dan disebarkan ke efektor otonom di
daerah yang dipersarafi oleh saraf-saraf spinal tersebut. Saraf simpatis pascaganglionik untuk
kepala berasal dari ganglia superior, media dan stelata di perluasan kranial rantai ganglion
simpatis dan berjalan ke efektor bersama pembuluh darah. Sebagian neuron preganglionik
berjalan melalui rantai ganglion paravertebra dan berakhir pada neuron pascaganglionik yang
terletak di ganglion kolateral dekat visera tersebut. Sebagian uterus dan saluran kelamin pria
dipersarafi oleh suatu sistem khusus, neuron noradrenegrik pendek dengan badan sel di ganglion
yang terletak pada atau dekat organ tersebut, sedangkan serat preganglionik untuk neuron
pascaganglionik ini kemungkinan berjalan sampai ke organnya.
3
Transmisi di Ganglion Simpatis
Setidaknya pada binatang percobaan, respons yang terbentuk di neuron pascaganglionik oleh
perangsangan neuron preganglionik mencangkup bukan saja depolarisasi cepat (ESPS cepat)
yang membangkitkan potensial aksi tetapi juga potesial postsinaptik inhibisi yang beralngsung
lama (IPSP lambat), ptensial postsinaptik eksitasi yang berlangsung lama (EPSP lambat) serta
EPSP lambat ikutan. EPSP lambat ikutan tersebut berlangsung sangat lama, beberapa menit,
bukan milidetik. Respon lambat ini tampaknya mengubah dan mengantur transmsi melalui
ganglio simpatis. Depolarisasi awal ditimbulkan oleh asetilkolin melalui reseptro nikotinik. IPSP
lambat mungkin ditimbulkan oleh dopamin, yang dihasilkan oleh intereneuron di dalam
ganglion. Interneuron ini dirangsang oleh penggiatan suatu reseptor muskarinik M
1
. Interneuron
yang mensekresikan dopamin merupakan sel-sel kecil yang berfluoresensi kuat (sel-sel SIF) di
ganglion. Pembentukan IPSP lambat tampaknya tidak diperantarai oleh AMP siklik, sehingga
diduga bahwa suatu reseptor D
2
berperan. EPSP lambat ditimbulkan oleh asetilkolin yang bekerja
pada reseptor muskarinik di membran neuron pascaganglionik. EPSP lambat ikutan ditimbulkan
oleh GnRH atau suatu peptida yang sangat mirip dengannya.
4,5
Transmisi kimiawi di hubungan otonom
Transmisi pada hubungan simpatik antara neuron pre dan pascaganglionik serta antara neuron
pascaganglionik dan efektor otonom diperantarai secara kimiawi. Transmiter utama yang
berperan adalah asetilkolin dan norepinefrin , meskipun dopamin juga disekresikan oleh
interneuron di ganglion simpatis, dan GnRH disekresikan oleh sebagian neuron preganglionik.
GnRH memerantai respons eksitasi lambat. Selain itu, terdapat kontransmiter di neuron otonom,
dan VIP dilepaskan bersama astetilkolin, sedangkan ATP dan neuropeptida Y bersama
neropinerfin. VIP menimbulkan bronkodilatasi, dan mungkin terdapat sistem saraf
nonadrenergik nonkolinegrik yang mensekresi VIP yang terpisah dan mempersarafi otot polos
bronkus.
4,5
Ketakutan dan kemarahan
Ketakutan dan kemarahan dalam sejumlah cara berhubungan erat dengan emosi. Manifestasi luar
ketakutan, melarikan diri atau reaksi penghindaran pada hewan merupakan respon autonom
seperti berkeringat dan dilatasi pupil, gemetar ketakutan dan memalingkan kepalanya dari sisi ke
sisi lain untuk melepaskan diri. Reaksi menyerang, berkelahi atau kemarahan pada kucing
disertai dengan berdesis, menyembur, mengeram, piloereksi, dilatasi pupil serta mencakar dan
menggigit yang terarah baik. Kedua reaksi dan kadang-kadang campuran keduanya dapat
dihasilkan oleh rangsangan hypothalamus. Bila seekor hewan terancam, maka biasanya ia
berusaha melarikan diri. Jika terkepung, seekor hewan bertempur. Sehingga reaksi ketakutan dan
kemarahan mungkin berhubungan dengan respon perlindungan naluriah terhadap ancaman di
dalam lingkungan.
5
Divisi kimia sistem saraf otonom
Berdasarkan mediator kimiawi yang dilepaskan, sistem saraf otonom dapat dibagimenjadi divisi
kolinegrik dan noradrenegerik. Neuron-neuron yang bersifat kolinergik adalah :
5
1. Semua neuron preganglionik.
2. Neuron pascaganglionik parasimpatis secara anatomik.
3. Neuron pascaganglionik parasimpatis secara anatomik yang mempersarafi kelenjar
keringat.
4. Neuron-neuron yang secara anatomik adalah simpatis yang berakhir pada pembuluh
darah di otot rangka dan menimbulkan vasodilatasi bila dirangsang (saraf vasodilator
simpatis).
Neuron simpatis pascaganglionik lainnya bersifat noradrenergik. Medula adrenal sebenarnya
merupakan ganglion simpatis yang sel-sel pascaganglioniknya telah kehilangan aksonnya dan
mensekresikan norepinefrin, epinefrin dan sebagian dopamin langsung ke dalam aliran darah.
Dengan demikian, neuron preganglionik kolinegrik untuk sel-sel ini, menjadi memberikan saraf
sekretomotorik pada kelenjar ini.
5
Respons organ efektor terhadap implus saraf otonom
Sifat-sifat umum :
Pengaruh perangsangan serta-serat saraf pascaganglionik noradrenegrik dan kolinegrik terhadap
visera. Otot polos di dinding visera yang beruang biasanya dipersafari oleh serat-serat
noradrenergik dan kolinergik, kegiatan di salah satu sistem ini meningkatkan kegiatan intrinsik
otot polos, sedangkan kegiatan di sistem yang lain, menurunkan kegiatan intriksik tersebut.
Meskipun demikian, tidak ada peraturan yang seragam mengenai istem mana yang merangsang
dan mana yang menghambat. Dalam hal otot sfinkter, baik adrenegrik maupun kolinegrik
bersifat eksitasi, tetapi yang satu menyarafi komponen konstriktor sfinkter, sedangkan yang lain
menyarafi komponen dilator sfinkter.
5
Biasanya tidak terdapat astetilkolin dalam peredaran darah, dan pengaruh lepas muatan
kolinergik lokal pada umumnya tidak nyata dan hanya berlangsung sebentar, karena kadar
asetilkolinesterase yang tinggi pada ujung-ujung saraf kolinegrk. Norepinefrin menyebar lebih
jauh dan kerjanya lebih lama daripada asetilkolin. Norepinefrin, epinefrin dan dopanmin terdapat
dalam plasma. Epinefrin dan sebagai dopamin datang dari medula adrenal, tetapi sebagai besar
norepinefrin dan dopamin juga memasuki peredaran darah, sebagaian dari ujung-ujung saraf
simpatis dan sebagian dari sel-sel otot polos. Perlu diperhatikan bahwa meskipun MAO maupun
COMT dihambat, metabolisme norepinefrin tetap berlangsung cepat. Namun penghambatan
ambilan kembali, memperpanjang waktu paruhnya.
5
Lepas muatan kolinergik
Secara umum, berbagai fungsi yang ditimbulkan oleh kegiatan sistem saraf otonom divisi
kolinergik adalah yang berkaitan dengan aspek-aspek vegetatif kehidupan sehari-hari. Misalnya,
kegiatan kolinergik membantu pencernaan dan absorpsi makanan dengan meningkatkan kegiatan
otot usus halus, meningkatkan sekresi lambung dan merelaksasi sfinkter pilorus. Karena itu, dan
untuk membedakan dengan efek katabolik noradrenergik, divisi kolinergik kadang-kadang
dinamakan sistem saraf anabolik.
6
Fungsi VIP yang dilepaskan dari neuron-neuron pascaganglionik kolinergik tidak jelas, tetapi
terdapat bukti bahwa VIP mempermudah kerja asetilkolin postsinaptik. Karena VIP merupakan
vasodilator, maka mungkin juga meningkatkan aliran darah di organ-organ sasaran.
6
Lepas muatan noraderenergik
Divisi noradrenergik melepaskan implus sebagai suatu unit dalam keadaan darurat. Pengaruh
pelepasan implus ini sangat berarti dalam menyiapkan individu mengatasi keadaan darurat,
meskipun penting menghindari pemikiran yang salah yang berkaitan dengan pernyataan bahwa
sistem ini melepaskan impuls untuk melaksanakan hal itu. Misalnya, kegiatan noradrenergik
menimbulkan relaksasi akomodasi dan menyebabkan dilatasi pupil (membiarkan lebih banyak
cahaya masuk ke dalam mata), mempercepat denyut jantung, dan meningkatkan tekanan darah
(memungkinkan perfusi lebih baik pada organ vital dan otot), serta menyempitkan pembuluh
darah kulit(yang membatasi perdarahan pada luka). Kegiatan noradrenergik juga menurunkan
ambang di formasi retikular (meningkatkan kewaspadaan) dan meningkatkan kadar glukosa
plasma serta asam lemak bebas (memberikan lebih banyak energi). Berdasarkan berbagai
pengaruh tersebut, Cannon menamakan kegiatan sistem saraf noradrenergik yang dipicu oleh
keadaan darurat itu sebagai persiapan untuk lari atau melawan.
6
Penekanan pada lepas muatan masal pada situasi stres sebaiknya tidak merancukan kenyataan
bahwa serat sraf otonom noradrenegrik juga melayani berbagai fungsi lain. Misalnya, kegiatan
tonik noradrenergik pada arterila mempertahankan tekanan arteri, dan variasi pada kegiatan tonik
ini merupakan mekanisme yang mempengaruhi pengaturan umpan balik sinus karotis terhadap
tekanan darah. Di samping itu, lepas muatan simpatis menurun pada hewan yang puasa dan
meningkat bila hewan puasa itu diberi makan kembali. Perubhan-perubahan ini dapat
menerangkan penurunan tekanan darah dan kecepatan metabolisme yang disebabkan oleh puasa
serta perubahan yang berlawanan akibat pemberian makanan.
6
Vesikel bergranula kecil di neuron-neuron pascaganglionik noradrenegrik mengandung ATP dan
norepinefrin, sedangkan vesikel bergranula besar mengandung neueopetida Y. Terdapat bukti
bahwa rangsang frekuensi rendah menyebabkan pelepasan ATP, sedangkan rangsang frekuensi
tinggi menyebabkan pelepasan neuropeptida Y. Namun, fungsi ATP dan neuropeptida Y yang
dilepaskan tidak jelas.
6
Ketakutan
Reaksi ketakutan dapat dihasilkan dalam hewan sadar dengan merangsang hypothalamus dan
nuclei amygdaloid. Sebaliknya reaksi ketakutan serta manifestasi autonom dan endokrin tak ada
dalam keadaan normalnya ia akan dibangkitkan bila amygdalae dirusak. Contoh dramatisnya
reaksi monyet terhadap ular. Monyet normalnya ditakutkan oleh ular. Setelah lobektomi
temporalis bilateral, maka monyet mendekati ular tanpa ketakutan, mengambilnya dan bahkan
memakannya.
7
Kemarahan dan plasiditas
Kebanyakan hewan (termasuk manusia) mempertahankan kesimbangan antara kemarahan dan
lawannya, keadaan emosi yang tanpa nama yang lebih baik dinamai disini sebagai plasiditas
(tenang). Iritasi utama membuat individu normal kehilangan kesabrannya, tetapi rangsangan
ringan diabaikan. Pada hewan dengan lesi otak tertentu, keseimbangan ini beubah. Sejumlah lesi
menimbulkan suatu keadaan, tempat kebanyakan rangsangan ringan membangkitkan episode
marah yang hebat; lainnya menimbulkan keadaan, tempat rangsangan yang membangkitkan
kemarahan dan paling traumatik gagal mengganggu ketenangan abnormal hewan ini.
7
Respon kemarahan terhadap rangsangan ringan terlihat setelah pembuangan neocortex dan
setelah perusakan nuclei ventralis medialis hypothalamus dan nuclei septal pada hewan dengan
cortex cerebri utuh. Di pihak lain, perusakan bilateral nuclei amygdala dalam kucing
menimbulkan kemaraha. Plasiditas yang dihasilkan oleh lesi amygdaloid pada hewan diubah ke
kemarahan oleh perusakan berikutnya atas nuclei ventralis medialis hypothalamus.
7
Kemarahan dapat juga dihasilkan oleh rangsangan suatu area yang meluas ke belakangan melalui
hypothalamus lateralis ke substansia grisea sentral mesencephalon dan respon kemarahan yang
biasanya dihasilkan oleh rangsangan amygdaloid digagalkan oleh lesi ipsilateral dalam
hypothalamus lateralis atau mesencephalon rostral.
7
Hormon gonad tampak mempengaruhi perilaku agresif. Pada hewan jantan, agresi. Pada hewan
jantan, agresi menurun oleh kastrasi dan ditingkatkan oleh endrogen. Ia juga dipersiapkan oleh
faktor sosial; ia lebih menonjol dalam jantan yang hidup bersama betina dan meningkat sewaktu-
waktu sesuatu yang asing dimasukkan ke dalam wilayah hewan.
7
Mula-mula dianggap bahwa serangan kemarahan dalam hewan dengan lesi diencephalon dan
prosencephalon hanya menunjukkan manifestasi fisik motorik kemarahan, sehingga reaksi ini
dinamai pura-pura marah. Sekarang tampak hal ini tak tepat. Walaupun serangan kemarahan
dalam hewan dengan lesi diencephalon diinduksi oleh rangsangan ringan, namun biasanya ia
diarahkan dengan ketepatan besar pada sumber iritasi. Lebih lanjut, rangsangan hypothalamus
yang menimbulkan reaksi ketakutan-kemarahan jelas tak memuaskan hewan, karena ia menjadi
persiapan ('conditioned') melawan tempat percobaan dilakukan dan mencoba menghindari
rangkaian percobaan. Ia dapat mudah diajarkan menekan tuas atau melakukan sejumlah lainnya
yang bertindak mencegah rangsangan hypothalamus yang menimbulkan manifestasi ketakutan
atau kemarahan. Sulit (jika bukan tak mungkin) melakukan respon refleks bersyarat
('conditioned reflex') oleh rangsangan sistem motorik murni dan juga sulit jika rangsangan yang
tidak dipersiapkan tidak membangkitkan perasaan menyenangkan. Fakta bahwa rangsangan
hypothalamus suatu rangsangan kuat tak dipersiapkan bagi pembentukan respon penghindaran
dipersiapkan dan fakta bahwa respon penghindaran sangat menetap, menunjukkan bahwa
rangsangan tak menyenangkan. Sehingga ada sedikit keraguan bahwa serangan kemarahan
mencakup manifestasi mental maupun fisik kemarahan dan istilah pura-pura marah harus
dibuang.
7
KESIMPULAN
Emosi yang di rasakan oleh seseorang, entah itu rasa takut, senang, sedih, dan perubahan
fisik seperti hipertensi, takikardia dan berkeringat memiliki hubungan dengan Hypothalamus dan
sistem limbic yang berhubungan erat dengan ekspresi emosi dan pembentukan emosi.
DAFTAR PUSTAKA

1. Sloane E. Anatomi dan Fisiologi untuk pemula. Jakarta : EGC, 2004
2. Guyton A.C. Buku Ajar Fisiologi kedokteran. Edisi 11. Jakarta : EGC, 2008
3. Jungueira LC, Carnero J. Histologi Dasar Teks dan Atlas. Jakarta : EGC, 2007
4. Lauralee S. Fisiologi Manusia Dari Sel ke Sistem. Edisi 6. Jakarta : EGC, 2011
5. Lauralee S. Fisiologi Manusia Dari Sel ke Sistem. Edisi 2. Jakarta : EGC, 2001
6. Muray KR, Granner KD, Rodwell WV. Biokimia Harper. Edisi 27. Jakarta : EGC,
2009
7. Jack de Groot. Neuroanatomi korelatif (correlative neuroanatomy). Edisi 24. Jakarta :
EGC, 2002