Anda di halaman 1dari 30

PEMBANGUNAN LANJUTAN GEDUNG KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA


TAHAP II
2014
P T T R I M A N D I R I U T A M A

1
METODE PENGUJIAN BAHAN KONSTRUKSI

I. Uji Beton
1. Tata cara pengambilan contoh uji beton segar
1.1. Ruang lingkup
Tata cara ini mencakup prosedur pengambilan contoh uji beton segar
yang mewakili produk beton untuk menentukan kualitas beton sesuai
persyaratan.
Pengambilan contoh uji mencakup beton segar yang diproduksi
dengan mesin pengaduk (mixer) stasioner, paving-mixer (penghampar)
dan truk pencampur, serta pengambilan dari peralatan pengangkut
(agitator dan non-agitator truck) yang digunakan untuk mengangkut
beton yang dicampur secara terpusat.
CATATAN Jika tidak diatur secara khusus dalam prosedur pengujian
yang akan dilakukan, seperti uji untuk menentukan keseragaman,
konsistensi dan efisiensi mixer, maka penggabungan contoh uji beton
yang diambil dari beberapa tempat secara acak sangat dianjurkan dalam
tata cara ini untuk mendapatkan contoh uji yang dapat mewakili dari
suatu siklus produk beton tertentu. Prosedur yang digunakan untuk
memilih uji batch yang spesifik tidak dijelaskan dalam tata cara ini.
Tata cara ini juga mencakup prosedur yang digunakan untuk
menyiapkan contoh uji beton yang mengandung ukuran agregat lebih
besar dari ukuran agregat nominal, dan bila diperlukan contoh uji beton
harus disaring dalam keadaan basah sebelum diuji.
Standar ini tidak mencakup pengaturan tentang keselamatan kerja, oleh
karena itu bagi pengguna harus menetapkan keselamatan dan kesehatan
kerja sendiri dilingkungannya sesuai aturan yang berlaku. (Khususnya
terkait dengan sifat campuran beton segar dengan semen hidrolis yang
dapat menyebabkan kerusakan kulit).


PEMBANGUNAN LANJUTAN GEDUNG KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA
TAHAP II
2014
P T T R I M A N D I R I U T A M A

2
1.2. Acuan Normatif
ASTM C 172-2004, Standard practice for sampling freshly mixed
concrete
ASTM E 11 Specification for wire-cloth and sieves for testing purposes
1.3. Istilah dan definisi
1.3.1. Beton segar
Campuran beton yang telah selesai diaduk sampai beberapa saat
karakteristiknya tidak berubah (masih plastis dan belum terjadi
pengikatan awal)
1.3.2. Beton yang disaring basah
Proses memisahkan agregat yang lebih besar dari ukuran
agregat nominal dari campuran beton segar dengan cara
penyaringan menggunakan saringan ukuran standar, agar
agregat yang tidak sesuai dapat dipisahkan
1.3.3. Satu siklus adukan (batch)
Sejumlah campuran beton dalam satu siklus langkah kerja dari
satu satuan peralatan pengaduk, atau sejumlah beton yang
diangkut oleh sebuah mobil angkut beton siap pakai, atau
sejumlah beton yang dikeluarkan selama satu menit dari
pengaduk yang bekerja terus menerus
1.4. Arti dan penggunaan
Tata cara ini dimaksudkan untuk memberikan persyaratan dan prosedur
dalam pengambilan contoh uji beton segar dari wadah yang berbeda
dalam memproduksi atau mengangkut beton. Persyaratan secara rinci
seperti bahan, pencampuran, kadar udara, temperatur, jumlah benda
uji, slump, hasil interpretasi, dan presisi serta penyimpangan ditetapkan
dalam cara uji khusus.
1.5. Pengambilan contoh uji


PEMBANGUNAN LANJUTAN GEDUNG KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA
TAHAP II
2014
P T T R I M A N D I R I U T A M A

3
Pengambilan contoh uji komposit bagian pertama dan terakhir diambil
dalam selang waktu tidak lebih dari 15 menit.
a) Masing-masing contoh uji beton segar diangkut ke tempat
pengujian atau pada benda-benda uji yang dicetak. Contoh-
contoh uji harus dikombinasikan dan dicampur kembali dengan
sekop sesuai waktu minimum yang disyaratkan untuk menjamin
keseragamannya.
b) Untuk uji slump atau uji kadar udara, atau keduanya, dilakukan
dalam 5 menit setelah memperoleh bagian akhir contoh uji
komposit beton segar. Selesaikan pengujian- pengujian ini secara
cepat dan efisien, baru mulai mencetak benda-benda uji untuk
pengujian kekuatan dalam waktu 15 menit setelah pengambilan
contoh uji beton segar. Pembuatan benda uji harus dilakukan
secepat mungkin, selanjutnya lindungi benda uji tersebut dari
pengaruh matahari langsung, angin, dan pengaruh lain yang
dapat menimbulkan penguapan cepat, serta terjadinya kontaminasi
yang dapat mempengaruhi mutu beton.
1.6. Prosedur
1.6.1. Volume contoh uji
Volume contoh uji yang diperlukan untuk pengujian kekuatan
minimum 28 L atau sesuai dengan kebutuhan pengujian seperti
tercantum dalam Tabel 1.
Volume contoh uji lebih kecil dapat diijinkan untuk pengujian-
pengujian kadar udara dan slump, tetapi volume minimum harus
ditentukan berdasarkan ukuran agregat maksimum dalam adukan yang
dikorelasikan ke dalam berat.





PEMBANGUNAN LANJUTAN GEDUNG KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA
TAHAP II
2014
P T T R I M A N D I R I U T A M A

4
Tabel 1
Volume pengambilan contoh uji beton segar
No Jenis pengujian
Volume contoh
uji
(Liter)
1 Slump 12
2 Berat jenis 12
3 Kadar udara 12
4 Kuat tekan (3 buah contoh uji) 28
5 Kuat lentur (3 buah contoh uji) 28
6 Kuat tarik (3 buah contoh uji) 28
7 Modulus elastisitas (3 buah contoh uji) 28
1.6.2. Prosedur pengambilan contoh uji
Prosedur pengambilan contoh uji dapat didasarkan atas beberapa
faktor yang akan menghasilkan contoh uji yang benar-benar mewakili
(representatif) sebagai berikut :
a) Pengambilan contoh uji dilakukan sebelum beton dipindahkan
dari mixer ke alat angkut menuju ke tempat pengecoran beton;
b) Pada setiap batch, contoh uji hanya boleh diambil saat penuangan
telah mencapai 10% dan sebelum mencapai 90%.
1.6.2.1. Pengambilan contoh uji dari mixer stasioner
Contoh uji beton diperoleh dengan menggabungkan dua
atau lebih bagian tengah dari setiap batch saat penuangan
pada selang waktu tertentu. Bagian-bagian ini
didapatkan dalam batas waktu yang disyaratkan sesuai
pasal 5. Satu jenis contoh uji dibentuk dari gabungan
beberapa kali pengambilan dan semua contoh uji diaduk
kembali menjadi satu hingga homogen. Bila penuangan


PEMBANGUNAN LANJUTAN GEDUNG KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA
TAHAP II
2014
P T T R I M A N D I R I U T A M A

5
terlalu cepat, pengambilan contoh uji harus menggunakan
wadah yang cukup besar agar seluruh adukan tertampung
untuk menghindari segregasi.
Aliran campuran yang ke luar dari mixer harus dijaga
sehingga tidak tertahan oleh wadah yang dapat
menyebabkan terjadinya segregasi, terutama untuk mixer
dengan pengungkit maupun tanpa pengungkit.
1.6.2.2. Pengambilan contoh uji dari paving-mixer (pengampar)
Contoh-contoh uji didapatkan dari paling sedikit 5
titik/tempat berbeda dan kemudian digabungkan dalam satu
contoh uji untuk pengujian. Hindari contoh uji tercampur
dengan bahan lain yang terdapat pada lantai kerja atau
kontak terlalu lama dengan lantai kerja yang menyerap air.
Untuk menghindari kontaminasi atau absorpsi dari
contoh uji beton dengan lantai kerja, dapat ditempatkan 3
wadah tipis pada lantai kerja dan menuangkan ke dalam
sebuah wadah contoh uji yang selanjutnya digabungkan.
Wadah yang digunakan harus stabil di atas lantai kerja
untuk mencegah perpindahan selama penuangan serta
mempunyai ukuran yang dapat menampung volume contoh
uji gabungan, sesuai dengan ukuran agregat maksimum.

1.6.2.3. Pengambilan contoh uji dari truck mixer atau agigator
Contoh uji diambil sebanyak 2 kali atau lebih pada selang
waktu yang teratur selama penuangan dari bagian tengah
setiap batch dan digabungkan menjadi satu untuk
pengujian. Contoh uji tidak boleh diambil bila terjadi
penambahan air ke dalam mixer dan juga tidak boleh
diambil dari bagian pertama atau terakhir dari


PEMBANGUNAN LANJUTAN GEDUNG KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA
TAHAP II
2014
P T T R I M A N D I R I U T A M A

6
penuangan tiap batch. Contoh uji diambil secara berulang
kali melalui suatu penuangan ke dalam bak penampung
atau langsung masuk ke dalam suatu wadah contoh uji.
Kecepatan penuangan dari tiap batch diatur berdasarkan
kecepatan putaran drum mixer dan bukan dengan ukuran
bukaan pintu pengeluaran.
1.7. Prosedur tambahan untuk beton yang mempunyai ukuran agregat lebih
besar dari ukuran nominal
1.7.1. Umum
Bila beton mengandung ukuran agregat lebih besar dari ukuran
agregat nominal, maka penyaringan basah harus dilakukan seperti
dijelaskan di bawah ini, kecuali pengujian bobot isi untuk perhitungan
jumlah campuran total harus dilakukan sesuai kondisi asli.
CATATAN : hasil pengujian yang disebabkan oleh pengaruh
penyaringan basah harus dipertimbangkan, karena contoh uji beton
yang disaring basah dapat menyebabkan kehilangan sejumlah kecil
kadar udara. Kadar udara untuk contoh uji beton yang disaring basah
akan lebih besar karena ukuran agregat terbesar yang dipindahkan
tidak berisi udara. Kekuatan beton yang disaring basah pada benda
uji yang sedikit biasanya lebih besar dari keseluruhan beton yang
diwakili. Pengaruh perbedaan ini perlu dipertimbangkan atau
ditentukan dengan pengujian tambahan untuk kontrol mutu atau tujuan
evaluasi hasil uji.
1.7.2. Peralatan
1.7.2.1. Saringan standar
Saringan yang digunakan harus sesuai ketentuan ASTM E 11.
1.7.2.2. Peralatan saringan basah
Peralatan untuk penyaringan basah harus saringan standar
dengan ukuran sesuai pasal 1.7.2.1 dan diatur serta


PEMBANGUNAN LANJUTAN GEDUNG KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA
TAHAP II
2014
P T T R I M A N D I R I U T A M A

7
ditempatkan sedemikian, hingga seseorang dapat menyaring
secara cepat, baik dengan tangan atau mekanikal (alat).
Biasanya gerakan horizontal akan menghasilkan hasil yang
lebih baik dan lebih disukai. Peralatan harus mampu secara
cepat dan efektif memindahkan ukuran agregat yang
memenuhi persyaratan.
1.7.2.3. Alat bantu
Beberapa alat bantu yang dibutuhkan dalam penyaringan
basah seperti sekop, sendok aduk, sendok bahan, dan sarung
tangan.
1.7.3. Prosedur penyaringan basah
Setelah pengambilan contoh uji beton segar, lakukan penyaringan
contoh uji dengan saringan standar dan tampung/pindahkan dalam
sebuah wadah serta buang bagian agregat yang tertahan. Pekerjaan ini
harus dilakukan sebelum menggabungkan/mencampur kembali contoh
uji ke dalam suatu wadah. Goyang atau getarkan saringan dengan
tangan atau alat mekanikal sampai lolos pada ukuran saringan standar.
Mortar yang menempel pada agregat yang tertahan di atas saringan
tidak harus dihilangkan sebelum agregat dibuang.
Masukkan contoh uji beton secukupnya ke dalam saringan
sedemikian sehingga setelah menyaring tebal lapisan agregat yang
tertahan tidak boleh lebih tinggi dari butiran maksimum agregat kasar.
Campuran beton yang lolos saringan ditampung dalam suatu wadah
yang mempunyai ukuran sesuai, bersih, lembab dan permukaan tidak
menyerap. Setelah memisahkan bagian butir agregat terbesar dengan
menyaring basah, aduk kembali contoh uji dengan sekop untuk
menjamin keseragaman dengan volume yang dibutuhkan (sesuai
dengan Tabel 1) dan selanjutnya lakukan pengujian dengan segera.



PEMBANGUNAN LANJUTAN GEDUNG KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA
TAHAP II
2014
P T T R I M A N D I R I U T A M A

8
2. Tata cara uji slump beton
2.1. Ruang lingkup
2.1.1. Umum
Cara uji ini meliputi penentuan nilai slump beton, baik di
laboratorium maupun di lapangan. Nilai-nilai yang tertera
dinyatakan dalam satuan internasional (SI) dan digunakan
sebagai standar.
Standar ini tidak memasukkan masalah keselamatan yang
berkaitan dengan penggunaannya. Pengguna standar ini
bertanggung jawab untuk menyediakan hal-hal yang berkaitan
dengan keselamatan dan kesehatan serta peraturan dan batasan-
batasan dalam menggunakan standar ini.
Catatan dalam tulisan standar ini memuat materi penjelasan.
(tidak termasuk apa yang tercantum dalam tabel- tabel dan
gambar-gambar) tidak boleh dipertimbangkan sebagai
persyaratan dari standar.
2.1.2. Arti dan kegunaan
Cara uji ini bertujuan untuk menyediakan langkah kerja bagi
pengguna untuk menentukan slump dari beton semen hidrolis
plastis.
CATATAN 1 Sebetulnya, cara uji ini merupakan suatu teknik
untuk memantau homogenitas dan workability adukan beton
segar dengan suatu kekentalan tertentu yang dinyatakan dengan
satu nilai slump . Dalam kondisi laboratorium, dengan material
beton yang terkendali secara ketat, nilai slump umumnya
meningkat sebanding dengan nilai kadar air campuran beton,
dengan demikian berbanding terbalik dengan kekuatan beton.
Tetapi dalam pelaksanaan di lapangan harus hati-hati,
karena banyak faktor yang berpengaruh terhadap perubahan


PEMBANGUNAN LANJUTAN GEDUNG KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA
TAHAP II
2014
P T T R I M A N D I R I U T A M A

9
adukan beton pada pencapaian nilai slump yang ditentukan,
sehingga hasil slump yang diperoleh di lapangan tidak sesuai
dengan kekuatan beton yang diharapkan.
Cara uji ini dapat diterapkan pada beton plastis yang memiliki
ukuran maksimum agregat kasar hingga 37,5 mm (1 in.).
Bila ukuran agregat kasar lebih besar dari 37,5 mm (1 in.),
metode pengujian dapat diterapkan bila digunakan dalam fraksi
yang lolos saringan 37,5 mm (1 in.), dengan agregat yang
ukurannya lebih besar dibuang/disingkirkan sesuai dengan
Bagian Additional Procedures for Large Maximum Size
Aggregate Concrete dalam AASHTO T 141. Cara uji ini tidak
dapat diterapkan pada beton non-plastis dan beton non-
kohesif.
CATATAN 2 Beton dengan nilai slump < 15 mm mungkin
tidak cukup plastis dan beton yang slumpnya > 230 mm
mungkin tidak cukup kohesif untuk pengujian ini. Oleh karena
itu harus ada perhatian yang seksama dalam menginterpertasikan
hasil pengujian.
2.2. Acuan normatif
AASHTO T 119-99, Standard method of test for slump of hydraulic
cement cement.
SNI 03 2458 1991 : Metode pengambilan contoh untuk beton segar
2.3. Istilah dan definisi
2.3.1. Beton segar
Adukan beton yang bersifat plastis yang terdiri dari agegat
halus, agregat kasar, semen, dan air, dengan atau tanpa bahan
tambah atau bahan pengisi



PEMBANGUNAN LANJUTAN GEDUNG KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA
TAHAP II
2014
P T T R I M A N D I R I U T A M A

10
2.3.2. Slump beton
Penurunan ketinggian pada pusat permukaan atas beton yang
diukur segera setelah cetakan uji slump diangkat
2.3.3. Workability beton
Kemudahan pengerjaan beton segar
2.4. Rangkuman dari cara uji
Satu contoh campuran beton segar dimasukkan ke dalam sebuah
cetakan yang memiliki bentuk kerucut terpancung dan dipadatkan
dengan batang penusuk. Cetakan diangkat dan beton dibiarkan sampai
terjadi penurunan pada permukaan bagian atas beton. Jarak antara posisi
permukaan semula dan posisi setelah penurunan pada pusat permukaan
atas beton diukur dan dilaporkan sebagai nilai slump beton
2.5. Peralatan
2.5.1. Alat uji
Alat uji harus berupa sebuah cetakan yang terbuat dari bahan
logam yang tidak lengket dan tidak bereaksi dengan pasta
semen. Ketebalan logam tersebut tidak boleh lebih kecil dari 1,5
mm dan bila dibentuk dengan proses pemutaran (spinning),
maka tidak boleh ada titik dalam cetakan yang ketebalannya
lebih kecil dari 1,15 mm.
Cetakan harus berbentuk kerucut terpancung dengan diameter
dasar 203 mm, diameter atas
102 mm, tinggi 305 mm. Permukaan dasar dan permukaan atas
kerucut harus terbuka dan sejajar satu dengan yang lainerta
tegak lurus terhadap sumbu kerucut. Batas toleransi untuk
masing-masing diameter dan tinggi kerucut harus dalam rentang
3,2 mm dari ukuran yang telah ditetapkan. Cetakan harus
dilengkapi dengan bagian injakan kaki dan untuk pegangan


PEMBANGUNAN LANJUTAN GEDUNG KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA
TAHAP II
2014
P T T R I M A N D I R I U T A M A

11
seperti ditunjukkan dalam Gambar 1. Bagian dalam dari
cetakan relatif harus licin dan halus, bebas dari lekukan,
deformasi atau mortar yang melekat. Cetakan harus dipasang
secara kokoh di atas pelat dasar yang tidak menyerap air. Pelat
dasar juga harus cukup luas agar dapat menampung adukan
beton setelah mengalami slump.

Gambar 1
Cetakan untuk uji slump (kerucut Abram)



PEMBANGUNAN LANJUTAN GEDUNG KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA
TAHAP II
2014
P T T R I M A N D I R I U T A M A

12
2.5.2. Cetakan dengan material alternatif
Cetakan yang terbuat selain dari bahan logam diperbolehkan
bila persyaratan berikut dipenuhi. Cetakan harus memenuhi
persyaratan ukuran sesuai Butir 5.1. Cetakan harus cukup
kaku untuk menjaga ukuran yang telah ditetapkan dan toleransi
selama penggunaan, tahan terhadap gaya tumbuk dan harus
tidak menyerap air. Cetakan harus diuji coba untuk
mendapatkan hasil-hasil yang dapat dibandingkan dengan
hasil-hasil yang diperoleh jika menggunakan cetakan logam
sesuai persyaratan Butir 5.1. Uji banding harus dilakukan oleh
laboratorium yang independen atas nama pembuat cetakan. Uji
banding harus terdiri minimum 10 sampel pada masing-masing
dari tiga nilai slump yang berbeda dengan rentang dari 50 mm
sampai 125 mm. Tidak boleh ada hasil-hasil uji slump
individual yang berbeda lebih dari 15 mm dari hasil yang
diperoleh dengan menggunakan cetakan logam. Hasil uji rata-
rata dari masing-masing pengujian slump yang diperoleh dengan
menggunakan cetakan material alternaif tidak boleh berbeda
lebih dari 10 mm dari hasil uji rata-rata yang diperoleh dengan
cetakan logam. Bila ada perubahan material atau metode
pembuatan, pengujian untuk uji banding harus diulangi.
Bila kondisi cetakan individual diduga telah menyimpang dari
toleransi kondisi fabrikasinya maka suatu uji perbandingan
tunggal harus dilakukan. Bila hasil-hasil pengujian berbeda
lebih dari 15 mm (0.5 in) dari yang dihasilkan cetakan logam,
maka cetakan tidak boleh digunakan.
2.5.3. Batang penusuk
Batang penusuk harus merupakan suatu batang baja yang lurus,
penampang lingkaran dengan diameter 16 mm dan panjang
sekira 600 mm, memiliki salah satu atau kedua ujung berbentuk


PEMBANGUNAN LANJUTAN GEDUNG KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA
TAHAP II
2014
P T T R I M A N D I R I U T A M A

13
bulat setengah bola dengan diameter 16 mm.
2.6. Contoh uji
Contoh uji beton beton untuk membuat benda uji harus mewakili
jumlah campuran beton, sesuai dengan SNI 03 2458 1991.
2.7. Langkah kerja
a) Basahi cetakan dan letakkan di atas permukaan datar, lembab,
tidak menyerap air dan kaku. Cetakan harus ditahan secara kokoh
di tempat selama pengisian, oleh operator yang berdiri di atas
bagian injakan. Dari contoh beton yang diperoleh menurut Butir 6,
segera isi cetakan dalam tiga lapis, setiap lapis sekira sepertiga dari
volume cetakan.
CATATAN 3 Sepertiga dari volume cetakan slump diisi hingga
keketebalan 67 mm , dua pertiga dari volume diisi hingga ketebalan
155 mm.
b) Padatkan setiap lapisan dengan 25 tusukan menggunakan batang
pemadat. Sebarkan penusukan secara merata di atas permukaan
setiap lapisan. Untuk lapisan bawah akan ini akan membutuhkan
penusukan secara miring dan membuat sekira setengah dari jumlah
tusukan dekat ke batas pinggir cetakan, dan kemudian lanjutkan
penusukan vertikal secar spiral pada seputar pusat permukaan.
Padatkan lapisan bawah seluruhnya hingga kedalamannya.
Hindari batang penusuk mengenai pelat dasar cetakan.
Padatkan lapisan kedua dan lapisan atas seluruhnya hingga
kedalamannya, sehingga penusukan menembus batas lapisan di
bawahnya.
c) Dalam pengisian dan pemadatan lapisan atas, lebihkan adukan
beton di atas cetakan sebelum pemadatan dimulai. Bila
pemadatan menghasilkan beton turun dibawah ujung atas
cetakan, tambahkan adukan beton untuk tetap menjaga adanya


PEMBANGUNAN LANJUTAN GEDUNG KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA
TAHAP II
2014
P T T R I M A N D I R I U T A M A

14
kelebihan beton pada bagian atas dari cetakan. Setelah lapisan atas
selesai dipadatkan, ratakan permukaan beton pada bagian atas
cetakan dengan cara menggelindingkan batang penusuk di
atasnya. Lepaskan segera cetakan dari beton dengan cara
mengangkat dalam arah vertikal secara-hati-hati. Angkat cetakan
dengan jarak 300 mm dalam waktu
5 2 detik tanpa gerakan lateral atau torsional. Selesaikan seluruh
pekerjaan pengujian dari awal pengisian hingga pelepasan cetakan
tanpa gangguan, dalam waktu tidak lebih dari 2 menit.
d) Setelah beton menunjukkan penurunan pada permukaan, ukur
segera slump dengan menentukan perbedaan vertikal antara bagian
atas cetakan dan bagian pusat permukaan atas beton. Bila terjadi
keruntuhan atau keruntuhan geser beton pada satu sisi atau
sebagian massa beton (CATATAN 4), abaikan pengujian tersebut
dan buat pengujian baru dengan porsi lain dari contoh.
CATATAN 4 Bila dua pengujian berturutan pada satu contoh
beton menunjukkan keruntuhan geser beton pada satu sisi atau
sebagian massa beton, kemungkinan adukan beton kurang plastis
atau kurang kohesif untuk dilakukan pengujian slump.
2.8. Laporan
Catat nilai slump contoh uji dalam satuan milimeter hingga ketelitian 5
mm terdekat. Nilai Slump = Tinggi alat slump tinggi beton setelah
terjadi penurunan
2.9. Ketelitian dan penyimpangan
2.9.1. Ketelitian
Tidak perlu pengujian antar laboratorium yang dilaksanakan
dalam metode pengujian ini, karena tidak mungkin
mendapatkan beton yang setara pada tempat yang berbeda-beda,
bebas dari kesalahan kecuali berdasarkan pengujian nilai


PEMBANGUNAN LANJUTAN GEDUNG KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA
TAHAP II
2014
P T T R I M A N D I R I U T A M A

15
slump.
Data lapangan yang ekstensif mengizinkan suatu pernyataan
berkenaan dengan ketelitian beberapa teknisi dari metode
pengujian ini.
a) Rentang pengujian, 38 hingga 70 mm.
b) Jumlah total contoh, 2304.
c) Deviasi standar kemampuan pengulangan (1S), 8 mm.
d) Batas kemampuan pengulangan 95 persen (D2S), 21 mm.
Jadi, hasil dari dua pengujian yang dilaksanakan secara benar
oleh teknisi-teknisi yang berbeda dalam laboratorium yang
sama pada material yang sama tidak boleh lebih dari 21 mm.
Karena keterbatasan rentang nilai slump dalam beton yang
digunakan dalam pengujian ini, harus hati-hati dalam
menerapkan nilai-nilai ketelitian ini .
2.9.2. Penyimpangan
Metode pengujian ini tidak memiliki penyimpangan karena
nilai slump ditetapkan berkaitan dengan metode pengujian ini.
CATATAN 5 Data yang akurat didasarkan atas penggunaan
kerucut-kerucut dari bahan logam. Tidak ada data spesifik
yang tersedia untuk hasil-hasil pengujian beberapa teknisi
menggunakan kerucut dari bahan alternatif selain logam








PEMBANGUNAN LANJUTAN GEDUNG KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA
TAHAP II
2014
P T T R I M A N D I R I U T A M A

16
II. Uji Penulangan Beton
1. Tata cara pengujian tulangan beton
1.1.Ruang lingkup
Standar ini meliputi acuan normatif, istilah dan definisi, jenis, syarat
mutu, cara pengambilan contoh, cara uji, syarat penandaan, syarat lulus
uji, dan cara pengemasan baja tulangan beton.
1.2.Acuan normatif
SNI 07-0371-1998, Batang uji tarik untuk bahan logam,
SNI 07-0408-1989, Cara uji tarik untuk logam,
SNl 07-0410-1989, Cara uji lengkung tekan,
1.3.Istilah dan definisi
1.3.1. Baja tulangan beton
Baja berbentuk batang berpenampang bundar yang digunakan
untuk penulangan beton, yang diproduksi dari bahan baku billet
dengan cara canai panas (hot rolling)
1.3.2. Bahan baku yang digunakan
Billet baja sesuai Standar Nasional Indonesia
1.3.3. Ukuran nominal
Ukuran sesuai yang ditetapkan
1.3.4. Toleransi
Besarnya penyimpangan yang diizinkan dari ukuran nominal
1.3.5. Diameter dalam
Ukuran diameter tanpa sirip pada baja tulangan baton sirip
1.3.6. Sirip melintang
Setiap sirip yang terdapat pada permukaan batang baja
tulangan beton yang melintang terhadap susut batang baja


PEMBANGUNAN LANJUTAN GEDUNG KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA
TAHAP II
2014
P T T R I M A N D I R I U T A M A

17
tulangan beton
1.3.7. Rusuk
Setiap sirip atau celah memanjang yang searah dan sejajar
dengan sumbu baja tulangan beton
1.3.8. Gap (rib)
Lebar rusuk atau celah
1.3.9. Ikat
Dua batang atau lebih baja tulangan beton diikat secara kuat,
rapih dan harus memiliki ukuran, jenis serta kelas baja yang
sama
1.3.10. Bundel
Dua ikat atau lebih baja tulangan beton dengan ukuran nominal,
jenis serta kelas baja yang sama
1.3.11. Lot
Dua bundel atau lebih baja tulangan beton dengan ukuran
nominal, jenis, serta kelas baja yang sama ditumpuk dalam satu
kelompok
1.3.12. Karat ringan
Karat yang apabi!a digosok secara manual tidak meninggalkan
cacat pada permukaan
1.3.13. Cerna
Luka pada permukaan baja tulangan yang terjadi akibat proses
canai
1.4.Jenis
Berdasarkan bentuknya, baja tulangan beton dibedakan menjadi 2
(dua) jenis yaitu baja tulangan beton polos dan baja tulangan beton sirip.


PEMBANGUNAN LANJUTAN GEDUNG KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA
TAHAP II
2014
P T T R I M A N D I R I U T A M A

18
1.4.1. Baja tulangan beton polos
Baja tulangan beton polos adalah baja tulangan beton
berpenampang bundar dengan permukaan rata tidak bersirip,
disingkat BjTP.
1.4.2. Baja tulangan beton sirip
Baja tulangan beton sirip adalah baja tulangan beton dengan
bentuk khusus yang permukaannya memiliki sirip melintang dan
rusuk memanjang yang dimaksudkan untuk rneningkatkan daya
lekat dan guna menahan gerakan membujur dari batang secara
relatif terhadap beton, disingkat BjTS.
1.5.Syarat mutu
1.5.1. Sifat tampak
Baja tulangan beton tidak boleh mengandung serpihan, lipatan,
retakan, gelombang, cerna yang dalam dan hanya diperkenankan
berkarat ringan pada permukaan
1.5.2. Bentuk
1.5.2.1. Baja tulangan polos
Permukaan batang baja tulangan beton harus rata tidak
bersirip.
1.5.2.2. Baja tulangan beton sirip
Permukaan batang baja tulangan beton sirip harus
bersirip teratur. Setiap batang diperkenankan
rnempunyai rusuk memanjang yang searah dan sejajar
dengan sumbu batang, serta sirip-sirip lain dengan arah
melintang sumbu batang.
Sirip-sirip melintang sepanjang batang baja tulangan
beton harus terletak pada jarak yang teratur. Serta
mempunyai bentuk dan ukuran yang sama. Bila


PEMBANGUNAN LANJUTAN GEDUNG KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA
TAHAP II
2014
P T T R I M A N D I R I U T A M A

19
diperlukan tanda angka- angka atau huruf-huruf pada
permukaan baja tulangan beton, maka sirip melintang
pada posisi di mana angka atau huruf dapat ditiadakan.
Sirip melintang tidak boleh membentuk sudut
kurang dari 45 terhadap sumbu batang, apabila
membentuk sudut antara 45 sampai 70, arah sirip
melintang pada satu sisi, atau kedua sisi dibuat
berlawanan. Bila sudutnya diatas 70 arah yang
berlawanan tidak diperlukan.
1.5.3. Ukuran dan toleransi
1.5.3.1. Diameter, berat dan ukuran sirip
Diameter dan berat per meter baja tulangan beton
polos seperti tercantum pada Tabel 1. Diameter,
ukuran sirip dan berat per meter baja tulangan beton
sirip seperti tercantum pada Tabel 2.
Tabel 1 Ukuran baja tulangan beton polos
No. Penamaan
Diameter
nominal
(d)
(mm)
Luas
penampang
Nominal
(L)
(cm
2
)
Berat
nominal per
meter
(kg/m)
1. P.6 6 0,2827 0,222
2. P.8 8 0,5027 0,395
3. P.10 10 0,7854 0,617
4. P.12 12 1,131 0,888
5. P.14 14 1,539 1,12
6. P.16 16 2,011 1,58
7. P.19 19 2,835 2,23
8. P.22 22 3,801 2,98
9. P.25 25 4,909 3,85
10. P.28 28 6,158 4,83
11. P.32 32 8,042 6,31


PEMBANGUNAN LANJUTAN GEDUNG KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA
TAHAP II
2014
P T T R I M A N D I R I U T A M A

20

Tabel 2 Ukuran baja tulangan beton sirip
No
Pena
maan
Dia-
meter
nominal
(d)
Luas
Penam
pang
nominal
Dia-
meter
dalam
nominal
(d
o
)
Tinggi sirip
melintang Jarak sirip
melintang
(maks)
Lebar
rusuk me-
manjang
(maks)
Berat
nominal
min maks
mm cm
2
mm mm mm mm mm Kg/m
1 S.6 6 0,2827 5,5 0,3 0,6 4,2 4,7 0,222
2 S.8 8 0,5027 7,3 0,4 0,8 5,6 6,3 0,395
3 S.10 10 0,7854 8,9 0,5 1,0 7,0 7,9 0,617
4 S.13 13 1,327 12,0 0,7 1,3 9,1 10,2 1,04
5 S.16 16 2,011 15,0 0,8 1,6 11,2 12,6 4,58
6 S.19 19 2,835 17,8 1,0 1,9 13,3 14,9 2,23
7 S.22 22 3,801 20,7 1,1 2,2 15,4 17,3 2,98
8 S.25 25 4,909 23,6 1,3 2,5 17,5 19,7 3,85
9 S.29 29 6,625 27,2 1,5 2,9 20,3 22,8 5,18
10 S.32 32 8,042 30,2 1,6 3,2 22,4 25,1 6,31
11 S.36 36 10,18 34,0 1,8 3,6 25,2 28,3 7,99
12 S.40 40 12,57 38,0 2,0 4,0 28,0 31,4 9,88
13 S.50 50 19,64 48,0 2,5 5,0 38,0 39,3 17,4
CATATAN Cara menghitung luas penampang nomnal, keliling nominal, berat nominal dan ukuran
sirip adalah sebagai berikut:
a) Luas penampang nominal (L)

L =

(cm
2
) dibulatkan sampai 4 angka
berarti
b) Keliling nominal (K)
K = 0,3142 x d (mm) dibulatkan sampai 1 angka
desimal
c) Berat = 0,785 x L (kg/m) dibulatkan sampai 3 angka
berarti
d) Jarak sirip melintang maksimum = 0,70 d dibulatkan sampai 1 angka
desimal
e) Tinggi sirip minimum = 0,05 d dibulatkan sampai 1 angka desimal
Tinggi sirip maksimum = 0,10 d dibulatkan sampai 1 angka
desimal

f) Jumlah berat rusuk maksimum = 0,25 K dibulatkan sampai 1 angka desimal


PEMBANGUNAN LANJUTAN GEDUNG KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA
TAHAP II
2014
P T T R I M A N D I R I U T A M A

21
1.5.3.2. Toleransi diameter
Toleransi diameter baja tulangan beton polos dan sirip
seperti pada Tabel 3

Beberapa bentuk baja tulangan sirip beton seperti pada
gambar berikut










No
Diameter (d)
(mm)
Toleransi
(mm)
Penyimpangan
kebundaran
(%)
1 6 + 0,3
Maksimum
70% dari
batas
toleransi
2 8 < d < 14 + 0,4
3 16 < d < 25 + 0,5
4 28 < d < 34 + 0,6
5 d > 346 + 0,8

CATATAN
1. Penyimpangan kebundaran adalah perbedaan antara
diameter maksimum dan minimum dari hasil
pengukuran pada penampang yang sama dari baja
tulangan beton
2. Untuk baja tulangan beton sirip, d = diamete dalam


PEMBANGUNAN LANJUTAN GEDUNG KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA
TAHAP II
2014
P T T R I M A N D I R I U T A M A

22




















Gambar 1
Beberapa jenis baja tulangan beton sirip a), b), dan c)






PEMBANGUNAN LANJUTAN GEDUNG KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA
TAHAP II
2014
P T T R I M A N D I R I U T A M A

23
1.5.3.3. Panjang
Panjang baja tulangan beton ditetapkan 6 m, 9 rn, dan
12 m
Toleransi panjang
Toleransi panjang baja tulangan beton ditetapkan
minus 0 mm (-0 mm) plus 70 mm (+ 70 mm).
1.5.3.4. Toleransi berat
Toleransi berat per batang
Toleransi berat per batang baja tulangan beton
polos dan sirip ditetapkan seperti tercantum dalam
Tabel 4
Tabel 4 Toleransi berat per batang
Diameter nominal
(mm)
Toleransi
(%)
6 d 8 7
10 d 11 6
16 d 28 5
d 28 4

Toleransi berat per lot
Toleransi berat per lot baja tulangan beton
polos dan sirip ditetapkan seperti tercantum
dalam Tabel 5







PEMBANGUNAN LANJUTAN GEDUNG KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA
TAHAP II
2014
P T T R I M A N D I R I U T A M A

24
Tabel 5 Toleransi berat per lot
Diameter nominal
(mm)
Toleransi
(%)
6 < d < 8 6
10 < d < 11 5
16 < d < 28 4
d < 28 3,5

1.5.4. Sifat mekanis
Sifat mekanis baja tuiangan beton ditetapkan seperti tercantum
pada Tabel 6

















PEMBANGUNAN LANJUTAN GEDUNG KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA
TAHAP II
2014
P T T R I M A N D I R I U T A M A

25
Tabel Sifat mekanis
Kelas
baja
tulangan
Nomor
batang uji
Uji tarik Uji lengkung
Batas ulur
kgf/mm
2
(N/mm
2
)
Kuat tarik
kgf/mm
2
(N/mm
2
)
Regang
an
(%)
Sudut
lengkung
Diameter
pelengkung
BjTP 24
No. 2
Minimum 24
(235)
Minimum 39
(380)
20
180 3 x d
No. 3 24
BjTP 30
No. 2
Minimum 30
(295)
Minimum 45
(440)
18
180
d > 16 = 3xd d
> 16 = 4xd
No. 3 20
BjTP 30
No. 2
Minimum 30
(295)
Minimum 45
(440)
10
180
d 16 = 3xd d
> 16 = 4xd
No. 3 18
BjTP 35
No. 2
Minimum 35
(345)
Minimum 50
(490)
18
180
d 16 = 3xd
16<d40 = 4xd
d 40 = 5xd No. 3 20
BjTP 40
No. 2
Minimum 40
(390)
Minimum 57
(500)
16
180 5 x d
No. 3 18
BjTP 50
No. 2
Minimum 50
(490)
Minimum 57
(620)
12
180
d 25 = 5xd d
> 25 = 6xd
No. 3 14
CATATAN
1. Hasil uji lengkung tidak boleh terletak pada sisi luar lengkungan
2. Untuk baja tulangan sirip > S.32 nilai renggang dikurangi 2 %
Untuk baja tulangan sirip S.40 dan S.50 dikurangi 4 % dari nilai yang
tercantum pada tabel 6.
3. 1 kgf/mm
2
= 9,81 N/mm
2







PEMBANGUNAN LANJUTAN GEDUNG KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA
TAHAP II
2014
P T T R I M A N D I R I U T A M A

26
1.5.5. Cara pengambilan contoh
1.5.5.1. Pengambilan contoh dilakukan oleh petugas yang
berwenang
1.5.5.2. Petugas pengambil contoh harus diberi keleluasaan
oleh pihak produsen atau penjual untuk melakukan
tugasnya
1.5.5.3. Pengambilan contoh dilakukan secara acak (random)
1.5.5.4. Jumlah contoh uji
Setiap kelompok yang terdiri dari nomor leburan
dan ukuran yang sama diambil satu contoh uji
Setiap kelompok yang terdiri lebih dari satu
nomor leburan (campuran) dari satu ukuran dan
satu kelas baja yang sama, diambil 1 (satu) contoh
uji setiap 25 (dua puluh lima) ton sebanyak-
banyaknya 5 (lima) contoh uji
Contoh untuk uji sifat mekanis diambil sesuai
dengan kebutuhan masing-masing, maksimum
1,50 mm yang dipotong dari salah satu ujung
batang baja tulangan beton dan tidak boleh dengan
cara panas.
1.5.6. Cara uji
1.5.6.1. Uji sifat tampak
Uji sifat tampak dilakukan secara visual tanpa bantuan
alat untuk memeriksa adanya cacat- cacat
1.5.6.2. Uji ukuran, berat dan bentuk
Baja tulangan beton polos
Baja tulangan beton polos diukur pada satu
tempat untuk menentukan diameter minimum
dan maksirnum.
Pengukuran dilakukan pada 3 (tiga) tempat yang


PEMBANGUNAN LANJUTAN GEDUNG KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA
TAHAP II
2014
P T T R I M A N D I R I U T A M A

27
berbeda dalam 1 (satu) contoh uji dan dihitung
nilai rata-ratanya.
Penentuan berat ditetapkan berdasarkan berat
nyata (aktual) yang diperhitungkan dengan
panjang contoh uji.
Baja tulangan beton sirip
Baja tulangan beton sirip diukur jarak sirip,
tinggi sirip, Iebar rusuk, diameter dalam dan
sudut sirip.
Jarak sirip
Pengukuran jarak sirip dilakukan dengan cara
mengukur 10 (sepuluh) jarak sirip yang
berderet kemudian dihitung nilai rata-ratanva.
Tinggi sirip
Pengukuran tinggi sirip dilakukan terhadap 3
(tiga) kali buah sirip dan dihitung nilai
rata- ratanya.
Lebar rusuk
Pengukuran terhadap lebar rusuk dilakukan dengan
mengukur lebar semua rusuk atau celah kemudian
hasil pengukuran lebar masing-masing rusuk
dijumlahkan.
Diameter dalam
Diameter dalam diukur sekurang-kurangnya 3
(tiga) pada tempat yang berbeda dalam jumlah
contoh uji.



PEMBANGUNAN LANJUTAN GEDUNG KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA
TAHAP II
2014
P T T R I M A N D I R I U T A M A

28
Sudut sirip melintang
Pengukuran sudut sirip melintang dilakukan
dengan membuat gambar yang diperoleh dengan
cara mengelindingkan potongan uji di atas
permukaan lempengan lilin atau tanah liat,
kemudian dilakukan pengukuran sudut sirip pada
gambar lempengan tersebut
1.5.6.3. Uji sifat mekanis
Batang uji tarik dan lengkung harus lurus dan kulit
canai tidak boleh dikerjakan (dihilangkan)
Uji tarik dan lengkung dilakukan masing-masing
1(satu) kali percobaan dari masing-masing potongan
contoh uji
1.5.7. Pelaksanaan uji
1.5.7.1. Uji tarik
Uji tarik dilakukan sesuai SNI 07-0408-1989, Cara uji
tarik untuk logam, dengan batang uji sesuai
SNI 07-0371-1998, Batang uji tarik untuk bahan
logam (batang uji tarik no. 2 untuk diameter < 25 mm
dan batang uji tarik no. 3 untuk diameter 25 mm).
untuk menghitung batas ulur dan kuat tarik baja
tulangan beton polos dan sirip digunakan nilai luas
penampang yang dihitung dari diameter nominal contoh
uji.
1.5.7.2. Uji lengkung
Uji lengkung dilakukan sesuai SNI 07-0410-1989, Cara
uji lengkung tekan.



PEMBANGUNAN LANJUTAN GEDUNG KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA
TAHAP II
2014
P T T R I M A N D I R I U T A M A

29
1.5.8. Syarat penandaan
Setiap batang baja tulangan beton harus diberi tanda (marking)
dengan huruf timbul yang menunjukkan inisial pabrik pembuat
serta ukuran diameter nominal.
Setiap batang baja tulangan beton harus diberi tanda pada
ujung-ujung penampangnya dengan warna yang tidak mudah
hilang sesuai dengan kelas baja seperti pada Tabel 7.
Tabel 7 Tabel untuk tanda kelas baja tulangan beton
Kelas baja Warna
BjTP 24 Hitam
BjTP 30 BjTS 30 biru
BjTS 35 merah
BjTS 40 kuning
BjTS 50 hijau

Setiap kemasan, harus diberi label dengan mencantumkan:
Nama atau nama singkatan dari pabrik pembuat
Ukuran (diameter dan panjang)
Kelas baja
Nomor lembaran (No. Heat)
Nomor seri produksi dan tanggal produksi
Nomor SNI
1.5.9. Syarat lulus uji
Kelompok dinyatakan lulus uji apabila contoh yang diambil
dari kelompok tersebut memenuhi butir 1.5 Syarat mutu dan
butir 1.5.8
Apabila sebagian syarah-syarat tidak dipenuhi, dapat
dilakukan uji ulang dengan contoh uji sebanyak 2 (dua) kali
jumlah contoh uji yang pertama yang berasal dari kelompok


PEMBANGUNAN LANJUTAN GEDUNG KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA
TAHAP II
2014
P T T R I M A N D I R I U T A M A

30
yang sama.
Apabila hasil kedua uji ulang semua syarat-syarat terpenuhi,
kelompok dinyatakan lulus uji. Kelompok dinyatakan tidak
lulus uji kalau salah satu syarat pada uji ulang tidak dipenuhi.
1.5.10. Cara pengemasan.
Baja tulangan beton yang ukuran, jenis, dan kelas baja yang
sama, dibundel dan diikat secara kuat, rapi, dan kokoh.
Baja tulangan beton yang ditekuk dengan panjang yang sama
harus diikat secara kuat, rapih, dan kokoh