Anda di halaman 1dari 8

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perdarahan diluar haid adalah perdarahan yang terjadi dalam masa antara 2 haid. Ada
dua macam perdarahan di luar haid yaitu metroragia dan menometroragia
Metroragia adalah perdarahan dari vagina yang tidak berhubungan dengan siklus haid.
Perdarahan ovulatoir terjadi pada pertengahan siklus sebagai suatu spotting dan dapat
lebih diyakinkan dengan pengukuran suhu basal tubuh.
Menoragia adalah Perdarahan siklik yang berlangsung lebih dari 7 hari dengan jumlah
darah kadang-kadang cukup banyak. Penyebab dan pengobatan kasus ini sama dengan
hipermenorea.
Sebab-sebab organic perdarahan dari uterus, tuba dan ovarium disebabkan oleh
kelainan pada serviks uteri salah satunya, antara lain :
Polipus servisis uteri
Erosio porsionis uteri
Ulkus pada portio uteri
Karsinoma servisis uteri
(Sarwono.2009.hal:223)

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan erosi porsio ?
2. Apa etiologi erosi porsio ?
3. Bagaimana proses terjadinya/ patofisiologi erosi porsio ?
4. Apa saja tanda dan gejala erosi porsio ?
5. Bagaimana penanganan erosi portio?

C. Tujuan Makalah
1. Untuk mengetahui dan memahami yang dimaksud dengan erosi porsio
2. Untuk mengetahui dan memahami etiologi erosi porsio
3. Untuk mengetahui dan memahami erosi porsio
4. Mampu mengetahui dan mengenali tanda dan gejala erosi porsio
5. Untuk memahami cara penanganan erosi porsio
2


D. Metode Penulisan
Penyusunan makalah ini, kami menggunakan metode studi pustaka melalui buku-
buku yang ada di perpustakaan kampus maupun internet dan disusun berdasarkan daftar
pustaka.




























3

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Erosi Porsio
Erosi Porsio dewasa ini telah sangat jarang sekali di pakai pada sumber kepustakaan,
yang dimaksudkan dengan istilah ini ialah adanya di sekitar ostium uteri eksternum suatu
daerah berwarna merah, kurang lebih sirkuler. Kelainan ini bukan erosi dalam arti
sebenarnya, dan bukan akibat luka atau radang akan tetai epitel torak endoservik dengan
stroma vaskuler dibawahnya tumbuh sampai diluar ostium uteri eksternum dengan
mendesak epitel tatah yang normal ditemukan ditempat tersebut. Anggapan sekarang ialah
apa yang tampak sebagai erosi sebenarnya ialah servisitis kronika. (Sarwono, 2009. Hal:
282).










Erosi serviks dapat menjadi tanda awal dari kanker serviks. Penyakit ini dijumpai
pada sebagian besar wanita yang pernah melahirkan. Luka- luka kecil maupun besar pada
serviks karena partus atau abortus memudahkan masuknya kuman-kuman ke dalam
endoserviks dan kelenjar- kelenjarnya lalu menyebabkan infeksi menahun.
(Sarwono.2009.hal:281)

B. Etiologi Erosi Porsio
1. Keterpaparan suatu benda pada saat pemasangan AKDR. Pada saat pemasangan alat
kontrasepsi yang digunakan tidak steril yang dapat menyebabkan infeksi. AKDR juga
mengakibatkan bertambahnya volume dan lama haid (darah merupakan media subur
untuk berkembang biaknya kuman) penyebab terjadi infeksi.

4







2. Infeksi pada masa reproduktif menyebabkan batas antara epitel canalis cervicalis dan
epitel portio berpindah, infeksi juga dapat memyebabkan menipisnya epitel portio dan
gampang terjadi erosi pada porsio (hubungan seksual).
3. Pada masa reproduktif batas berpindah karena adanya infeksi (cervicitis, kolpitis).
4. Rangsangan luar maka epitel gampang berapis banyak dan porsio mati dan diganti
dengan epitel silinderis canalis servikalis.
5. Level estrogen: erosi serviks merupakan respons terhadap sirkulasi estrogen dalam
tubuh.
- Dalam kehamilan: erosi serviks sangat umum ditemukan dalam kehamilan karena
level estrogen yang tinggi. Erosi serviks dapat menyebabkan perdarahan minimal
selama kehamilan, biasanya saat berhubungan seksual ketika penis menyentuh
serviks. Erosi akan menghilang spontan 3-6 bulan setelah melahirkan.
- Pada wanita yang mengkonsumsi pil KB: erosi serviks lebih umum terjadi pada
wanita yang mengkonsumsi pil KB dengan level estrogen yang tinggi.
- Pada bayi baru lahir: erosi serviks ditemukan pada 1/3 bayi wanita dan akan
menghilang pada masa anak-anak oleh karena respons maternal saat bayi berada
di dalam rahim.
- Wanita yang menjalani Hormon Replacement Therapy (HRT): karena penggunaan
estrogen pengganti dalam tubuh berupa pil, krim, dan lain-lain.
(Sarwono.2009. hal: 134)
6. Infeksi: teori bahwa infeksi menjadi penyebab erosi serviks mulai menghilang. Bukti-
bukti menunjukkan bahwa infeksi tidak menyebabkan erosi, tapi kondisi erosi akan
lebih mudah terserang bakteri dan jamur sehingga mudah terserang infeksi.
7. Penyebab lain: infeksi kronis di vagina dan kontrasepsi kimia dapat mengubah level
keasaman vagina dan menyebabkan erosi serviks. Erosi serviks juga dapat disebabkan
karena trauma (hubungan seksual, penggunaan tampon, benda asing di vagina, atau
terkena spekulum).

5

C. Patofisiologi Terjadinya Erosi Porsio
Proses terjadinya erosi portio dapat
disebabkan adanya rangsangan dari luar misalnya
IUD. IUD yang mengandung polyethilien yang
sudah berkarat membentuk ion Ca, kemudian
bereaksi dengan ion sel sehat PO4 sehingga terjadi
denaturasi/koalugasi membran sel dan terjadilah
erosi portio.
Erosi pada akseptor KB IUD dapat terjadi karena benang IUD, perekatan logam
polyetilen dengan posisi IUD yang tidak benar sehinggga mempermudah terjadinya
pengelupasan sel superfisialis, dimana sifat dasarnya mudah terkelupas. Apabila lapisan sel
ini terkelupas, maka terjadilah erosi portio yang akan terjadi kronis, jika tidak didapatkan
penanganan secara segera, karena pengelupasan sel superfisialis berakibat hilangnya
sumber makanan borderline sehingga tidak mampu memperoduksi asam laktak yang
menyebabkan pH vagina akan meningkat, naiknya pH vagina akan mempermudah kuman
pathogen tumbuh.
Pasicn dengan erosi portio pada umumnya datang pada satdium lanjut, diamana
didapatkan keluhan seperti keputihan disertai darah, keputihan yang berbau, perdarahan
berkelanjutan, dan disertai metastase dimana stadium pengobatan ini tidak memuaskan.
(Pranoto,H.Ibnu.2012.hal.272)
Dari semua kejadian erosi portio itu menyebabkan tumbuhnya bakteri patogen, bila
sampai kronis menyebabkan metastase keganasan leher rahim. Selain dan personal hygiene
yang kurang, IUD juga dapat menyebabkan bertambahnya volume dan lama haid darah
merupakan media subur untuk masuknya kuman dan menyebabkan infeksi, dengan adanya
infeksi dapat masuknya kuman dan menyebabkan infeksi.
Dengan adanya infeksi dapat menyebabkan Epitel Portio menipis sehingga mudah
menggalami Erosi Portio, yang ditandai dengan sekret bercampur darah, metorhagia,
ostium uteri eksternum tampak kemerahan, sekret juga bercampur dengan nanah,
ditemukan ovulasi Nabothi (kista kecil berisi cairan yang kadang-kadang keruh).
(Sarwono.2009.Hal:281).

D. Tanda dan Gejala
1. Serviks kelihatan normal; hanya pada pemeriksaan mikroskopik ditemukan infiltrasi
leukosit dalam stroma endoserviks. Pengeluaran sekret yang agak putih-kekuningan
6

2. Disini pada porsio uteri disekitar ostium uteri eksternum tampak daerah kemerah-
merahan yang tidak dapat dipisahkan secara jelas dari epitel porsio di sekitarnya.,
sekret yang dikeluarkan terdiri atas mucus bercampur nanah.
3. Sobekan pada serviks uteri disini lebih luas dan mukosa endoserviks lebih kelihatan
dari luar (ekstropion). Mukosa dalam keadaan demikian mudah kena infeksi dari
vagina. Karena radang menahun, serviks bisa menjadi hipertrofis dan mengeras;
sekret mukoporulen bertambah banyak.
4. Pada proses penyembuhan, Erosi porsio sering ditemukan ovula nobathii.
(Sarwono.2009. Hal 281)

E. Penanganan Erosi Porsio
Bidan menganjurkan pemeriksaan pasca persalinan (masa puerperium) yaitu hari
ke-42 (enam minggu) karena perlukaan serviks (portio uteri) setelah persalinan dapat
menjadi titik awal degenerasi ganas mulut rahim.
Mulut rahim yang luka perlu diobati dengan :
- Nitrasargenti tingtura
- Albuthyl tingtura Menyebabkan nekrose Epitel silinderis dengan harapan
bahwa kemudian diganti dengan Epitel gepeng berlapis banyak.
- Dibakar dengan pisau listrik Termokauter komisasi
- Disamping itu juga dianjurkan untuk pemeriksaan Pap Smear.
(Manuaba.2010. Hal: 428)
Penyembuhan servisitis kronika sangat penting karena dapat menghindari keganasan
dan merupakan pintu masuk infeksi kea lat kelamin bagian atas. (Manuaba.2009.Hal:63)








7


BAB III
PENUTUP

1. Kesimpulan
Erosi Porsio ialah adanya sekitar ostiu uteri eksternum suatu berwarna merah
menyala dan agak mudah berdarah. Penyebabnya yaitu : infeksi pada masa reproduktif,
keterpaparan suatu benda pada sat pemasangan AKDR, tingginya level estrogen dan
rangsangan luar maka epitel gampang berlapis banyak dan porsio mati dan diganti dengan
epitel silinderis canalis servikalis Patofisiologinya : Proses terjadinya erosi portio dapat
disebabkan adanya rangsangan dari luar misalnya IUD.
Tanda dan gejala nya yaitu : Perdarahan vagina abnormal, Portio uterus disekitar
ostium uteri eksternum tampah daerah kemerah-merahan yang sulit dipisahkan secara
jelas dan Epitel Portio, Sekret juga tidak dapat bercampur dengan nanah. Namun disertai
keluarnya cairan mucus yang jernih / kekuningan, dapat berbau jika disertai infeksi
vagina. Pada Erosi sering ditemukan ovula nobathii.
Penanganan Erosi Porsio, Mulut rahim yang luka perlu diobati dengan :
Nitrasargenti tingtura, Albuthyl tingtura , dibakar dengan pisau listrik Termokauter
komisasi ,disamping itu juga dianjurkan untuk pemeriksaan Pap Smear.

2. Saran
Sebaiknya sebagai tenaga kesehatan kedepannya kita lebih hati hati dan teliti
dalam melakukan tindakan kebidanan terhadap pasien agar dapat meminimalkan angka
inveksi dan kecacatan pada klien dan juga hendaknya kita bisa menjaga kebersihan diri
kita sendiri




8


DAFTAR PUSTAKA

Pranoto,H.Ibnu.dkk.2012.Patologi Kebidanan.Yogyakarta:Fitramaya
Manuaba, Ida Bagus Gde. 2010. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga
Berencana Untuk pendidikan Bidan. Jakarta. EGC
Prawirohardjo,Sarwono.2009. Ilmu kandungan.Jakarta :Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo.
Manuaba, Ida Bagus Gde. 2009. Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita. Jakarta.
EGC
Sarwono Prawirohardjo. 2010. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirihardjo.