Anda di halaman 1dari 15

LOMBA KARYA TULIS MAHASISWA RPPIM 2013

JUDUL LKTI

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PERBATASAN MELALUI USAHA


BUDIDAYA LEBAH MADU SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN
PEREKONOMIAN DI DAERAH PERBATASAN KALIMANTAN BARAT

Di Susun Oleh :
Agung Prasetyo

I1011131069

Angkatan 2013

Universitas Tanjungpura
Pontianak
2013

LEMBAR ORISINALITAS KARYA TULIS


Yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama Ketua Tim

: Agung Prasetyo

Asal Universitas/Sekolah

: Universitas Tanjungpura

NIM / NIS

: I1011131069

Alamat

: Jalan Tanjung Raya I Gg. Makmur No. 26

dengan ini menyatakan bahwa karya tulis dengan judul Pemberdayaan Masyarakat
Perbatasan Melalui Usaha Budidaya Lebah Madu Sebagai Upaya Peningkatan
Perekonomian di Daerah Perbatasan Kalimantan Barat, yang diikutsertakan dalam
Lomba Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa (LKTIM) RPPIM 2013 adalah benar
merupakan karya kami dan karya tulis tersebut belum pernah menjadi finalis atau
memenangkan perlombaan sejenis di tempat yang lain.
Demikian Pernyataan ini dibuat dengan sebenar-benarnya. Jika kemudian
menyalahi aturan, karya saya berhak dikualifikasikan dari lomba tersebut.

Pontianak, 3 Desember 2013


Yang membuat pernyataan

( Agung Prasetyo )
NIM. I1011131069

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah
ini dengan baik dan lancer.
Karya tulis ilmiah ini diajukan untuk mengikuti Lomba Karya Tulis
Mahasiswa Riset Pemuda Perbatasan Indonesia Malaysia (RPPIM) 2013. Judul
karya tulis yang penulis ajukan adalah Pemberdayaan Masyarakat Perbatasan
Melalui Usaha Budidaya Lebah Madu Sebagai Upaya Peningkatan Perekonomian
di Daerah Perbatasan Kalimantan Barat
Penulis menyadari bahwa karya tulis ilmiah ini masih jauh dari
kesempurnaan, untuk itu penulis menghargai kritik dan saran yang sifatnya
membangun untuk perbaikan di masa yang akan datang.
Akhir kata penulis mengharapkan karya tulis ilmiah ini dapat berguna bagi
pembaca pada khususnya, masyarakat pada umumnya serta menjadi sumbangsih
untuk nusa dan bangsa.

Pontianak, 5 Desember 2013


Penulis

DAFTAR ISI
Lembar Orisinalitas Karya Tulis

Kata Pengantar ... ii

ii

Daftar Isi . iii


Ringkasan ... iv
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan Penulisan .
1.4 Manfaat Penulisan ...

1
2
2
2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Daerah Perbatasan Kalimantan Barat .. 3
2.2 Pemberdayaan Masyarakat .. 3
2.3 Klasifikasi dan Jenis Lebah Madu 3
BAB III METODOLOGI PENULISAN
3.1 Pengumpulan Data dan Informasi. 5
3.2 Analisis Sintesis 5
BAB IV PEMBAHASAN
4.1 Potensi Daerah Perbatasan Sebagai Lokasi Budidaya Lebah Madu 6
4.2 Tahapan Tahapan Pelaksanaan Pemberdayaan Masyarakat . 6
4.3 Langkah Langkah Pelaksanaan Usaha Budidaya Lebah Madu 7
BAB V PENUTUP
5.1 Simpulan dan Saran 10
5.2 Daftar Pustaka 10
Lampiran .. 11

RINGKASAN
Daerah perbatasan merupakan beranda depan wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia yang memiliki empat provinsi perbatasan darat dengan negara
tetangga, satu diantaranya adalah provinsi Kalimantan Barat. Permasalahan
ekonomi di daerah perbatasan Kalimantan Barat dapat dilihat dari adanya
kesenjangan pendapatan yang begitu jauh antara penduduk di kawasan perbatasan
dengan negara tetangga. Oleh sebab itu dibutuhkan sebuah solusi untuk mengatasi
permasalahan ekonomi di daerah perbatasan, yaitu melalui usaha budidaya lebah

iii

madu. Tujuannya adalah untuk meningkatkan perekonomian di daerah perbatasan


Kalimantan Barat.
Budidaya lebah madu merupakan salah satu alternatif usaha yang dapat
meningkatkan perekonomian masyarakat melalui penambahan penghasilan dari
penjualan madu. Tetapi tidak semua jenis lebah madu yang dapat dibudidayakan.
Jenis lebah madu yang dapat dibudidayakan adalah Apis koschevnikovi, Apis
mellifera, dan Apis cerana.
Penulisan gagasan ini didasarkan atas beberapa sumber data yang primer
maupun sekunder. Selain itu gagasan yang dibuat disesuaikan dengan pokok
permasalahan dimana hal ini diharapkan terbentuk gagasan yang benar-benar
menjadi solusi nyata dari permasalahan yang terjadi.
Berdasarkan studi pustaka, daerah perbatasan Kalimantan Barat ternyata
berpotensi menjadi lokasi budidaya lebah madu karena daerah tersebut kaya akan
tanaman pakan lebah madu yang banyak mengandung nectar dan pollen. Sehingga
dibutuhkan pemberdayaan masyarakat di daerah tersebut sehingga tercapai tujuan
yang diharapkan, yaitu peningkata perekonomian daerah perbatasan tersebut.

iv

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Daerah perbatasan merupakan beranda depan wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia yang memiliki empat provinsi perbatasan darat dengan negara
tetangga, satu diantaranya adalah provinsi Kalimantan Barat.
Berdasarkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) pada tiga indikator
yaitu ekonomi, kesehatan (UHH) serta pendidikan (angka melek huruf), maka
posisi provinsi Kalimantan Barat berada pada urutan 29 dari 33 provinsi di
Indonesia (Kemenkes RI, 2012).
Permasalahan ekonomi di daerah perbatasan Kalimantan Barat dapat
dilihat dari adanya kesenjangan pendapatan yang begitu jauh antara penduduk di
kawasan perbatasan dengan Negara tetangga. Misalnya, pada tahun 2000,
perbandingan pendapatan per kapita penduduk perbatasan dengan Serawak,
sebesar US $300 berbanding US $4000. Suatu perbandingan statistik
perekonomian yang sangat mencolok (Siagian, 2011). Oleh karena itu, dibutuhkan
sebuah solusi yang tepat untuk meningkatkan perekonomian di daerah perbatasan
Kalimantan Barat, yaitu melalui usaha budidaya lebah madu.
Budidaya lebah madu merupakan salah satu alternatif usaha yang dapat
meningkatkan perekonomian masyarakat melalui penambahan penghasilan dari
penjualan madu. Hal ini sejalan dengan keunggulan ternak lebah madu yaitu
mudah dibudidayakan oleh masyarakat, adaptif terhadap lingkungan dan memiliki
peluang ekonomi yang tinggi. Disamping itu, peternakann lebah madu tidak
memerlukan biaya yang mahal dalam penyediaan pakannya.
Oleh karena itu, melalui karya tulis ini penulis berupaya untuk
memberdayakan masyarakat di perbatasan agar perekonomian mereka bisa
menjadi lebih baik lagi.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka
rumusan masalah dalam karya tulis ilmiah ini adalah sebagai berikut.
1) Bagaimana potensi daerah perbatasan Kalimantan barat sebagai lokasi
budidaya lebah madu?
2) Bagaimana memberdayakan masyarakat perbatasan melalui usaha
budidaya lebah madu dalam upaya meningkatkan perekonomian di daerah
perbatasan Kalimantan Barat?

1.3 Tujuan Penulisan


Penulisan karya tulis ini bertujuan untuk :
1. Menjelaskan potensi daerah perbatasan Kalimantan Barat sebagai lokasi
budidaya lebah madu.
2. Menjelakan mekanisme pemberdayaan masyarakat perbatasan melalui
usaha

budidaya

lebah

madu

dalam upaya

untuk meningkatkan

perekonomian di daerah tersebut.


1.4 Manfaat Penulisan
Berdasarkan tujuan penulisan karya tulis ini, maka manfaat yang
diharapkan adalah usaha ini dapat menjadi solusi yang tepat dalam meningkatkan
perekonomian di daerah perbatasan Kalimantan Barat.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Daerah Perbatasan Kalimantan Barat
Pengertian daerah perbatasan bisa berarti suatu wilayah yang berada di
perbatasan antar daerah dalam satu Negara. Pengertian daerah perbatasan menurut
UU no. 26 Tahun 2007, adalah wilayah kabupaten/kota yang secara geografis dan
demografis berbatasan langsung dengan negara tetangga dan/atau laut lepas
(Sutaat, 2013).
Kalimantan Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang
berbatasan langsung dengan Serawak (Malaysia) dengan garis perbatasan
sepanjang + 966 km yang terbentang di 14 kecamatan dan 98 desa yang
terbentang antara Kabupaten Sambas sampai dengan Kabupaten Kapuas Hulu.
Lebih

lanjut

terdapat

50

jalan

setapak

di

wilayah

perbatasan

yang

menghubungkan 55 desa di Kalimantan Barat dengan 32 kampung di Serawak


(Bank Indonesia, 2011).
2.2 Pemberdayaan Masyarakat
Pemberdayaan masyarakat adalah upaya mendorong masyarakat untuk
mandiri serta memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan sendiri, prakarsa
sendiri, dan memperbaiki hidup sendiri. Keterlibatannya, dapat berupa aktifitas
dalam wujud sumbangan pikiran, pendapat maupun tindakan, dapat pula berupa
sumbangan biaya, material untuk perbaikan lingkungannya (Alit, 2005)
2.3 Klasifikasi dan Jenis Lebah Madu
Lebah madu sudah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia. Keadaan ini
dapat diketahui dengan adanya berbagai nama lebah dalam bahasa daerah,
misalnya nyiruan (Sunda), tawon (Jawa), labah (Minang), loba (Tapanuli), dan
sebagainya (Pusat Pelebahan Apiari Pramuka, 2003).
Secara umum, klasifikasi lebah madu dapat dijelaskan sebagai berikut:
Kerajaan
: Animalia
Filum
: Arthropoda
Kelas
: Insecta
Ordo
: Hymenoptera
Famili
: Apidae
Genus
: Apis
Spesies
: Apis andreniformis, Apis cerana, Apis dorsata, Apis florae,
Apis koschevnikovi, Apis laboriosa, Apis mellifera
Menurut Halim dan Suharno (2001) lebah madu terdiri dari 5 jenis, yaitu
Apis florae, Apis trigona, Apis cerana javanica/ indica, Apis mellifera, dan Apis
dorsata. Namun tidak semua lebah madu dapat dibudidayakan (Pusat Perlebahan
Apiari Pramuka, 2003).
Lebah madu yang dapat dibudidayakan adalah sebagai berikut:
a.
Apis koschevnikovi
Jenis ini banyak tersebar di Pulau Kalimantan dan Sumatera Barat.
Ciri-ciri yang paling menonjol bila dibandingkan dengan A. cerana adalah
warna merah disebagian besar tubuhnya yang berukuran sedikit lebih
besar. Menurut beberapa peternak lebah di Kalimantan Selatan lebah madu
b.

jenis ini lebih produktif dari pada jenis A. cerana.


Apis mellifera
Jenis ini merupakan lebah madu utama yang dibudidayakan hampir
disemua negara, termasuk Indonesia. Lebah ini banyak terdapat di Eropa
seperti Perancis, Yunani, Spanyol, dan Yugoslavia. Jenis ini berukuran
sedikit lebih besar dari A. cerana dan memiliki gelang berwarna di

belakang abdomen. Jenis ini dibudidayakan karena produksi madunya


c.

yang tinggi.
Apis cerana
Jenis ini merupakan lebah madu asli Asia yang menyebar mulai
dari Afganistan, Cina, sampai Jepang termasuk Indonesia. Jenis ini banyak
dibudidayakan karena memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap iklim
setempat. Produktivitas madu A. cerana di Indonesia masih tergolong
rendah, yaitu antara 1-5 kg per koloni per tahun. Bentuk tubuhnya hampir
menyerupai A. dorsata hanya saja lebih kecil dan lebih jinak.

BAB III
METODOLOGI PENULISAN
3.1 Pengumpulan Data dan Informasi
Penulisan gagasan ini didasarkan atas beberapa sumber data yang primer
maupun sekunder. Beberapa data primer yang digunakan adalah berupa hasil
dokumentasi gambar dan tabel pendukung informasi dalam penulisan.Namun
dalam penulisan ini juga diutamakan sumber sekunder dengan validitas tertinggi
yakni jurnal ilmiah paling aktual yang berhubungan dengan subtema penulisan
ini.Kemudian data/informasi yang didapat ditulis secara naratif dengan
pendekatan semikuantitatif tanpa hipotesis mengingat tulisan ini adalah berbentuk
gagasan tertulis.
3.2 Analisis Sintesis
Masalah yang didapat dari data/informasi dianalisis secara objektif sesuai
dengan fakta yang terjadi kemudian dihubungkan dengan gagasan yang diajukan
untuk menemukan titik temu yang akan dijadikan benang merah penulisan. Pokok
permasalahan yang didapat kemudian dilanjutkan dengan tinjauan pustaka yaitu
berupa penelitian/telaah actual yang sebelumnya dilakukan sebagai dasar dan
informasi pendukung ide/gagasan.
Gagasan yang dibuat disesuaikan dengan pokok permasalahan dimana hal
ini diharapkan terbentuk gagasan yang benar-benar menjadi solusi nyata dari
permasalahan yang terjadi. Kemudian dilakukan pre-evaluasi pada gagasan yang

didapat sebagai bentuk konfirmasi ilmiah baik dari segi validitas sumber, alur
penulisan dan kesimpulan yang paling representatif.

BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Potensi Daerah Perbatasan Sebagai Lokasi Budidaya Lebah Madu
Menurut Pusat Perlebahan Apiari Pramuka (2003), pemilihan lokasi
peternakan lebah madu merupakan faktor penting karena berpengaruh terhadap
produktifitas dan perkembangbiakan lebah madu. Lokasi budidaya yang dipilih
harus memenuhi beberapa persyaratan, satu diantaranya adalah ketersedian
tanaman pakan lebah yang kaya akan nectar dan pollen.
Beberapa tanaman yang merupakan sumber pakan lebah yang baik adalah
tanaman karet, durian dan kopi.
Menurut Hazriani (2011), komoditas perkebunan utama masyarakat di
wilayah desa-desa sepanjang perbatasan umumnya adalah perkebunan karet.
Sedangkan lada, kakao, durian dan kopi merupakan komoditas tambahan di
daerah perbatasan.
Dari pernyataan tersebut, maka daerah perbatasan Kalimantan Barat
berpotensi menjadi lokasi budidaya lebah madu karena daerah tersebut kaya akan
tanaman pakan lebah madu yang banyak mengandung nectar dan pollen.
4.2 Tahapan Tahapan Pelaksanaan Pemberdayaan Masyarakat
4.2.1 Seleksi Lokasi/Wilayah
Seleksi desa atau dusun dilakukan sesuai dengan kriteria yang disepakati
oleh lembaga, pihak-pihak terkait dan masyarakat. Penetapan kriteria penting agar
tujuan lembaga dalam pemberdayaan masyarakat akan tercapai serta pemilihan
lokasi dilakukan sebaik mungkin.
4.2.2 Sosialisasi Pemberdayaan Masyarakat

Kegiatan ini untuk menciptakan komunikasi serta dialog dengan


masyarakat.

Sosialisasi

PM

membantu

untuk

meningkatkan

pengertian

masyarakat dan pihak terkait tentang program. Proses sosialisasi sangat


menetukan ketertarikan masyarakat untuk berperan dan terlibat dalam program.
4.2.3 Proses Pemberdyaaan Masyarakat
Dalam proses tersebut masyarakat bersama-sama melakukan hal-hal
berikut:
1. Mengidentifikasi dan mengkaji permasalahan, potensinya serta peluang
Tahapan dalam proses kajian meliputi: (1) persiapan desa dan
masyarakat (menentukan teknis pertemuan), (2) persiapan dalam tim
(kesepakatan teknik PRA, alat dan bahan, pembagian peran dan
tanggungjawab), (3) pelaksanaan kajian keadaan: kegiatan PRA dan (4)
pembahasan hasil dan penyusunan rencana tindak lanjut.
2. Menyusun rencana kegiatan kelompok, berdasarkan hasil kajian
Setelah teridentifikasi segala potensi dan permasalahan masyarakat,
langkah selanjutnya adalah memfokuskan kegiatan pada masyarakat yang
benar-benar tertarik untuk melakukan kegiatan bersama.
3. Menerapkan rencana kegiatan kelompok
Rencana yang telah disusun bersama dengan dukungan fasilitasi dari
pendamping selanjutnya diimplementasikan dalam kegiatan yang konkrit
dengan tetap memperhatikan realisasi dan rencana awal.
4. Memantau proses dan hasil kegiatan secara terus menerus (Monitoring dan
Evaluasi Partisipatif/M & EP).
M & EP adalah suatu proses penilaian, pengkajian dan pemantauan
kegiatan PM, baik prosesnya (pelaksanaan) maupun hasil dan dampaknya
agar dapat disusun proses perbaikan kalau diperlukan.
4.2.4 Pemandirian Masyarakat
Berpegang pada priunsip pemberdayaan masyarakat bertujuan untuk
memandirikan masyarakat dan meningkatkan taraf hidupnya, maka arah
pendampingan kelompok adalah mempersiapkan masyarakat agar benar-benar
mampu mengelola sendiri kegiatnnya.
4.3 Langkah Langkah Pelaksanaan Usaha Budidaya Lebah Madu
Proses produksi madu meliputi persiapan peralatan dan perlengkapan,
pengadaan lebah, perawatan lebah, pembuatan madu, dan pemanenan madu (Pusat
Pelebahan Apiari Pramuka, 2003).
4.3.1 Persiapan Peralatan dan Perlengkapan
Peralatan utama dalam beternak lebah madu adalah stup. Dengan adanya
stup maka setiap koloni dapat diperiksa setiap saat dengan cara mengangkat

sisiran-sisiran sarang satu persatu dan pemanenan madu dapat dilakukan dengan
selektif tanpa merusak sisiran sarang. Stup terbuat dari bahan kayu dengan
ketebalan 2 cm, panjang 50 cm, lebar 40 cm, dan tinggi 26 cm, sedangkan frame
mempunyai panjang 48 cm, lebar 3 cm, dan tinggi 23 cm. Bahan kayu yang
digunakan sebaiknya tidak berbau, tahan lama dan mudah didapat.
Peralatan pelengkap digunakan untuk kelancaran dan

tertibnya

pelaksanaan pemeliharaan lebah madu adalah (1) pondasi sarang, digunakan


untuk mempercepat pembangunan sarang; (2) penyekat ratu, berfungsi untuk
menahan gerak atau menghalangi ratu supaya tidak naik ke kotak di atasnya; (3)
kurungan ratu, digunakan untuk mengamankan ratu atau untuk mengenalkan ratu
pada koloni yang membutuhkan ratu baru; (4) mangkokan ratu, digunakan untuk
menempatkan calon-calon ratu baru; (5) bingkai stimulasi, digunakan untuk
wadah atau tempat pakan tambahan.
Dalam kegiatan perlebahan petugas lapangan wajib menggunakan
perlengkapan petugas. Perlengkapan petugas tersebut berguna untuk melindungi
petugas dari serangan lebah. Perlengkapan petugas meliputi (1) pengasap,
digunakan untuk menjinakkan lebah; (2) penutup muka, digunakan untuk
melindungi muka dari sengatan lebah; (3) pengungkit, digunakan untuk
membantu mengangkat sisiran yang melekat kuat pada stup; (4) sarung tangan
untuk melindungi tangan dari sengatan lebah; (5) sikat lebah untuk menghalau
lebah dari sisiran sarang.
4.3.2 Pengadaan Lebah
Lebah madu yang banyak dibudidayakan adalah jenis lebah unggul Apis
mellifera. Lebah ini tidak hidup liar kecuali di Papua, sehingga untuk
mendapatkan bibit lebah ini dapat diperoleh di peternak lebah atau Apiari. Bibit
yang baik dicirikan dengan keadaan yang sehat dan dalam satu koloni terdapat
banyak lebah, calon anakan, dan ratu produktif (Pusat Pelebahan Apiari Pramuka,
2003).
4.3.3 Perawatan Perlebahan
Seminggu sekali lebah perlu diperiksa. Pemeriksaan dilakukan dengan
tenang, teliti dan cekatan. Petugas pemeriksa harus memakai perlengkapan secara
lengkap. Selain itu kandang juga harus dibersihkan dari kotoran untuk
menghindari penyebaran dan penularan hama penyakit. Pemeriksaan juga
dilakukan untuk melihat persediaan pakan dan telur. Kegiatan pemeriksaan antara

lain pembenahan dan penggantian bingkai sarang dengan dilengkapi sarang


pondasi (Sarwono, 2001).
4.3.4 Pemanenan Madu
Pemanenan madu dilakukan bila sisiran sarang yang berisi madu telah
tertutup oleh lilin lebah. Sebagai patokan saat panen madu yaitu paling sedikit
sepertiga dari sel-sel sarang madu telah tertutup lilin dengan tujuan agar kadar air
madu tidak terlalu tinggi atau <20%.
Pemanenan madu tidak begitu sulit bahkan teramat mudah dan
pelaksanaannya pun sangat sederhana, yaitu : (1) membuka tutup stup lebah dan
hembuskan asap ke dalam stup melalui penutup dalam (kasa); (2) buka tutup
dalam (kasa) dan angkat sisiran; (3) hentakan sisiran sarang kea rah dalam stup
sehingga lebah lepas dari sisiran dan jatuh ke dasar stup. Lebah yang masih
menepel pada sisiran dibersihkan dengan sikat lebah; (4) kupas lilin penutup
madu dengan pisau. Lilin tersebut lalu ditempatkan pada wadah penampung; (5)
sisiran yang telah dikupas lilinnya, dimasukkan ke dalam ekstraktor untuk
mengeluarkan madunya. Ekstraktor kemudian diputar agar madu keluar dari
sarang lebah; (6) setelah madu keluar semua, sisiran dikembalikan ke dalam stup
agar dapat diisi kembali oleh lebah; (7) madu yang tertampung dalam ekstraktor
disaring dan ditempatkan ke dalam drum penampung madu. Kemudian, madu
dibawa ke gudang untuk dikemas ke dalam botol dengan beberapa macam ukuran.

BAB V
PENUTUP

5.1 Simpulan dan Saran


Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa daerah
perbatasan Kalimantan Barat memiliki potensi sebagai lokasi budidaya lebah
madu sehingga dapat menjadi solusi dalam mengatasi masalah perekonomian di
daerah tersebut.
Saran penulis agar terhadap kegiatan ini adalah dibutuhkan kerjasama
yang baik dari masyarakat perbatasan Kalimantan Barat sehingga pelaksanaan
usaha budidaya lebah madu ini dapat berjalan dengan lancer.
5.2 Daftar Pustaka
Alit, IK. 2005. Pemberdayaan Masyarakat dalam Peningkatan Kualitas
Permukiman Kumuh di Propinsi Bali, Jurnal Permukiman Natah Vol. 3
No. 1 Februari 2005.
Bank Indonesia. 2011. BOKS Perbatasan Kalimantan Barat Masih Perlu Perhatian
Pemerintah Pusat dan Daerah. Kajian Ekonomi Regional Provinsi
Kalimantan Barat Triwulan III-2011.
Halim, M.N.A dan Suharno. 2001. Teknik Mencangkok Royal Jelly Lebah Madu
Apis mellifera ligustica dan Prospek Bisnis. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Hazriani, Rina. 2011. Identifikasi Status dan Luas Lahan Pengembangan
Komoditas Pertanian di Kawasan Perbatasan Kabupaten Sintang. J.
Perkebunan & Lahan Tropika, Vol. 1, Juni 2011.
Kementerian Kesehatan RI. 2012. (http://buk.depkes.go.id/index.php?option=
com_content&view=article&id=15:beranda-depan-daerah-perbatasan-dipropinsi-kalimantan-barat) diakses pada tanggal 30 November 2013.
Pusat Perlebahan Apiari Pramuka. 2003. Lebah Madu: Cara Beternak dan
Pemanfaatan. Penebar Swadaya. Depok.
Sarwono, B. 2001. Kiat Mengatasi Masalah Praktis Lebah Madu. Agromedia
Pustaka. Jakarta.
Siagian, Yudi. 2011. Final SEA Report for 5 Location (West Kalimantan
Province). 2.3 SEA Applied in Local Development Plants.
Sutaat. 2012. Pemberdayaan Masyarakat Daerah Perbatasan Antar Negara; Studi
Masalah, Kebutuhan, dan Sumber Daya Sosial Desa Jagoi, Kecamatan
Jagoi Babang Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat.
Sosiokonsepsia Vol. 17, No. 01.

Lampiran 1
CURRICULUM VITAE
Nama Lengkap

: Agung Prasetyo

NIM

: I1011131069

Tempat dan tanggal lahir

: Pontianak, 9 Januari 1996

10

Alamat

: Jalan Tanjung Raya I Gg. Makmur No. 26

Fakultas/Program Studi

: Kedokteran/Pendidikan Dokter

Email

: punya.agoeng@gmail.com

Karya - karya ilmiah yang pernah dibuat


Penghargaan-penghargaan ilmiah yang pernah diraih.
-

Anda mungkin juga menyukai