Anda di halaman 1dari 8

Uji Coba Desorption Gas

Metode USGS
Prosedur Desorption Gas pada Lapisan Batubara
Prosedur Desorption Gas pada batubara telah dikembangkan dan dibuat
oleh USGS untuk jenis batubara Low Rank seperti peat,lignit,bituminus,
sub-bituminus (Flores et al.2001).
Standar ini telah diadopsi oleh CRL (Coal Research Limited) sebagai
pengembangan untuk Penelitian yang telah dilakukan oleh USGS.
Metode ini dapat dimodifikasi sesuai dengan permintaan oleh Klien.
Diantaranya pengambilan sample berdasarkan Interval waktu yang telah
ditentukan. (desorption sample time interval).
Prosedur yang dibuat antara lain ;
A. Gas Hilang/terbuang (lost gas) = Q1
B. Pengukuran Gas (measured gas) = Q2
C. Gas Sisa (residual gas) = Q3
1. Prosedur untuk Well Site
1.1 Suhu dan tekanan Lapisan Reservoir (Batubara):
Suhu dan tekanan pada kedalaman Lapisan Batubara yang akan di ukur.
1.2 Waktu : Pada saat akan memulai (pada saat) coring (bor) pada lapisan batubara,
waktu yang diperlukan antara lain :
1.2.1 Waktu pada saat sample (lapisan batubara) yang akan di bor.
(misal : tanggal dan waktu coring)
1.2.2 Waktu pada saat core barrel di angkat untuk dikeluarkan dari sumur
bor
1.2.3 Waktu pada saat core barrel sampai pada dipermukaan tanah
1.2.4 Waktu pada saat core (sample batu bara) dimasukkan atau
dibungkusdalam Canister. (waktu pembacaan pada saat canister ditutup)
Keterangan :
Semua harus dilakukan dengan secepat mungkin, konsisten pada tindakan yang baik
dan aman untuk mengeluarkan core dan meletakkannya (core) dalam Tabung
(canister) untuk pengukuran atau uji coba desorption.
1.3 Deskripsi : core batubara dikerjakan oleh Well site kemudian diberikan pada
team CRL, kemudian dengan cepat diukur sampai 600 mm/60 cm dan dimasukkan
dalam tabung PVC Desorption Canister.
1.4 Sealing : Sealing pada canister (oleh well site (dilapangan)), biasanya
dibungkus dengan kertas heliun atau argon. Untuk tahap ini dan untuk menghindari
kemungkinan resiko kebocoran pada Canister, perlu dilakukan dengan cara
membersihkan pada bagian dasar dalam seal O-ring. Pada saat Canister sudah
ditutup rapat, ball valve bagian atas canister harus cepat dibuka dan tutup kembali
kemudian menyiapkan clock timer/ stopwatch untuk proses pengukuran Gas
(measured gas) = Q2 .
1.5 Uji coba kebocoran : uji coba kebocoran dilakukan setelah (sebelum)
penempatan core batubara dalam canister. Uji coba kebocoran perlu digunakan
untuk mengantisipasi canister yang akan dimasukkan kedalam water bath (tempat
penampungan air) untuk melihat apakah ada kebocoran pada canister tersebut
(indikasi kebocoran yaitu adanya gelembung-gelembung pada canister). (uji coba
kebocoran dilakukan didalam water bath)
1.6 Label : Setiap Canister harus diberi label sesuai dengan sumur bor, canister
berapa #, (hole apa) top dan bottom canister, dari (from) dan sampai (to) kedalaman
(interval batubara)
1.7 Pengangkutan : setiap batubara yang keluar dari core barrel untuk
dimasukkan dalam canister, secepatnya diantar atau dikirim ke base camp untuk
dilakukan Pengukuran Gas Desorption. (secepatnya diantar ke lokasi pengukuran)
2. Prosedur Desorption
2.1 Bak Air (water bath) : Semua canister yang telah diukur untuk pengukuran
desorption dilapangan, secepatnya di letakkan pada Bak Air (water bath) untuk tetap
menjaga temperatur Reservoir pada core batubara yang ada didalam canister.
2.2 Waktu Desorbing : J adwal untuk waktu Desorption, diantaranya *:
- 2.2.1 Setiap 15 menit untuk 9 jam (36 kali pengukuran)
- 2.2.2 Setiap 1 jam untuk 7 jam ( 7 kali pengukuran)
- 2.2.3 Setiap 3 jam** untuk 12 jam ( 4 kali pengukuran)
- 2.2.4 Setiap 12 jam untuk 5 hari ( 10 kali pengukuran)
- 2.2.5 Setiap 24 jam untuk 5 hari ( 5 kali pengukuran)
- 2.2.6 Setiap 72 jam untuk 15 hari ( 5 kali pengukuran)
- 2.2.7 Setiap 7 hari untuk to full desorption***
Langkah 2.2.1 harus di ikuti dengan tepat kecuali jika tidak ditemukan gas. Maka
untuk langkah berikutnya dapat dilanjutkan ke langkah 2.2.2 atau mengikuti waktu
increment yang telah ditentukan. Bagaimanapun, jika volume gas menurun
dibawah atau 10 ml per jam (dimana kesalahan pengukuran akan menjadi
besar) maka pada langkah-langkah tertentu, volume canister tersebut akan naik
(dilanjutkan ke) pada pengukuran waktu selanjutnya.
** Setelah canister terakhir selesai dengan langkah 2.2.3, kemudian dapat diantar dari lokasi
penelitian desorption ke laboratorium untuk sisa pengukuran gas desorption. Laboratorium
desorption juga untuk melakukan untuk mengukur temperatur reservoir (core dalam canister).
(setelah step 2.2.3 dilakukan untuk canister paling akhir, selanjutnya dapat dipindahkan dari
stasiun pengukuran desorpsi lapangan ke laboratorium untuk dilakukan pengukuran selanjutnya.
Pengukuran di laboratorium juga dilakukan pada temperatur reservoir)
*** Full Desorption adalah untuk mencapai (kecuali jika ada perintah) sampai menggandakan
pengukuran secara berkala (seperti 1 minggu 2 minggu, 2 minggu 4 minggu) dilakukan jika
Volume gas pada canister menurun hingga level 10 ml. Bagaimanapun, terkadang permintaan
atau kebutuhan klien dan batasan waktu membatasi sejumlah waktu yang ada dalam melakukan
full desorption. Didalam konsultasi dengan klien, periode untuk desorption dapat dipendekkan.
Maka akan menghasilkan pengukuran yang tinggi pada Sisa Gas (residual gas) Q3.
*** Full Desorption akan dicapai setelah menggandakan periode pengukuran (seperti 1 minggu
menjadi 2 minggu; 2 minggu menjadi 4 minggu; dst) sampai pembacaan canister jatuh di bawah
10 ml. Bagaimanapun, setiap client memiliki permintaan berbeda. Kemungkinan client bisa
meminta agar periode desorption diperpendek, dimana pengukuran residual gas akan
menunjukan angka yang tinggi.
2.3 Pengukuran : pada saat pembacaan desorption, maka diperlukan data pengukuran yang lain,
diantaranya (setiap desorption reading akan menghasilkan data2 sbb):
2.3.1 Desorbed Gas ( cm
3
)
2.3.2 Tanggal dan waktu
2.3.3 Temperatur Canister ( C)
2.3.4 Temperatur Ambient (ruangan) ( C)
2.3.5 Tekanan Ambient (ruangan - in Hg)
3. Decommisioning dan Analisa Residual Gas
3.1 Decommissioning Canister : keterangan : jika canister akan dikirimkan dari lokasi bor menuju
laboratorium untuk decommissioning, maka canister tersebut harus ditempatkan pada Bak Air (
water bath ) selama 12 jam untuk menormalisasikan temperatur canister tersebut dengan sisanya
untuk Temperatur Q2. (jika canister dipindahkan dari lapangan ke laboratorium untuk dilakukan
decomissioning, canister tsb harus diletakkan di dalam water bath di laboratorium selama 12 jam
terlebih dahulu untuk menormalkan temperatur didalam canister sehingga sesuai dengan
temperatur pada saat pengukuran Q2)
Kita diperintahkan (sesuai instruksi), atau (setelah) full desorbed, setiap canister dapat
decommissioningkan.
Berikut Cara pengukuran dan pencatatannya :
Untuk Canister yang tidak memiliki Residual Gas
3.1.1 Akhir pengukuran volume gas desorption
(lakukan pengukuran gas desorption paling akhir)
3.1.2 (timbang) Berat canister +batubara
3.1.3 (isi canister yang berisi batubara dengan air hingga penuh kemudian timbang berat
canister+batubara+air) Fill the canister + batubara +air +berat
3.1.4 Mengeluarkan batubara dan meletakkan core tersebut di core box dan
pastikan label (keluarkan batubara, letakkan di core box dan beri label)
3.1.5 (Timbang) Berat canister pada saat kosong
3.1.6 Berat canister +air
3.1.7 Pada core box is full photograph pada core tersebut jika ada permintaan (lakukan
pemotretan untuk core di dalam core box)
3.1.8 memisahkan core (batubara), kembalikan kembali pada klien jika ada
permintaan atau cara lain (deskripsi batubara tersebut, bisa dikembalikan ke client jika
mereka minta)
Untuk Canister yang memiliki Gas Residual, cara pengukuran :
Preparasi
3.1.9 Akhir pengukuran volume gas desorption (lakukan pengukuran desorption final )
3.1.10 (Timbang) Berat Canister + batubara
3.1.11 (Timbang) Berat Canister + batubara + air
3.1.12 Mengeluarkan (keluarkan) core batubara dari canister
3.1.13 memfoto core batubara jika ada permintaan (ambil foto core batubara)
Pengukuran Residual Gas
3.1.14 mengeluarkan core batubara dengan panjang 20 cm untuk representative
analisa residual gas. (ambil core batubara sepanjang 20 cm untuk analisa)
3.1.15 meletakkan core pada core box, mengikuti langkah 3.1.7 3.1.8
(letakkan sisa core batubara di core box, lakukan step 3.1.7 3.1.8 )
3.1.16.A ambil core dengan panjang 20 cm dan letakkan pada kantong plastik yang
bersih (letakkan 20 cm core batubara tadi di kantong plastik yang bersih)
3.1.16.B gunakan hammer/palu, hancurkan hingga top size 10 mm atau kurang dari
10 mm
3.1.17 Timbang dengan scale (timbangan) dengan berat (masing2) 200 gram (untuk dua sample)
kemudian catat pada form decommissioning, dimana sample diambil dari top size 10 mm
pada langkah 3.1.16.B
3.1.18 Letakkan sample pertama ( 1st )di ring mill dan tutup.
3.1.19 Taruh ring mill sampai dasar ring mill dan ikat dengan menggunakan clamp pada ring
mill tersebut
3.1.20 Uji coba kebocoran pada ring mill tersebut
3.1.21 atur pengukuran cylinder (manometer) pada posisi level nol (0)
3.1.22 Catat temperatur ambient dan tekanan ambient
3.1.23 Tekan tombol ON pada ring mill vibrator dan aktifkan hingga 30 detik kemudian tekan
tombol OFF.
3.1.24 Catat Volume gas ( cm
3
) setiap 15 detik untuk 2 menit pertama
3.1.25 Catat volume gas setiap 30 detik untuk 3 menit berikutnya
3.1.26 Keluarkan (core yang telah di crush oleh bowel mill) dan masukkan dalam kantong
sample, kemudian ulangi prosedure atau langkah kerja untuk sample yang ke dua (2
nd
)
3.1.27 J umlah dan rata-ratakan hasil ke dua sample tersebut untuk pembacaan gas.
Akhir Pengukuran
3.1.28 Berat Canister Kosong
3.1.29 Berat canister yang diisi dengan air
4. Laporan akhir
Form sheet diantaranya : - data sheet
- decommissioning data sheet
Semua data harus dicatat dalam spreadsheet yang sudah diberikan oleh CRL Energy (kecuali jika
ada instruksi berbeda) dengan atau tanpa perintah yang lain. Dan hal ini harus disampaikan
(spreadsheet harus dikirimkan) kepada CRL Energy untuk Quality Assurance dan laporan akhir.