Anda di halaman 1dari 2

Peran Komite Medik pada Clinical Governance dalam

Pencegahan Fraud
Reporter: Ariani Arista Putri Pertiwi, S.Kep., Ns,. MAN
Peran komite medik pada clinical governance dalam pencegahan fraud dibahas dalam
sesi paralel III. Sesi ini dihadiri tiga orang narasumber yaitu alumnus MMR UGM, dr.
Kasyfi Hartati, MPH, yang melakukan evaluasi berjalannya komite medik di rumah sakit
di Jawa Tengah. Narasumber berikutnya ketua BPRS indonesia yaitu dr. Agus
Sutiyoso, Sp.OT, MARS, MM serta dr. Hanny Rono, Sp.OG, MARS selaku ketua forum
komite medik nasional. Sesi paralel III ini dihadiri oleh tidak kurang dari 10 perwakilan
rumah sakit daerah seputar Jogja dan Jawa Tengah, serta peserta dari daerah lain
yang mengikuti acara melalui webinar. Diskusi pada sesi paralel III ini berjalan hangat.
Diawali dengan pemahaman bahwa dalam penyelenggaraan JKN selama dua setengah
bulan inifraud memang sudah terjadi di rumah sakit. Sebagian besar fraud terjadi
karena kekhilafan dan ketidakpahaman. Namun, fraudtetap harus dideteksi dan
dicegah. Diskusi pada paralel III ini berfokus pada pencegahan fraud di level
penyelenggaraan praktik pelayanan kesehatan di RS.
Dalam presentasinya, dr. Kasyfi mengungkapkan fakta yang menarik pada
penyelenggaraan komite medik di rumah sakit di Jawa Tengah. Diantaranya adalah
hanya 10 % komite medik yang melakukan komunikasi kepada stakeholder. Fakta
menarik lainnya adalah meskipun seluruh RS yang diteliti dr. Kasyfi sudah terakreditasi,
namun belum semua memiliki tata kelola klinis. Hal ini terjadi karena panduan akreditasi
berbeda acuannya dengan penyelenggaraan komite medik. Terkait dengan
pelaksanaan Permenkes No 755 tahun 2011 mengenai pelakanaan komite medik,
beberapa statement menarik dari responden adalah bahwa Permenkes No. 775 sulit
untuk diterapkan di RS, contohnya mengenai clinical governance dan rata-rata
responden merasa kewenangan komite medik sangat dibatasi. Mengenai salah satu
peran komite medik yaitu untuk melakukan credentialing tenaga dokter di rumah sakit,
seluruh rumah sakit telah melaksanakan, namun ternyata hanya satu yang telah
menerbitkan clinical privilege. Penyelenggaraan fungsi komite medik di rumah sakit
perlu ditingkatakan apalagi dengan tujuan untuk mencegah terjadinya fraud di rumah
sakit.
Senada dengan yang disampaikan dr. Kasyfi, dr. Agus Sutiyoso dalam presentasinya
mengatakan bahwa untuk menjamin pelayanan yang profesional, komite medik harus
menjamin berjalannya good clinical governance salah satunya dengan mengatur
kewenangan klinis. Selama ini, recredentialing tidak pernah dilaksanakan. Padahal
mestinya penjaminan tersebut basisnya adanya recredentialing di rumah sakit. Badan
Pengawas Rumah Sakit (BPRS) dulu sifatnya eksternal, namun sekarang BPRS ada di
internal rumah sakit yang arah kebijakan, kendali mutu, dan kendali biaya mengawasi
pelaksanaan pembiayaan dengan JKN. Fenomena pembiayaan JKN yang saat ini
terjadi adalah terdapat rumah sakit di daerah perkotaan yang mengalami keuntungan.
Sedangkan rumah sakit di daerah tidak, bahkan mengalami kerugian. Mungkin hal ini
terjadi karena dokter-dokter di daerah kota tersebut paham ICD 9 dan ICD 10, sehingga
dapat memasukkan coding dalam sistem dengan benar. Sedangkan jika para dokter
tidak paham ICD 9 dan ICD 10, maka kemungkinan memasukkan coding menjadi tidak
tepat dan akhirnya yang terjadi adalah klaimnya kurang.
Terwujudnya kesehatan yang murah bagi rakyat di masa datang bukanlah hal yang
mustahil jika semua elemen menjalankan peran dan fungsinya dengan baik.
Menghilangkan segala praktik yang merugikan masyarakat seperti memberi resep obat
paten agar mendapat komisi, memaksa pasien melakukan pemeriksaan tertentu
padahal tidak dibutuhkan, memaksa pasien baik secara langsung maupun tidak
langsung membeli sesuatu dan sebagainya. Semua hal tersebut adalah fraud, yang
selama ini terjadi dan telah lama dibiarkan terjadi. Akibatnya hal-hal tersebut dianggap
lumrah dan wajar. Dokter Hanny Ronosulistyo sebagai ketua forum komite medik
nasional mengajak semua elemen untuk berubah memperbaiki pelayanan kesehatan
yang berpihak pada rakyat, memangkas seluruh hal yang membuat pelayanan
kesehatan menjadi mahal. Paradigma lama dalam pelayanan kesehatan yaitu orang
kaya sakit mensubsidi orang miskin yang sakit, dalam implementasi JKN berubah
menjadi orang sehat mensubsidi orang yang sakit. Identifikasi segala
potensial fraud yang mungkin terjadi di berbagai titik penyelenggaraan pelayanan
sangat penting dilakukan oleh semua elemen yang terlibat.
Dokter Hanny mengajak seluruh elemen untuk bersabar, di masa awal ini mungkin
banyak hal yang harus diperjuangkan, namun jika implementasi JKN ini berhasil maka
seluruh rakyat akan merasakan kebaikannya. Banyak kolega yang belum paham dan
merasa rugi dengan pelaksanaan JKN ini, mereka hanya melihat pendapatan yang
selama ini berdasarkan fee for service. Padahal dalam pelaksanaan JKN oleh BPJS
terdapat sistem remunerasi yang akan diterapkan bagi semua profesi dalam pelayanan
kesehatan. Clinical pathway juga harus dibuat oleh masing-masing rumah sakit sabagi
acuan pemberian pelayanan. Jika semua elemen melaksanakan sesuai dengan
pedoman dan sesuai dengan wewenangnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan
termasuk fraud. Dokter Hanny mengajak seluruh peserta untuk selalu mendukung
pelaksanaan JKN dan membantu melakukan sosialisasi kepada kolega sejawat dan
semua elemen terkait mengenai pentingnya JKN ini.