Anda di halaman 1dari 5

MODUL 1

INTERFEROMETER DAN PRINSIP BABINET


Hanley Andrean, Shabrina Ghassani Fikrindita, Karizki Hadyanafi, Hidayatul Latifah, Zaeny
Ahmad
10211044, 10211064, 10210081, 10211016, 10211068
Program Studi Fisika, Institut Teknologi Bandung, Indonesia
E-mail: hanley.andrean@s.itb.ac.id

Asisten : CH Andre Mailoa/10210026
Tanggal praktikum: 23-09-2013

Abstrak
Interferometer Michelson-Morley dan Interferometer Mach-Zehnder memiliki fungsi yang sama tetapi
menghasilkan pola interferensi yang berbeda. Disini akan dibahas tentang hasil pola interferensi dari kedua
Interferometer tersebut. Selain Interferometer, topik yang juga dibahas adalah tentang mengukur ketebalan
rambut dengan prinsip Babinet. Dengan metode yang dijelaskan, didapat pengukuran ketebalan rambut sebesar
144 mikron.
Kata Kunci: Babinet, Beam Splitter, Difraksi, Interferensi, Interferometer
I. Pendahuluan
Interferometer merupakan sebuah alat
analitis yang digunakan untuk meneliti sifat
gelombang dengan menghasilkan pola
interferensi dari gelombang tersebut
[1]
. Pada
percobaan kali ini, digunakan interferometer
Michelson-Morley yang menggunakan satu
beam splitter dan dua buah cermin seperti
tampak pada gambar 1, serta interferometer
Mach-Zehnder seperti tampak pada gambar 2.


Gambar 1. Interferometer Michelson-Morley
[2]



Gambar 2. Interferometer Mach-Zehnder
[3]


Pada interferometer Michelson-Morley, di
layar akan terlihat pola interferensi berupa
lingkaran dengan pola terang gelap seperti
terlihat pada gambar 3.


Gambar 3. Pola Interferensi Interferometer
Michelson-Morley
[4]

Sedangkan pada interferometer Mach-
Zehnder, pola interferensi yang dihasilkan akan
terlihat seperti gambar 4.


Gambar 4. Pola Interferensi Interferometer Mach-
Zehnder

Pada percobaan pertama di laboratorium,
pola interferensi dari kedua jenis interferometer
kemudian dibandingkan dengan pola
interferensi referensi untuk diamati.

Percobaan kedua dilakukan untuk
menentukan ketebalan rambut dengan
menggunakan prinsip Babinet. Prinsip Babinet
menyatakan bahwa pola difraksi dari sebuah
celah akan sama dengan pola difraksi dari
komplemen celah tersebut, yaitu merupakan
sebuah benda yang memiliki lebar sama
dengan lebar celah
[5]
. Pengukuran ketebalan
rambut ini dilakukan dengan mengukur jarak
antara frinji gelap pada pola difraksi yang
terjadi di layar.

Pada difraksi gelombang cahaya seperti
pada gambar, diperoleh persamaan
[6]
:

(1)

Keterangan
: lebar celah (m)
: sudut gelombang dengan horizontal (rad)
: orde gelap
: panjang gelombang (m)

Gambar 5. Difraksi Celah Tunggal

Untuk kasus lebar celah jauh lebih kecil dari
jarak celah ke layar, maka akan menjadi
sangat kecil sehingga . Apabila
pada titik

terjadi pola gelap, dan jarak dari

ke

adalah , maka diperoleh


persamaan:

(2)

Keterangan
: jarak celah ke layar (m)
: jarak dari pusat ke frinji gelap ke-m (m)

Untuk mencari nilai , persamaan (2) dapat
ditulis ulang menjadi:

(3)

dengan mengambil beberapa kali data, dan
dilakukan regresi linear, maka didapatkan
bahwa kemiringan kurva akan sama dengan


sehingga lebar celah dapat dihitung. Ketebalan
rambut yang akan diukur akan sama dengan
lebar celah, yaitu memiliki nilai .

II. Metode Percobaan
Pada percobaan Interferometer Michelson-
Morley, digunakan laser He-Ne yang memiliki
panjang gelombang 632.8 nm
[7]
sebagai sumber
cahaya. Kemudian laser diarahkan ke beam
splitter untuk dibagi menjadi 2 berkas cahaya.
Berkas cahaya kemudian dipantulkan dengan
cermin kembali ke beam splitter kemudian
diarahkan ke pembesar untuk diarahkan ke
kertas HVS. Hasil perangkaian perangkat
seperti ditampilkan pada gambar 1.

Pada percobaan berikutnya, disusunlah
perangkat berupa dua cermin dan dua beam
splitter seperti pada Interferometer Mach-
Zehnder. Sumber cahaya laser He-Ne
diarahkan pada beam splitter, kemudian
diarahkan dengan dua cermin kepada beam
splitter kedua kemudian diarahkan ke
pembesar untuk ditembakkan ke kertas HVS.
Hasil perangkaian perangkat seperti pada
gambar 2.

Pada percobaan mengukur ketebalan
rambut, metode yang digunakan adalah dengan
menyinari rambut dengan laser He-Ne dan
meletakkan kertas HVS cukup jauh dari
sumber. Dengan demikian, pola difraksi akan
terlihat pada kertas HVS dan kemudian dicatat
jarak antar frinji gelapnya. Prosedur ini
dilakukan 5 kali dengan jarak kertas HVS yang
berbeda-beda dari sumber untuk mendapatkan
data yang berbeda-beda sehingga hasil
pengukuran akan lebih akurat.

III. Data dan Pengolahan
Untuk percobaan Interferometer didapatkan
hasil dibawah.


Gambar 6. Hasil Percobaan Interferometer
Gambar pola interferensi yang didapat dari
percobaan Interferometer Michelson-Morley
ada di sebelah kiri atas. Sedangkan gambar
pola interferensi dari percobaan Interferometer
Mach-Zehnder ada pada sebelah kanan atas.
Gambar pada bagian bawah merupakan gambar
refernsi pola interferensi yang seharusnya
terjadi.

Pada percobaan mengukur ketebalan
rambut, didapat data sebagai berikut:





Tabel 1. Data Percobaan Prinsip Babinet
(m) (cm)
0.6 1.25
1.2 2.75
2.4 5.4
3.6 6.1

Informasi dari Tabel 1 kemudian dibuat
grafik antara dengan agar kemiringan
dari garis regresi linear menjadi sama dengan
, yaitu ketebalan rambut.

Grafik 1. Pemetaan dengan

Kemiringan grafik, seperti terlihat diatas
bernilai

m. Oleh karena itu:




karena nilai , maka:

m

IV. Pembahasan
Pada Interferometer dihasilkan pola terang
gelap. Hal ini disebabkan karena berkas cahaya
yang dipisah oleh beam splitter dan memantul
di cermin kembali dipisah oleh beam splitter
setelah menempuh jarak yang berbeda-beda.
Hal ini menyebabkan banyak berkas cahaya
yang berbeda fase bertemu di layar sehingga
menghasilkan pola terang gelap di layar.

Pada Interferometer Michelson-Morley,
seharusnya didapatkan pola interferensi berupa
lingkaran. Namun hasil yang didapatkan
menunjukkan pola interferensi berupa garis.
Hal ini disebabkan karena penempatan beam
splitter yang tidak ada pada sudut 45

dan
cermin yang tidak berada pada kondisi tegak
lurus dengan layar. Posisi cermin yang tegak
lurus dengan layar akan menghasilkan 2
bayangan maya yang berada satu garis dengan
pengamat sehingga menyebabkan pola
interferensi lingkaran. Dalam percobaan,
cermin tidak berada pada posisi tegak lurus
sehingga bayangan maya yang terbentuk tidak
berada segaris dengan pengamat sehingga pola
interferensi berubah menjadi garis.

Berbeda dengan Interferometer Michelson-
Morley, Interferometer Mach-Zehnder,
menghasilkan lebih banyak pola terang gelap
dengan ukuran yang lebih kecil. Hal ini
disebabkan karena pada Interferometer Mach-
Zehnder terjadi lebih banyak interferensi
gelombang karena penempatan cermin yang
menghasilkan pantulan ke dua arah dan
akhirnya menghasilkan berkas cahaya lebih
banyak daripada Interferometer Michelson-
Morley. Hal ini terlihat jelas dari posisi cermin
yang ditempatkan sejajar dengan beam splitter.

Pada penyusunan perangkat Interferometer,
banyak hal yang harus diperhatikan agar
memperoleh hasil yang diinginkan. Yang
pertama adalah orientasi beam splitter yang
seharusnya ada pada sudut 45

terhadap
sumber cahaya. Apabila tidak demikian, maka
berkas cahaya yang sudah dipisah tidak akan
terpisah secara tegak lurus yang pada akhirnya
dapat mengubah pola interferensi pada layar.
Yang kedua adalah orientasi cermin terhadap
beam splitter. Seperti sudah dibahas
sebelumnya, hal ini dapat menyebabkan
perbedaan pola interferensi yang dihasilkan.
Berikutnya adalah jarak dari cermin ke beam
splitter, apabila jarak kedua cermin ke beam
splitter berbeda, maka akan didapatkan pola
interferensi yang berbeda. Hal lain yang juga
mempengaruhi pola interferensi adalah panjang
gelombang sumber cahaya yang digunakan,
serta koherensi dari sumber cahaya yang
digunakan.

Dalam percobaan Interferometer, terlihat
pada beam splitter terdapat 3 titik laser. Tiga
titik ini berasal dari sumber dan pantulan dari
cermin. Masing-masing pantulan dari cermin
menyumbangkan satu titik laser pada beam
splitter sehingga terlihat ada 3 titik laser pada
beam splitter.

Hal lain yang diamati adalah pola
interferensi yang terlihat bergerak. Hal ini
kemungkinan besar disebabkan oleh sumber
cahaya yang tidak seratus persen koheren,
sehingga menghasilkan pola interferensi yang
berubah-ubah secara cepat dan terlihat seperti
bergerak. Faktor lain yang mungkin berperan
adalah berkas cahaya yang sudah dipisah
berkali-kali oleh beam splitter menempuh
waktu lebih lama daripada berkas lainnya,
sehingga ketika berkas cahaya tersebut sampai
ke layar, pola interferensi berubah dan terlihat
seperti bergerak.

Pada percobaan prinsip Babinet terdapat
pola interferensi dan juga difraksi, hal ini dapat
disebabkan oleh terciptanya dua celah kecil
yang dipisahkan oleh sehelai rambut yang
ingin diukur ketebalannya, dimana celah kecil
yang tercipta memiliki lebar tidak terlalu besar
dibandingkan ketebalan rambut. Hal lain yang
mungkin menyebabkan hal ini adalah ketebalan
rambut yang tidak homogen secara
mikroskopis. Apabila bagian rambut sebelah
kiri dan kanan memiliki ketebalan berbeda,
maka sesuai dengan prinsip Babinet, hal ini
sama dengan memiliki dua celah yang berbeda
lebar celahnya. Hal ini menyebabkan
perbedaan jarak tempuh dari satu berkas
cahaya yang menghasilkan pola interferensi.

Penghitungan tebal rambut yang dilakukan
menunjukkan tebal rambut yang diukur sebesar
144 mikron. Hasil ini masih berada pada
rentang diameter rambut manusia dari
referensi, yaitu berkisar antara 17 mikron
sampai 180 mikron
[8]
. Hasil ini menunjukkan
bahwa pengukuran ketebalan rambut
menggunakan prinsip Babinet dapat dilakukan.
Namun untuk tingkat akurasi yang lebih tinggi,
pengambilan data harus dilakukan lebih
banyak.

V. Simpulan
Percobaan Interferometer yang dilakukan
dapat menjelaskan bagaimana pola interferensi
terbentuk di layar, serta memberikan gambaran
umum akan teknik Interferometri. Kedepannya,
mungkin dapat dilakukan percobaan dengan
Interferometer untuk mengulang membuktikan
keberadaan aether.

Percobaan mengukur ketebalan rambut
dengan prinsip Babinet berhasil menentukan
ketebalan rambut yang dihitung dengan rumus
difraksi sederhana. Ketebalan rambut yang
terukur adalah 144 mikron. Hasil ini masih
masuk ke dalam rentang diameter rambut
manusia yang menunjukkan bahwa prinsip
Babinet bisa digunakan untuk mengukur
ketebalan rambut manusia.

VI. Daftar Pustaka
[1]Bunch B, Hellemans A. The history of
science and technology. Boston: Houghton
Mifflin Harcourt; 2004.
[2]Gambar Skema Interferometer Michelson-
Morley [gambar dari internet]. 1999 [dikutip
2013 Sep 24]. Didapat dari:
http://felix.physics.sunysb.edu/~allen/252/PHY
251_Michelson_fig1.GIF
[3]Gambar Skema Interferometer Mach-
Zehnder [gambar dari internet]. 2006 [dikutip
2013 Sep 24]. Didapat dari:
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/9/9c/
Mach-zehnder.PNG
[4]Gambar Pola Interferensi Michelson-Morley
[gambar dari internet]. 2007 [dikutip: 2013 Sep
24]. Didapat dari:
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/9/90/
Michelson_Interferometer_Laser_Interference_
Fringes-Red.jpg
[5]Born M, Wolf E. Principles of optics.
Cambridge: Cambridge University Press; 1999.
[6]Haliday D, Resnick R, Walker J.
Fundamentals of physics 9
th
edition. Hoboken:
John Wiley & Sons, Inc; 2011.
[7]Goldwasser, S. A practical guide to lasers
for experimenters and hobbyists [Internet].
1994 [dikutip 2013 Sep 26]. Didapat dari:
http://www.repairfaq.org/sam/laserfaq.htm#faq
toc
[8]Ley, Brian. Diameter of a human hair
[Internet]. 1999 [dikutip 2013 Sep 26]. Didapat
dari:
http://hypertextbook.com/facts/1999/BrianLey.
shtml