Anda di halaman 1dari 17

PPh Pasal 24 dan PPh Pasal 25

Ringkasan materi ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Perpajakan 2



Dosen: Diana Sari, Dr., S.E., M.Si., Ak., Q.I.A., Ca


Kelompok 2:
1. Ari Sudrajat (0112U093)
2. Rizkia Dewi Sopani (0112U103)
3. Muhammad Nurrahman (0112U134)
4. Menka Prihadwi (0112U303)
5. Muhammad Bayu R (0112U310)
6. Robby Firdaus (0112U318)

Kelas: B
Tanggal dikumpulkan: 4 Juli 2014


JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS WIDYATAMA BANDUNG
PPH PASAL 24
Pajak penghasilan pasal 24 adalah salah satu jenis pelunasan PPh dalam tahun
berjalan yang merupakan pajak yang dibayar atau terutang di luar negeri atas penghasilan
dari luar negeri yang diperoleh WP dalam negeri boleh dikreditkan terhadap pajak yang
terutang berdasarkan undang-undang PPh dalam tahun pajak yang sama.
Menurut ketentuan perpajakan, WP Dalam Negeri terutang pajak atas penghasilan
kena pajak yang berasal dari seluruh penghasilan yang diterima baik dari dalam negeri
maupun luar negeri (world wide income). Untuk menghindarai pengenaan pajak berganda
dan memberikan perlakuan pemajakan yang sama antara penghasilan yang diperoleh WP
dalam negeri dari luar negeri dengan penghasilan yang diterima dari Indonesia, maka atas
pajak yang dibayar atau terutang dari penghasilan yang diterima dari luar negeri dapat
dikreditkan dengan pajak yang terutang dalam tahun pajak yang sama. Kredit Pajak Luar
Negeri ini bertujuan untuk meringankan beban pajak ganda yang dapat terjadi karena
pengenaan PPh atas penggabungan penghasilan dari Dalam Negeri dan Luar Negeri.
DASAR HUKUM
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah
diubah terakhir dengan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2008 tentang
Perubahan keempat atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983.

PETUNJUK PELAKSANAAN
Ikhtisar Keputusan Menteri Keuangan No.164/KMK.03/2002 tersebut adalah:
1. Penggabungan penghasilan
Penggabungan penghasilan yang berasal dari luar negeri dilakukan sebagai berikut:
a) Untuk penghasilan dari usaha yang dilakukan dalam tahun pajak diperolehnya
penghasilan tersebut.
b) Untuk penghasilan lainnya dilakukan dalam tahun pajak diterimanya
penghasilan tersebut.
c) Untuk penghasilan berupa dividen.
2. Kerugian
Kerugian yang diderita di luar negeri tidak boleh digabungkan dalam
menghitung PKP, sedangkan rugi usaha di dalam negeri dapat dikompensasikan
dengan Penghasilan dari usaha di luar negeri.
3. PPh terutang di luar negeri > kredit pajak yang diperkenankan
Dalam hal jumlah Pajak Penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri
melebihi jumlah kredit pajak yang diperkenankan, maka kelebihan tersebut:
a) Tidak dapat diperhitungkan dengan Pajak Penghasilan yang terutang tahun
berikutnya.
b) Tidak boleh dibebankan sebagai biaya atau pengurang penghasilan.
c) Tidak dapat dimintakan restitusi.
4. Maksimum kredit pajak luar negeri
Jumlah kredit pajak, paling tinggi sama dengan jumlah pajak yang dibayar
atau terutang di luar negeri, tetapi tidak boleh melebihi jumlah tertentu, yaitu jumlah
yang dihitung menurut perbandingan antara penghasilan dari luar negeri terhadap
penghasilan kena pajak dikalikan dengan pajak yang terutang atas PKP, paling tinggi
sama dengan pajak yang terutang atas PKP dalam hal PKP lebih kecil dari
penghasilan luar negeri.
Metode tersebut disebut Metode Kredit Terbatas atau Ordinary Credit Method
dengan rumus sbb:




Apabila penghasilan luar negeri berasal dari beberapa negara, maka
perhitungan kredit pajak dilakukan untuk masing-masing negara.
Dalam PKP tidak termasuk Penghasilan yang dikenakan Pajak yang bersifat
final.

5. Prosedur penjualan kredit pajak luar negeri
a) Untuk melaksanakan pengkreditan pajak luar negeri, WP wajib
menyampaikan permohonan kepada Direktur Jenderal Pajak dengan dilampiri:
laporan keuangan dari penghasilan yang berasal dari luar negeri, fotokopi
Surat Pemberitahuan Pajak yang disampaikan di luar negeri dan dokumen
pembayaran pajak di luar negeri.
b) Penyampaian permohonan kredit pajak luar negeri tersebut dilakukan
bersamaan dengan penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak
Penghasilan.
c) Atas permohonan WP, Direktur Jenderal Pajak dapat memperpanjang jangka
waktu penyampaian lampiran-lampiran tersebut karena alasan-alasan di luar
kekuasaan WP (force majeur).

6. Koreksi fiskal atas surat pemberitahuan Luar Negeri
a) Dalam hal terjadi perubahan besarnya penghasilan yang berasal dari luar
negeri, WP harus melakukan pembetulan Surat Pemberitahuan Tahunan untuk
tahun pajak yang bersangkutan dengan melampirkan dokumen yang berkenaan
dengan perubahan tersebut.
b) Apabila karena pembetulan tersebut menyebabkan Pajak Penghasilan kurang
dibayar, maka atas kekurangan tersebut tidak dikenakan bunga.
c) Apabila karena pembetulan tersebut menyebabkan Pajak Penghasilan lebih
dibayar, maka atas kelebihan tersebut dapat dikembalikan kepada WP setelah
diperhitungkan dengan utang pajak lainnya.


PERHITUNGAN PPH PASAL 24
Secara garis besar perhitungan PPh apabila penghasilannya bersumber dari luar negeri dan
dalam negeri, adalah sebagai berikut :
1. Penghasilan Luar Negeri = A
2. Penghasilan Luar Negeri = B

3. Pengahasilan Kena Pajak = (A + B)
4. PPh terutang (Tarif PPh x {A+B} = C
5. PPh Pasal 24 = D

6. PPh yang masih harus dibayar di Indonesia = (C- D)
7. Kredit Pajak Dalam Negeri
(PPh Pasal 21 {WP perorangan }, PPh Pasal 22 PPh ps.
23, PPh Pasal 25)
= E
8. PPh yang kurang bayar/nihil/lebih bayar = (C D E )


Sistematika Perhitungan PPH Pasal 24
1. Penghasilan Luar Negeri ;
Negara X : Laba XX
Negara Y : Laba yy
Negara Z : Rugi zz

2. Penghasilan dalam negeri = A
3. Penghasilan Kena Pajak = B

4. PPh terutang :
Tarif PPh x ( A+B)
= (A+B)
5 Maksimum kredit pajak luar negeri (MKPLN)
5.1 Negara X
xx
x C = p
( A + B )
PPh terutang/dibayar di LN = q
Pilih terkecil, misalnya p

5.2 Negara Y
yy
x C = r
( A + B)

PPh terutang/dibayar di LN = s
Pilih terkecil

5.3 MKPLN (PPh ps 24)
Negara X = p
Negara Y = s
Jumlah (p+s) = D

= C




















Koreksi Fiskal atas SPT Luar Negeri
SPT Pembetulan SPT
1. Penghasilan LN A P
2. Penghasilan DN B B

3. Penghasilan Kena Pajak A + B P + B
4. PPh terutang (tarif PPh) C Q
5. PPh Pasal 24 (MKPLN) D

R
6. PPh dibayar di Indonesia C D Q R
7. Kredit pajak dalam negeri E E

8. PPh kurangbayar/lebih bayar/nihil C - D - E Q R E

SOAL DEMONSTRASI
PT. Abunidal produsen, pemborong dan importir yang memiliki API yang bergerak di
bidang industri telekomunikasi, pada tahun 200X mengadakan kontrak kerja dengan
Departemen Perhubungan untuk membangun sarana telekomunikasi di beberapa lapangan
udara dengan nilai kontrak seluruhnya Rp. 140.689.541.145,00. Yang akan diselesaikan
dalam jangka waktu 3 periode akuntansi (3 tahun pajak). Untuk perhitungan penghasilannya
perusahaan menggunakan metode persentase penyelesaian secara fisik, dan untuk tahun 200X
telah diselesaikan sebesar 30%-nya. Pembayaran kontrak dengan Departemen Perhubungan
disesuaikan dengan bagian kontrak yang sudah diselesaikan secara fisik.
PT. Abunidal dalam tahun yang sama mendapat pula kontrak dari Kamboja untuk
membangun jaringan Telekonumikasi di Kamboja yang mengalami kerugian sebesar Rp.
3.369.505.000,00 sedangkan kontrak di Bangladesh yang juga membangun jaringan
telekomunikasi memperoleh laba neto sebesar Rp. 7.909.143.883,00. Namun angka ini oleh
karena kesalahan yuridis fiskal dikoreksi oleh kantor pajak negara yang bersangkutan
menjadi laba neto sebesar Rp. 9.886.429.850,00. Tarif pajak penghasilan terutang di
Kamboja dan Bangladesh adalah masing-masing sebesar 30% dan 35 %.
Penghasilan neto PT Abunidal 200X berjumlah Rp. 21.722.386.610,00. (termasuklaba
neto dari Bangladesh sebelum koreksi fiskal). Sedang sisa kerugian tahun 200X-3 yang
belum dikompensasikan berjumlah Rp. 323.249.448,00. Pajak penghasilan atas penghasilan
yang diterima oleh karyawan yang telah dilunasi dan disetor pada tahun 200X berjumlah Rp.
206.643.297,00. Pajak penghasilan yang dipungut oleh pihak ketiga Rp. 789.551.100,00.
6. PPh yang masih harus dibayar di Indonesia = D

7. Kredit pajak dalam negeri = ( C D )
8. Kurangbayar/ Nihil/Lebih bayar = E

= ( C-D E )
Pajak penghasilan yang dipotong oleh pihak ketiga Rp. 6.837.500,00 dan Pajak penghasilan
yang dilunasi sendiri oleh PT Abunidal setiap bulannya berjumlah :
a. Januari dan Februari 200X Rp. 10.500.000,00
b. Maret s/d Desember 200X Rp. 15.600.000,00
Dalam kaitannya dengan soal diatas
a) Berapa besar PPh pasal 24 yang dapat dikreditkan atas penghasilan dari Kamboja
b) Berapa besar PPh pasal 24 yang dapat dikreditkan atas penghasilan dari Bangladesh
c) Hitunglah berapa besar PPh yang kurang/ lebih bayar tahun 200X PT Abunidal
sebelum koreksi fiskal luar negeri
d) Hitunglah pula berapa besar PPh yang kurang/lebih bayar tahun 200X PT Abunidal
setelah koreksi fiskal luar negeri.
JAWABAN SOAL DEMONSTRASI :
a) PPh Pasal 24 dari Kamboja tidak ada yang dikreditkan/dikompensasikan karena di
negara tersebut menderita kerugian (PPh Pasal 24 nihil)
b) PPH Pasal 24 dari Bangladesh sebelum koreksi fiskal
Penghasilan luar negeri Rp. 7.909.143.883,00
Penghasilan dalam negeri Rp 13.813.242.727,00
Penghasilan neto Rp. 21.722.386.610,00
Kompensasi kerugian 200X-3 Rp. (323.249.448,00)
Penghasilan kena pajak Rp. 21.399.137.162,00
Dibulatkan Rp. 21.399.137.000,00
PPh terutang (Pasal 17)
25% x Rp. 21.399.137.000,00 =

Rp. 5.349.784.250,00
Maksimun kredit pajak luar negeri
= 7.909.143.883,00 x 5. 349.784.250,00

21.399.137.000,00


Rp. 1.977.285.971,00
PPh terutang di LN : 35% x Rp.
7.909.143.883

Rp. 2. 768.200.359,00

PPh Pasal 24 yang dapat dikreditkan atas penghasilan dari Bangladesh sebelum
koreksi fiskal Rp. 1.977.285.971,00

c) PPh kurang bayar
PPh Terutang Rp. 5.349.784.250,00
PPh Pasal 24 Rp. (1. 977.285.971,00)
Kredit Pajak Dalam Negeri
PPh Pasal 22 Rp. (789.551.100,00)
PPh Pasal 23 Rp. ( 6. 837.500,00)
PPh Pasal 25 Rp. ( 177.000.000,00)
PPh kurang bayar Rp. ( 2.399.109.679,00)

d) PPh
Penghasilan luar negeri Rp. 9.886.429.850,00
Penghasilan dalam negeri Rp 13.813.242.727,00
Penghasilan neto Rp. 23.699.672.577,00
Kompensasi kerugian 200X-3 Rp. (323.249.448,00)
Penghasilan kena pajak Rp. 23.376.423.129,00
Dibulatkan Rp. 23.376.423.000,00
PPh terutang (Pasal 17)
25% x Rp. 3.376.423.000,00=

Rp. 5.844.105.750,00
Maksimun kredit pajak luar negeri
= 9.886.429.850,00 x 5. 844.105.750,00

23.376.423.000,00


Rp. 2.471.607.463,00
PPh terutang di LN : 35% x Rp.
9.886.429.850

Rp. 3.460.250.448,00

PPh Pasal24 yang dapat dikreditkan atas penghasilan dari Bangladesh setelah koreksi
fiskal Rp. 2.471.607.463,00

PPh Terutang Rp. 5.844.105.750,00
PPh Pasal 24 Rp. (2.241.607.463,00)
Kredit Pajak Dalam Negeri
PPh Pasal 22 Rp. ( 789.551.100,00)
PPh Pasal 23 Rp. ( 6. 837.500,00)
PPh Pasal 25 Rp. ( 177.000.000,00)
PPh kurang bayar Rp. ( 2.399.109.687,00)
PPh Psal 29 telah dibayar Rp. ( 2.399.109.679,00)
Masih kurang bayar Rp. 8,00











PPH PASAL 25
Pajak penghasilan dikenakan terhadap Subjek Pajak atas Penghasilan yang diterima
atau diperolehnya dalam Tahun Pajak. Undang-Undang Pajak Penghasilan Nomor 7 Tahun
1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008
(Undang-undang PPh) menentukan pelunasan Pajak Penghasilan oleh WP dapat dilakukan
melalui dua cara yaitu:
1. Pelunasan Pajak Penghasilan dalam tahun berjalan
Pelunasan Pajak Penghasilan dalam tahun berjalan dilakukan oleh WP melalui
mekanisme pemotongan atau pemungutan pajak oleh pihak lain dan melalui
pembayaran pajak yang dilakukan sendiri oleh WP. Pelunasan pajak dalam tahun
berjalan merupakan angsuran pajak yang boleh dikreditkan terhadap Pajak
Penghasilan yang terutang untuk tahun pajak yang bersangkutan, kecuali untuk
penghasilan yang pengenaan pajaknya bersifat final.
2. Pelunasan Pajak Penghasilan pada akhir tahun pajak
Pelunasan Pajak Penghasilan pada akhir tahun pajak dilakukan melalui mekanisme
penyampaian Srat Pemberitahuan Tahunan yang merupakan penghitungan Pajak
Penghasilan yang terutang, yang telah dipotong/dipungut oleh pihak lain maupun
yang telah dibayar sendiri, dan jumlah Pajak Penghasilan yang masih harus dibayar
untuk Tahun Pajak yang bersangkutan.

DASAR HUKUM
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang pajak Penghasilan sebagaimana telah
diubah terakhir dengan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2008 tentang
Perubahan keempat atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983.
PERHITUNGAN PPH PASAL 25
KETERANGAN CARA PERHITUNGAN
UMUM
a. Angsuran yang harus dibayar sendiri
dalam tahun berlajan.








b. Angsuran bulanan untuk bulan sebelum
batas waktu penyampaian SPT Tahunan
PPh




Pajak penghasilan terutang berdasarkan SPT
Tahunan PPh tahun lalu dikurangi Kredit
Pajak tahun lalu (PPh pasal 21 Orang Pribadi,
PPh pasal 22, PPh pasal 23, PPh pasal 24)
dbagi 12 atau bagian tahun pajak.
Catatan:
Dalam menghitung PPh Pasal 25 Tahun
berjalan, PPh Pasal 25 tahun lalu tidak
dperhitungkan sebagai kredit pajak.

Sebesar angsuran PPh pasal 25 untuk bulan
terakhir dari tahun pajak yang lalu.
Catatan:
Apabila dalam tahun pajak yang lalu
diterbitkan keputusan pengurangan








c. Apabila dalam tahun pajak berjalan
diterbitkan surat ketetapan pajak untuk
tahun pajak yang lalu


d. Angsuran pajak dalam hal-hal tertentu
1. WP berhak atas kompensasi kerugian
2. WP memperoleh penghasilan tidak
teratur
3. SPT Tahunan PPh tahun yang lalu
disampaikan setelah batas waktu yang
ditentukan
4. WP diberikan perpanjangan jangka
waktu penyampaian SPT Tahunan
PPh
5. WP membetulkan sendiri SPT
Tahunan PPh yang mengakibatkan
angsuran bulanan lebih besar atau
lebih kecil dari angsuran bulanan
sebelum pembetulan
6. Terjadi perubahan keadaan usaha atau
kegiatan WP
angsuran pajak menjadi nihil sehingga
angsuran PPh Pasal 25 setelah keputusan
tersebut menjadi nihil sampai dengan
bulan Desember, maka angsuran pajak
untuk bulan januari dan februari tahun
ini tetap sama dengan angsuran PPh
Pasal 25 bulan Desember (nihil).

Besarnya angsuran pajak dihitung kembali
berdasarkan surat ketetapan pajak tsb dan
berlaku mulai bulan berikutnya setelah bulan
penerbitan surat ketetapan pajak.

Cara perhitungan hal-hal tertentu diatur
dalam Keputusan Dirjen Pajak KEP-
537PJ./2000
KHUSUS
a. BUMN/BUMD









b. Bank









a. RKAP belum disahkan
Sebesar angsuran PPh Pasal 25 bulan
terakhir tahun sebelumnya.

b. RKAP sudah disahkan
Penerapan tarif umum atas laba rugi
fiscal berdasarkan RKAP tahun ini
dikurangi dengan kredit pajak tahun lalu
tahun sebelumnya dibagi 12.

a. Bank Lama
Penerapan tarif umum atas laba rugi
fiskal triwulan terakhir yang di
setahunkan dibagi 12

b. Bank Baru
Penerapan tariff umum atas perkiraan
perhitungan laba rugi triwulan pertama
yang disetahunkan dibagi 12

c. Wajib Pajak Orang Pribadi pengusahan
tertentu


a. Tidak menerima atau memperoleh
penghasilan lain
Sebesar 2% dari jumlah peredaran bruto
berdasarkan pembukuan atau pencatatan
setiap bulan.

b. Menerima atau memperoleh penghasilan
lain
1. Besarnya angsuran PPh pasal 25 atas
penghasilan lain yang diperoleh WP
untuk bulan-bulan sebelum batas
waktu penyampaian SPT Tahunan
PPh, sama dengan besarnya angsuran
pajak untuk bulan terakhir dari tahun
pajak yang lalu.
2. Besarnya angsuran PPh pasal 25 atas
penghasilan lain yang diperoleh WP
untuk bulan-bulan sebelum batas
waktu penyampaian SPT Tahunan
PPh, adalah sebesar perbandingan
antara penghasilan lain neto dengan
total penghasilan neto dikalikan
besarnya angsuran yang terutang
berdasarkan SPT Tahunan tahun
sebelumnya.
WP BARU
a. Orang Pribadi










b. Badan

a. Pembukuan
Penerapan tarif umum atas penghasilan
neto sebulan yang di setahunkan di
kurangi dengan PTKP dibagi 12

b. Pencatatan
Penerapan tarif umum atas pengalian
norma perhitungan dari peredaran atau
penerima bruto dikurangi dengan PTKP
dibagi 12

a. Pembukuan
Penerapan tarif umum atas penghasilan
neto sebulan yang disetahunkan dibagi
12

b. Pencatatan
Penerapan tarif umum atas pengalian
norma penghitungan dari peredaran atau
penerimaan bruto dibagi 12


RUMUS PERHITUNGAN PPH PASAL 25
Pelunasan pajak dalam tahun berjalan atau angsuran pajak yang dilakukan sendiri
oleh Wajib Pajak merupakan pelunasan atau pembayaran atas perkiraan Pajak Penghasilan
yang akan terutang dalam suatu tahun pajak. Ketentuan mengenai angsuran Pajak
Penghasilan diatur dal am Pasal 25 UU PPh. Secara umum PPh Pasal 25 yang harus dibayar
sendiri oleh WP Badan dapat dihitung sebagai berikut:



Perhitungan PPh Pasal 25 untuk Kondisi-Kondisi Tertentu
Ketentuan penghitungan PPh Pasal 25 dapat berbeda dari penghitungan PPh Pasal 25
secara umum. Perbedaan penghitungan terjadi apabila perusahaan dihadapkan pada kondisi-
kondisi tertentu, antara lain:
1. PPh Pasal 25 untuk bulan-bulan sebelum batas waktu penyampaian SPT Tahunan
Besarnya angsuran yang harus dibayar untuk bulan-bulan sebelum batas waktu
penyampaian SPT Tahunan PPh adalah sama dengan angsuran pajak untuk bulan terakhir
dari tahun pajak yang lalu.
2. Dalam tahun pajak berjalan WP menerima Surat Ketetapan Pajak (SKP)
Apabila WP menerima SKP untuk tahun pajak yang lalu, maka besarnya angsuran pajak
akan dihitung kembali berdasarkan SKP tersebut. Nilai PPh Pasal 25 yang baru, mulai
berlaku pada bulan berikutnya setelah bulan penerbitan SKP.
3. WP berhak atas kompensasi kerugian
Apabila Wajib Pajak Badan memiliki kompensasi kerugian fiskal, yang timbul pada tahun
pajak sebelumnya. Kerugian fiskal tersebut dapat dikompensasikan dengan penghasilan
neto, pada tahun pajak berikutnya sampai dengan 5(lima) tahun. Dengan demikian
penghitungan PPh Pasal 25 bagi WP yang berhak atas kompensasi kerugian tersebut
adalah sebagai berikut:

[( ) ]



4. WP memperoleh penghasilan tidak teratur
Suatu perusahaan umumnya menerima penghasilan yang bersifat teratur dan tidak teratur.
Penghasilan teratur merupakan penghasilan yang lazimnya diterima atau diperoleh secara
berkala sekurang-kurangnya sekali dalam setiap tahun pajak, yang bersumber dari
kegiatan usaha, pekerjaan bebas, pekerjaan, harta dan atau modal, kecuali penghasilan
tidak teratur dapat berupa keuntungan selisih kurs dari utang/piutang dalam mata uang
asing dan keuntungan dari pengalihan harta (capital gain) sepanjang bukan merupakan
penghasilan dari kegiatan usaha pokok, serta penghasilan lainnya yang bersifat insidentil.
Penghasilan tidak teratur ini dapat dipotong/dipungut pajak oleh pihak yang memberikan
penghasilan. Terkait dengan penghasilan teratur dan tidak teratur, maka penghitungan
angsuran pajak dalam tahun, maka penghitungan PPh Pasal 25 bagi WP yang memperoleh
penghasilan tidak teratur adalah sebagai berikut:

[( ) ]



5. SPT Tahunan PPh disampaikan setelah batas waktu yang ditetapkan
Dalam kondisi tertentu, misalnya audit laporan keuangan perusahaan belum selesai
dilakukan, atau belum tersedianya dana untuk membayar pajak yang terutang. Sehingga
perusahaan menyampaikan SPT Tahunan PPh setelah jatuh tempo penyampaian SPT
Tahunan PPh yang telah ditetapkan. Bila kondisi tersebut dialami oleh WP Badan, maka
nilai angsuran PPh Pasal 25 yang harus dibayarkan setiap bulannya adalah sebagai berikut:

Setelah jatuh tempo, PPh Pasal 25 Sama dengan bulan terakhir
Belum disampaikan tahun pajak yang lalu dan bersifat
WP SPT Tahunan PPh sementara
Setalah jatuh tempo, PPh Pasal 25 Dihitung kembali berdasarkan nilai
Telah disampaikan yang tertera dalam SPT Tahunan
PPh dan berlaku surut, mulai bulan
Batas waktu penyampaian SPT
Tahunan tersebut.

Atas kondisi tersebut, terdapat dua konsekuensi terhadap PPh Pasal 25-nya, yaitu:
Bila nilai PPh Pasal 25 atas perhitungan lebih besar dari yang telah dibayarkan, maka
kekurangan setoran PPh Pasal 25 teruratang sanksi administrasi berupa bunga sebesar
2% per bulan sejak jatuh tempo penyetoran PPh Pasal 25 sampai dengan tanggal
penyetoran.
Bila nilai PPh Pasal 25 atas penghitungan lebih kecil dari yang telah dibayarkan,
maka atas kelebihan setoran Pajak Penghasilan Pasal 25 dapat dipindah bukukan ke
PPh Pasal 25 bulan-bulan berikutnya.
6. WP diberikan perpanjangan jangka waktu penyampaian SPT Tahunan PPh
Dalam kondisi tertentu WP Badan dapat saja mengajukan permohonan perpanjangan
waktu penyampaian SPT Tahunan PPh. Apabila hal tersebut dilakukan oleh WP, maka
berikut ini merupakan ketentutan dalam menghitung besarnya nilai PPh.

Pada bulan-bulan mulai Dihitung berdasarkan
Batas waktu penyampaian PPh Pasal 25 SPT Tahunan PPh
WP diberikan perpanjangan SPT s.d bulan sebelum sementara
Jangka waktu penyampaian disampaikannya SPT
SPT Tahunan PPh
Setelah SPT Tahunan PPh Pasal 25 Dihitung kembali
PPh disampaikan berdasarkan SPT
Tahunan PPh

Atas kondisi tersebut, terdapat dua konsekuensi terhadap PPh Pasal 25 nya, yaitu:
Bila nilai PPh Pasal 25 atas penghitungan lebih besar dari yang telah dibayarkan,
maka kekurangan setoran PPh Pasal 25 terutang sanksi administrasi berupa bunga
sebesar 2% bulan sejak jatuh tempo penyetoran PPh Pasal 25 sampai dengan tanggal
penyetoran.
Bila nilai PPh pasal 25 atas perhitungan lebih kecil dari yang telah dibayarkan, maka
atas kelebihan setoran pajak penghasilan pasal 25 dapat dipindah bukukan ke PPh
pasal 25 bulan-bulan berikutnya.

7. WP melakukan pembetulan SPT Tahunan PPh
Wajib Pajak membetulkan SPT PPh Tahunan pajak lalu, maka besarnya PPh Pasal 25
dihitung kembali berdasarkan SPT tahunan pembetulan dan akan berlaku surut mulai
batas waktu penyampaian SPT Tahunan tersebut. SPT tahunan yang dibetulkan, terdapat
dua konsekuensi terhadap PPh Pasal 25-nya, yaitu:
Bila nilai PPh Pasal 25 ternyata menjadi lebih besar dari PPh Pasal 25 sebelum
dilakukan pembetulan. Atas kekurangan setoran PPh Pasal 25 terutang sanksi
administrasi berupa bunga sebesar 2% per bulan sejak jatuh tempo penyetoran PPh
Pasal 25 sampai dengan tanggal penyetoran.
Bila nilai PPh Pasal 25 ternyata menjadi lebih kecil dari PPh Pasal 25 sebelum
dilakukan pembetulan. Atas kelebihan setoran PPh Pasal 25 dapat dipindah bukukan
ke PPh Pasal 25 bula-bulan berikutnya setelah penyampaian SPT PPh pembetulan.
8. Terjadi perubahan keadaan usaha atau kegiatan WP
Perubahan keadaan kegiatan atau usaha yang dilakukan oleh WP, merupakan hal yang
wajar. Dimana tidak jarang WP dihadapkan pada kondisi-kondisi tertentu, yang dapat
secara drastis meningkatkan laba ataupun sebaliknya. Perubahan penghasilan yang
diterima/diperoleh WP akan mempengaruhi kewajiban PPh Pasal 25. Jika dalam tahun
pajak berjalan terjadi penurunan omzet, maka WP Badan dapat mengajukan permohonan
pengurangan PPh Pasal 25. Namun jika kondisi yang terjadi adalah laba WP dalam tahun
pajak berjalan bertambah besar, maka besarnya nilai PPh Pasal 25 dapat dihitung
kembali. Apabila WP mengalami penurunan pendapatan dan ingin mengajukan
permohonan pengurangan besarnya PPh Pasal 25, maka berikut adalah ketentuan yang
perlu diketahui:
WP dapat mengajukan permohonan tersebut, saat telah 3 (tiga) bulan atau lebih
berjalannya satu tahun pajak.
WP dapat memperlihatkan bahwa PPh yang terutang pada tahun pajak tersebut kurang
dari 75% dari dasar penghitungan PPh Pasal 25.
WP dapat mengajukan permohonan secara tertulis kepada kepala kantor pelayanan
pajak tempat wajib pajak terdaftar.
WP harus menyertakan penghitungan besarnya PPh yang akan terutang (berdasarkan
perkiraan penghasilan yang akan diterima atau yang diperoleh, serta besarnya PPh
Pasal 25 untuk bulan-bulan yang tersisa dari tahun pajak yang beersangkutan).
Bila dalam jangka waktu satu bulan sejak tanggal diterimanya surat permohonan
tersebut, kepala KPP tidak memberikan keputusan, maka permohonan WP tersebut
dianggap diterima.
Bila permohonan tersebut dikabulkan maka WP dapat melakukan pembayaran PPh
Pasal 25 sesuai dengan penghitungannya.
Seperti yang telah dissebutkan sebelumnya, jika dalam tahun pajak berjalan WP
mengalami peningkatan usaha, dan diperkirakan PPh yang akan terutang untuk tahun
pajak tersebut lebih dari 150% (serta 50 persen) dari dasar penghitungan PPh Pasal 25.
Besarnya PPh Pasal 25 untuk bulan-bulan yang tersisa dari tahun pajak tersebut, harus
dihitung kembali oleh WP atau kepala kantor pelayanan pajak dimana WP terdaftar.

PENGHITUNGAN PPH PASAL 25 UNTUK WP TERTENTU
Seperti yang telah dibahas sebelumnya bahwa angsuran dalam tahun berjalan dihitung
berdasarkan SPT Tahunan PPh tahun lalu. Akan tetapi untuk WP tertentu,angsuran pajak
penghasilan dapat dihitung dengan ketentuan yang berbeda. Penghitungan yang berbeda ini
dimaksud untuk lebih mendekati kewajaran penghitungan besarnya angsuran pajak karena
didasarkan kepada data terkini dari kegiatan usaha tersebut. Berikut merupakan ketentuan
penghitungan angsuran, yang berbeda dan disesuaikan dengan kegiatan usaha tertentu.
1.WP Badan Baru:

( )



2.Wajib Pajak bank dan sewa guna usaha dengan hak opsi:
[( )] ]



3.WP BUMN & BUMD
a. WP BUMN & BUMD setelah Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP)
disahkan:

( ()) ]



b. WP BUMN & BUMD sebelum Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP)
disahkan :
Sama dengan angsuran PPh Pasal 25 bulan terakhir pajak sebelumnya.

4.WP masuk bursa dan Wajib Pajak lainnya yang berdasarkan ketentuan diharuskan membuat
laporan keuangan berkala:
( )


Catatan: Tarif umum yang dimaksud adalah tarif penghitungan pajak penghasilan bagi WP
Badan menurut ketentuan perundang-undangan yg berlaku
No KETENTUAN TARIF
1 Berlaku sampai dengan tanggal
31 Desember 2008
a. s.d Rp.50.000.000 = 10%
b. di atas Rp.50.000.000 s.d Rp.
100.000.000 = 15%
c. di atas Rp. 100.000.000 =30%
2 Berlaku pada tahun 2009 28%
3 Berlaku pada tahun 2010 25%

Jatuh Tempo Pembayaran dan Pelaporan PPh Pasal 25
No Deskripsi Jatuh Tempo
1 Pembayaran Dilakukan paling lambat tanggal 15 bulan
takwin berikutnya setelah masa pajak berakhir
2 Pelaporan Paling lambat 20 hari setelah masa pajak
berakhir


TATA CARA PEMBAYARAN & PELAPORAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 25
Pembayaran pajak dilakukan dengan menggunakan Surat Setoran Pajak (SSP) atau
sarana lain yang dipersamakan dengan SSP. SSP dijadikan bukti Pembayaran apabila telah
divaidasi dengan Nomor Transaksi Penerimaan Negara (NTPN). NTPN yang tertera pada
bukti penerimaan negara yang diterbitkan melalui modul penerimaan Negara (MPN).
Surat Pemberitahuan Masa PPh Pasal 25 dianggap telah disampaikan ke Kantor
Pelayanan Pajak Sesuai dengan tanggal validasi yang tercantum pada SSP. Apabila SSP
tersebut telah mendapat validasi (NTPN). Akan tetapi, Wajib Pajak tetap harus
menyampaikan SPM PPh Pasal 25 apabila:
a. Jumlah angsuran PPh Pasal 25 adalah nihil
b. Bentuk satuan uang yang dibayarkan selain rupiah,atau
c. Melakukan pembayaran tidak secara onlineI dan tidak mendapat validasi dengan NTPN
tetap harus menyampaikan SPM PPh Pasal 25




SOAL DEMONSTRASI
Penghasilan neto PT Abunidal Confirm SPT Tahunan 2010 adalah sebesar Rp.
200.000.000,00. Selama tahun 2010 PPh yang dipotong PT Abunidal sebagai pemberi kerja
dari karyawan adalah Rp. 15.000.000,00. PPh yang dipungut oleh pihak lain Rp.
10.000.000,00. PPh yang dipotong pihak lain Rp. 3.500.000,00 sesrta kredit pajak atas
penghasilan luar negeri yang dapat diperhitungkan adalah Rp. 6.500.000,00.
Hitunglah besarnya angsuran yang dibayar sendiri tiap bulan untuk tahun 2011.
Jawab:
Penghasilan Neto 2010 Rp. 200.000.000,00
PPh terutang 2010 : 25% x Rp. 200.000.000,00 Rp. 50.000.000,00
Kredit pajak WP badan 2010 :
PPh Pasal 22 = Rp. 10.000.000,00
PPh Pasal 23 = Rp. 3.500.000,00
PPh Pasal 24 = Rp. 6.500.000,00 +
Rp. 20.000.000,00 +
Selisih Rp. 30.000.000,00

Besarnya angsuran pajak yang harus dibayar sendiri setiap bulan untuk tahun 2011:
PPh Pasal 25 tahun 2011 = Rp. 30.000.000,00 x 1/12 = Rp. 2.500.000,00
Apabila Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam contoh di atas berkenaan
dengan penghasilan yang diterima atau diperoleh untuk bagian tahun pajak yang meliputi
masa enam bulan dalam tahun 2010, maka besarnya angsuran bulanan yang harus dibayar
sediri setiap bulan dalam tahun 2011 adalah sebesar :
PPh Pasal 25 tahun 2011 = Rp. 30.000.000,00 x 1/6 = Rp. 5.000.000,00

Contoh 2:
Tuan Nidunal adalah WP orang pribadi kawin dengan jumlah tanggungan seorang
anak, seorang ibu, seorang mertua, seorang adik kandung dan seorang adik ipar yang menjadi
tanggungan sepenuhnya. Pada tahun 2012 memperoleh penghasilan neto sebesar Rp.
230.500.000,00. Selama tahun 2012 PPh yang dipotong pemberi kerja Rp. 15.000.000,00,
PPh yang dipungut pihak lain Rp. 15.000.000,00, PPh yang dipotong pihak lain Rp.
3.250.000,00 dan kredit pajak atas penghasilan luar negeri yang diperkenankan adalah Rp.
6.500.000,00.
Hitunglah besarnya angsuran yang harus dibayar sendiri tiap bulannya untuk tahun 2013 :

Jawab:
Penghasilan Neto 2012 Rp. 230.500.000,00
PPh terutang 2010 : 25% x Rp. 230.500.000,00 Rp. 57.625.000,00
Kredit pajak WP badan 2010 :
PPh Pasal 22 = Rp. 15.000.000,00
PPh Pasal 23 = Rp. 3.250.000,00
PPh Pasal 24 = Rp. 6.500.000,00 +
Rp. 24.750.000,00 +
Selisih Rp. 32.875.000,00
Besarnya angsuran pajak yang harus dibayar sendiri setiap bulan untuk tahun 2012:
PPh Pasal 25 tahun 2011 = Rp. 32.875.000,00 x 1/12 = Rp. 2.739.572,00
Apabila Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam contoh di atas berkenaan
dengan penghasilan yang diterima atau diperoleh untuk bagian tahun pajak yang meliputi
masa enam bulan dalam tahun 2010, maka besarnya angsuran bulanan yang harus dibayar
sediri setiap bulan dalam tahun 2011 adalah sebesar :
PPh Pasal 25 tahun 2011 = Rp. 32.875.000,00 x 1/6 = Rp. 5.479.000,00