Anda di halaman 1dari 2

Harapan Direktur terhadap Perilaku Dokter

Spesialis dan Dokter dalam Konteks Sistem


Kontrak Kerja di RS Puri Indah
inShare
Share
Tanggal 8 Desember 2012 telah diadakan diskusi yang dihadiri oleh mahasiswa Kedokteran
dan mahasiswa S2 IKM FK UGM dengan pembicara dr.Mus Aida.,MARS yang merupakan
direktur pelayanan medik RS Puri Indah Jakarta. Dalam pemaparannya membahas mengenai
bagaimana perilaku dokter dan dokter spesialis di RS dan sistem kontrak kerja di RS Puri
Indah.
Di awal pemaparan, dr.Mus Aida.,MARS menjelaskan bahwa rumah sakit harus
mempunyai good governanceyang didalamnya terdapat hospital bylaws yang terdiri
dari corporate bylaws dan medical staff bylaws. Peraturan internal staf medis (medical staff
bylaws) adalah aturan yang mengatur tata kelola klinis (clinical governance) untuk menjaga
profesionalisme staf medis di rumah sakit. Dulu, pembuatan medical staff bylaws dilakukan oleh
Komite medik yang nantinya akan diperlihatkan ke Direktur RS untuk meminta persetujuan.
Namun sekarang sudah tidak lagi semenjak lahirnya permenkes RI No 755/Menke/PER/IV/2011
tentang penyelenggaraan komite medik di rumah sakit. Dengan adanya permenkes tersebut
maka komite medik berada dibawah Direktur RS sehingga direktur RS memiliki kewenangan
penuh terhadap dokter.
Dalam melakukan pelayanan medis, setiap staf medis mendapatkan penugasan klinis dari
direktur RS berupa pemberian kewenangan klinis (clinical privilege) melalui penerbitan surat
penugasan klinis (clinical appointment) yang mana sebelumnya telah mendapat rekomendasi
dari komite medik (dilakukan kredensial). Namun dalam keadaan darurat, direktur RS dapat
memberikan surat penugasan klinis tanpa rekomendasi komite medik.
Di RSPI sedang proses akan dilakukan performance service evaluation yaitu bukan
mengevaluasi dokternya melainkan mengevaluasi prakteknya sebagai seorang profesional di
rumah sakit yang dilakukan tiap setahun sekali. Namun apabila sebelum 1 tahun sudah
terindikasi ada hal-hal yang merugikan pasien maka akan di evaluasi.
Dalam sistem kontrak di RSPI, dokter diperlakukan sebagai mitra RS dengan masa kontrak
satu tahun. Namun diputuskan mulai tahun 2013, masa kontrak menjadi setiap tiga tahun.
Untuk batas usia berpraktik pada umur 60 tahun yang dapat diperpanjang sampai dengan 65
tahun namun dengan perubahan status menjadi paruh waktu. Sedangkan untuk tarif dokter di
RSPI, diberikan sesuai dengan mutu yang dokter berikan kepada pasien. Seperti contoh ada
dokter yang hanya mau menerima 10 pasien karena dokter akan memberikan penjelasan
selama 30 menit kepada setiap pasiennya. Sehingga tarif tiap pasien cukup tinggi namun hal
tersebut tidak menjadi masalah bagi pasien karena harga dan mutu yang diberikan dokter
sebanding.
Dokter dengan gelar MARS dari Universitas Indonesia ini berpesan agar tidak hanya suatu RS
perlu mencari dokter yang telah memiliki nama namun yang terpenting adalah buatlah pasien
datang ke RS karena RS tersebut bagus dengan menunjukkan pada pasien bahwa pasien akan
mendapatkan jaminan rasa aman dan nyaman. Salah satu cara yang dapat ditunjukkan agar
pasien merasa aman dan nyaman misalnya dokter mempraktekan mencuci tangan dihadapan
pasien. Sehingga pasien sadar akan pentingnya mencuci tangan dan pasien percaya bahwa
dokter dan perawat melakukan menjaga keselamatan pasien.
Dalam pembicaraan terakhir, dr.Mus Aida.,MARS yang juga pernah bekerja di RSPAD berharap
agar dokter & dokter spesialis bisa memperhatikan visi, misi, nilai-nilai dan moto RS dalam
bekerja, mematuhi PKS-Kemitraan RS-Dokter, mematuhi medical staff bylaws, tata kelola klinis,
SPM, Standar Akreditasi yang telah ditempuh oleh RS, menjunjung tinggi kode etik kedokteran
dan yang paling diharapkan adalah dapat berperan serta dalam kegiatan RS. (NAS)