Anda di halaman 1dari 2

Otopsi dalam perspektif islam

Perkembangan iptek telah mengantarkan umat manusia untuk menelaah lebih lanjut akan
kepentingan dan kemaslahatan. Di dalam hukum islam yang mengikuti perkembangan zaman ,
termasuk otopsi yang bertujuan untuk :
1. Mengetahui sebab sebab kematian yang tidak wajar
2. Mengetahui bagain bagian tubuh yang terluka
3. Sebagai alat bukti dalam persidangan di pengadilan
Disisi lain bahwa di dalam islammenghormati orang yang telah meninggal yang merupakan fardhu
kifayah dalam bentuk :
1. Memandikan
2. Mengkafani
3. Mensholati
4. Menguburkan
Dan islam melarang merusak tubuh mayat yang hukumnya sama seperti merusak orang masih hidup
(al isra : 7). Maka di dalam islam dalam 2 hal yang berbeda ini berperanlah hukum hukum islam
berdasarkan sunah rosul dan ijtihad dimana seorang wanita yang hamil ia meninggal dunia,
sedangkan dalam rahim masih terdapat janin maka berlakulah hukum kaidah fikih antara lain :
1. Imam hambali : membolehkan bedah mayat kecuali janin meninggal
2. Imam syafii : membolehkan bahkan tidak aja janin kalau di traktus digestivus terdapat
barang berharga milik sendiri atau orang lain
3. Imam Maliki : tidak perlu di otopsi kalau sekedar ada janin kecuali ada barang berharga
untuk dirinya sendiri dan orang lain
4. Imam hanafi : wajib dilakukan otopsi untuk menyelamatkan janin.
Begitu juga dalam otopsi di dalam kaidah islam tidak saja membolehkan tetapi ada kaidah kaidah
tersendiri. Yang membolehkan atas dasar
1. Kemudharotan yang khusus boleh dilakukan demi menolak kemudharotan yang bersifat
umum. Karena memiliki faktor klinis dan
2. Luka
3. Proses di pengadilan
Kaidah dalam islam yang diperbolehkan :
1. Sebuah tindakan pembunuhan adalah tindakan pidana yang mengancam kepentingan
umum, dan menyelamatkan masyarakat dari rangkaian tindakan pembunuhan maka
terhadap pelaku pembunuhan harus diadili dan dihukum walau untuk pembuktian itu harus
dilakukan otopsi.
2. Kemudharotan membolehkan hal terlarang
3. Tidak ada keharoman dalam kondisi darurat.
4. Tidak ada makruh dalam kondisi hajad / membutuhkan.
a. Maka MUI mengatakan orang yang hamil karena diperkosa boleh di gugurkan.
5. Keperluan dapat menduduki posisi dharurat.
Dengan pengertian lain otopsi dengan metode pembantu mengngkapkan kematian yang di duga
karena tidakan pidana dapat dipahami dan didengarkan sebagai hal yang bersifat dharurat, yang
artinya sebagai satu satunya alat bukti di dalam pengadilan maka hukumnya boleh dilakukan.
Untuk menyelamatkan janin untuk menyelamatkan barang yang berharga untuk kepentingan lain.
Bebrapa filosof islam imam al ghozali, imam nawawi meberikan tanggapan
1. Mempelajari ilmu kedokteran adalah fardhu kifayah karena rosul mngenjurkan untuk
berobat bila sakit dan pada ahlinya. Sehingga termasuk kebolehan di dalam otopsi. Dalam
kedokteran tidak mungkin dihindari dari penelitian organ tubuh manusia yang menunjang
tugas keprofesionalismenya.
Apabila kewajiban tidak dilaksanakan karena suatu hal maka hal tersebut adalah wajib.
Sebuah sarana sama hukumnya dengan tujuan. Islam mewajibkan umatnya untuk melakukan
penelitian di berbagai bidang termasuk kesehatan sehingga wajib pula menyiapkan semua sarana
dan prasarana penelitian tersebut termasuk otopsi.