Anda di halaman 1dari 16

TUGAS MAKALAH

TEKNOLOGI BUDIDAYA TANAMAN KELAPA DAN KELAPA SAWIT



SEJARAH DAN BUDIDAYA TANAMAN KELAPA
(Cocos nucifera L.)


OLEH :
ADI SUCANDRA
0906114635
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS RIAU
2012

DAFTAR ISI


I. PENDAHULUAN
II. SEJARAH KELAPA
III. JENIS ATAU VARIETAS KELAPA
IV. SYARAT PERTUMBUHAN
3.I. Pengolahan lahan
3.2.Pembibitan
3.3.Penanaman
3.4.Pemupukan
V. PENGENDALIAN HAMA PENYAKIT
VI. PEMANENAN
VII. PASCA PANEN
VIII. PEMASARAN
DAFTAR PUSTAKA





BAB I
PENDAHULUAN
Menurunnya minat petani untuk membudidayakan komoditi kelapa sebenarnya
merugikan secara nasional, karena tanaman kelapa mempunyai kesesuaian syarat tumbuh hampir
di seluruh wilayah Indonesia. PT. Natural Nusantara berupaya memberikan pedoman teknis
budidaya kelapa dengan aspek K- 3 yaitu kuantitas, kualitas dan kelestarian lingkungan ,
sehingga mampu meningkatkan taraf penghasilan petani.

Klasifikasi Kelapa :
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub Kelas : Arecidae
Ordo : Arecales
Famili : Arecaceae (suku pinang-pinangan)
Genus : Cocos
Spesies : Cocos nucifera L.



BAB II
SEJARAH KELAPA

Kelapa (Cocos nucifera) adalah anggota penting dari keluarga Arecaceae (keluarga
kelapa sawit) ,palm. Ini adalah spesies diterima hanya dalam genus Cocos, dan merupakan sawit
besar, tumbuh hingga 30 m, dengan daun menyirip 4-6 m panjang, dan pinnae 60-90 cm; daun
tua melepaskan diri bersih, meninggalkan bagasi halus. Istilah kelapa bisa merujuk ke seluruh
kelapa sawit, benih, atau buah, yang bukan kacang botani. sebuah ejaan kelapa merupakan
bentuk kuno dari kata tersebut.
Kelapa ditanam di seluruh daerah tropis untuk dekorasi, serta untuk berbagai keperluan
yang kuliner dan non-kuliner; hampir setiap bagian dari kelapa sawit dapat dimanfaatkan oleh
manusia dalam beberapa cara. Dalam iklim dingin (tetapi tidak kurang dari USDA Zone 9),
sebuah kelapa yang sama, telapak ratu (Syagrus romanzoffiana), buah nya sangat mirip dengan
kelapa, namun jauh lebih kecil. Telapak ratu awalnya diklasifikasikan dalam genus Cocos
bersama dengan kelapa, namun kemudian dipindahkan di Syagrus. Sebuah sawit baru-baru ini
ditemukan, alfredii Beccariophoenix dari Madagaskar, hampir identik dengan kelapa, dan lebih
dari telapak ratu. Hal ini dingin-hardy, dan menghasilkan lookalike kelapa di daerah dingin. [4]
kelapa itu telah menyebar di banyak daerah di daerah tropis, mungkin dibantu dalam
banyak kasus oleh pelayaran orang. buah kelapa di alam liar ringan, ringan dan sangat tahan air,
dan berevolusi untuk membubarkan jarak yang signifikan melalui arus laut [5] Buah.
dikumpulkan dari laut sampai utara Norwegia yang layak. [rujukan?] Di Kepulauan Hawaii,
yang kelapa dianggap [oleh siapa?] sebagai pengantar Polinesia, pertama dibawa ke kepulauan
oleh pelayar Polinesia awal dari kampung halaman mereka di Oseania. Mereka sekarang hampir
di mana-mana antara 26 N dan 26 S kecuali untuk interior Afrika dan Amerika Selatan.
Bunga dari kelapa polygamomonoecious, dengan baik laki-laki dan perempuan bunga di
perbungaan yang sama. Pembungaan terjadi terus menerus. Kelapa telapak diyakini sebagian
besar penyerbukan silang, meskipun ada beberapa varietas kerdil diri penyerbukan. Daging
kelapa ini mempunyai istilah endosperma , terletak pada permukaan dalam . Di dalam lapisan
endosperma kelapa berisi cairan bening yang dapat dimakan yang manis, asin, atau keduanya.
Negara bagian India didaerahKerala dikenal sebagai
Tanah kelapa. Nama berasal dari Kera (pohon kelapa)
dan Alam tempat ( atau bumi). Kerala memiliki
pantai dibatasi oleh pohon kelapa, jaringan padat dari air,
diapit oleh kebun kelapa hijau dan dibudidayakan ladang.
Kelapa merupakan bagian dari makanan sehari-hari, minyak
yang dihasilkan digunakan untuk memasak, sabut
digunakan untuk furnishing, dekorasi, dll
Kelapa menerima nama dari penjelajah Portugis,
para pelaut dari Vasco da Gama di India, yang pertama kali
membawa mereka ke Eropa. Permukaan berbulu coklat dan
kelapa mengingatkan mereka dari hantu atau penyihir yang disebut Coco. [6] Sebelum itu
disebut indica nux, nama yang diberikan oleh Marco Polo pada 1280, sementara di Sumatera,
diambil dari orang-orang Arab yang menyebutnya jawz Hindi . Kedua nama
menerjemahkan untuk kacang India. Ketika kelapa tiba di Inggris, mereka mempertahankan
nama coco dan kacang telah ditambahkan.







BAB III
JENIS ATAU VARIETAS KELAPA
Kelapa (Cocos nucifera) termasuk family palmae dibagi tiga: Kelapa dalam dengan varietas
Viridia (kelapa hijau), Rubescens (kelapa merah), Macrocorpu (kelapa kelabu), Sakarina (kelapa
manis) dan kelapa Genjah dengan varietas Eburnea (kelapa gading), Varietas regina (kelapa
raja), Pumila (kelapa puyuh), Pretiosa (kelapa raja malabar), dan Kelapa hibrida.
A. Varietas dalam
Varietas ini berbatang tinggi dan besar, tingginya mencapai 30 meter atau lebih. Kelapa
dalam mulai berbuah agak lambat,yaitu antara 6-8 tahun setelah tanam dan umurnya
dapat mencapai 100 tahun lebih.Adapun keunggulan dar varietas ini yaitu:
-Produksi kopra lebih tiggi, yaitu sekitar 1 ton kopra/ha/tahun pada umur 10 tahun.
-Produktivitas sekitar 90 butir/pohon/tahun.
-Daging buah tebal dan keras dengan kadar minyak yang tinggi.
-Lebih tahan terhadap hama dan penyakit.
B. Varietas Hibrida
Kelapa varietas hibrida diperoleh dari hasil persilangan antara varietas genjah dengan
varietas dalam.Hasil persilangan itu merupakan kombinasi sifat-sifat yang baik dari kedua jenis
varietas asalnya.
Kelapa genjah mempunyai kelemahan antara lain:
a. Peka terhadap keadaan lingkungan yang kurang baik.
b. Berbuah lebat tetapi mudah dipengaruhi fluktuasi iklim.
c. Ukuran buah relatif kecil, kadar kopranya rendah yakni hanya sekitar 130 gram perbuah,
dan kadar minyaknya 65 % dari bobot kering daging buah.
Sifat-sifat unggul yang dimiliki oleh kelapa hibrida adalah:
- Lebih cepat berbuah, sekitar 3-4 tahun setelah tanam.
- Produk kopra tinggi, sekitar 6-7 ton /Ha/tahun pada umur 10 tahun.
- Produktivitas sekitar 140 butir/ pohom/ tahun.
- Daging tebal, keras dan kandungan minyaknya tinggi.
- Produktivitas tandan buah sekitar 12 tandan dan berisi sekitar 10-20 butir buah kelapa,
daging buahnya mempunyai ketebalan sekitar 1,5 centi meter.













BAB IV
SYARAT PERTUMBUHAN

- Tanah yang ideal untuk penanaman kelapa adalah tanah berpasir , berabu gunung, dan tanah
berliat. dengan pH tanah 5,2 hingga 8 dan mempunyai struktur remah sehingga perakaran dapat
berkembang dengan baik.
- Sinar matahari banyak minimal 120 jam perbulan , jika kurang dari itu produksi buah akan
rendah.
- Suhu yang paling cocok adalah 27C dengan variasi rata-rata 5-7 C, suhu kurang dari 20 C
tanaman kurang produktif.
- Curah hujan yang baik 1300-2300 mm/th. Kekeringan panjang menyebabkan produksi
berkurang 50% , sedangkan kelembapan tinggi menyebabkan serangan penyakit jamur.
- Angin yang terlalu kencang terkadang merugikan tanaman yang terlalu tinggi terutama varietas
dalam.

3.1. PENGOLAHAN LAHAN
Pengolahan tanah yang diperlukan adalah pembuatan lobang tanam dengan ukuran 0,9m
x 0,9m x 0,9m dengan penambahan pupuk kandang dan humus. Jarak tanam yang baik untuk
jenis dalam yaitu 9 x 10 m dan jenis genjah 6 x 6 m.
3.2. PEMBIBITAN
- Pilih buah yang bagus dan tua, rendam dengan larutan air + HORMONIK dengan dosis 1 tutup
per l0 liter air selama 2 minggu, kemudian semaikan bibit di bedengan dan kedalaman sama
dengan buah kelapa , timbun buah kelapa dengan letak horizontal dengan tebal timbunan 2/3
buah. Jarak antar bibit 25cm x 25 cm dan bibit akan berkecambah setelah 12-16 minggu, jika
lebih dari 5 bulan tidak berkecambah dianggap mati/ bibit jelek. Rawat bibit di bedengan hingga
umur 30 minggu atau berdaun 3 lembar. Lakukan penyiraman bila tanah kurang air.
- Bibit dipelihara dengan pemberian pupuk POC NASA hingga umur bibit kurang lebih 9 bulan
dengan dosis 1-2 cc/lt air perbibit disiramkan 1-2 minggu sekali. Jangan mengabaikan tindakan
preventif perlindungan tanaman dari gangguan ternak atau dengan memasang pagar kayu.
Lakukan pemupukan sesuai dengan rekomendasi atau dengan mengacu pada tabel pemupukan
berikut :
Umur
Bibit
(bulan)
Kebutuhan Pupuk (gr/tanman)
N
(Urea/ZA)
P (TSP)
K
(KCl/MOP)
Mg (Kies)
1 5/10 50 75 100
2 5/10 75 125 150
3 5/10 100 150 200
4 10/15 200 400 400
5 10/15 300 600 500
6 10/15 400 800 750
7 15/20 500 1000 1000
8 15/20 600 1250 2000
9 15/20 700 1500 2500
2 minggu sebelum pupuk lain dan dicampur rata dengan tanah.Tetapi akan lebih baik pembibitan
diselingi / ditambah Pospat diberikan SUPERNASA 1-2 kali selang waktu 3-4 bulan sekali
dengan dosis 1 botol untuk 400 bibit. 1 botol SUPERNASA diencerkan dalam 4 liter (4000 ml)
air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 1 liter air diberi 10 ml larutan induk tadi untuk
penyiraman setiap bibit.
3.3. PENANAMAN
Umur Tanaman
Dosis Pupuk (gr/pokok)
Urea (TSP) RP KCl Kies Borak
Saat tanam - - - - - -
1 bln setelah tanam 100 100 100 100 100 100
2 tahun

- apl I 200 200 200 200 200 200
- apl II 200 200 200 200 200 200
3 tahun

- apl I 350 350 350 350 350 350
- apl II 350 350 350 350 350 350
4 tahun

- apl I 500 500 500 500 500 500
- apl II 500 500 500 500 500 500
5 tahun

- apl I 500 500 500 500 500 500
- apl II 500 500 500 500 500 500

3.4. PEMUPUKAN
Pemupukan dilakukan apabila tanah tidak dapay memenuhi unsur hara yang dibutuhkan.
Pemberian pupuk pertama sebaiknya pada awal musim hujan (September - Oktober) dan kedua
di akhir musim hujan (Maret - April).
Adapun cara pemberian pupuk:
a. Menyebar dalam lingkaran mengelilingi tanaman.
b. Pupuk N, K, Mg diberikan bersamaan sedangkan pupuk P 2 minggu sebelumnya.
c. Sebelumnya pupuk nitrogen diberikan, Tanah digemburkan untuk menghindari
pencampuran dengan pupuk phosfat karena dapat merugikan. Pada tanaman belum
menghasilkan disebarkan 30 cm dari pangkal batang sampai pinggir tajuk.
d. Menutup dengan tanah daerah penyebaran pupuk.

Dosis pupuk tanaman kelapa sesuai umur tanaman (gram/pohon).
a. Saat tanam RP= 100 GRAM/POHON.
b. Satu bulan setelah tanam: Urea = 100 gr/pohon, TSP = 100 gr/pohon, KCL = 100
gr/pohon, Kieserite = 10 gr/pohon.
c. Tahun Pertama
Aplikasi 1: Urea = 200 gr/pohon, KCL = 300 gr/pohon, Kieserite 100 gr/pohon.
Aplikasi 2 : Urea = 200 gr/pohon,TSP = 259 gr/pohon, KCL = 300 gr/pohon, Kieserite =
100 gr/pohon, Borax 25 gr/pohon.
d. Tahun Kedua
- Aplikasi 1 : Urea = 350 gr/pohon, KCL = 450 gr/pohon, Kieserite 150 gr/pohon.
- Aplikasi 2 : Urea = 350 gr/pohon, TSP = 600 gr/pohon, KCL = 450 gr/pohon, Kieserite =
150 gr/ pohon dan borax = 25 gr/pohon.
e. Tahun Ketiga
- Aplikasi 1 : Urea = 500 gr/pohon, KCL = 600 gr/pohon, Kieserite = 200 gg/pohon.
- Aplikasi 2 : Urea = 500 gr/pohon, TSP = 800 gr/pohon, KCL = 600 gr/pohon dan Kieserite
= 200 gr/pohon.
f. Tahun Keempat
- Aplikasi 1 : Urea = 500 gr/pohon,KCL = 600 gr/pohon, Kieserite = 200 gr/pohon.
- Aplikasi 2 : Urea = 500 gr/pohon, Tsp = 800 gr/pohon, KCL = 600 gr/pohon dan Kieserite
= 200 gr/pohon.
















BAB V
PENGENDALIAN HAMA PENYAKIT

1. Golongan Coleoptera
Hama golongan ini yang paling banyak menyerang adalah Oryctes rhinoceros . Cara
mengendalikan dengan membuat trap/ jebakan berupa kotak-kotak yang diisi sampah dan secara
preventif dikendalikan dengan pemberian Natural BVR atau jika sudah menjadi uret dengan
PESTONA, atau dengan menggunakan musuh alaminya yaitu tikus, tupai, ayam , bebek , dan
burung hantu.
2. Golongan Lepidoptera
Species yang sering menyerang adalah Tiratabha rufivena yang larvarnya memakan
bunga kelapa, dan Acritocera negligens yang mengebor tangkai bunga yang belum membuka dan
memakan isinya. Pengendaliannya dengan menggunakan PENTANA + AERO 810 ataupun
Natural BVR sifatnya yang cepat berpindah maka pengendaliannya harus secara merata untuk
pencegahan.
3. Golongan Hemiptera
Jenis yang menghisap cairan daun sehingga daun mati adalah jenis homoptera (Gareng
pong= Jawa). Jenis lain yang menghisap cairan buah adalah Heteroptera, sehingga buah menjadi
rontok sebelum matang. Pencegahan dengan PENTANA+AERO 810 dan PESTONA secara
bergantian.
4. Penyakit yang juga mungkin menyerang adalah:
Busuk tunas atau pucuk yang disebabkan oleh jamur Phytophthora palmivora dan
penyakit Lingkar merah pada daun yang disebabkan cacing / belut tanah Rhadinaphelencus
cocophilus. Kedua macam penyakit ini hanya dengan eradikasi atau pemusnahan tanaman yang
terkena serangan.

Catatan :
Jika pengendalian hama dan penyakit dengan pestisida alami belum mengatasi, sebagai
alternative terakhir bisa digunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan lebih
merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata Pembasah AERO 810
dosis 0,5 tutup botol per tangki.
BAB VI
PEMANENAN

- Untuk kelapa jenis dalam, umur berbuah setelah 8-10 tahun, dan umur bisa mencapai 60 - 100
tahun dengan produksi yang diharapkan adalah kopra. Untuk kelapa jenis genjah berbuah setelah
umur 3 - 4 tahun dan berbuah maksimal pada saat umur 9 - 10 tahun, dan bisa mencapai umur 30
- 40 tahun kurang bagus untuk kopra karena daging buahnya yang lunak.
- Panen buah kelapa dilakukan menurut kebutuhannya. Jika kelapa yang diinginkan dalam
keadaan kelapa masih muda kira-kira umur buah 7 -8 bulan dari bunganya. Jika ingin mengambil
buah tua untuk santan atau kopra dipanen di saat umur sudah mencapai 12-14 bulan dari
berbunga atau jika sudah tidak lagi terdengar suara air di dalam buahnya.




















BAB VII
PASCA PENEN

Pengolahan buah kelapa yang tua pada akhir-akhir ini mulai mengarah pada pemanfaatan
minyak kelapa murni atau virgin coconut oil yang mampu meningkatkan nilai jual dari produk
kelapa, ataupun masih dalam bentuk nira ( legen =Jawa) untuk keperluan industri gula kelapa,
nata de coco, asam cuka, produk minuman dan substrat,serta alkohol yang juga mampu
meningkatkan nilai jual dari produk kelapa.
- Gula kelapa :
kandungan sukrosa yang dominan di antara kandungan bahan kimia non air lainnya
menjadikan nira sebagai sumber gula yang sangat potensil.
- Nata de coco :
Adalah bahan olahan nira kelapa berbentuk gel, tekstur kenyal seperti kolang kaling,
yang proses fermentasinya dibantu oleh mikrorganisme Acetobacter xylium.
- Asam cuka :
dikenal sebagai penegas rasa, warna dan juga sebagai bahan pengawet karena membatasi
pertumbuhan bakteri.
- Produk minuman:
Dapat dibuat minuman segar non alcohol maupun alkohol dalam kadar rendah(tuak)
ataupun dalam kadar tinggi (arak).
- Substrat :
Yaitu bahan nutrient yang dipergunakan untuk menumbuhkan mikroba. Substrat ini
sangat diperlukan bagi pekerjaan di lab bioteknologi.








BAB VIII
PEMASARAN

Daging buah adalah komponen utama dari buah kelapa. Sedangkan sabut,Tempurung dan
air buah merupakan hasil sampingan.Dengan produksi buah kelapa di Indonesia rata-rata 15,5
milyar butir/tahun,Kemudian bahan ikutan yang dapat diperoleh 3,75 ton air,0,75 ton arang
tempurung, 1,8 juta ton serat sabut dan 3,3 juta ton debu sabut sebagai hasil samping.Kelayakan
usaha pengolahan hasil samping buah kelapa sangat menjanjikan bila direncanakan dan dikelola
dengan baik.
Bahkan produk hasil olahan kelapa yang baik digunakan untuk kepentingan ekspor.
Produk-produk tradisional yang di ekspor diantaranya kopra (daging kelapa yang
dikeringkan),Minyak kelapa (VCO),Kelapa awetan,Tepung kopra, Karbon aktif dan arang
tempurung kelapa.Kemudian adapun produk-produk yang diperuntukan bagi pasaran lokal antara
lain adalah kopra, VCO (Virgin Coconut Oil), Tuak kelapa,Kelapa kupas utuh, Kayu kelapa,
Arang batok kelapa, Sabut kelapa, Sapu, Ukiran kelapa dan kerajinan lainnya.Sedangkan produk
makanan berbasis kelapa seperti selai kelapa, Nata De Coco,dan Jus kelapa yang apabila
semuanya itu dipasarkan akan mempunyai nilai tambah dan harga jual yang tinggi.Kemudian
sangat menjanjikan sekali apabila di usahakan secara besar-besaran untuk aspek kedepannya.









DAFTAR PUSTAKA

Allorerung, D. 1997. Beberapa hasil penelitian dan rekomendasi teknologi kelapa. Makalah
Seminar Hasil Penelitian, tanggal 16 Agustus 1997 di Hotel Kawanua Sahid, Manado.
Allorerung, D. 1999. Pengembangan perkelapaan nasional memasuki era globalisasi. Makalah
Seminar dan Pameran Mini Produk- Produk Olahan Kelapa dalam Rangka Coconut Day,
Yogyakarta, 7 September 1999. 18 p.
Barri dan L. Abner, 2002. Petunjuk teknis budidaya tanaman kelapa Dalam (cocos nusifera).
Balai Penelitian Tanaman Kelapa dan Palma Lain. Cetakan ketiga 2002.
Allorerung, D. dan Z. Mahmud, 1993. Budidaya kelapa sistem pagar. Buletin Balitka No. 20.
Arancon, R.N., 2001. Research Output and farmers Adoption of Teknology on Coco-nut Based
Farming Systems : The Philippine Experience, Proceeding of the XXXVIII COCOTECH
Meeting 17-21 July 2001, Ho Chi Minh City, Vietnam p.35-50.
Barri, N., R.B. Maliangkay dan D. Allorerung, 2001. Teknologi peremajaan kelapa berwawasan
pertanaman campuran. Makalah disampaikan pada temu APT di Desa Kinali Kawangkoan-
Minahasa, 25-27 Juli 2001.
Darmaskoro, A. Purba, dan L.A. Napitupulu, 1993. Pengaruh Pemupukan dan Kerapatan Kelapa
Terhadap Produksi Tumpangsari Kelapa-Kalao. Makalah KNK III, Yogyakarta.
Davis, T.A. dan Sudarsip H. 1978. Methods of Rejuvenation and replanting of coconut standar in
Indonesia.
Fachry, H., 1997. Pengalaman, Peluang dan Permasalahan Agribisnis Kelapa Menghadapi Era
Globalisasi Perdagangan Dunia.
Kaat, H., R.B. Maliangkay dan R. Tumewu, 1996. Hubungan pengurangan biomassa panjang
rachis daun dengan produksi kelapa. Laporan Penelitian.
Kasryno, F., Z. Mahmud dan P. Wahid, 1998. Sistem usahatani berbasis kelapa dalam
modernisasi Usaha Pertanian Berbasis Kelapa. Prosiding Konfrensi Nasional Kelapa III, Bandar
Lampung 21-23 April 1998 : pp.57-76.
Magat, S.S., 1999a. Production Management of coconut. Agricultural Research and
Development Branch. Philippine Coconut Authority 67 p.