Anda di halaman 1dari 31

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan pendidikan formal di negara kita
dipengaruhi oleh banyak hal, diantaranya perubahan kurikulum
dan perubahan peraturan perundang-undangan. Perubahan-
perubahan itu berdampak pula pada layanan bimbingan dan
konseling dalam jalur pendidikan formal.
Berbagai peraturan dan perundang-undangan yang berlaku
saat ini (diantaranya, UU sistem pendidikan nasional No 20/2003,
Permendiknas No 23/2006, dan lain-lain) telah dikaji sedemikian
rupa dalam rangka menjawab perkembangan pendidikan dan
melakukan penataan konselor sebagai profesi dan layanan
bimbingan dan konseling dalam jalur pendidikan formal. Dari
hasil kajian tersebut semakin mengukuhkan bahwa sejatinya
layanan bimbingan dan konseling dilakukan oleh tenaga ahli yang
disebut sebagai konselor.
Secara yuridis keberadaan konselor dalam sistem
pendidikan nasional sebagai salah satu kualifikasi pendidik, sejajar
dengan kualifikasi guru, dosen, pamong, dan tutor sebagaimana
disebutkan dalam pasal 1 (6) UU No 20/2003 tentang sistem
pendidikan nasional. Dalam undang-undang tersebut menunjukkan
adanya pengakuan eksplisit kesejajaran antara setiap kualifikasi
tenaga pendidik. Mengandung arti bahwa setiap tenaga pendidik,
2
termasuk konselor, memiliki keunikan konteks tugas,
ekspektasikinerja, dan seting layanan (Ditjen Dikti, 2007).
Dari setiap isi dan penjelasan peraturan dan perundang-
undangan yang berlaku itu tidak menjelaskan secara jelas dan
tegas tentang keunikan konteks tugas, ekspektasi kinerja, dan
seting layanan konselor dalam jalur pendidikan formal. Padahal
konselor itu berbeda dengan tenaga pendidik lainnya. Kontek
tugas dan ekspektasi kinerja konselor tidak menggunakan materi
pembelajaran sebagai konteks layanan sehingga sebagai konteks
layanan merupakan sosok layanan ahli yang unik (Ditjen Dikti,
2007).
Sementara itu dalam Permendiknas nomor 22/2006 tentang
standar isi pendidikan ditemukan adanya komponen
pengembangan diri dan itu dikaitkan dengan konseling. Itu bisa
ditafsirkan bahwa konselor harus menyampaikan materi
pengembangan diri melalui layanan bimbingan konseling serta
dipertanggung jawabkan melalui penilaian pada tiap akhir
penyampaian kegiatan, sehingga berdampak menyamakan
ekspektasi konselor dengan ekspektasi kinerja guru yang
menggunakan materi pembelajaran sebagai konteks layanan.
sehingga menuntut konselor untuk melakukan tugas-tugas dengan
pendekatan dan cara seperti yang dilakukan guru, padahal basis
kinerja guru adalah pembelajaran bidang studi.
Dari kondisi peraturan dan perundang-undangan itu,
memunculkan pula persoalan lain yaitu rentan munculnya
perantugas yang tumpang tindih antara guru, konselor dan ahli
3
lainnya, misalnya psikologi sekolah dan ahli pendidikan
kebutuhan khusus. Hal tersebut akan berdampak pada saling
mencederai antar profesi.
Untuk itulah perlu adanya penataan yang lebih jelas
bimbingan dan konseling sebagai layanan yang unik dalam seting
pendidikan dan konselor sebagai profesi. Penataan ini pun perlu
dilakukan secara menyeluruh tidak hanya menyentuh persoalan
bimbingan dan konseling pada satuan pendidikan dasar, tapi
menyentuh setiap jenjang, satuan, dan jalur pendidikan. Bahkan
perlu ada penataan pada LPTK yang menyelenggarakan jurusan
atau program psikologi pendidikan dan bimbingan.
Penataan tersebut jika dikelompokkan maka akan meliputi
setting, wilayah layanan, konteks tugas, dan ekspektasi kinerja
konselor.
B. Rumusan masalah
1. Apa saja tiga wilayah pendidikan dalam jalur formal ?
2. Apa pengertian Bimbingan Konseling?
3. Apa dasar Bimbingan Konseling di sekolah?
4
BAB II
PEMBAHASAN
A. Tiga Wilayah Pendidikan dalam Jalur Formal
1. Bimbingan dan Konseling di Sekolah Dasar
Sekolah dasar bertanggung jawab memberikan
pengalaman-pengalaman dasar kepada anak,yaitu kemampuan
dan kecakapan membaca,menulis dan berhitung,pengetahuan
umum serta perkembangan kepribadian, yaitu sikap terbuka
terhadap orang lain, penuh inisiatif, kreatifitas, dan
kepemimpinan, ketrampilan serta sikap bertanggung jawab,
guru sekolah dasar memegang peranan dan memikul tanggung
jawab untuk memahami anak dan membantu perkembangan
sosial pribadi anak.
Bimbingan itu sendiri dapat diartikan suatu bagian integral
dalam keseluruhan program pendidikan yang mempunyai fungsi
positif, bukan hanya suatu kekuatan kolektif. Proses yang
terpenting dalam pentingnya bimbingan adalah proses
penemuan diri sendiri. Hal tersebut akan membantu anak
mengadakan penyesuaian terhadap situasi baru,
mengembangkan kemampuan anak untuk memahami diri
sendiri dan menerapkannya dalam situasi mendatang.
Bimbingan bukan lagi suatu tindakan yang bersifat hanya
mengatasi setiap krisis yang dihadapi oleh anak,tetapi juga
merupakan suatu pemikiran tentang perkembangan anak
5
sebagai pribadi dengan segala kebutuhan,minat dan kemampuan
yang harus berkembang.
1. Tindakan Preventif di Sekolah Dasar
Tuntutan untuk mengadakan identifikasi secara
awal diakui kebenarannya oleh para ahli bimbingan
karena:
a. Kepribadian anak masih luwes,belum menemukan
banyak masalah hidup,mudah terbentuk dan masih
akan banyak mengalami perkembangan.
b. Orang tua murid sering berhubungan dengan guru
dan mudah dibentuk hubungan tersebut,orang tua
juga aktif dalam pendidikan anaknya disekolah.
c. Masa depan anak masih terbuka sehingga dapat
belajar mengenali diri sendiri dan dapat menghadapi
suatu masalah dikemudian hari.
Bimbingan tidak hanya pada anak yang
bermasalah melainkan pada bimbingan dewasa ini
yaitu menyediakan suasana atau situasi perkembangan
yang baik,sehingga setiap anak di sekolah dapat
terdorong semangat belajarnya dan dapat
mengembangkan pribadinya sebaik mungkin dan
terhindar dari praktik-praktik yang merusak
perkembangan anak itu sendiri.
6
2. Kesiapan di Sekolah Dasar
Konsep psikologi belajar mengenai kesiapan
belajar menunjukan bahwa hambatan pendidikan dapat
timbul jika kurikulum diberikan kepada anak terlalu
cepat atau terlalu lambat,untuk menghadapi perubahan
dan perkembangan pendidikan yang terus menerus
perlu adanya penyuluhan untuk menumbahkan
motivasi dan menciptakan situasi belajar dengan baik
sehingga diperoleh kreatifitas dan kepemimpinan yang
positif pada aktrifitas melalui penyuluhan kepada orang
tua dan murid.
2. Bimbingan Konseling di Sekolah Menengah
Tujuan pendidikan menengah acap kali dibiaskan oleh
pandangan umum; demi mutu keberhasilanakademis seperti
persentase lulusan, tingginya nilai Ujian Nasional, atau
presentase kelanjutan ke perguruan tinggi negeri. Kenyataan ini
sulit dipungkiri, karena secara sekilas tujuan kurikulum
menekankan penyiapan peserta didik (sekolah menengah
umum/SMU) untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih
tinggi atau penyiapan peserta didik (sekolah menengah
kejuruan/SMK) agar sanggup memasuki dunia kerja.
Penyiapan peserta didik demi melanjutkan ke pendidikan
yang lebih tinggi akan selalu memperhatikan sisi materi
pelajaran, agar para lulusannya dapat lolos tes masuk perguruan
7
tinggi. Akibatnya, proses pendidikan di jenjang sekolah
menengah akan kehilangan bobot dalam proses pembentukan
pribadi. Betapa pembentukan pribadi, pendampingan pribadi,
pengasahan nilai-nilai kehidupan (values) dan pemeliharaan
kepribadian siswa (cura personalis) terabaikan. Situasi demikian
diperparah oleh kerancuan peran di setiap sekolah. Peran
konselor dengan lembaga bimbingan konseling (BK) direduksi
sekadar sebagai polisi sekolah. Bimbingan konseling yang
sebenarnya paling potensial menggarap pemeliharaan pribadi-
pribadi, ditempatkan dalam konteks tindakan-tindakan yang
menyangkut disipliner siswa. Memanggil, memarahi,
menghukum adalah proses klasik yang menjadi label BK di
banyak sekolah. Dengan kata lain, BK diposisikan sebagai
musuh bagi siswa bermasalah atau nakal. Merujuk pada
rumusan Winkel untuk menunjukkan hakikat bimbingan
konseling di sekolah yang dapat mendampingi siswa dalam
beberapa hal.
Pertama, dalam perkembangan belajar di sekolah
(perkembangan akademis). Kedua, mengenal diri sendiri dan
mengerti kemungkinan-kemungkinan yang terbuka bagi
mereka, sekarang maupun kelak. Ketiga, menentukan cita-cita
dan tujuan dalam hidupnya, serta menyusun rencana yang tepat
untuk mencapai tujuan-tujuan itu. Keempat, mengatasi masalah
pribadi yang mengganggu belajar di sekolah dan terlalu
mempersukar hubungan dengan orang lain, atau yang
mengaburkan cita-cita hidup.
8
Empat peran di atas dapat efektif, jika BK didukung oleh
mekanisme struktural di suatu sekolah.
Proses cura personalis di sekolah dapat dimulai dengan
menegaskan pemilahan peran yang saling berkomplemen.
Bimbingan konseling dengan para konselornya disandingkan
dengan bagian kesiswaan. Wakil kepala sekolah bagian
kesiswaan dihadirkan untuk mengambil peran disipliner dan
hal-hal yang berkait dengan ketertiban serta penegakan tata
tertib. Siswa mbolosan, berkelahi, pakaian tidak tertib, bukan
lagi konselor yang menegur dan memberi sanksi. Reward dan
punishment, pujian dan hukuman adalah dua hal yang mesti ada
bersama-sama. Pemilahan peran demikian memungkinkan BK
optimal dalam banyak hal yang bersifat reward atau peneguhan.
Jika tidak demikian, BK lebih mudah terjebak dalam tindakan
hukum-menghukum.
Mendesak untuk diwujudkan, prinsip keseimbangan dalam
pendampingan orang-orang muda yang masih dalam tahap
pencarian diri. Orang-orang muda di sekolah menengah
lazimnya dihadapkan pada celaan, cacian, cercaan, dan segala
sumpah-serapah kemarahan jika membuat kekeliruan. Namun,
jika melakukan hal-hal yang positif atau kebaikan, kering
pujian, sanjungan atau peneguhan. Betapa ketimpangan ini
membentuk pribadi-pribadi yang memiliki gambaran diri
negatif belaka. Jika seluruh komponen kependidikan di sekolah
bertindak sebagai yang menghakimi dan memberikan vonis
9
serta hukuman, maka semakin lengkaplah pembentukan
pribadi-pribadi yang tidak seimbang.
BK dapat diposisikan secara tegas untuk mewujudkan
prinsip keseimbangan. Lembaga ini menjadi tempat yang aman
bagi setiap siswa untuk datang membuka diri tanpa waswas
akan privasinya. Di sana menjadi tempat setiap persoalan
diadukan, setiap problem dibantu untuk diuraikan, sekaligus
setiap kebanggaan diri diteguhkan. Bahkan orangtua siswa
dapat mengambil manfaat dari pelayanan bimbingan di sekolah,
sejauh mereka dapat ditolong untuk lebih mengerti akan anak
mereka.
Tantangan pertama untuk memulai suatu proses
pendampingan pribadi yang ideal justru datang dari faktor-
faktor instrinsik sekolah sendiri. Kepala sekolah kurang tahu
apa yang harus mereka perbuat dengan konselor atau guru-guru
BK. Ada kekhawatiran bahwa konselor akan memakan gaji
buta. Akibatnya, konselor mesti disampiri tugas-tugas
mengajar keterampilan, sejarah, jaga kantin, mengurus
perpustakaan, atau jika tidak demikian hitungan honor atau
penggajiannya terus dipersoalkan jumlahnya. Sesama staf
pengajar pun mengirikannya dengan tugas-tugas konselor yang
dianggapnya penganggur terselubung. Padahal, betapa
pendampingan pribadi menuntut proses administratif dalam
penanganannya.
BK yang baru dilirik sebelah mata dalam proses
pendidikan tampak dari ruangan yang disediakan. Bisa dihitung
10
dengan jari, berapa jumlah sekolah yang mampu
menyediakan ruang konseling memadai. Tidak jarang dijumpai,
ruang BK sekadar bagian dari perpustakaan (yang disekat tirai),
atau layaknya ruang sempit di pojok dekat gudang dan toilet.
Betapa mendesak untuk dikedepankan peran BK dengan
mencoba menempatkan kembali pada posisi dan perannya yang
hakiki. Menaruh harapan yang lebih besar pada BK dalam
pendampingan pribadi, sekarang ini begitu mendesak, jika
mengingat kurikulum dan segala orientasinya tetap saja
menjunjung supremasi otak. Untuk memulai mewujudkan
semua itu, butuh perubahan paradigma para kepala sekolah
menengah dan semua pihak yang terlibat didalam proses
kependidikan.
3. Bimbingan Konseling di Perguruan Tinggi
Alasan diperlukannya bimbingan dan konseling
diperguruan tinggi adalah banyaknya problema yang dihadapi
oleh mahasiswa dalam perkembangan studinya, dimana belajar
diperguruan tinggi memiliki karakteristik yang sangat berbeda
dengan belajar di sekolah lanjutan. Karakteristik dari studi di
perguruan tinggi adalah kemandirian, baik dalam pelaksanaan
kegiatan belajar dan pemilihan program studinya maupun dalam
pengelolaan dirinya sebagai mahasiswa. Dalam usaha
merealisasikan dirinya tersebut, perkembangannya tidak selalu
mulus dan lancar, banyak hambatan dan problema yang mereka
hadapi. Untuk mengembangkan diri dan menghindari, serta
11
mengatasi hambatan dan problema tersebut di perlukan
bimbingan.
Di perguruan tinggi layanan bimbingan dilaksanakan oleh
suatu Unit Pelaksana Teknis (UPT) Bimbingan dan Konseling.
Unit ini dibentuk dalam rangka membantu mahasiswa yang
mengalami hambatan/masalah dalam proses studinya, mereka
dapat berkonsultasi untuk memecahkan permasalahannya. Unit
ini juga biasanya melayani layanan konsultasi maupun tes
psikologi bagi pihak luar yang membutuhkan.
Secara garis besar ada 2 problema yang sering di hadapi
oleh mahasiswa yakni problema studi dan problema sosial
pribadi :
1. Problema Studi
Beberapa problem studi yang dihadapi oleh
mahasiswa adalah sebagai berikut :
a) Kesulitan dalam memilih program
studi/konsentrasi/pilihan mata kuliah yang sesuai
dengan kemampuan dan waktu yang tersedia;
b) Kesulitan dalam mengatur waktu belajar;
c) Kesulitan dalam mendapatkan sumber belajar dan
buku-buku sumber;
d) Kesulitan dalam menyusun makalah, laporan dan
tugas akhir;
e) Kesulitan mempelajari buku-buku yang berbahasa
asing;
f) Kurang motivasi dan semangat belajar;
12
g) Kebiasaan belajar yang salah;
h) Rendahnya rasa ingin tahu;
i) Kurang minat terhadap profesi.
2. Problema Sosial Pribadi
a. Kesulitan biaya kuliah;
b. Kesulitan dengan masalah pemondokan;
c. Kesulitan menyesuaiakan diri dengan teman
mahasiswa;
d. Kesulitan menyesuaikan diri dengan masyarakat
sekitar;
e. Kesulitan karena masalah-masalah keluarga;
f. Kesulitan karena masalah pribadi.
3. Fungsi Bimbingan dan Konseling di Perguruan Tinggi
Beberapa fungsi dari bimbingan dan konseling
di perguruan tinggi :
a) Pengenalan dan pemahaman yang lebih mendalam
tentang kondisi, potensi dan karakteristik
mahasiswa;
b) Membantu menyesuaikan diri dengan keidupan di
perguruan tinggi;
Membantu mengatasi problema-problema
akademik dan sosial-pribadi yang berpengaruh
terhadap perkembangan akademik mahasiswa.
13
4. Tujuan Bimbingan dan Konseling di Perguruan Tinggi
a. Mampu sendiri memilih program
studi/kosentrasi/pilihan mata kuliah yang sesuai
dengan bakat, minat dan cita-cita mereka;
b. Mampu menyelesaikan perkuliahan dan tuntutan
perkuliahan tepat pada waktunya;
c. Memperoleh prestasi belajar yang sesuai dengan
kemampuan mereka;
d. Mampu membina hubungan sosial dengan sesama
mahasiswa dan dosen;
e. Memiliki sikap dan kesiapan profesional;
f. Memiliki pandangan yang realistis tentang diri
dan lingkungannya
5. Teknik Bimbingan bagi Mahasiswa
a) Teknik diskusi kelompok yang bersifat orientasi,
mencakup diskusi tentang program studi,
kurikulum, personalia akademis, dan proses
belajar mengajar yang ditetapkan dalam
pelaksanaan program studi;
b) Teknik diskusi kelompok yeng sifatnya bantuan,
mencakup diskusi tentang permasalahan belajar,
sosial dan pribadi;
c) Teknik kegiatan kelompok lain, baik yang bersifat
orientasi maupun bantuan;
14
d) Konseling perorangan untuk menangani masalah-
masalah akademis;
e) Konseling perorangan untuk menangani masalah-
masalah pribadi.
f) Pembahasan kasus, yaitu pembahasan mahasiswa
dan permasalahannya bersama dengan personalia
akademik lain untuk mencari jalan keluar dalam
membantu mahasiswa;
g) Rujukan bagi mahasiswa yang mengalami
kesulitan sosial pribadi yang tidak dapat ditangani
oleh personalia akademis yang ada di fakultas.
Herr, dkk. (1996:294) mengungkapkan hal-hal yang harus
diperhatikan perguruan tinggi dalam rangka mengembangkan
pelayanan bimbingan karir terhadap mahasiswa, yaitu :
1. Komitmen Institusi
Agar mahasiswa memiliki perencanaan yang baik
terhadap karir dan kehidupannya di masa akan datang,
dibutuhkan komitmen/keteguhan hati yang sungguh-
sungguh dari lembaga pendidikan tinggi itu sendiri. Survey
yang dilakukan Reardon, dkk(dalam Herr, dkk. 1996:295)
ditemukan program bimbingan karir yang dibutuhkan
mahasiswa diantaranya berkenaan dengan informasi
pekerjaan, informasi pendidikan yang sedang ditempuh,
informasi pengungkapan diri mahasiswa, pelatihan
pengambilan keputusan, konseling kelompok berkenaan
15
dengan karir, dsb. Hal ini tentunya membutuhkan
komitmen yang kuat dari seluruh komponen di perguruan
tinggi, termasuk pimpinan, dosen dan karyawan, untuk
mengembangkan karir mahasiswanya.
2. Pertimbangan Perencanaan
Berhubungan dengan kesegeraan bimbingan karir
yang diberikan kepada mahasiswa, jangan sampai
informasi/pelayanan yang diberikan tidak lagi dibutuhkan
oleh mahasiswa dalam rangka pengembangan dirinya.
3. Pelayanan yang Komplek
Meliputi hal hal sebagai berikut :
a. Career Advising
Hal ini berkaitan dengan peran penasehat
akademis dalam mencapai tujuan pendidikan yang
sedang ditempuh serta hubungan antara kurikulum
program studi yang ditempuh dengan kesempatan
karir nantinya.
b. KonselingKarir
Konseling karir merupakan bantuan yang
diberikan oleh konselor dalam rangka membantu
mahasiswa untuk evaluasi diri dan pengentasan
permasalahannya yang berkenaan dengan karir.
16
c. Perencanaan Karir
Merupakan arahan yang akan dipakai mahasiswa
dalam mengenal dunia kerja dan mengarah
kepadanya.
Ke tiga komponen tersebut saling berhubungan dan
akan bisa dilaksanan dengan pembentukan lima komponen
dalamuniversitas yaitu :
a. Program universitas/perguruan tinggi dalam
pendidikan karir secara terstruktur dan komprehensif
b. Badan/unit tertentu yang melayani untuk mahasiswa
dan penasehat akademis dalam rangka informasi karir
dan penempatan karir
c. Penasehat akademis dengan berbagai pengetahuannya.
d. Pusat adminsitrasi pelayanan akademik yang secara
sungguh-sungguh memiliki waktu dan kemauan yang
tinggi untuk membantu mahasiswa
e. Badan/unit konseling dan penasehat akademik.
Tujuan bimbingan karier adalah untuk membantu
mahasiswa memahami perencanaan karier dan proses
penempatan setelah mereka menamatkan perguruan tinggi.
Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan adanya:
1. Bantuan dalam pemilihan bidang pelayanan utama
2. Bantuan dalam penilaian diri dan analisis diri
17
3. Bantuan dalam memahami dunia karier
4. Bantuan dalam pengambilan keputusan
5. Bantuan dalam memasuki dunia kerja
B. Pengertian Bimbingan dan Konseling
1. Pengertian Bimbingan
Secara etimologis kata bimbingan merupakan terjemahan
dari kata Guidance berasal dari kata kerja to guide yang
mempunyai arti menunjukan, membimbing, menuntun,
ataupun membantu. Sesuai dengan istilahnya, maka secara
umum bimbingan dapat diartikan sebagai suatu bantuan atau
tuntunan.
Bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang
dilakukan oleh orang yang ahli kepada seorang atau beberapa
orang individu, baik anak-anak, remaja, maupun dewasa; agar
orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan
dirinya sendiri dan mandiri dengan memanfaatkan kekuatan
individu dan sarana yang ada dan dapat dikembangkan
berdasarkan norma-norma yang berlaku (Prayitno, 2004:99).
Djumhur dan Moh. Surya (1975) memberikan
pandangannya tentang bimbingan sebagai suatu proses
pemberian bantuan secara terus menerus dan sitematis kepada
individu untuk memcahkan masalah yang dihadapinya. Winkel
(2005) memberikan definisi bimbingan ialah usaha melengkapi
individu dengan pengetahuan, pengalaman dan informasi
tentang dirinya sendiri.
18
Bimbingan merupakan sebuah istilah yang sudah
umum digunakan dalam dunia pendidikan. Bimbingan pada
dasarnya merupakan upaya bantuan untukmembantu individu
mencapai perkembangan yang optimal. Selain itu bimbingan
yang lebih luas dikemukakan oleh Good( Thantawi,l995:25)
yang menjabarkan bahwa bimbingan adalah:
1) Suatu proses hubungan pribadi yang bersifat dinamis, yang
dimaksudkan untuk mempengaruh sikap dan perilaku
seseorang;
2) Suatu bentuk bantuan yang sistematis (selain mengajar)
kepada murid, atau orang lain untuk menolong,menilai
kemampuan dan kecenderungan mereka dan menggunakan
informasi secara efektif dalamkehidupansehar-hari;
3) Perbuatan atau teknik yang dilakukan untuk menuntun
murid terhadap suatu tujuan yang diinginkan dengan
menciptakan suatu kondisi lingkungan yang membuat
dirinya sadar tentang kebutuhan dasar, mengenal kebutuhan
itu, dan mengambil langkah-langkah untuk memuaskan
dirinya.
Sementara itu, Supriadi (2004:207) menyatakan bahwa
yang dimaksud dengan bimbingan adalah proses bantuan
yang diberikan oleh konselor/pembimbing kepada konseliagar
konseli dapat:
1) Memahamidirinya,
2) Mengarahkan dirinya,
19
3 ) Memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya,
4) Menyesuaikan diri dengan lingkungannya
(keluarga,sekolah,masyarakat),
5) Mengambil manfaat dari peluang-peluang yang
dimilikinya dalam rangka mengembangkan diri sesuai
dengan potensi-potensinya, sehingga berguna bagi
dirinya dan masyarakatnya.
Sedangkan menurut Bernard & Fullmer (1969)
mengemukakan bahwa bimbingan merupakan kegiatan yang
bertujuan untuk meningkatkan realisisasi pribadi setiap
individu.
Berdasarkan pengertian konseling menurut para ahli di atas
maka dapat disimpulkan bahwa bimbingan merupakan bantuan
yang dilakukan oleh seorang ahli kepada individu atau beberapa
orang dengan memberikan pengetahuan tambahan untuk
memahami dan mengatasi permalahan yang dialami oleh
individu atau seseorang tersebut, dengan cara terus menerus dan
sitematis.
Bimbingan merupakan bagian integral dari pendidikan,
maka tujuan pelaksanaan bimbingan merupakan bagian tak
terpisahkan dari tujuan pendidikan. Tujuan Pendidikan
Nasional adalah menghasilkan manusiayang berkualitas yang
dideskripsikan dengan jelas dalam UU No 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional, yaitu manusia yang
beriman dan bertaqwa terhadapTuhanYang Maha
20
Esa;berakhlak mulia; memiliki pengetahuan dan keterampilan;
memiliki kesehatan jasmani dan rohani; memiliki kepribadian
yang mantap dan mandiri serta memiliki rasa tanggung jawab
kemasyarakatan dan kebangsaan. Tujuan tersebut mempunyai
implikasi imperatif (yang mengharuskan) bagi semua tingkat
satuan pendidikan untuk senantiasa memantapkan proses
pendidikannya secara bermutu kearah pencapaian tujuan
pendidikan tersebut.
Dari pengertian-pengertian diatas, didapatkan kuncidari
bimbingan itu sendiri adalah sebagai berikut:
a. Bimbingan merupakan upaya membantu dengan
memberikan informasi sesuai dengan yang dibutuhkan
oleh murid sebagai objek bimbingan.
b. Bimbingan dilakukan dengan cara menuntun dan
mengarahkan seseorang untukdapat mengambi
lkeputusan yang tepat untuk tercapainya tujuan yang telah
ditetapkan.
c. Bimbingan diberikan kepada satu orang atau lebih
melalui tatap muka langsung.
2. Pengertian Konseling
Konseling adalah proses pemberian bantuan yang
dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli
(disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami
sesuatu masalah (disebut klien) yang bermuara pada teratasinya
masalah yang dihadapi klien (Prayitno, 2004:105).
21
Menurut Pietrofesa, Leonard dan Hoose (1978) yang
dikutip oleh Mappiare (2004) konseling merupakan suatu proses
dengan adanya seseorang yang dipersiapkan secara profesional
untuk membantu orang lain dalam pemahaman diri pembuatan
keputusan dan pemecahan masalah dari hati kehati antar
manusia dan hasilnya tergantung pada kualitas hubungan.
Jones (Insano, 2004 : 11) menyebutkan bahwa konseling
merupakan suatu hubungan profesional antara seorang konselor
yang terlatih dengan klien. Hubungan ini biasanya bersifat
individual atau seorang-seorang, meskipun kadang-kadang
melibatkan lebih dari dua orang dan dirancang untuk membantu
klien memahami dan memperjelas pandangan terhadap ruang
lingkup hidupnya, sehingga dapat membuat pilihan yang
bermakna bagi dirinya.
Sedangkan menurut Sulianti Saroso, konseling adalah
proses pertolongan dimana seseorang dengan tulus dan tujuan
jelas, memberi waktu, perhatian dan keahliannya, untuk
membantu klien mempelajari keadaan dirinya, mengenali dan
melakukan masalah terhadap keterbatasan yang diberikan
lingkungan.
Berdasarkan pengertian konseling menurut para ahli di atas
maka dapat disimpulkan bahwa konseling merupakan proses
pemberian bantuan secara intensif dan sistematis dari seorang
konselor kepada kliennya dalam rangka pemecahan suatu
masalah agar klien mendapat pilihan yang baik. Disamping itu
juga diharapakan agar klien dapat memahami dirinya (self
22
understanding) dan mampu menerima kemampuan dirinya
sendiri.
2. Pengertian Bimbingan dan Konseling
Bertolak dari penjelasan di atas dapat disimpulkan
bahwa bimbingan dankonseling perkembanganadalah upaya
pemberian bantuan yang dirancang dengan memfokuskan pada
kebutuhan, kekuatan, minat, dan isu-isu yang berkaitan
dengan tahapan perkembangan pesertadidikdan merupakan
bagian pentingdan integral dari keseluruhan program
pendidikan.Secara lebih spesifik bimbingan perkembangan
adalah proses bantuan darikonselor (guru) kepada individu,
peserta didik, atau konselisecara berkesinambungan dalam
semua fase pekembangannya, agar dapat mengaktualisasikan
potensidirinya (Intelektual, emosional, sosial, dan moral-
spiritual) secara optimal, sehingga menjadi seorang pribadi
yangproduktif dan kontributif, atau bermakna dalam
kehidupannya,baiksecarapersonalmaupunsosial.
C. Konsep Dasar Bimbingan dan Konseling
1. Konsep Dasar Bimbingandan Konseling
Kebutuhan akan layanan bimbingan di sekolah muncul
dari karakteristik dan masalah-masalah perkembangan peserta
didik. Pendekatan perkembangan dalam bimbingan
merupakan pendekatan yang tepat digunakan di sekolah
karena pendekatan ini lebih berorientasi pada pengembangan
23
ekologi perkembangan pesertadidik. Guru menggunakan
pendekatan perkembangan melakukan identifikasi
keterampilan dan pengalaman yang diperlukan pesertadidik
agar berhasil disekolah dan dalamkehidupannya kelak.
Dalam konteks perkembangan anak, bimbingan dapat
dartikan sebagaisuatu upaya mengoptimalkan perkembangan
anak (usia613tahun) melalui penyediaan perlakuan dan
lingkungan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan
perkembangan anak serta pengembangan berbagai
kemampuan dan keterampilan hidup yang diperlukan anak.
Bimbingan dan Konseling yang berkembang saat ini
adalah bimbingan dan konseling perkembangan. Bimbingan
dan Konseling perkembangan bagi peserta didik adalah upaya
pemberian bantuan kepada peserta didik yang dilakukan
secara berkesinambungan, supaya mereka dapat memahami
dirinya sehingga sanggup bertindak secara wajar sesuai
dengan tuntutan dan keadaan lingkungan, keluarga dan
masyarakat serta kehidupan pada umumnya. Bimbingan
membantu mereka mencapai tugas perkembangan secara
optimal sebagai makhluk Tuhan, sosial dan pribadi
(Nurihsan&Sudianto,2005:9).
Dalam pelaksanaan bimbingan perkembangan, guru
dapat melibatkan tim kerja atau berbagai pihak yang terkait
terutamaorang tua murid,sehinggaakan lebih efektif ketimbang
bekerja sendiri. Bimbingan perkembangan dirancang secara
sistem terbuka, dengan demikian penyempurnaan dan
24
modifikasidapat dilakukan setiap saat sepanjang diperlukan.
Bimbingan perkembangan mengintegrasikan berbagai
pendekatan, dan orientasinya multi budaya, sehingga tidak
mencabut murid dari akar budayanya.Tidak fanatik menolak
suatu teori, melainkan meramu apa yang terbaik dari masing-
masing terapi dan yang lebih penting lagi mengkaji bagaimana
masing-masing terapi bermanfaat bagi pesertadidik atau
keluarga.
Dasar pemikiran penyelenggaraan BK di sekolah bukan
semata-mata terletak pada ada atau tidaknya landasan hukum (
perundang-undangan), namun yang lebih penting dan tepat
adalah :
1. Menyangkut upaya memfasilitasi peserta didik yang
selanjutnya disebut konseli, agar mampu mengembangkan
potensi dirinya atau mencapai tugas-tugas
perkembangannya (menyangkut aspek fisik, emosi,
intelektual, sosial, moral spiritiual).
2. Mampu menghargai segala potensi yang ada pada diri
manusia, karena setiap manusia yang lahir ke bumi ini telah
di anugerahi potensi sebagai aset.
3. Menyadarkan manusia agar sadar akan esensi yang dia
miliki.
Selanjutnya, individu dalam mencapai tahap
perkembangan yang lebih matang, konseling memerlukan
bimbingan dari seorang konselor karena mereka masih kurang
25
memiliki pemahaman ataupun wawasan tentang dirinya. Selain
itu terdapat suatu keyakinan bahwa proses perkembangan
konseli tidak selalu berlangsung secara mulus atau bebas dari
masalah. Dengan kata lain, proses perkembangan itu tidak
selalu berjalan dalam alur linier, lurus atau searah dengan
potensi, harapan dan nilai-nilai yang dianut. Perkembangan
konseli tidak lepas dari pengaruh lingkungan, baik fisik, psikis
maupun sosial. Sifat yang melekat pada lingkungan adalah
perubahan. Perubahan yang terjadii dalam lingkungan dapat
mempengaruhi gaya hidup (life style) pada warga masyarakat
itu sendiri.
Apabila perubahan yang terjadi itu sulit diprediksi atau di
luar jangkauan kemampuan, maka akan melahirkan kesenjangan
perkembangan konseli, seperti terjadinya stagnasi
(kemandegan) perkembangan, masalah-masalah atau
penyimpangan perilaku. Perubahan lingkungan yang di duga
mempengaruhi gaya hidup tersebut diantaranya adalah :
Upaya menangkal dan mencegah perilaku-perilaku yang
tidak diharapkan seperti disebutkan, adalah mengembangkan
potensi konseli dan memfasilitasi mereka secara sistematik dan
terprogram untuk mencapai standar kompetensi kemandirian.
Upaya ini merupakan wilayah garapan Bimbingan dan
Konseling yang harus dilakukan secara proaktif dan berbasis
data tentang perkembangan konseling beserta berbagai faktor
yang mempengaruhinya.
26
Sehingga pendidikan yang bermutu, efektif atau ideal
adalah yang mengintegrasikan tiga bidang kegiatan utamanya
secara sinergi, yaitu bidang administratif dan kepemimpinan,
bidang instruksional atau kurikuler, dan bidang bimbingan dan
konseling. Pendidikan yang hanya melaksanakan bidang
administratif dan instruksional dengan mengabaikan bidang
bimbingan dan konseling, hanya akan menghasilkan konseli
yang pintar dan terampil dalam aspek akademik, tetapi kurang
memiliki kemampuan atau kematangan dalam aspek
kepribadian.
2. Tujuan Bimbingan dan Konseling
Secara garis besar, tujuan bimbingan dan konseling dibagi
menjadi 2, yaitu tujuan umun dan tujuan khusus. Guna
memperjelas apa yang menjadi tujuan umum dan khusus, akan
disampaikan penjelasannyasebagai berikut:
1. Tujuan Umum
Ditinjau dari perkembangan konsepsi bimbingan dan
konseling senantiasa mengalami perubahan, dari yang
sederhana sampai yang komprehensif.Tujuan bimbingan
dan konseling dengan mengikuti pada perkemangan
konsepsi bimbingan dan konseling pada dasarnya adalah
untuk membantu individu memperkembangkan diri
secara optimal sesuai dengan tahap perkembangan dan
predisposisi yang dimilikinya, berbagai latar belakang
27
yang ada, serta sesuai dengan tuntutan positif
lingkungannya.
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus bimbingan dan konseling merupakan
penjabaran tujuan umum tersebut yang dikaitkan secara
langsung dengan permasalahan yang dialami individu
yang bersangkutan, sesuai dengan kompleksitas
permasalahanya. Dengan demikian maka tujuan khusus
bimbingan dan konseling untuk tiap-tiap individu bersifat
unik pula, artinya tujuan bimbingan dan konseling untuk
individu yang satu dengan individu yang lain tidak boleh
disamakan.
28
BAB III
PENUTUP
A. SIMPULAN
Layanan bimbingan dan konseling di sekolah dibedakan
tugasnya dengan pendidikan umum dalam jalur formal.
Pendidikan BK berbeda dengan pendidikan formal pada
umumnya di mana pendidikan umum menggunakan materi
pembelajaran sebagai konteks layanan dan mengadakan
penilaian di akhir kegiatan, pendidikan BK menggunakan jasa
melayani peserta didik dengan cara membantu mengatasi
berbagai persoalan yang timbul dalam kehidupan mereka
sekaligus sebagai sarana pembentukan kepribadian peserta
didik. Oleh sebab itu, perlu adanya penataan yang lebih jelas
bimbingan dan konseling sebagai layanan yang unik dalam
seting pendidikan dan konselor sebagai profesi. Penataan ini
pun perlu dilakukan secara menyeluruh tidak hanya menyentuh
persoalan bimbingan dan konseling pada satuan pendidikan
dasar, tapi menyentuh setiap jenjang, satuan, dan jalur
pendidikan. Penataan tersebut dikelompokkan ke dalam tiga
wilayah jalur pendidikan formal, yaitu BK di Sekolah Dasar
(SD), BK di sekolah menengah, dan BK di perguruan tinggi.
Secara umum bimbingan dapat diartikan sebagai suatu
bantuan atau tuntunan dan konseling merupakan proses
29
pemberian bantuan secara intensif dan sistematis dari seorang
konselor kepada kliennya dalam rangka pemecahan suatu
masalah agar klien mendapat pilihan yang baik sehingga
pendidikan bimbingan dan konseling (BK) adalah proses
bantuan dari konselorkepada individu, peserta didik, atau
konseli, agar dapat mengaktualisasikan potensi dirinya secara
optimal, sehingga menjadi seorang pribadi yang baik secara
personal maupun sosial.
Konsep pelaksanaan BK di sekolah adalah pendekatan
perkembangandalam bimbingan, yang merupakan pendekatan
yang tepat digunakan di sekolah karena pendekatan ini lebih
berorientasi pada pengembangan ekologi perkembangan
pesertadidik. Mengingat layanan ini diperlukan untuk
membantu mengatasi berbagai kemungkinan permasalahan
yang muncul dari peserta didik. Sehingga dapat menghasilkan
peserta didik yang tidak hanya cerdas dan terampil dalam
bidang akademik maupun non akademik saja melainkan juga
memiliki kemampuan atau kematangan dalam aspek
kepribadian.
B. SARAN
Mengingat begitu pentingnya peranan pelayanan BK bagi
pendidikan formal peserta didik, menempatkan BK tidak hanya
sebagai pelajaran tambahan sampingan saja di sekolah ataupun
sebagai momok bagi siswa yang nakal akan ketaatan
30
peraturannya, melainkan sebagai pendidikan formal yang
penting bagi siswa untuk menunjang pembentukan kepribadian
yang berkualitas dan berkarakter. Karena generasi muda yang
cerdas saja tidak cukup untuk membangun masa depan
Indonesia yang lebih cerah, dibutuhkan identitas diri dari hasil
pembentuk kepribadian generasi muda agar negara ini memiliki
ciri khas kriteria tersendiri di mata dunia.
31
DAFTAR PUSTAKA
http://bagusharyonos.com/2013/05/31/konsep-dasar-bimbingan-dan-
konseling-a pengertian-bimbingan/
http://nasrulefendi305.wordpress.com/2012/12/11/pengetian-
bimbingan-dan-konseling-menurut-beberapa-ahli/
http://psikonseling.blogspot.com/2009/01/perlunya-bimbingan-dan-
konseling-di.html
Suharto & Sutarno.2009. Bimbingan dan Konseling.Surakarta:Inti
Media Surakarta.
Suryana, Asep dan Suryadi.2012.Modul Bimbingan dan
Konseling.Jakarta: