Anda di halaman 1dari 11

REFARAT

Tgl, -
BAGIAN ILMU PSIKIATRI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS
HASANUDDIN

GANGGUAN DEPRESI



Oleh :
Muh. Mifthah Faridh C111 10 825
Pembimbing : dr. Grace Catherine

DIBAWAKAN DALAM RANGKA KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN
ILMU PSIKIATRI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS
HASANUDDIN
MAKASSAR
2013




2
DAFTAR ISI
Halaman Judul.. 1
Daftar isi... 2
HalamanPengesahan. 3
I. Definisi. 4
II. Epidemiologi 4
III. Etiologi. 5
IV. Diagnosis.. 7
V. Gejala klinis.. 9
VI. Diagnosis Banding... 10
VII. Penatalaksanaan... 10
Daftar Pustaka... 12











LEMBAR PENGESAHAN

3

Yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa :
Nama / NIM :
Muh.Mifthah Faridh/C111 10 825
Judul Referat :
Gangguan Depresi

Telah menyelesaikan tugas dalam rangka kepaniteraan klinik pada bagian Ilmu
Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.


Makassar, Februari 2013
Mengetahui,
Pembimbing


dr. Grace Catherine







I. Definisi

4
Depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang
berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya,
termasuk pada perubahan pola tidur dan nafsu makan, psikomotor,
konsentrasi, anhedonia, kelelahan, rasa putus asa dan tak berdaya, serta
gagasan bunuh diri. (1) (ilmu kedokteran jiwa darurat kaplan)

II. Epidemiologi
1. Insiden dan prevalensi
Gangguan depresi berat, paling sering terjadi dengan prevalensi seumur
hidup sekitar 15 persen. Perempuan dapat mencapai 25 persen. Sekitar 10
persen di perawatan primer dan 15 persen dirawat rumah sakit.
2. Jenis kelamin
Perempuan dua kali lipat lebih besar dibanding laki laki. Diduga adanya
perbedaan hormon, pengaruh melahirkan, perbedaan stressor psikososial
antara laki laki dan perempua.
3. Usia
Rata rata usia sekitar 40 tahunan, hampir 50 persen awitan diantara usia
20 50 tahun. Gangguan depresi berat dapat timbul pada masa anak atau
lanjut usia. Data terkini menunjukkan, gangguan depresi berat diusia
kurang dari 20 tahun mungkin berhubungan dengan meningkatnya
pengguna alkohol dan penyalahgunaan zat dalam kelompok usia tersebut.
4. Status perkawinan
Paling sering terjadi pada orang yang tidak mempunyai hubungan
interpersonal yang erat atau pada mereka yang bercerai atau pisah. Wanita
yang tidak menikah memiliki kecenderungan lebih rendah untuk menderita
depresi dibandingkan dengan yang menikah namun hal ini berbanding
terbalik untuk laki laki.




5
III. Etiologi
Menurut Kaplan, faktor faktor yang dihubungkan dengan penyebab depresi
dapat dibagi atas:

1. Faktor Biologi
Data penelitian biopsikologi menyatakan yang paling berperan dalam
patofisologi gangguan mood adalah disregulasi pada amin biogenik
(norepinefrin, serotonin dan dopamin). Penurunan serotonin dapat
mencetuskan depresi, dan pada beberapa pasien yang bunuh diri memiliki
konsentrasi metabolik serotonin di dalam cairan serebrospinal yang
rendah serta konsentrasi tempat ambilan serotonin yang rendah di
trombosit. Beberapa pasien depresi juga memiliki respon neuroendokrin
yng abnormal. Walaupun norepinefrin dan serotonin adalah amin
biogenik yan paling sering dihubungkan dengan patofisologi depresi,
dopamin juga telah diperkirakan memiliki peranan dalam depresi. Data
menyatakan bahwa aktivitas dopamin mungkin menurun pada depresi dan
meningkat pada mania. Faktor neurokimiawi lain seperti adenylate
cyclase, phospotidylinositol dan regulasi kalsium mungkin juga memiliki
relevansi penyebab. Kelainan pada neuroendokrin utama yang menarik
perhatian dalam adalah sumbu adrenal, tiroid dan hormon pertumbuhan.
Neuroendokrin yang lain yakni penurunan sekresi nokturnal melantonin,
penurunan pelepasan prolaktin karena pemberian tryptopan, penurunan
kadar dasar folikel stimulating hormon (FSH), luteinizing hormon (LH)
dan penurunan kadar testoteron pada laki-laki.

2. Faktor Genetik
Data genetik dengan kuat menyatakan bahwa suatu faktor penting di
dalam perkembangan gangguan mood adalah genetika. Tetapi, pola
penurunan genetika adalah jelas melalui mekanisme yang kompleks,
bukan saja tidak mungkin untuk menyingkirkan efek psikososial tetapi
faktor non genetik kemungkinan memainkan peranan kausatif dalam
perkembangan gangguan mood pada sekurangnya beberapa orang.
Penelitian keluarga telah menemukan bahwa kemugkinan menderita suatu
gangguan mood menurun saat derajat hubungan kekelurgaa melebar.
Sebagai contoh, sanak saudara derajat kedua (sepupu) lebih kecil
kemungkinannya menderita daripada sanak saudara derajat pertama

6
(kakak).
Peneltian adopsi juga telah menunjukkan bahwa orang tua biologis dari
anak adopsi dengan gangguan mood mempunyai suatu prevalensi
gangguan mood yang serupa dengan orang tua anak penderita gangguan
mood yang tidak diadopsi.

3. Faktor Psikososial

Peristiwa kehidupan dan stress lingkungan, suatu pengamatan klinis yang
telah lama direplikasi bahwa peristiwa kehidupan yang menyebabkan
stress lebih sering mendahului episode pertama gangguan mood daripada
episode selanjutnya, hubungan tersebut telah dilaporkan untuk pasien
dengan gangguan depresi berat. Data yang paling mendukung
menyatakan bahwa peristiwa kehidupan paling berhubungan dengan
perkembangan depresi selanjutnya adalah kehilangan orang tua sebelum
usia 11 tahun. Stressor lingkungan yang paling berhubungan dengan onset
satu episode depresi adalah kehilangan pasangan. Beberapa artikel teoritik
dan dari banyak laporan, mempermasalahkan hubungan fungsi keluarga
dan onset dalam perjalanan gangguan depresi berat. Selain itu, derajat
psikopatologi didalam keluarga mungkin mempengaruhi kecepatan
pemulihan, kembalinya gejala dan penyesuaian pasca pemulihan.


IV. Klasfikasi
Gejala utama (pada derajat ringan, sedang, dan berat) :
- Afek depresif
- Kehilangan minat dan kegembiraan
- Berkurangnya energy yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah
(rasa lelah yg nyata sesudah kerja sedikit saja) dan menurunnya aktivitas.

Gejala lainnya :
a) Konsentrasi dan perhatian berkurang
b) Harga diri dan kepercayaan diri berkurang
c) Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna
d) Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis
e) Gagasan atau perbuatan yang membahayakan diri atau bunuh diri
f) Tidur terganggu
g) Nafsu makan berkurang


7
Untuk episode depresif dari ketiga tingkat keparahan tersebut diperlukan
masa sekurang-kurangnya 2 minggu untuk penegakan diagnosis, akan
tetapi periode lebih pendek dapat dibenarkan jika gejala luar biasa
beratnya dan berlangsung cepat
Kategori diagnosis episode depresif ringan (F32.0), sedang (F32.1), berat
(32.2) hanya digunakan untuk episode depresi tunggal (yang pertama).
Episode depresif berikutnya harur di klasifikasi dibawah salah satu
diagnosis gangguan depresif berulang (F33). (PPDGJ-III)

Berikut adalah pembagian dari episode depresif :
1) Episode depresif ringan (F32.0)
Pedoman Diagnostik
Suasana perasaan mood yang depresif, kehilangan minat dan
kesenangan, dan mudah menjadi lelah biasanya dipandang sebagai gejala
depresi yang paling khas; sekurang-kurangnya dua gejala lazim di atas
harus ada untuk menegakkan diagnosis pasti. Tidak boleh ada gejala yang
berat di antaranya. Lamanya seluruh episode berlansung ialah sekurang-
kurangnya sekitar 2 minggu.
Individu yang mengalami episode depresif ringan biasanya resah
tentang gejalanya dan agak sukar baginya untuk meneruskan pekerjaan
biasa dan kegiatan social, namun mungkin ia tidak akan berhenti
berfungsi sama sekali.
. 2) Episode depresif sedang (F32.1)
Sekurang-kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala yang paling khas
yang ditentukan untuk episode depresif ringan, ditambah sekurang-
kurangnya tiga (dan sebaiknya empat) gejala lainnya. Beberapa gejala
mungkin tampil amat menyolok, namun ini tidak esensial apabila secara
keseluruhan ada cukup banyak variasi gejalanya. Lamanya seluruh
episode berlangsung minimal sekitar 2 minggu.
Individu dengan episode depresif taraf; sedang biasanya
menghadapi kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan
dan urusan rumah tangga.
. 3) Episode depresif berat tanpa gejala psikotik (F32.2)
Pada episode depresif berat, penderita biasanya menunjukkan
ketegangan atau kegelisahan yang amat nyata, kecuali apabila retardasi

8
merupakan ciri terkemuka. Kehilangan harga diri dan perasaan dirinya tak
berguna mungkin mencolok, dan bunuh diri merupakan bahaya nyata
terutama pada beberapa kasus berat. Anggapan di sini ialah bahwa
sindrom somatik hampir selalu ada pada episode depresif berat.
Semua tiga gejala khas yang ditentukan untuk episode depresif
ringan dan sedang harus ada, ditambah sekurang-kurangnya empat gejala
lainnya, dan beberapa diantaranya harus berintensitas berat. Namun,
apabila gejala penting (misalnya agitasi atau retardasi) menyolok, maka
pasien mungkin tidak mau atau tidak mampu untuk melaporkan banyak
gejalanya secara terinci. Dalam hal demikian, penentuan menyeluruh
dalam subkategori episode berat masih dapat dibenarkan. Episode
depresif biasanya seharusnya berlangsung sekurang-kurangnya 2 minggu,
akan tetapi jika gejala amat berat dan beronset sangat cepat, maka
mungkin dibenarkan untuk menegakkan diagnosis dalam waktu kurang
dari 2 minggu.
Selama episode depresif berat, sangat tidak mungkin penderita akan
mampu meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan atau urusan rumah tangga,
kecuali pada taraf yang sangat terbatas.
Kategori ini hendaknya digunakan hanya untuk episode depresif
berat tunggal tanpa gejala psikotik; untuk episode selanjutnya, harus
digunakan subkategori dari gangguan depresif berulang.
. 4) Episode depresif berat dengan gejala psikotik (F32.3)
Episode depresif berat yang memenuhi kriteria menurut F32.2
tersebut di atas, disertai waham, halusinasi atau stupor depresif.
Wahamnya biasanya melibatkan ide tentang dosa, kemiskinan atau
malapetaka yang mengancam, dan pasien dapat merasa bertanggung
jawab atas hal itu. Halusinasi auditorik atau olfaktorik biasanya berupa
suara yang menghina atau menuduh atau bau kotoran atau daging
membusuk. Retardasi psikomotor yang berat dapat menuju pada stupor.
Jika diperlukan, waham atau halusinasi dapat ditentukan sebagai serasi
atau tidak serasi dengan suasana perasaan (mood).
. 5) Episode depresif lainnya (F32.8)
. 6) Episode depresif YTT (F32.9)

V. Gejala Klinis

9
Beberapa pasien depresi terkadang tidak menyadari ia mengalami
depresi dan tidak mengeluh tentang gangguan mood meskipun mereka
menarik diri dari keluarga, teman dan aktivitas yang sebelumnya menarik
bagi dirinya. Hampir semua pasien depresi (97 persen) mengeluh tentang
penurunan energi dimana mereka mengalami kesulitan menyelesaikan
tugas, mengalami hendaya di sekolah dan pekerjaan, dan menurunnya
motivasi untuk terlibat dalam kegiatan baru. Sekitar 80 persen pasien
mengeluh masalah tidur, khususnya terjaga dini hari (terminal insomnia)
dan sering terbangun di malam hari karena memikirkan masalah yang
dihadapi. Kecemasan adalah gejala tersering dari depresi dan menyerang
90 persen pasien depresi. (3) (buku psikiatri UI)
Berikut merupakan beberapa gejala depresi (ringan, sedang dan
berat) berdasarkan PPDGJ III : Gejala utama (pada derajat ringan,
sedang, dan berat) :
- Afek depresi (sedih, murung, lesu, menangis)
- Kehilangan minat dan kegembiraan
- Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah
(rasa lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saja) dan menurunnya
aktivitas.
Gejala lainnya :
. a) Konsentrasi dan perhatian berkurang
. b) Harga diri dan kepercayaan diri berkurang
. c) Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna
. d) Pandangan masa depan suram dan pesimis
. e) Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri
. f) Tidur terganggu
. g) Nafsu makan terganggu
Untuk episode depresi dari ketiga tingkat keparahan tersebut diperlukan masa
sekurang kurangnya 2 minggu untuk penegakan diagnosis, akan tetapi periode
lebih pendek dapat dibenarkan jika gejala luar biasa beratnya dan berlangsung
cepat. Kategori diagnosis episode depresif ringan, sedang dan berat hanya
digunakan untuk episode depresi tunggal (yang pertama). Episode depresif
berikutnya harus diklasifikasi di bawah salah satu diagnosis gangguan depresif

10
berulang.
VI. Diagnosis Banding
1) Gangguan Skizofrenia
Terutama katatonik, tetapi tiap jenis skizofrenia dapat terlihat atau
menjadi depresi selama atau setelah satu episode. Adanya
penyesuaian premorbid yang buruk, gangguan proses pikir formal
dengan waham yang tersusun baik dan halusinasi yang komplek,
tidak ada riwayat siklik, dan tidak ada riwayat keluarga yang
mengalami gangguan afektif, menyokong dugaan suatu skizofrenia.

2) Gangguan Skizoafektif
Suatu gangguan psikotik yang memenuhi kriteria skizofrenia, tetapi
beberapa saat bertumpang tindih dengan gejala gejala mood
mayor.
3) Gangguan Cemas Menyeluruh
Pertama terlihat ansietas yang sangat menonjol. Pasien dengan
cemas hendaknya selalu dipertimbangkan kemungkinan adanya
depresi.
VII. Penatalaksanaan
Farmakoterapi
Obat anti-depresi Trisiklik = TRICYCLIC ANTIDEPRESSANTS
(TCA)
e.g. Amitriptyline, imipramine, Clomipramine, Tianeptine,
Opipramol.

Obat anti-depresi Tetrasiklik.
e.g. Mamprotiline, Mianserin, Amoxapine

Obat anti-depresi MAOI-Reversible = REVERSIBLE
INHIBITOROF MONOAMINE OXYDASE A (RIME)
e.g. Moclobemide.

Obat anti-depresi Atypical
e.g. Trasodone, Tianeptine, Mirtazapine


Obat anti-depresi SSRI ( SELECTIVE SEROTONIN REUPTAKE
INHIBITOR)

11
e.g. Sertraline, Paroxetine, Fluvoxamine, Fluoxetine, Citalopram.
(Psychotropic Medication edisi ketiga)
Selective Serotonin Reuptake Inhibitor adalah agen lini pertama untuk
terapi depresi, gangguan obsesif-kompulsif, dan gangguan panic serta
gangguan lain. Saat ini, tersedia enam SSRI; (1)Fluoxetine (prozac);
(2)Sertraline (Zoloft); (3)Paroxetine (paxil); (4)Fluvoxamine (luvox);
(5)Citalopram (celexa); dan (6)Escitalopram (Lexapro), suatu jenis
citalopram

Penatalaksanaan pasien dengan gangguan mood harus diarahkan
kepada beberapa tujuan. Pertama, keselamatan pasien harus terjamin.
Kedua, kelengkapan evaluasi diagnostik pasien harus dilaksanakan.
Ketiga, rencana terapi bukan hanya untuk gejala, tetapi kesehatan jwa
pasien kedepan juga harus diperhatikan. (4) (buku psikiatri UI)
Semua pasien depresi harus mendapatkan psikoterapi, dan beberapa
memerlukan tambahan terapi fisik. Kebutuhan terapi khusus bergantung
pada diagnosis, berat penyakit, umur pasien, respon terhadap terap
sebelumnya. (5) (buku saku psikiatri ed.6)