Anda di halaman 1dari 11

PROPOSAL

KOMPETISI KINCIR ANGIN INDONESIA 2014


(KKAI 2014)







TIM BAYU MAHESA
Ketua Tim : Asep Hidayat
Anggota :1. Diki Maulana
2. Deicky MR
3. Ana Supriatna
Dosen Pembimbing :Dedy Hernady






HALAMAN PENGESAHAN


1. Judul Kegiatan
2. Ketua Pelaksana
Nama Lengkap
NIM
Program Studi
Perguruan Tinggi
3. Jumlah Anggota Pelaksana
4. Dosen Pendamping
Nama Lengkap
NIDN


:

:
:
:
:
:

:
:





Kompetisi Kincir Angin Indonesia 2014

Asep Hidayat

Teknik Mesin
STT YBS Internasional Tasikmalaya
3

Dedy Hernady, ST
0422067202




Tasikmalaya, 12 Juni 2014
Menyetujui,
Dosen Pembimbing



Dedy Hernady, ST
0422067202
Ketua Tim




Asep Hidayat
11170017
Ketua





Dewanto Rosian Adhy, M.T









DAFTAR ISI
Pendahuluan _____________________________________ Error! Bookmark not defined.
Dasar Pemilihan __________________________________ Error! Bookmark not defined.
Perancangan
Sudu dan Rotor _________________________________ Error! Bookmark not defined.
Transmisi ______________________________________ Error! Bookmark not defined.
Generator______________________________________ Error! Bookmark not defined.
Tower dan Pondasi ______________________________ Error! Bookmark not defined.
Sistem Kendali __________________________________ Error! Bookmark not defined.
Pembuatan Komponen _____________________________ Error! Bookmark not defined.
















1.1. PENDAHULUAN

Salah satu cara untuk mengekstraksi tenaga angin menjadi tenaga listrik adalah dengan
menggunakan kincir angin atau disebut dengan turbin angin (wind turbine). Jenis turbin angin
dapat dibedakan dari orientasi poros dan sumbu rotasinya. Sebuah turbin dengan poros yang
dipasang horizontal sejajar dengan tanah dikenal sebagai turbin angin sumbu horisontal atau
Horizontal Axis Wind Turbine (HAWT). Sedangkan turbin angin yang memiliki poros dengan
arah normal terhadap tanah disebut turbin sumbu vertikal atau Vertical Axis Wind Turbine
(VAWT).
Kedua konfigurasi yang memiliki desain rotor tersebut dapat langsung dibedakan, dan
masing-masing dengan mempunyai karakteristik sendiri-sendiri. Untuk turbin VAWT dapat
dikembangkan untuk aliran angin yang diskontinyu, rasio kecepatan angin yang rendah. Tetapi
mempunyai kesulitan dalam pengaturan kecepatan rotor dan kesulitan saat starting. Namun,
turbin tipe VAWT tidak memerlukan mekanisme tambahan untuk menghadapi angin dan
generator serta peralatan yang berat dapat dipasang di tanah, sehingga mengurangi beban
menara.
Efisiensi rotor yang tinggi pada turbin sangat diharapkan untuk meningkatkan ekstraksi
energi angin dan harus dimaksimalkan dalam batas-batas produksi yang wajar. Efesiensi pada
turbin dikenal sebagai koefisien daya (Cp), di mana Cp
max
= 0,593 dan ini disebut sebagai Batas
Betz.
Batas Betz diasumsikan untuk kecepatan linier yang konstan. Oleh karena itu, setiap gaya
rotasi yang terjadi seperti wake rotation, turbulensi yang disebabkan oleh gaya angkat atau
vortex shedding (tip losses) akan mengurangi efisiensi maksimum.
Kerugian efisiensi umumnya dapat dikurangi, salah satunya dengan cara menghindari
rasio tip speed yang rendah yang dapat meningkatkan wake rotation, atau menggunakan
aerofoils yang memiliki perbandingan gaya angkat (lift) dan gaya seret (drags) yang tinggi.
Teknologi yang berkembang di bidang Pembangkit listrik tenaga Angin sangatlah pesat.
Namun nilai investasi yang relative besar menjadikan sebuah kendala tersendiri. Untuk itu dalam
proposal penelitian dan pengembangan Kincir Angin ini akan menitik beratkan pada
pemanfaatan komponen lokal yang ada. Pendekatan ini dilakukan untuk memperoleh sebuah
prototype Kincir Angin yang membutuhkan investasi yang tidak terlalu besar. Dengan cara ini
diharapkan instansi atau personal dapat membangun Kincir Angin untuk kebutuhan sendiri demi
terciptanya kemandirian energy.
1.2. DASAR PEMILIHAN
Kincir angin yang dibangun memperhatikan beberapa hal sebagai berikut:
1. Kemudahan dalam pemasangan di daerah daerah potensial dengan memimimalisir
pembangunan Rangka atau Tiang Penyangga. Kincir yang dibuat dapat dipasang di bangunan
bangunan yang ada di lokasi.
2. Memanfaatkan bahan bahan yang tersedia di pasaran sehingga menekang biaya investasi
sistem.
3. Menekankan pada perancangan komponen yang dapat memaksimalkan efisiensi dan
efektifitas konversi energi,
Untuk itu maka dipilih perancangan Kincir Angin dengan mengunakan metoda VAWT (Vertical
Axis Wind Turbine). Pertimbangan ini dilakukan karena sesuai dengan lokasi Kampus STT YBSI
yaitu di dekat pantai laut selatan Jawa di wilayah Tasikmalaya. Di lokasi tersebut banyak
bangunan tinggi seperti sarang burung walet, banyak tebing tebing pantai sehingga mudah untuk
dipasang kincri angin berbentuk VAWT tanpa mempersiapkan Rangka Penumpu Kincir Angin.
Untuk Sudu sudu Kincir Angin bisa memanfaatkan bahan bahan bekas seperti plastik bekas cat
atau bahan kimia. Selain itu dapat juga memanfaatkan kayu dan pengrajin kayu yang ada di
lingkungan Kota Tasikmalaya (industri kelom geulis) yang dapat digunakan sebagai pembuat
Sudu Kayu yang bagus.
3.1. PERANCANGAN
3.1.1. Sudu atau Rotor
Sudu adalah bagian awal dari Kincir Angin yang menentukan berapa energy yang
terkandung dalam gerakan angin yang akan dirubah menjadi energy penggerak generator
listrik. Beberapa hal yang dipertimbangkan dalam perancangan ini adalah:
- Dimensi dan Bentuk sudu yang akan menentukan efisiensi penangkapan aliran angin.
- Bahan pembuatan Sudu yang akan menentukan berat dan daya tahan.
Sudu dengan format VAWT menggunakan 3 blade yang dipasangkan dalam sebuah
sumbu. Tiga blade terpasang dalam selang 120 derajat. Blade yang dibuat berupa busur
sebesar 120 derajat

Sudu yang akan dibangun memiliki bentuk sebegai berikut:



Gbr 1. Tampak Atas Rancangan Sudu














Gbr 2. Tampak Samping Rancangan Sudu
Bahan yang dipergunakan adalah
a. Pipa besi atau aluminium untuk sumbu putarnya.
b. Rangka Kipas/Bilah menggunakan aluminium atau kayu alba.
c. Papan Kipas menggunakan plastik atau mika.
Dimensi dan format Sudu duperhitungkan untuk mendapatkan tangkapan energi angin
yang maksimal dan mudah untuk memutar generator.

3.1.2. Transmisi
Sistem transmisi digunakan untuk:
a. Mengurangi beban angkat dari Sudu dalam memutar generator sehingga didapatkan
kondisi dimana Sudu masih bisa memutar generator meskipun angin dalam kondisi
minimal.
b. Sistem transmisi dipergunakan untuk antisipasi overspeed dari Sudu. Dengan
menggunakan konsep kendali, sistem akan melepas koneksi mekanik Sudu dengan
Generator sehingga kondisi overspeed tidak akan mempengaruhi generator.
c. Sistem transmisi juga dipergunakan untuk antisipasi pemasangan Kincir Angin di
Atas gedung atau bangunan. Dengan sistem transmisi akan meningkatkan fleksibilitas
pemasangan Kincir Angin.

3.1.3. Generator
Generator yang dipergunakan adalah perangkat yang ada di pasaran dengan spesifikasi
sebagai berikut:
- Vsuplai : hingga 30 vdc
- Speed : 2750 rpm
- Torsi : 10 Kg.cm
- Encoder : 200 P/R
- Dimensi body : panjang 13 cm x diameter 6 cm
- Dimensi shaft : panjang 2cm x diameter 1 cm
- Berat : 1,5 kg


3.1.4. Tower dan Pondasi
Komponen ini adalah bagian yang berfungsi sebagai tempat atau dudukan dari Sudu.
Komponen ini harus kuat menanggung beban dari sudu serta gerakan gerakan yang
terjadi karena adanya angin. Kerangka dibuat dari rangka besin dengan bentuk sebagai
berikut:

















Gbr 3. Tampak Samping Rangka Sudu

3.1.5. Sistem Kendali
Sistem kendali adalah komponen yang berfungsi melakukan pengatiuran kerja sistem
secara keseluruhan. Sistem ini dipergunakan untuk meningkatkan kehandalan kerja kincir
angin dan meminimalkan kondisi tidak aman dari sistem. Komponen sistem kendali
memiliki sub komponen sebagai berikut:
a. Pusat Kendali menggunakan prosesor Arduino 8 bit dan memori 24 kbyte.
b. Sensor menggunakan sensor kecepatan putar (untuk mengukur kecepatan putar sudu)
dan sensor arus (untuk mengukur aliran arus listrik yang tersimpan di penampung)
c. Switching untuk mengatur aliran listrik
Dengan tiga subkomponen ini diharapkan sistem akan terhindar dari overspeed dari
putaran angin, overcurent yang membuat aki berlebihan dan juga over curent dari beban.















Gbr 4. Blok Diagram Sistem Kendali Kincir Angin

3.2. PEMBUATAN KOMPONEN
Pembuatan komponen dilakukan di Laboratorium Mesin di Sekolah Tinggi Teknologi YBS
Internasional. Untuk pengujian dilakukan di Kampus (Lantai 3) dan di lapangan yaitu di
Pantai Cipatujah Kabupaten Tasikmalaya. Proses pembuatan berupa:
- Pembuatan Rangka Besi atau Aluminium meliputi proses pemotongan, penyambungan
(las) , bor dan lainnya.
- Pembuatan Rangka kayu dilakukan di pabrik sepatu kelom di wilayah Kecamatan
Tamansari Kota Tasikmalaya. Di pabrik tersebut terdapat mesin yang biasa dipergunaka
untuk memotong, membentuk kerajinan kayu.
- Pembuatan Komponen Eletronika, programming dan lainnya dilakukan di Laboratorium
Hardware Program Studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi teknologi YBS
Internasional.

Sesnsor
Kecepatan
Arduino -
Kendali

RELAY

AKI

BEBAN

GENERATOR
Sesnsor
Arus

DAFTAR PUSTAKA

1. Ajao, K.R., dan Adeniyi, J.S.O., 2009. Comparison of Theoretical and Experimental
Power output of Small 3-bladed Horizontal-axis Wind Turbine. Journal of American
Science Volume 5, No 4
2. Ajao, K.R., dan Mahamood, M.R., 2009. Wind Energy Conversion System: The Past, The
Present And The Prospect. Journal of American Science. Volume 5, No. 6, pp 17-22
3. Anwar, M.S., 2008. Rancang Bangun Pembangkit Listrik Tenaga Angin Pada Stasiun
Pengisan Accu Mobil Listrik. Tugas Sarjana. Surabaya: ITS
4. Culp, Archie W., 1991. Prinsip-Prinsip Konversi Energi. Jakarta: Erlangga. Terjemahan:
Principles of Energy Conversion. 1979. McGraw-Hill, Ltd
5. Daryanto, Y., 2007. Kajian Potensi Angin Untuk Pembangkit Listrik Tenaga Bayu. Balai
PPTAGG - UPT-LAGG
6. Dutta, Animesh. 2006. Basics of Wind Technology. Asian Institute of Technology
Thailand. 6 Juli 2006
7. Giles, Ranald V., 1990. Mekanika Fluida dan Hidraulika (SI-Metrik) Edisi Kedua
(Terjemahan). Jakarta: Erlangga.
8. Guntoro, W., 2008. Studi Pengaruh Panjang dan Jumlah Baling-Baling Terhadap
Efisiensi Daya Listrik Pada Pembangkit Listrik Tenaga Angin. Bandung: ITB
9. Kamal, Faizul M., 2008. Aerodynamics Characteristics of A Stationary Five Bladed
Vertical Axis Vane Wind Turbine. Journal of Mechanical Engineering, Vol. ME39, No. 2,
pp. 95-99
10. Khan, N.I., Iqbal, M.T., Hinchey, Michael, dan Masek, Vlastimil. 2009. Performance of
Savonius Rotor As A Water Current Turbine. Journal of Ocean Technology. Vol. 4, No.
2, pp. 71-83
11. Mittal, Neeraj. 2001. Investigation of Performance Characteristics of a Novel VAWT.
Thesis. UK: Departement of Mechanical Engineering University of Strathclyde
12. Nakajima, M., Lio, S., dan Ikeda, T., 2008. Performance of Double-step Savonius Rotor
for Environmentally Friendly Hidroulic Turbine. Journal of Fluid Science And
Technology. Volume 3 No. 3, pp 410-419
13. Nakajima, M., Lio, S., dan Ikeda, T., 2008. Performance of Savonius Rotor for
Environmentally Friendly Hidroulic Turbine. Journal of Fluid Science And Technology.
Volume 3 No. 3, pp 420-429
14. Olson, Reuben M., dan Wright, Steven J., 1993. Dasar-Dasar Mekanika Fluida Teknik
Edisi Kelima (Terjemahan), Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
15. Reksoatmodjo, Tedjo Narsoyo. 2004. Vertical Axis-Differential Drag Windmill. Jurnal
Teknik Mesin Volume 6, No 2, Oktober 2004: 65 70
16. Rosidin, Nanang. 2007. Perancangan, Pembuatan, dan Pengujian Prototipe SKEA
Menggunakan Rotor Savonius dan Windside Untuk Penerangan Jalan Tol. Bandung: ITB
17. RWE npower renewables. 2009. Wind Turbine Power Calculatios. Di akses: 20 Februari
2010. Website: http://www.rwe.com/web/cms/de/8/rwe/
18. Soelaiman, F., Tandian, Nathanael P., dan Rosidin, N., 2006. Perancangan, Pembuatan
dan Pengujian Prototipe SKEA Menggunakan Rotor Savonius dan Windside untuk
Penerangan Jalan Tol; Bandung. ITB
19. Tipler, P.A., 1998, Fisika untuk Sains dan TeknikJilid I (terjemahan), Jakarta: Erlangga
20. Young, Hugh D, dan Freedman, R.A., 2002. Fisika Universita. Jilid 1. Edisi ke- 10.
Jakarta: Erlangga. Terjemahan: University Physics. Edisi ke-8. 2000. Addison Wesley
Longman, Inc.