Anda di halaman 1dari 2

Kode Etik Advokat

Dasar Hukum
1. UU Advokat No.18 Tahun 2003
2. Kode Etik Advokat Indonesia

Pengawasan Kode Etik Advokat
1. Pelaksanaan pengawasan sehari-hari dilakukan oleh Komisi Pengawas yang dibentuk oleh Organisasi Advokat.
2. Keanggotaan Komisi Pengawas terdiri atas unsur Advokat Senior, para Ahli/Akademisi, dan Masyarakat.

Adokat bebas dalam menjalankan tugas profesinya untuk membela perkara yang menjadi tanggung jawabnya
dengan tetap berpegang pada kode etik profesi dan peraturan perundang-undangan. Hak Imunitas Advokat adalah
hak advokat yang tidak dapat dituntut baik secara perdata maupun pidana dalam menjalankan tugas profesinya
dengan itikad baik untuk kepentingan pembelaan klien dalam sidang pengadilan. Hak atas informasi dalam
menjalankan profesinya advokat berhak memperoleh informasi, data, dan dokumen lainnya, baik dari instansi
pemerintah maupun pihak lain yang berkaitan untuk pembelaan kepentingan lainnya.

Advokat dalam menjalankan tugas dilarang membeda-bedakan karena jenis kelamin, agama, politik, keturunan,
ras, atau latar belakang sosial dan budaya. Advokat tidak dapat diidentikan dengan kliennya dalam membela
perkara kliennya.

Advokat wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahui dari kliennya, kecuali ditentukan lain oleh undang-
undang. Advokat berhak atas kerahasian hubungannya dengan klien, termasuk perlindungan atas dokumennya
terhadap penyitaan atau pemeriksaan dan perlindungan terhadap penyadapan atas komunikasi elektronik. Advokat
juga wajib memegang rahasia jabatan tentang hal-hal yang diberitahukan oleh klien, dan tetap menjaga rahasia
itu setelah berakhirnya hubungan antara advokat dan kliennya.

Advokat dilarang memegang jabatan lain yang bertentangan dengan kepentingan tugas dan martabat profesinya.
Advokat dilarang memegang jabatan lain yang meminta pengabdian sedemikian rupa sehingga merugikan profesi
advokat atau mengurangi kebebasan dan kemerdekaan dalam menjalankan tugas profesinya. Advokat yang
menjadi pejabat negara tidak melaksanakan tugas profesi advokat selama memangku jabatan tersebut.

Organisasi Advokat adalah satu-satunya wadah profesi advokat yang bebas dan mandiri dengan maksud dan
tujuan untuk meningkatkan kualitas profesi advokat. ketentuan mengenai susunan organisasi advokat ditetapkan
oleh para advokat dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga.

Advokat wajib memelihara rasa solidaritas diantara teman sejawat. Advokat wajib memberikan pembelaan hukum
kepada teman sejawatnya yang diduga melakukan tindak pidana atas permintaan atauk karena penunjukan
organisasi profesi. Hubungan antara teman sejawat asvokat dilandasi sikap saling menghargai, saling
menghormati, dan saling mempercayai. jika berhadapan satu sama lain dalam sidang pengadilan, tidak boleh
menggunakan kata-kata yang tidak sopan. Advokat tidak diperkenankan menarik atau merebut seorang klien dari
teman sejawat.

Apabila klien hendak mengganti advokat, maka advokat yang baru hanya dapat menerima perkara itu setelah
menerima bukti pencabutan pemberian kuasa. Advokat lama meberikan semua surat keterangan yang penting
untuk mengurus perkara itu, dengan memperhatikan hak retensi advokat terhadap klien tersebut.

Advokat tidak dibenarkan untuk melakukan pekerjaan lain yang dapat merugikan kebebasan, derajat dan martabat
advokat. Advokat harus senantiasa menjunjung tinggi profesi advokat sebagai profesi mulia (Officium Nobile).
Advokat dalam menjalankan profesinya harus bersikap sopan terhadap semua pihak namun wajib
mempertahankan hak dan martabat advokat.

Advokat tidak dibenarkan menjamin perkara yang ditanganinya akan menang. Advokat harus menolak mengurus
perkara yang menurut keyakinannya tidak ada dasar hukumnya. Advokat tidak dibenarkan melepaskan tugas yang
dibebankan kepadanya pada saat yang tidak menguntungkan posisi klien. Advokat harus mengurus kepentingan
bersama dari dua pihak atau lebih harus mengundurkan diri apabila dikemudian hari timbul pertentangan
kepentingan antara pihak-pihak yang bersangkutan. Hak retensi advokat terhadap klien diakui sepanjang tidak
akan merugikan kepentingan klien.

Surat yang dikirim oleh advokat kepada teman sejawatnya dapat ditunjukan kepada hakim apabila dianggap perlu
kecuali pada surat tersebut "Sans Prejudice". Isi pembicaraan atau korespondensi dalam rangka perdamaian
antara advokat akan tetapi tidak berhasil, tidak dibenarkan untuk digunakan sebagai bukti di muka pengadilan.

Dalam rangka perkara perdata, Advokat hanya dapat menghubungi hakim apabila bersama-sama dengan advokat
pihak lawan, dan apabila menyampaikan surat, termasuk surat yang bersifat "Ad Informandum" maka seketika itu
tembusan advokat pihak lawan. Dalam perkara pidana, Advokat hanya dapat menghubungi hakim apabila
bersama-sama dengan Jaksa Penuntut Umum. Advokat tidak dibenarkan mengajari dan atau mempengaruhi saksi-
saksi yang diajukan oleh pihak lawan.

Pemasangan iklan semata-mata untuk menarik perhatian orang adalah dilarang termasuk pemasangan papan
nama dengan ukuran dan/atau bentuk yang berlebihan.

Pengaduan pelanggaran kode etik bisa diajukan oleh pihak-pihak yang berkepentingan dan merasa dirugikan yaitu:
Klien, Teman Sejawat, Pejabat Pemerintah, Anggota Masyarakat, Dewan Pimpinan Pusat/Cabang/Daerah/dari
Organisasi profesi dimana teradu menjadi anggota.

Hak Retensi adalah hak dari penerima kuasa untuk menahan sesuatu yang
menjadi milik pemberi kuasa karena pemberi kuasa belum membayar
kepada penerima kuasa hak penerima kuasa yang timbul dari pemberian
kuasa. Ketentuan mengenai hal ini dapat kita temui dalam Pasal 1812
KUHPer:
Penerima kuasa berhak untuk menahan kepunyaan pemberi kuasa yang
berada di tangannya hingga kepadanya dibayar lunas segala sesuatu yang
dapat dituntutnya akibat pemberian kuasa.
Hak Retensi ini dimiliki antara lain oleh advokat. Advokat yang menerima
kuasa dari kliennya memiliki hak retensi akibat dari pemberian kuasa
tersebut. Apabila terdapat kewajiban, misalnya pembayaran biaya jasa
hukum, yang belum dipenuhi oleh kliennya, maka advokat dapat
menggunakan hak retensinya untuk menahan kepunyaan kliennya. Misal,
advokat dapat menahan berkas atau dokumen-dokumen perkara kliennya
ketika honorariumnya belum dibayarkan oleh klien.

Namun, perlu diperhatikan bahwa dalam Kode Etik Advokat disebutkan
bahwa hak retensi Advokat terhadap klien diakui sepanjang tidak akan
menimbulkan kerugian kepentingan klien. Jadi, hak retensi adalah hak dari
penerima kuasa untuk menahan kepunyaan pemberi kuasa yang ada
padanya sampai pemberi kuasa memenuhi kewajiban yang timbul dari
pemberian kuasa.