Anda di halaman 1dari 20

laporan inseminasi buatan

LAPORAN PRAKTIKUM
REPRODUKSI TERNAK DAN INSEMINASI BUATAN
(pengenalan alat-alat inseminasi buatan)










Oleh:
<nama mahasiswa:Hermy Puspita Sari>
NIM : E1C009004


Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian
Universitas Bengkulu
Oktober 2011










BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Inseminasi Buatan (IB) atau kawin suntik adalah suatu cara atau teknik untuk memasukkan
mani (sperma atau semen) yang telah dicairkan dan telah diproses terlebih dahulu yang berasal
dari ternak jantan ke dalam saluran alat kelamin betina dengan menggunakan metode dan alat
khusus yang disebut 'insemination gun'. Inseminasi Buatan (IB) pada hewan peliharaan telah
lama dilakukan sejak berabad-abad yang lampau.sedangkan Perkawinan alami merupakan
perkawinan dimana pejantan memancarkan sperma langsung ke dalam alat reproduksi betina
secara langsung, tanpa perantara alat buatan. Perkawinan terjadi secara alami dimana pejantan
lebih agresif sedangkan betina bersifat responsif (menunggu).
Namun terkadang perkawinan alami memiliki banyak kendala, seperti terbatasnya
kemampuan pejantan dalam membuahi sejumlah betina, motilitas sperma yang dikeluarkan
pejantan saat perkawinan, respon betina yang terkadang mengeluarkan kembali sperma yang
telah masuk dan lain sebagainya. Namun diluar permasalahan yang ada, sebenarnya cara ini
lebih efektif dan paling banyak dilakukan para peternak terutama masyarakat tradisional
Inseminasi Tujuan Buatan
- Memperbaiki mutu genetika ternak;
- Tidak mengharuskan pejantan unggul untuk dibawa ketempat yang dibutuhkan sehingga
mengurangi biaya;
- Mengoptimalkan penggunaan bibit pejantan unggul secara lebih luas dalam jangka waktu yang
lebih lama;
- Meningkatkan angka kelahiran dengan cepat dan teratur;
- Mencegah penularan / penyebaran penyakit kelamin.
Dalam melakukan inseminasi buatan pada ternak kita harus mengenal dan mengetahui alat-
alat yang di pakai serta fungsi dari alat tersebut terlebih dahulu.alat- alat apa saja yang di
gunakan selama proses inseminasi buatan berlangsung.
Di dalam praktikum reproduksi ternak dan inseminasi buatan, kami mengenal fungsi alat-
alat inseminasi seperti
Vagina buatan
Container
Straw
Yang di laksanakan di laboratorium jurusan peternakan, universitas Bengkulu.
1.2 TUJUAN
1. Mahasiswa dapat mengenal dan mengeahui alat alat yang di gunakan dalam melakukan
inseminasi
2. Mahasiswa dapat mengetahui fungsi dan kegunaan dari peralatan inseminasi













BAB 2
METODE KERJA
2.1 ALAT
Vagina buatan kambing dan sapi
Corong
Container besar dan kecil ( goblet, canester dan penutup container)
Straw
Insemination gun
2.2 CARA KERJA
Masing masing kelompok mendapatkan satu alat inseminasi
Dan setiap individu di wajibkan untk menggambar alat tersebut
Menetukan skala untuk mempermudah dalm mengambar alat alat nya
Setelah mengambar alat di kelompok sendiri, masing individu untuk mengambar peralata
lainnya yang ada pada kelompok dan sterusnya.










3.2 PEMBAHASAN
1.Vagina buatan.
Sapi
Vagina buatan berfungsi menampung semen pada akan di gunakan di inseminsai naninya
memiliki warna hitam,keras dan kaku. Dengan memiliki panjang 30 cm dan diameter 8 cm. pada
gambar kami menggunakan skala 1:5.Serta di lengkapi oleh selosong tipis yang memiliki warna
coklat tua lembut dan lentur, menyerupai tekstur karet, panjang selosong ini 53 cm, diameter 9
cm . Dan terdapat corong yang berwarna kuning, panjangnya corong ini 25,5 , diameter untuk
mulut corong bagian atas 10 cm dan bagian bawah 2,5 cm, corong ini berfungsi unuk keluarnya
sperma.diameter
Domba
Vagina buatan pada domba berukuran lebih kecil dari pada sapi, namun bentuk, fungsi dan
warna nya sama dengan vagina buatan pada sapi, tetapi panjang dan diameter pada vagina ini
adalah 16 cm dan 6,5 cm dan dengan skala 1:5. Bagian selonsong pnjang 39 cm dan diameter 5
cm
2.container
Dalam container terdapat 1 canister terisi 2 goblet sebagai penyimpan straw. Container
berukuran besar memiliki panjang 55 cm, diameter 25 cm. lebar penutup container 18 cm an
leher container 7 cm, mengambar dengan sakla 1:10 sedangkan pada goblet nya memiliki
panjang 3,5 cm dan diameter 12 cm dengan skala 1:3
Canister , pada tangkai nya memiliki panjang 23 cm, pemegang besi 4 cm dan panjang
keseluruan 50 cm skala 1:2. di container kecil panjang nya 29,5 cm dan diameter 7,5 cm dan
skala 1:2,.pada gobletnya panjang 11 cm dan diameter 2 cm dengan skala gambar 1:2
3. Straw
Pada straw ini memiki panjang 10 cm dan diameter 0,2. Straw mirip dengan thermometer suhu,
dengan warna bermacam macam yang bertujuan untuk memudahkan dalam mengidentifikasi
jenis ternak.

NO WARNA STRAW DISKRIPSI
1 Merah BB IB SINGOSARI- BALI
2 Pink BB IB SINGOSARI LIMOUSIN
3 Biru BB IB LEMBANG ONGOLE
4 Ungu BB IB LEMBANG KRBAU

4.inseminating gun
Alat ini terdiri atas pendorong, selonsong plastic , pembungkus atau plastic sheat dan cicin
penahan selosong plastic. Selosong plastic memiliki panjang 45 cm dan diameter 1,5. Pada
pendorong nya panjangnya 45 cm dan diameter 1,5. Dan cicin penahan panjang 45 cm dan
diameter 1,5 cm.di gambar dengan skala 1:3













BAB 4
KESIMPULAN
Pada saat sebelum melakukan praktikum, sebaiknya kita mengenal dan mengetahui apa
saja alat yang akan di gunakan dan bagian- bagiannya, dan paling penting adalah mengetahui
fungsi dan kegunaan alat- alat fungsi dari vagina buatan,container, straw dan insemination
gun,sehingga dapat mempermudah pelaksanaan praktikum reproduksi ternak dan inseminasi
buatan.















DAFTAR PUSTAKA
1. Murtidjo, Bambang Agus, Memelihara Kambing, Sebagai Ternak Potong dan Perah, Penerbit
Kanisius, Yogyakarta. 1993.
2. Devendra, Goat Production In The Tropics, Commonwealth Agricultural Bureaux, 1983.
3.Bearden, HJ and Fuquay JW, 1984. Applied Animal Reproduction. 2
nd
Edition. Reston Publishing
Company, Inc. A Prentice-Hall Company. Reston. Virginia.
4.Evans G and MaxwelI WMC, 1987. Salamons Artificial Insemination of Sheep and Goats.
Butterworths. Sydney.
5.Foote RH, 1980. Artificial Insemination. In Reproduction in Farm Animal 4
th
Edition. Hafez, E.S.E.
(Ed.). Lea and Febiger. Philadelpia.
6.Hafez ESE, 1993. Reproduction in Farm Animai. 6
th
Edition. Lea and Febiger. Philadelpia
7.Salisbury, G.W dan N.L. Vandemark, 1985, Fisiologi Reproduksi dan Inseminasi Buatan Pada Sapi,
diterjemahkan R. Djanuar, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

laporan inseminasi buatan



PENDAHULUAN

Latar Belakang
Reproduksi adalah suatu proses perkembangbiakan pada ternak yang diawali
dengan bersatunya sel telur (ovum) dengan sel mani (sperma) sehingga terbentuk zigot
kemudian embrio hingga fetus dan diakhiri dengan apa yang disebut dengan kelahiran.
Pada proses reproduksi ini menyangkut hewan betina dan jantan. Secara umum,
proses reproduksi ini melibatkan dua hal yakni, sel telur atau yang biasa disebut
dengan ovum dan sel mani atau yang biasanya disebut dengan sperma. Ovum sendiri
dihasilkan olah ternak betina melalui proses ovulasi setelah melalui beberapa tahap
perkembangan folikel, sedangkan sperma diproduksi oleh ternak jantan melalui proses
spermatogenesis (proses pembentukan sel gamet jantan atau sperma yang terjadi di
dalam testis tepatnya pada tubulus seminiferus).
Pelaksanaan program Inseminasi Buatan (IB) atau kawin suntik pada sapi telah
dimulai sejak tahun 1950-an. Dalam pelaksanaannya, operasional program inseminasi
buatan ditangani oleh seorang petugas inseminator. Tingkat keberhasilan kerja seorang
inseminator dapat diukur dengan peningkatan persentase kelahiran anak sapi sehingga
membantu peningkatan populasi ternak ini. Karena bibit semen beku jantan yang
dipergunakan berasal dari sapi jantan unggul, makaanak sapi yang dilahirkan juga
diharapkan memiliki sifat-sifat unggul.

Tujuan
1. Mengetahui tata cara dan prosedur pelaksanaan Inseminasi Buatan ( IB ).
2. Mengetahui cara yang tepat melakukan IB
3. Mengetahui manfaat dari penerapan IB








TINJAUAN PUSTAKA

Sejarah Inseminasi Buatan (IB)
Inseminasi Buatan (IB) pada hewan peliharaan telah lama dilakukan sejak
berabad-abad yang lampau. Seorang pangeran arab yang sedang berperang pada
abad ke-14 dan dalam keadaan tersebut kuda tunggangannya sedang mengalami
birahi. Kemudian dengan akar cerdinya, sang pangeran dengan menggunakan suatu
tampon kapas, sang pangeran mencuri semen dalam vagina seekor kuda musuhnya
yang baru saja dikawinkan dengan pejantan yang dikenal cepat larinya.Tampon
tersebut kemudian dimasukan ke dalam vagina kuda betinanya sendiri yang sedang
birahi. Alhasil ternyata kuda betina tersebut menjadi bunting dan lahirlah kuda baru
yang dikenal tampan dan cepat larinya. Inilah kisa awal tentang IB, dan setelah itu tidak
lagi ditemukan catatan mengenai pelaksanaan IB atau penelitian ke arah pengunaan
teknik tersebut. (Toelihere,1985).
Tiga abad kemudian, barulah ada pengamatan kembali tentang reproduksi.
Tepatnya pada tahun 1677, Anthony van Leeuwenhoek sarjana Belanda penemu
mikroskop dan muridnya Johan amm merupakan orang pertama yang melihat sel
kelamin jantan dengan mikroskop buatannya sendiri. Mereka menyebut sel kelamin
jantan yang tak terhitung jumlahnya tersebut animalcules atau animalculae yang berarti
jasad renik yang mempunyai daya gerak maju progresif. Di kemudian hari sel kelamin
jantan tersebut dikenal dengan spermatozoatozoa. Pada tahun berikutnya, 1678,
seorang dokter dan anatomi Belanda, Reijnier (Regner) de Graaf, menemukan folikel
pada ovarium kelinci.
Penelitian ilmiah pertama dalam bidang inseminasi buatan pada hewan piarann
dialkukan oleh ahli fisiologi dan anatomi terkenal Italia, yaitu Lazzaro Spallanzani pada
tahun 1780. Dia berhasil menginseminasi amphibia, yang kemudian memutuskan untuk
melakukan percobaan pada anjing. Anjing yang dipelihara di rumahnya setelah muncul
tanda-tanda birahi dilakukan inseminasi dengan semen yang dideposisikan langsung ke
dalam uterus dengan sebuah spuit lancip. Enam puluh hari setelah inseminasi, induk
anjing tersebut melahirkan anak tiga yang kesemuanya mirip dengan induk dan jantan
uang dipakai semennya. Dua tahun kemudian (1782) penelitian spallanzani tersebut
diulangi oleh P. Rossi dengan hasil yang memuaskan. Semua percobaan ini
membuktikan bahwa kebuntingan dapat terjadi dengan mengunakan inseminasi dan
menghasilkan keturunan normal.
Spallanzani juga membuktikan bahwa daya membuahi semen terletak pada
spermatozoatozoa, bukan pada cairan semen. Dia membuktikannya dengan menyaring
semen yang baru ditampung. Cairan yang tertinggal diatas filter mempunyai daya
fertilisasi tinggi. Peneliti yang sama pada tahun 1803, menyumbangkan
pengetahuannya mengenai pengaruh pendinginan terhadap perpanjangan hidup
spermatozoatozoa. Dia mengamati bahwa semen kuda yang dibekukan dalam salju
atau hawa dimusim dingin tidak selamanya membunuh spermatozoatozoa tetapi
mempertahankannya dalam keadaaan tidak bergerak sampai dikenai panas dan
setelah itu tetap bergerak selama tujuh setengah jam. Hasil penemuannya mengilhami
peneliti lain untuk lebih mengadakan penelitian yang mendalam terhadap sel-sel
kelamin dan fisiologi pembuahan. Dengan jasa yang ditanamkannya kemudian
masyarakat memberikan gelar kehormatan kepada dia sebagai Bapak Inseminasi.
(Salisbury,Vandemark, 1985).
Perkenalan pertama IB pada peternakan kuda di Eropa, dilakukan oleh seorang
dokter hewan Perancis, Repiquet (1890). Dia menasehatkan pemakaian teknik tersebut
sebagai suatu cara untuk mengatasi kemajiran. Hasil yang diperoleh masih kurang
memuaskan, masih banyak dilakukan penelitian untuk mengatasinya, salah satu usaha
mengatasi kegagalan itu, Prof. Hoffman dari Stuttgart, Jerman, menganjurkan agar
dilakukan IB setelah perkawinan alam. Caranya vagina kuda yang telah dikawinkan
dikuakkan dan dengan spuit diambil semennya. Semen dicampur dengan susu sapi dan
kembali diinsemiasikan pada uterus hewan tersebut. Namun diakui cara ini kurang
praktis untuk dilaksanakan.
Pada tahun 1902, Sand dan Stribold dari Denmark, berhasil memperoleh empat
konsepsi dari delapan kuda betina yang di IB. Mereka menganjurkan IB sebagai suatu
cara yang ekonomis dalam pengunaan dan penyebaran semen dari kuda jantan yang
berharga dan memajukan peternakan pada umumnya.
Sejarah Perkembangan Inseminasi Buatan di Indonesia
Inseminasi Buatan pertama kali diperkenalkan di Indonesia pada awal tahun
limapuluhan oleh Prof. B. Seit dari Denmark di Fakultas Hewan dan Lembaga
Penelitian Peternakan Bogor. Dalam rangka rencana kesejahteraan istimewa (RKI)
didirikanlah beberpa satsiun IB di beberapa daerah di awa Tenggah (Ungaran dan
Mirit/Kedu Selatan), Jawa Timur (Pakong dan Grati), Jawa Barat (Cikole/Sukabumi) dan
Bali (Baturati). Juga FKH dan LPP Bogor, difungsikan sebagai stasiun IB untuk
melayani daerah Bogor dan sekitarnya, Aktivitas dan pelayanan IB waktu itu bersifat
hilang, timbul sehingga dapat mengurangi kepercayaan masyarakat.
Pada tahun 1959 dan tahun-tahun berikutnya, perkembangan dan aplikasi IB
untuk daerah Bogor dan sekitranya dilakukan FKH IPB, masih mengikuti jejak B. Seit
yaitu penggunaan semen cair umtuk memperbaiki mutu genetik ternak sapi perah.
Pada waktu itu belum terfikirkan untuk sapi potong. Menjelang tahun 1965, keungan
negara sangat memburuk, karena situasi ekonomi dan politik yang tidak
menguntungkan, sehingga kegiatan IB hampir-hampir tidak ada. Stasiun IB yang telah
didirikan di enam tempay dalam RKI, hanya Ungaran yang masih bertahan. (Ismudiono.
1999).
Inseminasi buatan telah pula digalakkan atau diperkenalkan oleh FKH IPB, di
daerah Pengalengan, Bandung Selatan, bahkan pernah pula dilakukan pameran pedet
(Calf Show) pertama hasil IB. Kemajuan tersebut disebabkan adanya sarana penunjang
di daerah tersebut yaitu 1) rakyat pemelihara sapi telah mengenal tanda-tanda berahi
dengan baik, 2) rakyat telah tahu dengan pasti bahwa peningkatan mutu ternak melalui
IB merupakan jalan yang sesingkat-singkatnya menuju produksi tinggi, 3) pengiriman
semen cair dari Bogor ke Pengalengan dapat memenuhi permintaan, sehingga
perbaikan mutu genetik ternak segera dapat terlihat.
Kekurang berhasilan program IB antara tahun 1960-1970, banyak disebabkan
karena semen yang digunakan semen cair, dengan masa simpan terbatas dan perlu
adanya alat simpan sehingga sangat sulit pelaksanaanya di lapangan. Disamping itu
kondisi perekonomian saat itu sangat kritis sehingga pembangunan bidang peternakan
kurang dapat perhatian.
Cara Kerja
Alat :
Gun
gunting
plastik shite
plastik glove
termos/kontainer lapangan
Bahan:
Strow
air hangat

Prosedur kerja:
1. Kenakan werkpack dan sepatu kandang
2. Tempatkan sapi betina yang sedang berahi pada kandang kawin. Ikat dengan baik.
3. Singsingkan lengan baju sebelah kiri. Apabila ada luka, kenakan sarung tangan plastik.
4. Lumuri tangan kiri sampai batas sikut dengan larutan busa sabun.
5. Hampiri sapi betina dari arah depan atau samping lalu sentuh/tepuk bagian tubuhnya
supaya ternak tersebut mengetahui keberadaan kita dan tidak kaget sewaktu kita mulai
bekerja.
6. Berdiri menghadap bagian belakang sapi dari arah belakang dengan posisi menyerong
ke sebelah kanan sekitar 30o 45o dari poros tubuh sapi. Kaki kiri berada sekitar
langkah di depan kaki kanan sehingga membentuk kuda-kuda yang kokoh tetapi luwes.
7. Tepuk-tepuk bagian bokong sapi (sedikit di bagian atas ekor) kiri dan kanan untuk
melihat reaksi kaki belakang sapi tersebut.
8. Pegang pangkal ekor sapi dengan tangan kanan, bengkokan ke arah kanan.
9. Pertemukan kelima jari tangan kiri sehingga membentuk kerucut, kemudian masukkan
ke dalam lubang anus (rektum) sapi sampai pergelangan tangan melewatinya. Apabila
di dalam rongga rectum terdapat banyak kotoran, keluarkan.
10. Setelah merasa bahwa tangan kiri dapat leluasa berada di ruang rectum, arahkan
telapak tangan kiri tersebut ke dasar rectum. Cari bagian saluran reproduksi yang
berdinding tebal, yaitu cervix uteri. Tempatkan cervix uteri tersebut dalam genggaman
telapak tangan kiri dengan jalan menyodokkan empat jari (telunjuk sampai kelingking)
ke bawah cervix uteri.
11. Setelah cervix uteri teraba, telusuri saluran reproduksi bagian depannya, apakah
tanduk uterus kiri dan kanan sama besar atau salah satu lebih besar dari yang lain.
Apabila salah satu lebih besar dari yang lain, hewan tersebut kemungkinan sedang
bunting dan jangan diinseminasi. Apabila kedua tanduk uterus sama besar, maka
hewan tersebut tidak bunting dan perlu diinseminasi. Keluarkan tangan kiri dari dalam
rectum. Lepaskan sarung tangan atau bersihkan taangan kiri tersebut dengan air.
12. Siapkan insemination gun. Lepaskan bagian penusuknya dari batang utama. Usap
batang penusuk dan batang utama dengan kapas.
13. Masukkan batang penusuk ke dalam batang utama. Sisakan kirakira sepanjang straw.
14. Buka penutup container nitrogen cair dan angkat satu canister.
15. Ambil satu straw menggunakan pinset dan segera kembalikan posisi canister.
16. Rendam straw dalam air suam-suam kuku sambil digosok-gosok dengan kedua telapak
tangan. Angkat dan keringkan menggunakan kertas tissue.
17. Masukkan straw ke dalam lubang, dari ujung depan, batang utama insemination gun,
sampai mentok.
18. Gunting ujung straw pada batas kira-kira cm dari ujung insemination gun.
Tutup/bungkus batang insemination gun dengan plastic sheet, dan kuatkan
pertautannya menggunakan cincin yang sudah tersedia. Inseminasi siap dilakukan.
19. Lumuri lagi tangan kiri dengan larutan kanji encer atau busa sabun, masukkan ke
dalam rectum dan lakukan penggenggaman cervix uteri. Setelah cervix uteri
tergenggam, masukkan insemination gun secara hati-hati ke dalam vagina sapi betina.
Arahkan ujung insemination gun ke mulut saluran cervix.
20. Luruskan arah insemination gun melewati saluran cervix dengan bantuan tangan kiri
menggerak-gerakan cervix dan tangan kanan mendorong insemination gun secara hati-
hati sampai ujung insemination gun melewati seluruh panjang saluran cervix. Hentikan
dorongan tangan kanan ketika ujung insemination gun sudah keluar dari servix uteri
(memasuki corpus uteri) kira-kira 12 cm.
21. Curahkan semen perlahan-lahan dengan jalan mendorong batang penusuk
insemination gun sampai habis. Pencurahan semen selesai. Insemination gun ditarik
keluar vagina dan tangan kiri melakukan sedikit pijatan pada corpus dan cervix uteri
untuk merangsang gerakan saluran reproduksi sapi betina agar semen terdorong ke
bagian depan saluran reproduksi betina.
22. Keluarkan tangan kiri dari dalam rectum. Lepaskan plastic sheet dan straw kosong dari
insemination gun, buang ke tempat sampah. Bersihkan insemination gun menggunakan
kapas beralkohol. Cabut batang penusuknya, lalu tetekan alkohol ke dalam lubang
batang utama. Simpan kembali ke tempatnya.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Yang dimaksud dengan Inseminasi Buatan (IB) atau kawin suntik adalah suatu
cara atau teknik untuk memasukkan mani (spermatozoa atau semen) yang telah
dicairkan dan telah diproses terlebih dahulu yang berasal dari ternak jantan ke dalam
saluran alat kelamin betina dengan menggunakan metode dan alat khusus yang disebut
insemination gun.
1. Tujuan Inseminasi Buatan
2. Memperbaiki mutu genetika ternak
3. Tidak mengharuskan pejantan unggul untuk dibawa ketempat yang dibutuhkan
sehingga mengurangi biaya
4. Mengoptimalkan penggunaan bibit pejantan unggul secara lebih luas dalam jangka
waktu yang lebih lama
5. Meningkatkan angka kelahiran dengan cepat dan teratur
6. Mencegah penularan / penyebaran penyakit kelamin.
Keuntungan IB
1. Menghemat biaya pemeliharaan ternak jantan;
1. Dapat mengatur jarak kelahiran ternak dengan baik
2. Mencegah terjadinya kawin sedarah pada sapi betina (inbreeding);
3. Dengan peralatan dan teknologi yang baik spermatozoa dapat simpan dalam jangka
waktu yang lama
4. Semen beku masih dapat dipakai untuk beberapa tahun kemudian walaupun pejantan
telah mati
5. Menghindari kecelakaan yang sering terjadi pada saat perkawinan karena fisik pejantan
terlalu besar
6. Menghindari ternak dari penularan penyakit terutama penyakit yang ditularkan dengan
hubungan kelamin.
Kerugian IB
1. Apabila identifikasi birahi (estrus) dan waktu pelaksanaan IB tidak tepat maka tidak
akan terjadi terjadi kebuntingan
2. Akan terjadi kesulitan kelahiran (distokia), apabila semen beku yang digunakan berasal
dari pejantan dengan breed / turunan yang besar dan diinseminasikan pada sapi betina
keturunan / breed kecil
3. Bisa terjadi kawin sedarah (inbreeding) apabila menggunakan semen beku dari
pejantan yang sama dalam jangka waktu yang lama
4. Dapat menyebabkan menurunnya sifat-sifat genetik yang jelek apabila pejantan donor
tidak dipantau sifat genetiknya dengan baik (tidak melalui suatu progeny test).
Prinsip Dasar Inseminsi Buatan (IB)
Didalam applikasi teknologi inseminasi buatan maka faktor mutu genetik pejantan
yang digunakan sangat penting untuk diperhatikan karena dari padanyalah sejumlah
besar keturunan akan dihasilkan. Pejantan unggul dapat menghasilkan 25.000 ekor
anak per tahun melalui penggunaan semen beku, sehingga selama hidup dari seekor
pejantan unggul dapat diperoleh 150.000 ekor anak.
Beberapa kendala dihadapi apabila penggunaan semen beku, diantaranya tidak
kontinyunya persediaan N Cair, untuk itu alternatif utamanya adalah dengan
menggunakan semen cair. Teknik ini dapat diterapkan dengan memperhatikan
beberapa persyaratan teknis sehingga applikasinya dapat di laksanakan dengan baik
dan diperoleh hasil yang optimal.
Metode penampungan semen untuk dipergunakan dalam inseminasi buatan
adalah mengupayakan agar pejantan bereyakulasi ke dalam vagina buatan, dan
kemudian menampung semen ke dalam tabung berinsulasi untuk mencegah rusaknya
spermatozoa karena perobahan suhu. Beberapa aspek tingkahlaku seksual pejantan
perlu diperhatikan dalam penampungan semen seperti : latihan, persiapan menaiki,
temperatur vagina buatan, lama eyakulasi, dan sifat individu pejantan.
Produksi semen pereyakulasi pada ternak sapi jantan biasanya 4 10 ml dan
dapat ditampung 2 6 kali perminggu. Sesudah penampungan dan evaluasi semen,
tindakan selanjutnya adalah pengenceran dengan menggunakan beberapa bahan
pengenceran yang mengandung karbohidrat sebagai sumber energi, protein pelindung,
dan antibiotik. Semen sapi dapat diencerkan 10 75 kali tergantung dari kualitas
semen yang dihasilkan setiap eyakulasi.
Pada ternak sapi untuk pelaksanaan inseminasi buatan, didalam satu kali
inseminasi hanya diperlukan 10 15 juta spermatozoa motil, sedangkan yang
dihasilkan per satu kali eyakulasi adalah milliaran sperma. Sehingga dengan dosis
inseminasi ini kita dapat menghitung berapa banyak betina yang dapat di inseminasi
dari seekor pejantan.
Semen yang telah dipersiapkan dapat langsung di inseminasikan ke dalam cervix
atau corpus uteri, dan untuk memperoleh kesuburan yang tinggi inseminasi harus
dilakukan mendekati waktu ovulasi yakni pada paruh kedua fase birahi atau pada saat
yang telah ditentukan apabila menggunakan program sinkronisasi birahi. Ketepatan
waktu itu penting agar spermatozoa segar tersedia dan siap.
Teknologi IB menggunakan semen beku pada sapi potong telah digunakan sejak
belasan tahun silam dengan tujuan untukmeningkatkan kualitas dan kuantitas ternak
sapi melalui penggunaan pejantan pilihan dan menghindari penularan penyakit atau
kawin sedarah.
Selama ini pelaksanaan teknologi IB di lapangan masih mengalami beberapa
hambatan, antara lain S/C > 2 dan angka kebuntingan 60% (Affandhy 2006),
sehingga untuk meningkatkan populasi dan mutu sapi potong serta guna memperluas
penyebaran bakalan sapi potong, diperlukan suatu petunjuk praktis tentang manajemen
IB mengunakan semen beku mulai dari penanganan ketika straw beku dalam kontener
hingga akan disuntikan/Idi-IB-kan ke sapi induk, termasuk cara dan waktu IB; dengan
harapan dapat memperbaiki manajemen perkawnan melalui pelaksanaan IB yang
selama ini sering menimbulkan permasalahan di tingkat peternak maupun inseminator.
Dengan adanya petunjuk tentang manajemen IB diharapkan dapat menambah tingkat
keterampilan inseminator dan pengalaman peternak sehinggga tingkat kebuntingan
ternak dapat dicapai secara optimal dan tahapan teknik ini perlu diinformasikan
Siklus Reproduksi (Estrus)
Berahi atau estrus atau heat, didefinisikan sebagai periode waktu dimana betina
mau menerima kehadiran jantan, kawin, dengan perkataan lain betina atau dara aktif
sexualitasnya. Dalam program perkawinan alami atau IB, seorang manager reproduksi
ternak haru smampu mengenali tanda-tanda berahi dan factor-faktor yang mendorong
berlangsungnya tingkah laku berahi yang normal. Kadar hormone estrogen yang tinggi
mempunyai kaitan denga pemunculan tanda-tanda berahi, adapun pada dasrnya
pemunculan tingkah laku berahi secara sempurna merupakan pengaruh interaksi
antara estrogen dan indera, dalam hal ini terlibta satu gabungan inderan penciuman,
pendengaran dan indera penglihatan. Indera perasa/sentuhan pun penting pada sapi
betina yang melangsungkan perkawinan, melalui gigitan, jilatan, endusan merupakan
bagian dari percumbuan sebelum kopulasi terjadi.
Pada umumnya, sapi betina induk adan dara enggan istirahat, aktif selama berahi.
Sapi-sapi betina mempunyai sifat yang unik, dimana cenderung homosexual, sehingga
memudahkan dalam deteksi berahi sekalipun tidak ada pejantan. Betina yang berahi
akan menyendiri, menaiki temannya, bahkan mungkin juga menciumi vulva dan
seringkali mengangkat dan mengibas-ibaskan dan mungkin meninggalkan
kelompoknya mencari pejantanekornya.
Betina-betina yang berahi mempunyai vulva yang lembab, lender bening seringkali
nampak keluar dari vulva. Betina yang dalam fase lain dalam siklus berahi bisa jadi
menaiki betina lain, tetapi tidak mau jika dinaiki, oleh karena itu betina diam dinaiki
merupakan tanda tunggal yang kuat bahwa betina dalam keadaan berahi.
Jika seekor betina memasuki siklus berahi, manakala betina tersebut dalam
keadaan fertile, dimana betina ini berovulasi atau melepas sel telur dari ovariumnya.
Waktu terbaik unatu menginseminasi dalah jika betina dalam keadaan standing heat,
yaitu sebelum terjadi ovulasi.
Satu hal yang dianjurkan untuk mengadakan pendeteksian berahi adalah denga
cara menempatkan sapi-sapi dara atau induk pada sebuah padang penggembalaan
deteksi berahi. Padang penggembalaan ini seyogyanya cukup luas, memungkinkan
betina-betina bisa kesana-kemasi dan bebas merumput, namun juga tidak terlalu luas,
sehingga operator dapat mengadakan deteksi berahi dengan mudah.
Satu kunci sukses dalam deteksi berahi adalah lamanya waktu untuk mengamati
betina-betina, memeriksa tanda-tanda berahi, adalah dianjurkan bagi operator
meluangkan waktu selama minimal 30 menit pada pagi hari dan 30 menit pada sore
hari. Operator juga dianjurkan memperhatikan betina-betina pada waktu-waktu yang
sama setiap hari. Jadi, mempelajari mengenal tanda-tanda berahi dan mengetahuinya
betina-betina yang sedang berahi merupakan kunci suksesnya satu program IB.
Mengenali tanda-tanda berahi
Adanya pangkal ekor yang diangkat merupak satu tanda bahwa seekor betina
mungkin dalam keadaan berahi. Hal ini berarti bahwa seekor induk atau dara akan
tetap diam berdiri membiarkan dinaiki, satu tanda dari standing heat.
Aktif, enggan istirahat. Betina tidak mau diam, nervous bisa menjadi satu tanda
bahwa betina dalam keadaan berahi.
Vulva bengkak. Salah satu dari beberapa tanda secara fisik yang bisa dikenali
adalah vulva yang membengkak, sebagai akibat peningkatan aliran darah yang
membesarkan pembuluh-pembuluh darah di daerah vulva. Vulva yang bengkak mudah
dibedakan dengan vulva yang keriput sewaktu tidak dalam keadaan berahi.
Lendir bening. Lendir bening keluar dari vulva, seringkali melekat pada ekor,
bagian belakang dari kaki belakang atau bahkan ke atas punggung, juga menjadi salah
satu tanda berahi. Lendir yang kemrahan pada ekor menunjukkan berahi muncul 1 atau
2 hari sebelumnya.
1. Estrus
Estrus didefinisikan sebagai periode waktu ketika betina reseptif terhadap jantan
dan akan membiarkan untuk dikawini. Lamanya periode estrus bervariasi antar spesies.
Estrus berlangsung selama 12-18 jam pada sapi, 24-36 jam pada domba, 40-72 jam
pada babi, dan 4-8 hari pada kuda. Ovulasi yang berkaitan dengan estrus terjadi 10-12
jam sesudah akhir estrus pada sapi, pertengahan sampai akhir estrus pada domba,
kira-kira mid-estrus pada babi, dan 1-2 hari sebelum akhir estrus pada kuda
(Bearden,1984).
2. Metestrus
Periode metestrus dimulai dengan berhentinya estrus dan berlangsung kira-kira 3
hari. Terutama, hal ini merupakan suatu periode pembentukan corpus luteum.selama
akhir estrus dan proestrus, konsentrasi estrogen ang tinggi meningkatkan vaskularisasi
endometrium. Vaskularisasi ini mencapai puncaknya kira-kira 1 hari sesudah akhir
estrus. Dengan menurunnya kadar estrogen, kerusakan kapiler dapat terjadi yang
menghasilkan hilangnya sedikit darah (Bearden,1984).
3. Diestrus
Diestrus dikarakteristikkan sebagai periode dalam siklus estrus ketika corpus
luteum fungsional penuh. Pada sapi dimulai kira-kira hari ke-5 siklus, ketika suatu
peningkatan konsentrasi progesteron dalam dalam darah dan dapat dideteksi pertama
kali, dan berakhir dengan regresi corpus luteum pada hari 16 dan 17 (Bearden,1984).
4. Proestrus
Proestrus dimulai dengan regresi corpus luteum dan merosotnya progesteron
serta melajut sampai dimulai estrus. Ciri utama dari proestrus adalah terjadinya
pertumbuhan folikel yang cepat. Akhir dari periode ini adalah pengaruh estrogen pada
sistem saluran reproduksi dan gejala tingkah laku mendekati estrus dapat diamati
(Bearden,1984).


KESIMPULAN

Inseminasi Buatan sebagai alat yang efektif untuk memperbaiki mutu genetik dan
meningkatkan populasi ternak, masih memerlukan penanganan dan perhatian yang
serius pada ternak kerbau, karena adanya fenomena kesulitan mendeteksi berahi yang
berkaitan dengan adanya fenomena silent heat (berahi tenang) dan rendahnya kualitas
semen beku pasca thawing. Untuk mengoptimalkan program IB pada ternak kerbau
sehingga efisiensi reproduksinya meningkat, ada beberapa hal yang perlu mendapat
perhatian yaitu:
1. Thawing semen beku sebaiknya dilakukan dengan menggunakan air pada suhu 37
o
C
dalam waktu 15-30 detik.
2. Waktu inseminasi sebaiknya dilakukan 12-16 jam sesudah munculnya gejala berahi
atau 8-9 jam sebelum akhir berahi dengan peletakan semen pada pangkal corpus uteri
(cincin 4).
3. Proses penanganan semen beku (pengeluaran dari container, thawing sampai
diinseminasikan) tidak boleh lewat dari 2,5 menit.


















DAFTAR PUSTAKA

Salisbury, G.W dan N.L. Vandemark, 1985, Fisiologi Reproduksi dan Inseminasi Buatan Pada
Sapi, diterjemahkan R. Djanuar, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Toelihere MR, 1985. Fisiologi Reproduksi Pada Ternak. Penerbit Angkasa. Bandung.
, 1993. Inseminasi Buatan Pada Ternak. Penerbit Angkasa. Bandung.
Ismudiono. 1999. Fisiologi Reproduksi Ternak. Edisi Ketiga. Fakultas Kedokteran Hewan
Universitas Airlangga Surabaya.
Mac Millan, K. L. 1983. Prostaglandin Response in Dairy Herd Breeding Programs. J. Vet. 31:
110-113.
Moreira, F., De la Sota, R.I., Diaz, T., and Thatcher, W.W. 2000. Effect of Day of the estrous
Cycle at the Inisiation of a Timed Artificial Insemination Protocol on Reproductive
Responses in Dairy Heifers. J. Anim. Sci. 78:1568-1576