Anda di halaman 1dari 12

DOSEN : Prof. DR. R.A. UTARI, SU.

, Apt
TUGAS : Compounding and Dispensing





MAKALAH KOMBINASI OBAT

NEODIASTOP
















Disusun oleh :
SYAHRAENI,S.Si 1120211710






PROGRAM PROFESI APOTEKER
UNIVERSITAS SETIA BUDI
SURAKARTA
2011





DIARE

I. DESKRIPSI PENYAKIT
Diare masih merupakan masalah kesehatan tidak saja di negara berkembang
tetapi juga di negara yang sudah maju sampai saat ini. Setiap tahun diperkirakan
terdapat 4 milyar kasus diare akut . Kematian akibat diare karena infeksi berkisar 3-5
juta jiwa pertahun. Di negara maju seperti Amerika Serikat keluhan diare menempati
peringkat ketiga dari daftar keluhan pasien pada ruang praktek dokter. Sementara itu di
Indonesia kasus diare akut karena infeksi menduduki peringkat pertama sampai
keempat diantara pasien-pasien yang berobat ke rumah sakit. Untuk negara
berkembang lainnya di Asia terutama Asia Selatan dan Tenggara, Amerika Selatan
dan Afrika, kejadian diare masih tinggi. Data Badan Kesehatan Dunia atau WHO
(World Health Organization) menyebutkan bahwa diare merupakan penyebab nomor
satu kematian balita di seluruh dunia. Wikipedia menyebutkan, diare bertanggung
jawab atas meninggalnya lebih dari 1,5 juta jiwa setiap tahunnya. Sementara itu, di
Indonesia, diare merupakan penyebab kematian balita terbanyak kedua setelah ISPA
(Infeksi Saluran Pernafasan Akut). Walaupun usaha-usaha WHO untuk mengantisipasi
hal tersebut sampai saat ini telah menunjukkan perbaikan dari tahun ke tahun.
Diare adalah gangguan kesehatan yang ditandai oleh perubahan bentuk feses
(kotoran) menjadi cair yang terkadang disertai peningkatan frekuensi buang air besar.
Penderita diare harus waspada jika terjadi perubahan bentuk dan peningkatan
frekuensi hingga lebih dari tiga kali dalam sehari. Namun, meski frekuensi meningkat
akan tetapi bentuknya normal, belum bisa dikatakan diare.

Meski demikian, diare sebenarnya juga "bermanfaat". Diare merupakan
mekanisme tubuh untuk mengeluarkan racun dari dalam tubuh melalui feses yang
menjadi cair. Bersama cairan tersebut, keluar juga racun yang dihasilkan oleh kuman,
virus, atau jamur. Jadi, diare berfungsi sebagai "alarm alamiah" tubuh untuk
memberitahu bahwa terdapat gangguan pada saluran pencernaan.

A. Defenisi
Diare adalah sebuah penyakit di mana penderita mengalami buang air besar
yang sering dan masih memiliki kandungan air berlebihan atau dengan kata lain Diare
adalah peningkatan volume dan frekuensi buang air besar (BAB) atau peningkatan
gerakan usus. Namun definisi resmi medis dari diare adalah defekasi yang melebihi
200 gram per hari. Diare merupakan gejala dari masalah kesehatan lainnya, seperti
infeksi atau virus.
Kasus ini banyak terdapat di negara-negara berkembang dengan standar
hidupnya rendah, dimana dehidrasi akibat diare merupakan salah satu penyebab
kematian penting pada anak-anak.
Fisiologi
Dalam lambung, makanan dicerna menjadi bubur (chymus), kemudian
diteuskan ke usus halus untuk diuraikan lebih lanjut oleh enzim-enzim. Setelah terjadi
resorpsi, sisa chymus tersebut yang terdiri dari 90% air dan sisa-sisa makanan yang
sukar dicernakan, diteruskan ke usus besar (colon). Bakteri-bakteri yang biasanya
selalu berada disinimencernakan lagi sisa-sisa tersebut, sehingga sebagian besar dapat
diserap selama perjalanan melalui usus besar. Airnya juga diresorpsi kembali,
sehingga lambat laun isi usus menjadi lebih padat. Dengan kata lain pada keadaan
normal, proses resorpsi dan sekresi dari air dan elektrolit-elektrolit berlangsung pada
waktu yang sama di sel-sel epitel mukosa. Proses ini diatur oleh bebrapa hormon, yaitu
resorpsi oleh enkefalin (morfin endogen), sedangkan sekresi diatur oleh prostaglandin
dan neurohormon V.I.P (Vasoactive Intestinal Peptide).
B. Penyebab
Menurut teori klasik, diare disebabkan oleh meningkatnya peristaltic usus,
hingga perlintasan chymus sangat dipercepat dan masih mengandung banyak air pada
saat meningggalkan tubuh sebagai tinja. Penelitian terakhir menunjukkan bahwa
penyebab utama diare adalah bertumpuknya cairan di usus akibat terganggunya
resorpsi air atau/dan terjadinya hipersekresi. Biasanya resorpsi melebihi sekresi, tetapi
karena sesuatu sebab sekresi menjadi lebih besar dari pada resorpsi, maka terjadilah
diare. Secara garis besarnya diare disebabkan oleh bakteri, parasit, atau virus, sering
dari makanan atau air. Makan makanan yang tidak higienis dan minuman yang
terkontaminasi bakteri dapat menyebabkan diare. Diare juga dapat disebabkan oleh
reaksi obat (termasuk beberapa vitamin, mineral, dan tumbuh-tumbuhan). Orang-orang
yang lactose intoleran bisa diare ketika mereka mengkonsumsi susu atau produk susu.
Diare yang disertai darah, suhu tubuh tinggi dan terdapat nyeri hebat pada perut
kemungkinan disebabkan adanya infeksi peradangan usus (Crohns disease) yang
perlu parawatan dari dokter
Terdapat 4 mekanisme patofisiologis yang mengganggu keseimbangan air dan
elektrolit yang mengakibatkan terjadinya diare, yaitu:
1. Perubahan transport ion aktif yang disebabkan oelh penurunan absorpsi natrium
dan peningkatan sekresi klorida.
2. Perubahan motilitas usus
3. Peningkatan osmolaritas luminal
4. Peningkatan tekanan hidrostatik jaringan.
Mekanisme tersebut sebagai dasar pengelompokan diare secara klinik, yaitu:
1. Secretory diarrhea, terjadi ketika senyawa yang strukturnya mirip (contoh:
Vasoactive Intestinal Peptide (VIP) atau toksin bakteri) meningkatkan sekresi
atau menurunkan absorpsi air dan elektrolit dalam jumlah besar.
2. Osmotic diarrhea, disebabkan oleh absorpsi zat-zat yang mempertahakan cairan
intestinal.
3. Exudative diarrhea, disebabkan oleh penyakit infeksi saluran pencernaan yang
mengeluarkan mucus, protein atau darah ke dalam saluran pencernaan.
4. Motilitas usus dapat berubah dengan mengurangi waktu kontak di usus halus,
pengosongan usus besar yang premature dan pertumbuhan bakteri yang Exudative
diarrhea berlebihan.
C. Manifestasi Klinik
1. Diare dikelompokkan menjadi akut dan kronis. Umumnya episode diare akut
hilang dalam waktu 72 jam dari onset, dimana diare akut adalah buang air besar
lembek/cair konsistensinya encer, lebih sering dari biasanya disertai berlendir,
bau amis, berbusa bahkan dapat berupa air saja yang frekwensinya lebih sering
dari biasanya. Terdapat nyeri pada kuadran kanan bawah disertai kram dan bunyi
pada perut. Diare kronis melibatkan serangan yang lebih sering selama 2-3
periode yang lebih panjang. Pada diare kronis ditemukan adanya penyakit
sebelumnya, penurunan berat badan dan nafsu makan.
2. Diare dapat disebabkan oleh beberapa senyawa termasuk antibiotik (klindamisin,
tetrasiklin, sulfonamide, dll) dan obat lain seperti: Antasida yang mengandung
magnesium, Antihipertensi (reserpin, guanetidin, metildopa, dll), kolinergik
(betanecol, neostigmin), obat anti inflamasinon steroid, prostaglandin, kolkisin,
dan lain-lain. Selain itu penyalahgunaan pencahar untuk menurunkan berat badan
juga dapat menyebabkan diare.
3. Pada diare, pemeriksaan fisik abdomen dapat mendeteksi hiperperistaltik dengan
borborygmi (bunyi pada lambung). Pemeriksaan rectal dapat mendeteksi massa
atau kemungkinan fecal impaction, penyebab utama diare pada usia lanjut.
4. Pemeriksaan turgor kulit dan tingkat keberadaan saliva oral berguna dalam
memperkirakan status cairan tubuh. Jika terdapat hipotensi, takikardia, denyut
lemah, diduga terjadi dehidrasi. Adanya demam mengindikasikan adanya infeksi.
5. Untuk diare yang tidak dapat dijelaskan atau diare non spesifik (diare yang bukan
disebabkan oleh kuman khusus maupun parasit), dapat dilakukan pemeriksaan
parasit dan ova pada feses, darah, mucus, dan lemak. Juga dapat diperiksa
osmolaritas fese, pH, dan elektrolit.
Penentuan diagnosis diare ditentukan dari gejala buang air besar berulang kali
lebih sering dari biasanya dengan konsistensinya yang lembek dan cair. Dengan
memperhatikan derajat dehidrasi dimana dikelompokkan sebagai berikut:
Pemeriksaan
Derajat dehidrasi
Tidak dehidrasi Dehidrasi ringan-
sedang
Dehidrasi berat
Keadaan umum Baik, sadar gelisah Lesu, tidak sadar
Mata Normal Cekung Sangat cekung
Air mata Ada Tidak ada Tidak ada
Mulut dan lidah Basah Kering Sangat kering
Rasa haus Normal, tidak haus Kehausan,ingin
minum banyak
Malas minum atau
tidak dapat minum
Turgor kulit Kembali cepat Kembali lambat Kembali sangat
lambat

II. TERAPI
A. Tujuan Terapi
Tujuan terapi pada pengobatan diare adalah untuk mengatur diet; mencegah
pengeluaran air berlebihan, elektrolit, dan gangguan asam basa; menyembuhkan
gejala; mengatasi penyebab diare; dan mengatur gangguan sekunder yang
menyebabkan diare.
B. Pendekatan Umum
Pengaturan diet merupakan prioritas utama pengobatan diare. Klinisi
merekomendasikan untuk menghentikan pemberian makanan padat selama 24 jam dan
menghindari produk-produk yang mengandung susu. Apabila terjadi mual dan muntah
tingkat sedang, diberikan diet residu rendah yang mudah dicerna selama 24 jam.
Pemberian diet makanan lunak dimulai seiring adanya penurunan gerakan usus. Pada
anak-anak pemberian makanan sebaiknya diteruskan dengan diare akibat bakteri akut.
Rehidrasi dan perbaikan air dan elektrolit adalah perawatan primer sampai diare
berakhir.
1. Penanganan Diare
Perawatan untuk diare melibatkan pasien mengkonsumsi sejumlah air yang
mencukupi untuk menggantikan yang hilang, lebih baik bila dicampur dengan
elektrolit untuk menyediakan garam yang dibutuhkan dan sejumlah nutrisi.
Penjelasan selanjutnya dibawah ini:
1. Terapi obat Diare termasuk self-limited disease merupakan penyakit yang bisa sembuh
sendiri. Namun, dalam kasus berat dapat diberikan antibiotik jika diare disebabkan
infeksi bakteri. Loperamide direkomendasikan untuk diare akut ataupun kronik.
Golongan adsorben seperti kaolin-pektin, attapulgit digunakan untuk mengatasi gejala
dimana mereka bekerja menyerap toksin.
2. Nutrisi dan suplemen
Beras jelai atau air, sayuran segar juices (khususnya wortel dan seledri), miso
broth, atau lainnya broths jelas membantu memulihkan benar cairan elektrolit
dan keseimbangan.
Probiotics - Lactobacillus acidophilus atau bifidobacteria yang membantu
mempertahankan keseimbangan bakteri (flora normal) pencernaan.
Glutamine (3000 mg tiga kali per hari) dapat membantu mengobati diare
yang disebabkan oleh iritasi pada lapisan usus.
Untuk orang dengan lactose-intoleran sebaiknya mengkonsumsi enzim
lactase sebelum makan produk susu.

3. Tumbuh-tumbuhan (herbal). Jangan menggunakan tumbuh-tumbuhan untuk mengatasi
diare sebelum konsultasi dulu dengan tenaga kesehatan, karena jika diare disebabkan
karena infeksi, maka hal tersebut akan memperparah kondisi. Biasanya penggunaan
tumbuh-tumbuhan tersebut digunakan sebagai teh.

a. Penanganan dehidrasi
Penanganan awal untuk keadaan dehidrasi adalah dengan pemberian
Rehidrasi Oral. Setiap tahun lebih kurang 5 juta anak-anak di bawah usia 5
tahun meninggal akibat diare, 65%diantaranya karena dehidrasi. Maka penting
sekali untuk mengambil tindakan guna mencegah atau mengatasi keadaan
dehidrasi dan kehilangan garam, terutama pada bayi dan anak-anak (usia
sampai lebih kurang 3 tahun) dan lansia (di atas 65 tahun). Untuk tujuan ini
WHO menganjurkan ORS (Oral Rehidration Solution).
1). Garam rehidrasi oral
ORS adalah suatu larutan dari campuran NaCl 3,5 g, KCl 1,5 g, Na-
trisitrat 2,5 gdan glukosa 20 g dalam 1 liter air matang (Oralyte, Ottolit).
Disini dikatakan bahwa glukosa menstimulasi secara aktif transport Na dan air
melalui dinding usus sehingga resorpsi air dalam usus halus meningkat 25 kali
(Sladen & Dawson). Demikian pula dengan bahan gizi lainnya seperti asam
amino, peptide dapat memperlancar penyerapan air.


2). ORS-Beras
Telah ditemukan bahwa tepung beras atau tepung jagung, sorghum,
dan kentang sebagai pengganti glukosa dalam campuran ORS memberikan
beberapa keuntungan penting, dimana dalam usus, tepung beras yang terutama
berisi pati dicernakan dan menghasilkan dua kalilebih banyak glukosa dari
pada dalam ORS biasa.
Efeknya ialah bertambahnya penyerapan kembali air dan elektrolit.
Mungkin asam amino dariprotein beras memegang peranan tambahan pada
resorbsi Na dan air tersebut. Karena osmolaritasnya lebih rendah (hipotonis)
daripada darah, maka air dari ORS akan diabsorpsi dengan pesat sampai
osmolaritas cairan usus sama dengan darah. Hal ini tidak terjadi pada ORS
biasa yang bersifat hipertonis ringan.
b. Terapi Farmakologi
Diare akut umumnya disebabkan oleh infeksivirus atau kuman, atau
dapat pula akibat efek samping obat atau gejala gangguan saluran cerna.
Sedangkan diare kronik terjadi pada tumor dan penyakit-penyakit usus
beradang kronis (crohn, colitis ulcerosa). Pada diare terdapat gangguan dari
resorpsi, sekresi getah lambung-usus dipertinggi dan peningkatan motilitas
usus.
Obat-obat yang digunakan dalam pengobatan diare dikelompokkan
sebagai berikut:
1). Kemoterapeutika; untuk terapi kausal, yakni memberantas bakteri
penyebab diare, seperti antibiotika: sulfonamide, kinolon, dan furazolidon.
2). Obstipansia; untuk terapi simtomatis, yang dapat menghentikan diare
dengan beberap cara yakni:
a. Antimotilitas (Zat-zat penekan peristaltik) yang memberikan lebih
banyak waktu untuk resorpsi air dan elektrolit oleh mukosa usus. (1) Opiat
dan turunan opiat menunda transit isi intraluminal atau meningkatkan
kapasitas saluran cerna, memperpanjang waktu kontak dan absorpsi.
Namun dapat menyebabkan adiksi dan memperburuk penyakit pada
diareyang disebabkan infeksi. (2) Derivat-derivat petidin seperti
difenoksilat dan loperamid juga memiliki efek seperti opioid pada usus
dengan mengaktifkan reseptor opioid presinaptik di dalam system saraf
enterik untuk menghambat pelepasan asetilkolin dan menurunkan
peristaltik. Dan (3) Antikolinergik (atropine, ekstrakbelladona).
b. Adsorben; misalnya carbo adsorben yang pada permukaannya dapat
menyerap (adsorpsi) zat-zat beracun (toksin) yang dihasilkan oleh bakteri
atau yang adakalanya berasal dari makanan. Obat-obat adsorben seperti
kaolin, pectin, metilselulosa dan atapulgit yang diaktifkan, magnesium
silikat digunakan secara luas untuk mengendalikan diare. Diduga obat-
obat inibekerja dengan cara mengadsorpsi toksin intestinal atau
mikroorganisme, atau dengan melapisi atau melindungi mukosa intestinal.
Namun obat-obat ini dapat mengganggu absorpsi obat-obat lain seperti
tetrasiklin, dll.
c. Antisekresi; dimana biasanya digunakan bismuth salisilat, enzim
(lactase), Okreotida, dan mikroflora usus (Lactobacillus acidophilus,
Lactobacillus bulgaricus). Bismut salisilat memiliki efek antisekresi,
antiinflamasi dan antibakteri. Okreotida, suatu analog oktapeptid sintetik dari
somatostatin yang diresepkan untukpengobatan gejala tumor karsinoid dan tumor
sekresi VIP. Okreotida menghambat pelepasan serotonin dan peptide aktif lain
dan efektif dalam mengontrol diare. Sedangkan sediaan lactobacillus merupakan
pengobatan controversial yang diharapkan dapat mengganti koloni mikroflora
yang diduga dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme pathogen. Diet
produk susu yang mengandung laktosa 200-400 g atau dekstrin, efektif dalam
rekolonisasi mikroflora.
3). Spasmolitika; yakni zat-zat yang dapat melepaskan kejang-kejang otot
yang seringkali mengakibatkan nyeri perut pada diare antara lain
papaverin, dan oksifenonium.
III. PENCEGAHAN DIARE
Pencegahan diare pada dasarnya harus ditujukan pada tindakan hygiene
yang cermat mengenai kebersihan, khususnya cuci tangan dengan baik sebelum
makan atau mengolah makanan. Begitu puladengan alat-alat dapur, bahan-bahan
makanan seperti sayuran supaya dicuci dengan baik. Untuk daging, ikan, dll
hendaknya dimasak sampai matang dan hidangan perlu disimpan tertutup serta pada
suhu rendah untukmencegah tumbuhnya kuman. Air minum sebelum dikonsumsi
masaklah terlebih dahulu sampai mendidih. Atau dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Hygiene yang baik
2. Sanitasi, sumber air
3. Daya tahan, gizi, imunisasi, Vit A
Diet
Berikan makanan tambahan sesuai dengan usia anak
Berikan diet secara bervariasi
Cara memasak dan menyajian makanan yang sehat (misal: menggunakan
cangkir daripada botol, wadah harus bersih, makanan hangat, DLL)
Penggunaan air


Perilaku hidup sehat


















NEO DIASTOP

Nama obat : NEO DIASTOP
Pabrik : (Armoxindo Farma)
Komposisi : Tiap kaplet mengandung Attapulgite 600 mg dan Pectin 50 mg.
Indikasi : Untuk pengobatan simptomatis pada diare yang nonspesifik.
Dosis : Dewasa dan anak > 12 tahun :2 kaplet tiap kali setelah BAB. Maksimal 12
kaplet/hari. Anak 6-12 tahun1 kaplet tiap kali setelah BAB. Maksimal 6
kaplet/hari.
Kontra Indikasi: Stenosis saluran Gastro Intestinal dan konstipasi
Perhatian : Anak < 6 thn.Insufisiensi ginjal berat. Pemakaian tidak lebih dari 2 hari pada
pasien dengan demam tinggi.
Efek samping : Konstipasi atau impaksi feces (dosis besar)
Interaksi Obat : Dapat mempengaruhi laju dan besarnya absorpsi beberapa obat.
Kemasan : Kaplet 25 x 4

1. Attapulgitte

Indikasi : Pengobatan simptomatik pada diare yang tidak diketahui penyebabnya.

Kontra Indikasi : Penderita dimana konstipasi harus dihindari, hipersensitivitas dan
penderita obstruksi usus.

Efek Samping : Sembelit.

Mekanisme kerja Attapulgite :

Attapulgite merupakan suatu zat dengan kapasitas absorpsi yang telah diaktifkan
dengan cara pemanasan untuk meningkatkan kemampuan adsorpsinya.
Attapulgite menyerap gas-gas beracun, zat yang merangsang, endotoxin, bakteri dan
virus yang menyebabkan diare. Attapulgite bekerja dengan cara mengikat bakteri dan
toksin dalam jumlah besar sekaligus mengurangi pengeluaran air, attapulgite mengurangi
pergerakan usus, dan meredakan kram perut yang berkaitan dengan diare. Aman untuk
ibu hamil dan menyusui. Selain itu Attapulgite melapisi selaput lendir di usus yang
meradang dan menyerap bagian-bagian berair sehingga menormalkan pembentukan tinja
(memperbaiki konsistensi tinja yang terlalu keras atau terlalu lembek). Attapulgite
bersifat radio transparan sehingga tidak mengganggu gambaran penyinaran X. Warna
tinja tidak dipengaruhi Attapulgite.

Dosis:
Dewasa : 2 tablet setelah diare pertama. 2 tablet sesudah tiapkali diare berikutnya.
Maksimal 12 tablet sehari.
Anak-anak 6-12 tahun: dosis dewasa atau seperti yang dianjurkan dokter. Maksimal 6
tablet sehari.
Lama pemberian : biasanya 2 hari atau sesuai dengan petunjuk dokter.
Kontra Indikasi :
Hipersensitifitas terhadap attapulgit
Perhatian:
Daya serap Attapulgite mungkin mempengaruhi penyerapan obat-obat lain, misalnya
Tetrasiklin. Jangan gunakan lebih dari 12 tablet dalam 24 jam. Jangan gunakan lebih dari
2 hari atau dalam keadaan demam tinggi. Jangan diberikan pada anakdibawah 6 tahun,
kecuali atas petunjuk dokter jika diare tidak dapat diatasi, segera ke dokter. Hati-hati jika
diberikan pada penderita insufisiensi ginjal yang berat jika diare pada anak-anak disertai
dehidrasi, pengobatan awal harus dengan oralit.
Dosis Berlebih Dan Tindakannya
Dalam kasus dosis berlebih, hentikan pengobatan dan lakukan kuras
lambung.
Penyimpanan:
Simpan pada suhu tidak lebih dari 25 C, di tempat yang kering,
jauhkan obat dari jangkauan anak kecil.

2. PECTIN

Mekanisme Kerja Pectin :
Pektin merupakan golongan polimer heteropolisakarida yang diperoleh dari
dinding sel tumbuhan darat. Pectin adalah karbohidrat yang berasal dari buah citrus atau
apel yang telah dimurnikan. Pectin digunakan dalam pengobatan diare maupun untuk
konstipasi. Untuk pengobatan diare biasanya dalam kombinasi dengan adsorben lainnya.
Pectin merupakan adsorben yang dapat menghilangkan racun bakteri atau dapat
mengadsorpsi toksin, gas, bakteri, dan virus yang terdapat dalam lumen usus.
Kontra indikasi : Hipersenstifitas, penderita obstruksi usus
3. Keuntungan Kombinasi Attapulgite dan Pectin dalam pengobatan diare :

Kombinasi attapulgite dan pectin dimana keduanya bersifat sebagai adsorben
untuk meningkatkan kemampuan obat dalam menyerap racun, gas, bakteri, dan virus
yang terdapat pada usus sehingga diare dapat berhenti. Pectin berfungsi juga
memadatkan pengeluaran racun dan kuman penyebab diare bersama feses sehingga
akhirnya diare pun berhenti. Mengatasi diare dengan tepat akan membuat saluran
pencernaan menjadi sehat.

4. Obat-obat paten lainnya ; Diagit (Interbat), Neo Enterostop (Kalbe Farma),
Entrogard (Mugi Labs), Molagit (Molex Ayus),





DAFTAR PUSTAKA

1. http://hajardaku.wordpress.com/2009/11/07/attapulgite-pectin/

2. http://duniahenny.blogspot.com/2009/10/mengenal-batuk-analgesik- antipiretik.html

3. http://www.blogger.com/feeds/4593555706456529618/posts/default

4. Departemen Kesehatan RI, (2007), Pedoman Pengobatan Dasar Di Puskesmas,
Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian Dan Alat Kesehatan, Jakarta

5. Tjay T.H., Rahardja K,DRS., (2001), Obat-obat Penting,Khasiat,Penggunaan dan
Efek-efek Sampingnya), Edisi Kelima, Jakarta

6. Mycek M.J, Harvey R.A, Champe P.C, (2001), Farmakologi Ulasan Bergambar, Edisi
2, Wydia Medika, Jakarta

7. Elin,Y.S., dkk,(2008), ISO Farmakoterapi, Cetakan Pertama, PT.Ikrar Mandiri Abadi,
Jakarta

8. DiPiro J.T., dkk, (2005) Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach, Sixth
Edition, The McGraw-Hill Companies, Inc., United States of America