Anda di halaman 1dari 12

Cephalgia

A. Definisi
Sakit kepala yang secara medis dikenal sebagai cephalgia atau dilafalkan cephalgia
adalah suatu kondisi terdapatnya rasa sakit di dalam kepala: kadang sakit di belakang
leher atau punggung bagian atas, disebut juga sebagai sakit kepala. Jenis penyakit ini
termasuk dalam keluhan-keluhan penyakit yang sering diutarakan (Wikipedia
Indonesia. com). Sedangkan, menurut Arif Mansjoer (2000) nyeri kepala atau cephalgia
adalah rasa nyeri atau rasa tidak enak di kepala, setempat atau menyeluruh dan dapat
menjalar ke wajah, gigi, rahang bawah dan leher.

B. Patofisiologi
Menurut Arif Mansjoer (2000) pada nyeri kepala atau cephalgia struktur diwajah
yang peka terhadap rasa nyeri adalah kulit, fasia, otot-otot, arteri ekstra serebral dan
intra serebral, meningen, dasar fosa anterior, fosa posterior, tentorium serebri, sinus
venosus, nervus V, VII, IX, X, radiks posterior C2, C3, bola mata, rongga hidung,
rongga sinus, dentin dan pulpa gigi. Sedangkan otak tidak sensitif terhadap nyeri.
Pada struktur yang disebutkan sebelumnya terdapat ujung saraf nyeri yang
mudah dirangsang atau etiologinya oleh :
1. Traksi atau pergeseran sinus venosus dan cabang-cabang kortikal.
2. Traksi, dilatasi atau inflamasi pada arteri intrakranial dan ekstrakranial.
3. Traksi, pergeseran atau penyakit yang mengenai saraf kranial dan servikal.
4. Perubahan tekanan intrakranial.
5. Penyakit jaringan kulit kepala, wajah, mata, hidung, telinga dan leher.

C. Etiologi
Sakit kepala yang sering terjadi mungkin disebabkan karena konsumsi kafein,
demikian hasil sebuah penelitian dari Israel. Penelitian yang dimuat dalam jurnal
Cephalgia tahun 2003 ini melibatkan 36 anak dan remaja berusia antara 6 dan 18 tahun
yang sering mengeluhkan sakit kepala. Dari ke-36 subyek penelitian, 33 di antaranya
tidak lagi mengeluhkan sakit kepala 24 minggu kemudian. 24 minggu adalah jangka
waktu setelah mereka menghentikan kebiasaan minum minuman kola. Kenapa kola
dan bukan kopi dikarenakan tidak ada satupun di antara peserta penelitian yang
minum kopi, tapi mereka umumnya mengkonsumsi paling sedikit 1,5 liter minuman
kola per hari (atau rata-rata 11 liter per minggu) dan itu setara dengan 34 gelas besar
kopi seminggu (Info sehat.com, 2007).

D. Manifestasi Klinis
Menurut Arif Mansjoer, dkk (2000) manifestasi klinis adanya nyeri kepala atau
cephalgia memerlukan anamnesis khusus yaitu:
1. Awitan dan lama serangan
2. Bentuk serangan; paroksismal periodik atau terus menerus
3. Lokalisasi nyeri
4. Sifat nyeri; berdenyut-denyut, rasa berat, menusuk-nusuk, dll
5. Prodromal
6. Gejala penyerta
7. Faktor presipitasi
8. Faktor yang mengurangi atau memberatkan nyeri kepala
9. Pola tidur
10. Faktor emosional/stres
11. Riwayat keluarga
12. Riwayat trauma kepala
13.Riwayat penyakit medik; peradangan selaput otak, hipertensi, demam tifoid, sinusitis,
glaukoma, dsb.
14. Riwayat operasi
15. Riwayat alergi
16. Pola haid bagi wanita
17. Riwayat pemakaian obat; analgetik, narkotik, penenang, vasodilator, dll

E. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan yang disarankan menurut Basuki Pramana (2007) adalah:
1. Foto Rontgen terhadap tengkorak
2. Pemeriksaan kadar Lemak darah ( kolesterol, Trigliuseride HDL dan LDL)
3. Kadar Hemoglobin darah ( Hb ) dll pemeriksaan
Lebih lanjut menurut Arif Mansjoer, dkk, (2000) pemeriksaan khusus pada
cephalgia meliputi palpasi pada tengkorak untuk mencari kelainan bentuk, nyeri tekan
dan benjolan. Palpasi pada otot untuk mengetahui tonusdan nyeri tekan daerah
tengkuk. Perabaan arteri temporalis superfisialis dan arteri karotis komunis.
Pemeriksaan leher, mata, hidung, tenggorok, telingan, mulut dan gigi geligi perlu
dilakukan. Pemeriksaan neurologis lengkap, ditekankan pada fungsi saraf otak
termasuk funduskopi, fungsi motorik, sensorik serta koordinasi.
Beberapa nyeri kepala menunjukkan tanda bahaya dan memerlukan evaluasi
penunjang adalah:
1. Nyeri kepala hebat pertama kali yang timbul mendadak
2. Nyeri kepala yang paling berat yang pernah dialami
3. Nyeri kepala yang berat progresif selama beberapa hari atau minggu
4. Nyeri kepala yang timbul bila latihan fisik, batuk, bersin, membungkuk atau nafsu
seksual meningkat
5. Nyeri kepala yang disertai penyakit umum atau demam, mualo, muntah atau kaku
kuduk
6. Nyeri kepala yang disertai gejala neurologis seperti afasia, koordinasi buruk, kelemahan
fokal atau rasa baal, mengantuk, fungsi intelek menurun, perubahan kepribadian dan
penurunan visus.

Pemeriksaan penunjang tersebut anatara lain:
1. CT-Scan atau resonansi magnetik (MRI) otak hanya dilakukan pada nyeri kepala yang
menunjukkan kemungkinan penyakit intrakranial, seperti tumor, perdarahan
subaraknoid, AVM, dll.
2. Elektroensefalogram dilakukan bila ada riwayat kejang, kesadaran menurun, trauma
kepala atau presinkop.
3. Foto sinus paranasal untuk melihat adanya sinusitis dan foto servikal untuk menetukan
adanya spondiloartrosis dan fraktur servikal.

F. Klasifikasi
Menurut Arif Mansjoer (2000) nyeri kepala atau cephalgia dapat primer atau
sekunder:
1. Primer berupa migren, nyeri kepala klaster, nyeri kepala tegang otot.
2. Sekunder berupa nyeri kepala pascatrauma, nyeri kepala organik sebagai bagian
penyakit lesi desak ruang (tumor otak, abses, hematoma subdural, dll), perdarahan
subaraknoid, neuralgia trigeminus/pascaherpetik, penyakit sistemik (anemia,
polisitemia, hipertensi atau hipotensi, dll), sesudah pungsi lumbal, infeksi
untrakranial/sistemik, penyakit hidung dan sinus paranasal, akibat bahan toksik dan
penyakit mata.
Berikut ini disajikan jenis-jenis cephalgia atau nyeri kepala pada Tabel 3.1 :

Tabel 3.1. Jenis-jenis Nyeri Kepala
Nyeri
Kepala
Sifat
Nyeri
Lokasi
Lama
Nyeri
Frekuensi
Gejala
Ikutan
Migren
umum
Berdenyut Unilateral
atau
Bilateral
6-48 jam Sporadik
Beberapa
kali sebulan
Mual,
muntah,
malaise,
fotobia
Migren Berdenyut Unilateral 3-12 jam Sporadik Prodroma
klasik Beberapa
kali sebulan
visual,
mual,
muntah,
malaise,
fotobia
Klaster Menjemu-
kan, tajam
Unilateral,
orbita
15-20
menit
Serangan
berkelompok
dengan
remisi lama
Lakrimasi
ipsilateral,
wajah
merah,
hidung
tersumbat,
horner
Tipe
tegang
Tumpul,
ditekan
Difus,
Bilateral
Terus
menerus
Konstan Depresi,
ansietas
Neuralgia
trigeminus
Ditusuk-
tusuk
Dermaton
saraf V
Singkat,
15-60
detik
Beberapa
kali sehari
Zona
pemicu
nyeri
Atipikal Tumpul Unilateral
atau
Bilateral
Terus
menerus
Konstan Depresi,
kadang-
kadang
psikosis
Sinus Tumpul/
tajam
Di atas
sinus
Bervariasi Sporadik
atau konstan
Rinore
Lesi desak
ruang
bervariasi Unilateral
(awal),
Bilateral
(lanjut)
Bervariasi,
progresif
Bervariasi,
semakin
sering
Papiledema,
defisit
neurologik
fokal,
gangguan
mental atau
perilaku,
kejang, dll
Diposkan oleh Eszha Jelek di 09.55
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: kesehatan
Tidak ada komentar:














Pengertian
Cepalgia atau sakit kepala adalah salah satu keluhan fisik paling utama manusia. Sakit kepala
pada kenyataannya adalah gejala bukan penyakit dan dapat menunjukkan penyakit organik
(neurologi atau penyakit lain), respon stress, vasodilatasi (migren), tegangan otot rangka (sakit
kepala tegang) atau kombinasi respon tersebut (Brunner & Suddart).

B. Klasifikasi dan Etiologi
Klasifikasi sakit kepala yang paling baru dikeluarkan oleh Headache Classification Cimitte of the
International Headache Society sebagai berikut:
1. Migren (dengan atau tanpa aura)
2. Sakit kepal tegang
3. Sakit kepala klaster dan hemikrania paroksismal.
4. Berbagai sakit kepala yang dikatkan dengan lesi struktural.
5. Sakit kepala dikatkan dengan trauma kepala.
6. Sakit kepala dihubungkan dengan gangguan vaskuler (mis. Perdarahan subarakhnoid).
7. Sakit kepala dihuungkan dengan gangguan intrakranial non vaskuler (mis. Tumor otak).
8. Sakit kepala dihubungkan dengan penggunaan zat kimia tau putus obat.
9. Sakit kepala dihubungkan dengan infeksi non sefalik.
10. Sakit kepala yang dihubungkan dengan gangguan metabolik (hipoglikemia).
11. Sakit kepala atau nyeri wajah yang dihubungkan dengan gangguan kepala, leher atau
struktur sekitar kepala ( mis. Glaukoma akut).
12. Neuralgia kranial (nyeri menetap berasal dari saraf kranial)

C. Patofisiologi
Sakit kepala timbul sebagai hasil perangsangan terhadap bangunan-bangunan diwilayah kepala
dan leher yang peka terhadap nyeri. Bangunan-bangunan ekstrakranial yang peka nyeri ialah
otot-otot okspital, temporal dan frontal, kulit kepala, arteri-arteri subkutis dan periostium. Tulang
tengkorak sendiri tidak peka nyeri. Bangunan-bangunan intrakranial yang peka nyeri terdiri dari
meninges, terutama dura basalis dan meninges yang mendindingi sinus venosus serta arteri-arteri
besar pada basis otak. Sebagian besar dari jaringan otak sendiri tidak peka nyeri.
Perangsangan terhadap bangunan-bangunan itu dapat berupa :Infeksi selaput otak : meningitis,
ensefalitis.
Iritasi kimiawi terhadap selaput otak seperti pada perdarahan subdural atau setelah
dilakukan pneumo atau zat kontras ensefalografi.
Peregangan selaput otak akibat proses desak ruang intrakranial, penyumbatan jalan
lintasan liquor, trombosis venos spinosus, edema serebri atau tekanan intrakranial yang
menurun tiba-tiba atau cepat sekali.
Vasodilatasi arteri intrakranial akibat keadaan toksik (seperti pada
infeksi umum, intoksikasi alkohol, intoksikasi CO, reaksi alergik), gangguan metabolik
(seperti hipoksemia, hipoglikemia dan hiperkapnia), pemakaian obat
vasodilatasi, keadaan paska contusio serebri, insufisiensi serebrovasculer akut).
Gangguan pembuluh darah ekstrakranial, misalnya vasodilatasi ( migren dan cluster
headache) dan radang (arteritis temporalis).
Gangguan terhadap otot-otot yang mempunyai hubungan dengan kepala, seperti pada
spondiloartrosis deformans servikalis.
Penjalaran nyeri (reffererd pain) dari daerah mata (glaukoma, iritis), sinus (sinusitis),
baseol kranii (ca. Nasofaring), gigi geligi (pulpitis dan molar III yang mendesak gigi) dan
daerah leher (spondiloartritis deforman servikalis.
Ketegangan otot kepala, leher bahu sebagai manifestasi psikoorganik pada keadaan
depresi dan stress. Dalam hal ini sakit kepala sininim dari pusing kepala.
D. Manifestasi Klinis

1. Migren

Migren adalah gejala kompleks yang mempunyai karakteristik pada waktu tertentu dan serangan
sakit kepala berat yang terjadi berulang-ulang. Penyebab
migren tidak diketahui jelas, tetapi ini dapat disebabkan oleh gangguan vaskuler primer yang
biasanya banyak terjadi pada wanita dan mempunyai kecenderungan kuat dalam keluarga.

Tanda dan gejala adanya migren pada serebral merupakan hasil dari derajat iskhemia kortikal
yang bervariasi. Serangan dimulai dengan vasokonstriksi arteri kulit kepala
dam pembuluh darah retina dan serebral. Pembuluh darah intra dan ekstrakranial mengalami
dilatasi, yang menyebabkan nyeri dan ketidaknyamanan.
Migren klasik dapat dibagi menjadi tiga fase, yaitu:
* Fase aura.

Berlangsung lebih kurang 30 menit, dan dapat memberikan kesempatan bagi pasien untuk
menentukan obat yang digunakan untuk mencegah serangan yang dalam. Gejala dari periode ini
adalah gangguan penglihatan ( silau ), kesemutan, perasaan gatal pada wajah dan tangan, sedikit
lemah pada ekstremitas dan pusing.
Periode aura ini berhubungan dengan vasokonstriksi tanpa nyeri yang diawali dengan perubahan
fisiologi awal. Aliran darah serebral berkurang, dengan kehilangan autoregulasi laanjut dan
kerusakan responsivitas CO2.

* Fase sakit kepala
Fase sakit kepala berdenyut yang berat dan menjadikan tidak mampu yang dihungkan dengan
fotofobia, mual dan muntah. Durasi keadaan ini bervariasi,
beberapa jam dalam satu hari atau beberapa hari.

* Fase pemulihan
Periode kontraksi otot leher dan kulit
kepala yang dihubungkan dengan sakit otot dan ketegangan lokal. Kelelahan biasanya terjadi,
dan pasien dapat tidur untuk waktu yang panjang.

2. Cluster Headache

Cluster Headache adalah beentuk sakit kepal vaskuler lainnya yang sering terjadi pada pria.
Serangan datang dalam bentuk yang menumpuk atau berkelompok, dengan nyeri yang menyiksa
didaerah mata dan menyebar kedaerah wajah dan temporal. Nyeri diikuti mata berair dan
sumbatan hidung. Serangan berakhir dari 15 menit sampai 2 jam yang menguat dan menurun
kekuatannya.
Tipe sakit kepala ini dikaitkan dengan dilatasi didaerah dan sekitar arteri ekstrakranualis, yang
ditimbulkan oleh alkohol, nitrit, vasodilator dan histamin. Sakit kepala ini berespon terhadap
klorpromazin.

3. Tension Headache

Stress fisik dan emosional dapat menyebabkan kontraksi pada otot-otot leher dan kulit kepala,
yang menyebabkan sakit kepala karena tegang.
Karakteristik dari sakit kepala ini perasaan ada tekanan pada dahi, pelipis, atau belakang leher.
Hal ini sering tergambar sebagai beban berat yang menutupi kepala.
Sakit kepala ini cenderung kronik daripada berat. Pasien membutuhkan ketenangan hati, dan
biasanya keadaan ini merupakan ketakutan yang tidak terucapkan. Bantuan
simtomatik mungkin diberikan untuk memanaskan pada lokasi, memijat, analgetik, antidepresan
dan obat relaksan otot.
Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Chefalgia A. Pengkajian
Data subyektif dan obyektif sangat penting untuk menentukan tentang penyebab dan sifat dari
sakit kepala.

1. Data Subyektif
* Pengertian pasien tentang sakit kepala dan kemungkinan penyebabnya.
* Sadar tentang adanya faktor pencetus, seperti stress.
* Langkah langkah untuk mengurangi gejala seperti obat-obatan.
* Tempat, frekwensi, pola dan sifat sakit kepala termasuk tempat nyeri, lama dan interval
diantara sakit kepala.
* Awal serangan sakit kepala.
* Ada gejala prodomal atau
tidak.
* Ada gejala yang menyertai.
* Riwayat sakit kepala dalam keluarga (khusus penting sekali bila migren).
* Situasi yang membuat sakit kepala lebih parah.
* Ada alergi atau tidak.

2. Data Obyektif
* Perilaku : gejala yang memperlihatkan stress, kecemasan atau nyeri.
* Perubahan kemampuan dalam melaksanakan aktifitas sehari hari.
* Terdapat pengkajian anormal dari sistem pengkajian fisik sistem saraf
cranial.
* Suhu badan
* Drainase dari sinus.
Dalam pengkajian sakit kepala, beberapa butir penting perlu dipertimbangkan. Diantaranya ialah
:
* Sakit kepala yang terlokalisir biasanya berhubungan dengan sakit kepala migrain atau
gangguan organik.
* Sakit kepala yang menyeluruh biasanya disebabkan oleh penyebab psikologis atau terjadi
peningkatan tekanan intrakranial.
* Sakit kepala migren dapat berpindah dari satu sisi kesisi yang lain.
* Sakit kepala yang disertai peningkatan tekanan intrakranial biasanya timbil pada waktu bangun
tidur atau sakit kepala tersebut
membengunkan pasien dari tidur.
* Sakit kepala tipe sinus timbul pada pagi hari dan semakin siang menjadi lebih buruk.
* Banyak sakit kepala yang berhubungan dengan kondisi stress.
* Rasa nyeri yang tumpul, menjengkelkan, menghebat dan terus ada, sering terjadi pada sakit
kepala yang psikogenis.
* Bahan organis yang menimbulkan nyeri yang tetap dan sifatnya bertambah
terus.
* Sakit kapala migrain bisa menyertai mentruasi.sakit kepala bisa didahului makan makanan
yang mengandung monosodium glutamat, sodim nitrat, tyramine
demikian juga alkohol.
* Tidur terlalu lama, berpuasa, menghirup bau-bauan yang toksis dalam limngkungan kerja
dimana ventilasi tidak cukup dapat menjadi penyebab sakit kepala.
* Obat kontrasepsi oral dapat memperberat migrain.
* Tiap yang ditemukan sekunder dari sakit kepala perlu dikaji.

B. Diagnostik
CT Scan, menjadi mudah dijangkau sebagai cara yang mudah dan aman untuk
menemukan abnormalitas pada susunan saraf pusat.
MRI Scan, dengan tujuan mendeteksi kondisi patologi otak dan medula spinalis dengan
menggunakan tehnik scanning dengan kekuatan magnet untuk membuat bayangan
struktur tubuh.
Pungsi lumbal, dengan mengambil cairan serebrospinalis untuk pemeriksaan. Hal ini
tidak dilakukan bila diketahui terjadi peningkatan tekanan intrakranial dan tumor otak,
karena penurunan tekanan yang mendadak akibat pengambilan CSF.
B. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri b.d stess dan ketegangan, iritasi/tekanan saraf, vasospasme, peningkatan tekana
intrakranial.
2. Koping individual tak efektif b.d situasi krisis, kerentanan personal, sistem pendukung
tidak adequat, kelebihan beban kerja, ketidakadequatan relaksasi, metode koping tidak
adequat, nyeri berat, ancaman berlebihan pada diri sendiri.
3. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan b.d kurang mengingat,
tidak mengenal informasi, keterbatasab kognitif.

C. Rencana Asuhan Keperawatan

Diagnosa Keperawatan 1. :
Nyeri b.d stess dan ketegangan, iritasi/tekanan saraf, vasospasme, peningkatan tekanan
intrakranial.
Intervensi :

* Pastikan durasi/episode masalah , siapa yang telah dikonsulkan, dan obat dan/atau terapi apa
yang telah digunakan.
* Teliti keluhan nyeri, catat itensitasnya ( dengan skala 0-10 ), karakteristiknya (misal : berat,
berdenyut, konstan) lokasinya, lamanya, faktor yang memperburuk atau meredakan.
* Catat kemungkinan patofisiologi yang khas, misalnya otak / meningeal / infeksi sinus, trauma
servikal, hipertensi atau trauma.
* Observasi adanya tanda-tanda nyeri nonverbal, seperi : ekspresi wajah, posisi tubuh, gelisah,
menangis/meringis, menarik diri, diaforesis, perubahan frekuensi jantung/pernafasan, tekanan
darah.
* Kaji hubungan faktor fisik/emosi dari keadaan seseorang.
* Evaluasi perilaku nyeri
* Catat adanya pengaruh nyeri misalnya: hilangnya perhatian pada hidup, penurunan aktivitas,
penurunan berat badan.
* Kaji derajat pengambilan langkah yang keliru secara pribadi dari pasien, seperti mengisolasi
diri.
* Tentukan isu dari pihak kedua untuk pasien/orang terdekat, seperti asuransi,
pasangan/keluarga.
* Diskusikan dinamika fisiologi dari ketegangan/ansietas dengan pasien/orang terdekat.
* Instruksikan pasien untuk melaporkan nyeri dengan segera jika nyeri itu
timbul.
* Tempatkan pada ruangan yang agak gelap sesuai dengan indikasi.
* Anjurkan untuk beristirahat didalam ruangan yang tenang.
* Berikan kompres dingin pada kepala.
* Berikan kompres panans lembab/kering pada kepala, leher, lengan sesuai kebutuhan.
* Masase daerah kepala/leher/lengan jika pasien dapat mentoleransi sentuhan.
* Gunakan teknik sentuhan yang terapeutik, visualisasi, biofeedback, hipnotik sendiri, dan
reduksi stres dan teknik relaksasi yang lain.
* Anjurkan pasien untuk menggunakan pernyataan positif Saya sembuh, saya sedang relaksasi,
Saya suka hidup ini. Sarankan pasien untuk menyadari dialog eksternal-internal dan katakan
berhenti atau tunda jika muncul pikiran yang negatif.
* Observasi adanya mual/muntah. Berikan es, minuman yang mengandung karbonat sesuai
indikasi.

Diagnosa Keperawatan 2. :
Koping individual tak efektif b.d situasi krisis, kerentanan personal, sistem pendukung tidak
adequat, kelebihan beban kerja, ketidakadequatan
relaksasi, metode koping tidak adequat, nyeri berat, ancaman berlebihan pada diri sendiri.
Intervensi

* Dekati pasien dengan ramah dan penuh perhatian. Ambil keuntungan dari kegiatan yang daoat
diajarkan.
* Bantu pasien dalam memahami perubahan pada konsep citra tubuh.
* Sarankan pasien untuk mengepresikan perasaannya dan diskusi bagaimana sakit kepala itu
mengganggu kerja dan kesenangan dari hidup ini.
* Pastikan dampak penyakitnya terhadap kebutuhan seksual.
* Berikan informasi mengenai penyebab sakit kepala, penagnan, dan hasil yang diharapkan.
* Kolaborasi : Rujuk untuk melakukan konseling dan/atau terapi keluarga atau kelas tempat
pelatihan sikap asertif sesuai indikasi.

Diagnosa Keperawatan 3. :
Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan b.d kurang mengingat, tidak
mengenal informasi, keterbatasab kognitif.
Intervensi :

* Diskusikan etiologi individual dari saki kepala bila diketahui.
* Bantu pasien dalam mengidentifikasikan kemungkinan faktor predisposisi, seperti stress emosi,
suhu yang berlebihan, alergi terhadap makanan/lingkungan tertentu.
* Diskusikan tentang obat-obatan dan efek sampingnya. Nilai kembali kebutuhan untuk
menurunkan/menghentikan pengobatan sesuai indikasi.
* Instruksikan pasien/orang terdekat dalam melakukan program kegiatan/latihan , makanan yang
dikonsumsi, dan tindakan yang menimbukan rasa nyaman, seprti masase dan sebagainya.
* Diskusikan mengenai posisi/letak tubuh yang normal.
* Anjurkan pasien/orang terdekat untuk menyediakan waktu agar dapat relaksasi dan bersenang-
senang.
* Anjurkan untuk menggunakan aktivitas otak dengan benar, mencintai dan tertawa/tersenyum.
* Sarankan pemakaian musik-musik yang menyenangkan.
* Anjurkan pasien untuk memperhatikan sakit kepala yang dialaminya dan faktor-faktor yang
berhubungan atau faktor presipitasinya.
* Berikan informasi tertulis/semacam catatan petunjuk.
* Identifikasi dan diskusikan timbulnya resiko bahaya yang tidak nyata dan/atau terapi yang
bukan terapi medis.